Monday, January 19, 2015

Patung Siwa Nataraja di halaman gedung CERN




N.B. diedit 29 Desember 2021


CERN (Prancis: “Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire”) adalah organisasi pusat riset nuklir di Eropa, yang didirikan 29 September 1954, dan kini beralamat di Route de Meyrin 385, 1217 Meyrin, Switzerland. 

Para ilmuwan CERN menjalankan mesin sains terbesar dan terkuat di dunia Large Hadron Collider antara lain untuk mencari dan menemukan partikel-partikel subatomik yang belum terobservasi atau yang baru. Jangan salah, LHC bukan mesin besar untuk memproduksi energi nuklir.




Lihat info pada gambar di atas. Tahun 1984, pembangunan LHC mulai dibayangkan, dikonsep dan dirancang. Sekian tahun kemudian, 1993, LHC mulai real dikonstruksi, dibangun di bawah tanah, berbentuk bangunan lingkaran cincin besar pipa yang sangat panjang, di kawasan Swiss dan Prancis. 

Pembangunan LHC melibatkan 10.000 ilmuwan, ratusan universitas dan laboratorium, dan lebih dari 100 negara.

Pada 10 September 2008, mesin besar LHC pertama kali dijalankan. Selanjutnya, mengalami sekian peningkatan kemampuan.

Pernah dikhawatirkan kalau LHC akan menciptakan sebuah black hole yang akan dapat melahap planet Bumi. Tapi kekhawatiran ini sudah diredakan dengan penegasan bahwa kalaupun tercipta sebuah lubang hitam lewat LHC, lubang hitam yang akan tercipta sangat kecil dan tidak akan membahayakan Bumi sama sekali.











Di atas ini, diberikan tiga ilustrasi bentuk mesin LHC yang berupa cincin atau lingkaran terowongan pipa, yang dibangun di kedalaman 175 m di bawah tanah, di kawasan perbatasan negeri Swiss dan negeri Prancis, dekat Jenewa. 

Panjang cincin terowongan LHC 27 km, yang berisi magnit-magnit superkondukting, dengan sejumlah struktur akselelator untuk terus-menerus memperkuat energi partikel-partikel yang melesat di sepanjang cincin ini. 

Memang luar biasa. Klik gambar-gambarnya untuk memperbesar.




Bagian dalam terowongan cincin LHC




Magnit-magnit superkondukting LHC. Sumber gambar: SciTechDaily.




Anda mau tahu sedikit lebih jauh tentang bagian dalam terowongan cincin LHC? Jika ya, ikutilah Virtual Tour LHC

Nah, di halaman depan gedung CERN pada 18 Juni 2004 dipasang patung indah dewa Hindu Siwa yang sedang berdansa, atau biasa dikenal dengan nama Siwa Nataraja, artinya Siwa sang Raja Pedansa. Patung ini disumbangkan ke CERN oleh pemerintah India.

Dalam mitologi kuno India, Siwa Nataraja, atau sang dewa Siwa Pedansa, menyimbolkan dansa atau gerak-gerik alam semesta saat terjadi penciptaan dan kebinasaan kembali, yang dilanjutkan dengan penciptaan kembali, membentuk siklus abadi keberadaan dan ketiadaan jagat semesta.

Dengan dipasangnya Siwa Nataraja di CERN, patung ini menjadi sebuah representasi simbolik dansa atau tari-tarian partikel-partikel subatomik yang diamati dan dianalisis oleh para fisikawan CERN.

Paralelisme antara dansa Siwa dan dansa partikel-partikel subatomik didiskusikan pertama kali oleh Fritjof Capra dalam sebuah artikel yang berjudul “The Dance of Shiva: The Hindu View of Matter in the Light of Modern Physics”, yang terbit di Main Currents in Modern Thought edisi tahun 1972. 

Dansa Siwa kemudian menjadi sebuah metafora esensial dalam buku Capra yang berjudul The Tao of Physics, yang terbit tahun 1975. Lewat metafora Siwa Pedansa ini, Capra menggabung mitologi kuno India, seni patung keagamaan, dan fisika modern.




Siwa Nataraja 


Tentu saja siapapun bisa melihat ada usaha Capra untuk mencocok-cocokkan (cocokologi) mitologi kuno India Siwa Pedansa dan fisika partikel modern. 

Sudah jelas juga, mitologi Siwa Nataraja tidak memberi sumbangan keilmuan baru apapun dalam fisika partikel. Sudah jelas juga bahwa tanpa lahirnya fisika partikel dalam dunia modern, Siwa sang Raja Pedansa tidak akan pernah terpikirkan untuk dipakai sebagai sebuah metafora tari-tarian partikel-partikel. 

Dengan kata lain, yang terjadi adalah fisika partikel oleh Capra dibawa masuk ke dalam mitologi kuno India, dan bukan mitologi kuno ini yang melahirkan atau meramalkan fisika partikel. Tentu, hal ini disadari betul oleh Capra seperti tercermin dari frasa “in the light of modern physics” pada judul artikel tahun 1972 yang ditulisnya.

Tentang masalah-masalah serius yang muncul dalam cocokologi, saya sudah pernah membeberkannya. Cocokologi adalah suatu kegiatan superfisial, tidak substantif, dan akan terus melelahkan para pelakunya./1/

Bagaimanapun juga, patung Siwa Nataraja atau Siwa Raja Pedansa sudah ditafsir sebagai sebuah metafora dansa atau gerak-gerik partikel-partikel subatomik, yang dulu tentu saja belum teramati oleh para pujangga, para pemahat patung, dan ahli keagamaan India kuno. 

Tentu saja Capra kreatif ketika dia berimajinasi bahwa dansa sang Siwa paralel dengan tari-tarian partikel-partikel dalam dunia mekanika quantum. Kreativitasnya ini minimal telah membuat Siwa Nataraja dikenal para fisikawan dunia, meskipun tentu saja sang patung ini tidak memberi sumbangan ilmiah apapun bagi fisika modern. Selain itu, tentu saja Capra telah menambah satu lagi metafora ke dalam dunia ilmu pengetahuan.

Jangan sepelekan patung-patung, atau kesenian membangun patung-patung, sebab benda-benda mati ini, dan juga semua hasil kesenian lainnya, sanggup menghidupkan imajinasi yang dalam dan luas dalam otak manusia. Imajinasi tak bisa dilepaskan dari sains, bahkan kerap mendahului formulasi posisi keilmuan baru. Tentu saja, imajinasi yang dimaksud adalah imajinasi yang berdisiplin, tak sembarangan.

Pada pihak lain, ikonoklasme atau mentalitas antipatung atau anti kesenian memahat, tidak membantu bagian artistik dan estetik otak berkembang, malah membuat mesin otak berjalan seret, cepat panas. Kreativitas manusia berkembang bukan saja lewat matematika, tapi juga lewat berbagai aktivitas kesenian. 

Bahwa ikonoklasme pernah berlangsung keras dalam Kekristenan di era kekaisaran Byzantium dan di era Reformasi Protestan di Eropa, saya sudah menuliskannya./2/

Well, Friedrich Nietzsche berkata, “Tanpa musik, kehidupan menjadi suatu kesalahan, suatu kerjaberat, suatu pembuangan.”/3/

Pelukis dan pemahat patung terkenal Pablo Picasso menyatakan bahwa “seni mencuci bersih debu-debu kehidupan sehari-hari dari jiwa kita.”/4/ 

Tanpa kesenian, hidup kita menjadi seumpama sebuah taman bunga tetapi tak ada satu pun bunga yang tumbuh di situ, tak ada kupu-kupu yang berterbangan, tak ada suara merdu kicauan burung-burung, tak ada warna-warni.

Dus, bayangkanlah, dunia tanpa seni akan menjadi apa? Mungkin akan bisa menjadi sebuah padang gurun luas yang sangat gersang, atau daratan luas tanpa sungai dan mata air, atau jagat raya mahaluas yang kosong sia-sia. 

Tetapi saya sangat mengharapkan, seni muncul dari mana-mana, termasuk dari gurun-gurun yang gersang, bahkan dari lubang-lubang kepundan gunung-gunung tinggi berapi. Atau dari dalam jagat raya sendiri, yang sunyi sepi tetapi ramai dan meriah. Bahkan dari mulut dan tangan bayi-bayi.

Alam semesta sebetulnya adalah dentuman puisi bermusik yang dipancarkan lewat big bang, 13,8 milyar tahun lalu, yang selanjutnya dilantunkan lewat butir-butir atom yang bergetar dan menari-nari sebagai dawai-dawai. Juga lewat gerak-gerik mengembang makin cepat balon jagat raya.

Fisika, matematika dan kesenian tidak terpisahkan. Para ilmuwan adalah para penari, pemahat, penyair, penyanyi, meskipun tarian, pahatan, syair, puisi dan nyanyian mereka tidak biasa bagi banyak orang non-ilmuwan. 

Kesenian mereka berasal dari “kawasan yang lebih tinggi”, higher realms, mengeksplorasi jagat semesta, dari jagat mikro dunia partikel hingga ke jagat-jagat raya, setinggi-tingginya tanpa kubah, sedalam-dalamnya tanpa dasar, sejauh-jauhnya tanpa pantai. Lewat imajinasi dan ilmu pengetahuan, mereka menggubah puisi-puisi dan bentuk-bentuk kesenian lain.

Ya, sungguh betul, seperti bunyi sebuah teks dalam kitab suci Ibrani, keindahan jagat raya ini atau langit “menceritakan kemuliaan Tuhan”. Ya, Tuhan menyukai seni, dan menciptakannya.


Catatan-catatan

/1/ Ada tujuh masalah cocokologi yang saya telah uraikan dalam tulisan saya "Memperlakukan Agama-agama di Era Sains Modern"

/2/ Lihat uraian sejarahnya oleh Ioanes Rakhmat, "Ikonoklasme dalam Kekristenan masa lalu".

/3/ Friedrich Nietszsche, Twilight of the Idols, Or, How to Philosophize With the Hammer (first publication 1889; Indianapolis, Indiana: Hackett Publishing Company, 1997), hlm. vii (“Letter to Koselitz, 1/15/88”).  

/4/ Pablo Picasso dianggap sebagai pencipta ucapan tersebut pertama kali oleh kritikus sastra Aline Saarinen pada acara tinjauan program jejaring TV NBC, 21 Januari 1964, yang diberi nama The Art of Collecting.

Namun, ucapan terkenal tersebut sebenarnya berasal dari Berthold Auerbach dalam novel Jermannya yang berjudul Auf der Höhe: Roman in acht Buchern von Berthold Auerbach, Vol. 2, (Stuttgart, Germany: Cotta'schen Buchhandlung, 1864, 1866), hlm. 70. Tautannya ini https://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=hvd.hwdrn7&view=1up&seq=6.

Dalam buku berbahasa Jerman itu, Auerbach menulis 
...die Musik wäscht ihnen den Alltagsstaub von der Seele...

Dalam bahasa Inggris, Fanny Elizabeth Bunnett menerjemahkannya 
Music washes away from the soul, the dust of everyday life (1867). Terjemahan 1883, Music washes away from the soul the dust of everyday life.
 (dalam The Speaker's Garland and Literary Bouquet).

Jadi, aslinya ucapan Auerbach tersebut berbunyi 
Musik mencuci bersih debu-debu kehidupan sehari-hari dari jiwa kita. Untuk memperluas, ya musik boleh diganti seni, no problem.

Lihat riset singkat literatur tentang sumber ucapan tersebut oleh Quote Investigator,
Music Washes Away from the Soul the dust of Everyday Life”, 17 February 2016, https://quoteinvestigator.com/2016/02/17/soul. 



Friday, January 16, 2015

Pembelaan cerdas terhadap Nabi Muhammad...


Make peace! Do not make war!

HARIS EL MAHDI, sosiolog dari Universitas Brawijaya, menulis dengan terang tentang keagungan Nabi Muhammad, di tengah kegarangan radikalisme Islam masa kini. Tulisannya ini (terbit, Selasa, 13 Januari 2015) sangat menyentuh hati saya. Meskipun saya sama sekali tidak kenal pribadi Mr. Haris, dan tulisannya (persisnya, link ke tulisan ini) juga kebetulan saja saya lihat tercantum dalam sebuah ruang komentar seseorang di Facebook saya, saya bersyukur bisa membaca tulisannya ini. Terus terang, saya tergugah.

Mr. Haris jelas salah seorang Muslim Indonesia yang cerdas dan mampu berpikir jernih dan memandang dunia dengan jeli dan objektif. Di tangannya dan di tangan kawan-kawannya yang satu visi, Islam masih bisa punya harapan untuk bertahan sebagai agama yang agung di masa depan dunia. Kekerasan sistematik dalam agama apapun menyumbang negatif pada ketahanan agama ini di masa depan. Semakin maju sebuah peradaban, kekerasan makin berkurang― fakta ini, berkaitan dengan peradaban manusia, telah diperlihatkan dengan terang oleh Steven Pinker dalam bukunya The Better Angels of Our Nature: Why Violence Has Declined (2012). Dari sains evolusi, kita juga tahu, organisme apapun (bersama komunitasnya) yang tidak bisa adaptif terhadap ekologi mereka yang terus berubah, akan kalah, binasa dan lenyap; sedangkan organisme yang bisa adaptif atau yang paling mampu beradaptasi, akan bertahan langgeng atau bertahan jauh lebih lama, untuk siap masuk ke tahap-tahap evolusi selanjutnya. Hukum evolusi ini berlaku juga bagi agama apapun sebagai “social body”. Sejarah juga sudah dengan terang memperlihatkan bahwa tahan atau tidaknya suatu agama untuk tetap ada dalam dunia, tidak ditentukan oleh langit, tetapi oleh manajemen yang dilakukan umat terhadap agama mereka sendiri. Manajemen diri yang buruk membuat organisme dan lembaga atau pranata apapun akhirnya binasa dan punah. 

Dalam dua alinea terakhir tulisannya itu, Mr. Haris menyatakan sesuatu yang sangat mengusik hati dan pikiran, demikian (kedua alinea saya gabung):
Muhammad saja, nabi yang menjadi panutan umat Islam, tidak pernah marah meski ia dicaci, dilempari batu, diludahi, dan bahkan dilempari tahi. Andai saja Muhammad hari ini masih hidup niscaya tidak ada secuilpun kemarahan yang akan ia tumpahkan untuk Koran Charlie Hebdo. Terlalu mulia laki-laki arab ini melakukan hal itu. Lantas pertanyaannya, nabi mana yang diteladani oleh Kouachi bersaudara itu..? Kepada siapa dua orang itu mengucap sholawt saat duduk tahiyyat dalam sholat..?? Betapa dungunya Kouachi bersaudara itu, yang menjauh dari nilai-nilai etik yang diajarkan Muhammad. Bibir mereka memuja-muji Muhammad, tetapi perilaku mereka justru menjauh dari apa yang diteladankan oleh Muhammad. Sebab utama umat Islam hari ini terbelakang begitu rupa karena mereka tidak lagi meneladani akhlak Muhammad, menjadi muslim yang rajin membaca al-quran tetapi dungu, tidak mau meneladani Muhammad. Bahasa kasarnya “muslim goblok…!”
Tulisan Mr. Haris tersebut, yang berjudul Charlie Hebdo dan Kedunguan Muslim, SIPerubahan, 13 Januari 2015, terpasang di http://www.siperubahan.com/read/1891/Charlie-Hebdo-dan-Kedunguan-Muslim. Anda wajib membaca selengkapnya.

Artikel bernas Haris El Mahdi tersebut memiliki semangat yang serupa dengan artikel Ro Waseem, “Why Prophet Mohammad Would Be Deep Troubled By The Charlie Hebdo Attacks”, Patheos: A Reformation of Muslim Thought, 8 January 2015, pada http://www.patheos.com/blogs/quranalyzeit/2015/01/08/why-prophet-mohammad-would-be-deeply-troubled-by-the-charlie-hebdo-attacks/. Pada bagian akhir tulisannya, Waseem menyatakan bahwa seandainya Nabi Muhammad muncul kembali di antara kita sekarang ini, maka dia akan dipersekusi juga oleh para radikal Muslim! Terus terang, ada rasa sedih yang dalam muncul di hati saya saat membaca alinea terakhir tulisan Waseem ini.

Jika anda sudah habis membaca kedua artikel yang saya rujuk di atas, mungkin sekali anda akan berubah menjadi Muslim yang lain, yang berbeda dari sebelumnya. Beranilah berubah. Perubahan adalah tanda kita masih hidup.

Berubahlah, menjadi Muslim yang cinta damai dan anti-kekerasan. Berubahlah, supaya agama Islam kembali menemukan jatidirinya yang sejati, sebagai agama cinta, sebagai agama rakhmat bagi seluruh alam, sebagai agama yang menolak kekerasan dalam bentuk apapun, sebagai agama yang menyembah Tuhan yang Al-Rahman dan Al-Rahim.

Sebagai Muslim, anda carilah teks-teks inspiratif dari Alquran yang mendorong kuat diri anda untuk berperang di Indonesia, yakni berperang melawan kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, kejahatan, sakit-penyakit, keserakahan, kelaparan, korupsi yang menjalar seperti kanker, kerusakan lingkungan hidup, radikalisme keagamaan, lewat program-program pembangunan bangsa seutuhnya, jangka panjang dan jangka pendek. Jadikan agama anda sebagai agama pembangunan bangsa supaya kita semua, bersama-sama, menjadi bangsa yang besar dan disegani di dunia internasional karena prestasi-prestasi cemerlang kita di berbagai bidang kehidupan, khususnya bidang-bidang ekonomi, kebudayaan dan sains-tek.   

MAKE PEACE!
DON’T MAKE WAR!

Jakarta, 16 Januari 2015
ioanes rakhmat

Thursday, January 15, 2015

Islamofilia versus Islamofobia


Memancarkan terang....



Dear Dade Sobarna,


Saya punya agama, namanya agama Kebaikan Hati. Dengan menghayati agama saya ini, saya tertantang terus-menerus untuk selalu berbuat baik hati, tidak boleh membenci, tidak boleh memaki, tidak boleh menghina, dan, apalagi, tidak boleh kejam kepada sesama makhluk, manusia, tetumbuhan dan hewan-hewan. 

Bahkan orang yang memusuhi dan membenci saya pun sebisa mungkin harus saya balas dengan cinta kasih, dengan empati, bukan dengan permusuhan dan kebencian lagi. 

Agama saya ini sangat sulit dijalani, tetapi saya percaya agama saya ini agama yang benar. Penjahatpun akan tunduk kepada kita, jika kita perlihatkan kebaikan hati kepadanya.

Sebelum saya masuk ke persoalan utama tulisan saya ini, baiklah, Dear Dade, saya perkenalkan dulu ke anda agama saya, agama Kebaikan Hati, yang sudah saya beberkan dalam wujud sebuah puisi yang saya beri judul Inilah Agamaku . Berikut ini. Hayatilah sepenuh hati.

Agamaku sungguh sangat sederhana
Tidak rumit, tidak ribet, namun sakti
Namanya pun sangat melapangkan dada:
Agama kebaikan hati

Tanpa doktrin, akidah atau dogma
Tidak ada hierarki dari kepala hingga kaki
Hati nurani jadi pemandu utama
Ilmu pengetahuan menerangi setiap hati

Rumah ibadahku dunia luas terbentang
Tanpa atap, dinding dan tiang-tiang
Ke dalamnya siapapun boleh bertandang
Bahkan boleh tinggal sampai ajal datang

Kitab suciku langit malam luas terbentang
Penuh bintang bercahaya gilang-gemilang
Dikagumi dan dibaca semua insan rupawan
Penuh misteri yang membuat hati tertawan

Ritualku membaca dan menulis buku-buku
Untuk mencerahkan dunia dengan ilmu pengetahuan
Manusia menjadi cerdas dan tinggi berilmu
Serangga, rumput dan burung pun ikut tercerahkan

Syahadatku, “Aku cinta umat manusia dan kehidupan.”
Sederhana, pendek, tidak ribet dan tidak rumit
Namun sangatlah sulit kalau mau dilaksanakan
Tak cukup diikrarkan lewat mulut komat-kamit

Tuhanku sang Cinta Kasih Tanpa Batas
Bukan sebuah nama yang indah-indah dirancang
Atau yang diperebutkan insan-insan terbatas
Tapi sebuah kata kerja yang memacu kerja cemerlang

Nabiku diriku sendiri untuk diriku sendiri
Berdiam tenang dan agung dalam sanubari
Dia perintahkanku, “Kenalilah dirimu sendiri!”
Mengenal diri tanda keagungan diri sendiri

Doaku seluruh gerak kehidupanku hingga mati
Tidak diucapkan keras-keras ke angkasa raya
Tapi dilakoni diam-diam setiap hari dalam sunyi
Menghidupkan diriku sendiri dan seluruh semesta

Nyanyian rohaniku “Imagine” karya John Lennon
Tidak dilantunkan riuh dengan musik bergempita
Tapi ampuh menggerakkan hadirin dan penonton
Untuk menjadikan kedamaian isi jagat semesta

Komunitas keimananku umat manusia sejagat
Tanpa segregasi, alienasi, separasi dan diskriminasi
Hidup bersaudara dan saling mengasihi kuat-kuat
Tidak ada ideologi yang memecah dan menguasai

Ikrarku: mengabdi demi kebaikan dan kasih sayang
Demi kemanusiaan dan persaudaraan
Demi kesehatan dan umur panjang
Demi kecerdasan dan ilmu pengetahuan

Tulis di kolom agama KTP-mu
Agama: Kebaikan Hati
Tak ada yang bisa menolak kebaikan hatimu
Penjahat pun tunduk pada kebaikan hati

Marilah bersamaku bersatu ramai-ramai
Mengubah diri sendiri dan dunia luas tanpa tepi
Lewat agamaku yang sederhana namun membuai:
Agama kebaikan hati

Mari kita lanjutkan. Di banyak media sosial, di banyak kesempatan dan tempat, saya menemukan sangat banyak orang, dari berbagai agama, makin benci pada Islam. Ini fakta yang jauh lebih keras dan lebih mengerikan dibandingkan terorisme yang di mana-mana dilakukan dengan keliru atas nama Islam. Masa depan Islam sangat ditentukan oleh seberapa dalam tingkat kebencian dunia terhadap Islam. 

Saya risau memikirkan fakta itu. Akankah Islam nanti lenyap dari panggung dunia? Saya sangat berharap, tidak. Islam adalah sebuah agama besar yang, hemat saya, harus juga menjadi salah satu kekayaan kultural dunia! Kita bersama harus berjuang untuk membuat Islam tetap jaya sebagai salah satu kekayaan kultural dunia.

Jika dunia tetap membenci Islam, mungkin nanti Islam masih bisa bertahan, tetapi hanya segelintir, itupun bertahan di pinggiran-pinggiran dunia modern, disfungsional, irelevan dan tanpa peran. Sains evolusi membuat kita paham, organisme apapun yang tidak bisa adaptif dengan ekologi mereka yang terus berubah, akan menjadi organisme yang kalah, binasa dan punah. Sebaliknya, jika suatu organisme mampu beradaptasi, organisme inilah yang akan bertahan hidup, menang dan menjadi berlipat ganda, untuk siap memasuki tahap-tahap evolusi selanjutnya. 

Fakta sejarah sudah berbicara, bahwa bertahan atau tidaknya sebuah agama dalam pentas dunia tidak ditentukan oleh langit, tetapi oleh manajemen terhadap agama itu di Bumi oleh umat yang menganutnya. 

Manajemen diri yang buruk menghancurkan semua organisme, dan juga perusahaan-perusahaan besar sekalipun, termasuk agama sebagai tubuh sosial. 

Bagaimanapun juga, kita bersama harus berjuang supaya Islam tetap bertahan dan jaya sepanjang zaman sebagai sebuah agama yang agung.

Orang ateis di berbagai media sosial bahkan sudah sangat kuat dirasuk Islamofobia, kebencian kuat pada segala sesuatu yang terkait dengan Islam. Kata-kata mereka, tutur sapa mereka, tulisan-tulisan mereka, sarat dengan kebencian pada dunia Islam. 

Di suatu group Facebook, ada sebuah permintaan dari admin group Facebook itu untuk setiap anggota menulis hanya dua kata tentang Islam. Banyak sekali yang sudah menjawab. Mengerikan. Anda tentu sudah bisa duga, semua dua kata itu cacian keras kepada dunia Islam. Saya kebetulan membaca permintaan si admin itu. Saya merasa, saya harus ikut juga isi di kolom komentar dua kata yang diminta. Anda tahu, apa yang saya telah tulis dalam dua kata? Saya tulis pendek saja: Gus Dur.

Saya percaya, selain para radikal Muslim yang jumlahnya banyak, dunia Muslim masih memiliki juga sosok-sosok besar seperti Gus Dur, dan kini juga KH Ahmad Mustofa Bisri yang lebih dikenal sebagai Gus Mus

Sudah lama saya memutuskan untuk tidak mengikuti orang ateis dan semua pembenci Islam lainnya. Sebagai ganti Islamofobia, saya mencoba mengintrodusir lawan katanya, Islamofileorang yang mencintai Islam, sahabat Islam. 

Dus, saya sedang membuat sebuah “cultural war” baru, Islamofilia melawan Islamofobia; tentu perlawanannya memakai cara-cara yang cerdas, agung, bermartabat dan terhormat. Sudah banyak kali saya melibatkan diri dalam debat cerdas dan santun dengan banyak pengikut Richard Dawkins. Mereka rata-rata Islamofobia; dan saya tandingi dengan Islamofilia, apapun risikonya (misalnya saya pernah dicap pengecut, dikata-katai bullshit, dan sebagainya).

Itulah yang saya sedang coba lakukan, membangun rasa cinta kepada Islam, meskipun Islam sekarang ini, very sadly, nyaris identik sepenuhnya dengan kekerasan. Mengapa saya mau bersikap lain, tidak Islamofobik, tetapi Islamofilik.

Terus-terang, saya sedang melanjutkan semangat Yesus dari Nazareth, meskipun sudah lama saya, very sadly, mengambil jarak dari komunitas gereja. 

Yesus orang Nazareth pastilah akan membuat orang anti-kekerasan. Yesus dari Nazareth bukan sosok pembela kekerasan; malah dia telah menjadi korban kekerasan imperium Romawi yang mendikte para pemuka negeri Israel yang sedang mereka jajah. 

Penyaliban Yesus, adalah fakta yang mengharuskan setiap pengikut Yesus dari Nazareth menolak dan melawan kekerasan, lewat cara-cara non-kekerasan. Tidak heran, jika Mahatma Gandhi, menerima sebagian ilhamnya dari Yesus dari Nazareth. 

Sebagai seorang pendeta gereja yang memperjuangkan kesamaan hak bagi orang kulit hitam Amerika, Martin Luther King Jr. menegaskan bahwa non-kekerasan berarti bukan hanya menghindari kekerasan lahiriah, tapi juga kekerasan batiniah. Anda bukan saja menolak untuk menembak seseorang, tetapi juga menolak untuk membencinya.

Kata Yesus, jika dari antara 100 ekor dombamu, satu ekor tersesat, jatuh ke dalam jurang, berdarah, hampir binasa, apa yang akan kamu lakukan? Semua orang Kristen sudah tahu jawabannya: si gembala domba itu meninggalkan 99 ekor domba yang sehat, aman, terjaga, untuk berlelah-lelah mencari satu ekor domba yang tersesat dan terjatuh ke dalam jurang itu. Si gembala turun dan naik jurang, lembah dan semua tempat berbahaya, dalam rangka mencari dan menemukan satu ekor domba yang hilang itu, sampai akhirnya sang gembala itu menemukan lagi satu ekor yang terhilang dan terluka itu. 

Si gembala tidak pakai hitung-hitungan bisnis, tetapi memakai bela rasa, compassion, yang menyebabkannya mau ambil risiko kehilangan 99 ekor dombanya yang sehat hanya demi mencari satu ekor yang telah hilang.

Nah, taruh kata, Islam sekarang ibarat sang domba yang terhilang itu, saya tidak boleh ikut membencinya; saya tidak boleh ikut meninggalkannya. Meninggalkan Islam, berarti saya meninggalkan sangat banyak teman saya yang Muslim, meninggalkan negeri saya sendiri, Indonesia, yang penduduknya 85 % Muslim. 

Jadi, bersama teman-teman Muslim saya lainnya saya harus mau mencari dan menemukan Islam kembali, menemukan kembali Islam sebagai agama rakhmat bagi seluruh alam. Memancarkan terang bintang-bintang bagi jagat raya. Saya merasa, ini tugas titipan dari Yang Mahatinggi, Tuhan yang Al-Rahman dan Al-Rahim. Mungkin anda akan berubah pikiran, mau bergabung dengan saya.

Mari kita gencarkan gerakan Islamofilia, gerakan mencintai Islam, gerakan menjadi sahabat Islam, ke dalam dan ke luar. 

Ke dalam, berarti mengupayakan sungguh-sungguh berbagai perubahan penting dan mendasar dalam dunia Muslim internal sendiri. Ke luar, berarti memperlihatkan dan membuktikan bahwa Islam betul-betul agama rakhmat bagi seluruh alam. 

Rakhmat ilahi adalah kasih sayang ilahi, kemurahan ilahi, cinta ilahi, kebaikan ilahi, kelembutan ilahi. Jadikan rakhmat ini fakta, SEKARANG! 

Keluar, juga berarti kita dengan rendah hati, jujur dan bermartabat perlu memperlihatkan ada sangat banyak hal yang agung dalam dunia Islam, kepada para Islamofobik.


Jakarta, 15 Januari 2015
by ioanes rakhmat



Tuesday, January 13, 2015

Orang Buta dan Seekor Gajah Besar


Apa yang terjadi, jika seorang buta diminta menjelaskan sosok seekor gajah yang besar? Wah, hasilnya akan rame! Yang satu akan bilang, oh gajah itu hanyalah seutas tambang. Yang satunya lagi akan berkata, oh gajah itu hanyalah tembok. Yang lainnya dengan yakin berkata, oh gajah itu rupanya semeter selang besar. Si buta yang memegang hanya kuping gajah akan ngotot menyatakan, oh gajah itu seperti tampah rupanya.

Sang gajahnya sendiri terheran-heran, bingung dan bengong! Pusing tujuh keliling. Hanya bisa mengernyitkan keningnya dalam-dalam.

Begitulah, metafora orang buta dan seekor gajah besar menggambarkan kepada kita bahwaTuhan itu mahabesar dan mahatakterbatas. Pengenalan manusia lewat agama hanyalah pengenalan tentang Tuhan secara parsial, sangat jauh dari lengkap. Tetapi celakanya, nyaris semua orang beragama mengklaim bahwa agama mereka masing-masing adalah keseluruhan diri sang Tuhan sendiri. Hanya orang yang matanya buta dan pikirannya dangkal akan ngotot menyatakan bahwa ekor gajah atau belalai gajah atau telinga gajah adalah gajah itu sendiri.

Akibatnya sudah banyak kita saksikan. Tuhan yang satu berkelahi dengan Tuhan yang lain, dan umat yang satu berselisih dengan umat yang lain. Dan Tuhan yang sejati hanya bisa mencucurkan air mata, menangis dalam kesedihan yang dalam, bak seorang bunda yang menangis saat melihat putra dan putrinya berkelahi dan menyerang satu sama lain. Siapakah yang mau menyeka air mata Tuhan, sang Bunda kita? Siapakah yang mau menghibur hati sang Bunda, yang sedang berduka sangat dalam?

Saya terdorong untuk mengungkapkan Tuhan dalam bahasa perempuan, sebagai sosok sang Ibu yang hatinya selalu iba, tidak bisa marah dan tidak bisa bertindak keras. Kalau sudah tidak bisa berbuat hal lain secara fisikal di dunia objektif, seorang ibu biasanya akan menangis pilu dalam dunia subjektifnya, dalam batinnya yang paling dalam. Tangisan putra, kata orang, derita bunda. Sebaliknya juga benar: tangisan bunda, derita putra dan putrinya.

Kata banyak orang, sosok bunda menyimpan jauh lebih banyak misteri ketimbang sosok ayah. Bahkan fisikawan besar Stephen Hawking melihat misteri terbesar dalam jagat raya ini bukan misteri-misteri fisika, tetapi misteri kaum perempuan, the mystery of women. Begitulah, Tuhan sebagai sosok sang Bunda menyimpan jauh lebih banyak misteri ketimbang kalau sang Tuhan yang sama diungkap secara metaforis dalam bahasa lelaki. Misteri Tuhan sebagai sang Bunda tak terbatas, terungkap hanya sedikit demi sedikit, dan untuk bisa terungkap sepenuhnya, hanya keabadian yang memungkinkannya. Berapa panjang waktu yang dinamakan keabadian itu? Bisakah anda menjawabnya? Bayangkanlah, seluruh gunung di pegunungan Himalaya sedang dipindahkan oleh seekor burung pipit lewat patuknya yang mungil ke suatu tempat lain. Secuil demi secuil tanah dipatuknya, lalu dibawa terbang ke sebuah tempat lain yang sangat luas untuk dipindahkan. Berapa lama waktu yang diperlukan sang burung pipit ini untuk berhasil memindahkan seluruh pegunungan Himalaya itu? Keabadian jauh melebihi waktu yang diperlukan si burung pipit ini.

Karena misteri Tuhan sang Bunda itu tak terbatas, maka selama kehidupan kita, kita hanya mampu menangkapnya secara parsial, sedikit demi sedikit saja, itupun kita lakukan secara perspektival, artinya hanya dari sudut pandang terbatas yang kita pilih. Selamanya, kita tidak bisa melihat realitas sepenuh-penuhnya, tetapi hanya bisa secara perspektival. Bulan purnama yang menggantung di langit, tidak bisa kita lihat sepenuh-penuhnya sebagai sebuah bola padat bersinar. Kita hanya bisa melihat sang bulan ini hanya separuh, yaitu sisinya yang tampak dari Bumi. Separuhnya lagi tidak pernah akan bisa kita lihat dari planet kita, kecuali kita menumpang sebuah wantariksa untuk membawa kita ke sisi di balik sisi bulan yang kita selama ini lihat. Memandang bulan yang objektif kelihatan saja kita harus perspektival, apalagi jika kita memandang dan mencoba memahami sang Bunda ilahi yang besarnya tidak terbatas. Ibaratnya, kita ini sebutir debu yang mau melihat keseluruhan jagat raya tanpa batas.

Karena manusia selalu perspektival, maka pemahaman manusia tentang sang Tuhan yang sudah diungkap oleh agama-agama juga selalu perspektival. Kita tidak akan bisa melihat keseluruhan diri Tuhan seketika. Terlalu dahsyat dan terlalu luas sang Tuhan sebagai sang Bunda, sehingga mustahil sang Bunda habis terpahami manusia. Tuhan yang sudah habis dipahami manusia, kehilangan sifat ketuhanannya. Kata Abdurrahman Wahid, “Sia-sialah upaya menjaring Tuhan hanya ke dalam sebuah pengertian saja. Dia lebih besar dari apapun rumusan manusia tentang hakikat-Nya yang Mahasempurna.”

Agama-agama, dengan demikian, sudah kodratnya harus perspektival. Karena itu, tidak ada jalan lain, selain semua umat beragama saling mengenal satu sama, saling memahami satu sama lain, bersedia untuk berdialog dan berdiskusi, supaya oleh kita bersama-sama kebenaran-kebenaran Tuhan terungkap makin luas dan makin dalam, makin multidimensional, dalam makin banyak perspektif, makin penuh. Bahkan kalaupun seluruh agama bisa disatukan tanpa sisa, sang Tuhan sebagai sang Bunda kita selalu jauh lebih besar dari semua pemahaman dalam semua agama tentang Tuhan. Agama apapun sudah kodratnya tidak bisa sombong, seperti Tuhan sang Bunda tidak pernah bisa sombong.

Karena sang Bunda ilahi kita tidak bisa kita pahami habis, karena sang Tuhan selalu mahatakterbatas, selalu mahatahu, maka adalah tugas kita untuk terus-menerus belajar dan menimba serta mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa batas. Belajar, menimba ilmu, dan memajukan ilmu pengetahuan tanpa batas, adalah usaha-usaha yang sejalan dengan usaha kita semua untuk mengenal sang Bunda dengan lebih luas dan lebih dalam lagi setiap hari. Semakin Tuhan itu dipercaya mahatahu, maka semakin harus kita bertambah cerdas dan bertambah ilmu setiap hari. Mengenal Tuhan sang Bunda, pasti mendorong kita untuk terus mau belajar dan mau berubah. Pada sisi lain, tidak ada bunda manapun yang menginginkan anak-anaknya bodoh dan berilmu dangkal. Setiap bunda, ingin putra dan putrinya cerdas, berilmu tinggi, dan terus mengalami perubahan menuju kematangan dan kedewasaan. Perubahan adalah tanda kita masih hidup dan masih sedang belajar. 

Periksalah diri anda, apakah anda masih berubah, ataukah sudah tidak pernah berubah lagi. Banyak orang yang masih hidup secara ragawi, tetapi pikiran dan kesadaran mereka telah mati. Saya berharap, anda tidak seperti mereka. Berubahlah menjadi makin dewasa dan matang.



Jakarta, 13 Januari 2015
by ioanes rakhmat

Monday, January 12, 2015

The Deity That Weeps


Look! Our Great Mother is weeping now!
Let us console the heart of our Great Mother!
Let us together wipe Her tears now!
Let us make Her cry no longer!
 


Know that She cannot be angry!
She cannot be rude!
She cannot be impure!
She cannot be nasty!


She cannot hate!
She cannot intimidate!
She cannot terrorize!
She cannot annihilate!


She cannot wage war!
She cannot slaughter!
She cannot shoot!
She cannot loot!


She cannot draw a sword!
She cannot make anybody scared!
She cannot seize anybody’s land!
She cannot make anybody enslaved! 


She cannot send anybody to hell!
She cannot be cruel!
She cannot be brutal!
She cannot kill!


She can only weep!
Weep, weep, weep!
Deep, deep, deep within!
For Her beloved children!


She is gracious, merciful and kind
She can only cry for the world
The cry that heals the wound
The cry that saves the world


The Great Mother let Her be!
Of the Earth, the sky and all the stars
Of all humans, plants and animals
Of the past, the present and the future


Look! Our Great Mother is weeping now!
Let us console the heart of our Great Mother!
Let us together wipe Her tears now!
Let us make Her cry no longer!



Jakarta, 12 January 2015
by ioanes Rakhmat


N.B.: This poem is sincerely dedicated to all victims of terror attacks in our broken world today. What I had in mind when I composed this poem is not Mary the mother of Jesus. I gave the name The Great Mother for the deity because I wanted to express a woman god, not a man god, hoping that a woman god could express the meekness side of a god. A woman god who is meek is, i feel it, more heart-touching than a man god in the reality of violence in our world today. Good and touching metaphors can heal the world.