Saturday, October 25, 2014

Kapan dinosaurus lenyap, dan mengapa?

“Bahaya tumbukan asteroid atau komet adalah salah satu alasan terbaik manusia untuk masuk ke angkasa luar.”
Arthur C. Clarke


by Ioanes Rakhmat

Kalangan literalis kreasionis Kristen dengan enteng menyatakan bahwa karena “segala binatang melata dan segala jenis binatang liar” diciptakan Allah bersamaan dengan penciptaan manusia di hari keenam menurut teks Kejadian 1:24-31, maka dinosaurus, sebagai salah satu spesies binatang melata (reptilia), tentu hidup bersama manusia. Selanjutnya, kata mereka, karena Nabi Nuh telah membawa masuk sepasang dinosaurus (dan banyak hewan lain) ke dalam bahtera (yang dibuatnya selama ratusan tahun) ketika air bah melanda dunia sebagai hukuman Allah terhadap umat manusia, maka hewan besar ini luput dari kebinasaan. Bahkan mereka berkeyakinan bahwa Yesus juga menunggang seekor dinosaurus ke manapun dia pergi. Keyakinan ini diajarkan mereka bahkan kepada anak-anak sekolah minggu di gereja-gereja mereka.

Hanya kalangan literalis dalam semua agama yang akan memperlakukan kitab-kitab suci mereka sebagai buku sejarah yang tidak bisa salah. Posisi literalis ini jelas salah sama sekali. Kitab suci apapun bukanlah buku sejarah dan juga bukan ensiklopedia ilmu pengetahuan. Pendapat-pendapat mereka tentang banyak hal dalam dunia ini mereka bangun berdasarkan teks-teks kitab-kitab suci yang mereka pahami secara literalis (harfiah). Jika pendapat-pendapat mereka ini diperhadapkan pada pandangan-pandangan ilmu pengetahuan akan terlihat bahwa pendapat-pendapat mereka salah sama sekali. Begitu juga halnya dengan pendapat mereka bahwa berbagai jenis dinosaurus pernah hidup bersama manusia. 


Narasi syahadat Yahudi

Sebelum masuk ke ilmu pengetahuan yang menyatakan bahwa berbagai jenis dinosaurus telah lenyap lebih dari 60 juta tahun yang lampau, baiklah saya perlihatkan lebih dulu bahwa teks Kejadian 1:1-2:4a sama sekali bukanlah teks ilmu pengetahuan atau teks yang sejalan dengan ilmu pengetahuan.

Seluruh Kejadian 1:1-2:4a sama sekali bukan sebuah uraian sejarah kronologis literalis tentang hal apa saja yang Allah telah ciptakan selama enam hari, melainkan, dilihat dari jenis sastranya, sebuah narasi syahadat yang disusun para imam Yahudi ketika bangsa Israel sedang mengalami pembuangan di Babilonia (587-538 SM), suatu negeri yang penduduknya mempercayai astrologi dan menyembah banyak benda langit khususnya Matahari dan Bulan sebagai dewa-dewa mereka.

Untuk bangsa Israel tidak terjatuh ke dalam kepercayaan dan penyembahan berhala semacam ini, para imam itu menyusun syahadat ini dengan memakai sistem kalender Babilonia yang membagi 1 minggu ke dalam 7 hari sebagai bingkai narasi. Di dalam syahadat ini diikrarkan dengan sangat kuat bahwa semua hari adalah sama baik (melawan astrologi Babilonia), dengan puncaknya hari ketujuh, hari Sabat, sebagai hari yang dikuduskan Allah, dan bahwa Matahari dan Bulan hanyalah benda-benda langit yang Allah telah ciptakan untuk masing-masing memberi terang pada siang hari dan pada malam hari, bukan dewa-dewa yang harus disembah (melawan agama Babilonia). 

Adanya rujukan ke hari Sabat dengan kuat menyatakan bahwa syahadat dalam Kejadian 1:1-2:4a adalah syahadat khas Yahudi, bukan syahadat yang berlaku universal, dan juga sama sekali bukan sebuah laporan sejarah faktual tentang proses terciptanya “langit dan bumi”, melainkan sebuah syahadat yang disusun untuk melawan agama Babilonia. 

Dilihat dari sudut astronomi, ya semua hari dalam satu minggu sama alamiahnya, tidak ada satu hari pun yang lebih istimewa dibandingkan hari-hari lainnya, dan hari Sabtu sama saja kedudukannya dengan hari-hari lainnya. Sabat menjadi hari yang istimewa hanya dalam dunia kepercayaan subjektif Yahudi saja. Kalau yang dipandang terpenting adalah hari pertama saat peletakan batu pertama oleh Allah, maka hari yang kudus adalah hari pertama, hari Minggu. Kalau yang dinilai terpenting adalah hari Allah menyelesaikan pembangunan langit dan Bumi, yakni di hari ketujuh, maka hari yang kudus adalah hari ketujuh, hari Sabtu (Sabat). Tinggal dirasionalisasi saja dengan sebuah mitos teologis.    


Bentrok dengan ilmu pengetahuan

Bahwa Kejadian 1:1-2:4a sama sekali tidak bisa dipahami secara literal, juga sangat nyata dari pengetahuan kita sekarang bahwa jagat raya (dalam perikop ini disebut sebagai “langit dan bumi”) sama sekali tidak tercipta dalam 6 x 24 jam (atau: 6 x 1000 tahun, jika 1 hari Alkitab dianggap sama dengan 1000 tahun). Sejak saat terbentuknya jagat raya kita 13,8 milyar tahun yang lalu, saat yang disebut sebagai big bang, jagat raya ini sekarang masih terus mengembang dengan makin cepat, dan masih terus mengalami evolusi. Fakta bahwa jagat raya kita terus mengembang adalah fakta objektif, ada bukti-bukti saintifiknya.

Dalam jagat raya kita, banyak bintang lenyap dalam suatu ledakan yang disebut supernova, tapi pada pihak lain banyak bintang baru juga terbentuk. Banyak galaksi lenyap dalam suatu tabrakan dengan galaksi-galaksi lain, yang kemudian membentuk galaksi-galaksi baru. Hingga saat ini dan terus ke depan untuk waktu yang sangat panjang, jagat raya kita masih belum selesai terbentuk, masih aktif membentuk dirinya sendiri, masih mengalami evolusi kosmologis, tampaknya tanpa akhir, dan tanpa Allah apapun mengontrolnya, sebab segala hal yang berlangsung dalam evolusi kosmik ini dengan sangat baik dapat dijelaskan oleh sains modern sebagai kejadian-kejadian yang sepenuhnya alamiah, dan sama sekali tidak ilahi, tidak melibatkan makhluk supernatural apapun.

Selain itu, dari sains kosmologi/astronomi/fisika, kita tahu Matahari dan Bulan menjadi benda-benda penerang hanya dalam konteks sistem matahari kita (solar system), tidak berlaku bagi seluruh jagat raya. Kita juga tahu, ada tak terhitung banyaknya sistem-sistem matahari lain dalam jagat raya kita, dari sistem yang bintang mataharinya cuma satu (seperti sistem matahari kita) sampai sistem dengan banyak bintang mataharinya, dua atau tiga atau empat dan seterusnya.

Nah, pengetahuan kita yang menakjubkan mengenai jagat raya ini, sama sekali tidak diketahui para imam Yahudi yang menyusun syahadat Yahudi mereka dalam Kejadian 1:1-2:4a. Jadi, sangat salah dan sangat naif, dan sangat tidak relevan, jika kesaksian dalam kitab Kejadian ini diperlakukan sebagai sebuah laporan terbentuknya jagat raya secara faktual. Literalisme sama sekali tidak boleh dipakai dalam menafsirkan teks-teks apapun dalam kitab suci anda.

Selain itu, karena kalangan literalis kreasionis Kristen tak pernah memikirkan dengan seksama teks apapun dalam kitab suci mereka, mereka tak bisa melihat betapa mustahilnya pohon-pohon bisa bertunas dan berdaun pada hari ketiga (Kejadian 1:11-13), sementara Matahari yang cahayanya dibutuhkan daun-daun untuk fotosintesis baru diciptakan pada hari keempat (Kejadian 1: 14-19). Fotosintesis adalah suatu aktivitas fisika kimiawi untuk menciptakan makanan (glukosa, misalnya) dengan menggunakan hanya energi Matahari untuk mengikat CO2 dan air; dari proses ini oksigen terlepas sebagai limbah dan dengan bertahap memenuhi atmosfir. Beranekaragam ganggang atau algae yang hidup di air tawar dan di laut sejak planet Bumi mulai memiliki air yang berlimpah juga menyumbang kandungan oksigen yang sangat besar di atmosfir Bumi, juga lewat fotosintesis.

Selain itu, para kreasionis juga tidak bisa melihat betapa mustahilnya menyebut hari-hari sebagai “hari pertama”, “hari kedua” dan “hari ketiga”, sementara sang Matahari yang terbitnya umumnya dipakai untuk menentukan tibanya hari yang baru, baru diciptakan pada hari keempat.

Masih banyak hal yang bisa saya perlihatkan bahwa memahami teks Kejadian 1:1-2:4a secara literalis adalah sebuah kesalahan fatal dalam memahami kesaksian para imam Yahudi dalam bagian teks kitab pertama dalam Alkitab ini. Untuk sementara ini, cukuplah sudah saya memperlihatkan masalah-masalah yang berkaitan dengan penafsiran kalangan kreasionis ini.

Pendek kata, adalah sesuatu yang tidak waras, insane, jika ada orang beranggapan bahwa dinosaurus hidup bersama Nuh di zaman purbakala, atau ditunggangi Yesus dari Nazareth di abad pertama Masehi. 


Mengapa tidak waras? Karena dari sains tahulah kita bahwa berbagai jenis dinosaurus sudah hidup ratusan juta tahun lamanya di planet Bumi sebelum akhirnya lenyap dari muka Bumi 65,5 juta tahun yang lalu, ketika planet Bumi kita dihantam sebuah meteor raksasa di suatu kawasan yang sekarang dikenal sebagai Meksiko. 

Ada pada kita fosil-fosil beranekaragam dinosaurus, yang tertua adalah fosil dinosaurus yang diberi nama Nyasasaurus parringtoni yang dipastikan hidup 243 juta tahun lalu./1/ Selain itu, kita kini juga sudah mempunyai sel-sel darah merah dan asam amino (unsur esensial protein) yang ditemukan dalam delapan fosil tulang kuku/cakar dinosaurus teropoda yang berasal dari kurun 75 juta tahun lalu, yang berhasil digali di Amerika Utara.

Dua peneliti tulang kuku teropoda ini, Sergio Bertazzo dan Susie Maidment, lebih jauh menegaskan bahwa “adalah mungkin suatu saat di masa depan fragmen-fragmen DNA juga akan ditemukan di dalam sebuah fosil dinosaurus yang terawetkan dengan luar biasa.” Maidment juga menyatakan bahwa “Dalam sepuluh hingga lima belas tahun ke depan, kita akan dapat mengetahui lebih banyak tentang dinosaurus ketimbang yang dimungkinkan yang kita pernah pikirkan, yakni informasi tentang fisiologi dan rupa atau wujud mereka, yang kita tidak akan pernah ketahui hanya dari tulang-belulang saja. Penemuan kami ini sesungguhnya menunjukkan potensi-potensi dari apa yang dapat terawetkan jika kita mencarinya di tempat yang benar.”/2/ 


Fosil tulang kuku teropoda usia 75 juta tahun yang berisi sel-sel darah merah dan protein


Di atas saya sudah menyebut kurun waktu puluhan juta hingga ratusan juta tahun lalu di planet Bumi. Bagaimana dengan teks-teks Alkitab? Dari sejumlah teks dalam Alkitab, kita tahu bahwa penulis-penulis Alkitab menganggap usia planet Bumi baru 6.000 hingga 10.000 tahun saja, jika dihitung dari zaman kita di abad ke-21; inilah pandangan yang disebut sebagai pandangan kreasionis Bumi berusia muda. Pandangan ini sudah diajukan berabad-abad lampau. Saya perlu menyinggungnya sepintas.

Menurut seorang literalis Katolik yang hidup di abad ke-17, uskup agung Almargh yang bernama James Usher, setelah dia menghitung-hitung hari-hari, kejadian-kejadian dan silsilah-silsilah yang dikisahkan dalam Alkitab (baginya Alkitab adalah sebuah kitab sejarah yang ajaib dan serba akurat), jagat raya atau “langit dan Bumi” diciptakan Allah persis pada hari Minggu tanggal 23 Oktober 4004 SM. Jadi, sekarang ini di abad ke-21 jagat raya baru berusia 6.000 tahun. 

Tetapi menurut sains modern, jagat raya kita yang tercipta lewat big bang sudah berusia 13,8 milyar tahun. Sistem Matahari kita sendiri, dus juga planet Bumi, sudah berumur 4,54 milyar tahun. Selama ini dipandang bahwa kehidupan sangat sederhana pertama kali muncul di Bumi 3,8 milyar tahun lalu, yang selanjutnya berevolusi tahap demi tahap, dari sel tunggal yang sederhana berevolusi menjadi sel majemuk dengan strukur tubuh yang makin kompleks. Tetapi, baru-baru ini suatu tim pakar geokimia dari UCLA telah menemukan bukti-bukti bahwa sangat mungkin kehidupan sederhana telah muncul di planet Bumi setidaknya 4,1 milyar tahun lalu. Kehidupan sederhana yang berhasil ditemukan ini terkandung dalam grafit atau carbon murni (yang mencakup carbon-12 hingga carbon-13) yang sudah memiliki kemampuan melakukan fotosintesis. Sudah kita ketahui bahwa carbon adalah unsur esensial kehidupan./3/ 

Nah, kalau pendapat James Usher diikuti, berarti Homo sapiens baru muncul di Bumi ya juga kurang lebih 6.000 tahun yang lalu. Atau kita bulatkan saja, baru muncul 10.000 tahun lalu. Itu berarti, dalam pandangan kalangan kreasionis, Adam dan Hawa diciptakan pada kurun yang tidak lebih tua dari 10.000 tahun lalu, langsung jadi sebagai dua sosok makhluk dewasa, tanpa melewat kurun sebagai janin-janin, dus mereka pasti tidak memiliki pusar. Rabalah perut anda dan coba rasakan, apakah anda memiliki sebuah pusar atau tidak. 

Tetapi dari ilmu pengetahuan, yang memakai bukti paleo-DNA mitokondrial, kita tahu bahwa Homo sapiens muncul 300.000 tahun lalu di Afrika, bukan di Taman Eden di kawasan Mesopotamia 10.000 tahun lalu. Kalau kita telusuri sedikit jauh ke belakang, anekaragam hominid yang menjadi moyang terdekat Homo sapiens muncul 400.000 tahun lalu.

Anda tentu langsung saja bisa melihat, bahwa dalam hal-hal yang sudah diajukan di atas pandangan kalangan kreasionis dan pandangan sains berbenturan tajam. Literalisme telah menjadikan kalangan kreasionis anti-sains, dus membuat mereka bodoh terus-menerus.


Kebodohan yang masih luas!

Jangan anda beranggapan bahwa orang-orang kreasionis yang bodoh itu jumlahnya sedikit. Kebodohan masih menjadi masalah sangat besar di era modern sekarang ini. Sebaiknya anda tahu bahwa menurut hasil polling yang dilakukan Gallup di tahun 2014, sebanyak 42 % orang Amerika terus saja mempertahankan kepercayaan kreasionis mereka bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuknya yang sekarang pada 10.000 tahun yang lalu, suatu kepercayaan yang nyaris tidak berubah selama 3 dasawarsa terakhir ini. Menurut poll yang sama, separuh orang Amerika percaya bahwa manusia berevolusi, tetapi dari jumlah ini lebih banyak yang percaya bahwa Allah memandu proses evolusi yang sudah dan sedang berlangsung. Tetapi persentase yang menyatakan bahwa Allah tidak terlibat dalam proses evolusi ternyata meningkat./4/

Jajak pendapat paling mutakhir YouGov (diadakan 15-17 Juni 2015) menemukan bahwa 41% orang Amerika berpikir dinosaurus dan manusia sudah pasti (14%) atau sangat mungkin (27%) dulu pernah hidup di planet Bumi pada waktu yang sama. 43% berpikir sudah pasti (25%) atau sangat mungkin (18%) dinosaurus dan manusia dulu tidak pernah hidup bersama. 16% merasa tidak pasti. 

Jajak pendapat ini juga menemukan bahwa dari antara orang Amerika yang menyebut diri sebagai “orang-orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali” (born-again Christians, BAC), 56% percaya bahwa manusia dan dinosaurus dulu pernah hidup bersama di planet Bumi. Sedangkan dari antara orang Amerika yang tidak menyebut diri BAC, 51% berpikir bahwa manusia dan dinosaurus tidak pernah hidup bersama di Bumi. Hanya 22% orang Amerika BAC berpikir bahwa manusia dan dinosaurus tidak pernah hidup bersama di planet Bumi.

Jajak pendapat yang sama mendapatkan bahwa 54% orang Amerika berpendapat bahwa pada masa kini tidaklah dimungkinkan untuk menciptakan klon-klon dinosaurus dari DNA yang ditemukan dalam fosil-fosil dinosaurus, sementara 28% percaya hal itu kini dimungkinkan. Selain itu, separuh dari publik juga menyatakan bahwa seandainya Jurrasic Park/World ada betulan sekarang ini, mereka tidak akan mengunjunginya, sementara 40% mengatakan mau mengunjunginya./5/

Berikut ini komentar saya atas hasil survei YouGov itu. Negara Amerika itu jelas negara maju, dan sains-tek di sana terus berkembang dengan sangat cepat dan luas. Boleh dikata, Amerika adalah negara yang sudah melek sains. Penduduknya sudah terbiasa berpikir ilmiah, dan menjalani kehidupan mereka dengan berpedoman pada sains dalam banyak urusan kehidupan mereka. Begitu juga, demokrasi sudah sangat maju dan mapan di sana.

Tetapi data jajak pendapat paling mutakhir yang diajukanYouGov di atas menunjukkan dengan sangat jelas bahwa masih ada sangat banyak orang Amerika (41%) yang mengabaikan hasil-hasil berbagai kajian ilmiah tentang masa kehidupan dinosaurus (ratusan juta tahun lalu) dan kemusnahan mereka (65 juta tahun lalu), alhasil mereka kelihatan bodoh sekali. 


Begitu juga, demokrasi di negeri besar ini berjalan dengan sangat bagus, dan keadaan ini menunjukkan bahwa nyaris seluruh rakyat Amerika sudah mampu berdemokrasi dengan dewasa. Tapi fakta yang menyedihkan adalah ini: demokrasi di sana dijalankan bahkan oleh 41 % orang yang buta ilmu pengetahuan tentang kapan berbagai dinosaurus hidup dan kapan mereka punah, ketika mereka berpikir bahwa manusia dan dinosaurus pernah hidup bersama di planet Bumi, padahal faktanya adalah homo sapiens baru muncul di planet Bumi, persisnya di Afrika Selatan, baru 300.000 hingga 400.000 tahun lalu. 

Jelas jadinya, ilmu pengetahuanlah, bukan kitab suci apapun, yang berwenang menjawab apakah betul dinosaurus pernah hidup bersama manusia. Tulisan ini selanjutnya  mau membentangkan pandangan ilmu pengetahuan tentang hal ini. 


Dinosaurus di zaman modern!

Tapi sebelum kita masuk dengan serius ke dunia ilmu pengetahuan, marilah kita sedikit bersendagurau. Berikut ini adalah tiga gambar dinosaurus berleher panjang yang dinamakan dinosaurus sauropoda. Sejauh ini, telah diidentifikasi, ada tiga jenis dinosaurus yang termasuk keluarga sauropoda, yakni Diplodokus, Apatosaurus, dan Brontosaurus./6/








Bisa jadi kalangan kreasionis benar bahwa dinosaurus sauropoda memang masih hidup bersama manusia, hingga saat ini. Ini ada buktinya. Saya dan tentu anda juga kerap berjumpa dengan dinosaurus sauropoda. Saya sempat mengambil gambar-gambarnya dengan HP saya. Ini dua sauropoda yang hidup di zaman modern, abad ke-21 ini. Kita menamakan dino modern ini Excavator. Kalau dua sauropoda modern ini sedang mengais-ngais mencari makan, jangan sekali-sekali anda mendekati mereka, karena anda berisiko digigit dan ditelan mereka.


Dinosaurus sauropoda Excavator sedang melahap tanah merah


Ini dinosaurus sauropoda Excavator yang berleher cantik

OK, sekarang kita serius masuk ke dunia ilmu pengetahuan, setelah mungkin anda tertawa terbahak-bahak atau malah tersenyum kecut atau malah menjadi stres setelah mengikuti senda-gurau saya di atas.


Temuan-temuan ilmiah

Kemusnahan massal

Melanjutkan kajian yang baru, yang sebelumnya pada 1980 sudah dilaksanakan oleh Luis Alvarez (pemenang Hadiah Nobel dari Universitas California, Berkeley) dan putranya Walter Alvarez, sebuah panel yang terdiri atas 41 orang ilmuwan dari berbagai tempat di muka Bumi (Eropa, Amerika Serikat, Meksiko, Kanada, dan Jepang) pada 4 Maret 2010 melakukan tinjauan ulang menyeluruh atas penelitian yang sudah berlangsung selama 20 tahun untuk mencoba mengonfirmasi apa penyebab “kemusnahan massal Kretaseous-Tertiari (K-T)”./7/
“Kemusnahan massal Kretaseous-Tertiari” (Cretaceous-Tertiary Mass Extinction) adalah sebuah terminologi baku yang menunjuk pada kemusnahan massal spesies-spesies fauna dan flora yang berlangsung dalam suatu kurun geologis yang pendek di muka Bumi pada 65,5 juta tahun yang lalu; terminologi ini juga dikenal sebagai “kemusnahan K-T” . Belakangan, kemusnahan K-T disebut juga kemusnahan Kretaseous-Paleogene, atau kemusnahan K-Pg. Istilah “Tapal batas K-T” (K-T boundary) menunjuk pada suatu lapisan tipis sedimentasi geologis yang ditemukan di berbagai tempat di muka Bumi, yang terbentuk selama kurun kemusnahan K-T.
Menurut kesimpulan panel ini, sebuah asteroid atau komet raksasa dari angkasa luar yang lebarnya sampai 15 kilometer (= 9 mil) yang menumbuk muka Bumi di Chicxulub di Semenanjung Yucatan (sekarang dikenal sebagai Meksiko) adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal mengapa terjadi kemusnahan K-T, mengapa dinosaurus lenyap dari muka Bumi.

Kejadian alam maha dahsyat ini menciptakan suatu “lingkungan seperti neraka” sekitar 65,5 juta tahun yang lalu dan melenyapkan lebih dari separuh spesies di muka Planet Bumi, termasuk dinosaurus, pterosaurus yang seperti burung dan reptilia yang hidup di laut. Para ilmuwan yang melakukan pengkajian ini menganalisis hasil-hasil penelitian 20 tahun terakhir ini yang telah dilakukan para pakar paleontologi, pakar kimia bumi dan atmosfir, pakar pembuat model iklim, pakar geofisika dan pakar sedimentologi, yang terus masih mengumpulkan bukti-bukti mengenai kemusnahan K-T ini.

Asteroid raksasa ini dipikirkan telah menerjang muka Bumi dengan suatu kekuatan yang besarnya satu milyar kali lebih kuat dari kekuatan bom atom yang pernah dijatuhkan di Hiroshima. Tabrakan yang kekuatannya tak terbayangkan ini menimbulkan api maha besar di mana-mana, gempa bumi di mana-mana yang berkekuatan lebih dari 10 skala Richter, tanah-tanah longsor seluas benua yang menciptakan tsunami dahsyat di mana-mana. “Paku terakhir pada peti mati dinosaurus” datang ketika bahan-bahan reruntuhan yang terlempar dari tumbukan mahadahsyat ini terbang ke atas memasuki atmosfir sehingga planet Bumi terbungkus oleh kegelapan yang amat mengerikan, dan kejadian ini menimbulkan suatu musim dingin global yang mematikan, yang membunuh banyak sekali spesies yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan kehidupan yang mendadak berubah drastis ini.

Rekam jejak geologis memperlihatkan bahwa peristiwa dahsyat yang menyebabkan kematian dinosaurus ini dengan cepat menghancurkan ekosistem darat dan ekosistem laut. Rekam jejak fosil menunjukkan telah terjadi kemusnahan massal sekitar 65,5 juta tahun lalu (waktu yang kini dikenal sebagai batas K-Pg). Kurun yang menjadi neraka bagi dinosaurus ini, yang menandakan berakhirnya masa kekuasaan dinosaurus di muka bumi selama ratusan juta tahun,/8/ ternyata menjadi suatu hari akbar bagi organisme mamalia.

Tetapi sudahlah jelas, kemusnahan dinosaurus 65,5 juta tahun lalu tidak dipersiapkan siapa-siapa untuk membuka jalan bagi kedatangan spesies homo sapiens yang baru muncul di muka Bumi 300.000 hingga 400.000 tahun lalu saja di Afrika, sementara umur Bumi sendiri sudah 4,5 milyar tahun. Musnah dan munculnya makhluk-makhluk hidup sepenuh-penuhnya adalah kejadian-kejadian alamiah biasa, tanpa intervensi makhluk-makhluk adikodrati apapun, yang bisa dijelaskan oleh sains dengan objektif. 

Jadi, hemat saya, tidaklah perlu orang beranggapan bahwa kepunahan dinosaurus telah sengaja Allah lakukan untuk memungkinkan, jauh di kemudian hari, munculnya organisme mamalia cerdas yang diberi nama (dalam kata-kata Latin) homo sapiens. Ide teologis semacam ini menimbulkan sejumlah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah, misalnya: Jika dinosaurus harus dimusnahkan oleh Allah, mengapa sang Allah ini telah menciptakan berbagai jenis reptilia besar ini sebelumnya? Apakah Allah tidak mengasihi hewan-hewan besar ini? Jika ya, kenapa? Apakah Allah berleha-leha saja dalam kurun panjang 65,5 juta tahun minus 300.000 atau 400.000 tahun, sebelum dia memunculkan manusia, konon makhluknya yang termulia, bukan di Taman Eden tetapi di benua Afrika?


Bukti-bukti objektif

Tapi mari kita ajukan sebuah pertanyaan lain yang jauh lebih penting. Apakah ada bukti yang langsung menghubungkan tumbukan asteroid dan kemusnahan K-T? Ya sedikitnya ada dua bukti.

Pertama, berlimpahnya iridium dalam sampel-sampel geologis di seluruh dunia yang berasal dari kurun kemusnahan K-T. Iridium sangat jarang ditemukan pada kerak Bumi, tetapi sangat umum ditemukan pada asteroid. Langsung setelah lapisan geologis yang berisi iridium, jumlah fosil dan spesies yang ditemukan berkurang sangat jauh, dan keadaan ini menunjukkan bahwa kemusnahan K-T terjadi sangat segera setelah tumbukan asteroid ini.

Kedua, berlimpahnya mineral kwarsa (quartz mineral) yang “terkejut” di dalam lapisan-lapisan batu karang di seluruh dunia yang berasal dari kurun kemusnahan K-T. Mineral kwarsa terkejut ketika ditumbuk dengan sangat cepat oleh suatu kekuatan besar, dan mineral kwarsa dalam kondisi “terkejut” ini ditemukan hanya pada situs-situs ledakan nuklir dan situs-situs tumbukan meteor di muka Bumi. Kesimpulannya, suatu tumbukan meteor yang masif terjadi pada saat kemusnahan K-T secara massal. 


Tulang paha hadrosaurus

Namun pada awal tahun 2011, tim peneliti dari Universitas Alberta, yang dipimpin oleh Larry Heaman dari Department of Earth and Atmospheric Sciences, berhasil menentukan usia sebongkah fosil tulang paha hadrosaurus yang ditemukan di New Mexico, yakni 64,8 juta tahun, dan ini berarti dinosaurus amfibi pemakan tetumbuhan ini hidup 700.000 tahun setelah kemusnahan K-T. Penentuan usia fosil tulang paha hadrosaurus ini dilakukan dengan memakai sebuah metode baru yang belum dipakai sebelumnya, yakni metode yang dinamakan U-Pb (Uranium-Plumbum, atau Uranium-Timah hitam)./9/

Teknik baru ini bukan saja memungkinkan penentuan usia fosil tulang, tetapi juga potensial dapat membedakan jenis makanan yang dimakan seekor dinosaurus. Tulang makhluk hidup berisi hanya sedikit uranium, tetapi selama proses fosilisasi (umumnya kurang dari 1000 tahun setelah kematian) tulang diperkaya oleh banyak unsur kimiawi, seperti uranium. Atom-atom uranium dalam tulang perlahan-lahan berubah menjadi timah hitam, dan ketika proses fosilisasi selesai maka jam uranium-plumbum berdetak. Komposisi isotop timah hitam yang didapat dalam tulang paha hadrosaurus ini dengan demikian menentukan usia mutlak fosil tulang paha ini.

Penemuan yang dibuat Larry Heaman dkk ini menunjukkan bahwa hadrosaurus yang fosil tulang pahanya ditemukan di New Mexico ini berhasil bertahan hidup melewati bencana alam dahsyat yang menyebabkan kemusnahan K-T. Menurutnya, adalah mungkin pada 65,5 juta tahun yang lalu di beberapa kawasan tetumbuhan tidak ikut lenyap dan sejumlah spesies hadrosaurus bertahan hidup. Tim ilmuwan ini berpendapat mungkin sekali ada banyak telur dinosaurus yang luput dari kemusnahan K-T, dan karenanya perlu dieksplorasi. Larry Heaman dkk percaya, jika teknik U-Pb baru mereka dipakai untuk menentukan usia lebih banyak sampel fosil dinosaurus, maka paradigma kemusnahan K-T dan berakhirnya zaman dinosaurus akan harus direvisi. Sampai sejauh mana keyakinan Heaman dkk benar, masih harus kita lihat. 

Kita tunggu para pakar yang mengkaji topik ini meninjau dan mengevaluasi temuan-temuan yang sudah didapat Heaman dkk. Tetapi, yang sudah pasti, kalaupun harus ada revisi, revisi ini tidak akan radikal amat. Misalnya, tidak akan ada revisi yang membuat anda harus percaya (dengan tidak waras) bahwa berbagai jenis dinosaurus hidup bersama homo sapiens yang baru muncul 300.000 hingga 400.000 tahun lalu di Afrika, atau bahwa berbagai macam dinosaurus masih hidup pada zaman kehidupan Yesus dari Nazareth di abad pertama M di tanah Palestina, bahwa sang nabi ini bersama Maria Magdalena, dan juga gubernur Pontius Pilatus, masing-masing mengendarai seekor dinosaurus yang sudah dijinakkan ke mana pun mereka pergihal-hal yang tidak waras ini dibayangkan kalangan kreasionis Kristen sebagai fakta-fakta. 


Ini lembaran dalam buku mewarnai anak-anak sekolah minggu. Tertulis di situ kata-kata ini, Meskipun kita tahu dinosaurus selamat dari air bah (dalam bahtera Nuh), kita tidak tahu apakah Yesus menungganginya. Tapi mungkin sekali Yesus memang menungganginya.


Aktivitas vulkanik 

Perlu juga dikemukakan pada kesempatan ini sebuah pendapat berbeda tentang apa yang menjadi penyebab kemusnahan K-T, yang sudah cukup lama berusaha menyaingi pendapat yang sudah dikemukakan Luis dan Walter Alvarez. Menurut Gerta Keller, seorang geolog dari Universitas Princeton, kemusnahan K-T terjadi bukan karena tumbukan sebuah asteroid raksasa pada planet Bumi, tetapi karena aktivitas vulkanik di kawasan yang sekarang dikenal sebagai India. Dalam kurun kemusnahan K-T, lahar vulkanik mengalir selama puluhan ribu tahun dari suatu kawasan vulkanik dekat Mumbai di negeri India yang sekarang, kawasan yang dikenal sebagai Deccan Traps, Lapisan Bebatuan Dekkan. 

Aliran lahar ini, yang mengalir sampai hampir seribu mil (1.603 km), menyebabkan sulfur dan carbon dioksida dalam jumlah yang mematikan masuk ke atmosfir Bumi, yang mengakibatkan pemanasan global dan meningkatnya kadar asam (proses aksidifikasi) di lautan karena curahan hujan asam. Kondisi inilah, menurut Keller, yang menjadi penyebab kemusnahan K-T./10

Temuan ini dilaporkan pada 5 Desember 2012 dalam pertemuan tahunan The American Geophysical Union. Tetapi beberapa pakar geologi lain menjelaskan bahwa vulkanisme yang diteorikan Keller bisa berperan hanya sebagian saja dalam kemusnahan dinosaurus, ketimbang sebagai satu-satunya penyebabnya. Selain itu, Keller juga mengakui bahwa tumbukan meteor, meskipun bukan sebagai penyebab, dapat memperburuk kemusnahan massal dinosaurus, 65,5 juta tahun lalu.


Tim Prof. Paul R. Renne

Tetapi pendulum kini berayun ke arah semula. Direktur Berkeley Geochronology Center (BGC) dan profesor dari Universitas California, Berkeley, Paul R. Renne bersama timnya baru-baru ini telah memastikan bahwa tumbukan meteor di Chicxulub, Semenanjung Yucatan, dan kemusnahan K-T, terjadi dalam waktu yang bersamaan pada 66.038.000 tahun yang lalu, dengan marjin kesalahan penghitungan kurang lebih 11.000 tahun saja. Laporan kajian tim Prof. Renne dimuat dalam Science Magazine edisi 8 Februari 2013./11/

Dengan memperbaiki dan melakukan penyesuaian-penyesuaian kembali metode pengukuran waktu yang ada, yang dikenal sebagai teknik argon-argon, Prof. Renne bersama timnya mengukur usia debu vulkanik dari kawasan Hell Creek di Montana dan usia serpihan-serpihan kaca meteorit (tektites) dari Haiti. Dengan mengintegrasikan rekam jejak fosil-fosil dan data mengenai perubahan iklim dan perubahan fauna dan flora yang kita lihat sekarang di sekitar kita ke dalam penghitungan, mereka tiba pada kurun tersebut. Prof. Renne menyimpulkan bahwa tumbukan meteor jelas memainkan peran utama dalam kemusnahan K-T, meskipun bukan satu-satunya faktor penyebabnya. Perubahan-perubahan iklim yang dramatis selama jutaan tahun sebelumnya, termasuk cuaca dingin yang berlangsung sangat lama di tengah lingkungan alam yang panas selama kurun K-T, mungkin sekali membawa sangat banyak organisme ke situasi rawan untuk musnah.

Perubahan iklim yang luar biasa mungkin sekali disebabkan oleh serangkaian letusan gunung berapi di India yang menghasilkan Deccan Traps yang sangat luas. Prof. Renne berencana untuk mengukur kembali bebatuan vulkanik dari Deccan Traps untuk bisa menentukan lebih persis berapa lama aktivitas vulkanik ini berlangsung dan kapan dimulainya, dalam kaitannya dengan Kemusnahan K-T.


 Disk materi gelap

Tetapi kini para saintis memikirkan kemungkinan lain tentang faktor utama penyebab terhantamnya permukaan planet Bumi oleh meteor-meteor atau komet-komet besar. Setelah dihitung-hitung, ditemukan bahwa kemusnahan-kemusnahan besar yang pernah melanda Bumi terjadi secara periodik, yakni dalam interval 30 juta tahunan. Sampai saat ini, sudah terjadi Lima Kemusnahan Besar karena bencana (dinamakan The Big Five), dan yang terbesar (disebut The Great Dying) terjadi pada 252 juta tahun lalu, suatu bencana yang dinamakan Kemusnahan Massal Permian-Triassik yang melenyapkan 9 dari setiap 10 spesies yang ada di Bumi. 

Sekarang ini sejumlah saintis percaya bahwa peristiwa bebatuan besar datang dari angkasa luar lalu dengan sangat dahsyat menumbuk permukaan planet Bumi yang mengakibatkan kemusnahan-kemusnahan massal periodik, terjadi karena gerakan sistem matahari kita saat sistem ini mengorbit pada inti galaksi Bima Sakti dan melewati sebuah disk materi gelap (dark matter) yang terdapat dalam galaksi ini. Disk materi gelap ini menimbulkan tarikan gravitasional yang dapat mengganggu orbit-orbit komet-komet saat sistem matahari kita melewatinya, dengan akibat secara berkala planet Bumi dihujani hantaman-hantaman besar komet-komet./12/      


Penutup

Akhirnya, saya ingin ingatkan dengan tegas, adalah suatu kedunguan yang keterlaluan jika anda berpendapat bahwa berbagai jenis dinosaurus pernah hidup bersama manusia atau bahwa manusia pernah bermain-main bersama dinosaurus, seperti dikhayalkan dengan sangat bodoh oleh kalangan literalis kreasionis. 

Satu hal musti anda pegang: berpalinglah ke ilmu pengetahuan jika anda ingin mengetahui fakta-fakta, apalagi fakta-fakta di masa lalu. Tentu dalam kitab-kitab suci apapun terdapat fakta-fakta, tetapi kitab-kitab suci apapun bukanlah buku sejarah dan juga bukan ensiklopedia sains. Ada jauh lebih banyak mitos dan metafora di dalam setiap kitab suci dibandingkan fakta-fakta. Tetapi tentu saja kitab-kitab suci juga memiliki manfaat besar, tapi hanya sejauh menyangkut berbagai kepentingan agama anda. Jika anda mau tahu kebenaran ilmiah, anda harus datang hanya ke ilmu pengetahuan, tidak bisa ke hal-hal lain.


Catatan-catatan

/1/ Tentang Nyasasaurus parringtoni, lihat Jeanna Bryner, “Earliest Dinosaur? Nyasasaurus Parringtoni Roamed Pangea 240 Million Years Ago, Fossils Suggest”, Huffington Post Science 05 December 2012, pada http://www.huffingtonpost.com/2012/12/05/earths-earliest-dinosaur-nyasasaurus-parringtoni_n_2243479.html. 

/2/ Lihat reportase Jon Tennant, 75 Million-Year-Old Blood Cells Discovered in Dinosaur Bones”, Discovery Magazine, 9 June 2015, pada http://blogs.discovermagazine.com/d-brief/2015/06/09/blood-cells-dinosaur-bones/#.VYA0llK5I8L

/3/ Lihat reportase Stuart Wolpert, Life on Earth likely started at least 4.1 billion years ago much earlier than scientists had thought, UCLA Newsroom, 19 October 2015, pada http://newsroom.ucla.edu/releases/life-on-earth-likely-started-at-least-4-1-billion-years-ago-much-earlier-than-scientists-had-thought. Sumber primer (abstrak) lihat Elizabeth A. Bell, Patrick Boehnke, T. Mark Harrison, Wendy L. Mao, Potentially biogenic carbon preserved an a 4.1 billion-year-old zircon, PNAS vol. 112, no. 47, pp. 14518-14521; contributed by T. Mark Harrison, 4 September 2015, pada http://www.pnas.org/content/112/47/14518.abstract. Naskah format Pdf tersedia di http://www.pnas.org/content/112/47/14518.full.pdf.

/4/ Tentang Gallup poll tahun 2014 ini, lihat laporan Frank Newport, In USA, 42% Believe Creationist View of Human Origins, tersedia online di http://www.gallup.com/poll/170822/believe-creationist-view-human-origins.aspx.

/5/ Lihat reportase Peter Moore, “Over 40% of Americans believe humans and dinosaurs shared the planet”, YouGov, 18 June 2015, pada https://today.yougov.com/news/2015/06/18/jurassic-world/. Ada lima tema yang telah diteliti YouGov: pertama, Jurrasic Movies; kedua, Likely to See Jurrasic World; ketiga, Clone Dinosaurs; keempat, Visit Theme Park; kelima, Dinosaurs and Humans. Tabulasi lengkap hasil-hasil survei YouGov ini tersedia di   
https://d25d2506sfb94s.cloudfront.net/cumulus_uploads/document/ukwe10eses/tabs_OPI_jurassic_world_20150617.pdf.


/6/ Lihat Charles Choi, “The Brontosaurus Is Back”, Scientific American, 7 April 2015, pada http://www.scientificamerican.com/article/the-brontosaurus-is-back1/.

/7/ Peter Schulte, Laia Alegret, et al., “The Chicxulub Asteroid Impact and Mass Extinction at the Cretaceous-Paleogene Boundary”,  Science 327 (5970) (5 March 2010), hlm. 1214-1218, pada http://www.sciencemag.org/content/327/5970/1214. Lihat juga Science Daily staff, “Asteroid Killed Off the Dinosaurs, Says International Scientific Panel”, Science Daily, 4 March 2010, pada http://www.sciencedaily.com/releases/2010/03/100304142242.htm.

/8/ Bahwa berbagai jenis dinosaurus telah berkuasa di muka Bumi selama ratusan juta tahun dalam kurun yang dinamakan kurun Pertengahan Triassik, sebelum musnah pada 65,5 juta tahun lalu, dibuktikan baru-baru ini oleh fosil dinosaurus yang diberi nama Nyasasaurus parringtoni, yang dipastikan hidup 243 juta tahun lalu. Fosil ini ditemukan pertama kali oleh Rex Parrington, seorang geolog Universitas Cambridge, di kawasan yang sekarang bernama Danau Nyasa di Tanzania. Menurut para pakar, secara anatomis Nyasasaurus lebih dekat ke burung alih-alih ke buaya, sementara burung adalah keturunan langsung dinosaurus kecil pemakan daging. Tentang penemuan fosil ini, lihat reportase dan analisis Jennifer Viegas, “Oldest dinosaur found”, Discovery News, 4 Desember 2012, pada http://news.discovery.com/animals/oldest-dinosaur-found-121204.html

/9/ J. E. Fassett, L. M. Heaman, A. Simonetti, “Direct U-Pb dating of Cretaceous and Paleocene dinosaur bones, San Juan Basin, New Mexico”, Geology 39 (2) 26 January 2011, hlm. 159. Lihat juga Brian Murphy, “Test shows dinosaurs survived mass extinction by 700,000 years”, University of Alberta, 28 January 2011, pada http://www.news.ualberta.ca/newsarticles/2011/01/testshowsdinosaurssurvivedmassextinctionby700000years

/10/ Lihat laporan Tia Ghose, “Volcanoes, not meteorite, killed dinosaurs, scientist argues”, Live Science, 07 Desember 2012, terpasang online pada http://www.livescience.com/25324-volcanoes-killed-dinosaurs.html

/11/ Paul R. Renne, Alan L. Deino, et al., “Time Scales of Critical Events Around the Cretaceous-Paleogene Boundary”, Science Magazine, 8 February 2013, pada http://www.sciencemag.org/content/339/6120/684.full. Lihat juga: Heiko Pälike, “Impact and Extinction”, Science Magazine, 8 February 2013, pada http://www.sciencemag.org/content/339/6120/655.full; Charles Choi, “Dinosaur Extinction and Chicxulub Asteroid Impact Most Likely Coincided, Study Says”, Huffington Post Science, 7 February 2013, pada http://www.huffingtonpost.com/2013/02/08/dinosaur-extinction-chixulub-asteroid-impact_n_2639911.html; Ker Than, “What Killed Dinosaurs: New Ideas About the Wipeout”, National Geographic Daily News, 12 February 2013, pada http://news.nationalgeographic.com/news/2013/13/130212--chicxulub-asteroid-dinosaurs-volcano-mass-extinction-environment-science/; Robert Sanders, “New evidence comet or asteroid impact. Was it a comet or asteroid impact? Volcanic eruptions? Climate change?”, UC Berkeley News Center, 7 February 2013, pada http://newscenter.berkeley.edu/2013/02/07/new-evidence-comet-or-asteroid-impact-was-last-straw-for-dinosaurs/.  

/12/ Lee Billings, “Fact or Fiction?: Dark Matter Killed the Dinosaurs”, Scientific American, 25 March 2015, pada http://www.scientificamerican.com/article/fact-or-fiction-dark-matter-killed-the-dinosaurs/.