Kini
para saintis memikirkan kemungkinan lain tentang faktor utama penyebab
terhantamnya permukaan planet Bumi oleh meteor-meteor atau komet-komet besar yang menimbulkan kemusnahan massal di mana-mana.
Setelah dihitung-hitung, ditemukan bahwa kemusnahan-kemusnahan besar yang
pernah melanda Bumi terjadi secara periodik, yakni dalam interval 30 juta
tahunan. Sampai saat ini, sudah terjadi Lima Kemusnahan Besar karena bencana
(dinamakan The Big Five),
dan yang terbesar (disebut The
Great Dying) terjadi pada 252 juta tahun lalu, suatu bencana yang
dinamakan Kemusnahan Massal Permian-Triassik yang melenyapkan 9 dari setiap 10 spesies
yang ada di Bumi. Tumbukan meteor besar yang berdampak mematikan pada para
penghuni planet Bumi juga terjadi 66 juta tahun lalu saat sebuah meteor besar
jatuh di Chicxulub, Semenanjung Yucatan, yang mengakibatkan musnahnya nyaris
semua jenis dinosaurus pada kurun tersebut. Tentang kemusnahan dinosaurus ini
dan apa saja faktor penyebabnya, silakan anda baca tulisan saya di sini.
Showing posts with label Dark matter. Show all posts
Showing posts with label Dark matter. Show all posts
Wednesday, April 1, 2015
Sunday, February 15, 2015
Mana yang lebih mungkin bunuh diri, ateis atau teis?
APAKAH KEHIDUPAN MANUSIA ITU SEPERTI KEHIDUPAN SEBUAH MESIN DIESEL?
Mari, kali ini kita tinggalkan data statistik. Kita telaah saja kemungkinan bunuh diri dalam kehidupan normal sehari-hari di antara kalangan ateis dan kalangan teis dari sudut pandang worldview masing-masing. Ini namanya telaah ideologi dan dampak psikologisnya, bukan telaah statistik./1/ Fokusnya kehidupan sehari-hari di antara orang teis dan orang ateis, bukan kasus-kasus ekstrim patologi atau abnormalitas kejiwaan atau kasus-kasus ekstrim terorisme bom bunuh diri yang dilakukan baik atas nama teisme maupun atas nama ateisme.
Orang beragama umumnya melihat hidup ini bukan sekadar hidupnya sebuah mesin biologis yang dinamakan manusia, tetapi hidupnya suatu organisme mulia ciptaan Allah yang punya makna, maksud dan tujuan besar―makna, maksud dan tujuan yang juga transendental, bukan cuma natural.
Hidup bagi mereka tidak hanya di Bumi ini sekarang, tetapi juga nanti di alam lain yang abadi, alam transenden, bersama Tuhan Allah mereka.
Sejalan dengan makna, maksud dan tujuan kehidupan mereka yang mulia dan transendental ini, mereka juga harus berbuat baik sebanyak-banyaknya sementara masih hidup dalam dunia ini, berbuat baik terhadap diri mereka sendiri dan terhadap sesama mereka, bahkan terhadap seisi dunia ini.
Mereka melihat diri sebagai wakil-wakil Allah yang tangguh untuk merawat dunia ini, sebagai para penatalayan ilahi. Pahala besar sedang menunggu mereka di akhirat.
Mereka, dengan demikian, memandang tindakan bunuh diri adalah dosa, karena melawan Allah yang telah memberi kehidupan dan maknanya yang agung, dan melawan kodrat mereka sendiri sebagai insan-insan ciptaan Allah yang mulia dan sebagai wakil-wakil Tuhan di muka Bumi. Bagi mereka, bunuh diri bukanlah pahala, tetapi kutuk dan laknat.
Mari, kali ini kita tinggalkan data statistik. Kita telaah saja kemungkinan bunuh diri dalam kehidupan normal sehari-hari di antara kalangan ateis dan kalangan teis dari sudut pandang worldview masing-masing. Ini namanya telaah ideologi dan dampak psikologisnya, bukan telaah statistik./1/ Fokusnya kehidupan sehari-hari di antara orang teis dan orang ateis, bukan kasus-kasus ekstrim patologi atau abnormalitas kejiwaan atau kasus-kasus ekstrim terorisme bom bunuh diri yang dilakukan baik atas nama teisme maupun atas nama ateisme.
Bagi orang ateis,
organisme manusia itu ibarat sebuah mesin diesel saja! Jika sudah tua lalu rusak, tinggal
dibuang saja, tanpa makna transendental!
Orang beragama umumnya melihat hidup ini bukan sekadar hidupnya sebuah mesin biologis yang dinamakan manusia, tetapi hidupnya suatu organisme mulia ciptaan Allah yang punya makna, maksud dan tujuan besar―makna, maksud dan tujuan yang juga transendental, bukan cuma natural.
Hidup bagi mereka tidak hanya di Bumi ini sekarang, tetapi juga nanti di alam lain yang abadi, alam transenden, bersama Tuhan Allah mereka.
Sejalan dengan makna, maksud dan tujuan kehidupan mereka yang mulia dan transendental ini, mereka juga harus berbuat baik sebanyak-banyaknya sementara masih hidup dalam dunia ini, berbuat baik terhadap diri mereka sendiri dan terhadap sesama mereka, bahkan terhadap seisi dunia ini.
Mereka melihat diri sebagai wakil-wakil Allah yang tangguh untuk merawat dunia ini, sebagai para penatalayan ilahi. Pahala besar sedang menunggu mereka di akhirat.
Mereka, dengan demikian, memandang tindakan bunuh diri adalah dosa, karena melawan Allah yang telah memberi kehidupan dan maknanya yang agung, dan melawan kodrat mereka sendiri sebagai insan-insan ciptaan Allah yang mulia dan sebagai wakil-wakil Tuhan di muka Bumi. Bagi mereka, bunuh diri bukanlah pahala, tetapi kutuk dan laknat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
