Tuesday, April 28, 2015

My conversations with atheists (part 2)


My conversations with atheists you are reading now have developed from Richard Dawkins’ statement on Twitter (April 25, 2015) to which I responded. Someone then reacted to my response. This reaction gave birth to my other responses. I posted this short conversation on my Facebook (April 25, 2015), eventually resulting in extended comments on my Facebook from my Western FB friends to which I replied seriously. Enjoy all the following conversations. 

Richard Dawkins (on Twitter): Of course people have a right to hold whatever beliefs they want. Ridiculing those beliefs doesn’t deny that right.

Tuesday, April 21, 2015

Galaksi tetangga kita Andromeda berisi peradaban cerdas?


Are we alone in the universe? Absolutely NOT! But, where are they if they exist? Until now, the universe keeps silent! This condition is called Silentium Universi or The Universe Keeps Silent or The Great Silence.


Gulungan-gulungan melingkar warna jingga pada gambar di atas ini, yang mengisi lengan-lengan spiral galaksi Andromeda, pada satu segi bisa ditafsirkan sebagai gundukan-gundukan debu antariksa yang menerima panas dari bintang-bintang.

Citra gulungan-gulungan ini yang diberi warna jingga dihasilkan oleh teleskop angkasa NASA yang diberi nama WISE dengan menggunakan cahaya mid-infrared. WISE adalah nama yang berasal dari singkatan Wide-field Infrared Survey Explorer. 

Tetapi, dari segi lain, citra-citra semacam ini juga dapat potensial menyingkapkan limbah energi panas yang terbuang ke angkasa luar dari peradaban-peradaban maju yang mengisi galaksi ini.

Perburuan terhadap alien-alien cerdas di angkasa luar yang jauh makin intensif dan ekstensif dilakukan para saintis. 

Kita semakin maju dalam sains yang dinamakan astrobiologi. Kita, manusia, memang sedang mencari teman-teman dan saudara-saudara yang punya kecerdasan yang mendiami planet-planet dalam galaksi-galaksi yang dekat, termasuk dalam galaksi kita sendiri Bima Sakti, sampai galaksi-galaksi yang lebih jauh, galaksi tetangga kita Andromeda misalnya.
  
Mungkin sekali, isi pikiran kita tentang alien-alien cerdas dan sifat peradaban mereka selama ini keliru, sehingga kita memang harus berpikir secara baru tentang mereka dan peradaban mereka!

Lee Billings baru saja menulis sebuah telaah yang bagus dan inspiratif tentang ihwal kenapa hingga saat ini kita belum menemukan tanda-tanda keberadaan alien-alien cerdas dan peradaban-peradaban mereka, dan dia mengajak kita untuk berpikir lain sama sekali tentang mereka, dan meninggalkan pikiran kita yang biasa tentang mereka. 

Artikel Billings berjudul “Alien Supercivilizations Absent from 100,000 Nearby Galaxies”, terbit online di Scientific American edisi 17 April 2015./1/  Artikel Billings ini memanfaatkan suatu kajian ilmiah atas 100.000 galaksi terdekat yang dilakukan oleh Roger L. Griffith, Jason T. Wright , Jessica Maldonado, et all., yang terbit di The Astrophysical Journal Supplement Series, 15 April 2015./2/ 

Sejak astronom kebangsaan Rusia, Nikolai Kardashev, di tahun 1963 mengajukan teorinya tentang tiga tipe peradaban cerdas, kita umumnya berpikir bahwa alien-alien cerdas telah mencapai peradaban tipe 3 yang memiliki kemampuan teknologis menguasai dan menyerap seluruh energi yang tersedia dalam galaksi-galaksi mereka. 

Peradaban tipe 3 ini dicirikan keharusan sebuah peradaban bersikap rakus terhadap alam, menguasai dan menundukkan alam, demi ketahanan kehidupan mereka dan peradaban mereka sendiri. Ketika energi dari seluruh planet mereka sudah dimanfaatkan (peradaban tipe 1) lalu habis, mereka selanjutnya menguras seluruh energi dari bintang matahari mereka (peradaban tipe 2). Ketika energi matahari mereka sudah terkuras habis, mereka selanjutnya menjadikan seluruh bintang dalam galaksi mereka sebagai sumber energi, alhasil jadilah mereka suatu peradaban galaktik (peradaban tipe 3).

Tetapi, Billings mengajak kita berpikir lain, bahwa mungkin sekali alien-alien cerdas yang sudah memiliki peradaban-peradaban maju tidak berpikir dan bertindak demikian, melainkan mereka mengembangkan peradaban mereka sebagai peradaban yang menyatu dan harmonis dengan alam, justru demi ketahanan kehidupan mereka sebagai organisme dan sebagai peradaban. Itulah sebabnya hingga kini proyek pencarian alien-alien cerdas yang diberi nama SETI (the Search for Extraterrestrial Intelligence), yang dijalankan dalam bingkai pemikiran Kardashev, belum membuahkan hasil apapun. 

Selain itu, penting untuk dicatat, bahwa kini sejauh sudah dikaji dengan luas, ternyata dari 100.000 galaksi yang dekat, yang dipantau lewat WISE, yang baru saja sudah dikaji kembali dengan mendalam oleh Roger L. Griffith, Jason T. Wright, dkk, tidak satupun menampakkan indikasi-indikasi memuat peradaban alien cerdas apapun.

Dus, karena alien-alien cerdas itu hidup dan membangun peradaban maju mereka dengan tidak bisa dibedakan dari alam, maka hingga kini kita belum menemukan satupun bukti bahwa mereka ada, berhubung kita berpikir bahwa kita harus menemukan mereka sebagai organisme cerdas yang hidup sudah jauh di atas alam dan sudah menguasai dan mengeksploitasi alam dengan rakus lewat teknologi mereka. 

Mungkin sekali mereka, sebaliknya, memegang sebuah filosofi bijak bahwa untuk bertahan hidup, setiap organisme harus hidup dan berkarya sejalan dengan alam. Jika kondisi ini benar, maka kita yang kini mendiami Bumi musti melakukan definisi ulang apa itu teknologi, sebelum alam berbalik memusnahkan spesies kita di masa depan! 

Ancaman serius dari perubahan iklim global yang sedang berlangsung sekarang ini di planet kita, yang akan dapat melemahkan Homo sapiens dan merongrong peradaban spesies ini, bukan datang dari alam sendiri pada dirinya sendiri, tetapi dari meningkatnya kandungan CO2 di atmosfir Bumi yang berasal dari berbagai bentuk kegiatan dan benda-benda teknologis spesies ini yang menggunakan bahan bakar fosil!!  

Jakarta, 21 April 2015
Ioanes rakhmat

○ Dibaca kembali 17 Juni 2023

Notes 

/1/ Ini link ke artikel Lee Billings, http://www.scientificamerican.com/…/alien-supercivilizatio…/.

/2/ Roger L. Griffith, Jason T. Wright , Jessica Maldonado, et all., “The Ĝ Infrared Search for Extraterrestrial Civilizations with Large Energy Supplies. III. The Reddest Extended Sources in WISE”, The Astrophysical Journal Supplement Series, 15 April 2015, doi:10.1088/0067-0049/217/2/25, pada http://iopscience.iop.org/0067-0049/217/2/25/article.

 

Sunday, April 19, 2015

Sampai 2050, Islam akan menjadi agama dunia yang tumbuh paling cepat!


Profil agama-agama dunia kini sedang berubah dengan cepat, dipicu terutama oleh perbedaan-perbedaan angka kesuburan dan jumlah populasi kaum muda di antara agama-agama besar dunia, dan juga oleh orang yang pindah agama. Selama empat dekade ke depan, orang Kristen akan tetap menjadi kelompok keagamaan terbesar, tetapi Islam akan tumbuh lebih cepat ketimbang agama besar lainnya manapun. Jika tren masa kini tetap berlanjut, maka di tahun 2050

Thursday, April 9, 2015

Hati-hati, Facebook dapat membuat anda depresif!




Menurut sebuah penelitian baru-baru ini yang dilakukan tiga peneliti dari Universitas Houston dan Universitas Palo Alto, Facebook dapat menimbulkan simtom depresif pada diri anda sebagai para penggunanya, lewat dua cara.

Wednesday, April 8, 2015

Konklusif: Makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus!

Updated 3 Mei 2015

Di tahun 2007, terbit dalam dua bulan berturut-turut (5 April 2007, dan 31 Mei 2007) dua serial tulisan saya di ruang satu halaman penuh Bentara koran Kompas tentang kontroversi temuan makam keluarga Yesus di Talpiot, Yerusalem Timur. Dua tulisan saya ini ternyata waktu itu menimbulkan kontroversi tajam dan panjang di kalangan gereja-gereja di Indonesia, khususnya dalam lingkungan kekristenan evangelikal. 

Bagaimana tidak kontroversial, lantaran oleh gereja-gereja sedunia Yesus dengan tubuhnya lengkap dipercaya telah diangkat ke sorga, dus jasadnya, tulang-belulangnya, tidak akan ada di dunia ini! Dogma keagamaan apapun, memang begitu, selalu mengeras, dan selalu bersikap negatif terhadap temuan-temuan ilmiah yang merongrongnya. Padahal, seharusnya, dogma itu dinamis dan terus berubah, karena sebuah dogma pada dasarnya adalah sebuah formulasi kepercayaan keagamaan sebagai tanggapan terhadap suatu situasi dan kondisi kehidupan yang terus berubah.