Showing posts with label Ouroboros. Show all posts
Showing posts with label Ouroboros. Show all posts

Friday, November 7, 2014

Mari kita pikirkan kembali apa penyebab big bang!




Mari kita memikirkan kembali tentang BIG BANG, dentuman besar, yang terjadi 13,8 milyar tahun lalu yang memulai ruang dan waktu dan segala hal lainnya dalam jagat raya kita. Lebih spesifik, mari kita renungi lagi apa penyebab big bang, atau ada apa sebelum big bang. Renungan kita ini tentu saja bukan sebuah renungan rohani, tetapi sebuah renungan yang dibangun berdasarkan pandangan-pandangan ilmu pengetahuan. Berikut ini betul-betul sebuah renungan ilmiah, bukan sebuah khotbah keagamaan. 

Kita dan segala hal lainnya dalam jagat raya kini ada di dalam dimensi ruang-waktu (spacetime dimension). Sebelum big bang, ruang-waktu tidak ada. Begitu juga, sebelum big bang tidak ada materi-energi. Segala sesuatu tidak ada. Dengan demikian, big bang diawali dengan ketiadaan, atau big bang muncul dari ketiadaan. Before the big bang there was nothing in the absolute sense of the word! 

Kalau ruang-waktu belum ada, maka “di luar ruang-waktu” otomatis juga tidak ada, sebab kata “di luar” mengasumsikan ada ruang-waktu juga. Begitu juga, kalau materi-energi tidak ada, maka “di luar materi-energi” juga tidak ada, sebab kata “di luar” mengasumsikan ada materi-energi juga. Jika sebelum big bang ruang-waktu dan materi-energi belum ada, berarti sebelum big bang yang ada adalah ketiadaan segala sesuatu, ketiadaan absolut, nothingness.

Ketiadaan berarti segala hal tidak ada, ruang-waktu tidak ada, materi-energi tidak ada, bahkan ketiadaan itu sendiri tidak ada. Ketiadaan absolut. Dari ketiadaan absolut inilah big bang terjadi, mendentum, tanpa ada penyebab eksternal apapun, sebab di dalam ketiadaan pastilah penyebab apapun tidak ada.

Jika anda bertanya, ada apa di dalam ketiadaan absolut, pertanyaan anda ini tanpa makna, sebab di dalam ketiadaan absolut segala hal memang tidak ada. Yang ada adalah emptiness. Yang ada adalah kekosongan, kehampaan. 

Pertanyaan, ada apa di dalam ketiadaan absolut, ada apa sebelum big bang, serupa dengan bertanya di mana pinggir Bumi terletak. Kita semua tahu, planet Bumi kita berbentuk bola, bulatan. Pada bulatan, tidak ada pinggir apapun. Mencari pinggir Bumi pasti sia-sia.

Tapi kaum agamawan teistik dengan yakin diri menyatakan bahwa sebelum big bang, yang ada hanyalah Tuhan. Tuhan inilah yang menciptakan big bang. Kata mereka juga dengan sangat yakin, meskipun Tuhan adalah sang pencipta big bang, Tuhan ada tanpa penyebab apapun; dia ada dengan sendirinya, tanpa asal-usul. Tentu saja keyakinan atau kepercayaan kaum agamawan teistik itu patut dihormati. Agama memang keyakinan, kepercayaan, yang diterima begitu saja tanpa para pemeluknya mau atau perlu membuktikan secara objektif.

Tetapi, sekarang kita sedang mengulas sains, bukan sedang membahas etika pergaulan sosial. Bagaimana sains menanggapi keyakinan kaum agamawan ini? Karena dalam alam ini bekerja, setelah jagat raya tercipta, hukum-hukum sebab-akibat, causal laws, sah jika orang bertanya, jika Tuhan itu sang pencipta, siapa atau apa yang telah menciptakan Tuhan. Kaum agamawan akan pasti menjawab, Tuhan sebagai sang pencipta big bang tidak punya asal-usul, tidak diciptakan, tidak diperanakkan, tapi ada dengan sendirinya. Memakai terminologi Aristoteles dan Thomas Aquinas, Tuhan itulah prima causa, sang penyebab awal yang tidak disebabkan penyebab sebelumnya, sang Mahatakbersebab, sang Mahapenyebab.

Jika Tuhan tidak punya asal-usul, tidak ada penyebab keberadaan-Nya, ini, dalam sains, sama dengan menyatakan bahwa Tuhan itu ketiadaan, Tuhan itu nothingness. Hanya ketiadaan yang tidak punya asal-usul. Adalah sesuatu yang meaningless, tidak bermakna, jika anda bertanya, dari mana ketiadaan berasal. Jadi, dengan jawaban para agamawan itu, Tuhan yang mereka yakini ada, sebagai being, ternyata adalah non-being.

Jadi, jika dinyatakan big bang berasal dari Tuhan, ini sama dengan menyatakan big bang berasal dari ketiadaan. Dus, kita dibawa kembali ke isu semula! Jadi, mengasalkan big bang dari Tuhan, tidak membuat kita maju dalam mencari jawab ada apa sebelum big bang atau apa penyebab big bang. Kita hanya jalan di tempat, terpatok mati pada soal yang sudah jelas: sebelum big bang, segala sesuatu tidak ada.

Jawaban lain berupa pandangan evolusioner siklikal mengenai asal-usul jagat raya atau asal-usul big bang. Terkait dengan pandangan bahwa jagat raya ini berevolusi siklikal, adalah Hukum Kedua Thermodinamik tentang entropi dalam semua sistem.

Jika dikenakan pada jagat raya, menurut Hukum Kedua Thermodinamik, semakin tua usia jagat raya kita ini, semakin besar entropi-nya sehingga akhirnya jagat raya akan chaotic, masuk ke keadaan kehilangan energi yang mengakibatkannya tidak tertata apik lagi.

Apa itu entropi dalam Hukum Kedua Thermodinamik? Istilah “entropi” diciptakan oleh fisikawan Jerman Rudolph Clausius tahun 1865. Entropi adalah potensi chaotic, potensi disorder, yang lambat laun makin besar dalam semua sistem sampai akhirnya sistem ini berantakan dan berhenti bekerja. 

Semua sistem, juga sistem biologis tubuh kita, juga jagat raya, tunduk pada Hukum Kedua Thermodinamik: potensi entropi makin meningkat seiring dengan perjalanan waktu. Waktu membuat segala sesuatu menjadi tua, lalu berantakan, dan akhirnya binasa, tidak lain karena bekerjanya entropi. Karena itu, entropi juga disebut sebagai the Arrow of Time. 

Entropi membuat persediaan energi panas (thermodinamik) yang membuat sebuah sistem bekerja lambat laun menyusut sampai akhirnya habis, berubah menjadi sesuatu yang lain. Pada titik entropi mencapai level maksimal, setiap sistem ambruk dan terperosok ke dalam kondisi kacau. Menyangkut diri kita semua, semakin usia kita bertambah, entropi dalam sistem biologis kita meningkat, sampai akhirnya sistem ini tidak jalan lagi lalu kita semua mati. Begitu juga dengan jagat raya. Mengingat kepunahan bintang-bintang, planet-planet dan galaksi-galaksi adalah fakta-fakta kosmik, maka peringkat entropi nol jelas tidak dimungkinkan untuk jagat raya.

Big bang telah melahirkan jagat raya, lalu jagat ini mengembang makin cepat dan entropinya makin meningkat. Salah satu penyebab jagat raya kita mengembang makin cepat adalah bekerjanya energi gelap atau dark energy (ada sebesar 68,3 % dari totalitas isi jagat raya) sebagai forsa antigravitasi. Akhirnya jagat raya kita akan mencapai titik jenuh pengembangannya, dan entropinya juga makin kuat lalu mencapai jumlah maksimum. 

Ketika itu terjadi, jagat raya berhenti mengembang, lalu collapse, tereduksi menjadi suatu kondisi lain, susut atau ciut lagi, masuk ke kondisi chaotic, semua unsurnya saling menabrak dalam suatu peristiwa kosmik mahadahsyat yang akan terjadi milyaran tahun yang akan datang. 

Dengan demikian, Hukum Kedua Thermodinamik mengharuskan energi gelap untuk akhirnya tidak ada lagi, berubah menjadi sesuatu yang lain yang kita kini masih belum dapat mengetahuinya, tapi mungkin sekali berubah menjadi materi (sesuai dengan persamaan Einstein E=mc2, dan hukum kekekalan materi-energi).

Ujung entropi hanya bisa menghasilkan sesuatu yang lain, yang material, hanya jika kita bisa membalikkan panah waktu: waktu bergerak mundur lagi sampai ketitik permulaan waktu. Kebanyakan fisikawan berpendapat, kita tidak bisa membuat waktu bergerak mundur. 

Nah, jagat raya yang berantakan sementara tereduksi dan mengerucut kembali, akhirnya akan bermuara pada suatu singularitas baru. Metaforanya adalah sebuah balon yang sudah mengembang besar ciut atau kempes kembali, sampai akhirnya kembali menjadi segumpal karet kecil saja. 

Jadi, sebetulnya mengembangnya jagat raya hingga saat ini dan akan terus begitu ke depan untuk waktu yang sangat panjang, menjadi suatu bukti bahwa big bang itu sebuah fakta kosmik, yang berawal dari sebuah singularitas. 

Stephen Hawking menyatakan bahwa “jika anda mundur cukup jauh dalam waktu, jagat raya awalnya sangat kecil, sebesar Ukuran Planck, yakni satu per milyar-trilyun-trilyun centimeter, suatu ukuran yang mengharuskan pemakaian teori quantum.”/1/ Tentang ini, fisikawan teoretis kebangsaan Amerika yang memiliki keahlian dalam teori dawai (string theory), Brian Greene, dalam bukunya The Elegant Universe, menyatakan hal berikut ini:
“Di dalam inti sebuah lubang hitam, suatu massa yang sangat besar menyusut sampai ke ukuran mikroskopis. Pada saat big bang, keseluruhan jagat raya muncul dari sebuah titik kecil mikroskopis yang ukurannya membuat sebutir pasir kelihatan luar biasa besar. Inilah kawasan-kawasan yang sangat kecil namun bermassa luar biasa besar; dengan demikian, mekanika quantum [termasuk gravitasi quantum] dan relativitas umum sekaligus diperlukan untuk bisa menjelaskannya.”/2/  
Proses tereduksi atau kempes kembalinya jagat raya sampai menjadi sebuah singularitas tentu saja memakan waktu milyaran tahun. Tapi apa itu singularitas? Singularitas adalah suatu titik sangat kecil tanpa batas sekaligus memiliki densitas yang juga tidak terbatas, dan berenergi luar biasa besar dan sangat panas. Singularitas berukuran tidak lebih besar dari sebuah proton, tapi sangat massif dan berenergi sangat besar, berada dalam kawasan mekanika quantum. Singularitas inilah yang menjadi partikel inti dalam dunia subatomik yang akan mendentum kembali sebagai sebuah big bang baru. Tanpa singularitas yang mendentum ini, jagat raya tidak akan ada, kehidupan juga tidak akan tercipta, anda dan saya juga tidak akan pernah ada. Dentuman ini muncul tentu saja lewat reaksi fusi nuklir, yang prosesnya belum kita pahami penuh sekarang ini, tapi pasti melibatkan gabungan relativitas umum, gravitasi quantum dan berbagai properti lain mekanika quantum. 

Saat singularitas yang ukurannya tidak lebih besar dari proton ini mendentum, energi dentumannya luar biasa besar. Mau tahu berapa besar? Besarnya energi big bang biasa disebut sebagai Energi Planck, yakni sebesar 10 pangkat 19 milyar elektron volt (= 1019 milyar e.v.). Michio Kaku menulis, “Energi yang luar biasa besar ini terlepas hanya pada momen penciptaan jagat raya itu sendiri.”/3/ Susah membayangkan besarnya, bukan? 

Baiklah kita berpaling ke Stephen Hawking. Kata Hawking, kekuatan dentuman big bang setara dengan sebuah koin berdiameter 1 cm yang meledak sampai mencapai sepuluh juta kali diameter galaksi Bima Sakti./4/ Dalam hitungan serpihan kecil dari satu per milyar detik (= satu per nano-detik) pertama setelah big bang, dentuman ini meluas sampai mencapai kawasan 10 juta kali diameter Bima Sakti.

Berapa lebar garis tengah Bima Sakti? Lebar banget: 100.000 tahun cahaya. Artinya: jarak yang dicapai cahaya setelah bergerak merambat selama 100.000 tahun. Jadi, dalam serpihan kecil nano-detik pertama, big bang membentuk kawasan seluas 10.000.000 x 100.000 tahun cahaya = 1 trilyun tahun cahaya. Jarak 1 trilyun tahun cahaya = 1 trilyun x 365 x 24 x 3600 x 300 juta meter. Itulah panjang jagat raya dalam serpihan kecil nano-detik pertama setelah big bang. Pada kurun ini, jagat raya masih homogen dan belum terstruktur dan terdiversifikasi.

Saat dentuman big bang melesat dan mencapai kawasan yang sangat luas itu dalam serpihan kecil nano-detik pertama, oleh para fisikawan dinamakan inflasi. Belum lama ini lewat teleskop Background Imaging of Cosmic Extragalactic Polarization (BICEP2) di Kutub Selatan, para astronom menemukan bukti berupa riak gelombang gravitasional yang dipancarkan big bang saat inflasi./5/ 

Sementara menunggu kajian gabungan antara data BICEP2 ini dengan data langit yang diperoleh dari wahana antariksa Planck (yang diluncurkan 14 Mei 2009) untuk mencapai suatu kesimpulan yang kokoh, kita dapat katakan inflasi pada saatnya tidak akan tersangkali sebagai fakta sains! Yang masih kita perlukan adalah sebuah instrumen yang sepenuhnya dapat diandalkan untuk dapat memindai gelombang gravitasional ini. Astrofisikawan dari Universitas Sussex, Inggris, Peter Coles, misalnya, menyatakan bahwa  
“Suatu analisis gabungan antara BICEP2 dan data Planck akan bermanfaat untuk melengkapi penelitian dengan liputan frekuensi yang jauh lebih baik yang ada pada wahana Planck dan dengan kemampuan Planck memetakan seluruh langit versus sensitivitas yang lebih tinggi dari BICEP2. Tapi tetaplah mungkin bahwa sebuah sinyal gelombang gravitasional primordial [dari inflasi setelah big bang] dapat diekstrasi dari data gabungan keduanya. Tentu ini akan sulit. Jika saya boleh tebak, mungkin akhirnya gelombang ini tidak akan terdeteksi. Diperlukan suatu misi satelit yang terfokus hanya pada penyelidikan gelombang gravitasional ini jika kita ingin mendapatkan sensitivitas yang dibutuhkan dalam memindai langit dan kisaran gelombang yang bervariasi.”/6/ 
Tetapi, rupanya dunia sains masih harus menunggu lagi untuk pembuktian ini betul-betul kokoh dan solid. Baru saja, 30 Januari 2015, berdasarkan data baru yang merupakan gabungan data dari wahana Planck dan data BICEP2, diumumkan dengan resmi bahwa sinyal gelombang gravitasional yang terdeteksi ini ternyata bukan berasal dari inflasi pada era jagat raya sangat dini melainkan berasal dari debu-debu galaktik dalam Bima Sakti yang juga memancarkan cahaya yang terpolarisasi. 

Kosmolog dari Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, USA, Marc Kamionkowski, menyatakan, “Ke depan ini, ada jalur yang jelas yang harus diambil. Jika kita melakukan lebih banyak pengukuran dalam beranekaragam frekuensi terhadap sinyal-sinyal yang datang, kita akan dapat memisahkan dengan persis sinyal-sinyal primordial dari sinyal-sinyal yang berasal dari debu-debu galaktik.”/7/

Sudah pasti anda perlu tahu bahwa kalaupun inflasi nanti sudah terkonfirmasi dengan meyakinkan, forsa-forsa apa yang bekerja sehingga inflasi terjadi, masih akan merupakan misteri bagi para saintis.

Setelah inflasi, masih diperlukan waktu cukup panjang (dalam hitungan manusia), yakni 380.000 tahun setelah big bang, untuk jagat raya mulai terdiversifikasi dan terstruktur. Pada kurun inilah radiasi cahaya pertama dipancarkan jagat raya, dan radiasi ini sudah tertangkap dan terkonfirmasi lewat instrumen-instrumen oleh para saintis./8/ Radiasi inilah yang dinamakan Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR) yang juga membuktikan bahwa big bang itu suatu fakta ilmiah. 

Ketika elektron-elektron yang semula bebas sudah cukup dingin, elektron-elektron ini dapat bergabung dengan proton-proton, alhasil jagat raya menjadi transparan terhadap cahaya, dan CMBR pun mulai bercahaya. Stephen Hawking berseloroh cukup lucu, katanya: “Radiasi yang ditinggalkan big bang sama dengan radiasi di dalam oven microwave anda, tapi dengan kekuatan yang jauh lebih lemah. Radiasi ini dapat memanaskan pizza anda hanya sampai minus 271,3 derajat Celcius, tapi tidak terlalu baik untuk melunakkan pizza anda yang membeku, apalagi untuk memasaknya.”

Jauh setelah CMBR, 400 juta tahun sesudah big bang, ketika awan-awan gas mulai mendingin lalu menyatu, barulah bintang-bintang pertama terbentuk, selanjutnya galaksi-galaksi pertama dan gugus-gugus galaksi juga tercipta. Seterusnya jagat raya mengembang. Setelah mengembang dengan kekuatan fantastis dalam inflasi yang terjadi dalam serpihan kecil nano-detik pertama big bang, jagat raya kini sudah diketahui terus mengembang dengan makin cepat, tapi dengan kekuatan dan kecepatan pengembangan yang berada jauh di bawah inflasi.

Energi dentuman big bang tentu akan makin melemah, tapi jagat raya kini terus terpantau mengembang makin cepat. Ini fakta. Kenapa? Bukankah karena forsa gravitasi dari semua materi yang telah tercipta sejak big bang, termasuk forsa gravitasi materi gelap atau dark matter (26,8 % dari total isi jagat raya), kecepatan pengembangan jagat raya mustinya akan makin melambat? Sudah ditulis di atas, salah satu penyebab akselerasi pengembangan jagat raya adalah bekerjanya energi gelap.

Nah, karena entropi dan jagat raya yang tereduksi, menciut dan luruh kembali dalam suatu situasi yang chaotic, singularitas baru akan terbentuk, yang kemudian, ketika saatnya tiba, mendentum kembali dengan sangat dahsyat. Kejadian ini akan terus berulang, membentuk evolusi jagat raya secara siklikal, tanpa akhir dan tanpa awal. Dari sebuah singularitas partikel quantum, kembali menjadi sebuah singularitas partikel quantum.



Ouroboros (Yunani: οὐροβόρος ὄφις, “ouroboros ofis”, artinya: ular/naga yang memakan ekornya sendiri) adalah simbol segala sesuatu yang berevolusi siklikal, seperti halnya dengan evolusi siklikal jagat raya. Simbol ini berasal dari Mesir kuno.

Apakah jagat raya yang berevolusi siklikal mengakhiri pertanyaan ada apa sebelum big bang atau apa yang menyebabkan big bang? Tidak juga. 

Pada satu segi, evolusi siklikal jagat raya bisa menjawab pertanyaan apa yang menyebabkan big bang: setiap big bang berasal dari big bang sebelumnya. Saat jagat raya yang terbentuk lewat big bang kembali lagi menjadi singularitas, singularitas ini menyimpan info dari big bang sebelumnya. Evolusi siklikal jagat raya melibatkan destruksi (dus, diskontinuitas) tapi sekaligus juga kontinuitas. Jadi, saat singularitas mendentum sebagai big bang, kemudian memunculkan jagat raya, info dari jagat raya sebelumnya tetap terpelihara. Tanpa kontinuitas, kita tidak menyebutnya jagat raya yang berevolusi siklikal. 


Dalam kontinuitas jagat raya yang berevolusi siklikal, secara teoretis kita harus menyatakan tidak ada sesuatupun yang hilang, semuanya terpelihara dalam apa yang dapat disebut “info quantum”. Hukum kekekalan materi-energi hanya berlaku setelah big bang, dan hanya jika ada kontinuitas dari big bang yang satu ke big bang yang lain. Hukum kekekalan energi sendiri mengharuskan jagat-jagat raya yang berevolusi siklikal, tanpa akhir.

Tapi jagat yang berevolusi siklikal tetap menghadapi sebuah pertanyaan yang harus dijawab: big bang yang pertama dalam siklus itu datangnya dari mana? Apa penyebabnya? Suatu kontinuum linier atau kontinuum siklikal, tetap berhadapan dengan hukum sebab-akibat: Apa yang memulainya? Di mana dimulai? Untuk membuat sebuah garis lurus atau sebuah lingkaran, anda harus mulai dengan sebuah titik awal. Tidak bisa garis lurus atau lingkaran itu ada begitu saja./9/

Jagat raya yang siklikal juga harus dimulai oleh sebuah big bang, meskipun big bang ini nanti akan disusul big bang lain tidak putus-putusnya. Jadi kita balik lagi ke posisi semula: karena ruang-waktu baru ada lewat big bang, maka sebelum big bang tidak ada ruang-waktu. Karena sebelum big bang tidak ada ruang-waktu, maka tidak ada pula “di luar” ruang waktu. Karena sebelum big bang tidak ada materi-energi, maka tidak ada pula “di luar” materi-energi. Karena dunia natural tidak ada, maka “di luar” dunia natural juga tidak ada. Jika ruang-waktu tidak ada, materi-energi tidak ada, dan dunia natural tidak ada, maka yang ada adalah ketiadaan absolut, kekosongan mutlak.

Jika sebelum big bang yang ada adalah kekosongan absolut, ketiadaan mutlak, bagaimana big bang bisa terjadi? Apa yang memulai big bang? Sudah diargumentasikan di atas, teologi tidak membantu menjawab pertanyaan kenapa dari kekosongan atau ketiadaan, big bang bisa terjadi.

Ternyata jawabannya disediakan oleh fisika quantum: mekanika quantum adalah asal-usul big bang. Tentang ini, perhatikan apa yang dinyatakan oleh orang tercerdas (setelah Albert Einstein) dalam zaman kita, Stephen Hawking, berikut ini.  
“Anda memasuki suatu dunia di mana adalah mungkin untuk menjelaskan sesuatu itu bisa ada dari ketiadaan, setidaknya untuk waktu yang pendek, karena mekanika quantum…. Jagat raya semula dulu sangat kecil, kurang dari besarnya sebuah proton. Ini berarti jagat raya dapat begitu saja ada tanpa melanggar hukum-hukum fisika yang sudah diketahui.”/10/ 
Dalam dunia mekanika quantum, dikenal apa yang dinamakan “vacuum state”, atau ditulis pendek saja “vacuum”. Vakum adalah “suatu keadaan di mana semua properti fisikal sebetulnya sama dengan zero.”/11/ Dalam kondisi vakum, energi bisa ada dalam jumlah yang terendah sejauh dimungkinkan (“a zero-point energy”). 

Secara figuratif para fisikawan menyatakan bahwa dalam ruang vakum 1 cm3, masih bisa ada energi dalam jumlah 1 per trilyun erg. Karena energi dalam vakum ini sangat kecil (apalagi dalam kevakuman dalam atom-atom), kita dapat menyatakan energinya nyaris nol. 

Secara keseluruhan, keadaan vakum disebut sebagai “a zero-point quantum field”. Kendatipun demikian, dari medan quantum yang “zero-point” ini terjadi apa yang dinamakan fluktuasi vakum (= “quantum fluctuations”), yakni muncul dan lenyapnya partikel-partikel (dinamakan partikel-partikel virtual) dalam waktu sangat pendek dan secara spontan, tanpa asal-usul, tanpa sebab-musabab sebelumnya, tidak deterministik, tidak terprediksi./12/  

Dalam bab 5 buku mereka The Grand Design, Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow menggambarkan fluktuasi vakum sebagai pasangan-pasangan partikel yang muncul bersamaan pada suatu waktu, bergerak terpisah, lalu menyatu lagi dan saling melenyapkan. Partikel-partikel ini dinamakan partikel-partikel virtual. Tidak seperti partikel nyata, partikel virtual tidak dapat diobservasi langsung dengan sebuah detektor partikel. Namun, efek-efek tidak langsung dari partikel virtual, seperti perubahan kecil di dalam energi orbit elektron, dapat diukur, dan sejalan dengan prediksi-prediksi teoretis dengan tingkat akurasi yang luar biasa. 

Masalahnya adalah bahwa partikel-partikel virtual memiliki energi, dan karena pasangan partikel-partikel virtual ini ada dalam jumlah tidak terbatas, partikel-partikel ini memiliki jumlah energi tanpa batas. Menurut teori relativitas umum, ini berarti partikel-partikel virtual dapat melengkungkan jagat raya sampai ke suatu ukuran kecil tidak terbatas, yang jelas tampak oleh kita hal ini tidak terjadi./13/ 

Jadi, dalam mekanika quantum, ihwal munculnya something from nothing adalah suatu fakta yang dapat diamati sekalipun lewat efek-efeknya yang tidak langsung. Something-from-nothing dalam arti partikel-partikel virtual dalam dunia vakum quantum muncul begitu saja dari ketiadaan, lalu menghilang kembali ke dalam ketiadaan, lalu muncul lagi, tidak terprediksi dan tanpa asal-usul. Tentu saja fakta sains ini weird, mengherankan, tidak masuk akal sehat. 

Ya memang, dalam sains yang sudah sangat maju kita temukan banyak hal yang tidak masuk akal sehat, tetapi tetap konsisten dengan hukum-hukum sains yang sudah diketahui. Dalam dunia sains, bukan akal sehat yang harus diperhatikan, tetapi akal ilmiah.

Jadi, jika anda berbicara tentang kekosongan atau ketiadaan, atau lebih persis dalam konteks fisika quantum: kevakuman, anda sebetulnya masuk ke dunia mekanika quantum. Karena mekanika quantum jadi objek kajian fisika, maka tentu saja dunia quantum ada, real ada, bisa diamati dan dipelajari. Tapi ketika dunia mekanika quantum dipelajari dan diamati, para fisikawan sekaligus menemukan dunia yang tidak ada, kosong, kondisi vakum. 

Kalau ada partikel-partikel virtual yang muncul dari ketiadaan meskipun berada dalam dunia quantum, maka kita dapat menyatakan bahwa dalam dunia quantum ketiadaan itu ada. Jadi, dunia quantum itu ada sekaligus tidak ada. Dunia quantum memang weird, mengherankan dan sukar dipahami: suatu dunia yang ada sekaligus tidak ada. Dalam dunia ini, partikel-partikel virtual ada, tapi datang dari, dan pergi ke, ketiadaan.

Dalam dunia quantum, partikel-partikel menampakkan properti sebagai materi dan sebagai gelombang. Aspek gelombang ini dapat dilihat sebagai aspek non-matter, aspek bukan-materi. Karena ada aspek non-matter ini, gerak-gerik partikel-partikel nyaris tidak terprediksi, khususnya partikel-partikel virtual, sepertinya partikel-partikel ini memiliki “kehendak bebas” dan “(proto-) kesadaran” sendiri sehingga semua perilaku mereka tidak tunduk pada determinisme saintifik yang muncul dari hukum-hukum sebab-akibat. Tentang ini, perhatikan apa yang dikatakan dua orang saintis besar berikut ini. 

Fisikawan Jerman yang memenangkan Hadiah Nobel fisika tahun 1918, Max (Karl Ernst Ludwig) Planck (1858-1947), sebagai salah seorang pendiri teori quantum, di tahun 1944 menyatakan bahwa 
“segala materi berasal-usul dan ada hanya karena suatu daya.... Kita harus menganggap di belakang daya ini ada Pikiran (Mind) yang sadar dan cerdas. Pikiran adalah matriks segala materi”./14/  
Sebelumnya, di tahun 1931, Planck menulis, 
“Aku memandang kesadaran sebagai sesuatu yang mendasar. Aku memandang materi berasal dari kesadaran. Kita tidak dapat mengetahui apa yang ada di balik kesadaran. Segala sesuatu yang kita bicarakan, segala sesuatu yang kita pandang ada, memerlukan dalil adanya kesadaran.”/15/  
Begitu juga, fisikawan teoretis Amerika David J. Bohm (1917-1992) dalam artikelnya “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter” menyatakan bahwa  
“Hal-hal mental dan hal-hal material adalah dua sisi dari satu proses yang menyeluruh yang (seperti bentuk dan isi) terpisah hanya di dalam pikiran dan bukan di dalam realitas yang sebenarnya. Sesungguhnya, ada satu energi yang menjadi basis dari semua realitas.... Tak pernah ada pemisahan real apapun antara sisi mental dan sisi material pada tahap apapun dari keseluruhan prosesnya.”/16/  
Tentu saja Planck dan Bohm tidak berpendapat bahwa daya, pikiran, kesadaran, kecerdasan, sisi mental, yang mereka sebut itu berada dalam suatu dunia supernatural; mereka fisikawan, bukan agamawan. 

Mereka dan banyak lagi jelas adalah para ilmuwan yang mengetahui betul betapa weird-nya dunia quantum; mereka jelas bukan para pegiat keagamaan dalam gerakan New Age masa kini, Deepak Chopra salah satunya. 

Nah, tempat yang tepat untuk hal-hal kognitif atau hal-hal mental yang mereka sebut itu hanyalah dunia subatomik, persisnya aspek gelombang dari partikel-partikel quantum. Perlu bagi anda untuk juga mengetahui apa pendapat seorang saintis besar lainnya, yang pada masanya masih meragukan fisika quantum. 

Albert Einstein yang dengan kokoh memegang determinisme saintifik (bahwa tidak ada kehendak bebas, sebab segala sesuatu sudah diatur menurut hukum sebab-akibat, causal laws), luar biasanya masih menyatakan ada roh yang bebas yang bekerja dalam jaga raya dan menyatakan diri di dalam hukum-hukum alam. 

Bagi Einstein, jika semua agama dan semua bentuk mistisisme dibuang, sains empiris seperti fisika masih akan melahirkan perasaan keagamaan yang lebih tinggi, lebih mempesona, yang more advanced, yang sublimer. Dalam jawabannya (24 Januari 1936) terhadap pertanyaan seorang anak perempuan kelas enam sekolah Minggu Gereja Riverside, Amerika, yang bernama Phyllis, apakah sebagai seorang saintis Einstein berdoa (19 Januari 1936), sang saintis ini menulis demikian:
“Para saintis percaya bahwa setiap peristiwa, termasuk berbagai urusan manusia, terjadi karena hukum-hukum alam. Karena itu, seorang saintis tidak dapat cenderung percaya bahwa jalannya peristiwa-peristiwa dapat dipengaruhi oleh doa, yakni oleh suatu permintaan yang ditujukan ke suatu Oknum Supernatural. Tapi kita harus akui bahwa pengetahuan kita yang sebenarnya mengenai daya-daya kekuatan alam ini tidak sempurna, sehingga pada akhirnya kepercayaan pada keberadaan suatu roh fundamental yang paling menentukan berpijak pada semacam iman. Kepercayaan ini dipegang banyak orang di mana-mana, bahkan ketika ilmu pengetahuan sudah maju seperti sekarang ini. Tetapi juga, setiap orang yang terlibat dengan serius dalam usaha-usaha mencari ilmu pengetahuan menjadi yakin bahwa suatu roh menyatakan diri di dalam hukum-hukum alam semesta. Roh ini jauh lebih tinggi dibandingkan roh manusia. Dengan demikian, pengejaran ilmu pengetahuan juga membawa orang ke suatu perasaan religius yang istimewa, yang tentu saja sangat berbeda dari religiositas seseorang yang tidak berpengetahuan.”/17/
Prinsip Ketidakpastian Heisenberg (the Uncertainty Principle of Heisenberg) perlu juga pada kesempatan ini dirujuk. Prinsip ini menyatakan bahwa karena posisi (= aspek partikel sebuah elektron) dan momentum (= aspek gelombang sebuah elektron) dari sebuah partikel tidak dapat diukur serentak pada waktu yang sama dengan tingkat presisi yang tanpa batas, maka gerak suatu partikel pada dasarnya tidak dapat ditentukan atau diprediksi atau diidentifikasi dengan persis. 

Sementara sedang menyusun fondasi-fondasi matematis bagi mekanika quantum di Niels Bohr Institute di Kopenhagen pada 1927, Werner Heisenberg sendiri menyatakan bahwa “semakin persis posisi suatu partikel diukur, semakin kurang persis momentumnya yang dapat kita ketahui, begitu juga sebaliknya.”/18/ 

Menurut Alok Jha, “Prinsip Ketidakpastian adalah salah satu ide dalam fisika yang paling terkenal (dan mungkin yang paling sering disalahpahami). Prinsip ini menyatakan kepada kita bahwa ada suatu kekaburan atau ketidakjelasan di dalam alam, suatu batas fundamental terhadap apa yang dapat kita ketahui mengenai kelakuan partikel-partikel quantum dan, karena itu, mengenai skala-skala terkecil dari alam.”/19/  

Nah, sebelumnya sudah saya katakan, singularitas yang mendentum sebagai big bang tidak lebih besar dari sebuah proton. Singularitas yang mendentum sebagai big bang adalah sebuah peristiwa mekanika quantum, yang terjadi dari ketiadaan, dari kevakuman quantum, tanpa penyebab sebelumnya. Lewat fluktuasi quantum, big bang menciptakan jagat raya dalam serpihan kecil nano-detik pertama setelah big bang, yang selanjutnya memunculkan inflasi. 

Sampai inflasi ini, jagat raya yang terbentuk masih homogen dan tidak berstruktur. Fluktuasi quantum yang terus-menerus terjadi mendahului inflasi memungkinkan jagat raya bayi yang homogen dan belum terstruktur ini terbentuk. Bahkan dimungkinkan juga, fluktuasi quantum primordial tidak melahirkan hanya satu jagat raya (konsep universe), melainkan banyak jagat raya (konsep multiverse), tidak hanya dimensi ruangwaktu yang kita kenal, tetapi juga dimensi-dimensi lain yang keseluruhannya dapat mencapai 26 dimensi sebagaimana diprediksi oleh teori dawai (string theory). 

Para fisikawan menciptakan istilah “Dinding Planck” (“Planck Wall”) atau “Waktu Planck” (“Planck Time”) untuk menunjuk ke kurun 10 pangkat minus 43 (= 10-43) detik setelah big bang. Kurun pembatas yang disebut “Dinding/Waktu Planck” ini menurut mereka sulit ditembus untuk tiba ke kurun T=Zero, yakni kurun persis big bang sendiri. Inflasi yang sudah digambarkan di atas terjadi sebelum kurun “Dinding/Waktu Planck”, yang terjadi dalam serpihan sangat kecil nanodetik pertama setelah T=Zero. Pada saat Waktu Planck ini, temperatur dalam dentuman big bang besarnya 1032 Kelvin, yakni kurang lebih 10 trilyun trilyun kali lebih panas dibandingkan temperatur inti bintang Matahari kita.  

Sudah saya tulis di atas, kendatipun hingga saat ini para fisikawan dan astronom belum  berhasil menemukan riak gelombang gravitasional dari inflasi, penelitian-penelitian yang lebih komprehensif di masa depan akan dapat menemukannya. Jadi sebetulnya “Dinding Planck” suatu saat akan berhasil ditembus dan kita akan sudah bisa masuk ke kurun inflasi yang lebih awal lagi after the big bang.

Kalau nanti inflasi sudah berhasil dibuktikan ada meskipun forsa-forsa yang menimbulkannya masih misterius bagi kita, saya optimis tak lama lagi di masa depan kita akan juga mendapat tambahan banyak data sains tentang big bang, khususnya tentang kurun T=Zero. Kurun “Dinding/Waktu Planck” yang harus ditembus itu kurun 10 pangkat minus 43 detik, yaitu kurun satu per 10 pangkat 43 detik. Kurun ini ada, walau terlalu singkat. Bagi bayangan kita, kurun ini sangat unimaginable. Tapi, ajaibnya, kurun T=Zero terasa lebih mudah dibayangkan.

Jika inflasi yang terjadi sebelum “Dinding Planck” sudah bisa dibuktikan ada, tidak lama lagi, semoga, kita akan bisa juga tiba di T=Zero sendiri, waktu persis big bang sendiri. Kita akan bisa memandang big bang sendiri, dan akan terlihat lebih menakjubkan lagi bagaimana mekanika quantum bekerja di awal paling awal dunia.



Apakah bisa Tuhan apapun menyundut sumbu bom big bang?


Yang sudah kita ketahui adalah big bang terjadi dalam ketiadaan ruangwaktu, ketiadaan materi-energi, ketiadaan dunia natural. Dari mekanika quantum, kita tahu big bang terjadi dari kevakuman quantum, yang disusul fluktuasi quantum di mana partikel-partikel virtual terus bermunculan secara spontan dari ketiadaan, tanpa penyebab eksternal adikodrati apapun.

Kata Hawking, jika waktu dan ruang belum ada, maka Tuhan apapun tidak akan menemukan lokasi dan waktu untuk dia memulai penciptaan dunia. Alhasil, kata Hawking, Tuhan tidak merupakan faktor sama sekali dalam terciptanya jagat raya lewat big bang. Tuhan yang tidak punya lokasi dan waktu, kata Hawking, sama dengan Tuhan yang tidak ada. Kreasionisme gagal total.

Saya sudah argumentasikan di atas, memasukkan sosok Tuhan sebagai penyundut sumbu bom big bang tidak menyelesaikan masalah apapun. Tuhan yang tidak punya asal-usul, dalam sains, ya sama dengan ketiadaan, sebab hanya ketiadaan yang tidak punya asal-usul. Tapi Tuhan sebagai ketiadaan pasti tidak akan mau disamakan oleh para agamawan, apalagi oleh para fisikawan dan kosmolog, dengan dunia mekanika quantum. Fisika ya fisika. Agama ya agama. 

Tetapi, bisa jadi bagi Baruch de Spinoza dan Albert Einstein yang memandang Tuhan sebagai hukum-hukum kosmologis yang telah menciptakan jaga raya yang strukturnya sangat mempesona, menyamakan Tuhan dengan mekanika quantum sama sekali bukan persoalan. Tetapi Einstein mungkin juga masih berkeberatan, sebab bagi sang saintis ini determinisme saintifik berlaku mutlak, sementara dalam fisika quantum determinisme ini kelihatan tidak berlaku. 

Kata Einstein, Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan alam ini; maksudnya: segala sesuatu yang terjadi dalam alam ini bersifat deterministik, tidak random, tidak bebas. Tapi menurut Hawking, Einstein salah, sebab sudah terobservasi Tuhan (sebut saja Tuhan Ketiadaan, nothingness God) ternyata sedang bermain dadu di dalam seluruh jagat raya, bahkan kerap kali sang Tuhan malah menyembunyikan dadunya. Dalam hal ini, Hawking mengacu ke fisika quantum. 

Akhir kata, saya bertanya, siapkah anda menerima jika para ilmuwan (bukan para agamawan) menyatakan, dengan keraguan kecil, bahwa jagat raya kita memiliki bukan hanya materi, tapi juga hal non-materi, yakni kesadaran, pikiran, dan kecerdasan, dan karena itu mampu menciptakan kehidupan lewat hukum-hukum fisika, kimia dan biologi? Terserah anda.


Jakarta, 7 November 2014
by Ioanes Rakhmat

○ Dibaca lagi 24 Juni 2023

Catatan-catatan

/1/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010), hlm. 131.  

/2/ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for Ultimate Theory (New York: W.W. Norton and Company, 1999, 2003, edisi pertama), hlm. 4. 

/3/ Michio Kaku, Hyperspace: A Scientific Odyssey Through Parallel Universes, Time Warps, and The Tenth Dimension (New York: Anchor Books, 1994), hlm. 190.

/4/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design, hlm. 129. 

/5/ Lihat reportase Clara Moskowitz, “Gravitational Waves from Big Bang Detected”, Scientific American, 17 March 2014, pada http://www.scientificamerican.com/article/gravity-waves-cmb-b-mode-polarization/. Lihat laporan lengkapnya “Cosmic Inflation and Big Bang Ripples”, Scientific American, 17 March 2014, pada http://www.scientificamerican.com/report/cosmic-inflation-and-big-bang-ripples1/.

/6/ Lihat Tushna Commissariat, “BICEP2 gravitational wave result bites the dust thanks to new Planck data”, Physicsworld.com, 22 September 2014, pada http://physicsworld.com/cws/article/news/2014/sep/22/bicep2-gravitational-wave-result-bites-the-dust-thanks-to-new-planck-data. 

/7/ Lihat Ron Cowen, “Gravitational waves discovery now officially dead”, Nature News, 30 January 2015, pada http://www.nature.com/news/gravitational-waves-discovery-now-officially-dead-1.16830?WT.mc_id=TWT_NatureNews.  

/8/ Pertama kali CMBR ditemukan secara kebetulan di tahun 1965 oleh dua orang saintis dari Bell Labs. Kemudian, variasi-variasi temperatur CMBR yang sangat kecil itu dapat ditemukan tahun 1992 oleh satelit COBE milik NASA. Selanjutnya pengukuran diadakan lagi oleh satelit pengganti yang dinamakan satelit WMAP yang diluncurkan tahun 2001.

/9/ Teori Dawai (String Theory) memberi penjelasan lain tentang asal-usul jagat raya kita. Menurut teori ini, mungkin dua jagat raya bertabrakan, dan dari tabrakan ini terciptalah jagat raya kita. Atau mungkin jagat raya kita asalnya adalah sebuah tali pusat yang menempel pada sebuah jagat raya lain, yang terpotong lalu potongan tali pusat ini (sebuah worm hole) membentuk jagat raya kita. Tetapi, hemat saya, penjelasan teori dawai ini tetap meninggalkan sebuah pertanyaan yang masih harus dijawab: Dari mana datangnya jagat-jagat raya lain, yang menjadi asal-usul jagat raya kita sendiri? Pertanyaan ini tetap sah sekalipun, misalnya, hukum-hukum fisika yang berlaku di jagat-jagat raya lain itu berbeda dari hukum-hukum fisika yang bekerja dalam jagat raya kita.

/10/ Lihat pemaparan Stephen Hawking dalam video Discovery Channel Curiosity SO1EO1, Did God Create the Universe? Compelling Explanations, tayangan perdana 7 Agustus 2011, pada http://youtu.be/fmYlbqtAYOQ.

/11/ Lihat P. W. Milonni, The Quantum Vacuum: An Introduction to Quantum Electrodynamics (Boston: Academic Press, 1994), hlm. 239.

/12/ Lihat Milton K. Munitz, Cosmic Understanding: Philosophy and Science of the Universe (Princeton: Princeton University Press, 1990), hlm. 132. Lihat juga “Focus: The Force of Empty Space” , Physical Review Focus 2, 28 (1998) DOI: 10.1103/PhysRevFocus.2.28 (3 December 1998), pada http://physics.aps.org/story/v2/st28.  

/13/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design, hlm. 113-114.

/14/ Max Planck menyatakan hal ini dalam pidatonya yang disampaikan di Florence, Italia, 1944, yang berjudul Das Wessen der Materie (“Hakikat Materi”). Lihat Archiv zur Geschichte der Max-Planck-Gesselschaft, Abt. Va, Rep. 11 Planck, Nr. 1797. 

/15/ Pernyataan Planck ini dikutip dalam The Observer, 25 Januari 1931. 

/16/ David Bohm, “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter”, The Journal of the American Society for Psychical Research, Vol. 80, No. 2 (April 1986), hlm. 129 [113-135].

/17/ Lihat reportase “‘Dear Einstein, Do Scientists Pray?’ Asks Sixth Grader―See His Amazing Response”, HuffingtonPost 30 January 2014, pada http://www.huffingtonpost.com/2014/01/30/einstein-scientists-pray_n_4697814.html. Kata-kata penting saya buat berhuruf miring. Mengenai surat-menyurat antara Einstein dan anak-anak, lihat Alice Calaprice, ed., Dear Professor Einstein: Albert Einstein’s Letters to and from Children. Pengantar oleh Evelyn Einstein (Amherst, N.Y.: Prometheus Books, 2002).

/18/ Werner Heisenberg, “Über den anschaulichen Inhalt der quantentheorietischen Kinematik und Mechanik”, Zeitschrift für Physik 43 (3-4) 1927, hlm. 172-178. Terjemahan Inggris artikel ini (“On the Perceptual Content of Quantum Theoretical Kinematics and Mechanics.”) tersedia di John A. Wheeler and Wojciech Zurek, eds. Quantum Theory and Measurement (Princeton: Princeton University Press, 1983), hlm. 62-84.

/19/ Alok Jha, “What is Heisenberg’s Uncertainty Principle?”, The Guardian/The Observer, 10 November 2013, pada http://www.theguardian.com/science/2013/nov/10/what-is-heisenbergs-uncertainty-principle.



Saturday, June 2, 2012

"Kiamat" dan Nasib Planet Bumi Di Masa Depan




Ketika “doomsday ideology” atau “ideologi kiamat” mau mulai diwujudkan....


N.B. Diedit 
04 September 2021
6 Oktober 2021


Tulisan ini mengulas topik tentang “kiamat” yang khususnya dipercaya akan terjadi oleh umat-umat tiga agama monoteistik (Yahudi, Kristen, dan Islam). 

Pandangan agama-agama ini tentang kiamat akan diperhadapkan pada pandangan para saintis mengenai “nasib” planet Bumi dan Homo sapiens di masa depan yang jauh.

Terminologi “kiamat” berasal dari kata Arab “qiamat” atau “qayamat” yang menunjuk pada Hari Penghakiman Akhir yang akan digelar oleh Allah atau Oknum Adikodrati lainnya bersama para malaikat di Akhir Zaman, ketika sejarah dunia diakhiri dalam suatu bencana sejagatraya. 

Kaum Muslim memandang ada dua jenis kiamat, yakni kiamat kecil (sughra) berupa kematian yang pasti akan terjadi pada setiap orang karena berbagai macam sebab, dan kiamat besar (kubra) berupa kehancuran dan kebinasaan total jagat raya dan segenap isinya.

Eskatologi apokaliptik

Dalam kajian teologi Yahudi-Kristen, topik tentang kiamat masuk ke dalam bidang kajian khusus yang dinamakan “eskatologi apokaliptik”. 

Eskatologi (dari dua kata Yunani: eskhatos = “terakhir” atau "ujung", dan logos = “doktrin”) adalah doktrin tentang “hal-hal yang akan terjadi pada hari-hari terakhir”. 

Sedangkan kata benda “apokalipsis” (Yunani: apokalypsis) berarti “wahyu ilahi” (divine revelation) atau “penyingkapan ilahi (divine disclosure)”./1/ 

Dari kata benda ini, dibuat kata sifat “apokaliptik” atau “apokaliptis”.

Jadi, terminologi “eskatologi apokaliptik” berarti doktrin tentang hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman atau di ujung waktu sebagaimana disingkapkan atau diwahyukan oleh Allah dengan perantaraan malaikat-malaikatnya kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.

Sebagai sebuah genre (= jenis sastra), sastra eskatologi apokaliptik umumnya disebut singkat saja sebagai genre apokalipsis. 

Sebuah definisi genre apokalipsis sudah dihasilkan oleh beberapa pakar Amerika di bidang ini yang telah melakukan kajian mendalam bersama-sama dari tahun 1975 sampai tahun 1978. 

Mereka mendefinisikan “apokalipsis” sebagai “suatu genre sastra yang menjadi media wahyu ilahi yang memakai narasi sebagai bingkainya. Wahyu ilahi ini disampaikan lewat perantaraan suatu sosok oknum adikodrati kepada manusia penerimanya, yang menyingkapkan suatu realitas adikodrati yang bersifat baik temporal sejauh wahyu ini menggambarkan keselamatan yang akan diterima di akhir zaman, maupun spasial sejauh wahyu ini mencakup suatu dunia lain yang adikodrati.”/2/

Kurang lebih serupa dengan definisi ini, Paul D. Hanson, yang melakukan banyak kajian genre apokalipsis Yahudi, memberikan batasan genre apokalipsis sebagai “suatu sastra yang digunakan sebagai wahana penyingkapan kejadian-kejadian di masa depan oleh Allah melalui perantara seorang malaikat kepada seorang manusia yang menjadi hamba Allah ini.”/3/

Di sebuah buku kecil yang ditulisnya, Hanson memberi definisi genre apokalipsis lebih luas, yakni: 

“sekelompok tulisan yang fokus pada pembaruan iman dan penataan kembali kehidupan berdasarkan suatu visi mengenai suatu prototipe tata sorgawi yang disingkapkan kepada suatu komunitas keagamaan lewat perantaraan seorang pelihat. 

Penulisnya cenderung merelativisir signifikansi kenyataan-kenyataan yang ada dengan menggambarkan bagaimana kenyataan-kenyataan ini akan dilampaui dan digantikan oleh pemerintahan universal Allah dalam suatu kejadian di akhir zaman yang tidak dapat dipercepat atau digagalkan oleh usaha-usaha manusia, tetapi akan terwujud sebagai akibat tindakan Allah sendiri berdasarkan suatu rencana yang kekal.”/4/ 

Allah dibayangkan sudah merancang dan membuat “cetakbiru” atau “blueprint” semua rencana-Nya terkait umat pilihan-Nya, penderitaan mereka, umat manusia pada umumnya, dan keberadaan Bumi dan jagat raya. 

Cetakbiru skenario ilahi ini dipercaya tidak bisa diubah oleh siapapun, termasuk oleh Allah sendiri, meski hanya Allah sendiri yang tahu. Kepercayaan ini melahirkan doktrin yang berkaitan yang dinamakan pradestinasi global atau doktrin “takdir” jagat raya dan segenap isinya. 

Saya perlu memberi satu komentar. Kalau hanya Allah saja yang tahu takdir global, dan juga takdir individual, dan kita sama sekali tak mungkin tahu, bukankah mengubah takdir bisa juga menjadi takdir kita. Jadi, doktrin pradestinasi tersebut tak bisa membuat setiap orang pasif saja, tak mau memperbaiki dan mengubah jalan kehidupan mereka untuk makin baik dan makin maju. 

Dalam semua jenis apokaliptisisme, planet Bumi dan jagat raya yang kini dikenal, sejarah insani yang sedang berjalan, dan kehidupan yang sedang berlangsung, dan semua penderitaan, kelelahan dan pekerjaan berat dalam dunia sehari-hari sekarang ini, dipandang dalam waktu yang tidak lama lagi atau segera akan tiba pada titik ujungnya, titik akhirnya, “titik eskatologis”, untuk semuanya diganti dengan hal-hal lain yang bersifat adikodrati, suprahistoris dan adi-insani.

Penantian yang tak sabar akan tibanya dengan segera kehidupan lain di dunia yang adikodrati, suprahistoris dan adi-insani ini, yang akan menjadi pengganti semua hal yang kodrati, historis dan insani, adalah ciri pokok pemikiran apokaliptisisme. 

John J. Collins, misalnya, menyatakan bahwa kehidupan di dunia lain adikodrati ini merupakan ciri paling khas dari semua ciri pemikiran apokaliptik. 

Hal yang membedakan sastra-sastra apokaliptik dari kitab-kitab para nabi non-apokaliptik sebelumnya adalah bahwa apokaliptisisme dengan jelas menggambarkan adanya pahala dan ganjaran yang akan diterima di dunia lain adikodrati setelah kematian atau ketika sejarah dunia berakhir. 

Konsep-konsep sejarah/waktu

Dalam eskatologi apokaliptik Yahudi-Kristen, sejarah atau waktu dunia kodrati ini dipandang bergerak linier, ada awal, lalu akan tiba pada titik akhir, titik eskatologis. Tidak ada pengulangan. Pada titik akhir ini garis linier sejarah terpecah dua, memasuki kawasan adikodrati: ke atas, masuk ke sorga adikodrati; dan ke bawah, masuk ke neraka adikodrati. Ilustrasi di bawah ini silakan dengan cermat diperhatikan.



Klik gambarnya untuk memperbesar


Selain konsep sejarah linier Yahudi-Kristen, ada juga konsep sejarah siklikal dalam banyak agama Timur dan kebudayaan-kebudayaan kuno yang bukan Yahudi-Kristen. Di bawah ini saya pasang gambar ouroboros (kata majemuk Yunani kuno, artinya “memakan ekor”, maksudnya ular yang memakan ekornya sendiri). 

Ouroboros menyimbolkan siklus abadi sejarah: ada kelahiran, ada kematian, tetapi dilanjutkan dengan pengulangan-pengulangan yang dimulai dengan kelahiran kembali. Ouroboros juga menyimbolkan harmoni yang statis dan abadi. Ikonografi ouroboros tertua berasal dari Mesir kuno, pada teks keagamaan Mesir abad ke-14 SM di makam Raja Tutankhamen.





Nah, saya sudah lama berpikir untuk menggabung konsep sejarah linier dengan konsep sejarah siklikal. Hasilnya adalah konsep sejarah/waktu yang siklikal linier progresif. Perhatikan gambar di bawah ini.




Siklus atau pengulangan dalam alam, dalam batas-batas tertentu, adalah sesuatu yang niscaya. Contohnya: empat musim di kawasan-kawasan subtropis (musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin) selalu bersiklus di setiap tahun. 

Nah, kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan individual dan dalam kehidupan masyarakat dan dunia yang dalam batas-batas tertentu berulang memberi kita kesempatan-kesempatan untuk belajar dan melakukan evaluasi atas pikiran-pikiran, sikap, kelakuan dan tindakan kita. 

Untuk kepentingan evaluasi ini, kecakapan metakognitif sebagai salah satu soft skills yang penting, sangat kita butuhkan. Metakognisi adalah thinking about your own thinking, pikiran yang melampaui (Yunani: meta) pikiran anda sebelumnya,yang didapat lewat evaluasi kritis.

Hasilnya, kita akan dapat bergerak ke depan, menjalani kehidupan dengan perspektif-perspektif baru, bertumbuh ke atas, upward, makin tinggi, makin maju, tanpa titik akhir. 

Ada gerak siklikal, juga ada gerak linier, dan gabungan keduanya mengantar kita ke kemajuan, progress, yang makin tinggi, moving upward, tanpa titik akhir. Tidak ada gerak berputar-putar di tempat.

Konsep waktu yang ketiga ini terlihat berlaku dan diwujudkan dalam dunia ilmu pengetahuan. 

Para saintis perlu mengulang observasi-observasi dan eksperimen-eksperimen atas banyak fenomena, untuk tiba pada ilmu pengetahuan yang makin maju dan makin tinggi. 

Jagat raya juga dipandang sebagai jagat raya yang siklikal (skenario satu): jagat raya yang muncul lewat big bang lalu mengembang makin cepat, suatu saat akan tiba pada titik jenuh pengembangannya, berakhir dan collapse sebagai big crunch, yang membuat jagat raya mengerucut sampai ke suatu titik zero singularitas, yang akan disusul dengan big bang lagi. 

Ada skenario dua: jagat raya tiga dimensi terus-menerus mengembang linier makin cepat tanpa akhir. 

Masih ada skenario tiga: jagat raya yang siklikal sekaligus linier progresif, yang membuat organisme-organisme cerdas akan berkembang makin cerdas tanpa batas, lewat aktivitas recursive self-improvement. Entropi melahirkan anti-entropi, keduanya bersiklus sekaligus bergerak linier.

Mari, kita lanjutkan ke eskatologi apokaliptik yang sudah kita tinggalkan sejenak tadi.

Dissonansi kognitif

Well, Collins pun menegaskan bahwa nilai abadi apokaliptisisme tidak terletak pada pseudoinformasi (“informasi gadungan”) yang diberikannya mengenai kosmologi atau sejarah yang akan datang, melainkan pada suatu dunia adikodrati yang keberadaannya dibayang-bayangkan dan ditegaskan kuat-kuat./5/

Satu catatan perlu diberikan terkait pseudoinformasi dalam kitab-kitab apokaliptik. Para nabi apokaliptik (di zaman kuno dan di zaman modern) dapat semau mereka mengubah atau mengganti informasi apa pun yang mereka sampaikan atau indoktrinasikan ke umat mereka. Kita katakan, mereka piawai melakukan rasionalisasi.

Jika jadwal waktu kiamat gagal terpenuhi, mereka segera membuat jadwal baru. Jika ramalan atau nubuat tentang peristiwa-peristiwa yang akan mendahului kiamat tidak terpenuhi (semuanya memang gagal, sejak dulu hingga kini), mereka mengarang-ngarang peristiwa-peristiwa pengganti. 

Serentak dengan itu, nubuat-nubuat baru itu dipropagandakan dengan sangat gencar untuk mengatasi kegalauan kognitif besar akibat kegagalan atau melesetnya skenario kiamat yang sudah dibuat sebelumnya. Sindroma psikologis dissonansi kognitif memang dialami semua penganut apokaliptisisme. 

Sudah gagal, meleset, dan mengalami kegalauan kognitif, tapi masih saja mereka mempropagandakan hal yang itu-itu juga, yang sudah tampil dalam kemasan-kemasan baru tapi dengan isi ideologis yang sama./6/

Ciri-ciri pemikiran apokaliptik

Selain orientasi ke dunia adikodrati yang menjadi sebuah ciri pokok, ada sejumlah besar unsur lain yang membangun pemikiran apokaliptik./7/ 

Ciri-ciri berikut ini umumnya terdapat dalam tulisan-tulisan apokaliptik. Saya daftarkan 25 ciri. Tentu tidak semua ciri ini langsung muncul sekaligus dalam sebuah tulisan apokaliptik kanonik atau suatu tulisan apokaliptik ekstrakanonik. 

1. Dunia masa kini dan segala hal yang berlangsung di dalamnya dipandang tidak memihak, tapi melawan, umat-umat keagamaan yang dari dalamnya tulisan-tulisan apokaliptik muncul;

2. Pesimisme radikal, ketidakpercayaan, penolakan dan perlawanan keras terhadap segala sesuatu yang duniawi (manusia, lembaga-lembaga dan kekuatan-kekuatan lain) yang mengendalikan sejarah dan kehidupan masa kini yang sedang berlangsung;

3. Dunia masa kini dan semua hal yang masih sedang berjalan di dalamnya dipandang tidak lagi sepenuhnya berada langsung dalam kendali Allah yang dipercaya umat-umat keagamaan ini, tapi dipercaya berada dalam kendali kekuatan-kekuatan demonik (Setan atau Iblis dan semua kaki-tangannya) yang memusuhi dan melawan Allah yang dipercaya umat;

4. Dualisme etis: dalam jagat raya ini dipercaya ada dua kekuatan moral yang hidup, yang sedang bekerja, yang bertentangan satu sama lain dan berada dalam konflik, yakni kekuatan kebaikan (yakni Allah dan semua balatentaranya) dan kekuatan kejahatan (yakni Setan atau Iblis atau nama-nama lainnya, beserta dengan semua bala tentaranya);  

5. Dualisme kosmologis: dalam kosmos atau jagat raya dipandang ada kawasan-kawasan yang dikuasai oleh Allah sepenuhnya dan ada pula kawasan-kawasan lain yang sementara ini dikuasai oleh Setan atau Iblis dan semua pengikutnya;

Catatan: Umum diakui bahwa konsep-konsep Yahudi-Kristen tentang dualisme kosmologis dan dualisme etis dipinjam dari agama Zoroastrianisme yang sudah berkembang lebih dulu sebelumnya di Persia/Iran. Agama ini dibangun oleh nabi Zoroaster atau Zarathustra yang hidup antara abad ke-7 dan abad ke-6 SM.

Berdasarkan wahyu yang diterimanya ketika dia sedang mandi di sebuah sungai, bersamaan dengan pelaksanaan ritual purifikasi pagan di sungai itu, Zoroaster mengajarkan bahwa ada Tuhan yang esa yang berdiam di sorga, yang bernama Ahura Mazda (“Tuhan yang arif”), yang menjadi sumber kebaikan, kebajikan dan kehidupan. Tetapi ada juga lawan Ahura Mazda, yaitu Angra Manyu (“roh perusak”), yang tinggal di dasar-dasar kedalaman neraka, dan menjadi sumber kedurjanaan, kejahatan, kehancuran dan kematian./8/

6. Pertempuran-pertempuran dahsyat di kawasan adikodrati antara Alah dan Setan atau Iblis, yang melibatkan pasukan-pasukan adikodrati masing-masing, dan berbagai peristiwa besar lain adikodrati, dipandang memiliki manifestasi paralel dalam pertempuran-pertempuran yang sedang berlangsung di dunia dan sejarah insani, yang melibatkan dan menyengsarakan umat-umat keagamaan, dan juga dalam berbagai peristiwa besar lainnya di dunia kodrati;

7. Penderitaan, penganiayaan, penindasan, kesukaran-kesukaran besar dan berbagai macam persoalan sulit, sedang dengan sangat berat dan sukar dipikul dan dihadapi umat keagamaan, sampai ke titik-titik batas daya tahan mental dan fisikal normal mereka;

8. Dalam menghadapi semua persoalan berat yang menimbulkan berbagai bentuk penderitaan besar itu, umat keagamaan mencari kekuatan mental-spiritual pada Allah yang dipercaya umat, dan meminta dengan sangat kepada Allah mereka ini supaya penderitaan mereka segera diakhiri dan musuh-musuh dan orang-orang jahat yang menyengsarakan mereka segera dibalas oleh Allah mereka;

9. Tampil hamba-hamba Allah yang mengklaim menerima wahyu ilahi (Yunani: apokalypsis) tentang perjalanan sejarah insani ke depan dan tentang keadaan dunia adikodrati, lewat perantaraan malaikat-malaikat atau makhluk-makhluk adikodrati lain. Wahyu ilahi ini ditujukan kepada umat-umat keagamaan yang sedang disengsarakan oleh musuh-musuh mereka, dan sedang mencari kekuatan dan penghiburan dari Allah yang mereka percayai;

10. Wahyu ini diterima lewat pendiktean langsung secara lisan oleh seorang malaikat, umumnya lewat bahasa esoterik simbolik, metaforis atau karikaturis, yang lalu dicatat oleh si penerima wahyu atau oleh asistennya. 

Wahyu itu dipercaya memberi makna adikodrati dan abadi atas semua kejadian yang sedang berlangsung dalam sejarah dunia, yang melibatkan umat di dalamnya, yang semuanya ditempatkan dalam rancangan dan skenario maksud dan tujuan tindakan-tindakan abadi Allah yang agung, yang sudah digariskan dan ditentukan sebelumnya (atau “dipradestinasikan”), demi kebaikan umat yang mengasihi Allah ini;

11. Atau wahyu ilahi ini diterima dan dijelaskan oleh seorang malaikat sementara si hamba Allah yang menerima wahyu sedang berada dalam suatu “perjalanan mistikal” menembus ruang dan waktu insani, masuk ke dunia adikodrati yang dilihat bertingkat-tingkat, menuju kawasan takhta Allah di sorga, untuk di sana dia mendengar dan melihat berbagai hal luarbiasa yang tak terkatakan; atau si penerima wahyu ini digambarkan juga melakukan suatu “perjalanan spiritual” memasuki kawasan neraka;

12. Dalam wahyu itu juga diungkapkan berbagai “tanda dan peristiwa zaman” yang semuanya membentuk suatu jadwal waktu kronologis atau “timetable” dan kejadian-kejadian yang harus dipenuhi terlebih dulu sebelum “titik akhir” (“titik eskatogis”) semua kesengsaraan tiba dan dialami umat;

13. Konsep tentang Kiamat atau Akhir Zaman dimunculkan sebagai saat berakhirnya samasekali sejarah dunia dan sejarah insani dalam suatu bencana dahsyat jagat raya yang akan melenyapkan segalanya: planet Bumi dan segenap unsur jagat raya, dan semua kehidupan dan semua kebudayaan dan peradaban insani;

14. Kiamat dapat dilukiskan sebagai puncak dari berbagai perang dahsyat yang berlangsung di muka Bumi, yang diakhiri oleh suatu bencana kosmik yang Allah sendiri adakan untuk membawa umat yang saleh masuk ke dalam kehidupan di alam adikodrati; 

15. Diyakini, semakin saleh suatu umat menjalani kehidupan mereka di tengah penindasan yang mereka sedang alami, kiamat dapat semakin lebih dipercepat terjadinya oleh Allah sendiri;

16. Pengadilan Akhir digelar oleh Allah atau oleh Sosok Adikodrati lainnya yang menjadi Wakil Allah untuk bertindak sebagai Sang Hakim dunia yang akan mengadili dengan seadil-adilnya semua orang, baik orang yang sudah meninggal ketika kiamat terjadi maupun orang yang masih hidup;

17. Kebangkitan orang mati dialami oleh orang yang sudah meninggal sebelum kiamat terjadi, dan orang-orang yang masih hidup menerima “tubuh astral”, sehingga baik orang yang sudah mati maupun orang yang masih hidup, keduanya akan diadili dalam Pengadilan Akhir adikodrati ini berdasarkan perbuatan-perbuatan mereka selama kehidupan mereka di dunia kodrati yang telah diakhiri;

18. Semua perbuatan setiap orang selama kehidupan di muka Bumi dicatat oleh para malaikat petugas dalam sebuah Kitab Kehidupan, dan berdasarkan catatan-catatan dalam buku ini Pengadilan Akhir pamungkas yang seadil-adilnya akan segera dilangsungkan atas mereka;

19. Dalam beberapa kasus pengadilan adikodrati ini, jika diperlukan, saksi-saksi adikodrati dipanggil untuk memberi kesaksian-kesaksian mereka atas manusia-manusia yang sedang diadili dalam Pengadilan Akhir;

20. Dilakukan suatu tinjauan kronologis panoramik menyeluruh atas kehidupan masing-masing orang atau masing-masing bangsa yang sedang diadili di Pengadilan Akhir ini;

21. Orang-orang jahat yang telah menyengsarakan umat Allah dijatuhi vonis penghukuman abadi di api neraka; sedangkan umat Allah sendiri menerima pahala masuk sorga, hidup di kawasan Allah sendiri beserta semua malaikat dan balatentara ilahi selamanya;   

22. Setan atau Iblis dan semua pasukan dan anteknya, dalam suatu pertempuran kosmik adikodrati pamungkas, dikalahkan oleh Allah atau oleh Wakil Adikodratinya bersama balatentara sorgawi, dan selanjutnya Setan dan semua anteknya menjalani penghukuman abadi di tempat yang Allah telah sediakan sebelumnya buat mereka selamanya;

23. Karena janji-janji tentang kemenangan dan pahala yang sedang menunggu umat yang sedang disengsarakan dan yang tak lama lagi mereka akan alami ketika dunia kodrati berakhir, yang disampaikan oleh hamba-hamba Allah ini lewat wahyu-wahyu yang mereka telah terima, umat yang sedang sengsara dalam kenyataannya mengalami banyak penguatan mental sehingga mereka sanggup bertahan, tidak menyerah kalah terhadap musuh-musuh mereka, bahkan bisa mendapatkan kemenangan besar;   

24. Jadi, dalam apokaliptisisme, pesimisme terhadap dunia dan sejarah kodrati, pada satu sisi, memang menimbulkan suatu eskapisme “kalangan pecundang”, sikap melarikan diri dari kenyataan keras dunia kodrati lalu berharap dapat segera masuk ke dunia adikodrati yang dibayang-bayangkan dan diangan-angankan;

25. Tetapi pada sisi lainnya, bersamaan dengan eskapisme ini, semangat tempur dan semangat juang di dalam dunia ini bisa timbul dan bangkit oleh janji-janji kemenangan dan keberpihakan Allah kepada mereka. Dan juga oleh bayangan bahwa musuh-musuh mereka akan dikalahkan oleh bala tentara Allah, lalu dibuang ke dalam api neraka abadi. Dendam mereka, diyakini oleh para penganut teologi kiamat, akan tuntas dibalas di dunia lain. Kemarahan dan dendam abadi, sampai dibawa ke luar dunia.

Secara keseluruhan, 25 ciri di atas membentuk apa yang dinamakan apokaliptisisme. 

Dari daftar ciri-ciri di atas, terlihat bahwa apokaliptisisme pada akhirnya bisa juga memberi suatu manfaat dan memiliki nilai positif juga untuk membangun semangat kehidupan dan memupuk serta menumbuhkan daya juang manusia dalam suatu kehidupan yang keras dan sulit. Ya, mereka diperkuat dan termotivasi karena iming-iming pahala dan keyakinan bahwa Allah berpihak ke mereka.

Seperti ditulis Collins, sekian sastra apokaliptik kanonik maupun ekstrakanonik dapat bermanfaat positif, misalnya: 

• dapat memberikan dukungan mental dan sosial-politis kepada umat Yahudi di abad ke-2 SM yang sedang mengalami penganiayaan dari raja Syria Antiokhus IV Epifanes (Kitab Daniel), 

• memberi kepastian kembali pada komunitas keagamaan ketika mereka sedang menghadapi kejut budaya (Kitab Para Pengawas) atau ketidakberdayaan sosial (Perumpamaan-perumpamaan Henokh), 

• atau ketika sedang melakukan orientasi ulang atas kehidupan mereka setelah  mengalami trauma historis yang tragis (2 Barukh, 3 Barukh), 

• atau memberi mereka penghiburan ketika mereka sedang menghadapi nasib yang suram dan menyedihkan (4 Ezra), atau ketika sedang menghadapi fakta tragis kematian yang niscaya (Wasiat Abraham)./9/

Dalam zaman modern

Tapi dalam zaman sekarang ini, ketika kita hidup di abad ke-21, pesimisme dan eskapisme dalam apokaliptisisme ternyata lebih kuat berpengaruh pada kehidupan banyak komunitas keagamaan. 

Itu membuat mereka lebih menginginkan dunia yang ada sekarang secepatnya mengalami kiamat. Bumi, peradaban insani dan jagat raya lenyap, dan semua orang saleh dibawa masuk ke dalam dunia adikodrati untuk hidup di sorga bersama Allah. Sebaliknya, orang-orang yang dipersepsi mereka sebagai orang-orang jahat (katakanlah, mereka paling lama hidup rata-rata 70 tahun di Bumi) mereka inginkan dimasukkan ke dalam neraka sebagai bentuk penghukuman dan pembalasan yang setimpal selamanya, abadi, setidaknya selama milyaran tahun.

Mentalitas mengejar keselamatan abadi lewat suatu dunia yang kiamat boleh dikata diidap oleh kebanyakan kaum beragama radikal dewasa ini, di dalam suatu dunia yang mereka anggap sudah tak adil dan dikuasai oleh musuh-musuh umat dan musuh-musuh Allah. 

Dalam suatu bentuk yang ekstrim fundamentalis, mentalitas semacam ini telah melahirkan suatu gerakan Zionis Kristen yang menginginkan dunia segera diseret masuk ke dalam suatu perang nuklir habis-habisan, yang dimulai di Israel modern, yang akan berbuntut pada kehancuran planet Bumi dan kedatangan kembali Yesus Kristus dan “pengangkatan ke sorga” orang-orang pilihan-Nya./10/ 

Di antara berbagai tulisan apokaliptik dalam Alkitab, Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama dan Kitab Wahyu Yohanes dalam Perjanjian Baru banyak disalahtafsirkan dan di-“dehistorisasi” (dilepaskan dari konteks sejarah real penulisan dua kitab ini) hanya supaya dapat dijadikan landasan-landasan skriptural bagi agenda-agenda religio-politik gerakan radikal ini. 

Padahal, kalau ditafsir dengan memakai pendekatan sejarah dan pendekatan sosiologis, baik Kitab Daniel dan tulisan-tulisan apokaliptik Yahudi lainnya/11/ maupun kitab Wahyu Yohanes/12/ sama sekali tidak mendukung agenda-agenda apapun dari gerakan-gerakan ekstrim semacam ini. 

Gerakan-gerakan ekstrim yang berlandaskan teologi kiamat bukan hanya ditemukan dalam kekristenan, tapi di dalam banyak ragam komunitas keagamaan, seperti telah diperlihatkan Mark Juergensmeyer dalam dua bukunya yang komprehensif: Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence dan Global Rebellion: Religious Challenges to the Secular State, From Christian Militias to Al Qaeda./13/ Lihat juga buku sejenis yang banyak dibicarakan orang karya Robert Pape, Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism./14/

Ancaman-ancaman terhadap Planet Bumi dan Homo Sapiens

Nah, bertolakbelakang dari kaum agamawan yang bervisi apokaliptik yang menantikan dunia ini, khususnya planet Bumi ini, berakhir dan lenyap pada hari kiamat, para saintis dalam zaman modern ini malah memikirkan berbagai kemungkinan untuk menyelamatkan planet Bumi dan Homo sapiens di masa depan ketika sesuatu akan terjadi dan mengancam eksistensi planet ini dan kehidupan spesies ini. 

David R. Russell menulis bahwa para penulis sastra-sastra apokaliptik dan kaum saintis sama-sama menampakkan kepedulian terhadap orde ciptaan, nasib akhir jagat raya, dan kemungkinan adanya suatu ciptaan baru, meskipun kepedulian ini diungkap dengan cara-cara yang berbeda antara keduanya./15/ 

Tapi, menurut saya, ada suatu perbedaan mendasar di antara keduanya: para pembela apokaliptisisme mengharapkan suatu ciptaan baru yang immaterial adikodrati, sedangkan para saintis berpikir untuk mempertahankan suatu dunia yang material kodrati, yang akan tetap bisa ditinggali Homo sapiens selamanya dan di dalamnya mereka dapat membangun peradaban yang juga akan diusahakan bertahan kekal dalam jagat raya.

Pada satu pihak, planet Bumi terancam oleh berbagai tindakan buruk manusia terhadap planet ini sendiri, misalnya dengan meracuninya atau meningkatkan suhu global terus-menerus. Selain itu, suatu perang nuklir habis-habisan di seantero planet biru ini akan bisa juga melenyapkan kehidupan di dalamnya dan menanduskan semua permukaan planet ini selama ratusan hingga ribuan tahun ke depan. 

Tidaklah keliru jika saya menyatakan bahwa Perang Dunia III dapat terjadi karena dipicu oleh konflik-konflik regional dan global antar-agama-agama, jika pada kesempatan mana kelompok-kelompok keagamaan militan garis keras berhasil menguasai instalasi-instalasi yang menyimpan persenjataan nuklir di negara-negara tertentu, atau jika mereka memiliki weapons of mass destruction lainnya, WMD kimiawi dan biologis. 

Teologi kiamat, doomsday theology, yang dianut kalangan militan fundamentalis religiopolitik dari berbagai agama, seperti Al Qaeda dan figur semacam Osama bin Laden (alm.), dapat menjadi ideologi pendorong dan pembenar PD III. 

Kalau PD III pecah, perang ini tak konvensional lagi, tapi mengambil bentuk perang yang menggunakan WMD atau senjata pemusnah massal nuklir, biologis dan kimiawi. Akibat mematikan perang itu bukan lagi di kawasan lokal, tapi di seluruh kawasan global, mencakup seluruh penghuni Bumi dan planet Bumi sendiri, dan bertahan langgeng. 

Ketika bom-bom nuklir meledak di permukaan Bumi dalam suatu perang nuklir sedunia, gelombang ledakan, badai api, sinar-sinar gamma, dan neutron, akan memanggang nyaris setiap penghuni Bumi. 

Strontium radioaktif, cessium radioaktif dan iodine radioaktif dalam jangka waktu ratusan tahun mengisi seluruh permukaan Bumi dan terus mengancam tubuh manusia dan semua kelenjar di dalamnya, dan akan menimbulkan berbagai jenis kanker. 

Awan-awan radioaktif yang memenuhi angkasa, akan menutup masuknya cahaya Matahari ke Bumi sehingga musim dingin global akan melanda seluruh muka Bumi. 

Selain itu, ledakan-ledakan bom nuklir akan membakar nitrogen di atmosfir sehingga mengubahnya menjadi nitrogen dioksida yang kemudian akan melenyapkan ozone di bagian atmosfir yang lebih atas. 

Tanpa lapisan pelindung ozone, radiasi kuat sinar ultraviolet Matahari akan menerjang masuk ke permukaan Bumi, dan akan menimbulkan berbagai jenis kanker pada kulit semua makhluk hidup, melenyapkan hampir semua mikroorganisme, dan merusak ekologi dengan sangat dahsyat./16/ 

Bumi akan tandus, kering dan gersang serta dipenuhi radiasi nuklir selama ratusan bahkan ribuan tahun ke depan, dan nyaris semua bentuk kehidupan akan lenyap, kecuali bentuk-bentuk kehidupan yang dapat bertahan hidup dalam kondisi-kondisi yang sangat ekstrim. 

Karena PD III bisa terjadi dadakan dan, jika terjadi, akan melenyapkan Homo sapiens dan semua makhluk hidup lainnya yang menjadi penghuni planet Bumi, maka tak ada jalan lain, untuk manusia bisa survive dan bertahan abadi bersama peradabannya dalam jagat raya di masa depan, manusia harus membuka koloni-koloni kedua dan ketiga di jagat raya, di planet-planet lain, misalnya planet Mars dan bulan Titan. 

Orang umumnya sudah banyak tahu tentang planet Mars, tetapi hanya sedikit orang yang mengetahui bulan Titan. Baiklah, keterangan pendek saya berikan.

Namun, sebelum memberi keterangan ringkas tentang bulan Titan, ada baiknya saya bagi ke anda sebuah berita mutakhir menarik terkait planet Mars, yang baru saya baca di Livescience.com./17/

Sebuah batu meteorit utuh asal planet Mars yang terbesar di dunia, yang diberi nama Toudenni 002, baru saja dipamerkan untuk umum 1 September 2021 di Maine Mineral & Gem Museum di Bethel, Maine, Amerika Serikat.

Berat batu meteorit Toudenni 14,5 kg, dan bagian terlebarnya mencapai 25 cm. Batu meteorit ini ditemukan dekat sebuah gurun penambangan garam di Mali. Lalu lewat seorang pedagang bebatuan meteorit yang mendapatkan batu meteorit Toudenni dalam bulan April 2021, batu meteorit ini sampai ke museum tersebut.

Bebatuan Mars dapat terlontar ke angkasa luar dari planet ini, menembus atmosfir tipis planet ini, ketika permukaan planet merah ini dengan sangat keras ditumbuk oleh asteroid atau komet besar yang datang dari angkasa luar. Dari antara bebatuan Mars yang terlontar ini, ada yang selanjutnya dapat jatuh ke Bumi.

Meteorit Toudenni diperkirakan jatuh ke gurun di Mali tersebut dalam kurun belakangan 100 tahun terakhir ini. Sangat mungkin batu meteorit ini, yang memuat “tandatangan” mineral kimiawi Mars, terbentuk dalam kurun vulkanik Mars lebih dari 100 juta tahun lalu.



Foto batu meteorit Toudenni 002. Sumber gambar livescience.com.


Nah, selanjutnya info singkat tentang bulan Titan.

Bulan Titan (usia 4,003 milyar tahun) ditemukan oleh Christiaan Huygens pada 25 Maret 1655. Titan adalah bulan terbesar planet Saturnus dan satelit terbesar kedua dalam sistem Matahari yang lebih besar dari planet Merkurius dan dari bulan planet Bumi. 

Titan adalah satu-satunya bulan yang diketahui memiliki suatu atmosfir padat, dan satu-satunya bulan atau planet selain Bumi yang sudah terbukti dengan jelas memiliki tempat-tempat pada permukaannya (sungai, danau dan laut) yang berisi cairan hidrokarbon seperti methane dan ethane, yang mungkin menghasilkan bentuk-bentuk kehidupan yang belum kita ketahui. Awan-awan terbentuk di sana, lalu naik ke atas, dan selanjutnya menurunkan hujan, seperti di Bumi. 

Nitrogen dan methane di atmosfir Titan bereaksi, membentuk molekul-molekul organik yang kaya. Jauh di bawah permukaan bulan ini, terdapat lautan air luas yang sangat mungkin berisi bentuk-bentuk kehidupan yang sudah kita ketahui.




Dua foto bulan Titan yang diambil oleh wantariksa Cassini, NASA, 22 April 2017. Bawah: foto close-up. Sumber gambar businessinsider.com.


Setelah wantariksa Cassini yang menggunakan bahan bakar nuklir (plutonium-238) yang diluncurkan NASA dalam bulan Oktober 1997 (dan mencapai sistem Saturnus setelah tujuh tahun penerbangan), NASA berencana akan mendaratkan di Titan sebuah wantariksa yang diberi nama Dragonfly pada tahun 2034 dalam rangka misi astrobiologis, untuk mencari bentuk-bentuk kehidupan di bulan ini dan mempelajari seluk-beluk bulan ini. Saksikan video pendek NASA tentang bulan Titan yang diunggah 25 November 2020 di Youtube https://youtu.be/lr4r70DWShk.

Kembali ke ihwal planet Mars. Jika planet Mars berhasil di-“terraform”, yakni seluruh kondisinya dijadikan sama seperti kondisi planet Bumi yang didiami manusia, maka planet ini akan menjadi planet kedua yang didiami manusia. Tapi itu belum cukup. Homo sapiens perlu menjadi pengelola seluruh sistem Matahari, dan, jauh di depan, ketika sudah bertransformasi menjadi organisme “transhuman” --- perpaduan cerdas biologi dan teknologi--- Homo sapiens akan menyebar, menjadi penghuni jagat raya.

Para saintis terus memperingatkan kita bahwa kita sedang berlomba dengan waktu sampai tersedia planet kedua yang siap dihuni manusia di masa depan yang dekat. Menyiapkan sebuah planet kedua untuk menjadi rumah Homo sapiens adalah tugas dan pekerjaan mendesak yang perlu segera dilakukan. Sungguh, kita sedang berlomba dengan waktu!

Pada pihak lain, ancaman serius terhadap planet Bumi dan semua penghuninya datang dari luar Bumi, dari angkasa. Yang saya maksudkan bukanlah ancaman penyerbuan pasukan aliens ke planet Bumi untuk mereka duduki (walaupun hal ini mungkin saja bisa terjadi di masa depan!), tapi sesuatu yang lain. 

Tentu, ancaman yang datang dari angkasa luar dapat berupa meteor atau asteroid besar yang sedang meluncur menuju planet Bumi. Tentang ancaman ini saya sudah diskusikan di beberapa tulisan lain saya, yang terbaru berjudul “Meteor Doomsday atau Apokalipsis Meteor Suatu Saat Akan Terjadi”./18/ Tidak mau saya ulang pada kesempatan ini. Saya ajak anda untuk fokus pada uraian berikut.

Planet Bumi dan semua makhluk hidup di dalamnya secara alamiah akan lenyap pada saatnya karena, menurut kajian astrofisika, sesuatu tengah terjadi pada bintang besar kita yang kita namakan Matahari, sang Surya. Matahari, sejak sekarang, secara evolusioner sedang mengalami peningkatan suhu.

Dalam jangka waktu 5 milyar tahun dari sekarang, Matahari akan berevolusi menjadi suatu bola raksasa merah (Red Giant) yang membengkak dan menggembung. Lalu, 7 milyar tahun dari sekarang, ketika bola Matahari sampai pada ukuran terbesarnya dan terang cahayanya mencapai puncaknya, kulit gas pada lapisan terluarnya (korona) akan menelan dan membakar lenyap planet Bumi (lihat dua ilustrasi di bawah ini).




Yaaahhhh, planet Bumi terlahap!




Sebuah ilustrasi Red Giant sedang menelan dan membakar musnah sebuah planet yang jalur orbitnya terlalu dekat dengan si raksasa merah. Sumber ilustrasi Kosmo.


Tapi, jauh sebelum hal itu terjadi, 1,1 milyar tahun dari sekarang, sang Matahari akan 11% bertambah terang dan panas, dan keadaan ini akan meningkatkan temperatur udara di seluruh muka Bumi rata-rata menjadi 50 °C (atau 120 °F). 

Suhu setinggi itu, meskipun belum mencapai titik didih air, akan membuat semua air dan semua lautan yang ada di muka Bumi perlahan menguap. Tanaman dan binatang (termasuk manusia di dalamnya) akan menghadapi masa sangat sulit untuk hidup dalam rumah panas ini, dan tentu mereka semua tidak akan bertahan lama, kecuali organisme sel tunggal yang disebut Arkhaea. Tetapi ketahanan hidup semacam ini akan berlangsung sebentar saja. 

Ketika uap air sampai di atmosfir, cahaya ultraviolet sang Surya akan memecah molekul-molekul air, dan gas hidrogen yang diperlukan untuk membangun sel-sel makhluk hidup perlahan akan bocor, keluar ke angkasa, lalu persediaannya di planet Bumi habis.

Nah, ini poin yang sangat penting: 

Jika keturunan kita---organisme cerdas yang dinamakan Homo sapiens, atau organisme cerdas keturunan kita yang sudah berubah fisik (menjadi organisme hibrid biologi dan teknologi) dan memiliki struktur molekuler DNA yang sudah lain karena diubah oleh kekuatan evolusi alamiah selama jutaan hingga milyaran tahun, atau oleh evolusi teknologis artifisial lewat teknologi DNA-editing--- ingin tetap bertahan hidup, mereka harus pindah ke planet-planet lain di dalam sistem Matahari. Misalnya ke sebuah planet merah yang tidak terlalu jauh dari Bumi dan masih dalam kawasan sistem Matahari kita, yakni planet Mars.

Jika setiap hari kita meluncurkan 1.000 wahana antariksa untuk mengungsikan 7 milyar manusia ke suatu atau beberapa planet lain yang aman, dibutuhkan semilyar wahana antariksa dan waktu selama 2.700-3.000 tahun ke depan untuk seluruh peluncurannya. 

Selain masalah itu, planet-planet lain yang jadi tujuan pengungsian juga perlu disiapkan secara besar-besaran untuk menghasilkan biosfir dan atmosfir yang cocok untuk kehidupan manusia, biosfir dan atmosfir yang sama dengan yang terdapat di planet Bumi sekarang ini, setidaknya memiliki air dan oksigen untuk kehidupan. 

Tambahan pula, manusia yang sudah diungsikan itu perlu diberi makan, dirawat secara medis dan psikologis, dan disiapkan di rumah-rumah baru mereka di luar planet Bumi.

Terraforming Planet Mars

Mengubah suatu planet lain koloni menjadi sebuah planet yang sama dengan planet Bumi untuk siap dihuni manusia disebut “terraforming.” 




Image credit: D. Mitriy|wikimedia.org


Terraforming ini membutuhkan sains dan teknologi yang sangat advanced, dan juga tentunya membutuhkan sumber daya manusia, sumber daya alam dan biaya yang besarnya tidak terbayangkan sekarang ini! 

Bisa jadi, jika terraforming berhasil dilakukan, yang akan bisa mengungsi ke planet-planet lain, misalnya ke Mars atau ke planet-planet lain yang lebih jauh di luar sistem Matahari kita, hanyalah segelintir manusia yang unggul secara finansial, atau unggul secara genetis di masa depan yang jauh. 

Tapi, semakin banyak dan beranekaragam suku-suku bangsa dan bangsa-bangsa yang pindah ke planet-planet lain, semakin besar peluang Homo sapiens para pengungsi antarplanet itu dapat bertahan hidup, misalnya ketika mereka terpapar penyakit-penyakit baru yang tidak ada di planet Bumi. Kenapa begitu? Ya, karena bawaan-bawaan genetik mereka berbeda-beda, dus daya tahan dan kekebalan mereka terhadap penyakit-penyakit asing juga akan variatif.

Sejumlah fisikawan menyatakan bahwa dalam melakukan terraforming terhadap planet Mars, kita perlu mengarahkan banyak asteroid, meteor dan komet, untuk menumbuk permukaan planet ini guna memanaskan planet ini untuk menghasilkan atmosfir yang cocok dengan kehidupan manusia. 

Tentang terraforming planet Mars dengan cara ini, wawancara pendek dengan kosmolog Michio Kaku berikut ini menarik untuk diperhatikan. Berikut ini saya sajikan untuk anda./19/

Tanya: Jika anda melakukan terraforming terhadap planet Mars, dan membuatnya menjadi sebuah Taman Eden, bukankah keadaan ini hanya akan berlangsung sementara, sebab planet Mars tidak cukup besar untuk secara permanen memegang suatu atmosfir?

Jawab: Anda benar sekali. Mars adalah sebuah planet kecil, dan karenanya medan gravitasinya tidak cukup kuat untuk secara permanen memegang suatu atmosfir yang tebal dan padat; tetapi cukup untuk memegang suatu atmosfir selama ribuan hingga jutaan tahun, suatu jangka waktu yang cukup untuk kita. 

Sekali kita berhasil melakukan terraforming terhadap Mars, akan tersedia atmosfir yang cukup bagi kebutuhan banyak generasi di masa depan. 

Tetapi ini tidak berarti bahwa generasi-generasi di masa depan, ribuan tahun dari sekarang, akan harus mengisi atmosfir sekali lagi. Bagaimanapun juga, untuk tujuan-tujuan kita, atmosfir yang akan terbentuk tidak merupakan suatu masalah.

Tanya: Bukankah menumbukkan komet dan asteroid ke planet Mars akan menimbulkan banyak kerusakan pada permukaannya

Jawab: Dalam program yang kami telah ajukan, kami menyatakan adalah mungkin untuk memanaskan Mars dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir; tetapi ini akan berlangsung sangat lambat, mahal, dan mungkin suatu rencana yang berbahaya. 

Suatu rencana yang jauh lebih cepat adalah mengarahkan komet-komet dan meteor-meteor ke Mars. Kami juga menyatakan bahwa, jika anda mengarahkan komet atau meteor dengan berhati-hati, anda dapat mengontrol orbitnya. 

Itu berarti anda dapat dengan lembut menempatkan komet atau meteor itu dalam orbit Mars. Perlahan-lahan komet atau meteor itu akan turun ke permukaannya ketika orbitnya perlahan-lahan melemah. Ini berarti banyak komet atau meteor akan terbakar di atmosfir lalu melepaskan uap air. 

Poinnya di sini adalah bahwa kita dapat dengan akurat mengarahkan komet atau meteor sehingga kita dapat meminimalisir kerusakan permukaan planet tetapi memaksimalisir transfer energi, yang kita perlukan untuk memanaskan planet Mars.

Tanya: Adakah tabel waktu untuk terraforming planet Mars?

Jawab: Tidak segera. Tebakan yang bagus adalah bahwa kita akan mengirim astronot ke Mars pada pertengahan abad ini (dikarenakan adanya hambatan-hambatan pada masa kini dalam misi mengirim manusia ke angkasa luar). 

Jadi koloni-koloni pertama akan dibangun lebih belakangan dalam abad ke-21. Terraforming baru akan dimulai sekian dasawarsa sesudahnya. 

Kira-kira pada pertengahan abad ke-22 terraforming planet Mars baru dapat dipertimbangkan dengan serius. 

Tetapi seperti Carl Sagan suka tunjukkan, kita harus menjadi suatu spesies dua planet, sebab betul-betul sangat berbahaya jika kita menempatkan masa depan umat manusia hanya pada satu planet.

Itulah tanya-jawab dengan Michio Kaku. Impresif, gak?




Ilustrasi terraforming planet Mars. Credit: NASA|JSC|Pat Rawlings, SAIC. Sumber image Fraser Cain. 


Nah, tentang terraforming planet Mars, apa yang dikatakan fisikawan dan kosmolog besar Universitas Cambridge, Inggris, Stephen Hawking (lahir 8 Januari 1942, wafat 14 Maret 2018) patut juga kita simak. 

Pada tahun 2007, sebelum masuk ke penerbangan gravitasi-nol, dengan nada sedikit futuristik Stephen Hawking berkata, 

“Banyak orang telah bertanya kepada saya mengapa saya mengambil penerbangan ini. Saya melakukannya karena banyak alasan. Pertama-tama, saya percaya bahwa kehidupan di muka Bumi sedang berada pada suatu risiko yang makin besar untuk punah samasekali oleh suatu bencana seperti perang nuklir yang terjadi dadakan, suatu virus yang direkayasa secara genetik, atau bahaya-bahaya lain. Saya pikir umat manusia tidak memiliki masa depan jika mereka tidak memasuki angkasa luar. Saya karena itu ingin mendorong minat masyarakat pada angkasa luar.” 

Dalam suatu wawancara dengan The Daily Telegraph (2001), Hawking menyarankan bahwa angkasa luar adalah harapan jangka panjang untuk planet Bumi. “Koloni-koloni di angkasa luar bisa jadi harapan satu-satunya,” kata Hawking. 

Sehari sebelum NASA mengonfirmasi keberadaan air di Planet Mars, di hadapan U.S. House Committee on Science and Technology, pada 30 Juli 2008, Hawking membuat sebuah pernyataan, 

“Menemukan air di planet Mars dapat berarti bahwa suatu koloni planet Mars di masa depan dapat menggunakan air ini sebagai suatu sumber oksigen. Ini adalah suatu langkah pertama untuk menyebarluaskan umat manusia masuk ke angkasa luar, yang menurut saya harus merupakan tujuan jangka panjang kita.” 

Kini, di tahun 2011, sekian situs di planet merah Mars sudah dipastikan berisi air yang melimpah, bahkan disimpulkan bahwa planet Mars memiliki air yang aktif, dulu maupun sekarang./20/

Sejalan dengan pandangan Hawking, Prof. J. Richard Gott, astrofisikawan dari Princeton University, USA, menyatakan, 

“Kita harus membangun suatu koloni di Mars yang dapat menopang dirinya sendiri. Hal itu akan membuat kita suatu spesies dua planet dan akan membuat lebih baik prospek survival jangka panjang kita dengan memberi kita dua kesempatan ketimbang hanya satu kesempatan.” 

Memindahkan Planet Bumi

Selain terraforming, ada sebuah jalan lain yang tersedia, yang jauh lebih sulit untuk menyelamatkan planet Bumi, yakni memindahkan planet Bumi beserta semua sumber yang tersedia di dalamnya ke suatu lokasi orbit yang lebih jauh dari Matahari. Para ilmuwan sudah menghitung-hitung dan membuat simulasinya dengan menggunakan komputer.

Jika pada 6,3 milyar tahun dari sekarang sang Mentari berubah menjadi sebuah bola api raksasa merah yang menggelembung dan cahayanya menjadi 2,2 kali lebih terang dari cahayanya sekarang, maka untuk keselamatan penghuni planet Bumi dan planet ini sendiri, planet Bumi harus dipindahkan, “didongkel”, dari orbitnya yang sekarang, menjauh dari Matahari, ke jarak 1,5 kali dari orbitnya yang sekarang pada Matahari. Orbit planet Bumi yang baru ini sama dengan orbit planet Mars sekarang ini. 

Dengan jarak orbit yang ditambah ini, planet Bumi akan menerima panas dari Matahari yang sudah menggelembung dengan intensitas dan volume yang sama dengan intensitas dan volume yang sekarang ini kita semua terima.

Ihwal kapan usaha pemindahan planet Bumi ini sudah harus dijalankan, bergantung pada kapan kita mau mencapai orbit planet Bumi 1,5 kali lebih jauh dari orbitnya yang sekarang, untuk menghindari penguapan semua air di muka Bumi dan untuk menjauh dari bola merah raksasa sang Matahari yang makin memanas dan menggelembung! 

Kalau penggeseran orbit Bumi mau dilakukan perlahan dan bertahap, usaha ini mungkin sudah bisa dimulai sekarang! Ya, pergeserannya tentu akan berlangsung sedikit demi sedikit, dengan laju kecepatan seekor semut ketika semut ini berjalan dan berlari. Saya berguyon loh.

Masalahnya: kita sekarang ini belum memiliki teknologi yang aman dan applicable untuk memindahkan Bumi. Lagipula, apa alasannya jika dilakukan sekarang?

Selain itu, kita masih harus tahu, apakah orbit planet Bumi yang diubah akan berpengaruh juga pada orbit benda-benda langit lainnya dalam sistem Matahari. Juga apakah tidak akan mengganggu keseimbangan gravitasional yang sekarang sudah stabil antarplanet. Juga bulan planet Bumi yang sudah berada pada orbit tidal lock dengan Bumi akan berubah? Tapi, tampaknya ini semua bukan suatu persoalan besar.

Sepertinya, usaha menyelamatkan dan memindahkan planet Bumi sekarang ini terpikirkan hanya sebagai suatu fiksi ilmiah, yang dapat dijadikan kisah film-film Hollywood. Tetapi, pemindahan planet Bumi adalah sebuah tugas di masa depan yang jauh dan yang sangat serius! 

Kelihatannya sekarang ini, “kiamat”, dalam arti: lenyapnya planet Bumi dan matinya semua makhluk hidup di dalamnya, tidak akan bisa dihindari. Tapi katastrofi ini akan terjadi masih sangat lama jika dihitung dari rata-rata umur manusia sekarang ini (katakanlah rata-rata sampai 80 tahun); kita masih harus menunggu 1,1 milyar sampai 7 milyar tahun dari sekarang. Walah!

Well, makhluk yang nanti akan mengalami “kiamat” ini adalah keturunan manusia yang telah mengalami evolusi genetik dan evolusi inteligensi, secara alamiah atau lewat evolusi teknologis artifisial. Mereka akan sudah menjadi organisme transhuman yang telah melampaui dan mengatasi berbagai kelemahan dan keterbatasan tubuh biologis mereka. Ya, dengan cara menggabung biologi dan teknologi, menjadi sosok cybernetic organism atau cyborg.

Bisa jadi, mereka pada zaman mereka nanti akan dapat menemukan suatu solusi tepat, aman dan efisien untuk menghindari lenyapnya air dari planet Bumi dan terpanggangnya planet ini oleh panas cahaya sang Matahari yang sudah membengkak menjadi bola api raksasa maut./21/

Penutup

Saya mau bertanya kepada anda. Boleh ya? 

Manakah yang lebih dekat ke hati Tuhan yang maha pemelihara dan maha pengasih, para saintis (banyak yang ateis) yang ingin mempertahankan kehidupan spesies Homo sapiens dan peradabannya serta planet Bumi, ataukah para agamawan radikal dari berbagai agama yang dengan teologi kiamat mereka menghendaki planet Bumi ini dan jagat raya serta Homo sapiens lenyap dari dunia nyata?/22/

Dan untuk membuat anda tambah gelisah lagi, di beberapa alinea terakhir ini saya mau mengemukakan sesuatu. 

Apakah anda sudah menonton film yang berjudul Knowing? 

Jika sudah, anda pasti tersadarkan bahwa bintang Matahari kita juga bisa menjadi penyebab kiamat yang terjadi mendadak, pada masa kehidupan anda sendiri, tanpa terprediksi oleh kita di Bumi. 




“Solar promince” pada korona Matahari


Ada yang dinamakan solar prominence atau “tonggos” Matahari, yakni lidah-lidah api dahsyat yang sewaktu-waktu begitu saja menyembur dan menyambar ke angkasa luar dari permukaan korona Matahari, yaitu lapisan luar atmosfir bola bintang Matahari. Lidah-lidah api ini (dinamakan juga filamen) adalah plasma atau gas panas terionisasi yang terdiri atas hidrogen dan helium yang bermuatan listrik. 




Foto di atas adalah semburan plasma raksasa tonggos Matahari, direkam oleh NASA pada 24 Februari 2011. Mengerikan, gak? Saksikan videonya di NASA News./23/

Semburan api plasma yang stabil dapat bertahan selama beberapa bulan, dan sejauh ini dapat terjulur ke angkasa luar sampai ratusan ribu mil dari korona Matahari, lalu surut kembali atau seluruh massanya lepas ke angkasa luar. Tentu saja, akan bisa menyembur lebih jauh dan lebih jauh lagi. Mungkin juga lidah plasma Matahari---sebagai bagian dari struktur massif magnetik yang lebih besar yang dinamakan Corona Mass Ejections atau CMEs---dapat mencapai planet Bumi tempat anda hidup sekarang ini, dengan menembus medan magnetik perisai Bumi. 

Seandainya tonggos Matahari suatu saat tiba-tiba menyembur jauh sampai ke planet Bumi, seperti ditayangkan oleh film itu, itulah the end of the world in the literal sense of the word! 

Saya belum pelajari, apakah kejadian imajiner dalam film tersebut dapat menjadi suatu fakta ilmiah. 

Izinkan saya berimajinasi: bagaimanakah kejadiannya dan akibatnya jika plasma Matahari menyembur terus-menerus, jangka panjang, dengan massa plasma yang terus makin besar dan dengan kecepatan yang terus makin tinggi, lalu keseluruhan massa plasma ini terlepas dari korona Matahari? 

Apakah massa plasma yang sangat panas dan luarbiasa besar, yang terlepas dengan kecepatan tinggi itu bisa sampai ke Bumi, atau lenyap menjadi debu dalam sistem Matahari? Lihat ilustrasi di bawah ini (NASA, ESA, E. Wheatley [STSCI]), yang diambil dari Insane Curiosity.




Anda jangan hanya jadi gelisah, tapi yakinkanlah semua orang, termasuk diri anda sendiri, bahwa manusia di Bumi harus mempelajari bintang Matahari kita dengan sangat intensif supaya kita di masa depan, lewat teknologi kita yang sudah sangat advanced, bisa mengendalikan bahkan menjinakkan tonggos Matahari yang berukuran supergiant, bahkan segala sesuatu di dalam bintang ini yang bisa membahayakan planet Bumi dan seluruh isinya!  

ioanes rakhmat


Catatan-catatan

/1/ Kata Yunani “apokalypsis” muncul dalam kitab terakhir Perjanjian Baru yang diberi nama Kitab Wahyu, yakni pada Wahyu 1:1 dalam frasa “apokalypsis Iēsou Khristou” ( = wahyu Yesus Kristus).

/2/ Para pakar yang bekerjasama itu adalah Harold W. Attridge, Francis T. Fallon, Anthony J. Saldarini, Adela Yarbro Collins, dan John J. Collins (chair). Mereka disebut the Apocalypse Group of the Society of Biblical Literature’s Genres Project. 

Hasil kerjasama mereka dipublikasi dalam Semeia 14 (1979); kutipan dari hlm. 9. Definisi ini diambil-alih oleh David S. Russell, Divine Disclosure: An Introduction to Jewish Apocalyptic (Minneapolis: Fortress Press, 1992) hlm. 12. Lihat juga terjemahan Indonesia buku Russell ini oleh Ioanes Rakhmat, dengan judul Penyingkapan Ilahi: Pengantar ke dalam Apokaliptik Yahudi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).

/3/ Paul D. Hanson, The Dawn of Apocalyptic: The Historical and Sociological Roots of Jewish Apocalyptic Eschatology (Fortress Press; edisi revisi 1979; cetakan ketiga 1989) hlm. 428.

/4/ Paul D. Hanson, Old Testament Apocalyptic (Nashville: Abingdon Press, 1987) hlm. 27-28.

/5/ John J. Collins, The Apocalyptic Imagination: An Introduction to Jewish Apocalyptic Literature (Grand Rapids, Michigan/Cambridge, U.K.: William B. Eerdmans Publishing Co., 1984, 1998), hlm. 6, 281-82. 

/6/ Tentang teori dissonansi kognitif dan penerapannya pada kekristenan perdana, lihat Ioanes Rakhmat, “Teori Cognitive Dissonance dan Kekristenan Perdana”, Freidenk Blog, 17 Januari 2009, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2009/01/teori-cognitive-dissonance-dan.html?m=0.

/7/ Lihat antara lain John J. Collins, The Apocalyptic Imagination, hlm. 6; David S. Russell, Divine Disclosure, hlm. 8-13. 

Ciri-ciri pemikiran apokaliptisisme yang disajikan ini diupayakan lengkap dan menyeluruh; tapi tidak selalu semuanya sekaligus muncul dalam setiap tulisan apokaliptik Yahudi ataupun tulisan apokaliptik Kristen, yang ada di dalam kitab suci maupun di luarnya.

/8/ Lebih lanjut tentang Zoroastrianisme, lihat misalnya BBC, “Dualism in Zoroastrianism”, update mutakhir 02 Oktober 2009, https://www.bbc.co.uk/religion/religions/zoroastrian/beliefs/dualism.shtml.

/9/ John J. Collins, The Apocalyptic Imagination, hlm. 280.

/10/ Lihat http://www.ioanesrakhmat.blogspot.com/2009/03/dispensasionalisme-pra-millennial.html dan juga http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2008/11/fundamentalisme-zionis-yahudi-kristen.html.

/11/ Lihat penanganan yang benar atas sastra-sastra apokaliptik Yahudi oleh Paul D. Hanson dalam bukunya The Dawn of Apocalyptic: The Historical and Sociological Roots of Jewish Apocalyptic Eschatology (Fortress Press; edisi revisi 1979; cetakan ketiga 1989); juga John J. Collins, The Apocalyptic Imagination.

/12/ Kitab Wahyu Yohanes dalam kanon Perjanjian Baru juga bukan sebuah kitab yang “diturunkan” dari sorga. 

Kitab ini ditulis sebagai sebuah respons yang real dalam bentuk sastra apokaliptik terhadap situasi teraniaya dan tertindas secara sosial, politis dan ekonomi,  yang real dialami suatu komunitas Kristen yang juga real di dalam konteks sejarahnya yang khas di Asia Kecil, khususnya pada masa pemerintahan Kaisar Domitianus (memerintah 81-96) yang mengharuskan penyembahan dan pemujaan kepada Kaisar sebagai “Tuhan dan Allah” (dikenal sebagai kultus pemujaan Kaisar) diadakan di semua provinsi kekaisaran. 

Elisabeth Schüssler Fiorenza, misalnya, telah menelaah Kitab Wahyu ini dari sudut pandang sejarah sosial-politis komunitas yang sedang mengalami penganiayaan. Lihat Elisabeth Schüssler Fiorenza, The Book of Revelation: Justice and Judgment (Minneapolis, MN: Augsburg Fortress, 1998, edisi kedua); idem, “The Followers of the Lamb: Visionary Rhetoric and Social-Political Situation” dalam Semeia 36 (1986) hlm. 123-146; lihat juga Leonard Thompson, “A Sociological Analysis of Tribulation in the Apocalypse of John” dalam Semeia 36 (1986) hlm. 147-174.

/13/ Teologi kiamat juga membuahkan berbagai gerakan militan dan terorisme dalam berbagai komunitas keagamaan yang ada di dunia dewasa ini. Penjabaran yang luas dan analisis yang tajam tentang keadaan ini, lihat Mark Juergensmeyer, Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (updated edition with a new preface) (Berkeley, Los Angeles and London: University of California Press, 2000; first paperback printing 2001); juga idem, Global Rebellion: Religious Challenges to the Secular State, From Christian Militias to Al Qaeda (Berkeley, Los Angeles and London: University of California Press, 2008).

/14/ Robert Pape, Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism (New York: Random House, 2005).

/15/ David S. Russell, Prophecy and the Apocalyptic Dream: Protest and Promise (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1994) hlm. 115.

/16/ Untuk gambaran lebih lengkap tentang akibat-akibat yang akan ditimbulkan oleh suatu perang nuklir sedunia, lihat Carl Sagan, Cosmos (New York: Random House, 1980) bab 13 (hlm. 317 ff.).

/17/ Lihat berita Harry Baker, “World's largest Martian meteorite goes on display”, Livescience, 3 September 2021, https://www.livescience.com/worlds-largest-martian-meteorite.html.

/18/ Ioanes Rakhmat, “Meteor Doomsday atau Apokalipsis Meteor Suatu Saat Akan Terjadi”, Freidenk Blog, 29 Maret 2021, diedit 3 April 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2021/03/meteor-doomsday-atau-apokalipsis-meteor.html?m=0.

/19/ Wawancara pendek dengan Michio Kaku, 13 September 2010, “Should We Use Comets and Asteroids to Terraform Mars?”; tersedia online di http://bigthink.com/ideas/24011.


/21/ Lebih jauh tentang ihwal pemindahan planet Bumi, lihat http://www.newscientist.com/article/dn14983-moving-the-earth-a-planetary-survival-guide.html. 

/22/
Kalau anda mau tahu ide-ide saintifik tentang bagaimana planet Bumi bisa dilenyapkan, ide-ide ini terpasang online di http://www.livescience.com/17875-destroy-earth-doomsday.html. Mungkin ide-ide yang dibeberkan di situs itu suatu saat akan dijalankan oleh para radikalis keagamaan dari berbagai agama.

/23/ Lihat NASA NEWS by Susan Hendrix and Holly Zell, “Monster Prominence Erupts from the Sun”, NASA NEWS, https://www.nasa.gov/mission_pages/sunearth/news/News022411-monsterprom.html.