Showing posts with label Buddha Gautama. Show all posts
Showing posts with label Buddha Gautama. Show all posts

Monday, May 16, 2022

Belajar dari Gautama Buddha di Hari Waisak 16 Mei 2022

 

Selamat Hari Trisuci Waisak 2566, yang jatuh pada hari ini, Senin, 16 Mei 2022.

Disebut trisuci, karena pada setiap hari Waisak umat Buddhis memperingati dan merayakan tiga kejadian penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yakni:

• Hari kelahirannya sebagai seorang pangeran (sekitar tahun 563 SM di Taman Lumbini, sekarang Nepal Utara)

• Hari mendapatkan penerangan atau pencerahan budi (Sanskrit/Pali: bodhi) selama dan setelah 49 hari (7 minggu) menjalankan meditasi yang kontinyu dengan duduk bersila (posisi lotus) di bawah sebuah pohon banyan (yang berlokasi di Bodh Gaya, Bihar, India), yang tumbuh di tepi Sungai Phalgu. Pohon banyan yang dipilih Siddhartha Gautama ini lebih dikenal sebagai Pohon Bodhi. Seseorang yang telah mendapatkan bodhi dinamakan Buddha.

Gautama menyadari bahwa untuk mendapatkan bodhi, dia harus bermeditasi dan melepaskan semua kesenangan dan kenikmatan dunia.

Kesadarannya ini timbul setelah dia melihat kehidupan real di luar istana, dengan didampingi seorang pengawal setianya. 

Dia berpapasan dengan seorang miskin peminta-minta, seorang tua yang ringkih, seorang yang sedang sakit, dan seorang mati yang diusung dalam sebuah keranda. Apa yang dilihat Gautama ini membuat dia terpekur, lalu menginsafi bahwa kehidupan ini penderitaan (Pali: dukkha).

Bagaimana melepaskan manusia dari penderitaan? Itulah pertanyaan terbesar Gautama.

Kemudian Gautama berpapasan dengan seorang asket, yang wajahnya menampakkan keteduhan dan kedamaian. Gautama termenung, bertanya, jika kehidupan ini suatu penderitaan, bagaimana sang asket itu dapat berwajah teduh, damai, dan hening. Maka, Gautama pun mempertimbangkan dirinya untuk menempuh kehidupan asketik.

• Hari Gautama Buddha memasuki “kawasan Diri Sejati yang Abadi” (penamaan dalam Buddhisme Mahayana) lewat kematiannya. Kejadian ini dinamakan parinirvana, saat Gautama Buddha memasuki nirvana yang sepenuh-penuhnya, nirvana tanpa sisa, dan dia tidak akan mengalami kelahiran kembali.

Sebetulnya, dalam meditasinya selama 7 minggu, di saat Gautama berusia 35 tahun, dengan cepat dia mendapatkan bodhi, bahkan sudah mulai diperolehnya di malam pertama meditasinya.

Meditasinya yang dijalankan selama 49 hari sinambung makin memperluas dan memperdalam horison-horison pencerahannya, sampai tiba di pencerahan paripurna.

Mendapatkan pencerahan berarti mendapatkan nirvana (Sanskrit) atau nibbana (Pali), yang memiliki arti “lenyap tertiup” atau “padam”. Yakni, Gautama berhasil memadamkan atau meniup lenyap dari dirinya nafsu keinginan, kebencian, ketidaktahuan, dan, pada dasarnya, berhasil melepaskan dirinya dari penderitaan (dukkha) dan siklus kelahiran kembali.

Pada esensinya, nirvana adalah keadaan berakhirnya penderitaan (yang mencakup kelahiran, usia menua, penyakit, dan kematian) dan semua penyebabnya.

Tanpa mendapatkan bodhi yang sempurna, penderitaan dan segala penyebabnya akan terus-menerus dialami manusia dalam banyak masa kehidupan mereka, membentuk siklus kelahiran kembali yang dinamakan “samsara” (artinya, “mengembara” atau “berkelana”).

Untuk memutus siklus samsara, orang harus dapat melenyapkan emosi-emosi yang negatif, yang melahirkan tindakan-tindakan yang negatif. Selain itu, pikiran-pikiran yang salah, jahat dan destruktif, juga harus ditransformasi menjadi pikiran-pikiran yang benar, baik, dan konstruktif. Sebab, lewat pikiranlah kita membentuk diri kita sendiri dan dunia ini.

Jika penyebab-penyebab akar berlangsungnya siklus samsara, yang ada pada ego dan mental manusia, dapat dicabut dan dihilangkan, maka penyebab-penyebab ini kehilangan kekuatan, alhasil penderitaan diakhiri, dus nirvana dicapai selama masih hidup dalam dunia ini. Ketika nirvana dicapai, pikiran akan damai sepenuhnya, teduh dan hening, dan diri melebur dengan jagat raya, menjadi kosong sekaligus penuh.

Bagi orang yang sudah mencapai nirvana di masa kehidupannya di Bumi, nirvana yang sepenuhnya, nirvana tanpa sisa, akan dimasuki setelah kematian. Inilah nirvana tahap lanjut, atau parinirvana, yang dicapai Gautama Buddha pada usia 80 tahun (yakni, 45 tahun setelah dia mendapatkan bodhi).

Parinirvana Gautama Buddha disebut juga sebagai “apratis thitanirvana”, artinya nirvana tanpa lokasi, dan bukan samsara, juga bukan nirvana. Ini dapat ditafsirkan bahwa pasca-parinirvana, Gautama Buddha menjadi mahahadir, mahaberada, dan abadi, tidak takluk lagi pada kedagingan dan dimensi-dimensi ruangwaktu. Diri Sejati Gautama Buddha menjadi transenden sekaligus imanen. Jasadnya dikremasi, dan debu-debu tulangnya dibagi-bagi ke para pengikutnya.

Nah, baiklah pada Hari Trisuci Waisak 16 Mei 2022 ini, kita perhatikan satu relief (gambar pahatan timbul) di bawah ini. Relief ini dipahat di suatu lokasi di Pakistan utara dan Afghanistan selatan masa kini, berasal antara abad ke-2 dan abad ke-3 M.



Image credit: The Norton Simon Foundation (Norton Simon Museum). Sumber image nortonsimon.org.


Relief ini menampilkan Siddhartha Gautama sedang mendatangi sebuah pohon bodhi untuk di bawahnya dia akan bermeditasi, dengan duduk bersila, dan akhirnya mendapatkan pencerahan hingga final.

Di saat Gautama menghampiri pohon bodhi itu, dia berikrar, demikian:

“Aku tidak akan beranjak dari posisi ini di Bumi, sampai aku mencapai tujuan terbesarku.”

Versi lebih panjang dari ikrar Gautama berbunyi berikut ini.

“Aku akan duduk bersila di bawah pohon ini dan bermeditasi untuk mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaanku. Aku tidak akan bangun sampai jawaban-jawaban kuperoleh. Sekalipun kulit-kulitku mengelupas dan tubuhku menjadi lemah, aku tidak akan beranjak sedikitpun sampai aku melihat terang.”

Pada tangan kirinya, Gautama menggenggam rerumputan untuk diletakkannya pada tempat duduk yang sudah tersedia di bawah pohon bodhi itu, yang pernah digunakan oleh para pencari terang lainnya sebelum dia. Tapak tangan kanannya terbuka penuh, mengisyaratkan bahwa dia memiliki keyakinan yang kuat, tidak ragu sama sekali.

Lazimnya, relief-relief dipenuhi deretan sosok-sosok lain. Pada relief di atas hanya beberapa saja dari mereka yang terlihat dan dapat diidentifikasi, termasuk sosok Vajrapani, sahabat dan pelindung Gautama yang berdiri di sebelah kiri, dengan tangannya memegang sebuah senjata petir dalam bentuk sebuah tulang.

Di sebelah kanan Gautama, terlihat sepasang figur ningrat laki-laki dan perempuan. Mereka menunjuk ke tempat duduk yang ada di bawah pohon bodhi. Ditafsir, sepasang sosok ini adalah Mara, dewa atau demon nafsu keinginan, dan isterinya.

Dalam kosmologi Buddhis, Mara dihubungkan dengan kematian, kelahiran kembali dan nafsu keinginan. Menurut penafsir Nyanaponika Thera, Mara adalah “personifikasi kekuatan-kekuatan antagonistik terhadap pencerahan.” Kata Mara sendiri berarti kematian.

Dalam kisah-kisah Buddhis, Mara adalah demon yang bertekad untuk menghalangi dan mencegah Gautama dalam usahanya untuk mendapatkan pencerahan.

Bersama isterinya dan tiga puterinya (masing-masing bernama Tanha, artinya rasa haus; Arati, artinya penyimpangan, rasa tidak puas; dan Rāga, artinya kelekatan, nafsu keinginan, ketamakan, berahi), dan demon-demon pengikutnya yang lain (pada relief, terlihat hanya sebagian, termasuk yang berada di samping kolom beton), Mara yakin akan dapat memadamkan niat Gautama untuk mencari bodhi dan mendapatkannya, lalu mencapai nirvana, lewat meditasinya selama 7 minggu. Menurut tradisi, godaan-godaan ini, termasuk yang sensual dari tiga puteri Mara, dialami Gautama pada minggu kelima meditasinya. Semua godaan dipatahkan Gautama.

Di awal Gautama mendapatkan pencerahan, demon Mara berupaya sangat keras untuk membuyarkan konsentrasi meditatif Gautama. Mara menantang Gautama untuk menunjukkan bahwa dia telah mendapatkan pencerahan. Sebagai jawaban, tangan kanan Gautama diarahkan ke Bumi dan jari-jemarinya menyentuh tanah, memanggil Dewi Bumi untuk menjadi saksi bagi pencerahan yang sudah didapatnya. Posisi ini (lihat image di bawah ini) dinamakan Bhūmisparsa mudra.



Dewi Bumi dipanggil untuk menjadi saksi Gautama telah mendapatkan pencerahan. Abad ke-9, Bihar, India. Image credit: Cleveland Museum of Art. Sumber image khanacademy.org.


Setelah memperoleh pencerahan di tahap awal, di minggu kedua meditasinya Gautama bangkit berdiri dan menatap tanpa berkedip pohon bodhi yang menudungi dan melindunginya, lalu dia mengucap terima kasih kepada pohon itu, dan melanjutkan meditasinya sambil berdiri selama sekian waktu, konon selama sembilan hari.

Pohon banyan menjadi pohon bodhi, membantu Gautama mendapatkan pencerahan.

Hanya demon yang membenci pencerahan, dan menghalangi para pencari terang untuk mendapatkan penerangan dan pencerahan budi.

Gautama Buddha tahu apa yang dia cari, dan percaya dia akan mendapatkan jawaban-jawaban. Dengan memeriksa dan mengikuti serta mengamati dan memikirkan aliran perasaan dan gerak-gerik pikirannya selama 7 minggu, Gautama memperoleh bodhi.

Carilah, maka kamu akan mendapatkan. Ketuklah gerbang-gerbang pintu, maka pintu akan dibukakan bagi kamu. Biarkan Terang Sejati masuk ke dalam dirimu. Lalu pancarkan ke dunia sekitarmu. Jadilah terang dunia. Beri rehat pada orang yang menderita, yang letih lesu dan berbeban berat. Taklukkan kematian. Jalani kehidupan sorgawi sekarang dalam dunia ini. 


Jakarta, 16 Mei 2022


References:

Nortonsimon, Sundaytimes, History, Khanacademy, Indiatoday



Saturday, April 4, 2015

Viktor E. Frankl: Temukan makna dalam azab anda!

Kalau anda ditanya, hal apa yang menjadi pendorong utama anda mau hidup, apa jawab anda? 

Kalau anda termasuk generasi milenial, yang lahir mulai 1980-an ketika media sosial mulai merasuki kehidupan kaum muda, mungkin anda akan menyatakan bahwa tujuan anda hidup ya aktif penuh 24 jam sehari dalam dunia media sosial.  

Baiklah kalau itu tujuan hidup anda sebagai generasi milenial. Tapi, apakah anda berbahagia dan menemukan makna lewat kesibukan anda di dunia media sosial?

Mari kita tengok beberapa sosok besar yang telah merenungi dan menjawab pertanyaan di atas.

Kata Sigmund Freud (1856-1939), bapak psikoanalisis, mendapatkan kesenangan, itulah faktor utama yang memacu kemauan kita untuk hidup. Dalai Lama ke-14 menyatakan hal yang serupa: tujuan utama kehidupan kita adalah mendapatkan kebahagiaan.

Bapak mazhab psikologi individual Alfred W. Adler (1870-1937) memandang menjadi individu yang holistik, tidak terpecah, untuk mendapatkan kekuasaan yang berguna untuk mengubah sesuatu agar lebih baik, adalah pendorong utama seseorang mau hidup. 

Menurut Abraham Maslow, tujuan utama kita hidup adalah menjadi orang yang berhasil mengatualisasi diri sebagai insan-insan yang bermartabat, menjadi insan-insan transenden, insan-insan kawasan adinilai, yang memberi kehidupan untuk semua orang dan dimiliki semua orang.




Anda tahu Viktor E. Frankl, Ph.D. (26 Maret 1905 – 2 September 1997), seorang neurologis dan psikoterapis keturunan Yahudi kebangsaan Austria? Dia adalah salah seorang yang selamat dari penderitaan berat Holokaus. Oleh Nazi, dia dijadikan seorang pekerja paksa di empat kamp konsentrasi Nazi (Auschwitz, Dachau, Kaufering, dan Tuerkheim) kurun 1942-1945. Kedua orangtuanya, saudara lelakinya, dan istrinya yang sedang hamil, semuanya mati, dibunuh dan mati alamiah karena sakit, selama masa-masa sulit mereka.

Kalau Elie Wiesel (lahir 30 September 1928) yang juga berhasil bertahan hidup selama Holokaus terkenal di dunia lewat novel-novel serialnya yang mengisahkan pengalaman-pengalamannya selama Holokaus, Frankl termasyhur lewat apa yang dinamakannya logotherapy.

Logoterapi adalah pendekatan yang dipakai Frankl dalam terapi kejiwaan. Kata “logos” diberinya arti “makna”. Logoterapi adalah suatu terapi kejiwaan yang membimbing orang untuk menemukan dan menyadari bahwa faktor utama yang mendorong kita mau hidup bukanlah pengejaran kesenangan atau kebahagiaan atau kekuasaan, tetapi penemuan dan pengejaran atas sesuatu yang kita pribadi pandang sebagai makna, meaning.

Mengejar dan menemukan makna, itulah yang memacu kita untuk hidup terus meskipun harus mengalami banyak azab.

Logoterapi adalah mazhab psikologi ketiga Wina setelah mazhab psikoanalisis Sigmund Freud dan mazhab psikologi individual Adler. Kalau Frankl menekankan kehendak untuk mendapatkan makna (“the will to meaning” Kierkegaard), maka Freud menekankan “the will to pleasure”, dan Adler mementingkan “the will to power” Nietzsche.

Logoterapi Frankl dibangun berdasarkan tiga prinsip tentang makna:
• Kehidupan memiliki makna dalam segala kondisi apapun, bahkan dalam kondisi-kondisi yang paling menyengsarakan;
• Motivasi utama kita hidup adalah kehendak kita untuk menemukan makna dalam kehidupan kita;
• Kita memiliki kebebasan untuk menemukan makna dalam apa yang sedang kita kerjakan dan dalam apa yang kita sedang alami, atau setidaknya dalam sikap yang kita ambil saat diperhadapkan pada situasi-situasi penderitaan yang kita tidak dapat ubah.

Frankl sungguh tahu apa artinya hidup didera azab dan kesengaraan, karena dia sungguh-sungguh mengalaminya dan melihatnya selama Holokaus.

Frankl berpendapat: kita tidak dapat menghindari penderitaan, tetapi kita dapat memilih cara bagaimana kita menghadapinya, lalu menemukan makna di dalam azab kita. Selanjutnya kita maju terus ke depan dengan tujuan-tujuan hidup yang senantiasa dibarui dan diperkuat. Baginya, kelimpahan, hedonisme dan materialisme dapat mengancam orang untuk gagal menemukan makna dalam kehidupan mereka.

Frankl telah menulis 39 buku. Salah satu buku karyanya yang terkenal berjudul Man’s Search for Meaning. Dalam buku ini, dia meriwayatkan semua pengalaman beratnya selama berada di kamp-kamp konsentrasi Nazi dari perspektif objektif seorang psikoterapis. Pada halaman 88 buku ini, dia menulis sesuatu tentang penderitaan dan makna kehidupan, demikian:

“Jika memang ada suatu makna dalam kehidupan ini, maka mustilah ada sebuah makna di dalam penderitaan. Penderitaan adalah suatu bagian dari kehidupan yang tidak dapat ditiadakan, sama halnya dengan nasib dan kematian. Tanpa penderitaan dan kematian, kehidupan manusia tidak dapat lengkap.

Cara seseorang menerima nasib dan semua bentuk azab yang ditimbulkannya, dan caranya memikul salibnya, memberinya kesempatan-kesempatan luas ―sekalipun di dalam situasi dan kondisi yang paling sulit―untuk menambah makna yang lebih dalam bagi kehidupannya. Kehidupannya akan senantiasa dijalaninya dengan berani, bermartabat dan tidak serakah.”/1/

Menurut Frankl, ada tiga jalan untuk kita dapat menemukan makna dalam kehidupan kita. Pertama, dengan menciptakan suatu pekerjaan atau melakukan suatu kegiatan; kedua, dengan mengalami sesuatu atau menemui seseorang; ketiga, dengan sikap yang kita ambil dengan bebas terhadap penderitaan yang tidak dapat kita hindari.

Menurut Frankl, segala sesuatu dapat diambil dari seseorang, kecuali satu hal terakhir, yakni kebebasan setiap orang untuk menentukan sikapnya sendiri dalam situasi dan kondisi yang melibatkan dirinya. Dia memberi gambaran tentang mendapatkan makna lewat jalan yang ketiga ini dari pengalamannya sendiri menolong orang lain. Berikut ini kisah nyata Frankl yang sangat inspiratif.

Suatu ketika, seorang dokter umum yang sudah tua datang ke saya untuk berkonsultasi mengenai depresinya yang berat. Dia tidak dapat mengalahkan rasa kehilangan atas istrinya yang telah wafat dua tahun sebelumnya. Istrinya ini sangat dicintainya, melebihi segala hal lainnya. Saya berpikir-pikir, bagaimana saya akan dapat menolongnya? Apa yang harus saya katakan kepadanya?

Saya menahan diri untuk tidak memberinya instruksi apapun, tetapi memperhadapkannya dengan sebuah pertanyaan, “Apa yang mungkin akan terjadi, Dokter, seandainya anda wafat lebih dulu, dan istrimu harus tetap bertahan hidup tanpamu lagi?” “Oh”, katanya, “baginya keadaan itu akan sangat berat; betapa dia akan sangat menderita!”

Segera saya menimpali, “Anda lihat, Dokter, dia telah terhindar dari penderitaan berat semacam itu, dan andalah yang telah meluputkannya dari penderitaan ini; tetapi kini, anda harus membayarnya dengan anda tetap hidup dan meratapinya terus.” 

Mendengar itu, sang dokter ini tidak berkata satu katapun tetapi menjabat tangan saya dan dengan tenang meninggalkan kantor saya./2/

Dalam zaman sekarang yang dicirikan modernitas dan kehidupan yang serba mentereng dan bermewah-mewah, orang umumnya takut mengalami azab dan penderitaan.

Bahkan para pemuka keagamaanpun lebih memilih hidup mentereng dan mewah, dan mengajarkan umat mereka untuk juga meraih hanya kesuksesan dan kehidupan mewah. Penderitaan dibenci, ditakuti dan mau dihindari selamanya. 

Tentu saja bagi Frankl, jika dapat dihindari, penderitaan apapun harus dihindari, bukan dicari-cari atau malah dinikmati. Dengan tegas, dia menolak masokhisme. Tulisnya,

“Salah satu prinsip dasar logoterapi adalah bahwa kebutuhan utama manusia bukanlah untuk mendapatkan kesenangan atau untuk menghindari penderitaan, tetapi untuk melihat suatu makna di dalam kehidupan mereka. Itulah sebabnya orang bahkan siap untuk menderita, tentu saja dengan syarat bahwa penderitaan mereka memiliki sebuah makna.

Tetapi baiklah saya jelaskan sejelas-jelasnya bahwa penderitaan sama sekali tidaklah harus terjadi untuk orang dapat menemukan makna. Saya hanya mau menekankan adalah mungkin kendatipun seseorang harus menderita, dia mendapatkan makna, asalkan tentu saja penderitaannya tidak dapat dielakkan.

Namun seandainya penderitaan dapat dihindari, hal bermakna yang harus dilakukan adalah menyingkirkan penyebabnya, baik penyebab psikologis, biologis maupun penyebab politis.

Jika anda mengalami penderitaan yang tidak harus terjadi, itu masokhistik, ketimbang heroik.”/3/

Tetapi, bisakah kehidupan kita terbebas sepenuhnya dan selamanya dari azab dan penderitaan? Ya, tidak bisa. Jika anda mau, cobalah cek satu per satu dari tujuh milyar lebih manusia sekarang ini (menurut Worldometer, populasi dunia di awal 2021 adalah lebih dari 7,8 milyar orang), apakah ada orang yang tidak pernah menderita dan menanggung azab.

Oleh hukum alam, segala sesuatu dalam jagat raya ini, bahkan jagat raya itu sendiri, akan mengalami saat kelahiran dan perkembangan yang ditandai kebeliaan, kekuatan dan kesehatan. Tetapi lambat laun segala sesuatu akan masuk ke masa-masa degeneratif, kemunduran, kehilangan kekuatan dan kemudaan secara bertahap, masuk ke dalam proses penuaan, lalu mengalami berbagai sakit-penyakit dan rongrongan, sampai akhirnya menjadi tua, lemah, letoi, uzur dan renta, lalu mati.

Memakai terminologi sains, kita katakan bahwa karena entropi (atau "panah waktu", "the Arrow of Time") bekerja dalam semua sistem, termasuk sistem biologis, segala hal dalam jagat raya ini pada akhirnya akan mengalami kondisi kacau, tidak tertata, lalu lenyap.

Sebagai organisme sentien yang memiliki akal, kesadaran, kehendak, emosi, dan panca indra, kita, manusia, melihat entropi sebagai penyebab serius adanya azab dan kesengsaraan dalam kehidupan kita semua. Kita mampu merenunginya dan menarik hikmah-hikmah dari azab yang sedang kita tanggung.

Azab dan penderitaan adalah bagian dari struktur dan kodrat jaga raya dan segenap isinya. Kita semua terkurung dalam struktur dan kodrat universal ini, dan sama sekali tidak bisa meluputkan diri darinya. 

Tentu saja, para ilmuwan berbagai bidang, misalnya fisika, kimia, biologi, khususnya genetika, sibernetika, kecerdasan buatan (artificial intelligence), gerontologi, dan bidang-bidang keilmuan lain yang terkait, sedang berusaha keras dan cerdas untuk mengalahkan entropi atau membalikkan arahnya, memutarbalik trajektori atau arah panah waktu. Tujuannya ya supaya manusia tidak lagi mengalami proses biologis penuaan yang dipandang sebagai suatu penyakit yang harus bisa disembuhkan.



Siddhartha Gautama (563 SM – 483 SM) semasa usianya masih belia (29 tahun) sudah menggumuli soal asal-usul azab dan penderitaan, dan bagaimana cara dan jalan untuk membebaskan orang dari duka lara. Pergumulannya ini muncul konon setelah dia di luar istana kerajaan ayahnya melihat orang sakit, orang uzur, dan orang mati.

Lewat usahanya sendiri yang sangat berat, terkait dengan pergumulannya ini, akhirnya dia menemukan Empat Kebenaran Agung tentang sebab-musabab adanya penderitaan dan Jalan Mulia Rangkap Delapan untuk orang bisa menaklukkan penderitaan, khususnya lewat manajemen pikiran kita sendiri.

Gautama menyatakan bahwa “Kita adalah apa yang kita pikirkan. Segala sesuatu mengenai diri kita, muncul dari pikiran kita. Dengan pikiran kita, kita membentuk dunia ini.”

Viktor E. Frankl pada abad keduapuluh menggumuli hal-hal yang juga digumuli Gautama Buddha jauh sebelumnya. Frankl juga berhasil menemukan jawabannya, dan dari situ dia membangun logoterapi yang memberi makna agung buat kehidupannya.

Nasihat Frankl kepada kita: Kehidupan ini selalu berisi azab dan kesengsaraan. Jangan takut untuk menghadapinya. Temukan makna di dalam semua penderitaan anda.

Jika anda mampu menemukan makna di dalam penderitaan anda, maka penderitaan akan anda pandang sebagai sesuatu yang edukatif, yang mampu mendidik dan mencerahkan anda, dan akibatnya lewat penderitaan yang bertubi-tubi, anda akan dapat hidup dengan berani, bermarwah dan penuh kemurahan hati.

Ya, lewat penderitaan berat yang anda telah hadapi, anda dapat diubah menjadi seorang yang memiliki solidaritas kuat terhadap orang-orang lain yang sedang menderita, dan akhirnya anda akan menerjunkan diri anda ke dalam gerakan-gerakan sosial untuk menolong dan membebaskan sesama anda yang sedang menderita. Kehadiran dan peran anda dibutuhkan sebab banyak sekali orang dalam dunia ini rentan terhadap azab dan tidak tangguh dalam memikulnya.

Jika itu yang anda lakukan, makna yang agung anda telah temukan di dalam penderitaan anda. Ketika anda berhasil menemukan makna lewat azab anda, azab anda tidak berkuasa lagi untuk membinasakan anda.

Akhir kata, saya perlu tekankan hal berikut ini, dan ingatlah selalu.

Anda sendirilah, bukan orang lain, juga bukan langit, juga bukan awan, yang harus memberi makna pada kehidupan anda, pada apa yang anda miliki atau pada apa yang sedang anda alami dan jalani, baik kesulitan besar ataupun kemudahan. Makna kehidupan anda, ada dalam diri anda sendiri. Tentukan, dan jalankan hingga tercapai, alhasil anda tak akan pernah merasa kehidupan anda tak bermakna, meaningless.

Ingat juga, depresi berat lazim ditandai oleh perasaan dan pikiran bahwa kehidupan anda tak bermakna. Jika ini terjadi, anda perlu berkonsultasi dengan seorang psikoterapis atau seorang psikiater, dan, jika depresi tidak hilang juga, anda perlu dibantu dengan obat-obat antidepresi. Sebelum memutuskan minum obat antidepresi, cobalah dulu bermeditasi dan berolahraga dan membangun pergaulan sosial yang interaktif.


Jakarta, 4-4-2015
Diedit 7 Mei 2018
Diedit lagi 28 Jan 2021

ioanes rakhmat

Catatan-catatan

/1/ Viktor E. Frankle, Man’s Search for Meaning (revised and updated; New York, N.Y. : Washington Square Press/Pocket Books, 1959, 1962, 1984, 1985), hlm. 88. Aslinya buku ini terbit 1946 dengan judul Trotzdem Ja Zum Leben Sagen: Ein Psychologe erlebt das Konzentrationslager, artinya: Bagaimanapun Juga, Katakan Ya kepada Kehidupan: Seorang Psikolog Mengalami Kamp Konsentrasi.

/2/ Viktor E. Frankle, Man’s Search for Meaning, hlm. 135.

/3/ Viktor E. Frankle, Man’s Search for Meaning, hlm. 136.


Saturday, May 25, 2013

Mengenang Gautama Buddha di Hari Trisuci Waisak

Gautama Buddha bersemedi di bawah sebuah pohon bodhi

Disebut hari Trisuci Waisak (Pali: Vesākha) karena yang diperingati pada hari ini tiga kejadian suci sekaligus yang dialami Siddhartha Gautama, yang sebetulnya terpisah-pisah, tidak pada hari, tanggal dan bulan yang sama, yakni kelahiran, pencerahan budi (samma sambuddha), dan kematian (parinibbana). Keputusan untuk menyatukan tiga peristiwa penting yang dialami Siddhartha Gautama diambil para rahib Buddhis saat mereka bertemu di Sri Langka tahun 1950.

Kelahiran dan kematian setiap orang menjadi penting bukan karena hal-hal lain tetapi karena karya-karya mereka dalam masa kehidupan mereka. Apa yang dicapai pada masa kehidupan seseorang, menjadikan hari lahirnya dan hari kematiannya sebagai hari-hari yang juga penting. Itulah juga yang terjadi pada Siddhartha Gautama. Karena itu penting pada setiap peringatan Trisuci Waisak kita mengenang kembali prestasi-prestasi terpenting Gautama Buddha semasa kehidupannya. 

Menurut legenda, saat Siddhartha Gautama baru dilahirkan di taman Lumbini (berlokasi di Nepal Selatan), sang bayi langsung saja berjalan, dan pada setiap pijakannya langsung tumbuh sebuah bunga teratai yang menjadi alas kakinya, demikian terus berlangsung sampai di langkahnya yang ketujuh yang juga disambut oleh bunga teratai. Saat berpijak pada teratai yang ketujuh ini, dengan ajaib sang bayi ini bersabda bahwa ini adalah kelahirannya yang terakhir dan dia akan menjadi orang terbesar dan teragung dalam dunia ini. Menurut legenda juga, bulan purnama bersinar terang di angkasa saat Siddhartha Gautama dilahirkan, begitu juga saat dia menerima pencerahan dan wafat. Tentu saja ada sejumlah orang besar lainnya dalam dunia kuno, yang pada saat dilahirkan, saat menerima visi-visi besar, dan saat kematian, kejadian-kejadian ajaib juga dituturkan terjadi pada mereka masing-masing. 

Bayi Gautama berjalan tujuh langkah. . .

Konon pertanyaan yang paling mengganggu pangeran Siddhartha Gautama dewasa adalah mengapa ada dukkha dan bagaimana keluar dari dukkha. Kata “dukkha” (Pali/Sanskrit) harfiah berarti rasa sakit luar biasa yang dirasakan ketika tulang yang patah di dalam daging mencucuk. Kata ini dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai duka, azab, kesengsaraan, penderitaan, kesakitan, kepedihan, dan kemalangan. 

Konon Siddhartha Gautama terganggu oleh pertanyaan kenapa ada dukkha, karena dia, di luar istana, melihat orang sakit, orang tua, lalu orang mati--tiga kondisi yang dia tidak pernah lihat selama dipingit dalam istana. Sakit, uzur, dan mati, adalah tiga hal eksistensial yang harus dialami oleh semua makhluk, dan sangat mengganggu semua makhluk yang berkesadaran. Dukkha dialami saat orang harus menghadapi fakta bahwa dari eksistensi mereka akhirnya, lambat laun sejalan dengan gerak panah waktu, akan menjadi non-eksistensi, dari ada menjadi tidak ada. 

Akhirnya, Siddhartha berjumpa dengan seorang rahib yang pembawaannya sangat bersahaja, berwajah tampak damai dan teduh, tak punya benda apapun yang berharga. Untuk bisa hidup, sehari-hari, makan dan minum diperoleh sang rahib dari kebaikan orang lain. Gautama bertanya-tanya kenapa sang rahib ini bisa menjalani kehidupan yang berbahagia seperti itu dalam kemiskinan di tengah kenyataan adanya dukkha di mana-mana dalam kehidupan ini. 

Para rahib dengan sengaja dan ikhlas menempuh jalan kehidupan yang sangat bersahaja; mereka miskin harta bukan karena ketidakadilan sosioekonomi yang sistemik. Mereka sengaja miskin harta dunia; kekayaan terbesar mereka adalah kesederhanaan dan kearifan. Harta benda ya tentu mereka masing-masing punya juga: satu karung goni tempat menyimpan pakaian dan kebutuhan jasmani sehari-hari. Jalan kehidupan kerahiban mulai menawan hati Siddhartha Gautama.

Tentu saja kita semua tahu fakta ini juga: hidup dalam kemiskinan yang bersumber dari ketidakadilan sosioekonomi sistemik menimbulkan banyak dukkha, mulai dari duka fisik, duka mental, duka individual, hingga duka sosial lokal dan global. Selain itu, kemiskinan menimbulkan stres mental luar biasa yang berlangsung dan berproses dalam sistem limbik otak manusia. Stres mental ini diteruskan ke lobus prafrontalis yang ada di depan sistem limbik; alhasil lobus yang menjadi pusat neural nalar dan rasionalitas ini kelebihan muatan sehingga tidak dapat leluasa bekerja. Akibatnya sudah jelas: kemiskinan mengubah otak manusia, dengan membuat nalar dan rasionalitas tidak bisa lagi bekerja maksimal. 

Akhirnya, pada umur 29 tahun, Siddhartha meninggalkan istana, mengosongkan diri dari kekuasaan dunia, dengan tujuan mencari jawab mengapa ada dukkha dan menemukan cara-cara membebaskan diri dari dukkha. Pada masanya, pertanyaan-pertanyaan yang kurang lebih serupa juga mengganggu para asket yang mendorong mereka bertapa mencari pencerahan. Semula, Siddhartha juga menempuh cara asketis yang sama, bertapa dan menyiksa diri, untuk mencapai pencerahan budi. 

Konon, ketika sedang menempuh kehidupan asketis yang keras, dia, pada suatu kesempatan, mendengar seorang pemain kecapi bersenandung. Kata pemain kecapi itu: Jangan setel dawai-dawai kecapi terlalu kencang, karena dawai-dawai ini akan putus. Juga jangan setel dawai-dawainya kendur karena dawai-dawai ini akan mengeluarkan suara yang sember.

Senandung si pemain kecapi memberi sebuah inspirasi pada Siddhartha: untuk orang menemukan pencerahan, jalannya haruslah Jalan Tengah. 

Pada masanya, ada dua jalan kehidupan yang keduanya sama-sama ekstrim: memanjakan diri (di istana) atau menyiksa diri (di hutan-hutan dan tempat-tempat sunyi, atau di tepi-tepi sungai). Sidhartha menolak dua jalan esktrim ini, lalu menempuh Jalan Tengah: tidak memanjakan diri dan juga tidak menyiksa diri.

Sejak itu, Siddhartha mulai meninggalkan cara-cara meditatifnya yang semula, sehingga dia dianggap rekan-rekannya telah kehilangan komitmen terhadap asketisisme yang keras. 

Dengan prinsip Jalan Tengah, Siddhartha meneruskan pencariannya, dan konon pada umur 35 tahun di bawah sebuah pohon Bodhi, dia mendapatkan pencerahan.

Pada usia 35 tahun, setelah 6 tahun mencari, Siddhartha mencapai kebuddhaan, yakni pencerahan budi dengan sempurna. Sebutan “Buddha” berarti “orang yang telah tercerahkan” atau “orang yang telah memiliki kesadaran sempurna”. 

Dia menghabiskan 49 hari bersemedi di bawah sebuah pohon Bodhi, di Both Gaya, India, sampai akhirnya dia mendapatkan pencerahan budi. Di ujung hari ke-49 itu, Siddhartha menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaannya mengapa ada dukkha dan bagaimana mengatasi dukkha.

Konon, setelah tercerahkan, Siddhartha bangun dari semedinya, lalu berdiri di depan pohon Bodhi itu, memandangnya dengan rasa terima kasih dan tanpa berkedip selama 7 hari 7 malam. 

Isi kebijaksanaan yang telah mencerahkannya disebut Empat Kebenaran Agung, yakni adanya dukkha, keinginan sebagai sumber dukkha, akhir dari dukkha (dinamakan nirwana); nirwana dapat dicapai dalam dunia ini atau di dunia yang akan datang. Jalan-jalan untuk mencapai nirwana dinamakan Jalan Mulia Delapan Rangkap, yang mencakup: berpandangan benar, bersikap benar, berbicara benar, bertindak benar, hidup benar, berusaha dengan benar, berpikiran benar, berkonsentrasi dengan benar. 

Kondisi kehidupan ketika orang berhasil memahami Empat Kebenaran Mulia dan berhasil menjalankan Jalan Mulia Delapan Rangkap, disebut nirwana. Kata nirwana juga menunjuk suatu kondisi adikodrati ketika orang telah terbebaskan dari siklus kematian dan reinkarnasi. 

Pertanyaan mengapa ada dukkha dan bagaimana membebaskan diri dari dukkha adalah sebuah pertanyaan eksistensial yang universal dan tampaknya akan abadi.

Kalau Gautama di India bergumul dengan pertanyaan itu di abad ke-4/ke-5 SM, para sastrawan Yahwis di istana Raja Daud/Salomo di Timur Tengah kuno pada abad 10 SM juga bergumul dengan pertanyaan yang sama. 

Untuk menjawab pertanyaan mengapa ada sakit-penyakit, dukkha, azab, dan kematian, para sastrawan Yahwis itu menyusun kisah etiologis Taman Eden. Dibandingkan jawaban yang diberikan Siddhartha Gautama, para sastrawan Yahwis itu memberi jawaban yang bagi saya tidak memuaskan.

Bagi para pujangga penulis kisah skriptural Taman Eden (Kejadian 2-3), penyebab semua bentuk dukkha adalah ketidaktaatan Adam dan Hawa terhadap larangan Allah. Bagaimana mungkin, penderitaan lebih dari 7 milyar manusia di abad 21 disebabkan oleh pelanggaran Adam dan Hawa yang kisahnya ditulis pada abad ke-10 SM di sebuah negara di Timur Tengah kuno? 

Selain itu, para pujangga Yahwis itu di abad 10 SM sama sekali tidak memberi jalan keluar untuk manusia bisa luput dari dukkha. Para pujangga kerajaan itu dengan nada sangat sendu dan submisif hanya menegaskan bahwa Allah menghukum Adam dan Hawa (dan semua manusia), dengan hukuman terberat berupa kematian, karena ketidaktaatan mereka pada larangan Allah.

Para penulis kisah Taman Eden di abad 10 SM hanya memberi etiologi (kisah asal-usul) yang simplistik atas adanya fakta dukkha, dan juga teleologi yang suram: di ujung kehidupan manusia hanya tersedia kematian. Tetapi para penulis kisah Taman Eden itu tidak memberi soteriologi, doktrin tentang bagaimana manusia bisa mengatasi dukkha. 

Hemat saya, Siddhartha Buddha Gautama jauh lebih realistik dan jauh lebih bijak dibandingkan para sastrawan penulis kisah skriptural Taman Eden. Tapi mari kita berpaling ke jagat raya kita. Jawaban lebih jauh ada di situ.

Dalam jagat raya, yang memiliki kemampuan mendatangkan kehidupan lewat debu-debu bintang, keberadaan selalu diikuti kemusnahan, something selalu diikuti nothing, dan kepunahan selalu disusul keberadaan, nothing selalu disusul oleh something. Dalam jagat raya kita, galaksi-galaksi tua lenyap, diganti galaksi-galaksi baru. Segala sesuatu ada, tapi juga tidak permanen. Dalam jagat raya, kehidupan tercipta secara alamiah (jika tersedia energi, kimia organik dan non-organik juga, air, dan oksigen), tapi kematian juga menyusul. Kemunculan dan kepunahan, eksistensi dan non-eksistensi, kehidupan dan kebinasaan, sudah berlangsung sejak jagat raya terbentuk dan berevolusi, dimulai 13,8 milyar tahun lalu lewat big bang, hingga kini dan seterusnya dalam waktu yang masih sangat panjang ke depan, bermilyar-milyar tahun dari sekarang. Manusia yang baru muncul 300.000 hingga 400.000 tahun lalu di Afrika juga adalah bagian dari evolusi kosmik yang sudah berlangsung sangat panjang sebelumnya. Sebelum ada manusia, kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, lalu kemerosotan, uzur yang disusul kematian dan kepunahan, sudah berlangsung lama dalam jagat raya kita.  

Dalam dunia sains dikenal Hukum Kedua Thermodinamika yang di dalamnya dikenal apa yang dinamakan entropi, yang dinamakan juga the Arrow of Time, yakni kondisi tidak tertata dan kacau yang makin lama, sejalan dengan gerak maju sang waktu, makin menguat dalam semua sistem, termasuk sistem biologis organisme apapun, yang akhirnya bermuara dalam kehancuran dan kepunahan sistem ini. Entropi juga berlangsung dalam jagat raya, yang akhirnya juga akan mengalami kondisi tidak tertata lagi lalu punah, yang selanjutnya akan memulai evolusi kosmik baru. Jika sistem biologis tubuh kita mengalami kondisi degeneratif, mula-mula muda dan kuat lalu lama kelamaan menua dan akhirnya renta dan tidak berdaya, lalu mati, ini semua juga terjadi karena entropi. Entropi integral dalam semua sistem, juga dalam struktur dan kodrat jagat raya.

Kelahiran dan kematian, permanensi dan impermanensi, adalah unsur-unsur integratif dari struktur keseluruhan jagat raya kita, dan manusia tidak bisa luput dari kondisi-kondisi ini. Tapi bagi manusia sebagai organisme yang memiliki indra dan berkesadaran, sentient being, kondisi-kondisi ini menimbulkan banyak pergumulan batin, ratap tangis dan kedukaan. Pada hakikatnya dukkha yang dialami manusia itu memang menjadi bagian tidak terpisah dari bangunan jagat raya kita sendiri yang terus berevolusi. Entropi pada sisi buruknya menimbulkan penderitaan; tapi pada sisi baiknya, adalah suatu mekanisme alamiah yang membantu manusia terlepas dari rasa sakit, uzur, dan azab yang berat, di dalam kematian. 

Hidup yang sangat panjang berlarut-larut, yang pasti tidak bisa lepas dari keluhan dan sakit-penyakit, tanpa berujung pada kematian, juga adalah penderitaan. Kecuali jika proses penuaan yang bermuara pada kematian dapat diatasi, dengan memeranginya sebagai suatu penyakit yang dapat disembuhkan dan dikalahkan sekali untuk selamanya; alhasil manusia bisa hidup 1000 tahun sehat bahkan mungkin juga abadi tanpa duka. Gerontolog biomedis kebangsaan Inggris, Aubrey David de Grey (lahir 20 April 1963), adalah ilmuwan garis depan yang melihat proses penuaan sebagai suatu penyakit yang akan dapat disembuhkan; kini Aubrey aktif membeberkan the roadmap to end aging.

Bukan hanya manusia, tapi juga hewan-hewan lain non-manusia, dan tetumbuhan, datang dan pergi, muncul dan lenyap, secara natural. Hanya organisme yang memiliki pancaindera dan kesadaran dan kemampuan mental, melihat sakit-penyakit, dukkha dan kematian sebagai suatu problem besar. Bagi ikan, singa dan harimau, misalnya, rasa sakit dan kematian dan pembunuhan, adalah hal-hal natural tanpa nilai-nilai moral apapun di dalamnya, dan mereka tampak tidak perduli dengan semua kondisi ini. Bagi primata atau kera-kera besar, juga bagi lumba-lumba dan ikan paus, yang juga dalam batas-batas tertentu memiliki kemampuan moral bahkan kesadaran, dukkha dan kematian juga menyedihkan mereka.

Jadi, pada satu pihak, kelahiran dan kematian, kedukaan dan penderitaan, adalah natural, bagian esensial dari struktur jagat raya sendiri. Tapi, pada lain pihak, kematian dan semua bentuk kedukaan adalah problem besar bagi sentient beings seperti manusia. 

Sebagai organisme yang berkesadaran dan memiliki berbagai kapasitas mental, yang mampu membangun peradaban, manusia merasa tidak berbahagia dengan adanya dukkha, dan manusia berjuang untuk mengatasinya. Dulu teknologi untuk menolak bala dan menangkal bencana masih belum berkembang, kalaupun ada masih sangat primitif. Karena itu juga, manusia berpaling ke penjelasan-penjelasan lain tentang apa itu dukkha dan bagaimana cara mengalahkannya, dan agama-agama disusun untuk memenuhi kebutuhan ini. Ada agama yang memberi penjelasan supernatural, dan ada juga yang mengajukan penjelasan natural, terhadap pertanyaan-pertanyaan mengapa ada dukkha dalam kehidupan manusia. 

Buddhisme tampil memberi penjelasan-penjelasan natural tentang sebab-sebab dukkha dan menawarkan jalan-jalan mengalahkan dukkha. 

Gautama Buddha betul saat dia menemukan bahwa semua sumber kedukaan ada dalam dunia natural, dan karena itu juga kedukaan dapat diatasi lewat jalan-jalan natural.

Pada masa kini, berbagai disiplin sains sangat membantu manusia mencari tahu akar-akar dari dukkha, dan juga menolong mereka mengatasinya dalam banyak jalan dan cara. 

Sains tampak memberi jawaban-jawaban yang lebih memuaskan ketika orang bergumul di sekitar masalah-masalah kedukaan dan kesengsaraan manusia, baik sains yang mengkaji dunia fisik maupun sains yang mengkaji dunia mental manusia. Dengan menerima berbagai penjelasan dan petunjuk sains mengenai sebab-musabab dukkha dan jalan-jalan mengatasinya, setiap orang akan dapat lebih cerdas beragama. 

Kalau agama-agama betul bertujuan untuk memberi manusia petunjuk-petunjuk menuju kehidupan yang sehat dan membahagiakan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk seluruh umat manusia lewat berbagai macam jalan yang baik dan benar, sainstek modern dikembangkan juga untuk tujuan yang sama lewat metode-metode keilmuwan. 

Selamat hari Trisuci Waisak 
25 Mei 2013 (2557)
11 Mei 2017 (2561)

Salam, 
ioanes rakhmat

Saturday, July 21, 2012

Apakah umat Buddhis menyembah patung? Tidak cerdaskah mereka?


lukisan tua Triratna: Buddha (di tengah), Dhamma, Sangha

Ketika mengetahui bahwa saya sedang mulai memasuki kehidupan kaum Buddhis (dengan salah satu tujuannya nanti bisa menulis sebuah buku akademik berjudul Sains dan Buddhisme), seseorang di sebuah komentar terhadap sebuah status saya di Facebook menulis, “Kok orang cerdas mau menyembah patung?” Saya tahu, komentarnya ini ditujukan ke diri saya. Nah, tulisan di bawah ini adalah jawaban saya terhadap komentarnya yang nyinyir itu. 

Maksud anda tentunya kaum Buddhis menyembah patung-patung ya. Sangkaan anda ini salah. Juga pasti anda akan mencibir orang Katolik, karena anda menganggap mereka juga menyembah patung (sosok Yesus yang terpantek pada kayu salib, Bunda Maria, atau patung-patung para santo/santa). Tapi sangkaan anda ini juga salah.

Sebelum anda menjatuhkan judgment atas suatu agama lain, masuklah dulu ke dalam worldview dan kehidupan umat beragama lain itu; jika cara ini anda tempuh, maka anda akan bisa mulai lebih bijak, karena bisa memahami orang lain dengan empatetis. Anda perlu memakai sepatu orang lain, lalu mulai melangkah.

Tak ada orang manapun di zaman modern ini yang berpikir atau berkeyakinan bahwa jika sebuah patung disembah dan dipuja, patung itu akan jadi hidup, lalu melangkah mendatangi si penyembah untuk melindungi dan memberkatinya.

Begitu juga kaum Buddhis, pikiran sehat mereka masih berjalan; jadi ketika mereka sungkem dan sujud (Sanskrit: namaskara) di hadapan patung Gautama Buddha (dan/atau bersama dua wujud simbolik lainnya, yang keseluruhannya disebut Triratna, artinya “tiga permata”), mereka tak berpikiran bahwa patung Gautama Buddha itu akan hidup lalu memberkati dan menolong serta melindungi mereka.

Saya mau pakai analogi dari kekristenan, jika anda Kristen (mungkin ya anda Kristen, dilihat dari cara anda berkomentar).

Anda tokh di gereja anda secara berkala merayakan sakramen perjamuan kudus, atau ekaristi (dalam gereja Katolik).

Nah, dalam perjamuan kudus, gereja anda memakai potongan roti tawar (atau hosti, dalam gereja Katolik) dan air anggur yang dipandang suci oleh kalian sebagai orang Kristen. Nah, benda-benda yang dimakan dan diminum dalam perjamuan kudus ini bukan sekadar benda-benda duniawi yang mati, tetapi, dalam ritual perjamuan kudus gereja anda, dipandang sebagai benda-benda yang suci, bermakna dan bernilai, karena menunjuk pada tubuh Yesus yang dipaku pada kayu salib dan pada darah Yesus Kristus yang tercurah ketika dia disalibkan, dan gereja anda meyakini kematian Yesus ini menebus dosa-dosa kaum Kristen.

Nah, pada ekaristi itu, anda diminta oleh pendeta anda supaya jangan melekat pada benda-benda roti dan anggur, tapi, lewat tatapan anda ke roti dan anggur, dan lewat sentuhan tangan anda atas dua benda ini dan lewat kunyahan roti di dalam mulut anda dan lewat rasa pada lidah ketika mereguk anggur dalam cawan, anda diminta mengarahkan hati dan pikiran anda kepada diri Yesus Kristus yang dulu hidup, lalu mati disalibkan untuk (dalam kepercayaan gereja) menebus dosa kaum Kristen. 

Dengan melakukan ritual perjamuan itu, anda diharapkan semakin real lagi mengalami apa yang dipercaya gereja anda sebagai keselamatan, bahwa dosa anda sudah dihapuskan oleh pengurbanan Yesus di kayu salib, bahwa Yesus Kristus adalah sang Tuhan yang mengasihi anda karena dia telah rela berkurban buat anda demi keselamatan anda.

Dalam gereja Katolik, dengan doktrin trans-substansiasi mereka (bahwa dalam ritual ekaristi, hosti dan anggur berubah betulan menjadi daging dan darah Yesus), penghayatan umat Katolik bahwa Yesus Kristus hadir kembali lewat ekaristi, jauh lebih diperkuat dan dikongkretisasi, dibandingkan penghayatan umat Protestan atas ritual perjamuan kudus gereja mereka (yang memegang doktrin kon-substansiasi, bahwa bersama potongan roti dan anggur yang tak berubah, Yesus Kristus hadir juga di tengah umat).

Nah, saya mau bertanya pada anda, Apakah dalam ritual perjamuan kudus anda menyembah potongan roti dan anggur atau anda percaya bahwa roti dan anggur itu punya kekuatan magis pada dirinya sendiri? 

Tentu saja karena anda punya akal sehat, anda akan menjawab: Tentu saja tidak; roti dan anggur itu media simbolik untuk membuat anda bisa lebih menghayati perjumpaan diri anda (lewat iman) dengan Yesus Kristus, suatu figur yang anda pandang sudah mentransendir zaman kehidupannya sendiri (di abad pertama, di Palestina) sehingga bisa hadir secara spiritual dalam kehidupan anda (pada abad ke-21 di Indonesia)!

Apakah memang betulan Yesus hadir lagi secara rohani dalam kehidupan anda sekarang, itu soal yang lain, yang perlu dikaji lintasilmu. 

Yang pasti, karena anda dengan kuat mempercayai dia hadir lagi, kepercayaan anda ini berpengaruh pada kehidupan dan gerak langkah anda ke depan! Bisa berpengaruh negatif, atau juga berpengaruh positif, bergantung pada apa yang anda harapkan terjadi dari kehadirannya yang anda percayai betul terjadi.

Berpengaruh negatif, ketika kepercayaan anda yang kuat pada kuasa Yesus yang hadir dalam kehidupan anda, membuat anda, misalnya, kehilangan akal sehat dan pasrah total, tak mau berbuat apa-apa, saat sedang menghadapi persoalan-persoalan berat.

Begitulah juga halnya dengan penghayatan umat Buddhis ketika mereka sungkem, bersujud di hadapan patung indah Buddha Gautama atau patung-patung lain. Mereka dengan sadar tidak menyembah patung-patung mati pada dirinya sendiri; tetapi lewat sungkem dan sujud dan lewat tatapan mata ke patung sang Buddha dan lewat ucapan-ucapan dalam batin atau ucapan lisan yang terdengar umat Buddhis sedang menghayati secara intens perjumpaan mereka (lewat kepercayaan dan pikiran) dengan sang Buddha sendiri, figur agung, sang guru suci.

Patung Gautama Buddha yang mereka pandang berfungsi secara signifikan sebagai sebuah medium simbolik untuk berjumpa dengan sang guru agung ini.

Gautama Buddha kini dipercaya umat Buddhis sudah mentransendir zaman dan tempat kehidupannya sendiri di sub-benua India, tahun 563 SM-483 SM, sehingga bisa hadir (secara spiritual kognitif dalam hati dan pikiran) pada masa kini di abad 21 di Indonesia. 

Apakah memang betulan Siddhartha Gautama hadir lagi secara rohani dalam kehidupan umat Buddhis sekarang, itu soal yang lain. Yang pasti, karena mereka  dengan kuat mempercayai dia hadir lagi, kepercayaan mereka ini berpengaruh pada kehidupan dan gerak langkah mereka  ke depan! Bisa berpengaruh negatif, atau juga berpengaruh positif, bergantung pada apa yang mereka  harapkan terjadi dari kehadirannya yang mereka percayai betul terjadi.

Anda juga jangan lupa, dalam Buddhisme ada satu ide esensial yang dinamakan nekkhamma, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “non-attachment” atau “disengagement” atau “detachment” atau “letting-go”; dalam bahasa Indonesia kata nekkhamma diterjemahkan “ketidakmelekatan”, kondisi tidak lekat pada hal atau fenomena apapun dalam dunia ini. Ide ini dijadikan salah satu fondasi terpenting dalam seluruh doktrin dalam Buddhisme. 

Ada juga yang mengusulkan untuk menerjemahkan nekkhamma dengan “netralitas”: terhadap segala hal yang ada dalam dunia ini, anda memperlihatkan sikap sebagai seorang penonton yang tidak terlibat, sikap yang merdeka, tidak mendukung dan juga tidak menolak.

Kaum Buddhis menyadari bahwa hidup ini adalah penderitaan, suffering, pain, dukkha. Kesadaran ini sangat kuat muncul dalam diri Siddhartha Gautama dulu. 

Konon, menurut legenda, kesadaran ini muncul dan mengganggunya karena di luar istana kerajaan ayahnya, dia menemukan dan dibuat kaget oleh kenyataan bahwa orang itu bisa miskin, bisa sakit, bisa tua, lalu mati dengan memedihkan hati. Kesadaran dan penemuannya ini telah mendorongnya meninggalkan kehidupan mewah, mudah dan menyenangkan di dalam istana kerajaan. Lalu dalam usia sangat muda (29 tahun) dia memutuskan diri untuk memasuki kehidupan tapa brata penuh untuk mencari jawab dan jalan keluar dari duka yang mengikat semua kehidupan.

Akhirnya Gautama mendapatkan pencerahan budi di bawah naungan sebuah pohon boddhi, yang membuatnya menemukan akar-akar penyebab adanya duka lara dan jalan-jalan mengatasi duka. Penemuannya ini, yang dinamakan Jalan Tengah, kemudian disebarkannya bersama sahabat-sahabatnya, lalu dirangkul semakin banyak orang.

Salah satu jalan terpenting untuk keluar dan menang dari duka adalah nekkhamma. 

Dalam pemahaman kaum Buddhis, penderitaan kita alami dan rasakan karena kita melekat pada sesuatu, mula-mula lewat pikiran kita lalu kita wujudkan lewat tubuh kita. 

Nah, jika kita, dalam pikiran, tidak melekatkan diri pada hal atau fenomena apapun dalam dunia ini, segala hal yang terkait dengan diri kita tidak akan membuat kita menderita. 

Ketika anda sangat melekat pada uang anda atau harta anda, maka ketika ekonomi negara ambruk atau bisnis anda gagal total, dan anda karenanya kehilangan uang atau harta anda, ludes semuanya, maka anda akan sangat menderita, sangat berduka, yang bisa mendorong anda putus asa lalu membunuh diri. 

Ketika anda sangat melekat pada anak-anak anda sebagai biji-biji mata anda, maka ketika anak-anak anda berubah jadi tidak berbakti pada anda, maka anda menjadi sangat stres, marah, kecewa berat, kehilangan gairah kehidupan, lalu masuk rumah sakit, dan anda betul-betul terbenam dalam duka yang sedang menghancurkan kehidupan anda. 

Tapi jika pikiran anda tidak melekat kepada uang atau harta anda atau kepada anak-anak anda, maka jika semua hal yang buruk itu terjadi pada anda, anda tidak akan dikalahkan, anda tidak akan berduka, dan anda akan tetap bisa hidup dengan teguh, dan tetap bisa tersenyum dan tertawa. 

Untuk mencapai kemenangan ini tentunya anda harus berjuang untuk mengenali bagaimana pikiran anda sendiri berfungsi dan menata serta mengelolanya dari waktu ke waktu, suatu kemampuan yang  oleh psikolog Universitas Stanford John H. Flavell disebut “metakognisi”: pikiran yang melampaui dan, karena itu, mengontrol pikiran. Dengan ringkas dan padat, Flavell mendefinisikan metakognisi sebagai “pengetahuan dan kognisi mengenai kognisi.”/1/ 



Sebagai selingan ringan, lihatlah gambar di atas, gambar Budai atau Buddha Periang, atau Buddha Gendut. Menurut legenda, Budai hidup seadanya, dan berbahagia dengan kehidupannya meski harta satu-satunya adalah bekal perjalanan yang dimuatnya dalam sebuah karung goni kecil yang ringan ditenteng. Budai sudah mencapai kehidupan tanpa melekat pada hal apapun.

Umat Buddhis percaya jika perut Budai anda sering elus-elus, maka kehidupan anda akan juga ketularan riang. Ya bagaimana bisa tidak riang? Saat perut buncit Budai kita elus-elus, kita melakukannya sudah dengan tertawa-tawa riang. Rasa riang membuat kehidupan beragama anda jadi menenteramkan. Rasa marah, sebaliknya, menenggelamkan agama anda.

Nah, balik ke fokus kita. Ide tentang nekkhamma dalam Buddhisme juga diperkuat oleh ide bahwa segala sesuatu yang ada dalam jagat raya ini, semua fenomena yang muncul dan lenyap dalam dunia ini, adalah ilusi semata-mata, tak real. Banyak orang mengkritik ide Buddhis ini, dan mereka menganggap bahwa ajaran tentang segala sesuatunya adalah ilusi telah menjadi penyebab kaum Buddhis menarik diri dari dunia dan tidak mau peduli pada usaha-usaha memperbaiki dunia ini. 

Kritik dan tuduhan ini sebetulnya salah sama sekali. Ide Buddhis bahwa segala sesuatunya adalah ilusi tak bisa dilepaskan dari ide tentang nekkhamma (dan ide-ide lain yang tak dibicarakan dalam tulisan ini), yang bertujuan untuk memenangkan orang dari deraan duka. 

Jika anda memandang segalanya adalah ilusi, termasuk diri anda sendiri, termasuk penderitaan anda sendiri, maka problem adanya duka yang sedang menimpa anda, juga lenyap, tak real. Karena duka itu tak real, maka anda tidak usah melekat pada apapun yang menjadi sumber dan penyebab penderitaan anda. 

Dengan begitu, sebagai individu anda telah memenangkan perang melawan duka yang mendera, dan anda tetap menjadi seorang yang tangguh. 

Sang Buddha pernah berkata begini: “Seorang yang bijaksana, karena mengenali dunia ini hanyalah sebuah ilusi, tidak bertindak seolah dunia ini real; dengan begitu dia luput dari duka” (Ajaran-ajaran Sang Buddha, Bukkyo Dendo Kyokai). 

Ketika secara kognitif, dalam pikiran, anda telah mengalami pembebasan dari duka, maka selanjutnya anda dapat dengan tenang memperbaiki segala sesuatu yang bisa diperbaiki dalam dunia ini, dan, sementara berkarya, anda tetap bisa mempertahankan nekkhamma dalam segala usaha anda. 

Jadi, menurut filsafat sosial dan psikologi Buddhis, sebelum anda bisa membarui dunia ini, anda harus dan mutlak membarui pikiran anda lebih dulu, karena lewat pikiran anda, anda membangun diri anda dan dunia ini, membangun duka lara atau membangun sukacita.

Nah, ide tentang nekkhamma tentu saja juga membuat umat Buddhis tidak melekatkan diri kepada diri sang guru agung mereka, Siddhartha Gautama, apalagi kepada patung indah dirinya. 

Tentu setiap orang yang menganut Buddhisme ingin selalu dekat dengan sang junjungan mereka, Gautama Buddha, tetapi kedekatan tidak sama dengan kemelekatan.

Ada sekian ucapan yang diasalkan pada sang Buddha Gautama yang berisi permintaannya sendiri supaya para pengikutnya tidak melekatkan diri mereka kepada dirinya sebagai sang guru dan kepada otoritas dirinya. 

Yang paling luar biasa adalah ucapannya berikut ini, yang menempatkan otoritas akal budi, kebaikan dan manfaat lebih tinggi dibandingkan otoritas sosok Siddhartha Gautama sendiri sebagai sang guru agung: 

“Jangan percaya hal apapun hanya karena kamu telah mendengarnya.

Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu telah dibicarakan dan digunjingkan oleh banyak orang.

Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu tertulis dalam kitab-kitab keagamaanmu.

Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu dikatakan berdasarkan otoritas guru-guru dan sesepuh-sesepuhmu.

Jangan percaya tradisi apapun hanya karena tradisi itu telah diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. 

Tetapi setelah kamu observasi dan analisis, maka ketika kamu mendapati hal apapun sejalan dengan akal budimu dan menolongmu untuk mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi satu dan semua orang, maka terimalah itu dan jalankanlah.” (Kalama Sutta AN 3.65)

Juga ini, 

“Tak ada seorangpun yang menyelamatkan kita, kecuali diri kita sendiri. Tak seorangpun dapat, tak seorangpun bisa. Kita sendiri harus menjalani jalannya. Tapi para buddha hanya menunjukkan jalannya dengan jelas.” (Dhammapada)

Dan juga ini, 

“Engkaulah yang harus berusaha. Para guru hanyalah menunjukkan jalannya.” (Dhammapada)

Dan lagi, 

“Kerjakanlah keselamatanmu sendiri. Jangan bergantung pada orang lain.” (Dhammapada)

Umat Buddhis harus menolong diri mereka sendiri untuk mengatasi duka, dengan salah satu caranya adalah hidup ber-nekkhamma dan berlatih meditasi untuk mengenali dan memurnikan pikiran, tak dibuat kotor dan kacau oleh semua fenomena yang hanya ilusi saja. 

Pendekatan ini sangat berbeda dari pendekatan anda sebagai seorang Kristen ketika anda berusaha menghadapi penderitaan. Ketika menderita, anda sebagai orang Kristen diajarkan untuk melekatkan diri anda sekuat-kuatnya pada kitab suci anda dan pada diri Yesus Kristus yang anda percaya telah menanggung hukuman bagi dosa-dosa anda lewat kematiannya di kayu salib, dan untuk semakin kuat beriman. 

Saat itu semua yang menjadi fokus anda, anda sama sekali tak berpaling ke pikiran anda sendiri untuk menatanya kembali padahal bagaimana keadaan diri anda dari saat ke saat dibentuk sangat kuat oleh isi pikiran anda sendiri. Menurut saya, metakognisi perlu anda bawa masuk ke dalam rumah agama anda sebagai sebuah sumbangan sangat penting dari Buddhisme.

Mungkin anda yang beragama Kristen masih akan ngotot menyatakan bahwa betul, umat Buddhis menyembah patung, buktinya mereka sungkem dan bersujud di hadapan patung Gautama! 

Jika posisi sungkem ini yang anda persoalkan, maka saya juga mau bertanya pada anda: jika roti dan anggur dalam ritual perjamuan kudus gereja anda hanya benda-benda simbolik yang tak punya kekuatan magis apapun, dan sama sekali tak mengenyangkan perut ketika dimakan dan sama sekali tak menghilangkan dahaga ketika diminum, mengapa anda masih mau memakan dan meminumnya? 

Tentu anda akan menjawab: Ya, saya makan roti perjamuan dan minum anggur perjamuan, hanya sebagai akta-akta simbolik saja yang mau menyatakan bahwa saya ada dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. 

Jika itu jawaban anda, demikian jugalah halnya dengan umat Buddhis: ketika mereka ber-namaskara di depan wujud-wujud simbolik Buddha-Dhamma-Sangha, mereka sedang melakukan suatu akta ritual simbolik. 

Akta ritual ini berisi pesan bahwa mereka sangat menyanjung dan memuliakan Triratna, yakni Buddha (orang yang mengetahui, yang sudah tercerahkan dengan sempurna, yang arif tak bercela), Dhamma (ajaran-ajaran sang Buddha) dan Sangha (komunitas para biarawan dan biarawati Buddhis, atau keseluruhan umat Buddhis). Bahwa mereka ingin mendengarkan sabda-sabda agung sang Buddha, dan mau menaati semuanya dengan ikhlas dan dengan penuh syukur dan keyakinan. 

Alih-alih mengharapkan hal-hal gaib dan magis terjadi pada diri mereka lewat akta ritual namaskara, umat Buddhis lewat akta ritual simbolik ini sebetulnya sedang melatih diri mereka untuk menjadi orang yang mau menghormati orang lain, orang yang rendah hati, lemah lembut, bajik, mau menghargai orang lain, mau mendengar orang lain. Jadi, kekuatan egoisme mereka lewat namaskara yang tekun dilakukan akan makin berkurang dari waktu ke waktu. Tepat jika dikatakan bahwa namaskara sebetulnya juga suatu bentuk meditasi gerak dan olah mental. 

Terintegrasi dalam ritual simbolik namaskara, umat Buddhis juga biasa dengan khidmat melantunkan berulangkali tiga komitmen (atau boleh juga disebut syahadat) mereka kepada Triratna Buddha, Dhamma dan Sangha, berikut ini (dalam bahasa Pali):

Buddham saranam gacchami (Aku berlindung kepada sang Buddha)
Dhammam saranam gacchami (Aku berlindung kepada Dhamma)
Sangham saranam gacchami (Aku berlindung kepada Sangha) 

Pada kesempatan ini, saya mau mengulas singkat hanya komitmen yang pertama: Aku berlindung kepada sang Buddha.

Dalam kepercayaan Buddhis, sang Buddha adalah guru agung yang sudah mencapai penerangan budi yang sempurna, sudah mengalami pencerahan sempurna, guru agung yang memiliki kearifan sempurna. 

Kalau anda diminta untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan “penerangan budi yang sempurna” atau “pencerahan sempurna” atau “kearifan sempurna”, anda tentu akan menemui kesulitan besar karena ketiga kondisi mental ini sangat abstrak dan luas, sehingga sukar ditangkap atau dibayangkan apalagi dijelaskan dan didefinisikan dengan kata-kata. 

Tetapi sangat lain halnya jika kearifan yang sempurna atau penerangan budi yang sempurna atau pencerahan yang sempurna itu dipersonifikasi dalam diri seorang manusia historis dan jalan-jalan kehidupannya, yakni Gautama Buddha. Apalagi jika sang manusia historis Gautama Buddha dibuat hadir di hadapan anda sekarang lewat visualisasi dan kongkretisasi dirinya dalam bentuk sebuah patung Gautama Buddha sebagai sebuah medium simbolik untuk membantu anda makin dekat dan akhirnya menyatu dengan kearifan sempurna.

Jadi, ketika umat Buddhis ber-namaskara di hadapan patung sang Buddha, mereka sebetulnya secara simbolik sedang menyerahkan kehidupan mereka kepada kearifan dan budi yang sempurna. Alhasil, merekapun dapat hidup arif dan berbudi, dan selalui dijaga dan dilindungi oleh kearifan dalam kehidupan mereka. 

Apakah ada kebajikan kehidupan lain yang lebih didambakan selain seseorang dapat hidup arif sempurna? 

Jadi, sama sekali tak ada penyembahan patung dalam ritual namaskara yang dilakukan umat Buddhis. Mereka beribadah dengan cerdas.

Sebaiknya anda tahu lebih jauh bahwa agama apapun yang ada dalam dunia ini, termasuk agama-agama yang sangat keras menolak patung-patung (Yudaisme dan Islam, sebagai contoh), senantiasa memerlukan berbagai simbol fisik yang digunakan untuk meyakinkan para penganutnya bahwa sang Hakikat Adikodrati yang mereka percayai dan sembah selalu ada bersama mereka.

Ungkapan dalam bahasa Ibrani “Immanuel”, yang artinya “Allah bersama kita”, dihayati semua penganut agama, khususnya agama-agama teistik. 

Dalam kepercayaan umat Muslim, Allah yang mahakuasa, yang transenden, selalu menyertai mereka dalam wujud Kalam Allah yang ada bersama mereka, yaitu kitab suci Al-Qur’an. Kaligrafi nama Allah dalam aksara Arab juga menyimbolkan Allah YME yang selalu menyertai setiap Muslim. Jangan lupa, bangunan di Tanah Arab yang dinamakan Kabah juga dipandang sangat suci oleh umat Muslim. 

Seorang sahabat memberitahu saya, bahkan para Muslim pun mencium-ciumi unsur-unsur tertentu yang menjadi bagian dari bangunan Kabah. 

Hemat saya, tidak ada yang salah dengan sikap dan perilaku keagamaan mereka ini. Bisa jadi, lewat itu semua, mereka dibantu untuk dapat menghayati lebih dalam kehadiran Sang Suci buat mereka masing-masing.

Dalam kekristenan, yang menjadi Immanuel adalah Yesus Kristus, sang Kalam Allah yang menjadi manusia, yang kematian dan pengurbanannya dirayakan dan dihayati secara berkala (dalam gereja Protestan) atau sangat sering (dalam gereja Katolik) lewat sakramen perjamuan kudus atau sakramen ekaristi. 

Kalau dalam Islam, Kalam Allah menjadi sebuah buku suci, dalam kekristenan Kalam Allah menjadi seorang manusia suci. 

Kalau anda Kristen sangat saleh, saya boleh perkirakan pada dinding kamar tidur anda atau kamar belajar anda, anda telah pasang gambar wajah Yesus Kristus, pria Timur Tengah yang diubah menjadi pria Barat dengan rambut pirang dan bermata biru. Tidak ada yang salah jika anda memasang gambar ini. 

Di gereja Katolik, selain ada patung Yesus yang tersalib, juga ada patung Bunda Maria dan berbagai patung sosok-sosok lain yang disucikan. Tidak ada yang salah dengan patung-patung ini dalam gereja Katolik. Patung Bunda Maria, hemat saya, malah memberi dimensi feminin yang unik dalam penghayatan keagamaan umat Katolik atas tindakan Allah yang dipercaya mereka mendatangkan keselamatan kepada mereka.

Dalam Yudaisme, ada beberapa benda simbolik yang menunjuk pada Tuhan Allah bangsa Israel yang selalu hadir dalam kehidupan umat:

Tefillin adalah benda simbolik kehadiran diri Allah dan kuasa-Nya, yang dipasang melingkari lengan, tangan, dan jari-jemari orang Yahudi, atau melingkari kening, pada waktu mereka berdoa (Ulangan 11:18 dipakai sebagai landasannya);

Yarmulke atau kopiah putih yang dipakai setiap pria Yahudi juga menyimbolkan kehadiran Allah; 

kotak kecil yang diberi nama Mezuzah, yang di dalamnya terdapat secarik kertas gulungan yang bertuliskan syahadat Yahudi Shema, juga bermakna simbolik Allah yang selalu hadir, dan dipasang pada kedua tiang pintu setiap rumah orang Yahudi./2/ 

Bahkan Tanah Israel sendiri dipandang kalangan Yahudi ortodoks sebagai tanah sangat suci dan tidak boleh dinodai oleh siapapun atau oleh apapun, dan dipercaya oleh mereka bahwa tanah mereka adalah pusat alam semesta, axis mundi.   

Saya senang anda telah meragukan kecerdasan saya sebagaimana telah anda ungkap dalam komentar anda yang sudah saya kutip di awal tulisan ini. 

Orang yang cerdas, ketika kecerdasannya diragukan, justru akan berpikir dan merenung lebih dalam dan lebih luas lagi, sama sekali tak marah. Ini adalah suatu kemampuan kognitif yang dinamakan introspeksi, kemampuan memeriksa diri sendiri sedalam-dalamnya di hadapan penilaian negatif orang lain. 

Uraian di atas, dari awal hingga akhir, adalah hasil dari introspeksi yang saya telah lakukan. Lewat introspeksi ini, yang saya temukan adalah justru saya jadi semakin cerdas dan semakin empatetis memahami Buddhisme, sebuah agama yang jauh lebih tua dari kekristenan yang anda anut. 

Saya berharap, setelah selesai membaca keseluruhan tulisan saya ini, andapun akan dapat lebih cerdas dan lebih empatetis dalam memahami agama-agama lain yang anda tidak kenal dan tidak pahami. 

Selain itu, kerendahan hati adalah juga sebuah kebajikan yang musti dinampakkan oleh setiap orang yang beragama, yang tak boleh dipisahkan dari kecerdasan dan empati. 

Jika tiga kebajikan ini (kecerdasan, empati, kerendahan hati) ada dalam diri setiap orang beragama, kehidupan beragama tentunya akan menjadi suatu kehidupan yang patut dijalani setiap manusia.

Filsuf Sokrates (469 SM-399 SM) dikenal lewat sebuah pernyataannya, yang bertahan hingga kini lewat muridnya yang paling inspiratif, Plato, bahwa “suatu kehidupan yang tidak diselidiki dengan cermat, adalah kehidupan yang tidak layak dijalani oleh seorang manusia.” 

Jadi, selidikilah juga kehidupan anda sendiri, sebelum anda menilai kehidupan orang lain, supaya kehidupan anda layak dijalani oleh anda sendiri.  

Akhir kata, mulai sekarang ingat dan sadarlah bahwa semua agama, baik yang memakai patung atau yang anti-patung dalam kehidupan beragama mereka, memerlukan berbagai representasi simbolik atas hal-hal yang mereka pandang dan percayai sebagai hal-hal yang agung, suci bahkan ilahi. 

Representasi-representasi simbolik tidak hanya satu bentuk, patung-patung misalnya, tetapi juga berupa wujud-wujud simbolik lain, misalnya benda-benda yang dipakai pada tubuh dan anggota-anggotanya, makanan-makanan dan minuman-minuman, kitab-kitab, lukisan-lukisan indah, perhiasan-perhiasan, bangunan-bangunan, gedung-gedung, dan berbagai benda lain yang termasuk ke dalam benda-benda suci yang dikeramatkan atau relik-relik. 

Pendek kata, tidak ada agama apapun yang bebas dari berbagai wujud atau representasi simbolik. 

Lagipula, adalah suatu kebodohan atau suatu kerugian jika kemampuan manusia membentuk representasi-representasi atau wujud-wujud simbolik tidak dipakai dalam kehidupan beragama untuk membuatnya lebih meriah dan perjumpaan dengan Sang Suci dirasakan lebih real. 

Setelah mempertimbangkan semua hal di atas, saya akhirnya ingin memberi tiga nasihat kepada orang-orang beragama yang suka merobohkan patung-patung umat-umat agama-agama lain. 

Pertama, lihatlah ke dalam agama anda sendiri, dan temukan bahwa dalam agama anda sendiri terdapat berbagai wujud representasi simbolik yang menunjuk ke dunia ilahi atau ke hal-hal yang dipandang suci dan agung. Tidak ada agama yang bebas dari representasi-representasi simbolik. 

Kedua, jangan lagi merobohkan patung-patung yang sudah dibangun dengan susah-payah oleh umat-umat beragama lain. Hargailah dunia keagamaan mereka sama seperti anda juga ingin dunia keagamaan anda dihargai. 

Ketiga, amatilah dan temukanlah bahwa sudah dan sedang terjadi kesalahan total dan dosa syirik karena sudah banyak sekali orang beragama yang memperlakukan agama mereka sebagai Tuhan, padahal agama hanyalah representasi simbolik yang dibangun untuk membawa manusia ke Tuhan yang ditunjuk agama. 

Realitas yang ditunjuk simbol-simbol tidak sama dengan simbol-simbolnya, tidak bisa habis dilahap simbol-simbolnya. 

Jadi, kapanpun juga, agama tidak pernah menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak pernah habis diserap ke dalam agama apapun. Menurut keyakinan Muslim, Tuhan itu “laisa kamislihi syaiun”, artinya “bukan ini, bukan itu, tidak ada yang menyerupainya.”  


Jakarta, 21 Juli 2012   
ioanes rakhmat

Editing mutakhir 10 Maret 2020

---------------------

/1/ Kognisi sendiri adalah proses perkembangan pengetahuan dan pengertian di dalam pikiran, atau proses dalam pikiran kita yang membuat kita kian mengetahui dan memahami lebih banyak hal. Tentang metakognisi, lihat John H. Flavell, “Monitoring social cognitive enterprises: something else that may develop in the area of social cognition”, dalam John H. Flavell dan Lee Ross, eds., Social Cognitive Development: Frontiers and Possible Future (Cambridge, U.K.: Cambridge University Press,1981), hlm. 272 [272-287].

Lihat juga John H. Flavell, “Metacognition” dalam E. Langer (chair), Current Perspectives on Awareness and Cognitive Processes. Symposium presented at the meeting of the American Psychological Association (Toronto, 1978); idem, “Metacognition and cognitive monitoring: A new area of psychological inquiry” dalam American Psychologist, 1979, 34, hlm. 906-911.

/2/ Tentang benda-benda yang disucikan dalam ritual Yudaisme dan kehidupan setiap orang Yahudi,  lihat “Judaism symbols and their meanings” http://www.buzzle.com/articles/judaism-symbols-and-meanings.html.