Friday, January 9, 2009

Tiga Model Otoritas dan Relasi Sosial

Tiga Model Otoritas dan Relasi Sosial
dalam Gereja Perdana

Oleh Ioanes Rakhmat


Tulisan in
i tidak berisi kupasan teks Perjanjian Baru yang dapat memberikan gambaran-gambaran tentang pola dan fungsi jabatan gerejawi di dalam kehidupan gereja perdana. Yang akan disajikan dalam tulisan ini adalah model-model sosiologis tentang otoritas dan relasi sosial yang telah banyak dipakai dalam usaha-usaha untuk memahami relasi sosial dan kepemimpinan dalam kehidupan gereja perdana, zaman Perjanjian Baru.

memimpin... dan mengekor

Dengan mengenali model-model, kita dapat membayangkan bagaimana realitas yang sesungguhnya, yang sebetulnya jauh lebih kompleks, dapat berlangsung. Pada kesempatan ini, akan diketengahkan tiga model: model otoritas karismatik; model kepemimpinan pengelana, dan model relasi “patron-klien”. Uraian panjang lebar tentang pemakaian model-model ini bagi gereja perdana dapat dilihat dalam buku-buku yang dirujuk dalam tulisan ini.


Model Otoritas Karismatik


Dalam tipologinya tentang otoritas, Max Weber membagi otoritas dalam 3 jenis klasifikasi analitis:
1) Otoritas rasional-legal yang dilegitimasi oleh “suatu kepercayaan pada legalitas peraturan-peraturan yang diundangkan dan pada hak orang-orang yang diberi otoritas memimpin di bawah peraturan-peraturan tersebut untuk mengeluarkan perintah-perintah”;
2) Otoritas tradisional dengan legitimasinya diperoleh dari “suatu kepercayaan mapan pada kesucian tradisi-tradisi yang sudah sangat lama ada dan pada legitimasi dari orang-orang yang mempraktekkan otoritas kepemimpinan yang dilandaskan pada tradisi-tradisi itu”;
3) Otoritas karismatik dengan legitimasinya terletak pada “ketaatan dan kesetiaan terhadap seorang individu yang dipandang memiliki karakter yang patut diteladani, heroik dan memiliki kesucian luar biasa, yang juga terdapat pada pola-pola atau tatanan normatif yang disingkapkan atau ditahbiskan olehnya.”[1] Menurut Weber, karisma dan otoritas karismatik menunjuk pada “suatu sifat tertentu dari seorang individu pribadi, yang karena sifatnya ini dia dipandang luar biasa dan diperlakukan sebagai seorang yang dikarunia kemampuan-kemampuan adikodrati dan adi-insani, atau setidaknya dikaruniai kuasa atau sifat yang khas dan luar biasa. Kuasa dan sifat ini sangat luar biasa sehingga tidak dapat diperoleh orang biasa, tetapi dipandang sebagai teladan yang berasal dari Yang Ilahi, dan berdasarkan kuasa dan sifat ini pribadi yang bersangkutan diperlakukan sebagai seorang ‘pemimpin’”.[2]

Untuk memahami dengan lebih jelas bagaimana otoritas kepemimpinan dipraktikkan dalam kehidupan kekristenan perdana, jenis ketiga dari tipologi Weber di atas, yakni otoritas karismatik, perlu dijadikan sebuah model analitis. Bengt Holmberg telah membuat sebuah model analitis kepemimpinan karismatik dalam konteks keagamaan, berdasarkan pandangan Weber, dan menerapkannya pada kehidupan Yesus dan gereja perdana.[3] Menurut Holmberg, otoritas karismatik murni dicirikan oleh hal-hal berikut:

a) Pribadi dan pandangan hidup sang pemimpin
Sang pemimpin dipandang oleh dirinya sendiri dan oleh orang-orang yang dipimpinnya dalam komunitas yang dibangunnya sebagai seorang yang: (1) memiliki suatu panggilan pribadi langsung dari Allah sendiri; (2) memiliki kuasa-kuasa magis atau kuasa-kuasa adi-insani, dan menjadi (3) “Juru selamat” pribadi bagi komunitas yang dibangunnya; dan dia (4) menjalani suatu kehidupan yang “luar biasa”, bekerja tanpa bayaran dan tanpa organisasi, tidak memiliki kehidupan keluarga, tidak mempunyai harta milik, dan menganut pandangan-pandangan yang tidak sejalan dengan kepercayaan dan adat-istiadat tradisional.

b) Misi sang pemimpin
Misi yang diterima sang pemimpin dari Allah bersifat radikal, destruktif (terhadap tatanan lama) dan inovatif; dia memberitakan sebuah amanat baru mengenai keselamatan, menyerang tatanan lama (“kamu telah mendengar …, tetapi aku berkata kepadamu ….”), dan merumuskan peraturan-peraturan untuk suatu kehidupan baru. Pada dasarnya, misinya bertujuan untuk membangun kembali seluruh tatanan sosial secara baru.

c) Hubungan sang pemimpin dengan para pengikutnya
Para pengikutnya memandang dia sebagai seorang “hero” atau seorang yang memiliki kuasa-kuasa adi-insani, dan mengambil bagian di dalam realitas ilahi melalui penglihatan-penglihatannya yang superior, kekuatan dan kebaikannya. Hubungan mereka dengannya ditandai oleh kesetiaan, ketaatan, pengabdian, keterpesonaan dan kepercayaan mutlak; dan mereka memprioritaskan ucapan-ucapannya dibandingkan ucapan-ucapan orang-orang lain. Ketaatan dan dukungan adalah manifestasi alamiah dari sikap mereka terhadap sang pemimpin.

d) Perilaku komunitas karismatik

(1) Semua anggota komunitas memercayai, menaati dan mendukung sang pemimpin (seperti dinyatakan di atas);

(2) Semua anggota komunitas telah mengalami suatu revolusi batiniah dan telah dipindahkan dari kehidupan biasa masuk ke dalam “kehidupan baru”, yang diwujudkan dalam banyak cara yang kongkret;

(3) Semuanya sama-sama memiliki kesadaran sebagai komunitas elitis, kudus dan terpilih, yang telah memiliki “keselamatan” dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.

e) Diferensiasi di dalam komunitas karismatik

(1) Kelompok luar, terdiri dari para pengikut yang tetap melanjutkan cara hidup mereka yang biasa (bekerja, berkeluarga, memiliki harta benda, memelihara kehidupan tradisional lokal);

(2) Kelompok dalam, yakni para “staf”, yaitu mereka yang ambil-bagian di dalam kehidupan “luar biasa” dari sang pemimpin: (a) Mereka secara pribadi telah dipanggil oleh sang pemimpin untuk menjadi murid-murid dan rekan-rekan sekerjanya berdasarkan kualifikasi-kualifikasi karismatik mereka; (b) Mereka telah meninggalkan keluarga, pekerjaan, harta milik, dan tradisi, untuk hidup di dalam suatu hubungan komunistik dengan sang pemimpin; (c) Mereka mendapatkan tugas-tugas langsung dari sang pemimpin; tidak ada seorang pun dari antara mereka memiliki otoritas, peringkat dan wilayah kompetensi apapun kepunyaan mereka sendiri terlepas dari sang pemimpin; (d) Sebagai suatu konsekwensi dari (a) sampai (c), staf memiliki suatu kesadaran yang lebih diperkuat sebagai suatu kelompok elitis: mereka adalah elit dari elit, di dalam semua segi yang terhubung sangat erat dengan sang pemimpin.[4]

Dalam perkembangan selanjutnya, khususnya ketika sang pemimpin telah meninggal dunia, komunitas karismatik, dengan karisma-karisma yang dilekatkan pada sang pemimpin dan staf-nya, mengalami apa yang oleh Weber disebut “the routinization of charisma” (Verallt√§glichung des Charismas). “Rutinisasi karisma” ini dialami kelompok di sekitar Yesus ketika kelompok ini, setelah ditinggal mati oleh Yesus, berkembang menjadi sebuah lembaga gereja yang dilengkapi dengan sebuah korpus doktrin yang disistematisasi, kultus dan organisasi.[5] Menurut Weber, rutinisasi karisma ini timbul dari “keinginan untuk mentransformasi karisma dan berkat-berkat karismatik dari suatu karunia yang diberikan yang ilahi, yang sifatnya unik dan sementara, yang diterima pada waktu-waktu yang luar biasa, menjadi suatu kepemilikan permanen dalam kehidupan sehari-hari.”[6] Ketika karisma ini telah diadaptasikan pada kehidupan sehari-hari, telah dirutinisasikan, tak pelak lagi karisma ini dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam masyarakat, khususnya kepentingan-kepentingan ekonomi. Sebetulnya, kekuatan riil yang mendorong proses rutinisasi karisma adalah staf sang pemimpin beserta ideal-ideal kuat mereka dan kepentingan material di dalam usaha melanjutkan kehidupan komunitas.


Model Kepemimpinan Pengelana


Model ini (diambil dari model sosiologi literatur) melihat kepemimpinan dalam komunitas-komunitas Kristen perdana dipikul oleh orang-orang berkarisma yang menjalani kehidupan mengelana (wandering/itinerant charismatics atau itinerant leaders), berpindah-pindah tempat, untuk memberitakan injil dan menyembuhkan orang sakit. Kebutuhan-kebutuhan hidup mereka ditopang dan dipenuhi oleh orang-orang yang bersimpati terhadap pergerakan mereka (supporters atau sympathizers), yakni penduduk kota-kota yang mereka kunjungi, atau para pemimpin yang menetap yang mengorganisir orang-orang Kristen lokal (resident leaders). Terbangun pelayanan dan perhatian timbal-balik antar-kedua jenis kepemimpinan ini. Kajian terhadap dua pola kepemimpinan ini dalam kekristenan perdana telah dengan meluas dilakukan antara lain oleh Gerd Theissen.[7]


Model Relasi “Patron-Klien”


Dunia Yunani-Romawi di dalam mana kekristenan perdana lahir dan bertumbuh adalah dunia yang di dalamnya relasi-relasi antar-personal, dan antar-individu dengan masyarakat dan dengan keseluruhan imperium Romawi, berlangsung dalam pola hubungan patron-klien. Halvor Moxnes mendefinisikan relasi patron-klien sebagai “hubungan-hubungan sosial di antara individu-individu yang didasarkan pada suatu elemen kuat ketidaksetaraan dan perbedaan dalam kekuasaan. Struktur dasariah dari hubungan semacam itu adalah suatu pertukaran dari sumber-sumber yang berbeda dan tidak setara. Seorang patron memiliki sumber-sumber sosial, ekonomis, dan politis yang diperlukan oleh seorang klien. Sebagai balasannya, seorang klien dapat menyatakan kesetiaan dan penghormatan yang berguna bagi sang patron.”[8] Moxnes memakai model relasi “patron-klien” untuk menggambarkan relasi-relasi sosial dan kepemimpinan yang tercermin dalam Lukas-Kisah.

Unsur-unsur yang terdapat di dalam model relasi “patron-klien” dapat dijabarkan berikut ini: (a) Interaksi di antara patron-klien didasarkan pada pertukaran serentak jenis-jenis sumber-sumber yang berlainan. Seorang patron memiliki sumber-sumber instrumental, ekonomis, dan politis, dan karenanya dapat memberikan dukungan dan perlindungan; seorang klien, sebagai balasannya, dapat memberikan janji-janji dan pernyataan-pernyataan solidaritas dan kesetiaan; (b) Terdapat suatu unsur kuat solidaritas di dalam hubungan-hubungan ini, yang dikaitkan dengan kehormatan personal dan kewajiban-kewajiban; (c) Dapat terbangun suatu ikatan spiritual, betapa pun ambivalen, antara para patron dan para klien; (d) Relasi-relasi patron-klien tampak mengikat dan memiliki kisaran waktu yang panjang, idealnya bisa berlangsung seumur hidup. Tetapi, relasi-relasi semacam ini di antara individu-individu pada prinsipnya berlangsung secara sukarela, dan dapat dilepaskan juga dengan sukarela; (e) Relasi-relasi patron-klien didasarkan pada suatu elemen ketidaksetaraan yang sangat kuat dan pada perbedaan di dalam kekuasaan. Seorang patron memiliki suatu monopoli atas posisi-posisi dan sumber-sumber tertentu yang penting dan vital bagi kliennya; (f) Relasi-relasi patron-klien juga dapat mengambil bentuk peran pengantara (brokerage) yang dimainkan sang patron, ketika dia berfungsi sebagai sorang mediator/pengantara yang memberikan kepada kliennya akses kepada sumber-sumber yang dimiliki oleh seorang patron yang lebih berkuasa.[9]


Penutup


Tiga model sosiologis yang telah dengan singkat digambarkan di atas dapat membantu kita untuk lebih mengenali pola-pola kepemimpinan yang dapat muncul dalam kehidupan gereja perdana. Untuk ini, tentu saja perlu dilakukan pengujian apakah model-model ini dapat dengan pas diterapkan pada kekristenan perdana, dengan cara mencari dan menganalisis bukti-bukti tekstual di dalam Perjanjian Baru. Pengujian ini telah dilakukan oleh para penafsir Kitab Suci dengan hasil yang memuaskan. Terbukti masalah kepemimpinan dalam gereja-gereja perdana bukan hanya masalah teologis, tetapi juga masalah sosiologis. Hal yang sama juga seharusnya ditemukan di dalam usaha-usaha gereja-gereja masa kini untuk memilih bentuk-bentuk kepemimpinan gerejawi yang pas. Studi atas teks-teks Kitab Suci harus dilengkapi juga dengan studi-studi sosiologis.


Catatan-catatan

[1] Max Weber, Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology, vol. 1-3, Ed. by Guenther Roth and Claus Wittich (New York: 1968) 215.

[2] Weber, Economy and Society, 241.

[3] Bengt Holmberg, Paul and Power: The Structure of Authority in the Primitive Church as Reflected in the Pauline Epistles (Philadelphia: Fortress Press, 1978) 137-160.

[4] Bengt Holmberg, Paul and Power, 149f.

[5] Pembahasan tentang rutinisasi karisma dalam kehidupan gereja perdana, lihat Bengt Holmberg, Paul and Power, 161ff.

[6] Weber, Economy and Society, 1121. Lihat juga Weber, The Sociology of Religion (Boston: Beacon Press, 1963) 60f.; idem, The Theory of Economic and Social Organization (New York: Free Press, 1964) 358-92.

[7] Gerd Theissen, The First Followers of Jesus (London: SCM Press, 1978); judul terbitan USA: Sociology of Early Palestinian Christianity (Philadelphia: Fortress Press, 1978). Lihat juga David G. Horrell, “Leadership Patterns and the Development of Ideology in Early Christianity”, dalam David G. Horrell, ed., Social-scientific Approaches to New Testament Interpretation (Edinburgh: T & T Clark, 1999) 309-337.

[8]Halvor Moxnes, “Patron-Client Relations and the New Community in Luke-Acts”, dalam Jerome H. Neyrey, ed., The Social World of Luke-Acts: Models for Interpretation (Peabody, Massachusetts: Hendrickson, 1991) 242 [241-268].

[9]Moxnes, “Patron-Client Relations”, 248.