Tuesday, April 21, 2015

Galaksi tetangga kita Andromeda berisi peradaban cerdas?


Are we alone in the universe? Absolutely NOT! But, where are they if they exist? Until now, the universe keeps silent! This condition is called Silentium Universi or The Universe Keeps Silent or The Great Silence.


Gulungan-gulungan melingkar warna jingga pada gambar di atas ini, yang mengisi lengan-lengan spiral galaksi Andromeda, pada satu segi bisa ditafsirkan sebagai gundukan-gundukan debu antariksa yang menerima panas dari bintang-bintang.

Citra gulungan-gulungan ini yang diberi warna jingga dihasilkan oleh teleskop angkasa NASA yang diberi nama WISE dengan menggunakan cahaya mid-infrared. WISE adalah nama yang berasal dari singkatan Wide-field Infrared Survey Explorer. 

Tetapi, dari segi lain, citra-citra semacam ini juga dapat potensial menyingkapkan limbah energi panas yang terbuang ke angkasa luar dari peradaban-peradaban maju yang mengisi galaksi ini.

Perburuan terhadap alien-alien cerdas di angkasa luar yang jauh makin intensif dan ekstensif dilakukan para saintis. 

Kita semakin maju dalam sains yang dinamakan astrobiologi. Kita, manusia, memang sedang mencari teman-teman dan saudara-saudara yang punya kecerdasan yang mendiami planet-planet dalam galaksi-galaksi yang dekat, termasuk dalam galaksi kita sendiri Bima Sakti, sampai galaksi-galaksi yang lebih jauh, galaksi tetangga kita Andromeda misalnya.
  
Mungkin sekali, isi pikiran kita tentang alien-alien cerdas dan sifat peradaban mereka selama ini keliru, sehingga kita memang harus berpikir secara baru tentang mereka dan peradaban mereka!

Lee Billings baru saja menulis sebuah telaah yang bagus dan inspiratif tentang ihwal kenapa hingga saat ini kita belum menemukan tanda-tanda keberadaan alien-alien cerdas dan peradaban-peradaban mereka, dan dia mengajak kita untuk berpikir lain sama sekali tentang mereka, dan meninggalkan pikiran kita yang biasa tentang mereka. 

Artikel Billings berjudul “Alien Supercivilizations Absent from 100,000 Nearby Galaxies”, terbit online di Scientific American edisi 17 April 2015./1/  Artikel Billings ini memanfaatkan suatu kajian ilmiah atas 100.000 galaksi terdekat yang dilakukan oleh Roger L. Griffith, Jason T. Wright , Jessica Maldonado, et all., yang terbit di The Astrophysical Journal Supplement Series, 15 April 2015./2/ 

Sejak astronom kebangsaan Rusia, Nikolai Kardashev, di tahun 1963 mengajukan teorinya tentang tiga tipe peradaban cerdas, kita umumnya berpikir bahwa alien-alien cerdas telah mencapai peradaban tipe 3 yang memiliki kemampuan teknologis menguasai dan menyerap seluruh energi yang tersedia dalam galaksi-galaksi mereka. 

Peradaban tipe 3 ini dicirikan keharusan sebuah peradaban bersikap rakus terhadap alam, menguasai dan menundukkan alam, demi ketahanan kehidupan mereka dan peradaban mereka sendiri. Ketika energi dari seluruh planet mereka sudah dimanfaatkan (peradaban tipe 1) lalu habis, mereka selanjutnya menguras seluruh energi dari bintang matahari mereka (peradaban tipe 2). Ketika energi matahari mereka sudah terkuras habis, mereka selanjutnya menjadikan seluruh bintang dalam galaksi mereka sebagai sumber energi, alhasil jadilah mereka suatu peradaban galaktik (peradaban tipe 3).

Tetapi, Billings mengajak kita berpikir lain, bahwa mungkin sekali alien-alien cerdas yang sudah memiliki peradaban-peradaban maju tidak berpikir dan bertindak demikian, melainkan mereka mengembangkan peradaban mereka sebagai peradaban yang menyatu dan harmonis dengan alam, justru demi ketahanan kehidupan mereka sebagai organisme dan sebagai peradaban. Itulah sebabnya hingga kini proyek pencarian alien-alien cerdas yang diberi nama SETI (the Search for Extraterrestrial Intelligence), yang dijalankan dalam bingkai pemikiran Kardashev, belum membuahkan hasil apapun. 

Selain itu, penting untuk dicatat, bahwa kini sejauh sudah dikaji dengan luas, ternyata dari 100.000 galaksi yang dekat, yang dipantau lewat WISE, yang baru saja sudah dikaji kembali dengan mendalam oleh Roger L. Griffith, Jason T. Wright, dkk, tidak satupun menampakkan indikasi-indikasi memuat peradaban alien cerdas apapun.

Dus, karena alien-alien cerdas itu hidup dan membangun peradaban maju mereka dengan tidak bisa dibedakan dari alam, maka hingga kini kita belum menemukan satupun bukti bahwa mereka ada, berhubung kita berpikir bahwa kita harus menemukan mereka sebagai organisme cerdas yang hidup sudah jauh di atas alam dan sudah menguasai dan mengeksploitasi alam dengan rakus lewat teknologi mereka. 

Mungkin sekali mereka, sebaliknya, memegang sebuah filosofi bijak bahwa untuk bertahan hidup, setiap organisme harus hidup dan berkarya sejalan dengan alam. Jika kondisi ini benar, maka kita yang kini mendiami Bumi musti melakukan definisi ulang apa itu teknologi, sebelum alam berbalik memusnahkan spesies kita di masa depan! 

Ancaman serius dari perubahan iklim global yang sedang berlangsung sekarang ini di planet kita, yang akan dapat melemahkan Homo sapiens dan merongrong peradaban spesies ini, bukan datang dari alam sendiri pada dirinya sendiri, tetapi dari meningkatnya kandungan CO2 di atmosfir Bumi yang berasal dari berbagai bentuk kegiatan dan benda-benda teknologis spesies ini yang menggunakan bahan bakar fosil!!  

Jakarta, 21 April 2015
Ioanes rakhmat

○ Dibaca kembali 17 Juni 2023

Notes 

/1/ Ini link ke artikel Lee Billings, http://www.scientificamerican.com/…/alien-supercivilizatio…/.

/2/ Roger L. Griffith, Jason T. Wright , Jessica Maldonado, et all., “The Ĝ Infrared Search for Extraterrestrial Civilizations with Large Energy Supplies. III. The Reddest Extended Sources in WISE”, The Astrophysical Journal Supplement Series, 15 April 2015, doi:10.1088/0067-0049/217/2/25, pada http://iopscience.iop.org/0067-0049/217/2/25/article.

 

Sunday, April 19, 2015

Sampai 2050, Islam akan menjadi agama dunia yang tumbuh paling cepat!


Profil agama-agama dunia kini sedang berubah dengan cepat, dipicu terutama oleh perbedaan-perbedaan angka kesuburan dan jumlah populasi kaum muda di antara agama-agama besar dunia, dan juga oleh orang yang pindah agama. Selama empat dekade ke depan, orang Kristen akan tetap menjadi kelompok keagamaan terbesar, tetapi Islam akan tumbuh lebih cepat ketimbang agama besar lainnya manapun. Jika tren masa kini tetap berlanjut, maka di tahun 2050

Thursday, April 9, 2015

Hati-hati, Facebook dapat membuat anda depresif!




Menurut sebuah penelitian baru-baru ini yang dilakukan tiga peneliti dari Universitas Houston dan Universitas Palo Alto, Facebook dapat menimbulkan simtom depresif pada diri anda sebagai para penggunanya, lewat dua cara.

Wednesday, April 8, 2015

Konklusif: Makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus!

Updated 3 Mei 2015

Di tahun 2007, terbit dalam dua bulan berturut-turut (5 April 2007, dan 31 Mei 2007) dua serial tulisan saya di ruang satu halaman penuh Bentara koran Kompas tentang kontroversi temuan makam keluarga Yesus di Talpiot, Yerusalem Timur. Dua tulisan saya ini ternyata waktu itu menimbulkan kontroversi tajam dan panjang di kalangan gereja-gereja di Indonesia, khususnya dalam lingkungan kekristenan evangelikal. 

Bagaimana tidak kontroversial, lantaran oleh gereja-gereja sedunia Yesus dengan tubuhnya lengkap dipercaya telah diangkat ke sorga, dus jasadnya, tulang-belulangnya, tidak akan ada di dunia ini! Dogma keagamaan apapun, memang begitu, selalu mengeras, dan selalu bersikap negatif terhadap temuan-temuan ilmiah yang merongrongnya. Padahal, seharusnya, dogma itu dinamis dan terus berubah, karena sebuah dogma pada dasarnya adalah sebuah formulasi kepercayaan keagamaan sebagai tanggapan terhadap suatu situasi dan kondisi kehidupan yang terus berubah.

Saturday, April 4, 2015

Viktor E. Frankl: Temukan makna dalam azab anda!

Kalau anda ditanya, hal apa yang menjadi pendorong utama anda mau hidup, apa jawab anda? 

Kalau anda termasuk generasi milenial, yang lahir mulai 1980-an ketika media sosial mulai merasuki kehidupan kaum muda, mungkin anda akan menyatakan bahwa tujuan anda hidup ya aktif penuh 24 jam sehari dalam dunia media sosial.  

Baiklah kalau itu tujuan hidup anda sebagai generasi milenial. Tapi, apakah anda berbahagia dan menemukan makna lewat kesibukan anda di dunia media sosial?

Mari kita tengok beberapa sosok besar yang telah merenungi dan menjawab pertanyaan di atas.

Kata Sigmund Freud (1856-1939), bapak psikoanalisis, mendapatkan kesenangan, itulah faktor utama yang memacu kemauan kita untuk hidup. Dalai Lama ke-14 menyatakan hal yang serupa: tujuan utama kehidupan kita adalah mendapatkan kebahagiaan.

Bapak mazhab psikologi individual Alfred W. Adler (1870-1937) memandang menjadi individu yang holistik, tidak terpecah, untuk mendapatkan kekuasaan yang berguna untuk mengubah sesuatu agar lebih baik, adalah pendorong utama seseorang mau hidup. 

Menurut Abraham Maslow, tujuan utama kita hidup adalah menjadi orang yang berhasil mengatualisasi diri sebagai insan-insan yang bermartabat, menjadi insan-insan transenden, insan-insan kawasan adinilai, yang memberi kehidupan untuk semua orang dan dimiliki semua orang.




Anda tahu Viktor E. Frankl, Ph.D. (26 Maret 1905 – 2 September 1997), seorang neurologis dan psikoterapis keturunan Yahudi kebangsaan Austria? Dia adalah salah seorang yang selamat dari penderitaan berat Holokaus. Oleh Nazi, dia dijadikan seorang pekerja paksa di empat kamp konsentrasi Nazi (Auschwitz, Dachau, Kaufering, dan Tuerkheim) kurun 1942-1945. Kedua orangtuanya, saudara lelakinya, dan istrinya yang sedang hamil, semuanya mati, dibunuh dan mati alamiah karena sakit, selama masa-masa sulit mereka.

Kalau Elie Wiesel (lahir 30 September 1928) yang juga berhasil bertahan hidup selama Holokaus terkenal di dunia lewat novel-novel serialnya yang mengisahkan pengalaman-pengalamannya selama Holokaus, Frankl termasyhur lewat apa yang dinamakannya logotherapy.

Logoterapi adalah pendekatan yang dipakai Frankl dalam terapi kejiwaan. Kata “logos” diberinya arti “makna”. Logoterapi adalah suatu terapi kejiwaan yang membimbing orang untuk menemukan dan menyadari bahwa faktor utama yang mendorong kita mau hidup bukanlah pengejaran kesenangan atau kebahagiaan atau kekuasaan, tetapi penemuan dan pengejaran atas sesuatu yang kita pribadi pandang sebagai makna, meaning.

Mengejar dan menemukan makna, itulah yang memacu kita untuk hidup terus meskipun harus mengalami banyak azab.

Logoterapi adalah mazhab psikologi ketiga Wina setelah mazhab psikoanalisis Sigmund Freud dan mazhab psikologi individual Adler. Kalau Frankl menekankan kehendak untuk mendapatkan makna (“the will to meaning” Kierkegaard), maka Freud menekankan “the will to pleasure”, dan Adler mementingkan “the will to power” Nietzsche.

Logoterapi Frankl dibangun berdasarkan tiga prinsip tentang makna:
• Kehidupan memiliki makna dalam segala kondisi apapun, bahkan dalam kondisi-kondisi yang paling menyengsarakan;
• Motivasi utama kita hidup adalah kehendak kita untuk menemukan makna dalam kehidupan kita;
• Kita memiliki kebebasan untuk menemukan makna dalam apa yang sedang kita kerjakan dan dalam apa yang kita sedang alami, atau setidaknya dalam sikap yang kita ambil saat diperhadapkan pada situasi-situasi penderitaan yang kita tidak dapat ubah.

Frankl sungguh tahu apa artinya hidup didera azab dan kesengaraan, karena dia sungguh-sungguh mengalaminya dan melihatnya selama Holokaus.

Frankl berpendapat: kita tidak dapat menghindari penderitaan, tetapi kita dapat memilih cara bagaimana kita menghadapinya, lalu menemukan makna di dalam azab kita. Selanjutnya kita maju terus ke depan dengan tujuan-tujuan hidup yang senantiasa dibarui dan diperkuat. Baginya, kelimpahan, hedonisme dan materialisme dapat mengancam orang untuk gagal menemukan makna dalam kehidupan mereka.

Frankl telah menulis 39 buku. Salah satu buku karyanya yang terkenal berjudul Man’s Search for Meaning. Dalam buku ini, dia meriwayatkan semua pengalaman beratnya selama berada di kamp-kamp konsentrasi Nazi dari perspektif objektif seorang psikoterapis. Pada halaman 88 buku ini, dia menulis sesuatu tentang penderitaan dan makna kehidupan, demikian:

“Jika memang ada suatu makna dalam kehidupan ini, maka mustilah ada sebuah makna di dalam penderitaan. Penderitaan adalah suatu bagian dari kehidupan yang tidak dapat ditiadakan, sama halnya dengan nasib dan kematian. Tanpa penderitaan dan kematian, kehidupan manusia tidak dapat lengkap.

Cara seseorang menerima nasib dan semua bentuk azab yang ditimbulkannya, dan caranya memikul salibnya, memberinya kesempatan-kesempatan luas ―sekalipun di dalam situasi dan kondisi yang paling sulit―untuk menambah makna yang lebih dalam bagi kehidupannya. Kehidupannya akan senantiasa dijalaninya dengan berani, bermartabat dan tidak serakah.”/1/

Menurut Frankl, ada tiga jalan untuk kita dapat menemukan makna dalam kehidupan kita. Pertama, dengan menciptakan suatu pekerjaan atau melakukan suatu kegiatan; kedua, dengan mengalami sesuatu atau menemui seseorang; ketiga, dengan sikap yang kita ambil dengan bebas terhadap penderitaan yang tidak dapat kita hindari.

Menurut Frankl, segala sesuatu dapat diambil dari seseorang, kecuali satu hal terakhir, yakni kebebasan setiap orang untuk menentukan sikapnya sendiri dalam situasi dan kondisi yang melibatkan dirinya. Dia memberi gambaran tentang mendapatkan makna lewat jalan yang ketiga ini dari pengalamannya sendiri menolong orang lain. Berikut ini kisah nyata Frankl yang sangat inspiratif.

Suatu ketika, seorang dokter umum yang sudah tua datang ke saya untuk berkonsultasi mengenai depresinya yang berat. Dia tidak dapat mengalahkan rasa kehilangan atas istrinya yang telah wafat dua tahun sebelumnya. Istrinya ini sangat dicintainya, melebihi segala hal lainnya. Saya berpikir-pikir, bagaimana saya akan dapat menolongnya? Apa yang harus saya katakan kepadanya?

Saya menahan diri untuk tidak memberinya instruksi apapun, tetapi memperhadapkannya dengan sebuah pertanyaan, “Apa yang mungkin akan terjadi, Dokter, seandainya anda wafat lebih dulu, dan istrimu harus tetap bertahan hidup tanpamu lagi?” “Oh”, katanya, “baginya keadaan itu akan sangat berat; betapa dia akan sangat menderita!”

Segera saya menimpali, “Anda lihat, Dokter, dia telah terhindar dari penderitaan berat semacam itu, dan andalah yang telah meluputkannya dari penderitaan ini; tetapi kini, anda harus membayarnya dengan anda tetap hidup dan meratapinya terus.” 

Mendengar itu, sang dokter ini tidak berkata satu katapun tetapi menjabat tangan saya dan dengan tenang meninggalkan kantor saya./2/

Dalam zaman sekarang yang dicirikan modernitas dan kehidupan yang serba mentereng dan bermewah-mewah, orang umumnya takut mengalami azab dan penderitaan.

Bahkan para pemuka keagamaanpun lebih memilih hidup mentereng dan mewah, dan mengajarkan umat mereka untuk juga meraih hanya kesuksesan dan kehidupan mewah. Penderitaan dibenci, ditakuti dan mau dihindari selamanya. 

Tentu saja bagi Frankl, jika dapat dihindari, penderitaan apapun harus dihindari, bukan dicari-cari atau malah dinikmati. Dengan tegas, dia menolak masokhisme. Tulisnya,

“Salah satu prinsip dasar logoterapi adalah bahwa kebutuhan utama manusia bukanlah untuk mendapatkan kesenangan atau untuk menghindari penderitaan, tetapi untuk melihat suatu makna di dalam kehidupan mereka. Itulah sebabnya orang bahkan siap untuk menderita, tentu saja dengan syarat bahwa penderitaan mereka memiliki sebuah makna.

Tetapi baiklah saya jelaskan sejelas-jelasnya bahwa penderitaan sama sekali tidaklah harus terjadi untuk orang dapat menemukan makna. Saya hanya mau menekankan adalah mungkin kendatipun seseorang harus menderita, dia mendapatkan makna, asalkan tentu saja penderitaannya tidak dapat dielakkan.

Namun seandainya penderitaan dapat dihindari, hal bermakna yang harus dilakukan adalah menyingkirkan penyebabnya, baik penyebab psikologis, biologis maupun penyebab politis.

Jika anda mengalami penderitaan yang tidak harus terjadi, itu masokhistik, ketimbang heroik.”/3/

Tetapi, bisakah kehidupan kita terbebas sepenuhnya dan selamanya dari azab dan penderitaan? Ya, tidak bisa. Jika anda mau, cobalah cek satu per satu dari tujuh milyar lebih manusia sekarang ini (menurut Worldometer, populasi dunia di awal 2021 adalah lebih dari 7,8 milyar orang), apakah ada orang yang tidak pernah menderita dan menanggung azab.

Oleh hukum alam, segala sesuatu dalam jagat raya ini, bahkan jagat raya itu sendiri, akan mengalami saat kelahiran dan perkembangan yang ditandai kebeliaan, kekuatan dan kesehatan. Tetapi lambat laun segala sesuatu akan masuk ke masa-masa degeneratif, kemunduran, kehilangan kekuatan dan kemudaan secara bertahap, masuk ke dalam proses penuaan, lalu mengalami berbagai sakit-penyakit dan rongrongan, sampai akhirnya menjadi tua, lemah, letoi, uzur dan renta, lalu mati.

Memakai terminologi sains, kita katakan bahwa karena entropi (atau "panah waktu", "the Arrow of Time") bekerja dalam semua sistem, termasuk sistem biologis, segala hal dalam jagat raya ini pada akhirnya akan mengalami kondisi kacau, tidak tertata, lalu lenyap.

Sebagai organisme sentien yang memiliki akal, kesadaran, kehendak, emosi, dan panca indra, kita, manusia, melihat entropi sebagai penyebab serius adanya azab dan kesengsaraan dalam kehidupan kita semua. Kita mampu merenunginya dan menarik hikmah-hikmah dari azab yang sedang kita tanggung.

Azab dan penderitaan adalah bagian dari struktur dan kodrat jaga raya dan segenap isinya. Kita semua terkurung dalam struktur dan kodrat universal ini, dan sama sekali tidak bisa meluputkan diri darinya. 

Tentu saja, para ilmuwan berbagai bidang, misalnya fisika, kimia, biologi, khususnya genetika, sibernetika, kecerdasan buatan (artificial intelligence), gerontologi, dan bidang-bidang keilmuan lain yang terkait, sedang berusaha keras dan cerdas untuk mengalahkan entropi atau membalikkan arahnya, memutarbalik trajektori atau arah panah waktu. Tujuannya ya supaya manusia tidak lagi mengalami proses biologis penuaan yang dipandang sebagai suatu penyakit yang harus bisa disembuhkan.



Siddhartha Gautama (563 SM – 483 SM) semasa usianya masih belia (29 tahun) sudah menggumuli soal asal-usul azab dan penderitaan, dan bagaimana cara dan jalan untuk membebaskan orang dari duka lara. Pergumulannya ini muncul konon setelah dia di luar istana kerajaan ayahnya melihat orang sakit, orang uzur, dan orang mati.

Lewat usahanya sendiri yang sangat berat, terkait dengan pergumulannya ini, akhirnya dia menemukan Empat Kebenaran Agung tentang sebab-musabab adanya penderitaan dan Jalan Mulia Rangkap Delapan untuk orang bisa menaklukkan penderitaan, khususnya lewat manajemen pikiran kita sendiri.

Gautama menyatakan bahwa “Kita adalah apa yang kita pikirkan. Segala sesuatu mengenai diri kita, muncul dari pikiran kita. Dengan pikiran kita, kita membentuk dunia ini.”

Viktor E. Frankl pada abad keduapuluh menggumuli hal-hal yang juga digumuli Gautama Buddha jauh sebelumnya. Frankl juga berhasil menemukan jawabannya, dan dari situ dia membangun logoterapi yang memberi makna agung buat kehidupannya.

Nasihat Frankl kepada kita: Kehidupan ini selalu berisi azab dan kesengsaraan. Jangan takut untuk menghadapinya. Temukan makna di dalam semua penderitaan anda.

Jika anda mampu menemukan makna di dalam penderitaan anda, maka penderitaan akan anda pandang sebagai sesuatu yang edukatif, yang mampu mendidik dan mencerahkan anda, dan akibatnya lewat penderitaan yang bertubi-tubi, anda akan dapat hidup dengan berani, bermarwah dan penuh kemurahan hati.

Ya, lewat penderitaan berat yang anda telah hadapi, anda dapat diubah menjadi seorang yang memiliki solidaritas kuat terhadap orang-orang lain yang sedang menderita, dan akhirnya anda akan menerjunkan diri anda ke dalam gerakan-gerakan sosial untuk menolong dan membebaskan sesama anda yang sedang menderita. Kehadiran dan peran anda dibutuhkan sebab banyak sekali orang dalam dunia ini rentan terhadap azab dan tidak tangguh dalam memikulnya.

Jika itu yang anda lakukan, makna yang agung anda telah temukan di dalam penderitaan anda. Ketika anda berhasil menemukan makna lewat azab anda, azab anda tidak berkuasa lagi untuk membinasakan anda.

Akhir kata, saya perlu tekankan hal berikut ini, dan ingatlah selalu.

Anda sendirilah, bukan orang lain, juga bukan langit, juga bukan awan, yang harus memberi makna pada kehidupan anda, pada apa yang anda miliki atau pada apa yang sedang anda alami dan jalani, baik kesulitan besar ataupun kemudahan. Makna kehidupan anda, ada dalam diri anda sendiri. Tentukan, dan jalankan hingga tercapai, alhasil anda tak akan pernah merasa kehidupan anda tak bermakna, meaningless.

Ingat juga, depresi berat lazim ditandai oleh perasaan dan pikiran bahwa kehidupan anda tak bermakna. Jika ini terjadi, anda perlu berkonsultasi dengan seorang psikoterapis atau seorang psikiater, dan, jika depresi tidak hilang juga, anda perlu dibantu dengan obat-obat antidepresi. Sebelum memutuskan minum obat antidepresi, cobalah dulu bermeditasi dan berolahraga dan membangun pergaulan sosial yang interaktif.


Jakarta, 4-4-2015
Diedit 7 Mei 2018
Diedit lagi 28 Jan 2021

ioanes rakhmat

Catatan-catatan

/1/ Viktor E. Frankle, Man’s Search for Meaning (revised and updated; New York, N.Y. : Washington Square Press/Pocket Books, 1959, 1962, 1984, 1985), hlm. 88. Aslinya buku ini terbit 1946 dengan judul Trotzdem Ja Zum Leben Sagen: Ein Psychologe erlebt das Konzentrationslager, artinya: Bagaimanapun Juga, Katakan Ya kepada Kehidupan: Seorang Psikolog Mengalami Kamp Konsentrasi.

/2/ Viktor E. Frankle, Man’s Search for Meaning, hlm. 135.

/3/ Viktor E. Frankle, Man’s Search for Meaning, hlm. 136.