Friday, January 9, 2009

Tiga Model Otoritas dan Relasi Sosial

Tiga Model Otoritas dan Relasi Sosial
dalam Gereja Perdana

Oleh Ioanes Rakhmat


Tulisan in
i tidak berisi kupasan teks Perjanjian Baru yang dapat memberikan gambaran-gambaran tentang pola dan fungsi jabatan gerejawi di dalam kehidupan gereja perdana. Yang akan disajikan dalam tulisan ini adalah model-model sosiologis tentang otoritas dan relasi sosial yang telah banyak dipakai dalam usaha-usaha untuk memahami relasi sosial dan kepemimpinan dalam kehidupan gereja perdana, zaman Perjanjian Baru.

memimpin... dan mengekor

Dengan mengenali model-model, kita dapat membayangkan bagaimana realitas yang sesungguhnya, yang sebetulnya jauh lebih kompleks, dapat berlangsung. Pada kesempatan ini, akan diketengahkan tiga model: model otoritas karismatik; model kepemimpinan pengelana, dan model relasi “patron-klien”. Uraian panjang lebar tentang pemakaian model-model ini bagi gereja perdana dapat dilihat dalam buku-buku yang dirujuk dalam tulisan ini.


Model Otoritas Karismatik


Dalam tipologinya tentang otoritas, Max Weber membagi otoritas dalam 3 jenis klasifikasi analitis:
1) Otoritas rasional-legal yang dilegitimasi oleh “suatu kepercayaan pada legalitas peraturan-peraturan yang diundangkan dan pada hak orang-orang yang diberi otoritas memimpin di bawah peraturan-peraturan tersebut untuk mengeluarkan perintah-perintah”;
2) Otoritas tradisional dengan legitimasinya diperoleh dari “suatu kepercayaan mapan pada kesucian tradisi-tradisi yang sudah sangat lama ada dan pada legitimasi dari orang-orang yang mempraktekkan otoritas kepemimpinan yang dilandaskan pada tradisi-tradisi itu”;
3) Otoritas karismatik dengan legitimasinya terletak pada “ketaatan dan kesetiaan terhadap seorang individu yang dipandang memiliki karakter yang patut diteladani, heroik dan memiliki kesucian luar biasa, yang juga terdapat pada pola-pola atau tatanan normatif yang disingkapkan atau ditahbiskan olehnya.”[1] Menurut Weber, karisma dan otoritas karismatik menunjuk pada “suatu sifat tertentu dari seorang individu pribadi, yang karena sifatnya ini dia dipandang luar biasa dan diperlakukan sebagai seorang yang dikarunia kemampuan-kemampuan adikodrati dan adi-insani, atau setidaknya dikaruniai kuasa atau sifat yang khas dan luar biasa. Kuasa dan sifat ini sangat luar biasa sehingga tidak dapat diperoleh orang biasa, tetapi dipandang sebagai teladan yang berasal dari Yang Ilahi, dan berdasarkan kuasa dan sifat ini pribadi yang bersangkutan diperlakukan sebagai seorang ‘pemimpin’”.[2]

Untuk memahami dengan lebih jelas bagaimana otoritas kepemimpinan dipraktikkan dalam kehidupan kekristenan perdana, jenis ketiga dari tipologi Weber di atas, yakni otoritas karismatik, perlu dijadikan sebuah model analitis. Bengt Holmberg telah membuat sebuah model analitis kepemimpinan karismatik dalam konteks keagamaan, berdasarkan pandangan Weber, dan menerapkannya pada kehidupan Yesus dan gereja perdana.[3] Menurut Holmberg, otoritas karismatik murni dicirikan oleh hal-hal berikut:

a) Pribadi dan pandangan hidup sang pemimpin
Sang pemimpin dipandang oleh dirinya sendiri dan oleh orang-orang yang dipimpinnya dalam komunitas yang dibangunnya sebagai seorang yang: (1) memiliki suatu panggilan pribadi langsung dari Allah sendiri; (2) memiliki kuasa-kuasa magis atau kuasa-kuasa adi-insani, dan menjadi (3) “Juru selamat” pribadi bagi komunitas yang dibangunnya; dan dia (4) menjalani suatu kehidupan yang “luar biasa”, bekerja tanpa bayaran dan tanpa organisasi, tidak memiliki kehidupan keluarga, tidak mempunyai harta milik, dan menganut pandangan-pandangan yang tidak sejalan dengan kepercayaan dan adat-istiadat tradisional.

b) Misi sang pemimpin
Misi yang diterima sang pemimpin dari Allah bersifat radikal, destruktif (terhadap tatanan lama) dan inovatif; dia memberitakan sebuah amanat baru mengenai keselamatan, menyerang tatanan lama (“kamu telah mendengar …, tetapi aku berkata kepadamu ….”), dan merumuskan peraturan-peraturan untuk suatu kehidupan baru. Pada dasarnya, misinya bertujuan untuk membangun kembali seluruh tatanan sosial secara baru.

c) Hubungan sang pemimpin dengan para pengikutnya
Para pengikutnya memandang dia sebagai seorang “hero” atau seorang yang memiliki kuasa-kuasa adi-insani, dan mengambil bagian di dalam realitas ilahi melalui penglihatan-penglihatannya yang superior, kekuatan dan kebaikannya. Hubungan mereka dengannya ditandai oleh kesetiaan, ketaatan, pengabdian, keterpesonaan dan kepercayaan mutlak; dan mereka memprioritaskan ucapan-ucapannya dibandingkan ucapan-ucapan orang-orang lain. Ketaatan dan dukungan adalah manifestasi alamiah dari sikap mereka terhadap sang pemimpin.

d) Perilaku komunitas karismatik

(1) Semua anggota komunitas memercayai, menaati dan mendukung sang pemimpin (seperti dinyatakan di atas);

(2) Semua anggota komunitas telah mengalami suatu revolusi batiniah dan telah dipindahkan dari kehidupan biasa masuk ke dalam “kehidupan baru”, yang diwujudkan dalam banyak cara yang kongkret;

(3) Semuanya sama-sama memiliki kesadaran sebagai komunitas elitis, kudus dan terpilih, yang telah memiliki “keselamatan” dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.

e) Diferensiasi di dalam komunitas karismatik

(1) Kelompok luar, terdiri dari para pengikut yang tetap melanjutkan cara hidup mereka yang biasa (bekerja, berkeluarga, memiliki harta benda, memelihara kehidupan tradisional lokal);

(2) Kelompok dalam, yakni para “staf”, yaitu mereka yang ambil-bagian di dalam kehidupan “luar biasa” dari sang pemimpin: (a) Mereka secara pribadi telah dipanggil oleh sang pemimpin untuk menjadi murid-murid dan rekan-rekan sekerjanya berdasarkan kualifikasi-kualifikasi karismatik mereka; (b) Mereka telah meninggalkan keluarga, pekerjaan, harta milik, dan tradisi, untuk hidup di dalam suatu hubungan komunistik dengan sang pemimpin; (c) Mereka mendapatkan tugas-tugas langsung dari sang pemimpin; tidak ada seorang pun dari antara mereka memiliki otoritas, peringkat dan wilayah kompetensi apapun kepunyaan mereka sendiri terlepas dari sang pemimpin; (d) Sebagai suatu konsekwensi dari (a) sampai (c), staf memiliki suatu kesadaran yang lebih diperkuat sebagai suatu kelompok elitis: mereka adalah elit dari elit, di dalam semua segi yang terhubung sangat erat dengan sang pemimpin.[4]

Dalam perkembangan selanjutnya, khususnya ketika sang pemimpin telah meninggal dunia, komunitas karismatik, dengan karisma-karisma yang dilekatkan pada sang pemimpin dan staf-nya, mengalami apa yang oleh Weber disebut “the routinization of charisma” (Veralltäglichung des Charismas). “Rutinisasi karisma” ini dialami kelompok di sekitar Yesus ketika kelompok ini, setelah ditinggal mati oleh Yesus, berkembang menjadi sebuah lembaga gereja yang dilengkapi dengan sebuah korpus doktrin yang disistematisasi, kultus dan organisasi.[5] Menurut Weber, rutinisasi karisma ini timbul dari “keinginan untuk mentransformasi karisma dan berkat-berkat karismatik dari suatu karunia yang diberikan yang ilahi, yang sifatnya unik dan sementara, yang diterima pada waktu-waktu yang luar biasa, menjadi suatu kepemilikan permanen dalam kehidupan sehari-hari.”[6] Ketika karisma ini telah diadaptasikan pada kehidupan sehari-hari, telah dirutinisasikan, tak pelak lagi karisma ini dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam masyarakat, khususnya kepentingan-kepentingan ekonomi. Sebetulnya, kekuatan riil yang mendorong proses rutinisasi karisma adalah staf sang pemimpin beserta ideal-ideal kuat mereka dan kepentingan material di dalam usaha melanjutkan kehidupan komunitas.


Model Kepemimpinan Pengelana


Model ini (diambil dari model sosiologi literatur) melihat kepemimpinan dalam komunitas-komunitas Kristen perdana dipikul oleh orang-orang berkarisma yang menjalani kehidupan mengelana (wandering/itinerant charismatics atau itinerant leaders), berpindah-pindah tempat, untuk memberitakan injil dan menyembuhkan orang sakit. Kebutuhan-kebutuhan hidup mereka ditopang dan dipenuhi oleh orang-orang yang bersimpati terhadap pergerakan mereka (supporters atau sympathizers), yakni penduduk kota-kota yang mereka kunjungi, atau para pemimpin yang menetap yang mengorganisir orang-orang Kristen lokal (resident leaders). Terbangun pelayanan dan perhatian timbal-balik antar-kedua jenis kepemimpinan ini. Kajian terhadap dua pola kepemimpinan ini dalam kekristenan perdana telah dengan meluas dilakukan antara lain oleh Gerd Theissen.[7]


Model Relasi “Patron-Klien”


Dunia Yunani-Romawi di dalam mana kekristenan perdana lahir dan bertumbuh adalah dunia yang di dalamnya relasi-relasi antar-personal, dan antar-individu dengan masyarakat dan dengan keseluruhan imperium Romawi, berlangsung dalam pola hubungan patron-klien. Halvor Moxnes mendefinisikan relasi patron-klien sebagai “hubungan-hubungan sosial di antara individu-individu yang didasarkan pada suatu elemen kuat ketidaksetaraan dan perbedaan dalam kekuasaan. Struktur dasariah dari hubungan semacam itu adalah suatu pertukaran dari sumber-sumber yang berbeda dan tidak setara. Seorang patron memiliki sumber-sumber sosial, ekonomis, dan politis yang diperlukan oleh seorang klien. Sebagai balasannya, seorang klien dapat menyatakan kesetiaan dan penghormatan yang berguna bagi sang patron.”[8] Moxnes memakai model relasi “patron-klien” untuk menggambarkan relasi-relasi sosial dan kepemimpinan yang tercermin dalam Lukas-Kisah.

Unsur-unsur yang terdapat di dalam model relasi “patron-klien” dapat dijabarkan berikut ini: (a) Interaksi di antara patron-klien didasarkan pada pertukaran serentak jenis-jenis sumber-sumber yang berlainan. Seorang patron memiliki sumber-sumber instrumental, ekonomis, dan politis, dan karenanya dapat memberikan dukungan dan perlindungan; seorang klien, sebagai balasannya, dapat memberikan janji-janji dan pernyataan-pernyataan solidaritas dan kesetiaan; (b) Terdapat suatu unsur kuat solidaritas di dalam hubungan-hubungan ini, yang dikaitkan dengan kehormatan personal dan kewajiban-kewajiban; (c) Dapat terbangun suatu ikatan spiritual, betapa pun ambivalen, antara para patron dan para klien; (d) Relasi-relasi patron-klien tampak mengikat dan memiliki kisaran waktu yang panjang, idealnya bisa berlangsung seumur hidup. Tetapi, relasi-relasi semacam ini di antara individu-individu pada prinsipnya berlangsung secara sukarela, dan dapat dilepaskan juga dengan sukarela; (e) Relasi-relasi patron-klien didasarkan pada suatu elemen ketidaksetaraan yang sangat kuat dan pada perbedaan di dalam kekuasaan. Seorang patron memiliki suatu monopoli atas posisi-posisi dan sumber-sumber tertentu yang penting dan vital bagi kliennya; (f) Relasi-relasi patron-klien juga dapat mengambil bentuk peran pengantara (brokerage) yang dimainkan sang patron, ketika dia berfungsi sebagai sorang mediator/pengantara yang memberikan kepada kliennya akses kepada sumber-sumber yang dimiliki oleh seorang patron yang lebih berkuasa.[9]


Penutup


Tiga model sosiologis yang telah dengan singkat digambarkan di atas dapat membantu kita untuk lebih mengenali pola-pola kepemimpinan yang dapat muncul dalam kehidupan gereja perdana. Untuk ini, tentu saja perlu dilakukan pengujian apakah model-model ini dapat dengan pas diterapkan pada kekristenan perdana, dengan cara mencari dan menganalisis bukti-bukti tekstual di dalam Perjanjian Baru. Pengujian ini telah dilakukan oleh para penafsir Kitab Suci dengan hasil yang memuaskan. Terbukti masalah kepemimpinan dalam gereja-gereja perdana bukan hanya masalah teologis, tetapi juga masalah sosiologis. Hal yang sama juga seharusnya ditemukan di dalam usaha-usaha gereja-gereja masa kini untuk memilih bentuk-bentuk kepemimpinan gerejawi yang pas. Studi atas teks-teks Kitab Suci harus dilengkapi juga dengan studi-studi sosiologis.


Catatan-catatan

[1] Max Weber, Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology, vol. 1-3, Ed. by Guenther Roth and Claus Wittich (New York: 1968) 215.

[2] Weber, Economy and Society, 241.

[3] Bengt Holmberg, Paul and Power: The Structure of Authority in the Primitive Church as Reflected in the Pauline Epistles (Philadelphia: Fortress Press, 1978) 137-160.

[4] Bengt Holmberg, Paul and Power, 149f.

[5] Pembahasan tentang rutinisasi karisma dalam kehidupan gereja perdana, lihat Bengt Holmberg, Paul and Power, 161ff.

[6] Weber, Economy and Society, 1121. Lihat juga Weber, The Sociology of Religion (Boston: Beacon Press, 1963) 60f.; idem, The Theory of Economic and Social Organization (New York: Free Press, 1964) 358-92.

[7] Gerd Theissen, The First Followers of Jesus (London: SCM Press, 1978); judul terbitan USA: Sociology of Early Palestinian Christianity (Philadelphia: Fortress Press, 1978). Lihat juga David G. Horrell, “Leadership Patterns and the Development of Ideology in Early Christianity”, dalam David G. Horrell, ed., Social-scientific Approaches to New Testament Interpretation (Edinburgh: T & T Clark, 1999) 309-337.

[8]Halvor Moxnes, “Patron-Client Relations and the New Community in Luke-Acts”, dalam Jerome H. Neyrey, ed., The Social World of Luke-Acts: Models for Interpretation (Peabody, Massachusetts: Hendrickson, 1991) 242 [241-268].

[9]Moxnes, “Patron-Client Relations”, 248.



Thursday, January 1, 2009

Allah-allah dalam Dunia Yunani-Romawi Kuno



Kultus pemujaan Aleksander Agung (wafat 323 SM) di Mesir kuno oleh Dinasti Ptolemi di era hellenistik (abad ke-3 SM hingga abad 1 SM). Imam yang memimpin kultus ini adalah sang imam besar Kerajaan Ptolemi.


ARETALOGI YUNANI-ROMAWI

N.B. Diperluas 27 Maret 2021

Kalau rasul Paulus mengatakan dan mengakui, dalam konteks dunia Yunani-Romawi kuno, "ada banyak allah dan ada banyak tuhan" (1 Korintus 8:5-6), dia tentu sedang merujuk bukan hanya kepada dewa-dewa tradisional Yunani (Zeus atau Jupiter sebagai Dewa tertinggi, lalu menyusul dewa-dewi lainnya: Poseidon atau Neptune, Hera atau Juno, Afrodit atau Venus, Artemis atau Diana, Dionysus atau Bacchus, Ares atau Mars) atau kepada dewa-dewa yang resmi diakui negara dan yang disembah dalam kultus-kultus lokal, atau kepada dewa-dewi dalam kultus-kultus keluarga (Penates, Lares, dan “genius” atau “malaikat pelindung”). 

Tetapi Paulus juga sedang mengacu kepada dewa-dewi yang disembah dalam berbagai jenis agama atau kultus misteri dan kepada tokoh-tokoh adiinsani atau “superhuman” yang telah diagungkan dan dimuliakan begitu tinggi. Alhasil, mereka diilahikan atau dideifikasi (Yunani: apotheōsis), menjadi allah dan tuhan atau “manusia ilahi” atau "manusia dewa" (Latin: semideus; Yunani: hēmitheos atau theios anēr; Inggris: demigod) yang disembah dalam berbagai kultus di kuil-kuil dan yang (sebagian) dijadikan allah-allah negara Roma. Kisah-kisah epik sosok-sosok "superhuman" dunia Laut Tengah kuno dituangkan dalam suatu jenis sastra yang dinamakan aretalogi ("kisah-kisah kebajikan agung").

Pengkultusan dan pengilahian dapat terjadi sewaktu sosok-sosok adiinsani Yunani-Romawi masih hidup dan berkarya (misalnya terhadap Aleksander Agung), atau sesudah mereka "diangkat" ke kawasan adikodrati dengan disaksikan oleh beberapa saksi mata, entah ketika mereka masih hidup atau pun ketika jenazah mereka sedang dikremasikan.

Dalam alam pemikiran religiopolitik semacam itu dalam dunia Yunani-Romawi, pantaslah jika orang Yunani menilai, menurut rasul Paulus, adalah suatu "kebodohan" (Yunani: hē môria) jika orang Kristen percaya pada satu sosok yang mati disalibkan sebagai Tuhan dan sang Kristus yang menjadi isi berita yang disebarkan sang rasul (lihat 1 Korintus 1:18, 23).

Selanjutnya akan disajikan berbagai macam dewa atau allah dalam dunia Yunani-Romawi kuno beserta dengan kultus yang dikaitkan kepada masing-masing dewa.



Dewa-dewi dalam Agama-agama Misteri

Kultus Isis (dan Osiris)

Di dalam kultus Isis yang berasal dari Mesir, yang sudah dikenal di luar Mesir sejak abad 5 SM, dan tetap bertahan sampai abad 4 M di dunia Yunani-Romawi, Dewi Isis (bersuamikan Osiris) disembah sebagai “Ibu atas Segala Sesuatu”;/1/ dia ditinggikan sebagai “Ratu sorga”, “Dewi Penyembuh” yang memiliki obat untuk hidup kekal; dia menyatakan diri sebagai Penguasa daratan, yang memisahkan bumi dari sorga: 

“Akulah Isis (egō eimi Isis), penguasa seluruh daratan, Akulah dia yang telah menemukan buah-buahan untuk umat manusia, Akulah dia yang memisahkan bumi dari sorga....”/2/ 

Di dalam buku Metamorfoses (11.5:1-3) yang ditulis Apuleius (lahir 123 M), dimuat aretalogi penyataan diri Isis: 

“... Akulah Ibu dari alam semesta, Ibu segala unsur, Yang sulung dari segala dunia, Yang tertinggi dari semua allah, Ratu alam maut, Yang pertama dari segala yang ada di sorga, Bentuk tunggal yang menyerap semua allah,.... Akulah Allah yang tunggal yang disembah oleh seluruh dunia melalui berbagai macam cara, melalui ritus-ritus, dan dengan banyak nama ....” 

Isis diakui sebagai “Juru selamat yang kekal dan paling kudus untuk umat manusia”./3/ Aretalogi ini jelas condong menempatkan Dewi Isis dalam kerangka universalisme dan monoteisme./4/

Kultus Serapis

Di dalam kultus Serapis (Sarapis, Zaparrus), yang juga berasal dari Mesir dan bersama dengan kultus Isis menyebar keluar Mesir, Dewa Serapis, melalui perantara manusia, mengundang para penyembahnya untuk datang mengikuti perjamuan suci: “Sang Dewa mengundang anda ke perjamuannya yang akan diselenggarakan di kuil Thoeris, besok pada jam yang kesembilan.”/5/ 

Dewa Serapis (perpaduan dua nama: Osiris dan Apis) adalah suatu sosok dewa gabungan dari dewa-dewa Mesir dan dewa-dewa Yunani, dan disetarakan dengan Dewa Zeus (dewa tertinggi Yunani) dan Dewa Asklepius (dewa penyembuh).

Dari perpaduan ini, muncullah figur Dewa Serapis yang merangkumi kekuasaan dewa teragung Yunani dan dewa matahari (Zeus dan Helios), dewa kesuburan (Dionysus), dewa dunia orang mati, kehidupan kekal dan juga dewa penyembuh (Hades dan Asklepius). 

Sejak Kaisar Konstantinus memerintah pada abad ke-4 M, wajah Serapis (sebagai Zeus orang Mesir) dengan rambutnya yang panjang dan ikal serta janggutnya yang lebat (lihat gambar di atas) diambil alih menjadi wajah Yesus, “Zeus” menjadi “Yesus”./6/

Dewa Mithras

Penyembahan kepada Dewa Matahari agung Persia yang bernama Mithras (“perjanjian”) melahirkan kultus Mithras (para anggotanya eksklusif kaum pria) yang berkembang di Roma dan tempat-tempat lain. Pada akhir abad 3 M., Mithras dijadikan Allah resmi kekaisaran Roma./7/ Para anggota kultus ini menantikan kedatangan kembali dewa Mithras pada akhir zaman./8/

Di dalam kultus ini, ketika diadakan acara penyambutan kepada anggota baru, diselenggarakan suatu perjamuan yang unsur-unsurnya sama dengan unsur-unsur yang terdapat di dalam ekaristi Kristen: roti, anggur dan kata-kata yang mengiringi./9/

Kultus Asklepius

Di dalam Himne Homerik (abad 5 S.M.) dinyatakan bahwa Asklepius adalah manusia setengah dewa dan setengah manusia, dilahirkan dari perkawinan Dewa Apollo dengan Puteri Koronis dari Tesalonika. 

Setelah kematiannya, dia diangkat menjadi seorang Hero, dan akhirnya mendapat status Allah. Dia (bersama puterinya, Hygieia, personifikasi kesehatan dan kesejahteraan) disembah sebagai Dewa penyembuh; dan dipandang sebagai Dewa yang paling bersimpati dengan manusia yang menderita dan berkenan menyembuhkan mereka. 

Kuil-kuil pemujaan terhadap Dewa Asklepius didirikan di banyak tempat, seperti di Atena, Pergamum dan Kos; tetapi pusatnya terdapat di Epidauros. Pada masa Hellenistik, jumlah kuil Asklepius mencapai 300 buah; angka ini menandakan keberhasilan kultus ini dalam berpropaganda./10/

Penggalian di kota Korintus memperlihatkan adanya kuil Asklepius di kota ini, lengkap dengan ruang-ruang makan untuk para pengunjung dan pasien yang mencari kesembuhan dari sang Dewa. Peringatan Paulus di dalam 1 Korintus 8:10 untuk tidak makan daging di kuill berhala tentu mengacu ke kuil Asklepius ini. 

Suatu kali, sehabis terjadi suatu kesembuhan, suatu pujian diangkat untuk Dewa Asklepius: “O Tuhan dan Allah, betapa besar kuasamu.”/11/ Seorang penulis kuno menaikkan pujian kepada Asklepius: “Aku mau memberitakan penampakan-penampakannya yang ajaib, keagungan kuasanya dan manfaat dari karunia-karunianya.”/12/

Manusia ilahi (theios anēr)

Apollonius dari Tyana (sebuah kota kecil di Asia Kecil, di provinsi Kappadokia), hidup pada abad 1 (antara 4-96), adalah seorang filsuf Pythagorean, seorang pengkhotbah keliling yang menyampaikan hikmat rahasia dari Timur (dia berguru antara lain di Babilonia, Mesir dan India), seorang pembaru agama, dan seorang pembuat mukjizat. 

Biografi tentang dirinya (berjudul Vita Apollonii) ditulis lebih dari satu abad kemudian oleh Flavius Filostratus (hidup antara 170 dan 245), lengkap ditulis pada tahun 222. 

Pada tahun-tahun awal kegiatannya, Apollonius banyak menghabiskan waktunya di kuil Asklepius di Aegae; ini menyiapkan dirinya menjadi penyembuh. Di dalam Vita Apollonii 2.17 dan 8.15, Apollonius dari Tyana disebut sebagai seorang “manusia ilahi”, theios anēr; dan di dalam 5.24 dinyatakan bahwa kerumunan orang banyak di Mesir memandangnya “seperti memandang Allah (theos).” Kata-kata sifat theios (“ilahi”) dan daimonios (“bersifat ilahi”) sering dipakai untuknya (Vita Apollonii 1.2).

Di dalam biografi karya Filostratus itu, kelahiran dan akhir hidup Apollonius dari Tyana digambarkan penuh dengan peristiwa-peristiwa ajaib: suatu Dewa Mesir berbicara kepada ibunya di dalam suatu mimpi; ketika dia dilahirkan angsa-angsa bernyanyi, dan kilat menyambar dari angkasa ke bumi sehingga penduduk memproklamirkan dia sebagai Anak Dewa Zeus (Yunani: paida tou Dios). 

Ketika usianya sudah cukup, dia masuk sekolah, dan semua orang heran atas daya ingatnya yang luar biasa dan atas parasnya yang rupawan. 

Di akhir hidupnya tidak dinyatakan bahwa dia mati, tetapi dia raib, menghilang, namun tidak jelas bagaimana caranya. Kuburannya tidak ada; tetapi dia menampakkan diri kembali kepada seorang muridnya yang tidak percaya. Pengangkatannya ke surga diceritakan berlangsung dari sebuah kuil, dengan diiringi nyanyian gadis-gadis: “Meninggalkan bumi dan masuk ke surga.” 

Aktivitas Apollonius digambarkan sepenuhnya paralel dengan aktivitas Yesus: hidup berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya, mengajar, membuat mukjizat, mengusir setan-setan (Vita Apollonii 4.20; 2.4; 3.8; 4.10,25; 6.27), dan membangkitkan orang mati (Vita Apollonii 4.45). Di sekitarnya terbentuk ikatan para murid. Karena itu tidaklah mengejutkan jika pada abad 4 Apollonius dari Tyana dipandang sebagai figur tandingan Yesus Kristus./13/

Apotheōsis (Pengilahian/Deifikasi) dalam Kultus-kultus

Kultus Penguasa/14/

Lysander (seorang jenderal Sparta dalam Perang Peloponnesus [431-404 SM]) adalah orang Yunani pertama yang untuknya, ketika dia masih hidup dan perang hampir berakhir (404 SM), kota-kota membangun altar-altar dan memberikan kurban-kurban; dan yang untuknya juga madah-madah keagamaan digubah dan dinyanyikan. Kultus dirinya ini didirikan sebagai suatu bentuk penghormatan atas kemenangan-kemenangannya melawan orang-orang Athena, sehingga orang-orang Sparta memperoleh kembali negeri, kedaulatan dan harta milik mereka.

Berbagai penghormatan ilahi (berupa kurban-kurban syukur, kompetisi atletik, altar, citra kultis) diberikan kepada Antigonus I (orang Makedonia, seorang jenderal dari Aleksander Agung) pada tahun 311 SM, karena dia telah membawa kabar baik (Yunani: euaggelion) kepada penduduk kota Skepsis (dekat Troy, sebelah barat laut Asia Kecil) bahwa dia telah membuat perjanjian damai dengan para jenderal lainnya dan bahwa “semua pihak yang mengadakan perjanjian itu” menjamin adanya “kebebasan dan otonomi bagi semua negara bagian”.

Pada tahun 307 SM, Demetrius yang diberi gelar Poliorketēs (“penakluk kota-kota”), putera tertua dari dua putera Antigonus, membebaskan kota Athena dari seorang penguasa tiran dan dari pendudukan orang-orang Makedonia. 

Sejak itu orang-orang Athena memberi penghormatan kepadanya; dan pada kunjungan keduanya di kota Athena (tahun 304 SM) tempat dia berpijak setelah turun dari kereta perangnya dinyatakan sebagai tempat kudus dari “Allah yang turun”, dan sebuah altar dibangun di situ. 

Suatu madah kultis digubah untuk memujanya. Dalam madah ini dinyatakan antara lain bahwa dia adalah “Yang terbesar dari para allah, yang sedang datang masuk (pareisin) ke kota kami”; “Anak dari Dewa perkasa Poseidon dan Dewi Afrodite”; dan bahwa, berbeda dari dewa-dewa lain yang jauh dari umat, tuli, atau tidak ada, atau tidak mempedulikan mereka, dia “berada di tengah kami bukan dalam bentuk kayu atau batu tetapi secara jasmaniah, karena itu kami berdoa kepadamu”; bahwa dia “membawa perdamaian karena engkau adalah Tuhan (kurios).”

Kultus Hero/15/

Kultus hero adalah pemujaan atas orang yang sudah meninggal, yang semasa hidupnya telah melakukan tindakan-tindakan heroik luar biasa, dan yang dipercaya masih tetap memiliki kuasa setelah kematiannya. 

Orang yang sudah mati yang telah dinyatakan sebagai “hero” dapat naik statusnya menjadi semacam “demigod”, manusia setengah dewa, atau lebih tinggi lagi menjadi daimōn, dan pada akhirnya dapat menjadi Allah. Pusat kultus dirinya adalah kuburannya yang berisi tulang-belulangnya. 

Orang-orang Atena mendirikan kultus hero untuk Theseus, pendiri demokrasi Athena yang legendaris, karena dilaporkan bahwa dia telah “menampakkan diri kembali” setelah kematiannya dalam pakaian perang lengkap di kota Marathon, ketika berlangsung perang melawan orang-orang Persia. 

Setelah Perang Persia berakhir, atas petunjuk suatu orakel (wangsit) Delfik (476/5 SM), tulang-belulangnya dipindahkan ke Athena dan dikuburkan kembali di tempat terhormat. 

Tempat keramat kuburannya menjadi tempat pelarian para budak dan orang-orang kebanyakan yang takut terhadap orang-orang yang lebih berkuasa dari mereka. Semasa hidupnya Theseus memang dikenal sebagai orang yang memberikan perlindungan dan bantuan kepada orang-orang tertindas.

Deifikasi Aleksander Agung/16/

Kemahabesaran Aleksander Agung (356-323 SM) telah melahirkan banyak mitos dan legenda tentang dirinya. 

Peristiwa kelahirannya dituangkan dalam suatu mitos. Konsepsi dirinya dalam kandungan ibunya (Olympias) digambarkan sebagai akibat penetrasi kekuatan supranatural dari dunia ilahi.

Sebelum ibu dan ayahnya (Raja Filip II dari Makedonia) memasuki malam pengantin, sang ibu bermimpi terjadi “guntur menggelegar dan kilat masuk ke dalam tubuhnya; kilat ini menimbulkan api besar yang berkobar-kobar dan menyebar ke segala arah.” 

Beberapa waktu kemudian, setelah perkawinan, Filip bermimpi pula. Dalam mimpinya dia membubuhi sebuah segel ke tubuh isterinya, dan tampak kepadanya bahwa ukiran pada segel itu menampilkan gambar seekor singa. 

Mimpi-mimpi ini ditafsirkan. Ukiran singa pada segel menunjukkan bahwa akan dilahirkan seorang anak laki-laki yang “gagah berani dan penuh semangat yang berkobar seperti seekor singa”; dan “api besar yang berkobar-kobar dan menyebar ke segala arah” menandakan bahwa anak yang dikandung itu akan menjadi penakluk dunia. 

Juga diceritakan bahwa suatu saat, ketika ratu Olympias sedang tidur, “tampak seekor ular menjalar, melilit di tubuhnya”. Ini diartikan bahwa yang menjadi ayah Aleksander Agung bukanlah Filip, tetapi Dewa Zeus-Ammon, yang datang sebagai seekor ular yang mengadakan hubungan seksual dengan Olympias. 

Aleksander Agung sendiri percaya bahwa dirinya adalah “anak Zeus” (pai Dios) karena dia disapa dengan nama itu oleh imam di oasis Siva di padang gurun Lybia, ketika dia mencari wangsit dari Zeus-Ammon.

Ketika Aleksander Agung benar-benar berhasil menjadi penakluk dunia, beberapa kota Yunani di Asia Kecil memujanya sebagai Allah. Kultus pemujaan terhadap Aleksander Agung ini didirikan ketika dia masih hidup, yakni ketika dia melakukan kampanye militernya di Asia Kecil (334-333 SM) untuk membebaskan orang-orang Yunani di situ dari penindasan Persia. Kultus ini dibangun sebagai suatu penghormatan ilahi terhadap dirinya. Di Efesus terdapat sebuah kuil untuk kultus Aleksander Agung lengkap dengan imamnya (dari 102-116 M).

Lain halnya bagi penduduk kota-kota di Yunani sendiri. Pada tahun 324 SM, di Athena dan Sparta timbul diskusi mendalam tentang apakah Aleksander Agung harus dideifikasikan.

Diskusi ini melahirkan sebuah keputusan untuk memberikan gelar ilahi bagi Aleksander Agung. Utusan-utusan dari Yunani mendatangi Aleksander yang sedang berada di Babilonia untuk menganugerahkannya penghormatan ilahi; mereka datang dengan memakai mahkota-mahkota yang hanya cocok dipakai ketika orang datang menghadap Allah. 

Aleksander Agung sendiri memang menginginkan suatu penghormatan ilahi diberikan kepadanya, mengingat keberhasilannya dalam memikul tugas besar yang adi-insani dan kedudukannya yang tinggi. 

Dengan meminta dirinya di-“apotheosis”-kan, dideifikasi, Aleksander Agung telah membuka jalan untuk para pemimpin lainnya melakukan hal yang sama. Pada tahun 323 SM, Aleksander Agung terserang demam yang membawanya pada kematian di Babilonia pada usia yang masih muda, kurang dari 33 tahun.

Romulus, pendiri kota Roma, diangkat ke sorga

Romulus dan Remus adalah dua anak lelaki kembar yang dilahirkan oleh Puteri Rhea Silvia yang bersuami Mars, dewa perang Roma.

Karena suatu nubuat, sang raja di negeri dua anak kembar ini takut kalau nanti dua anak kembar tersebut akan menjatuhkannya dan merebut takhtanya. Maka, atas perintah si raja ini, Romulus dan Remus diletakkan dalam sebuah keranjang lalu dihanyutkan di Sungai Tiber supaya cepat mati tenggelam.

Tetapi seekor serigala betina (dikenal sebagai "She-wolf" atau "Serigala-Mama") menemukan dua anak kembar tersebut yang sedang terapung hanyut dalam sebuah keranjang. Lalu "She-wolf" menyelamatkan keduanya (mungkin lewat bantuan seorang pengasuh) ke dalam sebuah goa di pinggiran Sungai Tiber.

Lalu si "Serigala-Mama" ini melindungi dua anak lelaki kembar itu dari ancaman hewan-hewan buas lain, dan memelihara Romulus dan Remus dengan meneteki mereka dari susu-susunya sendiri. Seekor burung pelatuk yang berparuh panjang yang baik hati ikut membantu mencarikan makanan tambahan bagi si kembar tersebut.




Patung perunggu "Serigala-Mama" yang bersikap waspada sementara meneteki Romulus dan Remus. Patung ini ditempatkan dalam museum Capitolini, Roma, Italia, dan menjadi emblem/simbol kota Roma atau bahkan negara Italia


Akhirnya, beberapa gembala menemukan Romulus dan Remus yang sedang dipelihara si "Serigala-Mama". Salah seorang dari mereka (bernama Faustulus) mengambil dan membawa pulang dua kanak-kanak kembar ini dan, bersama isterinya, membesarkan mereka seperti anak mereka sendiri.


Gembala Faustulus membawa pulang Romulus dan Remus untuk dibesarkan


Setelah dewasa, Romulus dan Remus memperlihatkan kemampuan memimpin sebagai bakat alam. Pada suatu hari, Remus ditangkap dan dibawa ke sang raja yang berkuasa di negeri kelahirannya, yang kemudian mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya. Segera, saudara kembarnya, Romulus, mengumpulkan para gembala untuk menyelamatkan saudaranya. Akhirnya, mereka berhasil membunuh si raja yang lalim itu, dan Remus dapat diselamatkan.

Ketika penduduk kota tahu siapa sebenarnya Romulus dan Remus, mereka memasang mahkota pada kepala mereka masing-masing sebagai dua raja gabungan yang bekerjasama. Mereka diminta menjadi penguasa negeri mereka sendiri.

Namun, Romulus dan Remus mencopot mahkota yang telah dipasangkan pada kepala mereka karena mereka mau membangun sebuah kota baru bagi mereka sendiri. Lalu keduanya meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari lokasi yang sempurna untuk kota yang mereka mau dirikan. Akhirnya, mereka menemukan suatu area yang mereka sukai, yang menjadi lokasi kota Roma yang sekarang.

Romulus dan Remus menyukai area itu pada umumnya. Tapi masing-masing ingin menempatkan kota yang baru pada sebuah bukit yang berbeda. Romulus  memilih Bukit Palatinus, sedang Remus menjatuhkan pilihannya pada Bukit Aventinus.

Karena keduanya saudara kembar, maka senioritas tidak bisa dipakai untuk menentukan bukit yang mana, apa nama kota yang akan dibangun, dan siapa yang akan jadi penguasanya setelah selesai dibangun.

Selanjutnya, kedua saudara kembar itu sepakat untuk mendatangi dewa pelindung mereka untuk meminta tanda-tanda dewata yang meramalkan masa depan, terkait rencana pembangunan sebuah kota baru yang besar.

Remus lebih dulu mendapatkan suatu tanda dewata: enam ekor burung hering (atau burung pemakan bangkai) menampakkan diri di hadapannya. Disusul oleh penampakan dua belas ekor burung hering di hadapan Romulus. Masing-masing mengklaim diri sebagai pemenang.

Lalu, siapakah yang akan menjadi raja atas kota yang akan dibangun?

Baik Romulus maupun Remus diberi ucapan selamat oleh para pendukung masing-masing, dan disanjung sebagai raja oleh para pendukung masing-masing.

Para pendukung Remus mengakui Remus sebagai raja berdasarkan pertimbangan bahwa Remus duluan yang menerima tanda dewata. Sebaliknya, para pendukung Romulus menetapkan Romulus sebagai raja lantaran dia mendapatkan tanda dewata dua kali lipat banyaknya dari tanda yang diterima Remus.

Romulus bergerak cepat lebih dulu. Dia mulai membangun tembok-tembok di sekeliling Bukit Palatinus. Nah, Remus jadi iri hati, lalu mulai memperolok-olok tembok-tembok yang telah dibangun Romulus, dengan melompati tembok-tembok Romulus. Remus bermaksud menunjukkan, betapa mudah melewati tembok-tembok yang telah dibangun Romulus. Tentu saja, Romulus naik pitam.

Remus dibunuh Romulus

Maka, timbullah percekcokan di antara Remus dan Romulus di depan umum. Ambisi keduanya memanas dan makin berkobar. Akhirnya terjadi keributan dan perkelahian antara Remus dan Romulus, yang bermuara pada kematian Remus di tangan Romulus saudara kembarnya. Demi pembangunan sebuah kota yang baru, saudara membunuh saudaranya sendiri.

Setelah membunuh Remus, maka Romulus bersumpah bahwa "Barangsiapa yang selanjutnya melompati tembok-tembokku, mereka juga akan aku bunuh."



Romulus, pendiri dan raja pertama kota Roma


Begitulah, Romulus menjadi sang penguasa tunggal, dan kota yang sedang dibangun diberi nama Roma mengikuti nama Romulus si pendirinya.

Setelah Remus mati, Romulus melanjutkan pembangunan kota Roma, resmi pada 21 April 753 SM, dan menobatkan dirinya sebagai raja. Tentu saja, hemat saya, tanggal itu harus dilihat sebagai saat peletakan batu pertama pembangunan kota Roma. Sebab tidak ada satu pun kota di dunia ini, kapanpun juga, yang dapat selesai dibangun dengan sempurna dalam satu hari sekalipun pembangunannya katakanlah dibantu oleh ribuan "manusia dewa" atau demigod atau semideus atau hēmitheos atau oleh "dewa-dewa perkasa".

Seterusnya, Romulus mulai mengorganisir kota Roma. Pasukannya dibagi dalam satuan-satuan legion yang masing-masing terdiri atas 3.300 orang pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki. Dia memberi sebutan "Patrician" bagi 100 orang warga Roma yang termulia, dan menyebut kolektivitas para penatua kota Roma sebagai Senat. Kota Roma pun berkembang dan makmur. Lebih dari 1.000 tahun Roma menjadi salah satu kota terkuat dunia.

Romulus diangkat ke sorga

Setelah mencapai prestasi-prestasi adiinsani sebagai seorang "raja superhero", Romulus di suatu saat meninjau ulang bala tentaranya di Caprae Palus di dalam Campus Martius dalam suatu persidangan.

Tiba-tiba di lokasi itu terdengar badai guntur yang keras dan awan-awan yang gelap padat menutupi sang raja sehingga tubuhnya tak terlihat lagi oleh para peserta sidang. Sejak saat itu Romulus tidak terlihat lagi di Bumi.

Lalu cahaya Matahari muncul, dan memberi rasa tenang setelah cuaca yang menakutkan tadi berubah begitu rupa.

Ketika rasa takut yang melanda orang-orang muda kota Roma teratasi dan berubah menjadi keceriaan, mereka melihat takhta kerajaan telah kosong. Romulus telah raib. Ke mana?

Sementara mereka percaya sepenuhnya pada penegasan para Senator yang tadi berdiri di dekat sang raja bahwa raja Romulus telah diangkat ke sorga lewat angin puting beliung, namun, seperti layaknya orang yang tiba-tiba kehilangan, rasa gentar dan duka yang dalam membuat mereka tidak bisa berkata-kata selama beberapa waktu.

Lama kemudian, setelah beberapa orang mengambil inisiatif untuk pemulihan, seluruh orang yang hadir memuliakan dan menyanjung Romulus sebagai "suatu dewa, anak Dewa, sang Raja dan Bapak Kota Roma".

Mereka pun meminta kasih karunia dan perkenan Romulus, dan berdoa agar sang Raja yang sudah dimuliakan mau bermurahhati ke anak-anak mereka dan menyelamatkan serta melindungi mereka.

Tak diragukan lagi, kini telah menjadi suatu tradisi yang dipercaya umum bahwa, karena kekaguman dan hormat kepada Romulus, sang Raja ini telah membangkitkan pemahaman dan kepercayaan orang Roma bahwa dia tidak ada lagi di Bumi karena telah diangkat ke dunia para dewa. Oleh pujangga Ovid dikisahkan bahwa setelah Romulus menjadi seorang dewa yang diberi nama Quirinus, selanjutnya dia menyatu dengan ayahnya, dewa perang Mars, di Gunung Olympus.

Tradisi itu telah berkembang dan mengakar karena Proculus Julius, seorang yang berotoritas kuat dalam perkara-perkara yang paling penting, telah memainkan suatu peran besar.

Romulus menampakkan diri

Karena melihat betapa dalam rasa kehilangan yang berkepanjangan yang sedang melanda komunitas orang Roma berhubung raja mereka telah lenyap, dan betapa marahnya mereka terhadap para Senator yang (menurut suatu tradisi lain yang tidak kuat) dicurigai telah menghilangkan Romulus lewat penculikan dan pembunuhan, Proculus Julius mendatangi persidangan lalu berkata,

"Quirites! Ketika fajar datang hingga siang ini, sang Bapak pendiri kota Roma tiba-tiba turun dari sorga dan menampakkan dirinya kepadaku. Sementara aku tercekam rasa takjub, aku berdiri rapat di hadapannya dan sujud memuliakannya dengan sangat dalam, dan aku berdoa agar aku diampuni karena telah memandang wajahnya.

Lalu sang Raja bersabda, 'Pergilah. Beritahu penduduk Roma bahwa adalah kehendak sorga bahwa kota Roma yang telah kubangun harus menjadi pemimpin seluruh dunia. Hendaklah mulai saat ini mereka mengembangkan kecakapan dan seni berperang. Dan hendaklah mereka tahu dengan yakin dan pasti, dan mewariskan pengetahuan ini ke generasi-generasi mendatang, bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat bertahan terhadap bala tentara Roma.'"

Kisah di atas yang memang menawan hati lahir dari penghargaan tinggi yang diberikan kepada sang Raja pertama kota Roma. Kedukaan rakyat dan bala tentara Roma diredakan dan diteduhkan oleh kepercayaan yang telah dibangun dalam mitografi Romawi tentang Romulus yang hidup abadi di antara para dewa dan tidak pernah mengecap kematian.

Ihwal tidak mengalami kematian, pengangkatan ke sorga dan penampakan diri kembali, adalah kejadian-kejadian yang umum dikisahkan dalam aretalogi Yunani-Romawi kuno terkait sosok-sosok adiinsani atau "superhuman" yang dinamakan demigod, semideus, hēmitheos atau "manusia dewa" atau "manusia ilahi" (theios anēr).

Temuan arkeologis mutakhir dan pertanyaan yang muncul

Para sejarawan dan pengkaji sastra dalam zaman modern umumnya menggolongkan kisah-kisah tentang Romulus yang dipandang sebagai pendiri kota Roma sebagai mitografi, sebagai kisah legendaris yang menawan, yang sudah mengalami sekian penyuntingan dan peredaksian.

Namun, di tahun 2007, seorang arkeolog sekaligus sejarawan Italia, Dr. Andrea Carandini dari Universitas Roma, bersama kolega-koleganya, telah menarik kesimpulan-kesimpulan yang berani./17/

Dr. Carandini dkk, dalam majalah Archaeology 2007, dalam artikel yang berjudul "Origins of Rome"/18/ melaporkan bahwa mereka telah menemukan goa yang telah lama hilang yang berada di bawah Bukit Palatinus yang dipercaya orang Roma kuno sebagai suatu tempat sakral di mana dua anak lelaki kembar, Romulus dan Remus, dipelihara oleh sang "Serigala-Mama".

Menurut Dr. Carandini, "Kisah tentang kelahiran kota Roma sebagian adalah kisah mitologis dan sebagian lagi kebenaran sejarah." Kesimpulan ini tidak mengejutkan. Sangat mungkin akan ada suatu "inti sejarah" dalam banyak kisah-kisah mitologis, meski memisahkan keduanya sudah sangat sulit.

Selain penemuan tersebut, Dr. Carandini juga telah menemukan sisa-sisa sebuah tembok kuno dan parit dan juga reruntuhan sebuah istana yang, menurutnya, dibangun pada abad ke-8 SM. Dia mengatakan, "Ketika aku mengekskavasi tembok yang berasal dari zaman Romulus pada Bukit Palatinus, aku menyadari bahwa aku sedang melihat ke asal-usul kota Roma sendiri sebagai suatu negara-kota."

Dr. Carandini menegaskan bahwa tembok yang dibangun di lereng-lereng yang dipadati gubuk-gubuk hunian yang sudah ada sebelum kota Roma didirikan, diketahui dibangun kira-kira 775 SM - 750 SM berdasarkan peninggalan-peninggalan fondasinya yang teridentifikasi. Tembok ini mungkin adalah batas sakral yang dikisahkan dalam legenda pendirian kota Roma." Lalu dia menyimpulkan bahwa tembok tersebut adalah "bukti arkeologis kehidupan Romulus dan Remus."

Berpijak pada semua temuan arkeologis yang ada, tentang pendirian kota Roma Dr. Carandini menegaskan bahwa "segala sesuatu lahir" setelah tahun 750 SM. "Tidak ada perluasan dan pengembangan tahap demi tahap dari suatu kota kuno sebagai titik pusatnya. Yang terjadi adalah evolusi dadakan sebuah kota yang di zaman dulu sudah besar dan akan selalu besar." Nah, ini sebuah kesimpulan yang mengejutkan, lebih dekat ke kesimpulan mitografis ketimbang sebagai suatu kesimpulan ilmiah.

Tentu saja dukungan dr. Carandini terhadap legenda Romulus dan Remus "telah membuat dirinya layak dikagumi oleh penduduk kota Roma, tetapi sekaligus juga ditolak oleh kolega-koleganya." Albert Ammerman, misalnya, seorang arkeolog Universitas Colgate yang juga telah melakukan penggalian terhadap reruntuhan kota Roma, dalam majalah Archaeology yang sama menyatakan bahwa "sisa-sisa bangunan fisik tidak harus mengabsahkan tradisi-tradisi sastrawi kuno tentang pendirian kota Roma dan kehidupan sosok yang bernama Romulus."

Serupa kisah Musa?

Jika anda pembaca yang cermat atas kisah legendaris Romulus dan Remus di atas, dan anda mengenal Tenakh Yahudi (atau Perjanjian Lama gereja), niscaya anda menemukan paralel-paralel jauh antara si dua anak lelaki kembar tersebut dan sosok Musa.

Mungkin anda menemukan perbedaan tajam antara Romulus dan Musa. Ya, Romulus raib, diangkat ke sorga lewat badai angin puyuh (seperti kisah pengangkatan ke sorga nabi Elia), sedangkan Musa, seperti dikisahkan dalam Tenakh, mati dan dikuburkan di Bumi.

Tetapi, dalam karya Philo yang berjudul Life of Moses, ketika menceritakan akhir perjalanan kehidupan nabi Musa, Philo pada bagian 2.288 karyanya itu memuat sebuah deskripsi tentang kenaikan Musa ke sorga lalu hidup abadi. Saya kutipkan bagian itu sepenuhnya.

"Setelah itu, tibalah waktunya untuk dia [Musa] harus membuat perjalanan panjang dari Bumi ke sorga, dan untuk melepaskan kehidupan fana di dunia ini untuk memperoleh kehidupan abadi. Sang Bapa memanggilnya dari Bumi ini dengan menjadikan satu kesatuan tunggal kodrat rangkap dua tubuh dan jiwanya, lalu mengubah keseluruhan keberadaannya menjadi pikiran, murni seperti cahaya Mentari."

Tapi, tampaknya Philo juga masih bimbang apakah betul Musa raib, diangkat ke sorga, dan tidak mengalami kematian, tetapi berubah menjadi sosok cahaya, menjadi pikiran yang bebas dan abadi. Dalam bagian 2.291, Philo masih menyebut kematian dan penguburan Musa./19/

Dalam Ulangan 34:5-8, ditulis bahwa Musa mati dan dikuburkan di sebuah lembah di tanah Moab meskipun tidak ada orang yang tahu di mana lokasi kuburan Musa. Ketidaktahuan ini menimbulkan spekulasi bahwa Musa tidak pernah mati, tetapi diangkat langsung ke sorga. 

Deifikasi Kaisar-kaisar Roma

Dalam masa pemerintahannya, Julius Kaisar sudah diberikan penghormatan kultis: silsilah mitologis disusun untuknya bahwa dia adalah anak dari Dewa Ares/Mars dan Dewi Afrodite/Venus; patung dirinya dibangun di dalam kuil Dewa Quirinus; nama “Juli” dijadikan nama suatu bulan; sebuah kuil dibangun untuk dirinya dengan imamnya Mark Antony. 

Pada sebuah prasasti dari Efesus (berasal dari tahun 49 SM), tentang dirinya antara lain dikatakan bahwa dia adalah “Allah yang telah menampakkan diri (Yunani: tēs theon epifanē) dan penyelamat kehidupan manusia (Yunani: tou anthrōpinou biou sōtēra).” 

Sebuah inskripsi lain dari tahun yang sama, dari Demetrias di Thessaly, menyatakan “Gaius Julius Caesar, Imperator, Allah.” 

Setelah kematiannya (dibunuh, tahun 44 SM), berdasarkan suatu kesaksian bahwa rohnya telah naik ke sorga dari tumpukan perapian yang bernyala-nyala, Julius Kaisar resmi di-apotheosis-kan, dan dia dinyatakan sebagai salah satu Allah negara. 

Suetonius menceritakan bahwa selama kompetisi atletik pertama yang diselenggarakan Augustus (Oktavianus) dalam rangka menghormati Julius Kaisar, sebuah komet muncul pada jam yang kesebelas dan menerangi angkasa selama tujuh hari; orang percaya bahwa “ini adalah roh Kaisar, yang telah diangkat ke sorga” (Divus Julius 88)./20/

Oktavianus diberi suatu gelar kehormatan “Augustus” (= “dikuduskan”, “tidak dapat digugat”, “patut dimuliakan”, “ditinggikan”; Yunani: sebastos) pada 27 SM. Pada tahun 29 SM, sang Kaisar mengizinkan dibangunnya sebuah kuil untuk Dea Roma dan Divus Julius di Efesus, dan pada waktu yang sama dia memperbolehkan pembangunan sebuah kuil di Pergamum bagi Dewi Roma dan bagi dirinya sendiri. 

Penduduk kota Mytilene merayakan hari kelahiran sang Kaisar (23 September) pada tahun 25 SM; dalam konteks inilah muncul prasasti-prasasti di Asia Kecil yang menyebut Augustus sebagai penyelamat ilahi bagi umat manusia dan sebagai pencipta perdamaian. 

Pax Romana dipandang sebagai prestasi besar pemerintahan Augustus; keadaan damai inilah yang menjadi alasan untuk memuliakan Augustus. 

Sebuah inskripsi yang memuat dekrit Majelis Provinsial Asia (9 SM), yang berasal dari kota Priene di Ionia, menyatakan bahwa

“hari kelahiran Kaisar yang ilahi telah mendatangkan lebih banyak suka cita, atau lebih banyak kebaikan”, bahwa hari kelahirannya adalah “permulaan (Yunani: arkhē) segala sesuatu”, “permulaan kehidupan dan eksistensi”; bahwa dialah “sang penyelamat bagi kami dan keturunan kami”, “orang yang telah mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian”; dan bahwa “hari lahir allah [Augustus] bagi seluruh dunia telah menjadi permulaan kabar baik (Yunani: euaggeliōn) tentang dirinya”./21/

Setelah kematiannya, Senat memutuskan (17 September 14 SM) untuk meng-apotheosis-kan dirinya dan memberikannya tempat di antara para Allah negara. Seorang bekas praetor bersumpah telah melihat figur Augustus naik ke sorga pada waktu dia dikremasi.

Seperti pada Aleksander Agung, mitos dan legenda di sekitar kelahiran dan kematian Augustus berkembang. 

Dikisahkan oleh Suetonius (Augustus 94.1-7) bahwa Atia (ibunya) pergi pada suatu tengah malam ke ritus suci Dewa Apollo; di kuil itu dia memasang tandunya. Ketika perempuan-perempuan lainnya sudah tidur, dia pun terlelap. Tiba-tiba seekor ular merayap menuju dirinya; melilitinya lalu segera meninggalkan dirinya kembali. 

Ketika dia bangun, dia menyucikan dirinya seperti lazimnya dilakukan kaum perempuan sehabis berhubungan seks dengan seorang pria. Segera pada tubuhnya muncul suatu tanda berwarna seperti seekor ular, dan tanda ini tidak bisa dihilangkannya. Karena itu dia selalu menghindar dari tempat pemandian umum. 

Augustus dilahirkan pada bulan yang kesepuluh setelah peristiwa itu, dan karena peristiwa itu dia dipandang sebagai anak Apollo. Sebelum kelahirannya, Atia bermimpi rahimnya di bawa ke atas menuju bintang-bintang lalu disebar ke seluruh bentangan langit dan bumi. Ayahnya, Oktavius, juga bermimpi seberkas cahaya matahari memancar keluar dari rahim Atia./22/

Kultus Kaisar Tiberius (memerintah 14-37 M) berkembang di tujuh kota di Asia Kecil; di sana untuknya didirikan kuil, lengkap dengan imam-imamnya. Sebuah prasasti dari kota Myra di Lycia memuat pernyataan berikut: 

“Rakyat Myra (memberi penghormatan kepada) Kaisar Tiberius, Allah yang dimuliakan, anak dari para allah yang ditinggikan, Tuhan atas daratan dan lautan, sang pelindung dan penyelamat seluruh dunia.”/23/

Kaisar Kaligula (memerintah 37-41 M) pada satu pihak adalah seorang pemimpin yang dipuja-puja, tetapi di lain pihak dia adalah seorang pemimpin dengan reputasi buruk karena kesewenang-wenangannya.

Tentang Kaligula, Philo pada satu pihak menulis bahwa “dia akan mencurahkan aliran-aliran berkat baru bagi Asia dan Eropa sebagai penyelamat dan pelindung (Yunani: sōtēr kai euergetēs), dengan mendatangkan nasib baik yang langgeng bagi semua orang dan bagi setiap individu” (Legatio ad Gaium 22). 

Tetapi pada pihak lain, Philo menyebut Kaligula sebagai seekor “binatang yang kejam” (Legatio ad Gaium 22); demikian juga Suetonius menyebutnya sebagai “monster” (Kaligula 22:1). Sebutan semacam ini muncul karena Kaligula membangun persaingan dengan allah-allah tradisional, khususnya terhadap Dewa Zeus Olympus. 

Ketika Philo pribadi muncul di hadapan Kaisar Kaligula untuk membela kepentingan orang-orang Yahudi di Aleksandria, sang Kaisar menyalami Philo, “Jadi Saudara-saudara adalah orang-orang yang merendahkan allah-allah, orang-orang yang tidak percaya bahwa akulah Allah” (Legatio ad Gaium 353)./24/

Sebuah prasasti yang dibangun oleh Majelis kota Efesus di Asia Kecil sekitar tahun 38 M untuk memuliakan Gaius Julius Caesar Germanicus (atau Kaisar Kaligula) memuat tulisan ini: 

“Majelis dan penduduk kota-kota (Efesus dan Yunani), yang tinggal di Asia dan bangsa-bangsa (mengakui) Gaius Julius, anak dari Kaisar Gaius, sebagai Imam Besar dan Penguasa Absolut, ... Allah yang kelihatan yang dilahirkan dari (dewa-dewa) Ares dan Afrodite, sang Penyelamat kehidupan manusia seluruhnya.”/25/

Kaligula tidak dideifikasikan setelah kematiannya. Tentu karena sisi-sisi tercela dari kepemimpinannya.

Untuk Kaisar Klaudius (memerintah 41-54 M), hanya setelah kematiannya dibangun sebuah altar dan kuil di Kamulodunum di Britania Raya; di situ dia dipuja sebagai Allah. Sebelumnya di tempat itu berdiri sebuah altar untuk Dewi Roma dan Allah Augustus./26/

Tentang Kaisar Vespasianus (69-79 M) dikatakan bahwa ketika dia sedang menanti ajal, berkatalah dia, “Celakalah! Aku kira aku sedang menjadi suatu Allah” (Suetonius, Vespasianus 23.4). Menurut Suetonius (Domitianus 13.2), Kaisar Domitianus memakai ungkapan Dominus et deus noster, “Tuhan dan Allah kita”, ketika mengacu kepada dirinya sendiri pada waktu dia menulis surat dan mengeluarkan edik.

Penutup

Dunia sosiokultural, religius dan politis Yunani-Romawi kuno yang menjadi konteks historis-kultural dan politis kehidupan berbagai komunitas Kristen yang didirikan oleh rasul Paulus ditandai oleh “pluralisme” dan toleransi yang ramah di dalam kehidupan kultis keagamaan. 

Pada masa Paulus, di provinsi-provinsi kekaisaran Romawi sebelah timur, tidak ada satu “agama” kekaisaran yang resmi diterima. Praktek-praktek kultis keagamaan yang berbagai jenis diterima dengan toleran./27/

Pada masa Paulus aktif dengan kegiatan-kegiatan misioner evangelistiknya (tahun 34-64) di kawasan-kawasan Laut Tengah utara, khususnya di Asia Kecil, Makedonia dan Akhaia, kekristenan di dunia Yunani-Romawi dapat cepat berkembang tanpa hambatan dari pihak pemerintah Roma./28/

Selain harus mempertahankan kesatuan internal yang kokoh, yang diikat oleh suatu pengakuan atas Allah yang satu dan Tuhan yang satu, kekristenan yang tumbuh sebagai suatu kultus di tengah dunia religius yang majemuk juga harus terlibat persaingan untuk memperebutkan anggota-anggota baru dengan kultus-kultus keagamaan lainnya./29/

Sebelum Kaisar Konstantinus berkuasa pada abad keempat, kekristenan bukanlah suatu agama resmi yang dilindungi negara, melainkan salah satu agama dalam konteks keagamaan dunia Yunani-Romawi yang majemuk. Pada masa itu, ada banyak allah dan ada banyak tuhan yang disembah. Dan kekristenan harus berjuang di lapangan ideologis politis untuk menentukan tuhannya sendiri, yang sebisa mungkin harus lebih tinggi dari tuhan-tuhan Yunani-Romawi, atau sedikitnya setara dengan tuhan-tuhan itu.

Di luar konteks persaingan ideologis politis tuhan-tuhan itu, Yesus tidak akan dipertuhankan oleh kekristenan. Jadi, jika ditempatkan pada zaman dan konteks religiopolitis dan alam pemikiran kehidupan komunitas-komunitas kekristenan awal, maka pengagungan dan pemuliaan Yesus sampai Dia diberi status ilahi adalah hal yang sudah sepatutnya terjadi. 

Lantas, apakah Yesus Kristus betul-betul Tuhan pada diri-Nya sendiri? Jawabannya dapat ditemukan dan dibuktikan pada jalan kehidupan dan kebajikan mulia serta prestasi agung para pengikut-Nya yang setia dan ikhlas. Komunitas-komunitas Kristen awal dulu mengklaim dan memberitakan bahwa kehidupan mereka diubah dengan real oleh Roh Yesus Kristus. Roh yang sama ini jugalah yang membentuk kehidupan orang Kristen di segala zaman dan tempat. 

Lewat deifikasi Yesus inilah, umat-umat Kristen perdana dulu mendapatkan semangat hidup dan kekuatan perjuangan mereka untuk bertahan dan berkembang. Mereka dapat berkembang tentu juga karena manajemen ketahanan dan pertumbuhan diri mereka telah dijalankan dengan bagus.

Catatlah, membawa masuk doktrin syirik yang berasal, katakanlah, dari Jazirah Arabia abad ketujuh ke dunia Greko-Romawi sebagai konteks historis religiopolitik kelahiran kekristenan awal di abad-abad perdana M, lalu memaksakan doktrin tersebut dikenakan pada agama-agama dunia Greko-Romawi, termasuk pada agama Kristen yang mendeifikasi Yesus Kristus, adalah suatu sikap, pendirian dan perlakuan yang anakronistis dan etnosentristis. 

Setiap agama lahir dalam konteks sejarah, konteks sosiobudaya, sosiopolitis dan religiopolitis, dan dalam suatu sistem sosial yang melahirkan bahasa, masing-masing yang khas. Karena itu juga setiap agama harus dipahami dan ditafsir pertama-tama dalam jejaring, tenunan dan ikatan dengan berbagai konteks tersebut. 

Setiap agama memiliki texture (Latin: textura) atau tenunan sendiri-sendiri, yang merupakan rajutan dari berbagai benang konteks sejarah, konteks sistem sosiobudaya, lingkungan alam pemikiran, dan lingkungan dunia sastrawi sekitar.

Jika dicabut dari berbagai konteks kelahiran masing-masing, setiap agama berubah menjadi roh-roh yang tak berpijak di Bumi tetapi bergerak melayang-layang. Wajah si penafsirnya yang hidup di zaman dan tempat yang lain menjadi wajah roh-roh tersebut. Inilah anakronisme alias salah zaman, salah era, dan etnosentrisme alias salah budaya, salah sistem sosial, salah alam pemikiran, dan salah kebangsaan.


Catatan-catatan

/1/ Luther H. Martin, Hellenistic Religions: An Introduction (New York Oxford: Oxford University Press, 1987) 72, 76.

/2/ Hans-Josef Klauck, The Religious Context of Early Christianity: A Guide to Graeco-Roman Religions (Edinburgh: T&T Clark, 2000) 132.

/3/ David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study of the Gospels (Minneapolis: Fortress Press, 1994²) 165-168.

/4/ Helmut Koester, Introduction to the New Testament. Vol. 1: History, Culture and Religion of the Hellenistic Age (New York - Berlin: Walter De Gruyter, 1987 [1982]) 188.

/5/ Klauck, The Religious Context, 139.

/6/ Lebih lanjut, lihat artikel “The Error of the Long-haired Jesus” dalam http://www.askelm.com/secrets/sec103.htm; dan Jefferson Monet, “Feature Story: Serapis (Sarapis), the Composite God” dalam http://www.touregypt.net/featurestories/serapis.htm.

/7/ Koester, Introduction to the New Testament, 1. 372.

/8/ Klauck, The Religious Context, 140.

/9/ Klauck, The Religious Context, 141-142. Bdk. Martin, Hellenistic Religions, 117.

/10/ Koester, Introduction to the New Testament,1.174.

/11/ Klauck, The Religious Context, 156-157, 159.

/12/ David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 124.

/13/ Lebih jauh tentang Apollonius dari Tyana, lihat Klauck, The Religious Context, 168-177; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 203-238.

/14/ Tentang ini, lihat Klauck, The Religious Context, 253-261.

/15/ Klauck, The Religious Context, 261-262.

/16/ Lebih jauh, lihat Klauck, The Religious Context, 266-274; juga Koester, Introduction to the New Testament, 1.6-12; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 131-132.

/17/ John Noble Wilford, "More Clues in the Legend (or Is It Fact?) of Romulus", The New York Times, June 12, 2007, https://www.nytimes.com/2007/06/12/science/12rome.html.

/18/ Andrew Slayman, Marco Merola, Andrea Candarini, and Albert Ammerman, "Origins of Rome", Archaelogy Vol. 60, No. 4, July/August 2007, JSTOR, pp. 22-27, https://www.jstor.org/stable/41780263.

/19/ Lihat H. Chadwick, "St. Paul and Philo of Alexandria", BJRL 48 (1966), 301. Juga LCL, 2.288; juga L. Ginzberg (Legends, 6.152 n. 904) yang berpendapat bahwa ketika T. Moses (1.15) dan Ps.Philo (Bib.Ant, 19-20 d) menekankan bahwa Musa dikuburkan di area pemakaman umum, ini dimaksudkan untuk menggempur pandangan bahwa Musa tidak mati tetapi diangkat ke sorga. 

/20/ Klauck, The Religious Context, 289-294.

/21/ Tentang kaitan prasasti tentang kelahiran Kaisar Augustus ini dengan kisah kelahiran Yesus dalam Injil Lukas, lihat Richard A. Horsley, The Liberation of Christmas: The Infancy Narratives in Social Context (New York: Crossroad, 1989) 27ff.

/22/ Lihat Klauck, The Religious Context, 294-301; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 132-133.

/23/ Klauck, The Religious Context, 302.

/24/ Klauck, The Religious Context, 303-304.

/25/ Bart D. Ehrman, The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings (New York, Oxford: Oxford University Press, 20043) 30.

/26/ Klauck, The Religious Context, 305.

/27/ Wayne A. Meeks, “Breaking Away: Three New Testament Pictures of Christianity’s Separation from the Jewish Communities”, dalam Jacob Neusner and Ernest S. Frerichs, eds., “To See Ourselves As Others See Us”: Christians, Jews, “Others” in Late Antiquity (Chico, California: Scholars Press, 1985) 104; Bart D. Ehrman, The New Testament, 30-33.

/28/ Penganiayaan atas orang-orang Kristen di kota Roma atas perintah Nero (tahun 54-68) terjadi bukan karena mereka beragama Kristen, tetapi karena mereka dijadikan kambing hitam atas peristiwa kebakaran besar selama sembilan hari yang melanda kota Roma pada Juli 64 (Tacitus, Annals 15.44). Lihat: Lester L. Grabbe, Judaism from Cyrus to Hadrian. Vol. 2: The Roman Period (Minneapolis: Fortress Press, 1992) 2.445; Bart D. Ehrman, The New Testament, 430.

Sejauh terdokumentasi, reaksi resmi pertama dari kekaisaran Roma terhadap kekristenan muncul dari Pliny (yang lebih muda), gubernur Roma untuk propinsi Bithynia-Pontus di Asia Kecil, ketika ia pada tahun 111 menulis surat kepada Kaisar Trajanus (98-117), Surat Pliny kepada Trajanus (10.96). 

Di dalam suratnya ini, Pliny meminta pendapat dan petunjuk sang Kaisar perihal bagaimana dia telah dan harus menangani suatu agama baru, kekristenan. Di dalam suratnya ini, dia menceritakan usaha-usaha yang telah dilakukannya untuk menghambat orang-orang Kristen menghayati agama mereka, dan perihal bagaimana dia dapat memaksa mereka berpaling meninggalkan Kristus untuk menyembah dewa-dewa Romawi dan sang Kaisar sendiri, dan perihal bagaimana dia mengeksekusi mereka yang membangkang. 

Dia berprasangka bahwa kekristenan sebagai suatu gerakan keagamaan yang baru adalah suatu “perhimpunan politik” yang dengan cepat dapat menjadi suatu ancaman bagi kekuasaan pemerintahan Romawi yang sah. Tetapi dia tidak dapat membuktikan hal ini; yang dia temukan justru kekristenan, dalam penilaiannya, sebagai suatu bentuk “takhayul yang berlebihan dan bejat.” 

Lihat Luther H. Martin, Hellenistic Religions: An Introduction (New York Oxford: Oxford University Press, 1987) 124-125; Helmut Koester, Introduction to the New Testament. Vol. 1: History, Culture and Religion of the Hellenistic Age (New York - Berlin: Walter De Gruyter, 1987 [1982]) 370-71; Vol. 2: History and Literature of Early Christianity, 334ff.; Ehrman, The New Testament, 430-431.

/29/ Jack T. Sanders, Schismatics, Sectarians, Dissidents, Deviants. The First One Hundred Years of Jewish-Christian Relations (London: SCM Press, 1993) 255.




Thursday, December 25, 2008

Pornografi dalam Teks Keagamaan


Maulana Jalaluddin Rumi lahir di Afghanistan pada tahun 1207, tinggal di Konya (260 km dari Ankara), dan meninggal pada tahun 1273. 

Rumi adalah seorang sufi yang banyak melakukan perenungan mendalam, spontan, merasuk kalbu, mistikal dan mencerahkan mengenai cinta. Oleh Coleman Barks, Rumi dijuluki “seorang kekasih yang tercerahkan” (Rumi: The Book of Love, 2003: xviii). 

Sementara orang menyebut Gilani (wafat 1166) sebagai Qutb (kutub) kekuasaan, dan Ibnu Arabi (1165-1249) sebagai kutub pengetahuan, Rumi dipandang sebagai kutub cinta. 

Teks sufistik tentang cinta karya Rumi telah menjadi teks keagamaan mistikal penting, inspiratif dan berwibawa bagi kaum Muslim, khususnya bagi muslimin dan muslimah yang mendalami sufisme dan tertarik pada hakikat cinta. 

Lebih dari itu, sekarang ini teks-teks cinta Rumi telah menjadi teks inspiratif yang dibaca dan diresapi oleh umat manusia lintas agama, di Timur dan di Barat. 

Renungan dan pengalaman mistikal Rumi tentang cinta ini dituangkan dan dilantunkan dalam puisi-puisinya, puisi-puisi tentang cinta, cinta ilahi, dan cinta persahabatan antara dua orang manusia, khususnya cinta antara dirinya dan diri Syamsi Tabriz, sahabatnya dalam ziarah mistikal spiritualnya. 

Cinta ada, kata Rumi, bukan untuk dikatakan atau dibicarakan, tetapi untuk dialami dan dihayati. 

Tentang cinta ilahi, Rumi bersajak,

Pergilah ke pangkuan Allah, maka Allah meraih engkau ke dada-Nya dan mencium engkau dan menyatakan Diri-Nya supaya engkau tidak lari meninggalkan-Nya tetapi meletakkan seluruh hatimu pada-Nya, siang dan malam


dan tentang cinta persahabatan, Rumi bergelora,

Lihatlah, aku telah mencoba segala sesuatu, berpaling ke segala arah. 
Tetapi tidak pernah kutemukan seorang sahabat sebaik engkau. Aku kecap setiap mata air, setiap buah anggur, tetapi tidak pernah kukecap anggur semanis engkau…

Tetapi, puisi-puisi Rumi tentang cinta juga mencakup puisi-puisi tentang cinta seksual erotik antara laki-laki dan perempuan. Melebur cinta ilahi dan cinta erotik, Rumi berkata,


“[I]ngatlah, cara kamu bermain cinta adalah cara Allah untuk berada bersama kamu.”

Sehabis menyatakan hal ini, Rumi pun melalui puisi cintanya langsung menuturkan sebuah kisah yang sangat sensual erotik.

Konon, Rumi berkisah, ada seorang Kalifah Mesir yang jatuh cinta pada seorang selir dari Raja Mosul, yang gambar wajahnya dibuat dan diperlihatkan seseorang kepadanya.


Untuk mendapatkan perempuan cantik yang tiada taranya itu, sang Kalifah menugaskan Kaptennya untuk mengepung kota Mosul berminggu-minggu lamanya. Korban-korban pun banyak berjatuhan. 

Akhirnya, Raja Mosul mengutus seorang duta untuk menanyakan mengapa sang Kalifah memerangi negerinya. 

Ketika diketahui dari sang Kapten bahwa sang Kalifah menginginkan selirnya, Raja Mosul itu pun tanpa berat hati menyerahkan perempuan cantik itu kepada sang Kapten. 

Apa mau dikata, ketika sang Kapten melihat perempuan cantik itu, dia pun jatuh cinta kepadanya, sama seperti sang Kalifah. 

Malam harinya, sang Kapten bermimpi basah menyetubuhi sang selir itu. Ketika dia bangun dari tidurnya, dia pun menginginkan perempuan itu. 

Tinimbang membawa perempuan itu langsung kepada sang Kalifah, sang Kapten menggelar tenda di sebuah padang rumput yang terpencil. Perempuan cantik itu dibawa masuk ke dalam tendanya itu. Disobeknya celana panjang perempuan itu, lalu dia pun meletakkan tubuh telanjangnya di antara kedua paha perempuan itu. Alat kelamin sang Kapten berereksi kuat. 

Pada saat yang bersamaan, di luar tenda para prajurit berteriak-teriak keras. Rupanya, ada seekor singa hitam telah mendatangi perkemahan mereka dari rawa-rawa di sekitar mereka dan kini berada di antara kuda-kuda. 

Dalam keadaan telanjang dan alat vital menegang kuat, sang Kapten segera melompat keluar dengan pedang terhunus di tangannya. Sang Kapten dengan satu kali sabetan berhasil memenggal kepala singa itu. 

Lalu, dia pun berlari kembali kepada perempuan itu. Ketika dia sampai kembali pada perempuan cantik itu, alat kelaminnya bahkan lebih tegang lagi dari sebelumnya. 

Melihat kejantanan sang Kapten, sang selir itupun kagum. Maka enerji besar kedua makhluk seksual ini pun menyatu, dalam persetubuhan. 

Kemudian, sang Kapten berkata kepada perempuan cantik itu, “Sepatah kata pun jangan kau katakan tentang hal ini kepada sang Kalifah!” 

Dia pun membawa perempuan itu, dan menyerahkannya kepada sang Kalifah. Melihat bahwa perempuan itu seratus kali lebih cantik daripada yang dia bisa bayangkan berdasarkan gambarnya, sang Kalifah pun benar-benar jatuh cinta. 

Maka dia pun ingin sekali menyetubuhi perempuan itu. Ketika dia, dengan alat kelamin sudah demikian tegang, hendak bersenggama dengan perempuan itu, di ruangan terdengar bunyi kecil seperti suara seekor tikus.

Rumi menulis, itulah suara dari Allah supaya sang Kalifah menghentikan dorongan gairah seksualnya. 


Maka, dikisahkan lebih jauh, alat vital sang Kalifah pun segera loyo dan nafsu birahinya lenyap sama sekali. 

Ketika perempuan itu melihat keadaan sang Kalifah, dan mengingat kejantanan luar biasa dari sang Kapten sebelumnya, maka dia pun tertawa lama, terbahak-bahak. 

Setelah dia menguasai diri kembali, perempuan itu pun menceritakan semuanya, tentang kejantanan sang Kapten dan persetubuhan mereka, yang sangat bertolak-belakang dengan keadaan sang Kalifah yang dibuat loyo hanya oleh denyit seekor tikus.

Sang Kalifah pun kini memahami segalanya dengan jelas. Kini dia menyadari akan kesombongannya memamerkan kekuasaannya untuk merebut perempuan itu dari Raja Mosul. 


Dia pun insaf bahwa barangsiapa melukai seseorang, dia pun akan dilukai juga. 

Akhirnya dia memutuskan untuk memutus mata-rantai pengumbaran nafsu syahwat laki-laki itu. 

Maka, kata sang Kalifah kepada perempuan itu, “Sekarang, dalam tindakan rakhmatku, aku akan mengirim engkau kembali kepada sang Kapten. Semoga kalian berdua dapat menikmati kesenangan.”

Lalu Rumi menutup kisah puitis erotis sensualnya itu dengan kata-kata ini: 


“Inilah kejantanan seorang nabi. Sang Kalifah mengalami impotensi seksual, namun, dalam kondisi itu, kemanusiaannya begitu kuat dan digdaya. Hakikat terdalam kemanusiaan sejati seseorang adalah kemampuannya untuk mengalahkan pengumbaran nafsu sensual. 

Kekuatan libido sang Kapten sangat tidak berharga jika dibandingkan dengan sifat ksatria sang Kalifah dalam dia mengakhiri siklus menabur dorongan syahwat dan menuai kerahasiaan dan kejahatan.”

Jelas, di luar pesan moral yang disampaikan pada bagian akhirnya, kisah puitis erotik karya Rumi di atas, jika dibaca dalam gaya bahasa aslinya dan dalam teks lengkapnya, akan digolongkan sebagai pornografi. 


Kalau pun teks Rumi itu dicap sebagai pornografi, teks pornografis ini adalah teks sufistik religius mistikal yang amat disegani dan disanjung. 

Ketika teks keagamaan mau mengajar dan membagi pengalaman para sufi tentang cinta dan tentang kehidupan moral yang berdisiplin dan ksatria, teks-teks bercorak pornografis ternyata ikut juga dipakai sebagai media pengajaran dan penyampaian wahyu ilahi.

Kasus bahwa teks keagamaan juga berisi pornografi ditemukan juga pada banyak teks keagamaan lainnya. 


Pada kesempatan ini perhatian perlu diberi kepada kitab suci gereja, Alkitab, khususnya Kitab Kidung Agung dalam kanon Perjanjian Lama. Dalam kitab ini, bermain cinta dilukiskan secara puitis metaforis demikian:

Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi
Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya
Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel. Kata-katamu manis bagaikan anggur!”
(Kidung Agung 7:6-9a)

Ajakan bermain cinta dari laki-laki kepada pacarnya, digambarkan demikian:

Aku tidur, tetapi hatiku bangun
Dengarlah, kekasihku mengetuk.
“Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku,
karena kepalaku penuh embun dan rambutku penuh tetesan embun malam!”
“Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan mengenakannya lagi?”
(Kidung Agung 5:2-3)

Keintiman dengan sang kekasih diungkapkan demikian,

Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur,
tersisip di antara buah dadaku
. (Kidung Agung 1:13).

Untuk menghindari sentuhan erotik sensual dari teks-teks dalam Kidung Agung itu, teks-teks itu dalam penafsirannya dialegorisasi atau dirohanikan, sehingga hubungan cinta erotik antara dua manusia berlainan jenis itu ditafsir sebagai hubungan cinta antara Allah dan umat Israel atau antara Yesus Kristus (sebagai mempelai pria) dan gereja (sebagai mempelai perempuan). 


Bagaimana pun juga, Kitab Kidung Agung memang memuat teks-teks sensual erotik. Tetapi, dengan adanya Kidung Agung dalam kanon kitab suci gereja, mistisisme yang diungkap dalam bahasa sensual erotis haruslah juga boleh dihayati oleh warga gereja.

Akhir kata, harus ditegaskan bahwa teks-teks keagamaan ternyata bisa tidak terlepas dari pornografi. 


Ketika suatu teks pornografis masuk ke dalam teks keagamaan, maka hancur leburlah batas antara teks yang tidak bermoral dan teks yang bermoral. 

Meskipun bercorak pornografis, teks-teks keagamaan itu tidak merusak, tetapi membangun, moral religius, khususnya bagi kalangan mistikus. 

Jadi, penting untuk kita ketahui dulu, apa tujuan orang ketika dia memakai dan mengajukan teks atau gambar porno, sebelum kita menjatuhkan vonis moral dan politis kepadanya.

Salam,

Ioanes Rakhmat