Monday, April 19, 2021

Puisiku: Wahai Adam!


WAHAI ADAM!

Ketika Yahweh ke sana sini berjalan
Di sebuah taman segala impian
Taman Eden yang indah berkilauan
Yahweh merasa sunyi sepi sendirian

Resahlah hati dan pikiran Yahweh
Ada yang kurang, lirih Yahweh
Taman indah ini sudah Kuciptakan
Tapi mengapa Aku tak terpuaskan?

Yahweh pun duduk termenung sunyi
Di atas sebuah batu tempat semedi
Seekor simpanse kikuk menghampiri
Menarik-narik Yahweh main adu lari

Hanya sebentar Yahweh mau main adu lari
Lalu hati Yahweh kembali kosong sunyi
Pikiran Yahweh pun mengembara tinggi
Mencari-cari jawaban kesunyian diri

Imajinasi Yahweh menari memandu
Bayang demi bayang melintas berlalu
Yahweh pun dituntun ke sebuah danau
Yang airnya jernih berkilau-kilau

Letak danau itu persis di tengah taman
Lalu Yahweh menunduk bercermin
Langsung Yahweh tertegun tak tertahan
Saat melihat wajah-Nya yang rupawan

Ah, ini jawaban yang Aku cari-cari
Seru Yahweh dengan wajah riang berseri
Aku butuh teman yang serupa diri-Ku
Seorang sobat yang segambar dengan-Ku

Jiwa seni Yahweh pun kini memandu
Dengan telunjuk-Nya batu semedi dipahat
Dari batu terbentuk sosok yang dirindu
Sosok tegap Adam rekan sejawat

Inilah dia gambar dan rupa diri-Ku
Teriak Yahweh sambil menari ayu
Kepada Adam Yahweh beri nafas hidup
Jantung Adam langsung berdegup

Jadilah Adam makhluk yang hidup
Dihembuskan Yahweh lagi roh kesadaran
Disusul hembusan roh pengetahuan
Cukupkah sudah bekal Adam untuk hidup?

Yahweh dan Adam seterusnya berkawan
Tak pernah lagi Yahweh merasa kesepian
Adam kawan Yahweh yang sepadan
Bersama simpanse mereka kerap berlarian

Pada mulanya adalah imajinasi dan seni
Yahweh menari lewat seni dan imajinasi
Tarian Yahweh bergelombang enerji
Dari enerji Adam lahir ke dunia ini

Tapi giliran Adam pun datang perlahan
Dia juga akhirnya merasa sunyi sendirian
Meski selalu ditemani Yahweh berduaan
Adam pun terus mencari-cari jawaban

Ah, Yahweh, ku ingin dapat kawan yang lain
Puteri Sophia sang kebijaksanaan
Sang puteri pun oleh Yahweh diciptakan
Dari tulang rusuk sang Adam yang rupawan

Wahai Adam, engkau akan selamanya
Menjadi makhluk yang penuh tanya
Mencari jawaban yang belum tersedia
Puteri Sophia ada di jalanmu selamanya!

Wahai Adam, Manusia arif cendekiawan
Begitu satu jawaban engkau temukan
Muncul lagi seribu pertanyaan
Menjadikan hidupmu bermakna bertujuan

Selalu ikuti pengetahuan dan kearifan
Supaya kau sadar arah langkah diayunkan
Di saat engkau sendiri dalam perjalanan
Bak elang sendirian terbang di awan-awan


Jakarta, 19 April 2021
ioanes rakhmat

Friday, April 16, 2021

MASALAH-MASALAH GLOBAL BESAR Vaksinasi di Masa Pandemi Covid-19

Tantangan besar vaksinasi global


Sejauh saya amati, kini sedang timbul optimisme kuat sedunia bahwa pandemi Covid-19 akan dapat cepat diatasi lewat vaksin-vaksin yang efektif. Betulkah optimisme ini?

Rasa berpuas diri juga muncul di sangat banyak negara dan bangsa atas keberhasilan mereka dalam mengembangkan vaksin-vaksin yang dapat diandalkan untuk memutus mata rantai penularan virus corona baru.

Protokol kesehatan 4-5M pun mulai dilonggarkan, bahkan di sejumlah negara (atau negara bagian) sudah diangkat sama sekali, atau sudah tidak dihiraukan penduduk di banyak negara.

Dorongan untuk kembali sepenuhnya ke dalam kehidupan normal pra-pandemi Covid-19 niscaya sangat kuat muncul dalam diri banyak sekali orang di negara-negara kaya dan maju yang telah memborong dan menguasai penggunaan vaksin-vaksin unggulan dunia (seperti vaksin-vaksin mRNA Pfizer dan Moderna, vaksin adenovirus Johnson & Johnson, vaksin adenovirus Oxford-AstraZeneca, dll).

Rasa letih juga telah dan sedang muncul tak tertahan di banyak negara setelah hidup di dalam banyak pembatasan sosial, individual, ekonomi, hiburan, komunikasi, pergaulan, perjalanan, dll, selama satu tahun lebih.

Kasus positif global meningkat lagi

Dapat dimengerti, kalau WHO kini memperingatkan bahwa kasus-kasus positif terinfeksi SARS-CoV-2 dan kematian yang ditimbulkannya meningkat lagi di seluruh dunia, dengan Afrika Selatan sebagai negara yang sedikit kurang terdampak. Baca di sini

Dalam laporan mutakhir WHO, terdata sekarang ini di seluruh dunia ada 133,5 juta kasus positif dan kurang lebih 3 juta orang telah mati.

Data dari JohnsHopkins Coronavirus Resource Center menunjukkan kasus global per 12 April 2021 telah mencapai 136.209.405, dengan total kematian 2.939.142 orang.



Pada tahap berikutnya, peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 bergeser dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin.




Menurut data Bloomberg, jumlah kasus positif harian di negara-negara yang lebih kaya dan lebih besar menurun (di BRICs 230,2K perhari, mencakup Brazil, Russia, India dan China; di G7 242,9K per hari, mencakup UE, AS, Inggris, Kanada dan Jepang), sedang di negara-negara berpendapatan kecil dan rendah ("the rest of the world") meningkat menjadi 252,7K per hari dalam bulan April 2021.

Peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 dan angka kematian global adalah akibat-akibat dari berbagai faktor yang telah ditulis di atas. Tentu saja masih ada faktor-faktor lain.

Bagaimana dengan Afrika?

Sebagai satu benua, Afrika baru menerima dan menggunakan cuma 2% saja dari 600-an juta dosis vaksin-vaksin Covid-19 yang telah diluncurkan pada aras global. Dari jumlah pasokan 2% ini, sepuluh negara di Afrika (dari keseluruhan 54 negara) yang paling banyak melakukan vaksinasi penduduk masing-masing baru menggunakan dua per tiga dari pasokan ini.

Sepuluh negara di Afrika itu mencakup Maroko yang telah membeli 8,7 juta dosis vaksin dan telah menyuntikkan vaksin paling banyak ke penduduknya. Selain Maroko, juga Ghana, Rwanda, dan Angola telah dengan cepat mendistribusikan vaksin-vaksin dalam jumlah yang signifikan dari persediaan vaksin yang ada pada mereka.

Bagaimanapun juga, dalam perlombaan penyediaan vaksin-vaksin, Afrika jelas tertinggal jauh dan terlantar. Ada lebih dari satu milyar orang Afrika yang belum menerima vaksinasi untuk menyelamatkan kehidupan mereka.

Negara-negara Afrika lainnya, seperti Benin, Comoros, Liberia, Sierra Leone dan Sudan Selatan terlantar dan tak bisa meluncurkan vaksin-vaksin karena kesulitan dana, hambatan perencanaan, dan kekurangan sumber daya manusia, serta keterlambatan pengiriman vaksin-vaksin dalam program Covax Facility WHO.

Menurut data WHO per 8 April 2021, di Afrika kini jumlah kasus positif sudah mencapai 4,3 juta, termasuk 114.000 orang yang telah mati. Baca lebih jauh di sini.

Varian-varian baru

WHO juga mengaitkan kondisi pandemi yang tidak kunjung mereda ini dengan kemunculan varian-varian baru virus corona yang lebih cepat menular, lebih agresif, dan sebagian lebih mematikan (misalnya "mixed mutant" Portland, Oregon; dan varian B.1.1.7 yang paling banyak menginfeksi, yang berasal dari Inggris). Keadaan yang mengkhawatirkan ini hanya dapat dihadapi lewat "adjustment" atau "penyetelan ulang" vaksin-vaksin yang telah ada.

Di bawah ini dipasang daftar varian-varian yang memuat data sampai dengan 14 April 2021 tentang negara asal, jumlah kasus positif dan pertambahan kasus baru sejak 7 April 2021 di Inggris. Sumber data Gov UK. Baca juga USA CDC dan Nature.

Varian asal Inggris B.1.1.7 telah menginfeksi total 209.492 orang. Varian B.1.351 asal Afrika Selatan 600 orang. Varian P.2 asal Brazil 59 orang. Dst. Data kasus positif global masih perlu ditambahkan. 




Sejauh saya ketahui, orang umumnya mengira bahwa setelah mereka menerima vaksinasi, mereka akan otomatis kebal terhadap infeksi virus corona. Padahal, kenyataannya sama sekali tidak demikian.

Paling jauh, yang kita dapat harapkan dari vaksinasi bukanlah penularan akan otomatis terhenti, melainkan penyakit Covid-19 dengan gejala berat, yang umumnya berakibat kematian, dapat dicegah atau dikurangi dengan signifikan. Syukur jika vaksin China Sinovac dan vaksin Oxford-AstraZeneca yang sedang digunakan di Indonesia dapat efektif seperti itu, minimal.

Pendistribusian global yang tak adil

Patut dicatat, pandemi Covid-19 juga tak akan dapat cepat ditanggulangi jika vaksin-vaksin tidak didistribusikan dengan adil sedunia, tetapi dikuasai sejumlah kecil negara-negara terkaya dunia, khususnya Amerika dan Inggris. Ketimbang memperjuangkan keadilan global dalam pendistribusian vaksin-vaksin, dua negara kaya ini mengedepankan apa yang oleh Deutsche Welle dinamakan "nasionalisme vaksin".

Menurut data Bloomberg Vaccine Trackerpada 8 April 2021 sejumlah 40% dari vaksin-vaksin Covid-19 yang sudah tersedia untuk digunakan dunia dikuasai 27 negara kaya yang merupakan 11% populasi dunia. Sedangkan negara-negara termiskin dunia, yakni sebesar 11% populasi dunia, baru mendapatkan dan menggunakan 1,6% vaksin-vaksin Covid-19.

Dengan kata lain, negara-negara yang memiliki pendapatan tertinggi di dunia menjalankan vaksinasi 25 kali lebih cepat dibandingkan yang dilakukan negara-negara yang berpenghasilan terendah.

Menurut WHO, saat ini ada 670 juta dosis vaksin-vaksin yang sudah diluncurkan dan digunakan dalam tingkat global. Menurut basis data Bloombergkini telah ada 781.496.115 juta dosis vaksin-vaksin yang telah dikirim dan sedang digunakan di 154 negara. Masalahnya, bagian terbesar dari vaksin-vaksin ini telah dijual ke negara-negara kaya dunia.

Menurut WHO, kasus-kasus positif terus meningkat lantaran vaksin-vaksin juga masih langka tersedia, dan kondisi ini berdampak paling buruk bagi negara-negara yang sedang berkembang yang tidak bisa menjalankan program vaksinasi bagi penduduk mereka. Pendistribusian vaksin-vaksin dengan adil tak dapat ditunda-tunda lagi. Masalahnya, pihak otoritas mana yang dapat menjadi sang wasit?

Manfaat vaksin-vaksin paling banyak diperoleh oleh negara-negara kaya yang memborong vaksin-vaksin. Inggris, misalnya, lewat program dan gerakan vaksinasi nasional telah berhasil mengurangi jumlah kematian karena Covid-19.

Perlu kita ketahui, jika pendistribusian vaksin-vaksin dilakukan dengan adil sedunia berdasarkan jumlah populasi masing-masing negara, maka terdata bahwa Inggris telah menggunakan 7 kali lebih banyak dari jatah adil yang seharusnya diterima negara ini.

Dua studi di Inggris

Yang saya ketahui, dua studi telah dilakukan di Inggris dari 1 Desember 2020 hingga 3 April 2021, sebagai bagian dari Survei Infeksi Covid-19 yang dilakukan bersama oleh Universitas Oxford, departemen kesehatan negara dan Kantor Statistik Nasional. Baca di sini.

Para peneliti telah menganalisis lebih dari 1,6 juta hasil test swab (hidung dan tenggorokan) yang diambil dari 373.402 partisipan dalam studi-studi tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa 21 hari setelah pemberian 1 dosis tunggal vaksin Pfizer atau vaksin AstraZeneca, angka semua kasus baru infeksi Covid-19 turun 65%. Ini mencakup 74% penurunan angka infeksi bergejala dan 57% penurunan angka infeksi tanpa gejala.

Penurunan angka seluruh infeksi dan infeksi bergejala bahkan lebih tinggi lagi setelah penyuntikan dosis kedua, berturut-turut turun 70% dan 90%. Angka-angka ini tak berbeda jauh pada para penyintas infeksi Covid-19.

Studi yang kedua fokus pada level antibodi-antibodi terhadap virus SARS-CoV-2, untuk menemukan bagaimana antibodi-antibodi berubah setelah pemberian 1 dosis suntikan vaksin AstraZeneca atau vaksin Pfizer, dan setelah 2 dosis suntikan vaksin Pfizer.

Hasil-hasilnya menunjukkan bahwa respons antibodi terhadap satu dosis tunggal kedua vaksin sedikit lebih rendah pada orang lansia, tetapi tinggi untuk semua golongan umur setelah suntikan kedua vaksin Pfizer.

Hingga minggu ketiga April 2021 (Rabu, 21 April 2021) sudah lebih dari 33 juta orang di Inggris telah menerima dosis pertama vaksin Covid-19, dan lebih dari 10 juta orang telah menerima suntikan dua dosis. Baca di sini

Kasus Amerika

Sebaliknya, di Amerika Serikat jumlah orang dewasa muda (55 tahun ke bawah) yang harus dirawat di rumah-rumah sakit karena terpapar Covid-19 meningkat (sebesar 7% dalam tujuh hari terakhir ini), sementara mereka belum atau tidak mau divaksinasi. Ini hal yang ironis, sebab "vaccination rate" (VR) di Amerika sudah mencapai rerata 3 juta orang lebih per hari, mendekati 4 juta orang.

Sampai 8 April 2021, di Amerika sebanyak 158 juta dosis tunggal vaksin telah disuntikkan. Menurut data mutakhir Bloomberg, dalam tiga bulan ke depan ini vaksinasi di Amerika akan mencapai 75% dari penduduknya.

Lebih ironis lagi, di tengah prestasi VR Amerika yang luar biasa itu, jumlah kasus positif naik rata-rata 2% dalam kurun yang sama tujuh hari terakhir ini. Sedangkan, jumlah lansia Amerika 65 tahun ke atas yang sudah divaksinasi makin banyak, alhasil makin sedikit dari mereka yang terkena Covid-19 yang perlu dirawat di rumah-rumah sakit.

Keragu-raguan dan ketidakpercayaan  terhadap vaksinasi di kalangan dewasa muda Amerika timbul lantaran mereka menilai vaksin-vaksin tersedia dalam waktu sangat cepat, kurang dari satu tahun.

Sebagai jawaban kepada mereka, Dr. Anthony Fauci (penasihat medis utama Presiden Joe Biden) telah memperinci tahun-tahun yang telah dijalani dalam serangkaian penelitian yang bermuara pada pengembangan dan produksi vaksin-vaksin.

Kata Dr. Fauci, vaksin-vaksin yang telah tersedia tidak dikembangkan dalam 11 bulan. Sebelumnya, telah berlangsung banyak usaha luar biasa keras lintasilmu selama beberapa dekade dalam penelitian-penelitian yang dilakukan para vaksinolog sebelum pandemi Covid-19 merebak di akhir 2019. Selanjutnya baca di sini

Selain itu, hemat saya, teknologi pengembangan vaksin yang makin maju, misalnya teknologi vaksin mRNA, tentu saja akan mempersingkat waktu pengembangan dan produksi vaksin-vaksin mRNA. Mengapa hal ini bukan disyukuri, malah dicurigai?

Efek samping "blood clots"

Telah diketahui, dua vaksin virus hidup adenovirus Johnson & Johnson dan Oxford-AstraZeneca telah menimbulkan efek samping yang sangat serius berupa "blood clots" atau penggumpalan atau pengentalan darah dalam pembuluh darah.

"Blood clots" ini terjadi karena virus hidup atau DNA yang dibawanya menimbulkan overreaksi dari sistem imun yang selanjutnya menghasilkan antibodi yang toksik yang membuat platelet dalam pembuluh darah menggumpal/mengental.

Dalam kondisi normal, antibodi mengaktifkan platelet untuk berfungsi menyembuhkan luka yang berdarah, dengan membuat darah pada luka membeku. Lebih terperinci, baca di sini.

Efek samping "blood clots" disebut juga "cerebral venous thrombosis" (CVT) dalam otak atau "vaccine-induced immune thrombotic thrombocytopenia" (VITT) yang dapat terjadi dalam pembuluh darah di bagian-bagian lain tubuh.

CVT terjadi 4 kasus dalam 1 juta orang yang divaksinasi dengan vaksin-vaksin mRNA Pfizer dan Moderna, dan 5 kasus dalam 1 juta untuk vaksin AstraZeneca. Jumlah kasus lewat vaksinasi jauh lebih kecil dibandingkan 39 kasus dalam 1 juta pasien yang terpapar Covid-19. Baca di sini

Diperkirakan, jumlah kecil kasus efek samping CVT atau VITT yang timbul lewat vaksinasi barulah menampakkan puncak sebuah gunung es. Bagian gunung es yang tak terlihat jauh lebih besar.

Menurut dr. Anand Padmanabhan dari Mayo Clinic, CVT atau VITT tidak boleh diobati dengan obat pengencer darah heparin karena akan memperburuk problem efek samping ini. 

Katanya lagi, akan jauh lebih menolong jika kasus CVT atau VITT ditangani dengan infus IV dosis tinggi immunoglobulin atau "intravenous immunoglobulin" (IVIG). Lantaran IVIG akan melapisi atau memberi "coating" platelet-platelet dengan antibodi-antibodi normal sehingga mencegah antibodi-antibodi toksik merusak platelet-platelet. Baca di sini

Gangguan psikiatris, psikologis dan neurologis

Di Amerika dalam minggu ini data baru statistik menunjukkan bahwa satu dari antara delapan orang yang terpapar Covid-19 terdiagnosa juga mengalami gangguan-gangguan neurologis dan psikiatris baru, dibarengi dengan rasa cemas dan depresi yang dalam--- dengan kata lain, mereka mengalami "post-traumatic stress disorder" atau PTSD dalam enam bulan sejak terpapar Covid-19.

Kondisi psikologis, psikiatris dan neurologis sebagai gangguan-gangguan mental ini dialami para penderita Covid-19 dari kalangan dewasa muda, kelompok minoritas, pekerja-pekerja esensial, dan para perawat relawan, dalam kurun enam bulan sejak terinfeksi.

Menurut data yang dirilis dalam jurnal Lancet edisi 6 April 2021, setiap satu dari antara tiga orang penderita Covid-19 mengalami gejala-gejala neurologis psikiatris, kesehatan mental, dan sistem saraf. Studi ini sangat signifikan karena melibatkan 236.000 pasien Covid-19, kebanyakan pasien dirawat di Amerika Serikat. Lebih lanjut, baca di sini.

Gangguan yang paling umum adalah rasa cemas yang berkepanjangan, gangguan suasana batin dan pikiran ("mood disorders"), dan penyakit otak. Makin berat Covid-19 yang diderita, makin besar kemungkinan si pasien terkena gangguan-gangguan mental, dan penyakit otak yang berupa stroke iskhemik, yakni penggumpalan darah yang berdampak pada otak.

PTSD tentu dialami bukan cuma sebagai gejala "long covid", melainkan juga timbul karena gabungan faktor-faktor pemicu lainnya seperti lamanya pandemi berlangsung dengan berbagai akibat multidimensionalnya, waktu perawatan terisolasi yang lama di rumah sakit, gejala berat Covid-19, dan berbagai pembatasan individual dan sosial yang diterapkan untuk memitigasi efek-efek berat multidimensional dari pandemi yang menimbulkan berbagai stres psikologis.

Ditemukan fakta penting bahwa setelah para penderita "long covid" PTSD diberi suntikan dosis lengkap vaksin-vaksin, mereka merasa lebih lega dan dapat bersukacita lagi. Baca lebih lanjut di sini dan di sini.

"Mixed shots"

Direktur BPOM China, Gao Fu, mengakui bahwa vaksin-vaksin "inactivated" buatan China (2 dosis vaksin Sinovac dan vaksin Sinopharm, dan 1 dosis vaksin CanSino) memiliki angka efektivitas (ER, "effectiveness rate") yang rendah, antara 50%-70%, jauh di bawah ER vaksin mRNA Amerika-Jerman Pfizer dan vaksin mRNA Amerika (Bill Gates) Moderna yang mencapai 95%-97%. Baca lebih lanjut Apnews dan CNBC

Pengakuan yang langka oleh Gao Fu tersebut disampaikan dalam suatu konferensi di baratdaya kota Chengdu, 10 April 2021.

Dikatakan, ER vaksin-vaksin China rendah bisa disebabkan oleh usia orang yang mengikuti uji klinis (makin tua usia, makin sulit antibodi terbentuk dalam titer cukup apalagi titer tinggi), bisa juga karena strain virus yang berbeda, dan bisa juga karena faktor-faktor lain yang tidak disebutkan.

Vaksin-vaksin China tersebut dikembangkan berdasarkan sekuens genetik SARS-CoV-2 Desember 2019! Tentu anda tahu apa artinya ini.

Sebelumnya, China meremehkan vaksin-vaksin mRNA Amerika, dengan alasan vaksin mRNA baru pertama kali dikembangkan dan diproduksi sehingga keamanan vaksin-vaksin mRNA belum teruji dan tidak dapat dijamin. Kini China berubah sikap.

Seorang pejabat BPOM China menyatakan bahwa China juga sedang mengembangkan vaksin-vaksin mRNA yang, kabarnya, kini sedang memasuki tahap uji klinis. Kapan uji klinis hingga tahap 3 selesai, tidak ada beritanya.

Nah, China berencana nanti akan memakai vaksin-vaksin gabungan (vaksin "inactivated" dan vaksin mRNA) untuk disuntikkan berurutan ("mixed shots") pada satu orang dengan jedah waktu 3-4 minggu.

"Mixed shots" diyakini akan meningkatkan dan memperkuat kemampuan  memproteksi orang yang sudah divaksinasi gabungan terhadap infeksi virus corona. Ya, "mixed shots" membuat virus-virus digempur lebih dari satu penjuru.

Jadi, kalau vaksin mRNA berbayar sudah tersedia di Indonesia, pilihlah vaksin ini, dan jika sudah menerima dua dosis lengkap vaksin Sinovac, ambil lagi vaksin mRNA dua dosis, dengan jedah waktu yang cukup.

Kita belum tahu, apakah "mixed shots" nanti akan diperbolehkan di Indonesia. Kalau memakai pertimbangan keilmuan dan ER yang diharapkan tinggi, seharusnya "mixed  shots" Sinovac dan mRNA dibuka seluas-luasnya bagi warga Indonesia.

N.B. Berita pengakuan China di atas sudah dimuat juga di beberapa koran online Indonesia sekitar 11 atau 12 April 2021. Saya sudah tahu sebelumnya dari berita-berita koran online luar negeri.

Tapi saya tidak langsung membagi berita tersebut ke teman-teman Indonesia karena saya tidak mau menimbulkan kegelisahan.

Tapi, akhirnya, sekarang saya sudah broadcast juga WA message saya ini. Soalnya, banyak sekali teman yang belum tahu. Mereka yang belum tahu ini potensial akan merasa semuanya aman jika sudah divaksinasi 2 dosis vaksin Sinovac.

Saya sendiri, tanpa gembar-gembor sama sekali, sudah menerima suntikan 2 dosis vaksin Sinovac. Tapi, terus-terang, saya tidak berharap banyak pada vaksin China ini.

Karena pertimbangan divaksinasi lebih baik ketimbang tidak sama sekali, ya saya sudah divaksinasi, tapi dengan disertai perasaan tidak ada yang berubah pada tubuh saya.

Ok, tetaplah jalankan prokes 5-M kendatipun sudah menerima dosis lengkap 2 suntikan vaksin Sinovac.

Banyak laporan, vaksin ini tidak berhasil menimbulkan antibodi yang bertiter cukup apalagi tinggi meski pengukuran titer dilaksanakan 3 minggu setelah suntikan dosis kedua. Dalam hal ini, Gao Fu benar.

Kasus jerman

Meskipun di Jerman program vaksinasi telah dan sedang berjalan "pada jalan yang baik, dengan ribuan dokter praktek umum ambil bagian dalam minggu ini untuk menjalankan kampanye vaksinasi" dan hampir "15% populasi Jerman sudah divaksinasi dengan dosis pertama, dan 5,8% telah menerima dua dosis suntikan", pemerintah Jerman menyatakan, pada Jumat, 9 April 2021, bahwa "lockdown" nasional akan dijalankan selama dua hingga empat minggu ke depan untuk mengendalikan serangan gelombang baru infeksi Covid-19.

Pada 9 April 2021, muncul 25.000 kasus infeksi baru dengan gejala berat terhadap orang dewasa muda, dan angka ini dinilai terlalu tinggi. "Lockdown" nasional di Jerman harus diterapkan untuk mencapai jumlah tetap kasus positif baru di bawah 100 per 100.000 orang. Lebih lanjut baca di sini

Penutup

Di atas telah dibeberkan singkat situasi-situasi di dunia dan di beberapa negara maju dan terbelakang terkait usaha global menanggulangi pandemi Covid-19.

Hal yang terlihat adalah bahwa vaksinasi saja tidak akan dapat menghentikan pandemi dalam waktu cepat.

Melawan pandemi dan mengalahkannya atau, lebih tepat, mengendalikannya, memerlukan keterlibatan banyak faktor lain yang sama pentingnya dengan vaksinasi dan pendistribusian vaksin-vaksin yang berlangsung dengan adil.


Jakarta, 16 April 2021
ioanes rakhmat

N.B. diedit 21 April 2021

Thursday, April 15, 2021

Sketsa Sikon Ilmuwan Perempuan Masa Pandemi Covid-19

 


DALAM DUNIA MASA KINI yang dikuasai "budaya pria", patriarkhi dan misogini, apalagi di masa pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung kurang lebih satu setengah tahun, para ilmuwan perempuan di negara-negara maju kini sedang menanggung banyak dampak negatif dari pandemi.

Mereka tidak produktif mempublikasi makalah riset. Mengepalai uji klinis lebih sedikit. Dan---ini sudah lama berlangsung--- pengakuan terhadap kecakapan dan prestasi akademik mereka makin berkurang. 

Selain hal-hal itu, para ilmuwan perempuan juga harus mengalami banyak goncangan emosional dan stres yang datang dari pandemi.

Bersamaan dengan itu, mereka juga harus menunaikan panggilan gender mereka untuk melancarkan berbagai protes terhadap rasisme struktural dalam dunia akademik.

Sebagai para ibu, mereka juga dilanda kekhawatiran besar terhadap kemajuan pendidikan dan kesehatan mental anak-anak mereka. 

Urusan rumahtangga yang tak habis-habisnya selama bekerja online dari rumah membuat mereka tidak punya waktu yang teduh dan cukup untuk berpikir cerdas dan berkarya inovatif.

Jumlah ilmuwan perempuan yang masih dapat berprestasi di masa pandemi, dus, jauh menurun dibandingkan ilmuwan lelaki.

Keadaan-keadaan itu lebih diperburuk oleh sikon kehidupan mereka di berbagai bidang yang makin tidak dapat ditanggung dan dipertahankan dibandingkan sebelumnya.

Untuk mendapat gambaran-gambaran real yang lebih luas tentang berbagai sikon yang tidak menguntungkan para ilmuwan perempuan di masa pandemi ini, silakan baca Women Scientists Systematically ExcludedAcademic Productivity DifferencesThe Proportions of FemaleOnly Second-Class TicketsFewer Womendan Gender Disparities. 





Seorang biostatistikus perempuan kulit hitam dari Universitas Pennsylvania, Amerika, yang juga seorang ibu dari dua anak, dan selama masa pandemi bekerja dari rumah, Dr. Alisa Stephens, mengungkapkan sikon diri dan pekerjaannya selama masa pandemi Covid-19, demikian:

"Mungkin aku bekerja cuma dengan 80% kecakapanku, tidak bisa 100%. Meski turun jadi 80%, dalam batas tertentu aku masih dapat menyelesaikan tugas-tugasku. Ini tentu bukan prestasi besar, bukan hal terbaik yang dapat kucapai, tapi ini sudahlah cukup untuk saat ini." Baca lebih lanjut Epidemic of Loss

Seorang peneliti obesitas di Universitas Florida, Amerika, Michelle Cardel, menyatakan bahwa gabungan semua faktor yang sudah ditulis di atas 

"telah menimbulkan badai yang betul-betul menghancurkan para ilmuwan perempuan. Orang sudah tiba pada suatu titik patah, pada situasi krisis yang menghancurkan. Ketakutanku yang besar adalah bahwa kita kini sedang memasuki pandemi kedua, yakni pandemi kehilangan, khususnya untuk para perempuan karier tahap awal di bidang STEM ["science, technology, engineering and mathematics]." Dikutip dari Epidemic of Loss

Sebuah artikel riset statistik yang kontroversial karena berisi tafsiran data yang tendensius seksis yang ditulis oleh Bedoor AlShebli, Kinga Makovi dan Talal Rahwan telah terbit di jurnal Nature Communications 11, nomor 5855, November 17, 2020. Judulnya "The Association between early career informal mentorship in academic collaborations and junior author performance". 

Karena telah menimbulkan reaksi dan protes serta kemarahan banyak ilmuwan perempuan dan para pendukung mereka, baik lelaki maupun perempuan, yang disampaikan lewat berbagai media, artikel tersebut telah ditarik pada 21 Desember 2020.

Para penulis artikel itu menyatakan bahwa gender memainkan suatu peran signifikan baik dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu tugas kepembimbingan ("mentorship") terhadap para mahasiswa, maupun dalam membangun relasi antara para peneliti senior dan para peneliti yunior. Peran itu sedemikian rupa berjalan sehingga pada dasarnya merongrong posisi pembimbing perempuan dan mahasiswa yang mereka bimbing.

Mereka menyimpulkan bahwa jika para mentor perempuan berperan lebih besar dan lebih banyak, dampak pasca-kepembimbingan pada para mahasiswa perempuan yang mereka sudah bimbing akan menurun, sekaligus hal itu hanya akan mendatangkan sedikit manfaat bagi para mentor perempuan.

Sebaliknya, kata mereka, jika tugas "mentorship" dipikul para mentor lawan jenis (yakni mentor lelaki), maka pastilah dampak para peneliti yunior perempuan dalam pengejaran suatu karir keilmuan akan meningkat.

Banyak ilmuwan perempuan telah memberi komentar terhadap artikel yang tendensius seksis tersebut. Salah seorang dari antara mereka adalah seorang neurosaintis dari Universitas Rockefeller, New York, yang bernama Leslie Vosshall.

Ditegaskan oleh Ms. Vosshall bahwa masa pandemi ini 

"adalah masa yang luar biasa sulit untuk menjadi seorang perempuan dalam dunia ilmu pengetahuan. Kami real ada di antara orang banyak. Kami sudah jatuh berlutut. Kami sudah letih. Eeh... sebuah makalah begitu saja ditulis, yang mendepak kami lewat ucapan, 'Kami mempunyai solusinya, yuuk kita pindahkan mahasiswa-mahasiswa untuk dibimbing hanya oleh para mentor lelaki senior."

Well, dalam kekristenan, patriarkhi dan misogini memang masih tetap kuat hingga di zaman modern ini. Perilaku tendensius misoginik ini memang memiliki akar-akar pada teks-teks skriptural Yahudi-Kristen.

Seorang bapak gereja pada abad kedua yang bernama Tertullianus, dengan berdasar kisah teologis etiologis dalam kitab Kejadian 3 Tenakh Yahudi, berkata sangat keras terhadap para perempuan di zamannya, yang dianggapnya juga berlaku untuk kaum perempuan di segala zaman dan tempat.

Hardiknya,

“Kamu semua adalah pintu gerbang masuknya setan ke dalam dunia... kalian adalah Hawa yang membujuk Adam, yang setan tidak berani serang.... Tahukah kalian bahwa setiap orang dari antara kalian adalah seorang Hawa? Hukuman Allah terhadap gender kalian tetap berlaku dalam zaman ini; begitu juga, kesalahan yang dibuat Hawa bagaimanapun juga tetap ada” (Tertullianus, De Cultu Feminarum I, 12).

Tak dapat disangkal bahwa Tertullianus memperlihatkan bias seksisme dalam bentuk yang ekstrim, yang dinamakan misogini (Inggris: misogyny, dari dua kata Yunani miseô, "membenci", dan gynÄ“, "perempuan"). Yakni kebencian terhadap perempuan yang sangat mungkin akan membuahkan kekerasan dan ketidakadilan yang parah terhadap kaum perempuan di mana pun dan kapan pun.

Jika dalam zaman sekarang ini kita mau melakukan tafsir ulang terhadap kisah teologis etiologis dalam Tenakh Yahudi tersebut, dengan mengubah perspektif tafsir dari yang semula perspektif budaya dominan, yakni "budaya lelaki", menjadi perspektif "budaya marjinal", yakni "budaya perempuan", maka Hawa, representasi simbolik kaum perempuan universal, akan tampil lain.

Hawa atau kaum perempuan pun jadi dapat kita lihat sebagai sosok-sosok yang berani mengikuti kuriositas mereka, rasa ingin tahu mereka.

Alhasil, Hawa mendapatkan mula-mula pengetahuan moral. Di kemudian hari, pengetahuan moral pun berkembang setahap demi setahap menjadi ilmu pengetahuan yang sarat dengan nilai-nilai kebenaran, kemajuan, penemuan, keagungan, kebajikan dan daya tahan dalam kehidupan kita semua.

Hawa, atau kaum perempuan, bukan saja ibu kehidupan, tapi juga ibu ilmu pengetahuan, seperti halnya Dewi Saraswati dalam kepercayaan Hinduisme.

Kalau dulu di Indonesia kaum perempuan dipandang hanya pantas berada di dapur, kini, di masa pandemi Covid-19 dan nanti di era pasca-Covid-19, mereka juga sudah waktunya berada juga di laboratorium riset selain juga di dapur.

Untuk ke situ, jalannya sulit dan berat serta panjang. Mereka harus memiliki tekad kuat, berani, mampu dan memiliki kesempatan untuk bersekolah tinggi, meraih gelar Ph.D. dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan alam.

Selain itu, kaum lelaki pun, bukan hanya pantas berada di kantor dan di laboratorium, tetapi juga perlu berada di dapur.

Jakarta, 15 April 2021
ioanes rakhmat

Thursday, April 1, 2021

Puisiku: Sang Tubuh Salib Perisai




SANG TUBUH SALIB PERISAI


Makhluk-makhluk paling durjana
Tiba-tiba ganas merangsek buana
Menyerang umat manusia sedunia
Mau memusnahkan semua yang ada

Mereka semua kesetanan
Tak ingin kehidupan bertahan
Kekuatan mereka besar tak tertahan
Seolah mereka pesaing Tuhan

Para kekasih Tuhan bersembahyang
Berlutut memanggil Tuhan penyayang
Nama Yesus dipanggil panjang
Diseru disapa berulang-ulang

Segera, segeralah datang!
Datanglah, datang, datang!
Sekarang, ya Yesus, sekarang!
Bertindaklah ya Tuhan penyayang!

Tiba-tiba seorang pemuda turun
Dari kota Nazareth di Galilea
Masuk ke kawasan para durjana
Yang sedang menerjang bak taifun

Berdiri lurus di jalan yang menurun
Kedua tangan-Nya dibentang lebar
Ke kiri dan ke kanan tak gentar
Lihat, sang tubuh salib itu tak berayun

Yesus, nama pemuda dari Nazareth itu
Serbuan para durjana terhenti di situ
Dihadang oleh sang tubuh salib itu
Dia menjadi barikade kokoh di situ

Di belakang-Nya merunduk berlindung
Manusia yang hanya bisa berkidung
Tubuh salib itu menjadi perisai pelindung
Bergerak ke muka gesit tak terbendung

Menggempur insan-insan kesetanan
Satu per satu dirobohkan tak terlawan
Dibuat tak berkutik dalam erangan
Melolong panjang melepas kehidupan

Si pemuda orang Nazareth itu menang
Dia telah menjadi tameng banyak orang
Tapi tubuh salib-Nya terjatuh sungsang
Darah-Nya tercucur kental menggenang

Dalam menggempur Dia juga digempur
Tubuh salib-Nya tersayat setengah hancur
Tapi hati-Nya tidak luluh hancur
Ucapan-Nya "Sudah selesai" termashyur

Dia wafat dalam senyum yang lebar
Semua yang merunduk berlindung tergetar
Membuka mulut mereka lebar-lebar
Kidung duka terlantun pilu terlontar

Kehidupan sang tubuh salib sang perisai
Telah selesai dalam hening dan damai
Terdengar alunan bening dawai-dawai
Tangan para malaikat memetik melambai

Orang Nazareth itu telah kembali pulang
Ke kawasan dari mana Dia telah datang
Air mata sang Bapa deras turun berlinang
Mengalirkan darah Anak yang tergenang

Si tubuh salib perisai itu selalu dikenang
Pada setiap Jumat Agung saat Dia pulang
Lewat kematian-Nya maut jadi pecundang
Kidung duka dan syukur berkumandang

Para makhluk durjana tanpa nurani
Telah dicampakkan ke dunia orang mati
Sang Anak dipangku Bapa yang baik hati
Hidup abadi tak lagi bisa mati

Jika liontin salib di lehermu kau pegang
Sang tubuh salib dari Nazareth kau kenang
Kenangan yang memacumu berjuang
Demi kehidupan menjadi pemenang


Jakarta, Kamis, 1 April 2021
ioanes rakhmat

In memory of the death of Jesus of Nazareth,
Good Friday 2 April 2021

Monday, March 29, 2021

"METEOR DOOMSDAY" atau APOKALIPSIS METEOR suatu saat akan terjadi!


Klik gambarnya untuk memperbesar


N.B. Update mutakhir 
31 Desember 2021
14 Agustus 2022


Di atas adalah sebuah ilustrasi tumbukan sebuah asteroid raksasa (lebar 9,6 km) berwarna gelap (jenis khondrit karbon, yang terbentuk di awal sejarah sistem Matahari) di semenanjung Yukatan, Meksiko, yang memusnahkan dinosaurus non-avian, 66 juta tahun lalu. Setelah dikaji, diyakini, asteroid ini berasal dari paruhan luar Asteroid Belt, yang berlokasi di antara Mars dan Jupiter./1/ Ilustrasi ini diambil dari Livescience, 10 Agustus 2021. Tentang Asteroid Belt, saya terangkan di bawah.

Tumbukan sebuah meteor atau asteroid besar pada permukaan Bumi akan menimbulkan serangkaian bencana global yang mematikan. Mari kita pahami sedikit lebih jauh soal ini.

Di masa pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir 2 tahun, dan yang sudah memukul dunia dan kehidupan manusia dalam banyak bidang kehidupan, kita juga menghadapi suatu ancaman lain terhadap dunia dan semua spesies yang ada yang dapat membuat Bumi rusak porak-poranda dan kita semua punah seketika. 

Ya, ancaman yang datang dari angkasa luar. Bukan berupa serbuan armada perang para alien cerdas luar Bumi ke planet Bumi. Melainkan ancaman tumbukan meteor-meteor besar dari angkasa luar pada permukaan planet Bumi. 

Ancaman yang mengerikan itu sudah lama diketahui dan dikaji, dan sudah terjadi lebih dari satu kali, dan akan dapat terjadi lagi sewaktu-waktu. Tak heran jika banyak ilmuwan sudah lama mendorong Homo sapiens, manusia yang cerdas dan bijak, untuk segera membangun koloni-koloni baru sebagai “rumah kedua” dan “rumah ketiga” di planet Mars, dan di bulan-bulan Titan dan (mungkin juga) Enceladus dari planet Saturnus. 

Asteroid 2001 FO32

NAH, TAHUKAH ANDA? Pada Minggu, 21 Maret 2021 yang lalu, sebuah asteroid berukuran besar (diameter 900 meter, atau 3.000 kaki) telah melintasi planet Bumi dalam jarak terdekat, kurang lebih 2 juta km jauhnya dari Bumi atau 5,25 kali jarak Bumi dari Bulan. Menurut astrofisikawan Gianluca Masi dari Proyek Teleskop Virtual yang berbasis di Italia, pelintasan tersebut terjadi pukul 14:00 GMT.



Gambar grafis orbit eliptis asteroid 2001 FO32 (elips putih tebal) yang melintasi planet Bumi (Earth) dalam jarak yang dekat pada 21 Maret 2021


Jarak yang dekat dengan Bumi ketika asteroid ini melintasi planet kita membuatnya digolongkan sebagai “Asteroid yang potensial berbahaya” dari antara banyak “Objek Dekat Bumi” (“Near Earth Object” atau NEO).

Kecepatan lintasan asteroid yang diberi nama ASTEROID 2001 FO32 (ditemukan Maret 2001, jadi sudah 20 tahun lalu) ketika mendekati Bumi mencapai 124.000 km/jam. Ini adalah kecepatan yang tercepat dari kebanyakan asteroid yang sejauh ini telah melintasi Bumi. Kejadian ini akan berulang lagi di tahun 2052, masih 31 tahun lagi./2/

Manfaat mengkaji meteor dan asteroid

Bebatuan asteroid terbentuk selama awal terbentuknya sistem Matahari kita kurang lebih 4,571 milyar tahun lalu. Sedang usia Galaksi Bima Sakti (atau Milky way) 13,2 milyar tahun, dan usia jagat raya kita 13,8 milyar tahun. 

Evolusi biologis spesies di planet Bumi mulai berlangsung 3,5-3,8 milyar tahun lalu, dimulai oleh organisme monoselular virus yang belakangan menjadi organisme parasitis sebagai akar terdalam pohon evolusi biologis. 

Ada juga yang melihat akar terdalamnya eukariota (contoh: protista, fungi, plantae dan animalia), yaitu sel yang memiliki sebuah nukleus yang oleh membran (atau karioteka) dipisahkan dari sitoplasma, dan prokariota (contoh: bakteri, alga biru atau arkhae), yakni sel yang tidak mempunyai nukleus, juga tak memiliki membran pemisah. 

Felix Broecker dan Karin Moeling menyatakan bahwa entitas-entitas “yang lazimnya dipandang berasal dari moyang umum universal yang terakhir adalah bakteri, arkhaea dan eukariota, yang memerlukan DNA, sintesis protein, dan harus, karenanya, telah berevolusi dalam waktu yang panjang dari bentuk-bentuk kehidupan yang lebih sederhana.

Lantas, mereka menyimpulkan bahwa akar terdalam pohon evolusi kehidupan adalah virus. Viruses must be located far down at the root of the tree of life. Dalam mekanisme evolusi, virus-virus melepaskan kehidupan independen mereka, lalu menjalani suatu gaya hidup parasitis. Dalam hal ini, virus-virus sangat boleh jadi adalah moyang-moyang tertua kita./3/

Masih ada kelanjutannya yang sangat menarik.

Suatu studi baru (artikel risetnya terbit online di jurnal Cell, 12 Oktober 2021) yang dilakukan tim peneliti dari Universitas California, Berkeley, dan Universitas Washington, menunjukkan bahwa virus-virus purba yang selama jutaan tahun telah menyerbu masuk ke dalam genom semua mammalia, termasuk manusia, sebagai organisme parasitis ternyata memainkan suatu peran sangat penting dalam viabilitas atau ketahanan, perkembangan, pertumbuhan dan keberlangsungan kehidupan.

Virus-virus purba ini pada hakikatnya adalah elemen-elemen DNA (yang dinamakan transposon) yang telah terintegrasi dalam genom-genom semua mammalia dan menyediakan suatu reservoa evolusioner untuk seleksi alam dapat bekerja. 

Kini transposon-transposon membentuk nyaris setengah DNA dalam genom-genom semua mammalia yang hidup. Padahal, lazimnya virus-virus purba ini dipandang hanya sebagai rongsokan DNA atau junk DNA yang mencakup gen-gen yang hancur atau tersingkir, virus-virus yang tertahan dalam genom lalu dibuat bisu dan dikutungi./4/ 



Perhatikan gambar di atas, yang memperlihatkan terintegrasinya transposon-transposon pada masing-masing spesies tertentu sebagai kejadian-kejadian unik dalam sejarah evolusi setiap spesies mammalia. Credit: Kerry Lin, UC Berkeley. Sumber gambar ScieTechDaily.

Well, kita balik ke fokus utama kita. Kajian-kajian terhadap asteroid dan komet yang datang sangat dekat ke Bumi memberi pemahaman dan pengetahuan yang kian bertambah dan kian baik kepada para ilmuwan tentang sejarah dan dinamika sistem Matahari kita.

Sekaligus kajian-kajian tersebut menjadi basis data tentang ancaman-ancaman yang potensial datang dari benda-benda angkasa luar terhadap planet Bumi dan umat manusia dan spesies-spesies lain.

Selain itu, ada manfaat keilmuan lainnya.

Ketika cahaya Matahari mengenai permukaan sebuah meteorit, maka mineral-mineral yang ada pada bebatuan meteorit tersebut menyerap sebagian berkas cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Sementara berkas-berkas cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda dipantulkan ke angkasa luar.

Dengan mengkaji spektrum cahaya yang terpantul itu lewat instrumen spektroskopi, para astronom dan para astrofisikawan dapat mengukur “sidik-sidik jari” komposisi kimiawi mineral-mineral yang ada pada permukaan asteroid. Ini mengawali kegiatan penambangan mineral asteroid yang kini sedang dikaji terus dan akan dilaksanakan di masa depan.

Asteroid-asteroid dekat-Bumi di angkasa luar (yang disebut NEAs atau Near-Earth Asteroids) ditemukan kaya dengan logam-logam seperti besi (Fe), nikel (Ni) dan kobalt (Co), dengan total 85%, dan sisanya 15% berupa material silikat (yang pada dasarnya adalah bebatuan).

Suatu kajian mutakhir terhadap asteroid 1986 DA dan asteroid 2016 ED85 yang berada di angkasa luar sangat dekat Bumi, menunjukkan bahwa kedua asteroid ini memiliki “tandatangan spektral” yang konsisten dengan tandatangan asteroid 16 Psyche sebagai asteroid terbesar yang kaya dengan logam-logam dalam sistem Matahari kita, terletak di Asteroid Belt utama. Ditemukan, jumlah sekelompok logam platinum yang ada pada asteroid 1986 DA melebihi cadangan yang tersedia di Bumi.

Oh ya, asteroid-asteroid 1986 DA dan 2016 ED85 berukuran kecil, lebar hanya beberapa km, sedangkan asteroid 16 Psyche memiliki lebar 226 km dan berlokasi jauh dari Bumi, 370 juta km dari planet kita. Ketiga asteroid ini adalah inti planet-planet yang tertinggal setelah gagal terbentuk, atau hancur sebelum menjadi planet, di awal sejarah sistem Matahari kita. 

Jadi, suatu saat di masa depan, logam-logam tersebut yang tersedia luar biasa banyak pada asteroid-asteroid yang sangat dekat Bumi akan dapat ditambang untuk digunakan di Bumi atau di angkasa luar./5/ 



Gambar artis asteroid 1986 DA yang kaya dengan logam-logam (85% dari total massanya), di saat melintas sangat dekat planet Bumi di angkasa luar. Sumber gambar SciTechDaily.




Di atas ini foto Asteroid 16 Psyche sebagai asteroid terbesar yang kaya dengan logam. Sumber gambar Forbes, 19 Oktober 2021.

Apokalipsis meteor

Tumbukan atau momentum (massa x velositas) asteroid yang berukuran besar terhadap planet Bumi dapat melenyapkan kehidupan dan merusak seluruh planet Bumi. Inilah yang saya namakan Apokalipsis Meteor, atau “Meteor Doomsday”, “Hari Kemusnahan Total” dunia karena hantaman sebuah meteor besar.

Peristiwa tumbukan sebuah meteor besar pada 66 juta tahun lalu di semenanjung Yukatan, Meksiko yang sekarang, telah menimbulkan kerusakan hebat global, merusak ekosistem Bumi, dan telah memusnahkan 75% dari spesies yang ada di Bumi waktu itu, termasuk berbagai jenis reptilia besar yang menakutkan yang dinamakan dinosaurus (non-avian). Lebih detail tentang ini, baca tulisan saya MENGAPA DINOSAURUS LENYAP?/6/

NASA telah mengkatalogisasi 95% “Asteroid Dekat Bumi” (“Near Earth Asteroid” atau NEA) yang seukuran asteroid 2001 FO32 atau yang berukuran lebih besar.

Setelah dikalkulasi, NASA menemukan tidak ada satu pun dari NEA tersebut yang memiliki peluang untuk menabrak Bumi dengan kekuatan tumbukan atau momentum yang besar yang dapat merusak ekosistem planet Bumi, dalam waktu 100 tahun ke depan--- kecuali ada asteroid-asteroid besar yang luput dari pengamatan panjang dari waktu ke waktu. 

Dalam sains, luput mengobservasi diterima sebagai suatu kemungkinan yang niscaya. Banyak profesor ilmuwan cerdas sering kebingungan mencari kacamata mereka yang sebetulnya menggantung seperti sebuah leontin di leher mereka. Karena itulah, iptek terus-menerus dikembangkan dan dimajukan untuk makin cermat dan peka dalam para ilmuwan mengobservasi dan menganalisis banyak fenomena di dunia mikro mekanika quantum dan di kawasan makro jagat raya .

Meteorit Chelyabinsk tak terdeteksi

Ya, ada yang luput. Pada Jumat, 15 Februari 2013, pukul 9:30 AM, sebuah meteorit dengan diameter 20 m dan berbobot 10 ton (tergolong asteroid kecil), yang luput dari pengamatan (katanya, aneh juga, karena menerobos masuk ke Bumi di siang hari yang terang), telah meledak di atas kota Chelyabinsk, 900 km sebelah timur Moscow, Russia, dekat perbatasan Kazakhstan, setelah menerobos atmosfir Bumi dengan kecepatan 60.000 sampai 90.000 km per jam. Laju gerak meteorit ini meninggalkan jejak awan putih di angkasa sepanjang 480 km.




Setelah 30 detik menembus atmosfir Bumi, meteorit ini meledak pecah di ketinggian 30 km di atas kota Chelyabinsk, lalu melepaskan gelombang kejut ke segala arah. Gelombang kejut ini diserap atmosfir, lalu dipancarkan sebagai pulsa energi panas dan cahaya benderang dengan akibat kecepatan meteor diperlambat.

Kekuatan ledakan yang terjadi karena energi kinetik, energi panas dan gesekan dengan udara yang bertekanan yang dilepaskan oleh meteorit ini mencapai 20-30 kali lipat dari energi yang dirilis oleh ledakan bom atom yang pernah dijatuhkan ke Hiroshima, Jepang, dalam PD II. Ada juga yang menyatakan energi yang terrilis mencapai 500 kiloton bom TNT.

Ledakan meteorit Chelyabinsk telah menimbulkan kerusakan yang cukup besar. Gelombang kejut yang timbul dari ledakan telah menghantam dan menghancurkan tembok-tembok dan kusen-kusen jendela, dan memecahkan kaca-kaca di enam kota di Russia, dan membunyikan alarm mobil-mobil. Lebih dari 1.500 orang terluka, dan ratusan orang harus dirawat di rumah-rumah sakit karena luka-luka ringan.



Kaca-kaca pecah berhamburan. Credit: Nikita Plekhanov. Sumber image Fraser Cain.




Suatu tim penyelam selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan mencari-cari sisa meteorit yang jatuh dan meninggalkan lubang besar (diameter 8 m) di permukaan Danau Chebarkul yang membeku, di kawasan pegunungan Ural di Russia. Akhirnya pada 15 Oktober 2013 mereka berhasil menemukan sebuah potongan meteorit tersebut di dasar danau. Beratnya 654 kg, potongan terbesar meteorit Chelyabinsk, sejauh yang sudah ditemukan.


Tuh lihat, pecahan terbesar meteornya, mencapai berat 654 kg.


Lebih lanjut tentang meteorit Chelyabinsk, baca TODAY IN SCIENCE: THE CHELYABINSK METEOR/7/ dan WHY NOT DETECTED IN ADVANCE?/8/



Image pecahan kecil meteorite Chelyabinsk 2013, dipamerkan di Museum Sejarah Negara Ural Selatan. Sumber image Atlasobscura


Menurut NASA, setiap hari ada kira-kira 80 hingga 100 ton material debu dan meteorit kecil yang jatuh ke Bumi karena gaya gravitasi Bumi. Tapi, sampai saat ini, belum ada yang menjadi ancaman serius terhadap Bumi. Peristiwa Chelyabinsk menurut NASA terjadi satu kali dalam kurun 100 tahun. Semoga begitu.

NASA berpendapat bahwa meteorit Chelyabinsk tidak terdeteksi sebelumnya oleh para astronomer karena meteorit ini berukuran kecil (sehingga disebut meteoroid) dan menerjang Bumi pada siang hari yang diterangi dengan benderang oleh cahaya Matahari.

Tetapi, bukankah meski menerjang masuk ke Bumi pada siang hari, meteorit Chelyabinsk jauh sebelumnya mustinya sudah terdeteksi sedang bergerak dalam suatu jalur orbital yang membuatnya suatu saat menabrak Bumi? Jawaban NASA tersebut tidak memuaskan.

Tetapi, sudah ada penjelasan yang logis. Berikut ini.

Asteroid atau meteor yang melintasi planet Bumi dalam jarak yang sangat dekat, atau yang akhirnya menghantam planet kita ini, tidak mungkin terdeteksi jauh-jauh hari sebelumnya (seperti meteor Chelyabinsk, asteroid-asteroid 2021 SG dan 2021 UA) jika objek-objek dekat Bumi (NEOs) ini datang dari arah Matahari.

Titik buta (“blind spot”) inilah yang membuat para astronomer tidak dapat melihat lewat teleskop-teleskop ketika objek-objek ini sedang bergerak menuju Bumi. Kondisi ini sudah dijelaskan misalnya oleh Eddie Irizarry (ahli sistem Matahari NASA) dan Deborah Byrd (editor kepala EarthSky).

Pada pihak lain, makin sering ditemukannya NEOs yang mendekati Bumi menunjukkan bahwa teknologi pensurvei angkasa dan juga kemampuan para astronomer untuk menemukan dan mengikuti gerak bebatuan angkasa sudah makin maju dan berkembang. Hal ini mustinya makin membuat penduduk Bumi lebih tenang, ketimbang makin ketakutan.

Nah, untuk mengeliminir titik buta tersebut, NASA berencana untuk meluncurkan wantariksa NEO Surveyor dalam tahun 2026 (persisnya direncanakan 26 Maret 2026) yang akan diparkir pada suatu titik lokasi di angkasa luar antara Bumi dan Matahari sehingga wantariksa ini dapat mendeteksi objek-objek yang tidak dapat dilihat dari Bumi./9/

Lalu, di pertengahan tahun 2030-an NEO Surveyor akan sudah menemukan 90% asteroid-asteroid yang potensial berbahaya yang berdiameter lebih dari 140 m. Asteroid seukuran ini cukup kecil sehingga dapat luput dari survei-survei yang sedang diadakan, tapi cukup besar untuk menimbulkan kerusakan regional yang signifikan./10/

Ketika pakar asteroid NASA, Dr. Amy Mainzer, ditanya apakah NASA sudah mengetahui semua asteroid, dia dengan terbuka menyatakan hal berikut ini. 

NASA sesungguhnya tidak mengetahui semua asteroid. Yang NASA ketahui hanyalah sejumlah besar asteroid sangat besar dan tidak satupun di antaranya dipastikan akan menjadi ancaman-ancaman yang akan menghantam planet Bumi. Namun, angkasa luar itu luar biasa besar, jadi kami selalu siaga memantau. Tetapi, ada banyak asteroid yang lebih kecil yang masih ada di angkasa luar yang belum kami temukan, dan di situlah pakar-pakar pertahanan planet Bumi berperan./11/

Asteroid Belt

Perlu diketahui, objek-objek bebatuan, asteroid-asteroid dan planet-planet kecil ada yang terhimpun di suatu kawasan yang membentuk disk yang mengelilingi Matahari, dan semua benda kecil angkasa ini mengorbit antara planet Mars dan planet besar Jupiter. Kawasan ini dinamakan ASTEROID BELT (tulis singkat saja AB)/12/, berada dalam wilayah “inner solar system”. Disk donat kuning pada gambar di bawah ini bukan adonan terigu matang rasa karamel fresh from the oven, tapi himpunan sangat banyak puing-puing bebatuan di angkasa luar, dalam berbagai ukuran.





Keseluruhan massa objek-objek dalam AB cuma kira-kira 4% dari massa Bulan kita, sehingga tidak cukup massif untuk, lewat gaya tarik-menarik antar objek-objek ini, membentuk suatu objek massif seukuran sebuah planet.

Selain itu, setelah mengamati gambar grafis AB di atas, saya berpikir keseluruhan gaya tarik-menarik antar benda-benda yang mengumpul di AB tidak cukup kuat untuk merobohkan keseimbangan gravitasional dalam wilayah AB yang sudah dicapai antara gaya tarik planet Jupiter dan gabungan gaya tarik planet-planet Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Akibatnya, benda-benda dalam AB tidak bisa bergabung membentuk sebuah planet kecil sendiri atau menjadi sebuah bulan bagi planet Mars, misalnya.

Dan jangan dilupakan hal yang satu ini: Dengan gaya gravitasinya yang besar, planet besar Jupiter berperan signifikan dalam mencegah atau mengurangi hantaman berbagai bebatuan dalam AB ke planet Bumi.





Kuiper Belt

Juga ada lokasi yang berbentuk disk donat di kawasan luar tepi sistem Matahari kita yang dinamakan KUIPER BELT (KB) yang membentang jauh hingga jarak 100 km dari tepi luar sistem Matahari kita, di kawasan luar orbit planet Neptunus./13/ 

Nama KB diambil dari nama Gerard Kuiper, seorang astronom Belanda-Amerika yang pada 1951 menulis sebuah makalah ilmiah yang di dalamnya dia menduga ada objek-objek lain di kawasan terjauh sistem Matahari melewati Pluto.

Puluhan tahun sesudah itu riset-riset lebih jauh dijalankan terhadap kawasan di sebelah luar orbit planet Neptunus. Baru pada tahun 1992 para ilmuwan mengakui bahwa kawasan KB memang dipenuhi sangat banyak benda-benda angkasa dalam berbagai ukuran, yang dinamakan “Kuiper Belt Object” atau KBO. Tetapi sebagian ilmuwan lebih suka menyebut kawasan ini “Trans-Neptune Region” (TNR) ketimbang KB.




KB dihuni sangat banyak KBO, yakni bebatuan, es (methana, amonia dan air), komet-komet dan planet-planet kerdil (“dwarf planets”) seperti Pluto, juga Eris, Quaoar, Makemake, Haumea, dll.

Semua objek dalam KB adalah bahan-bahan sisa yang tertinggal ketika sistem Matahari kita terbentuk. 

Jika semua benda angkasa penghuni KB dikaji dengan mendalam, pengetahuan-pengetahuan yang lebih baik dan lebih luas akan kita miliki tentang bagaimana planet-planet dan unit-unit dasar (atau “planetesimals”) suatu planet terbentuk.

Setelah dikalkulasi, mula-mula ada 2.000 KBO yang sudah dikatalogisasikan, selanjutnya diestimasi ada 100.000 KBO bahkan kini diduga ada ratusan ribu KBO yang mengisi disk KB.





Kawasan KB membentang mulai dari tepi luar orbit planet Neptunus pada jarak 30 UA (“Unit Astronomis”; 1 UA adalah jarak Bumi ke Matahari) hingga mencapai kira-kira 1.000 UA dari Matahari. Jadi, KB mencakup kawasan yang membentang jauh di seberang tepi luar sistem Matahari kita, masuk wilayah “outer solar system”.

KB serupa dengan AB, tapi berukuran jauh lebih besar, yakni 20 kali lebar AB dan 200 kali lebih massif dari AB. Meski luar biasa luas, massa keseluruhan KB relatif kecil. Total objek “panas” dalam KB kira-kira 1% dari massa Bumi. Keseluruhan objek “dingin” memiliki massa 0,03% dari massa Bumi. Tetapi belakangan massa seluruh KBO diestimasi tidak lebih dari 10% massa Bumi.

Karena total massa KBO kecil, dan juga karena gaya gravitasi yang kuat dari planet Neptunus, maka tidak ada kemungkinan untuk seluruh KBO terkohesi membentuk sebuah planet.

Selain itu, diduga ada sebuah “black hole” primordial yang terbentuk pada saat big bang di kawasan “outer solar system” ini, yang “gaya tariknya” membuat semua objek dalam KB dapat terhimpun dengan stabil dinamis dan mengorbit dengan tertata. Mungkin juga “dark matter” atau “materi gelap” ikut berperan dalam terhimpunnya semua KBO. Lebih lanjut, baca AN ANCIENT BLACK HOLE AT THE EDGE OF THE SOLAR SYSTEM./14/

Adakah cara pencegahan?

Meskipun kondisi Asteroid Belt dan Kuiper Belt stabil dinamis, tetap terbuka kemungkinan bahwa objek-objek angkasa luar yang sewaktu-waktu melintasi planet Bumi dapat berasal dari dua kawasan disk ini.

Jika ada objek-objek dari angkasa luar yang berukuran besar yang menabrak Bumi, tabrakan atau tumbukan ini dapat menimbulkan kerusakan besar karena daya momentum yang timbul dari massa dan kecepatan gerak kinetik objek-objek tersebut di saat bergesekan dengan udara dan akhirnya menghantam permukaan Bumi. 

Tumbukan yang sangat kuat bukan hanya akan menciptakan sebuah lubang kawah besar di permukaan Bumi, tetapi juga melontarkan gelombang energi panas, debu-debu dan pecahan-pecahan permukaan Bumi dalam jumlah yang sangat besar ke angkasa yang akan menimbulkan masalah-masalah besar lain selanjutnya bagi ekosistem Bumi dan kehidupan spesies-spesies fauna dan flora untuk jangka panjang. 

Kalau tumbukan terjadi di suatu samudera, masalah yang ditimbulkan dapat bertambah berat, antara lain akan terjadi tsunami luas dan dahsyat, dan kepunahan sangat banyak hewan dan tetumbuhan laut.



Di atas ini foto asteroid Bennu (jenis khondrit karbon yang mudah pecah, dibandingkan jenis khondrit) yang diambil dari wantariksa OSIRIS-REx dari jarak 186 mil dalam bulan Maret 2021. Menurut NASA, ada peluang kecil asteroid ini akan menabrak Bumi di tahun 2182. Sumber foto The New York Times, 25 Agustus 2021.

Wantariksa OSIRIS-REx diluncurkan NASA tahun 2016 untuk dapat mengenali dan mempelajari sebanyak mungkin hal yang terkait asteroid Bennu, dan hingga saat ini sudah menghabiskan waktu 2 tahun dalam mempelajarinya dari jarak dekat dan merekam data dari orbit Bennu. 

Bahkan wantariksa ini sudah mendarat di permukaan Bennu, lalu mengambil sejumlah sampel bebatuan asteroid ini--- sesuatu yang baru pertama kali dilakukan NASA. Koleksi sampel bebatuan Bennu baru akan sampai di tangan NASA pada 2023, sementara saat ini OSIRIS-REx sedang dalam perjalanan balik ke Bumi.

Well, NASA baru meng-update prediksinya tentang kapan dan berapa besar peluang asteroid Bennu akan menabrak Bumi. Jika akan terjadi tumbukan, paling mungkin itu akan berlangsung 24 September 2182, dengan peluang 1 dalam 2.700, peluang yang “sesungguhnya kecil”, sebab diestimasi Bennu akan melintasi Bumi dalam jarak 125.000 mil dari Bumi (separuh jarak Bumi ke Bulan)./15/




Di atas adalah foto asteroid Bennu yang tampak lebih menyeluruh, diambil dari Bigthink.com

Jika asteroid Bennu ini (lebar 0,5 km), yang terdeteksi pertama kali tahun 1999, dan kini berada pada jarak 200 juta mil dari Bumi, suatu saat nanti, andaikanlah, menabrak Bumi, maka akan tercipta sebuah lubang kawah yang berdiameter minimal 5 km dan maksimal 10 km. Tetapi, kawasan yang rusak dan hancur akibat tumbukan akan jauh lebih luas lagi, sampai 100 kali ukuran kawah yang diciptakannya.

Dapatkah tabrakan dihindari?

Nah, berbagai teknik dan instrumen kini sedang dipikirkan, dikonstruksi, disimulasi lewat komputer dan diujicoba di lab, untuk menangani meteor-meteor atau asteroid-asteroid besar yang potensial akan menabrak Bumi. Bisa dengan meledakkan benda-benda angkasa ini jauh di atas Bumi.

Atau menyimpangkan gerak orbital objek-objek angkasa luar sehingga menjauhi Bumi lewat penggiringan oleh wahana-wahana antariksa tertentu yang menempel pada benda-benda angkasa tersebut. 

Atau lewat pendeviasian gerak objek-objek berbahaya angkasa tersebut dengan energi laser dengan kekuatan yang terbatas tetapi terus-menerus, yang ditembakkan dari wahana-wahana antariksa yang berada di luar Bumi. 

Well, penembakan sebuah asteroid jauh di angkasa luar dengan sebuah bom nuklir yang akan membuatnya pecah dan hancur hanya ada dalam kisah-kisah film Hollywood. Tidak akan pernah dijalankan. Mengapa?

Jika sebuah asteroid atau sebuah meteor yang terpantau sedang bergerak menuju planet Bumi dan dipastikan akan menabrak planet ini dibuat hancur berkeping-keping, lewat ledakan nuklir jauh dari Bumi di angkasa luar, kepingan-kepingan ini, dalam berbagai ukuran, akan tetap terus berada pada jalur orbital yang kurang lebih sama di sepanjang sistem Matahari, lalu sebagian dari kepingan-kepingan itu pada waktunya masih dapat menuju planet Bumi, lalu menabrak planet ini.

Atau, karena gravitasi, kepingan-kepingan itu akhirnya akan menyatu kembali seperti ukuran semula, dan tetap potensial akan bergerak dalam alur orbital yang serupa, yang akhirnya akan mengarah ke dan menabrak planet Bumi.

Teknik Kinetic Impact Deflection

Alih-alih menembak sebuat asteroid di angkasa luar dengan sebuah bom nuklir, para saintis NASA mengajukan sebuah teknik yang dinamakan Kinetic Impact Deflection (KID)./16/

Berbeda dari teknik penembakan dengan bom nuklir yang besar, teknik KID dipakai untuk menyimpangkan (men-defleksi) trajektori atau arah lintasan gerak sebuah asteroid yang sedang bergerak menuju planet Bumi sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, dengan menembakkan terus-menerus objek-objek yang kurang massif dan jauh lebih kecil ke permukaan asteroid tersebut.

Dengan teknik KID, sebuah asteroid yang ditembaki terus-menerus dengan objek-objek kecil tidak akan hancur berantakan, tetapi akan tetap utuh.

Nah, dampak kinetik yang ditimbulkan oleh momentum atau tumbukan (= massa x velositas) yang terus-menerus, akan sedikit demi sedikit mengubah orbit sebuah asteroid yang menjadi target jauh di angkasa luar sehingga dapat dengan aman melewati Bumi, tidak menabrak planet kita ini. Tentu, penyimpangan trajektori akan bisa sangat kecil sehingga nyaris menabrak Bumi. Ya, “nyaris menabrak Bumi”, sudah cukup.

NASA berencana akan menguji efektivitas teknik KID untuk pertama kalinya lewat wantariksa yang dinamakan Double Asteroid Redirection Test (DART) yang akan diluncurkan November 2021. Yang akan dijadikan target pengujian teknik KID ini adalah sebuah asteroid yang diberi nama Dimorphos yang panjangnya kurang lebih 525 kaki yang trajektorinya terpantau tidak membahayakan Bumi.

Nah, tahukah anda, objek-objek kecil apa yang nanti akan dihantamkan ke asteroid Dimorphos oleh wantariksa DART? Tidak ada! Loh? 

Ya, karena wantariksa DART nanti ketika sudah tiba di lokasi asteroid Dimorphos akan menjalankan misi bunuh diri dengan menabrakkan dirinya sendiri dalam kecepatan sangat tinggi ke bagian titik pusat asteroid Dimorphos. Momentum yang timbul dari tabrakan ini diperkirakan akan dapat sedikit menyimpangkan orbit Dimorphos.



Lihat gambar di atas. Ukuran asteroid Dimorphos (diameter 160 m) dibandingkan sebuah koloseum kuno di kota Roma. Image credit: ESA-Science Office. Sumber gambar Yahoo.com

Asteroid Dimorphos mengorbit sebuah asteroid lain yang jauh lebih besar yang diberi nama Didymos (artinya “kembaran”) yang memiliki lebar 780 m. Lebih lanjut tentang orbit Didymos (65803) di antara orbit-orbit 2.200 asteroid lain yang sudah dikenal dan dipandang potensial berbahaya bagi Bumi, baca dan lihat di Jet Propulsion Laboratory, NASA, 17 November 2021. Menyeramkan. Lintasan orbit-orbit asteroid sebanyak itu (sejauh yang sudah diketahui!) tampak kusut. Tangled.

Wantariksa DART telah diluncurkan Rabu, 23 November 2021, dari Vandenberg Space Force, California, dengan roket SpaceX Falcon 9. Inilah misi keilmuan pertama dalam sejarah insani untuk menguji teknik KID di kawasan angkasa luar yang jauh, in the deep space./17/

Ketika sudah mencapai jarak 11 juta km dari Bumi, dan dengan kecepatan 6,6 km/detik, wantariksa DART akan menabrak asteroid Dimorphos, sekitar September-November 2022. Telah diperhitungkan, momentum yang timbul dari tabrakan ini akan memperpendek beberapa menit orbit Dimorphos pada Didymos, dus mengubah trajektori orbitalnya. Teleskop-teleskop di Bumi akan dapat mengukur momentum tabrakan tersebut.

Dalam penerbangan ke asteroid Dimorphos, wantariksa DART--- yang dilengkapi hanya satu kamera teleskopik DRACO--- menggendong sebuah wantariksa/satelit kecil buatan Badan Antariksa Italia (ASI) yang diberi nama LICIACube (Light Italian CubeSat for Imaging Asteroids), yang akan dilepaskan 10 hari sebelum tabrakan terjadi. Lebih lanjut tentang LICIACube, baca di ScienceDirect.




Tabrakan DART dengan asteroid Dimorphos, dalam kecepatan 6,6 km/detik, akan dimonitor dan diobservasi si kecil LICIACube. Sumber gambar NewsSky.



Setelah dilepaskan dari gendongan DART, LICIACube akan otomatis dalam jarak dekat dan dalam posisi tertentu melintasi (fly-by) asteroid Dimorphos yang menjadi target penabrakan oleh DART. Di saat fly-by ini, LICIACube akan mendokumentasi tabrakan DART pada Dimorphos, mengkarakterisasi bentuk asteroid Dimorphos, dan menjalankan investigasi-investigasi keilmuan.



Ilustrasi wantariksa DART. Credit: NASA|Johns Hopkins Applied Physics Lab.
Sumber gambar: Gizmodo.com


Nah, empat tahun sesudah wantariksa DART menjalankan misinya menabrak asteroid Dimorphos, wantariksa Hera buatan ESA akan mendekati asteroid ini untuk dalam jarak dekat mengkaji dampak misi DART terhadapnya setelah tabrakan.

Teknik Assembled Kinetic Impact

Nah, perlu juga diketahui, para ilmuwan China kini juga sedang berada pada tahap-tahap awal dalam mengkaji teknik defleksi trajektori sebuah asteroid yang serupa dengan teknik KID NASA (atau disebut juga teknik Classical Kinetic Impactor atau CKI), tetapi lebih efisien. Teknik China ini dinamakan Assembled Kinetic Impact atau AKI.

Kalau teknik KID atau CKI memisahkan atau melepaskan wantariksa yang akan menghantam sebuah asteroid dari bagian atas roket peluncuran (BARP) setelah bagian roket ini lepas dari gravitasi Bumi, maka teknik China AKI justru memanfaatkan BARP sebagai muatan bermassa yang bersama dengan wantariksa akan menghantam sebuah asteroid. Dus, momentum yang akan timbul jauh lebih besar.

Lewat simulasi, diketahui bahwa strategi AKI menambah jarak defleksi atau jarak penyimpangan sebuah asteroid lebih dari tiga kali lipat. Selain itu, untuk menghasilkan jarak defleksi yang diinginkan, yang paling efisien, pengikutsertaan BARP dalam menimbulkan dampak kinetik pada sebuah asteroid, menghemat jumlah peluncuran roket sampai sepertiga kali dibandingkan dengan teknik KID atau CKI.

Konsep AKI memungkinkan pendefleksian asteroid-asteroid seukuran Bennu dilakukan 10 tahun sebelum asteroid-asteroid ini melintasi Bumi. Tambahan pula, dengan satu roket milik China Long March 5 (CZ-5), dengan teknik AKI, jarak penyimpangan sebuah asteroid dengan diameter 140 m bertambah lebih dari 1 radius planet Bumi, ketika asteroid ini melintasi Bumi./18/

Teknik-teknik lain

Selain teknik KID NASA, ada model traktor gravitasi asteroid: sebuah wantariksa yang massif mengapung di angkasa luar pada suatu posisi (hovering) di atas sebuah asteroid dan berinteraksi gravitasional dengannya. Tujuannya untuk menekan asteroid ini setahap demi setahap sehingga masuk ke dalam suatu orbit yang tidak mengancam planet Bumi.

Masih ada sebuah teknik lain, yakni dengan cahaya Matahari yang difokuskan atau dikonsentrasikan pada suatu asteroid untuk menguapkan beberapa material pada permukaan asteroid ini. Proses menguapkan ini menimbulkan suatu daya pendorong terarah (thrust) terhadap asteroid, alhasil asteroid ini disimpangkan dari jalur orbitalnya yang semula sehingga tidak akan menumbuk Bumi.

Metode Nuclear Disruption

Tetapi, jika kondisinya darurat dan waktu tersisa yang ada sudah sangat singkat (tidak dalam hitungan sekian dasawarsa, tetapi kurang dari satu tahun) sementara sebuah asteroid bergerak melesat menuju dan akan menghantam planet Bumi, maka (beberapa) peledakan bom nuklir sekian meter dari sebuah asteroid yang sedang melesat itu, adalah suatu metode yang paling efektif.

Suatu studi mutakhir telah diadakan terhadap metode peledakan dengan bom nuklir, dinamakan metode nuclear deflection and disruption. Simulasi model komputer untuk metode ini dijalankan dengan menggunakan sebuah software yang dinamakan Spheral, yang juga dipakai untuk mengikuti evolusi gravitasional awan pecahan-pecahan yang terbentuk setelah peledakan./19/

Temuan-temuan studi ini digambarkan ringkas saja. Berikut ini.

Jika penghancuran dengan ledakan nuklir yang sudah dikalkulasi dilakukan dua bulan sebelum sebuah asteroid (sebentuk dengan asteroid Bennu, dengan diameter 100 m, seperlima diameter Bennu) menghantam Bumi, maka 99,99% massa asteroid akan luput menghantam planet ini.

Jika asteroidnya berukuran lebih besar, peledakan dengan bom nuklir yang dilakukan enam bulan sebelum tabrakan, maka hasilnya cukup efektif, yakni 99% dari total pecahan asteroid akan melewati Bumi tanpa risiko apapun.

Memang masih ada hal yang tampak sulit dan rumit yang harus dilakukan, yakni trajektori setiap pecahan asteroid yang telah diledakkan dengan bom nuklir harus diikuti dengan mengkaji:

• Kecepatan gerak setiap pecahan
• Berapa lama waktu dibutuhkan untuk awan pecahan-pecahan melewati Bumi dalam suatu jalur orbital yang telah dilengkungkan dari jalur orbital semula asteroid yang masih utuh
• Interaksi-interaksi gravitasional suatu pecahan dengan pecahan lainnya dalam awan pecahan-pecahan yang terbentuk, dengan Bumi dan planet-planet lain, dan dengan Matahari.

Selain itu, tetap terbuka suatu peluang kecil beberapa pecahan akan dapat masuk ke dalam atmosfir Bumi. 

Oh ya, di atas saya telah menyatakan bahwa peledakan sebuah asteroid dengan bom nuklir hanya ada dalam kisah film-film Hollywood. Dengan adanya studi mutakhir terhadap metode nuclear disruptions yang saya sudah beberkan secukupnya dalam sekian paragraf persis di atas ini, pernyataan tersebut saya batalkan.


Penutup

Namun, saat ini para ilmuwan masih belum tiba pada suatu kepastian bahwa kita akan pasti dapat melakukan usaha-usaha penyelamatan planet Bumi dan spesies Homo sapiens dengan cara-cara yang sudah disebut di atas dan dengan memakai teknologi yang ada sekarang.

“Doomsday” atau “hari kemusnahan total” atau “apokalipsis meteor” dapat terjadi sewaktu-waktu pada Bumi dan umat manusia lewat tumbukan meteor-meteor atau asteroid-asteroid besar. Saksikan video di bawah ini.



Video wajib: asteroid-asteroid yang patut kita khawatirkan...!


Ya, pandemi Covid-19 saja sudah menakutkan, apalagi jika Bumi, tanpa diduga sebelumnya, dapat porak-poranda dan semua bentuk kehidupan musnah karena sebuah meteor raksasa dapat sewaktu-waktu menghantam planet ini, karena luput terdeteksi sekian lama.

Suatu saat Bumi kita ini akan rusak, seketika atau dalam jangka panjang, atau lenyap karena dilahap Matahari yang telah mengembung besar menjadi Red Giant (sebelum akhirnya menjadi White Dwarf, bintang kerdil yang mati), juga semua bentuk kehidupan di planet ini. 

Ya, kemusnahan total itu bisa terjadi karena bencana yang datang dari angkasa luar, atau yang datang dari dalam planet Bumi sendiri seperti berbagai bencana yang akan ditimbulkan oleh perubahan iklim, ataupun karena perang dunia yang menggunakan Weapons of Mass Destruction nuklir, kimiawi dan biologis. 

Jika kemungkinan-kemungkinan itu akhirnya terwujud, jangan anda berpikir bahwa anda akan tetap aman karena anda akan langsung dimasukkan ke dalam sorga yang abadi, yang di dalamnya tidak ada lagi bencana, azab, isak tangis, air mata, perkabungan, duka lara, kematian dan kesedihan.

Jika anda mencintai Yesus Kristus, Tuhan anda, dan Yesus, kita bersama tahu, cinta pada kehidupan, keselamatan manusia dan Bumi ini, maka adalah tugas mulia anda untuk menjaga, merawat dan melestarikan planet Bumi sebisa mungkin bersama-sama. 

Sekaligus, anda juga diutus untuk ikut membangun dan memajukan iptek angkasa luar supaya kita semua sebagai satu spesies Homo sapiens, yang terdiri atas banyak bangsa, suku bangsa, kaum, bahasa dan warna kulit, suatu saat dapat mempunyai planet kedua dan planet ketiga untuk kita diami dan bangun bersama-sama. 

Kehidupan yang bermakna dan mulia ya kehidupan kita sekarang ini. 

Ya, karena kebajikan, cinta kasih, keagungan, kecerdasan, persahabatan, kekeluargaan, pendidikan, pengasuhan, empati, kepedulian, kemurahan hati, belarasa, kebahagiaan, kerja, kemajuan, prestasi, rekreasi, bermain, belajar, mengembangkan iptek, mengantar anak ke sekolah, beribadah di ruang gereja, menyembuhkan orang sakit, bernyanyi, memetik gitar, bermain biola, menggubah puisi, menulis, bermeditasi, membaca, berdiskusi, mengajar, memilih kekasih, mengunjungi panti asuhan, lari pagi, berenang, mengarungi jeram, naik gunung, berdoa, membuka toko, pergi ke kantor, berjabat tangan--- semuanya ada, dipraktekkan, dijalani dan dialami hanya sekarang ini sementara kita hidup dengan real di Bumi dan, nanti, di planet-planet lain. 

Yakni, ketika kita masih hidup sebagai organisme cerdas dan bijak dalam wujud satu unit kesatuan jiwa dan tubuh, satu unit psikosoma.

Kehidupan di Bumi ini suatu karunia Tuhan, dan indah, meski kita tidak selalu sehat dan berbahagia. Syukurilah. Isilah dengan karya-karya besar anda.

The truth is both here on Earth and out there in space!

Jakarta, 29 Maret 2021
ioanes rakhmat

Editing mutakhir
31 Desember 2021

* Post ke-500 di Freidenk Blog ini. Thank you, Lord Jesus.

Notes

/1/ David Nesvorny, William F. Bottke, Simone Marchi, “Dark primitive asteroids account for a large share of K/Pg-scale impacts on the Earth”, Icarus, vol. 368, 1 November 2021, tersedia online 15 July 2021, https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0019103521002840?via%3Dihub.

/2/ Qasim Nauman, “No threat to Earth as huge asteroid zooms past”, Phys.org, 22 Maret 2021, https://phys.org/news/2021-03-threat-earth-huge-asteroid.html.

/3/ Felix Broecker & Karin Moeling, What viruses tell us about evolution and immunity: beyond Darwin?Annals of the New York Academy of Sciences, 29 April 2019, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6850104/.

/4/ University of California, Berkeley, “So-Called Junk DNA--- Genetic 'Dark Matter' --- Is Actually Critical to Survival in Mammals”, SciTechDaily, 19 October 2021,
https://scitechdaily.com/so-called-junk-dna-genetic-dark-matter-is-actually-critical-to-survival-in-mammals/.

Lihat artikel riset Andrew J. Modzelewski, Wanqing Shao,..., Davide Risso, Lin He, “A mouse-specific retrotransposon drives a conserved Cdk2ap1 isoform essential for development”, Cell, 12 October 2021,
https://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674(21)01104-1.

/5/ Lihat University of Arizona, “Mini Psyches Give Insights into Mysterious Metal-Rich Near Earth Asteroids That Could One Day Be Mined”, SciTechDaily, 3 October 2021, https://scitechdaily.com/mini-psyches-give-insights-into-mysterious-metal-rich-near-earth-asteroids-that-could-one-day-be-mined/.

Lihat artikel riset Juan A. Sanchez, Vishnu Reddy, William F. Bottke, Adam Battle, Benjamin Sharkey, Theodore Kareta, Neil Pearson and David C. Cantillo, “Physical Characterization of Metal-rich Near-Earth Asteroids 6178 (1986 DA) and 2016 ED85”, Planetary Science Journal1 October 2021, 
https://iopscience.iop.org/article/10.3847/PSJ/ac235f.

Baca juga Jamie Carter, Space Mining: Scientists Discover Two Asteroids Whose Precious Metals Would Exceed Global Reserves”, Forbes, 19 October 2021, https://www.forbes.com/sites/jamiecartereurope/2021/10/19/the-age-of-space-mining-just-got-closer-as-scientists-discover-two-asteroids-whose-precious-metals-would-exceed-global-reserves/.

/6/ Ioanes Rakhmat, “Kapan dinosaurus lenyap, dan mengapa?”, Freidenk Blog, 25 Oktober 2014, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/10/kapan-dinosaurus-lenyap-dan-mengapa.html?m=0.

/7/ Deborah Byrd, “Today in Science: The Chelyabinsk Meteor”, EarthSky, 15 February 2019, https://earthsky.org/space/meteor-asteroid-chelyabinsk-russia-feb-15-2013/.

/8/ NASA, “Why Wasn't the Russian Meteor Detected Before It Entered the Atmosphere?”, NASA watch the Skies, 19 February 2013,
https://blogs.nasa.gov/Watch_the_Skies/2013/02/19/post_1361308690869/.

Lihat juga Dina Spector, “Here's Why Astronomers Did Not Detect the Russia Meteor Ahead of Time”, BusinessInsider, 15 February 2013, https://www.google.com/amp/s/www.businessinsider.com/heres-why-astronomers-did-not-detect-the-russia-meteor-ahead-of-time-2013-2%3famp.

/9/ Erick Mack, Warehouse-sized asteroid sneaks up on Earth by hiding near the SunCnet, 24 September 2021, https://www.cnet.com/news/warehouse-sized-asteroid-sneaks-up-on-earth-by-hiding-near-the-sun/.

Erick Mack, Fridge-size asteroid snuck up on Earth by hiding behind the SunCnet,  28 October 2021, https://www.cnet.com/news/a-fridge-size-asteroid-skimmed-earth-this-week-in-the-third-closest-fly-by-ever/. 
 

/10/ Corey S. Powell, “How Prepared Is Earth for a Potential Asteroid Collision?”, Discover Magazine, 15 December 2021, https://www.discovermagazine.com/the-sciences/how-prepared-is-earth-for-a-potential-asteroid-collision.

/11/ NASA, “We Asked a NASA Scientist: Does NASA Know About All the Asteroids? [Video]”, Scitechdaily, 24 October 2021,
https://scitechdaily.com/we-asked-a-nasa-scientist-does-nasa-know-about-all-the-asteroids-video/.

/12/ James Neely, “Why hasn't the asteroid belt formed a planet?”, Astronomy, 23 November 2009, https://astronomy.com/magazine/ask-astro/2009/11/why-hasnt-the-asteroid-belt-formed-a-planet.

/13/ Space Center Houston, “What is the Kuiper Belt?”, Space Center Houston, 26 May 2020, https://spacecenter.org/what-is-the-kuiper-belt/.

/14/ Stuart Clark, “Is there an ancient black hole at the edge of the solar system?”, New Scientist, 31 March 2021, https://www.newscientist.com/article/mg24933280-100-is-there-an-ancient-black-hole-at-the-edge-of-the-solar-system/.

/15/ Lihat Kristin Houser, NASA updates the odds of asteroid Bennu hitting Earth”, bigthink.com Hard Science, 19 September 2021, https://bigthink.com/hard-science/nasa-updates-the-odds-of-asteroid-bennu-hitting-earth/.

/16/ Katherine Kornei, “Deflecting an Asteroid Before It Hits Earth May Take Multiple Bumps”, The New York Times, 25 August 2021, https://www.nytimes.com/2021/08/25/science/asteroid-deflection-collision.html.

/17/ Tentang tahap-tahap peluncuran dan segi-segi teknis DART, lihat Johns Hopkins Applied Physics Laboratory, NASA's DART Kinetic Impactor Spacecraft Launches in World's First Planetary Defense Test Mission, SciTechDaily, 28 November 2021, https://scitechdaily.com/nasas-dart-kinetic-impactor-spacecraft-launches-in-worlds-first-planetary-defense-test-mission/

/18/ Artikel riset Yirui Wang, Mingtao Li,..., Chuankui Wang, Binghong Zhou, “Assembled kinetic impactor for deflecting asteroids by combining the spacecraft with the launch vehicle upper stage”, ScienceDirect, Vol. 368, 1 November 2021, 114596, https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S001910352100261X#!

/19/ Michael Padilla, Late-time small-body disruptions can protect the EarthLLNLhttps://www.llnl.gov/news/late-time-small-body-disruptions-can-protect-earth.

Nadeem Sarwar, Nuclear Defense Could Save Earth From A Killer Asteroid, New Research SaysScreenrant, 8 October 2021, https://screenrant.com/asteroid-defense-nuclear-explosion/.

David Nield, “Nuking an Asteroid to Prevent Armageddon Could Actually Work, Study Shows”, Sciencealert, 7 October 2021, https://www.sciencealert.com/our-last-line-of-defence-against-an-asteroid-hit-actually-works-study-shows.

Lihat artikel riset Patrick K. King, Megan Bruck Syal, David S.P.,..., Cody Raskin, Late-time small body disruptions for planetary defenseActa Astronautica, vol. 188, November 2021, hlm. 367-386, https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0094576521003921?dgcid=coauthor.