Showing posts with label Kapitalisme Global dan Agama-agama. Show all posts
Showing posts with label Kapitalisme Global dan Agama-agama. Show all posts

Friday, November 11, 2011

Kapitalisme Global dan Islam Liberal
Sebuah Perenungan (2)

oleh Ioanes Rakhmat

Dalam renungan kedua tentang kapitalisme global dan agama-agama, marilah kita awali juga dengan sebuah pertanyaan berikut, yang lalu akan disusul dengan jawaban-jawaban analitisnya.

Mengapa kaum kapitalis Kristen tak mendukung Islam fundamentalis, padahal mereka pendukung dana kuat kekristenan fundamentalis?

Di seluruh dunia yg sudah mengalami demokratisasi, Islam fundamentalis dipandang sebagai sebuah ancaman serius bagi kekristenan fundamentalis.

Karena liberalisasi ekonomi dunia sama dengan Westernisasi dan sama dengan kristenisasi, maka kaum kapitalis Kristen hanya mendukung kekristenan yang agresif dan ekspansif.

Di mana-mana dan kapanpun juga, lembaga keagamaan yang agresif dan ekspansif selalu bermental fundamentalis dengan misi menaklukkan dunia di kakinya.

Westernisasi, yang sama dengan demokratisasi yang juga sama dengan liberalisasi ekonomi dunia, jauh mudah dilakukan dalam suatu wilayah yang sudah dikristenkan. Ini logis!

Karena dunia dewasa ini diisi juga oleh umat-umat beragama lain, kaum kapitalis Kristen mau tak mau juga harus memperhitungkan eksistensi mereka.

Berkaitan dengan Islam, kapitalis Kristen tak akan bekerjasama dengan Islam fundamentalis yang dipersepsi sebagai suatu ancaman besar bagi Kristen fundamentalis.

Ketika Islam fundamentalis bertemu dengan Kristen fundamentalis di lapangan terbuka, yang selalu terjadi adalah bentrokan, fisik dan ideologis.

Islam fundamentalis bertujuan islamisasi dunia, sama seperti Kristen fundamentalis bermisi mengkristenkan dunia. Keduanya tak akan berdamai.

Islam fundamentalis pro dunia Arab dan ekonomi Arab. Kristen fundamentalis pro dunia Barat dan ekonomi Barat. Dus, benturan dua peradaban.

Mustahil kapitalisme global pro dunia Arab dan ekonomi Arab. Hanya ada satu pilihan buat mereka: pro dunia Barat dan ekonomi Barat!

Setelah menolak Islam fundamentalis, kapitalis Kristen mencari-cari segmen Islam mana yg mereka bisa support dan jadikan kawan demi mencapai tujuan mereka.

Kaum kapitalis Kristen tentu mencari segmen Islam yang memungkinkan kekristenan fundamentalis hidup aman dan leluasa dalam menjalankan misi mereka.

Islam yang mana? Jelas, Islam yang berwajah toleran, eirenik, hanif, pembela HAM, pembela kaum minoritas, pluralist, sekularist, dan liberal.

Islam yang eirenik, yang berwajah damai, memiliki segala sifat yang dipandang kaum kapitalis sejalan atau sama dengan nilai-nilai yang dibela Barat.

Tapi hal ini tidak berarti bahwa Islam yang hanif dan liberal mengambilalih begitu saja Western values supaya mereka dapat dukungan dari kapitalisme global.

Islam yang eirenik dan liberal tahu bahwa gerakan mereka tak akan dapat dukungan ideologis dan finansial dari Arab Saudi yang teokratis dan kikir meskipun kaya raya karena minyak.

Malah dalam hampir semua agenda perjuangan ideologis mereka, Islam yang hanif dan liberal melawan negeri tempat kelahiran agama Islam sendiri.

Kalau Kristen fundamentalis dikenal dengan Westernisasi-nya, maka Islam fundamentalis dikenal giat melakukan Arabisasi atas negeri-negeri non-Arab.

Dus, Islam yang hanif, liberal dan eirenik sangat jelas mengfungsikan diri sebagai sebuah bendungan kokoh atas arus deras Arabisasi dunia non-Arab.

Pada sisi lain, Islam fundamentalis terang-terangan menjadikan diri mereka sebuah bendungan kuat terhadap usaha Westernisasi atas negeri-negeri non-Arab.

Bendungan versus bendungan! Mana bendungan yang tak akan jebol, bergantung pada made in apa.

Nah, supaya tak dituduh bahwa Islam yang eirenik dan liberal hanyalah “kaki-tangan” Barat, mereka mencari dasar-dasar Quranik Islami dari nilai-nilai yang mereka bela.

Tak sedikit kaum Muslim yang eirenik, penjunjung HAM dan pembela pluralisme, berhasil memberikan landasan Islami dan Quranik pada gerakan mereka.

Dus, tuduhan bahwa kaum Muslim yang liberal dan eirenik hanyalah kaki-tangan kapitalisme global berhasil mereka patahkan dan anulir! Plok, plok, plok! Dua jempol untuk mereka!

Jadi, harus ditegaskan bahwa Islam yang berwajah liberal, pluralis dan pendukung HAM adalah Islam yang otentik dan tak kurang sejatinya.

Tapi meskipun gerakan kaum Muslim liberal dan eirenik memiliki dasar kuat dalam Quran dan tradisi Islami (Sunnah), tak berarti mereka adalah Islam puritan.

Islam liberal dan eirenik sama sekali bukan Islam puritan, tapi Islam pembaharu dalam arti sebenarnya kata ini: membaharui Islam!

Kalangan Muslim fundamentalis dan puritan di mana-mana menyebut diri mereka Muslim pembaharu. Ini adalah sebuah penyesatan semantik!

Di mana-mana dan kapanpun juga, setiap puritanisme religius sama sekali bukan gerakan pembaharu, tapi gerakan menghentikan sama sekali gerak maju agama.

Kaum puritan religius, yang dengan keliru sering menyebut diri “pembaharu” (reformer), membuat agama menjadi tumpukan fosil belaka, yang hanya harus dimuseumkan.

Karena dunia kini di mana-mana mengalami pembaruan konstan, tak terbendung, maka Islam masa depan adalah Islam pembaharu dalam arti sebenarnya kata ini.

Meskipun Islam liberal yang eirenik menghadapi perlawanan dan penghambatan kuat dari Islam fundamentalis, masa depan tetap ada di tangan mereka.

So, meskipun kapitalisme global mendukung Islam liberal yang eirenik, juga secara finansial, Islam liberal tetap sebuah gerakan yang berintegritas.

Meskipun membela kelompok-kelompok minoritas religius, Islam liberal tentu sadar dan tahu bahwa banyak agenda gerakan kelompok-kelompok ini yang tak sejalan dengan visi liberal mereka.

Jadi, kelompok-kelompok minoritas religius juga harus tahu diri untuk tidak memperalat Islam liberal demi kepentingan-kepentingan sempit mereka sendiri.

Tapi susah dicegah: kelompok-kelompok minoritas religus akan memakai segala cara untuk menyelamatkan diri mereka, termasuk memperalat kelompok-kelompok lain yang powerful.

Jadi, diperlukan kesadaran kuat dan kecerdasan dalam diri Muslim liberal: tetap bersahabat dengan  kapitalisme global dan kaum minoritas, tapi tak diperalat mereka!

Thursday, November 10, 2011

Kapitalisme Global dan Gereja-gereja Barat
Sebuah Perenungan (1)






oleh Ioanes Rakhmat
 

Perenungan ini baiklah saya mulai dengan sebuah pertanyaan berikut, yang kemudian saya beri jawabannya.

Mengapa di Barat donasi USD lebih banyak mengalir ke lembaga-lembaga gerejawi fundamentalis, tapi tidak ke gereja-gereja liberal?  


Gereja-gereja fundamentalis di Barat banyak yang sejalan dengan kegiatan besar Westernisasi bagian-bagian dunia non-Barat yang umumnya bukan-Kristen.

Gereja-gereja fundamentalis Barat dengan kuat masih memegang amanat untuk mengkristenkan dunia, yang dalam batas-batas tertentu sama dengan Westernisasi dan sama dengan liberalisasi ekonomi. Maka, mudah dipahami, para kapitalis Barat akan mengalirkan donasi USD mereka ke gereja-gereja fundamentalis. Alhasil, gereja-gereja ini jadi kaya raya. 

 
Selain itu, gereja-gereja fundamentalis identik dengan puritanisme, yang mereka  pandang dibutuhkan sebagai benteng gereja dalam menghadapi berbagai bentuk serangan agama-agama lain. Orang Barat yang kaya raya memandang puritanisme yang dijaga kuat dalam gereja-gereja konservatif juga mendukung penguatan kapitalisme global di kawasan non-Barat. Anehnya, kalau kapitalisme memerlukan liberalisasi ekonomi, gereja-gereja  fundamentalis menolak liberalisasi teologi/doktrin. Split personality!

 
Pada pihak lain, gereja-gereja berhaluan liberal sudah tak memiliki program kristenisasi dunia, tapi mengembangkan dialog dan mutual enrichment antaragama yang dipandang kalangan kapitalis Kristen sebagai kegiatan-kegiatan yang hanya memperlemah usaha Westernisasi dunia yang identik dengan kristenisasi global. 


Gereja-gereja liberal dengan konsisten menolak puritanisme, lalu memperjuangkan reformulasi doktrin-doktrin Kristen, mengadopsi sains modern ke dalam worldview mereka, dan memakai pendekatan kritis (criticism) dalam hermeneutik mereka, yang semuanya dinilai dengan keliru oleh kaum fundamentalis sebagai hal-hal yang akan menghancurkan agama Kristen.

Fanatisme yang menggebu yang dibutuhkan untuk kristenisasi dunia tak ditemukan dalam gereja-gereja liberal, sehingga gereja ini tak diminati kapitalis Kristen. Padahal, ironisnya, banyak orang Kristen liberal mendukung liberalisasi ekonomi dunia, dan menolak sistem ekonomi sosialis/terpusat. 


Kaum Kristen liberal mendukung ekonomi liberal karena sistem ini dipandang sebagai sebuah sistem yang menghargai kemandirian individu, kompetisi bebas, dan demokratisasi. Sebetulnya, para pembela kapitalisme global juga mendukung kemandirian/kebebasan individu, kompetisi bebas, dan demokratisasi, yang dipandang sebagai Western values dan tulang punggung kapitalisme global. Tapi kekristenan liberal ditolak para kapitalis Kristen karena alasan lain: kaum liberal tak mau mengkristenkan dunia dan menolak puritanisme.
 
So actually kaum kapitalis Kristen mengidap split personality: membela kebebasan individu, kompetisi bebas, dan demokratisasi di bidang ekonomi, tapi mereka juga menginginkan dunia ditaklukkan di bawah bendera Kekristenan yang oleh mereka dipandang dengan keliru sebagai fondasi utama peradaban Barat. Bisa diungkap demikian: dalam wilayah ekonomi, kaum kapitalis Kristen sangat liberal; tapi dalam wilayah agama mereka anti-liberal dan picik. 

 
Patut diingat, banyak yang ideally eranggapan bahwa kaum puritan Kristen sangat kuat memegang etika Kristen, jadi mereka pasti kritis terhadap sifat tamak para pelaku bisnis dalam sistem ekonomi kapitalis. Tapi actually justru banyak sekali dana kapitalis Kristen yang mengalir ke gereja-gereja puritan dan diterima oleh mereka dengan bersyukur kepada Yesus Kristus.


So, belajar dari kaum kapitalis Kristen dan gereja puritan, harus ditegaskan: semakin puritan si A beragama, semakin pecah jiwa dan kepribadiannya.

 
Memang di Indonesia banyak orang yang mengaku hamba Tuhan, dalam sekian konferensi lokal, nasional dan internasional, menolak dan menyerang kapitalisme global. Tapi, penyerangan ini timbul karena romantisisme yang ditinggalkan teologi pembebasan Amerika Latin dalam benak mereka yang mereka dalami sewaktu mereka masih kuliah dulu. Mereka ironisnya membutakan diri pada kenyataan bahwa gereja yang mereka sedang pimpin hidup hampir menyeluruh dari uang kaum kapitalis Kristen. Pada masa kini mustahil menemukan wilayah kekristenan Barat yang bebas dari kapitalisme global, yang sedang membelit gereja-gereja Barat di seluruh dunia dengan tentakel-tentakelnya. Setelah konferensi usai, mereka  kembali ke gereja masing-masing, lalu menyusun jadwal pelawatan ke rumah-rumah warga. Warga yang kaya ada di urutan pertama. 


Melihat kondisi dewasa ini yang tak bersahabat dengan Kristen liberal, tapi sangat bersahabat dengan Kristen konservatif, muncul sebuah pertanyaan: Masih adakah harapan di masa depan untuk orang Kristen liberal dapat mengarahkan jalannya dunia ke arah ideal-ideal yang dicita-citakan mereka? 

Hemat saya harapan tetap ada, bahkan mungkin sekali sangat besar. Mengapa? Dunia di masa depan akan makin kompleks, dan pertanyaan-pertanyaan baru yang memerlukan jawaban-jawaban baru yang kreatif juga akan terus bermunculan. Orang Kristen konservatif tidak akan bisa mentolerir keadaan itu; mereka akan sangat reaktif, dan sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan baru itu. Tetapi orang Kristen liberal akan bisa bersikap pro-aktif, dan akan sanggup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan baru yang terus bermunculan, bukan makin berkurang. 

Kenapa? Karena orang Kristen liberal pada prinsipnya memiliki sangat banyak jawaban atas satu pertanyaan, sedangkan orang Kristen konservatif hanya punya satu jawaban atas segala pertanyaan. Selain itu, orang Kristen liberal pada prinsipnya sanggup mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru di dunia yang terus berubah, sedangkan orang Kristen konservatif sudah terindoktrinasi untuk tak boleh bertanya dan hidup dalam ilusi bahwa dunia masa kini bisa diubah menjadi seperti dunia abad-abad pertama ketika kekristenan baru dilahirkan.   

(bersambung)


Baca juga:
Kapitalisme Global dan Islam Liberal