Sunday, August 8, 2010

How God Changes Your Brain

Andrew Newberg & Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings From A Leading Neuroscientist (New York: Ballantine Books, 2009). 
“Saya memiliki pengharapan dan perasaan bahwa Allah atau suatu realitas dasariah, dalam bentuk apapun yang dapat diambilnya, sebetulnya ada. Saya tidak tahu apakah intuisi saya ini benar, tetapi saya sangat senang dengan ketidakpastian saya ini.” (Andrew Newberg)
“Bagi saya, tidaklah menjadi suatu masalah jika Allah itu sebuah ilusi atau suatu fakta, sebab jika pun Allah itu suatu metafora, Allah merupakan segala sesuatu yang menjadi tujuan kita yang kita mampu capai, suatu ideal yang menawarkan pengharapan kepada jutaan orang di seluruh dunia.” (Andrew Newberg) 

“Secara pribadi, saya dapati sains lebih memuaskan dan lebih misterius ketimbang filsafat dan teologi. Jadi bagi saya, Allah adalah sebuah metafora, bukan sebuah fakta. Namun saya memandang pencarian seseorang akan Allah adalah suatu pencarian yang mulia, dan mempertanyakan keberadaan Allah adalah suatu bagian esensial dari pencarian itu.” (Mark Robert Waldman)
 


Sejak kita dilahirkan, sudah ada suatu “perintah kognitif” yang tertanam secara biologis dalam otak untuk kita berupaya keras belajar sebanyak mungkin tentang dunia ini. Belajar adalah sebuah dorongan dan kesadaran neurologis yang sudah tertanam dalam otak kita. Dalam dunia keagamaan, sejak masa kanak-kanak dini, Allah menjadi ada di dalam otak setiap manusia sebagai suatu kombinasi gagasan-gagasan, gambar-gambar, perasaan-perasaan, sensasi-sensasi, dan hubungan-hubungan, yang ditanamkan ke dalam otak lewat kegiatan pembelajaran yang terbuka atau lewat indoktrinasi satu arah. Sejauh menyangkut fungsi mekanis neuron-neuron (= sel-sel saraf otak; jumlahnya 100 milyar) dalam organ otak kita, tidaklah penting apakah yang mengaktifkan bagian-bagian otak kita adalah Allah sebagai suatu konsep (= teologi/dogma/akidah), ataukah Allah sebagai suatu perasaan dalam mental kita (misalnya bahwa Allah adalah cinta), ataukah Allah sebagai suatu pengalaman rohani (misalnya pengalaman mistikal kaum sufi menyatu dengan Allah, atau pengalaman berbahasa lidah di kalangan Kristen pentakostal). Ketika Allah kita pikirkan, atau kita hayati atau kita alami dengan nyata, maka Allah ini mengaktifkan bagian-bagian tertentu otak kita, dan melalui aktivitas neurologis yang terus berulang kepribadian religius kita terbentuk, entah kepribadian yang keras atau kepribadian yang lembut. 

Berikut ini sketsa struktur-struktur dan sirkuit-sirkuit neurologis penting dalam organ otak manusia yang membentuk persepsi manusia mengenai Allah, dan yang sekaligus membentuk kepribadian kita sebagai manusia. Sebaliknya, doktrin-doktrin tentang Allah (entah Allah sebagai sosok yang kejam, atau Allah sebagai sosok yang penuh cinta) perlahan-lahan juga membentuk otak anda, dan jika pembentukan ini sudah berlangsung lama dan panjang, otak anda, dus pembawaan religius anda, akan sulit sekali untuk berubah lagi, kendatipun neuroplastisitas otak masih memungkinkan perubahan terjadi.


Sirkuit “Allah” dalam Otak Manusia



(1) Sirkuit occipital-parietalis

Sirkuit ini, yang terdapat di bagian belakang otak, mengidentifikasi Allah sebagai suatu objek yang ada di dalam dunia. Sirkuit ini memberikan kemampuan untuk membayangkan Allah secara antropomorfis (= dalam wujud manusia). Anak-anak kecil memandang Allah sebagai sebuah wajah karena otak mereka belum dapat memproses konsep-konsep spiritual yang abstrak. Lobus parietalis —bagian otak yang memproses pertanyaan tentang “apa” dan “di mana”— pada kanak-kanak sangat aktif jika mereka sedang memikirkan kodrat Allah. Dalam masa beberapa tahun permulaan kehidupan, kita umumnya membentuk paham kita sendiri yang serupa mengenai realitas spiritual, misalnya bahwa pada masa kita kanak-kanak, Allah kita bayangkan sebagai seorang tua berjenggot yang berdiam di angkasa, di suatu kawasan yang dapat dilihat.

Sejalan dengan pertambahan usia menuju dewasa dan dengan kebebasan manusia untuk menemukan diri dan spiritualitasnya kembali, otak manusia mengalami evolusi neurologis sehingga gambaran-gambaran simbolik yang makin abstrak dan makin merangsang secara emosional mengenai Allah akhirnya muncul. Menurut James Fowler (dalam bukunya Stages of Faith: The Psychology of Human Development [Harper SanFrancisco, 1981]), jika kita merenungi makna kehidupan dengan mendalam, maka gagasan-gagasan kita tentang Allah berevolusi dari gagasan-gagasan yang kongkret pindah ke kepercayaan-kepercayaan mitologis yang lebih abstrak, dan dari sini ke nilai-nilai tanggungjawab sosial yang lebih universal.

Ide-ide tentang Allah (atau ide-ide tentang hal-hal lain apapun) tidak ada yang menetap permanen dalam otak kita, tetapi sejalan dengan neuroplastisitas neuron-neuron otak kita, kita terus mengubah ide-ide ini, dan kemampuan ini menjadikan kita manusia yang unik. Neuron-neuron otak kita tidak bersifat menetap, selama masih sehat, tetapi tetap berubah sepanjang masa, karena otak kita memiliki suatu helaian DNA yang dapat bermutasi. Di samping itu, perilaku kompetitif, pengaruh lingkungan, pendidikan, atau bahkan sebuah khotbah yang membangkitkan semangat, atau sebuah teks dalam kitab suci yang dibaca, dapat memicu pembentukan kembali dengan cepat tenunan sirkuit-sirkuit neurologis dalam otak kita. Tidak ada dua orang yang mempersepsi dunia atau Allah dengan cara yang sama, sebab tidak ada dua otak manusia yang bermula dengan kode genetik yang sama.

Jika lobus occipitalis dan lobus temporalis (berlokasi di bawah lobus parietalis, di atas telinga) luka, maka orang akan merasakan sedang melihat atau mendengar segala macam fenomena yang ditafsirnya sebagai fenomena religius, mistikal atau demonik. Di bawah lobus parietalis terdapat lobus temporalis yang memungkinkan orang mendengarkan suara-suara Allah.

(2) Sirkuit parietal-frontalis 

Sirkuit ini membangun sebuah hubungan di antara dua objek yang dikenal sebagai “anda” dan “Allah.” Sirkuit ini menempatkan Allah dalam ruang dan memungkinkan anda mengalami kehadiran Allah. Jika anda mengurangi aktivitas di dalam lobus parietalis melalui meditasi atau melalui doa yang khusuk, batas-batas antara anda dan Allah lenyap, dan anda merasakan suatu pengalaman mistikal telah menyatu dengan Allah, memasuki suatu suasana yang tidak dibatasi ruang dan waktu lagi. Anda merasakan suatu kesatuan dengan objek kontemplasi dan dengan kepercayaan-kepercayaan spiritual anda.

Sebaliknya, jika lobus parietalis sangat aktif, orang dimungkinkan untuk membayangkan suatu Allah yang terpisah dari dirinya, yang berada di luar batas-batas keberadaan dirinya pribadi. Ketika, misalnya, seorang Kristen pentakostal karismatik terbenam dalam penyembahan intensif kepada Allah dan mulai berbahasa lidah (= glossolalia), aktivitas di sirkuit parietalis meningkat tajam, dan dia mulai merasakan ada suatu “kehadiran ilahi” (= Roh Kudus) di sampingnya yang sedang berkomunikasi dengan dirinya. Ketika hal ini terjadi, aktivitas di lobus frontalis menurun, tetapi sebaliknya aktivitas di kawasan sistim limbik (tentang ini, lihat di bawah) meningkat sehingga membuatnya makin terbenam ke dalam pengalaman-pengalaman emosional yang memblokir kesadaran kritis rasional.

(3) Lobus Frontalis

Lobus frontalis menjadikan kita manusia yang unik. Di bagian korteks neuron inilah berakar imajinasi, kreativitas, orisinalitas dan kemampuan bernalar dan berkomunikasi dengan orang lain, dan kemampuan untuk menjadi lebih damai, lebih berbelarasa, dan lebih termotivasi. Bagian ini memungkinkan kita untuk membuat sebuah konsep logis mengenai suatu Allah yang rasional, bijaksana dan pengasih. Jika aktivitas lobus frontalis meningkat, sementara aktivitas sistim limbik menurun, maka orang akan merasakan kedamaian dan ketenteraman. Semakin orang giat dalam kegiatan intelektual, semakin kuat lobus frontalis-nya.

Bagian ini menciptakan dan mengintegrasikan semua gagasan anda tentang Allah—gagasan yang positif atau gagasan yang negatif—termasuk logika yang anda gunakan untuk mengevaluasi kepercayaan-kepercayaan spiritual dan keagamaan anda. Bagian ini memprediksi masa depan anda dalam hubungan anda dengan Allah dan berupaya secara intelektual untuk menjawab semua pertanyaan “mengapa, apa, dan di mana” yang muncul di bidang-bidang spiritual. Orang yang memiliki lobus frontalis yang sangat aktif dapat terbenam ke dalam usaha membuktikan keberadaan Allah secara filosofis dan matematis. Berbeda dari sirkuit occipital-parietalis otak kanak-kanak, lobus frontalis orang dewasa yang sudah matang bertanggungjawab menimbulkan imajinasi, kreativitas dan orisinalitas yang digunakan orang dewasa ketika mereka mencoba menggambarkan sifat-sifat abstrak non-bendawi dan misterius Allah.

(4) Thalamus

Thalamus adalah suatu stasiun pemroses besar dalam organ otak manusia: segala pengindraan, suasana atau modus dan isi pikiran melewati organ otak ini ketika informasi diteruskan ke bagian-bagian lain otak. Semakin anda terbenam ke dalam perenungan tentang suatu objek khusus, semakin aktif thalamus anda. Jika thalamus tidak berfungsi lagi, maka orang akan mengalami keadaan koma. Bahkan kerusakan kecil saja pada thalamus, akan menghambat kinerja bagian-bagian lain otak manusia.

Pada bagian inilah otak kita memberi kita kemampuan untuk merasakan sesuatu yang kita sedang pikirkan sebagai sebuah kenyataan, seolah gagasan-gagasan kita adalah suatu objek yang nyata di dalam dunia ini. Semakin anda memikirkan suatu gagasan berulang kali dan dengan sangat serius, maka thalamus memberi respons berupa sebuah impresi dalam diri anda bahwa gagasan ini adalah suatu objek nyata. Di dalam thalamus inilah makna emosional diberikan kepada pikiran-pikiran kita yang muncul di dalam lobus frontalis, sehingga kita tidak ingin dipisahkan dari pikiran-pikiran kita. Sehubungan dengan agama, thalamus memberi suatu makna emosional pada konsep-konsep anda tentang Allah: organ inilah yang membuat anda mencinta Allah anda (atau sebuah gagasan anda tentang Allah) dan tidak ingin dipisahkan darinya. Thalamus memberi anda suatu makna menyeluruh mengenai dunia ini dan tampaknya merupakan suatu organ kunci yang membuat Allah terasa objektif dan nyata.

Jika thalamus terus diaktifkan melalui meditasi (yang di dalamnya kita sungguh-sungguh memikirkan gagasan-gagasan kita sebagai kenyataan real dalam dunia objektif), maka kita akan memandang kenyataan secara berbeda dari pandangan yang normal dan biasa. Jika seorang praktisi meditasi tingkat tinggi sungguh-sungguh memikirkan dan memandang Allah, ketenteraman dan kesatuan dengan segala yang ada dalam jagat raya sebagai kenyataan-kenyataan real dalam kehidupannya, maka (salah satu) organ thalamus-nya terus aktif (sekalipun dia tidak sedang bermeditasi) dan keadaan ini memberi kepadanya suatu kesadaran yang melampaui keadaan sadar yang biasa: pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinannya bukan lagi ada hanya dalam dunia gagasan, tetapi betul-betul dialaminya dengan jelas dalam dunia nyata.

(5) Amygdala

Amygdala adalah bagian otak yang paling tua dalam perjalanan sejarah evolusi biologis otak manusia, terbentuk 450 juta tahun yang lalu. Amygdala menjadi suatu bagian dari sistim limbik organ otak. Jika aktivitas amygdala meningkat, maka gelombang rasa takut dan kecemasan menyerbu anda, karena zat-zat neuro-kimiawi yang destruktif mengalir deras masuk ke dalam otak. Jika orang berpikir negatif terhadap dirinya sendiri, atau memandang kehidupan ini dengan negatif, aktivitas di amygdala makin meningkat. Ketika dirangsang secara berlebihan, amygdala menciptakan suatu impresi emosional tentang suatu allah yang menakutkan, autoritatif, dan menghukum, dan menekan serta mematikan kemampuan lobus frontalis untuk berpikir logis mengenai Allah.

(6) Striatum

Struktur ini menghambat dan menekan aktivitas dalam amygdala sehingga memungkinkan anda merasa aman di dalam kehadiran Allah, atau di dalam kehadiran objek atau konsep apapun yang anda sedang kontemplasikan. Bersama dengan anterior cingulate (tentang ini, lihat di bawah), striatum mengendalikan amarah dan rasa takut. Jika aktivitas di dalam anterior cingulate dan striatum terhambat, maka amygdala mengambil kendali dan keadaan ini membangkitkan respons “tempur atau mundur” (fight or flight response) yang menyebar ke dalam setiap bagian otak anda.

(7) Anterior cingulate

Korteks ini masih berusia sangat muda, berusia 15 juta tahun dalam perjalanan sejarah evolusi biologis otak manusia, yang berlangsung bersamaan dengan evolusi kebudayaan dan pemikiran keagamaan manusia. Korteks anterior cingulate adalah “jantung” (atau “hati”) dan “jiwa” neurologis manusia. Korteks ini memainkan suatu peran yang menentukan di dalam praktek-praktek spiritual, dan terlibat dalam pembelajaran, memori, perhatian yang terfokus, pengaturan emosi, koordinasi motoris, jumlah detak jantung, pendeteksian kesalahan, pengantisipasian ganjaran, pemonitoran konflik, evaluasi moral, perencanaan strategi, empati dan kasih sayang.

Korteks ini menjadi suatu perantara atau sebuah titik tengah jungkat-jungkit antara perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang muncul dalam sistim limbik pada satu pihak dan logika serta nalar yang diproses dalam lobus frontalis pada pihak lainnya. Kesadaran sosial dan intuisi juga dibangun dalam korteks ini. Jika bagian otak ini diaktifkan terus-menerus, maka anda akan menjadi seorang yang toleran dan pluralis, dan dapat berumur panjang. Perempuan memiliki struktur anterior cingulate lebih besar ketimbang pria; karena itulah kaum perempuan umumnya lebih empatis, lebih mudah merasakan keadaan diri orang lain, lebih terampil bersosialisasi, tetapi juga lebih reaktif terhadap rangsangan-rangsangan yang menimbulkan ketakutan.

Struktur ini memungkinkan anda mengalami Allah sebagai Allah yang pengasih, penyayang dan berbela rasa. Struktur ini mengurangi kecemasan, rasa bersalah, ketakutan dan kemarahan religius dengan cara menekan aktivitas di dalam amygdala.

(8) Sistim limbik

Sistim ini terdiri atas amygdala, hippocampus, hypothalamus, dan thalamus, selain bagian-bagian lain yang tidak diperlihatkan dalam gambar. Jika sistim limbik makin aktif, intensitas emosional meningkat. Orang yang memiliki sistim limbik yang sangat aktif dapat terbenam ke dalam perenungan tentang ajaran tentang dosa warisan yang bermula dari suatu Allah pemurka terhadap nenek moyang manusia. Allah yang tercipta dalam sistim limbik adalah Allah yang kejam, keras, agresif, pemarah, pendendam, penghukum dan menakutkan. Selain itu, orang yang memiliki sistim limbik yang sangat aktif mudah terserang penyakit jantung dan penyakit otak; dan karenanya akan berumur pendek (tetapi tentu tidak selalu demikian).

Pengalaman spiritual

Pengalaman spiritual seseorang, entah pengalaman yang nyata atau yang dibayang-bayangkan saja, mengubah neuron-neuron di organ otaknya sehingga orang ini memandang kenyataan dan hubungan dirinya dengan dunia berbeda secara signifikan dari sebelumnya. Dibandingkan kemampuan alam sadar yang memproduksi pandangan tentang kenyataan secara terbatas dan terfragmentasi, proses tak sadar dalam otak manusia melahirkan pandangan yang lebih menyeluruh atas kenyataan.

Pengalaman-pengalaman spiritual mendorong bekerjanya sistem saraf otak yang membangkitkan perasaan seseorang (sistem saraf simpatetis) dan yang menenangkan batinnya (sistem saraf parasimpatetis). Pengalaman spiritual sangat beraneka ragam dan distimulasi oleh (dan menstimulasi) beraneka ragam aktivitas neurologis dalam lebih dari satu bagian organ otak manusia. Dan setiap orang memiliki “sidik jari” neurologis yang unik di dalam otaknya yang menggambarkan Allah yang dipercayanya. Hampir tidak ada seorangpun menggunakan kata-kata, frasa-frasa, atau ungkapan-ungkapan yang sama dengan yang dipakai orang lain dalam mendeskripsikan pengalaman spiritual berjumpa dengan suatu Allah. Setiap pengalaman keagamaan dan pengalaman spiritual adalah unik, karena tidak ada satupun helaian DNA otak manusia yang sama dengan helaian DNA otak manusia lainnya dan juga karena perbedaaan kebudayaan yang membesarkan dan membentuk kesadaran kognitif setiap manusia.

Bisa terjadi bahwa teks-teks suci yang berbeda-beda pada hakikatnya menggambarkan suatu pengalaman rohani universal, tetapi ketika pengalaman ini ditulis, penulisannya menggunakan bahasa yang unik, yang diangkat dari kebudayaan dan denominasi organisasi keagamaan masing-masing penulisnya yang berlain-lainan. William James (dalam bukunya The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature [Longman, 1902]) berpendapat bahwa pengalaman-pengalaman spiritual manusia dalam perjalanan sejarah relatif tetap konsisten. Neurosains juga menemukan bahwa otak manusia selama ribuan tahun telah melahirkan secara spontan pengalaman-pengalaman spiritual dan mistikal. Meskipun ada suatu elemen universal dalam setiap agama, namun manusia tidak memiliki kemampuan linguistik untuk mengekspresikan pengalaman-pengalaman ini dengan tingkat akurasi yang tinggi, sehingga terciptalah keanekaragaman gagasan-gagasan teologis.  

Orang fundamentalis

Jika orang terlibat terus-menerus dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang terfokus pada kemarahan dan rasa takut yang mengaktifkan organ amygdala dalam otak, seperti terjadi pada kalangan beragama fundamentalis, anterior cingulate akan mengalami kerusakan permanen. Jika hal ini terjadi, seorang fundamentalis religius akan kehilangan rasa peduli pada orang lain dan akan menyerang orang lain dengan sangat agresif. Jika anda mengharapkan suatu kejadian negatif di masa depan yang mengancam nyawa banyak orang, maka aktivitas di anterior cingulate akan menurun dan sebaliknya aktivitas di amygdala meningkat. Keadaan neurologis semacam ini menimbulkan kecemasan dan neurotisisme sangat tinggi. Orang yang menderita keadaan mental semacam ini akan tertarik pada agama-agama fundamentalis karena agama-agama sejenis ini menawarkan suatu sistem kepercayaan religius yang sangat terstruktur yang mengurangi perasaan-perasaan serba tidak pasti, dan yang memungkinkannya untuk menyalurkan semua dorongan agresif yang dibangkitkan oleh amygdala.

Sebaliknya, jika anda ingin memiliki anterior cingulate, korteks frontalis dan sistim limbik yang sehat, anda perlu dengan teratur melakukan meditasi atau tekun berdoa, dengan terus-menerus merenungi konsep-konsep yang dapat membawa anda masuk ke dalam cinta kasih, sukacita, toleransi, optimisme dan pengharapan. Dengan bermeditasi secara teratur dan terus-menerus, otak akan semakin sehat, sebab melalui meditasi otak kita melawan kecenderungan biologis manusia untuk bereaksi penuh amarah dan permusuhan terhadap situasi-situasi yang berbahaya dan yang mengancam.

Orang ateis

Jika orang berkontemplasi tentang Allah, Allah dapat dirasakannya tidak bermakna atau tidak bernilai; hal ini disebabkan oleh tidak aktifnya lobus frontalis dan sistim limbik dalam otak. Orang dapat tidak beragama atau menjadi ateis jika lobus frontalis dan sistim limbik tetap dibiarkan tidak aktif ketika kepadanya diajukan soal-soal spiritual. Kalangan ateis mengalami pola aktivitas neuron otak yang berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya ketika mereka memikirkan konsep tentang Allah. Jadi, apa yang dinamakan “God spot” yang terpatri dalam organ otak kita sebetulnya tidak ada.

Kalau pun terdapat neuron-neuron dalam organ otak kita yang sensitif terhadap Allah, sehingga dapat disebut sebagai “God neuron”, neuron-neuron ini tidak dapat dilokalisasi secara statis dan permanen di satu tempat, tetapi terdapat di tempat-tempat yang berbeda dari orang yang satu ke orang lainnya. Bagi orang yang satu, neuron semacam ini dapat berkaitan dengan perasaan senang dan terpesona; tetapi bagi orang lainnya, dengan perasaan kecewa dan dengan rasa sakit. Ihwal siapa dan bagaimana Allah bagi anda, bergantung pada pola neurologis khas yang terbentuk di otak anda, dan pola ini berkorelasi dengan gaya perilaku emosional pribadi anda. Juga bisa ada orang yang tidak memiliki sirkuit neurologis apa pun yang memungkinkannya mengonstruksi suatu citra positif atau suatu citra negatif mengenai Allah. Untuk orang semacam ini yang tidak memiliki “God neuron”, dia harus mencari makna dan tujuan kehidupannya di bidang-bidang lain, misalnya melalui pengabdian diri dalam dunia sains dan melalui pelayanan karitatif advokatif kepada umat manusia dan semua makhluk hidup lainnya.

“Dua binatang” dalam otak manusia

Memakai sebuah metafora, ada dua binatang di dalam otak kita, yakni satu binatang jahat dan satu binatang baik. Bagaimana sifat otak kita, dan dengan demikian juga bagaimana sifat kepribadian dan orientasi religius kita, ditentukan oleh binatang mana yang kita beri makan paling banyak sehingga menjadi jauh lebih besar dari binatang yang satunya lagi. Binatang jahatnya berdiam dalam sistim limbik otak kita; dan binatang baiknya ada dalam struktur lobus frontalis dan anterior cingulate.

Sistim limbik, yang di dalamnya terdapat amygdala, terbentuk sudah sangat lama dalam sejarah evolusi otak manusia, yakni 450 juta tahun yang lalu, dan sudah menguasai kehidupan manusia sejak 150 juta tahun yang lalu. Jika sistim limbik terlalu aktif dan organ amygdala menguasai semua kegiatan neurologis, dan lobus frontalis serta anterior cingulate tidak mengambil alih kendali atas kegiatan neurologis dalam otak, maka Allah yang dimunculkan adalah Allah yang keras, kejam, egoistik, agresif, pendendam, pemarah, penghukum, menakutkan dan mematikan; dan orang yang membesarkan Allah semacam ini di otaknya juga tumbuh menjadi seorang fundamentalis yang agresif sebagaimana juga sifat Allah yang dipujanya.

Sebaliknya, jika lobus frontalis dan anterior cingulate (yang berusia masih muda dalam sejarah evolusi biologis otak manusia) dilatih terus-menerus untuk aktif mengendalikan semua aktivitas neurologis dalam otak kita, dan kita terus-menerus memberinya makanan berupa konsep-konsep, perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman kehidupan yang berisi cinta kasih, empati, kepercayaan, bela rasa, logika rasional, nalar, toleransi, kesadaran dan tanggungjawab sosial, maka Allah dalam neuron-neuron otak kita adalah Allah yang maha pengasih dan penyayang, penuh kemurahan, empatis, penyabar, pelindung, dan terbuka untuk dikaji dan dipikirkan oleh akal dan dibaharui oleh akal. Orang yang memiliki lobus frontalis dan anterior cingulate yang aktif akan menjadi orang beragama yang liberal, kritis, rasionalis, progresif, terbuka, toleran, berbela rasa dan pluralis, dan karenanya akan lebih mungkin berumur panjang (tetapi tentu tidak selalu demikian).

Masa depan Allah

Gagasan tentang Allah terus berevolusi dalam perjalanan sejarah makhluk homo sapiens sapiens: semula moyang makhluk cerdas ini memandang Allah sebagai suatu Allah yang otoritarian dan pemarah serta penghukum, tetapi kemudian gagasan ini lambat laun berevolusi sehingga muncullah konsep tentang Allah yang bijaksana, pengasih dan penyayang. Evolusi kultural pemikiran tentang Allah ini mengikuti evolusi neurologis dalam organ otak manusia. Karena evolusi dalam kebudayaan dan organ otak manusia terus berlangsung, maka gagasan dan pengalaman tentang Allah tidak akan lenyap di masa depan peradaban manusia. 

Tetapi Allah di masa depan tentu tidaklah harus sama dengan Allah yang digambarkan dalam kitab-kitab suci kita sekarang. Allah masa depan adalah Allah yang penuh misteri, yang tidak dapat ditangkap oleh kata-kata manusia, tetapi dialami oleh manusia dalam suatu pengalaman kesatuan mistikal yang tak dapat diekspresikan oleh kata-kata manusia, dan karenanya orang akan berbicara bukan lagi tentang agama-agama lembaga yang terkotak-kotak, tetapi tentang spiritualitas yang sangat kaya dengan makna, nilai, tujuan, dan simbol-simbol yang dihayati melalui jalan-jalan yang majemuk dan tak terhabiskan. Allah masa depan akan memegang banyak peran dan mentransendir banyak tafsiran tradisional atas teks-teks suci keagamaan. Allah masa depan, karenanya, adalah sebuah metafora yang tak pernah habis dimaknai dan diungkap, jika memang dapat dimaknai dan dapat diungkap, dalam usaha manusia mencari kebenaran dan makna yang paling mendasar buat kehidupannya. 


Evaluasi

Sudah menjadi suatu pandangan umum di kalangan orang beragama bahwa sains dan agama tidak bisa dipertemukan, keduanya selalu bertentangan. Sains terfokus pada kajian-kajian terhadap segala sesuatu yang objektif dan empiris; sedangkan agama terfokus pada kepercayaan atau iman tanpa bukti objektif empiris apapun tentang adanya suatu Allah (atau banyak Allah) dan dunia supernatural. Sains berkutat dalam dimensi logismos (= logika), sedangkan agama dalam dimensi pistis (= iman). Pandangan ini sebenarnya sangat keliru, sebab agama dan kepercayaan keagamaan bisa dikaji secara ilmiah. Dewasa ini minimal ada tiga bidang ilmu yang menjadikan agama dan kepercayaan keagamaan sebagai objek-objek kajian ilmiah objektif.

Pertama, adalah kajian di bidang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi agama dan antropologi kultural. Kedua bidang ilmu sosial ini memperlakukan agama dan kepercayaan keagamaan sebagai fenomena sosiologis dan antropologis dan karenanya terbuka untuk dikaji secara ilmiah. Apapun klaim orang beragama tentang agamanya (misalnya bahwa agamanya “diturunkan” dari langit sebagai wahyu ilahi, dan karenanya bukan buatan atau ciptaan manusia), setiap agama, dilihat dari kajian sosial, memiliki unsur-unsur sosiologis antropologis buatan manusia, yang terbuka untuk dikaji secara ilmiah, objektif dan empiris. Secara objektif, setiap agama memiliki lima unsur sosiologis empiris yang membuatnya setara dengan organisasi-organisasi sosial lainnya, yakni 5 unsur K: komunitas sosial, kultus ritual, kanon (= kitab suci), kode etik moral, dan kredo. Kelima unsur ini menjadikan setiap agama terbuka untuk dikaji secara sosial antropologis, yakni mengenai asal-usul sosiologis kulturalnya, sejarahnya, konteks sosio-budayanya, strategi beradaptasinya, strategi pertahanan dirinya, agenda perjuangannya, arah dan tujuannya, ideologi atau pandangan dunia-nya (world view), nilai-nilai sosio-kulturalnya, tantangannya, kepemimpinannya, perilaku sosial anggota-anggotanya, karya-karyanya, kehidupan ekonomi anggota-anggotanya, relasi antara pengalaman kehidupan sosial, ideologi dan kepercayaannya pada hal-hal supernatural, dlsb.

Kedua, adalah psikologi agama, yang secara ilmiah mengkaji setiap fenomena keagamaan sebagai suatu fenomena yang bersumber pada dan berkaitan dengan kondisi-kondisi psikologis umat (individual maupun kolektif) yang menganutnya, yang hidup dalam suatu konteks sosial yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi psikis ini. Psikologi agama memperlakukan semua pengalaman keagamaan sebagai pengalaman psikologis manusia, inheren dalam jiwa manusia, terlepas dari ada atau tidak adanya suatu Allah supernatural yang dipercaya umat beragama.

Ilmu yang ketiga berkait erat dengan psikologi agama, yakni neurosains (atau neurobiologi). Neurosains adalah suatu kajian ilmiah terhadap otak manusia dan sistim saraf rumit yang bekerja di dalamnya. Kalau neurosains diterapkan pada agama dan semua gejala spiritual, ilmu terapannya ini dinamakan neuroteologi. Nah, buku yang isi pokoknya sudah dikemukakan di atas adalah buku tentang neurosains dan neuroteologi, yang ditulis oleh dua orang neurosaintis terpandang, Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman. Kita tentu harus berterima kasih kepada keduanya.

Neurosains dan neuroteologi tidak bisa membuktikan apakah Allah secara objektif ada atau tidak ada sebagai suatu realitas supernatural. Tetapi uraian di atas telah memperlihatkan kepada kita bahwa semua pengalaman keagamaan dan setiap perilaku keagamaan (entah yang bercorak fundamentalis pemberang ataupun yang bercorak liberal pengasih) dapat dicari sumber-sumbernya pada aktivitas neuron-neuron otak manusia dan pada bagian-bagian struktural otak manusia yang sudah terbentuk selama perjalanan panjang evolusi biologis otak manusia. Ada atau tidak adanya Allah secara objektif sebagai suatu realitas adikodrati, otak manusia memampukan manusia untuk membangun sebuah agama dan memikirkan serta memilih sifat-sifat Allah yang diperlukannya, yang dipandangnya dapat membuat dirinya bertahan dalam lingkungan alam dan lingkungan kebudayaannya sendiri.

Karena setiap kehadiran suatu bentuk agama berdampak pada kehidupan masyarakat sepanjang sejarahnya, maka kita yang mencintai kehidupan, bukan kematian dan kehancuran di muka Planet Bumi, tentu perlu mengarahkan kehidupan agama kita ke arah yang benar, yakni agama kita harus menghasilkan ketahanan kehidupan yang baik untuk semua spesies di planet ini. Kita perlu memompa gagasan-gagasan tentang suatu Allah yang maha baik dan maha berbela rasa dan maha bijaksana ke dalam organ otak kita sehingga aktivitas di lobus frontalis dan di anterior cingulate terus meningkat, dan aktivitas neurologis kuat di bagian-bagian organ otak ini pada gilirannya semakin membentuk kepribadian sosio-religius kita yang terbuka pada cinta kasih, tanggungjawab sosial, toleransi, empati, pluralisme, kesatuan umat manusia, kemajemukan religiokultural, kecerdasan religius, dan rasionalitas manusia serta sains.

Jakarta, 09 Agustus 2010
by Ioanes Rakhmat

Tuesday, May 25, 2010

Kurban Yesus dalam Surat Ibrani

by Ioanes Rakhmat

Penulis Surat kepada Orang Ibrani (selanjutnya ditulis: Surat Ibrani) melihat dirinya sedang berada di antara dua masa, yakni zaman akhir (epeskhatou tōn hēmerōn [1:2], atau episunteleiai tōn aiōnōn [9:26]) dan saat kedatangan kembali Yesus (9:28b). Dalam pandangannya, zaman akhir adalah zaman ketika Allah berbicara kepada manusia melalui perantaraan Anak-Nya, yaitu Yesus (1:2); dan baginya “sudah dekat” (10:25, 37) saatnya Yesus akan datang lagi “untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia” (9:28b).



kemah ritual kurban dalam agama Israel kuno

Di antara dua masa ini, orang-orang Ibrani penerima suratnya ini diindikasikan olehnya sedang mengalami banyak penderitaan dan kesulitan (10:31-34). Dalam situasi berat semacam ini, si penulis meminta mereka untuk “jangan melepaskan kepercayaan” (10:35), “jangan lemah dan jangan berputus asa” (12:3), tetapi tetap “hidup oleh iman” (10:38). Untuk menggambarkan ihwal bagaimana hidup beriman, si penulis dalam pasal 11 merujuk ke sejumlah orang beriman yang hidup dalam zaman purbakala dan dalam sejarah Israel kuno. Meskipun orang-orang zaman lampau yang disebutnya ini telah menunjukkan kehidupan beriman yang patut diteladani, baginya “tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan (hina mē khōris hēmōn teleiōthōsin)” (10:40). Yang dimaksud dengan “kita” dalam 10:40 adalah orang-orang Ibrani yang telah menerima Surat Ibrani ini, yaitu orang-orang Ibrani yang telah beriman kepada Yesus. Dibandingkan dengan orang-orang Ibrani lainnya yang tidak percaya kepada Yesus, kalangan penerima surat ini dipandang si penulisnya berkedudukan lebih tinggi dan telah mencapai kesempurnaan iman, sebab Yesus yang mereka percayai adalah “pemimpin dan penyempurna iman” (arkhēgon, teleiōtēn [12:2]) sementara “hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan” (7:19a). Dengan demikian, kekristenan yang dihayati si penulis Surat Ibrani ini dipandang olehnya lebih tinggi kedudukannya dibandingkan agama para nenek moyang bangsa Israel. Berhadapan dengan agama Yahudi, superiorisme dan supersesionisme Kristen dipegang dan dipertahankannya.

Mengapa si penulis Surat Ibrani memandang versi kekristenan yang dipegangnya lebih unggul dan sempurna dibandingkan agama Yahudi? Jawaban atas pertanyaan ini ditemukan dalam kristologi yang dipegang olehnya. Dalam pasal 1, Yesus dipandang olehnya memiliki pra-eksistensi, sebagai suatu “Oknum” adikodrati yang menjadi agen penciptaan dunia bersama Allah: “melalui Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (1:2); Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud (kharaktēr tēs hupostaseōs) Allah yang menopang segala yang ada dengan firman-Nya” (1:3). Meskipun Yesus pernah “dalam waktu yang singkat dibuat lebih rendah dari pada malaikat-malaikat” (2:9a), yaitu ketika Dia “sebagai manusia” (5:7), namun setelah dia “selesai melakukan penyucian dosa, Dia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat” (1:3b-4). Kalau bagi bangsa Yahudi Nabi Musa menempati kedudukan tertinggi sebagai seorang yang suci, bagi si penulis Surat Ibrani kemuliaan Yesus “lebih besar dari kemuliaan Musa” (3:3). Kalau Musa diibaratkan sebagai “rumah yang dibangun”, Yesus adalah ahli bangunannya atau arsiteknya (3:3b); kalau Musa diibaratkan sebagai “pelayan rumah Allah”, Yesus dipandangnya sebagai “Anak yang mengepalai rumah-Nya” (3:5-6). Gelar Anak (atau Anak Allah) untuk Yesus ditemukan juga dalam 1:2; 4:14; 5:5, 8; 6:6; 7:28.

Selain gelar-gelar yang sudah disebut di atas, beberapa gelar lain diberikan si penulis Surat Ibrani kepada Yesus: Rasul Allah (3:1); Kristus (5:5; 9:11, 14, 24; 13:8); Gembala Agung segala domba (13:20). Di beberapa tempat Yesus juga disebut sebagai Tuhan (kurios [2:3; 10:25; 13:20]). Tetapi gelar terpenting yang diberikan kepada Yesus adalah gelar Imam Besar; dan pada gelar inilah berpusat kristologi yang membuat si penulis Surat Ibrani menempatkan versi khas kekristenannya lebih tinggi dari agama Yahudi.

Jabatan imam besar adalah jabatan kultik terpenting dan tertinggi dalam ritual keselamatan Yahudi yang dinamakan Yom Kippur, Hari Pendamaian (hari kesepuluh bulan Tishri; akhir September atau awal Oktober). Imam besar adalah sosok kultik satu-satunya yang memungkinkan ritual pencucian dosa bangsa Israel setahun sekali pada Yom Kippur dijalankan, dengan aturan dan prosedur ritual yang sudah dibakukan, dengan darah lembu jantan atau darah domba jantan menjadi sarana ritual terpenting yang dipercik ke tengah umat oleh imam besar sebagai suatu ritual simbolik penghapusan dosa umat (lihat Imamat 16:1-34; 23:26-32; Ibrani 9:19; 10:4).

Dalam pandangan si penulis Surat Ibrani, meskipun Yesus dilantik oleh Allah sebagai Anak Allah atau Raja Israel (Ibrani 5:5; kutipan dari Mazmur 2:7), namun yang terpenting baginya adalah bahwa Yesus “dipanggil” oleh Allah untuk menjadi Imam Besar menurut peraturan Melkisedek (5:1-10; khususnya ayat 6 yang memuat kutipan Mazmur 110:4; dan Ibrani 5:10). Peraturan Melkisedek yang dimaksud olehnya adalah bahwa status Yesus sebagai Imam Besar ditetapkan oleh Allah untuk berlaku kekal sampai selama-lamanya, dan berdasarkan kehidupan yang tidak dapat binasa (5:6; 6:20; 7:3; 7:16-17; 7:21, 24). Status sebagai Imam Besar yang kekal dan tidak bisa binasa dimungkinkan dimiliki Yesus karena status ini disandang Yesus di surga. Si penulis menyatakan, “Sekiranya Dia [Yesus] di bumi ini, Dia sama sekali tidak akan menjadi imam” (8:4).

Sebagai Imam Besar surgawi, Yesus duduk di sebelah kanan Allah di surga (8:1; lihat juga 1:3; 10:12; 12:2) dan melayani ibadah di “tempat kudus” atau di “kemah sejati” atau “kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna”, yang didirikan oleh Allah dan bukan oleh manusia (8:2; 9:11). Di surga, Yesus sebagai Imam Besar menjalankan fungsi sebagai “Juru syafaat” (TB LAI: Pengantara) (entugkhanō ) manusia (7:25; bdk 9:24). Dan di surga juga, Yesus menjadi sang Pengantara (ho mesitēs) perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan pada suatu janji yang lebih tinggi, yaitu perjanjian baru (diathēkē kainē) (8:6-13; juga 9:15; 10:9; 12:24). Dengan tibanya perjanjian yang baru ini, maka perjanjian yang Allah buat dengan nenek moyang Israel menjadi suatu perjanjian yang “telah menjadi tua, usang dan dekat pada kemusnahan” (8:13) dan harus “dihapuskan” (10:9) — suatu pelabelan yang sangat keras yang dibuat si penulis Surat Ibrani terhadap Yudaisme, berhadap-hadapan dengan versi khas kekristenan yang dibangunnya.

Dengan memakai sudut pandang Platonis dan hermeneutik tipologis, si penulis menyatakan bahwa ritual imamat pemberian kurban yang dilangsungkan di bumi, yang terpusat di Bait Allah Yerusalem, adalah “replika” (TB LAI: “gambaran”) (hupodeigmati) dan “bayangan” (skia) (8:5) (antitupos, dalam 9:24) dari ibadah yang berlangsung di surga, di kemah sejati yang dibuat bukan oleh tangan manusia tetapi oleh Allah, dan dilayani oleh Yesus sebagai Imam Besarnya. Di kemah sejati di surga ini, ibadah imamat yang dilayani Yesus sudah sempurna: Yesus sebagai Imam Besar yang kekal tidak lagi perlu berulang-ulang mempersembahkan kurban binatang dan memercikkan darah, tidak seperti yang berlangsung di bumi di “kemah pertama” buatan tangan manusia, di mana “kurban yang sama setiap tahun terus-menerus dipersembahkan” (10:1b; bdk 9:6-7). Dalam pandangan si penulis Surat Ibrani, Yesus sang Imam Besar surgawi “telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, artinya: yang tidak termasuk ciptaan ini, dan Dia telah masuk satu kali untuk selamanya (efapaks; lihat juga 7:27; 9:26, 28; ) ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri” (9:11-12). Gambaran tentang Imam Besar yang mengurbankan dirinya sendiri semacam ini tentu unik dalam versi kekristenan yang dibangun si penulis Surat Ibrani, tetapi tentu saja tidak bisa diterima dalam sistem imamat agama Yahudi yang di dalamnya ritual penyembelihan hewan kurban yang dipimpin imam besar adalah bagian esensial dari sistem kepercayaan mereka.

Selanjutnya si penulis Surat Ibrani menyatakan, “Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus —yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat—akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (9:13-14). Jadi, darah Kristus memiliki kekuatan dan keampuhan yang lebih besar dari darah binatang kurban dalam menyucikan hati nurani manusia; bahkan, ditegaskan oleh si penulis surat Ibrani, “tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (10:4). Dengan demikian, ritual imamat pencucian dosa yang dilangsungkan dalam Yudaisme dikalahkan oleh ibadah surgawi yang dilayani Yesus sebagai Imam Besar surgawi. Maka, tandas si penulis Surat Ibrani, lagi dengan memakai sudut pandang Platonis, “Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan (skia) saja dari hal-hal (TB LAI: keselamatan) yang akan datang, dan bukan wujud sejati (eikōn) (TB LAI: hakikat) dari hal-hal itu sendiri” (10:1). “Hal-hal yang akan datang” ini mengacu kepada ibadah di kemah surgawi yang dilayani Yesus sebagai Imam Besar surgawi; dan “hal-hal yang akan datang ini” tidak akan terwujud atau belum akan tiba “selama kemah yang pertama ini masih ada” (9:8). Rujukan temporal kepada kemah yang pertama ini memberi sebuah indikasi bahwa si penulis Surat Ibrani, yang membayangkan Yesus sebagai Imam Besar sudah berada di surga, hidup pada masa Bait Suci di Yerusalem sudah tidak ada, kurun waktu pasca-tahun 70 M.

Pertanyaan: Kapan persisnya Yesus sebagai Imam Besar “mempersembahkan dirinya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat” dengan “membawa darahnya sendiri”? Di surga jelas hal ini tidak mungkin dilakukan. Si penulis Surat Ibrani dengan jelas menyatakan bahwa hal ini Yesus lakukan ketika dia mengalami penderitaan dan kematian, disalibkan di bumi (2:9, 10, 14; 6:6; 12:2). Tetapi, bagaimana menghubungkan penderitaan dan kematian Yesus yang berlangsung di bumi dengan statusnya sebagai Imam Besar surgawi yang melayani di kemah sejati surgawi yang bukan buatan tangan manusia dan di sana dia menjadi Juru syafaat bagi manusia di hadapan Allah? Jawaban atas pertanyaan ini ditemukan pada satu bagian penting pasal 4, di mana dinyatakan bahwa Yesus sebagai Imam Besar “telah melintasi semua langit” (dielēluthota tous ouranous) (ayat 14). Yesus yang “melintasi semua langit” adalah gambaran yang digunakan si penulis Surat Ibrani untuk menghubungkan peristiwa penyaliban Yesus dengan keberadaannya di surga, di mana dia duduk si sebelah kanan Allah, dan melayani ibadah di kemah surgawi yang dibuat oleh Allah. Peristiwa penyaliban dan kematian Yesus bagi si penulis Surat Ibrani, dengan demikian, adalah saat Yesus melintasi semua langit, lalu memasuki kawasan surgawi dan duduk di sebelah kanan Allah. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa si penulis Surat Ibrani tidak satu kali pun menyebut-nyebut ihwal kebangkitan Yesus (bdk 13:20!), suatu tema sentral dalam hampir seluruh Perjanjian Baru. Selain itu, saat kematian Yesus sebagai jalan dia melintasi semua langit adalah juga saat dia dilantik menjadi Imam Besar surgawi menurut peraturan Melkisedek.

Apakah Yesus sendiri berprakarsa untuk “mencuci”, “menghapuskan”, “mendamaikan dosa” “banyak orang” (9:28) atau dosa “seluruh bangsa” (2:17) dan “menguduskan umat” (13:12) dengan dia “mempersembahkan dirinya sendiri sebagai kurban” (7:27; 9:12, 14, 25, 28; 10:12), sehingga pengurbanan Yesus di kayu salib keluar dari kehendak bebasnya sendiri dan bukan bagian dari rencana dan ketetapan Allah sendiri? Jawabnya: Tidak! 

Menurut si penulis Surat Ibrani, tindakan Yesus sebagai Imam Besar yang mempersembahkan dirinya sendiri sebagai kurban tidak dapat dilepaskan dari kehendak dan keterlibatan Allah sendiri. Menurutnya, pada zaman akhir, 
  • Allah telah berbicara kepada manusia dengan perantaraan Yesus, Anak-Nya, yang Dia telah tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada (1:2); 
  • melalui kasih karunia Allah, Yesus mengalami maut bagi semua orang (2:9); 
  • Allah menyempurnakan Yesus dengan penderitaan (2:10); 
  • Allah harus menyamakan Yesus dengan orang-orang lain saudara-Nya supaya dia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah (2:17); 
  • Yesus setia kepada Allah yang telah menetapkannya (3:1-2); 
  • sebagai Imam Besar, Yesus dimuliakan oleh Allah (5:5); 
  • Allah menetapkan dan memanggil Yesus untuk menjadi Imam Besar (5:10; 7:11, 18, 28); 
  • Allah bersumpah mengangkat dan menjadikan Yesus Imam Besar menurut peraturan Melkisedek (7:21). 
Pada sisi lain, si penulis Surat Ibrani juga menggambarkan pergumulan berat yang harus dipikul Yesus sampai pada penyalibannya (5:7-10); jadi salib bagi Yesus bukanlah hal yang mudah dan ringan, yang dipikulnya dengan rela dan ringan-ringan saja. Dan jangan dilupakan, Yesus dari Nazareth tentu saja bukan betulan seorang Imam Besar surgawi yang dengan rela memberikan darahnya sendiri. Realitanya di dunia empiris, Yesus dari Nazareth adalah seorang korban dari sistem politik Roma yang berlaku pada masanya. 

Jelas sudah, ada banyak topik teologis dalam Surat Ibrani yang membuat kita harus menyimpulkan bahwa versi kekristenan yang dibangun si penulisnya dipandangnya sebagai versi kekristenan yang mengungguli Yudaisme, dan bahkan menggantikannya. Pemberian gelar kepada Yesus sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek yang memberi dirinya sendiri sebagai kurban satu kali untuk selamanya, betul-betul menyepelekan fungsi imamat dalam agama Yudaisme. 

Tetapi, pada pihak lain, dalam konteks pasca-tahun 70 M ketika Bait Allah di Yerusalem sudah tidak ada, sehingga ritual kurban tidak bisa lagi dijalankan dan fungsi imamat terhenti, memandang Yesus sebagai sang Imam Besar surgawi yang kekal adalah suatu upaya berteologi yang brilian karena dengan cara ini jabatan Imam Besar dipertahankan kendatipun untuk itu ibadah yang dilayani Yesus harus dipindahkan dari bumi ke surga, dan Bait Allah di bumi yang dibuat manusia diganti dengan kemah surgawi yang lebih besar dan kekal. Dengan kata lain, sekalipun supersesionisme dan superiorisme si penulis Surat Ibrani tampak mencuat tajam, namun dalam konteks pasca-tahun 70 M, versi kekristenannya yang khas adalah juga suatu penjelmaan lain dari Yudaisme yang diproyeksikan ke kawasan surga adikodrati.

Wednesday, April 28, 2010

George Weigel's Open Letter to Hans Küng (Dated April 21, 2010)

“I shall be happy to read Weigel's response, but the more the Catholic Church tries to spin the molestation scandal, the more obvious it becomes that they are in the business of trying to make the absolutely unbelievable into the believable and the believed. What's next? Flat Earthism? Oh yeah, they already promoted (and dropped) that one.” (Robert M. Price's remark)

An Open Letter to Hans Küng
Apr 21, 2010
by George Weigel


Dr. Küng:

A decade and a half ago, a former colleague of yours among the younger progressive theologians at Vatican II told me of a friendly warning he had given you at the beginning of the Council’s second session. As this distinguished biblical scholar and proponent of Christian-Jewish reconciliation remembered those heady days, you had taken to driving around Rome in a fire-engine red Mercedes convertible, which your friend presumed had been one fruit of the commercial success of your book, The Council: Reform and Reunion.

This automotive display struck your colleague as imprudent and unnecessarily self-advertising, given that some of your more adventurous opinions, and your talent for what would later be called the sound-bite, were already raising eyebrows and hackles in the Roman Curia. So, as the story was told me, your friend called you aside one day and said, using a French term you both understood, “Hans, you are becoming too evident.”

As the man who single-handedly invented a new global personality-type—the dissident theologian as international media star—you were not, I take it, overly distressed by your friend’s warning. In 1963, you were already determined to cut a singular path for yourself, and you were media-savvy enough to know that a world press obsessed with the man-bites-dog story of the dissenting priest-theologian would give you a megaphone for your views. You were, I take it, unhappy with the late John Paul II for trying to dismantle that story-line by removing your ecclesiastical mandate to teach as a professor of Catholic theology; your subsequent, snarling put-down of Karol Wojtyla’s alleged intellectual inferiority in one volume of your memoirs ranked, until recently, as the low-point of a polemical career in which you have become most evident as a man who can concede little intelligence, decency, or good will in his opponents.

I say “until recently,” however, because your April 16 open letter (click here) to the world’s bishops, which I first read in the Irish Times, set new standards for that distinctive form of hatred known as odium theologicum and for mean-spirited condemnation of an old friend who had, on his rise to the papacy, been generous to you while encouraging aspects of your current work.

Before we get to your assault on the integrity of Pope Benedict XVI, however, permit me to observe that your article makes it painfully clear that you have not been paying much attention to the matters on which you pronounce with an air of infallible self-assurance that would bring a blush to the cheek of Pius IX.

You seem blithely indifferent to the doctrinal chaos besetting much of European and North American Protestantism, which has created circumstances in which theologically serious ecumenical dialogue has become gravely imperiled.

You take the most rabid of the Pius XII-baiters at face value, evidently unaware that the weight of recent scholarship is shifting the debate in favor of Pius' courage in defense of European Jewry (whatever one may think of his exercise of prudence).

You misrepresent the effects of Benedict XVI’s 2006 Regensburg Lecture, which you dismiss as having “caricatured” Islam. In fact, the Regensburg Lecture refocused the Catholic-Islamic dialogue on the two issues that complex conversation urgently needs to engage—religious freedom as a fundamental human right that can be known by reason, and the separation of religious and political authority in the twenty-first century state.

You display no comprehension of what actually prevents HIV/AIDS in Africa, and you cling to the tattered myth of “overpopulation” at a moment when fertility rates are dropping around the globe and Europe is entering a demographic winter of its own conscious creation.

You seem oblivious to the scientific evidence underwriting the Church’s defense of the moral status of the human embryo, while falsely charging that the Catholic Church opposes stem-cell research.

Why do you not know these things? You are an obviously intelligent man; you once did groundbreaking work in ecumenical theology. What has happened to you?

What has happened, I suggest, is that you have lost the argument over the meaning and the proper hermeneutics of Vatican II. That explains why you relentlessly pursue your fifty-year quest for a liberal Protestant Catholicism, at precisely the moment when the liberal Protestant project is collapsing from its inherent theological incoherence. And that is why you have now engaged in a vicious smear of another former Vatican II colleague, Joseph Ratzinger. Before addressing that smear, permit me to continue briefly on the hermeneutics of the Council.

While you are not the most theologically accomplished exponent of what Benedict XVI called the “hermeneutics of rupture” in his Christmas 2005 address to the Roman Curia, you are, without doubt, the most internationally visible member of that aging group which continues to argue that the period 1962–1965 marked a decisive trapgate in the history of the Catholic Church: the moment of a new beginning, in which Tradition would be dethroned from its accustomed place as a primary source of theological reflection, to be replaced by a Christianity that increasingly let “the world” set the Church’s agenda (as a motto of the World Council of Churches then put it).

The struggle between this interpretation of the Council, and that advanced by Council fathers like Ratzinger and Henri de Lubac, split the post-conciliar Catholic theological world into warring factions with contending journals: Concilium for you and your progressive colleagues, Communio for those you continue to call “reactionaries.” That the Concilium project became ever more implausible over time—and that a younger generation of theologians, especially in North America, gravitated toward the Communio orbit—could not have been a happy experience for you. And that the Communio project should have decisively shaped the deliberations of the 1985 Extraordinary Synod of Bishops, called by John Paul II to celebrate Vatican II’s achievements and assess its full implementation on the twentieth anniversary of its conclusion, must have been another blow.

Yet I venture to guess that the iron really entered your soul when, on December 22, 2005, the newly elected Pope Benedict XVI—the man whose appointment to the theological faculty at Tübingen you had once helped arrange—addressed the Roman Curia and suggested that the argument was over: and that the conciliar “hermeneutics of reform,” which presumed continuity with the Great Tradition of the Church, had won the day over “the hermeneutics of discontinuity and rupture.”

Perhaps, while you and Benedict XVI were drinking beer at Castel Gandolfo in the summer of 2005, you somehow imagined that Ratzinger had changed his mind on this central question. He obviously had not. Why you ever imagined he might accept your view of what an “ongoing renewal of the Church” would involve is, frankly, puzzling. Nor does your analysis of the contemporary Catholic situation become any more plausible when one reads, further along in your latest op-ed broadside, that recent popes have been “autocrats” against the bishops; again, one wonders whether you have been paying sufficient attention. For it seems self-evidently clear that Paul VI, John Paul II, and Benedict XVI have been painfully reluctant—some would say, unfortunately reluctant—to discipline bishops who have shown themselves incompetent or malfeasant and have lost the capacity to teach and lead because of that: a situation many of us hope will change, and change soon, in light of recent controversies.

In a sense, of course, none of your familiar complaints about post-conciliar Catholic life is new. It does, however, seem ever more counterintuitive for someone who truly cares about the future of the Catholic Church as a witness to God’s truth for the world’s salvation to press the line you persistently urge upon us: that a credible Catholicism will tread the same path trod in recent decades by various Protestant communities which, wittingly or not, have followed one or another version of your counsel to a adopt a hermeneutics of rupture with the Great Tradition of Christianity. Still, that is the single-minded stance you have taken since one of your colleagues worried about your becoming too evident; and as that stance has kept you evident, at least on the op-ed pages of newspapers who share your reading of Catholic tradition, I expect it’s too much to expect you to change, or even modify, your views, even if every bit of empirical evidence at hand suggests that the path you propose is the path to oblivion for the churches.

What can be expected, though, is that you comport yourself with a minimum of integrity and elementary decency in the controversies in which you engage. I understand odium theologicum as well as anyone, but I must, in all candor, tell you that you crossed a line that should not have been crossed in your recent article, when you wrote the following:

There is no denying the fact that the worldwide system of covering up sexual crimes committed by clerics was engineered by the Roman Congregation for the Doctrine of the Faith under Cardinal Ratzinger (1981-2005).
That, sir, is not true. I refuse to believe that you knew this to be false and wrote it anyway, for that would mean you had willfully condemned yourself as a liar. But on the assumption that you did not know this sentence to be a tissue of falsehoods, then you are so manifestly ignorant of how competencies over abuse cases were assigned in the Roman Curia prior to Ratzinger’s seizing control of the process and bringing it under CDF’s competence in 2001, then you have forfeited any claim to be taken seriously on this, or indeed any other matter involving the Roman Curia and the central governance of the Catholic Church.

As you perhaps do not know, I have been a vigorous, and I hope responsible, critic of the way abuse cases were (mis)handled by individual bishops and by the authorities in the Curia prior to the late 1990s, when then-Cardinal Ratzinger began to fight for a major change in the handling of these cases. (If you are interested, I refer you to my 2002 book, The Courage To Be Catholic: Crisis, Reform, and the Future of the Church.)

I therefore speak with some assurance of the ground on which I stand when I say that your description of Ratzinger’s role as quoted above is not only ludicrous to anyone familiar with the relevant history, but is belied by the experience of American bishops who consistently found Ratzinger thoughtful, helpful, deeply concerned about the corruption of the priesthood by a small minority of abusers, and distressed by the incompetence or malfeasance of bishops who took the promises of psychotherapy far more seriously than they ought, or lacked the moral courage to confront what had to be confronted.

I recognize that authors do not write the sometimes awful subheads that are put on op-ed pieces. Nonetheless, you authored a piece of vitriol—itself utterly unbecoming a priest, an intellectual, or a gentleman—that permitted the editors of the Irish Times to slug your article: “Pope Benedict has made worse just about everything that is wrong with the Catholic Church and is directly responsible for engineering the global cover-up of child rape perpetrated by priests, according to this open letter to all Catholic bishops.” That grotesque falsification of the truth perhaps demonstrates where odium theologicum can lead a man. But it is nonetheless shameful.

Permit me to suggest that you owe Pope Benedict XVI a public apology, for what, objectively speaking, is a calumny that I pray was informed in part by ignorance (if culpable ignorance). I assure you that I am committed to a thoroughgoing reform of the Roman Curia and the episcopate, projects I described at some length in God’s Choice: Pope Benedict XVI and the Future of the Catholic Church, a copy of which, in German, I shall be happy to send you. But there is no path to true reform in the Church that does not run through the steep and narrow valley of the truth. The truth was butchered in your article in the Irish Times. And that means that you have set back the cause of reform.

With the assurance of my prayers,

George Weigel
George Weigel is Distinguished Senior Fellow of Washington’s Ethics and Public Policy Center, where he holds the William E. Simon Chair in Catholic Studies.

Tuesday, April 27, 2010

HANS KÜNG's Open Letter to the Catholic Bishops
All Over the World (Dated April 16, 2010)

Church in worst credibility crisis since the Reformation, a famous Catholic theologian tells Catholic bishops all over the world and urges them to call for a council

HANS KÜNG


Fri, Apr 16, 2010


Pope Benedict has made worse just about everything that is wrong with the Roman Catholic Church and is directly responsible for engineering the global cover-up of child rape perpetrated by priests, according to this open letter to all Catholic bishops


VENERABLE BISHOPS,


Joseph Ratzinger, now Pope Benedict XVI, and I were the youngest theologians at the Second Vatican Council from 1962 to 1965. Now we are the oldest and the only ones still fully active. I have always understood my theological work as a service to the Roman Catholic Church. For this reason, on the occasion of the fifth anniversary of the election of Pope Benedict XVI, I am making this appeal to you in an open letter. In doing so, I am motivated by my profound concern for our church, which now finds itself in the worst credibility crisis since the Reformation. Please excuse the form of an open letter; unfortunately, I have no other way of reaching you.


I deeply appreciated that the pope invited me, his outspoken critic, to meet for a friendly, four-hour-long conversation shortly after he took office. This awakened in me the hope that my former colleague at Tubingen University might find his way to promote an ongoing renewal of the church and an ecumenical rapprochement in the spirit of the Second Vatican Council.


Unfortunately, my hopes and those of so many engaged Catholic men and women have not been fulfilled. And in my subsequent correspondence with the pope, I have pointed this out to him many times. Without a doubt, he conscientiously performs his everyday duties as pope, and he has given us three helpful encyclicals on faith, hope and charity. But when it comes to facing the major challenges of our times, his pontificate has increasingly passed up more opportunities than it has taken:


Missed is the opportunity for rapprochement with the Protestant churches: Instead, they have been denied the status of churches in the proper sense of the term and, for that reason, their ministries are not recognized and intercommunion is not possible.


Missed is the opportunity for the long-term reconciliation with the Jews: Instead the pope has reintroduced into the liturgy a preconciliar prayer for the enlightenment of the Jews, he has taken notoriously anti-Semitic and schismatic bishops back into communion with the church, and he is actively promoting the beatification of Pope Pius XII, who has been accused of not offering sufficient protections to Jews in Nazi Germany.


The fact is, Benedict sees in Judaism only the historic root of Christianity; he does not take it seriously as an ongoing religious community offering its own path to salvation. The recent comparison of the current criticism faced by the pope with anti-Semitic hate campaigns – made by Rev Raniero Cantalamessa during an official Good Friday service at the Vatican – has stirred up a storm of indignation among Jews around the world.


Missed is the opportunity for a dialogue with Muslims in an atmosphere of mutual trust: Instead, in his ill-advised but symptomatic 2006 Regensburg lecture, Benedict caricatured Islam as a religion of violence and inhumanity and thus evoked enduring Muslim mistrust.


Missed is the opportunity for reconciliation with the colonised indigenous peoples of Latin America: Instead, the pope asserted in all seriousness that they had been “longing” for the religion of their European conquerors.


Missed is the opportunity to help the people of Africa by allowing the use of birth control to fight overpopulation and condoms to fight the spread of HIV.


Missed is the opportunity to make peace with modern science by clearly affirming the theory of evolution and accepting stem-cell research.


Missed is the opportunity to make the spirit of the Second Vatican Council the compass for the whole Catholic Church, including the Vatican itself, and thus to promote the needed reforms in the church.


This last point, respected bishops, is the most serious of all. Time and again, this pope has added qualifications to the conciliar texts and interpreted them against the spirit of the council fathers.
Time and again, he has taken an express stand against the Ecumenical Council, which according to canon law represents the highest authority in the Catholic Church:


He has taken the bishops of the traditionalist Pius X Society back into the church without any preconditions – bishops who were illegally consecrated outside the Catholic Church and who reject central points of the Second Vatican Council (including liturgical reform, freedom of religion and the rapprochement with Judaism).


He promotes the medieval Tridentine Mass by all possible means and occasionally celebrates the Eucharist in Latin with his back to the congregation.


He refuses to put into effect the rapprochement with the Anglican Church, which was laid out in official ecumenical documents by the Anglican-Roman Catholic International Commission, and has attempted instead to lure married Anglican clergy into the Roman Catholic Church by freeing them from the very rule of celibacy that has forced tens of thousands of Roman Catholic priests out of office.


He has actively reinforced the anti-conciliar forces in the church by appointing reactionary officials to key offices in the Curia (including the secretariat of state, and positions in the liturgical commission) while appointing reactionary bishops around the world.


Pope Benedict XVI seems to be increasingly cut off from the vast majority of church members who pay less and less heed to Rome and, at best, identify themselves only with their local parish and bishop.


I know that many of you are pained by this situation. In his anti-conciliar policy, the pope receives the full support of the Roman Curia. The Curia does its best to stifle criticism in the episcopate and in the church as a whole and to discredit critics with all the means at its disposal. With a return to pomp and spectacle catching the attention of the media, the reactionary forces in Rome have attempted to present us with a strong church fronted by an absolutistic “Vicar of Christ” who combines the church’s legislative, executive and judicial powers in his hands alone. But Benedict’s policy of restoration has failed. All of his spectacular appearances, demonstrative journeys and public statements have failed to influence the opinions of most Catholics on controversial issues. This is especially true regarding matters of sexual morality. Even the papal youth meetings, attended above all by conservative-charismatic groups, have failed to hold back the steady drain of those leaving the church or to attract more vocations to the priesthood.


You in particular, as bishops, have reason for deep sorrow: Tens of thousands of priests have resigned their office since the Second Vatican Council, for the most part because of the celibacy rule. Vocations to the priesthood, but also to religious orders, sisterhoods and lay brotherhoods are down – not just quantitatively but qualitatively. Resignation and frustration are spreading rapidly among both the clergy and the active laity. Many feel that they have been left in the lurch with their personal needs, and many are in deep distress over the state of the church. In many of your dioceses, it is the same story: increasingly empty churches, empty seminaries and empty rectories. In many countries, due to the lack of priests, more and more parishes are being merged, often against the will of their members, into ever larger “pastoral units,” in which the few surviving pastors are completely overtaxed. This is church reform in pretense rather than fact!


And now, on top of these many crises comes a scandal crying out to heaven – the revelation of the clerical abuse of thousands of children and adolescents, first in the United States, then in Ireland and now in Germany and other countries. And to make matters worse, the handling of these cases has given rise to an unprecedented leadership crisis and a collapse of trust in church leadership.


There is no denying the fact that the worldwide system of covering up cases of sexual crimes committed by clerics was engineered by the Roman Congregation for the Doctrine of the Faith under Cardinal Ratzinger (1981-2005). During the reign of Pope John Paul II, that congregation had already taken charge of all such cases under oath of strictest silence. Ratzinger himself, on May 18th, 2001, sent a solemn document to all the bishops dealing with severe crimes ( “epistula de delictis gravioribus”), in which cases of abuse were sealed under the “secretum pontificium” , the violation of which could entail grave ecclesiastical penalties. With good reason, therefore, many people have expected a personal mea culpa on the part of the former prefect and current pope. Instead, the pope passed up the opportunity afforded by Holy Week: On Easter Sunday, he had his innocence proclaimed “urbi et orbi” by the dean of the College of Cardinals.


The consequences of all these scandals for the reputation of the Catholic Church are disastrous. Important church leaders have already admitted this. Numerous innocent and committed pastors and educators are suffering under the stigma of suspicion now blanketing the church. You, reverend bishops, must face up to the question: What will happen to our church and to your diocese in the future? It is not my intention to sketch out a new program of church reform. That I have done often enough both before and after the council. Instead, I want only to lay before you six proposals that I am convinced are supported by millions of Catholics who have no voice in the current situation.


1. Do not keep silent: By keeping silent in the face of so many serious grievances, you taint yourselves with guilt. When you feel that certain laws, directives and measures are counterproductive, you should say this in public. Send Rome not professions of your devotion, but rather calls for reform!


2. Set about reform: Too many in the church and in the episcopate complain about Rome, but do nothing themselves. When people no longer attend church in a diocese, when the ministry bears little fruit, when the public is kept in ignorance about the needs of the world, when ecumenical co-operation is reduced to a minimum, then the blame cannot simply be shoved off on Rome. Whether bishop, priest, layman or laywoman – everyone can do something for the renewal of the church within his own sphere of influence, be it large or small. Many of the great achievements that have occurred in the individual parishes and in the church at large owe their origin to the initiative of an individual or a small group. As bishops, you should support such initiatives and, especially given the present situation, you should respond to the just complaints of the faithful.


3. Act in a collegial way: After heated debate and against the persistent opposition of the Curia, the Second Vatican Council decreed the collegiality of the pope and the bishops. It did so in the sense of the Acts of the Apostles, in which Peter did not act alone without the college of the apostles. In the post-conciliar era, however, the pope and the Curia have ignored this decree. Just two years after the council, Pope Paul VI issued his encyclical defending the controversial celibacy law without the slightest consultation of the bishops. Since then, papal politics and the papal magisterium have continued to act in the old, uncollegial fashion. Even in liturgical matters, the pope rules as an autocrat over and against the bishops. He is happy to surround himself with them as long as they are nothing more than stage extras with neither voices nor voting rights. This is why, venerable bishops, you should not act for yourselves alone, but rather in the community of the other bishops, of the priests and of the men and women who make up the church.


4. Unconditional obedience is owed to God alone: Although at your episcopal consecration you had to take an oath of unconditional obedience to the pope, you know that unconditional obedience can never be paid to any human authority; it is due to God alone. For this reason, you should not feel impeded by your oath to speak the truth about the current crisis facing the church, your diocese and your country. Your model should be the apostle Paul, who dared to oppose Peter “to his face since he was manifestly in the wrong”! (Galatians 2:11). Pressuring the Roman authorities in the spirit of Christian fraternity can be permissible and even necessary when they fail to live up to the spirit of the Gospel and its mission. The use of the vernacular in the liturgy, the changes in the regulations governing mixed marriages, the affirmation of tolerance, democracy and human rights, the opening up of an ecumenical approach, and the many other reforms of Vatican II were only achieved because of tenacious pressure from below.


5. Work for regional solutions: The Vatican has frequently turned a deaf ear to the well-founded demands of the episcopate, the priests and the laity. This is all the more reason for seeking wise regional solutions. As you are well aware, the rule of celibacy, which was inherited from the Middle Ages, represents a particularly delicate problem. In the context of today’s clerical abuse scandal, the practice has been increasingly called into question. Against the expressed will of Rome, a change would appear hardly possible; yet this is no reason for passive resignation. When a priest, after mature consideration, wishes to marry, there is no reason why he must automatically resign his office when his bishop and his parish choose to stand behind him. Individual episcopal conferences could take the lead with regional solutions. It would be better, however, to seek a solution for the whole church, therefore:


6. Call for a council: Just as the achievement of liturgical reform, religious freedom, ecumenism and inter-religious dialogue required an ecumenical council, so now a council is needed to solve the dramatically escalating problems calling for reform. In the century before the Reformation, the Council of Constance decreed that councils should be held every five years. Yet the Roman Curia successfully managed to circumvent this ruling. There is no question that the Curia, fearing a limitation of its power, would do everything in its power to prevent a council coming together in the present situation. Thus it is up to you to push through the calling of a council or at least a representative assembly of bishops.


With the church in deep crisis, this is my appeal to you, venerable bishops: Put to use the episcopal authority that was reaffirmed by the Second Vatican Council. In this urgent situation, the eyes of the world turn to you. Innumerable people have lost their trust in the Catholic Church. Only by openly and honestly reckoning with these problems and resolutely carrying out needed reforms can their trust be regained. With all due respect, I beg you to do your part – together with your fellow bishops as far as possible, but also alone if necessary – in apostolic “fearlessness” ( Acts 4:29, 31 ). Give your faithful signs of hope and encouragement and give our church a perspective for the future.


With warm greetings in the community of the Christian faith,


Yours, Hans Küng – (New York Times Syndicate) © Hans Küng


-------------------------
Read also An Open Letter to Hans Küng (Apr 21, 2010) by George Weigel, available here.