Tuesday, December 31, 2013

Merenungi objektivitas historiografi bertolak dari kontroversi film Soekarno

Berkaitan dengan film Soekarno, dalam minggu kedua Desember 2013 terjadi perselisihan tajam yang sampai naik ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat antara Hanung Bramantyo (sutradara film ini) dan Rachmawati Soekarnoputri (adik Megawati Soekarnoputri)./1/ Meskipun demikian, film ini sejak 11 Desember 2013 sudah diputar di sejumlah bioskop tanpa kendala. Bersama isteri, saya sudah menonton film ini di bioskop XXI Mal Artha Gading, Jakarta, pada 17 Desember 2013, mulai pukul 21.15 WIB.

Saat acara jumpa pers di Universitas Bung Karno, Cikini, Jakarta, 12 Desember 2013, Rachmawati, yang kecewa karena film ini sedang diputar di bioskop-bioskop, menyatakan bahwa “film tentang Soekarno yang digarap Multivision Plus dan disutradarai Hanung Bramantyo tidak sesuai dengan sosok Soekarno asli. Film Soekarno memalukan.” Pertikaian ini menyangkut juga hak cipta film Soekarno. Menurut Rachmawati, karena dia adalah pengusul pembuatan film ini, dia telah disepakati sebagai pemegang hak ciptanya. 

Ada tiga adegan dalam film ini yang kata Rachmawati tidak pernah terjadi pada ayahnya, Soekarno, semasa hidupnya. Yakni: Adegan Soekarno ditampari oleh seorang polisi militer dan kepalanya dihantam popor senjata sampai dia terjatuh di lantai (kata Rachmawati adegan ini merendahkan ayahnya); adegan Soekarno merayu seorang perempuan yang berpakaian seronok di dalam sebuah kamar (adegan ini kata Rachmawati sangat melecehkan Soekarno); dan adegan Soekarno mendiktekan teks Naskah Proklamasi kepada Hatta yang menjadi penulis naskah, padahal naskah itu dibuat oleh Bung Hatta sendiri, bukan oleh ayahnya (dus, adegan ini menurut Rachmawati telah memutarbalik fakta sejarah)./2/

Friday, November 29, 2013

Seekor keledai dungu yang ternyata cerdas



Suatu hari seekor keledai seorang petani jatuh ke dalam sebuah sumur di halaman belakang rumahnya. Binatang ini berteriak-teriak memilukan minta dikasihani selama berjam-jam sementara si petani berpikir-pikir apa yang dia harus lakukan.

Akhirnya dia sampai pada sebuah keputusan. Karena keledai ini sudah tua maka tak patut diselamatkan, lagi pula sumur itu memang mau dia uruk. Lalu dia memanggil semua tetangganya untuk datang ke rumahnya dan membantunya.

Setiap tetangganya datang membawa sebuah sekop dan mulai menyendok tanah lalu melemparkannya ke dalam lubang sumur.

Ketika si keledai yang malang itu menyadari apa yang sedang terjadi, ketakutanlah dia dan berteriak-teriaklah dia dengan sangat kencang dan memilukan hati.

Mengherankan sekali, tiba-tiba saja si keledai yang ketakutan mati itu membungkam seribu basa.

Setiap sekop terus melemparkan seonggok tanah ke dalam sumur. Terus demikian. Lalu si petani melongok ke dalam lubang sumur untuk melihat apa yang sudah terjadi pada si keledai. Semula dia berpikir si keledai tentu sudah terkubur; tetapi dia terkejut sekali ketika dia melihat si keledai masih hidup dan sudah dekat ke permukaan lubang sumur.

Apa yang sedang terjadi dengan si keledai, hewan yang dikenal dungu itu? Ketika setiap lemparan onggokan tanah menimpa punggungnya, si keledai langsung mengguncang-guncangkan tubuhnya sehingga onggokan tanah itu jatuh ke kakinya, lalu dia naik setindak ke atas dengan berpijak pada tanah yang makin bertimbun di bawahnya. Hal ini terus dilakukannya tanpa diketahui orang banyak yang terus saja melemparkan onggokan-onggokan tanah ke dalam sumur.

Segera saja semua orang menjadi terheran-heran ketika mereka melihat si keledai sudah sampai di permukaan sumur, lalu melompat melewati pinggiran sumur, sampai di udara terbuka, lalu berlari pergi meninggalkan kerumunan orang.

Apa yang mau disampaikan kisah di atas? Pikirkanlah dengan sungguh-sungguh!

Tak ada orang yang dilahirkan dengan otak normal, akan menjadi bodoh dalam kehidupannya. Kebodohan hanya dialami karena seseorang tak mau memakai otaknya untuk berpikir, tak mau mengasahnya sampai tajam. 

Para neurosaintis sudah menemukan fakta bahwa kecerdasan setiap orang akan terus berkembang dan berubah, karena otak kita memiliki apa yang dinamakan neuroplastisitas, yakni kemampuan sel-sel otak untuk berkembang dan berubah karena berbagai pengalaman kehidupan kita dan berbagai aktivitas internal mental kita. Semakin anda aktif bekerja dan berpikir, dan semakin banyak anda mengecap berbagai pengalaman, akan semakin cerdas diri anda. 

Richard J. Davidson dan Sharon Begley, dalam buku mereka The Emotional Life of Your Brain (2013), menyatakan bahwa otak kita dapat berubah sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman yang kita miliki dalam duniabagaimana kita bergerak dan bertindak dan sinyal-sinyal indrawi apa yang tiba di korteks kita. Otak dapat juga berubah sebagai respons terhadap aktivitas-aktivitas mental murni, mulai dari meditasi sampai ke terapi perilaku kognitif, dengan akibat aktivitas di dalam sirkuit-sirkuit yang spesifik dapat bertambah atau berkurang./1/  

Bahkan, dalam kisah di atas, seekor keledai yang dikenal sebagai hewan yang dungu, berubah menjadi seekor hewan yang cerdas ketika sang hewan ini menenangkan pikirannya, berkonsentrasi penuh, untuk menemukan jalan keluar dari ancaman kematian yang mula-mula sudah sangat pasti akan menjenguknya.

Setelah meninggalkan kepanikannya, sang keledai mendapatkan sebuah pencerahan: setiap onggokan tanah yang dilemparkan ke dalam sumur, yang seharusnya akan menimbunnya sampai mati, dijadikannya semacam batu loncatan, untuk dia bisa berada makin dekat ke permukaan sumur. Setiap persoalan atau ancaman bencana, lewat konsentrasi pikiran, lewat meditasi, malah berubah fungsi menjadi suatu batu loncatan untuk tiba pada keselamatan, pada kehidupan, pada udara bebas.

Lewat konsentrasi, lewat meditasi, ketenangan pikiran didapat, dan ketika pikiran sudah menjadi begitu tenang, pencerahan muncul, lantas orang akan tahu apa yang dia akan perbuat terhadap setiap masalah yang mendatanginya, yang mengancam dengan serius kehidupannya. Ternyata: berbagai masalah berat apapun, bisa berubah menjadi batu-batu loncatan yang makin mendekatkan kita kepada kebebasan, kehidupan, dan terang.  

Lewat meditasi, kita dapat mengamati dengan netral semua pikiran kita yang datang mengalir, silih berganti, bersama dengan berbagai perasaan yang muncul menemani pikiran-pikiran kita. Lewat teknik meditasi ini, yang dinamakan Vipassana atau mindfulness meditation” atau meditasi keterjagaan, kita akan menemukan bahwa kondisi-kondisi kehidupan yang sedang kita jalani, entah membahagiakan atau mendukakan, semuanya dibentuk oleh isi pikiran-pikiran kita. 

Dengan pikiran kita sendiri, kita mengawasi, mengamati, memahami pikiran-pikiran dan aliran perasaan-perasaan kita sendiri. Inilah meditasi metakognisi, meditasi yang di dalamnya pikiran kita mengamati dan memikirkan pikiran dan perasaan kita sendiri.

Ketika kita sudah tiba pada penemuan kondisi-kondisi kehidupan kita ini, kitapun sadar bahwa kita harus tidak boleh menyerah pada pikiran-pikiran kita, khususnya pikiran-pikiran kita yang mematahkan semangat juang kita, tapi harus mampu mengelola pikiran-pikiran kita sendiri

Lewat thought management ini, kita dapat memilih dan merangkul pikiran-pikiran kita yang membangun kehidupan kita dan menolak pikiran-pikiran kita yang merusak dan menghancurkan kehidupan kita. Lewat manajemen pikiran ini juga kita akan sanggup melihat selalu ada sisi-sisi positif dari setiap persoalan berat yang sedang melanda kehidupan kita. Ketika kita tiba pada kondisi ini, kita tercerahkan. Pencerahan pikiran adalah kunci penting yang akan membawa anda masuk ke ruang-ruang kehidupan yang lebih sehat dan lebih membahagiakan. 

Yakinlah, jika seekor keledai bisa sangat cerdas, apalagi anda. Paculah otak anda, supaya anda menjadi lebih cerdas dari waktu ke waktu, dan karenanya hidup anda akan lebih sukses dan lebih berbahagia. 

Sebagai orang yang beragama, jangan biarkan pandangan-pandangan lama membebani pundak anda. Jika ini yang terjadi pada anda, ibaratnya anda sudah terjatuh ke dalam lubang sebuah sumur yang gelap dan dalam. Masih bisakah anda keluar dari lubang sumur kegelapan ini, lalu melompat sigap untuk masuk ke dunia terang yang leluasa? 

Seperti yang dilakukan sang keledai yang cerdas itu, guncang-guncangkanlah tubuh dan pikiran anda supaya beban-beban pandangan-pandangan lama tak lagi menumpuk dan menindih berat di pundak anda, tetapi semuanya berjatuhan, dan sebagai akibatnya anda akan merasakan kelapangan yang menakjubkan dalam batin dan pikiran anda. Saat itulah pencerahan datang ke dalam diri anda.

Dalam dunia agama-agama, anda akan dapat menghasilkan banyak pandangan baru yang mencerahkan jika anda mau berpikir tidak biasa, di luar yang tradisional atau konvensional, berpikir OUT-OF-THE-BOX! Anda melawan arus. Perlu energi besar, komitmen, kecakapan dan keikhlasan jika anda memutuskan untuk berenang menuju sumber mata air yang ada di puncak sebuah gunung.

Kalangan liberal adalah kalangan yang mau mengembangkan kemampuan otak mereka terus-menerus lewat banyak kegiatan pembelajaran dan latihan berpikir kritis, alhasil mereka dapat memberi banyak jawaban atas sebuah pertanyaan. Sedangkan kalangan konservatif terus-menerus menumpulkan otak mereka lewat berbagai kegiatan indoktrinasi yang sistematis dan jangka panjang, alhasil mereka mampu untuk memberikan hanya satu jawaban bagi segala pertanyaan.

Satu jawaban tunggal untuk semua persoalan, ya ada hanya dalam dongeng, seperti halnya sebutir kacang polong mustajab yang mampu menyembuhkan segala penyakit. Dongeng adalah dunia kanak-kanak. Kalau sekarang di usia dewasa anda butuh dongeng, namanya bukan dongeng lagi, tapi science fiction yang sangat saya sukai. 

ioanes Rakhmat 

• Diedit 29 Agustus 2023

----------------------

/1/ Richard J. Davidson dan Sharon Begley, The Emotional Life of Your Brain: How Its Unique Patterns Affect the Way You Think, Feel, and Live, and How You Can Change Them (New York, N.Y.: Plume Penguin Group, 2013), hlm. 175.




Sunday, November 17, 2013

Elie Wiesel: Allah bangsa Yahudi telah terbunuh!

Pada waktu bangsa Yahudi dianiaya, diazab, dan dibantai oleh rezim Nazi Hitler yang berkuasa atas negeri Jerman dari 1933 sampai 1945 selama Perang Dunia II, orang Yahudi bergumul amat sangat, dan mereka bertanya di mana Allah mereka berada. Sekian jawaban diberikan oleh bangsa Yahudi, oleh para ahli teologi mereka. 

Ini adalah soal teodise: di mana Allah berada dan kepada siapa dia berpihak ketika orang-orang saleh dengan hati yang dipenuhi cinta dan rasa kemanusiaan tertimpa azab bertubi-tubi, tanpa penolong.

Kita kenal Elie Wiesel, dilahirkan 30 September 1928 di Sighet, Transylvania (kini Romania). Pada tahun 1986, Wiesel meraih Hadiah Nobel Perdamaian. 

Dia adalah seorang Yahudi yang selamat dari Holokaus setelah pada umur 15 tahun dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi di Auschwitz, Buna, Buchenwald dan Gleiwitz. 

Wiesel kemudian termashyur di dunia melalui novel-novelnya, khususnya melalui satu novel memoar pertamanya tentang Holokaus yang terbit pada tahun 1960 dengan judul Night (versi Prancisnya terbit dengan judul La Nuit). Setelah Night, terbit dua novel lagi Dawn (1961) dan Day (1962), yang keseluruhannya membentuk sebuah trilogi yang menyoroti dengan cermat kekejaman yang dilakukan manusia terhadap sesamanya./1/  

Eliezer Wiesel keluar selamat dari Holokaus untuk kemudian menjadi duta umat manusia

Apa kata Wiesel tentang di mana Allah berada ketika jutaan orang Yahudi dianiaya, disengsarakan dan dibunuh oleh Nazi? 

Dalam suatu bagian novel Night, Wiesel menyatakan bahwa Allah bangsa Yahudi telah terbunuh. Tulisnya, 

“Tak akan pernah aku melupakan malam itu, malam pertama dalam kamp, yang telah mengubah kehidupanku menjadi satu malam yang panjang, tujuh kali dikutuk dan tujuh kali disegel.... Tak akan kulupakan momen-momen itu yang telah membunuh Allahku dan jiwaku, dan mengubah mimpi-mimpiku menjadi debu.”/2/ 

Ya, bagi Wiesel, Allah telah tiada, karena terbunuh, sehingga bangsa Yahudi menderita azab besar tanpa penolong! 

Bangsa Yahudi harus meratapi bukan saja azab yang sedang mereka tanggung, tapi juga Allah mereka karena sang Allah ini sudah mati terbunuh. 

Itu sebuah gagasan yang tentu membingungkan dan mengagetkan orang-orang yang terbiasa hanya dengan ide tentang Allah yang mahahadir, mahakuasa dan mahapenolong. 

kamp konsentrasi di Auschwitz I, Desember 1944. Pohon Natal untuk blok 15

Tapi bagi Wiesel, dengan idenya tentang Allah yang telah terbunuh, Holokaus jadi dapat dijelaskan sebagai suatu bencana sejarah yang sangat berat bagi bangsa Yahudi, yang menimpa mereka bukan karena Allah Yahudi tidak perduli pada mereka, atau karena Allah menimpakan bencana ini kepada mereka. 

Sebaliknya, bagi Wiesel, Allah bangsa Yahudi tidak berperan sama sekali dalam Holokaus, malah sang Allah ini ikut terbunuh bersama enam juta orang Yahudi. Allah ini solider dengan nasib bangsanya. 

Di pihak Wiesel pribadi, jiwa dan mimpi-mimpinya ikut terbunuh dan terkubur bersama Allah yang terbunuh. Orang yang masih hidup pun melihat dirinya telah terbunuh bersama Allah yang telah terbunuh.

Dalam Tanakh Yahudi, ide tentang ketidakhadiran Allah diungkap dalam gambaran tentang Allah yang menyembunyikan diri. 

Allah menyembunyikan diri dari kehidupan orang saleh. Ini juga sebuah gambaran yang membuat ide-ide biasa kita tentang Tuhan terjungkal. 

Selama Allah masih bersama kaum saleh, Allah berfungsi sebagai sebuah benteng atau sebuah perisai yang melindungi mereka dari segala azab, nestapa, penderitaan, penganiayaan dan semua musuh (lihat antara lain 2 Samuel 22:2-4; Mazmur 18:3-4; Yeremia 16:19a). 

Jika Allah menyingkir dari orang saleh, maka orang saleh ini rentan diserang oleh kekuatan-kekuatan jahat kodrati maupun adikodrati, yang membuat mereka tersiksa dan teraniaya.

Dari kisah fiktif dalam Perjanjian Lama tentang Ayub yang sangat saleh, kita tahu bahwa penderitaan menerpa Ayub tak habis-habisnya ketika Allah menyingkir dari kehidupan Ayub dan Setan dibiarkan Allah berkuasa atas dirinya (Ayub 1:12; 2:6). 

Selama Ayub masih dalam penjagaan dan perlindungan Allah, Ayub sukses besar dan makmur dalam segala segi kehidupannya. Ketika Allah menjauh dan menarik diri dari Ayub, sekian azab menghancurkan seluruh kehidupannya.

Penulis Mazmur 89:47-52 dengan berat mengeluh bahwa dia menerima berbagai macam penghinaan dari segala bangsa ketika Allah bersembunyi dari dirinya terus-menerus. Penulis Mazmur 10:1 bertanya kepada Allah, “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, Ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?”

Dalam suatu momen kegiatannya selaku seorang hamba Allah, nabi Yesaya sampai menyatakan bahwa Allah telah menyembunyikan diri-Nya (Yesaya 45:15). 

Pada masa aktivitas sang nabi, dia bersama bangsa Israel sama sekali tidak bisa melihat bagaimana Allah mereka bekerja untuk mereka, karena Allah yang mereka sembah dan andalkan ternyata bertindak dengan cara yang tidak lazim lewat tangan seorang raja asing, yakni Koresh, Raja Persia, yang ditetapkan-Nya sebagai Mesias pilihannya sendiri (44:28; 45:1, 13), yang akan menyelamatkan umatnya.

Menurut penulis Injil Markus dalam Perjanjian Baru, ketika Yesus menanggung azab di kayu salib, di manakah Allah yang Yesus biasa panggil dengan akrab sebagai sang Abba, sang Bapa, berada? 

Dalam ide penulis injil ini, ketika Yesus mengerang kesakitan dan meregang nyawa di kayu salib, Allah telah meninggalkan dirinya, sehingga Yesus menderita sendirian saja. 

Dalam kesakitannya, Yesus berteriak keras kepada Allahnya ini, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, jika diterjemahkan berarti “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Markus 15:34). 

Yesus sengsara di kayu salib karena Allah telah menyingkir darinya, menelantarkannya. Seandainya Allah masih bersama Yesus, dia tidak akan mati disalibkan. Yesus di sini, dalam tuturan Markus, terperangkap dalam sebuah problem teodise: Mengapa Allah yang mahakuasa, mahakasih, mahaadil, dan mahahadir, sampai tega meninggalkan orang yang saleh seperti dirinya ini sehingga si saleh ini menderita amat sangat, padahal si saleh sama sekali tidak bersalah?/3/

Dengan menyatakan bahwa Allah tidak hadir, bahwa Allah menjauh, bahwa Allah bersembunyi, bahwa Allah telah terbunuh, penderitaan yang menimpa orang-orang saleh jelas tidak dapat diasalkan pada diri Allah ini. 

Penderitaan dialami orang saleh bukan karena Allah yang menimpakannya kepada mereka. Bukan! Tetapi karena ada kekuatan-kekuatan lain yang dengan bebas menyengsarakan umat, tanpa bisa dihentikan oleh Allah karena Allah memang sedang tidak hadir di tempat. 

Apakah argumen semacam ini berhasil mengatasi problem teodise, dan tidak menimbulkan sejumlah problem lain? Jika anda cerdas, anda pasti akan menjawab tidak, berdasarkan beberapa alasan berikut.  

Pertama, kalau Allah bisa tersembunyi, bisa tidak hadir, maka hilanglah sifat mahahadir dan mahapenolong Allah yang sebetulnya ingin dipertahankan dengan kuat dalam teodise. 

Kalau Allah bisa tidak hadir, atau bisa tidak ada karena terbunuh, dan sebagai ganti diri-Nya ada kekuatan-kekuatan lain yang jahat, yang sedang berkuasa atas diri umat Allah, maka hilanglah juga sifat mahakuasa Allah. 

Kalau Allah tidak hadir dan dengan demikian kesengsaraan menimpa si mukmin yang saleh dan tak bersalah, maka hilanglah sifat mahaadil Allah yang sebetulnya juga ingin dipertahankan dalam teodise.  

Kedua, kalau karena Allah bersembunyi umat menjadi sengsara atau rentan terhadap serangan penderitaan, maka Allah yang semacam ini dapat diibaratkan sebagai seorang ayah yang tidak bertanggungjawab, tega hati dan pengecut, yang lari bersembunyi ketika anak-anaknya sedang atau akan dianiaya orang-orang jahat. 

Konsep tentang Allah yang semacam ini sama sekali tidak bisa diperdamaikan dengan nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial yang mau ditegakkan dalam suatu masyarakat yang bertanggungjawab, di mana setiap ayah dan ibu dipandang sebagai sosok-sosok agung pelindung dan pengayom anak-anak mereka.

Ketiga, jika si saleh menginginkan kehidupannya terbebas dari segala bentuk penderitaan dengan terus-menerus meminta Allah tetap hadir untuk melindungi dan menjaga dirinya, maka bisa terjadi si saleh ini akan menolak semua bentuk perlindungan dan pertolongan yang dapat diupayakan manusia melalui sains dan teknologi modern. 

Banyak sekali orang saleh di dunia ini dengan fanatik (baca: dengan bodoh) menolak pertolongan medis apapun karena mereka hanya bergantung pada Allah mereka melalui doa-doa dan ritual-ritual keagamaan mereka untuk kesembuhan penyakit mereka atau penyakit sanak famili mereka. Akibatnya, ya dari antara mereka atau dari antara sanak famili mereka banyak yang mati karena “iman” yang bodoh dan tidak cerdas!

Keempat, ihwal hadir atau tidak hadirnya Allah sebetulnya bukan ditentukan oleh diri Allah itu sendiri, tetapi ditentukan sendiri oleh manusia secara subjektif dalam teologi yang dikonsepnya sendiri. 

Bisa terjadi dalam suatu bencana dahsyat, seorang mukmin akan mengklaim bahwa dia merasa Allah ada di tengah kehidupannya, sementara seorang mukmin lainnya akan menyatakan bahwa Allah telah meninggalkan dirinya. 

Jadi, hemat saya, daripada memperdebatkan apakah Allah hadir atau Allah absen di dalam suatu kesulitan yang sedang menimpa manusia, jauh lebih konstruktif jika kita semua mau bertindak secara rasional untuk mengatasi berbagai macam azab dan penderitaan yang sedang menimpa umat manusia melalui berbagai macam kerja nyata kita di dalam masyarakat.

Kelima, jika kehadiran dan penyertaan Allah dipercaya sebagai sumber semua kemakmuran, kesenangan dan keberhasilan, maka konsep teologis semacam ini bisa berbahaya buat kehidupan etis manusia. Bahayanya di mana? 

Bahayanya: orang bisa berpura-pura melupakan bahwa harta kekayaan yang mereka miliki sebenarnya bersumber dari tindak pidana korupsi atau berbagai perbuatan melanggar hukum lainnya. 

Lalu, sebagai gantinya, mereka akan mengklaim bahwa semua harta kekayaan dan sukses mereka itu diperoleh sebagai berkat-berkat Allah yang mahabaik, mahapenolong dan mahahadir dalam kehidupan mereka. Jadi, di sini teologi dibuat untuk melegitimasi perbuatan tidak bermoral.

Keenam, orang ateis adalah orang yang menyatakan bahwa Allah tidak ada. Kalaupun para agamawan berpendapat Allah memang ada pada dirinya sendiri, orang ateis tidak memerlukan Allah ini sebagai sang pelindung mahakuasa mereka. 

Menurut estimasi Biro Sensus Amerika Serikat, pada 12 Maret 2012 penduduk dunia mencapai 7 milyar kepala; sedangkan menurut estimasi PBB jumlah ini tercapai pada 31 Oktober 2011. 

Dalam tahun 2013, menurut estimasi PBB jumlah penduduk dunia mencapai 7.116.744.393 kepala. Dari jumlah ini, diestimasi 18 % adalah orang ateis, setara dengan kurang lebih 1,3 milyar orang. 

Pertanyaannya adalah: Apakah semua orang ateis dalam jumlah sangat besar ini dengan demikian tidak terlindung dan karenanya akan selalu didera kekuatan-kekuatan jahat sehingga mereka sengsara? Kenyataannya tokh tidak demikian! 

Artinya: ketidakhadiran Allah tidak otomatis akan menimbulkan penderitaan bagi manusia. Manusia pada dirinya sendiri dan melalui sains dan teknologi dapat melindungi diri dari banyak bentuk penderitaan. 

Teologi tentang ketidakhadiran Allah malah bisa membuat orang makin mandiri, makin cerdas, makin dewasa dan makin tegar dalam menjalani kehidupan dalam dunia ini. 

Umumnya orang beranggapan bahwa kepercayaan keagamaan yang dipegang kuat-kuat akan membuat orang yang beragama lebih tahan stres dan tidak mudah terkena depresi dibandingkan orang yang sekuler atau orang yang tidak beragama. 

Tetapi sebuah studi mutakhir lintas-negara atas 8.318 orang yang berasal dari 7 negara menunjukkan bahwa:
  • dari antara orang-orang yang menyatakan memegang keyakinan spiritual atas kehidupan ini, 10,5 % mengalami episode depresi setahun setelah mengalami kejadian serius dalam kehidupan mereka
  • dari orang-orang yang beragama, angkanya 10,3 % 
  • dari kalangan sekuler (tak beragama), angkanya 7,0 %
Temuan di Inggris lebih mencolok lagi: kalangan spiritualis tiga kali lipat lebih mudah terkena depresi dibandingkan kalangan sekuler. Juga ditemukan bahwa makin kuat iman seseorang kepada Tuhannya, orang ini berisiko dua kali lipat terkena depresi dibandingkan orang yang beriman lemah. 

Sebagai kesimpulan: Tidak ada bukti bahwa agama bertindak sebagai bemper penahan depresi setelah orang mengalami goncangan serius dalam kehidupan mereka./4/ 

Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa jika anda sangat percaya Allah selalu hadir dalam kehidupan anda dan selalu menjaga, melindungi dan menolong anda, khususnya saat anda sedang mengalami banyak persoalan berat, anda akan selalu tegar dan akan tampil sebagai pemenang atas semua masalah anda. 

Mungkin sekali terjadi, ketika kepercayaan anda ini tidak kunjung terbukti, rasa stres anda akan bertambah besar, yang akan secara bertahap membawa anda ke dalam depresi. Dalam situasi inilah iman anda sama sekali tak menolong anda, malah memperlemah daya tahan mental anda. 

Hal itu bisa terjadi karena anda terus-menerus memprotes Allah anda, bahkan memarahi sosok adikodrati ini dan anda memberontak terhadapnya. 

Jelas, kondisi mental anda ini yang orang namakan “dissonansi kognitif”,/5/ yang muncul dari iman dan kepercayaan yang tak terwujud, akan pasti memperburuk kondisi kejiwaan anda secara keseluruhan.

Tentu saja, anda dan saya tidak perlu menjadi ateis untuk dapat tegar dan kokoh ketika menjalani kehidupan kita yang kerap diterjang dan dihadang ombak-ombak besar persoalan, azab dan kesulitan yang terus datang, meradang, menendang dan menghalang. 

Untuk dapat meraih kondisi mental yang kokoh dan tegar, lepas dari dissonansi kognitif, yang dibutuhkan dari kita adalah kecerdasan dan kreativitas dalam beragama. Bagaimana cara memperoleh kecerdasan dan kreativitas ini?

Sementara pada satu pihak kita melihat dan mengakui ada enam problem besar dan rumit yang ditimbulkan oleh teologi tentang ketidakhadiran atau ketersembunyian Allah seperti sudah dibentangkan di atas, teologi semacam ini, pada pihak lain, dapat membantu kita lebih cerdas dan kreatif dalam beragama. Mungkin anda tak percaya. 

Kita umumnya sudah tahu, kalau kita bisa mengambil jarak dari sesuatu yang sedang dan sudah lama kita amati, pengetahuan kita tentang sesuatu yang kita sedang amati ini bisa lebih objektif, bisa lebih multidimensional, dan bisa lebih mendalam dan meluas. 

Begitu juga ihwalnya dengan pengetahuan kita mengenai Allah, kehendak dan keterlibatannya dalam dunia ini dan dalam kehidupan kita.

Kalau kita terlalu terbiasa dengan Allah, terlalu murah mengobral kata-kata tentang diri yang serba lain ini, terlalu gampang mengklaim hal ini dan hal itu tentang Allah, terlalu mudah mengait-ngaitkan diri Tuhan dengan diri kita dan dengan persoalan-persoalan kehidupan kita, maka gambaran-gambaran kita tentang Allah akan menjadi gambaran-gambaran yang datar, tawar, hambar, rutin, membosankan, terlalu terbuka, terlalu telanjang. Tidak lagi menantang, tidak lagi mengejutkan, tidak lagi tersembunyi, tidak lagi misterius, tidak lagi progresif, tidak lagi mencerahkan, dan tidak lagi mencerdaskan kita. 

Pendek kata: dogmatisme membuat kita bodoh, kehilangan kreativitas dan imajinasi.

Sesuatu yang terus-menerus rutin kita pikirkan, tak akan mencerdaskan kita lagi.

Sebaliknya, kalau kita menghayati suatu teologi tentang Allah yang tersembunyi, yang tidak hadir, yang misterius, yang bermain petak umpet dengan kita, bahkan, seperti dilihat Elie Wiesel, yang terbunuh, kita akan merasa sangat tertantang untuk terus-menerus mencari dan menemukan Tuhan kembali dalam perspektif-perspektif yang baru dan mengejutkan. 

Kreativitas dan imajinasi membuat Tuhan hidup kembali dalam berbagai penampilan, dalam berbagai titisan, dalam berbagai paras dan wajah, dalam berbagai gerak, dan dalam berbagai suara, yang semuanya berbeda dari sebelumnya. 

Kepercayaan atau iman yang hidup, kreatif, inovatif, aktif, dinamis dan bergairah semacam ini, akan sangat membantu anda saat anda sedang menghadapi banyak persoalan berat yang menimbulkan stres.

Seseorang mudah sekali terkena stres dan akhirnya terbenam dalam depresi berat ketika sedang menghadapi persoalan-persoalan berat sekalipun dia sangat saleh beragama, seperti telah diungkap oleh kajian psikologis mutakhir yang sudah dibeberkan di atas. 

Hal itu bisa terjadi karena si saleh ini hanya terpaku pada satu citra tentang Allah yang sudah dengan rutin ada dalam pikirannya sendiri. 

Allah yang rutin mengisi pikiran dan hatinya ini ditunggu-tunggunya untuk bertindak menolong dirinya. Tetapi karena Allahnya ini tak kunjung datang menolongnya, stresnya pun dari saat ke saaat makin bertambah berat. 

Si saleh yang semacam itu tidak bisa kreatif melihat Allah dalam penampilan, paras, wajah, dan suara yang berbeda, yang mengejutkannya, yang ditemukannya sebagai Allah yang lain dari biasanya.

Jika si saleh ini mencoba untuk dengan cerdas, kreatif dan inovatif melihat Allah dari sudut-sudut pandang yang lain, yang tidak biasa, yang tidak rutin, yang tidak terduga, yang mengagetkan, misalnya sebagai Allah yang tersembunyi, yang tidak hadir, atau bahkan sebagai Allah yang terbunuh, yang sedang berpetakumpet, sangat mungkin dia juga akan memandang semua persoalan beratnya dari sudut-sudut yang lain, yang tidak lazim. 

Jika itu terjadi, ada harapan, teologinya yang baru tentang Allah, akan membuatnya lebih kuat dan lebih kokoh dalam memikul semua persoalannya yang berat.

Ide tentang Allah yang tersembunyi, yang tidak hadir, yang terbunuh, akan dengan mengherankan membuat anda lebih cerdas beragama dan lebih tangguh dalam kehidupan ini, karena ide yang semacam ini akan bermuara pada penemuan kembali diri Allah sebagai Allah yang lain, yang tidak rutin, yang akan membangun semangat hidup anda kembali.

Ketidakhadiran Allah ternyata akan bisa sangat ampuh dan kuat mengubah diri anda, dari seorang yang lemah berubah menjadi seorang yang tangguh, dari situasi kegelapan malam masuk ke situasi fajar pengharapan, lalu bermuara di situasi pencerahan siang. 

Ini sungguh sesuatu yang mengejutkan sekaligus menakjubkan, lain dari perkiraan orang pada umumnya. Bisa jadi, inilah yang terjadi pada Elie Wiesel, yang setelah peristiwa Holokaus dipandang dunia yang beradab sebagai duta umat manusia untuk mengingatkan bangsa-bangsa manapun dalam dunia ini untuk tidak membantai bangsa lainnya atas alasan apapun. 

Perjalanannya dari Night, ke Dawn, lalu masuk ke Day, jelas bukan suatu perjalanan yang mudah, tapi suatu perjalanan yang sangat berat, yang akhirnya bermuara pada pencerahan di hari siang yang benderang dan gemilang. 

Perjalanan yang gembira sekaligus menimbulkan rasa duka yang menusuk lantaran Tuhan tidak selalu hadir, tapi bisa juga begitu saja nongol lagi yang membuat kita gembira, lalu berlari ingin memeluknya. 

Tapi Tuhan mengelak saat kita mau merangkulnya, hilang lagi, akibatnya duka dan azab menyerbu lagi, dalam banyak permainan petak umpet yang sambung-menyambung.

Tetapi tak ada pilihan lain. Hanya satu: kreatif dan rianglah dalam bermain petak umpet dengan Tuhan. Meski lelah, bermainlah terus. Setap kegiatan bermain itu menantang dan menyehatkan.

Stay blessed 
Even when God is hidden

Catatan-catatan

/1/ Elie Wiesel, The Night Trilogy: Night, Dawn, Day (terjemahan Inggris oleh Marion Wiesel) (New York, N.Y.: Hill and Wang, 1972, 1985, 2008).

 /2/ Elie Wiesel, Night (terjemahan baru Inggris oleh Marion Wiesel; dengan sebuah pengantar baru dari penulis) (New York, N.Y.: Hill and Wang, 1972, 1985, 2006), hlm. xix, 34; idem, The Night Trilogy, hlm. 17, 52.


/3/ Usaha teologis menelusuri sebab-musabab adanya penderitaan, dan pertanyaan-pertanyaan di mana Allah yang mahapengasih dan mahaadil berada di tengah realitas penderitaan manusia, dan kepada siapa Allah berpihak apakah kepada penyebab penderitaan atau kepada manusia yang menderita, masuk ke dalam bidang perenungan teologis yang dinamakan teodise (dari kata Yunani theos = Allah, dan dikē = keadilan). 

Dalam bukunya yang berjudul Gods Problem: How the Bible Fails to Answer Our Most Important Question, Why We Suffer (New York: HarperCollins Publishers, 2008), Bart D. Ehrman memperlihatkan Alkitab gagal menjawab pertanyaan terpenting manusia apa sebabnya atau mengapa manusia menderita. 

/4/ Lihat Leurent , B., Nazareth, I., et al., “Spiritual and religious beliefs as risk factors for the onset of major depression: an international cohort study”, Psychological Medicine vol. 43/Issue 10/Oct 2013, hlm. 2109-2120. Tersedia online 29 Januari 2013, http://journals.cambridge.org/action/displayAbstract?fromPage=online&aid=8826658&fulltextType=RA&fileId=S0033291712003066

Lihat ulasannya oleh Jennifer Dunning, “Religious believers more depressed than atheists: study”, CBCNews, 20 September 2013, http://www.cbc.ca/newsblogs/yourcommunity/2013/09/religious-believers-more-depressed-than-atheists-study.html.

/5/ “Dissonansi kognitif” adalah kondisi mental yang tertekan (“kognitif”) karena tak terwujudnya atau melesetnya (“dissonansi”) hal-hal yang semula sangat diyakini dan dipercaya sebagai kebenaran. 

Untuk keluar dari kondisi mental yang menekan berat ini, berbagai cara dilakukan. Misalnya membangun sikap "pokoknya kami benar, cuma...", mengakal-akali alias merasionalisasi isi keyakinan ideologis sekular atau religius yang sudah terbukti salah supaya kelihatan tetap masuk akal, dan makin aktif mencari pendukung tambahan atas ideologi dan keyakinan yang sudah meleset dan salah itu. Jika pengikut baru bertambah, berarti keyakinan ideologis yang sudah salah itu menjadi benar lagi. Akal-akalan dan membohongi diri sendiri.

Sumber primer tentang teori dissonansi kognitif, lihat Leon Festinger, H. W. Riecken dan S. Schachter, When Prophecy Fails: A Social and Psychological Study of a Modern Group That Predicted the Destruction of the World (New York: Harper and Row, 1956). Pemaparan lebih jauh teori ini, lihat Leon Festinger, A Theory of Cognitive Dissonance (Stanford, California: Stanford University Press, 1957). 
 

Sunday, November 10, 2013

Twelve lessons from the wonderful nature


rivers teach us to make our life flow eternally...


Sangat banyak hal kita bisa pelajari dari alam, baik untuk menambah ilmu pengetahuan kita dari saat ke saat, maupun untuk membuat kita lebih bijaksana dalam melakoni kehidupan kita masing-masing. Semua kitab suci agama-agama kuno juga berbicara banyak tentang manfaat alam sebagai media untuk menambah pengetahuan dan kearifan kita, bahkan sebagai media untuk manusia berjumpa dengan sang Tuhan sendiri.

Bahkan dalam natural religions yang lahir pada era mitologis dalam perkembangan evolusioner peradaban manusia, nature dan segala kekuatannya dipersonifikasi dalam berbagai sosok adikodrati dewa-dewi atau setan-setan atau makhluk-makhluk angkasa lainnya. Pada era mitologis, gerhana di angkasa, misalnya, dipandang bukan hanya sebagai suatu kejadian alam, tapi ditafsirkan sebagai pertarungan sosok-sosok adikodrati yang hidup di kawasan angkasa. Dalam mitologi bangsa Viking, berkaitan dengan gerhana, dua ekor serigala supernatural yang bernama Skoll dan Hati digambarkan memburu Matahari dan bulan. Ketika keduanya berhasil menangkap Matahari dan bulan, terjadilah gerhana-gerhana. Saat itulah manusia di Bumi bergerak cepat untuk menyelamatkan dua benda langit ini dengan membuat berbagai suara dan bunyi-bunyian yang keras, dengan harapan mereka dapat menakut-nakuti serigala-serigala itu sehingga dua binatang angkasa ini akan melepaskan kembali Matahari dan bulan agar keduanya dapat bersinar terang lagi.

Saturday, November 9, 2013

Saat teks-teks kitab suci merenggut akal sehat


Pada tahun 2008, pasangan suami-isteri Kristen, Larry dan Carri Williams, dengan baik hati mengadopsi seorang gadis cilik dari Ethiopia yang bernama Hana pada usianya yang ketigabelas. Di negara bagian Washington, AS, tempat tinggal mereka, mereka tidak mengirim Hana ke sekolah untuk belajar. Sebagai gantinya, mereka menyelenggarakan sendiri pendidikan dalam rumah (homeschooling), dengan mereka bertindak sebagai guru-guru gadis cilik ini./1/

Sebagai panduan kegiatan pendidikan anak dalam rumah ini, mereka memakai sebuah buku yang diterbitkan dan dipakai oleh banyak keluarga Kristen fundamentalis ekstrim yang berjudul To Train Up A Child yang ditulis oleh Michael and Debi Pearl./2/

Buku ini memuat petunjuk-petunjuk teknis mendidik anak, yang disusun berdasarkan teks-teks Alkitab. Dalam buku ini, para guru homeschooling diminta untuk antara lain memakai berbagai peralatan dan barang keperluan tukang ledeng untuk memukul bagian-bagian tubuh anak-anak sejak mereka berusia satu tahun. Di antaranya, selang plastik diharuskan dipakai untuk memukul tubuh anak-anak yang sedang dididik jika mereka bandel atau tak bisa menangkap pelajaran. Jika makin bandel, buku ini mengharuskan anak-anak direndam dalam bak berisi air dingin, atau ditempatkan di luar rumah ketika udara dingin dan tidak diberi makan seraya digebuki berulangkali. 

Wednesday, November 6, 2013

Mencari sang rembulan purnama dalam dunia agama-agama

Saya mau mengulas ihwal bagaimana umat beragama yang satu memandang agama umat yang lain. Ulasan ini penting berhubung kita setiap hari bertemu dengan orang-orang yang menganut agama-agama yang berbeda dari agama yang kita anut, dan kita perlu tahu posisi apa yang harus kita ambil sebagai posisi yang paling tepat.



Adakah lebih dari satu bulan purnama untuk planet Bumi?


Ketika berhadapan dengan agama-agama lain, posisi umum yang diambil umat beragama adalah posisi eksklusivis. Perspektif eksklusivis menempatkan agama sendiri sebagai agama yang benar satu-satunya. Di luar agama sendiri tak ada wahyu ilahi apapun. Jika anda berposisi eksklusivis, bagi anda kebenaran mutlak dan final hanya ada dalam agama anda sendiri. Dengan posisi eksklusivis, anda meng-eksklusi agama-agama lain dari dunia kebenaran dan wahyu. Hanya agama anda sendiri yang mendiami dunia kebenaran dan wahyu.

Dalam eksklusivisme, Tuhan dan kebenaran hanya ada dalam agama anda sendiri. Di luarnya hanya ada setan dan kesesatan. Dengan posisi eksklusivis, anda menjadi seorang beragama yang triumfalis: memandang diri sebagai sang pemenang, sang viktor, dan lawan-lawan anda para pecundang.

Sunday, November 3, 2013

Alegori kereta perang filsuf Plato



Sang kusir sangat disusahkan oleh kuda hitamnya yang binal



N.B. editing mutakhir 23 Desember 2021, 30 Juni 2023


Saya mau mengemukakan pandangan filsuf Plato (427 SM-347 SM) tentang fungsi akal atau nalar manusia. Dalam karya dialog-nya yang berjudul Phaedrus (246a-254e) (ditulis 360 SM), Plato mengajukan sebuah alegori (metafora) tentang kereta perang yang ditarik dua ekor kuda bersayap, yang dikendalikan oleh seorang kusir sebagai petarung./1/

Satu ekor kudanya berwarna hitam, berada di sebelah kiri, dan seekor lagi putih di sebelah kanan. Untuk bisa naik ke dunia ilahi (dalam filsafat Plato dinamakan dunia Forma) sang kusir dalam medan tempur harus bisa mengendalikan kedua ekor kuda itu.

Kuda putih di sebelah kanan melambangkan keberanian, heroisme, semangat dan moralitas. Kuda ini cukup diperintah lewat kata-kata sang kusir. Kuda hitam di sebelah kiri melambangkan emosi yang brutal tak terkontrol dan perasaan manusia yang binal. Kuda ini binal, harus dipecut terus-menerus untuk mengendalikannya. Kuda hitam ini terus-menerus mendatangkan masalah kepada sang kusir.

Sang kusir kereta perang itu menggambarkan akal atau nalar manusia, yang harus mengendalikan kedua ekor kudanya, khususnya kuda hitamnya. Jika sang kusir gagal mengendalikan kuda hitamnya, kereta perangnya tak akan naik ke kawasan Forma atau kawasan ilahi untuk mendapatkan pencerahan, tapi akan terjungkal ke dalam kawasan kegelapan dan kematian.

Bagi Plato, hanya orang yang dengan akal dan nalarnya bisa mengendalikan emosi dan perasaannya, yang akan mengalami pencerahan. Bagi Plato, emosi dan perasaan manusia sangat buruk, selalu akan menghalangi aktivitas nalar, lalu menutup pintu masuk ke dunia pencerahan. 

Emosi dan perasaan anda, menurut Plato, hanyalah seekor kuda binal yang akan menghambat laju kereta perang, karena itu harus ditaklukkan dengan sekuat tenaga. 

Emosi dan perasaan anda hanya akan memerosotkan kemanusiaan anda, menjadikan anda manusia budak dengan pikiran yang dangkal dan tak berkembang. 

Jadi, semakin anda rasional dan bernalar, semakin agung diri anda, dan pintu gerbang pencerahan terbuka lebar untuk anda.

Semakin piawai sang kusir mengendalikan kuda hitamnya yang binal, semakin besar peluang kereta perang masuk ke kawasan pencerahan. Semakin piawai anda memakai akal dan nalar anda untuk mengendalikan emosi dan perasaan anda, semakin besar peluang anda untuk mengalami pencerahan dan pertumbuhan serta kematangan akal pikiran anda.

Begitulah pandangan Plato tentang kedudukan dan fungsi akal, nalar, dan emosi anda. 

Pandangan Plato atas supremasi akal di atas emosi melatarbelakangi semangat Pencerahan Eropa abad ke-18, dan peradaban Barat modern. 

Bapak filsafat modern René Descartes (1596-1650), yang ikut meletakkan landasan-landasan rasionalisme bagi peradaban Barat modern, sangat dikenal lewat sebuah pernyataan pendeknya Cogito ergo sum, artinya Aku berpikir, karena itu aku ada. 

Baginya, pikiran anda membentuk eksistensi dan jati diri anda. 

Tak salah lagi, jika intelligence atau persisnya kecerdasan logis matematis dan linguistik menjadi ciri kualitas manusia Barat modern yang diutamakan, sebagai sebuah kebajikan. Dalam peradaban Barat modern, semakin tinggi nilai psikometrik IQ (Intelligence Quotient, yang hanya mencakup kecerdasan matematis dan kecerdasan linguistik) anda, semakin terhormat diri anda.

Tentu saja anda tak harus setuju dengan Plato. 

Dalam sejumlah tradisi filosofis Timur, tempat penting juga diberikan kepada emosi dan perasaan manusia. Dalam tradisi-tradisi filosofis ini bukan hanya olah akal, tetapi olah rasa dan olah kalbu juga dipandang sangat penting bagi pertumbuhan jiwa manusia. 

Meskipun Buddhisme sangat menonjolkan keutamaan pikiran sebagai pembentuk jatidiri setiap manusia, dalam meditasi Buddhis para praktisi juga dilatih untuk, lewat meditasi, dapat mengembangkan perasaan cinta kepada segenap bentuk kehidupan dalam alam ini (disebut meditasi metta bhavana). 

Bahkan sensation atau perasaan dan emosi yang mengalir juga menjadi fokus utama dalam teknik-teknik meditasi yang dikembangkan, misalnya, oleh guru agung kelahiran Burma, Satya Narayan Goenka (30 Januari 1924-29 September 2013), yang dikenal sebagai meditasi Vipassana atau meditasi “mindfulness” atau meditasi keterjagaan./2/

Kita semua tentu sangat menjunjung rasionalitas dan nalar manusia, yang memungkinkan sains dan teknologi dibangun dan dikembangkan terus-menerus. 

Seorang yang rasional dan selalu bernalar itu tentu sangat bagus, tapi sama sekali belum cukup. Dia masih harus dilengkapi dengan rasa cinta atau emosi cinta yang meluap jika ingin menjadi manusia yang utuh. 

Untuk menjadi ada, dibutuhkan dari anda bukan hanya pikiran, tapi juga cinta. 

Jadi, ketika anda berpikir dan mencintai, di saat itulah anda ada. Saat anda tak bisa lagi mencintai sesama, saat itu juga anda telah kehilangan kemanusiaan anda; anda tidak exist lagi. 

Cogito ergo sum masih belum lengkap, harus ditambah dengan ego diligentes ergo sum (Aku mencintai, karena itu aku ada).

Bayangkan jika manusia hanya punya akal, tapi tak punya perasaan cinta. Jika begitu, apa jadinya dengan dunia ini? 

Tanpa cinta, seseorang yang rasional akan bisa sama dengan seekor binatang buas yang haus darah. Perang antar-manusia yang membuat kehidupan sangat tak enak dijalani tidak sedikit lahir dari pikiran-pikiran manusia, yang paling rasional sekalipun. 

Korupsi yang dilakukan para pejabat negara yang saleh beragama juga dimulai di dalam pikiran-pikiran mereka yang rasional, sebelum akhirnya diwujudkan dalam tindakan-tindakan mereka yang melawan hukum dan menghancurkan rumahtangga mereka sendiri, dan negara mereka juga.

Masih jauh lebih baik seseorang itu bodoh tapi hidupnya penuh cinta ketimbang seseorang itu cerdas tapi hati dan pikirannya penuh kelancungan, kebencian dan kedurjanaan. 

Namun jauh lebih baik lagi jika seseorang itu cerdas dan rasional, sekaligus hidupnya penuh cinta, rasa sayang, dan kebajikan. 

Untuk anda menjadi cerdas, mampu berpikir rasional sekaligus bajik dan penuh cinta kasih, tanggungjawab terletak di pundak anda sendiri: anda perlu membangun semangat dan kemauan membaja untuk mencapainya, lewat banyak gemblengan diri dan latihan-latihan. 

Kekuatannya ada di dalam diri anda sendiri, bukan di luar diri anda. The power is within you, not without.




Filsuf Stoik sekaligus Kaisar Roma yang terkenal, Marcus Aurelius (121-180 M), menyatakan bahwa “Kebahagiaan kehidupan anda bergantung pada kualitas pikiran-pikiran anda. Andalah yang berkuasa atas pikiran anda, bukan peristiwa-peristiwa di luar diri anda. Jika hal ini anda sadari, maka anda akan mendapatkan kekuatan.”

Sama seperti akal harus dilatih supaya berkembang, begitu juga cinta: berlatih mencintai akan membuat cinta kita kepada sesama lebih matang, lebih cerdas, berkembang dan berbuah.

Akal dan cinta itu bukan sesuatu yang dalam kondisi ready made jatuh dari langit begitu saja ke pangkuan anda. Keduanya akan tumbuh dan berkembang makin matang jika ditanam, lalu dipupuk dengan rajin, kemudian dilatih sangat keras dan digunakan dengan tekun, mulai dari sebutir benih sampai menjadi sebuah pohon yang rimbun dan berbuah banyak. 

Akal itu kerap salah dan kerap juga melahirkan kebencian; karena itu akal juga harus dikontrol oleh akal yang lebih tinggi dan rasa cinta. Mustahil akal dan nalar akan melahirkan kebajikan dan keadilan jika tidak dinafasi oleh cinta kasih.

Kita juga perlu tahu apa pandangan neurosains tentang fungsi emosi dan perasaan manusia ketika manusia harus mengambil keputusan-keputusan. 

Apakah tanpa emosi dan perasaannya terlibat, seseorang yang rasional akan bisa mengambil keputusan-keputusan dengan mantap dan dalam waktu yang relatif cepat? 

Neurosaintis Jonah Lehrer di dalam bukunya How We Decide/3/ menegaskan bahwa tanpa keterlibatan emosi dan perasaan, seorang manusia yang paling rasionalpun tak bisa mengambil keputusan-keputusan apapun dalam kehidupannya, bahkan yang paling bersahaja. Mengapa demikian?

Dalam organ otak kita ada suatu sirkuit jaringan neural yang diberi nama orbitofrontal cortex (OFC), yang terletak persis di belakang mata, di bagian bawah korteks frontalis (pusat kecerdasan, logika, nalar dan moralitas dalam otak)




Lokasi OFC. Sumber gambar: FlintRehab.com.



Sumber gambar: voxpol.eu


Kendatipun berbagai emosi diproduksi dalam sistim limbik otak, sirkuit OFC berfungsi untuk mengintegrasikan emosi-emosi yang intens ke dalam proses rasional pengambilan keputusan yang menjadi fungsi dari korteks frontalis. 

Pada sisi lain, ada bagian-bagian korteks frontalis yang baru berfungsi normal jika emosi-emosi terlibat. 

Sirkuit OFC ini menghubungkan perasaan dan emosi kita yang dimunculkan oleh otak “primitif” (area batang otak dan amygdala, yang membentuk sistem limbik) dengan arus pikiran-pikiran sadar kita. Hanya jika hubungan ini terbangun, barulah kita dapat mengambil keputusan-keputusan rasional penting dalam waktu yang relatif cepat. 

Jika OFC rusak atau tidak berfungsi normal (karena tumor otak atau perdarahan pembuluh darah, atau sehabis operasi, dan berbagai penyebab lain), kita tak dapat lagi mengambil keputusan-keputusan, yang paling bersahaja sekalipun, kendatipun korteks frontalis kita sehat. 

OFC yang rusak akan melenyapkan kepribadian yang semula ada pada seseorang, menjadikannya seorang lain yang dirasakan asing oleh orang-orang terdekatnya.

Penjelasan lebih detail tentang OFC perlu diberikan./4/ Fungsi-fungsi kognitif yang umumnya dikaitkan dengan OFC mencakup:

• pengendalian impuls-impuls atau dorongan-dorongan mental yang muncul tiba-tiba
• pengambilan keputusan yang berbasis nilai-nilai
• prediksi-prediksi tentang keputusan yang sudah diambil berdasarkan berbagai pengalaman sebelumnya
• reaksi-reaksi emosional
• perilaku sosial

Jika OFC rusak, terjadilah perubahan-perubahan kelakuan, antara lain:
• kelakuan menjadi impulsif, agresif dan buta terhadap akibat-akibat dan risiko-risiko yang akan dapat timbul
• pengambilan keputusan yang sangat buruk, atau samasekali tidak bisa membuat keputusan
• respons-respons emosional yang menurun
• perubahan-perubahan kepribadian, yang mencakup:
     ▪︎ menjadi kekanak-kanakan
     ▪︎ apatis atau bermotivasi rendah
     ▪︎ bersikap kasar dan tak terkendali
     ▪︎ berkelakuan agresif
     ▪︎ kehilangan empati dan kepedulian pada orang lain

Jadi, untuk korteks frontalis yang menjadi pusat rasionalitas dan kemampuan nalar berfungsi dengan baik, emosi dan perasaan manusia harus terlibat yang diproses dalam OFC. 

Kondisi neural yang semacam ini yang diperlukan untuk suatu aktivitas rasional berjalan dengan baik tidak sejalan dengan pandangan Plato yang menempatkan emosi dan perasaan manusia pada tempat yang sangat rendah, hanya sebagai impuls-impuls destruktif yang menghambat pencerahan manusia.

Maka, marilah kita menjadi manusia yang utuh, yang berpikir, mengambil keputusan dan bertindak secara utuh, sebagai organisme rasional sekaligus emosional (dalam arti, perasaan-perasaan kita, ikut kita perhitungkan dengan berimbang), yang memiliki dimensi kognitif sekaligus dimensi afektif. 

Akal dan nalar membutuhkan perasaan cinta untuk menghasilkan berbagai kebajikan dalam dunia ini. 

Akal dan nalar akan lumpuh, atau malah menjadi berbahaya, jika tak diberi tenaga kehidupan oleh perasaan cinta. 

Sebaliknya, cinta kita juga akan dimatangkan dan tumbuh menjadi cinta yang cerdas jika akal dan nalar ikut memberi arah kepadanya. Jika anda mencintai, mencintailah dengan cerdas, jangan dengan bodoh. Cinta yang bodoh hanya akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak tahu diri, kalangan psikopath.

Hanya jika terjadi sinkroni yang dinamis antara sang kusir dan gerak-gerik kedua ekor kudanya, kereta perangnya akan bisa terbang ke atas, masuk ke kawasan ilahi dan di sana sang kusir akan mendapatkan pencerahan-pencerahan yang diperlukan dunia.

Akhir kata, temuan-temuan kita di atas tentu dapat memberi sumbangan berharga bagi kehidupan keagamaan setiap orang. 

Jika kita menginginkan kehidupan keagamaan kita utuh, maka akal budi dan cinta dalam diri kita harus saling mengisi dan saling memperkuat. 

Tidak mungkin kita dapat beragama dengan benar, jika akal budi tidak kita pakai. Tidak mungkin kita dapat beragama dengan baik, jika rasa cinta tidak mengisi batin kita. 

Untuk dapat beragama dengan sehat, kita memerlukan akal budi sekaligus cinta. Bahkan, sabda Yesus, kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi kita.

Hanya jika terjadi sinkroni yang dinamis dan mantap antara akal dan rasa cinta kita, keberagamaan kita akan menjadi keberagamaan yang utuh, menyehatkan, membahagiakan, dan menyembuhkan. 

Notes

/1/ Teks Phaedrus tersedia online di http://classics.mit.edu/Plato/phaedrus.html.

/2/ Rahib Buddhis kelahiran Jerman, Nyanaponika Thera, mendeskripsikan “mindfulness” sebagai keterpusatan pikiran kita hanya pada fakta-fakta nyata yang terdapat di dalam persepsi-persepsi kita yang terbentuk entah lewat lima indra jasmaniah atau lewat pikiran... tanpa memberi reaksi terhadap semua fakta ini, baik reaksi lewat tindakan, ucapan maupun lewat komentar dalam benak.” Lihat bukunya yang berjudul The Heart of Buddhist Meditation (York Beach, ME: Samuel Weiser, 1954, 1962, 1996), hlm. 30. 

/3/ Jonah Lehrer, How We Decide (New York, N.Y.: Mariner Books/Houghton Mifflin Harcourt, 2009, 2010). hlm. 15 ff.

/4/ Courtney Maher, Understanding Orbitofrontal Cortex Damage and How to Treat ItFlintRehab, last updated February 6, 2020, https://www.flintrehab.com/orbitofrontal-cortex-damage/.