Sunday, December 20, 2020

Datanglah Kerajaan-Mu! Jadilah Kehendak-Mu di Bumi!

Dalam pandangan Yesus, kerajaan Allah adalah kawasan kehidupan para murid-Nya sehari-hari yang dibimbing dan dituntun Allah sebagai sang Raja yang rahmani dan rahimi, yang berbelarasa, yang memberdayakan mereka, Allah sebagai sang Raja, sang Bapa dan sang Gembala yang baik, yang menjaga dan melindungi domba-dombanya, yang membebaskan mereka dari segala yang jahat, dari sekarang ini hingga selamanya.

Kata Yesus, kerajaan Allah ada di antara kamu. Jika demikian, ke manapun kita pergi dan di manapun kita berada, kerajaan Allah kita datangkan kepada orang-orang di sekitar kita. Di manapun kita berada, isak tangis dus berubah jadi suka cita, putus asa berganti pengharapan, kelemahan diganti kekuatan.

N.B. Ditambahkan gambar 17 Oktober 2021


Saya tergerak untuk menulis refleksi ini, tentang seruan doa Yesus "Datanglah Kerajaan-Mu", setelah mendengar tiga pemudi gereja menyanyikan lagu Doa Bapa Kami dalam kebaktian Minggu online, 20 Desember 2020, di GKI Kepa Duri, Jakarta. 

Mereka bernyanyi dengan bagus, diiringi ketukan istrumen organ. Lihatlah screencapture di bawah ini. Tap atau ketuk gambarnya untuk dapat ukuran lebih besar dan jelas terlihat.




Pengkhotbah dalam kebaktian ini adalah Sdr. Christyan Adi Pamungkas. Tema khotbah masih di sekitar kalender masa penantian kedatangan Yesus (atau masa Adventus), yaitu masa penantian antara Natal (atau "kelahiran Yesus" yang sudah terjadi di abad pertama) dan Parousia (atau "kedatangan kembali" Yesus yang masih ditunggu).

Saya tidak bermaksud mengulas isi khotbah yang sudah disampaikan. Fokus saya dalam tulisan ini adalah bagian-bagian tertentu Doa Bapa Kami, lebih spesifik lagi ihwal kerajaan Allah dalam pemahaman Yesus orang Nazareth.

Dalam doa yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya, yang dikenal sebagai Doa Bapa Kami, ada bagian awal yang berbunyi "Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di Bumi seperti di sorga." (Matius 6:10; Lukas 11:2)

Dilihat dari tata-bahasanya ("aorist imperfect"), seruan "Datanglah (Yunani: elthatô) ..." adalah seruan untuk kerajaan Allah datang terus-menerus, tidak cuma satu kali lalu selesai di masa lalu, juga bukan untuk baru datang nanti di masa depan yang tak jelas.

Murid Yesus, yaitu gereja, tidak diminta Yesus terbang ke langit naik ke sorga, meninggalkan dan mengabaikan Bumi. Dibetot ke angkasa tinggi, melawan gravitasi, mungkin dengan memakai tenaga jet. 

Seruan Yesus untuk kerajaan sorga datang, juga tidak berada dalam bingkai ide sorga yang dibenturkan dengan ide neraka, seperti termuat dalam kitab Daniel 11-12 yang, sebagai satu kitab, ditulis pada abad ke-2 SM dalam konteks perang antara pasukan keluarga Makkabeus dan kerajaan Syria. 

Tetapi sebaliknya, Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk bersama Tuhan mendatangkan dan mewujudkan kerajaan sorga di Bumi ini dan menjadikan kehendak Tuhan terlaksana di Bumi ini seperti di sorga. Sekarang ini dan seterusnya. Kerajaan yang presentis, di Bumi ini, bukan di akhir sejarah nanti di kawasan lain. Bukan "hereafter" di "akhir zaman", tapi di sini sekarang ini, "here and now".

Bumi adalah tempat gereja berpijak dan melayani, dan mewujudkan serta menjalani kehendak Allah, sang Abba, sekarang ini. Sesudah mati, tidak ada lagi pelayanan dan kegiatan apapun. Di angkasa juga tak ada gereja, komunitas gereja ataupun gedung gereja. Tak ada kegiatan bernyanyi kekal selamanya.

Tetapi, musti jelas dulu, apa yang Yesus maksudkan dengan kerajaan Allah. 

Kerajaan Allah

Kerajaan Allah tidak pernah dimaksudkan Yesus sebagai kerajaan alternatif pengganti kekaisaran Romawi. Yesus tidak pernah menggerakkan para murid-Nya untuk angkat senjata, memerangi dan menghancurkan Imperium Romanum yang sedang menjajah negeri Yesus, eretz yisrael

Yesus tidak pernah membentuk dan melatih angkatan perang. Yesus tidak pernah mengumpulkan senjata, pedang, kelewang dan badik, apalagi pistol dan mortil serta tank, yang akan digunakan untuk berperang melawan kekaisaran Romawi. 

Tak ada ajaran dan perintah Yesus untuk para murid-Nya dan para pengikut-Nya berjuang sampai mati di jalan Tuhan dengan berperang dan membunuh. Tak ada bukti apapun untuk mengklaim hal-hal sebaliknya.

Fakta-fakta di atas menjadi kendala kuat terhadap setiap usaha menafsirkan sejumlah teks dalam injil-injil Perjanjian Baru dari sudut politik militeristik, yang bermuara pada suatu kesimpulan yang dipaksakan bahwa Yesus dari Nazareth adalah seorang messias politis militeristik. Teks-teks yang semacam ini memang ada, tak banyak, tetapi bisa dijelaskan berbeda.

Memang sebutan Yesus tentang kerajaan Allah, dan ajaran-ajaran-Nya yang disampaikan lewat perumpamaan-perumpamaan-Nya tentang kerajaan Allah atau kerajaan sorga, yang disampaikan berulang-ulang di banyak wilayah di Galilea, dapat disalahartikan, atau disalahtafsirkan. Bahwa Yesus dari Nazareth sedang menggalang kekuatan rakyat dan menanamkan ideologi alternatif untuk menumbangkan kekaisaran Romawi.

Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus dapat disalahpahami sebagai kerajaan Yahudi yang akan menggantikan paksa Imperium Romanum atau kekaisaran Romawi yang sedang menjajah negeri Israel, sebagai kerajaan politik dengan ideologi teokratisme ("Allah sebagai Raja yang memerintah") yang ditarik dari Perjanjian Lama. Kerajaan teokratis Yahudi dengan Yesus sebagai sang Raja. Dus, Yesus jadi dapat dituduh sebagai satu sosok pemberontak.

Dan itulah yang memang telah terjadi. Sejarah tak bisa diubah, tapi bisa dijelaskan dengan lebih bertanggungjawab. 

Dakwaan yang salah

Yesus dihukum mati karena dakwaan bahwa Dia telah mengklaim diri sebagai Raja Orang Yahudi, dus sebagai sosok berbahaya yang menentang dan menolak Kaisar Romawi sebagai penguasa yang sah atas tanah jajahan mereka, tanah Israel. 

Tuduhan ini real historis, sebagaimana terbaca pada Titulus crucis yang dipantekkan pada kayu salib Yesus. Pada titulus itu ditulis kata-kata "Yesus orang Nazareth. Raja orang Yahudi" dalam tiga bahasa, Ibrani, Yunani dan Latin. 



Titulus crucis (dalam tiga bahasa). Atas, konon aslinya. Bawah, tiruannya.


Ya, Yesus telah dihukum mati atas dakwaan yang salah. Salah, lantaran banyak sebab, antara lain karena hasutan para pemuka agama Yahudi di zaman-Nya, atau karena info yang salah yang disampaikan salah satu atau lebih pengikut-Nya (yang mengaitkan Yesus dengan raja Daud sebagai "keturunan" atau "anak" Daud). Atau karena hasutan dan laporan para penguasa Bait Allah di Yerusalem yang di salah satu sisinya, yang dinamakan Stoa Salomo (TB LAI: serambi Salomo), Yesus sempat membuat keributan, berdemo kecil, tetapi sangat riskan di musim Paskah Yahudi. 

Juga karena Yesus tidak memahami rumitnya relasi-relasi politik antara Bait Allah dan keamanan serta ketertiban masyarakat yang berlaku di negeri-Nya di masa kolonialisme Romawi, khususnya di musim Paskah Yahudi yang berlangsung dalam 7 hari, yakni musim merayakan dan menapaktilaskan Eksodus atau pembebasan moyang bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Dalam musim ini, ratusan ribu orang memadati kota Yerusalem sehingga kontrol dan pengawasan terhadap kamtibmas meningkat tinggi.

Dakwaan yang salah, karena tidak ada satu pun bukti material bahwa Yesus sedang menggalang pemberontakan dan perang melawan kolonial Romawi. Bahwa Dia sedang bergerak bawah tanah untuk menegakkan teokrasi Israel. 

Dakwaan yang salah, lantaran Yesus tidak pernah mengklaim diri-Nya sang Raja Israel pelanjut dinasti Daud. Bagi Yesus, hanya Allah, sang Abba, yang menjadi Raja bagi para pengikut-Nya, bagi bangsa Yahudi. Paling jauh, Yesus melihat diri-Nya anak Allah atau putera sang Abba. Anak tidak pernah bisa menjadi Bapa, dan juga sebaliknya, dalam arti biologis, pun dalam arti hubungan spiritual yang akrab.

Lantas, apa yang sebetulnya dimaksudkan Yesus sebagai "kerajaan Allah" atau "kerajaan sorga" (kata "sorga" dipakai untuk mengganti kata "Allah" berhubung orang Yahudi dilarang keras menyebut nama Allah)?

Yesus memaknai lain

Ide "kerajaan sorga" (Yunani; hē basilea tou ouranou) atau "kerajaan Allah" (Yunani: hē basilea tou theou) dalam injil-injil Perjanjian Baru, dan dalam ajaran Yesus, tentu memiliki latarbelakang pada ide tentang
"malkuth hashamayim" (bahasa Ibrani: מלכת השמים), "kerajaan sorga", dalam kosa kata Ibrani (sebetulnya, terminologi khusus kalangan Farisi).

Tetapi Yesus dengan kreatif menafsirkan kembali atau memberi makna lain terhadap gagasan tentang kerajaan sorga dalam tradisi Yahudi.

Bagi Yesus, kerajaan sorga adalah suatu kesempatan, suatu kairos, dan suatu kawasan, di saat mana dan di mana Tuhan Allah dengan kerahiman dan kerahmanian-Nya, dengan belarasa-Nya, dengan "compassion"-Nya, bukan dengan angkatan perang-Nya, dialami dengan nyata-nyata oleh para murid dan para pengikut-Nya yang terdiri atas orang-orang kecil dan sederhana. 

Murid-murid Yesus tidak kenal senjata. Tak pernah dilatih bertempur melawan musuh. Yang mereka sedang perangi adalah rasa lapar, rasa haus, rasa takut akan hari esok, rasa tak berdaya, rasa bodoh tak punya talenta, rasa terasing dari sesama, rasa ditinggalkan Tuhan, Allah mereka, rasa bersalah karena tidak bisa membayar pajak Bait Allah, rasa terbeban karena banyak hutang, rasa kedinginan karena tak punya baju dan jubah, rasa tak terlindungi, rasa rentan.

Allah menjadi Raja karena Allah adalah sang Bapa, sang Abba, yang pengasih dan penyayang, yang memelihara, menjaga, merawat, memulihkan dan mempertahankan kehidupan, kehidupan manusia, kehidupan kanak-kanak, domba-domba, burung-burung, bunga, pepohonan dan tanaman. 

Sebagai Raja, sang Abba ini mampu dan berkuasa melindungi dan memberdayakan rakyat kecil, empowering the people, sehingga mereka dapat bertahan hidup, bebas dari ketakutan dan ketidakberdayaan, dari keterhilangan, dari kekerasan, dari penyakit, dari kerentanan, dan tak khawatir lagi dengan hari esok, kendatipun mereka sedang hidup dalam masa penjajahan yang berat dan sangat menyusahkan. 

Lewat ajaran dan tindakan Yesus, baik tindakan aktual maupun tindakan simbolik, semua kekuasaan Allah sang Abba sebagai Raja dialami real oleh para pengikut-Nya.

Allah sang Abba sebagai Raja tidak pernah dipikirkan Yesus dalam suatu model militeristik dari dunia Perjanjian Lama, yakni sebagai Allah sang Panglima Perang seperti digambarkan dalam kisah-kisah tentang "perang suci" atau "holy wars" dalam bagian-bagian tertentu Perjanjian Lama, kitab suci Yahudi yang mereka namakan Tenakh.

Kalau pun Yesus melihat diri-Nya diberi tugas dan peran sebagai sang Anak oleh Allah, Bapa-Nya, yang di sorga, tugas dan peran ini bukanlah tugas dan peran Anak sang Bapa sebagai "sang Messias petempur", "a warrior Messiah", yang akan menggerakkan pemberontakan untuk melawan dan mengusir penjajah negeri mereka. Sebutan pertama tentang "Kurios Khristos" sebagai "seorang Messias perang" muncul dalam sebuah karya sastra pseudepigrafis yang ditulis dalam bahasa Yunani antara tahun 63 SM dan tahun 37 SM yang berjudul Mazmur-mazmur Salomo atau Psalmoi Solomontos (Yunani) (17:30 dyb).

Tentu, Yesus yang dalam pimpinan roh Allah sang Abba memberdayakan rakyat, dapat menghimpun rakyat setahap demi setahap sehingga menjadi besar. Lalu, pengikut yang sudah dalam jumlah besar ini, jika Yesus mau, dapat dilatih berperang, dan akhirnya dimobilisasi untuk memberontak terhadap kolonial Roma. 

Ya, ada petunjuk-petunjuk dalam kitab-kitab injil, bahwa ada kalangan tertentu yang ingin mengangkat Yesus sebagai raja, dan kalangan lain yang ingin menekan dan mengarahkan Yesus untuk angkat senjata memerangi kekaisaran Romawi. Yesus tentu tahu betul hal ini. 

Tapi,... Yesus selalu menolak kemauan mereka. Yesus tetap memilih untuk berada di jalan-Nya sendiri: jalan pemberdayaan rakyat, lewat kuasa Allah sang Abba, tanpa kekerasan fisik dan kekerasan mental. 

Jalan tanpa kekerasan

Yesus memilih jalan perjuangan tanpa kekerasan. Perjuangan untuk memperoleh pembebasan dari beban-beban kehidupan yang membuat orang letih dan lesu, untuk dapat hidup lega, untuk dapat langsung mendatangi Allah sang Bapa, untuk dapat langsung mengalami kerahiman Allah sebagai Raja mereka yang selalu peduli. Tentu pilihan Yesus ini diambil setelah melewati suatu proses perenungan yang mendalam dan pergolakan batin yang berat.

Garakan kecil Yesus untuk memihak dan memberdayakan rakyat jelata Yahudi adalah suatu gerakan tanpa kekerasan wacana dan tanpa kekerasan tindakan. A non-violent movement by the non-violent Son of the non-violent God. Mahatma Gandhi menarik banyak inspirasi dari ajaran-ajaran Yesus, khususnya Khotbah di atas Bukit, dan dari gerakan-Nya. Seperti Yesus, Gandhi pun dibunuh.

Tetapi bagaimana dengan perkataan "keras" Yesus dalam Matius 10:34, "Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai (Yunani: hē eirēnē) di atas Bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang (Yunani: hē makhaira)."? Teks alternatifnya berbunyi "... melainkan pertentangan dan pedang (Yunani: hē makhē kai hē makhaira)." 

Lukas 12:52 memuat teks paralelnya, "Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas Bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai melainkan pertentangan (Yunani: diamerismos)."

Kalau dua teks tersebut di atas dipahami dalam konteks sastra perikop masing-masing seutuhnya, jelaslah bahwa "pedang" adalah kiasan untuk "pertentangan", "perselisihan" atau "perpecahan" atau "percekcokan" yang timbul dalam setiap keluarga karena ada anggota-anggotanya yang memutuskan untuk mengikut Yesus. 

Pada era penjajahan tanah Israel oleh kekaisaran Romawi dan antek-antek Yahudi mereka, keluarga-keluarga hidup dalam relasi yang tidak seimbang dan tidak setara antar anggota-anggotanya. 

Nah, Yesus mau sungguh-sungguh membereskan situasi dominasi pihak yang satu terhadap pihak yang lainnya dalam setiap keluarga Yahudi. Caranya? 

Ya dengan menggantikan hierarki dan dominasi dengan kesederajatan dan kesetaraan. Inilah komitmen Yesus, "pedang" Yesus, untuk mewujudkan kehadiran Allah yang rahmani dan rahimi dalam setiap keluarga sebagai miniatur masyarakat kerajaan Allah yang dicita-citakan Yesus. Dalam keluarga-keluarga, relasi hierarkis vertikal sedang diganti Yesus dengan relasi kesetaraan horisontal.

Ingat juga, di taman Getsemani di saat Yesus mau ditangkap, ada seorang pengikut-Nya yang memotong sampai putus telinga seorang hamba Imam Besar. Yesus tidak mendukung tindak kekerasan ini. Kata Yesus, "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa mengunakan pedang, akan binasa oleh pedang" (Matius 26:52; bdk. Lukas 22:49-51; Markus 14:47; Yohanes 18:10).

Kalaupun Yesus memerlukan pedang, dua bilah pedang yang ada pada murid-murid-Nya dikatakan oleh Yesus "sudah cukup". Dua pedang tentu sangat tidak cukup untuk mengobarkan pemberontakan bersenjata melawan Roma. Oleh penulis Injil Lukas, dua pedang itu dijadikan suatu alasan mengapa Yesus nanti, saat dibunuh di kayu salib, akan "terhitung di antara pemberontak-pemberontak" (Lukas 22:35-38, par. Yesaya 53:12). 

Pas jika tuturan tentang tersedianya dua pedang tersebut dilihat sebagai tuturan yang dikarang penulis Injil Lukas dalam suatu skema "nubuat dan pemenuhan".

Alih-alih para murid Yesus akan langsung mulai melakukan perlawanan dan pemberontakan bersenjata ketika Yesus ditangkap di taman Getsemani, malah mereka semua melarikan diri karena ketakutan (Matius 26:56b; Markus 14:50).

Yesus tidak buta politik

Yesus tidak buta politik, tetapi Dia tahu politik itu kerap mengubah orang jadi "serigala", sebutan kepada Herodes Antipas dalam TB LAI Lukas 13:32. Sebetulnya kata benda feminin Yunani hē alôpēks berarti "rubah", tapi oleh Yesus diberi makna negatif dan merendahkan, yakni "anjing betina yang liar" atau sebuah allegori "perempuan jalang". 

Atau jadi "legion" (Yunani: legiôn) (satuan besar pasukan Romawi yang terdiri atas pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki, berjumlah 6.000 orang) yang akhirnya hanya pantas mati tenggelam di dalam danau setelah diusir Yesus (Markus 5:9).



Relief seorang personil Legion XI Claudia yang dibentuk Julius Caesar di tahun 58 SM. Credit: Caralo Raddato. Sumber gambar World History Encyclopedia, artikel Donald L. Wasson, 12 Oktober 2021. 


Atau jadi "orang kuat" (ho iskhuros) tanpa pamor yang cuma pantas diikat (Markus 3:27). Orang kuat bisa diartikan Beelzebul atau penghulu setan; dan bisa juga simbolik ke pihak penguasa kerajaan religiopolitik yang kuat atau ke petempur yang kuat dalam perang.

Mentor-Nya, Yohanes Pembaptis, Yesus tahu, telah dibunuh atas perintah raja Herodes Antipas yang merasa terancam oleh para pengikut Yohanes Pembaptis yang banyak (ini penjelasan sejarawan Yahudi Flavius Josephus).

Semua persepsi Yesus itu, dan juga pengalaman-Nya sejak kecil hidup di Galilea yang dikuasai Herodes Antipas, membuat Yesus tidak bisa menaruh harapan pada politik dan para politikus untuk menolong rakyat Yahudi. Dia menghindari apa yang sekarang kita sebut "politik praktis". Yesus punya suatu wawasan lain.

Pawai Yesus di saat Dia dan murid-murid-Nya masuk kota Yerusalem di awal musim Paskah berlangsung dengan aman dan semarak. Dibiarkan saja oleh penguasa setempat, meskipun mempunyai makna politis messianik karena oleh pengisah Injil Markus diberi acuan teks messianik ucapan syukur atas kemenangan sang raja dalam perang, yakni Mazmur 118:26, dalam Markus 11:1-10. Juga dalam teks Markus ini ada acuan ke teks Zakharia 9:9-10 yang menyebut sang raja Yerusalem yang menunggang seekor keledai beban yang muda, yang membawa pesan kerendahan hati, perdamaian dan penghentian perang.

Artinya, pawai itu lebih bermakna simbolik ketimbang sebagai unjuk kekuasaan. Tak ada orang besar lain baik dari pemuka Yahudi maupun dari wakil gubernur Pontius Pilatus, penguasa provinsi Yudea, yang bergabung. 

Bagi para penguasa, pawai itu cuma acara hura-hura. Acara kerumunan. Sosok yang menunggang seekor keledai dan disanjung-sanjung massa hanyalah sosok kecil dari Galilea yang tak berarti. Tak ada tindak lanjut politis militeristik keras oleh Yesus setelah acara pawai ini. Begitu pawai dilaksanakan, langsung gembos sendiri.

Ketika makin banyak rakyat Yahudi diberdayakan, di provinsi Galilea, maka makin nyata kerajaan Allah sedang datang, sudah dan akan terus berada di antara para pengikut Yesus. Inilah kerajaan Allah yang presentis, sedang hadir, bukan futuris di hari akhir. Kata Yesus kepada orang banyak, "Sesungguhnya kerajaan Allah ada di tengah-tengah kalian!" (Lukas 11:20; 17:21). Tidak ada di atas langit. Tidak ada di dalam lautan. Juga tidak ada di dalam tanah.

Kalau kerajaan Allah ada di angkasa di langit, burung-burung sudah menguasainya lebih dulu. Jika kerajaan Allah ada dalam lautan, ikan-ikan akan lebih dulu mendudukinya. Kalau kerajaan sorga ada di bawah tanah, dalam kuburan, cacing-cacing sudah lebih dulu ada di situ.

Kairos kedatangan sang Abba sebagai Allah yang hadir dan berkarya dan memimpin, sudah tiba, sedang tiba dan akan terus dialami. Kairos yang presentis. Kawasan di mana sang Abba yang rahmani dan rahimi hadir, berkarya dan memerintah dengan kerahiman-Nya, adalah kawasan kehidupan sehari-hari para pengikut-Nya di Bumi, bukan di angkasa di balik langit, bukan di dalam laut atau di bawah tanah, juga bukan di istana dengan takhta megah di dalamnya. 

Bebaskan kami dari yang jahat!

Jelaslah, kehidupan di Bumi, yang dibebaskan dari "segala hal yang jahat" (Yunani: ho ponēros), menjadi fokus utama kehidupan Yesus, dus juga menjadi perhatian utama pelayanan gereja. 

Jangan abaikan Bumi. Jangan binasakan kehidupan. Jangan biarkan hal yang jahat berkuasa dan merajalela. Kata Yesus dalam doa yang diajarkan-Nya itu, "Jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan [TB LAI: "Jangan bawa kami ke dalam pencobaan."]; tapi bebaskan kami dari yang jahat (Yunani: alla rhusai hēmas apo tou ponērou)!"

Hal yang jahat ini bisa mengambil banyak wujud, rupa, bentuk, ide dan tindakan. Bisa hal yang tak terlihat, kuasa jahat yang membuat orang kerasukan. Bisa manusia busuk. Bisa Herodes Antipas. Bisa para penguasa Bait Allah. Bisa sakit-penyakit. Bisa bencana alam. Dan...kekaisaran Romawi juga bisa dilihat sebagai kekuasaan penjajah yang jahat, kekuasaan batil yang sementara.

Kata Yesus terkait dengan "hal yang jahat" dan "kuasa" Allah, "Jika Aku mengusir setan dengan kuasa [harfiah: "jari"; Yunani: ho daktulos] Allah, maka sesungguhnya kerajaan Allah sudah ada di antara kalian!" (Lukas 11:20).

Dalam pemahaman religius Yahudi, setan yang dilawan dan dikalahkan Yesus adalah suatu kuasa anti-Allah yang terus ada dalam pentas dunia insani, berbeda dari kekuasaan Imperium Romanum yang temporer, yang sementara, yang suatu saat akan tumbang dan lenyap.

Jadi, fokus Yesus lebih kepada hal yang jahat yang terus-menerus, sepanjang zaman, merongrong kekuasaan sang Bapa yang tidak sementara, tidak temporer, tetapi yang sekarang ada, besok ada, tetap ada "sampai selama-lamanya". Dalam doa-Nya itu, penutupnya berbunyi ".... karena Engkaulah, Abba, yang mempunyai kerajaan, kekuasaan, dan kemuliaan sampai selama-lamanya (Yunani: tous aionas)".

Mewariskan suatu visi universal

Yesus orang Nazareth tidak memperjuangkan hal-hal yang sementara. Dia ingin mewariskan suatu visi universal dan langgeng tentang pembebasan manusia terus-menerus dari hal-hal yang jahat, yang selalu ada dalam kehidupan manusia, di zaman dan tempat-Nya, dan di zaman-zaman lain dan di kawasan-kawasan lain.

Imperium Romanum akan kandas dan tenggelam. Tetapi "hal yang jahat" selalu mengancam manusia dari zaman ke zaman, di segala tempat. Hanya bersama Allah, sang Abba yang rahmani dan rahimi, hal yang jahat ini dapat ditangkal oleh gereja-Nya sepanjang masa dan di segala tempat.

Pendek kata, yang diperjuangkan Yesus bukan hal-hal yang sementara, yang temporer, tetapi pembebasan manusia dari hal-hal yang terus ada, yang membelenggu dan melemahkan manusia, para murid-Nya, selama Bumi dan kehidupan masih ada. Jadi, memerangi Imperium Romanum, memimpin pemberontakan berdarah, sama sekali jauh dari visi dan tindakan Yesus. 

Yesus menjauhkan diri-Nya dari segala kaitan politik praktis lokal temporer yang bisa mengubah manusia jadi "rubah betina yang jalang", jadi "legion" yang cuma pantas terbenam dalam dasar danau, atau jadi "orang kuat" tanpa martabat yang diikat dengan penuh kehinaan.

Politik belarasa Yesus

Tetapi jelas, Yesus bukan seorang sekuler modern yang memisahkan politik dari agama, dan agama dari politik. 

Yesus tetap mempunyai wawasan politik, tetapi bukan politik militeristik, bukan politik keras perang melawan Roma secara frontal, bukan politik mati di jalan Tuhan, melainkan politik pemberdayaan rakyat lewat "divine compassion", kerahiman atau belarasa Allah.

Ringkas kata, politik Yesus adalah politik belarasa, politik yang lahir dari sanubari terdalam, dari hati yang peka, hati yang beraura ilahi, bukan dari syahwat kekuasaan dan ketamakan insan-insan kegelapan.



Gambar "the sacred heart of Jesus" yang lazim dikaitkan dengan visi Suster Faustina dari Polandia. Digunakan di sini sebagai ilustrasi Politik Belarasa Yesus, politik yang memancar dari hati suci yang beraura keilahian.


Di dalam masyarakat Yesus, di mana compassion, belarasa, sudah diganti dengan intimidation dan coercion, intimidasi dan ancaman dan tekanan, jelaslah politik belarasa Yesus adalah suatu politik alternatif yang berbahaya, yang merongrong kemapanan dan kenyamanan kalangan penguasa, baik penguasa Yahudi mau pun penguasa Romawi.

Karena belarasa-Nya, Yesus mengundang orang banyak, "Marilah kepada-Ku hai kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28).

Ya, kelegaan, seperti orang yang sedang rehat setelah deras berpeluh dan berkeringat, karena mengalami kerahiman dan kerahmanian Allah. Karena mengalami pembebasan dari hal-hal yang jahat oleh kuasa sang Bapa yang berbelarasa, yang ikut merasakan dan mengalami derita dan duka lara setiap insan. Lewat Yesus dan di dalam Yesus kita berjumpa Allah dalam wajah insani. Berjumpa sang Bapa dalam diri sang Anak. Mengalami kuasa sang Bapa lewat tangan sang Anak.

Ingat, membebaskan Bumi dan kehidupan manusia dari segala hal yang jahat, dalam berbagai manifestasinya, adalah tugas dan panggilan yang tak pernah berakhir. Hal yang selalu ada. Hal yang selalu memanggil. Itulah kehendak Allah, sang Bapa. Jangan tunggu sorga nanti. Wujudkan sorga kini di Bumi ini. Datangkan sorga, bukan datangi sorga. Itu kemauan Yesus, visi Yesus, perjuangan Yesus.

Penutup

Sungguh, lewat doa yang diajarkan-Nya, Doa Bapa Kami, Yesus meminta kita melakukan hal yang benar dan perlu, bukan satu atau dua kali saja, tetapi selamanya.

Fokus Yesus adalah kehidupan di Bumi sekarang ini. Menangkan dan bela kehidupan, kalahkan apapun yang jahat, seperti juga Allah sang Bapa berkehendak mencipta, menjaga dan memelihara kehidupan. 

Bagi, share, sumber-sumber daya kehidupan, seperti, ujar Yesus, sang Bapa memberi Matahari sumber enerji yang menghidupkan kepada semua orang. Jangan berlaku tamak dan jahat dengan menguasai sumber enerji kehidupan hanya buat diri sendiri.

Kalahkan yang jahat, bebaskan manusia dari yang jahat, dengan memberdayakan diri sendiri dan memberdayakan orang lain. Sementara menjalankan tugas panggilan yang dikehendaki Allah sang Bapa ini, waspadailah politik kotor yang sanggup ubah "manusia domba" menjadi "manusia serigala".

Waspadailah bahwa yang jahat itu, sang "serigala" itu, pertama-tama berdiam dalam diri kita sendiri, dan selalu kita pelihara dan beri makan. Dari kecil hingga besar. 

Periksa dulu bagian internal kita, "the self within", pikiran kita, perbendaharaan jiwa kita. Sebab dari situ mengalir ke luar segala sesuatu. Dari buah yang keluar, kamu kenal pohonnya, akarnya. Serigala tak pernah melahirkan anak domba. Sebaliknya juga, domba tak akan melahirkan anak serigala.

Maaf, maaf, kepada hewan serigala yang real. Kalian tidak jahat. Cuma manusia terbiasa memakai gambaran serigala sebagai simbol kejahatan dan keculasan. Saya jadi ikut meminjam simbolik ini. Cuma meminjam. Tapi saya menyayangi hewan serigala. Seperti saya juga suka hewan domba. Kalian berdua adalah hewan yang bersaudara. 

ioanes rakhmat
20.12.2020 

Friday, December 18, 2020

Si "Mutant Covid" Inggris Jadi Perhatian. Akan Mubazirkah Vaksin yang Ada?

SUATU VARIAN BARU virus SARS-CoV-2 yang menyebar dan berkembang lebih cepat telah diidentifikasi di Inggris selatan dan timur. Muncullah sebutan "SUPER COVID" atau "MUTANT COVID" untuk si virus varian baru ini.



Pertama kali terdeteksi akhir September 2020, lalu diikuti terus, dan mulai makin dikenali, hingga saat ini. Baru dalam minggu-minggu terakhir ini virus corona varian baru ini mulai meluas menjadi perhatian publik setelah seorang pejabat eselon atas pemerintah Inggris yang berwenang mengumumkannya (Senin, 14 Desember 2020), dan para ilmuwan membicarakannya.

Mutasi genetik melahirkan varian-varian baru virus-virus. Mutasi adalah bagian dari kehidupan setiap spesies, sesuatu yang lumrah. Sejak awal pandemi Covid-19, virus SARS-CoV-2, penyebab penyakit ini, sudah mengalami luar biasa banyak mutasi yang berbeda dalam banyak "strains" dan "silsilah spesies" yang berbeda, di berbagai bagian dunia yang luas.

Virus-virus bermutasi genetik ya karena mereka ingin bertahan hidup, berhubung orang yang sudah imun terhadap virus varian-varian lama sudah makin banyak. Manusia menjadi imun karena kesembuhan yang diperoleh lewat obat-obatan, terapi (misalnya terapi plasma konvalesen), dan kini dan seterusnya karena vaksin-vaksin.

Si virus "membenci" imunitas manusia. Si virus melawan terhadap berbagai "immune pressure" ini dengan bermutasi genetik. Kebanyakan mutasi ini sudah dikenali para ilmuwan, dan sejauh ini terpantau tidak memberi efek lebih berbahaya bagi manusia.

Ya, kebanyakan mutasi genetik pada virus tidak bermanfaat bagi si virus, tidak membantunya untuk lebih cepat memperbanyak diri, tetapi malah melumpuhkannya. Ada sedikit mutasi yang bermanfaat; tetapi sisanya mendatangkan hanya sedikit efek tertentu. Ada juga mutasi genetik yang netral atau acak, yang terjadi secara kebetulan, dan umumnya terjadi pada populasi kecil suatu spesies (ini yang dinamakan "genetic drift" atau "pergeseran lambat genetik").

Tetapi, sekali lagi tetapi, pada varian baru Super Covid ini, para ilmuwan Inggris menemukan 17 mutasi yang tidak biasa yang dapat berpengaruh pada bentuk atau morfologi virus, dan kebanyakan mutasi ditemukan pada segmen genom si virus yang mengkodekan protein "spike" luarnya, yang menonjol ke luar. Protein "spike" ("protein paku") ini memungkinkan si virus mengikat reseptor sel-sel (ACE2) pada orang yang sudah terinfeksi, sebelum menyusup masuk ke dalam sel-sel.

Sementara, kita tahu, vaksin-vaksin yang sudah ada dirancang untuk memberi reaksi, lewat sistem imun tubuh manusia, terhadap virus-virus berdasarkan morfologi luar mereka. Apakah perubahan morfologi viral si Mutant Covid ini akan membuat vaksin-vaksin Covid-19 yang sudah tersedia tidak efektif lagi, mubazir? Segera dijawab. Sabar saja.




Belum dapat dipastikan apakah varian baru coronavirus ini lebih berbahaya 
dibandingkan varian lainnya yang sudah diketahui. Mungkin juga ya, tetapi bukti-bukti masih sedang dicari dan dikumpulkan.

Yang sudah terpantau, si Super Covid ini sangat cepat berbiak, menjadi varian yang dominan, dan lebih cepat menular, "more transmissible", sehingga kasus-kasus infeksinya membubung. Dinyatakan virus varian baru ini memberikan tantangan yang "potentially serious", dan memperlihatkan diri "more harmful", lebih berbahaya.

Si Mutant Covid ini ditemukan lebih banyak, lebih dominan menguasai kawasan-kawasan, bisa karena muncul kemampuan baru dari 17 mutasi genetiknya. Tapi bisa juga karena apa yang dinamakan "founder effect", yakni varian baru ini kebetulan saja berada lebih awal di suatu wilayah geografis (dibandingkan varian lain yang belum tiba) di mana penularan si virus kemudian menjadi umum. Si virus varian baru ini ibaratnya sedang menancapkan tonggak pendirian kerajaan mereka di kawasan-kawasan Inggris tenggara. Ini penjelasan simpelnya tanpa kaitan dengan 17 mutasinya. Ini juga baru dugaan saja. Studi-studi atas si Mutant Covid Inggris ini masih berjalan.

Syukurnya, menurut beritanya, dua vaksin Covid-19 teknologi baru yang sudah tersedia, yakni vaksin mRNA Pfizer BioNTech dan vaksin mRNA Moderna, dapat dengan mudah disesuaikan, di-"adjust", di-"tweak", atau "disetel kembali", untuk merespons dan mematahkan kemampuan si virus varian baru ini untuk mengelakkan respons imun tubuh terhadap vaksin lewat bentuk dan protein "spike" luarnya yang sudah berubah lewat mutasi-mutasi. Sepintar-pintarnya si virus, tentu saja lebih pintar manusia. Ya dooong. Tetapi, pandemi... memang menyakitkan hati semua orang.

Ya, betapa fleksibelnya vaksin-vaksin teknologi baru messenger-RNA, meskipun kita belum punya pengalaman sama sekali dengan vaksin-vaksin baru ini (yang dapat dikembangkan kurang dari satu tahun) terkait efek-efek samping jangka panjang, "long-term adverse reactions", vaksin-vaksin baru ini. 

Bagaimanapun juga si virus varian baru Super Covid tersebut lebih cepat menyebar dan tumbuh dan berbiak, dan mungkin juga lebih berbahaya, perubahan-perubahan ini dapat ditangkal jika warga masyarakat umum tetap memakai masker wajah, menjalankan distansi fisik/sosial, menghindari dan tidak membuat kerumunan orang.

Selain itu, juga dengan memperkuat kinerja sistem imun melalui penjagaan kondisi tubuh dan mental untuk tetap bugar dan rileks, jauh dari stres, juga lewat makanan dan minuman yang sehat dan bergizi tinggi, dan vitamin serta suplemen yang berfungsi sebagai imunomodulator seperti vitamin D3 dan madu hutan hitam.

Selebihnya, misalnya urusan sekuensing genetik si Mutant Covid, dan termasuk "menyetel kembali" vaksin-vaksin mRNA yang fleksibel, serahkan saja ke para ilmuwan. Doakan mereka ini, yang sedang berjuang mendatangkan, mempertahankan dan menyelamatkan kehidupan manusia, suatu tugas dan panggilan yang agung dan mulia.


Thursday, December 17, 2020

Setelah vaksin Covid-19 digratiskan, selanjutnya apa yang menunggu kita?


Presiden Joko Widodo, 16 Desember 2020, telah mengumumkan bahwa vaksin (-vaksin) Covid-19 digratiskan untuk seluruh warga masyarakat Indonesia. Ketika vaksinasi dimulai, beliau yang akan menjadi orang pertama penerima vaksinasi. 

Digratiskan, tentu tanpa batasan golongan umur. Tentu ada kalangan yang akan didahulukan. Bayi, batita, balita dan bocah masih dapat menunggu sampai vaksin oral Covid-19 tersedia (misalnya vaksin oral Covid-19 Vaxart), asalkan orangtua mereka sudah imun lewat vaksinasi gratis.

Lalu, hal penting selanjutnya apa?

Hal yang terpenting bukanlah para pengusaha tamak Indonesia jadi tidak bisa menimbun vaksin-vaksin. Bukan itu. Meski orang boleh berteriak, Rasain loh!

Dengan vaksin-vaksin COVID-19 digratiskan pemerintah RI untuk seluruh warga masyarakat, maka batasan persentase populasi yang perlu divaksinasi (50%?, 70%?) untuk mencapai "herd immunity" atau "kekebalan populasi menyeluruh" tidak ada lagi.

Jika semua warga, 240 juta orang, mau divaksinasi, kurang lebih 100% warga Indonesia akan beroleh kekebalan. Ini lebih bagus.

Sebab meski "herd immunity" dapat tercapai lewat vaksinasi 70% populasi, kita masih bisa terinfeksi. Kok? 

Ya, betul, jika pada suatu saat yang naas, tanpa "pagar pembendung" yang terdiri atas orang yang telah imun (lewat vaksinasi atau lewat kesembuhan), kita (yang masih rentan atau tidak imun) berada di kepungan, katakanlah, 20 orang pembawa virus sebagai OTG yang tidak divaksinasi. Mereka termasuk 30% populasi yang tidak divaksinasi karena berbagai alasan, misalnya karena tak percaya sama sekali pada vaksin apapun. Jika ini kita alami, dengan akibat kita terjangkit Covid-19, ya nasib namanya. Nasib, nasib.

Oh ya, anti-vaxxers selalu ada, meski vaksinasi sudah digratiskan. Mereka terus bergerak membayangi setiap usaha vaksinasi massal. Sambil menyebar teori-teori persekongkolan atau teori-teori konspirasi ngalor-ngidul yang terus diubah dan diganti. Sayang ya, mereka menghabiskan waktu, tenaga dan uang untuk hal-hal yang kosong. Mereka pasti tegang dan stres.

Setelah masyarakat menerima vaksinasi, apakah kehidupan lama yang normal lantas kembali sepenuhnya? Oh tidak serta-merta kembali normal. Ada masa transisi.

Sebab, kita masih harus bersiap dengan fakta bahwa meskipun orang menjadi relatif kebal untuk diri sendiri setelah beberapa waktu divaksinasi dengan dua suntikan dengan jedah waktu, mereka masih potensial terpapar virus (jatuh sakit tapi ringan) dan menyebarkan virus corona baru. Soal ini sedang hangat diperbincangkan. Belum ada kepastian.

Jadi, kita sebaiknya masih mengenakan masker wajah beberapa bulan, misalnya selama tiga hingga enam bulan, setelah masyarakat menerima vaksinasi. Kepastian akan muncul akhirnya, lewat riset dan data, apakah orang yang sudah divaksinasi masih akan menularkan virus yang sudah makin lemah.

Lemah? Ya diperlemah, tapi dapat berubah jadi "garang" jika menginfeksi orang lain yang memiliki sistem imun yang kinerjanya sangat lemah.

Orang yang sudah divaksinasi masih bisa menyebarkan virus, ya karena dibutuhkan waktu sekian minggu setelah vaksinasi untuk antibodi-antibodi lengkap (humoral dan selular) terbentuk dalam titer yang tinggi. Selama menunggu ini, mereka masih potensial terpapar virus (dengan gejala atau tanpa gejala) dan menularkan virus.

Ingat, sekali lagi ingat, bahwa kita sekarang ini berada dalam masa pandemi. Untuk melakukan vaksinasi 240 juta orang yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia, dibutuhkan waktu lama, 6 bulan bahkan bisa sampai 1 tahun, bergantung kecepatan distribusi vaksin-vaksin, infrastruktur, dan kesigapan, perlengkapan penunjang dan jumlah ketersediaan para pekerja kesehatan. Jadi, selama aktivitas vaksinasi nasional yang butuh waktu ini, potensi penularan virus masih tetap tinggi.

Ya jadinya memakai masker masih perlu dilakukan sementara kegiatan vaksinasi sedang berjalan, meski kita sudah divaksinasi. Bahkan sangat baik jika kebiasaan memakai masker di wilayah publik terus dipertahankan ketika kita, misalnya, sedang terkena flu biasa atau terserang batuk.

Meskipun masih mengenakan masker beberapa waktu, setelah divaksinasi, kita akan hidup lebih rileks dan lebih lega. Ekonomi yang sedang mati suri akan segera bangkit dan hidup lagi. Kegiatan kumpul-kumpul bertahap akan jalan lagi. Pertandingan sepak bola akan bisa kita tonton lagi langsung di suatu stadion. Kantor-kantor akan dibuka penuh lagi. Ibadah di rumah-rumah ibadah semarak lagi. Sekolah-sekolah buka lagi. Semua kegiatan interaksi online berganti dengan kegiatan interaksi in-person. Dst. Dst.

Selain itu, meski sudah divaksinasi, tidak berarti kita akan imun selamanya. Masih banyak hal yang belum kita ketahui tentang berapa lama (durabilitas) imunitas yang distimulasi vaksin-vaksin Covid-19 akan bertahan.

Ihwal berapa lama kekebalan lewat vaksinasi akan bertahan, bergantung serokonversi vaksin yang digunakan, yakni kapasitas suatu vaksin untuk, lewat mekanisme kerja sistem imun, membangkitkan antibodi-antibodi yang komplit (humoral dan selular) dan banyak. Makin tinggi serokonversi (di atas 90%), durabilitas imunitas yang distimulasi vaksin akan makin panjang.

Sekalipun durabilitas imunitas lewat vaksinasi ini biasanya akan berkurang sejalan waktu, kita masih punya sel-sel limfosit B dan sel-sel T yang akan dikerahkan sistem imun kita untuk dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak memproduksi sel-sel memori yang membuat sistem imun kita mengenali kembali virus-virus SARS-CoV-2 ketika reinfeksi terjadi kapan pun juga, lalu antibodi memorial diproduksi kilat untuk menyerang virus-virus penyusup ini. Ini sungguh suatu kabar baik.

Meski begitu, adalah lebih baik jika kita divaksinasi ulang setiap 1 tahun sekali sebagai vaksinasi booster dengan vaksin-vaksin Covid-19 generasi-generasi terbaru. Terbaru? Ya karena si gerombolan virus SARS-CoV-2 terus bermutasi, melahirkan jenis-jenis ("strands") baru virus corona.

Hanya alam, lewat banyak cara, yang bisa menghentikan mutasi suatu virus di alam bebas. Vaksin seperti juga antibiotik dapat memaksa dan menekan virus dan bakteri untuk bermutasi, karena mereka juga ingin hidup terus.

Vaksinasi booster per tahun tidak diperlukan sejauh vaksin-vaksin "inactivated" yang sudah lama teruji (juga vaksin-vaksin teknologi baru mRNA yang belum teruji), yang sudah tersedia sekarang untuk Covid-19 (yang perlu disuntikkan 2 dosis per orang dengan jedah waktu), dapat membangkitkan imunitas dengan durabilitas sangat panjang (sampai 10 tahun, misalnya) atau durabilitas selamanya. Kita sama sekali belum bisa tahu tentang hal ini sekarang. Kita baru akan tahu nanti, 6 bulan lagi atau 1 tahun lagi, ketika para ilmuwan memeriksa titer antibodi-antibodi yang dibangkitkan, lewat kerja sistem imun kita, oleh vaksin-vaksin Covid-19 yang sudah tersedia, yang sudah disuntikkan dalam 2 dosis per orang.

Kabar tak enaknya, dugaan banyak ahli, Covid-19 akan menjadi Covid musiman, tak bisa dilenyapkan. Waaah. Dan durabilitas imunitas yang dibangkitkan oleh sistem imun, yang distimulasi oleh vaksin-vaksin Covid-19, juga diduga tidak lama. Waaah. Tenang, tenang, ini semua baru dugaan.

Kenapa dugaan-dugaan, bukan kepastian-kepastian?

Ya, pertama, karena virus SARS-CoV-2 masih misterius. Dr. Anthony Fauci, pakar terdepan penyakit infeksius Amerika, menyatakan bahwa virus corona baru, penyebab penyakit Covid-19, adalah virus yang "protean", mudah berubah bentuk dan sifat. Arah mutasi dan evolusinya tidak terduga, di dalam tubuh inang-inang. "Natural pressure" atau "human-made pressure" memaksa virus-virus bermutasi demi bertahan hidup.

Kedua, karena baru kali ini, di masa pandemi Covid-19, vaksin-vaksin Covid-19 dikembangkan begitu cepat, kurang dari 1 tahun (padahal sebelumnya bisa memakan waktu 10 tahun untuk pengembangan 1 vaksin), baik vaksin-vaksin tradisional yang sudah teruji (dua atau tiga vaksin Tiongkok pilihan Indonesia masuk jenis vaksin ini), maupun vaksin-vaksin teknologi baru mRNA yang belum pernah teruji (vaksin Pfizer dan vaksin Moderna).

Yuup betul, teknologi yang "advanced" memang dapat mempercepat proses pengerjaan dan pencapaian apapun. Jadi, sebetulnya bukan soal waktu 1 tahun yang singkat, melainkan apakah vaksin-vaksin mRNA Covid-19 dalam dunia real (di luar dunia uji klinis) betul-betul akan tetap "safe and effective" dan tidak akan menimbulkan "long term effects" yang berat. Kita belum punya pengalaman sama sekali tentang ini. Jadi kita belum bisa dapat jawaban tentang ini sekarang. Kita masih menunggu. Kita masih bertaruh.

Pertaruhan? Ya, itulah kehidupan kita, kehidupan yang akar terdalamnya dalam pohon evolusi biologis adalah mikroorganisme yang dinamakan virus. Kita, dan semua organisme lain, bermoyang virus. Walaaah lah lah.


ioanes rakhmat
17 Desember 2020

Tuesday, December 15, 2020

Pastikah "herd immunity" akan dicapai jika 50% populasi Indonesia sudah divaksinasi, seperti perkiraan pemerintah?


PEMERINTAH INDONESIA memperkirakan kebutuhan vaksin covid-19 di Indonesia mencapai 246,51 juta dosis [Catatan: 1 orang menerima 2 dosis suntikan dengan jedah waktu; dus yang akan divaksinasi sekitar 123,25 juta orang].

Detailnya, sebanyak 73,96 juta dosis untuk skema program (disubsidi) dan 172 juta dosis untuk skema mandiri (bayar sendiri). Alokasi tersebut sudah sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mari kita pikirkan dengan cermat.

Ditetapkan 123,25 juta orang akan menerima vaksinasi dari sekitar total 240 juta penduduk. Berarti sekitar 50%. Mungkin diandaikan, 50% penduduk yang imun, yang berfungsi sebagai "pagar" atau "bendungan", akan memberi reaksi berantai pemutusan penularan mutlak sehingga akan dihasilkan "herd immunity" (kekebalan populasi) bagi seluruh penduduk Indonesia.

Ya, "herd immunity" akan dicapai tanpa perlu 100% populasi di suatu kawasan divaksinasi; lazimnya cukup 60 hingga 70% saja. Jika dicukupkan minimal 50% (termasuk orang yang dianggap imun setelah sembuh dari Covid-19), ya kita lihat saja nanti hasilnya.

Catat, "herd immunity", dalam hal ini, bukan "natural herd immunity" (NHI) yang dicapai lewat infeksi virus secara natural yang dibiarkan, yang lalu bisa disusul dengan kesembuhan (dengan akibat antibodi IgG terbentuk), atau dengan kematian dalam jumlah luar biasa besar. Tidak ada protokol kesehatan yang harus dijalankan. Tidak ada usaha terencana untuk memitigasi bencana serangan virus. Hukum yang berjalan ya hukum rimba, siapa yang kinerja sistem imunnya kuat, berpeluang besar untuk selamat. Prinsip "survival of the fittest" bekerja. Di era iptek, ya NHI tampak menjadi ide yang primitif.




Selain itu, NHI, meski primitif, juga adalah suatu ide yang rumit, karena banyak faktor yang bermain di dalamnya. Faktor biologis manusia, faktor biologis si virus, faktor gaya hidup individual, komunal dan sosial, faktor demografis, faktor lingkungan alam dan kehidupan, faktor kultural, dan faktor besaran penularan virus. NHI tidak bisa difiksasi dalam hitungan angka-angka. Tidak ada ambang batas yang pasti berapa persen populasi harus sudah imun (25%? 50%?, 60%?, 70%?) untuk menghasilkan NHI di mana "transmission rate" atau "angka penularan" (atau R) harus sudah, atau lebih kecil dari, nol.

Jika strategi NHI dijalankan, ini akan berpeluang besar menjadi bencana nasional atau bencana global. Bermuara pada kejadian katastrofik. Orang bukan berdamai dengan si virus, tapi belum apa-apa sudah dibuat keok oleh si gerombolan virus.

Anyway, dalam usaha mencapai "herd immunity" lewat vaksinasi, harus diingat, kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan mengharuskan setiap pemerintah pulau--- entah pulau besar atau pulau kecil, entah pulau padat penduduk atau pulau tidak padat penduduk--- melakukan vaksinasi 50% penduduknya. Di Pulau Jawa yang paling padat penduduknya, hanya 50% penduduknya yang akan perlu menerima vaksinasi.

Jadi, jika anda berdiam di Pulau Jawa, anda bisa termasuk atau bisa tidak termasuk orang yang akan menerima vaksinasi. Jika tidak termasuk, jangan khawatir, sebab jika sekurang-kurangnya 50% penduduk Pulau Jawa sudah divaksinasi, "herd immunity" akan tercapai, dan anda (juga bayi, batita, balita, bocah, dan orang yang menanggung komorbiditas yang berat) yang tidak divaksinasi mungkin sekali tidak akan tertular Covid-19. Mengapa "mungkin sekali", tidak dijamin pasti? Ya karena mungkin, di suatu saat, anda yang tidak imun dapat berada di kepungan orang-orang yang tidak divaksinasi, yang masih terus membawa virus sebagai OTG. Saat itu tidak ada orang yang imun, yang berfungsi sebagai perisai atau pagar pelindung, yang bersama anda. Yaaah... nasib deh.

Termasuk dalam 50% yang tidak menerima vaksinasi tentu kalangan anti-vaxxers yang terus saja dengan gigih dan tanpa nalar kritis menyebarkan berbagai teori komplotan atau teori konspirasi yang tak berbasis fakta, dan juga kalangan yang selalu bersikap nyinyir dan negatif terhadap pemerintah. Kita wait and see, apakah para penyinyir ini akan konsisten sampai wafat tidak mau divaksinasi, mati dalam kenyinyiran.

Anda tentu harus berupaya serius untuk masuk ke dalam 50% yang menerima vaksinasi, entah karena vaksinasi itu diwajibkan dengan dasar UU atau karena kesadaran dan kecerdasan anda sendiri.

Satu hal penting perlu dicatat. "Herd immunity" atau "kekebalan populasi menyeluruh", bisa dicapai lewat vaksinasi 50% penduduk setiap pulau, hanya jika vaksin-vaksin yang dipilih dan dipakai (vaksin-vaksin Tiongkok produk Sinovac Biotech dengan vaksin "inactivated", CanSino Biologics dengan vaksin "non-replicating adenovirus type 5-vectored" dan BUMN China Sinopharm dengan vaksin "inactivated") memang aman dan efektif (dibuktikan lewat uji klinis besar tahap 3), dan dengan serokonversi yang tinggi (di atas 90%), artinya: vaksin-vaksin tersebut mampu membangkitkan antibodi-antibodi yang banyak dan komplit serta bertahan langgeng atau sangat lama (durabilitas antibodi humoral dan selular tinggi).

Durabilitas antibodi yang panjang, yang dibangkitkan suatu vaksin, sangat krusial sekalipun sistem imun akan mengerahkan sel-sel limfosit B dan sel-sel T yang akan memproduksi sel-sel memori dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat di saat virus yang sama menginfeksi kembali berulang-ulang, berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah imunitas diperoleh pertama kali entah lewat kesembuhan atau lewat stimulasi oleh vaksin.

Bagaimana pun juga, untuk tetap mempertahankan imunitas terhadap serangan kembali virus SARS-CoV-2, vaksinasi (dua suntikan per orang, dengan jedah waktu yang bervariasi antara suntikan pertama dan suntikan kedua) sangat mungkin akan dilakukan kembali setiap 1 tahun sebagai booster. Vaksinasi ulang per tahun ini sangat mungkin akan memakai vaksin-vaksin Covid-19 generasi-generasi terbaru sejalan dengan mutasi-mutasi virus corona baru yang tidak bisa dihentikan oleh manusia--- kecuali alam berkehendak lain yang tak terduga, misalnya, mari kita melamun, virus SARS-CoV-2  tiba-tiba hilang begitu saja, ditelan oleh suatu "black hole". 

Patut diingatkan terus, bahwa vaksin-vaksin, seperti vaksin Pfizer yang dikembangkan dalam tempo cepat kurang dari satu tahun lewat teknologi mRNA (yang sama sekali belum teruji!), yang dalam sekian uji klinis yang terkontrol ditemukan aman (tak timbul efek samping yang serius dan dialami banyak orang) dan efektif (persentase jumlah relawan yang terproteksi oleh suatu vaksin besar, di atas 90%), dalam dunia real yang liar dan tak terkontrol oleh metode keilmuan bisa menunjukkan hal sebaliknya. Yaitu muncul efek-efek samping ("adverse reactions" atau "side effects").

Efek samping ini ada yang ringan atau "tidak serius" (seperti sakit kepala, migrain, sakit otot, rasa lelah yang lama, demam, menggigil--- serupa dengan simtom terkena Covid-19 ringan) dan ada yang serius (seperti Bell's palsy atau wajah tertekuk miring sebelah). Orang yang memiliki riwayat alergi yang serius terhadap vaksin, obat-obatan dan makanan, juga tidak diperbolehkan menerima vaksinasi (larangan yang selama ini dipandang wajar).

Efek-efek samping tersebut ditimbulkan oleh vaksin mRNA Pfizer-BioNTech yang digunakan di Inggris dalam minggu-minggu ini (sejak Selasa, 8 Desember) dengan dasar resmi otorisasi penggunaan darurat saat pandemi.

Banyak pengamat menyatakan pemberian otorisasi penggunaan darurat ini, yang belum/tidak didukung Uni Eropa, adalah "suatu kudeta politik demi [memulihkan pamor] PM Inggris Boris Johnson". Tentu saja, vaksin Pfizer ini dan otoritas pemberi otorisasi penggunaan darurat jadinya dilindungi pemerintah Inggris, diberi kekebalan hukum oleh Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial Inggris dalam bisnis penjualan vaksin dan vaksinasi.

Nah, jika timbul efek-efek samping negatif setelah orang menerima vaksinasi, perusahaan Pfizer-BioNTech tidak bisa dituntut secara legal karena diberi impunitas oleh pemerintah Inggris. Warga Inggris penerima vaksin yang mengalami efek-efek samping berat juga diberi indemnitas (atau ganti rugi) oleh negara, bukan oleh Pfizer-BioNTech. Semua keganjilan ini sebetulnya menunjukkan Pfizer-BioNTech tidak yakin dengan keamanan vaksin mRNA yang mereka telah kembangkan.

Pengacara Gurdal Singh Nijar pada 14 Desember 2020 di The Sun Daily menulis antara lain bahwa "Harus dicatat bahwa Pfizer telah terlibat dalam banyak kasus gugatan baik oleh konsumen maupun oleh Departemen Keadilan dan Hukum Amerika terkait penipuan di bidang perawatan kesehatan, kegagalan untuk memperingatkan risiko-risiko berbahaya obat-obatan dan pemasaran yang ilegal."

Pada pihak lain, otoritas regulator medik Swiss menyatakan belum bisa memberi otorisasi karena laporan data lengkap vaksin-vaksin Pfizer-BioNTech, Oxford-AstraZeneca dan Moderna tentang keamanan, kemanjuran dan kualitas vaksin belum ada, sampai 1 Desember 2020.

Berbeda dari Inggris dan Amerika yang memberi otorisasi penggunaan darurat masa pandemi bagi vaksin Pfizer-BioNTech, European Medicines Agency (EMA, ekuivalen FDA Amerika atau BPOM Indonesia) membutuhkan waktu lebih lama, hingga Natal 2020, untuk mengeluarkan otorisasi pemasaran bersyarat bagi vaksin tersebut. Ya, tekanan-tekanan banyak berdatangan dari berbagai kalangan dalam masyarakat Uni Eropa untuk vaksin Pfizer diberi otorisasi untuk digunakan di UE setelah Inggris memberikan OPD untuk vaksin ini. 

Kita bisa jadi akan mendengar juga efek-efek samping yang serupa yang akan timbul di antara warga Amerika pada ronde pertama vaksinasi dengan vaksin Pfizer yang dimulai Senin, 14 Desember 2020.

Vaksin Pfizer sudah diotorisasi untuk penggunaan darurat di masa pandemi oleh FDA Amerika, Jumat, 11 Des, yang berada di bawah tekanan politik dan ancaman pemecatan oleh Presiden Trump yang masih ambisius dengan Operation Warp Speed. Yuuup, padahal bulan Januari 2021 dia akan resmi digantikan Joe Biden. Dalam rangka OWS itu, tiga juta dosis didistribusikan pada akhir pekan 12-13 Desember ke seluruh negara bagian Amerika.

Sejauh ini, vaksin mRNA Pfizer sudah dipesan oleh Inggris, Bahrain, Kanada, Saudi Arabia, Meksiko, Amerika dan Singapura. Pemesanan hanya diladeni jika uang panjar sudah diberikan.

Nah, efek-efek samping yang disebut di atas sedang terpantau sekarang. Kita masih belum tahu efek-efek samping yang dapat timbul berbulan-bulan ("long-term effects") setelah vaksinasi dosis dua suntikan per orang. Apakah akan terbukti bahwa vaksin mRNA dalam jangka panjang akan mengubah DNA orang seperti sinyalemen miring para teoretikus konspirasi? (Duuh! Syukurnya, sinyalemen ini sudah dibantah!). Jika orang kapok karena efek samping yang dialami setelah vaksinasi dosis pertama, mungkin sekali mereka tidak mau menerima "shot" yang kedua. Artinya, suntikan yang pertama menjadi mubazir karena daya imunogenisitasnya terlalu lemah.

Sejauh ini, belum ada vaksinasi massal penduduk dengan vaksin-vaksin terinaktivasi (bukan vaksin mRNA) buatan Tiongkok, juga di Indonesia, di luar konteks uji klinis besar tahap tiga. Yakni di dunia real yang liar, yang tidak dikontrol dan tidak dipantau oleh para ilmuwan pengembang dan peneliti vaksin-vaksin dan perusahaan-perusahaan farmasi besar dunia. Ingat, dunia real yang liar dan multidimensional berbeda dari dunia uji klinis yang terdesain dan terkontrol.

Semoga pilihan Indonesia terhadap vaksin-vaksin Tiongkok adalah pilihan yang benar. Semoga manfaat protektif dan kapasitas imunogenisitas vaksin-vaksin "inactivated" dan "adenovirus type-5 vectored" yang sudah lama teruji ini jauh lebih besar dan real dibandingkan efek-efek samping vaksin-vaksin ini yang nanti akan muncul ketika vaksinasi sudah resmi diwajibkan dan dijalankan oleh pemerintah ke sangat banyak penduduk Indonesia.

Ya, tak ada obat dan tak ada vaksin yang tidak menimbulkan efek samping. Masalahnya, apakah manfaat penyembuhan dan perlindungan jauh lebih besar dan lebih luas bagi sangat banyak orang dibandingkan "adverse effects" yang dapat terlihat pada sejumlah orang. Jika ya, terkait vaksinasi, pilihannya adalah vaksinasi massal terus dilanjutkan.

Jika efek samping negatif yang serius terlihat dialami sangat banyak orang dan meluas, di saat itulah vaksin-vaksin yang tidak aman ini dilarang, dengan... tentu saja sudah memakan banyak korban. Mungkin bencana medik semacam ini tidak akan terjadi. Hopefully not!

Jadi, tak perlu suatu merk vaksin Covid-19 dan perusahaan pengembangnya sampai diberi kekebalan hukum. Ada sisi bisnis dan profit pada setiap vaksin Covid-19 yang dipasarkan. Perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin Covid-19 tidak ada yang berperan sebagai Robin Hood atau Santo Claus di musim Natal. Mereka bisa menjual relatif murah hanya di masa pandemi, masa darurat. Begitu pandemi berakhir, harga vaksin per dosis akan mereka naikkan tinggi, bertahun-tahun ke depan, di saat Covid-19 menjadi Covid musiman.

Jadi, ganjil jika ada bisnis besar vaksin farmasi swasta yang dilindungi hukum negara dan pemiliknya diberi impunitas, dan jika kerugian yang dialami orang yang menerima vaksinasi ditanggung negara. Apakah ini bukan suatu tindakan penyalahgunaan wewenang, kendati mungkin sekali ada landasan UU-nya? UU yang membuat uang rakyat dikuras untuk kepentingan perusahaan swasta.

Apapun juga masalah-masalah yang muncul dari vaksinasi yang sedang berlangsung di banyak bagian dunia, kita berharap "herd immunity" akan dapat dicapai Indonesia dalam tahun 2021 lewat vaksinasi besar-besaran, dengan memakai vaksin-vaksin yang betul-betul aman dan efektif, yang sudah teruji, yang memperlihatkan serokonversi tinggi yang dapat diukur.

Semua orang tahu, pandemi Covid-19 sangat menyusahkan semua orang. Banyak yang tak tahan lalu memberi berbagai reaksi, misalnya memilih hidup "in denial", menyangkal pandemi ini real dan telah menelan banyak korban di seluruh dunia dari semua golongan umur, atau menganggap virus SARS-CoV-2 itu virus yang lemah dan lumpuh; alhasil, semua protokol kesehatan mereka abaikan, dan negara yang berusaha keras menanggulangi pandemi mereka anggap tak ada. Jangan kita masuk ke dalam golongan orang jenis ini. Mereka itu dilabelkan "covidiots" atau "covanarkis".

☆ ioanes rakhmat
15 Desember 2020

Tautan sumber-sumber rujukan

https://www.cnbcindonesia.com/news/20201211080020-4-208321/fakta-fakta-soal-vaksinasi-covid-19-di-ri/4

https://www.vox.com/platform/amp/21451282/herd-immunity-explained-covid-19-pandemic

https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)31605-6/fulltext

https://www.globaltimes.cn/content/1206031.shtml

https://www.cnbc.com/2020/11/23/covid-vaccine-cdc-should-warn-people-the-side-effects-from-shots-wont-be-walk-in-the-park-.html

https://www.dailymail.co.uk/health/article-9030943/Four-volunteers-got-Pfizers-vaccine-developed-Bells-palsy.html

https://www.cnbc.com/2020/12/09/pfizer-jab-warning-for-people-with-history-of-significant-allergic-reactions.html

https://www.swissinfo.ch/eng/reuters/eu-criticises--hasty--uk-approval-of-covid-19-vaccine/46198320

https://www.independent.co.uk/news/health/coronavirus-pfizer-vaccine-legal-indemnity-safety-ministers-b1765124.html

http://www.thesundaily.my/opinion/whose-liability-for-pfizers-vaccine-HX5617779

https://www.swissinfo.ch/eng/society/incomplete-data-stalls-swiss-authorisation-of-covid-19-vaccines/46196598 

Thursday, December 10, 2020

Bumi Punah

BUMI PUNAH

Yesus, Yesus, datanglah!
Gereja berseru tak lelah
Menanti, terus menanti
Natal tiba silih-berganti

Dulu para murid menengadah
Ke awan-awan di langit tinggi
Kini gereja menanti-nanti
Kapan dunia akan punah

Kiamat, kiamat, datanglah!
Tangis dan teriak umat yang beribadah
Tuk memaksa Yesus turun segera
Tuk mengangkat umat yang percaya
Ke sorga mulia antah-berantah
Bumi dibiarkan punah musnah

Mari, mari kita bertanya
Di manakah kini Yesus ada?
Dia tak ada saat kiamat dunia
Tak ada dalam madah dan isak gereja

Ssssttt..... dengarkanlah keheningan
Keheningan Bumi yang diabaikan
Keheningan orang yang ditelantarkan
Keheningan orang yang kelaparan

Pada mulanya...
Hanya keheningan yang ada
Keheningan telah menjadi manusia
Diam di antara kita tanpa kata
Lihatlah itu manusia duka lara!

Jumpailah Yesus segera
dalam keheningan tiada tara
Saat kata-kata manusia duka lara
Tidak lagi bisa terutara


☆ ioanes rakhmat
10 Desember 2020