Saturday, March 26, 2016

Ferdinand Magellan bikin geger gereja di zamannya!



Ferdinand Magellan. Sumber gambar PBS World Explorers


“Gereja berkata bahwa Bumi ceper, tetapi saya tahu bahwa Bumi bulat, sebab saya sudah melihat bayangannya pada Bulan, dan saya lebih percaya kepada sebuah bayangan ketimbang kepada gereja.”


“The church says the earth is flat, but I know that it is round, for I have seen the shadow on the moon, and I have more faith in a shadow than in the church.”

Di atas adalah sebuah pernyataan penjelajah laut terkenal Ferdinand Magellan tentang Bumi yang membuat geger gereja pada zamannya (abad 16 M). Kemudian, dia membuktikan sendiri bahwa pernyataannya benar, dan gereja salah!

Ungkapan “di luar gereja tidak ada kebenaran” (extra ecclesiam nulla veritas) pastilah sebuah dongeng! Ya, dongeng-dongeng sangat kita sukai ketika kita masih kanak-kanak, tentu saja. Tetapi, sebagai gantinya, saya menyukai imajinasi. Ya, imajinasi atau fiksi yang dibangun dengan landasan teori-teori ilmiah dasar, yang dikenal sebagai fiksi sains atau science fiction.



Jika planet Bumi datar, maka foto di atas tidak akan dapat dihasilkan. Kalau Bumi ini datar, maka seluruh darat dan lelautan di muka Bumi akan tampak sekaligus pada foto ini yang diambil dari angkasa luar! Nyatanya tokh tidak demikian!


Ferdinand Magellan dilahirkan di Sabrosa, Portugal utara (tahun 1480), tetapi kemudian mendapatkan kewarganegaraan Spanyol karena mau bekerja di bawah perintah Raja Charles I dari Spanyol untuk menyelidiki suatu rute pelayaran ke arah barat (Hindia Timur) menuju “kepulauan rempah-rempah” (kepulauan Maluku di Indonesia sekarang).

Ekspedisi Magellan (yang dikenal sebagai Ekspedisi Kastilian) yang berlangsung dari 1519 sampai 1522 adalah ekspedisi pertama yang mengarungi Samudera Atlantik masuk ke Samudera Pasifik (yang waktu itu dinamakan “laut damai” oleh Magellan karena airnya yang tenang) melewati Selat Magellan, lalu menyeberangi untuk pertama kalinya Samudera Pasifik.

Ekspedisi ini adalah ekspedisi pertama lewat laut yang berhasil mengelilingi bola Bumi (pelayaran sirkumnavigasi), meskipun Magellan sendiri tidak sempat menyelesaikan seluruh perjalanan laut ini karena dia terbunuh dalam Perang Maktan di Filipina (27 April 1521). Namun, Magellan dalam suatu pelayaran sebelumnya ke arah timur berhasil sampai ke Semenanjung Melayu, sehingga dialah penjelajah laut pertama yang berhasil melintasi semua garis bujur bola bumi. 

Catat, pembuktian pertama bahwa Bumi ini bulat justru dilangsungkan di muka Bumi sendiri, lewat pelayaran mengelilingi bola Bumi! Kini, di era angkasa luar, kita sudah punya banyak sekali potret bola Bumi, sudah punya banyak sekali video tentang Bumi yang dibuat dari angkasa luar, juga dalam citra 3 dimensi. Bukan hanya itu: kini kita pun punya potret bahkan peta permukaan planet-planet lain dalam sistem Matahari kita sendiri (ada yang sudah lengkap seperti peta planet Mars, dan ada yang belum lengkap), yang semuanya berbentuk bola (tentu bukan bola sempurna)./1/



Peta sirkumnavigasi Magellan

Kembali ke ekspedisi Magellan. Dari 237 orang yang berlayar dengan menggunakan 5 kapal laut, hanya 18 yang berhasil menyelesaikan sirkumnavigasi dan balik kembali ke Spanyol pada 1522 dipimpin navigator Basque yang bernama Juan Sebastián Elcano, yang mengambil alih komando ekspedisi setelah kematian Magellan. Tujuh belas orang tiba di Spanyol belakangan: 12 orang ditangkap oleh Portugis di Kape Verde beberapa minggu sebelumnya dan di antara kurun 1525 dan 1527, dan lima orang berhasil selamat di kapal Trinidad.

Ferdinand Magellan pada masanya membuktikan kepada dunia dan kepada semua yang menolak gagasannya bahwa orang dapat berlayar mengelilingi Bumi karena planet biru ini bulat seperti bola. Pelayarannya memberikan bukti positif pertama bagi sains bahwa Bumi ini bulat.

Para pecinta Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, kerap berkeras bahwa orang pada zaman Perjanjian Lama ditulis sudah berpandangan bahwa Bumi ini bulat seperti bola. Para pecinta Alkitab ini mau menjadikan semua penulis Alkitab manusia modern, padahal mereka, pada sisi lain, adalah para konservatif, kalau tidak mau disebut fundamentalis! 

Sebagai sebuah teks bukti, mereka biasanya mengacu ke Yesaya 40:22, yang dalam Alkitab (PL) Terjemahan Baru LAI memuat frasa “bulatan bumi”. Kata Ibrani dalam teks Yesaya ini, yang diterjemahkan dengan “bulatan”, adalah חוּג (“chug”), dan kata ini tidak tepat jika diterjemahkan dengan “bulatan”, melainkan harus “disk” atau “cakram” atau “piringan”. Bandingkan kata Ibrani yang sama dalam Terjemahan Baru LAI dalam Ayub 22:14 (“lingkaran langit”) dan Amsal 8:27 (“kaki langit”). Yang dimaksud dengan “chug” dalam Yesaya 40:22 adalah suatu bentuk lingkaran cakram atau disk yang tipis, bukan suatu bentuk bola padat.

Juga harus diingat bahwa ketika orang yang hidup pada zaman Alkitab ditulis memandang Bulan dan Matahari di angkasa, mereka belum mampu berpikir bahwa kedua benda langit ini berbentuk bola, sebab yang langsung tampak kelihatan oleh mereka (dan juga oleh kita sekarang) dari Bumi adalah baik Bulan maupun Matahari berbentuk sebagai sebuah piringan atau sebuah disk atau sebuah cakram tipis yang bercahaya, bukan sebuah bola bulat padat penuh yang gemerlap. Dulu, saya pernah bertanya ke oma saya, “Oma, bulan itu apa sih?” Sang oma menjawab begitu sederhana, “Kamu kan bisa lihat sendiri. Bulan itu sebuah tampah yang terang-benderang!” 

Selain itu, kita perlu sadar, bahwa semua orang di zaman pramodern dan prailmiah, semua orang di zaman kuno, termasuk para penulis Alkitab, juga belum mampu berpikir bahwa kalau Bumi berbentuk bulat seperti bola, air laut di belahan belakang atau di belahan bawah bola Bumi tidak akan tumpah atau jatuh ke bawah. Kita yang hidup pada zaman modern saja, yang sudah mengenal forsa gravitasi Bumi, mampu berpikir bahwa air laut di belahan bawah bumi tidak akan tumpah.

Begitu juga, kalaupun Aristoteles melihat bayangan Bumi pada Bulan ketika terjadi gerhana, mungkin sekali dia tidak membayangkan Bumi ini berbentuk bola, tetapi, paling jauh, berbentuk sebuah piringan atau sebuah lingkaran cakram atau disk tipis.

Beberapa abad sebelum Masehi, astrologi sudah berkembang luas di Babilonia, dan sistem penangggalan yang membagi satu minggu dalam tujuh hari sudah dikenal, dan sistem penanggalan inilah yang diambil alih oleh para penulis Kejadian 1:1-2:4a (Mazhab Imamat/Priester) ketika mereka mengasalkan sistem penanggalan ini pada penciptaan yang Allah mereka telah lakukan selama enam hari dengan hari ketujuh sebagai hari istirahat buat Tuhan Allah ini. Tidak jelas juga apakah dalam astrologi yang sudah berkembang ini, orang Babilonia sudah mampu memandang atau mengimajinasikan Bumi, Bulan dan Matahari serta semua planet lain yang sudah dikenal pada masa itu berbentuk bulat seperti bola.

Begitu juga, kalaupun Aristoteles melihat bayangan Bumi pada Bulan ketika terjadi gerhana, mungkin sekali dia tidak membayangkan Bumi ini berbentuk bola, tetapi, paling jauh, berbentuk sebuah piring atau sebuah lingkaran cakram atau disk tipis. Sebelum Aristoteles, seorang filsuf besar yang bernama Sokrates pada abad 4 SM sudah berpendapat bahwa Bulan itu terdiri atas bebatuan dan karang, sementara Ortodoksi Athena berpandangan bahwa Bulan adalah Dewa yang harus disembah. Kita tahu, pada 399 SM Sokrates menerima penghukuman mati dengan meminum racun di sebuah penjara negara di Athena dengan salah satu tuduhannya adalah bahwa dia mengajarkan ajaran-ajaran baru yang bertentangan dengan Ortodoksi Athena.

Bahkan pada abad pertama M, penulis teks Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru masih berpikir bahwa Bumi ini memiliki “ujung” sehingga ditulislah olehnya sebuah perintah (yang ditempatkan pada mulut Yesus) untuk mengabarkan Injil “sampai ke ujung Bumi” (KPR 1:8). Jika Bumi sudah dipandang berbentuk bola pada abad 1 M, kok masih disebut ada ujungnya? Di manakah ujung bola Bumi? Jangan memaksakan pendapat anda bahwa si penulis KPR memaknai frasa ujung Bumi sebagai sebuah kiasan. Pun pada masa Ferdinand Magellan hidup (abad 15-16), Gereja Katolik Roma masih berpandangan bahwa Bumi ini ceper, sebuah pandangan yang justru dilawan olehnya. Ferdinand Magellan jelas adalah sebuah bukti bahwa gereja hingga abad ke-16 masih salah! 

Seandainya pun pada beberapa abad SM sudah ada suatu keyakinan (entah keyakinan siapa) bahwa Bumi, Bulan dan Matahari berbentuk bulat seperti bola (tentu bukan bentuk bola yang sempurna), keyakinan ini tentu baru sebagai sebuah hipotesis yang belum terbukti secara empiris. Belum menjadi fakta sains.  

Jadi, berterimakasihlah kepada Magellan, karena dialah orang pertama yang, lewat penjelajahan laut, membuktikan bahwa Bumi ini berbentuk sebuah bola, yang di permukaannya darat dan samudera tertata dalam suatu keseimbangan alamiah (yang tidak selalu stabil) karena forsa-forsa alam yang bekerja, antara lain forsa gravitasi.

Jika di abad XVI masih ada orang yang menyangkali fakta bahwa Bumi itu bulat seperti bola, hal itu bisa dimaklumi. Tapi jika di abad XXI masih ada orang yang semacam itu (pasti karena alasan ajaran kitab suci), jalan keluarnya saya kira hanya satu, yakni: dia musti buktikan sendiri bahwa Bumi ini bulat. 

Caranya ya gampang. Suruh orang itu berjalan kaki lurus ke depan, tanpa berubah atau berbalik arah, dari kota Jakarta (atau kota tempat tinggalnya), terus saja berjalan kaki dengan tekun, dan dengan menerobos semua rintangan. Maka setelah mungkin 20 abad lamanya (dan dia tetap muda terus), dia pasti akan tiba di kota yang sama yang semula dia tinggalkan (seandainya kota ini dan semua penduduknya juga tidak berubah sedikitpun). Nah, jika ini dia sudah lakukan, dia pasti akan baru percaya bahwa Bumi ini bulat karena dia sudah membuktikannya sendiri lewat eksperimennya sendiri yang luar biasa hebat! Pembuktian lewat sebuah eksperimen adalah sebuah metode ilmiah. 

Jika dia tidak bisa percaya pada dirinya sendiri bahwa dia bisa melakukan eksperimen pembuktian yang spektakuler ini, maka pertanyaaan yang timbul adalah: Mengapa dia harus percaya pada sesuatu yang sudah tidak relevan lagi, yang ada di luar dirinya?


Jakarta, 27 Agustus 2010
by ioanes rakhmat


/1/ Minimal ada 10 cara untuk membuktikan bahwa Bumi ini bulat, sebagaimana dengan jelas dan sederhana dibeberkan oleh Moriel Schottlender, “Top 10 Ways to Know the Earth Is Not Flat”, SmarterThanThat, 19 August 2008, pada http://www.smarterthanthat.com/astronomy/top-10-ways-to-know-the-earth-is-not-flat/.

Saturday, March 19, 2016

TAK WAJIB PILIH!

Sang Sunyi!

Kata Mr. A kepada banyak orang:

“Saya Kristen yang setia. Saya tak wajib pilih Ahok untuk jadi gubernur DKI dalam Pilkada 2017 meskipun beliau Kristen. Namun saya tetap mau memilih beliau lantaran prestasi kerjanya yang cemerlang dan pengabdiannya kepada rakyat, sudah dibuktikannya dengan nyata!”

Reaksi saya: Ya Mr. A bersikap sangat benar! Kalau agama saya jadikan patokan pemilihan dan dukungan, waktu Pilpres kemarin ya pasti saya tak akan pilih Pak Jokowi karena beliau Muslim. Mustinya saya golput saja waktu Pilpres lalu itu, berhubung tak ada capres yang Kristen.

Tapi saya tak pilih jadi golput. Saya gak hiraukan apa agama Pak Jokowi. Saya memilih beliau karena saya melihat angin perubahan akan berhembus di NKRI jika beliau jadi presiden. Saya percaya, dari semula berhembus semilir sepoi-sepoi, Pak Jokowi selanjutnya akan bertahap menghembuskan angin perubahan yang jauh lebih kuat dan berdampak besar.

Begitulah cara berpikir saya waktu itu. Tidak primordialis. Tidak SARA-is. Saya berharap Pak Jokowi yang telah menang Pilpres itu (yang telah berlangsung sangat keras!) selanjutnya akan dapat dengan tenang dan mantap memimpin pembangunan bangsa dan NKRI. Beliau Muslim (nusantara). Karena itu saya mengira (bahkan meyakini) bahwa beliau akan diterima semua rakyat NKRI seusai Pilpres.

Eeeeh.... ternyata, meskipun beliau Presiden RI yang beragama Islam, beliau hingga kini masih saja sering dijadikan bulan-bulanan oleh sesama Muslim, bahkan masih saja sering difitnah dan dibenci terus. Muslim menyerang Muslim! Duuuuh pilunya hati saya!

Mau apa sih sebenarnya sebagian dari rakyat RI ini, yang setiap hari hidup dalam kebencian dan kemarahan? Apakah enak hidup seperti itu?

Jika anda hidup (sebentar saja, paling panjang ya 70 atau 80 tahun, itupun kalau sehat) terus-menerus dalam kebencian dan kemarahan, pasti ada yang tidak beres dalam sel-sel saraf otak anda. Kondisi ini akan membuat anda rentan terhadap serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi, dementia, diabetes, serangan gagal ginjal, dan penuaan dini. Anda mau hidup dalam kondisi azab seperti ini? Kalau anda sudah punya banyak anak, tak kasihankah anda pada mereka yang telah lahir tanpa mereka minta?

Lalu, kapan kita akan bisa mengirim para astronot kita sendiri dengan wahana antariksa buatan kita sendiri ke planet-planet lain? Kapan?

India yang konon berada di bawah Indonesia, tahukah anda, telah berhasil meluncurkan sebuah wahana antariksa tanpa awak ke planet Mars dan kini sudah mengorbit planet ini untuk mengeksplorasinya demi manfaat besar buat negara dan bangsa India sendiri di masa depan.

Apa prestasi bangsa Indonesia selain hanya ribut soal SARA terus tak habis-habisnya? Sadarkah anda bahwa yang sedang menjalankan politik adudomba (devide et impera) sekarang ini bukan penjajah Belanda, tetapi sejumlah kalangan WNI terhadap sesama WNI?

Tahukah anda apa tujuan kalangan WNI pengadudomba itu selain untuk mendapatkan kekuasaan, kedudukan tingggi, harta, uang dan kekayaan berlimpah untuk diri mereka sendiri dengan tamak, sementara anda dijadikan hanya sebagai bidak-bidak catur dan tumbal mereka?

Maka menangislah Tuhan Allah dengan pilu yang dalam!

Sang Sunyi mahasunyi meratap sangat dalam. Yang terdengar hanya kesunyian.

Jakarta, 19 Maret 2016
ioanes rakhmat

Tuesday, March 15, 2016

Wahai Kristen, jangan kalian ikuti langkah HTI atau FPI!

Sila pertama Pancasila RI: Ketuhanan YME. Jelas, ketuhanan bukan agama apapun. Ketuhanan adalah diri atau zat Tuhan sendiri. Atau jatidiri Tuhan sendiri. Apa itu? Definisi paling padat dan ringkas adalah: ketuhanan itu cinta. Ketuhanan YME dus berarti cinta yang unik, cinta yang tiada taranya; cinta dari segala cinta. NKRI berdiri pada cinta. Itulah filsafat paling mendasar negara dan bangsa Indonesia. (Ioanes Rakhmat)


Saya menemukan ada sejumlah teman di dua akun FB saya yang memahami Pilkada DKI 2017 sebagai suatu ajang politik untuk memenangkan agama Kristen berhubung Pak Ahok beragama Kristen. Saya tegaskan, ITU SALAH BESAR!  

Lebih ekstrim lagi, ada juga beberapa teman, yang mengaku para pengikut opa Stephen Tong dari Gereja Reformed Injili Indonesia, menyatakan bahwa langkah-langkah politis Pak Ahok “diarahkan” oleh buku-buku Yohannes Kalvin (teolog Protestan kelahiran Prancis) yang hidup di Eropa abad XVI (1509-1564) antara lain di kota Jenewa (dia sering pindah kota, sebagai seorang pelarian). Orang yang menelaah ajaran-ajaran Kalvin (atau Kalvinisme) pasti tahu bahwa Kalvin bercita-cita membangun teokrasi Kalvinis di Jenewa tapi akhirnya gagal, lalu diujicoba lagi. 


Gubernur Basuki milik umat semua agama!

Saya mau ingatkan, jika kalian yang Kristen berpikir dan melangkah seperti yang saya gambarkan dalam dua paragraf di atas, kalian pada dasarnya tidak berbeda dari HTI dan FPI dll yang bercita-cita untuk membangun teokrasi Islami atau yang disebut Khilafah di NKRI. Dalam NKRI yang demokratis, bukan kedaulatan Allah, tetapi kedaulatan rakyat itulah yang dijalankan pemerintah.

Poin pentingnya ini: teokrasi apapun pada dasarnya berbenturan tajam dengan demokrasi! Satu contoh saja: Atas kehendak dan wewenang Yohannes Kalvin yang membangun teokrasi Kalvinis di kota Jenewa, maka Michael Servetus, lantaran dia mengkritik dengan tajam seluruh isi buku Kalvin (yang berjudul Institutio), dihukum mati dengan membakarnya hidup-hidup pada 27 Oktober 1553 di pinggiran kota Jenewa. Yohannes Kalvin sangat anti-demokrasi! Bagi Kalvin, bukan rakyat, tetapi hukum-hukum Allah versinya yang berdaulat mutlak!

Pak Ahok pasti tidak bodoh. Tidak seperti yang kalian pikirkan. Tentu iman Kristen Pak Ahok (aliran apapun) dapat menjadi sumber pikiran, isi hati dan tindakannya untuk dia jujur, adil, transparan dan membela rakyat kecil.

Nah dalam situasi ini tentu akan ada para pemuka gereja-gereja oportunis yang akan mengundang Pak Ahok ke gereja-gereja mereka untuk ceramah dan bangun hubungan, lalu mereka berfoto bersama. Sesudah itu mereka akan mengklaim dengan bangga: Lihat, kamilah yang telah menghasilkan sosok berkarakter hebat yang bernama Gubernur Basuki!

Tetapi, penting untuk dipahami bahwa sebagai seorang pejabat NKRI, Pak Ahok sebagai Gubernur DKI hanya tunduk pada Konstitusi, UUD RI, Pancasila, dan mendapat mandat untuk memerintah dari RAKYAT atau PENDUDUK DKI JAYA. Dalam NKRI yang demokratis, bukan kedaulatan Allah, tetapi kedaulatan rakyat itulah yang dijalankan pemerintah. Dan pada dasarnya, demokrasi itu, saya ulangi sekali lagi, bertentangan tajam dengan teokrasi apapun.

Saya mau mengutip sebuah pernyataan penting Pak Ahok yang diucapkannya dalam acara Kanisius Education Fair di SMA Kolese Kanisius, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 21 September 2013. Beliau menegaskan bahwa
“Dalam kehidupan bernegara, Konstitusi harus tetap dikedepankan ketimbang kitab suci. Menaati Konstitusi adalah adalah cara paling tepat dalam kehidupan bangsa. Jika kitab suci yang dikedepankan dibandingkan Konstitusi, maka sulit untuk menyatukan satu sama lain.” 
Nah Pilkada 2017 di DKI mendatang diadakan untuk memilih gubernur dan wakil gubernur DKI Jaya yang memegang teguh prinsip, semangat dan posisi yang sudah saya tulis pada paragraf persis di atas ini.

 Siapa bilang Pak Ahok keras dan kasar? Tanyalah kepada anak-anak itu.

Ingat, penduduk DKI mencari dan mau mendukung cagub dan cawagub yang berkwalitas prima (dalam etika, akhlak, pikiran, visi, nurani, karya dan tindakan), apapun agama dan etnisitas mereka.

Teman-teman Muslim telah menegaskan bahwa mereka mau mendukung dan memilih Pak Ahok bukan karena agamanya, tapi karena beliau “amanah”, maksudnya: karena Pak Ahok sudah terbukti memenuhi kehendak dan kepercayaan rakyat yang diberikan mereka kepadanya. Harap hal penting ini anda ingat terus! 

Juga jangan pernah lupa bahwa NKRI merdeka bukan sebagai sebuah negara agama, dan kemerdekaannya dicapai lewat pengorbanan dan perjuangan gigih semua golongan ideologis dan keagamaan.

Salam,

Jakarta, 15 Maret 2016
ioanes rakhmat 


Wednesday, March 2, 2016

Gadis Cilik dan Beruang



Kau besar ditakuti semua orang
Melihatmu semua tunggang-langgang
Tapi aku nan kecil datang melenggang
Kau kubelai oleh tanganku yang lengang
 


Kau tersenyum memandangku tenang
Kuingin bersamamu pagi hingga petang
Beruang besar dan gadis cilik periang
Dalam hutan riuh yang sunyi tenang


Mari kita terbang ke angkasa benderang
Kita gantikan sang rembulan terang
Memberi cahaya kemilau benderang
Supaya semua insan menari riang


Duka dan azab selamanya hilang
Diganti suara merdu di tengah ilalang
Jangkrik semut kutilang dan belalang
Menaikkan madah supaya dunia riang


Jangan pikirkan kematian yang datang
Hanya satu dua detik nafasmu hilang
Hidup ini juang lama 70 tahun terbilang
Jalani tabah bersenandung riang


Tabuh riang dan kuat semua genderang
Bukan untuk membunuh dalam perang
Tapi untuk bangunkan semangat juang
Supaya takut, azab dan derita terbuang


Si gadis cilik berani menatap riang
Sang beruang besar duduk menjulang
Karena dalam hatinya yang lapang
Cinta tumbuh subur tak terhalang


Tanam sebutir benih cinta yang luang
Bumi ditanami pohon kasih sayang
Tumbuh berkembang ke langit terjulang
Cangkul mengganti pedang dan parang


Sang beruang besar menyatakan sayang
Si gadis cilik balas merangkul senang
Pembesar dan kawulo topang-menopang
Orang miskin tak lagi kering-kerontang


Sedang bermimpikah aku di hari petang?
Janganlah senja temaram kelam datang
Wahai Dewi Fajar segeralah bertandang
Kurindu memelukmu kencang-kencang


Ke langit segera bawa aku terbang
Sunyi sendiri di tengah trilyunan bintang
Gelap sendiri di hujan terang gemilang
Kesunyian maha dalam tak terdulang
 


Sang Sunyi bersuara senyap dan kosong
Suaranya sampai ke bintang terujung
Lihat, si gadis cilik dan sang beruang
Bernyanyi tanpa nada bersenandung


Sunyi tapi riuh bunyi kecapi  
Sendiri tapi dikepung gendang ramai
Ramai tapi sepi bak pantai mati
Mati namun hidup abadi


Punyakah kau sebuah anak kunci
Untuk membuka teka-teki ini?
Jika tak punya, duduklah sunyi lestari
Jawaban akan datang mengalun sendiri



Jakarta, 2 Maret 2016
Ioanes Rakhmat
Sang Sunyi

Sunday, February 28, 2016

Lagi tentang LGBT: Menjilat pantat Barat... dan paranoia


Aaaahhhhhhsssshhh... segar dan nikmat!

Selengkapnya, baca Temuan-temuan Sains Modern tentang LGBT.


Seseorang yang bernama Mr. Macho mengecam saya. Katanya, “Anda membela LGBT karena anda telah menerima pendidikan modern di Barat. Anda kini mempromosikan LGBT di Indonesia. Anda penjilat pantat Barat yang kafir. Sementara anda mengecam Arabisasi atas Indonesia. Itulah diri anda yang sebenarnya.”

Ya... kecamannya pedas dan hemat saya diucapkan tanpa pengetahuan dan kesadaran yang matang. Berikut ini respons saya dalam dua poin.

Poin pertama. Mengapa saya membela LGBT meskipun saya bukan aktivis LGBT dan orientasi seksual (OS) saya dan keluarga saya semuanya hetero (hingga saat ini)?

Saya membela karena saya melihat LGBT di Indonesia cenderung akan makin ditindas berdasarkan ketidaktahuan masyarakat hetero di Indonesia bahwa kondisi sebagai LGBT bukan dosa dan juga bukan suatu kelainan jiwa atau penyakit dan gangguan mental. Berikut ini alasan-alasan saya mengapa saya berpendapat demikian.

Tuhan yang saya yakini mahapencipta bukanlah Tuhan dengan OS tertentu. Tuhan melampaui atau mentransendir semua OS HLGBT. Karena itu, Tuhan mahapencipta merangkul, memelihara, memberi kehidupan dan cinta kepada semua manusia yang memiliki OS apapun.

Semakin anda meyakini Tuhan itu mahapencipta, maka dia juga sanggup mencipta bukan hanya OS hetero, tapi juga LGBT. Karena dia mahapencipta, maka dia juga sanggup menciptakan apapun yang tidak dikisahkan atau ditulis dalam semua kitab suci.

Karena OS LGBT itu sunatullah, kejadian natural yang diciptakan Tuhan, maka LGBT juga Tuhan kehendaki untuk tetap ada dan terawat dan bertahan dalam dunia ini. Barangsiapa mencintai Tuhan, mereka juga akan mencintai LGBT. Dari mana saya tahu LGBT itu sunatullah? Tentu bukan dari Prof. Sarlito Wirawan, mahaguru psikologi UI.

Ya saya tahu dari ilmu pengetahuan yang bersumber dari Allah yang mahatahu. Semakin anda percaya Tuhan anda itu mahatahu, maka semakin bersemangat anda dalam mencari pengetahuan-pengetahuan baru. Bahkan sebagai sang pencipta yang mahabaik dan mahatahu, Tuhan juga menghendaki manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dengan tanpa batas dan menemukan dan membangun ilmu pengetahuan baru juga tanpa batas.

Semakin Tuhan itu dipercaya mahacerdas, maka semakin kuat keinginan anda untuk berakal dan bernalar dengan cerdas. Tuhan yang mahatahu, sebagai orangtua kita yang sayang pada kita, akan luar biasa masygul di hati jika manusia memilih berjalan di jalan kedunguan tanpa batas. Ilmu pengetahuan kerap mencapai batas terjauh di suatu era. Tapi kedunguan itu, kata Albert Einstein, tak punya batas.

Nah dari ilmu pengetahuan, kini kita tahu OS HLGBT terbentuk dari interaksi sejumlah faktor yang sudah diobservasi, yakni faktor-faktor genetik, epigenetik, biologis, serebral, hormonal, fisiologis, psikologis; dan lingkungan kehidupan juga ikut memberi andil. Semua hal lain yang menyangkut bentuk fisik dan keadaan mental dan pembawaan serta kebiasaan hidup kita juga dibentuk oleh faktor-faktor yang sama. Informasi genetik, bagaimanapun juga, berperan besar dalam membentuk diri seseorang dalam banyak aspek kehidupan.

Nah, karena OS itu berbasis biologis dalam arti luas, tentu saja sejak manusia cerdas (Homo sapiens) ada di muka Bumi, OS HLGBT tentu juga sudah ada.

Jauh sebelum kejadian yang menimpa kota Sodom dan kota Gomorah yang melibatkan Nabi Lot (atau Luth)―yang kisahnya (cari tahu sendiri, apakah ini kisah faktual atau kisah fiktif!) selalu dijadikan landasan skriptural untuk mengecam dan mengutuk homoseksualitas―OS LGBT sudah pasti ada.

Suatu saat nanti, kalau paleobiologi sudah semakin maju, para saintis akan bisa menemukan bukti-bukti biologis bahwa OS LGBT sudah ada sama tuanya dengan usia keberadaan manusia di muka Bumi. Yang sekarang sudah diketahui adalah bahwa homoseksualitas juga ada pada 1.500 spesies hewan non-manusia. Ini lagi menunjukkan bahwa OS homoseksualitas adalah sunatullah.

Kapan manusia cerdas pertama muncul di muka Bumi? Menurut kitab suci tertua teisme (yakni Tanakh Yahudi), Adam dan Hawa adalah pasangan manusia pertama pria dan wanita yang diciptakan Allah langsung besar tanpa memiliki udel. Menurut literalis Katolik yang hidup di abad ke-17, uskup agung Almargh yang bernama James Usher, setelah dia menghitung-hitung hari-hari, kejadian-kejadian dan silsilah-silsilah yang dikisahkan dalam Alkitab (baginya Alkitab adalah sebuah kitab sejarah yang ajaib dan serba akurat), jagat raya atau “langit dan Bumi” diciptakan Allah persis pada hari Minggu tanggal 23 Oktober 4004 SM. Jadi, sekarang ini di abad ke-21 jagat raya baru berusia 6.000 tahun.

Sedangkan menurut sains modern, jagat raya kita yang tercipta lewat big bang sudah berusia 13,8 milyar tahun. Sistem Matahari kita sendiri sudah berusia 4,5 milyar tahun. Mikroba pertama muncul pertama kali di Bumi 3,7 milyar tahun lalu, yang selanjutnya berevolusi tahap demi tahap.

Nah, kalau pendapat James Usher diikuti, berarti Homo sapiens baru muncul di Bumi ya juga kurang lebih 6.000 tahun yang lalu. Atau kita bulatkan saja, baru muncul 10.000 tahun lalu.

Tetapi dari ilmu pengetahuan, yang memakai bukti paleo-DNA mitokondrial, kita tahu bahwa Homo sapiens muncul 300.000 tahun lalu di Afrika, bukan di Taman Eden di kawasan Mesopotamia 10.000 tahun lalu. Kalau kita telusuri sedikit jauh ke belakang, anekaragam hominid yang menjadi moyang terdekat Homo sapiens muncul 400.000 tahun lalu.

Nah, dengan memakai temuan sains ini, lebih jauh kita dapat katakan bahwa LGBT pasti juga sudah ada 300.000 hingga 400.000 tahun lalu, jauh sebelum kisah Nabi Lot ditulis. LGBT sudah ada sama tuanya dengan usia keberadaan Homo sapiens di muka Bumi, tapi baru dipelajari dan dikaji secara ilmiah di abad ke-20 M.

Dari tempat asalnya di Afrika, Homo sapiens HLGBT dulu sekali menyebar dan bermigrasi ke segala arah hingga akhirnya berada di seluruh muka Bumi, termasuk di tanah Arab di Timteng, juga di nusantara Indonesia dan di semua tempat lain di muka Bumi.

Jadi, pesan saya kepada para ideolog anti-LGBT, jangan anda picik memandang LGBT hanya milik Barat. Jangan karena kebencian pada Barat, anda, Mr. Macho, melampiaskan kebencian ini kepada kaum LGBT sebagai kompensasi dan demo kemarahan anda pada Barat. LGBT itu manusia, dan LGBT WNI itu sesama warganegara yang wajib kita dan pemerintah NKRI sayangi dan lindungi karena jumlah mereka sangat sedikit dan juga tak akan berkembang pesat selama puluhan tahun ke depan, dan karena mereka rentan dizalimi oleh kalangan hetero yang jumlahnya ratusan juta kepala.

Jadi tidak ada alasan atau basis ilmiah untuk orang kini memandang LGBT sebagai suatu gangguan mental yang perlu diobati atau orang LGBT dipandang rendah, sakit jiwa, atau dikutuk Allah.

Nah, sebagaimana ada banyak hetero yang sakit jiwa dan hidup tak setia pada satu suami/satu istri, hidup freesex, suka nonton pornografi urakan, suka pesta seks gila, terkena dan menularkan HIV/AIDS, depresif, mau bunuh diri, hal yang sama juga bisa terjadi pada LGBT. Jadi, dalam hal ini hetero tidak lebih unggul dari LGBT, khususnya LGBT tipe distonik.

Juga, sebagaimana banyak hetero berhasil jadi orang termashyur karena kecerdasan otak, kinerja dan prestasi mereka dalam berbagai bidang kehidupan dan pekerjaan, dan khususnya dalam dunia sains-tek dan senibudaya, hal yang sama juga terbukti bisa diberikan kaum LGBT kepada dunia dan umat manusia, sejak dulu hingga kini, khususnya LGBT tipe sintonik. 

Jadi, daripada melakukan usaha sia-sia dan tak ilmiah untuk mereparasi LGBT, hal yang jauh lebih diperlukan adalah menemukan para LGBT sintonik yang cerdas di matematika atau dalam IPA, lalu mereka dimotivasi dan diberi beasiswa untuk sekolah setinggi-tingginya hingga akhirnya mereka menjadi para ilmuwan dunia yang terkenal.

Kembali ke Tuhan. Dia juga sanggup mencipta hukum-hukum alam yang tak pernah habis yang diberinya kuasa untuk berjalan dan berlaku sendiri tanpa kendalinya lagi. Dia juga sanggup membiarkan hukum-hukum alam berkembang dan berproses sendiri apapun akibatnya bagi dunia dan semua organisme dan non-organisme penghuni seluruh alam yang tanpa batas.

Dia juga memberi kehendak bebas atau freewill kepada bukan hanya manusia dan organisme sentien tapi juga kepada hukum-hukum alam untuk bekerja sendiri sejalan dengan kehendak internal hukum-hukum ini, termasuk hukum evolusi “by natural selection”, termasuk juga hukum fisika dan hukum kimiawi yang bekerja dalam tubuh setiap organisme sehingga setiap organisme dapat terbentuk, mula-mula sebagai embrio, lalu lahir dan tumbuh dan berkembang makin matang secara ragawi dan mental.

Poin kedua. Menurut saya, orang yang eling dan sehat mental adalah orang yang mau hidup maju terus, makin modern, menuju peradaban yang makin besar, dari peradaban Bumi menuju peradaban sistem Matahari. Dalam peradaban tahap dua lanjutan ini, Homo sapiens yang sudah merancang sendiri evolusinya akan mendiami bukan hanya planet Bumi, tapi juga planet-planet dan bulan-bulan lain dalam sistem Matahari dan membangun peradaban baru mereka di sana. Hanya orang yang mengalami masalah mental berat yang tak mau maju atau malah tak mau hidup lagi. Juga orang yang bodoh atau lahir dengan mental terbelakang.

Kemajuan peradaban realitanya berlangsung di dunia Barat modern, sebuah model dunia yang orang di dalamnya umumnya terbiasa berpikir saintifik. Sudah melek sains. Telah bebas dari buta sains. Dunia ini adalah dunia Amerika, Kanada, Eropa Barat, Australia, Jepang, Korsel, Rusia (pasca perang dingin) dan mungkin juga India dll negeri kecil di Asia. Juga Israel. Dengan Iran, saya tak yakin.

Barangsiapa ingin maju dan menjadi modern dan mau ambil bagian dalam pembangunan peradaban sistem Matahari strateginya hanya ini: bersahabat dengan Barat dan belajar dan mencari dan menguasai sains-tek Barat. Menjilat pantat Barat hanya dilakukan orang yang berjiwa kerdil dan bermental pengemis. Hanya akan menjadi budak Barat.

Alternatifnya yang kontras ya ini: Tetap saling membunuh dalam perang atas nama ideologi agama seperti yang kini sedang berlangsung di gurun-gurun pasir mulai dari negeri-negeri Arab di Timteng hingga Turki antar sesama negara Islam aliran-aliran berbeda. Perangnya perang agama. Ironinya, yang diperangi satu sama lain adalah agama yang sama, Islam itu sendiri. Barat intervensi? Tentu saja.

Anda pilih alternatif yang mana? Bawa budaya perang dan radikalisme agama Timteng ke NKRI yang akan memporakporandakan negeri luas ini? Atau mempertemukan budaya Indonesia nusantara yang saya lihat jauh lebih unggul dari budaya Arab dan mengawinkannya dengan modernitas supaya NKRI bisa ikut serta dalam membangun peradaban yang makin modern dan makin luas di luar planet Bumi sebagai peradaban sistem Matahari?

Kita semua perlu melahirkan Albert Einstein Indonesia. Martin Luther King Indonesia. Bill Gates Indonesia. Mark Zuckerberg Indonesia. Max Planck Indonesia. Fabiola Gianotti Indonesia. Peter Higgs Indonesia. Stephen Hawking Indonesia. Mozart Indonesia. Celine Dion Indonesia. Ray Kurzweil Indonesia. Michio Kaku Indonesia. Elon Musk Indonesia. Steven Allan Spielberg Indonesia. NASA dan ESA Indonesia.

Orang yang eling, cerdas dan tak taklid buta pada agama pasti akan pilih alternatif bersahabat dengan dan belajar dari Barat. Penjilat pantat itu bukan sahabat, tapi akan nantinya berubah jadi musuh yang akan menikam dari belakang.

Nah ini hal lain lagi. Ada juga orang yang menyatakan kepada saya dengan rasa cemas bahwa gerakan kaum LGBT yang marak dewasa ini sebetulnya punya tujuan jangka panjang untuk merebut kendali dunia dari tangan kalangan hetero yang kini sedang mengendalikan dunia. Katanya, para hetero yang anti-LGBT khawatir negeri-negeri berpenduduk besar seperti RRC dan Indonesia yang sekarang dipimpin para hetero nantinya akan jatuh ke tangan kalangan LGBT.

Apa tanggapan saya terhadap orang yang saya harus nilai sedang terkena neurotisisme paranoia itu? Dari semula mereka pakai alasan agama, kini mereka menambah alasan politik (konspirasi) dalam menyerang kaum LGBT. Berikut ini tanggapan saya lebih jauh.

LGBT di dunia ini minoritas dan mereka juga tak bisa membuat yang hetero jadi LGBT, karena jadi LGBT bukan pilihan sendiri, tapi berbasis genetis dan biologis. Pengaruh lingkungan bisa ada, tapi jauh lebih lemah dibandingkan sunatullah gen dan biologi secara umum.

Lagi pula tidak ada gerakan LGBT yang bertujuan mau mengubah seluruh warga masyarakat jadi LGBT. Yang sangat mungkin terjadi malah sebaliknya: kalangan hetero yang berideologi anti-LGBT punya banyak kekuatan untuk memusnahkan LGBT bak seekor gajah dengan tapak kakinya yang besar dengan tenang dan mudah menginjak seekor semut sampai lumat.

Di seluruh dunia, LGBT itu minoritas, juga di Indonesia. Maksimal di NKRI saya perkirakan hanya ada 0,5 persen saja yang LGBT dari 270 juta kepala, dan hanya sedikit yang sudah “coming out”, terang-terangan menyatakan diri kepada publik bahwa mereka ada. Sisanya tetap silent and hidden.

Jadi hanya orang yang paranoid saja yang berasumsi bahwa kaum LGBT akan merebut seluruh kendali dunia.

Lagipula, dengan sains-tek reproduktif baru, para homoseksual juga bisa punya anak sendiri yang satu gen dengan mereka lewat sel-sel kulit mereka yang dengan bantuan gen SOX17 dapat diubah menjadi sel-sel pendahulu sel sperma dan sel telur yang dapat dipertemukan untuk menghasilkan janin manusia yang sehat. Anak-anak dari orangtua LGBT tidak otomatis akan jadi LGBT juga. Ada banyak faktor lain yang berperan yang akan membentuk OS mereka.

Jadi paranoia semacam yang dibeberkan di atas sebaiknya disembuhkan dengan si penderitanya datang berobat pada psikiater. Bukan LGBT-nya yang dibawa ke psikiater untuk direparasi.

Daripada jilat pantat dan terkena paranoia, mari kita nikmati es krim saja dengan lidah kita. Nikmat dan fresh.

Jakarta, 28 Feb 2016
Ioanes Rakhmat 
Sang Sunyi