Wednesday, January 6, 2021

Mencari Musim Semi di Musim Pandemi




MENCARI MUSIM SEMI DI MUSIM PANDEMI 

Hai, sekarang ini musim pandemi
Sama sekali bukan musim semi
Ketimbang melihat pohon hijau bersemi
Anda temukan orang mati pucat pasi 

Musim dingin demam menggigil
Akan terus menjadi musim abadi
Musim semi tak lagi datang memanggil
Selama si Covid-19 menjadi raja abadi 

Banyak orang berduit jalan-jalan terus
Ingin melihat pohon-pohon bersemi
Kesenangan berpiknik telah membius
Bagi mereka, pandemi itu musim semi 

Akal manusia jadi terbolak-balik
Akibat dikuasai panik dan hasrat berpiknik
Padahal sistem imun diperkuat saat pandemi
Jika hati dan pikiran kalem dan damai 

Mereka tentu tahu pasti
Angka penularan kini melesat tinggi
Akibat prokes 3M dijalankan setengah hati
Dua ratus lebih dokter sudah mati 

Banyak uang, ya cukup bagus
Tapi jangan dibuang untuk plesiran terus
Gunakan untuk anak-anak yang tak terurus
Lindungi mereka di saat Covid-19 menggerus 

Jika anda mau umur lebih panjang
Lebih baik isi waktu luang
Diam di rumah dengan pikiran lapang
Telpon sanak saudara untuk segera pulang 

Kata anda, lihat tuh anak-anak jalanan
Mereka tampak kebal tak pernah sakit
Jadi, mengapa kami tak boleh jalan-jalan?
Mengapa hak hidup bebas kami dijepit? 

Oh oh oh jangan anda salah berpendapat
Anak jalanan bukan kebal serangan virus
Mereka hidup di ruang outdoor tanpa sekat
Rumah mereka beratap langit tanpa batas 

Tak ada suspensi virus mengapung di udara
Ya, rumah mereka luas beratap langit terbuka
Angin, hujan dan cahaya mentari di luar
Membasmi suspensi virus di udara liar 

Anda hidup di ruang indoor ber-AC sejuk
Bukan di pinggir jalan yang banyak nyamuk
Karena uang anda banyak meluap-luap
Jangan lupa pasang ventilasi lengkap 

Hai, jangan Covid-19 dianggap enteng
Meski tak terlihat oleh mata semata
Si virus kuat bagai seratus ribu banteng
Bagi mereka anda enteng dan renta 

Tubuh kekar anda bukan jaminan
Organ paru anda sangatlah rentan
Saat si virus masuk ke paru segerombolan
Paru anda diam-diam dirusak tak ketahuan 

Anda pun akan tiba-tiba megap-megap
Sesak nafas sungguh tak terlawan
Seolah anda habis jauh berlarian
Padahal sebentar lagi nyawa menguap 

Bruk gedubrak! 

Anda jatuh ke tanah mendadak
Kematian datang melabrak
Oksigen tak sampai ke otak
Mayat anda dibiarkan tergeletak 

Orang takut mendekat
Ngeri tertular virus yang dahsyat
Sampai petugas ber-APD datang melihat
Tubuh anda pun diangkat mangkat 

Manusia dewasa mustahil bermutasi
Mereka tak berubah sampai mati
Proses penuaan bukan mutasi
Peyot, letoi dan keriput lalu akhirnya mati 

Demi bertahan hidup abadi
Si virus terus-menerus bermutasi
Mutasi genetik besar sedang terjadi
Teknologi maju dapat mendeteksi 

Si Mutant Covid Inggris
Belum lama ini telah unjuk gigi
Angka penularan pun meninggi drastis
Orang Inggris lantas merasa jeri dan grogi 

Eeeh.... tak lama kemudian
Si Mutant Covid Afrika Selatan
Muncul melancarkan serangan
Manusia di mana pun makin rentan 

Masihkah orang bermimpi ngalor-ngidul?
Si virus corona baru tak pernah muncul?
Kata mereka, negara-negara sedang mengibul
Demi New World Order nyembul bak sanggul 

Buang segala teori konspirasi
Jangan sebarkan sensasi tanpa isi
Hanya demi tiga puluh periuk nasi
Merekalah pengibul asli tanpa basa-basi 

Musim semi daun-daun dan bunga-bunga
Akan mengganti musim dingin pucat pasi
Jika vaksin-vaksin Covid-19 telah tersedia
Vaksin yang aman, manjur dan tak basi 

Tak satu pun vaksin telah disetel ulang
Agar si mutant virus lari tunggang-langgang
Vaksinasi sedang berjalan di sejumlah negara
Belum terbukti manfaatnya buat warga negara 

Kata para ahli, vaksin baru mRNA pasti manjur
Meski pengalaman belum ada seumur-umur
Padahal pengalaman itu guru yang luhur
Sulit memisahkan manjur dan terlanjur 

Jutaan dosis vaksin mRNA sudah diproduksi
Tak mungkin dibuang ke laut begitu saja
Tak boleh uang jutaan USD raib tanpa guna
Vaksinasi pun bagiku seolah sebuah ilusi 

Bisakah orang imun lewat vaksin basi?
Virus mutant telah berada di km sepuluh ribu
Vaksin-vaksin ya baru sampai di km seribu
Semoga aku sedang berilusi 

Jangan berilusi! Bangun, bangun!
Vaksinasi Covid-19 itu suatu pertaruhan
Dalam melawan habis musuh penuh setahun
Dunia sudah lelah limbung terayun-ayun 

Sekarang ini masa darurat
Perlu otorisasi penggunaan darurat
Bagi vaksin-vaksin yang belum tentu tepat
Susah pertemukan darurat dan tepat! 

Coba dulu dengan vaksin yang telah ada
Serahkan hal lain ke Tuhan Mahapengada!
Pasti pemulihan akan terjadi di mayapada
Wujudkan segera, jangan ditunda! 

Akupun termenung sangat dalam
Apakah perusahaan farmasi penghasil vaksin
Santa Klaus yang datang tengah malam?
Diutus untuk ubah kelam hari kemarin 

Hembusan sejuk angin malam
Membelaiku adem dan kalem
Ajaib, hatiku pun tenteram dan ringan
Meski tubuhku menggigil kedinginan 

Gigil musim dingin masih menemani
Musim semi hijau masih lama dinanti 

Aku hening menemani gundukan salju putih
Mereka menggigil demam kedinginan
Dedaunan hijau belum juga bermunculan
Kepiting sembunyi di gundukan pasir putih 

Badai salju musim dingin
Akankah dikalahkan
Oleh semilir angin sejuk musim semi
dan nyanyian merdu dewa-dewi? 

Kebengisan dikalahkan ketenangan? 

Dari sorga maha tinggi
Sebuah jawaban turun
Suara abadi keheningan
Yang mengalun riang dan sunyi 

"Cari, carilah musim semi
Di saat musim dingin pandemi
Harapan perlu bersemi
Dalam hati sunyi sendiri."

Datanglah, wahai musim semi
Selimuti seantero muka Bumi
Dengan selimut dedaunan wangi
Dan bebungaan warna-warni 

Hai siarkan dari gunung tinggi
Bumi akan bersemarak lagi!
Tapi aku melihat segalanya sunyi
Awan-awan tak ikut bernyanyi

Jakarta, 6 Januari 2020
☆ ioanes rakhmat

Saturday, January 2, 2021

Bahasa Keagamaan dan Bahasa Keilmuan, Di mana Bedanya?



"Dalam banyak perumpamaan... Yesus memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Dia tidak berkata-kata kepada mereka. Tapi kepada murid-murid-Nya Dia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri." (Markus 4:33-34)


BERAGAMA ITU pada hakikatnya berkaitan dengan misteri besar yang dipercaya ada, tetapi tidak bisa dibuktikan dengan objektif lewat lima indra atau lewat instrumen teknologis seperti teropong bintang, radio teleskop atau mikroskop atau mesin sains terbesar dunia Large Hadron Collider, dll.

Anda merasa Tuhan hadir dan ada di sebelah anda, itu bukan bukti bahwa Tuhan itu ada, tetapi suatu perasaan anda saja yang bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan mengapa perasaan itu, sangat real sekalipun bagi anda, bisa muncul. Bidang ilmunya dinamakan neuroteologi, bagian dari neurosains.

Sebagai kepercayaan, beragama itu berada dalam wilayah tata bahasa modus subjungtif, wilayah harapan, keinginan, cita-cita, angan-angan, impian-impian, kedambaan, hal-hal yang dinanti, ditunggu, diimani, dipercaya saja.

Contoh kalimat modus subjungtif: "Semoga besok tidak turun hujan supaya acara resepsi perkawinan si Beludru besok sukses dan dihadiri banyak tamu."

Contoh satu lagi, "Aku berharap puteraku yang semata wayang ini kelak akan menjadi presiden besar negara Amerika."

Lagi, "Aku percaya nanti di tahun depan keponakanku itu akan memenangkan lomba balap Ferari itu, menjadi juara satu. Tak apalah tahun ini dia tak dapat mencapai prestasi apapun."

Nah, dua kalimat pertama di atas adalah kalimat yang mengungkapkan harapan, kenginan, kedambaan, cita-cita, kerinduan, penantian, kepercayaan, angan-angan. Dalam ilmu bahasa dinamakan kalimat bermodus subjungtif.

Nah, contoh ketiga sebetulnya berisi dua kalimat. Kalimat yang pertama jelas suatu ungkapan harapan, impian, cita-cita, kedambaan; jadi bermodus subjungtif.

Kalimat kedua dalam contoh ketiga di atas berisi pernyataan tentang sesuatu, pernyataan faktual meski negatif, bukan pengharapan atau kedambaan.

Kalimat tersebut disebut bermodus indikatif, kalimat yang mengindikasikan atau menyatakan sesuatu, lepas dari ihwal sesuatu yang positif atau yang negatif. Bisa juga mengindikasikan sesuatu yang tidak faktual, tidak sebagai fakta, atau mengindikasikan sesuatu yang faktual.

Pendek kata, kalimat indikatif adalah kalimat yang menyatakan sesuatu, lepas dari benar atau tidaknya pernyataan itu.

Sesuatu dinyatakan, tetapi tidak berisi harapan, cita-cita, kedambaan, keinginan, kepercayaan atau impian. Apa yang diungkap dalam suatu kalimat bermodus indikatif bisa dibuktikan benar atau salah, ada atau tidak ada. Tidak berisi pengharapan atau keinginan atau angan-angan atau cita-cita.

Misalnya, kalimat "Hari ini sampai minggu depan Matahari lupa terbit." Lepas dari benar atau tidaknya pernyataan ini, konyol atau serius, kalimatnya bermodus indikatif, kalimat pernyataan tentang sesuatu. Bisa dibuktikan benar atau salah, tetapi tidak berisi pengharapan. Tidak dipakai kata-kata "Semoga", "Diharapkan", "Bisa jadi", "Barangkali", "Berharaplah", "Sekiranya boleh", "Dipercaya", "Diyakini", "Supaya", dlsb.

Nah, sudah jelas ya beda kalimat modus subjungtif dari kalimat modus indikatif.

Dalam dunia sains, yang umum dipakai adalah kalimat indikatif, kalimat pernyataan yang kebenaran atau kesalahannya harus dibuktikan atau diperlihatkan, lewat berbagai metode ilmiah pengujian berlapis.

Kita katakan, pernyataan apapun dalam dunia sains harus dapat diverifikasi (kebenarannya berhasil diuji dan diperlihatkan) atau difalsifikasi (kesalahannya berhasil ditunjukkan). Dalam filsafat sains, ini dinamakan prinsip verifikasionisme.

Tentu, dalam dunia sains ada hal-hal yang baru sebatas diteorikan, persisnya dihipotesiskan. Suatu hipotesis adalah suatu pernyataan indikatif yang kebenaran atau kesalahannya menunggu dibuktikan atau diperlihatkan. Jadi, hipotesis juga masuk dalam kalimat modus indikatif. Tidak ada hipotesis yang disusun dalam kalimat modus subjungtif.

Tentu kepercayaan tentang sesuatu hal pasti ada dalam diri ilmuwan manapun ketika mereka sedang bergelut dalam dunia sains--- tetapi ini bukan kepercayaan keagamaan, melainkan sebagai bagian ranah kognitif mereka yang harus dirumuskan dengan cermat sebagai sebuah hipotesis.

Postulat atau dalil dalam dunia sains memang diterima benar begitu saja, tidak memerlukan pembuktian. Tetapi postulat dalam dunia keilmuan bukan suatu kepercayaan keagamaan, tidak bermodus subjungtif, melainkan bermodus indikatif.

Postulat bukan hanya diterima benar, tetapi juga dapat dideskripsikan lewat gambar-gambar dengan beranekaragam tanda, simbol, angka, huruf, dan berbagai karakter lain. Anda dapat menunjukkan pada layar datar monitor komputer anda atau menggambarkannya pada suatu papan tulis misalnya dalil bahwa garis lurus adalah jarak terpendek antara dua titik.

Jadi, tidak ada ilmu pengetahuan atau teori ilmu pengetahuan atau dalil atau postulat keilmuan yang bersifat mudah-mudahan, atau sebagai angan-angan, atau sebagai doa pengharapan atau suatu penantian atau suatu impian.

Perlu diingat terus: Kalimat dalam dunia ilmu pengetahuan adalah kalimat modus indikatif. Tidak pernah bermodus subjungtif.

Memang sains juga bergerak dalam dunia "hierarki atau jenjang-jenjang kepastian", dari jenjang teratas yang sudah sangat pasti, paling pasti, menengah pasti, kurang pasti hingga jenjang terbawah sangat kurang pasti.

Kalau sesuatu itu sudah tidak pasti atau sangat tidak pasti, atau yang kebenarannya sudah pasti tidak ada, ya sesuatu ini pasti dibuang ke tong sampah dalam dunia sains. Ada banyak loh sampah ilmu pengetahuan. Bertong-tong banyaknya.

Semua jenjang atau hierarki kepastian ini menunggu pembuktian, mulai dari jenjang terbawah (kurang pasti), naik ke jenjang di atasnya, terus sampai tiba pada jenjang teratas, jenjang "sudah sangat pasti", di saat bukti-bukti yang afirmatif kritis sudah lebih dari cukup terkumpul, dan teori-teori sederhana sudah cukup menjelaskan hubungan kausal bukti-bukti tersebut secara koheren.

Well, suatu teori di jenjang yang "sudah sangat pasti", yang membuat suatu teori disebut "teori besar" ("grand theory") yang "telah diterima" secara universal, dan menjadi bunda atau ayah acuan teori-teori lain, bukan teori yang definitif final.

Dalam dunia sains, tidak ada teori apapun, sepasti apapun, yang dipandang sudah definitif final. Kepastian suatu teori sains tidak terkait dengan finalitas definitif. Kepastian ilmiah selalu temporer, dan berkaitan dengan peringkat kemajuan iptek kita. Mengapa?

Ya, lantaran misteri-misteri alam empiris yang dapat, sejauh ini, diobservasi dan dipersepsi oleh lima indra dan berbagai instrumen selalu bertambah terus, alhasil horison-horison misteri selalu melebar terus.

Apalagi jika kawasan-kawasan dalam jagat raya kita yang terus mengembang (ibarat sebuah balon maha besar yang sedang ditiup terus), yang semula belum bisa diobservasi, kemudian ternyata dapat diobservasi dan dipersepsi ketika iptek yang lebih maju sudah kita miliki.

Belum lagi kalau alam-alam semesta lain (yang membentuk "multiverse") kita juga perhitungkan meski kini belum dapat kita masuki.

Ya, kita berhadapan dan dikurung dalam infinitas keilmuan, dalam ketidakterbatasan keilmuan. We are all overwhelmed by infinity.

Jadi, tak ada ilmu pengetahuan atau teori sains yang sudah final mutlak. Ilmu pengetahuan selalu sebagai titik titik linier atau titik-titik berpilin tanpa akhir, ad infinitum, atau titik koma, atau koma, tetapi tidak pernah titik penuh, full stop.

Kabar baiknya adalah bahwa adanya hierarki kepastian malah membuat sains terus bergerak maju dan berkembang. Tidak bergerak abadi di tempat dalam angan-angan dan doa-doa pengharapan atau impian dan lamunan saja.

Harap disadari, meski berpijak atas hierarki ketidakpastian/kepastian, ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang sudah dapat mengirim astronot-astronot ke bulan kita dan wantariksa-wantariksa tanpa awak ke kawasan-kawasan yang jauh dalam sistem Matahari kita dan beberapa bahkan sudah lepas dari kawasan sistem Matahari kita, melesat ke dalam dunia antarbintang.

Telah disebut di atas adanya prinsip verifikasionisme yang dijalankan lewat pencarian dan pengajuan bukti-bukti. Nah, karena selalu diuji berlapis lewat pengajuan bukti-bukti, setiap posisi keilmuan selalu dengan sendirinya terbuka pada "koreksi diri" atau "self-correction". Tentu saja koreksi diri ini dilakukan lewat tangan para ilmuwan yang terus mengobservasi dan menganalisis, dan melakukan dialektika tesis vs. antitesis yang ketika keduanya dipertemukan dengan dinamis melahirkan sintesis sebagai sebuah tesis baru.

Lalu, bagaimana halnya dengan fiksi sains? Sama juga. Fiksi sains juga bahasa modus indikatif, menunggu waktu untuk tiba pada pembuktian sebagai "sains itu sendiri" atau "science proper", atau "bonafide science", berhubung setiap fiksi sains dibangun dengan fondasi "sains dasariah" atau "basic science". Di atas fondasi kokoh "basic science" ini dibangunlah fiksi-fiksi imajinatif yang merupakan kelanjutan yang menjulang dari fondasinya.

Jadi, ilmu pengetahuan juga bergerak maju dan berkembang terus-menerus di tangan para ilmuwan lewat banyak imajinasi yang berdisiplin dan kreatif (bukan yang "ngaco gak keruan") yang tak pernah habis. Perhatikan tiga ucapan ilmuwan termashyur Albert Einstein berikut ini yang memberi tempat penting bagi imajinasi.

"Tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan, tapi imajinasi."

"Imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Pengetahuan terbatas. Imajinasi menyelimuti dunia."

"Imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Imajinasi adalah bahasa mental. Perhatikan imajinasi anda, maka anda akan menemukan bahwa semua yang anda butuhkan akan terpenuhi."

Keterlibatan imajinasi dalam merancangbangun ilmu pengetahuan menyebabkan ilmu pengetahuan juga memiliki dimensi-dimensi artistik bahkan puitik.

Dalam rangka itulah, kerap para saintis memakai bantuan metafora-metafora dalam menggambarkan dengan imajinatif posisi-posisi ilmu pengetahuan, mulai dari ilmu pengetahuan tentang kawasan "dunia" partikel hingga ilmu pengetahuan tentang "multiverse" atau jagat raya majemuk mahabesar.

Di atas sudah saya pakai metafora "sebuah balon yang sedang ditiup hingga terus mengembang" untuk menggambarkan fakta ilmiah bahwa jagat raya kita terus memuai atau mengembang ("ever-expanding").

Untuk mendeskripsikan ihwal bagaimana jagat raya majemuk terbentuk, dipakailah metafora gelembung-gelembung atau bola-bola busa sabun yang terbentuk sambung-menyambung makin banyak dan menyebarluas dari larutan air sabun yang diaduk dan dihembus. Boleh saja kita iseng bertanya, dari mana adonan atau larutan air sabun itu pada awalnya.

Metafora dalam dunia ilmu pengetahuan selain dapat memperjelas suatu pemikiran ilmiah atau suatu posisi ilmu pengetahuan, juga acap kali dipakai para ilmuwan karena mereka kekurangan atau kehabisan kosa kata ilmiah untuk mendeskripsikan suatu fenomena alam. Atau, lebih mungkin, karena jagat raya ini atau dunia ilmu pengetahuan memang penuh dengan hal-hal yang menyentuh dan menggugah kalbu, jiwa dan pikiran sehingga para ilmuwan condong menjadi insan-insan artistik puitik.

Dengan "metafora" kita menyeberang, bergerak pindah (Yunani: "ferein"), dari kawasan dunia rutin sehari-hari yang tak direnungi lagi, masuk ke dunia-dunia lain yang "melampaui" atau "beyond" (Yunani: "meta") dunia sehari-hari kita, yaitu dunia-dunia yang lebih tinggi, dunia yang tidak atau belum dapat diobservasi oleh iptek atau dunia-dunia lain yang luar biasa mempesona atau luar biasa bernilai atau dunia "adinilai".



Karena memasuki dunia "adinilai", maka ilmu pengetahuan juga bergerak dalam nilai-nilai yang agung, adinilai, nilai-nilai yang "luar biasa besar", dengan kata lain: nilai-nilai transenden. Jadi, selain berurusan dengan fakta-fakta objektif, ilmu pengetahuan juga masuk ke dunia etika.

Karena agama juga kait-mengait dengan dunia-dunia lain yang dipersepsi lebih tinggi dan lebih bernilai, katakanlah dunia para malaikat dan Tuhan yang diyakini penuh pesona dan ketakjuban besar, maka setiap agama tidak bisa lepas dari metafora-metafora.

Yesus tahu betul hal itu. Alhasil, Yesus mengajar dengan banyak metafora, yakni perumpamaan-perumpamaan-Nya dan pepatah-pepatah-Nya yang menggugah jiwa dan menggedor pintu hati dan pikiran. Ada ajaran Yesus untuk kalangan umum (ajaran eksoteris), dan ada juga ajaran tambahan khusus untuk murid-murid inti-Nya, "inner circle" (ajaran bagi kalangan sendiri, kelompok esoteris). Di sinilah ilmu pengetahuan berbeda, karena tidak ada ilmu pengetahuan esoteris, cuma untuk kalangan sendiri.

Tentu saja, sudah sangat lama orang mengklaim bahwa nilai-nilai kehidupan atau "life values" adalah urusan terpenting semua agama. Bahkan, bagi kalangan keagamaan yang ekstrim, nilai-nilai kehidupan hanya dimonopoli oleh agama, sudah tertulis harga mati dalam teks-teks keagamaan. Kata mereka, sains tidak bisa dan tidak berhak berbicara atau berurusan dengan nilai-nilai.

Uupps... tentu saja klaim kalangan ekstrim keagamaan tersebut berlebihan, totalitarian, dan meleset. Sebab sains juga memberi nilai-nilai yang sangat luas dan multidimensional, mengevaluasi nilai-nilai, dan membarui nilai-nilai kehidupan terus-menerus.

Lepas dari aspek-aspek bisnis dan politik dari perusahaan farmasi dan negara, para ilmuwan yang bekerja keras untuk mengembangkan vaksin-vaksin Covid-19 dan menjalankan uji-uji klinis adalah orang-orang cerdas dan berhati mulia yang sedang berjuang memelihara, mempertahankan dan menyelamatkan kehidupan manusia lewat vaksin-vaksin yang aman, manjur atau efektif dan "up-to-date". Nah, jelas terlihat, baik para ilmuwan vaksin, ilmu vaksinologi, maupun vaksin-vaksin yang mereka kembangkan, juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Nah, semua pemaparan di atas menimbulkan sejumlah implikasi praktis yang penting dan serius.

Karena bahasa keagamaan adalah bahasa subjungtif, maka beragama adalah berharap, menanti, menunggu, bercita-cita, mempercayai sesuatu, merindukan, memimpikan atau mengangan-angankan sesuatu yang belum ada sekarang. Belum terbukti objektif empiris ada.

Alhasil, beragamalah dengan rendah hati dan berpikiran luas, tidak bisa sombong-sombongan, tidak cupet. Dan terbukalah pada banyak pilihan spiritualitas dan beranekaragam penafsiran. Bangun dunia ini. Bangun dan bela kehidupan. Hindari dan cegah kematian.

Jika anda bersikap begitu, meskipun agama itu bermodus subjungtif, anda lewat agama anda akan melahirkan karya-karya dan tindakan-tindakan besar. Anda akan menjadi seorang mahatma.

Pantanglah memandang diri sendiri sebagai orang yang paling benar dan berhak menjadi hakim yang bengis terhadap kalangan lain yang berbeda.



Jika anda menjadi hakim yang bengis dan keras demi membela aliran pemikiran keagamaan anda sendiri, nah ketika anda mati (karena terkena Covid-19 misalnya), anda akan langsung dihakimi oleh Tuhan anda dengan cara yang sama yang anda pakai di Bumi. Pernah gak hal ini anda renungi? Jadi? Ya, terserah anda. Mau jadi jadi-jadian juga boleh.

Perhatikan dua kutipan berikut.

"Lihat, orang-orang yang bengis jatuh. Mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi." (Mazmur 36:13)

"Jika seseorang terlihat bengis, jangan campakkan dia. Sadarkan dia lewat kata-katamu. Angkat dia dengan perbuatanmu. Balas luka-luka yang ditimbulkannya dengan kebaikan. Jangan buang dia. Buang kebengisannya." (Lao Tzu)

Teks Mazmur 36:13 yang telah dikutip di atas adalah teks Yahudi-Kristen yang dipercaya sebagai firman Tuhan, kehendak Tuhan Allah. Ya, bisa terjadi, tetapi sulit sekali, lantaran orang yang bengis biasanya sudah menghimpun kekuatan di sekeliling mereka. Harapan hanya bisa ditumpukan pada tindakan Tuhan sendiri, pada intervensi Allah sendiri. Itulah yang ada dalam pikiran si penulis teks Mazmur tersebut. Mereka akan "dibanting" oleh Tuhan Allah sendiri.

Nasihat bajik pujangga dan filsuf Lao Tzu (hidup antara abad 6 SM dan abad 4 SM) memang luar biasa, maksudnya luar biasa sulit untuk sukses dijalankan berhubung sifat bengis dan si manusianya sudah menyatu. Sang malaikat kebajikan pun tampaknya juga tak akan berhasil memenuhi harapan si "guru gaek" Lao Tzu. 

Lagipula, apakah wejangan baik si filsuf Tiongkok kuno ini perlu dituruti, jika si manusia bengis yang mau diselamatkannya sudah menyebar maut ke mana-mana dan tak lagi memiliki nurani yang hidup. Dalam istilah sekarang,... jika si manusia bengisnya adalah seorang psikopath atau sosiopath. Tetapi siapa pun yang mau mencobanya, jalankanlah nasihat yang agung ini, meski akan dapat menjadi suatu usaha menegakkan sehelai benang yang basah.

Begitu juga, jika anda seorang ilmuwan, rendah hatilah. Ingat, ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak akan menjadikan sombong dan takabur siapapun yang berilmu.

Baktikanlah diri anda untuk--- lewat ilmu anda, lewat iptek yang anda dan teman-teman anda bangun dan kembangkan--- melakukan perbuatan-perbuatan yang agung, terhormat, mulia dan bernilai besar dan abadi buat sesama anda, buat kemanusiaan, buat bentuk-bentuk kehidupan lain, dan buat planet Bumi dan jagat raya kita.

Hai para agamawan, tidak usahlah anda berpura-pura menjadi ilmuwan. Anda tidak pernah terlatih puluhan tahun dalam metode-metode keilmuan. Kalau anda memaksa diri (mungkin karena anda ditekan orang lain), anda akan menjadi "ilmuwan norak" yang akan membahayakan kehidupan.

Tidak usah mencocok-cocokkan teks-teks keagamaan anda dengan teks-teks ilmu pengetahuan. Ini usaha yang selamanya akan sia-sia. Anda hanya akan lihai di bidang cocokologi, tanpa pernah bisa menjadi ilmuwan sejati. Cocokologi itu, setahu saya, rapuh dan melelahkan. Fungsi utama agama anda sebagai pemandu etika yang responsif kreatif akan terabaikan.

Hai para ilmuwan, janganlah jual diri anda, berapapun besarnya harga yang ditawarkan ke anda. Tetaplah melangkah terus sebagai ilmuwan. Obor penerang peradaban ada di tangan anda.

Jangan menjadi ilmuwan gelandangan yang kuyu dan tanpa cahaya di mata. Jangan jadi ilmuwan pelacur. Jangan juga berubah jadi pseudo-ilmuwan yang disewa atau dikontrak seperti rumah kontrakan yang tak terurus.

Hai para agamawan dan para ilmuwan, kalian dapat bertemu dalam dunia etika, dunia nilai-nilai. Bersama-sama dan saling mengisi dengan cerdas, bermartabat, terhormat dan terpelajar, kawallah pembangunan, pengembangan dan pemajuan peradaban-peradaban dunia ini.

2 Januari 2021
ioanes rakhmat

Thursday, December 31, 2020

My poem: The Kingdom of Non-Duality



THE KINGDOM OF NON-DUALITY

Humans are scared
of becoming old
Being old is perceived
As a condition to be cursed

None loves oldness
It's against youthfulness
It is hated by resplendent ladies
It's an enemy of gorgeous goddesses

It is weird, isn't it?
In fact, all know it
That oldness is universal
A phenomenon common to all

Human and divine beings
Compete to reach everlastingness
To achieve eternal youthfulness
To overcome lifelessness

Science has not defeated oldness yet
The arrow of time still moves forward fast
Still unlikely to travel back to the past
Over time everything will be extinct

Hi Oldness, why are you so dreadful?
Could you be so beautiful?
Could you be so meaningful?
Give them your answers in full

Yeah, me, Oldness, is always thought
As the entrance to sorrowful plight
The gate to the kingdom of dust
Ending up somewhere in naught

Is emptiness so fearful?
Is impermanence so ghastly?
Is silence so frightful?
Is absence so ghostly?

Well, I'm telling you my beloved
You'll never never be old
Insofar as you know the road
The road weirdly traveled

Feel deeply the silence of a voice
Touch softly the absence of a presence
Embrace the presence of an absence
Kiss warmly the eternal impermanence

All of them are your lovers
So... make love with your lovers

Follow the quiet rhythm of solemn anthem
Scream, scream, silently scream

Let's dance, dance, and dance
In harmony with the sound of utter silence

Your lovers give you abiding freshness
They bestow you long-lasting wellness
They grant you limitless fullness
They confer you amazing thoughtfulness

To think about death and life
We need to be critically creative
Critical ceativity is liberative
Think from a non-duality perspective

When you still live, think you die
When you die, think you still live
Old and young are then simultaneous
Death and life are then contemporaneous

While you're still alive
Do anything noble
When you have to die
Die for anything honorable

Nothing is something
Something is nothing
Silence is voice
Voice is silence

The Lord becomes human
Humanity is the Lord's mansion
Presence is absence 
Absence is presence

A man is a woman
A woman is a man
Pretty is a man
Handsome is a woman 

A grandma is a little Rachel
A little Rachel is a grandma
A little Paul is a grandpa
A grandpa is a little Paul

Do appreciatively to Shindu
The things you want Shindu
To do respectfully to you
Oneness exists between Shindu and you

As you live in the physical world of duality
The root cause of human conflict and frailty
Cross, cross the border bravely
To enter the kingdom of non-duality

Crossing over is unavoidable
You are the chosen one
Many many more will come
To the fore

Rivers flow forever
Fishes swim for ever and ever
Rivers and fishes are one
No dichotomy is in existence

Dive, dive into the river!
The blue ocean is awaiting you, hi comer!

In this kingdom of thing-as-nothing
You don't have anything
Even though you have everything
You will then joyfully be singing

An infinite song of an endless longing
A very long longing for thing-as-nothing!
Me, Oldness, is admirably nothing-as-thing
Don't you worry about nothing-as-thing?

Empty yourself, then wholeness is yours
Discard the content, fullness then comes

During youth, your body worked so hard
In old age, you have a peace of mind
As a young man, you studied physics
As an elderly person, you now write poems

Body and mind are one
Scientists and poets are one
Young and old are one
All are enveloped by the same
The Non-Dual Supreme

Fly, fly, fly up to the limitless sky
While you're sleeping on your bed soundly
The one on a bed and the one in the sky
Are one and the same entity

Blessed are those
Who are chosen to be
The children of that kingdom
Which knows no dualism

They're nowhere
Yet they're everywhere
They're finite
Yet they're infinite


Dec 31, 2020
ioanes rakhmat

"Happy Old New Year!"
-----------------------------------------
"So Starym Novym Godom!"


Sunday, December 27, 2020

Kabar Sorgawi: Santa Klaus dan Piet Hitam Akan Bagikan Vaksin Covid-19 Gratis!



Sikap dan gerakan menolak vaksin apapun adalah salah besar. Seharusnya, kalangan yang menolak vaksin, bersikap jeli: tolaklah vaksin yang tidak tepat, yang tidak "up-to-date", yang tidak aman, tidak manjur, dan yang serokonversinya rendah. Lalu, dukunglah program vaksinasi pemerintah yang memakai vaksin-vaksin yang tepat, up-to-date, aman, manjur dan memperlihatkan serokonversi tinggi.

Begitu juga, adalah salah jika orang menolak vaksin apapun lalu mendukung hanya prokes 3M plus sebagai ganti vaksinasi.

Sebab, prokes 3M yang dijalankan jangka sangat panjang, tanpa vaksinasi, akan menimbulkan dampak berat dan buruk pada psikologi manusia dan kegiatan sosial ekonomi yang luas. "New normal" itu beda sekali dari "Normal".

Kita sudah tahu dampak psikologis negatif dari prokes 3M pada anak-anak yang harus terlalu lama menjalankan "online schooling" dengan akibat pergaulan sosial mereka nyaris terhenti. Juga pada orang dewasa tertentu yang harus jangka panjang bekerja online dari rumah, "working from home". Belum lagi "covid-insomnia" dan "covid-anxiety and stress" yang melanda banyak orang di seluruh dunia, karena pandemi yang hebat dan juga karena pelaksanaan prokes 3M yang terlalu lama meski perlu.

Lantas? Ya untuk keluar dari labirin pandemi Covid-19, jalannya yang paling tepat adalah vaksinasi global dengan vaksin-vaksin apapun yang tepat, "up-to-date", aman, manjur dan memiliki serokonversi yang tinggi sehingga mampu, lewat aksi-reaksi sistem imun, membangkitkan antibodi-antibodi yang lengkap dengan durabilitas yang sangat panjang, 10 tahun atau selamanya.

Susahnya, antara lain lantaran imunitas yang dimiliki manusia dan seleksi alam, si virus SARS-CoV-2 kini tampak sedang bermutasi terus, bukan mutasi-mutasi minor yang dapat diabaikan, tetapi mutasi-mutasi mayor pada morfologi luar, termasuk pada protein "spike" mereka. Kayaknya, si virus sedang bermain petak umpet dan pasang puzzle dengan para vaksinolog.

Vaksin-vaksin teknologi baru mRNA yang sudah diproduksi, dan belum di-"adjust" dengan mutasi-mutasi besar si virus SARS-CoV-2 belakangan ini, apakah harus dibuang, karena mubazir? Dus, jutaan USD akan raib begitu saja? Atau tetap akan dijual dan disuntikkan dengan dalih "denial" bahwa vaksin-vaksin ini masih ampuh dalam menangkal, misalnya, si Mutant Covid Inggris dan si Mutant Covid Afrika Selatan? Susah menjawabnya. Business is business. Uupps, health is health, isn't it, Pfizer and Moderna?




Kasus infeksi di Indonesia yang pesat meningkat belakangan ini (per 26 Desember 2020, kasus positif mencapai 706.837), dan penularan komunitas (dalam satu keluarga dan dalam satu RT/RW) yang makin menggila, pasti ada penyebabnya. Apakah lantaran pengabaian prokes 3M yang disengaja? Ataukah karena virus SARS-CoV-2 di kawasan-kawasan Indonesia yang paling berat terdampak sudah bermutasi besar dengan menghasilkan strain baru yang lebih agresif dan lebih cepat menular? 

Pertanyaan yang kedua itu hanya bisa dijawab oleh para ilmuwan lewat teknologi sekuensing genetik si virus yang menunjang! Yang tentu sangat mungkin adalah gabungan dua pertanyaan itu.

Adakah upaya lain? Ya ada.

Mari minta tolonglah rame-rame ke Santa Klaus supaya si santa suci ini bersama Piet Hitam dalam musim Natal di ujung Desember 2020 ini datang ke seluruh warga dunia, 8 milyar lebih manusia, dengan membagi-bagi gratis vaksin Covid-19 paling mujarab dan manjur abadi lewat cerobong asap dan jendela-jendela. Vaksin Santa ini "made in heaven".

Jadi, bangunlah cerobong-cerobong asap di rumah anda, dan buka jendela rumah dari jam 24 hingga jam 3 dini hari. Vaksin-vaksin Covid-19 gratis penolong dunia akan berjatuhan ke dalam rumah anda. Percaya gak? SAYA SIH MAUNYA PERCAYA. Maunya loh.


Salam,
Santa Klaus dan Piet Hitam
27 Desember 2020





Friday, December 25, 2020

Tuhan Menyepi


TUHAN MENYEPI

Konon dulu di bulan Desember
Malaikat berdiri berjejer
Di awan-awan yang tersebar
Madah sorgawi pun menggelegar

Menyambut kelahiran
Bayi mungil kudus sang harapan
Yang terbaring dalam palungan
Pemenuhan segala harapan

Allah turun ke dunia
Mengambil rupa manusia
Yesus nama untuk-Nya
Sang Tuhan penolong dunia

2020 di bulan Desember
Rumah sakit meluap luber
Dipenuhi pasien yang tertular
Si Mutant Covid menyambar

Tak terdengar madah malaikat
Tangisan menggelegar berat
Dari wajah manusia sekarat
Tanpa upacara turun ke liang lahat

Para malaikat ikut antrian
Turun dari ketinggian awan
Masuk dalam kesunyian
Jasad-jasad yang disemayankan

Tuhan menyepi dalam kesunyian
Dalam sebuah kandang sendirian
Badan menggigil kedinginan
Terserang demam berselimutan

Datangi, datangi Tuhan
Beri, beri Dia pengharapan
Bisikku kepada dua insan
Yusuf dan Maria berpasangan

Natal pun ramai keheningan
Dihadiri Tuhan yang setiawan
Yang ikut menanggung kesakitan
Sampai nyawa-Nya dipertaruhkan

Yesus, Yesus, apa makna bernatalan?
Dia menjawab dengan senyuman
Senyuman sunyi hening sendirian
Mataku pun bercahaya penuh tangisan

Aku menangis jutaan tahun
Ditemani semarak hijau daun-daun
Musim semi tak pernah berlalu
Dihidupi siraman putih salju


Jakarta, 25 Desember 2020
☆ ioanes rakhmat

We wish you a merry and blessed Christmas