Monday, December 22, 2008

Maria Magdalena dalam Pistis Sofia


Pistis Sofia (“Hikmat Iman”) adalah sebuah dokumen gnostik yang ditulis dalam bahasa Koptik (dialek Sahidik, Mesir Atas) pada paruhan kedua abad ketiga Masehi, di suatu tempat di Mesir, sebagai terjemahan dari naskah aslinya yang ditulis dalam bahasa Yunani. Jauh mendahului penemuan besar dokumen gnostik Nag Hammadi (tahun 1945), dokumen Pistis Sofia ini dibeli British Museum pada tahun 1785 dari Dr. Askew yang membelinya di suatu toko buku di London; untuk menghormatinya dokumen ini diberi nama Kodeks/Kitab Askewianus. Asal-usul dan sejarah sebelumnya dari kodeks ini tidak diketahui lagi. Kodeks yang terbuat dari kertas kulit (perkamen) ini terdiri atas 356 halaman, mencakup 148 pasal, dan terbagi atas 6 buku.[1]

Dalam dokumen Pistis Sofia, kekristenan perdana dan paganisme hellenistik dicampurbaur, dengan unsur-unsurnya mencakup kepercayaan pada reinkarnasi jiwa, astrologi, agama misteri, perjalanan jiwa ke surga, dan magi hermetik. Tidak sebagaimana disangka kebanyakan orang Kristen, Pistis Sofia menunjukkan bahwa dalam kekristenan perdana yang majemuk, ada kelompok-kelompok Kristen yang menerima ajaran reinkarnasi. Dalam dokumen ini, “Pistis Sofia” sendiri adalah suatu figur ilahi feminin yang juga muncul dalam banyak dokumen gnostik lainnya; figur ini digambarkan sebagai seorang malaikat yang terjatuh dalam dosa, lalu bertobat sebanyak tigabelas kali, kemudian mengambil peran dalam keselamatan dan pembebasan manusia melalui gnosis, “pengetahuan”. Yesus, dalam Pistis Sofia, diberi tempat utama dan menonjol; dia disebut sebagai sang Penyelamat dan Misteri Pertama, tetapi tidak pernah disebut sebagai sang Kristus.

Ajaran-ajaran dalam Pistis Sofia disampaikan melalui suatu percakapan panjang antara Yesus dan murid-muridnya, murid pria maupun murid perempuan, khususnya Maria Magdalena, ataupun melalui penjelasan-penjelasan panjang yang diberikan Yesus sendiri. Percakapan ini berlangsung sesudah Yesus dibangkitkan, dan mengambil latar di Bukit Zaitun dan di Bukit Galilea. Dalam dokumen Pistis Sofia, Maria Magdalena adalah penanya yang paling menonjol dibandingkan murid-murid Yesus lainnya. Dari 46 pertanyaan yang termuat di dalamnya, tidak kurang dari 39 pertanyaan diajukan oleh Maria Magdalena.[2] Dalam dokumen ini, Yesus menegaskan keutamaan Maria Magdalena dan mengakuinya sebagai seorang perempuan yang suci dan rohaniah (Pistis Sofia 18, 87), dan sebagai seorang perempuan yang paling diberkati dari segala perempuan di muka bumi (Pistis Sofia 19) .

Selain itu, dokumen ini juga mengungkapkan ketegangan hubungan antara rasul pria dan rasul perempuan ketika kekristenan baru berkembang. Tidak kurang, Rasul Petrus mengecam Maria Magdalena sebagai seorang perempuan yang memonopoli percakapan dan menghalangi rasul pria mengambil peran di dalamnya (Pistis Sofia 36, 146); dan pada gilirannya, Maria Magdalena membalas dengan menyatakan Rasul Petrus sebagai seorang yang membenci kaum perempuan (Pistis Sofia 72). Bagian-bagian ini dalam Pistis Sofia memelihara suatu tradisi yang sudah mapan mengenai konflik antara Petrus dan Maria Magdalena pada permulaan lahirnya kekristenan,[3] ketika murid perempuan sama-sama memiliki kebebasan berbicara seperti murid pria, sesuatu yang tidak dapat dibayangkan akan dapat terjadi dalam kekristenan ortodoks belakangan.[4] Atau, bagian-bagian ini juga menunjukkan murid-murid Yesus yang berhaluan gnostik, dengan Maria Magdalena sebagai wakil mereka, menantang para pemimpin komunitas Kristen ortodoks yang memiliki Petrus sebagai juru bicara mereka.[5] Jadi, meskipun sangat problematis kalau orang memakai dokumen gnostik untuk merekonstruksi Yesus sejarah, kita masih bisa menemukan tradisi-tradisi di dalamnya yang dapat dikaitkan pada sosok Yesus sejarah atau yang dapat dihubungkan dengan konteks masa kegiatan Yesus. (Gambar di samping kiri karya artis Carlo Crivelli: Rasul Petrus dan Rasul Maria Magdalena; diambil dari The Santa Lucia Triptych).

Berikut ini dikutipkan teks-teks dalam Pistis Sofia[6] yang menunjukkan keutamaan Maria dalam pandangan Yesus, dan konfliknya dengan Rasul Petrus.
Pistis Sofia 17
Ketika Yesus selesai mengucapkan hal-hal ini kepada para muridnya, dia berkata kepada mereka, “Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.”
Adapun ketika Maria telah mendengar ucapan-ucapan yang disampaikan sang Penyelamat, dia pun memandang ke angkasa sejam lamanya, lalu berkata, “Guruku, perintahkanlah aku untuk berbicara dengan terbuka.” Yesus yang berbelarasa pun menjawab, katanya kepada Maria, “Diberkatilah engkau, Maria; kepadamu aku akan memberitahukan semua misteri langit. Berbicaralah dengan terbuka, sebab, dibandingkan dengan semua saudaramu, engkau adalah orang yang menyerahkan hati dengan lebih penuh bagi kerajaan Allah.”

Pistis Sofia 18-19
(18) Lalu Maria berkata kepada sang Penyelamat, “Guruku, pada waktu engkau berkata, ‘Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar’, engkau mengatakan ini agar kami dapat mengerti apa yang engkau telah katakan. Sekarang, dengarkanlah, Guruku, aku akan berkata dengan terang. Inilah yang telah engkau katakan: Aku telah mengambil …. Mengenai kuasa terang yang engkau telah ambil dari Sabaot yang baik, yang berada di kanan, dan kini berada dalam tubuh jasmaniahmu, mengenai ini, guruku Yesus, engkau telah mengatakan kepada kami, ‘Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, haruslah dia mendengar, ’ supaya engkau mengetahui hati siapa yang terarah kepada kerajaan surga.” (19) Ketika Maria sudah selesai mengucapkan hal-hal ini, Yesus pun berkata, “Selamat, ya, Maria. Engkau lebih diberkati dibandingkan semua perempuan lain di muka bumi, karena engkau akan menjadi kepenuhan dari segala kepenuhan dan kesempurnaan dari segala kesempurnaan.”

Pistis Sofia 36
Pada waktu Yesus selesai mengucapkan hal-hal ini kepada murid-muridnya, dia bertanya, “Apakah kalian mengerti bagaimana aku berbicara kepada kalian?” Petrus maju ke muka dan berkata kepada Yesus, “Guruku, kami tidak dapat tahan terhadap perempuan ini yang telah menghalangi jalan kami dan tidak memberi kesempatan kepada kami untuk berbicara sebab dia terus saja berbicara sepanjang waktu.” Yesus menjawab dan berkata kepada murid-muridnya, “Setiap orang yang di dalam dirinya kuasa Roh telah bangkit sehingga dia memahami apa yang aku katakan, hendaklah dia maju ke muka dan berbicara. Petrus, aku mengerti bahwa kuasa di dalam dirimu telah memahami tafsiran atas misteri pertobatan yang Pistis Sofia telah sebutkan. Jadi sekarang, Petrus, diskusikanlah bersama saudara-saudaramu pikiran dari pertobatan Sofia.”

Pistis Sofia 72
Pada waktu Misteri Pertama telah selesai berkata-kata tentang hal-hal ini kepada para murid, Maria maju ke muka dan berkata, “Guruku, aku memahami dalam pikiranku bahwa aku dapat maju ke muka kapan saja untuk menafsirkan apa yang Pistis Sofia telah katakan, tetapi aku takut kepada Petrus, karena ia telah mengancam aku dan membenci gender kami.” Ketika Maria selesai mengucapkan hal itu, Misteri Pertama menjawab kepadanya, “Siapa pun dari antara orang-orang yang telah dipenuhi Roh terang, dia akan maju ke muka untuk menafsirkan apa yang aku katakan; tidak ada seorang pun yang akan dapat melawan mereka. Karena itu, sekarang, Maria, uraikanlah apa yang Pistis Sofia sudah katakan.”

Pistis Sofia 87
Pada waktu Yesus selesai mengatakan hal-hal ini, Maria Magdalena maju ke depan dan berkata, “Guruku, diriku yang sudah tercerahkan memiliki telinga, dan aku menerima kata-kata yang engkau ucapkan. Guruku, inilah hal-hal yang telah kaukatakan, ‘Semua jiwa umat manusia yang akan menerima misteri-misteri terang akan menjadi yang pertama dalam menerima warisan terang, sebelum semua penguasa yang telah bertobat, sebelum seluruh tempat yang di kanan, sebelum seluruh tempat tersimpannya terang.’ Mengenai perkataan ini, guruku, engkau pernah berkata, ‘Yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.’ Maksudnya, yang terakhir adalah umat manusia yang akan menjadi yang pertama di dalam kerajaan terang, sebelum para penghuni tempat-tempat yang tinggi, yang adalah yang pertama. Karena alasan inilah, guruku, engkau telah berkata kepada kami, ‘Barangsiapa bertelinga, haruslah dia mendengar.’ Dengan kata lain, engkau ingin mengetahui apakah kami telah memahami semua perkataan yang engkau ucapkan. Guruku, inilah perkataan itu.” Pada waktu Maria selesai mengatakan hal-hal ini, sang Penyelamat kagum luar biasa atas segala jawaban yang Maria telah berikan, sebab Maria telah menjadi roh yang murni sepenuhnya. Yesus menjawab dan berkata kepadanya, “Selamat ya, Maria, engkau adalah perempuan yang suci dan rohaniah.”

Pistis Sofia 88
Ketika Yesus sudah mengucapkan kata-kata ini kepada para muridnya, Maria Magdalena maju ke muka dan berkata kepada Yesus, “Guruku, janganlah marah kepadaku jika aku bertanya kepadamu, karena aku terus-menerus disusahkan. Karena itu, guruku, janganlah gusar kepadaku jika aku bertanya kepadamu mengenai segala sesuatunya dengan persis dan dengan kepastian besar. Karena saudara-saudaraku akan memberitakannya di antara umat manusia, supaya mereka dapat mendengar dan bertobat dan diselamatkan dari penghukuman yang kejam yang didatangkan para penguasa yang jahat ….” Ketika Yesus mendengar Maria mengucapkan kata-kata itu, sang Penyelamat menjawab dengan kasih yang besar kepadanya (bdk. Injil Maria Magdalena 6.1; 10.10; Injil Filipus 29, 49) dan berkata kepadanya, “Bertanyalah tentang hal-hal yang engkau ingin tanyakan, dan aku akan menyingkapkan kepadamu dengan persis dan dengan pasti dan tanpa memakai perumpamaan.”

Pistis Sofia 146
Petrus berkata, “Guruku, mintalah perempuan-perempuan ini berhenti bertanya, supaya kami juga dapat bertanya.” Yesus berkata kepada Maria Magdalena dan perempuan-perempuan lainnya, “Beri kesempatan kepada saudara-saudara lelaki kalian ini, supaya mereka juga dapat bertanya.”


Catatan-catatan
[1] Tentang seluk-beluk fisik dokumen Pistis Sofia, lihat “Introduction”, Pistis Sophia, dalam http://www.gnosis.org/library/pistis-sophia/ps003.htm.
[2] Esther A. de Boer, “‘Should we all turn and listen to her?’ Mary Magdalene in the spotlight”, dalam Marvin Meyer, The Gospels of Mary: The Secret Tradition of Mary Magdalene, the Companion of Jesus (San Francisco: Harper San Francisco, 2004) 77 [74-96, 113-115].
[3] Pheme Perkins, The Gnostic Dialogue: The Early Church and the Crisis of Gnosticism (New York: Paulist Press, 1980)137-141.
[4] Lihat catatan pengantar John Bruno Hare (Juli 2005) untuk Pistis Sophia (penerjemah G.R.S. Mead, 1921) dalam http://www.sacred-texts.com/chr/ps/index.htm.
[5] Elaine Pagels, The Gnostic Gospels (New York: Vintage Books, 1989 [1979]) 64.
[6] Untuk keseluruhan teks Inggris Pistis Sofia, lihat Pistis Sophia (translated by G.R.S. Mead, 1921) dalam http://www.sacred-texts.com/chr/ps/index.htm. Bagian-bagian yang berkaitan dengan Maria Magdalena dan Petrus dapat dilihat dalam Marvin Meyer, The Gospels of Mary, 66-69.