Showing posts with label Fusion of Horizons. Show all posts
Showing posts with label Fusion of Horizons. Show all posts

Tuesday, March 16, 2021

Cara-cara TAFSIR ULANG sebuah teks skriptural yang sudah tak relevan


Si burung pipit ini sedang menafsir ulang dirinya sendiri dari perspektif yang berbeda


N.B. Perlu dibaca juga APAKAH TEKS SKRIPTURAL SELALU RELEVAN?


Jika anda sudah bisa masuk, lewat tafsir eksegetis lintasilmu, ke dunia zaman lampau (saya namakan Horison 1), untuk memahami teks-teks skriptural anda, dan ketika anda sudah betul-betul mengenali dan memahami dunia zaman anda sekarang (Horison 2) lewat studi lintasilmu juga, lalu apa yang selanjutnya anda perlu lakukan? 

Pertama-tama, ya jalankan seni dan ilmu hermeneutik, untuk "mempertemukan" atau "menjembatani" dengan cerdas dan kreatif Horison 1 dan Horison 2 yang terpisah oleh jurang sejarah dan jurang budaya yang lebar dan dalam.

Di saat langkah itu anda lakukan, anda sedang berperan sebagai dewa Hermes yang ditugaskan untuk menjembatani "kawasan atas" dewa-dewi dengan "kawasan bawah" dunia manusia, untuk membawa dan menerjemahkan pesan-pesan Dewa Zeus dan dewa-dewi lain supaya dapat dimengerti oleh manusia di Bumi.

Tentu anda sudah tahu, dari nama Hermes dibentuklah kata Yunani hermeneuein, yang artinya "menerjemahkan" atau "memindahkan" atau "menjembatani" atau "mengangkat". 

Ilmu dan seni hermeneutik adalah ilmu dan seni menerjemahkan, menjembatani, memindahkan atau mengangkat Horison 1 ke Horison 2 dengan mempertemukan keduanya sehingga tercipta interseksi antara kedua horison ini.


Interseksi dua horison

Apa itu interseksi? Menjelaskan dengan gambar akan lebih mudah. Nah, perhatikan gambar di bawah ini. 



Lingkaran di sebelah kiri adalah Horison 1; lingkaran di sebelah kanan adalah Horison 2. Ketika lingkaran H1 dan lingkaran H2 dipertemukan, maka akan ada wilayah petemuan atau wilayah tumpang tindih antara keduanya. Wilayah yang berwarna biru itulah interseksi H1 dan H2.

Hans-Georg Gadamer dalam karya besar-nya Truth and Method (edisi kedua, London: Sheed and Ward, 1989; aslinya buku ini ditulis dalam bahasa Jerman, 1960, berjudul Warheit und Methode) berbicara tentang "hermeneutik filosofis" yang merupakan perluasan ide Martin Heidegger dalam bukunya Being and Time (1927). 

Gadamer, dalam magnum opus-nya itu, sangat kuat menekankan "komunikasi antar-subjek" dalam mencari dan menemukan kebenaran. Objek yang diteliti, dan si penelitinya, saling mempengaruhi. 

Jadi, menurut Gadamer, tidak ada objektivitas murni dalam ilmu-ilmu humaniora. 

Tegas Gadamer juga, dibutuhkan suatu Horizontverschmelzung (Jerman) atau "a fusion of horizons" atau "suatu fusi horison-horison" ketika orang-orang yang memiliki horison masing-masing bertemu lalu menggabung horison-horison masing-masing untuk mendapatkan kebenaran yang makin luas. Inilah juga "komunikasi antar-subjek".

Dalam bukunya itu, Gadamer mendefinisikan "horison" sebagai "suatu rentangan visi-visi yang mencakup segala sesuatu yang dapat dilihat dari suatu sudut pandang tertentu."

Jika ide Gadamer ini diterapkan pada ilmu tafsir, ketika H1 dan H2 dipertemukan, saya melihat hal yang dihasilkan bukanlah fusi atau peleburan atau penggabungan penuh dua lingkaran H1 dan H2, melainkan interseksi. 

Ya, lantaran H1 tidak mungkin sepenuhnya menjadi H2, begitu juga sebaliknya. Kesenjangan-kesenjangan ("gaps") selalu ada antara H1 dan H2, tetapi lewat ilmu dan seni hermeneutik "gaps" atau jurang-jurang sejarah dan budaya dipersempit lewat interseksi.

Dan jangan disangkal, seperti dilihat Gadamer, bahwa untuk mendapatkan H1 dan H2 kita selalu memakai titik pijak, menggunakan sudut-sudut pandang atau perspektif tertentu yang kita pilih (atau dipilihkan oleh orang lain). 

Juga perlu diingat bahwa kita tak pernah bisa menghasilkan H1 dan H2 sepenuh-penuhnya dan selengkap-lengkapnya lantaran banyak penyebab. 

Antara lain, karena kita kekurangan sumber-sumber primer dan sekunder, data dan info otentik, saksi-saksi otentik, artefak-artefak dll, serta tidak mampu menjadi orang-orang dan subjek-subjek yang kita teliti apa adanya, selalu ada jarak dan pengaruh timbal-balik antara si peneliti dan objek yang diteliti, baik untuk mendapatkan H1 maupun untuk memperoleh H2. 


Rekonstruksi

Alhasil, meskipun kita memakai pendekatan lintasilmu, H1 dan H2 yang kita dapatkan adalah H1 dan H2 yang kita rekonstruksi. 

Ya  memang tidak ada jalan lain. Kita hanya bisa merekonstruksi, dan ini sudah lebih dari cukup. Tidak ada yang salah dengan rekonstruksi. Para detektif juga melakukan rekonstruksi-rekonstruksi untuk bisa tiba pada penemuan siapa pelaku kejahatan yang sebenarnya.

Lazimnya, rekonstruksi yang satu akan menimbulkan rekonstruksi yang lainnya, demikian seterusnya. Hasilnya, semua rekonstruksi yang dipandang meyakinkan (lewat debat keilmuan), perlu kita sintesiskan, kita pertemukan, atau kita fusi-kan, dan fusi ini akan membawa kita ke pengetahuan-pengetahuan yang makin luas dan mendalam, tentang masa lalu dan masa kini. Don't worry about reconstructions of reality.

Nah, bertolak dari interseksi horison-horison tersebut, anda selanjutnya perlu menyusun sebuah khotbah yang berbobot, terpelajar sekaligus persuasif (dengan memanfaatkan ilmu dan seni retorika), untuk umat anda.



Lewat interpretasi ulang, mangkok makan logam tradisional berubah menjadi mangkok modern berbahan plastik


Tetapi, apa yang anda harus lakukan jika Horison 1 sama sekali tidak bisa dipertemukan dengan Horison 2, atau dengan kata lain interseksi tidak bisa ditemukan? Pendek kata, Horison 1 sudah tidak relevan atau tidak kena lagi dengan Horison 2?

Jangan khawatir. Keep praying! Keep finding out! Knock the door!


Tafsir ulang

Terhadap teks-teks skriptural yang sudah tidak relevan lagi, yang anda temukan lewat kajian yang terpelajar, anda dapat melakukan tafsir ulang atau reinterpretasi untuk membuat teks-teks tersebut tetap dapat digunakan dan tetap berbicara di dunia masa kini.

Berikut ini, saya ajukan tujuh cara tafsir ulang. Ikutilah dengan tekun, dan semoga anda memiliki kesempatan untuk menjalankan cara-cara tafsir ulang ini.


1) Mengganti "sudut pandang" tafsir

Tafsir ulang dapat dilakukan dengan mengganti "sudut pandang" atau "standpoint" penafsiran.

Anda tahu tentunya sosok Hawa, sosok perempuan yang mewakili semua perempuan umat manusia, dalam kisah teologis etiologis Taman Eden dalam Kejadian 3. Kita pakai sosok Hawa untuk ditafsir ulang lewat penggantian sudut pandang tafsir.

Hawa telah distigmatisasi dan ditindas luar biasa, meski dia sosok yang ada dalam sebuah kisah teologis etiologis dalam Tenakh, kitab suci Yahudi. 

Perhatikan apa yang telah ditulis oleh seorang pemimpin gereja Tertullianus pada abad ke-2 tentang kaum perempuan zamannya dengan memakai kisah Kejadian 3 sebagai dasarnya, berikut ini:

“Kalian adalah pintu gerbang masuknya setan ke dalam dunia... kalian adalah Hawa yang membujuk Adam, yang setan tidak berani serang.... Tahukah kalian bahwa setiap orang dari antara kalian adalah seorang Hawa? Hukuman Allah terhadap gender kalian tetap berlaku dalam zaman ini; begitu juga, kesalahan yang dibuat Hawa bagaimanapun juga tetap ada” (Tertullianus, De Cultu Feminarum I, 12).

Jelas, tak perlu disangkal, bahwa Tertullianus memperlihatkan bias seksisme dalam bentuk yang ekstrim, yang dinamakan misogini (Inggris: misogyny, dari dua kata Yunani miseô, "membenci", dan gynē, "perempuan"). Yakni kebencian terhadap kaum perempuan yang sangat mungkin akan membuahkan kekerasan dan ketidakadilan yang parah terhadap kaum ini. 


Karena misogini, kaum perempuan kerap menerima upah atau gaji yang lebih kecil dibandingkan yang diterima kaum lelaki untuk suatu pekerjaan yang sama.


Juga baca dengan seksama dan dengan mata terbelalak teks-teks patriarkhis misoginis Perjanjian Baru di 2 Korintus 11:3 dan 1 Timotius 2:11-14. Ditulis oleh orang-orang yang dipandang suci. Karena itu, ketika dipraktekkan, si praktisi misogini tidak merasa dirinya bersalah atau keliru.

Dokumen ekstrakanonik Pistis Sofia (ditulis tahun 250 M) memuat ucapan Maria Magdalena kepada Yesus tentang misogini rasul Petrus. Bunyinya bikin kaget. Ucapan ini mencerminkan adanya kompetisi religiopolitik antara rasul-rasul perempuan dan rasul-rasul pria yang tak mau disaingi pada masa gereja awal dulu.

“Guruku, aku memahami dalam pikiranku bahwa aku dapat maju ke muka kapan saja untuk menafsirkan apa yang Pistis Sofia telah katakan, tetapi aku takut kepada Petrus, karena dia telah mengancam aku dan membenci gender kami.” (Pistis Sofia 72)




Misogini membuat kaum pria membungkam kaum perempuan


Terkait sosok Hawa skriptural yang terstigmatisasi sebagai "sumber dosa asal", yang kemudian melahirkan patriarkhi dan misogini, tafsir ulang dapat dan harus dijalankan dengan mengganti "sudut pandang", dari tafsir "sudut pandang pria", diubah menjadi tafsir "sudut pandang perempuan". 

Perubahan "standpoint" atau "perspective" dalam menafsir suatu teks, dapat menghasilkan cakrawala-cakrawala pemahaman baru yang menakjubkan. 

Kalau suatu teks yang biasa ditafsir dari sudut pandang "penguasa" atau "budaya yang dominan", katakanlah "budaya pria", anda tafsir ulang dengan memakai sudut pandang rakyat jelata atau sudut pandang budaya marjinal, "budaya perempuan", atau sudut pandang "pihak korban", misalnya, maka anda akan menemukan pemahaman-pemahaman baru atas teks itu.

Dengan sudut pandang tafsir yang diubah, sosok naratif Hawa berubah menjadi sosok heroik yang tercerahkan, pembawa pengetahuan bagi umat manusia, mula-mula pengetahuan moral, lalu berkembang menjadi ilmu pengetahuan.

Alih-alih sebagai sumber dosa asal, Hawa adalah sumber inspirasi tentang keberanian dan pemenuhan kuriositas insani yang menjadi pendorong kemajuan pengetahuan manusia.

Stephen Hawking bisa jadi akan setuju jika Hawa dalam kisah teologis etiologis Taman Eden dipandang sebagai sosok yang berani mengikuti kuriositas atau rasa ingin tahunya. Kata mahafisikawan ini, "Sangatlah penting bagi orang muda untuk mempertahankan rasa takjub mereka dan senantiasa bertanya mengapa dan mengapa."

2) Dijadikan metafora

Reinterpretasi suatu teks skriptural yang sudah tak relevan juga dijalankan dengan mengubahnya jadi metafora, bukan teks tentang fakta-fakta.

Metafora itu bukan kiasan, bukan dongeng kosong, melainkan suatu wahana sastrawi atau suatu wahana artistik (yang indah, puitis dan retoris) yang "membawa anda ke seberang" (Yunani: ferein), memasuki "kawasan lain", kawasan adinilai, yang "melampaui" (Yunani: meta) kawasan dunia sehari-hari yang sudah rutin dan biasa anda jalani tanpa direnungi lebih dalam makna dan manfaatnya.




Pada gambar di atas ini, tangga adalah metafora, yang "menyeberangkan" anda ke kawasan transenden, kawasan yang luar biasa besar dan menakjubkan, yang "melampaui" kawasan Bumi tempat anda tinggal sehari-hari di mana rutinitas dan keusangan menguasai anda.

Lewat metafora, anda dibawa masuk ke hal-hal besar yang menakjubkan, yang transenden, yang akan mengubah dan mengarahkan watak, pikiran, aksi, perilaku, nilai-nilai dan horison kehidupan anda ke tingkat-tingkat yang makin tinggi dan agung.

Karena Allah dipercaya ada dalam dunia transenden, di sorga, maka Yesus dari Nazareth, misalnya, memakai banyak metafora, yakni perumpamaan-perumpaan-Nya, untuk membuat rakyat jelata Yahudi masuk dan berjumpa dengan Allah, yang Yesus panggil sebagai Bapa, Abba, di saat mereka mendengarkan dan mengalami kisah-kisah metaforis Yesus. 

Lewat berbagai metafora yang disusun Yesus, Allah dibawa masuk ke Bumi, hadir dan berkarya di tengah rakyat. Kisah-kisah metaforis Yesus memang menawan hati, dan memiliki power untuk mengubah hati dan pikiran para pendengar, dulu dan kini. Metafora Yesus memang powerful. 

Tak ada cara lain selain memakai metafora jika kita mau memasuki, membayangkan dan mengerti dunia atau hal-hal adikodrati, yang ada "di seberang" dunia dan hal-hal kodrati. Pada dasarnya, semua teologi adalah metafora, suatu wahana sastra yang "menyeberangkan" kita ke dunia adikodrati yang "melampaui" dunia kodrati.

"Perang-perang suci", holy wars, yang memakan banyak korban manusia, yang diklaim atas nama Tuhan, atau diklaim atas perintah Tuhan, dapat ditafsir baru bukan sebagai perang militeristik bengis di luar, di medan tempur, alias "war without", dengan membawa-bawa nama Allah. Tetapi sebagai sebuah metafora "war within", yakni pertempuran dalam hati nurani untuk memenangkan kebaikan dan keagungan, kejujuran dan kebajikan, dan pertempuran dalam pikiran, "within the mind", untuk memenangkan ilmu pengetahuan, rasa ingin tahu, kemajuan peradaban, dan keteduhan dan kedamaian pikiran.

Ketika dimetaforakan, sorga menjadi ada bersama kita di Bumi ini. Yaitu ketika kita hidup di suatu dunia yang di dalamnya segala nilai kebajikan dan keagungan terwujud: keadilan dan kesetaraan, kedamaian dan perdamaian, kebahagiaan, kemerdekaan dari tirani dan perbudakan, hak-hak individual dan kolektif, kesejahteraan, kebaikan, persaudaraan antar segenap insan, pemeliharaan dan pelestarian dunia alam fauna dan flora serta lingkungan hidup, ilmu pengetahuan, dorongan kuriositas yang membangun, kemajuan, kesehatan raga dan mental, kehidupan beragama yang membahagiakan dan cerdas.

Neraka, saat dimetaforakan, adalah suatu kondisi kehidupan di Bumi di mana nilai-nilai kebajikan, kebaikan dan keagungan yang sudah disebut di atas sama sekali tidak ada, diganti dengan kebalikannya sampai ke akar-akarnya.

Sorga di Bumi, itulah yang kita ingin dirikan di Bumi. Kata Yesus, "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di Bumi seperti si sorga!" Sesungguhnya, fokus utama Yesus adalah kehidupan di Bumi.

Yang real menakutkan, yang membuat semua orang yang berkemauan baik dan berjiwa mulia tertantang untuk melenyapkannya, adalah neraka-neraka di Bumi ini, sekarang ini. Sementara, ada banyak orang, juga yang beragama, yang ingin dan sedang membangun berbagai neraka di Bumi.

Ya, tentu, tak semua teks skriptural yang sudah tak relevan bisa ditafsir ulang sebagai metafora, sehingga memang dengan berat hati harus tak dipakai lagi. Kalau dipaksa untuk dipakai juga, ya akan timbul banyak masalah. Ini sudah jelas.

3) Mencari "semangat" atau "spirit" teks

Selain itu, dalam rangka reinterpretasi, supaya teks-teks skriptural yang sudah tak relevan masih bisa dipakai, kita mencari bukan huruf-hurufnya tetapi semangatnya, spirit-nya. 

Atau, idiom-idiom mitologis teks-teks skriptural yang sudah tak relevan kita cari titisan jiwanya, kita jelmakan dalam idiom-idiom modern. 

Perang melawan setan-setan, misalnya, kita ubah idiom-nya menjadi perang melawan bakteri-bakteri dan virus-virus serta berbagai parasit lain yang berinang dalam tubuh manusia dan melawan semua sumber asali penyakit. Tentu saja dengan memakai sains dan teknologi pengobatan sebagai senjata pamungkasnya. 

Setan tak terlihat, alhasil digambarkan secara imajinatif dalam gambar-gambar yang mengerikan. Ya, sosok setan perlu ditafsir kembali.

Kita perlu memandang bahwa setan-setan menitis atau menjelma dalam diri manusia-manusia durjana dan keji, yang sosiopatis, yang psikopatis. Manusia-manusia yang memuja kematian dan kehancuran dan kebinasaan dunia dan peradaban. Manusia-manusia yang tanpa nurani, manusia-manusia yang kesetanan dalam segala dimensi, sehingga menjadi manusia setan. 

Jadi, setan, bahkan yang terkeji, ada bukan di luar diri manusia, tetapi di dalam diri manusia sendiri, yang bekerja dan bertindak lewat pikiran yang jahat dan durjana, hati yang hitam gelap, penuh kedengkian dan kebencian yang membara, ucapan yang tak terkontrol dan menyabet dan menebas sana-sini, dan tindakan yang barbar, biadab dan menghancurkan. 

Semakin dalam kasih anda kepada Tuhan, dan semakin erat Tuhan merangkul anda sebagai kekasih-Nya, maka semakin ngebet si Setan untuk, lewat orang-orang yang durjana dan kesetanan, merebut anda dari rangkulan Tuhan. Ini bukan hanya pertempuran dalam batin anda, tapi juga pertempuran real dalam masyarakat manusia.

Semua kebengisan dan kebarbaran itu harus dipertanggungjawabkan oleh manusia-manusia real yang menjadi titisan setan-setan. Menuntut setan, ya sama dengan menuntut bayang-bayang gelap yang selalu mengikuti tubuh kita, atau menuntut dan mengadili kegelapan malam yang tanpa rembulan.

Apakah seseorang itu titisan Setan atau kepunyaan Setan, Albert Einstein memberi sebuah petunjuk ringkas. Katanya, "Wahai generasi-generasi mendatang yang kusayangi, jika engkau tidak menjadi lebih adil, lebih damai, dan pada umumnya lebih arif dan berwawasan,... maka boleh jadi si Setan sudah menguasaimu." 

4) Allegorisasi

Reinterpretasi juga dapat dilakukan dengan memberi arti lain yang bukan arti harfiah dari sebuah kata atau sebuah frasa. Ini dinamakan penafsiran allegoris. Kata Yunani allēgorein (dari dua kata allos, "lain"; dan agoreuein, "berkata") berarti "memberi makna lain". 

Tidaklah tepat jika allegorisasi diartikan sebagai "rohanisasi" atau "moralisasi" makna suatu kata atau suatu frasa, di luar makna harfiahnya, meski makna lain yang diberi bisa memuat pesan-pesan kerohanian atau pesan-pesan moral.

Hukuman penyaliban yang dialami Yesus (dan sangat banyak orang lain di masa Kekaisaran Romawi menjajah bangsa Yahudi, sejak 63 SM), adalah hukuman yang sangat biadab. Bagi orang Yahudi, orang yang disalibkan adalah orang yang dikutuk Allah (lihat Ulangan 21:23. Dikutip Paulus dalam Galatia 3:13). Jadi, bagi orang Yahudi, betul-betul suatu "batu sandungan" (Yunani: skandalon) jika Yesus orang Nazareth yang dihukum mati lewat penyaliban dipandang sebagai Tuhan dan sang Messias/Kristus yang diberitakan rasul Paulus.

Dalam kisah-kisah epik Yunani, yang dinamakan aretalogi, sosok-sosok insani yang gagah-perkasa, yang menghasilkan prestasi-prestasi besar "adiinsani" atau "superhuman", misalnya Aleksander Agung, dipuja dan dimuliakan, dan dijadikan "demigod" atau "manusia dewa" (Latin: semideus; Yunani: hēmitheos. Juga theios anēr atau theioi andres). Kultus-kultus pemujaan dibangun untuk mereka, juga kuil-kuil suci, baik ketika mereka masih hidup, maupun ketika mereka sudah "diangkat" atau "naik" ke kawasan adikodrati yang dilihat oleh para saksi mata. Lebih lanjut tentang aretalogi, bacalah SOSOK-SOSOK ADIINSANI DUNIA LAUT TENGAH KUNO.

Nah, wajarlah jika orang Yunani, menurut rasul Paulus, menilai adalah suatu "kebodohan" (Yunani: môria) jika orang Kristen percaya pada satu sosok yang mati disalibkan sebagai Tuhan dan sang Kristus.

Nah, penyaliban Yesus, sebagai suatu fakta yang keras dan mempermalukan, membuat orang-orang Kristen awal, rasul Paulus khususnya, sangat tidak merasa nyaman. Mereka tidak menyembunyikan fakta penyaliban Yesus. Karena memang sangat tidak mungkin. Rasa tidak nyaman yang berat ini, yang timbul karena disonansi kognitif, harus diatasi. Apa jalan keluarnya? 

Ya, mereka melakukan reinterpretasi dengan mengallegorisasi peristiwa penyaliban. Alhasil, salib ditafsirkan allegoris sebagai "jalan pendamaian" antara Allah dan manusia yang berdosa, dengan meminjam ritual tradisional penyucian dosa Yahudi. 

Lewat allegorisasi ini, kekerasan penyaliban dianulir, berganti menjadi karya kasih karunia penyelamatan yang dilakukan Allah lewat Yesus sebagai sang korban, menggantikan umat manusia. Korban cukup satu, satu-satunya, yakni Yesus Kristus, sekali untuk selamanya. Jangan ada korban lain.

Imajinasi penting dalam membangun konstruk sebuah pemikiran teologis. Saya mau memperlihatkan hal ini sekarang, dengan melakukan allegorisasi imajinatif juga. 

Pada hukuman "penyaliban", orang yang dieksekusi dapat dipantek pada batang pohon atau potongan kayu besar vertikal saja, tanpa batang horisontalnya. Nah, umumnya Yesus dibayangkan dieksekusi pada balok kayu yang berbentuk salib, ada bagian vertikalnya dan ada bagian horisontalnya. Imajinasi saya pun bekerja. Sebuah kisah saya susun dengan bersemangat. 



Yesus disalibkan sebagai perisai


Peristiwa penyaliban Yesus adalah peristiwa Yesus menjadikan diri-Nya sebuah perisai, sebuah tameng, dengan berdiri tegak di depan dan dengan kedua tangan-Nya terentang ke kiri dan ke kanan. Di belakang tubuh salib Yesus, berdiri umat manusia dan gereja, anda dan saya termasuk, berlindung merunduk.

Para durjana dan manusia-manusia yang kesetanan yang mau menghajar, melukai, menganiaya dan membunuh kita, tidak bisa mencapai kita, karena dihalangi atau dibarikade tubuh Yesus sebagai sang perisai.

Sebagai sang perisai pelindung, Yesus ikhlas menanggung segala risiko yang akan didatangkan oleh manusia-manusia keji kesetanan itu yang pasti akan naik pitam karena dihalang-halangi oleh tubuh salib Yesus. 

Akhirnya para manusia setan itu berkelahi dan bergulat dengan Yesus yang dengan tangguh, kokoh dan gesit terus melawan mereka, menjaga kita semua yang berlindung di belakang tubuh salib-Nya. 

Semua manusia yang kesetanan itu roboh tak berdaya, satu demi satu. Mereka telah dilumpuhkan habis oleh Yesus sang perisai kita. 

Tapi,... tubuh dan kepala Yesus juga penuh luka dan darah, terkena gebukan dan tikaman manusia-manusia keji yang kesetanan itu. Akhirnya Yesus pun roboh, terkapar sekarat di tanah. 

Sebelum mati, Yesus sempat berkata, "Sudah selesai!" Ya, sudah selesai karena semua manusia durjana berhati iblis sudah dibuat tak berkutik sama sekali, roboh dan terkapar semua, sekarat dan tewas. Kita yang tadi ditamengi tubuh salib Yesus selamat semua, lolos dari maut. Tubuh salib Yesus membuat kita tetap hidup. Itulah keselamatan.

Memandang tubuh Yesus yang tersalib, ya memandang Dia yang terus-menerus bertempur, berkelahi dan bergulat melawan para insan durjana yang kesetanan, demi melindungi dan menjaga keselamatan manusia yang merunduk berlindung di belakang tubuh salib-Nya. Di segala zaman dan di segala tempat. Yang menjadi korban kedurjanaan cukup satu orang saja, Yesus.

Selanjutnya, Lex talionis potong tangan dalam agama Islam, misalnya, dapat diallegorisasi dengan memberinya makna lain, yakni hukuman terberat pada zaman kini terhadap para kriminal berat, setelah melewati proses hukum. 

Meskipun demikian, saya masih bertanya-tanya, hukuman potong tangan yang semustinya dikenakan pada seorang pencuri kelas teri (misalnya seorang pencuri kambing), harus diganti dengan hukuman penjara terberat berapa tahun? 
Jadi, ya tidak bisa diallegorisasi.

Dalam Galatia 4:21-31 Paulus memakai kata Yunani allegorein ketika dia menafsirkan anak Abraham dari Hagar sebagai anak "menurut daging", dan anak dari Sarah sebagai anak "menurut janji", dan Hagar sebagai "Gunung Sinai" di tanah Arab atau "Yerusalem yang ada sekarang" (Yunani: nun Iērousalēm), sedangkan Sarah sebagai "Yerusalem dari atas" (Yunani: anô Iērousalēm. TB LAI "Yerusalem sorgawi").

Dalam Injil Yohanes yang ditulis tahun 90-an abad pertama M, ketika Bait Allah di kota Yerusalem sudah dihancurkan menjadi puing dan reruntuhan (pada tahun 70 M oleh pasukan Romawi yang dipimpin Jenderal Titus dalam Perang Yahudi Pertama tahun 66-73M), bangunan Bait Allah yang sudah tidak ada dipindahkan atau ditransposisikan, dipindahtempatkan, dan diallegorisasikan, sebagai tubuh Yesus yang telah "dirobohkan" lewat penyaliban (Yohanes 2:19-21).

5) Transposisi

Transposisi adalah pemindahan tempat, dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu dimensi ke dimensi lain, dari satu posisi ke posisi lain, atau dari satu jabatan ke jabatan lain. Sinonim dengan reposisi atau mutasi, yang menunjuk pada gerakan berpindah tempat atau posisi, atau berganti wujud.

Transposisi dipakai dalam tafsir ulang supaya teks zaman kuno tetap beroleh tempat di zaman sekarang.

Dalam usaha berteologi-Nya, Yesus mentransposisi kehadiran dan karya Allah di sorga, atau yang disentralisasi di Bait Allah yang dikelola menurut sistem Bait atau sistem imamat atau sistem puritas ("purity system"). Alhasil, sorga berada di Bumi, dan kehadiran serta karya Allah dialami di tengah rakyat jelata yang harus menanggung beban berat dan penuh keletihan dan kelesuan dalam kehidupan mereka. 

Oleh Yesus, Allah didesentralisasi ke tengah umat, dipindahtempatkan dari Ruang Maha Kudus dalam Bait Allah, masuk ke kehidupan orang banyak. "Tirai/tabir Bait Suci terbelah dua dari atas hingga ke bawah" di saat Yesus mati di kayu salib (Markus 15:38)--- simbol Allah atau Shekinah ("kehadiran Allah dalam kemuliaan-Nya", "the glorious presence of God") telah meninggalkan Ruang Maha Kudus dalam Bait Allah, memasuki kehidupan rakyat Yahudi, berada di antara manusia, tanpa mediator institusi keagamaan lagi yang semula mengurung-Nya. 

Dalam teologi Yesus, Allah tidak lagi berada dalam Bait Allah, tapi berada di antara murid-murid-Nya dan rakyat Yahudi. Bait Allah tidak relevan. 

Karena itu, kehadiran Allah ditransposisikan oleh Yesus. Dalam usaha menunjukkan transposisi ini Yesus melakukan suatu aksi keributan di portiko Salomo Bait Allah, yang disertai dengan ucapan-Nya yang keras bahwa Dia mau "merobohkan" Bait Allah hingga menjadi puing-puing. Dalam kisah Injil Yohanes, Bait Suci Yesus transposisikan ke "tubuh-Nya" sendiri yang akan "dirobohkan" atau "dihanguskan" lewat penyaliban sebagai jalan untuk Dia "ditinggikan", kembali ke kawasan adikodrati, kawasan asal-usul-Nya.

Perjalanan ziarah ke tanah suci Israel dan kota suci Yerusalem, atau ke tempat-tempat sakral lain, yang umum dilakukan oleh warga Gereja Roma Katolik pada era Reformasi Protestan di Eropa abad ke-16, dipandang para reformator gereja Prostestan tidak relevan. 

Dus, mereka, khususnya Martin Luther, mentransposisikan lokasi-lokasi tempat suci, ke gereja-gereja lokal yang ada yang juga, dalam pandangan Luther, dihadiri oleh Allah yang sama. Mereka menyatakan bahwa di manapun kita berdiri dan memuliakan Tuhan lewat kehidupan kita, di situlah tanah suci, di situlah kota suci, di situlah Allah hadir dan berkarya, di situlah Shekinah ditemukan. Transposisi yang hebat, bukan?

Dalam salah satu bagian bukunya yang terbit 1520, To the Christian Nobility of the German Nation, Martin Luther, dalam semangat yang kuat dan sengit melawan Katolisisme, menulis demikian: 

"Semua ziarah ke tempat-tempat suci harus diakhiri. Tak ada kebaikan dalam ziarah-ziarah itu. Tidak ada perintah yang harus ditaati untuk melaksanakannya. Sebaliknya, ziarah-ziarah itu telah menjadi kesempatan-kesempatan yang tak terbilang banyaknya untuk orang berbuat dosa dan mencerca perintah-perintah Allah."

Dalam perumpamaan Yesus tentang "Orang Samaria Yang Baik Hati" (Lukas 10:25-37), jalan menurun yang menyeramkan dari Yerusalem ke Yerikho---seolah di sepanjang jalan itu Tuhan tidak hadir karena di situ banyak perampok yang bersembunyi--- oleh Yesus diubah, dengan mentransposisikan Allah dari Bait Allah di Yerusalem justru ke jalan yang menakutkan itu. 

Di jalan itu, tutur Yesus, Tuhan hadir dan bekerja, bukan melalui seorang imam suci Bait Allah atau seorang Lewi yang juga terkait dengan Bait Allah di kota Yerusalem yang kebetulan melewati jalan yang menakutkan itu. 

Melainkan, tanpa diduga oleh para pendengar kisah ini yang waktu itu berkerumun di sekitar Yesus, melalui seorang Samaria yang "tergerak hatinya oleh belas-kasihan" sehingga dia menolong sampai tuntas seorang yang menjadi korban perampokan dan penganiayaan berat di jalan itu. Oh ya, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria yang dinilai najis dan tidak berdarah murni Yahudi.

Tidak ada tempat yang terlalu menakutkan sehingga Tuhan menjadi takut untuk hadir dan bekerja. Bait Allah bukan pusat kehadiran Allah. Karena Allah mahahadir, maka Bait Suci menjadi tidak relevan bagi Yesus. Allah ada di rumah, di dalam Bait, tetapi Allah juga dan terutama ada di jalan-jalan, berkelana, menjelajah, dalam lautan kosmik mahaluas.

Ketika anda sendirian, dalam kesunyian dan keheningan, dalam pertanyaan-pertanyaan yang tak berjawab, dalam kepungan para penjahat dan orang durjana, Tuhan mentransposisikan diri, turun dan pindah, dari "atas" ke "bawah", untuk ada bersama anda, meski anda merasa sunyi dan sendiri. 

Dalam kesunyian dan kesendirian, in aloneness and in silence, Tuhan hadir, hadir tanpa suara, tanpa jejak, tanpa tanda. Always present, even in His absence.

6) Analogi

Untuk memberi suatu penjelasan tentang sesuatu hal dengan lebih jelas dan lebih kena atau relevan, orang juga lazim memakai sebuah analogi (Yunani: analogia).

Analogi dibangun untuk menjelaskan dan menafsirkan sesuatu dengan memakai "sesuatu yang lain atau yang berbeda", yang bersesuaian atau berkoresponden, supaya sesuatu yang sedang dijelaskan atau ditafsirkan itu dapat dengan jelas, kena dan relevan ditangkap dan dimengerti oleh orang yang menerima penjelasan. 

Penulis surat Ibrani dalam Perjanjian Baru gereja memakai analogi dalam Ibrani 12:3-11 (kata kerja Yunani yang muncul analogisasthe, ayat 3). Kata Yunani ini diterjemahkan oleh LAI dengan "Ingatlah"; teks NRSV memakai "Consider". Tapi sebetulnya, si penulis surat Ibrani dalam bagian itu memang sedang menganalogikan penderitaan Yesus Kristus dulu pada waktu Dia disalibkan dengan penderitaan jemaat Kristen penerima surat ini di zaman dan tempat mereka.

Jadi, dengan memakai analogi, azab kita ya bersesuaian dengan azab yang pernah dialami Yesus; sekaligus azab Yesus dulu juga berkoresponden dengan azab kita di masa kini di tempat kita. Tentu dua kejadian ini berbeda, tapi juga bersesuaian atau paralel.

7) Mencari paralel

Paralel kita mudah bayangkan jika kita memakai ilustrasi rel kereta api. Masing-masing rel membentuk garis sejajar atau garis paralel (lurus atau berbelok), terus demikian, di mana pun rel ini terletak, jadi tak pernah mengerucut, tak pernah bertemu pada satu titik. 




Rel sebelah kiri dan rel sebelah kanan terus paralel, tak pernah bertemu pada satu titik dalam dunia real.


Paralelisme diterapkan pada tafsir ulang suatu teks kuno yang ketika sudah di-eksegese dengan cermat ditemukan sudah tidak bisa diterapkan pada zaman lain di tempat lain. Kita sebut, Horison teks kuno tidak bisa bertemu dengan Horison dunia kini dan budaya kita.

Nah, jika keadaannya demikian, tafsirkan ulang teks kuno tersebut supaya bisa relevan bagi zaman sekarang. Caranya? 

Ya, mencari elemen-elemen tekstual yang masih mungkin ada dalam suatu teks kuno, yang masih dapat paralel dengan sikon-sikon dalam zaman modern di dunia kita. Paralel ya, tapi tak bisa dikerucutkan dalam satu titik temu. Tidak segala sesuatu bisa ada titik temunya. Ya, carilah dan manfaatkan paralelnya.

Dalam surat 1 Korintus pasal 9, rasul Paulus menyebut peristiwa Eksodus atau pembebasan "nenek moyang" bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dengan "melintasi laut", selanjutnya mereka berjalan kaki panjang dan lama menuju Tanah Perjanjian. Oleh Paulus, kejadian "melintasi laut" ini dipandangnya paralel dengan ritual "pembaptisan". Tulisnya pada ayat 2, "Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut".

Ingat saja, dalam kisah epik Eksodus dalam kitab Keluaran 14:21-22, laut sudah "terbelah" oleh hembusan angin badai dari timur yang pasti berkuatan luar biasa besar, dan bangsa Israel, heran juga, dapat dengan tenang "berjalan di tanah kering", tidak terlontar dahsyat ke segala arah. Jelas, ini betul-betul kisah epik yang dituturkan untuk meninggikan nabi Musa.

Ya, terlalu jauh waktunya di masa lampau sehingga sulit jika jemaat Kristen awal membayangkan peristiwa Eksodus, karena mereka tentu saja tidak ambil bagian dalam perayaan Paskah Yahudi selama 7 hari untuk mengenang dan menapaktilaskan Eksodus dari Mesir. 

Anyway, jitu dan kena juga jika rasul Paulus mengallegorisasi Eksodus kuno zaman Musa sebagai "pembaptisan", dan sekaligus memparalelkannya dengan "baptisan Kristen" yang harus membuahkan kehidupan Kristen yang bermoral, kontras dengan kehidupan bangsa Israel yang penuh dosa sewaktu menempuh perjalanan panjang dan lama menuju tanah Kanaan setelah meninggalkan negeri Mesir.

Ya, sudah jelas, kedua "peristiwa" itu dapat diparalelkan, tapi tidak bisa dipertemukan. Kisah epik "penyeberangan Laut Teberau" (atau "Laut Alang-alang") yang terdapat dalam Keluaran 14:21-22, tentu saja berbeda jauh dari ritual baptisan Kristen, baik baptisan selam maupun baptisan percik. 

Tidak ada hembusan angin sangat keras ketika setiap orang Kristen dibaptis dalam ruang bangunan gereja, atau di sebuah kolam renang di komplek gedung gereja. Mereka tidak melintasi tanah kering dengan di kiri dan di kanannya menjulang tinggi tembok-tembok batas air laut. Kalau baptisan Kristen dijalankan persis seperti peristiwa Keluaran atau Eksodus dari Mesir, tidak ada satu pun orang yang mau dibaptis.

Ya, untuk membuat penjelasan yang kena dan relevan tentang Eksodus dari Mesir bagi orang Kristen, Paulus mengallegorikannya dan juga memparalelkannya dengan ritual baptisan gereja. Itu saja. Tak lebih.

Penutup

Semoga, karena doa-doa anda, saya akan menemukan cara-cara tafsir ulang lainnya, untuk menambah tujuh cara yang sudah dibeberkan di atas.

Selamat menafsir ulang dengan gembira, rileks, dan cerdas. Tanpa kegembiraan dan sikap rileks, dan akal kritis yang cerdas, beragama akan menjadi suatu kuk berat yang harus dipikul manusia.

Jakarta, 16 Maret 2021
ioanes rakhmat


Wednesday, November 3, 2010

Langkah-langkah Menafsirkan Sebuah Teks Alkitab


Hermes, putera Zeus, pembawa dan penafsir pikiran, keinginan, tindakan dan pesan para dewa-dewi di Gunung Olympus untuk manusia di Bumi, menjadi jembatan "dunia atas" dan "dunia bawah". Dari nama Hermes dibentuklah terma hermeneutika dalam bidang ilmu tafsir.



N.B. Berdoalah lebih dulu, minta kepada Tuhan Yang Maha Tahu, sumber segala pengetahuan, agar anda dapat dengan riang menerima, menggali dan menerapkan pengetahuan ilmu tafsir dari tulisan ini. Be blessed.

* Diperluas 29 Agustus 2021
* Diperluas lagi 22 November 2024


Pendahuluan

MEMAHAMI TEKS-TEKS KITAB SUCI sesungguhnya tidak mudah. Pertama, karena antara kita yang hidup dalam dunia modern dan kitab-kitab suci terbentang jurang sejarah yang lebar, dari ratusan tahun hingga ribuan tahun.

Dan kedua, karena ada jurang budaya yang membuat cara hidup, cara berbudaya dan cara berpikir pramodern dan prailmiah para penulis kitab-kitab suci dan masyarakat mereka berbeda tajam dari cara-cara hidup, berbudaya dan berpikir kita dan masyarakat kita dalam zaman modern ini.

Nabi Musa dan Yesus dari Nazareth serta Rasul Paulus, misalnya, tak mengenal berbagai jenis komputer, smartphones, Internet, Cloud Computing, IoT, kecerdasan buatan ("artificial intelligence"), Facebook, Instagram, Line dan Twitter, Tokopedia, Shopee, dll--- tidak seperti anda yang hidup di abad ke-21 ini.

Mereka tidak tahu persamaan matematis Einstein yang luarbiasa sederhana tetapi very powerful E=mc².

Juga mereka tak pernah dengar, apalagi memahami, mekanika quantum, big bang, black holes, worm holes, time travel, energi gelap, materi gelap, dan bergudang-gudang ilmu pengetahuan dan teknologi modern lainnya. Hal yang sederhana saja bagi kita bahwa di dalam setiap mall modern ada lift dan tangga jalan, tak pernah terpikir oleh mereka.

Dua jurang yang menganga ini, jurang sejarah dan jurang budaya, benar-benar ada dan tidak bisa begitu saja diabaikan.

Jika kita mengabaikan dua jurang ini, maka kita akan pasti terjatuh ke dalam parit anakronisme dan etnosentrisme.

Dua kubangan ini akan pasti membuat kita tidak bisa hidup fungsional lagi di dalam dunia kita sendiri pada masa kini sebagai orang-orang lain yang hidup dalam kebudayaan dan alam pemikiran yang berbeda dibandingkan orang-orang zaman kitab-kitab suci ditulis.

Anakronisme dan etnosentrisme itu, berturut-turut, berada di zaman yang salah, dan di dalam budaya yang salah, yang tidak sinkron dengan zaman dan budaya anda sendiri. Keadaannya seperti memindahkan Nabi Musa yang hidup kurang lebih 30 abad lalu dengan paksa untuk hidup modern di kota New York pada masa kini: dia akan pasti terkena kejut budaya (culture shock) yang akan dapat berdampak fatal pada mental dan raga.

Kenaifan kalangan literalis

Kalangan literalis skripturalis menerima begitu saja segala hal yang tertulis dalam kitab-kitab suci mereka sebagai kebenaran-kebenaran abadi yang tinggal diambil lalu dipakai dan diterapkan begitu saja, apa adanya (at face value), pada zaman modern sekarang ini.

Kata para literalis, teks-teks Alkitab tidak perlu ditafsir-tafsir, tetapi tinggal dibaca, diterima sebagai kebenaran, lalu diterapkan apa adanya dalam kehidupan masa kini, karena selalu relevan dan serba menjawab persoalan. Ya, mereka membenci dan memusuhi ilmu tafsir, dan tidak mengerti ilmu tafsir dan hermeneutika. Oleh mereka, teks-teks Alkitab tinggal dicomot saja lalu dijalankan atau digenggam kuat-kuat selamanya sebagai suatu kebenaran.

Mereka sungguh sangat naif dan tidak realistik. Teks-teks Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia (atau bahasa modern lain) yang mereka baca adalah teks-teks yang sudah diterjemahkan dari teks-teks asli PB yang ditulis dalam bahasa Yunani koine (bahasa Yunani yang umum dipakai pada abad ke-1 di kawasan Laut Tengah, konteks budaya kelahiran Kekristenan awal). Nah, setiap penerjemahan melibatkan penafsiran teks yang sedang diterjemahkan. Tanpa penafsiran, tidak akan dihasilkan suatu karya terjemahan.

Jenjang penafsiran menjadi dobel, jika teks PB yang sedang anda baca tidak langsung diterjemahkan dari teks asli Yunani koine, tetapi dari PB berbahasa Inggris, misalnya versi Alkitab The New Revised Standard Version atau NRSV (horison terjemahannya ekumenis), atau versi Inggris lainnya seperti NIV (horison terjemahannya evangelikal), dll.

Jenjang penafsiran menjadi tripel, atau tiga tingkat, ketika Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa daerah tidak langsung dari teks-teks asli Alkitab (Ibrani dan sedikit Aramaik untuk Perjanjian Lama, dan Yunani koine untuk PB), melainkan dari Alkitab berbahasa Indonesia, yang diterjemahkan dari Alkitab Inggris versi NRSV, misalnya.

Makin banyak jenjang penerjemahan, makin besar deviasi atau penyimpangan dari teks-teks dalam bahasa asli Alkitab. 

Nah, jika kalangan literalis mengklaim tidak menafsir teks-teks Alkitab, ya orang lain (para penerjemah Alkitab) telah menafsirkan teks-teks (dalam bahasa-bahasa asli) Alkitab untuk mereka. Ya, mereka hanya konsumen, bukan produsen.

Karena ada banyak sekali teks Alkitab yang paralel atau senada satu sama lain, tentu dengan perbedaan besar atau kecil di sana-sini, nah anda sebagai literalis sudah menafsir ketika anda menjatuhkan pilihan pada teks X untuk anda tinggal jalankan, dan melepaskan teks Y, meski kedua teks ini paralel.

Karena normalnya setiap orang ingin menjadi berbahagia lewat penerapan teks-teks Alkitab dalam kehidupan mereka, maka anda, sebagai literalis, sudah menafsir teks-teks Alkitab ketika anda memilih suatu teks, dan tidak memilih suatu teks lain, untuk anda jadikan "ayat emas" atau "firman hidup" untuk kehidupan anda hari ini yang anda harapkan memberi kebahagiaan bagi anda.

Mustahil hidup tanpa menafsir. Without interpretation, life is impossible to live.

Selain itu, di zaman modern abad ke-21 ini mustahil orang Kristen manapun bisa hidup dengan baik, berguna, sehat dan maju, jika setiap ayat dalam Alkitab (mulai dari awal kitab Kejadian hingga akhir kitab Wahyu Yohanes) mereka mau terapkan begitu saja, apa adanya seperti yang sudah tertulis, karena, mereka berasumsi, segala ayat selalu relevan. Silakan buktikan sendiri. Kenapa mustahil? Ya, karena ada dua jurang yang sudah disebut di atas, jurang sejarah dan jurang budaya yang lebar.

Saya masih perlu bertanya lagi kepada para literalis. Apakah anda sudah uji bahwa semua ayat dalam 66 kitab dalam Alkitab selalu serba menjawab persoalan masa kini? Pasti belum! Dan, bukankah sebelum ada jawaban, harus ada lebih dulu pertanyaannya? Jadi, apa pertanyaannya?




Jelas, literalisme hanya akan menghasilkan anakronisme dan etnosentrisme. Jadi, perlu ada suatu pendekatan tafsir yang dapat mencegah anda terjatuh ke dalam parit hitam salah zaman dan parit hitam salah budaya ini. Pendekatan semacam ini sudah ada, dinamakan pendekatan historis kritis (historical criticism). Berikut ini langkah-langkah menafsir teks-teks kitab-kitab suci secara historis kritis.


A. Menentukan batas-batas perikop teks 

1. Periksa apakah pembatasan perikop yang dibuat Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sudah benar;

2. Jika anda memandang batas-batas perikop harus disusun ulang, sebutkan alasan-alasan anda;

3. Perikop yang anda sudah batasi sendiri dapat lebih panjang atau dapat lebih pendek dari pembatasan yang dibuat oleh LAI.

B. Menentukan bentuk sastra (literary form) dan jenis sastra (literary genre) perikop

1. "Bentuk" teks adalah unit-unit kecil dalam unit besar "jenis" suatu teks. Artinya, keduanya tak terpisahkan. Perlu diketahui saja, secara teknis kata "bentuk" dipakai untuk studi penelusuran transmisi teks-teks dalam periode lisan, sebelum akhirnya tradisi lisan dibuat menjadi tulisan-tulisan. Studi di era kelisanan ini dinamakan "kritik bentuk" atau "form criticism". Fokus kita tidak ke era kelisanan, tapi pada tulisan-tulisan dalam Alkitab;

2. Nah, tentukan apakah perikop berbentuk atau berjenis sebuah kisah (nyata atau fiktif?), ataukah berbentuk sebuah pengakuan iman (kredo) atau syahadat, ataukah berjenis sebuah madah/nyanyian, ataukah berbentuk sebuah puisi, ataukah berbentuk sebuah argumen pemikiran (seperti dalam surat-surat Perjanjian Baru), atau sebuah renungan filosofis, atau sebuah visi imajiner, dan lain sebagainya;

3. Tentukan langkah-langkah penafsiran yang perlu dilakukan, yang tepat untuk jenis sastra yang sudah anda tentukan (lihat lebih lanjut poin G di bawah):

• Apakah harus mengikuti plot/alur cerita jika teks berbentuk sebuah kisah atau berbentuk sebuah perumpamaan;

• ataukah harus mengikuti perkembangan pemikiran atau argumen yang runtut jika teks berbentuk sebuah argumentasi teologis seperti dalam surat-surat Perjanjian Baru;

• ataukah langkah-langkah lainnya yang harus ditemukan dengan tepat, misalnya ketika teks tergolong sebagai karya puisi atau kumpulan pepatah dan wejangan atau sebuah khotbah atau sebuah renungan filosofis, atau sebuah penglihatan imajiner, atau sebuah dialog panjang lebar, atau sebuah teks ritual liturgis;

Ingat, setiap jenis sastra (literary genre) mengharuskan suatu langkah penafsiran yang khas, yang berbeda untuk jenis sastra lainnya, berhubung jenis kebenaran dan berita setiap teks juga ditentukan oleh jenis sastranya. Kita tahu tokh bahwa rasa dan khasiat buah-buahan atau sayur-mayur berbeda-beda bergantung jenis buah-buahannya atau sayur-mayurnya.

Jadi, kebenaran dan berita sebuah teks puisi berbeda dari kebenaran dan berita sebuah teks kisah pertempuran atau sebuah teks syahadat. Dst.




Fragmen manuskrip papirus Injil Yohanes, berasal dari kurun 125-175 M (menurut Orsine-Clarysse). Kini disimpan di John Rylands Library, Deansgate, Manchester, Inggris, dan dinamakan P52. Naskah-naskah asli langsung dari para penulis asli (yang dinamakan autograf) semua kitab dalam Perjanjian Baru sudah kita tidak miliki. Yang ada pada kita adalah naskah-naskah salinan dari salinan dari salinan dst.


C. Menentukan konteks sejarah dan konteks sosio-budaya penulisan teks

1. Konteks luas sejarah (nasional dan internasional);

2. Konteks terbatas sejarah (lokal setempat);

3. Konteks sosio-budaya atau sistem sosial;

☆ Cari informasi tentang:

• dimana teks ditulis (“where”);

• dalam latar sosial, ekonomi, budaya, religius, politik dan militer apa teks ditulis (“life settings”);

• kapan teks ditulis (“when”);

• oleh siapa teks ditulis (“by whom”);

• alasan apa yang mendorong teks ditulis (“why”);

• kepada siapa teks ditujukan (“to whom”);

• dengan cara atau gaya tutur yang bagaimana teks disusun dan ditulis ("style of writing"); 

• apakah gaya ini dan bentuk penulisan mencerminkan konvensi dunia sastra dan budaya ("literary and cultural environment") si penulis teks;

• dalam sistem sosial ("social system") yang bagaimana si penulis teks hidup dan aktif. Makna teks tidak sedikit ditentukan dan dikondisikan oleh sistem sosial, selain oleh jenis sastra teks.

Setiap teks adalah "tenunan" atau "rajutan" atau "jejaring" (Latin: textūra) benang-benang pertanyaan-pertanyaan di atas. Tidak ada teks apapun yang muncul dari kevakuman atau "jatuh dari langit" begitu saja.

☆ Manfaatkanlah buku-buku sejarah kritis (sejarah sosial dan sejarah politis) yang relevan dengan dunia kuno zaman penulisan Alkitab. Ingat, karya sejarah kritis berbeda jauh dari karya sejarah apologetis. Banyak apologet agama mengklaim bahwa karya mereka adalah karya sejarah, padahal sebetulnya tulisan mereka itu tulisan tentang teologi atau doktrin yang sedang dibela mereka dengan memakai kamuflase sejarah sebagai pembenaran yang dipaksakan.

Disebut "sejarah sosial" atau "social history" jika sejarah ditulis dan ditafsir dari sudut pandang rakyat kebanyakan, atau dari sudut kalangan yang ditindas dan menjadi korban. Dinamakan "sejarah politik" atau "political history" jika sejarah ditulis dan ditafsir dari sudut pandang kalangan elitis para penguasa politik. Tidak ada historiografi yang netral, tanpa perspektif tertentu. "Mere/pure history" atau "sejarah murni" itu tidak ada. Karena itu, sejarah selalu membutuhkan penafsiran dan penulisan ulang, apalagi jika sumber-sumber primer data dan info dalam berbagai jenis dan bentuk telah bertambah banyak.

D. Menentukan konteks sastra (literary context) teks

1. Uraikan hubungan-hubungan tekstual perikop yang sedang ditafsir dengan teks-teks yang ada sebelum dan yang ada sesudahnya (sesuai dengan pembatasan perikop yang anda sudah berikan pada poin A di atas);

2. Ungkapkan dengan kata-kata anda sendiri isi perikop dalam hubungannya dengan teks-teks sebelum dan teks-teks sesudahnya;

3. Ringkas isi perikop yang sedang ditafsir dalam beberapa kata (3-5 kata) yang anda akan jadikan judul perikop yang sedang ditafsir (dalam hal ini judul perikop yang anda beri dapat dan sepatutnya berbeda dari judul yang diberikan LAI).

E. Menentukan sumber-sumber (literary sources) teks dan penyuntingan

1. Dengan mengetahui sumber-sumber sastra yang dipakai, anda dapat lebih pasti menentukan jenis sastra teks (lihat poin B di atas); 

2. Jika ada teks-teks di luar Alkitab atau lazim dinamakan "teks-teks ekstrakanonik" (extracanonical texts) yang sejajar dengan teks alkitabiah yang sedang ditafsir, dan bisa menjadi sumbernya, kutiplah teks-teks yang sejajar ini untuk membantu memahami teks yang sedang ditafsir; 

3. Jika ada teks-teks Perjanjian Lama yang paralel dengan teks-teks Perjanjian Baru yang sedang ditafsir, atau menjadi sumber sastra yang dipakai para penulis teks-teks Perjanjian Baru, temukan metode-metode tafsir apa (misalnya metode tafsir tipologis, atau metode tafsir pesher atau metode skematik janji-pemenuhan) yang dipakai para penulis teks-teks Perjanjian Baru yang sedang anda tafsir, dalam mereka mempertalikan atau menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru;

4. Perlihatkan bagaimana sumber yang dipakai sudah diedit/disunting/diolah oleh si penulis perikop yang sedang anda tafsirkan;

5. Penyuntingan atau editing dapat berupa penambahan teks lain, pengurangan teks yang sudah ada, atau perubahan atau penggantian atau penghilangan teks yang ada atau perubahan sudut pandang atau perspektif yang digunakan pada bagian teks yang disunting;

Penyuntingan dilakukan untuk kebutuhan merelevansikan teks warisan dengan sikon masa kini si penyunting, atau untuk menjawab persoalan berbeda di zaman dan tempat kehidupan si penyunting, atau karena berbagai kebutuhan lain (misalnya, karena si penyunting tidak menyukai bagian teks yang dipangkasnya);

6. Kalau anda menemukan bagian-bagian yang merupakan penyuntingan atas teks yang sedang anda tafsir, bagian ini adalah bagian dari teologi atau pemikiran langsung dari si penulis perikop di zaman dan tempatnya dalam bentuk yang anda temukan dalam kitab suci;

7. Rumuskanlah dengan kata-kata anda sendiri apa isi teologi atau pemikiran si penulis perikop yang sedang anda tafsir, dan tunjukkan di mana isi teologinya ini ditemukan dalam perikop; 

8. Jika perikop yang sedang ditafsir tidak memakai sumber sastrawi apapun, melainkan buah pemikiran murni si penulis teks, poin E ini dapat anda lewati.

Tapi ingat dan catat, nyaris tak ada penulis kapan dan di manapun yang tak memanfaatkan sumber-sumber sastra atau tuturan lisan atau pemikiran dan ide orang lain sebelumnya ketika mereka menulis karya-karya mereka sendiri. Karya-karya besar dibangun di atas fondasi karya-karya lain yang sudah ada sebelumnya. 

Setiap penulis yang cerdas dan kreatif serta inovatif pasti dengan cermat mencari dulu karya-karya lain yang sudah ada sebelumnya, mencerna semuanya, lalu mulai menulis dengan gembira dan dengan pikiran yang sudah diperkaya dan terbuka.

Terkait dengan kajian terhadap injil-injil Perjanjian Baru dan teks-teks ekstrakanonik yang dapat menjadi sumber-sumber yang digunakan para penulis kitab-kitab injil, enam buku berikut penting untuk diperiksa.

1. C.K. Barrett, ed., The New Testament Background: Writings from Ancient Greece and the Roman Empire That Illuminate Christian Origins (SanFrancisco: HarperCollins, 1989, edisi pertama SPCK 1956).

2. Robert J. Miller, ed., The Complete Gospels: Annotated Scholars Version. Kata pengantar oleh Robert W. Funk (revised and expanded edition: Sonoma, California: Polebridge Press, 1992, 1994).

3. David R. Cartlidge and David L. Dungan, eds., Documents for the Study of the Gospels (revised and enlarged edition; Minneapolis: Fortress Press, second edition, 1994).

4. Hans-Josef Klauck, The Religious Context of Early Christianity: A Guide to Graeco-Roman Religions (translated by Brian McNeil) (Edinburgh: T&T Clark, 2000).

5. Hans-Josef Klauck, Apocryphal Gospels: An Introduction (diterjemahkan oleh Brian McNeil) (London/New York: T & T Clark International, 2003). Buku asli dalam bahasa Jerman, Apokryphe Evangelien: Eine Einführung (Verlag Katholisches Bibelwerk, Stuttgart, 2002).

6. Marvin Meyer, The Gnostic Gospels of Jesus: The definitive Collection of Mystical Gospels and Secret Books about Jesus of Nazareth (New York: HarperSanFrancisco, 2005).


F. Memeriksa dan mengusulkan terjemahan teks yang sedang ditafsir 

1. Untuk mengerjakan bagian ini, anda perlu memiliki pengetahuan yang memadai mengenai tatabahasa Ibrani Alkitab dan tatabahasa Yunani koine;

2. Penguasaan tata bahasa dan kosa kata dalam bahasa-bahasa asli akan membuat anda mampu memberikan sebuah terjemahan alternatif, yang berbeda dari terjemahan LAI;

3. Perhatikan varian-varian teks yang tersedia (dapat diketahui dari aparatus kritik yang ada sebagai catatan-catatan kaki dalam setiap versi Alkitab edisi kritis atau "critical edition") dan periksalah apakah anda akan memilih varian teks lain yang tidak dipakai dalam terjemahan standard LAI (atau versi terjemahan Alkitab lainnya);

4. Sebutkan alasan-alasan anda mengapa anda memilih varian-varian teks lain, yang berbeda dari yang dipakai dalam terjemahan resmi LAI atau terjemahan lainnya (untuk Alkitab Perjanjian Baru, versi UBS atau versi Nestle-Aland, dll).

G. Menjelaskan teks ayat per ayat dan merangkumnya (content analysis)

1. Jelaskan apa maksud atau isi gagasan dari setiap ayat dalam perikop yang sedang anda tafsir, dan hubungannya dengan ayat-ayat berikutnya; 

2. Penjelasan atas ayat-ayat yang anda berikan harus berada dalam satu kesatuan atau koherensi logis dengan seluruh gagasan besar dari seluruh isi perikop;

3. Perhatian perlu lebih banyak ditujukan pada kata-kata penting/kunci (key words) yang muncul berulangkali dalam setiap ayat atau dalam keseluruhan perikop yang sedang ditafsir;

4. Jika ada kata-kata penting yang bermakna khusus dalam sistem kebudayaan atau sistem sosial si penulis teks yang anda sedang tafsir, uraikanlah makna khusus kata-kata ini dan bagaimana kata-kata ini dipakai dalam teks yang anda sedang tafsir;

5. Rangkumlah maksud atau isi gagasan dari seluruh perikop dalam beberapa kalimat yang anda rumuskan sendiri (ingat, anda dalam batas tertentu sudah melakukannya sebelumnya pada poin D di atas ketika anda memberi sebuah judul pada perikop yang sudah anda batasi);

6. Jika teks berbentuk sebuah argumen runtut yang mengungkapkan isi pemikiran teologis si penulisnya (seperti ditemukan dalam surat-surat dalam Perjanjian Baru atau dalam rumusan-rumusan pengakuan iman/kredo, atau dalam tulisan-tulisan filosofis), dalam menjelaskan isi perikop (ayat per ayat dan keseluruhan perikop sebagai satu kesatuan) anda harus memperhatikan:

• argumentasi logis runtut yang diajukan si penulis teks;

• dasar-dasar atau titik tolak argumentasi yang dipakai;

• perkembangan argumentasi dari satu ayat ke ayat lainnya: jelas dan lancar, tersendat, atau kacau;

• hubungan sintaksis antara satu kata dengan kata lainnya, satu kalimat dengan kalimat lainnya, dalam keseluruhan perikop yang sedang ditafsir;

• segi-segi ketatabahasaan (segi-segi gramatikal) yang penting dimengerti untuk bisa memahami sebuah argumen atau maksud si penulis teks;

• muara atau kesimpulan dari keseluruhan argumen yang biasanya dapat ditemukan pada bagian akhir perikop; 

• bagian khusus pada akhir perikop yang lazimnya berisi nasihat atau wejangan atau petunjuk praktis untuk dijalankan si penerima teks.

7. Jika jenis sastra perikop yang sedang anda tafsir adalah kisah (yakni sebuah cerita yang berplot atau laporan sebuah kejadian atau sebuah perumpamaan), dalam menjelaskan isi perikop anda harus memperhatikan:

• dalam konteks dunia kisah (story world) yang bagaimana kisah ini dimulai (perhatikan apa yang ditulis pada ayat-ayat pembuka perikop dan pada perikop sebelumnya). Ingat, dunia kisah tidak sama dengan dunia si penulis kisah (the writer's world);

• plot atau alur/aliran ceritanya, dan sub-sub plotnya;

• para tokoh yang terlibat di dalamnya (tokoh utama dan tokoh sampingan);

• peran masing-masing tokoh ini dalam keseluruhan cerita;

• gagasan naratif utama (“point of view”) yang mengatur dan mengendalikan keseluruhan cerita;

• klimaks cerita dan anti-klimaks cerita;

• biasanya maksud seluruh cerita dapat ditemukan pada ayat-ayat terakhir dari keseluruhan perikop yang merupakan rangkuman seluruh cerita;

• perlihatkan bahwa perikop yang sedang anda tafsir ini menjadi titik tolak perikop yang menyusul sesudahnya, atau malah sama sekali tak ada kaitannya dengan perikop yang menyusulnya.

H. Menentukan tempat dan fungsi perikop yang sedang ditafsir dalam keseluruhan dokumen/kitab yang memuatnya

1. Setelah anda dapat merumuskan maksud (intention/purpose) atau pesan (meaning/message) seluruh isi perikop yang sedang anda tafsir, kini anda harus menempatkan perikop ini dalam keseluruhan dokumen atau kitab yang memuatnya dan dalam seluruh isi Alkitab;

2. Rumuskan apa fungsi maksud dan pesan teologis perikop yang anda tafsir ini bagi keseluruhan dokumen/kitab yang memuatnya;

3. Rumuskan bagaimana keseluruhan dokumen/kitab yang memuat perikop ini ikut mempengaruhi isi pesan teologis perikop yang anda sedang tafsir;

4. Rumuskan bagaimana isi teologis perikop yang anda sedang tafsir dapat juga (jika ada) memberi pengaruh teologis kepada seluruh isi Alkitab (Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, atau keduanya).

I. Menyusun sebuah refleksi hermeneutis 

1. Sebagai langkah akhir, temukan apakah isi teologis atau pesan dan maksud perikop yang anda sudah tafsir relevan atau tidak relevan dengan kehidupan bergereja dan bermasyarakat pada masa kini, dan berikan alasan-alasan anda.

Jangan sekali-kali anda memaksa diri sendiri dan orang lain untuk berpikir dan berkeyakinan bahwa seluruh teks kitab suci anda pasti selalu relevan untuk segala tempat dan segala zaman hingga dunia ini berakhir (entah kapan). Pikiran dan keyakinan semacam ini adalah suatu asumsi yang sangat menyesatkan.

2. Temukan apakah ada jurang kebudayaan (cultural gap) yang besar antara teks yang anda sudah tafsir dan temukan isinya dan kehidupan masa kini di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya, sehingga teks tersebut samasekali tak bisa diterapkan untuk kehidupan masa kini.

Sedikitnya ada tujuh cara yang dapat dijalankan untuk merelevansikan kembali atau menafsir ulang suatu teks Alkitab yang sudah tidak relevan. Bacalah dengan teliti tulisan saya Cara-cara Tafsir Ulang Teks-teks Skriptural Yang Sudah Tak Relevan.

3. Jika menurut anda, teks yang anda sudah tafsir itu relevan, sebutkanlah dalam hal-hal apa saja relevansinya.

4. Buatlah sebuah khotbah singkat (1-2 halaman) untuk gereja anda berdasarkan tafsiran atas teks yang anda sudah buat dengan menjalankan semua langkah di atas.

5. Sebuah khotbah yang baik dan bertanggungjawab dihasilkan dari suatu usaha kritis dan kreatif untuk mempertemukan dan merelevansikan (lewat berbagai cara metodikal) pesan dan makna teks di zaman kuno dan di tempat lain (disebut horison satu) dengan kebutuhan-kebutuhan dan tantangan-tantangan zaman dan tempat si pengkhotbah (disebut horison dua) yang harus dijawabnya dengan kreatif dan konstruktif. 




Interseksi horison 1 dan horison 2, bagian biru muda, itulah wilayah ilmu dan seni hermeneutik


6. Langkah kritis dan kreatif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk mempertemukan atau menjembatani atau mengkonvergensikan horison satu dengan horison dua inilah yang dinamakan hermeneutik. "The fusion of horizons" (Gadamer), atau "the intersection of horizons", itulah hermeneutik.

7. Dalam menjalankan hermeneutik, si pengkhotbah masa kini bukan saja harus mampu memasuki dan menyelami dunia dan zaman dulu dengan sebaik mungkin, tapi juga harus mampu memasuki, menyelami dan memahami dengan setepat mungkin dunia di zaman sekarang yang menjadi konteks sosial kehidupannya.

Penutup

Dengan banyak latihan, semoga anda akan makin memahami dan makin mampu menguasai langkah-langkah penafsiran teks-teks Alkitab yang sudah dibeberkan di atas. 

Keseluruhan langkah yang cermat itu dinamakan eksegese, dari kata benda Yunani eksēgēsis (artinya "tafsiran" atau "penjelasan"), dan kata kerjanya eksēgeomai yang artinya "menarik keluar" atau "membawa keluar" makna dari teks yang sedang ditafsir (Yunani: eks-hegeomai). Kebalikannya dinamakan "eisegese", dari kata kerja Yunani eis-hegeomai, artinya makna anda "masukkan ke dalam" (Yunani: eis) teks. 

Anda harus menjalankan eksegese cerdas yang memerlukan ilmu-ilmu pengetahuan. Biarlah para literalis saja yang menjalankan eisegese, yang tidak memerlukan ilmu apapun, alhasil teks bisa berbicara apapun sesuai kemauan mereka yang mereka masukkan ke dalam teks.

Nah, semoga khotbah-khotbah anda di gereja-gereja anda masing-masing akan makin berbobot, autoritatif dan terpelajar. 

Kuasai juga seni dan ilmu retorika, yang diperlukan para orator dan pengkhotbah untuk meyakinkan para pendengar terhadap isi pidato atau khotbah yang sedang disampaikan. 

Ingat, sebagai seorang orator atau seorang pengkhotbah, anda harus punya martabat dan integritas. Jadi, jangan memperdaya para pendengar anda, dan jangan memanipulasi pidato atau khotbah anda demi kepentingan sektarian anda atau demi kerakusan anda. Juga jangan pakai mimbar gereja untuk berpropaganda ideologis.

Seorang pengkhotbah yang bermoral, yang diutus Tuhan, akan selalu mencerdaskan dan mencerahkan serta membuka wawasan para pendengar mereka. Pantang memperbodoh dan mengerdilkan umat. 

Di mimbar, anda berdiri dan berbicara sebagai sang Mentari penerang dan pencerah, bukan sebagai gumpalan awan mendung yang gelap.


N.B. Wajib dibaca juga Metode-metode Ilmiah Tafsir Kitab Suci.

Jakarta,
22 November 2024
23 Agustus 2021
18 Mei 2021
10 Januari 2021
1 November 2017
4 November 2010

Ioanes Rakhmat