Showing posts with label Vaksin Covid-19. Show all posts
Showing posts with label Vaksin Covid-19. Show all posts

Sunday, March 7, 2021

"Monster Virus" di Amerika



Pemerintah Amerika Serikat menginjeksi lebih dari 1,4 juta warganya per hari dengan dosis tunggal vaksin-vaksin unggulan (vaksin-vaksin mRNA Pfizer dan Moderna, plus vaksin adenovirus Johnson&Johnson).

Dengan "vaccination rate" yang tinggi itu, dalam 2-3 bulan terakhir ini, sudah ada 86 juta penduduk Amerika yang sudah divaksinasi dosis pertama, yang akan disusul dengan dosis kedua (untuk vaksin mRNA yang ada). Sedangkan untuk vaksin adenovirus Johnson&Johnson, lengkap cukup 1 dosis saja.

Dengan kecepatan vaksinasi yang luar biasa tinggi itu, optimisme kembali ke kehidupan normal sedang berkembang di Amerika dalam memasuki musim semi dan musim panas mendatang.

Tetapi para pakar dan lembaga-lembaga kesehatan Amerika mengingatkan bahwa "herd immunity" masih jauh untuk dicapai bagi negara yang berpenduduk 332.915.073 orang per hari ini di 2021. Bulatkan saja, jadi 333 juta orang.

Jika "herd immunity" atau "kekebalan populasi" dapat dicapai dengan menciptakan kekebalan atau imunitas pada 75% dari total populasi suatu negara atau kawasan, itu berarti Amerika harus sudah mengvaksinasi dosis ganda lengkap 249.750.000 penduduknya. Bulatkan jadi 250 juta orang.

Sekarang ini, yang sudah divaksinasi dosis tunggal baru 86 juta orang, dalam kurang lebih 2,5 bulan terakhir. Baru Juni 2021, 86 juta orang ini akan sudah divaksinasi dosis lengkap.

Jika dalam 6 bulan Amerika bisa mengvaksinasi dosis lengkap 86 juta warganya, maka dibutuhkan waktu 18 bulan untuk mencapai angka 75% warganya. Itu berarti, awal fase "herd immunity" Amerika baru akan tercapai sekitar bulan Juli atau Agustus 2022 yang akan datang.

Jadi, "ancaman" si virus masih serius buat warga Amerika dalam 1,5 tahun ke depan, meski Amerika kini menjadi salah satu negara dari 10 negara kaya yang memborong vaksin-vaksin unggulan yang ada.

Belum lagi kalau mutasi-mutasi besar virus diperhitungkan dengan serius. Mutasi-mutasi besar akan membuat vaksin-vaksin tidak efektif lagi, dan orang-orang yang sebelumnya sudah divaksinasi akan tidak imun lagi. Dus, vaksinasi akan jadi perlu dilakukan berkala (6 bulan atau 12 bulan sekali), dan vaksin-vaksin yang sudah ada juga perlu disetel ulang atau di-"adjust" berkala juga. Ini bukan cuma pandemi, tapi sekaligus juga endemi global.

Nah, sekarang ini di banyak lokasi dan negara bagian Amerika, protokol kesehatan ("precautions") 4-5 M sudah mulai dilonggarkan atau malah diangkat sepenuhnya. Sementara, kasus-kasus terinfeksi oleh mutan-mutan virus makin meningkat, dari semula 1-2%, menjadi 20-30% dari keseluruhan kasus positif. Angka ini akan makin meningkat drastis jika yang menginfeksi adalah "mixed mutant" seperti mutan virus Portland, Oregon.

Tak heran, diperhadapkan pada fakta-fakta di atas, dan pada watak hidup ingin bebas orang Amerika, seorang pakar penyakit infeksius Amerika mengingatkan bahwa kini penduduk Amerika "sedang berjalan masuk ke mulut si monster virus".

Ya, mutan virus Portland adalah salah satu monster yang sudah terdeteksi, dengan baru satu kasus. Tapi tak bisa disepelekan.

Mutan virus SARS-CoV-2 yang terdeteksi di Portland, Oregon, Amerika, ternyata adalah suatu "mixed mutant" yang telah bermutasi gabungan, menyerap sekaligus mutasi-mutasi yang telah ditemukan pada mutan-mutan Afrika Selatan, Inggris, Brazil, dan kota New York.

Si "mixed mutant" Portland ini jauh lebih cepat menular dan lebih mematikan. Diperkirakan juga akan membuat vaksin-vaksin unggulan yang telah ada tidak akan bekerja efektif lagi.

Kasus-kasus terinfeksi di masa-masa yang akan datang di Amerika dilihat akan jauh lebih banyak kasus terinfeksi "mixed mutant" Portland ini.

Berabe ya. Ruwet. Jangan tidak peduli.

Virus-virus mau hidup terus dalam tubuh inang manusia, tapi orang yang imun sudah makin banyak lewat kesembuhan, dan segera lewat vaksinasi jika vaksin-vaksin akan efektif untuk jangka panjang. Lantas?

Ya si virus memutasi diri, begitu rupa, besar-besaran, tak terkontrol, bahkan menggabung mutasi-mutasi yang sudah terjadi sebelumnya di seluruh dunia.

Prinsip "survival of the fittest" dalam fakta evolusi memang real. Mutasi virus adalah bagian dari evolusi virus. Untuk bertahan hidup, virus SARS-CoV-2 mengadaptasi diri dengan dunia yang makin kuat melawan dan menggempurnya. Adaptasi ya lewat mutasi-mutasi, dalam tubuh manusia di saat mereka mereplikasi diri.

Sekarang, ya.... adu pintar dan adu cepat antara si virus yang bermutasi terus dan makin kuat, dan makin "deadly", dengan para ilmuwan dan perusahaan-perusahaan farmasi pengembang vaksin-vaksin.

Kabarnya, Pfizer-BioNTech telah "menyetel ulang" atau "meng-adjust" vaksin mRNA mereka sebagai respons terhadap mutan-mutan virus corona. Sekarang, mereka sedang menguji "kehebatan" vaksin mRNA generasi kedua dalam memerangi mutan-mutan.

Tak terdengar berita apakah vaksin yang sedang dipakai di Indonesia, vaksin SinoVac, juga perlu di-"adjust", sementara kita tahu vaksin ini dikembangkan berdasarkan sekuens genetik SARS-CoV-2 yang dideteksi di Wuhan, China, Desember 2019.

Mereka yang mengerti dipenuhi pertanyaan. Jawaban yang tersedia masih sedikit, atau tidak ada sama sekali. Mungkin semua orang di dunia berharap, alam segera mengulurkan tangan untuk melenyapkan semua virus penyebab penyakit Covid-19. Tapi para pakar epidemiologi bertanya, apakah alam bisa.


Minggu, 7 Maret 2021
ioanes rakhmat


https://www.cnn.com/2021/03/06/health/us-coronavirus-saturday/index.html

https://www.usnews.com/news/health-news/articles/2021-03-05/scientists-discover-mutation-of-uk-coronavirus-strain-in-oregon

Thursday, February 25, 2021

Yakinkah anda pandemi Covid-19 bisa cepat diakhiri lewat vaksinasi?

Elang terbang tinggi sendirian, hening, tangguh, menembus awan-awan. Bebek membentuk kawanan, bersuara ribut, mengekor sang pemimpin. Elang tak akan pernah menjadi bebek. Begitu juga, bebek tak akan pernah menjadi elang.


YAKINKAH ANDA PANDEMI COVID-19 BISA CEPAT DIAKHIRI LEWAT VAKSINASI?

Seharusnya kita yakin. Tapi mewujudkan keyakinan ini dalam waktu cepat SANGAT SULIT. 

Program Covax Facility WHO yang menjanjikan akan dengan adil mendistribusikan vaksin-vaksin top dalam harga murah, nyatanya tersendat-sendat, nyaris tak jalan. PBB juga terlihat tak begitu dihiraukan negara-negara kaya yang kini, sejumlah 10 negara, menguasai 75% vaksin-vaksin top (yang memperlihatkan "effectivity rate" 95%). 

Amerika Serikat, sebagai salah satu negara terkaya dunia, menyuntik dosis tunggal 1,4 juta warganya per hari dengan vaksin mRNA Pfizer (dosis lengkap 2 shot), vaksin mRNA Moderna (dosis lengkap 2 shot), dan segera dengan vaksin adenovirus Johnson&Johnson (yang ini cukup dan lengkap dengan dosis 1 kali shot saja). Sebagai pembanding yang jomplang, Indonesia sementara waktu berjalan ini hanya mampu menginjeksi dosis tunggal vaksin SinoVac (dengan "effectivity rate" 60%) sejumlah 60.000-an orang per hari. 

Summer mendatang di USA diharapkan akan menyenangkan, selanjutnya di musim autumn segalanya diinginkan kembali normal. Hebat, bukan?

Untuk meningkatkan "vaccination rate", jauh di atas 1,4 juta per hari, para pekerja kesehatan Amerika akan juga melakukan vaksinasi dari pintu ke pintu, dari blok ke blok, tidak cuma dilakukan di sentra-sentra vaksinasi. Biaya operasional vaksinasi nasional tentu jadi akan naik, tapi akan tertutup oleh keuntungan-keuntungan lain kalau pandemi di Amerika dapat ditekan lalu diakhiri dengan jauh lebih cepat.

Pada sisi lain, kini ada 130 negara yang belum menerima satu pun dosis tunggal. Di 32 negara yang tidak stabil, sarat dengan konflik dan perang, seperti Yemen, Suriah, Sudan Selatan, Somalia, dan Ethiopia, baru 1% saja dari vaksin-vaksin yang ada yang telah masuk. 

Bagaimana pun juga, WHO dan mitra-mitranya, serta PBB dan mitra-mitranya, adalah tumpuan harapan kita satu-satunya untuk vaksin-vaksin Covid-19 dapat didistribusikan dengan adil dan merata ke negara-negara miskin dan terbelakang. 

Dirjen WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa "kita tidak akan dapat mengakhiri pandemi di mana pun jika kita tidak mengakhirinya di segala tempat." 

Covax Facility menargetkan akan mengirim 2 milyar dosis vaksin-vaksin dalam tahun 2021, ke negara-negara yang berpartisipasi dalam program Covax, untuk kalangan yang paling membutuhkan.

Sejauh ini, Covax baru berhasil mengirim 600.000 dosis vaksin Oxford-AstraZeneca (vaksin termurah, 4 USD per dosis) ke Ghana pada 23 Februari 2021. 

Bisakah suatu negara kaya, Amerika misalnya, aman sendiri jika seluruh penduduknya sudah divaksinasi, tanpa peduli pada negara-negara lain? Ya tidak bisa. 

Globalisasi dan lalu-lintas mobilitas warga dunia yang sangat tinggi, penyeberangan lewat perbatasan-perbatasan negara-negara yang relatif mudah, hubungan internasional yang aktif, adalah beberapa faktor penentu yang tidak memungkinkan negara-negara kaya "mengisolasi diri" dengan penduduk di dalam negara-negara ini sudah divaksinasi semua atau 85% dari jumlah populasi masing-masing. 

Tentu, di zaman modern ini, tak ada negara kaya mana pun yang cerdas yang mau mengisolasi diri. Pengisolasian diri oleh negara mana pun hanya akan menimbulkan keterbelakangan, kemunduran, kemiskinan, kualitas kehidupan yang buruk, dan kekuatan oligarkhi yang merepresi rakyat sendiri.

Untuk mencapai "global herd immunity", harus dalam waktu cepat (2 atau 3 tahun ke depan) 85% penduduk dunia HARUS SUDAH divaksinasi dengan vaksin-vaksin top dunia (katakanlah ada 10 vaksin top, dengan vaksin Pfizer dan vaksin Moderna menduduki dua posisi teratas, yang akan disusul oleh vaksin Johnson&Johnson). Inilah hal yang justru mungkin sekali sangat sulit dicapai.

Ketimpangan berat pendistribusian vaksin-vaksin top Covid-19 ADALAH BAGIAN DARI KETIMPANGAN EKONOMI DUNIA sekarang ini. 

Bayangkan, ini faktanya: 

Sekarang ini (sejak 2015) segelintir orang, yakni orang terkaya dunia yang merupakan 1% penduduk dunia, menguasai kekayaan jauh lebih banyak dibandingkan total kekayaan yang dimiliki 99% penduduk dunia lainnya. Data 2017 menunjukkan bahwa total kekayaan yang dipunyai 8 orang superkaya dunia sama dengan total kekayaan yang dimiliki separuh penduduk termiskin dunia. 

Orang-orang terkaya ("the super-riches") dunia tidak mungkin tidak memanfaatkan masa berat pandemi untuk makin memperkaya diri lewat bisnis vaksin-vaksin paling top dunia. Ada tangan-tangan mereka di dalam proses pengembangan vaksin-vaksin top dunia. "Invisible hands", tentunya. 

Kok tega ya mereka? Ya, ketegaan mereka itulah yang telah menjadikan mereka kalangan superkaya dunia, tahun demi tahun. 

Dengan kondisi ketimpangan yang kesetanan seperti itu, susah sekali pandemi Covid-19 dapat diakhiri dengan cepat. 

Mari yuuk, kita ubah dunia yang timpang kesetanan seperti saat ini dengan sebuah nyanyian baru bagi Tuhan. Mari kita ciptakan sebuah nyanyian baru. Nyanyian adalah kekuatan. Songs are power.

Baik, selanjutnya, saya mau cerita sedikit.

Tadi sore, saat mendung, saya duduk sendirian di wuwungan genteng rumah, menatap ke awan-awan hitam yang sedang bergerak jauh di atas kepala saya. 

Tiba-tiba, di antara awan-awan hitam itu, saya melihat seekor elang hitam besar sedang terbang sendirian dengan begitu gagah dan mempesona. Terbang melingkar, meliuk, lurus, bolak-balik, jauh di atas awan-awan, selama sepuluh menit. Kadang hilang di balik awan, tapi segera si elang terlihat lagi. Sayapnya begitu lebar terkembang, gagah, indah dan mistikal.

Saya merasa, si elang ini sedang menyampaikan pesan-pesan "dari atas" ke saya. Tapi pesan apa? 

Di saat itu saya lantas teringat pada kisah Yesus melihat langit terbuka dan (sosok seperti) seekor burung merpati turun dan hinggap pada-Nya, ketika Dia baru dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis. Dan terdengar suara dari awan-awan, dari angkasa, dari langit, dari sorga. 

Di saat saya sedang "terhanyut" dengan "kegaiban" si elang itu, tiba-tiba di angkasa sebelah kiri saya sebuah helikopter lewat dengan suara bising. 

Saya menemukan kontras: si helikopter itu terbang rendah, jauh di bawah awan-awan hitam dan bersuara ribut. Sebaliknya, si elang itu terbang tinggi jauh di atas awan-awan gelap, sendirian, tanpa suara, hening, keheningan dan keperkasaan yang gaib.

Sungguh, seumur hidup saya, baru tadi sore itu saya sungguh-sungguh tersedot hanyut dalam pengalaman seperti masuk ke alam lain yang terasa begitu memukau dan misterius serta sarat pesan. 

Setelah terbang berputar-putar, keluar masuk awan-awan, selama 10 menit, si elang itu menghilang. Kenapa tak muncul lagi? Ada rasa sedih di hati saya. Saat itu, saya masih terus menunggu. Tapi sang kawan elang itu telah terbang ke lokasi lain di angkasa tinggi. Kapan engkau akan memperlihatkan diri lagi ke aku? Hujan pun turun, makin deras. Aku basah kuyup. 

Kenapa saya menceritakan pengalaman saya dengan si elang itu? 

Di masa pandemi Covid-19 sekarang ini, ketika tatap-muka langsung, "face to face", "person to person", dengan banyak teman dan anggota keluarga lain, sudah makin jarang, atau bahkan sudah terhenti, dan ketika kita tidak yakin bahwa pandemi ini akan cepat berlalu, dan di saat ibadah "in-person" sudah berubah menjadi ibadah "online", kita semua makin merasa hidup seperti sendirian. "Alone". Mungkin juga "lonely". Tentu kita tahu, "aloneness" beda dari "loneliness".

Jangan takut dengan "aloneness". Si elang gaib yang saya lihat tadi sore terbang jauh di angkasa, di antara awan-awan mendung, betul-betul "alone", sendirian. 

Elang bukan bebek. Elang sendirian, terbang tinggi, hening, kokoh dan tangguh. Bebek membentuk kawanan, berkoek-koek ramai, melenggok mengikuti si pemimpin mereka. Tak ada keheningan. 

Ya, sendirian. Tapi si elang itu begitu perkasa, tidak gentar dengan awan-awan gelap yang bergerak cepat di hadapannya dan yang mengepungnya. Ada kekuatan besar dalam diri si elang yang "alone". Kekuatan langit.

Sayap-sayapnya yang dibentangkan dan dikembangkan, dan dikepak-kepakkan, dengan begitu indah dan memukau, terlihat seperti layar sebuah kapal laut yang terkembang yang sedang mengarungi lautan yang bergelora besar. Sepasang layar terkembang si elang, membuatnya dapat terbang dengan kencang, menantang dan menembus dan mengalahkan awan-awan gelap, yang akan menjadi hujan. 

Nah, sekalipun banyak di antara kita yang merasa sendirian, sunyi, dan sepertinya Covid-19 adalah awan-awan hitam yang sangat menakutkan dan tak pernah hilang, marilah kita terus terbang tinggi dengan tangguh, tanpa takut. 

Fly, fly, fly, up up to the sky, come, come, nearer and nearer, to Jesus, in aloneness, in strength, in silence. 

Ingatlah dan imajinasikanlah bahwa kita adalah si elang misterius yang saya lihat tadi sore, dalam kesendirian dan keheningan, dan ketangguhan.  

25 Februari 2021
ioanes rakhmat

https://www.oxfam.org/en/research/economy-99

https://www.aljazeera.com/news/2021/2/17/un-chief-urges-global-plan-to-reverse-unfair-vaccine-access

https://www.nytimes.com/2021/02/26/opinion/vaccine-covid-coronavirus.html

https://www.who.int/news/item/24-02-2021-covid-19-vaccine-doses-shipped-by-the-covax-facility-head-to-ghana-marking-beginning-of-global-rollout

Saturday, January 30, 2021

Kini Diperlukan "Vaksin-vaksin Antisipatif" Multilinier Covid-19


MUTAN-MUTAN varian virus corona baru (mutan-mutan Inggris, Afrika Selatan, Brazil, plus Columbus Ohio, dan yang masih akan muncul) yang telah menyebar ke seluruh dunia, kini ditemukan RESISTEN dalam tingkat yang variatif terhadap vaksin-vaksin yang sudah ada.

Ya, terhadap semua vaksin. Termasuk vaksin Pfizer dan vaksin Moderna, menyusul segera vaksin Novavax dan vaksin Johnson & Johnson. Juga, masih ditunggu, vaksin Arcturus dan vaksin Vaxart (tablet dan sirup). Tentu juga vaksin-vaksin Tiongkok dan negeri-negeri lain.

Kini setiap kasus positif memerlukan sekuensing genetik virus! Tidak cukup test PCR dan penelusuran kontak saja! Jadi, problem dunia makin berat dan rumit terkait penanggulangan pandemi Covid-19.

Apakah Indonesia mampu melakukan langkah penanggulangan yang makin berat dan rumit ini? Kita berharap ya.

Terkait vaksin, kini langkah-langkah penting diperlukan:

1. Melakukan "adjustment" atau "penyetelan ulang" vaksin-vaksin yang sudah ada. Setelah itu, perlu uji klinis dan otorisasi penggunaan darurat lagi.

2. "Adjustment" atas vaksin yang sudah ada atau atas vaksin yang sedang dikembangkan harus bisa menghasilkan vaksin-vaksin yang mampu jauh mengantisipasi mutasi-mutasi besar virus corona.

Dus, dibutuhkan vaksin-vaksin yang semua komponen kimiawi dalam vaksin-vaksin ini memiliki kapasitas untuk melampaui banyak mutasi besar genetik yang sedang dan akan terjadi secara multilinier pada strain semula virus corona baru (yaitu strain Wuhan, Desember 2019).

"Vaksin antisipatif" ini mengharuskan usaha keilmuan yang lebih cerdas, yang dijalankan interaktif bersama dunia real yang liar, yang berada di luar dunia uji klinis ilmiah yang terkontrol.

Lewat vaksin antisipatif ini, replikasi diri virus-virus corona baru harus dapat dihentikan jika pandemi ingin dapat ditanggulangi "penuh". Mutasi genetik viral berlangsung saat replikasi diri. Kita butuh vaksin-vaksin unggulan yang mampu sepenuhnya mencegah replikasi diri mutan-mutan virus corona baru. Dus, vaksin-vaksin antisipatif masa depan ini akan menjadi vaksin-vaksin editor DNA/RNA virus yang hidup (virion) yang telah menginfeksi tubuh manusia.

Jadi, tampaknya itu akan menjadi suatu usaha sains-tek vaksinologis yang besar, ruwet, dan membutuhkan waktu sangat panjang dan daya tahan mental dan raga dan ketabahan kita semua sebagai individu dan populasi.

3. Vaksin-vaksin yang sudah ada--- yang tentu tidak akan dibuang ke laut karena "sudah basi", maksudnya: tidak efektif lagi dalam membangun antibodi-antibodi lengkap terhadap mutan-mutan virus--- tetap dapat disuntikkan sebagai dosis pertama untuk menangkal virus corona strain lama.

Sesudah jeda waktu yang variatif antar-vaksin, harus segera disusul dengan suntikan vaksin booster/penguat yang mampu menangkal mutan-mutan virus corona baru.

Dus, penyakit Covid-19 pasti akan menjadi penyakit endemik yang akan terus ada bersama kita, dan harus dilawan dengan vaksinasi vaksin-vaksin booster secara berkala (mungkin 6 bulan sekali atau 12 bulan sekali). Serupa dengan penanganan wabah influenza yang muncul musiman di kawasan-kawasan non-tropis.

Vaksin-vaksin booster ini tentu memerlukan "adjustment" atau penyesuaian ulang terus-menerus sejalan dengan mutasi-mutasi virus corona yang terus berlangsung di saat mereka mereplikasi diri.

Sudah ditulis di atas, sangat diperlukan vaksin-vaksin booster atau vaksin-vaksin baru yang mampu jauh mengantisipasi sangat banyak mutasi genetik besar virus corona baru yang berlangsung dalam trajektori tidak unilinier, tapi multilinier.

Para ilmuwan global perlu bekerjasama dan bergabung dalam meneropong ke depan trajektori mutasi-mutasi genetik viral yang multilinier ini. Perlu ada "fusion of horizons" (terma Gadamer) antar para ilmuwan peneliti dan perusahaan-perusahaan farmasi pengembang vaksin-vaksin yang antisipatif.

Jadi, ya masa pandemi dan masa endemi Covid-19 akan dan sedang menjadi masa kesukaran besar umat manusia. Suatu kesengsaraan global. Suatu azab alamiah, bukan azab buatan manusia, dan juga bukan azab dari Langit.

Pandemi yang lalu berubah menjadi endemi Covid-19 akan berlangsung satu generasi atau lebih manusia. Kecuali untuk negeri-negeri maju kecil seperti Singapura dan New Zealand. Dampak-dampak global akan pasti terjadi pada kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan, daya tahan tubuh, dan gaya kehidupan kita semua, serta hubungan internasional.

Semoga sains-tek maju vaksinologis, dalam interaksi dengan dunia nyata yang berjalan dalam hukum-hukumnya sendiri, akhirnya, dengan perkenan dan bantuan besar Tuhan YMPengasih, dapat menghentikan replikasi diri semua mutan virus corona dalam sel-sel tubuh manusia. Ini suatu target sains-tek yang luar biasa besar yang sangat sulit dicapai, tetapi tidak mustahil dapat diraih.

Temukanlah makna kehidupan anda di masa kesusahan besar pandemi Covid-19 yang sedang dan akan berlangsung jangka sangat panjang. Peran bermakna apa yang dapat anda jalankan, kecil sekalipun?

Kata almarhum psikoterapis beken Viktor E. Frankl asal Austria, kesengsaraan adalah bagian dari kehidupan, sukar sekalipun. Sebagaimana kita ingin kehidupan kita bermakna, maka kita sendirilah yang harus menemukan dan menciptakan makna dalam penderitaan berat sekalipun di era pandemi ini.

Jakarta, 30 Januari 2021
ioanes rakhmat

Sumber rujukan yang diperhatikan

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-01-30/covid-mutations-undercut-optimism-even-as-more-vaccines-get-near

https://ta6b7wzz5qeeqta24rhs3hppna-adwhj77lcyoafdy-www-bbc-com.translate.goog/news/amp/uk-55850352

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-01-29/j-j-single-dose-vaccine-provides-strong-shield-against-covid-19

https://www.channelnewsasia.com/news/singapore/covid19-4-5-years-prolong-pandemic-risks-virus-mutate-14050198

https://www.channelnewsasia.com/news/world/covid19-moderna-vaccine-booster-south-africa-uk-strain-14039612

Sunday, December 27, 2020

Kabar Sorgawi: Santa Klaus dan Piet Hitam Akan Bagikan Vaksin Covid-19 Gratis!



Sikap dan gerakan menolak vaksin apapun adalah salah besar. Seharusnya, kalangan yang menolak vaksin, bersikap jeli: tolaklah vaksin yang tidak tepat, yang tidak "up-to-date", yang tidak aman, tidak manjur, dan yang serokonversinya rendah. Lalu, dukunglah program vaksinasi pemerintah yang memakai vaksin-vaksin yang tepat, up-to-date, aman, manjur dan memperlihatkan serokonversi tinggi.

Begitu juga, adalah salah jika orang menolak vaksin apapun lalu mendukung hanya prokes 3M plus sebagai ganti vaksinasi.

Sebab, prokes 3M yang dijalankan jangka sangat panjang, tanpa vaksinasi, akan menimbulkan dampak berat dan buruk pada psikologi manusia dan kegiatan sosial ekonomi yang luas. "New normal" itu beda sekali dari "Normal".

Kita sudah tahu dampak psikologis negatif dari prokes 3M pada anak-anak yang harus terlalu lama menjalankan "online schooling" dengan akibat pergaulan sosial mereka nyaris terhenti. Juga pada orang dewasa tertentu yang harus jangka panjang bekerja online dari rumah, "working from home". Belum lagi "covid-insomnia" dan "covid-anxiety and stress" yang melanda banyak orang di seluruh dunia, karena pandemi yang hebat dan juga karena pelaksanaan prokes 3M yang terlalu lama meski perlu.

Lantas? Ya untuk keluar dari labirin pandemi Covid-19, jalannya yang paling tepat adalah vaksinasi global dengan vaksin-vaksin apapun yang tepat, "up-to-date", aman, manjur dan memiliki serokonversi yang tinggi sehingga mampu, lewat aksi-reaksi sistem imun, membangkitkan antibodi-antibodi yang lengkap dengan durabilitas yang sangat panjang, 10 tahun atau selamanya.

Susahnya, antara lain lantaran imunitas yang dimiliki manusia dan seleksi alam, si virus SARS-CoV-2 kini tampak sedang bermutasi terus, bukan mutasi-mutasi minor yang dapat diabaikan, tetapi mutasi-mutasi mayor pada morfologi luar, termasuk pada protein "spike" mereka. Kayaknya, si virus sedang bermain petak umpet dan pasang puzzle dengan para vaksinolog.

Vaksin-vaksin teknologi baru mRNA yang sudah diproduksi, dan belum di-"adjust" dengan mutasi-mutasi besar si virus SARS-CoV-2 belakangan ini, apakah harus dibuang, karena mubazir? Dus, jutaan USD akan raib begitu saja? Atau tetap akan dijual dan disuntikkan dengan dalih "denial" bahwa vaksin-vaksin ini masih ampuh dalam menangkal, misalnya, si Mutant Covid Inggris dan si Mutant Covid Afrika Selatan? Susah menjawabnya. Business is business. Uupps, health is health, isn't it, Pfizer and Moderna?




Kasus infeksi di Indonesia yang pesat meningkat belakangan ini (per 26 Desember 2020, kasus positif mencapai 706.837), dan penularan komunitas (dalam satu keluarga dan dalam satu RT/RW) yang makin menggila, pasti ada penyebabnya. Apakah lantaran pengabaian prokes 3M yang disengaja? Ataukah karena virus SARS-CoV-2 di kawasan-kawasan Indonesia yang paling berat terdampak sudah bermutasi besar dengan menghasilkan strain baru yang lebih agresif dan lebih cepat menular? 

Pertanyaan yang kedua itu hanya bisa dijawab oleh para ilmuwan lewat teknologi sekuensing genetik si virus yang menunjang! Yang tentu sangat mungkin adalah gabungan dua pertanyaan itu.

Adakah upaya lain? Ya ada.

Mari minta tolonglah rame-rame ke Santa Klaus supaya si santa suci ini bersama Piet Hitam dalam musim Natal di ujung Desember 2020 ini datang ke seluruh warga dunia, 8 milyar lebih manusia, dengan membagi-bagi gratis vaksin Covid-19 paling mujarab dan manjur abadi lewat cerobong asap dan jendela-jendela. Vaksin Santa ini "made in heaven".

Jadi, bangunlah cerobong-cerobong asap di rumah anda, dan buka jendela rumah dari jam 24 hingga jam 3 dini hari. Vaksin-vaksin Covid-19 gratis penolong dunia akan berjatuhan ke dalam rumah anda. Percaya gak? SAYA SIH MAUNYA PERCAYA. Maunya loh.


Salam,
Santa Klaus dan Piet Hitam
27 Desember 2020





Thursday, December 17, 2020

Setelah vaksin Covid-19 digratiskan, selanjutnya apa yang menunggu kita?


Presiden Joko Widodo, 16 Desember 2020, telah mengumumkan bahwa vaksin (-vaksin) Covid-19 digratiskan untuk seluruh warga masyarakat Indonesia. Ketika vaksinasi dimulai, beliau yang akan menjadi orang pertama penerima vaksinasi. 

Digratiskan, tentu tanpa batasan golongan umur. Tentu ada kalangan yang akan didahulukan. Bayi, batita, balita dan bocah masih dapat menunggu sampai vaksin oral Covid-19 tersedia (misalnya vaksin oral Covid-19 Vaxart), asalkan orangtua mereka sudah imun lewat vaksinasi gratis.

Lalu, hal penting selanjutnya apa?

Hal yang terpenting bukanlah para pengusaha tamak Indonesia jadi tidak bisa menimbun vaksin-vaksin. Bukan itu. Meski orang boleh berteriak, Rasain loh!

Dengan vaksin-vaksin COVID-19 digratiskan pemerintah RI untuk seluruh warga masyarakat, maka batasan persentase populasi yang perlu divaksinasi (50%?, 70%?) untuk mencapai "herd immunity" atau "kekebalan populasi menyeluruh" tidak ada lagi.

Jika semua warga, 240 juta orang, mau divaksinasi, kurang lebih 100% warga Indonesia akan beroleh kekebalan. Ini lebih bagus.

Sebab meski "herd immunity" dapat tercapai lewat vaksinasi 70% populasi, kita masih bisa terinfeksi. Kok? 

Ya, betul, jika pada suatu saat yang naas, tanpa "pagar pembendung" yang terdiri atas orang yang telah imun (lewat vaksinasi atau lewat kesembuhan), kita (yang masih rentan atau tidak imun) berada di kepungan, katakanlah, 20 orang pembawa virus sebagai OTG yang tidak divaksinasi. Mereka termasuk 30% populasi yang tidak divaksinasi karena berbagai alasan, misalnya karena tak percaya sama sekali pada vaksin apapun. Jika ini kita alami, dengan akibat kita terjangkit Covid-19, ya nasib namanya. Nasib, nasib.

Oh ya, anti-vaxxers selalu ada, meski vaksinasi sudah digratiskan. Mereka terus bergerak membayangi setiap usaha vaksinasi massal. Sambil menyebar teori-teori persekongkolan atau teori-teori konspirasi ngalor-ngidul yang terus diubah dan diganti. Sayang ya, mereka menghabiskan waktu, tenaga dan uang untuk hal-hal yang kosong. Mereka pasti tegang dan stres.

Setelah masyarakat menerima vaksinasi, apakah kehidupan lama yang normal lantas kembali sepenuhnya? Oh tidak serta-merta kembali normal. Ada masa transisi.

Sebab, kita masih harus bersiap dengan fakta bahwa meskipun orang menjadi relatif kebal untuk diri sendiri setelah beberapa waktu divaksinasi dengan dua suntikan dengan jedah waktu, mereka masih potensial terpapar virus (jatuh sakit tapi ringan) dan menyebarkan virus corona baru. Soal ini sedang hangat diperbincangkan. Belum ada kepastian.

Jadi, kita sebaiknya masih mengenakan masker wajah beberapa bulan, misalnya selama tiga hingga enam bulan, setelah masyarakat menerima vaksinasi. Kepastian akan muncul akhirnya, lewat riset dan data, apakah orang yang sudah divaksinasi masih akan menularkan virus yang sudah makin lemah.

Lemah? Ya diperlemah, tapi dapat berubah jadi "garang" jika menginfeksi orang lain yang memiliki sistem imun yang kinerjanya sangat lemah.

Orang yang sudah divaksinasi masih bisa menyebarkan virus, ya karena dibutuhkan waktu sekian minggu setelah vaksinasi untuk antibodi-antibodi lengkap (humoral dan selular) terbentuk dalam titer yang tinggi. Selama menunggu ini, mereka masih potensial terpapar virus (dengan gejala atau tanpa gejala) dan menularkan virus.

Ingat, sekali lagi ingat, bahwa kita sekarang ini berada dalam masa pandemi. Untuk melakukan vaksinasi 240 juta orang yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia, dibutuhkan waktu lama, 6 bulan bahkan bisa sampai 1 tahun, bergantung kecepatan distribusi vaksin-vaksin, infrastruktur, dan kesigapan, perlengkapan penunjang dan jumlah ketersediaan para pekerja kesehatan. Jadi, selama aktivitas vaksinasi nasional yang butuh waktu ini, potensi penularan virus masih tetap tinggi.

Ya jadinya memakai masker masih perlu dilakukan sementara kegiatan vaksinasi sedang berjalan, meski kita sudah divaksinasi. Bahkan sangat baik jika kebiasaan memakai masker di wilayah publik terus dipertahankan ketika kita, misalnya, sedang terkena flu biasa atau terserang batuk.

Meskipun masih mengenakan masker beberapa waktu, setelah divaksinasi, kita akan hidup lebih rileks dan lebih lega. Ekonomi yang sedang mati suri akan segera bangkit dan hidup lagi. Kegiatan kumpul-kumpul bertahap akan jalan lagi. Pertandingan sepak bola akan bisa kita tonton lagi langsung di suatu stadion. Kantor-kantor akan dibuka penuh lagi. Ibadah di rumah-rumah ibadah semarak lagi. Sekolah-sekolah buka lagi. Semua kegiatan interaksi online berganti dengan kegiatan interaksi in-person. Dst. Dst.

Selain itu, meski sudah divaksinasi, tidak berarti kita akan imun selamanya. Masih banyak hal yang belum kita ketahui tentang berapa lama (durabilitas) imunitas yang distimulasi vaksin-vaksin Covid-19 akan bertahan.

Ihwal berapa lama kekebalan lewat vaksinasi akan bertahan, bergantung serokonversi vaksin yang digunakan, yakni kapasitas suatu vaksin untuk, lewat mekanisme kerja sistem imun, membangkitkan antibodi-antibodi yang komplit (humoral dan selular) dan banyak. Makin tinggi serokonversi (di atas 90%), durabilitas imunitas yang distimulasi vaksin akan makin panjang.

Sekalipun durabilitas imunitas lewat vaksinasi ini biasanya akan berkurang sejalan waktu, kita masih punya sel-sel limfosit B dan sel-sel T yang akan dikerahkan sistem imun kita untuk dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak memproduksi sel-sel memori yang membuat sistem imun kita mengenali kembali virus-virus SARS-CoV-2 ketika reinfeksi terjadi kapan pun juga, lalu antibodi memorial diproduksi kilat untuk menyerang virus-virus penyusup ini. Ini sungguh suatu kabar baik.

Meski begitu, adalah lebih baik jika kita divaksinasi ulang setiap 1 tahun sekali sebagai vaksinasi booster dengan vaksin-vaksin Covid-19 generasi-generasi terbaru. Terbaru? Ya karena si gerombolan virus SARS-CoV-2 terus bermutasi, melahirkan jenis-jenis ("strands") baru virus corona.

Hanya alam, lewat banyak cara, yang bisa menghentikan mutasi suatu virus di alam bebas. Vaksin seperti juga antibiotik dapat memaksa dan menekan virus dan bakteri untuk bermutasi, karena mereka juga ingin hidup terus.

Vaksinasi booster per tahun tidak diperlukan sejauh vaksin-vaksin "inactivated" yang sudah lama teruji (juga vaksin-vaksin teknologi baru mRNA yang belum teruji), yang sudah tersedia sekarang untuk Covid-19 (yang perlu disuntikkan 2 dosis per orang dengan jedah waktu), dapat membangkitkan imunitas dengan durabilitas sangat panjang (sampai 10 tahun, misalnya) atau durabilitas selamanya. Kita sama sekali belum bisa tahu tentang hal ini sekarang. Kita baru akan tahu nanti, 6 bulan lagi atau 1 tahun lagi, ketika para ilmuwan memeriksa titer antibodi-antibodi yang dibangkitkan, lewat kerja sistem imun kita, oleh vaksin-vaksin Covid-19 yang sudah tersedia, yang sudah disuntikkan dalam 2 dosis per orang.

Kabar tak enaknya, dugaan banyak ahli, Covid-19 akan menjadi Covid musiman, tak bisa dilenyapkan. Waaah. Dan durabilitas imunitas yang dibangkitkan oleh sistem imun, yang distimulasi oleh vaksin-vaksin Covid-19, juga diduga tidak lama. Waaah. Tenang, tenang, ini semua baru dugaan.

Kenapa dugaan-dugaan, bukan kepastian-kepastian?

Ya, pertama, karena virus SARS-CoV-2 masih misterius. Dr. Anthony Fauci, pakar terdepan penyakit infeksius Amerika, menyatakan bahwa virus corona baru, penyebab penyakit Covid-19, adalah virus yang "protean", mudah berubah bentuk dan sifat. Arah mutasi dan evolusinya tidak terduga, di dalam tubuh inang-inang. "Natural pressure" atau "human-made pressure" memaksa virus-virus bermutasi demi bertahan hidup.

Kedua, karena baru kali ini, di masa pandemi Covid-19, vaksin-vaksin Covid-19 dikembangkan begitu cepat, kurang dari 1 tahun (padahal sebelumnya bisa memakan waktu 10 tahun untuk pengembangan 1 vaksin), baik vaksin-vaksin tradisional yang sudah teruji (dua atau tiga vaksin Tiongkok pilihan Indonesia masuk jenis vaksin ini), maupun vaksin-vaksin teknologi baru mRNA yang belum pernah teruji (vaksin Pfizer dan vaksin Moderna).

Yuup betul, teknologi yang "advanced" memang dapat mempercepat proses pengerjaan dan pencapaian apapun. Jadi, sebetulnya bukan soal waktu 1 tahun yang singkat, melainkan apakah vaksin-vaksin mRNA Covid-19 dalam dunia real (di luar dunia uji klinis) betul-betul akan tetap "safe and effective" dan tidak akan menimbulkan "long term effects" yang berat. Kita belum punya pengalaman sama sekali tentang ini. Jadi kita belum bisa dapat jawaban tentang ini sekarang. Kita masih menunggu. Kita masih bertaruh.

Pertaruhan? Ya, itulah kehidupan kita, kehidupan yang akar terdalamnya dalam pohon evolusi biologis adalah mikroorganisme yang dinamakan virus. Kita, dan semua organisme lain, bermoyang virus. Walaaah lah lah.


ioanes rakhmat
17 Desember 2020

Tuesday, December 15, 2020

Pastikah "herd immunity" akan dicapai jika 50% populasi Indonesia sudah divaksinasi, seperti perkiraan pemerintah?


PEMERINTAH INDONESIA memperkirakan kebutuhan vaksin covid-19 di Indonesia mencapai 246,51 juta dosis [Catatan: 1 orang menerima 2 dosis suntikan dengan jedah waktu; dus yang akan divaksinasi sekitar 123,25 juta orang].

Detailnya, sebanyak 73,96 juta dosis untuk skema program (disubsidi) dan 172 juta dosis untuk skema mandiri (bayar sendiri). Alokasi tersebut sudah sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mari kita pikirkan dengan cermat.

Ditetapkan 123,25 juta orang akan menerima vaksinasi dari sekitar total 240 juta penduduk. Berarti sekitar 50%. Mungkin diandaikan, 50% penduduk yang imun, yang berfungsi sebagai "pagar" atau "bendungan", akan memberi reaksi berantai pemutusan penularan mutlak sehingga akan dihasilkan "herd immunity" (kekebalan populasi) bagi seluruh penduduk Indonesia.

Ya, "herd immunity" akan dicapai tanpa perlu 100% populasi di suatu kawasan divaksinasi; lazimnya cukup 60 hingga 70% saja. Jika dicukupkan minimal 50% (termasuk orang yang dianggap imun setelah sembuh dari Covid-19), ya kita lihat saja nanti hasilnya.

Catat, "herd immunity", dalam hal ini, bukan "natural herd immunity" (NHI) yang dicapai lewat infeksi virus secara natural yang dibiarkan, yang lalu bisa disusul dengan kesembuhan (dengan akibat antibodi IgG terbentuk), atau dengan kematian dalam jumlah luar biasa besar. Tidak ada protokol kesehatan yang harus dijalankan. Tidak ada usaha terencana untuk memitigasi bencana serangan virus. Hukum yang berjalan ya hukum rimba, siapa yang kinerja sistem imunnya kuat, berpeluang besar untuk selamat. Prinsip "survival of the fittest" bekerja. Di era iptek, ya NHI tampak menjadi ide yang primitif.




Selain itu, NHI, meski primitif, juga adalah suatu ide yang rumit, karena banyak faktor yang bermain di dalamnya. Faktor biologis manusia, faktor biologis si virus, faktor gaya hidup individual, komunal dan sosial, faktor demografis, faktor lingkungan alam dan kehidupan, faktor kultural, dan faktor besaran penularan virus. NHI tidak bisa difiksasi dalam hitungan angka-angka. Tidak ada ambang batas yang pasti berapa persen populasi harus sudah imun (25%? 50%?, 60%?, 70%?) untuk menghasilkan NHI di mana "transmission rate" atau "angka penularan" (atau R) harus sudah, atau lebih kecil dari, nol.

Jika strategi NHI dijalankan, ini akan berpeluang besar menjadi bencana nasional atau bencana global. Bermuara pada kejadian katastrofik. Orang bukan berdamai dengan si virus, tapi belum apa-apa sudah dibuat keok oleh si gerombolan virus.

Anyway, dalam usaha mencapai "herd immunity" lewat vaksinasi, harus diingat, kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan mengharuskan setiap pemerintah pulau--- entah pulau besar atau pulau kecil, entah pulau padat penduduk atau pulau tidak padat penduduk--- melakukan vaksinasi 50% penduduknya. Di Pulau Jawa yang paling padat penduduknya, hanya 50% penduduknya yang akan perlu menerima vaksinasi.

Jadi, jika anda berdiam di Pulau Jawa, anda bisa termasuk atau bisa tidak termasuk orang yang akan menerima vaksinasi. Jika tidak termasuk, jangan khawatir, sebab jika sekurang-kurangnya 50% penduduk Pulau Jawa sudah divaksinasi, "herd immunity" akan tercapai, dan anda (juga bayi, batita, balita, bocah, dan orang yang menanggung komorbiditas yang berat) yang tidak divaksinasi mungkin sekali tidak akan tertular Covid-19. Mengapa "mungkin sekali", tidak dijamin pasti? Ya karena mungkin, di suatu saat, anda yang tidak imun dapat berada di kepungan orang-orang yang tidak divaksinasi, yang masih terus membawa virus sebagai OTG. Saat itu tidak ada orang yang imun, yang berfungsi sebagai perisai atau pagar pelindung, yang bersama anda. Yaaah... nasib deh.

Termasuk dalam 50% yang tidak menerima vaksinasi tentu kalangan anti-vaxxers yang terus saja dengan gigih dan tanpa nalar kritis menyebarkan berbagai teori komplotan atau teori konspirasi yang tak berbasis fakta, dan juga kalangan yang selalu bersikap nyinyir dan negatif terhadap pemerintah. Kita wait and see, apakah para penyinyir ini akan konsisten sampai wafat tidak mau divaksinasi, mati dalam kenyinyiran.

Anda tentu harus berupaya serius untuk masuk ke dalam 50% yang menerima vaksinasi, entah karena vaksinasi itu diwajibkan dengan dasar UU atau karena kesadaran dan kecerdasan anda sendiri.

Satu hal penting perlu dicatat. "Herd immunity" atau "kekebalan populasi menyeluruh", bisa dicapai lewat vaksinasi 50% penduduk setiap pulau, hanya jika vaksin-vaksin yang dipilih dan dipakai (vaksin-vaksin Tiongkok produk Sinovac Biotech dengan vaksin "inactivated", CanSino Biologics dengan vaksin "non-replicating adenovirus type 5-vectored" dan BUMN China Sinopharm dengan vaksin "inactivated") memang aman dan efektif (dibuktikan lewat uji klinis besar tahap 3), dan dengan serokonversi yang tinggi (di atas 90%), artinya: vaksin-vaksin tersebut mampu membangkitkan antibodi-antibodi yang banyak dan komplit serta bertahan langgeng atau sangat lama (durabilitas antibodi humoral dan selular tinggi).

Durabilitas antibodi yang panjang, yang dibangkitkan suatu vaksin, sangat krusial sekalipun sistem imun akan mengerahkan sel-sel limfosit B dan sel-sel T yang akan memproduksi sel-sel memori dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat di saat virus yang sama menginfeksi kembali berulang-ulang, berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah imunitas diperoleh pertama kali entah lewat kesembuhan atau lewat stimulasi oleh vaksin.

Bagaimana pun juga, untuk tetap mempertahankan imunitas terhadap serangan kembali virus SARS-CoV-2, vaksinasi (dua suntikan per orang, dengan jedah waktu yang bervariasi antara suntikan pertama dan suntikan kedua) sangat mungkin akan dilakukan kembali setiap 1 tahun sebagai booster. Vaksinasi ulang per tahun ini sangat mungkin akan memakai vaksin-vaksin Covid-19 generasi-generasi terbaru sejalan dengan mutasi-mutasi virus corona baru yang tidak bisa dihentikan oleh manusia--- kecuali alam berkehendak lain yang tak terduga, misalnya, mari kita melamun, virus SARS-CoV-2  tiba-tiba hilang begitu saja, ditelan oleh suatu "black hole". 

Patut diingatkan terus, bahwa vaksin-vaksin, seperti vaksin Pfizer yang dikembangkan dalam tempo cepat kurang dari satu tahun lewat teknologi mRNA (yang sama sekali belum teruji!), yang dalam sekian uji klinis yang terkontrol ditemukan aman (tak timbul efek samping yang serius dan dialami banyak orang) dan efektif (persentase jumlah relawan yang terproteksi oleh suatu vaksin besar, di atas 90%), dalam dunia real yang liar dan tak terkontrol oleh metode keilmuan bisa menunjukkan hal sebaliknya. Yaitu muncul efek-efek samping ("adverse reactions" atau "side effects").

Efek samping ini ada yang ringan atau "tidak serius" (seperti sakit kepala, migrain, sakit otot, rasa lelah yang lama, demam, menggigil--- serupa dengan simtom terkena Covid-19 ringan) dan ada yang serius (seperti Bell's palsy atau wajah tertekuk miring sebelah). Orang yang memiliki riwayat alergi yang serius terhadap vaksin, obat-obatan dan makanan, juga tidak diperbolehkan menerima vaksinasi (larangan yang selama ini dipandang wajar).

Efek-efek samping tersebut ditimbulkan oleh vaksin mRNA Pfizer-BioNTech yang digunakan di Inggris dalam minggu-minggu ini (sejak Selasa, 8 Desember) dengan dasar resmi otorisasi penggunaan darurat saat pandemi.

Banyak pengamat menyatakan pemberian otorisasi penggunaan darurat ini, yang belum/tidak didukung Uni Eropa, adalah "suatu kudeta politik demi [memulihkan pamor] PM Inggris Boris Johnson". Tentu saja, vaksin Pfizer ini dan otoritas pemberi otorisasi penggunaan darurat jadinya dilindungi pemerintah Inggris, diberi kekebalan hukum oleh Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial Inggris dalam bisnis penjualan vaksin dan vaksinasi.

Nah, jika timbul efek-efek samping negatif setelah orang menerima vaksinasi, perusahaan Pfizer-BioNTech tidak bisa dituntut secara legal karena diberi impunitas oleh pemerintah Inggris. Warga Inggris penerima vaksin yang mengalami efek-efek samping berat juga diberi indemnitas (atau ganti rugi) oleh negara, bukan oleh Pfizer-BioNTech. Semua keganjilan ini sebetulnya menunjukkan Pfizer-BioNTech tidak yakin dengan keamanan vaksin mRNA yang mereka telah kembangkan.

Pengacara Gurdal Singh Nijar pada 14 Desember 2020 di The Sun Daily menulis antara lain bahwa "Harus dicatat bahwa Pfizer telah terlibat dalam banyak kasus gugatan baik oleh konsumen maupun oleh Departemen Keadilan dan Hukum Amerika terkait penipuan di bidang perawatan kesehatan, kegagalan untuk memperingatkan risiko-risiko berbahaya obat-obatan dan pemasaran yang ilegal."

Pada pihak lain, otoritas regulator medik Swiss menyatakan belum bisa memberi otorisasi karena laporan data lengkap vaksin-vaksin Pfizer-BioNTech, Oxford-AstraZeneca dan Moderna tentang keamanan, kemanjuran dan kualitas vaksin belum ada, sampai 1 Desember 2020.

Berbeda dari Inggris dan Amerika yang memberi otorisasi penggunaan darurat masa pandemi bagi vaksin Pfizer-BioNTech, European Medicines Agency (EMA, ekuivalen FDA Amerika atau BPOM Indonesia) membutuhkan waktu lebih lama, hingga Natal 2020, untuk mengeluarkan otorisasi pemasaran bersyarat bagi vaksin tersebut. Ya, tekanan-tekanan banyak berdatangan dari berbagai kalangan dalam masyarakat Uni Eropa untuk vaksin Pfizer diberi otorisasi untuk digunakan di UE setelah Inggris memberikan OPD untuk vaksin ini. 

Kita bisa jadi akan mendengar juga efek-efek samping yang serupa yang akan timbul di antara warga Amerika pada ronde pertama vaksinasi dengan vaksin Pfizer yang dimulai Senin, 14 Desember 2020.

Vaksin Pfizer sudah diotorisasi untuk penggunaan darurat di masa pandemi oleh FDA Amerika, Jumat, 11 Des, yang berada di bawah tekanan politik dan ancaman pemecatan oleh Presiden Trump yang masih ambisius dengan Operation Warp Speed. Yuuup, padahal bulan Januari 2021 dia akan resmi digantikan Joe Biden. Dalam rangka OWS itu, tiga juta dosis didistribusikan pada akhir pekan 12-13 Desember ke seluruh negara bagian Amerika.

Sejauh ini, vaksin mRNA Pfizer sudah dipesan oleh Inggris, Bahrain, Kanada, Saudi Arabia, Meksiko, Amerika dan Singapura. Pemesanan hanya diladeni jika uang panjar sudah diberikan.

Nah, efek-efek samping yang disebut di atas sedang terpantau sekarang. Kita masih belum tahu efek-efek samping yang dapat timbul berbulan-bulan ("long-term effects") setelah vaksinasi dosis dua suntikan per orang. Apakah akan terbukti bahwa vaksin mRNA dalam jangka panjang akan mengubah DNA orang seperti sinyalemen miring para teoretikus konspirasi? (Duuh! Syukurnya, sinyalemen ini sudah dibantah!). Jika orang kapok karena efek samping yang dialami setelah vaksinasi dosis pertama, mungkin sekali mereka tidak mau menerima "shot" yang kedua. Artinya, suntikan yang pertama menjadi mubazir karena daya imunogenisitasnya terlalu lemah.

Sejauh ini, belum ada vaksinasi massal penduduk dengan vaksin-vaksin terinaktivasi (bukan vaksin mRNA) buatan Tiongkok, juga di Indonesia, di luar konteks uji klinis besar tahap tiga. Yakni di dunia real yang liar, yang tidak dikontrol dan tidak dipantau oleh para ilmuwan pengembang dan peneliti vaksin-vaksin dan perusahaan-perusahaan farmasi besar dunia. Ingat, dunia real yang liar dan multidimensional berbeda dari dunia uji klinis yang terdesain dan terkontrol.

Semoga pilihan Indonesia terhadap vaksin-vaksin Tiongkok adalah pilihan yang benar. Semoga manfaat protektif dan kapasitas imunogenisitas vaksin-vaksin "inactivated" dan "adenovirus type-5 vectored" yang sudah lama teruji ini jauh lebih besar dan real dibandingkan efek-efek samping vaksin-vaksin ini yang nanti akan muncul ketika vaksinasi sudah resmi diwajibkan dan dijalankan oleh pemerintah ke sangat banyak penduduk Indonesia.

Ya, tak ada obat dan tak ada vaksin yang tidak menimbulkan efek samping. Masalahnya, apakah manfaat penyembuhan dan perlindungan jauh lebih besar dan lebih luas bagi sangat banyak orang dibandingkan "adverse effects" yang dapat terlihat pada sejumlah orang. Jika ya, terkait vaksinasi, pilihannya adalah vaksinasi massal terus dilanjutkan.

Jika efek samping negatif yang serius terlihat dialami sangat banyak orang dan meluas, di saat itulah vaksin-vaksin yang tidak aman ini dilarang, dengan... tentu saja sudah memakan banyak korban. Mungkin bencana medik semacam ini tidak akan terjadi. Hopefully not!

Jadi, tak perlu suatu merk vaksin Covid-19 dan perusahaan pengembangnya sampai diberi kekebalan hukum. Ada sisi bisnis dan profit pada setiap vaksin Covid-19 yang dipasarkan. Perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin Covid-19 tidak ada yang berperan sebagai Robin Hood atau Santo Claus di musim Natal. Mereka bisa menjual relatif murah hanya di masa pandemi, masa darurat. Begitu pandemi berakhir, harga vaksin per dosis akan mereka naikkan tinggi, bertahun-tahun ke depan, di saat Covid-19 menjadi Covid musiman.

Jadi, ganjil jika ada bisnis besar vaksin farmasi swasta yang dilindungi hukum negara dan pemiliknya diberi impunitas, dan jika kerugian yang dialami orang yang menerima vaksinasi ditanggung negara. Apakah ini bukan suatu tindakan penyalahgunaan wewenang, kendati mungkin sekali ada landasan UU-nya? UU yang membuat uang rakyat dikuras untuk kepentingan perusahaan swasta.

Apapun juga masalah-masalah yang muncul dari vaksinasi yang sedang berlangsung di banyak bagian dunia, kita berharap "herd immunity" akan dapat dicapai Indonesia dalam tahun 2021 lewat vaksinasi besar-besaran, dengan memakai vaksin-vaksin yang betul-betul aman dan efektif, yang sudah teruji, yang memperlihatkan serokonversi tinggi yang dapat diukur.

Semua orang tahu, pandemi Covid-19 sangat menyusahkan semua orang. Banyak yang tak tahan lalu memberi berbagai reaksi, misalnya memilih hidup "in denial", menyangkal pandemi ini real dan telah menelan banyak korban di seluruh dunia dari semua golongan umur, atau menganggap virus SARS-CoV-2 itu virus yang lemah dan lumpuh; alhasil, semua protokol kesehatan mereka abaikan, dan negara yang berusaha keras menanggulangi pandemi mereka anggap tak ada. Jangan kita masuk ke dalam golongan orang jenis ini. Mereka itu dilabelkan "covidiots" atau "covanarkis".

☆ ioanes rakhmat
15 Desember 2020

Tautan sumber-sumber rujukan

https://www.cnbcindonesia.com/news/20201211080020-4-208321/fakta-fakta-soal-vaksinasi-covid-19-di-ri/4

https://www.vox.com/platform/amp/21451282/herd-immunity-explained-covid-19-pandemic

https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)31605-6/fulltext

https://www.globaltimes.cn/content/1206031.shtml

https://www.cnbc.com/2020/11/23/covid-vaccine-cdc-should-warn-people-the-side-effects-from-shots-wont-be-walk-in-the-park-.html

https://www.dailymail.co.uk/health/article-9030943/Four-volunteers-got-Pfizers-vaccine-developed-Bells-palsy.html

https://www.cnbc.com/2020/12/09/pfizer-jab-warning-for-people-with-history-of-significant-allergic-reactions.html

https://www.swissinfo.ch/eng/reuters/eu-criticises--hasty--uk-approval-of-covid-19-vaccine/46198320

https://www.independent.co.uk/news/health/coronavirus-pfizer-vaccine-legal-indemnity-safety-ministers-b1765124.html

http://www.thesundaily.my/opinion/whose-liability-for-pfizers-vaccine-HX5617779

https://www.swissinfo.ch/eng/society/incomplete-data-stalls-swiss-authorisation-of-covid-19-vaccines/46196598