Tuesday, January 1, 2008

Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus

Makam Talpiot, tempat Yesus dan keluarganya dimakamkan


Makam keluarga Yesus di Talpiot (sebelah selatan Kota Lama Yerusalem) diekskavasi 1–11 April 1980 oleh arkeolog-arkeolog Amos Kloner, Yosef Gath, Eliot Braun, dan Shimon Gibson, di bawah pengawasan Otoritas Kepurbakalaan Israel (OKI). Di dalamnya ditemukan 10 osuarium (peti tulang, terbuat dari batu gamping) berusia tua, dari kurun waktu pra-tahun 70 abad 1 M (akhir Perang Yahudi I melawan Roma). Sejak ekskavasi ini, tidak ada penyelidikan lebih lanjut atas makam ini. Di dalam sebuah film dokumenter BBC/CTVC yang berjudul ”The Body in Question” dan ditayangkan di Inggris pada Minggu Paskah 1996, muncul sebuah laporan sangat singkat tentang makam ini. Karena terlalu singkat, dan dianggap sebagai sebuah laporan tentang hal yang rutin saja, laporan ini boleh dikata berlalu begitu saja.

James D. Tabor melalui bukunya yang terbit 2006, The Jesus Dynasty (terjemahan Indonesia buku ini sudah terbit, 2007), mengangkat kembali signifikansi makam Talpiot bagi studi tentang Yesus. [Edisi paperback buku ini terbit 24 April 2007, dengan Introduksi yang diperbaiki dan penambahan sebuah epilog tentang makam keluarga Yesus]. Discovery Channel pada 4 Maret 2007 di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Israel dan Eropa, menayangkan sebuah film dokumenter yang berjudul “The Lost Tomb of Jesus”, dengan eksekutif produsernya James Cameron. Tesis yang diajukan film ini adalah bahwa makam Talpiot adalah betul makam keluarga Yesus dari Nazareth. Dalam waktu yang hampir bersamaan (27 Februari 2007), Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino menerbitkan buku dengan judul The Jesus Family Tomb: The Discovery, the Investigation, and the Evidence That Could Change History (terjemahan Indonesia buku ini sudah diterbitkan oleh penerbit Read-on, 2007).

Tak pelak lagi, kontroversi sedunia atas temuan makam Talpiot pun bermunculan. Reaksi sangat keras datang terutama dari kalangan Kristen konservatif evangelikal. Sebaliknya, sejumlah pakar lain, misalnya John Dominic Crossan dan James Charlesworth, memberi dukungan penuh terhadap usaha-usaha penelitian terhadap makam Talpiot. Crossan bahkan menandaskan, temuan makam Talpiot itu adalah “paku terakhir yang ditancapkan pada peti mati literalisme biblis.” Meskipun kontroversi mencuat tajam, pengkajian-pengkajian prosopografis lebih lanjut untuk menemukan “fit” atau “kecocokan” antara data material arkeologis dan data dari teks-teks kuno, termasuk teks-teks Perjanjian Baru, harus terus dilanjutkan.


Perkembangan sekarang


Pada ekskavasi 1980, ditemukan 10 osuarium dari makam Talpiot. Tetapi, sekarang ini, OKI hanya memiliki 9 osuarium dari makam Talpiot; 1 osuarium dinyatakan telah hilang. Dari 9 osuarium ini, 3 osuarium di antaranya tidak memiliki inskripsi/tulisan, sedangkan 6 lainnya memuat inskripsi: (1) “Yesus anak Yusuf” (bahasa Aram), (2) “Maria” (Aram), (3) “Mariamene e Mara” (= “Maria sang Master” = Maria Magdalena) (Yunani), (4) “Yoses” (Aram); (5) “Matius” (Aram); (6) “Yudas anak Yesus” (Aram). Keempat nama yang pertama sudah dikenal sebagai nama-nama yang muncul dalam Alkitab Perjanjian Baru, baik sebagai anggota-anggota keluarga Yesus (Markus 6:3) maupun sebagai seorang yang dekat dengannya (Maria Magdalena). Nama “Matius” muncul dalam “silsilah Yesus” (Matius 1; Lukas 3); dan juga dalam Markus 2:14 sebagai “anak dari Alfeus (= Klofas).” Alfeus atau Klofas adalah saudara dari Yusuf, ayah legal Yesus—jadi, “Matius” termasuk ke dalam kaum keluarga Yesus. Hanya nama “Yudas anak Yesus” yang tidak muncul dalam Perjanjian Baru.
Tentang nama “Mariamene e Mara” perlu diberi keterangan lebih jauh. Sebutan “Mariamene e Mara” dipakai untuk Maria Magdalena dalam dokumen yang diberi nama Kisah Filipus. Memang Kisah Filipus memuat bahan-bahan legendaris dan fabel; tetapi tidak berarti di dalamnya tidak ada rujukan-rujukan kepada sejarah. Misalnya, dalam Kisah Filipus dinyatakan bahwa Rasul Filipus mati dan dikuburkan di Hieropolis; ini adalah sebuah catatan sejarah yang sama dengan catatan sejarah Uskup Polykrates dari Efesus dalam suratnya kepada Santo Viktor yang ditulis kira-kira tahun 189-198. Kalaupun Kisah Filipus (abad 4) tidak dipakai, sebutan Mariamne untuk Maria Magdalena masih kita bisa temukan dalam dokumen-dokumen kuno lainnya: 1) Fragmen Yunani dari Injil Maria (akhir abad 2); 2) Tulisan Hippolytus, Refutatio Omnium Haeresium 5.1.7 (awal abad 3); 3) Origenes, Contra Celsum 5.62; dan 4) (dalam aksara Latin) tulisan Priscillian, Apologeticum 1.
Penting dicatat bahwa para arkeolog, paleografer, sejarawan, ahli Kitab Suci, ahli paleo-DNA, ahli statistik, ahli forensik, dan para pakar lain yang meneliti makam keluarga Yesus tidak pernah memakai rujukan dalam Injil Filipus tentang Yesus yang mencium Maria Magdalena (mungkin pada mulutnya) dalam usaha-usaha mereka untuk membuktikan bahwa makam Talpiot itu adalah makam keluarga Yesus, atau bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus.
Pada ekskavasi 1980, tulang-belulang dari dalam semua osuarium sudah diserahkan kepada otoritas Yahudi Ortodoks setempat untuk dikuburkan kembali. Pemeriksaan DNA tetap bisa dilakukan dengan memakai sisa-sisa endapan organik dari “human residue” yang menempel pada permukaan-permukaan dinding sebelah dalam atau mengendap di dasar osuarium. Pada tahun 2005, Dr. Carney Matheson dan timnya, dari Laboratorium Paleo-DNA Universitas Lakehead di Ontario, telah melakukan pemeriksaan DNA mitokondria terhadap “human residue” dari “Yesus anak Yusuf” dan “Maria Magdalena.” Dari penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan persaudaraan maternal antara “Yesus” dan “Maria Magdalena”. Artinya: Maria Magdalena dari makam Talpiot bukan ibu dari Yesus, dan juga bukan saudara kandung perempuannya. Bisa jadi, karena ditemukan dalam 1 makam keluarga, Maria Magdalena dalam makam Talpiot ini adalah orang luar yang menjadi isteri sah Yesus; dan bisa jadi juga “Yudas anak Yesus” adalah anak Maria Magdalena juga.

Pada 21 Oktober 2002 di Washington DC, Hershel Shanks, editor kondang dari Biblical Archaelogy Review, dan Discovery Channel, mengumumkan telah ditemukan sebuah osuarium yang berinskripsi Aramaik “Yakobus, anak Yusuf, saudara dari Yesus.” Osuarium Yakobus ini, yang dimiliki Oded Golan (pedagang barang antik kelahiran Tel Aviv), segera terkenal ke seluruh dunia. Osuarium ini, ketika sudah kembali ke Israel sehabis dipamerkan antara lain di Royal Ontario Museum disita oleh OKI, dan Oded Golan ditangkap dengan sebuah tuduhan telah memalsukan inskripsi “saudara dari Yesus” pada osuarium itu berdasarkan hasil tes isotop yang telah dilakuan Prof. Yuval Goren, pakar geologi dari Universitas Tel Aviv. Dalam artikel Amos Kloner (‘Atiquot, 1996) memang ditulis bahwa osuarium Yakobus itu “tidak berinskripsi” (Plain); tetapi identifikasi ini dibuat tergesa-gesa di lapangan (“field description”) dan bisa keliru, tidak dihasilkan dari penelitian yang seksama. Joseph Gat (seorang penggali makam Talpiot), misalnya, sebulan setelah penemuan makam itu di tahun 1980, telah keliru menyatakan bahwa hanya ada empat osuarium dari makam Talpiot yang berinskripsi, padahal sebetulnya (sesudah diteliti kembali) ada enam osuarium berinskripsi. 

Namun, pada Januari 2007, di ruang sidang pengadilan Israel atas Oded Golan, Prof. Goren menyatakan bahwa pada sedikitnya dua huruf dari nama “Yeshua” (=Yesus) pada inskripsi Aramaik di osuarium Yakobus ini terdapat lapisan mineral patina yang asli dan berusia tua. Dengan demikian, keseluruhan frase “saudara dari Yesus” pada osuarium Yakobus itu harus dinyatakan asli.

Sementara ini, Tabor dan Jacobovici, berpendapat, ada kemungkinan bahwa 1 osuarium yang telah hilang dari makam Talpiot itu adalah osuarium Yakobus. Shimon Gibson sendiri berpendapat, ada kemungkinan bahwa osuarium Yakobus adalah osuarium ke-11 dari makam Talpiot yang telah dicuri dari makam ini sebelum ekskavasi dilakukan pada 1980. Ketika diukur kembali, didapati ukuran osuarium Yakobus ini kurang lebih sama dengan ukuran osuarium yang telah hilang itu. Penelitian lapisan mineral patina pada osuarium Yakobus yang telah dilakukan, yang dibandingkan dengan patina-patina dari osuarium-osuarium lain dari makam Talpiot dan dari makam-makam lain di sekitarnya yang dipilih secara acak, menunjukkan kesamaan “sidik jari” mineral patina dari osuarium Yakobus dengan “sidik jari” mineral patina dari osuarium-osuarium lainnya dari makam Talpiot. Ini memastikan bahwa osuarium Yakobus berasal dari makam Talpiot. Sisa-sisa tulang-belulang Yakobus masih tersedia. Jika pengujian DNA diizinkan oleh OKI untuk dilakukan pada “human residue” Yakobus (hingga kini OKI masih belum memberi izin), dan jika terbukti bahwa DNA Yakobus “match” dengan DNA Yesus (yang sudah diketahui), maka jelas akan tidak terbantahkan lagi bahwa makam keluarga di Talpiot itu adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth, Yesus yang mempunyai saudara satu ayah, yang bernama Yakobus, sebagaimana dicatat baik oleh tradisi Kristen (Galatia 1:19; Markus 6:3) maupun oleh Flavius Yosefus, sejarawan Yahudi (Antiquities 20.200).

Beberapa sanggahan

Sejak ekskavasi 1980, nama-nama pada osuarium-osuarium makam Talpiot dipandang oleh sejumlah arkeolog Israel sebagai nama-nama yang umum dipakai di Yerusalem pra-tahun 70. Sifatnya sebagai nama-nama umum inilah yang telah lama dijadikan alasan oleh banyak pakar Kristen untuk menyanggah pendapat bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth. Tetapi, Jacobovici, Pellegrino, dan James D. Tabor, berpendapat bahwa terkumpulnya nama-nama anggota keluarga Yesus dalam makam Talpiot sebagai satu cluster, adalah suatu kejadian unik, yang belum pernah ditemukan sebelumnya dalam suatu situs galian arkeologis yang terlokasi dan terkontrol. Pandangan mereka ini didukung oleh kajian statistik yang memanfaatkan teori probabilitas, dan yang juga memperhitungkan baik demografi kota Yerusalem pra-tahun 70 (berpenduduk antara 25.000 -75.000 orang—dibuat rata-rata menjadi 50.000 orang) maupun data nama-nama yang telah dicatat yang berasal dari semua makam yang telah ditemukan di kawasan-kawasan perbukitan kota Yerusalem.

Menurut pakar statistik dari Universitas Toronto, Prof. Andrey Feuerverger, munculnya cluster atau kumpulan keempat nama saja yang berkaitan dengan Yesus (“Yesus anak Yusuf”, “Maria”, “Maria Magdalena” dan “Yoses”) dalam satu makam, dalam konteks kota Yerusalem pada periode Bait Allah Kedua akhir, adalah suatu kejadian yang unik, dengan peluang 1:600. Artinya: dari 600 kasus, hanya akan ada 1 kemungkinan kasus seperti kasus makam Talpiot. Jika osuarium Yakobus dimasukkan ke dalam makam Talpiot, maka, menurut Feuerverger, peluangnya berubah menjadi 1:30.000. Artinya: dari 30.000 kasus, hanya akan ada 1 peluang kasus yang seperti kasus makam Talpiot. Angka-angka statistik ini menunjukkan betapa uniknya makam Tapiot ini.

Atas permintaan James D. Tabor, ahli statistik John Koopmans juga telah menghitung peringkat keunikan makam Talpiot sebagai makam keluarga. Penduduk kota Yerusalem pra-tahun 70 adalah (angka rata-rata) 50.000 orang. Jika penduduk kota Yerusalem periode ini dihitung sebesar tiga puluh kali angka rata-rata ini, dan setiap keluarga dipandang memiliki rata-rata enam orang, maka peluang bagi munculnya enam nama Maria, seorang Maria yang lain, Yesus anak Yusuf, Yudas anak Yesus, Yoses, dan Matius, dalam satu keluarga, adalah 1:253.403. Artinya, dari 253.403 keluarga (untuk total penduduk 1.520.418 [= 6x253.403]), kombinasi keenam nama ini hanya muncul satu kali. Jika osuarium Yakobus dimasukkan ke dalam makam Talpiot, maka peluang bagi munculnya tujuh nama Maria, seorang Maria yang lain, Yesus anak Yusuf, Yudas anak Yesus, Yoses, Matius, dan Yakobus anak Yusuf saudara Yesus, dalam satu keluarga, adalah, dalam perhitungan Koopmans, 1:42.723.672. Artinya, hanya akan ada satu makam keluarga seperti makam Talpiot dari 42.723.672 keluarga. Angka-angka statistik ini muncul dengan pengandaian penduduk kota Yerusalem tiga puluh kali angka rata-rata yang sebenarnya. Jadi, kasus makam keluarga Yesus di Talpiot ini sangat unik. Tidak akan ada lagi kasus semacam makam Talpiot.

Sanggahan lainnya adalah tidak mungkin makam Talpiot makam keluarga Yesus, sebab di dalam PB tidak ada satu pun petunjuk yang menyatakan bahwa Yesus mempunyai anak. Ini adalah sebuah argumentum e silentio yang keliru. Perjanjian Baru tidak menyebut, sebagai contoh, nama-nama Philo, Rabbi Hillel, Flavius Yosefus, Hanina ben Dosa, Apollonius dari Tyana. Tetapi, semua orang ini adalah orang-orang yang nyata hidup dalam dunia ketika kekristenan baru lahir. Selain itu, harus juga dipertimbangkan adanya rujukan-rujukan kepada “murid yang dikasihi” dalam Injil Yohanes, yang digambarkan “bersandar pada Yesus di sebelah kanan-Nya” pada waktu perjamuan malam (Yohanes 13:23) dan yang keselamatannya dicemaskan oleh para murid Yesus (Yohanes 21:20-23); dan juga rujukan dalam Injil Markus kepada “seorang muda” yang berlari “dengan telanjang” ketika Yesus ditangkap (Markus 14:51-52)—Apakah tidak mungkin, bahwa rujukan-rujukan tersamar ini sebetulnya mengacu kepada anak Yesus, berusia belasan tahun, yang identitas sebenarnya harus dirahasiakan mengingat Roma baru saja menumpas sebuah gerakan messianik dengan menyalibkan sang pemimpannya, Yesus dari Nazareth, yang mengklaim diri “Raja orang Yahudi”? Kalau kemungkinan ini diterima, maka Yesus harus dipandang menikah pada usia muda, 20 tahun, sebagaimana kerap terjadi dalam suatu masyarakat agraris di Timur Tengah kuno.

Satu dukungan lagi bagi kemungkinan Yesus kawin (dan mempunyai anak) adalah teks yang ditulis oleh rasul Paulus dalam 1 Korintus 7:7-8. Di situ, Paulus menulis, ”Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; ....Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.” Konteks tulisan Paulus ini adalah perbincangannya mengenai hal kawin dan hal tidak kawin. Dalam ayat 10 Paulus menunjuk kepada Yesus sebagai sumber wibawa (“tidak, bukan aku, tetapi Tuhan perintahkan,...”), ketika ia melarang seorang isteri menceraikan suaminya. Tetapi ketika sebelumnya (ayat 7-8) dia berbicara perihal tidak kawin, Paulus tidak menyebut Yesus sebagai contoh atau teladan, melainkan dia menunjuk kepada dirinya sendiri. Ini menunjukkan Paulus mengetahui kalau Yesus itu, dalam hal hidup tidak kawin, tidak dapat dijadikan contoh. Ini menyiratkan, Paulus tahu kalau Yesus itu kawin. Seandainya Yesus tidak kawin, pasti ia akan menunjuk kepada Yesus sebagai sebuah contoh dan teladan hidup tidak kawin.

Sanggahan berikutnya adalah bahwa karena keluarga Yesus dari Nazareth adalah keluarga miskin yang tinggal di Galilea, maka mustahil mereka bisa memiliki sebuah makam keluarga di kota Yerusalem; kalau pun keluarga Yesus mampu membeli sebuah makam keluarga, makam ini pastilah sederhana dan berlokasi di Nazareth, bukan di Yerusalem.

Dibandingkan makam-makam lain di kawasan dekat Yerusalem, makam Talpiot itu bersahaja dan sempit, dengan ukuran 3x3 meter persegi, dan dengan tinggi kurang dari 2 m. Makam semacam ini dapat disediakan oleh para pengikut perdana Yesus. Sepeninggal Yesus, mereka memusatkan pergerakan messianik mereka di Yerusalem dengan dipimpin oleh Yakobus (wafat tahun 62), saudara Yesus, yang semasa Yesus masih hidup telah menetap di Yerusalem. Di Betania, tidak jauh dari Yerusalem, berdiam para pengikut setia Yesus, seperti Maria, Marta dan Lazarus, yang dapat menyediakan sebuah makam keluarga.

Pada situs-situs galian arkeologis di sekitar Bukit Zaitun (dilakukan oleh arkeolog-arkeolog Mancini, Bagatti dan Milik, serta Sukenik dan Avigad) yang tidak jauh dari Kota Lama Yerusalem, khususnya pada situs suci Kristen Dominus Flevit (= “Tuhan menangis”), telah ditemukan ratusan kubur yang berisi banyak osuarium yang berinskripsi nama-nama Yahudi-Kristen (Jack Finegan, Archaelogy of the New Testament, 359-374). Nama-nama ini adalah nama-nama para murid perdana Yahudi Yesus, yang tetap melanjutkan gerakan messianik yang dipusatkan di Yerusalem sebelum kota ini dihancurkan pada tahun 70 M oleh Roma.

Dalam Markus 6:29 dikatakan bahwa ketika murid-murid Yohanes Pembaptis mendengar sang guru mereka sudah dibunuh oleh Herodes Antipas, mereka segera datang mengambil mayatnya lalu meletakkannya dalam sebuah kubur. Hal yang serupa terjadi juga pada mayat Yesus. Yusuf orang Arimatea, seorang “yang telah menjadi murid Yesus juga” (Matius 27:57), memberikan sebuah makam miliknya sendiri “yang digali di dalam bukit batu” untuk penguburan sementara mayat Yesus (karena hari Sabat sebentar lagi tiba!) (Markus 15:42-47). Dari kubur ini, kaum keluarga Yesus kemudian memindahkan mayat Yesus ke makam yang permanen yang disediakan para pengikut pergerakan messianik Yesus yang kini berpusat di Yerusalem. Telah dipindahkannya mayat Yesus ke kubur lain inilah yang menyebabkan kubur pertama itu kosong. Ketika waktunya telah tiba (satu tahun kemudian), tulang-belulang Yesus dimasukkan ke dalam osuarium.

Sanggahan lainnya bercorak apologetis teologis, bukan historis, datang dari kalangan Kristen evangelikal. Bagi kalangan ini, di bumi ini tidak mungkin ada sisa-sisa jasad Yesus, sebab Yesus sudah bangkit dengan raganya dan sudah naik ke surga juga dengan keseluruhan raganya (daging, tulang, organ-organ dalam, dan semua lainnya). Teologi mereka pakai untuk menghambat penyelidikan interdisipliner terhadap makam Talpiot dan osuarium-osuarium yang terdapat di dalamnya. Kalangan inilah, dengan literalisme biblis mereka, yang sama sekali tidak mau diperhatikan oleh para pakar peneliti makam Talpiot.

Penutup

Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah objektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis PB sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi. Dalam metafora, sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman subjektif, bukan dalam realitas objektif. Yesus bangkit, ya, tetapi bangkit di dalam memori dan pengalaman hidup dihadiri dan dibimbing oleh Rohnya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti: dia telah diangkat dalam roh, untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani surgawi. Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus lenyap dari makamnya. Untuk keduanya terjadi, yang dibutuhkan adalah tubuh rohani (lihat 1 Korintus 15:35-58), bukan tubuh fisikal protoplasmik.


by Ioanes Rakhmat