Thursday, December 29, 2011

Mitos Taman Eden, Adam, dan Hawa

Petiklah buah itu!
“Pikiran kita itu bisa salah. Karena itu, berpikirlah terus, jangan menyerah.”
☆ Ioanes Rakhmat

Meskipun sekarang ini zaman modern, zaman ilmiah, yang berbeda dari zaman kuno yang pramodern dan prailmiah, banyak orang, bahkan yang terpelajar juga, menolak sains evolusi Darwinian.

Penolakan mereka didasarkan bukan pada riset keilmuan panjang tandingan, tapi pada kisah skriptural tentang penciptaan Adam dan Hawa langsung gede di Taman Eden oleh Tuhan.

Berdasarkan kisah ini, mereka membangun sebuah ideologi keagamaan yang dinamakan kreasionisme yang mereka perjuangkan untuk diakui dan ditempatkan sejajar dengan sains evolusi. Tentu saja di mana-mana usaha mereka ini selalu kandas.

Bagi mereka, kisah Taman Eden skriptural adalah kisah nyata, bukan fiksi, ada dalam kitab-kitab suci sebagai wahyu ilahi yang tak mungkin salah, karena itu harus dipercaya dan dipertahankan apa adanya, at face value, apapun juga taruhannya.

Nah bagaimana dengan kondisi di Indonesia?

Jelas, budaya yang menguasai Indonesia adalah budaya agama (di samping budaya korupsi), bukan budaya saintifik. Sementara budaya agama umumnya mematikan rasa ingin tahu manusia dan menutup pemikiran kritis dan nalar, budaya sains mencerahkan manusia dan mendayagunakan pemikiran kritis.

Karena itu, untuk membangun suatu budaya saintifik, hemat saya, tak ada jalan lain, selain menunjukkan kepada anda bahwa kisah tentang Taman Eden adalah 100 persen dongeng. Tak percaya? Mari simak penyelidikan berikut.

Sebelum ke situ, saya perlu tekankan bahwa Allah itu kreatif, mahaberfirman, mahahadir dan mahapenuntun.

Dengan demikian, jenis-jenis sastra kreatif imajinatif pun, misalnya kisah Taman Eden, atau perumpamaan-perumpamaan Yesus yang oleh sejumlah kritikus sastra dinamakan fiksi-fiksi puitis, dengan bebas dan riang dipakai Tuhan untuk menyampaikan firman-firmannya, kalam-kalamnya, untuk menuntun dan memberitakan kehendaknya.

Tuhan pastilah berkenan hadir dan bersabda baik lewat kisah-kisah prosais faktual maupun lewat kisah-kisah kreatif fiksional imajinatif puitis dan lewat berbagai media komunikasi lainnya yang tentu saja terus bertambah banyak dari zaman ke zaman.

Jadi, tidaklah pada tempatnya jika kita memaksa dan membatasi Tuhan YMKreatif untuk menyampaikan kalamnya hanya lewat fakta-fakta atau lewat kisah-kisah nyata saja.

Jika anda memaksa Tuhan untuk berfirman dengan terbatas hanya lewat fakta-fakta atau lewat kisah-kisah nyata, maka anda telah menjadi suatu tuhan bagi Tuhan YMKreatif, MTahu dan MTakterbatas. Anda mengatur Tuhan. Anda mendikte Tuhan. Anda mengurung Tuhan dalam sebuah ide sempit anda. 

Oh ya, perlu diingatkan bahwa hanya sains atau ilmu pengetahuan yang harus dibangun berdasarkan fakta-fakta atau bukti-bukti empiris, dan selalu terbuka untuk diverifikasi kembali pada masa-masa selanjutnya.

Nah, jika ada orang yang mengharuskan teks-teks keagamaan apapun, baik yang skriptural maupun yang bukan-skriptural, sebagai teks-teks tentang fakta-fakta empiris, maka mereka telah memperlakukan teks-teks tersebut sebagai teks-teks ilmu pengetahuan.

Apakah betul kitab-kitab keagamaan adalah kitab-kitab tentang ilmu pengetahuan modern? Orang yang berakal dan mengenal ilmu pengetahuan pasti akan menyatakan: Oh tentu bukan!

Selain itu, jika anda menyatakan bahwa teks-teks keagamaan anda adalah teks-teks ilmu pengetahuan, maka, sejalan dengan sifat ilmu pengetahuan, teks-teks keagamaan anda itu harus tunduk pada metode-metode rasional pengujian untuk menunjukkan kebenaran atau ketidakbenarannya. Apakah anda mau melakukannya? Saya yakin, anda tidak akan melakukannya sebab anda sudah tahu apa hasilnya nanti.

Ya tentu sudah ada orang lain yang mencoba membangun argumentasi dan mengajukan bukti-bukti bahwa teks-teks keagamaan mereka adalah teks-teks ilmu pengetahuan, teks-teks tentang fakta-fakta ilmiah.

Sejauh ini, setahu saya, usaha mereka ini selalu dipatahkan atau digagalkan oleh peninjauan ulang dengan cermat lewat metode-metode keilmuan yang dilakukan para saintis atau oleh orang yang tahu ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pengetahuan tentang teks-teks keagamaan.

Alih-alih berargumen dijalur ilmu pengetahuan, para agamawan apologet itu sebetulnya membangun pseudosains alias ilmu pengetahuan gadungan. Banyak orang dengan tanpa mereka sadari telah masuk ke dalam perangkap gelap pengetahuan gadungan ini.

Nah, mari sekarang kita fokus pada kisah Taman Eden yang segera saya telisik lewat akal sehat, akal ilmiah dan ilmu pengetahuan.

Hanya dalam dongeng saja, ada sepasang manusia purba, lelaki dan perempuan, yang tidak memiliki pusar sama sekali karena tidak pernah menjadi janin dalam rahim seorang ibu, berhubung keduanya diciptakan langsung besar. (Kalaupun keduanya diciptakan sebagai sepasang bayi yang juga tak mempunyai pusar, kedua bayi ini akan pasti mati karena tak ada induk yang dapat menyusui dan memelihara mereka.)

Rabalah perut anda, dan rasakan apakah anda memiliki sebuah pusar; kempot ke dalam atau bodong keluar, tak masalah. Kalau anda keturunan langsung Adam dan Hawa mitologis, haruslah perut anda juga tidak memiliki pusar. Anda ternyata keheranan, dari mana asal-usul paling awal udel anda, bukan? Semoga anda langsung tersadarkan bahwa andalah manusia yang real, sedangkan Adam dan Hawa cuma dua makhluk khayalan.

Hanya dalam dongeng saja, manusia perempuan muncul dari satu tulang rusuk lelaki, sementara semua tulang rusuk pria hingga kini selalu komplit.

Menurut sains, Homo sapiens moyang anda bukan muncul pertama kali di Taman Eden sebagaimana dikisahkan kitab suci anda, melainkan di Afrika, 300.000 tahun yang lalu, sebagaimana ditunjukkan oleh bukti-bukti arkeologis./1/

Hanya dalam dongeng saja ada sebatang pohon moral yang menurut kisahnya tumbuh di tengah Taman Eden, yang jika buahnya dimakan, si pemakan akan langsung cerdas, minimal cerdas secara moral, tanpa perlu melewati proses panjang pembelajaran!

Sama seperti sekeping biji ketika dilempar ke tanah keesokan harinya telah tumbuh seketika menjadi sebatang pohon bayam yang puncaknya sampai ke langit, yang bisa membawa manusia ke suatu negeri kaya raya di atas awan-awan dan yang bisa membuatnya kaya raya dalam sekejap! 

Kisah tentang sekeping biji ini tentu saja dongeng ciptaan Hans Christian Andersen yang sangat menawan kanak-kanak, yang sesudah dikisahkan kepada mereka, mereka langsung tertidur.

Anda tentu teringat kisah dongeng yang serupa dalam bagian akhir kitab Yunus dalam Tenakh Yahudi, tentang sebatang pohon jarak yang tumbuh tinggi dan mengeluarkan daun-daun lebat dan lebar hanya dalam semalam! Yunus murka kepada Allah dan minta mati, ketika pohon jarak itu, yang daun-daun lebarnya dijadikannya tempat berteduh dari sengatan cahaya Matahari, dibuat mati oleh Allah!

Hanya dalam dongeng saja ada seekor ular berkaki, yang cerdas dan bisa berbicara bahkan berhasil meyakinkan manusia tentang sebuah kebenaran yang konon hanya Allah saja yang tahu.

Hanya dalam dongeng saja, curiosity atau rasa ingin tahu yang besar pada diri Hawa yang mendorongnya memetik dan memakan buah pohon moral itu, harus dikutuk dan dijadikan alasan untuk menghukum manusia. 

Padahal, dalam dunia real modern masa kini curiosity-lah, selain kebutuhan survival manusia, yang membuat sains maju dan terus berkembang di tangan manusia-manusia cerdas dan pemberani, seperti dicontohkan oleh Hawa dalam mitos Taman Eden.

Ketahuilah, sama seperti dalam kisah skriptural Taman Eden, seorang suci Santo Augustinus (354-430 M), yang dipuja dalam gereja dari abad ke abad, dengan terbuka mengutuki rasa ingin tahu atau kuriositas, tulisnya, 

“Ada satu bentuk godaan lagi, bahkan lebih berbahaya, yakni penyakit ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang selalu mendorong kita untuk mencoba menemukan rahasia-rahasia alam, rahasia-rahasia yang sebetulnya berada di luar kemampuan kita untuk memahaminya, yang hanya akan membuahkan kesia-siaan jika dicari, yang seharusnya manusia tidak ingin pelajari.”/2/

Hanya dalam dongeng saja Allah punya tubuh, kaki, tangan, kepala, rambut, mata, alis, hidung, telinga dan mulut, sehingga membuatnya bisa berjalan-jalan di Taman itu mencari-cari Adam dan Hawa, melihat-lihat, pada hari yang sejuk./3/

Saya sedang membayang-bayangkan, jika Allah sang Bapa ini muncul dan berjalan-jalan dalam taman ini bagaimana penampilannya? Seandainya Allah ini berbusana, saya berharap dapat mengetahui busana jenis apa.

Bayang-bayangan ini muncul dalam benak saya, ya karena kisah Taman Eden mengisahkan Allah secara antropomorfik, yakni dengan memberi bentuk dan sifat insani pada Allah yang pada hakikatnya non-insani.

Baiklah dipahami bahwa antropomorfisme teologis memang tak terelakkan, sebab manusia bisa berpikir dan berimajinasi tentang Tuhan hanya dalam bahasa-bahasa verbal dan nonverbal insani.

Baik kita bertanya. Kenapa Allah mencari Adam dan Hawa? Karena keduanya, sehabis memakan buah ajaib itu, ketakutan lalu mencari tempat bersembunyi, menghilang dari pandangan Allah.

Hanya dalam dongeng saja seorang manusia lelaki dan seorang manusia perempuan yang keduanya bugil total tidak terangsang secara seksual satu sama lain, sekian lama, bahkan masing-masing tidak menyadari kalau keduanya telanjang bulat.

Hanya dalam dongeng saja, Adam dan Hawa, lelaki dan perempuan, setelah sekian lama hidup bersama baru sadar bahwa keduanya telanjang bulat setelah memakan buah ajaib mitologis tadi.

Hanya dalam dongeng saja ada manusia berusia sampai empat ratus atau lima ratus tahun, dengan tetap muda dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Hanya dalam dongeng saja ada sebuah pohon lain di sebelah timur Taman Eden mitologis yang jika buahnya dimakan, Adam dan Hawa akan hidup abadi, sehingga konon Allah menempatkan beberapa malaikat berpedang bernyala untuk menjaga pohon ajaib kedua ini.

Kita tahu Drakula atau Vampire bisa hidup abadi karena meminum darah manusia, korban-korban mereka. Tapi kita juga sangat tahu bahwa dua makhluk abadi peminum darah ini hanya hidup dalam dongeng-dongeng dari negeri-negeri Eropa dan Amerika, sama seperti Leak hanya ada dalam dongeng rakyat Bali.

Kita juga tahu ada satu makhluk menyeramkan, monster manusia, yang dibuat dengan menyatukan, lewat jahitan, serpihan-serpihan dan potongan-potongan mayat, lalu dihidupkan kembali dengan tenaga listrik dan petir. 

Tetapi monster manusia ini, yang diciptakan seorang profesor gila yang bernama Frankenstein, hanya ada dalam novel karya Mary Shelley yang edisi keduanya terbit 1831 di Inggris. Pesan novel ini jelas: dengan dijahit, serpihan-serpihan mayat bisa dihidupkan lagi, kematian bukan akhir! Tentu saja, pesan ini hanya berlaku dalam dunia dongeng. Yang faktual adalah keinginan untuk hidup abadi yang memang ada dalam diri manusia.

Cukuplah sudah saya memperlihatkan kepada anda bahwa kisah skriptural tentang Taman Eden dan semua kejadian yang dikisahkan di dalamnya adalah dongeng belaka, sebuah kisah prosais imajinatif yang dilihat dari jenis sastranya termasuk kisah etiologis atau kisah tentang asal-usul sesuatu.

Ketahuilah, setiap suku bangsa di dunia umumnya memiliki kisah-kisah etiologis mereka sendiri-sendiri, yang berbeda-beda, termasuk kisah-kisah asal-usul moyang-moyang pertama mereka dulu. Kisah tentang Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian hanyalah salah satunya saja.

Poin pentingnya ini: setiap kisah skriptural, juga yang berupa kisah fiktif imajinatif atau fantasi, ditulis pasti dengan suatu tujuan oleh si penulisnya dulu. Nah, apa tujuan penulisan kisah fiktif Taman Eden? Apa isi berita skriptural kisah ini?

Penulis kisah Tamen Eden dalam Kejadian 2:8-3:24, yakni mazhab Yahwis yang bekerja pada abad sepuluh SM di istana raja Daud/raja Salomo, sudah lama memperhatikan banyak kejadian yang berkaitan dengan lingkungan hidup, manusia, binatang, kerja keras, moralitas, doktrin agama, nafsu berahi, persalinan perempuan, kematian, dan lain-lain.

Semua yang mereka lihat, mereka renungkan dalam-dalam, dengan banyak tujuan, salah satu di antaranya adalah untuk menemukan jawaban mengapa ada penderitaan dalam dunia ini, apa penyebab atau sumber azab manusia.

Itu juga sebuah pertanyaan yang juga sangat mengganggu pikiran Śākyamuni Siddhārtha Gautama di tempat dan zaman yang lain (563-483 SM) yang membuatnya meninggalkan istana lalu masuk ke dalam kehidupan tapa brata untuk mencari jawaban-jawaban yang dapat membebaskan manusia dari dukkha./4/

Lalu mereka, para sastrawan Yahwis ini, memberi jawab dengan menulis kisah tentang asal-usul atau etiologi yang sepenuhnya fiktif spekulatif. Dus, kisah Taman Eden historisnya tidak dimulai di permulaan kehidupan di zaman yang sangat lampau, tetapi dimulai di abad sepuluh SM di negeri Israel.

Para sastrawan Yahwis ini menemukan satu jawaban teologis sangat sederhana dan satu dimensi bahwa semua penderitaan manusia adalah akibat dari ketidaktaatan Hawa dan Adam terhadap ketetapan primordial Allah!

Selain etiologi, mereka juga mengajukan teleologi: tujuan akhir kehidupan manusia adalah kematian, sebagai suatu akibat yang niscaya dari ketidaktaatan Adam dan Hawa! Betapa sendu kisah yang mereka tuturkan.

Kalau Gautama Buddha, setelah dia tercerahkan dan menemukan akar-akar timbulnya penderitaan, memberikan jalan-jalan keluar dari penderitaan yang musti dijalankan sendiri dengan berdisiplin oleh orang-orang yang mau mendengarkannya,/5/ para sastrawan Yahwis ini sama sekali tak memberi jalan keluar apapun, selain rasa putus asa yang dalam terhadap kemalangan manusia, Bumi dan makhluk-makhluk lainnya.

Para sastrawan ini hanya memberikan etiologi dan teleologi yang suram, tapi tak menawarkan soteriologi, doktrin tentang ihwal bagaimana manusia bisa mencapai keselamatan (Yunani: sōtēria), terlepas dari penderitaan./6/

Nah, salah satu hal yang para sastrawan ini selalu temukan dan amati pada abad sepuluh SM adalah kenyataan bahwa ketika setiap manusia mati, lalu mayatnya dikuburkan, mayat ini segera mulai membusuk lalu perlahan menjadi satu dengan tanah.

Dari pengamatan ini, mereka lantas menyimpulkan: kalau mayat akhirnya menyatu dengan tanah atau menjadi bagian dari tanah/Bumi, sudah mustinya manusia berasal pada awal sekali dari tanah, dari Bumi! Ini adalah cara berpikir siklikal yang umum ditemukan dalam masyarakat agraris zaman kuno, yang hidup di bawah kendali musim-musim yang datang dan pergi silih berganti, sebagai suatu siklus yang abadi. 

Tentu saja, sains modern yang telah membuat kita menemukan bahwa DNA adalah struktur kimiawi esensial pembentuk kehidupan,/7/ belum muncul ketika kisah skriptural Taman Eden ditulis. 

Nah, kalau anda ingin memasukkan unsur DNA ke dalam kisah suci tentang asal-usul manusia, anda perlu menyusun kisah yang sama sekali berbeda dari kisah Taman Eden skriptural. Susunlah! 


Baca juga:
Kita adalah aliens di planet Bumi


Catatan-catatan

/1/ Lihat L. Vigilant et al., “African Populations and the Evolution of Human Mitochondrial DNA”, Science 253, no. 5027 [1991], hlm. 1503-1507.

/2/ Pernyataan Augustinus ini dikutip dalam Charles Freeman, The Closing of the Western Mind: The Rise of Faith and the Fall of Reason (London: Heinemann, 2002), hlm. vii.

/3/ Gaya berkisah dalam kitab-kitab suci, yang melukiskan Allah dalam sifat dan rupa manusia disebut gaya berkisah antropomorfis. Kitab suci Perjanjian Lama sangat kaya dengan antropomorfisme, yang tentu saja tak boleh diterima atau diperlakukan secara harfiah.

/4/ Kata sanskerta dukkha secara harfiah berarti rasa pedih yang ditimbulkan oleh cucukan ujung-ujung tulang dan serpihan-serpihan tulang yang tajam pada daging yang mengitarinya ketika tulang paha seseorang patah di dalam.

/5/ Gautama Buddha menawarkan Jalan Mulia Rangkap Delapan untuk manusia mencapai pencerahan diri  dan pembebasan dari penderitaan, yakni: (1) berpandangan benar; (2) berkeinginan benar; (3) berbicara benar; (4) bertindak benar; (5) hidup benar; (6) berusaha benar; (7) berpikiran benar; (8) berkonsentrasi benar. Jalan pertama dan kedua termasuk hikmat (sanskerta: prajnā); jalan ketiga, keempat dan kelimat termasuk moralitas (Sanskerta: sīla); jalan keenam, ketujuh dan kedelapan termasuk meditasi (Sanskerta: samādhi).

/6/ Usaha teologis menelusuri sebab-musabab adanya penderitaan, dan pertanyaan-pertanyaan di mana Allah yang maha pengasih dan maha adil berada di tengah realitas penderitaan manusia, dan kepada siapa Allah berpihak apakah kepada penyebab penderitaan atau kepada manusia yang menderita, masuk ke dalam bidang perenungan teologis yang dinamakan teodise (dari kata Yunani theos = Allah, dan dikē = keadilan). 

Dalam bukunya yang berjudul God’s Problem: How the Bible Fails to Answer Our Most Important Question, Why We Suffer (New York: HarperCollins Publishers, 2008), Bart D. Ehrman memperlihatkan Alkitab gagal menjawab pertanyaan terpenting manusia apa sebabnya atau mengapa manusia menderita.

/7/ DNA (Deoxyribonucleic acid) adalah asam nukleat yang memuat informasi-informasi genetik yang digunakan untuk mengembangkan dan mengfungsikan semua organisme hidup yang dikenal. Segmen-segmen DNA yang membawa informasi genetik ini disebut gen. Bersama RNA dan protein, DNA adalah salah satu dari tiga makromolekul yang esensial bagi semua bentuk kehidupan yang dikenal.