Showing posts with label Bahasa Keagamaan sebagai Metafora. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Keagamaan sebagai Metafora. Show all posts

Saturday, January 2, 2021

Bahasa Keagamaan dan Bahasa Keilmuan, Di mana Bedanya?



"Dalam banyak perumpamaan... Yesus memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Dia tidak berkata-kata kepada mereka. Tapi kepada murid-murid-Nya Dia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri." (Markus 4:33-34)


BERAGAMA ITU pada hakikatnya berkaitan dengan misteri besar yang dipercaya ada, tetapi tidak bisa dibuktikan dengan objektif lewat lima indra atau lewat instrumen teknologis seperti teropong bintang, radio teleskop atau mikroskop atau mesin sains terbesar dunia Large Hadron Collider, dll.

Anda merasa Tuhan hadir dan ada di sebelah anda, itu bukan bukti bahwa Tuhan itu ada, tetapi suatu perasaan anda saja yang bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan mengapa perasaan itu, sangat real sekalipun bagi anda, bisa muncul. Bidang ilmunya dinamakan neuroteologi, bagian dari neurosains.

Sebagai kepercayaan, beragama itu berada dalam wilayah tata bahasa modus subjungtif, wilayah harapan, keinginan, cita-cita, angan-angan, impian-impian, kedambaan, hal-hal yang dinanti, ditunggu, diimani, dipercaya saja.

Contoh kalimat modus subjungtif: "Semoga besok tidak turun hujan supaya acara resepsi perkawinan si Beludru besok sukses dan dihadiri banyak tamu."

Contoh satu lagi, "Aku berharap puteraku yang semata wayang ini kelak akan menjadi presiden besar negara Amerika."

Lagi, "Aku percaya nanti di tahun depan keponakanku itu akan memenangkan lomba balap Ferari itu, menjadi juara satu. Tak apalah tahun ini dia tak dapat mencapai prestasi apapun."

Nah, dua kalimat pertama di atas adalah kalimat yang mengungkapkan harapan, kenginan, kedambaan, cita-cita, kerinduan, penantian, kepercayaan, angan-angan. Dalam ilmu bahasa dinamakan kalimat bermodus subjungtif.

Nah, contoh ketiga sebetulnya berisi dua kalimat. Kalimat yang pertama jelas suatu ungkapan harapan, impian, cita-cita, kedambaan; jadi bermodus subjungtif.

Kalimat kedua dalam contoh ketiga di atas berisi pernyataan tentang sesuatu, pernyataan faktual meski negatif, bukan pengharapan atau kedambaan.

Kalimat tersebut disebut bermodus indikatif, kalimat yang mengindikasikan atau menyatakan sesuatu, lepas dari ihwal sesuatu yang positif atau yang negatif. Bisa juga mengindikasikan sesuatu yang tidak faktual, tidak sebagai fakta, atau mengindikasikan sesuatu yang faktual.

Pendek kata, kalimat indikatif adalah kalimat yang menyatakan sesuatu, lepas dari benar atau tidaknya pernyataan itu.

Sesuatu dinyatakan, tetapi tidak berisi harapan, cita-cita, kedambaan, keinginan, kepercayaan atau impian. Apa yang diungkap dalam suatu kalimat bermodus indikatif bisa dibuktikan benar atau salah, ada atau tidak ada. Tidak berisi pengharapan atau keinginan atau angan-angan atau cita-cita.

Misalnya, kalimat "Hari ini sampai minggu depan Matahari lupa terbit." Lepas dari benar atau tidaknya pernyataan ini, konyol atau serius, kalimatnya bermodus indikatif, kalimat pernyataan tentang sesuatu. Bisa dibuktikan benar atau salah, tetapi tidak berisi pengharapan. Tidak dipakai kata-kata "Semoga", "Diharapkan", "Bisa jadi", "Barangkali", "Berharaplah", "Sekiranya boleh", "Dipercaya", "Diyakini", "Supaya", dlsb.

Nah, sudah jelas ya beda kalimat modus subjungtif dari kalimat modus indikatif.

Dalam dunia sains, yang umum dipakai adalah kalimat indikatif, kalimat pernyataan yang kebenaran atau kesalahannya harus dibuktikan atau diperlihatkan, lewat berbagai metode ilmiah pengujian berlapis.

Kita katakan, pernyataan apapun dalam dunia sains harus dapat diverifikasi (kebenarannya berhasil diuji dan diperlihatkan) atau difalsifikasi (kesalahannya berhasil ditunjukkan). Dalam filsafat sains, ini dinamakan prinsip verifikasionisme.

Tentu, dalam dunia sains ada hal-hal yang baru sebatas diteorikan, persisnya dihipotesiskan. Suatu hipotesis adalah suatu pernyataan indikatif yang kebenaran atau kesalahannya menunggu dibuktikan atau diperlihatkan. Jadi, hipotesis juga masuk dalam kalimat modus indikatif. Tidak ada hipotesis yang disusun dalam kalimat modus subjungtif.

Tentu kepercayaan tentang sesuatu hal pasti ada dalam diri ilmuwan manapun ketika mereka sedang bergelut dalam dunia sains--- tetapi ini bukan kepercayaan keagamaan, melainkan sebagai bagian ranah kognitif mereka yang harus dirumuskan dengan cermat sebagai sebuah hipotesis.

Postulat atau dalil dalam dunia sains memang diterima benar begitu saja, tidak memerlukan pembuktian. Tetapi postulat dalam dunia keilmuan bukan suatu kepercayaan keagamaan, tidak bermodus subjungtif, melainkan bermodus indikatif.

Postulat bukan hanya diterima benar, tetapi juga dapat dideskripsikan lewat gambar-gambar dengan beranekaragam tanda, simbol, angka, huruf, dan berbagai karakter lain. Anda dapat menunjukkan pada layar datar monitor komputer anda atau menggambarkannya pada suatu papan tulis misalnya dalil bahwa garis lurus adalah jarak terpendek antara dua titik.

Jadi, tidak ada ilmu pengetahuan atau teori ilmu pengetahuan atau dalil atau postulat keilmuan yang bersifat mudah-mudahan, atau sebagai angan-angan, atau sebagai doa pengharapan atau suatu penantian atau suatu impian.

Perlu diingat terus: Kalimat dalam dunia ilmu pengetahuan adalah kalimat modus indikatif. Tidak pernah bermodus subjungtif.

Memang sains juga bergerak dalam dunia "hierarki atau jenjang-jenjang kepastian", dari jenjang teratas yang sudah sangat pasti, paling pasti, menengah pasti, kurang pasti hingga jenjang terbawah sangat kurang pasti.

Kalau sesuatu itu sudah tidak pasti atau sangat tidak pasti, atau yang kebenarannya sudah pasti tidak ada, ya sesuatu ini pasti dibuang ke tong sampah dalam dunia sains. Ada banyak loh sampah ilmu pengetahuan. Bertong-tong banyaknya.

Semua jenjang atau hierarki kepastian ini menunggu pembuktian, mulai dari jenjang terbawah (kurang pasti), naik ke jenjang di atasnya, terus sampai tiba pada jenjang teratas, jenjang "sudah sangat pasti", di saat bukti-bukti yang afirmatif kritis sudah lebih dari cukup terkumpul, dan teori-teori sederhana sudah cukup menjelaskan hubungan kausal bukti-bukti tersebut secara koheren.

Well, suatu teori di jenjang yang "sudah sangat pasti", yang membuat suatu teori disebut "teori besar" ("grand theory") yang "telah diterima" secara universal, dan menjadi bunda atau ayah acuan teori-teori lain, bukan teori yang definitif final.

Dalam dunia sains, tidak ada teori apapun, sepasti apapun, yang dipandang sudah definitif final. Kepastian suatu teori sains tidak terkait dengan finalitas definitif. Kepastian ilmiah selalu temporer, dan berkaitan dengan peringkat kemajuan iptek kita. Mengapa?

Ya, lantaran misteri-misteri alam empiris yang dapat, sejauh ini, diobservasi dan dipersepsi oleh lima indra dan berbagai instrumen selalu bertambah terus, alhasil horison-horison misteri selalu melebar terus.

Apalagi jika kawasan-kawasan dalam jagat raya kita yang terus mengembang (ibarat sebuah balon maha besar yang sedang ditiup terus), yang semula belum bisa diobservasi, kemudian ternyata dapat diobservasi dan dipersepsi ketika iptek yang lebih maju sudah kita miliki.

Belum lagi kalau alam-alam semesta lain (yang membentuk "multiverse") kita juga perhitungkan meski kini belum dapat kita masuki.

Ya, kita berhadapan dan dikurung dalam infinitas keilmuan, dalam ketidakterbatasan keilmuan. We are all overwhelmed by infinity.

Jadi, tak ada ilmu pengetahuan atau teori sains yang sudah final mutlak. Ilmu pengetahuan selalu sebagai titik titik linier atau titik-titik berpilin tanpa akhir, ad infinitum, atau titik koma, atau koma, tetapi tidak pernah titik penuh, full stop.

Kabar baiknya adalah bahwa adanya hierarki kepastian malah membuat sains terus bergerak maju dan berkembang. Tidak bergerak abadi di tempat dalam angan-angan dan doa-doa pengharapan atau impian dan lamunan saja.

Harap disadari, meski berpijak atas hierarki ketidakpastian/kepastian, ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang sudah dapat mengirim astronot-astronot ke bulan kita dan wantariksa-wantariksa tanpa awak ke kawasan-kawasan yang jauh dalam sistem Matahari kita dan beberapa bahkan sudah lepas dari kawasan sistem Matahari kita, melesat ke dalam dunia antarbintang.

Telah disebut di atas adanya prinsip verifikasionisme yang dijalankan lewat pencarian dan pengajuan bukti-bukti. Nah, karena selalu diuji berlapis lewat pengajuan bukti-bukti, setiap posisi keilmuan selalu dengan sendirinya terbuka pada "koreksi diri" atau "self-correction". Tentu saja koreksi diri ini dilakukan lewat tangan para ilmuwan yang terus mengobservasi dan menganalisis, dan melakukan dialektika tesis vs. antitesis yang ketika keduanya dipertemukan dengan dinamis melahirkan sintesis sebagai sebuah tesis baru.

Lalu, bagaimana halnya dengan fiksi sains? Sama juga. Fiksi sains juga bahasa modus indikatif, menunggu waktu untuk tiba pada pembuktian sebagai "sains itu sendiri" atau "science proper", atau "bonafide science", berhubung setiap fiksi sains dibangun dengan fondasi "sains dasariah" atau "basic science". Di atas fondasi kokoh "basic science" ini dibangunlah fiksi-fiksi imajinatif yang merupakan kelanjutan yang menjulang dari fondasinya.

Jadi, ilmu pengetahuan juga bergerak maju dan berkembang terus-menerus di tangan para ilmuwan lewat banyak imajinasi yang berdisiplin dan kreatif (bukan yang "ngaco gak keruan") yang tak pernah habis. Perhatikan tiga ucapan ilmuwan termashyur Albert Einstein berikut ini yang memberi tempat penting bagi imajinasi.

"Tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan, tapi imajinasi."

"Imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Pengetahuan terbatas. Imajinasi menyelimuti dunia."

"Imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Imajinasi adalah bahasa mental. Perhatikan imajinasi anda, maka anda akan menemukan bahwa semua yang anda butuhkan akan terpenuhi."

Keterlibatan imajinasi dalam merancangbangun ilmu pengetahuan menyebabkan ilmu pengetahuan juga memiliki dimensi-dimensi artistik bahkan puitik.

Dalam rangka itulah, kerap para saintis memakai bantuan metafora-metafora dalam menggambarkan dengan imajinatif posisi-posisi ilmu pengetahuan, mulai dari ilmu pengetahuan tentang kawasan "dunia" partikel hingga ilmu pengetahuan tentang "multiverse" atau jagat raya majemuk mahabesar.

Di atas sudah saya pakai metafora "sebuah balon yang sedang ditiup hingga terus mengembang" untuk menggambarkan fakta ilmiah bahwa jagat raya kita terus memuai atau mengembang ("ever-expanding").

Untuk mendeskripsikan ihwal bagaimana jagat raya majemuk terbentuk, dipakailah metafora gelembung-gelembung atau bola-bola busa sabun yang terbentuk sambung-menyambung makin banyak dan menyebarluas dari larutan air sabun yang diaduk dan dihembus. Boleh saja kita iseng bertanya, dari mana adonan atau larutan air sabun itu pada awalnya.

Metafora dalam dunia ilmu pengetahuan selain dapat memperjelas suatu pemikiran ilmiah atau suatu posisi ilmu pengetahuan, juga acap kali dipakai para ilmuwan karena mereka kekurangan atau kehabisan kosa kata ilmiah untuk mendeskripsikan suatu fenomena alam. Atau, lebih mungkin, karena jagat raya ini atau dunia ilmu pengetahuan memang penuh dengan hal-hal yang menyentuh dan menggugah kalbu, jiwa dan pikiran sehingga para ilmuwan condong menjadi insan-insan artistik puitik.

Dengan "metafora" kita menyeberang, bergerak pindah (Yunani: "ferein"), dari kawasan dunia rutin sehari-hari yang tak direnungi lagi, masuk ke dunia-dunia lain yang "melampaui" atau "beyond" (Yunani: "meta") dunia sehari-hari kita, yaitu dunia-dunia yang lebih tinggi, dunia yang tidak atau belum dapat diobservasi oleh iptek atau dunia-dunia lain yang luar biasa mempesona atau luar biasa bernilai atau dunia "adinilai".



Karena memasuki dunia "adinilai", maka ilmu pengetahuan juga bergerak dalam nilai-nilai yang agung, adinilai, nilai-nilai yang "luar biasa besar", dengan kata lain: nilai-nilai transenden. Jadi, selain berurusan dengan fakta-fakta objektif, ilmu pengetahuan juga masuk ke dunia etika.

Karena agama juga kait-mengait dengan dunia-dunia lain yang dipersepsi lebih tinggi dan lebih bernilai, katakanlah dunia para malaikat dan Tuhan yang diyakini penuh pesona dan ketakjuban besar, maka setiap agama tidak bisa lepas dari metafora-metafora.

Yesus tahu betul hal itu. Alhasil, Yesus mengajar dengan banyak metafora, yakni perumpamaan-perumpamaan-Nya dan pepatah-pepatah-Nya yang menggugah jiwa dan menggedor pintu hati dan pikiran. Ada ajaran Yesus untuk kalangan umum (ajaran eksoteris), dan ada juga ajaran tambahan khusus untuk murid-murid inti-Nya, "inner circle" (ajaran bagi kalangan sendiri, kelompok esoteris). Di sinilah ilmu pengetahuan berbeda, karena tidak ada ilmu pengetahuan esoteris, cuma untuk kalangan sendiri.

Tentu saja, sudah sangat lama orang mengklaim bahwa nilai-nilai kehidupan atau "life values" adalah urusan terpenting semua agama. Bahkan, bagi kalangan keagamaan yang ekstrim, nilai-nilai kehidupan hanya dimonopoli oleh agama, sudah tertulis harga mati dalam teks-teks keagamaan. Kata mereka, sains tidak bisa dan tidak berhak berbicara atau berurusan dengan nilai-nilai.

Uupps... tentu saja klaim kalangan ekstrim keagamaan tersebut berlebihan, totalitarian, dan meleset. Sebab sains juga memberi nilai-nilai yang sangat luas dan multidimensional, mengevaluasi nilai-nilai, dan membarui nilai-nilai kehidupan terus-menerus.

Lepas dari aspek-aspek bisnis dan politik dari perusahaan farmasi dan negara, para ilmuwan yang bekerja keras untuk mengembangkan vaksin-vaksin Covid-19 dan menjalankan uji-uji klinis adalah orang-orang cerdas dan berhati mulia yang sedang berjuang memelihara, mempertahankan dan menyelamatkan kehidupan manusia lewat vaksin-vaksin yang aman, manjur atau efektif dan "up-to-date". Nah, jelas terlihat, baik para ilmuwan vaksin, ilmu vaksinologi, maupun vaksin-vaksin yang mereka kembangkan, juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Nah, semua pemaparan di atas menimbulkan sejumlah implikasi praktis yang penting dan serius.

Karena bahasa keagamaan adalah bahasa subjungtif, maka beragama adalah berharap, menanti, menunggu, bercita-cita, mempercayai sesuatu, merindukan, memimpikan atau mengangan-angankan sesuatu yang belum ada sekarang. Belum terbukti objektif empiris ada.

Alhasil, beragamalah dengan rendah hati dan berpikiran luas, tidak bisa sombong-sombongan, tidak cupet. Dan terbukalah pada banyak pilihan spiritualitas dan beranekaragam penafsiran. Bangun dunia ini. Bangun dan bela kehidupan. Hindari dan cegah kematian.

Jika anda bersikap begitu, meskipun agama itu bermodus subjungtif, anda lewat agama anda akan melahirkan karya-karya dan tindakan-tindakan besar. Anda akan menjadi seorang mahatma.

Pantanglah memandang diri sendiri sebagai orang yang paling benar dan berhak menjadi hakim yang bengis terhadap kalangan lain yang berbeda.



Jika anda menjadi hakim yang bengis dan keras demi membela aliran pemikiran keagamaan anda sendiri, nah ketika anda mati (karena terkena Covid-19 misalnya), anda akan langsung dihakimi oleh Tuhan anda dengan cara yang sama yang anda pakai di Bumi. Pernah gak hal ini anda renungi? Jadi? Ya, terserah anda. Mau jadi jadi-jadian juga boleh.

Perhatikan dua kutipan berikut.

"Lihat, orang-orang yang bengis jatuh. Mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi." (Mazmur 36:13)

"Jika seseorang terlihat bengis, jangan campakkan dia. Sadarkan dia lewat kata-katamu. Angkat dia dengan perbuatanmu. Balas luka-luka yang ditimbulkannya dengan kebaikan. Jangan buang dia. Buang kebengisannya." (Lao Tzu)

Teks Mazmur 36:13 yang telah dikutip di atas adalah teks Yahudi-Kristen yang dipercaya sebagai firman Tuhan, kehendak Tuhan Allah. Ya, bisa terjadi, tetapi sulit sekali, lantaran orang yang bengis biasanya sudah menghimpun kekuatan di sekeliling mereka. Harapan hanya bisa ditumpukan pada tindakan Tuhan sendiri, pada intervensi Allah sendiri. Itulah yang ada dalam pikiran si penulis teks Mazmur tersebut. Mereka akan "dibanting" oleh Tuhan Allah sendiri.

Nasihat bajik pujangga dan filsuf Lao Tzu (hidup antara abad 6 SM dan abad 4 SM) memang luar biasa, maksudnya luar biasa sulit untuk sukses dijalankan berhubung sifat bengis dan si manusianya sudah menyatu. Sang malaikat kebajikan pun tampaknya juga tak akan berhasil memenuhi harapan si "guru gaek" Lao Tzu. 

Lagipula, apakah wejangan baik si filsuf Tiongkok kuno ini perlu dituruti, jika si manusia bengis yang mau diselamatkannya sudah menyebar maut ke mana-mana dan tak lagi memiliki nurani yang hidup. Dalam istilah sekarang,... jika si manusia bengisnya adalah seorang psikopath atau sosiopath. Tetapi siapa pun yang mau mencobanya, jalankanlah nasihat yang agung ini, meski akan dapat menjadi suatu usaha menegakkan sehelai benang yang basah.

Begitu juga, jika anda seorang ilmuwan, rendah hatilah. Ingat, ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak akan menjadikan sombong dan takabur siapapun yang berilmu.

Baktikanlah diri anda untuk--- lewat ilmu anda, lewat iptek yang anda dan teman-teman anda bangun dan kembangkan--- melakukan perbuatan-perbuatan yang agung, terhormat, mulia dan bernilai besar dan abadi buat sesama anda, buat kemanusiaan, buat bentuk-bentuk kehidupan lain, dan buat planet Bumi dan jagat raya kita.

Hai para agamawan, tidak usahlah anda berpura-pura menjadi ilmuwan. Anda tidak pernah terlatih puluhan tahun dalam metode-metode keilmuan. Kalau anda memaksa diri (mungkin karena anda ditekan orang lain), anda akan menjadi "ilmuwan norak" yang akan membahayakan kehidupan.

Tidak usah mencocok-cocokkan teks-teks keagamaan anda dengan teks-teks ilmu pengetahuan. Ini usaha yang selamanya akan sia-sia. Anda hanya akan lihai di bidang cocokologi, tanpa pernah bisa menjadi ilmuwan sejati. Cocokologi itu, setahu saya, rapuh dan melelahkan. Fungsi utama agama anda sebagai pemandu etika yang responsif kreatif akan terabaikan.

Hai para ilmuwan, janganlah jual diri anda, berapapun besarnya harga yang ditawarkan ke anda. Tetaplah melangkah terus sebagai ilmuwan. Obor penerang peradaban ada di tangan anda.

Jangan menjadi ilmuwan gelandangan yang kuyu dan tanpa cahaya di mata. Jangan jadi ilmuwan pelacur. Jangan juga berubah jadi pseudo-ilmuwan yang disewa atau dikontrak seperti rumah kontrakan yang tak terurus.

Hai para agamawan dan para ilmuwan, kalian dapat bertemu dalam dunia etika, dunia nilai-nilai. Bersama-sama dan saling mengisi dengan cerdas, bermartabat, terhormat dan terpelajar, kawallah pembangunan, pengembangan dan pemajuan peradaban-peradaban dunia ini.

2 Januari 2021
ioanes rakhmat

Thursday, January 3, 2008

Bahasa Keagamaan sebagai Metafora

Kiri: fakta. Kanan: metafora

Editing mutakhir 8 Mei 2018

Baca juga Agama Butuh Fiksi dan Imajinasi Yang Bebas.

Metafora atau bahasa figuratif simbolik dipakai dalam banyak bidang kehidupan, termasuk dalam bidang sains.

Descartes, misalnya, pernah berkata, “Saya telah menggambarkan Bumi ini beserta seluruh alam semesta yang kelihatan seolah-olah ini adalah sebuah mesin.” Kata “mesin” di sini adalah sebuah metafora; dan metafora ini telah membantu perkembangan fisika klasik yang membayangkan alam semesta sebagai sebuah mesin.

Begitu juga, ketika alam semesta ini dibayangkan terbentuk, memuai dan mengembang dengan diawali oleh sebuah “dentuman besar” (big bang), “dentuman besar” ini, yang tidak pernah didengar oleh manusia manapun dan kapanpun, adalah sebuah metafora. Di sini, metafora membantu mengonseptualisasi realitas jagat raya.

Dengan memakai metafora kosmologis “balon yang terus mengembang” dengan permukaan yang makin luas, kita lebih mudah memahami dan membayangkan pemuaian jagat raya yang kini sedang berlangsung dengan makin cepat karena bekerjanya forsa antigravitasi dari energi gelap. 

Dalam bidang keagamaan, metafora banyak dipakai. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bahasa keagamaan terutama adalah bahasa metaforis. Apa tujuan dikonstruksinya sebuah metafora untuk kepentingan keagamaan kita temukan dalam makna kata metafora sendiri.

Sebagai sebuah kata Yunani, metafora dibentuk dari kata depan meta (artinya “melampaui” atau “mentransendir”, Inggris “beyond”) dan kata kerja ferein (artinya “menyeberang” atau “memindahkan”). Dengan demikian, metafora adalah wahana sastrawi atau nonsastrawi yang berfungsi untuk membawa atau memindahkan si pembaca atau si pendengar atau si pemandangnya dari dunia kodrati sehari-hari, dunia nilai-nilai biasa sehari-hari, masuk atau melintas ke dunia adikodrati atau kawasan nilai-nilai yang agung, kawasan adinilai.

Tanpa lewat metafora, kawasan yang lebih tinggi ini, kawasan yang melampaui atau yang mentransendir kawasan dunia kodrati rutin sehari-hari, mustahil dimasuki, sulit atau mustahil dibayangkan, dipahami dan dibawa masuk ke dalam kehidupan insan-insan kodrati dalam dunia alamiah sehari-hari. Metafora menghubungkan langit dan Bumi, sorga dan dunia, dunia atas dan dunia bawah, Tuhan dan manusia, para malaikat dan anak-anak manusia, keabadian dan kefanaan.

Alkitab, misalnya, luar biasa kaya dengan metafora yang mampu menggerakkan hati, kalbu, perasaan dan pikiran para pembacanya.

Ada metafora alkitabiah yang pesannya jelas dan gamblang, satu arah, misalnya ketika dikatakan “Yesus adalah terang dunia.” Jelas maksud metafora ini bukanlah Yesus itu faktual Matahari atau lampu neon atau lampu petromaks, melainkan ajaran-ajarannya sebagai firman Allah memang dapat menjadi pembimbing untuk orang dapat dengan terang menjalani kehidupannya, atau bahwa ajaran-ajarannya sebagai firman Allah sangat diperlukan untuk pencerahan dunia ini.

Atau, ketika dikatakan “Yesus anak domba Allah”, maksudnya jelas, Yesus itu bukan anak domba sungguhan yang mau disembelih tanpa bisa melawan, melainkan suatu kurban yang Allah sediakan untuk memikul dosa dunia.

“Memikul dosa dunia” juga adalah suatu ungkapan metaforis, sebab bola Bumi ini, dunia ini, tidak bisa berbuat dosa karena merupakan benda mati, dan Yesus tidak terbungkuk-bungkuk memikul bola dunia sungguhan yang teramat berat.

Yang terlihat dengan gamblang adalah tiga metafora kristologis tersebut menghubungkan sorga dan dunia, kawasan terang dan kawasan gelap, Allah dan manusia, cinta ilahi dan kemalangan manusia.

Pada tingkatan yang lebih rumit dan kaya nuansa, metafora religius, terutama yang berbentuk narasi-narasi metaforis, berfungsi sebagai sebuah “jendela” atau sebuah “pintu gerbang” (juga sebuah metafora) untuk melihat dan masuk ke realitas lain yang transenden, realitas lain yang diyakini ada dan berlangsung di luar sejarah, transhistoris, dan di luar dunia kehidupan kodrati sehari-hari. Lewat kisah-kisah metaforis ini, kita berkendara perahu melaju menuju dunia transenden lewat, tentu saja, aktivitas kognitif.

Tetapi itu tidak berarti bahwa metafora keagamaan selalu tidak berpijak pada sejarah. Ada metafora keagamaan yang diciptakan dengan memakai memori historis sebagai titik pijaknya; dengan kata lain memiliki historical core, inti sejarah. Membungkus inti sejarah ini, ada banyak dedaunan dan kembang-kembangnya. Inilah yang disebut memory metaphorized, memori sejarah yang dimetaforakan (lihat Marcus J. Borg, Jesus [2006], 51-76).

Lewat memori yang dimetaforakan, suatu kejadian atau pengalaman partikular di masa lalu diubah atau bermetamorfosa menjadi suatu kejadian atau pengalaman yang universal, terabadikan, melintasi zaman-zaman dan tempat-tempat, dengan daun-daun dan kembang-kembang yang makin banyak karena berlangsung aktivitas cerdas adaptasi dan kontekstualisasi.

Tetapi, kebanyakan metafora keagamaan menunjuk pada suatu realitas yang faktualitasnya tidak ditemukan dalam dunia sehari-hari. Namun, ketika metafora disusun dan dipakai, manusia, tidak bisa lain, harus memakai bahasa yang sudah dihasilkan dan dipakai manusia di dalam kebudayaan mereka. Kita tak sedang berada di kahyangan, tapi di muka Bumi.

Manusia bisa berkata-kata dengan efektif dan komunikatif hanya dengan bahasa (sebagai sistem tanda-tanda dan simbol-simbol) yang sudah diciptakan, diterima dan terus dikembangkan mereka dalam kebudayaan. Di sinilah juga terletak keterbatasan sebuah metafora: metafora mau menyibak realitas adikodrati yang bukan bagian dari pengalaman sehari-hari dengan memakai bahasa sehari-hari. Tapi ya tak ada wahana lain selain wahana metaforis yang terbatas.

Ketika ekspresi bahasa telah menjadi bagian dari sebuah metafora, bahasa ini tidak bisa lagi dibaca dan dipahami secara literalistik atau harfiah, atau sebagai bahasa yang mau menyampaikan faktualitas dalam dunia kodrati. Sebab yang menjadi acuan pokok dari bahasa metaforis religius bukanlah sejarah dan dunia sehari-hari, melainkan hal-hal di luar sejarah, hal-hal transhistoris, realitas transenden adikodrati, yang hanya bisa dibayangkan dan diimajinasikan dengan kreatif. Tak ada jalan lain, dari manapun imajinasi ini diyakini berasal.

Semua metafora memang dibuat bukan untuk dipahami secara literalistik, harfiah atau faktual, melainkan harus secara simbolik, figuratif atau alegoris. Jika suatu metafora dipahami secara literalistik atau sebagai faktualitas objektif, metafora itu dipermiskin, maksud dan pesannya salah ditangkap atau malah menghilang, dan orang karenanya akan menemukan ketidakbenaran. Lewat cara ini, si pembaca jadi terfiksasi, terpatri, pada konten literalnya sehingga pesan historis nonliteralnya luput ditemukan. Alhasil, si pembaca literalis jadi tersesat.

Ketika sebuah metafora religius berhasil dipahami secara simbolik, figuratif atau alegoris, hal-hal transhistoris dan adikodrati yang disampaikannya akan dapat dengan ampuh dan kuat mengubah emosi dan kehidupan si pembaca atau pendengar metafora itu di masa kini dalam dunia ini. Camkanlah bahwa setiap metafora adalah bahasa imajinatif, evokatif dan emotif yang bisa sangat powerful menggugah hati dan pikiran (lihat Zoltán Kövecses, Metaphor and Emotion, 2003).

Keadaannya memang demikian, karena sebuah metafora religius memang memiliki kemampuan dan daya imajinatif, emotif, evokatif untuk mengarahkan dan menggerakkan kehidupan masa kini ke arah masa depan yang penuh dengan pengharapan pembebasan dan pembaruan, masa depan yang lebih baik, lebih bernilai dan berkwalitas, dan lebih tercerahkan. 

Lewat metafora, semangat yang patah dibangunkan kembali. Harapan yang putus disambung kembali. Mata yang redup berubah jadi mata yang terbuka lebar bercahaya-cahaya. Gerbang yang tertutup menjadi gerbang yang terbuka. Perasaan yang tumpul dan mati, diasah dan dihidupkan lagi.

Daya emotif evokatif dari sebuah metafora akan menghilang jika metafora itu dipahami secara literalistik faktual. Menemukan dan merenungi visi tentang masa depan yang lebih baik dan kehidupan masa kini yang lebih berkwalitas inilah, yang seharusnya dilakukan jika orang sedang membaca dan mencoba memahami sebuah narasi metaforis religius.

Sebuah metafora keagamaan sama sekali tidak perlu membuat orang terlibat dalam debat mengenai apakah realitas yang disebut-sebut dalam suatu narasi metaforis betul-betul secara harfiah ada atau faktual terjadi di dalam dunia ini. Sebab sudahlah jelas, sebuah metafora religius memuat realitas lain yang tidak bisa diungkapkan dalam bahasa biasa yang sehari-hari.

Itu tidak berarti bahwa suatu metafora religius, karena harus dipahami secara simbolik, figuratif atau alegoris, bisa ditafsir sembarang saja, di mana setiap orang bisa dengan bebas memberi tafsirannya sendiri-sendiri secara subjektif.

Langkah bertanggungjawab terpenting dalam menemukan dan memahami dengan tepat pesan dan makna suatu metafora religius adalah menempatkan metafora itu di dalam konteks sosial, kultural, politis dan historis di dalam mana metafora itu diciptakan. Sebab situasi-situasi sosial, kultural, politis dan kesejarahan yang sedang dialami oleh suatu komunitas keagamaanlah yang membuat mereka mencipta metafora-metafora religius. Di sinilah terjadi apa yang disebut history metaphorized. 

Setiap metafora adalah suatu konstruksi sosial-kultural historis, dibangun oleh masyarakat dan kebudayaan; sekaligus juga berefek balik merancangbangun masyarakat dan kebudayaan (Kövecses, Metaphor and Emotion, 13-18, 115). Melalui sebuah metafora religius, pengharapan dan visi tentang masa depan yang seluruhnya lebih baik dibuat berdampak kuat pada kehidupan masa kini dari komunitas keagamaan penghasil metafora itu.

Ada metafora religius yang sangat politis, misalnya narasi-narasi metaforis yang terdapat di dalam Kitab Wahyu Yohanes yang sama sekali tidak bisa dipahami secara literalistik dan faktual. Melalui metafora religius-politis ini, kekuatan-kekuatan penghancur dan pembinasa real yang faktual ada dalam sejarah dan di sekitar komunitas keagamaan dalam dunia masa kini diekspresikan dalam bentuk gambaran-gambaran dan wujud-wujud simbolik dan figuratif yang diproyeksikan ke kawasan adikodrati sebagai kekuatan-kekuatan langit transhistoris yang najis dan anti-Allah.

Kekuatan-kekuatan ini dilukiskan, dalam Kitab Wahyu itu, sedang mengguncang kosmos dan sedang berhadap-hadapan dengan kekuatan-kekuatan suci dari para bala tentara Allah. Pada gilirannya, metafora religius politis semacam ini membentuk masyarakat dan kebudayaan yang di dalamnya si pembuat metafora hidup; masyarakatnya menjadi diberdayakan untuk melawan kekuatan-kekuatan penghancur itu sekaligus untuk merancang masa depan yang telah dibebaskan. Memakai metafora dalam kitab Wahyu, langit dan Bumi lama diganti dengan langit dan Bumi baru.

Ada metafora yang bagus, edukatif, membangun mental dan moral manusia, dan mengangkat derajat manusia ke peringkat yang lebih agung dan lebih tinggi. Perumpamaan-perumpamaan yang disusun Yesus dengan kreatif dan imajinatif, yang terdapat dalam injil-injil Perjanjian Baru, termasuk metafora yang bagus dan edukatif.

Tapi ada juga metafora yang jelek, yang merusak hati dan pikiran, memadamkan wawasan, menghancurkan mental dan moral insani, merendahkan serta mengerdilkan martabat manusia, mematikan karsa dan inisiatif untuk mengubah dan membangun kehidupan dan peradaban ke arah yang lebih maju, lebih mulia dan lebih bernilai. Metafora tentang Allah yang memimpin perang suci untuk membela dan memenangkan bangsa Israel, dengan membinasakan tanpa ampun musuh-musuh Israel, tergolong metafora yang buruk.

Jadi, kita memang perlu memilah-milah dengan cerdas, waras, luas dan tangkas metafora mana yang kita mau gunakan dan metafora mana yang harus kita tinggalkan. 

Ihwal patut atau tidak patut, relevan atau tidak relevan, konstruktif atau destruktif, mendewasakan atau mengerdilkan, mencerdaskan atau menutup akal, memang harus kita pertimbangkan dengan cermat ketika kita sedang berhadapan dengan metafora-metafora, baik metafora yang religius maupun metafora yang nonreligius.

Di zaman sekarang di mana konservatisme dan fundamentalisme religius muncul di mana-mana, dalam semua agama dunia, kesadaran bahwa bahasa keagamaan terutama adalah bahasa metaforis cenderung menghilang.

Umat-umat beragama terlibat persaingan dan pertarungan sengit, internal maupun eksternal, untuk masing-masing mempertahankan dan membela narasi-narasi besar keagamaan yang mereka miliki sebagai narasi-narasi faktual objektif yang sungguh-sungguh pernah terjadi dalam sejarah dunia, padahal sebetulnya narasi-narasi itu semula disusun dan ditulis terutama sebagai narasi-narasi metaforis. 

Akibatnya, teks-teks metaforis membangkitkan agresi dan pertikaian, alih-alih mendatangkan pembaruan dan pemberdayaan kehidupan manusia dan alam seperti yang semula diinginkan para penyusun metafora.

Memperlakukan metafora keagamaan sebagai sejarah faktual dan realitas empiris bisa jadi adalah sebuah kecelakaan terbesar dalam dunia kehidupan agama-agama dalam era modern ini, era yang ironisnya mempertanyakan keabsahan klaim-klaim keagamaan berdasarkan perspektif-perspektif sains empiris dan teknologi modern.

Dengan memahami metafora-metafora religius secara literalistik sebagai fakta-fakta real empiris, mereka, tanpa sadar, telah mengubah teks-teks keagamaan menjadi teks-teks ilmu pengetahuan. 

Mereka perlu diingatkan, teks-teks ilmu pengetahuan itu bergerak dalam dunia fakta-fakta empiris, koherensi logis, teori-teori dan model-model keilmuan, yang harus terus-menerus diuji kembali, diverifikasi atau difalsifikasi. Ironisnya, pada sisi lain, para literalis religius dalam semua agama terang-terangan memperlihatkan perlawanan dan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang mereka nilai sedang merongrong kebenaran-kebenaran mutlak agama mereka. 

Pasti mereka tidak akan pernah siap jika teks-teks metaforis keagamaan mereka, lantaran dipandang oleh mereka sebagai teks-teks fakta-fakta empiris, mau diverifikasi atau difalsifikasi lewat metode ilmu pengetahuan.

Pada satu sisi, mereka melawan dan membenci ilmu pengetahuan, tapi, pada sisi lain, mereka juga memperlakukan teks-teks metaforis keagamaan sebagai teks-teks ilmu pengetahuan. Mereka terjebak dalam suatu labirin oxymoron, dan tak pernah bisa keluar lagi ke alam terbuka.


Stay blessed.