“Suatu malam aku tidak
dapat tidur, dan saat aku sedang
duduk di kantorku, aku menyadari bahwa aku adalah seorang
pembuat film yang independen.” (Darren Aronofsky)
“Hal penting bagiku adalah
bahwa aku tidak termotivasi oleh pujian orang dan
juga tidak patah semangat karena kritik orang. Aku hanya berusaha
bekerja setinggi-tingginya yang dapat aku capai.” (Russell Crowe)
Rabu, 2 April 2014, selama kurang lebih setengah
jam, mulai pukul 20.15 WIB, saya diwawancarai lewat telpon dalam acara talkshow
Agama dan Masyarakat Radio KBR68H dan Tempo TV, bertopik film Noah, dengan dipandu
Novriantoni Kaharudin. Lewat radio di rumah, saya mengikuti seluruh talkshow
ini dengan memantengi frekuensi 89,2 FM, dan aktif berbicara total kurang lebih
selama setengah jam, diselang-selingi pertanyaan-pertanyaan dan beberapa iklan.
Seluruh acara talkshow interaktif ini sendiri berlangsung selama 1 jam penuh.
Film ini disutradarai oleh Darren Aronofsky, berdurasi
139 menit, dan pertama kali diputar di Amerika Serikat 28 Maret 2014. Ide besar
film ini sudah muncul 10 tahun lalu dalam pikiran Aronofsky, dan ketika sudah
selesai pembuatannya film ini menghabiskan biaya 130 juta US Dollar. Bersama
Pakistan, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, dan tidak lama lagi Mesir,
Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia melarang pemutaran film ini di Indonesia./1/
Sebaliknya, pemimpin tertinggi Gereja Roma Katolik di Vatikan, Paus Francis,
memberikan berkatnya terhadap film Noah setelah percakapan pendek antara
dirinya dan bintang utama film ini Russell Crowe. Mengingat situasi di
Indonesia ini, saya belum dapat menyaksikan film ini seutuhnya; baru
menyaksikannya sepenggal-sepenggal. Tapi saya tertolong untuk mendapatkan gambaran
umum film ini dari begitu banyak resensi atas film ini yang terpasang online di
Internet.
Dalam talkshow itu, yang pertama-tama saya
tekankan adalah film Noah bukan film sejarah, apalagi dokumenter sejarah, tapi
lebih sebagai produk imajinasi kreatif semua insan perfilman yang terlibat di
dalam pembuatannya. Kalaupun ada teks dalam Tanakh Yahudi (Perjanjian Lama
gereja) yang menyebut Nuh dan air bah (Kejadian 6-9), empat pasal teks
skriptural ini sendiri bukan
teks sejarah. Saya mau perlihatkan hal ini dari teks-teksnya sendiri dan dari
pengetahuan-pengetahuan kita atas hal-hal yang faktual.
Saya mulai dari hal yang sangat prinsipil. Kitab
suci apapun, meskipun dapat mengandung elemen-elemen sejarah, bukan kitab sejarah, bukan historiografi apapun
dalam pengertian modern. Kitab Suci apapun juga bukan kitab ilmu pengetahuan, sekalipun dapat
memuat info-info pengetahuan yang dipegang orang yang hidup dalam zaman dan
tempat penulisan kitab suci ini. Memandang kitab suci apapun sebagai buku
sejarah atau buku ilmu pengetahuan, adalah sesuatu yang keliru (kekeliruan ini
bisa kasus per kasus diperlihatkan secara ilmiah) bahkan akan sangat
menyesatkan para penggunanya (yakni mengklaim kebenaran doktrin keagamaan
sebagai kebenaran sejarah atau sebagai kebenaran ilmu pengetahuan). Selain itu,
epistemologi agama berbeda dari epistemologi ilmu pengetahuan; keduanya tidak
dapat dipertemukan. Epistemologi yang pertama disebut sebagai epistemologi revelatif fideis: sesuatu itu
absah sebagai pengetahuan yang benar jika bersumber dari wahyu (Latin: revelationem) yang cukup
diterima benar hanya dengan iman (Latin: fidem).
Epistemologi yang kedua disebut epistemologi evidensialis:
sesuatu itu absah sebagai pengetahuan yang benar jika berlandaskan bukti
(Latin: evidentia)
empiris. Dua epistemologi ini bertabrakan satu sama lain; dus, tidak bisa
teks-teks kitab suci apapun disamakan dengan teks-teks ilmu pengetahuan.
Jika kisah skriptural tentang Nuh dan air bah
diperlakukan harfiah sebagai kisah sejarah, kisah faktual yang tidak boleh
diubah, ada banyak hal di dalamnya yang mustahil bisa terjadi. Saya mau
sebutkan beberapa hal saja, tidak menyeluruh. Misalnya, tidak mungkin
hewan-hewan yang hidup di kawasan-kawasan kutub yang dingin membeku atau
di kawasan-kawasan gurun yang memerlukan suhu udara yang tinggi, atau di
kawasan hutan-hutan rimba, dapat datang lalu dibawa masuk dan hidup baik dalam
bahtera Nuh. Mustahil misalnya sepasang penguin (yang sudah kodratnya tidak
bisa terbang) menempuh perjalanan sangat panjang dan lama, dengan berjalan
kaki, dari kutub untuk menuju bahtera Nuh, dan meninggalkan ekologi dan habitat
kutub yang di dalamnya mereka biasa hidup. Dalam kisah skripturalnya, konon
Allah bermaksud untuk membinasakan bukan saja seluruh umat manusia, tetapi juga
semua binatang yang hidup di Bumi lewat air bah. Tentu saja maksud Allah ini
tidak bisa dilaksanakan terhadap semua binatang yang hidup di dalam air,
terhadap semua organisme air yang hidup di kedalaman laut-laut dalam di planet
Bumi.
Kalau betul semua hewan di planet Bumi terwakili
sepasang-sepasang di bahtera Nuh (padahal Allah ingin membunuh semuanya!),
sejumlah besar hewan ini, begitu bertemu dan saat mereka merasa lapar, akan
saling menyerang, lalu yang satu akan memakan yang lain, sesuai kodrat hewani
dan kebiasaan alamiah mereka masing-masing. Menurut kalangan Kristen
kreasionis, bahkan berbagai jenis dinosaurus, termasuk jenis-jenis yang buas
dari golongan karnivora, ikut serta masuk ke dalam bahtera Nuh./2/
Bayangkanlah, betapa seru dan seramnya suasana di dalam bahtera ini!
Soal penyediaan berbagai jenis makanan
hewan-hewan dalam jumlah sangat besar, soal kotoran hewan-hewan dan kesehatan
mereka, soal suara sangat bising dari semua hewan ini, tentu saja tidak akan
dapat diselesaikan oleh Nuh dan keluarganya dalam bahtera itu. Ingat, menurut
kisahnya, hewan-hewan ini, yang datang dari seluruh penjuru planet Bumi,
bersama kaum keluarga Nuh harus hidup dalam bahtera dengan terapung-apung di
permukaan air selama kurang lebih setengah tahun.
Menyadari persoalan-persoalan besar dan berat
yang akan ditimbulkan oleh hewan-hewan dalam bahtera Nuh, sutradara Darren
Aronofsky harus cari sebuah way
out, jika dia mau kisahnya dapat berjalan ke depan dan filmnya bisa
dirampungkan. Aronofsky terpaksa membuat seluruh hewan tertidur sangat lelap
karena bekerjanya kekuatan gaib, begitu mereka semua sudah masuk ke dalam
bahtera. Kreatif, bukan? Sekaligus tepat: persoalan fiktif diatasi dengan cara
fiktif juga. Selain kreativitas imajinatif ini, Aronofsky berulangkali dalam
film Noah juga menegaskan bahwa binatang-binatang seluruhnya tidak bersalah,
dan karena itu memerlukan perlindungan; penegasan ini bertentangan dengan Allah
yang menghendaki kemusnahan semua binatang. Saya yakin, jika anda aktif dalam
gerakan menyayangi binatang, anda akan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk
menonton film Noah.
Selain itu, waktu yang dibutuhkan Nuh untuk
membuat sebuah perahu besar dari kayu sangat panjang, kira-kira 98 tahun sampai
120 tahun, jika data waktu dari teks-teks skriptural dipakai. Ini bukan saja
menimbulkan masalah daya tahan semua kayu gofir yang dipakai yang usianya sudah
satu abad lebih saat air bah datang, tetapi juga masalah jumlah pekerja yang
diperlukan dan harus dibayar sejak awal proyek yang tentu sangat, sangat besar,
alhasil tidak dapat ditanggung Nuh sendirian. Sebuah proyek pembuatan sebuah
perahu besar yang berlangsung selama satu abad lebih adalah sebuah proyek yang
sudah gagal begitu dimulai! Tetapi dalam film Noah, persoalan serius ini tidak
timbul karena Aronofsky mengerahkan “Pengawas-pengawas”, yakni malaikat-malaikat
yang telah jatuh/3/ yang, sebagai akibatnya, berubah, dalam film ini, menjadi
makhluk-makhluk besar bertubuh batu seluruhnya. Setelah meyakinkan Nuh,
makhluk-makhluk batu ini membantunya membangun bahtera besarnya dengan cekatan
dan cepat. Dalam film, bahtera ini selesai dibuat dalam sepuluh tahun,
berbentuk sebuah peti mayat besar yang memberi impresi teror yang menakutkan.
Bahwa kisah Nuh dan air bah dalam Tanakh Yahudi
bukan kisah sejarah, terlihat dari adanya sebuah dokumen lain yang memuat kisah
sejenis yang berbeda detailnya. Dokumen ini sangat tua, berasal dari milenium
ketiga SM (yakni dari lima ribu tahun lalu), berjudul Epik Gilgamesh, yang disusun
di Mesopotamia./4/ Epik akbar ini jelas menyediakan model utama kisah Nuh dan
air bah dalam Tanakh Yahudi, persisnya dalam kitab Kejadian yang keseluruhannya
disusun pada abad ke-6 SM. Dokumen-dokumen ekstrakanonik pseudepigrafis kitab 1 Henokh dan kitab Yobel tampak juga memperkaya
gambaran-gambaran imajinatif dalam film Noah, khususnya mengenai
malaikat-malaikat dari surga atau Para Pengawas yang memasuki kawasan dunia
yang berperan besar dalam pembuatan bahtera Nuh dan dalam sebab-musabab timbulnya
bencana air bah sendiri./5/
Jangan dilupakan, banyak orang berpikir bahwa
pelangi baru muncul setelah air bah pada zaman Nuh karena Allah baru pada waktu
itu membuatnya sebagai tanda perjanjian dengan Bumi dan dengan semua makhluk
bahwa tidak akan ada lagi air bah yang akan melanda Bumi kapanpun juga di masa
depan. Tetapi kita tahu bahwa pelangi itu suatu fenomena alam yang biasa, yang
bisa dijelaskan mengapa terbentuk sehabis hujan, yang tentu sudah muncul saat
tata surya terbentuk 5 milyar tahun lalu. Ini usia faktual tata surya kita, dus
juga usia planet Bumi. Bagi kalangan literalis skripturalis, planet Bumi
diyakini baru berusia 6.000 tahun, maksimal 10.000 tahun. Pada abad ke-17
sebuah mitos modern tentang usia planet Bumi dibangun oleh uskup kepala Armagh
yang bernama James Ussher (1581-1656) dalam karyanya The Annals of the World
(London, 1658)./6/ Sang uskup kepala ini, mewakili kaum literalis lain,
menghitung-hitung usia jagat raya (bahasa Alkitabnya “langit dan Bumi”)
berdasarkan informasi-informasi dalam Alkitab yang, pertama-tama, dipahami
secara literalis, dan juga dengan memakai bantuan kalkulasi astronomis dan
komparasi dengan sistem penanggalan sejarah paganisme, dan (katanya) dengan
bimbingan Roh Kudus juga. Perhitungannya ini berakhir dengan kesimpulannya
bahwa Allah menciptakan dunia persis di hari Minggu, 23 Oktober 4004 SM! Itu
berarti sekarang ini usia jagat raya (dus juga usia planet Bumi dalam pikiran
sang uskup) adalah 4004+2014= 6018 tahun. Sains modern sendiri menemukan bahwa
jagat raya kita berusia 13,8 milyar tahun yang diawali dengan big bang. Kesenjangan besar
antara angka-angka kaum literalis religius dan angka-angka dari sains modern
ini memberi kita sebuah pelajaran: betapa ada jurang tidak terseberangi antara
teks-teks kitab suci dan teks-teks sains modern!
Satu hal lain yang sukar atau mustahil diterima
akal sebagai fakta dalam kisah skriptural tentang Nuh dan air bah adalah umur
Nuh yang sangat panjang, 600 tahun, saat air bah datang melanda permukaan Bumi.
Apakah ini sebuah fakta, ataukah sebuah metafora numerologis yang khusus
diberlakukan para penulis kitab suci kepada orang-orang suci zaman kuno seperti
Nuh dan beberapa orang lainnya (misalnya Adam yang mencapai usia sampai 930
tahun menurut Kejadian 5:5; Metusalah yang mencapai umur sampai 969 tahun
menurut Kejadian 5:27) sebagai sebuah bentuk pengakuan, pujian dan pengagungan
atas kekhususan, kesucian dan kedekatan mereka dengan Tuhan? Saya condong
memilih yang kedua. Mazmur 90:10 menyebut usia manusia maksimal 70 sampai 80
tahun; dan dalam Kejadian 6:3 dinyatakan umur manusia maksimal akan mencapai
120 tahun. Kisaran 70 sampai 120 tahun untuk usia maksimal manusia masuk akal
dan sejalan dengan fakta-fakta yang kita lihat pada zaman kita juga. Umur yang
sangat panjang, misalnya sampai 1000 tahun, hanya dimungkinkan dicapai pada
zaman modern lewat sains dan teknologi. Sementara kini sedang dikaji
terus-menerus oleh pakar gerontologi ternama Aubrey de Grey yang menggunakan
strategi SENS (Strategies for
Engineered Negligible Senescence), beberapa dasawarsa dari sekarang
usia 1000 tahun ini mungkin akan dapat dicapai./7/
Jadi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita
harus simpulkan bahwa kisah Nuh dan air bah dalam Tanakh Yahudi itu adalah
kisah fiktif, bukan kisah faktual. Dari bukti-bukti fosil yang direkonstruksi
kita tahu dengan pasti bahwa berbagai jenis dinosaurus pernah hidup di planet
Bumi lalu lenyap 66 juta tahun lalu karena sebuah meteor besar menumbuk sangat
dahsyat permukaan planet ini yang mengakibatkan rusaknya semua ekosistem yang
ada, yang melenyapkan nyaris semua kehidupan di darat./8/ Tetapi hingga saat
ini kita tidak mempunyai satu bukti arkeologis apapun untuk memastikan bahwa
air bah pada zaman Nuh pernah melanda planet Bumi dan bahwa dia pernah membuat
sebuah perahu sangat besar untuk memasukkan wakil-wakil semua binatang yang
hidup di muka Bumi ke dalamnya untuk diselamatkan. Penting kita ketahui, ada
sebuah lembaga yang bernama Noah's
Ark Ministries International (NAMI) yang menyebarkan “junk
science”, yang seolah telah membuktikan bahwa air bah pada zaman Nuh adalah
suatu peristiwa sejarah dan bahteranya sebuah benda faktual. Tetapi semua klaim
NAMI ini telah diperlihatkan sebagai klaim-klaim yang dibangun berdasarkan
penyalahgunaan arkeologi untuk kepentingan propaganda agama Kristen./9/ Selain
itu, analisis internal atas teks-teks Tanakh Yahudi (Kejadian 6-9) yang sudah
dilakukan di atas harus membuat kita, sekali lagi, menyimpulkan kisah ini
sepenuhnya fiktif, tetapi memiliki muatan pesan moral yang jelas.
Jadi, karena kisah skriptural Nuh sendiri adalah
fiksi, yakni fiksi moral, biarlah insan kesenian dan perfilman mengembangkan
imajinasi masing-masing yang akhirnya melahirkan sebuah film besar Noah yang
unsur-unsur fiktif imajinatifnya jauh lebih banyak lagi dengan muatan
pesan-pesan moral yang juga jelas. Mengapa kreativitas imajinatif mereka harus
kita campakkan karena alasan bahwa film Noah telah menyimpang dari data dan
info teks-teks kitab suci, padahal data dan info skriptural ini sendiri bukan
data dan info faktual? Mengapa menolak sebuah film fiktif yang dibangun dengan
bertolak dari fiksi juga? Mengapa mengabaikan fakta bahwa fiksi-fiksi moral
juga menyandang fungsi edukatif yang bisa mendewasakan moral masyarakat?
Mengapa takut menerima fakta bahwa firman Allah juga sampai ke manusia lewat
fiksi-fiksi dan dongeng-dongeng? Tentu anda harus cerdas dan bijak memilih,
mana fiksi dan dongeng yang membangun kehidupan dan peradaban, dan mana yang
membinasakan kehidupan dan peradaban. Pilih yang pertama, dan singkirkan yang
kedua.
Jadi, perlu ditekankan lagi, film Noah karya
sutradara Darren Aronofsky betul-betul karya imajinasi yang sangat bebas dan
kreatif, bukan film sejarah apalagi film dokumenter sejarah. Tetapi seandainya
pun kisah Nuh dan air bah dianggap kisah sejarah, setiap sejarah selalu
multitafsir, tidak ada kebenaran tunggal sejarah. Jadi, biarkanlah film Noah
sebagai sebuah tafsir atas “sejarah” masa lampau seandainya kisah skriptural
tentang Nuh kita pandang sebagai kisah sejarah. Sebagai pembanding, baiklah
kita mengacu ke film Soekarno
yang belum lama ini diputar di kota-kota besar di Indonesia. Film Soekarno
mengisahkan sosok yang hidup beberapa dasawarsa lalu, sangat, sangat dekat
dengan kita jika dibandingkan dengan masa penulisan kisah-kisah fiktif kehidupan sosok
mitologis Nuh dan bencana air bah pada masa kehidupannya. Meskipun demikian
film Soekarno ini juga menuai kontroversi khususnya antara Rachmawati
Soekarnoputri dan sutradara Hanung Bramantyo, di sekitar beberapa detail
kesejarahan sosok besar bangsa Indonesia ini./10/
Jadi, sebagaimana kontroversi film Soekarno
tidak mencegahnya untuk diputar, biarlah juga hal yang sama terjadi dengan film
Noah yang kontroversial. Lewat kontroversi-kontroversi yang berlangsung dengan
sehat, pengetahuan kita akan maju ke depan. Jadi, terasa aneh jika LSF melarang
pemutaran film Noah, sebuah film fiktif, yang dibuat para insan perfilman yang
mengembangkan imajinasi mereka dengan bebas dan kreatif. Jika kreativitas
dihambat dan dipasung, akan binasalah sebuah peradaban pada akhirnya, dengan
diawali kebodohan massal di mana-mana.
Karena film Noah adalah film fiktif, tentu saja
imajinasi pembuatnya bebas berkelana ke mana-mana, tidak perlu terpaku pada
teks skriptural Kejadian 6-9. Tetapi sekalipun film Noah fiktif, pesan
spiritualnya sangat sejalan dengan pesan teks keagamaan Kejadian 6-9:
pertarungan antara “the good and the bad”. Yang berada dipihak “the bad” adalah
seluruh umat manusia di muka Bumi termasuk juga hewan-hewan, kecuali hanya Nuh
dan sejumlah anggota keluarganya yang terdekat yang berada di pihak “the good”.
Dalam film Noah, sosok Nuh (diperankan oleh Russell Crowe) diperlihatkan
bergumul di antara dua kutub moralitas ini, karena dia juga melihat dirinya
bagian tidak terpisah dari umat manusia yang mau dimusnahkan. Dalam
pergumulannya inilah Nuh terdorong untuk juga membunuh cucunya sendiri, yang
pada ahkirnya tidak jadi dilakukannya. Sebaliknya, istri Nuh (diperankan oleh
Jennifer Connelly) melihat mereka sekeluarga sebagai orang-orang baik, tanpa
cacat. Kata sang istri, “kita semua manusia yang baik, anak-anak kita juga
orang-orang baik.” Selain itu, ada sosok yang dalam film Noah dinamakan
“Creator” (bukan “God”), sang Pencipta, yang pada satu pihak tidak bisa lagi membenarkan
semua tingkah laku dan isi pikiran serta isi hati pihak “the bad”; tetapi pada
pihak lain, manusia sebagai pihak “the bad” ini adalah ciptaan-Nya sendiri yang
segambar dan serupa dengan diri-Nya.
Di mana sang “Creator” harus berdiri memihak? Ini
adalah persoalan teodise yang telah menjadi persoalan klasik dalam teologi
agama-agama teistik./11/ Saat sang Pencipta ini mengambil sebuah keputusan
untuk melenyapkan umat manusia dari muka planet Bumi, maka moralitas sang
Pencipta ini juga menjadi sebuah persoalan besar. Ada sisi “good” dan ada sisi
“bad” dalam diri sang Pencipta sendiri, dengan sisi “bad”-nya akhirnya yang
tampil menonjol. Lantas muncul sebuah persoalan moral besar: Apakah sang
Pencipta yang semacam ini, yang tega memusnahkan seluruh umat manusia dan
menyisakan segelintir saja, masih patut dipandang dan dipercaya sebagai sang
Pencipta yang mahakasih dan maha penyayang, yang layak dipuja-puja,
disembah-sembah dan ditaati? Perenungan dan pergumulan moral ini demikian
dalam, kompleks, dan multidimensional. Saya akui, sangat sulit bagi kita untuk
keluar dari dilema moral yang kompleks ini, yang melibatkan sang Pencipta di
dalamnya. Dilema moral ini dengan keras mencampakkan ideal-ideal teragung kita
tentang sosok yang disembah dan dipercaya sebagai sang Pencipta. Sanggupkah
anda memikirkan, merasakan dan memahami, dalam teror ilahi berupa air bah ini,
anak-anak, bayi-bayi bahkan janin-janin dalam rahim para perempuan, semuanya
dibunuh oleh sang Pencipta, dengan menenggelamkan mereka?
Menyadari dilema moral yang pelik, berat dan
mengenaskan ini, sutradara Aronofsky tampaknya memberi sebuah jalan keluar yang
berani dalam diri karakter bajingan yang bernama Tubal-Kain (diperankan oleh
Ray Winstone) yang berpandangan bahwa apa yang membuat seseorang itu manusia sejati adalah
kemandiriannya yang penuh untuk mengambil keputusan-keputusan sendiri, sama
sekali tidak bergantung pada sang Pencipta manapun atau pada kode moralitas
apapun. Sebelum wafat, Tubal-Kain berkata kepada Nuh, “Aku katakan kepadamu,
mukjizat-mukjizat sang Pencipta tidak berarti apapun bagiku.” Demikianlah,
ketika Ham (putra kedua Nuh) akan akhirnya membunuh Tubal-Kain demi
menyelamatkan ayahnya, Tubal-Kain berkata kepadanya, “Sekarang engkau telah
menjadi seorang manusia”, persisnya karena Ham akhirnya bertindak mandiri dan
dengan kesadaran diri yang dalam, dan dengan demikian melampaui kategori baik
dan buruk yang kerap dilematis. Memakai idiom filsafat Barat modern,
eksistensialisme yang ditawarkan Aronofsky ini memang kena, membuat kehidupan
menjadi tidak atau kurang pelik. Kata Konfusius, “hidup itu sebenarnya
sederhana, tapi kita ngotot membuatnya jadi pelik.”
Tetapi, apa itu eksistensialisme? Robert C.
Solomon merumuskannya demikian: “Eksistensialisme adalah suatu penemuan diri (self-discovery).
Prasuposisinya selalu kata sum
dari ucapan Descartes (bukan Cogito-nya)....
Eksistensialisme memperdalam individualisme kita. Sikap dan perilaku
eksistensial pertama-tama adalah suatu sikap dan perilaku kesadaran-diri (self-consciousness)... dan
saat seseorang menjadi lebih sadar diri, maka dunia dari saat ke saat makin
menjadi kepunyaannya.... Ketika sikap dan perilaku itu akhirnya menyatakan
dirinya sendiri [dalam refleksi-refleksi filosofis], maka sikap dan perilaku
ini tidak lagi menjadi sindroma personal tetapi menjadi makna-makna universal
yang kita dapat terima sebagai sikap dan perilaku kita sendiri.... Kesadaran
diri menjadi rumah dari suatu kebenaran pertama yang universal mengenai semua
orang.”/12/
Bagaimanapun juga, kesadaran, kemandirian dan
keberanian mengambil keputusan-keputusan moral sendiri hanya baik dan berguna
jika si pengambil keputusan sudah betul-betul memiliki kedewasaan, kematangan
dan kecerdasan nurani dan kedisiplinan bernalar; dengan kata lain, sudah
menjadi manusia eksistensialis, yakni manusia sejati. Inilah yang ditawarkan
sang sutradara film Noah di dalam suatu dunia yang kerap memperhadapkan kita
pada berbagai dilema moral yang pelik. Kelebihan lainnya dari sang sutradara
adalah dia, dengan independen, tidak sependapat dengan sang Pencipta bahwa
semua binatang harus juga dimusnahkan. Baginya, semua binatang harus dicintai
dan diberi pengayoman. Bukankah ini semua gagasan-gagasan yang mengagumkan?
Kembali ke LSF. Sebagaimana diinfokan, jika LSF
memakai asas manfaat sebagai salah satu kriterion pensensoran atau pelarangan
sebuah film, film Noah jelas sangat bermanfaat mencerdaskan dan membangun
kesadaran moral kita di era modern ini. Jadi, langkah LSF melarang film ini
tidak dapat dipahami jika asas manfaat digunakan. Kriterion kedua LSF adalah
sebuah film harus bisa menjaga kerukunan enam agama resmi di Indonesia. Tentu
ini kriterion yang penting. Lantas, apa soalnya? Soalnya adalah apakah film
fiktif Noah, hasil kreativitas imajinasi, akan membuat enam agama itu bertempur
satu sama lain? Faktanya tidak, jika kita mengacu ke keadaan belakangan ini di
masyarakat Amerika.
Yang umumnya berkeberatan terhadap film Noah ya
kalangan Kristen konservatif Amerika, yang tampak tidak menyadari betul bahwa
kisah Nuh dan air bah terdapat di dalam Tanakh Yahudi, bukan di dalam kitab
suci Perjanjian Baru mereka. Seorang yang dengan bangga menyebut diri Kristen
kreasionis, Ken Ham, misalnya, menyatakan kepada majalah Time bahwa film Noah adalah
suatu penghinaan terhadap orang Kristen, yang di dalamnya nyaris tidak ada
petunjuk kalau film ini setia kepada kesaksian Alkitab, dus film ini tidak
alkitabiah dan kafir dari awal hingga akhir./13/ Dalam blognya yang diberi nama
Redstate,
mengakhiri tinjauannya yang sengit atas film ini Erick Erikson menyatakan bahwa
“kita perlu dan harus mempertimbangkan untuk membakar di kayu sula pemimpin
Kristen manapun yang mendukung film ini.”/14/ Anda yang berhati lembut tidak
perlu kaget dengan pernyataan-pernyataan keras dan bengis dua orang Kristen
ini. Kematian Yesus dikayu salib, yang dipercaya orang Kristen sanggup mengubah
secara magis kepribadian manusia, dari sepenuhnya jahat menjadi sepenuhnya
baik, tokh tidak tampak berkekuatan magis dalam diri dua orang ini.
Kalangan Kristen yang bisa mengadopsi modernitas
dan nilai-nilai kesenian modern, dan yang terbiasa berpikir dalam jalur ilmu
pengetahuan, malah banyak yang memberi apresiasi tinggi atas film ini. Pada
sisi lain, orang Yahudi umumnya, yang Tanakh mereka ditafsir dengan sangat kreatif
dan imajinatif untuk melahirkan film Noah, tampak tenang-tenang saja, tak
menjadi berang dengan pemutaran film ini mula-mula di Amerika, dan tidak
terdengar berita bahwa negara Israel akan melarang film Noah diputar di negeri
ini. Semoga anda sudah tahu, sutradara film Noah, Darren Aronofsky, dan
rekannya dalam menulis naskah skenario film ini sekaligus bekas teman
sekamarnya waktu kuliah di Harvard, Ari Handel, adalah dua orang Yahudi tulen.
Kembali ke negeri kita. Dulu sebuah film fiktif
tentang Yesus yang dinilai banyak orang Kristen memojokkan agama Kristen, yakni
film The Da Vinci Code
(produksi 2006), tokh lolos sensor LSF dan kita bebas menontonnya, dan dari
pihak gereja-gereja di Indonesia sama sekali tidak ada reaksi kekanak-kanakan
yang agresif dan ofensif pada waktu itu. Jadi, LSF sendiri tidak konsisten saat
sekarang ini melarang pemutaran film Noah di Indonesia, yang sebetulnya tidak
memojokkan agama apapun. Sebuah agama, jika sampai terganggu oleh sebuah film
fiktif, tentu punya masalah internal, di dalam dirinya sendiri, bukan masalah eksternal dalam
hubungan dengan agama-agama lain. Saya ulangi: pesan spiritual film Noah sangat
sejalan dengan pesan spiritual teks keagamaan Kejadian 6-9, yakni bahwa dalam
kehidupan ini setiap insan harus memilih untuk menjadi baik atau untuk menjadi
jahat dengan segala konsekuensinya. Tak ada agama apapun yang diserangnya.
Malah kita harus akui, pesan moral Aronofsky lewat film Noah sudah jauh
melampaui pesan moral teks-teks kitab suci ketika dia menawarkan eksistensialisme
sebagai sebuah jalan kehidupan yang bermartabat. Pada sisi lain yang suram,
setiap hari kita di Indonesia dijejali film-film di berbagai saluran TV dan di
layar-layar lebar yang mengisahkan hal-hal fiktif yang tidak ada nilai
saintifiknya atau nilai moralnya, misalnya film-film tentang kuntilanak, sundal
bolong, nyi blorong, hantu ngesot, dan makhluk-makhluk “jejadian” lain. Tokh
film-film ini bebas saja ditayangkan, dan terus saja diumpankan ke dalam benak
masyarakat. Di mana peran LSF untuk kategori film-film rakyat semacam ini, yang
sesungguhnya mendangkalkan pikiran manusia dan menaklukkannya di bawah
takhayul-takhayul?
Lantas, apakah kejauhan jika orang menduga bahwa
LSF tampak jelas ikut-ikutan Pakistan, Qatar, Bahrain dan Uni Emirat Arab dalam
melarang pemutaran film Noah di Indonesia yang jelas secara konstitusional
bukan negara Islam? Seandainya para pemuka Muslim dalam LSF sangat berkeberatan
terhadap film Noah karena alasan-alasan tertentu (misalnya, karena film ini
menampilkan wajah fiktif nabi Nuh), ya himbaulah umat Muslim Indonesia untuk
tidak menontonnya, tapi jangan hambat umat-umat beragama lain yang ingin
menyaksikan film ini di bioskop-bioskop di Indonesia. Yang mengatur negara
Indonesia yang demokratis bukan hukum-hukum agama Islam, tetapi hukum positif (ius positum) yang dibuat
manusia. Di dalam demokrasi dan oleh hukum positif, kreativitas dan imajinasi
manusia dalam dunia kesenian dan dunia sains diberi tempat sangat luas dan
longgar. Tentu LSF sudah tahu, dalam era teknologi Internet sekarang ini, kalau
orang tidak bisa menonton film Noah (dan semua film lain yang diberangus) lewat
layar-layar lebar, ya mereka akan menontonnya lewat Internet, atau cari sendiri
DVD-nya (umumnya akan berupa DVD bajakan) lalu putar di rumah sendiri. Atau
mungkin LSF ingin memasung Internet juga? Atau toko-toko penjual DVD-DVD
bajakan juga akan disegel?
Memang film Noah memuat banyak imajinasi insan
perfilman, yang tidak sejalan dengan detail kisah Nuh dalam teks terbatas
Kejadian 6-9. Anda tahu ada berapa jumlah kata bahasa Indonesia dalam teks
skriptural tentang Nuh dalam Kejadian 6-9? Maksimal hanya 2.000 kata. Untuk
bisa hasilkan film Noah yang berdurasi lebih dari dua jam, tentu saja 2.000
kata sangat kurang; dus perlu imajinasi kreatif ditambahkan di sepanjang film
ini, yang dapat dibangun berdasarkan sumber-sumber info lain di luar kitab
suci, atau murni imajinasi kreatif otak manusia. Dilihat dari sudut ini,
sebagai sebuah film fiktif, film Noah sebetulnya adalah suatu usaha kontekstualisasi teks kitab
suci ke dalam dunia pengalaman kita sehari-hari di era modern. Sebagai usaha
kontekstualisasi yang kreatif dan imajinatif, tidak harus film ini terpaku pada
teks-teks kitab suci, sementara tetap setia pada pesan-pesan moral
spiritualnya.
Mungkin anda langsung bertanya, apakah ada
petunjuk-petunjuk dalam film Noah bahwa film ini adalah suatu usaha
kontekstualisasi amanat Kejadian 6-9 ke dalam dunia modern yang berbiaya mahal?
Ya, ada dan sangat jelas, yakni dalam tema terbesarnya, yakni environmentalisme.
Dalam suatu wawancara yang diadakan The
Daily Beast, direktur fotografi (atau sinematografer) film Noah,
Matthew Libatique, menyatakan bahwa sebagai epik alkitabiah, film Noah
menyampaikan sebuah peringatan tegas bahwa perubahan iklim sedang melanda
planet Bumi sekarang ini. Saya kutipkan sepenuhnya ucapan Libatique
selanjutnya, “Salah satu hal yang saya apresiasi dari film ini adalah
pernyataannya bahwa film ini muncul pada saat yang tepat ketika perubahan iklim
sedang melanda planet Bumi. Tetapi banyak orang tanpa ragu menyangkali fakta
perubahan iklim ini karena mereka diminta untuk menyangkalinya. Jadi fakta
bahwa kita masih berada dalam suatu masyarakat di mana orang terus-menerus
sedang menyangkali bahwa perubahan iklim sedang berlangsung, adalah fakta yang
gila dan tidak masuk akal. Sains dan agama telah dan senantiasa berkonflik.”/15/

Bianglala, tanda janji Allah tidak akan menghukum Bumi lagi!
Masuk akal jika janji Allah kepada Nuh yang
diafirmasi dengan bianglala sebagai tanda dan meterainya setelah air bah surut
membuat sangat banyak orang beragama di segala zaman dan di segala tempat tidak
percaya bahwa planet Bumi akan bisa terancam lagi oleh suatu bencana ekologi
planetari seperti perubahan iklim, climate
change, yang sekarang sedang melanda Bumi yang akan berakibat
sangat serius bagi semua bentuk kehidupan dan bagi planet biru ini sendiri.
Mereka yang semacam ini mungkin sekali juga akan masih tetap tidak percaya
sekalipun telah membaca dengan cermat naskah pidato Presiden Barack Obama yang
dengan sangat serius menyoroti fakta-fakta perubahan iklim global, yang
disampaikannya pada 25 Juni 2013 di Universitas Georgetown. Di awal pidatonya,
Obama sudah menegaskan bahwa “Apa yang mereka [National Weather Service] telah
temukan, dari tahun ke tahun, adalah bahwa peringkat polusi carbon di atmosfir
kita telah meningkat luar biasa. Sains, yang terakumulasi dan ditinjau ulang
selama berdekade-dekade, memberitahu kita bahwa planet kita sedang berubah
dengan cara-cara yang akan berdampak sangat dalam pada seluruh umat manusia.
Dua belas tahun terpanas dalam sejarah yang terekam semuanya terjadi dalam 15
tahun terakhir. Tahun lalu, temperatur di sejumlah area samudera-samudera
mencapai angka tertinggi, dan es di Antartika menyusut sampai ke ukuran
terkecil yang tercatat-- lebih cepat dari yang telah diprediksi kebanyakan model.
Ini adalah fakta-fakta.”/16/

Manusia adalah penyebab utama perubahan iklim global
Menurut temuan-temuan Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC), perubahan iklim akan mengganggu persediaan berbagai
makanan dan air, memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, menimbulkan banyak
kerusakan pada alam yang tidak dapat diperbaiki kembali. IPCC sedang fokus pada
berbagai langkah yang perlu diambil untuk mempersiapkan manusia untuk dapat
beradaptasi dengan suhu udara yang meningkat, gelombang-gelombang panas yang
lebih banyak, banjir besar di mana-mana, badai-badai besar, dan naiknya
permukaan air laut. Yang mengagetkan adalah fakta bahwa, sebagaimana
ditunjukkan data survei Pew Research Center di tahun 2013, hanya 40% orang
Amerika dan 39% orang China memandang perubahan iklim sebagai sebuah ancaman
besar./17/
Apakah perubahan iklim akan meningkatkan angka
perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain pada level global dalam
rangka mencari tempat tinggal yang lebih mendukung kehidupan, karena
negeri-negeri mereka semula tenggelam karena naiknya permukaan laut akibat
perubahan iklim? Logisnya ya, di masa depan. Tetapi, sebagaimana ditemukan oleh
seorang pakar peneliti dari Vienna Institute of Demography dan Wittgenstein
Center for Demography and Global Human Capital di Wina, Nikola Sander, sampai
dengan tahun 2010 angka menyeluruh migrasi global tetap stabil, yakni bahwa sekitar
6 orang dari setiap 1000 orang mengganti negara tempat tinggal mereka dalam
setiap periode dari tiga periode lima tahunan antara 1995 sampai 2010. Terlihat
bahwa globalisasi memberi dampak yang nyaris tidak kentara pada angka migrasi
global./18/ Tetapi, perubahan iklim mungkin sekali akan berdampak besar pada
migrasi manusia di masa-masa yang akan datang ini. Selain itu, perubahan iklim
yang mengakibatkan naiknya suhu udara global sangat mungkin juga akan
menghidupkan kembali banyak virus “raksasa” yang semula sudah mati terkubur di
tanah, membeku, di bawah permukaan lapisan-lapisan es, yang sekian di antaranya
akan mengancam kembali umat manusia./19/
Kembali ke topik sejarah. Setiap sejarah, saat
dihadirkan di zaman dan tempat kita, selalu tidak pernah bisa sebagai fakta
sejarah murni. The 100 percent
objective history is impossible and unnecessary. Sejarah 100 persen
objektif mustahil didapat dan juga tidak perlu.
Kenapa? Sebab setiap sejarah selalu sebuah
rekonstruksi masa lampau yang berinteraksi dengan masa kini si sejarawan.
Setiap sejarah selalu sebuah pertemuan dan perpaduan kreatif antara horison
masa lalu (Horison 1) dan horison masa kini (Horison 2). Konsep sejarah yang
interaktif antara dua horison ini pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Jerman
Hans-Georg Gadamer (1900-2002) dalam bukunya Truth
and Method./20/
Karena sejarah selalu sebagai pertemuan dan
interaksi dua horison itu, sebagai Horizontverschmelzung,
tidak ada apa yang dinamakan sejarah murni, pure
or mere history. Karena merupakan pertemuan dua horison itu, maka
setiap tulisan sejarah akan membawa pesan-pesan masa lalu yang relevan untuk
manusia di masa kini dalam era modern. Inilah gunanya sejarah sebagai sebuah
interaksi masa lampau dan masa kini. Karena sejarah itu selalu sebagai sebuah
dialektika dan interaksi masa lalu dan masa kini, maka setiap sejarah selalu
kreatif, dan tidak pernah sebagai penghadiran atau pemindahan begitu saja
bulat-bulat secara literalistik masa lalu ke masa kini. Jelas, menulis sejarah
adalah sebuah kegiatan
hermeneutik yang kreatif sekaligus berdisiplin. Lewat dialektika
dan interaksi ini, Horison 1 dan Horison 2 saling mengontrol dan saling
menyumbang, sehingga tidak akan pernah dihasilkan sebuah tulisan sejarah yang
sembarangan dan subjektif seratus persen. Menolak dialektika ini sama dengan
menolak sejarah, dus berarti juga menolak kehidupan kita sendiri.
Jika tidak ada sejarah murni, ini berarti bahwa
dalam setiap tulisan sejarah akan bisa selalu ada unsur-unsur fiktifnya,
walaupun dalam jumlah sangat, sangat minim. Selalu ada elemen-elemen fiksi
dalam karya-karya sejarah; dan, sebaliknya, selalu ada sekelumit fakta dalam
karya-karya fiktif. Michael Wood menyatakan bahwa sejarah, bahkan sejarah yang
tergolong paling dapat dipercaya, dapat memuat unsur-unsur fiksi, dan
novel-novel yang termasuk genre fiksi dapat berfungsi sebagai dokumen-dokumen
sejarah./21/ Selain itu, Charles W. Hedrick bahkan juga menegaskan bahwa
sejarah adalah suatu konstruk mental fiktif./22/ Karena itu dapatlah dipahami
jika Denis C. Feeney menyatakan bahwa perbedaan antara sejarah dan epik
tidaklah berkaitan dengan apa yang kita sebut historisitas atau kesejarahan,
melainkan suatu persoalan mengenai derajat kefiktifan yang diterapkan dalam
suatu pengisahan: seberapa besar unsur fiksi dalam karya sejarah, dan seberapa
besar unsur fakta dalam karya fiktif./23/
Jika demikian duduk perkaranya, film fiktif Noah
yang imajinatif juga perlu ditonton masyarakat sebagai bagian dari proses
pembelajaran yang sangat berharga, sebab di dalamnya tetap ada interaksi dan
dialektika antara teks-teks suci kuno yang ditulis di masa lalu dan
“skrip-skrip kultural” yang dihasilkan manusia modern. Tentu saja, dalam film
fiktif Noah unsur-unsur fiktifnya sangat besar, jauh, jauh melampaui
unsur-unsur faktual sejarahnya. Apa unsur sejarah dalam film fiktif Noah? Unsur
sejarah yang real dalam film ini adalah pergumulan real eksistensial manusia
kapanpun dan di manapun juga antara hal yang baik dan hal yang jahat,
pergumulan yang konon sudah dimulai sejak zaman Adam dan Hawa mitologis, hingga
ke kita sekarang ini. Lebih dari itu, dalam film Noah, pergumulan real
eksistensial ini ditempatkan dalam bingkai fakta masa kini yang lebih besar,
yakni terancamnya planet Bumi dan semua bentuk kehidupan oleh perubahan iklim.
Jadi, bagaimana bisa terjadi, kalau film sebagus ini sampai bisa dilarang
diputar di Indonesia, sebuah negara demokratis?
Pendek kata, pelarangan oleh LSF atas film
imajinatif Noah hanya menimbulkan tanda tanya besar apa motif mereka yang
sebenarnya. Saya kembali menduga kuat, dalam melarang film Noah LSF hanya
mengekor beberapa negara Islam yang sebelumnya telah menetapkan pelarangan
pemutaran film ini. Negara kita bukan negara Islam. Kita merdeka sudah hampir
tujuh dasawarsa bukan sebagai negara agama, tapi sebagai sebuah negara
demokratis yang kian hari harus kian kokoh. Masyarakat kita sudah semakin
dewasa. Biarlah mereka yang menilai kelayakan sebuah film, jangan tanggungjawab
ini diambilalih oleh LSF. Berilah kembali hak mereka sebagai warganegara
Indonesia untuk menonton film Noah.
Meskipun saya telah menyatakan demikian,
tidaklah berarti LSF kita tidak perlukan. Kita tentu memerlukannya, tetapi hanya sejauh LSF bekerja secara
ilmiah, tidak secara ideologis. Kenapa? Karena hanya lewat analisis-analisis ilmiah atas segala sesuatu kita akan bisa tiba dengan objektif pada kebenaran-kebenaran. Dengan analisis-analisis saintifik seperti yang sudah saya bentangkan di atas terlihat bahwa film Noah sesungguhnya sangat perlu ditonton masyarakat Indonesia berhubung film ini menyampaikan pesan-pesan yang penting untuk diketahui. Selain itu, patut disadari bahwa sains sesungguhnya bersahabat
dengan, dan menghendaki kemajuan, seni, bahkan sains adalah juga puisi tentang
realitas yang ditelaah secara saintifik. Sebaliknya, ideologi-ideologi dunia yang
diabsolutkan, teristimewa agama sebagai sebuah ideologi tertutup yang dalam banyak hal sudah
ketinggalan zaman, terbukti kerap dengan bodoh dan brutal menghancurkan,
memberangus dan membantai seni dan pencipta-penciptanya.
Notes
/1/ Yang menjadi landasan keputusan LSF melarang
sebuah film diputar di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah (PP) nomor 7 tahun
1994. Menurut PP ini penyensoran atau pelarangan sebuah film dilakukan
berdasarkan pertimbangan atas 6 segi berikut: keagamaan, pendidikan, sosialbudaya,
politik dan keamanan, ketertiban umum, dan pendidikan. Untuk film Noah, ada dua
segi yang terutama dipertimbangkan, yakni keagamaan dan ketertiban umum.
Pertimbangan segi keagamaan mencakup: apakah sebuah film menampilkan kesan
anti-Tuhan atau anti-agama, mengganggu hubungan antar-umat beragama, dan
mengandung penghinaan dan pelecehan terhadap salah satu agama dari enam agama
resmi yang diakui negara. Dari sudut ketertiban umum, pertimbangannya adalah
apakah sebuah film mendorong timbulnya sentimen SARA (kesukuan, keagamaan, ras/keturunan,
dan antar-golongan).
/2/ Bertolakbelakang dari pandangan ilmu
pengetahuan, kalangan literalis kreasionis mempertahankan bahwa reptil
dinosaurus hidup bersama dengan manusia (atas dasar teks Kejadian 1:26-28), dan
luput dari kebinasaan total lewat air bah karena diselamatkan oleh Nuh dalam
bahteranya, bahkan hidup terus sampai ke zaman Yesus dan, kata mereka, sangat
mungkin Yesus juga menunggang seekor dinosaurus. Mereka tidak tahu bahwa
reptil-reptil dahsyat yang menakutkan, yang dinamakan dinosaurus, telah lenyap
66 juta tahun lalu, sementara homo
sapiens baru muncul 300.000 hingga 400.000 tahun yang lalu. Seandainya mereka
tahu, mereka pasti akan menyatakan bahwa pandangan-pandangan ilmu pengetahuan
itu salah; dan yang benar hanyalah teks-teks Alkitab.
/3/ Gambaran Aronofsky tentang Para Pengawas ini
tentu bersumber dari 36 pasal pertama Kitab
Henokh Ethiopik (atau juga dikenal sebagai Kitab 1 Henokh) yang dinamakan Kitab Para Pengawas (1 Henokh 1-36). Dalam kitab
ini, dikisahkan bahwa para malaikat memgambil keputusan untuk melanggar
batas-batas orde kosmik yang telah ditetapkan Allah. Alhasil, terjadilah
malapetaka besar: malaikat-malaikat surgawi menyusup masuk ke dalam dunia dan
kawasan kehidupan manusia sehingga muncullah kekacauan besar dan penderitaan.
Ulasan analitis mutakhir yang sangat informatif tentang Kitab Para Pengawas diberikan
oleh Veronika Bachmann, “The Book of the Watchers (1 Enoch 1-36): An
Anti-Mosaic, Non-Mosaic, or Even Pro-Mosaic Writing?”, Journal of Hebrew Scriptures,
Vol. 11, Article 4 doi:10.5508/jhs.2011. v11.a4. File PDF tulisan Bachmann ini
tersedia di http://www.jhsonline.org/Articles/article_151.pdf. Pada hlm. 23, Bachmann menyatakan bahwa Kitab Para Pengawas adalah
“sastra pertama yang mendasarkan seluruh pesannya pada gagasan bahwa Taurat dan
penciptaan terikat satu sama lain dengan erat.”
/4/ N.K. Sandars (penerjemah dan
pengintrodusir), The Epic of
Gilgamesh (London: Penguin Books, 1960, 1972) hlm. 108-113.
/5/ Mengenai hubungan 1 Henokh dengan film Noah,
lihat catatan 2 di atas. Menurut G.H. Box, penulis kitab Yobel jelas memasukkan
bagian-bagian sastra-sastra yang memakai nama Nuh sebagai penulisnya (lihat Yobel xxi.10; bdk. x.13).
Tampaknya kitab Yobel
juga memakai dua bagian besar dari sebuah tulisan yang berjudul Kitab Nuh dalam pasal-pasal
vii.20-39 dan x.1-15. Kitab Nuh
ini juga menjadi salah satu sumber dari 1 Henokh,
khususnya pasal-pasal vi-xi; lx; lxv-lxix.25; dan cvi-cvii. Ada cukup alasan
untuk percaya bahwa penulis kitab Yobel
juga mengenal versi tertentu kitab 1 Henokh,
khususnya 1 Henokh
vi-xvi; xxiii-xxxvi, dan lxxii-xc; teristimewa iv.17. Menurut G.H. Box, kitab Yobel ditulis dalam kurun
paruhan kedua abad ke-2 SM, oleh seorang imam Saduki yang menjadi anggota
partai Hasidim pada awal era Makkabe. Lihat Robert Henry Charles (penerjemah)
dan G.H. Box (penulis introduksi), The
Book of Jubilees or The Little Genesis (Merchant Books, 2011;
cetakan pertama 1917), hlm. xiii, xxxii, xxxiii.
Menurut R. H. Charles, kitab Yobel ditulis dalam bahasa
Ibrani antara saat naiknya Yohannes Hyrkanus ke jabatan imam besar di tahun 135
SM dan putusnya hubungannya dengan sekte Farisi beberapa tahun sebelum
kematiannya di tahun 105 SM; persisnya antara tahun 109-105 SM. Ada
bagian-bagian dalam kitab Yobel
yang relevan dengan film Noah, yang mengacu ke kejatuhan Adam dan digagahinya
anak-anak perempuan manusia oleh para malaikat. Dikisahkan dalam bagian-bagian
ini bahwa akibat kejatuhan Adam terbatas hanya kepada Adam dan hewan-hewan:
Adam diusir dari Taman Eden (iii. 17ff.) dan kemampuan berbicara hewan-hewan
ditiadakan (iii.28). Tetapi kebobrokan moral umat manusia selanjutnya tidak
diasalkan pada kejatuhan Adam, melainkan pada rayuan dan persenggamaan para
malaikat dengan anak-anak perempuan manusia, padahal para malaikat masuk ke
dalam dunia karena mereka ditugaskan untuk mengajar manusia; dan pada bujuk
rayu seksual oleh roh-roh demonik (vii.27). Kejahatan dan kebobrokan yang
ditimbulkan oleh ulah para malaikat ini diakhiri dengan pembinasaan semua
keturunan para malaikat dan korban-korban mereka lewat Air Bah; tetapi dosa
yang ditimbulkan oleh roh-roh jahat itu dibiarkan terus sampai ke pengadilan
ilahi di akhir zaman (vii.27; x.1-15; xi.4 ff.; xii.20). Lihat R. H. Charles,
“The Book of Jubilees” dalam The
Apocrypha and Pseudepigrapha of the Old Testament (Oxford:
Clarendon Press, 1913). Naskah PDF tersedia pada https://www.alge.no/ebooks/apocrypha/The_Book_of_Jubilees.pdf.
/6/ James Ussher, The Annals of the World (London, 1658). Lihat
pada http://www.preteristarchive.com/Books/1650_ussher_annals.html; naskah PDF
karya Ussher ini tersedia di https://archive.org/details/AnnalsOfTheWorld.
/7/ Situs web resmi SENS Research Foundation beralamat di
http://www.sens.org/. Tentang berbagai usaha sains dan teknologi modern lainnya
untuk menaklukkan kuasa kematian dan meraih keabadian, lihat Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern
(Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 13 (hlm. 393-411).
/8/ Tentang punahnya berbagai jenis dinosaurus
dan berbagai penyebabnya telah diulas dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta:
Pustaka Surya Daun, 2013), bab 10 (hlm. 325-341).
/9/ Tentang ini, lihat tulisan mencerahkan
Robert R. Cargill, “On the Misuse of Archaeology for Evangelistic Purposes”
(June 2010) dalam http://www.bibleinterp.com/articles/misuse357930.shtml.
/10/ Lihat Ioanes Rakhmat, “Merenungi
Objektivitas Historiografi Bertolak dari Kontroversi Film Soekarno”, Freethinker blog, 31 Desember
2013, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2013/12/merenungi-objektivitas-historiografi.html.
/11/ Teodise adalah sebuah kata majemuk, yang
terdiri dari 2 kata Yunani: theos
= allah; dan dikee
= keadilan. Teodise adalah usaha menjelaskan dan mempertahankan kepercayaan
bahwa Allah tetap adil dan mahakasih dan mahakuasa kendatipun kesengsaraan dan
azab diderita sangat banyak orang saleh, sampai membuat mereka akhirnya tidak
tahan, lalu melawan dan menghujat Allah, atau malah dikalahkan oleh azab mereka
dalam bentuk kematian yang kejam dan brutal. Dalam teodise, para teolog lewat
berbagai argumentasi berusaha keras untuk membenarkan Allah apapun juga hal
yang dilakukan Allah ini, dan apapun juga hal yang dialami kaum mukmin. Usaha
berteologi ini tentu saja sangat sulit dan lebih banyak gagal ketimbang
berhasil. Hanya dalam agama-agama monoteistik muncul persoalan teodise yang
memerlukan penyelesaian dan jawaban.
/12/ Robert C. Solomon, ed., Existentialism (New York,
N.Y.: Random House, 1974), hlm. x-xii.
/13/ Lihat artikel opini “Ken Ham: The
Unbiblical Noah Is
a Fable of a Film”, Time.com
March 28, 2014, pada
http://time.com/42274/ken-ham-the-unbiblical-noah-is-a-fable-of-a-film/.
/14/ Erick Erickson, “Darren Aronofsky's
Noah”, Redstate
blog, March 27, 2014, pada
http://www.redstate.com/2014/03/27/darren-aronofskys-noah/.
/15/ Lihat wawancara oleh Marlow Stern, “'Noah’
Is a Global Warming Epic About the Battle Between Religion and Science, Says
Cinematographer”, The Daily
Beast, March 27, 2014, pada
http://www.thedailybeast.com/articles/2014/03/27/noah-is-a-global-warming-epic-about-the-battle-between-religion-and-science-says-cinematographer.html.
/16/ Lihat Full
Transcript of Obama's Remarks on Climate Change pada
http://blogs.wsj.com/washwire/2013/06/25/full-transcript-of-obamas-remarks-on-climate-change/.
/17/ Lihat laporan wartawan Reuters bidang
lingkungan hidup Alister Doyle, “Climate Change Will Disrupt Food Supplies,
Slow Economies, Cause Irreversible Damage, IPCC Finds”, Huffingtonpost, 23 March 2014, pada http://www.huffingtonpost.com/2014/03/23/climate-change-damage-un-report_n_5016357.html.
/18/ Lihat John White, “Rising tide of migration
is a myth, say global stats”, Newscientist.com,
27 March 2014, pada http://www.newscientist.com/article/dn25311-rising-tide-of-migration-is-a-myth-say-global-stats.html#.U1YjFaI92xg.
/19/ Tentang kemungkinan virus-virus yang sudah
lama mati membeku di bawah lapisan-lapisan es hidup kembali sebagai akibat
kenaikan suhu udara global yang ditimbulkan perubahan iklim, lihat reportase
Arielle Duhaime-Ross, “Climate change threatens to bring eradicated viruses
back from the dead: Scientists revive a frozen 30,000 year-old giant Siberian
virus”, The Verge, 3 March 2014, pada
http://www.theverge.com/2014/3/3/5466328/climate-change-threatens-to-bring-eradicated-viruses-back-dead.
Tentang virus “raksasa” dari kawasan Siberia yang sudah membeku 30.000 tahun
dan berhasil dihidupkan kembali, lihat makalah ilmiahnya: Matthieu Legendra,
Julia Bartoli, et al., “Thirty-thousand-year-old distant relative of giant
icosahedral DNA viruses with a pandovirus morphology”, PNAS Vol. 111, No. 11, 4274-4279, doi: 10.1073/pnas.1320670111,
pada http://www.pnas.org/content/111/11/4274.full.
/20/ Hans-Georg Gadamer, Truth and Method (London dan
New York: Continuum International Publishing Group, 1975, 2006, 2011), hlm.
305.
/21/ Michael Wood, “Prologue” dalam Christopher
Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies
and Fiction in the Ancient World (Exeter: University of Exeter
Press, 1993) hlm. xiii (xiii-xviii).
/22/ Charles W. Hedrick, Parables As Poetic Fictions: The Creative
Voice of Jesus (Peabody: Hendrickson Publisher, 1994) hlm. 81 ff.
Dalam hal ini Hedrick memanfaatkan kajian Franck Kermode, The Sense of An Ending: Studies in the
Theory of Fiction (London: Oxford, 1966).
/23/ Denis C. Feeney, “Towards an Account of the
Ancient World’s Concepts of Fictive Belief” dalam Christopher Gill dan T.P.
Wiseman, eds., Lies and Fiction,
hlm. 233 (230-244).