Wednesday, November 3, 2010

Langkah-langkah Menafsirkan Sebuah Teks Alkitab


Hermes, putera Zeus, pembawa dan penafsir pikiran, keinginan, tindakan dan pesan para dewa-dewi untuk manusia di Bumi, menjadi jembatan dunia atas dan dunia bawah. Dari nama Hermes dibentuklah terma hermeneutika dalam bidang ilmu tafsir.


MEMAHAMI TEKS-TEKS KITAB SUCI sesungguhnya tidak mudah. Pertama, karena antara kita yang hidup dalam dunia modern dan kitab-kitab suci terbentang jurang sejarah yang lebar, dari ratusan tahun hingga ribuan tahun. Dan kedua, karena ada jurang budaya yang membuat cara hidup, cara berbudaya dan cara berpikir pramodern dan prailmiah para penulis kitab-kitab suci dan masyarakat mereka berbeda tajam dari cara-cara hidup, berbudaya dan berpikir kita dan masyarakat kita dalam zaman modern ini.

Nabi Musa dan Yesus dari Nazareth serta Rasul Paulus, misalnya, tak mengenal berbagai jenis komputer, smartphones, Internet, Cloud ComputingIoT, kecerdasan buatan ("artificial intelligence"), Facebook, Instagram, Line dan Twitter, Tokopedia, Shopee, dll--- tidak seperti anda yang hidup di abad ke-21 ini.

Mereka tidak tahu persamaan matematis Einstein yang luar biasa e = mc2. Juga mereka tak pernah dengar, apalagi memahami, mekanika quantum, black holesworm holestime travel, energi gelap, materi gelap, dan bergudang-gudang ilmu pengetahuan dan teknologi modern lainnya. Hal yang sederhana saja bagi kita bahwa di dalam setiap mall modern ada lift dan tangga jalan, tak pernah terpikir oleh mereka.

Dua jurang yang menganga ini, jurang sejarah dan jurang budaya, benar-benar ada dan tidak bisa begitu saja diabaikan.

Jika kita mengabaikan dua jurang ini, maka kita akan pasti terjatuh ke dalam parit anakronisme dan etnosentrisme. 

Dua kubangan ini akan pasti membuat kita tidak bisa hidup fungsional lagi di dalam dunia kita sendiri pada masa kini sebagai orang-orang lain yang hidup dalam kebudayaan dan alam pemikiran yang berbeda dibandingkan orang-orang zaman kitab-kitab suci ditulis.

Anakronisme dan etnosentrisme itu, berturut-turut, berada di zaman yang salah, dan di dalam budaya yang salah, yang tidak sinkron dengan zaman dan budaya anda sendiri. Keadaannya seperti memindahkan Nabi Musa yang hidup kurang lebih 30 abad lalu dengan paksa untuk hidup modern di kota New York pada masa kini: dia akan pasti terkena kejut budaya (culture shock) yang akan dapat berdampak fatal pada mental dan raga.

Kalangan literalis skripturalis menerima begitu saja segala hal yang tertulis dalam kitab-kitab suci mereka sebagai kebenaran-kebenaran abadi yang tinggal diambil lalu dipakai dan diterapkan begitu saja (at face value) pada zaman modern sekarang ini. 




Jelas, literalisme hanya akan menghasilkan anakronisme dan etnosentrisme. Jadi, perlu ada suatu pendekatan tafsir yang dapat mencegah anda terjatuh ke dalam parit hitam salah zaman dan parit hitam salah budaya ini. Pendekatan semacam ini sudah ada, dinamakan pendekatan historis kritis (historical criticism). Berikut ini langkah-langkah menafsir teks-teks kitab-kitab suci secara historis kritis.

A. Menentukan batas-batas perikop teks 

1. Periksa apakah pembatasan perikop yang dibuat Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sudah benar;

2. Jika anda memandang batas-batas perikop harus disusun ulang, sebutkan alasan-alasan anda;

3. Perikop yang anda sudah batasi sendiri dapat lebih panjang atau dapat lebih pendek dari pembatasan yang dibuat oleh LAI.

B. Menentukan jenis sastra (literary genre) perikop

1. Tentukan apakah perikop berbentuk sebuah kisah (nyata atau fiktif?), ataukah berbentuk sebuah pengakuan iman (kredo) atau syahadat, ataukah berbentuk sebuah madah/nyanyian, ataukah berbentuk sebuah puisi, ataukah berbentuk sebuah argumen pemikiran (seperti dalam surat-surat Perjanjian Baru), dan lain sebagainya;

2. Tentukan langkah-langkah penafsiran yang perlu dilakukan, yang tepat untuk jenis sastra yang sudah anda tentukan (lihat lebih lanjut poin G di bawah):
  • Apakah harus mengikuti plot/alur cerita jika teks berbentuk kisah atau berbentuk sebuah perumpamaan;
  • ataukah harus mengikuti perkembangan pemikiran atau argumen yang runtut jika teks berbentuk sebuah argumentasi teologis seperti dalam surat-surat Perjanjian Baru;
  • ataukah langkah-langkah lainnya yang harus ditemukan dengan tepat, misalnya ketika teks tergolong sebagai karya puisi atau kumpulan pepatah dan wejangan atau sebuah khotbah atau sebuah renungan filosofis.
Ingat, setiap jenis sastra (literary genre) mengharuskan suatu langkah penafsiran yang khas, yang berbeda untuk jenis sastra lainnya, berhubung jenis kebenaran dan berita setiap teks juga ditentukan oleh jenis sastranya. Kita tahu tokh bahwa rasa dan khasiat buah-buahan atau sayur-mayur berbeda-beda bergantung jenis buah-buahannya atau sayur-mayurnya.

C. Menentukan konteks sejarah dan konteks sosio-budaya penulisan teks

1. Konteks luas sejarah (nasional dan internasional);

2. Konteks terbatas sejarah (lokal setempat);

3. Konteks sosio-budaya atau sistem sosial;

● Cari informasi tentang:
  • dimana teks ditulis (“where”);
  • dalam latar sosial, ekonomi, budaya, religius, politik dan militer apa teks ditulis (“life settings”);
  • kapan teks ditulis (“when”);
  • oleh siapa teks ditulis (“by whom”);
  • alasan apa yang mendorong teks ditulis (“why”);
  • kepada siapa teks ditujukan (“to whom”);
  • dengan cara atau gaya tutur bagaimana teks disusun dan ditulis ("style of writing"); 
  • apakah gaya penulisan ini mencerminkan konvensi dunia sastra dan budaya ("literary and cultural environment") si penulis teks;
  • dalam sistem sosial ("social system") yang bagaimana si penulis teks hidup dan aktif. Makna teks tidak sedikit ditentukan dan dikondisikan oleh sistem sosial, selain oleh jenis sastra teks.
Setiap teks adalah "tenunan" atau "rajutan" atau "jejaring" (Latin: textÅ«ra) benang-benang pertanyaan-pertanyaan di atas. Tidak ada teks apapun yang muncul dari kevakuman atau "jatuh dari langit" begitu saja.

● Manfaatkanlah buku-buku sejarah kritis (sejarah sosial dan sejarah politis) yang relevan dengan dunia kuno zaman penulisan Alkitab. Ingat, karya sejarah kritis berbeda jauh dari karya sejarah apologetis. Banyak apologet agama mengklaim bahwa karya mereka adalah karya sejarah, padahal sebetulnya tulisan mereka itu tulisan tentang teologi yang sedang dibela mereka dengan memakai kamuflase sejarah sebagai pembenaran yang dipaksakan.

D. Menentukan konteks sastra (literary context) teks

1. Uraikan hubungan-hubungan tekstual perikop yang sedang ditafsir dengan teks-teks yang ada sebelum dan yang ada sesudahnya (sesuai dengan pembatasan perikop yang anda sudah berikan pada poin A di atas);

2. Ungkapkan dengan kata-kata anda sendiri isi perikop dalam hubungannya dengan teks-teks sebelum dan teks-teks sesudahnya;

3. Ringkas isi perikop yang sedang ditafsir dalam beberapa kata (3-5 kata) yang anda akan jadikan judul perikop yang sedang ditafsir (dalam hal ini judul perikop yang anda beri dapat dan sepatutnya berbeda dari judul yang diberikan LAI).

E. Menentukan sumber-sumber (literary sources) teks dan penyuntingan

1. Dengan mengetahui sumber-sumber sastra yang dipakai, anda dapat lebih pasti menentukan jenis sastra teks (lihat poin B di atas); 

2. Jika ada teks-teks di luar Alkitab (extracanonical texts) yang sejajar dengan teks alkitabiah yang sedang ditafsir, dan bisa menjadi sumbernya, kutiplah teks-teks yang sejajar ini untuk membantu memahami teks yang sedang ditafsir; 

3. Perlihatkan bagaimana sumber yang dipakai sudah diedit/disunting/diolah oleh si penulis perikop yang sedang anda tafsirkan;

4. Penyuntingan/editing dapat berupa penambahan teks lain, pengurangan teks yang sudah ada, atau perubahan atau penggantian teks yang ada.

Penyuntingan dilakukan untuk kebutuhan merelevansikan teks warisan dengan sikon masa kini si penyunting, atau untuk menjawab persoalan berbeda di zaman dan tempat kehidupan si penyunting, atau karena berbagai kebutuhan lain;

5. Kalau anda menemukan bagian-bagian yang merupakan penyuntingan atas teks yang sedang anda tafsir, bagian ini adalah bagian dari teologi atau pemikiran langsung dari si penulis perikop di zaman dan tempatnya;

6. Rumuskanlah dengan kata-kata anda sendiri apa isi teologi atau pemikiran si penulis perikop yang sedang anda tafsir, dan tunjukkan di mana isi teologinya ini ditemukan dalam perikop; 

7. Jika perikop yang sedang ditafsir tidak memakai sumber sastrawi apapun, melainkan buah pemikiran murni si penulis teks, poin E ini dapat anda lewati.

Tapi ingat dan catat, nyaris tak ada penulis kapan dan di manapun yang tak memanfaatkan sumber-sumber sastra atau tuturan lisan atau pemikiran dan ide orang lain sebelumnya ketika mereka menulis karya-karya mereka sendiri.

F. Memeriksa dan mengusulkan terjemahan teks yang sedang ditafsir 

1. Untuk mengerjakan bagian ini, anda perlu memiliki pengetahuan yang memadai mengenai tatabahasa Ibrani Alkitab dan tatabahasa Yunani koine;

2. Penguasaan tata bahasa dan kosa kata dalam bahasa-bahasa asli akan membuat anda mampu memberikan sebuah terjemahan alternatif, yang berbeda dari terjemahan LAI;

3. Perhatikan varian-varian teks yang tersedia (dapat diketahui dari aparat kritik yang ada sebagai catatan-catatan kaki dalam setiap versi Alkitab edisi kritis) dan periksalah apakah anda akan memilih varian teks lain yang tidak dipakai dalam terjemahan standard LAI (atau versi terjemahan Alkitab lainnya);

4. Sebutkan alasan-alasan anda mengapa anda memilih varian-varian teks lain, yang berbeda dari yang dipakai dalam terjemahan resmi LAI atau terjemahan lainnya (untuk Alkitab Perjanjian Baru, versi UBS atau versi Nestle-Aland, dll).

G. Menjelaskan teks ayat per ayat dan merangkumnya (content analysis)

1. Jelaskan apa maksud atau isi gagasan dari setiap ayat dalam perikop yang sedang anda tafsir, dan hubungannya dengan ayat-ayat berikutnya; 

2. Penjelasan atas ayat-ayat yang anda berikan harus berada dalam satu kesatuan atau koherensi logis dengan seluruh gagasan besar dari seluruh isi perikop;

3. Perhatian perlu lebih banyak ditujukan pada kata-kata penting/kunci (key words) yang muncul berulangkali dalam setiap ayat atau dalam keseluruhan perikop yang sedang ditafsir;

4. Jika ada kata-kata penting yang bermakna khusus dalam sistem kebudayaan atau sistem sosial si penulis teks yang anda sedang tafsir, uraikanlah makna khusus kata-kata ini dan bagaimana kata-kata ini dipakai dalam teks yang anda sedang tafsir;

5. Rangkumlah maksud atau isi gagasan dari seluruh perikop dalam beberapa kalimat yang anda rumuskan sendiri (ingat, anda dalam batas tertentu sudah melakukannya sebelumnya pada poin D di atas ketika anda memberi sebuah judul pada perikop yang sudah anda batasi);

6. Jika teks berbentuk sebuah argumen runtut yang mengungkapkan isi pemikiran teologis si penulisnya (seperti ditemukan dalam surat-surat dalam Perjanjian Baru atau dalam rumusan-rumusan pengakuan iman/kredo, atau dalam tulisan-tulisan filosofis), dalam menjelaskan isi perikop (ayat per ayat dan keseluruhan perikop sebagai satu kesatuan) anda harus memperhatikan:
  • argumentasi logis runtut yang diajukan si penulis teks;
  • dasar-dasar atau titik tolak argumentasi yang dipakai;
  • perkembangan argumentasi dari satu ayat ke ayat lainnya: lancar, tersendat, atau kacau;
  • hubungan sintaksis antara satu kata dengan kata lainnya, satu kalimat dengan kalimat lainnya, dalam keseluruhan perikop yang sedang ditafsir;
  • segi-segi ketatabahasaan (segi-segi gramatikal) yang penting dimengerti untuk bisa memahami sebuah argumen;
  • muara atau kesimpulan dari keseluruhan argumen yang biasanya dapat ditemukan pada bagian akhir perikop; 
  • bagian khusus pada akhir perikop yang lazimnya berisi nasihat atau wejangan atau petunjuk praktis untuk dijalankan si penerima teks.
7. Jika jenis sastra perikop yang sedang anda tafsir adalah kisah (yakni sebuah cerita yang berplot atau laporan sebuah kejadian atau sebuah perumpamaan), dalam menjelaskan isi perikop anda harus memperhatikan:
  • dalam konteks dunia kisah (story world) yang bagaimana kisah ini dimulai (perhatikan apa yang ditulis pada ayat-ayat pembuka perikop dan pada perikop sebelumnya);
  • plot atau alur/aliran ceritanya, dan sub-sub plotnya;
  • para tokoh yang terlibat di dalamnya (tokoh utama dan tokoh sampingan);
  • peran masing-masing tokoh ini dalam keseluruhan cerita;
  • gagasan naratif utama (“point of view”) yang mengatur dan mengendalikan keseluruhan cerita;
  • klimaks cerita dan anti-klimaks cerita;
  • biasanya maksud seluruh cerita dapat ditemukan pada ayat-ayat terakhir dari keseluruhan perikop yang merupakan rangkuman seluruh cerita;
  • perlihatkan bahwa perikop yang sedang anda tafsir ini menjadi titik tolak perikop yang menyusul sesudahnya, atau malah sama sekali tak ada kaitannya dengan perikop yang menyusulnya.
H. Menentukan tempat dan fungsi perikop yang sedang ditafsir dalam keseluruhan dokumen/kitab yang memuatnya

1. Setelah anda dapat merumuskan maksud (intention/purpose) atau pesan (meaning/message) seluruh isi perikop yang sedang anda tafsir, kini anda harus menempatkan perikop ini dalam keseluruhan dokumen atau kitab yang memuatnya dan dalam seluruh isi Alkitab; 

2. Rumuskan apa fungsi maksud dan pesan teologis perikop yang anda tafsir ini bagi keseluruhan dokumen/kitab yang memuatnya;

3. Rumuskan bagaimana keseluruhan dokumen/kitab yang memuat perikop ini ikut mempengaruhi isi pesan teologis perikop yang anda sedang tafsir;

4. Rumuskan bagaimana isi teologis perikop yang anda sedang tafsir dapat juga (jika ada) memberi pengaruh teologis kepada seluruh isi Alkitab (Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, atau keduanya).

I. Menyusun sebuah refleksi hermeneutis 

1. Sebagai langkah akhir, temukan apakah isi teologis atau pesan dan maksud perikop yang anda sudah tafsir relevan atau tidak relevan dengan kehidupan bergereja dan bermasyarakat pada masa kini, dan berikan alasan-alasan anda.

Jangan sekali-kali anda memaksa diri sendiri dan orang lain untuk berpikir dan berkeyakinan bahwa seluruh teks kitab suci anda pasti selalu relevan untuk segala tempat dan segala zaman hingga dunia ini berakhir (entah kapan). Pikiran dan keyakinan semacam ini adalah suatu asumsi yang sangat menyesatkan.

2. Temukan apakah ada jurang kebudayaan (cultural gap) yang besar antara teks yang anda sudah tafsir dan temukan isinya dan kehidupan masa kini di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya, sehingga teks tersebut sama sekali tak bisa diterapkan untuk kehidupan masa kini.

3. Jika menurut anda, teks yang anda sudah tafsir itu relevan, sebutkanlah dalam hal-hal apa saja relevansinya.

4. Buatlah sebuah khotbah singkat (1-2 halaman) untuk gereja anda berdasarkan tafsiran atas teks yang anda sudah buat dengan menjalankan semua langkah di atas. 

5. Sebuah khotbah yang baik dan bertanggungjawab dihasilkan dari suatu usaha kritis dan kreatif untuk mempertemukan dan merelevansikan (lewat berbagai cara metodikal) pesan dan makna teks di zaman kuno dan di tempat lain (disebut horison satu) dengan kebutuhan-kebutuhan dan tantangan-tantangan zaman dan tempat si pengkhotbah (disebut horison dua) yang harus dijawabnya dengan kreatif dan konstruktif. 

6. Langkah kritis dan kreatif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk mempertemukan atau menjembatani atau mengkonvergensikan horison satu dengan horison dua inilah yang dinamakan hermeneutik.

7. Dalam menjalankan hermeneutik, si pengkhotbah masa kini bukan saja harus mampu memasuki dan menyelami dunia dan zaman dulu dengan sebaik mungkin, tapi juga harus mampu memasuki, menyelami dan memahami dengan setepat mungkin dunia di zaman sekarang yang menjadi konteks sosial kehidupannya.

N.B. Wajib baca juga Metode-metode Kritis Tafsir Kitab Suci.

Jakarta,
10 Januari 2021
1 November 2017
4 November 2010

Ioanes Rakhmat