Thursday, June 16, 2022

AKU KEKASIH YESUS, AKU WARGANEGARA INDONESIA

 



Pada 4 April 2022, saya mulai berolahraga jalan kaki di pagi hari di komplek perumahan kami di Jakarta Utara. Semula saya mengambil 3-4 putaran terjauh, yang menghabiskan waktu 1,5 jam lebih, malah, karena menikmati dan menghormati alam sekitar, bisa sampai 2 atau 3 jam, di bawah sorotan cahaya Mentari yang memberi sangat banyak manfaat bagi kesehatan kita. 


Tetapi, karena pertimbangan keamanan dan keselamatan diri saya sewaktu berjalan kaki, dalam kurang lebih satu bulan terakhir ini saya jadinya mengambil putaran separuh putaran terjauh sebelumnya, dekat-dekat rumah saja.




BTW, perhatikan foto diri saya persis di atas ini. Saya membotakkan sendiri kepala saya dengan gunting dan pisau silet bertangkai pada 15 Juni 2022. 

Di pagi hari kemarin ini, saya yang berkepala gundul berolahraga jalan kaki dengan membawa sebuah patung kecil plastik Budai, atau sang Buddha periang, the Laughing Buddha, yang mengambil posisi duduk bersila, bermeditasi hening, dengan hati dan wajah yang selalu riang. Patung indah warna kuning jingga ukuran segenggam ini, dengan kepalanya gundul, saya taruh pada tapak tangan kanan saya sementara berjalan kaki. Budai gundul, saya juga. Seolah kami kembaran.




Siapapun yang memandang Budai, mereka akan ikut tertawa riang.


Pesan saya jelas, bagi orang yang arif dan bijaksana: hentikan segala suara gaduh dan bising yang terus-menerus disengaja, di dalam komplek perumahan kami. Heninglah, seperti Budai, dalam kegembiraan. Tertawa riang namun hening. Jauhkan keributan, kegaduhan, kemarahan yang meluap-luap, dan kejumawaan. Cerdaskan emosi, jangan dibuat bodoh terus-menerus. Jangan tetap jadi kanak-kanak abadi.

Nah, saya sekarang mencukupkan waktu 1 jam saja untuk 3-4 putaran pendek jalan kaki. Meski begitu, gangguan dan bahaya yang bisa membunuh saya (karena saya sudah lansia) tetap muncul. Gabungan dan gerombolan Legion ada di mana-mana, bahkan sampai masuk ke alam Internet, yang mengharuskan saya bertempur sebagai seorang lansia dengan Mr. G. It is really, really mad, shocking and terrorizing. And yet, I never panic due to the mighty power of the Living Lord Jesus in me.

Dalam 1 jam jalan kaki pagi yang saya perpendek itu, keringat sehat yang keluar banyak, membuat T-shirt yang saya pakai basah di bagian belakang dan di dada.

Karena tetap mengalami gangguan dan bahaya yang berpindah tempat, akhirnya, sejak 2 atau 3 minggu lalu, saya memutuskan untuk mengajarkan hal-hal yang perlu kepada mereka lewat bahasa tubuh dan tindakan simbolik. Saya berikrar, tidak akan menyapa atau berbicara lisan kepada siapapun selama saya berjalan kaki, mengubah kebiasaan sebelumnya.

Keputusan dan ikrar saya itu, saya ambil dan tekadkan setelah Tuhan Yesus Kristus mendorong saya di dalam suatu doa intens saya. Bagaimana kondisi spiritual ini dapat (sering) saya alami, baik di saat berdoa maupun bisa tiba-tiba saja saya rasakan, tidaklah perlu saya kisahkan sekarang. Yang saya temukan, spiritualitas saya sedang tumbuh makin dalam lewat pertempuran spiritual melawan Satanic forces yang terus-menerus memburu dan menjepit saya, dari segala arah dan lini, selama bertahun-tahun hingga saat ini.

Nah, berbagai pesan sudah saya sampaikan kepada mereka. Pesan-pesan saya selama ini pasti dapat ditangkap oleh mereka, maupun oleh warga yang lain yang kebetulan berpapasan dengan saya (di saat mereka juga berjalan kaki, atau sedang berkendara).

Nah, tadi pagi, 16 Juni 2022, saya mengenakan benda-benda simbolik yang terlihat pada foto pertama di atas (klik fotonya untuk caption di bawahnya dapat terbaca dengan jelas) ketika saya berolahraga jalan kaki sebanyak 4 putaran, selama 1 jam penuh.

Pesan saya, ya sudah saya tuliskan pada caption foto di atas dalam bahasa Inggris.

Topi warna coklat yang saya pakai adalah topi gerakan teruna-teruna Pramuka. Terpasang sebuah bendera mini Merah-Putih pada salah satu sisi topi itu, pas di telinga kanan saya. Kalung Salib emas sepuhan melingkari leher saya.

Ya, betul, saya tadi pagi telah menyampaikan pesan yang jelas bagi mereka yang bisa melihat. Bukan cuma melihat dengan mata biasa, tetapi juga dengan mata akal dan mata hati, lalu mengerti.

Pesan saya: Bahwa saya ini seorang yang sudah beragama, seorang Kristen, kekasih Yesus. Jadi, janganlah ada gerombolan apapun yang terus-menerus mati-matian dengan segala cara memaksa saya ganti agama. Indonesia ini sebuah negara demokrasi republik, bukan suatu negara agama apapun. Bahwa saya sebagai seorang Kristen mencintai bangsa dan negara Republik Indonesia ini, membela dan menghormati bendera negara Republik Indonesia. Bahwa saya sejak usia muda, sebagai seorang teruna, sudah mengabdikan diri kepada bangsa dan negara Indonesia, hingga kini di usia lansia jalan 64 tahun, dan akan terus mengabdikan diri saya. Meski saya Kristen, rasa dan semangat keindonesiaan saya punyai.

Nah, di saat menjalani putaran kedua, saya memberi hormat pada bendera Merah-Putih yang berkibar tinggi di halaman depan kantor sekretariat Rukun Warga (RW 12) yang belum lama ini selesai dipugar sehingga kini tampak megah dan apik lahiriah. Penghormatan takzim sekian menit saya arahkan kepada sang Saka Merah-Putih.

Di akhir putaran keempat, ketika sudah sampai kembali di depan rumah kami, saya, sebagaimana lazimnya dalam 1 bulan terakhir ini, melakukan suatu ritual singkat, seperti pada setiap saat saya mau memulai olah raga jalan kaki pagi hari.

Saya berdiri di depan pintu masuk ke rumah, menghadap ke arah rumah. Lalu saya menengadah ke langit, menatap sang Matahari yang sudah berada tinggi di atas kepala saya. Kepada Sang Maha-Langit yang telah memberi Matahari dan cahayanya, saya berterimakasih dan memberi hormat, seraya mengingat Yesus Kristus sang Terang Dunia.

Setelah itu, saya ubah posisi berdiri saya, menghadap ke arah yang sebaliknya, ke arah jalan raya, dan menengadah ke atas langit sambil mengangkat tinggi dua belah tangan saya yang tertangkup.

Lalu ritual kecil saya jalankan dengan gerakan tubuh dan doa syukur dalam hati, kepada Tuhan Allah, sang Bapa, Tuhan Maha-Langit, kepada Yesus Kristus, sang Penerang dunia dan kehidupan, dan kepada Roh Kudus, sang Pembimbing, Penolong dan Pemberdaya kehidupan. Kuasa-kuasa sorgawi lainnya yang penuh cinta kasih, misalnya Bunda Shekinah, Bunda Maria, Bunda Hikmat, para malaikat pelindung, juga saya panggil. Saya yakin betul, bahwa Roh Tuhan Maha-Langit yang berdiam di dalam diri saya dan yang menyelubungi saya, lebih besar tanpa batas dibandingkan roh-roh lain apapun yang ada dalam jagat raya.

Sesungguhnya, kegiatan olah raga jalan kaki di pagi hari, sejak saya keluar rumah, kemudian kembali lagi, saya nikmati sebagai suatu ritual. Ya, ritual doa dan meditasi jalan. Pada momen-momen tertentu, di tempat-tempat tertentu, saya tambahkan dengan ritual penghormatan pada sang Matahari di angkasa yang selalu menemani saya berjalan kaki. Melihat Matahari saya imajinasikan sebagai melihat Yesus Kristus sebagai Sol Invictus atau Sang Matahari yang tak terkalahkan. Dampak ritual berjalan kaki ini bagi kesehatan tubuh dan mental saya, sangat signifikan. It does heal me!

Kate Southworthartis kota London, yang karya-karyanya diakarkan pada ritual, menyatakan bahwa ritual is a way of letting go of the everyday. A ritual is like a poem. There is no wrong or right way. Enjoying the deepness, stillness and quietness of darkness of the night, and then, having been ready, lighting a candle to welcome the return of light in the early morning, is one example of a ritual.

Baik, saya terjemahkan:

“Ritual adalah suatu jalan untuk melepaskan diri dari kerutinan kehidupan sehari-hari. Sebuah ritual itu seperti sebuah puisi. Jadi, tidak ada ritual yang benar atau ritual yang salah. Nah, di saat anda menikmati kedalaman, keheningan dan kesunyian kegelapan malam, lalu, setelah siap, anda menyalakan sebuah lilin untuk menyambut terang yang sudah datang kembali di saat fajar sudah tiba, anda sedang menjalankan satu contoh sebuah ritual.

Well, setelah selesai ritual pendek di depan pintu masuk rumah kami tersebut, saya membuka masker wajah yang sebagian sudah basah, lalu merobeknya dan melipatnya sehingga menjadi kecil. Setelah itu, saya mengikatnya dengan talinya, lalu saya buang ke dalam tempat sampah. 

Itu juga sebuah pesan saya ke kalangan Legion itu yang sengaja menyerakkan banyak masker wajah, bekas dan baru, di aspal jalan-jalan yang saya lewati. Jalan-jalan sampai saat ini banyak dikotori, dengan benda-benda dan zat-zat yang beraroma busuk, dan membuat jalan-jalan basah dan licin. Saya berisiko terpeleset, lalu jatuh, dan tulang-tulang lansia saya dapat patah. Legion memang keji, nurani mereka sudah mati.

Legion itu tahu bahwa sebagai insan lansia, saya memiliki tulang-tulang yang mulai merapuh. Maka, berbagai kondisi direkayasa untuk membuat saya terjungkal di jalan atau terperosok ke dalam lubang selokan yang penutup besinya sudah diangkat dengan sengaja, atau ditaruh pada posisi yang sangat membahayakan setiap pejalan kaki atau setiap mobil yang menikung tajam di situ. Saya tahu semua rekayasa Legion itu. Tidak ada cinta Tuhan dalam diri mereka. Yang ada cuma sifat-sifat roh-roh Legion yang dulu, di abad 1 M, sudah ditaklukkan Yesus.

Well, pintu rumah saya buka, lalu saya masuk. Beberapa saat kemudian, setelah merapihkan diri, saya bernyanyi, memuji dan memanggil Tuhan, di dalam rumah.

Jakarta, 16 Juni 2022

En tō endoksō onomati Iēsou
ioanes rakhmat

Diedit 17 Juni 2022



Friday, June 10, 2022

YESUS MENAKLUKKAN LEGION

 


Yesus menaklukkan Legion. Sumber gambar acatholic.org


Dari awal Yesus tampil di muka umum di saat Dia sudah dewasa, di hadapan rakyat Yahudi dan para pemuka religiopolitik di kawasan-Nya di Galilea, sampai di akhir kehidupan-Nya di Yudea, Yesus tak pernah lepas dari pertarungan spiritual melawan dan mengalahkan kuasa-kuasa kegelapan yang durjana. Kuasa-kuasa gelap ini diberi nama Iblis (Yunani: ho diabolos, Inggris: the Devil) atau Setan (Yunani: ho satan, atau ho satanas) atau disebut juga roh najis (Yunani: to pneuma to akatharton. TB LAI: roh jahat) atau demon (Yunani: to daimonion). Dalam injil-injil Perjanjian Baru, pertarungan spiritual Yesus ini banyak dikisahkan, dengan kemenangan selalu ada di pihak Yesus.

Dalam injil-injil Perjanjian Baru, kuasa-kuasa kegelapan ini dipercaya memiliki gembong atau penghulu atau pemimpin utama yang dinamakan Beelzebul (Yunani: Beelzeboul), yang dalam bahasa Yunani disebut ho arkhōn tōn daimoniōn, atau “the prince of hostile spirits” (BDAG. Teks NRSV: “the ruler of the demons”) (Lihat Markus 3:22; Matius 12:24; Lukas 11:15; bdk. Matius 10:25). Semua kuasa durjana ini digambarkan sebagai kuasa-kuasa yang personal, memiliki kesadaran diri.

Dari banyak kisah injil Perjanjian Baru tentang pertempuran spiritual Yesus ini, nah kisah yang paling menawan dan paling menguatkan dan memberdayakan saya, empowering me the most, adalah kisah tentang Yesus berhadapan dengan gabungan atau gerombolan atau kawanan setan atau roh najis yang menyebut diri kolektif mereka Legion (Yunani: legiōn),  “karena kami banyak” (Yunani: hoti polloi esmen). Bacalah kisahnya dalam Injil Markus 5: 1-17 (dan par.).

Menurut kisahnya, Legion merasuk seseorang yang berkeliaran di kawasan pekuburan dan bukit-bukit di daerah orang Gerasa, dan di situ orang itu siang dan malam terus-menerus berteriak-teriak sambil menyiksa dan memukuli dirinya sendiri dengan batu-batu. Begitu kuatnya kawanan Legion yang merasuki orang itu, sehingga dia selalu dapat menghancurkan dan mematahkan setiap rantai dan belenggu yang diikatkan dan dipasungkan padanya. Tak ada pengusir setan satupun yang cukup kuat, yang dapat menenangkan orang yang dirasuk Legion itu, apalagi menaklukkan dan mengeluarkan kawanan setan Legion itu dari orang yang dirasuk itu.

Nah, dituturkan, datanglah Yesus dan murid-murid-Nya dengan perahu dari suatu danau, memasuki daerah orang Gerasa, di seberang danau, dan tiba di kawasan pekuburan dan perbukitan di situ.

Ketika bertatapmuka dengan orang yang kerasukan Legion itu, Yesus langsung berkata, “Hai engkau roh najis, keluar dari orang ini!”

Ketika orang yang kerasukan setan-setan Legion itu melihat Yesus dan mendengar perintah Yesus, tersungkurlah dia, lalu menyembah-Nya, sambil berteriak, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Putera Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!”

Singkat cerita, karena menolak untuk diusir keluar dari daerah itu, Legion itu meminta kepada Yesus untuk diizinkan pindah merasuki sejumlah besar babi yang ada di lereng bukit, yang sedang mencari makan. Jumlah babi-babi itu ditulis kurang lebih dua ribu ekor. Ketika Legion itu sudah pindah, merasuki kawanan dua ribu ekor babi itu, babi-babi itu kehilangan kendali dan kesadaran diri, lalu semuanya ribut berlarian, selanjutnya dari tepi jurang terjun ke dalam danau, dan semuanya mati lemas di dasar danau atau mengapung-apung di permukaan danau.

Lepas dari problem akurasi gambaran geografis lokasi danau dan daerah orang Gerasa, yang dikisahkan penulis Injil Markus, jelas kisah Yesus menaklukkan gerombolan setan-setan Legion sangat menguatkan siapapun yang mengasihi Yesus, yang sedang mengalami tantangan besar berhadapan dengan gerombolan kekuatan-kekuatan demonik setanik dalam jagat raya ini yang memang sungguh-sungguh real ada dan mengambil wujud-wujud fisik.

Oh ya, di bagian penutup ini, perlu diketahui bahwa kata Legion (Latin: legiō) sebetulnya, di era kehidupan Yesus, adalah nama pasukan gabungan besar prajurit pejalan kaki (5.600 orang) dan prajurit berkuda (200 orang) Kekaisaran Romawi, kurun 27 SM hingga 1453 M.

Harap diingat, Yesus hidup dan menghadirkan Kerajaan Sorga, yakni kuasa kerahiman Allah, sang Bapa/Abba, di antara rakyat Yahudi ketika negeri-Nya sedang dijajah Kekaisaran Romawi. Dus, apakah juga ada implikasi sosiopolitik dari kisah Yesus menaklukkan dan membenamkan kawanan setan Legion ke dasar danau, silakan pikirkan sendiri. 

Bagi penafsir yang cermat, kisah Yesus menenggelamkan gerombolan setan-setan Legion memuat suatu pesan sosiopolitik yang jelas: Tanah Israel adalah milik Yahweh Elohim, Tuhan Allah bangsa Israel, yang telah diberikan kepada bangsa Israel untuk mendiaminya. Kekaisaran Romawi telah menajiskan Tanah Israel lewat penjajahan. Yesus telah datang dan tampil untuk menguduskan kembali Negeri Israel, dengan menenggelamkan Legion yang sedang merasuk babi-babi. Kekuasaan Romawi atas Tanah Israel harus diakhiri, tempat mereka bukan di darat, tetapi di dasar danau, tempat kematian mereka. 



Jakarta, 10 Juni 2022

En tō endoksō onomati Iēsou
ioanes rakhmat

* Diedit 8 Oktober 2024

Wednesday, June 1, 2022

JESUS, MY LIFE GOAL

 


WHAT IS YOUR LIFE GOAL?


There are so many things uncertain
In this temporary and frail world
Uncertainty will forever remain
In anything that exists around the world

Uncertainty usually makes us unhappy
For we want everything to be certain
Still, is there anything to be certain eternally?
Seek, seek the answer that may still remain!

In a quiet and serene dark night
That was brightened gloriously by the many stars above
The answer mysteriously came to me from the height
That Jesus, the Son of God, so much loved me

Yes, I am forever so sure
And nothing can make me waver
That Jesus, the Loving Lord, loves me
Past, present, in the future, and forever

Because of Jesus’ abiding and caring love
The divine love that truly comes
From the transcendent realm of life
I feel myself to have been empowered, always!

Yes, empowered deeply by the light-giving power of Jesus
I’m bravely facing the power of darkness
Darkness cannot overcome the light of Jesus
Evil darkness can’t destroy anyone whom Jesus loves

I therefore shall not die
Together with Jesus, my Beloved One
I shall live long here in this world
And shall live forever in the world beyond

Jesus, how amazing Your grace is!
How sweet it sounds
I love You, Jesus
I live for You, Jesus

The goal of my life is You, Jesus
This goal is worth achieving, Jesus

Jakarta, June 1, 2022

En tō endoksō onomati Iēsou
ioanes rakhmat


Thursday, May 26, 2022

DIANGKAT KE SORGA

 


Sumber gambar sunsetchurchofchrist.org.


Henokh telah diangkat ke sorga
Elia dijemput kereta kencana mulia
Lalu diangkat naik ke sorga
Konon Musa juga diangkat ke sorga

Di manakah kini mereka berada?
Tentu mereka ada di sorga
Tapi, adakah doa-doa ditujukan ke mereka?
Mungkin ada, mungkin juga tak ada

Yesus Kristus ditinggikan tiada tara
Dalam tubuh kemuliaan-Nya
Dia diangkat ke sorga mahamulia
Duduk di sebelah kanan Bapa di sorga

Di kawasan transenden yang baka
Di kawasan yang tak terungkap kata
Kini Yesus berada dalam keabadian dan kemuliaan-Nya
Diselubungi cahaya yang tak tembus mata

Tetapi, Yesus telah berjanji
Ketika dua atau tiga orang sepakat
Berkumpul dalam nama-Nya yang suci
Yesus hadir di tengah mereka akrab dan erat

Yesus yang transenden juga imanen
Berada, berkarya dan menuntun
Gereja-Nya di dalam dunia ini
Dalam doa, Gereja memanggil nama-Nya yang suci

Di dalam Roh Kebenaran
Gereja oleh Yesus dituntun
Untuk tahu Jalan dan Kebenaran
Untuk menemukan Kehidupan

Yesus, Yesus, seruku dalam doaku
Tunjukkan kepadaku Jalan-Mu
Bukakan bagiku Kebenaran-Mu
Karuniakan ke aku Kehidupan-Mu

Teduh dan hening, kudengar Yesus menjawabku:

“Aku ada di dalam dirimu,
Bahkan Aku menyelubungimu,
Di manapun engkau berada,
Di situ juga Aku berada.”

Kutemukan diriku kosong tanpa isi
Sekaligus penuh terisi
Siapakah yang dapat melihat kehadiran Yesus?
Siapakah yang dapat menggenggam Roh Yesus?

Tapi Roh Yesus menggenggamku
Erat, erat merangkulku
Luas, luas, memenuhiku
Penuh hadir dalam diriku

Yesus yang telah terangkat ke sorga
Membawaku juga ke sana
Sekarang ini di dalam dunia
Jadilah kehendak-Mu di Bumi seperti di sorga

Yesus, aku rindu Engkau!
Kerinduan seorang kekasih-Mu
Datang, datang, ya Yesus
Jangan Engkau menungguku terus

Dua hati saling merindu
Tak bisa lagi saling menunggu


Jakarta, 26 Mei 2022

Selamat Hari Kenaikan Yesus ke Sorga


Monday, May 16, 2022

Belajar dari Gautama Buddha di Hari Waisak 16 Mei 2022

 

Selamat Hari Trisuci Waisak 2566, yang jatuh pada hari ini, Senin, 16 Mei 2022.

Disebut trisuci, karena pada setiap hari Waisak umat Buddhis memperingati dan merayakan tiga kejadian penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yakni:

• Hari kelahirannya sebagai seorang pangeran (sekitar tahun 563 SM di Taman Lumbini, sekarang Nepal Utara)

• Hari mendapatkan penerangan atau pencerahan budi (Sanskrit/Pali: bodhi) selama dan setelah 49 hari (7 minggu) menjalankan meditasi yang kontinyu dengan duduk bersila (posisi lotus) di bawah sebuah pohon banyan (yang berlokasi di Bodh Gaya, Bihar, India), yang tumbuh di tepi Sungai Phalgu. Pohon banyan yang dipilih Siddhartha Gautama ini lebih dikenal sebagai Pohon Bodhi. Seseorang yang telah mendapatkan bodhi dinamakan Buddha.

Gautama menyadari bahwa untuk mendapatkan bodhi, dia harus bermeditasi dan melepaskan semua kesenangan dan kenikmatan dunia.

Kesadarannya ini timbul setelah dia melihat kehidupan real di luar istana, dengan didampingi seorang pengawal setianya. 

Dia berpapasan dengan seorang miskin peminta-minta, seorang tua yang ringkih, seorang yang sedang sakit, dan seorang mati yang diusung dalam sebuah keranda. Apa yang dilihat Gautama ini membuat dia terpekur, lalu menginsafi bahwa kehidupan ini penderitaan (Pali: dukkha).

Bagaimana melepaskan manusia dari penderitaan? Itulah pertanyaan terbesar Gautama.

Kemudian Gautama berpapasan dengan seorang asket, yang wajahnya menampakkan keteduhan dan kedamaian. Gautama termenung, bertanya, jika kehidupan ini suatu penderitaan, bagaimana sang asket itu dapat berwajah teduh, damai, dan hening. Maka, Gautama pun mempertimbangkan dirinya untuk menempuh kehidupan asketik.

• Hari Gautama Buddha memasuki “kawasan Diri Sejati yang Abadi” (penamaan dalam Buddhisme Mahayana) lewat kematiannya. Kejadian ini dinamakan parinirvana, saat Gautama Buddha memasuki nirvana yang sepenuh-penuhnya, nirvana tanpa sisa, dan dia tidak akan mengalami kelahiran kembali.

Sebetulnya, dalam meditasinya selama 7 minggu, di saat Gautama berusia 35 tahun, dengan cepat dia mendapatkan bodhi, bahkan sudah mulai diperolehnya di malam pertama meditasinya.

Meditasinya yang dijalankan selama 49 hari sinambung makin memperluas dan memperdalam horison-horison pencerahannya, sampai tiba di pencerahan paripurna.

Mendapatkan pencerahan berarti mendapatkan nirvana (Sanskrit) atau nibbana (Pali), yang memiliki arti “lenyap tertiup” atau “padam”. Yakni, Gautama berhasil memadamkan atau meniup lenyap dari dirinya nafsu keinginan, kebencian, ketidaktahuan, dan, pada dasarnya, berhasil melepaskan dirinya dari penderitaan (dukkha) dan siklus kelahiran kembali.

Pada esensinya, nirvana adalah keadaan berakhirnya penderitaan (yang mencakup kelahiran, usia menua, penyakit, dan kematian) dan semua penyebabnya.

Tanpa mendapatkan bodhi yang sempurna, penderitaan dan segala penyebabnya akan terus-menerus dialami manusia dalam banyak masa kehidupan mereka, membentuk siklus kelahiran kembali yang dinamakan “samsara” (artinya, “mengembara” atau “berkelana”).

Untuk memutus siklus samsara, orang harus dapat melenyapkan emosi-emosi yang negatif, yang melahirkan tindakan-tindakan yang negatif. Selain itu, pikiran-pikiran yang salah, jahat dan destruktif, juga harus ditransformasi menjadi pikiran-pikiran yang benar, baik, dan konstruktif. Sebab, lewat pikiranlah kita membentuk diri kita sendiri dan dunia ini.

Jika penyebab-penyebab akar berlangsungnya siklus samsara, yang ada pada ego dan mental manusia, dapat dicabut dan dihilangkan, maka penyebab-penyebab ini kehilangan kekuatan, alhasil penderitaan diakhiri, dus nirvana dicapai selama masih hidup dalam dunia ini. Ketika nirvana dicapai, pikiran akan damai sepenuhnya, teduh dan hening, dan diri melebur dengan jagat raya, menjadi kosong sekaligus penuh.

Bagi orang yang sudah mencapai nirvana di masa kehidupannya di Bumi, nirvana yang sepenuhnya, nirvana tanpa sisa, akan dimasuki setelah kematian. Inilah nirvana tahap lanjut, atau parinirvana, yang dicapai Gautama Buddha pada usia 80 tahun (yakni, 45 tahun setelah dia mendapatkan bodhi).

Parinirvana Gautama Buddha disebut juga sebagai “apratis thitanirvana”, artinya nirvana tanpa lokasi, dan bukan samsara, juga bukan nirvana. Ini dapat ditafsirkan bahwa pasca-parinirvana, Gautama Buddha menjadi mahahadir, mahaberada, dan abadi, tidak takluk lagi pada kedagingan dan dimensi-dimensi ruangwaktu. Diri Sejati Gautama Buddha menjadi transenden sekaligus imanen. Jasadnya dikremasi, dan debu-debu tulangnya dibagi-bagi ke para pengikutnya.

Nah, baiklah pada Hari Trisuci Waisak 16 Mei 2022 ini, kita perhatikan satu relief (gambar pahatan timbul) di bawah ini. Relief ini dipahat di suatu lokasi di Pakistan utara dan Afghanistan selatan masa kini, berasal antara abad ke-2 dan abad ke-3 M.



Image credit: The Norton Simon Foundation (Norton Simon Museum). Sumber image nortonsimon.org.


Relief ini menampilkan Siddhartha Gautama sedang mendatangi sebuah pohon bodhi untuk di bawahnya dia akan bermeditasi, dengan duduk bersila, dan akhirnya mendapatkan pencerahan hingga final.

Di saat Gautama menghampiri pohon bodhi itu, dia berikrar, demikian:

“Aku tidak akan beranjak dari posisi ini di Bumi, sampai aku mencapai tujuan terbesarku.”

Versi lebih panjang dari ikrar Gautama berbunyi berikut ini.

“Aku akan duduk bersila di bawah pohon ini dan bermeditasi untuk mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaanku. Aku tidak akan bangun sampai jawaban-jawaban kuperoleh. Sekalipun kulit-kulitku mengelupas dan tubuhku menjadi lemah, aku tidak akan beranjak sedikitpun sampai aku melihat terang.”

Pada tangan kirinya, Gautama menggenggam rerumputan untuk diletakkannya pada tempat duduk yang sudah tersedia di bawah pohon bodhi itu, yang pernah digunakan oleh para pencari terang lainnya sebelum dia. Tapak tangan kanannya terbuka penuh, mengisyaratkan bahwa dia memiliki keyakinan yang kuat, tidak ragu sama sekali.

Lazimnya, relief-relief dipenuhi deretan sosok-sosok lain. Pada relief di atas hanya beberapa saja dari mereka yang terlihat dan dapat diidentifikasi, termasuk sosok Vajrapani, sahabat dan pelindung Gautama yang berdiri di sebelah kiri, dengan tangannya memegang sebuah senjata petir dalam bentuk sebuah tulang.

Di sebelah kanan Gautama, terlihat sepasang figur ningrat laki-laki dan perempuan. Mereka menunjuk ke tempat duduk yang ada di bawah pohon bodhi. Ditafsir, sepasang sosok ini adalah Mara, dewa atau demon nafsu keinginan, dan isterinya.

Dalam kosmologi Buddhis, Mara dihubungkan dengan kematian, kelahiran kembali dan nafsu keinginan. Menurut penafsir Nyanaponika Thera, Mara adalah “personifikasi kekuatan-kekuatan antagonistik terhadap pencerahan.” Kata Mara sendiri berarti kematian.

Dalam kisah-kisah Buddhis, Mara adalah demon yang bertekad untuk menghalangi dan mencegah Gautama dalam usahanya untuk mendapatkan pencerahan.

Bersama isterinya dan tiga puterinya (masing-masing bernama Tanha, artinya rasa haus; Arati, artinya penyimpangan, rasa tidak puas; dan Rāga, artinya kelekatan, nafsu keinginan, ketamakan, berahi), dan demon-demon pengikutnya yang lain (pada relief, terlihat hanya sebagian, termasuk yang berada di samping kolom beton), Mara yakin akan dapat memadamkan niat Gautama untuk mencari bodhi dan mendapatkannya, lalu mencapai nirvana, lewat meditasinya selama 7 minggu. Menurut tradisi, godaan-godaan ini, termasuk yang sensual dari tiga puteri Mara, dialami Gautama pada minggu kelima meditasinya. Semua godaan dipatahkan Gautama.

Di awal Gautama mendapatkan pencerahan, demon Mara berupaya sangat keras untuk membuyarkan konsentrasi meditatif Gautama. Mara menantang Gautama untuk menunjukkan bahwa dia telah mendapatkan pencerahan. Sebagai jawaban, tangan kanan Gautama diarahkan ke Bumi dan jari-jemarinya menyentuh tanah, memanggil Dewi Bumi untuk menjadi saksi bagi pencerahan yang sudah didapatnya. Posisi ini (lihat image di bawah ini) dinamakan Bhūmisparsa mudra.



Dewi Bumi dipanggil untuk menjadi saksi Gautama telah mendapatkan pencerahan. Abad ke-9, Bihar, India. Image credit: Cleveland Museum of Art. Sumber image khanacademy.org.


Setelah memperoleh pencerahan di tahap awal, di minggu kedua meditasinya Gautama bangkit berdiri dan menatap tanpa berkedip pohon bodhi yang menudungi dan melindunginya, lalu dia mengucap terima kasih kepada pohon itu, dan melanjutkan meditasinya sambil berdiri selama sekian waktu, konon selama sembilan hari.

Pohon banyan menjadi pohon bodhi, membantu Gautama mendapatkan pencerahan.

Hanya demon yang membenci pencerahan, dan menghalangi para pencari terang untuk mendapatkan penerangan dan pencerahan budi.

Gautama Buddha tahu apa yang dia cari, dan percaya dia akan mendapatkan jawaban-jawaban. Dengan memeriksa dan mengikuti serta mengamati dan memikirkan aliran perasaan dan gerak-gerik pikirannya selama 7 minggu, Gautama memperoleh bodhi.

Carilah, maka kamu akan mendapatkan. Ketuklah gerbang-gerbang pintu, maka pintu akan dibukakan bagi kamu. Biarkan Terang Sejati masuk ke dalam dirimu. Lalu pancarkan ke dunia sekitarmu. Jadilah terang dunia. Beri rehat pada orang yang menderita, yang letih lesu dan berbeban berat. Taklukkan kematian. Jalani kehidupan sorgawi sekarang dalam dunia ini. 


Jakarta, 16 Mei 2022


References:

NortonsimonSundaytimesHistoryKhanacademyIndiatoday