Showing posts with label Deifikasi. Show all posts
Showing posts with label Deifikasi. Show all posts

Saturday, September 11, 2010

5 Roti dan 2 Ikan, Yang Makan 5000 Orang



Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Tetapi, jika betul, mengapa masih ada kelaparan begitu parah dalam kehidupan dunia di abad ke-21 ini? Ironisnya, yang sekarang terjadi adalah mukjizat 5000 roti dihabiskan tuntas hanya oleh 5 orang lelaki berperut buncit!
― ioanes rakhmat

N.B. editing mutakhir 20 Agustus 2021


Pendahuluan

Kalangan Kristen apologet literalis menerima tuturan injil-injil Perjanjian Baru tentang Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, dengan sisa 12 bakul penuh (Markus 6:30-44 dan par.), sebagai tuturan sejarah faktual apa adanya.

Bagi mereka, dengan memakai iman sebagai senjata pamungkas pertahanan diri, kisah ini adalah kisah sejarah faktual, yang hanya perlu diterima kebenarannya tanpa ragu, dan tak perlu diadakan investigasi saintifik untuk memeriksa faktualitas kisah ini. 

Mereka sama sekali mengenyampingkan berbagai ciri dan sifat hiperbolik serta tujuan kisah-kisah hebat skriptural religius yang ditulis sebagai media propaganda ideologis, devosional, misiologis, dan apologetis.

Iman keagamaan memang kerap memblokir pemikiran kritis dan maju, lalu mematikannya selamanya. 

Tetapi ada jenis iman keagamaan yang mendorong orang untuk selalu mencari tahu hal-hal yang baru, atau memotivasi orang untuk dengan kritis dan berwawasan mengevaluasi hal-hal lama yang sudah dimapankan, untuk menemukan hal-hal yang baru dan mengejutkan, dan lebih maju. 



Kuriositas atau rasa ingin tahu adalah suatu motor kognitif penggerak yang membuat ilmu pengetahuan terus maju dan berkembang. Kuriositas mendorong orang mencari dan mengetuk, untuk menemukan dan gerbang ke pengetahuan dibuka. 


Sabda Yesus, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan...segenap akal budimu"; juga "Carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketuklah, maka pintu akan dibukakan." Akal budi dan rasa ingin tahu atau kuriositas, diberi tempat luas oleh Yesus dalam orang menjadi para pengikut-Nya. Inilah iman yang mencerdaskan dan memperluas cakrawala pengetahuan.

Kuriositas perlu dibudidayakan, dikembangkan, sehingga makin membesar dan meluas, dan jangan anda "pendam dalam tanah". 

Ketika kuriositas makin berlipat ganda, kemampuan anda untuk berpikir kritis evaluatif makin membesar juga. Bahkan anda akan dengan gembira dan sadar penuh memikirkan dengan kritis setiap pemikiran kritis anda sendiri. "Thinking about your own thinking". Jika ini dapat anda lakukan, anda memiliki apa yang dinamakan "metacognitive skill" sebagai salah satu "soft skills" yang kini dipandang lebih berperan besar dibandingkan "hard skills" dalam membuat anda hidup sukses.

Jika begitu, mengapa anda malah memilih iman yang mematikan akal kritis anda?

Di saat pemikiran kritis sudah dibunuh, maka orang pun hanya bisa menyangkal fakta-fakta, hidup "in denial". Tentang sindroma psikologis "in denial", saya sudah tulis panjang lebar. 

Bacalah jika anda mau menjadi orang yang membuka diri terhadap fakta-fakta, dan tidak digigit oleh fakta-fakta, tetapi, sebaliknya, fakta-fakta makin memperdalam pengenalan diri anda dan memperluas horizon pengetahuan dan kearifan kehidupan anda, jauh ke depan. Ini tautannya https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/07/denial-apa-penyebabnya.html?m=0./1/

Ketika sudah terkerangkeng oleh "denialisme", maka orang pun memberi reaksi makin keras dan membuta terhadap fakta-fakta dan kebenaran-kebenaran yang sudah diargumentasikan. Selain itu, mereka makin yakin tanpa dasar bahwa diri merekalah yang tetap benar. Lalu mereka menyerang balik kebenaran-kebenaran dengan caci maki yang sangat keras. 

Alih-alih memakai argumen-argumen cerdas dalam debat terpelajar, mereka malah memakai argumentum ad hominem: hantam kromo menyerang pribadi orang yang berpendirian berbeda, yang mereka tidak kenal, yang mereka sama sekali tidak pernah jumpai. Mereka menusuk dari belakang. Mereka menebar fitnah tanpa bisa ditahan, sementara mulut mereka yang sama memuji-muji Yesus.

Itulah semua yang dinamakan "backfire effect" atau efek bumerang, yang umum terjadi jika kalangan terpelajar sedang berhadapan dengan para apologet pecundang.

Tentu, manusia tidak dapat hidup dengan baik jika tanpa kepercayaan, tanpa iman. Bisa percaya dan beriman adalah salah satu kemampuan yang bersumber dari kapasitas kognitif otak kita. 

Tetapi, sekali lagi, bentuk dan isi iman tidak cuma satu. Ada banyak bentuk dan isi iman keagamaan yang membangun kehidupan, menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuan dan kecerdasan, dan membudidayakan kebajikan dan keagungan. Rangkullah iman yang membangun semacam itu, dan lepaskanlah iman yang akan merusak kehidupan dan kebaikan, yang membunuh akal budi, kecerdasan dan pengetahuan.

Ingatlah, Tuhan itu mahatahu, dus Dialah sumber segala pengetahuan. Jadi, orang yang berjalan mengikuti rasa ingin tahu mereka, untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang makin banyak dan tanpa batas, adalah orang-orang yang sedang berjalan menuju Tuhan, lewat jalan ilmu pengetahuan yang tak memiliki ujung. Niscaya, para ilmuwan yang berintegritas adalah hamba-hamba Tuhan juga, para pencari dan penemu Tuhan tahap demi tahap, kawan-kawan Tuhan.

Well, kontras dengan posisi kalangan literalis skriptural itu, kalangan Kristen kritis non-literalis memahami kisah mukjizat pemberian makan 5000 orang ini sebagai sebuah kisah teologis, sebuah metafora, sebuah perumpamaan, a parable. Tentu, sebuah metafora besar. Di akhir tulisan ini, saya akan menjelaskan metafora itu apa. Sudah pasti, metafora bukan kiasan.

Sebagai sebuah metafora, sebuah kisah teologis besar, kisah ini tidak bermaksud mengisahkan sejarah faktual apa adanya, tetapi mau menyampaikan pesan-pesan teologis dalam rangka pembinaan komunitas dan pembangunan devosi atau dalam rangka propaganda misiologis agama.

Sebuah pesan teologis bukanlah sebuah berita tentang suatu peristiwa sejarah, tetapi sebuah berita yang disampaikan untuk membangkitkan antara lain sebuah penyembahan dan pengagungan, sebuah sikap devosional reverensial, suatu sikap takjub, terhadap figur-figur besar yang dikisahkan di dalam kisah-kisah skriptural. 

Sejarah bersangkutpaut dengan dunia ini, "this world"; sedangkan kisah-kisah teologis atau teologi pada umumnya terfokus pada, dan masuk ke dalam, dunia yang lain, "the otherworld", dunia transenden, dunia nilai-nilai, dunia adinilai, dunia yang ada "di seberang" dunia sehari-hari kita, kawasan yang "melampaui" kawasan rutin sehari-hari kita yang dapat kita persepsi dengan lima indra kita.

Well, mari kita adakan investigasi kritis lebih jauh terhadap kisah ini. Akal yang cermat adalah karunia besar dari Tuhan. Perlu diulang: Kasihi Tuhan dengan segenap akal-budimu. Itu permintaan Yesus. Ucap Yesus juga, "Carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketuklah, maka pintu akan dibukakan." 

Jelas, Yesus mendorong orang untuk mengikuti rasa ingin tahu mereka. Tak pernah Yesus mengajar para pengikut-Nya untuk membenci dan menolak keras akal budi, rasa ingin tahu dan pengetahuan.

Yang kita punya kisah-kisah

Harus diingat betul-betul bahwa yang ditemukan dalam Alkitab bukan mukjizat-mukjizat, tetapi kisah-kisah tentang mukjizat. Pembaca masa kini bukanlah penyaksi mukjizat-mukjizat yang dikisahkan di dalamnya, tetapi hanya sebagai para pembaca kisah-kisah itu. 

Kisah-kisah tentang mukjizat harus diterima apa adanya, yakni sebagai kisah-kisah. Memperlakukan kisah-kisah tentang mukjizat sebagai sama dengan fakta-fakta mukjizat empiris objektif adalah suatu lompatan yang terlampau jauh, melampaui keterbatasan kisah-kisah yang ditulis sebagai karya-karya sastra.

Selain itu, harus senantiasa diingat bahwa kisah-kisah mukjizat dalam kitab suci apapun tak pernah dimaksudkan untuk ditujukan kepada para pembaca modern oleh para penulis kisah-kisah ini dulu.

Kita sebagai pembaca modern atas kisah-kisah dalam kitab suci adalah para penyelundup, yang memaksa masuk ke dalam dunia kisah kuno dan ke dalam dunia kuno para penulis kisah-kisah ini. Selalu ada kesenjangan sejarah (= kesenjangan temporal) dan kesenjangan budaya (= kesenjangan pemikiran) antara kita para pembaca modern dan para penulis kitab-kitab suci kuno.

Lagi pula, dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Selalu akan ada kesenjangan antara apa yang dikisahkan (misalnya oleh penulis Injil Markus di tahun 70) dan apa yang faktual telah terjadi (yang dilakukan Yesus pada awal tahun 30-an ketika Yesus aktif di masa dewasa). 

Kalaupun para penulis kisah-kisah mukjizat memakai tradisi-tradisi lisan yang berawal pada masa kehidupan Yesus, semua tradisi lisan disebarkan tidak apa adanya, melainkan selalu mengalami penyuntingan, editing, sehingga mengalami banyak perluasan, penambahan, pembesar-besaran, dan perubahan, ataupun penyusutan, sehingga kisah-kisah ini makin jauh dari fakta-fakta di masa lampau. Penyuntingan juga terjadi pada tradisi-tradisi lisan yang sudah dibuat tertulis.

Penyuntingan adalah suatu langkah hermeneutik yang serius dan penting, dilakukan untuk berbagai kebutuhan, antara lain untuk merelevansikan atau mengaktualkan cerita dan kisah zaman dulu yang ditulis di zaman lain dan di tempat lain, bagi zaman, lokasi dan persoalan lain yang menjadi konteks kehidupan para penyunting kemudian hari.

Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis secara rasional ilmiah, dengan mengajukan antara lain pertanyaan-pertanyaan berikut:

• dalam konteks sosial-kultural historis dan religius apa kisah-kisah itu ditulis;

• faktor-faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah-kisah itu;

• untuk kisah-kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah-kisah paralel yang dapat ditemukan dalam dunia Greko-Romawi, dan dalam Perjanjian Lama;

• apa tujuan penulisan kisah-kisah tentang mukjizat dalam konteks sejarah dan kebudayaan luas dunia Greko-Romawi, dan dalam konteks dunia sastra kontemporer sekitar;

• ditempatkan dalam konteks zamannya dan dalam konteks temuan-temuan arkeologis mutakhir dan kajian-kajian antropologis lintas-budaya, dan jika ditinjau dari sains modern, apakah ada hal-hal yang dikisahkan yang tidak mungkin terjadi dalam sejarah;

• termasuk ke dalam jenis sastra (literary genre) apakah kisah-kisah tentang mukjizat itu. Kebenaran dan cara penyampaian suatu jenis sastra berbeda dari kebenaran dan cara penyampaian jenis sastra lainnya;

• dalam konteks seluruh dokumen sastra yang memuat kisah-kisah mukjizat itu, apa fungsi sastrawi dari kisah-kisah tentang mukjizat itu;

• dan mengapa kisah-kisah ini muncul dalam suatu konteks sastra tertentu dan bukan dalam suatu konteks sastra lainnya.

Kisah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (laki-laki) dengan lima roti dan dua ekor ikan, pertama-tama adalah kisah, bukan fakta langsung. Di sini kita berhadapan dengan kisah injil tentang mukjizat Yesus, bukan dengan mukjizat Yesus itu sendiri.

Oh ya, warga gereja kebanyakan tidak menyadari bahwa hanya dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan makanan itu kepada lima ribu orang itu (Yohanes 6:11); sedangkan dalam injil-injil lainnya para murid Yesuslah yang membagi-bagikan makanan yang sebelumnya mereka telah terima dari Yesus. 

Perbedaan pengisahan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan sudut pandang tentang siapa Yesus bagi penyusun Injil Yohanes.

Sejalan dengan kristologi "dari atas" ("high Christology") Injil Yohanes secara keseluruhan yang memandang Yesus sebagai sosok ilahi yang "sudah ada pada mulanya", yang turun ke dalam dunia "bawah" dengan "menjadi manusia", Yesus di dalam kisah pemberian makan dalam Injil Yohanes ini ditampilkan sebagai seorang yang serba mandiri dan sanggup sendirian mengatasi segala permasalahan dan tantangan yang mendatangi diri-Nya. 

Kenyataan adanya perbedaan tekstual semacam itu sudah tidak memungkinkan orang untuk memperlakukan semua kisah dalam injil-injil PB sebagai kisah-kisah sejarah murni, "mere/pure history". 

Mana yang benar, Yesus sendiri yang membagi-bagikan, atau murid-muridnya yang mengedarkan makanan itu? Tak mungkin ada dua sejarah yang berlainan, untuk hanya satu kejadian! Salah satunya saja yang benar, atau keduanya salah sekaligus.

Tiga golongan penafsir

Terhimpunnya dalam satu hari orang laki-laki sampai lima ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak, yang datang dari berbagai tempat, bukanlah suatu kejadian mudah. Ini adalah sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan Yesus dengan aman-aman saja, mengingat baik Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea) maupun Roma (penjajah seluruh tanah Palestina zaman Yesus) akan segera bereaksi secara represif militeristik terhadap setiap usaha menghimpun massa dalam jumlah besar.

Represi telah terjadi pada Yohanes Pembaptis yang akhirnya dibunuh Herodes Antipas karena kekhawatirannya atas massa yang berjumlah besar pengikut Yohanes Pembaptis (baca tuturan tentang ini dalam tulisan sejarawan Yahudi Flavius Yosefus, Antiquities 18.116 dyb) dan pada kegiatan-kegiatan sejenis lainnya seperti telah dilaporkan juga oleh sejarawan Yahudi yang sama, Yosefus.

Jadi, dilihat dari konteks sosio-politis zaman Yesus, sangat mustahil kalau Yesus bisa menghimpun lima ribu orang laki-laki dengan diri-Nya tetap aman-aman saja.

Selain itu, harus diingat, pada zaman kuno total penduduk di kawasan-kawasan di sekitar tempat terjadinya pemberian makan lima ribu orang itu (Lukas 9:10 menyebut kota Betsaida sebagai lokasinya) mungkin sekali tidak mencapai angka lima ribu. Jauh lebih realistis jika angka 5000 ini dipandang sebagai sebuah hiperbola numerik.

Tafsiran supernaturalis

Ada tiga golongan penafsir atas kisah tentang mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini. 

Yang pertama adalah penafsir kalangan supernaturalis. Kalangan ini adalah para literalis skriptural yang tidak tahu sama sekali ilmu tafsir teks-teks kitab suci. 

Jika anda ingin tahu betul apa itu ilmu tafsir dan bagaimana menjalankannya, dan metode keilmuan apa saja yang ada dalam ilmu tafsir, bacalah tulisan saya "Langkah-langkah Menafsirkan Sebuah Teks Alkitab"/2/ dan "Metode-metode Ilmiah Tafsir Alkitab"./3/

Nah, kalangan literalis menyatakan bahwa Yesus, dengan kekuatan supernaturalnya, betul-betul faktual pernah melakukan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, dengan sisa dua belas bakul (orang dapat bertanya dari mana bakul-bakul ini berasal). 

Apa maksud dan tujuan kisah teologis ini dulu ditulis, dan apa pesan yang disampaikannya, mereka tidak mau tahu dan tidak tertarik untuk tahu. Bagi mereka, cukup yang sudah tertulis saja di Alkitab, tinggal dibaca dan diterima penuh, tak perlu ditafsir-tafsir. Inilah yang dinamakan literalisme skriptural. 

Para literalis sangat naif, tidak tahu, bahwa untuk menerjemahkan kisah ini dari bahasa Yunani koine (bahasa asli PB) ke bahasa Indonesia (atau bahasa lain), para penerjemah harus menafsirkan teks Yunani kisah ini. Kegiatan menerjemahkan niscaya adalah kegiatan menafsirkan. Tanpa penafsiran, tak akan pernah ada terjemahan teks apapun. 

Nah, jenjang penafsiran menjadi bertambah jika teks Alkitab anda bukan terjemahan langsung dari teks Yunani koine, tetapi dari teks Inggris, misalnya dari The New Revised Standard Version atau NRSV. Di Indonesia, orang yang menguasai bahasa Yunani koine sangat, sangat langka.

Ok-lah, jika mereka merasa puas dan berbahagia sebagai para literalis. Tetapi, apa betul mereka berbahagia? Dalam dunia modern masa kini yang dikendalikan oleh iptek dan wawasan pengetahuan yang jauh ke depan, literalisme skriptural adalah salah satu sumber stres besar jiwa manusia.

Nah, masalah dari tafsiran kalangan supernaturalis ini adalah kesulitan orang entah untuk membayangkan terhimpunnya bergunduk-gunduk roti dan ikan mendadak sehabis makanan-makanan ini (lima ketul roti dan dua ekor ikan) didoakan Yesus, atau pun untuk membayangkan bahwa di tangan para murid yang membagi-bagikan makanan itu akan langsung muncul roti-roti dan ikan-ikan baru tidak habis-habisnya sampai semua orang yang duduk berhimpun berkelompok-kelompok mendapat makanan.

Para mentalist dan illusionist dalam zaman modern yang piawai memakai trik teknologis dan trik mental untuk menyihir masyarakat juga pasti tidak bisa mengadakan kejadian semacam ini: faktual mengadakan gundukan roti secara mendadak bergunung-gunung di sekitar diri mereka, lewat mantra sim salabim albarabarakadabra!





Tafsiran rasionalis/naturalis

Penafsir kedua, golongan rasionalis atau golongan naturalis yang merasionalisasi kisah ini supaya natural, cocok dengan kewajaran, tanpa perlu mukjizat terjadi. Tapi ada biaya yang mereka harus bayar: pesan dan amanat penting kisah ini jadi hilang, lari entah ke mana.

Mereka menyatakan bahwa prakarsa Yesus dan para murid untuk membagi makanan itu kepada beberapa orang yang sedang duduk berkelompok di barisan terdepan telah mendorong orang-orang lain di dalam perhimpunan besar itu untuk juga membagi-bagi makanan yang mereka telah bawa dari rumah masing-masing kepada orang-orang lainnya, sehingga akhirnya semua orang mendapatkan roti dan ikan yang cukup, tanpa perlu mukjizat terjadi. Semua kejadiannya sangat natural, alamiah biasa.

Ok-lah. Tapi kesulitan tafsiran rasionalis ini adalah teks injil-injil jelas-jelas tidak berbicara tentang sharing of bread dan sharing of fish semacam itu. Tidak dikisahkan, ada kegiatan membagi-bagi roti dan ikan antarsemua orang dalam perhimpunan besar itu.

Sebaliknya, dalam injil-injil dikatakan bahwa orang-orang yang berhimpun di situ sama sekali tidak membawa makanan apa pun, kecuali "hanya" lima roti dan dua ekor ikan yang ada pada seorang anak, "tidak lebih" (Matius 14:17; Lukas 9:13; Yohanes 6:9).

Selain itu, angka 5000 orang lelaki yang berhimpun itu tentu saja harus dinyatakan sebagai angka yang sangat dibesar-besarkan, berdasarkan alasan yang sudah ditulis di atas.

Mungkin anda yang naturalis akan berpendapat, berbagi roti dan ikan semacam ini jauh lebih menyentuh perasaan kemanusiaan kita, jauh lebih ajaib dan mempesona, ketimbang Yesus dan murid-muridnya mengadakan gundukan-gundukan roti mendadak lewat mantera sim salabim albarabarakadabra

Tetapi harus diakui bisa saja hal yang dibayangkan kalangan penafsir rasionalis ini secara faktual historis benar. Tetapi, karena kejadian historis yang semacam ini tidak membuat Yesus tampil sakti mandraguna, maka, untuk mempersakti Yesus, sejarah disunting oleh para penulis kitab-kitab injil dalam Perjanjian Baru (mulai dari Markus) sehingga lahirlah kisah-kisah hebat tentang Yesus membuat mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini yang kita dapat baca sekarang dalam injil-injil PB. 

Kalau tafsiran kalangan rasionalis ini benar, tentu kita harus mengubah atau merasionalisasi angka 5000 menjadi mungkin maksimal 50 orang saja. 

Sudah menjadi suatu kecenderungan umum di kalangan orang Kristen perdana dulu untuk semakin lama semakin tinggi mempermuliakan, mempersakti dan mengagungkan Yesus, bahkan akhirnya sampai menempatkan Yesus setara dengan Allah sendiri, sebagai sang Firman yang "pada mulanya" "adalah Allah" dan "ada bersama dengan Allah" (Yohanes 1:1, di tahun 95). 

Kenapa kekristenan awal perlu mengglorifikasi dan mendeifikasi Yesus? 

Ya, pertama, karena berbagai komunitas Kristen awal memang lahir dan tumbuh dalam konteks religiopolitik dunia Laut Tengah kuno yang sudah biasa mempraktekkan deifikasi sosok-sosok insani besar mereka sehingga sosok-sosok besar ini menjadi allah atau “manusia ilahi” atau "manusia dewa" (Latin: semideus; Yunani: hēmitheos atau theios anēr; Inggris: demigod). Tentang hal ini, saya sudah menuliskannya./4/

Kedua, karena umat Kristen perdana dengan tidak mau kalah sedang terlibat dalam suatu persaingan ideologi religiopolitis sengit dengan kalangan-kalangan lain di dunia Yunani-Romawi yang sudah memiliki figur-figur mahaagung mereka sendiri, seperti Kaisar Augustus. Sang kaisar ini dalam kultus pemujaan Kaisar dipandang orang Roma sebagai sang juruselamat dunia yang kelahirannya membawa kabar baik dan keselamatan untuk seluruh kawasan kekaisaran./5/

Tafsiran ketiga yang paling mungkin diterapkan terhadap kisah Yesus memberi makan lima ribu orang adalah tafsiran tipologis yang menghubungkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru dan memandang Perjanjian Baru sebagai penggenap dan penyempurna "tujuan-tujuan rohani" Perjanjian Lama.

Ketahuilah, hermeneutik tipologis umum dipakai para penulis PB jika mereka mengacu dan menggunakan teks-teks PL. Apa itu hermeneutik atau tafsiran tipologis? Ini akan segera diperlihatkan di bawah.

Bagaimana kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ini harus dijelaskan dan ditafsirkan secara tipologis?

Tafsiran tipologis

Tipologi (yang berhubungan dengan kata Yunani tupos, dengan kata Latinnya figura) adalah salah satu metode tafsir yang khas dan umum dijalankan para penulis Perjanjian Baru ketika mereka menggunakan teks-teks Perjanjian Lama dalam rangka menyusun pandangan-pandangan mereka tentang siapa Yesus (kristologi), bagaimana gereja-gereja harus dibangun dan diatur (ekklesiologi) dan bagaimana doktrin-doktrin Kristen harus dirumuskan (dogmatika).

Dalam metode tafsir tipologis, segala sesuatu yang muncul dalam pekerjaan Allah di zaman Perjanjian Lama dipandang para penulis Perjanjian Baru sebagai, seperti ditulis Gerhard von Rad, “pra-gambaran (pra-figurasi) atau tipologi dari berbagai hal yang terjadi pada masa kehidupan Yesus Kristus di masa Perjanjian Baru.”/6/ 

Dalam pandangan Jean Daniélou, “esensi tipologi adalah menunjukkan bagaimana kejadian-kejadian di masa lampau merupakan suatu gambaran, suatu figur atau suatu tupos, dari kejadian-kejadian di masa yang akan datang.”/7/ 

Menurut Walter Eichrodt, “apa yang disebut tupoi [bentuk jamak tupos] … adalah tokoh-tokoh, lembaga-lembaga, dan peristiwa-peristiwa dalam dunia Perjanjian Lama yang dipandang sebagai model-model atau presentasi-presentasi yang dibangun oleh Allah bagi realitas-realitas yang bersesuaian dalam sejarah keselamatan Perjanjian Baru.”/8/

Meskipun ditemukan kesesuaian dalam detail-detail historis, kultural, arkeologis dan biografis antara kejadian-kejadian tertentu di masa Perjanjian Lama dan di masa Perjanjian Baru, dalam penafsiran tipologis detail-detail ini, sebagaimana Von Rad tegaskan, bukanlah hal-hal utama yang menjadi sorotan. 

Sorotan utama tipologi adalah pesan-pesan teologis atau kerugmata (yang terbungkus dalam detail-detail kisah) atau “pesan-pesan rohani”, yang dilihat berhubungan antara yang disampaikan teks-teks Perjanjian Lama dan yang disajikan teks-teks paralel dalam Perjanjian Baru./9/

Tetapi hal paling penting yang mau disampaikan tafsiran tipologis adalah bahwa figur Yesus Kristus sendiri sebagai anti-tupos (atau anti-type) adalah lebih tinggi, lebih agung dan penyempurna yang tiada taranya dari tokoh-tokoh agung Perjanjian Lama sebagai tupoi. 

Begitu juga halnya dengan segala sesuatu yang terjadi pada Yesus Kristus jika dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa paralel yang sudah terjadi dalam masa Perjanjian Lama. Peristiwa Yesus lebih tinggi, mengalahkan dan melampaui atau menyempurnakan peristiwa yang dapat dibaca dalam PL.

Dalam tipologi, kejadian-kejadian yang dialami Yesus Kristus bukan hanya pengulangan kejadian-kejadian dalam Perjanjian Lama atau dibangun berdasarkan model-model kejadian-kejadian dalam masa Perjanjian Lama, tetapi melampaui, menyempurnakan dan merupakan klimaks semua kejadian dalam Perjanjian Lama. Yesus menjadi yang teragung, terbesar, paling sempurna, tiada pesaing. Ya, supersesionisme kristologis mewarnai setiap tafsiran tipologis PB terhadap PL.

Dalam tipologi, tokoh-tokoh agung dalam Perjanjian Lama bukan hanya dijadikan model-model dasar dalam merancangbangun berbagai figur Yesus oleh para penulis Perjanjian Baru, tetapi oleh mereka Yesus Kristus dibuat mengalahkan, melampaui, mentransendir, menyempurnakan dan menjadi puncak dari semua model yang tersedia dalam Perjanjian Lama.

Progres, puncak, kulminasi, kemenangan, penyempurnaan dan pelampauan atas model-model Perjanjian Lama di dalam diri Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru adalah hal-hal terpenting yang mau disampaikan tipologi. Supersesionisme kristosentris adalah sebuah ciri terpenting setiap tafsiran tipologis, dan merupakan kerugma atau pesan terpenting yang mau disampaikannya, yang tak boleh tertutup oleh detail kisah-kisah atau literalisme skriptural./10/

Dengan demikian, sebagaimana akan segera ditunjukkan, dilihat secara tipologis, Yesus yang dipersaksikan dalam kisah-kisah injil tentang pemberian makan lima ribu orang (khususnya dalam Matius 14:13-21) adalah anti-type yang bukan saja sejajar atau semodel dengan, tapi juga menjadi penyempurna dan penakluk, nabi Musa (nabi teragung dalam Yudaisme), nabi Elia (yang dihubungkan dengan Yohanes Pembaptis di era penulisan kitab-kitab injil PB), dan nabi Elisa sebagai tupoi dan model-model rekonstruktif ketika para penulis injil Perjanjian Baru merancangbangun kristologi-kristologi.

Yesus sebagai “Musa yang baru”

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang klop dengan keseluruhan pesan teologis Injil Matius.

Bagi penulis Injil Matius, Yesus adalah “Musa yang baru” pemberi "Taurat yang baru", yakni Khotbah di Bukit dan keseluruhan Injil Matius, bahkan lebih besar dari Musa, yang membawa hukum baru, hukum kasih, dan yang mengulangi kembali bahkan melampaui peristiwa-peristiwa besar yang dikisahkan pernah dialami nabi Musa. Lewat tafsir tipologis, bukan Musa yang menjadi nabi teragung bagi orang Yahudi, tetapi Yesus sebagai "the new Moses".

Ya, harus jangan dilupakan bahwa bagi bangsa Yahudi kapan pun juga, nabi teragung mereka bukanlah Abraham, melainkan Musa yang wajahnya, dikisahkan, pernah diselimuti cahaya sorgawi kehadiran Allah (atau Shekinah, jika memakai kosa kata Yahudi pasca-tahun 70 M).

Jadi, dalam rangka bersaing secara ideologis dengan Yudaisme (dalam era PL dan era PB, tidak dikenal pemisahan ideologi politik dari ideologi agama), dengan jitu penulis Injil Matius menghadirkan satu figur suci Yesus yang bukan saja sejajar dan semodel dengan, tapi juga melampaui dan menaklukkan, Musa./11/

Kalau dulu untuk memelihara umat Israel yang sedang berada dalam perjalanan di padang gurun di bawah pimpinan Musa (dan Harun) Allah telah memberi mereka “daging” dan “roti” (yang disebut manna) untuk dimakan (lihat Keluaran 16), kini, untuk umat Allah yang baru, yaitu Israel baru (= gereja Matius), Yesus sebagai Musa yang baru dan bahkan lebih besar dari Musa juga telah memberi himpunan besar para pengikutnya roti dan daging ikan sampai mereka kenyang, langsung dari tangan-Nya sendiri, sesuatu yang tidak dilakukan oleh nabi Musa dalam zaman Perjanjian Lama.

Jadi, di tangan penulis Injil Matius, Musa adalah tupos sedangkan Yesus adalah anti-tupos-nya. Bagi Matius, Musa adalah nabi besar dunia Perjanjian Lama yang muncul kembali di dalam figur Yesus pada masa kemudian dalam sejarah Israel, yang semodel dengan Musa tapi juga melampaui Musa, yang melakukan perbuatan-perbuatan yang sejajar dengan, tapi juga lebih hebat dari, yang dilakukan Musa.

Yesus sebagai anti-tupos Elia

Atau, dalam pandangan Matius, Yesus adalah “nabi Elia yang baru”, bahkan lebih agung dari nabi Elia, yang sanggup tanpa habis-habis memberi roti kepada bukan hanya satu orang, tetapi kepada banyak orang, kurang lebih serupa dengan, tapi juga jauh melampaui, apa yang konon pernah dilakukan Elia kepada seorang janda di Sarfat dalam konteks peristiwa yang berbeda (lihat 1 Raja-raja 17:7-16).

Bagi orang Yahudi kuno, juga pada abad pertama Masehi, Elia adalah figur nabi agung yang tak pernah mengalami kematian fisik sebab dipercaya dia dulu telah diangkat ke sorga dengan kereta berapi yang ditarik kuda berapi (2 Raja-raja 2:11) dan dia dipercaya akan datang kembali pada “hari Tuhan” (Maleakhi 4:5). Mereka menunggu kedatangannya sebagai salah satu tahap dari tindakan-tindakan besar Allah untuk memulihkan pamor dan kedaulatan bangsa Yahudi, saat di mana “surya kebenaran” terbit, saat di mana “orang-orang fasik diinjak-injak” oleh umat Israel “di bawah telapak kaki” mereka (Maleakhi 4:2-3).

Komunitas Matius percaya, bahwa Yohanes Pembaptis yang menjadi pendahulu Yesus, adalah nabi Elia sendiri yang telah datang kembali (Matius 11:13-14) seperti telah dinubuatkan nabi Maleakhi sebelumnya.

Dengan menggambarkan Yesus sebagai Elia yang baru dan bahkan melampaui Elia, maka bagi Matius, dengan demikian, Yesus sebetulnya juga lebih tinggi dari Yohanes Pembaptis./12/

Yesus sebagai anti-tupos Elisa

Menurut Reginald Fuller, “prototipe” sastra bagi beranekaragam kisah injil tentang Yesus memberi makan banyak orang dari sangat sedikit makanan adalah sebuah kisah dalam Perjanjian Lama tentang nabi Elisa melipatgandakan sedikit ketul roti untuk dimakan oleh banyak orang, yang terdapat dalam 2 Raja-raja 4:42-44, yang merupakan bagian dari “siklus Elisa” dalam 2 Raja-raja 2:1-8:29. Selengkapnya kisahnya demikian.

Datanglah seseorang dari Baal-Salisa dengan membawa bagi abdi Allah roti hulu hasil, yaitu dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong. Lalu berkatalah Elisa: “Berilah itu kepada orang-orang ini, supaya mereka makan.” Tetapi pelayannya itu berkata: “Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?” Jawabnya: “Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman TUHAN: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya.” Lalu dihidangkanlah di depan mereka, maka makanlah mereka dan ada sisanya, sesuai dengan firman TUHAN. (2 Raja-raja 4:42-44)

Fuller mengikhtisarkan pola dasariah dari kisah tentang Elisa melipatgandakan ketul-ketul roti:

• Makanan dibawa ke seorang abdi Allah;
• Jumlah makanan disebutkan dengan angka;
• Ada keberatan yang logis bahwa jumlah makanan tidak cukup untuk dihidangkan kepada sangat banyak orang;
• Si abdi Allah selaku sang master mengabaikan keberatan itu, dan memerintahkan makanan tersebut diedarkan;
• Ternyata orang banyak bukan saja dikenyangkan, tapi makanannya juga bersisa./13/

Tak diragukan bahwa pola dasariah dari kisah Perjanjian Lama tentang Elisa ini memang mendasari keseluruhan kisah injil yang lebih panjang tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima ketul roti dan dua ekor ikan. 

Tetapi kita juga tahu bahwa dalam kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan orang banyak dari sangat sedikit makanan, Yesus ditampilkan jauh lebih agung dan lebih mempesona. Yesus memberi makan bukan seratus orang (seperti dilakukan Elisa), tetapi lima ribu orang laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak); Yesus memberi makan bukan dari dua puluh ketul roti (seperti dilakukan Elisa) tetapi dari makanan yang jauh lebih sedikit: lima ketul roti dan dua ekor ikan.

Jadi harus disimpulkan: dalam pandangan penulis Injil Matius, Yesus adalah anti-tupos nabi Elisa sebagai tupos. Yesus bukan saja sejajar dan semodel dengan nabi Elisa, tetapi juga jauh melampaui dan mengalahkan Elisa, dalam tindakan-Nya memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima ketul roti dan dua ekor ikan, dengan sisa makanan dua belas bakul.

Jadi, pemberian makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan oleh Yesus, hanya ada dalam teks, dalam sastra injil, dalam dunia kisah teologis, dalam dunia ide teologis, bukan dalam sejarah insani faktual.

Kisah injil-injil Perjanjian Baru tentang tindakan hebat Yesus ini disusun dalam bingkai pemahaman dan penafsiran tipologis, bukan dalam bingkai suatu kejadian faktual historis yang melawan nalar dan hukum-hukum alam, kejadian yang disebut mukjizat. 

Dalam sejarah, tak pernah ada tindakan hebat Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Meski begitu, kisah ini sebagai suatu metafora sangat menawan, menggerakkan hati, dan dapat dengan radikal mengubah watak serakah setiap pembaca kisah hebat ini, sekaligus membangkitkan pengharapan terhadap Yesus yang dinanti akan bertindak ketika suatu krisis kehidupan mendatangi.

Dengan mempertimbangkan semua hal di atas, siapapun seharusnya dapat memutuskan untuk memandang kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (lelaki) dengan lima roti dan dua ekor ikan sebagai kisah-kisah tipologis imajinatif yang ditulis dengan memakai kisah-kisah Perjanjian Lama sebagai model untuk mempertahankan sebuah teologi, sebuah kerugma, atau sebuah kisah kreatif imajinatif tentang Yesus. Bahwa Yesus itu lebih besar dari dan mengalahkan Musa. Bahwa Yesus adalah nabi yang sejajar dengan bahkan melampaui nabi agung Elia. Bahwa Yesus adalah nabi akbar yang semodel dengan, tapi juga jauh melampaui nabi Elisa, yang sanggup untuk mengenyangkan semua pengikut-Nya. Alhasil, diharapkan, mereka, sebagai orang Yahudi, perlu berpaling kepada Yesus dan percaya penuh. Ada tujuan misiologis konversionisnya, jelas sekali.

Jadi, kisah-kisah imajinatif ini adalah propaganda religiopolitis misiologis Kristen yang disusun ketika umat Kristen perdana sedang berusaha menjadi besar di tengah tekanan dari berbagai kelompok pesaing, misalnya dari Yudaisme, sekaligus sebagai kisah-kisah devosional yang dapat membangun ikatan batin yang makin kuat dalam diri komunitas para penulis injil-injil terhadap Yesus, sang Tuhan mereka./14/

Tuhan itu bebas dan kreatif

Uraian-uraian di atas telah berhasil memperlihatkan bahwa kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima roti dan dua ekor ikan, bukanlah kisah-kisah tentang sebuah peristiwa sejarah faktual, melainkan kisah-kisah kreatif imajinatif intertekstual (antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) yang disusun untuk berbagai kepentingan: misiologi, devosi, kompetisi religiopolitis. 

Juga telah diperlihatkan ada banyak persoalan dan kesulitan besar timbul jika kisah-kisah tersebut diperlakukan sebagai kisah-kisah sejarah faktual. 

Tuhan Allah berfirman dengan cara yang bebas dan kreatif, dapat memakai fakta-fakta dan dapat juga memanfaatkan kisah-kisah figuratif imajinatif. Jangan batasi kreativitas Yesus dan juga kreativitas Allah, sang Bapa.

Selain itu, jika kisah-kisah ini dipahami dan diterima secara literalistik, maka maksud dan tujuan misiologis sebenarnya penulisan kisah-kisah ini tak berhasil didapatkan, padahal kisah-kisah ini menjadi penting justru karena maksud dan tujuan penulisannya sama sekali bukanlah untuk menceritakan atau melaporkan kejadian-kejadian di masa lampau, melainkan untuk membimbing dan menguatkan serta memperlengkapi dan menggerakkan komunitas-komunitas Kristen yang berdiri empat puluh sampai lima puluh lima tahun setelah Yesus wafat dengan seperangkat ajaran kuat dan ideologi tangguh yang diperlukan.

Kisah-kisah ini menjadi penting khususnya ketika mereka sedang terlibat dalam suatu persaingan ideologis religiopolitis dengan Yudaisme yang memicu mereka untuk menggambarkan Yesus sebagai “Musa yang baru”, yang lebih agung dari Musa yang sebenarnya, atau sebagai nabi besar yang berdiri berdampingan dengan, bahkan melampaui, nabi Elia dan nabi Elisa. 

Jadi, lewat kisah-kisah tentang Yesus yang melebihi nabi Musa, nabi Elia, dan nabi Elisa, para pembaca injil-injil didesak untuk meninggalkan agama Yahudi, atau tidak memilih agama Yahudi, tetapi berpaling dan masuk ke dalam agama Kristen versi masing-masing penulis injil. Kisah-kisah ini niscaya adalah kisah-kisah religiopolitis misiologis.

Dalam usaha memahami kisah-kisah mukjizat Yesus, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperlakukan kisah-kisah tersebut sebagai kisah-kisah, bukan sebagai fakta-fakta.

Tentu ada kisah-kisah faktual, tapi juga ada kisah-kisah fiktif, dan kisah-kisah tentang mukjizat Yesus termasuk dalam kisah-kisah fiktif imajinatif, kisah-kisah teologis. Karena setiap kitab suci pasti bukan buku sejarah, maka di dalamnya ada lebih banyak kisah fiktif teologis ketimbang kisah faktual historis. Sejarah dan kisah imajinatif telah saling merangkul.

Jika orang mencari dan mau mendapatkan firman Allah lewat kisah-kisah skriptural, firman Allah juga bisa dengan jelas dan efektif disampaikan lewat media kisah-kisah imajinatif, tidak selalu harus lewat media kisah-kisah faktual. 

Yesus menyampaikan firman Allah banyak kali lewat kisah-kisah imajinatif yang disusun-Nya sendiri, yakni perumpamaan-perumpamaan-Nya, metafora-metafora-Nya.

Siapa yang bisa memaksa Allah untuk berfirman hanya lewat kisah-kisah sejarah faktual? Dan jika Allah mau berfirman lewat kisah-kisah fiktif, lewat tamsil, lewat pepatah, lewat epik, lewat nyanyian, lewat imajinasi yang kaya dan kreatif, lewat puisi, lewat perumpamaan, maka siapa yang dapat melarang-Nya? 

Sekali lagi, Yesus menyampaikan firman Allah banyak kali lewat kisah-kisah imajinatif yang disusun-Nya sendiri, yakni perumpamaan-perumpamaan-Nya. Siapa yang mau mempersalahkan Yesus?

Roti apapun bisa disediakan dalam jumlah yang terbatas, tetapi firman Tuhan yang disampaikan Yesus lewat berbagai cara dan bentuk bisa tidak terbatas. Karena itulah Yesus, dalam suatu kisah pencobaan diri-Nya, berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4 dan par.). 

Ucapan Yesus itu dikutip dari Ulangan 8:4. Pada teks kitab Ulangan ini si penulisnya menafsirkan "manna" (dalam kisah-kisah keluaran atau exodus dari Mesir) sebagai firman Tuhan. Jika demikian, firman Tuhan yang disampaikan Yesus lewat ajaran dan perumpamaan-Nya, juga lewat tindakan simboliknya, jauh lebih banyak dan lebih tinggi dibandingkan yang disampaikan nabi Musa.

Apa itu metafora?

Mereka yang menolak untuk melihat kisah mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 roti dan 2 ikan sebagai sebuah perumpamaan, sebuah metafora, umumnya tidak suka pada sains modern, apalagi jika sains ini dipakai untuk mengupas teks-teks Alkitab untuk memperlihatkan teks-teks itu sebagai metafora. 

Sains itu berurusan hanya dengan fakta-fakta. Dengan ingin memperlakukan kisah-kisah mukjizat Yesus sebagai kisah-kisah faktual, kisah-kisah tentang fakta-fakta, mereka anehnya ingin memperlakukan teks-teks kitab suci sebagai teks-teks ilmiah, padahal mereka anti-ilmu pengetahuan. 

Jika mereka tetap ingin memperlakukan teks-teks Alkitab sebagai teks-teks ilmiah, paling jauh mereka akan hanya bisa melakukan suatu praktek mencocok-cocokkan dengan naif teks-teks Alkitab dengan pandangan-pandangan ilmu pengetahuan. Praktek kebablasan ini saya namakan cocokologi, yang sama sekali tidak mempunyai nilai kebenaran ilmiah. 

Tentang usaha naif cocokologi yang sia-sia dan melelahkan, sudah saya beberkan dalam tulisan saya Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Agama-agama dalam Era Sains Modern./15/

Nah, sekarang anda tentu perlu bertanya, apa itu metafora. Buang konsep anda yang sempit sebelumnya tentang metafora.

Metafora (dibentuk dari dua kata Yunani "meta" dan "ferein") adalah suatu sarana dan wahana sastrawi artistik imajinatif yang dibangun untuk memindahkan atau "menyeberangkan" (Yunani: "ferein") para pembaca atau pendengar, masuk ke kawasan lain yang lebih tinggi, yang "melampaui", atau "beyond" (Yunani: "meta"), kawasan biasa yang rutin sehari-hari yang sudah tidak direnungkan lagi tetapi diterima begitu saja. Kawasan lain yang lebih tinggi ini disebut kawasan transenden.

Kawasan lain yang lebih tinggi ini adalah kawasan adinilai, kawasan besar, kawasan transenden, yang menakjubkan, kawasan baru yang membuka, memperluas dan mencerahkan sekaligus memukau pikiran, jiwa, perasaan, karya dan kehidupan yang menyeluruh. 

Lewat berbagai metafora agung yang diresapi, manusia tumbuh, bergerak, pindah, memasuki kawasan kehidupan yang lain, yang baru, yang lebih tinggi, yang agung dan penuh dengan wawasan terobosan, etika agung, dan kebajikan. Memasuki kawasan transenden, kawasan yang luarbiasa besar, melampaui batas-batas yang biasa sehari-hari. Untuk ulasan lebih luas dan lebih dalam tentang metafora, bacalah tulisan saya "Teologi Adalah Metafora. Apa Itu Metafora?"/16/

Jadi, bagi saya, kisah metaforis Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan adalah kisah yang sangat memukau, sangat kuat menggerakkan hati saya, mengubah etika saya, membarui pengenalan saya terhadap figur agung Yesus, membarui wawasan dan pemahaman saya tentang kehidupan, pemilikan, belarasa dan empati, dan semuanya ini diangkat ke peringkat yang lebih tinggi dan lebih agung, memasuki kawasan adinilai, kawasan transenden. 

Ya, kisah ini mendorong saya untuk berbagi apa yang saya punyai, kepada makin banyak orang, yakni pikiran, wawasan, kebaikan, waktu, tenaga, umur, dan makanan serta kebutuhan hidup esensial lainnya yang saya punyai sebagai pemberian Tuhan, meskipun saya tidak mempunyai banyak. Kebajikan ini akan berdampak besar dan berarti bagi makin banyak orang jika saya lakukan terus-menerus, makin tinggi lagi, sebagai seorang pengikut Yesus yang agung, yang sangat besar, yang melampaui nabi-nabi besar PL. Itulah kekuatan metafora. The power of a metaphor. Saya menikmati dan mengalaminya.

Penutup

Jika anda punya harta dan kepemilikan, share ke orang lain, bagilah ke orang lain sebisa anda, berhubung sekarang ini (sejak 2015) segelintir orang, yakni orang terkaya dunia yang merupakan 1% penduduk dunia, menguasai kekayaan jauh lebih banyak dibandingkan total kekayaan yang dimiliki 99% penduduk dunia lainnya. Data 2017 menunjukkan bahwa total kekayaan yang dipunyai 8 orang superkaya dunia sama dengan total kekayaan yang dimiliki separuh penduduk termiskin dunia./17/

Metafora Yesus memberi makan 5000 orang dengan sangat sedikit makanan memiliki kekuatan untuk ikut membangun kesadaran manusia untuk mengatasi ketimpangan dan kesenjangan ekonomi yang begitu besar, lebar dan dalam antara orang kaya dan orang miskin sedunia sekarang ini. Jangan biarkan 5000 roti dihabiskan oleh 5 orang saja. 

Terima kasih Yesus. Terima kasih juga kepada para penulis metafora besar Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan dalam PB.

Catatan-catatan

/1/ Ioanes Rakhmat, "Mengapa memilih hidup 'in denial'?", Freidenk Blog, update mutakhir 15 Juni 2019, 
https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/07/denial-apa-penyebabnya.html?m=0.

/2/ Ioanes Rakhmat, "Langkah-langkah Menafsirkan Sebuah Teks Alkitab', Freidenk Blog, 3 November 2010, diperluas 18 Mei 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2010/11/langkah-langkah-menafsirkan-sebuah-teks.html?m=0.

/3/ Ioanes Rakhmat, "Metode-metode Ilmiah Tafsir Kitab Suci", Freidenk Blog, 19 Oktober 2008, diperiksa kembali 02 November 2017, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2008/10/pendekatan-pendekatan-kritis-hermeneutik.html?m=0.

/4/ Ioanes Rakhmat, "Allah-allah dalam Dunia Laut Tengah Kuno", Freidenk Blog, update mutakhir  27 Maret 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2009/01/allah-allah-dalam-dunia-yunani-romawi.html?m=0.

/5/ Ihwal Kaisar Augustus disembah sebagai “sang juruselamat dunia” dan kelahirannya dipandang membawa “kabar baik” dan “keselamatan” bagi seluruh kekaisaran, ditulis dalam sebuah prasasti yang mencantumkan dekrit Majelis Provinsi Asia yang dikeluarkan tahun 9 SM. Lihat teks dekrit ini selengkapnya dalam Richard A. Horsley, The Liberation of Christmas. The Infancy Narratives in Social Context (New York: Crossroad, 1989) hlm. 27.

/6/ Gerhard von Rad dalam Claus Westermann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics (Richmond, Virginia: John Knox Press, 1964) hlm. 36.

/7/ Jean Daniélou, From Shadows to Reality (London: Burns and Oates, 1960) hlm. 12.

/8/ Walter Eichrodt  dalam Westermann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics, hlm. 225.

/9/ Gerhard von Rad dalam Westemann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics, hlm. 36-37; lihat juga S. Lewis Johnson, The Old Testament in the New (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1980) hlm. 55.

/10/ Jean Daniélou, From Shadows to Reality, hlm. 12; Walter Eichrodt dalam Westermann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics, hlm. 235.

/11/ Tema tipologis tentang Yesus sebagai “Musa yang baru” dalam Injil Matius telah dieksplorasi dengan bagus antara lain oleh Dale C. Allison, Jr., The New Moses: A Matthean Typology (Minneapolis: Fortress Press, 1993).

/12/ Kendatipun dalam konteks narasi tentang pembaptisan Yesus di sungai Yordan, Yesus, kita baca, mengungkapkan kesediaan-Nya untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis yang malah sebaliknya sungkan untuk melakukannya (Matius 3:14-15). Bagaimana pun juga, dalam injil-injil PB terlihat ada usaha kuat untuk menaklukkan Yohanes Pembaptis ke kaki Yesus.

/13/ Reginald Fuller, Preaching the New Lectionary (Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1974) hlm. 406.

/14/ Ioanes Rakhmat, "Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Agama-agama di Era Sains Modern?", Freidenk Blog, dimutakhirkan 16 Maret 2020, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2015/02/bagaimana-seharusnya-memperlakukan.html?m=0.

/15/ Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, khususnya yang terdapat dalam Lukas 9:12-17, dapat juga dijelaskan dengan memakai pendekatan tafsir sosial saintifik, dengan memakai model “patron-klien”, sebagaimana sudah dilakukan oleh Ekaterini Tsalampouni, “The Story of Feeding the Multitudes in Luke 9:12-17: A Social-Scientific Approach” (February 2012),
http://www.bibleinterp.com/opeds/tsa368003.shtml.

/16/ Ioanes Rakhmat, "Teologi Adalah Metafora. Apa Itu Metafora?", Freidenk Blog, 11 Agustus 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2021/08/teologi-adalah-metafora-apa-itu-metafora.html?m=0.




Thursday, January 1, 2009

Allah-allah dalam Dunia Yunani-Romawi Kuno



Kultus pemujaan Aleksander Agung (wafat 323 SM) di Mesir kuno oleh Dinasti Ptolemi di era hellenistik (abad ke-3 SM hingga abad 1 SM). Imam yang memimpin kultus ini adalah sang imam besar Kerajaan Ptolemi.


ARETALOGI YUNANI-ROMAWI

N.B. Diperluas 27 Maret 2021

Kalau rasul Paulus mengatakan dan mengakui, dalam konteks dunia Yunani-Romawi kuno, "ada banyak allah dan ada banyak tuhan" (1 Korintus 8:5-6), dia tentu sedang merujuk bukan hanya kepada dewa-dewa tradisional Yunani (Zeus atau Jupiter sebagai Dewa tertinggi, lalu menyusul dewa-dewi lainnya: Poseidon atau Neptune, Hera atau Juno, Afrodit atau Venus, Artemis atau Diana, Dionysus atau Bacchus, Ares atau Mars) atau kepada dewa-dewa yang resmi diakui negara dan yang disembah dalam kultus-kultus lokal, atau kepada dewa-dewi dalam kultus-kultus keluarga (Penates, Lares, dan “genius” atau “malaikat pelindung”). 

Tetapi Paulus juga sedang mengacu kepada dewa-dewi yang disembah dalam berbagai jenis agama atau kultus misteri dan kepada tokoh-tokoh adiinsani atau “superhuman” yang telah diagungkan dan dimuliakan begitu tinggi. Alhasil, mereka diilahikan atau dideifikasi (Yunani: apotheōsis), menjadi allah dan tuhan atau “manusia ilahi” atau "manusia dewa" (Latin: semideus; Yunani: hēmitheos atau theios anēr; Inggris: demigod) yang disembah dalam berbagai kultus di kuil-kuil dan yang (sebagian) dijadikan allah-allah negara Roma. Kisah-kisah epik sosok-sosok "superhuman" dunia Laut Tengah kuno dituangkan dalam suatu jenis sastra yang dinamakan aretalogi ("kisah-kisah kebajikan agung").

Pengkultusan dan pengilahian dapat terjadi sewaktu sosok-sosok adiinsani Yunani-Romawi masih hidup dan berkarya (misalnya terhadap Aleksander Agung), atau sesudah mereka "diangkat" ke kawasan adikodrati dengan disaksikan oleh beberapa saksi mata, entah ketika mereka masih hidup atau pun ketika jenazah mereka sedang dikremasikan.

Dalam alam pemikiran religiopolitik semacam itu dalam dunia Yunani-Romawi, pantaslah jika orang Yunani menilai, menurut rasul Paulus, adalah suatu "kebodohan" (Yunani:  môria) jika orang Kristen percaya pada satu sosok yang mati disalibkan sebagai Tuhan dan sang Kristus yang menjadi isi berita yang disebarkan sang rasul (lihat 1 Korintus 1:18, 23).

Selanjutnya akan disajikan berbagai macam dewa atau allah dalam dunia Yunani-Romawi kuno beserta dengan kultus yang dikaitkan kepada masing-masing dewa.



Dewa-dewi dalam Agama-agama Misteri

Kultus Isis (dan Osiris)

Di dalam kultus Isis yang berasal dari Mesir, yang sudah dikenal di luar Mesir sejak abad 5 SM, dan tetap bertahan sampai abad 4 M di dunia Yunani-Romawi, Dewi Isis (bersuamikan Osiris) disembah sebagai “Ibu atas Segala Sesuatu”;/1/ dia ditinggikan sebagai “Ratu sorga”, “Dewi Penyembuh” yang memiliki obat untuk hidup kekal; dia menyatakan diri sebagai Penguasa daratan, yang memisahkan bumi dari sorga: 

“Akulah Isis (egō eimi Isis), penguasa seluruh daratan, Akulah dia yang telah menemukan buah-buahan untuk umat manusia, Akulah dia yang memisahkan bumi dari sorga....”/2/ 

Di dalam buku Metamorfoses (11.5:1-3) yang ditulis Apuleius (lahir 123 M), dimuat aretalogi penyataan diri Isis: 

“... Akulah Ibu dari alam semesta, Ibu segala unsur, Yang sulung dari segala dunia, Yang tertinggi dari semua allah, Ratu alam maut, Yang pertama dari segala yang ada di sorga, Bentuk tunggal yang menyerap semua allah,.... Akulah Allah yang tunggal yang disembah oleh seluruh dunia melalui berbagai macam cara, melalui ritus-ritus, dan dengan banyak nama ....” 

Isis diakui sebagai “Juru selamat yang kekal dan paling kudus untuk umat manusia”./3/ Aretalogi ini jelas condong menempatkan Dewi Isis dalam kerangka universalisme dan monoteisme./4/

Kultus Serapis

Di dalam kultus Serapis (Sarapis, Zaparrus), yang juga berasal dari Mesir dan bersama dengan kultus Isis menyebar keluar Mesir, Dewa Serapis, melalui perantara manusia, mengundang para penyembahnya untuk datang mengikuti perjamuan suci: “Sang Dewa mengundang anda ke perjamuannya yang akan diselenggarakan di kuil Thoeris, besok pada jam yang kesembilan.”/5/ 

Dewa Serapis (perpaduan dua nama: Osiris dan Apis) adalah suatu sosok dewa gabungan dari dewa-dewa Mesir dan dewa-dewa Yunani, dan disetarakan dengan Dewa Zeus (dewa tertinggi Yunani) dan Dewa Asklepius (dewa penyembuh).

Dari perpaduan ini, muncullah figur Dewa Serapis yang merangkumi kekuasaan dewa teragung Yunani dan dewa matahari (Zeus dan Helios), dewa kesuburan (Dionysus), dewa dunia orang mati, kehidupan kekal dan juga dewa penyembuh (Hades dan Asklepius). 

Sejak Kaisar Konstantinus memerintah pada abad ke-4 M, wajah Serapis (sebagai Zeus orang Mesir) dengan rambutnya yang panjang dan ikal serta janggutnya yang lebat (lihat gambar di atas) diambil alih menjadi wajah Yesus, “Zeus” menjadi “Yesus”./6/

Dewa Mithras

Penyembahan kepada Dewa Matahari agung Persia yang bernama Mithras (“perjanjian”) melahirkan kultus Mithras (para anggotanya eksklusif kaum pria) yang berkembang di Roma dan tempat-tempat lain. Pada akhir abad 3 M., Mithras dijadikan Allah resmi kekaisaran Roma./7/ Para anggota kultus ini menantikan kedatangan kembali dewa Mithras pada akhir zaman./8/

Di dalam kultus ini, ketika diadakan acara penyambutan kepada anggota baru, diselenggarakan suatu perjamuan yang unsur-unsurnya sama dengan unsur-unsur yang terdapat di dalam ekaristi Kristen: roti, anggur dan kata-kata yang mengiringi./9/

Kultus Asklepius

Di dalam Himne Homerik (abad 5 S.M.) dinyatakan bahwa Asklepius adalah manusia setengah dewa dan setengah manusia, dilahirkan dari perkawinan Dewa Apollo dengan Puteri Koronis dari Tesalonika. 

Setelah kematiannya, dia diangkat menjadi seorang Hero, dan akhirnya mendapat status Allah. Dia (bersama puterinya, Hygieia, personifikasi kesehatan dan kesejahteraan) disembah sebagai Dewa penyembuh; dan dipandang sebagai Dewa yang paling bersimpati dengan manusia yang menderita dan berkenan menyembuhkan mereka. 

Kuil-kuil pemujaan terhadap Dewa Asklepius didirikan di banyak tempat, seperti di Atena, Pergamum dan Kos; tetapi pusatnya terdapat di Epidauros. Pada masa Hellenistik, jumlah kuil Asklepius mencapai 300 buah; angka ini menandakan keberhasilan kultus ini dalam berpropaganda./10/

Penggalian di kota Korintus memperlihatkan adanya kuil Asklepius di kota ini, lengkap dengan ruang-ruang makan untuk para pengunjung dan pasien yang mencari kesembuhan dari sang Dewa. Peringatan Paulus di dalam 1 Korintus 8:10 untuk tidak makan daging di kuill berhala tentu mengacu ke kuil Asklepius ini. 

Suatu kali, sehabis terjadi suatu kesembuhan, suatu pujian diangkat untuk Dewa Asklepius: “O Tuhan dan Allah, betapa besar kuasamu.”/11/ Seorang penulis kuno menaikkan pujian kepada Asklepius: “Aku mau memberitakan penampakan-penampakannya yang ajaib, keagungan kuasanya dan manfaat dari karunia-karunianya.”/12/

Manusia ilahi (theios anēr)

Apollonius dari Tyana (sebuah kota kecil di Asia Kecil, di provinsi Kappadokia), hidup pada abad 1 (antara 4-96), adalah seorang filsuf Pythagorean, seorang pengkhotbah keliling yang menyampaikan hikmat rahasia dari Timur (dia berguru antara lain di Babilonia, Mesir dan India), seorang pembaru agama, dan seorang pembuat mukjizat. 

Biografi tentang dirinya (berjudul Vita Apollonii) ditulis lebih dari satu abad kemudian oleh Flavius Filostratus (hidup antara 170 dan 245), lengkap ditulis pada tahun 222. 

Pada tahun-tahun awal kegiatannya, Apollonius banyak menghabiskan waktunya di kuil Asklepius di Aegae; ini menyiapkan dirinya menjadi penyembuh. Di dalam Vita Apollonii 2.17 dan 8.15, Apollonius dari Tyana disebut sebagai seorang “manusia ilahi”, theios anēr; dan di dalam 5.24 dinyatakan bahwa kerumunan orang banyak di Mesir memandangnya “seperti memandang Allah (theos).” Kata-kata sifat theios (“ilahi”) dan daimonios (“bersifat ilahi”) sering dipakai untuknya (Vita Apollonii 1.2).

Di dalam biografi karya Filostratus itu, kelahiran dan akhir hidup Apollonius dari Tyana digambarkan penuh dengan peristiwa-peristiwa ajaib: suatu Dewa Mesir berbicara kepada ibunya di dalam suatu mimpi; ketika dia dilahirkan angsa-angsa bernyanyi, dan kilat menyambar dari angkasa ke bumi sehingga penduduk memproklamirkan dia sebagai Anak Dewa Zeus (Yunani: paida tou Dios). 

Ketika usianya sudah cukup, dia masuk sekolah, dan semua orang heran atas daya ingatnya yang luar biasa dan atas parasnya yang rupawan. 

Di akhir hidupnya tidak dinyatakan bahwa dia mati, tetapi dia raib, menghilang, namun tidak jelas bagaimana caranya. Kuburannya tidak ada; tetapi dia menampakkan diri kembali kepada seorang muridnya yang tidak percaya. Pengangkatannya ke surga diceritakan berlangsung dari sebuah kuil, dengan diiringi nyanyian gadis-gadis: “Meninggalkan bumi dan masuk ke surga.” 

Aktivitas Apollonius digambarkan sepenuhnya paralel dengan aktivitas Yesus: hidup berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya, mengajar, membuat mukjizat, mengusir setan-setan (Vita Apollonii 4.20; 2.4; 3.8; 4.10,25; 6.27), dan membangkitkan orang mati (Vita Apollonii 4.45). Di sekitarnya terbentuk ikatan para murid. Karena itu tidaklah mengejutkan jika pada abad 4 Apollonius dari Tyana dipandang sebagai figur tandingan Yesus Kristus./13/

Apotheōsis (Pengilahian/Deifikasi) dalam Kultus-kultus

Kultus Penguasa/14/

Lysander (seorang jenderal Sparta dalam Perang Peloponnesus [431-404 SM]) adalah orang Yunani pertama yang untuknya, ketika dia masih hidup dan perang hampir berakhir (404 SM), kota-kota membangun altar-altar dan memberikan kurban-kurban; dan yang untuknya juga madah-madah keagamaan digubah dan dinyanyikan. Kultus dirinya ini didirikan sebagai suatu bentuk penghormatan atas kemenangan-kemenangannya melawan orang-orang Athena, sehingga orang-orang Sparta memperoleh kembali negeri, kedaulatan dan harta milik mereka.

Berbagai penghormatan ilahi (berupa kurban-kurban syukur, kompetisi atletik, altar, citra kultis) diberikan kepada Antigonus I (orang Makedonia, seorang jenderal dari Aleksander Agung) pada tahun 311 SM, karena dia telah membawa kabar baik (Yunani: euaggelion) kepada penduduk kota Skepsis (dekat Troy, sebelah barat laut Asia Kecil) bahwa dia telah membuat perjanjian damai dengan para jenderal lainnya dan bahwa “semua pihak yang mengadakan perjanjian itu” menjamin adanya “kebebasan dan otonomi bagi semua negara bagian”.

Pada tahun 307 SM, Demetrius yang diberi gelar Poliorketēs (“penakluk kota-kota”), putera tertua dari dua putera Antigonus, membebaskan kota Athena dari seorang penguasa tiran dan dari pendudukan orang-orang Makedonia. 

Sejak itu orang-orang Athena memberi penghormatan kepadanya; dan pada kunjungan keduanya di kota Athena (tahun 304 SM) tempat dia berpijak setelah turun dari kereta perangnya dinyatakan sebagai tempat kudus dari “Allah yang turun”, dan sebuah altar dibangun di situ. 

Suatu madah kultis digubah untuk memujanya. Dalam madah ini dinyatakan antara lain bahwa dia adalah “Yang terbesar dari para allah, yang sedang datang masuk (pareisin) ke kota kami”; “Anak dari Dewa perkasa Poseidon dan Dewi Afrodite”; dan bahwa, berbeda dari dewa-dewa lain yang jauh dari umat, tuli, atau tidak ada, atau tidak mempedulikan mereka, dia “berada di tengah kami bukan dalam bentuk kayu atau batu tetapi secara jasmaniah, karena itu kami berdoa kepadamu”; bahwa dia “membawa perdamaian karena engkau adalah Tuhan (kurios).”

Kultus Hero/15/

Kultus hero adalah pemujaan atas orang yang sudah meninggal, yang semasa hidupnya telah melakukan tindakan-tindakan heroik luar biasa, dan yang dipercaya masih tetap memiliki kuasa setelah kematiannya. 

Orang yang sudah mati yang telah dinyatakan sebagai “hero” dapat naik statusnya menjadi semacam “demigod”, manusia setengah dewa, atau lebih tinggi lagi menjadi daimōn, dan pada akhirnya dapat menjadi Allah. Pusat kultus dirinya adalah kuburannya yang berisi tulang-belulangnya. 

Orang-orang Atena mendirikan kultus hero untuk Theseus, pendiri demokrasi Athena yang legendaris, karena dilaporkan bahwa dia telah “menampakkan diri kembali” setelah kematiannya dalam pakaian perang lengkap di kota Marathon, ketika berlangsung perang melawan orang-orang Persia. 

Setelah Perang Persia berakhir, atas petunjuk suatu orakel (wangsit) Delfik (476/5 SM), tulang-belulangnya dipindahkan ke Athena dan dikuburkan kembali di tempat terhormat. 

Tempat keramat kuburannya menjadi tempat pelarian para budak dan orang-orang kebanyakan yang takut terhadap orang-orang yang lebih berkuasa dari mereka. Semasa hidupnya Theseus memang dikenal sebagai orang yang memberikan perlindungan dan bantuan kepada orang-orang tertindas.

Deifikasi Aleksander Agung/16/

Kemahabesaran Aleksander Agung (356-323 SM) telah melahirkan banyak mitos dan legenda tentang dirinya. 

Peristiwa kelahirannya dituangkan dalam suatu mitos. Konsepsi dirinya dalam kandungan ibunya (Olympias) digambarkan sebagai akibat penetrasi kekuatan supranatural dari dunia ilahi.

Sebelum ibu dan ayahnya (Raja Filip II dari Makedonia) memasuki malam pengantin, sang ibu bermimpi terjadi “guntur menggelegar dan kilat masuk ke dalam tubuhnya; kilat ini menimbulkan api besar yang berkobar-kobar dan menyebar ke segala arah.” 

Beberapa waktu kemudian, setelah perkawinan, Filip bermimpi pula. Dalam mimpinya dia membubuhi sebuah segel ke tubuh isterinya, dan tampak kepadanya bahwa ukiran pada segel itu menampilkan gambar seekor singa. 

Mimpi-mimpi ini ditafsirkan. Ukiran singa pada segel menunjukkan bahwa akan dilahirkan seorang anak laki-laki yang “gagah berani dan penuh semangat yang berkobar seperti seekor singa”; dan “api besar yang berkobar-kobar dan menyebar ke segala arah” menandakan bahwa anak yang dikandung itu akan menjadi penakluk dunia. 

Juga diceritakan bahwa suatu saat, ketika ratu Olympias sedang tidur, “tampak seekor ular menjalar, melilit di tubuhnya”. Ini diartikan bahwa yang menjadi ayah Aleksander Agung bukanlah Filip, tetapi Dewa Zeus-Ammon, yang datang sebagai seekor ular yang mengadakan hubungan seksual dengan Olympias. 

Aleksander Agung sendiri percaya bahwa dirinya adalah “anak Zeus” (pai Dios) karena dia disapa dengan nama itu oleh imam di oasis Siva di padang gurun Lybia, ketika dia mencari wangsit dari Zeus-Ammon.

Ketika Aleksander Agung benar-benar berhasil menjadi penakluk dunia, beberapa kota Yunani di Asia Kecil memujanya sebagai Allah. Kultus pemujaan terhadap Aleksander Agung ini didirikan ketika dia masih hidup, yakni ketika dia melakukan kampanye militernya di Asia Kecil (334-333 SM) untuk membebaskan orang-orang Yunani di situ dari penindasan Persia. Kultus ini dibangun sebagai suatu penghormatan ilahi terhadap dirinya. Di Efesus terdapat sebuah kuil untuk kultus Aleksander Agung lengkap dengan imamnya (dari 102-116 M).

Lain halnya bagi penduduk kota-kota di Yunani sendiri. Pada tahun 324 SM, di Athena dan Sparta timbul diskusi mendalam tentang apakah Aleksander Agung harus dideifikasikan.

Diskusi ini melahirkan sebuah keputusan untuk memberikan gelar ilahi bagi Aleksander Agung. Utusan-utusan dari Yunani mendatangi Aleksander yang sedang berada di Babilonia untuk menganugerahkannya penghormatan ilahi; mereka datang dengan memakai mahkota-mahkota yang hanya cocok dipakai ketika orang datang menghadap Allah. 

Aleksander Agung sendiri memang menginginkan suatu penghormatan ilahi diberikan kepadanya, mengingat keberhasilannya dalam memikul tugas besar yang adi-insani dan kedudukannya yang tinggi. 

Dengan meminta dirinya di-“apotheosis”-kan, dideifikasi, Aleksander Agung telah membuka jalan untuk para pemimpin lainnya melakukan hal yang sama. Pada tahun 323 SM, Aleksander Agung terserang demam yang membawanya pada kematian di Babilonia pada usia yang masih muda, kurang dari 33 tahun.

Romulus, pendiri kota Roma, diangkat ke sorga

Romulus dan Remus adalah dua anak lelaki kembar yang dilahirkan oleh Puteri Rhea Silvia yang bersuami Mars, dewa perang Roma.

Karena suatu nubuat, sang raja di negeri dua anak kembar ini takut kalau nanti dua anak kembar tersebut akan menjatuhkannya dan merebut takhtanya. Maka, atas perintah si raja ini, Romulus dan Remus diletakkan dalam sebuah keranjang lalu dihanyutkan di Sungai Tiber supaya cepat mati tenggelam.

Tetapi seekor serigala betina (dikenal sebagai "She-wolf" atau "Serigala-Mama") menemukan dua anak kembar tersebut yang sedang terapung hanyut dalam sebuah keranjang. Lalu "She-wolf" menyelamatkan keduanya (mungkin lewat bantuan seorang pengasuh) ke dalam sebuah goa di pinggiran Sungai Tiber.

Lalu si "Serigala-Mama" ini melindungi dua anak lelaki kembar itu dari ancaman hewan-hewan buas lain, dan memelihara Romulus dan Remus dengan meneteki mereka dari susu-susunya sendiri. Seekor burung pelatuk yang berparuh panjang yang baik hati ikut membantu mencarikan makanan tambahan bagi si kembar tersebut.




Patung perunggu "Serigala-Mama" yang bersikap waspada sementara meneteki Romulus dan Remus. Patung ini ditempatkan dalam museum Capitolini, Roma, Italia, dan menjadi emblem/simbol kota Roma atau bahkan negara Italia


Akhirnya, beberapa gembala menemukan Romulus dan Remus yang sedang dipelihara si "Serigala-Mama". Salah seorang dari mereka (bernama Faustulus) mengambil dan membawa pulang dua kanak-kanak kembar ini dan, bersama isterinya, membesarkan mereka seperti anak mereka sendiri.


Gembala Faustulus membawa pulang Romulus dan Remus untuk dibesarkan


Setelah dewasa, Romulus dan Remus memperlihatkan kemampuan memimpin sebagai bakat alam. Pada suatu hari, Remus ditangkap dan dibawa ke sang raja yang berkuasa di negeri kelahirannya, yang kemudian mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya. Segera, saudara kembarnya, Romulus, mengumpulkan para gembala untuk menyelamatkan saudaranya. Akhirnya, mereka berhasil membunuh si raja yang lalim itu, dan Remus dapat diselamatkan.

Ketika penduduk kota tahu siapa sebenarnya Romulus dan Remus, mereka memasang mahkota pada kepala mereka masing-masing sebagai dua raja gabungan yang bekerjasama. Mereka diminta menjadi penguasa negeri mereka sendiri.

Namun, Romulus dan Remus mencopot mahkota yang telah dipasangkan pada kepala mereka karena mereka mau membangun sebuah kota baru bagi mereka sendiri. Lalu keduanya meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari lokasi yang sempurna untuk kota yang mereka mau dirikan. Akhirnya, mereka menemukan suatu area yang mereka sukai, yang menjadi lokasi kota Roma yang sekarang.

Romulus dan Remus menyukai area itu pada umumnya. Tapi masing-masing ingin menempatkan kota yang baru pada sebuah bukit yang berbeda. Romulus  memilih Bukit Palatinus, sedang Remus menjatuhkan pilihannya pada Bukit Aventinus.

Karena keduanya saudara kembar, maka senioritas tidak bisa dipakai untuk menentukan bukit yang mana, apa nama kota yang akan dibangun, dan siapa yang akan jadi penguasanya setelah selesai dibangun.

Selanjutnya, kedua saudara kembar itu sepakat untuk mendatangi dewa pelindung mereka untuk meminta tanda-tanda dewata yang meramalkan masa depan, terkait rencana pembangunan sebuah kota baru yang besar.

Remus lebih dulu mendapatkan suatu tanda dewata: enam ekor burung hering (atau burung pemakan bangkai) menampakkan diri di hadapannya. Disusul oleh penampakan dua belas ekor burung hering di hadapan Romulus. Masing-masing mengklaim diri sebagai pemenang.

Lalu, siapakah yang akan menjadi raja atas kota yang akan dibangun?

Baik Romulus maupun Remus diberi ucapan selamat oleh para pendukung masing-masing, dan disanjung sebagai raja oleh para pendukung masing-masing.

Para pendukung Remus mengakui Remus sebagai raja berdasarkan pertimbangan bahwa Remus duluan yang menerima tanda dewata. Sebaliknya, para pendukung Romulus menetapkan Romulus sebagai raja lantaran dia mendapatkan tanda dewata dua kali lipat banyaknya dari tanda yang diterima Remus.

Romulus bergerak cepat lebih dulu. Dia mulai membangun tembok-tembok di sekeliling Bukit Palatinus. Nah, Remus jadi iri hati, lalu mulai memperolok-olok tembok-tembok yang telah dibangun Romulus, dengan melompati tembok-tembok Romulus. Remus bermaksud menunjukkan, betapa mudah melewati tembok-tembok yang telah dibangun Romulus. Tentu saja, Romulus naik pitam.

Remus dibunuh Romulus

Maka, timbullah percekcokan di antara Remus dan Romulus di depan umum. Ambisi keduanya memanas dan makin berkobar. Akhirnya terjadi keributan dan perkelahian antara Remus dan Romulus, yang bermuara pada kematian Remus di tangan Romulus saudara kembarnya. Demi pembangunan sebuah kota yang baru, saudara membunuh saudaranya sendiri.

Setelah membunuh Remus, maka Romulus bersumpah bahwa "Barangsiapa yang selanjutnya melompati tembok-tembokku, mereka juga akan aku bunuh."



Romulus, pendiri dan raja pertama kota Roma


Begitulah, Romulus menjadi sang penguasa tunggal, dan kota yang sedang dibangun diberi nama Roma mengikuti nama Romulus si pendirinya.

Setelah Remus mati, Romulus melanjutkan pembangunan kota Roma, resmi pada 21 April 753 SM, dan menobatkan dirinya sebagai raja. Tentu saja, hemat saya, tanggal itu harus dilihat sebagai saat peletakan batu pertama pembangunan kota Roma. Sebab tidak ada satu pun kota di dunia ini, kapanpun juga, yang dapat selesai dibangun dengan sempurna dalam satu hari sekalipun pembangunannya katakanlah dibantu oleh ribuan "manusia dewa" atau demigod atau semideus atau hēmitheos atau oleh "dewa-dewa perkasa".

Seterusnya, Romulus mulai mengorganisir kota Roma. Pasukannya dibagi dalam satuan-satuan legion yang masing-masing terdiri atas 3.300 orang pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki. Dia memberi sebutan "Patrician" bagi 100 orang warga Roma yang termulia, dan menyebut kolektivitas para penatua kota Roma sebagai Senat. Kota Roma pun berkembang dan makmur. Lebih dari 1.000 tahun Roma menjadi salah satu kota terkuat dunia.

Romulus diangkat ke sorga

Setelah mencapai prestasi-prestasi adiinsani sebagai seorang "raja superhero", Romulus di suatu saat meninjau ulang bala tentaranya di Caprae Palus di dalam Campus Martius dalam suatu persidangan.

Tiba-tiba di lokasi itu terdengar badai guntur yang keras dan awan-awan yang gelap padat menutupi sang raja sehingga tubuhnya tak terlihat lagi oleh para peserta sidang. Sejak saat itu Romulus tidak terlihat lagi di Bumi.

Lalu cahaya Matahari muncul, dan memberi rasa tenang setelah cuaca yang menakutkan tadi berubah begitu rupa.

Ketika rasa takut yang melanda orang-orang muda kota Roma teratasi dan berubah menjadi keceriaan, mereka melihat takhta kerajaan telah kosong. Romulus telah raib. Ke mana?

Sementara mereka percaya sepenuhnya pada penegasan para Senator yang tadi berdiri di dekat sang raja bahwa raja Romulus telah diangkat ke sorga lewat angin puting beliung, namun, seperti layaknya orang yang tiba-tiba kehilangan, rasa gentar dan duka yang dalam membuat mereka tidak bisa berkata-kata selama beberapa waktu.

Lama kemudian, setelah beberapa orang mengambil inisiatif untuk pemulihan, seluruh orang yang hadir memuliakan dan menyanjung Romulus sebagai "suatu dewa, anak Dewa, sang Raja dan Bapak Kota Roma".

Mereka pun meminta kasih karunia dan perkenan Romulus, dan berdoa agar sang Raja yang sudah dimuliakan mau bermurahhati ke anak-anak mereka dan menyelamatkan serta melindungi mereka.

Tak diragukan lagi, kini telah menjadi suatu tradisi yang dipercaya umum bahwa, karena kekaguman dan hormat kepada Romulus, sang Raja ini telah membangkitkan pemahaman dan kepercayaan orang Roma bahwa dia tidak ada lagi di Bumi karena telah diangkat ke dunia para dewa. Oleh pujangga Ovid dikisahkan bahwa setelah Romulus menjadi seorang dewa yang diberi nama Quirinus, selanjutnya dia menyatu dengan ayahnya, dewa perang Mars, di Gunung Olympus.

Tradisi itu telah berkembang dan mengakar karena Proculus Julius, seorang yang berotoritas kuat dalam perkara-perkara yang paling penting, telah memainkan suatu peran besar.

Romulus menampakkan diri

Karena melihat betapa dalam rasa kehilangan yang berkepanjangan yang sedang melanda komunitas orang Roma berhubung raja mereka telah lenyap, dan betapa marahnya mereka terhadap para Senator yang (menurut suatu tradisi lain yang tidak kuat) dicurigai telah menghilangkan Romulus lewat penculikan dan pembunuhan, Proculus Julius mendatangi persidangan lalu berkata,

"Quirites! Ketika fajar datang hingga siang ini, sang Bapak pendiri kota Roma tiba-tiba turun dari sorga dan menampakkan dirinya kepadaku. Sementara aku tercekam rasa takjub, aku berdiri rapat di hadapannya dan sujud memuliakannya dengan sangat dalam, dan aku berdoa agar aku diampuni karena telah memandang wajahnya.

Lalu sang Raja bersabda, 'Pergilah. Beritahu penduduk Roma bahwa adalah kehendak sorga bahwa kota Roma yang telah kubangun harus menjadi pemimpin seluruh dunia. Hendaklah mulai saat ini mereka mengembangkan kecakapan dan seni berperang. Dan hendaklah mereka tahu dengan yakin dan pasti, dan mewariskan pengetahuan ini ke generasi-generasi mendatang, bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat bertahan terhadap bala tentara Roma.'"

Kisah di atas yang memang menawan hati lahir dari penghargaan tinggi yang diberikan kepada sang Raja pertama kota Roma. Kedukaan rakyat dan bala tentara Roma diredakan dan diteduhkan oleh kepercayaan yang telah dibangun dalam mitografi Romawi tentang Romulus yang hidup abadi di antara para dewa dan tidak pernah mengecap kematian.

Ihwal tidak mengalami kematian, pengangkatan ke sorga dan penampakan diri kembali, adalah kejadian-kejadian yang umum dikisahkan dalam aretalogi Yunani-Romawi kuno terkait sosok-sosok adiinsani atau "superhuman" yang dinamakan demigodsemideushēmitheos atau "manusia dewa" atau "manusia ilahi" (theios anēr).

Temuan arkeologis mutakhir dan pertanyaan yang muncul

Para sejarawan dan pengkaji sastra dalam zaman modern umumnya menggolongkan kisah-kisah tentang Romulus yang dipandang sebagai pendiri kota Roma sebagai mitografi, sebagai kisah legendaris yang menawan, yang sudah mengalami sekian penyuntingan dan peredaksian.

Namun, di tahun 2007, seorang arkeolog sekaligus sejarawan Italia, Dr. Andrea Carandini dari Universitas Roma, bersama kolega-koleganya, telah menarik kesimpulan-kesimpulan yang berani./17/

Dr. Carandini dkk, dalam majalah Archaeology 2007, dalam artikel yang berjudul "Origins of Rome"/18/ melaporkan bahwa mereka telah menemukan goa yang telah lama hilang yang berada di bawah Bukit Palatinus yang dipercaya orang Roma kuno sebagai suatu tempat sakral di mana dua anak lelaki kembar, Romulus dan Remus, dipelihara oleh sang "Serigala-Mama".

Menurut Dr. Carandini, "Kisah tentang kelahiran kota Roma sebagian adalah kisah mitologis dan sebagian lagi kebenaran sejarah." Kesimpulan ini tidak mengejutkan. Sangat mungkin akan ada suatu "inti sejarah" dalam banyak kisah-kisah mitologis, meski memisahkan keduanya sudah sangat sulit.

Selain penemuan tersebut, Dr. Carandini juga telah menemukan sisa-sisa sebuah tembok kuno dan parit dan juga reruntuhan sebuah istana yang, menurutnya, dibangun pada abad ke-8 SM. Dia mengatakan, "Ketika aku mengekskavasi tembok yang berasal dari zaman Romulus pada Bukit Palatinus, aku menyadari bahwa aku sedang melihat ke asal-usul kota Roma sendiri sebagai suatu negara-kota."

Dr. Carandini menegaskan bahwa tembok yang dibangun di lereng-lereng yang dipadati gubuk-gubuk hunian yang sudah ada sebelum kota Roma didirikan, diketahui dibangun kira-kira 775 SM - 750 SM berdasarkan peninggalan-peninggalan fondasinya yang teridentifikasi. Tembok ini mungkin adalah batas sakral yang dikisahkan dalam legenda pendirian kota Roma." Lalu dia menyimpulkan bahwa tembok tersebut adalah "bukti arkeologis kehidupan Romulus dan Remus."

Berpijak pada semua temuan arkeologis yang ada, tentang pendirian kota Roma Dr. Carandini menegaskan bahwa "segala sesuatu lahir" setelah tahun 750 SM. "Tidak ada perluasan dan pengembangan tahap demi tahap dari suatu kota kuno sebagai titik pusatnya. Yang terjadi adalah evolusi dadakan sebuah kota yang di zaman dulu sudah besar dan akan selalu besar." Nah, ini sebuah kesimpulan yang mengejutkan, lebih dekat ke kesimpulan mitografis ketimbang sebagai suatu kesimpulan ilmiah.

Tentu saja dukungan dr. Carandini terhadap legenda Romulus dan Remus "telah membuat dirinya layak dikagumi oleh penduduk kota Roma, tetapi sekaligus juga ditolak oleh kolega-koleganya." Albert Ammerman, misalnya, seorang arkeolog Universitas Colgate yang juga telah melakukan penggalian terhadap reruntuhan kota Roma, dalam majalah Archaeology yang sama menyatakan bahwa "sisa-sisa bangunan fisik tidak harus mengabsahkan tradisi-tradisi sastrawi kuno tentang pendirian kota Roma dan kehidupan sosok yang bernama Romulus."

Serupa kisah Musa?

Jika anda pembaca yang cermat atas kisah legendaris Romulus dan Remus di atas, dan anda mengenal Tenakh Yahudi (atau Perjanjian Lama gereja), niscaya anda menemukan paralel-paralel jauh antara si dua anak lelaki kembar tersebut dan sosok Musa.

Mungkin anda menemukan perbedaan tajam antara Romulus dan Musa. Ya, Romulus raib, diangkat ke sorga lewat badai angin puyuh (seperti kisah pengangkatan ke sorga nabi Elia), sedangkan Musa, seperti dikisahkan dalam Tenakh, mati dan dikuburkan di Bumi.

Tetapi, dalam karya Philo yang berjudul Life of Moses, ketika menceritakan akhir perjalanan kehidupan nabi Musa, Philo pada bagian 2.288 karyanya itu memuat sebuah deskripsi tentang kenaikan Musa ke sorga lalu hidup abadi. Saya kutipkan bagian itu sepenuhnya.

"Setelah itu, tibalah waktunya untuk dia [Musa] harus membuat perjalanan panjang dari Bumi ke sorga, dan untuk melepaskan kehidupan fana di dunia ini untuk memperoleh kehidupan abadi. Sang Bapa memanggilnya dari Bumi ini dengan menjadikan satu kesatuan tunggal kodrat rangkap dua tubuh dan jiwanya, lalu mengubah keseluruhan keberadaannya menjadi pikiran, murni seperti cahaya Mentari."

Tapi, tampaknya Philo juga masih bimbang apakah betul Musa raib, diangkat ke sorga, dan tidak mengalami kematian, tetapi berubah menjadi sosok cahaya, menjadi pikiran yang bebas dan abadi. Dalam bagian 2.291, Philo masih menyebut kematian dan penguburan Musa./19/

Dalam Ulangan 34:5-8, ditulis bahwa Musa mati dan dikuburkan di sebuah lembah di tanah Moab meskipun tidak ada orang yang tahu di mana lokasi kuburan Musa. Ketidaktahuan ini menimbulkan spekulasi bahwa Musa tidak pernah mati, tetapi diangkat langsung ke sorga. 

Deifikasi Kaisar-kaisar Roma

Dalam masa pemerintahannya, Julius Kaisar sudah diberikan penghormatan kultis: silsilah mitologis disusun untuknya bahwa dia adalah anak dari Dewa Ares/Mars dan Dewi Afrodite/Venus; patung dirinya dibangun di dalam kuil Dewa Quirinus; nama “Juli” dijadikan nama suatu bulan; sebuah kuil dibangun untuk dirinya dengan imamnya Mark Antony. 

Pada sebuah prasasti dari Efesus (berasal dari tahun 49 SM), tentang dirinya antara lain dikatakan bahwa dia adalah “Allah yang telah menampakkan diri (Yunani: tēs theon epifanē) dan penyelamat kehidupan manusia (Yunani: tou anthrōpinou biou sōtēra).” 

Sebuah inskripsi lain dari tahun yang sama, dari Demetrias di Thessaly, menyatakan “Gaius Julius Caesar, Imperator, Allah.” 

Setelah kematiannya (dibunuh, tahun 44 SM), berdasarkan suatu kesaksian bahwa rohnya telah naik ke sorga dari tumpukan perapian yang bernyala-nyala, Julius Kaisar resmi di-apotheosis-kan, dan dia dinyatakan sebagai salah satu Allah negara. 

Suetonius menceritakan bahwa selama kompetisi atletik pertama yang diselenggarakan Augustus (Oktavianus) dalam rangka menghormati Julius Kaisar, sebuah komet muncul pada jam yang kesebelas dan menerangi angkasa selama tujuh hari; orang percaya bahwa “ini adalah roh Kaisar, yang telah diangkat ke sorga” (Divus Julius 88)./20/

Oktavianus diberi suatu gelar kehormatan “Augustus” (= “dikuduskan”, “tidak dapat digugat”, “patut dimuliakan”, “ditinggikan”; Yunani: sebastos) pada 27 SM. Pada tahun 29 SM, sang Kaisar mengizinkan dibangunnya sebuah kuil untuk Dea Roma dan Divus Julius di Efesus, dan pada waktu yang sama dia memperbolehkan pembangunan sebuah kuil di Pergamum bagi Dewi Roma dan bagi dirinya sendiri. 

Penduduk kota Mytilene merayakan hari kelahiran sang Kaisar (23 September) pada tahun 25 SM; dalam konteks inilah muncul prasasti-prasasti di Asia Kecil yang menyebut Augustus sebagai penyelamat ilahi bagi umat manusia dan sebagai pencipta perdamaian. 

Pax Romana dipandang sebagai prestasi besar pemerintahan Augustus; keadaan damai inilah yang menjadi alasan untuk memuliakan Augustus. 

Sebuah inskripsi yang memuat dekrit Majelis Provinsial Asia (9 SM), yang berasal dari kota Priene di Ionia, menyatakan bahwa

“hari kelahiran Kaisar yang ilahi telah mendatangkan lebih banyak suka cita, atau lebih banyak kebaikan”, bahwa hari kelahirannya adalah “permulaan (Yunani: arkhē) segala sesuatu”, “permulaan kehidupan dan eksistensi”; bahwa dialah “sang penyelamat bagi kami dan keturunan kami”, “orang yang telah mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian”; dan bahwa “hari lahir allah [Augustus] bagi seluruh dunia telah menjadi permulaan kabar baik (Yunani: euaggeliōn) tentang dirinya”./21/

Setelah kematiannya, Senat memutuskan (17 September 14 SM) untuk meng-apotheosis-kan dirinya dan memberikannya tempat di antara para Allah negara. Seorang bekas praetor bersumpah telah melihat figur Augustus naik ke sorga pada waktu dia dikremasi.

Seperti pada Aleksander Agung, mitos dan legenda di sekitar kelahiran dan kematian Augustus berkembang. 

Dikisahkan oleh Suetonius (Augustus 94.1-7) bahwa Atia (ibunya) pergi pada suatu tengah malam ke ritus suci Dewa Apollo; di kuil itu dia memasang tandunya. Ketika perempuan-perempuan lainnya sudah tidur, dia pun terlelap. Tiba-tiba seekor ular merayap menuju dirinya; melilitinya lalu segera meninggalkan dirinya kembali. 

Ketika dia bangun, dia menyucikan dirinya seperti lazimnya dilakukan kaum perempuan sehabis berhubungan seks dengan seorang pria. Segera pada tubuhnya muncul suatu tanda berwarna seperti seekor ular, dan tanda ini tidak bisa dihilangkannya. Karena itu dia selalu menghindar dari tempat pemandian umum. 

Augustus dilahirkan pada bulan yang kesepuluh setelah peristiwa itu, dan karena peristiwa itu dia dipandang sebagai anak Apollo. Sebelum kelahirannya, Atia bermimpi rahimnya di bawa ke atas menuju bintang-bintang lalu disebar ke seluruh bentangan langit dan bumi. Ayahnya, Oktavius, juga bermimpi seberkas cahaya matahari memancar keluar dari rahim Atia./22/

Kultus Kaisar Tiberius (memerintah 14-37 M) berkembang di tujuh kota di Asia Kecil; di sana untuknya didirikan kuil, lengkap dengan imam-imamnya. Sebuah prasasti dari kota Myra di Lycia memuat pernyataan berikut: 

“Rakyat Myra (memberi penghormatan kepada) Kaisar Tiberius, Allah yang dimuliakan, anak dari para allah yang ditinggikan, Tuhan atas daratan dan lautan, sang pelindung dan penyelamat seluruh dunia.”/23/

Kaisar Kaligula (memerintah 37-41 M) pada satu pihak adalah seorang pemimpin yang dipuja-puja, tetapi di lain pihak dia adalah seorang pemimpin dengan reputasi buruk karena kesewenang-wenangannya.

Tentang Kaligula, Philo pada satu pihak menulis bahwa “dia akan mencurahkan aliran-aliran berkat baru bagi Asia dan Eropa sebagai penyelamat dan pelindung (Yunani: sōtēr kai euergetēs), dengan mendatangkan nasib baik yang langgeng bagi semua orang dan bagi setiap individu” (Legatio ad Gaium 22). 

Tetapi pada pihak lain, Philo menyebut Kaligula sebagai seekor “binatang yang kejam” (Legatio ad Gaium 22); demikian juga Suetonius menyebutnya sebagai “monster” (Kaligula 22:1). Sebutan semacam ini muncul karena Kaligula membangun persaingan dengan allah-allah tradisional, khususnya terhadap Dewa Zeus Olympus. 

Ketika Philo pribadi muncul di hadapan Kaisar Kaligula untuk membela kepentingan orang-orang Yahudi di Aleksandria, sang Kaisar menyalami Philo, “Jadi Saudara-saudara adalah orang-orang yang merendahkan allah-allah, orang-orang yang tidak percaya bahwa akulah Allah” (Legatio ad Gaium 353)./24/

Sebuah prasasti yang dibangun oleh Majelis kota Efesus di Asia Kecil sekitar tahun 38 M untuk memuliakan Gaius Julius Caesar Germanicus (atau Kaisar Kaligula) memuat tulisan ini: 

“Majelis dan penduduk kota-kota (Efesus dan Yunani), yang tinggal di Asia dan bangsa-bangsa (mengakui) Gaius Julius, anak dari Kaisar Gaius, sebagai Imam Besar dan Penguasa Absolut, ... Allah yang kelihatan yang dilahirkan dari (dewa-dewa) Ares dan Afrodite, sang Penyelamat kehidupan manusia seluruhnya.”/25/

Kaligula tidak dideifikasikan setelah kematiannya. Tentu karena sisi-sisi tercela dari kepemimpinannya.

Untuk Kaisar Klaudius (memerintah 41-54 M), hanya setelah kematiannya dibangun sebuah altar dan kuil di Kamulodunum di Britania Raya; di situ dia dipuja sebagai Allah. Sebelumnya di tempat itu berdiri sebuah altar untuk Dewi Roma dan Allah Augustus./26/

Tentang Kaisar Vespasianus (69-79 M) dikatakan bahwa ketika dia sedang menanti ajal, berkatalah dia, “Celakalah! Aku kira aku sedang menjadi suatu Allah” (Suetonius, Vespasianus 23.4). Menurut Suetonius (Domitianus 13.2), Kaisar Domitianus memakai ungkapan Dominus et deus noster, “Tuhan dan Allah kita”, ketika mengacu kepada dirinya sendiri pada waktu dia menulis surat dan mengeluarkan edik.

Penutup

Dunia sosiokultural, religius dan politis Yunani-Romawi kuno yang menjadi konteks historis-kultural dan politis kehidupan berbagai komunitas Kristen yang didirikan oleh rasul Paulus ditandai oleh “pluralisme” dan toleransi yang ramah di dalam kehidupan kultis keagamaan. 

Pada masa Paulus, di provinsi-provinsi kekaisaran Romawi sebelah timur, tidak ada satu “agama” kekaisaran yang resmi diterima. Praktek-praktek kultis keagamaan yang berbagai jenis diterima dengan toleran./27/

Pada masa Paulus aktif dengan kegiatan-kegiatan misioner evangelistiknya (tahun 34-64) di kawasan-kawasan Laut Tengah utara, khususnya di Asia Kecil, Makedonia dan Akhaia, kekristenan di dunia Yunani-Romawi dapat cepat berkembang tanpa hambatan dari pihak pemerintah Roma./28/

Selain harus mempertahankan kesatuan internal yang kokoh, yang diikat oleh suatu pengakuan atas Allah yang satu dan Tuhan yang satu, kekristenan yang tumbuh sebagai suatu kultus di tengah dunia religius yang majemuk juga harus terlibat persaingan untuk memperebutkan anggota-anggota baru dengan kultus-kultus keagamaan lainnya./29/

Sebelum Kaisar Konstantinus berkuasa pada abad keempat, kekristenan bukanlah suatu agama resmi yang dilindungi negara, melainkan salah satu agama dalam konteks keagamaan dunia Yunani-Romawi yang majemuk. Pada masa itu, ada banyak allah dan ada banyak tuhan yang disembah. Dan kekristenan harus berjuang di lapangan ideologis politis untuk menentukan tuhannya sendiri, yang sebisa mungkin harus lebih tinggi dari tuhan-tuhan Yunani-Romawi, atau sedikitnya setara dengan tuhan-tuhan itu.

Di luar konteks persaingan ideologis politis tuhan-tuhan itu, Yesus tidak akan dipertuhankan oleh kekristenan. Jadi, jika ditempatkan pada zaman dan konteks religiopolitis dan alam pemikiran kehidupan komunitas-komunitas kekristenan awal, maka pengagungan dan pemuliaan Yesus sampai Dia diberi status ilahi adalah hal yang sudah sepatutnya terjadi. 

Lantas, apakah Yesus Kristus betul-betul Tuhan pada diri-Nya sendiri? Jawabannya dapat ditemukan dan dibuktikan pada jalan kehidupan dan kebajikan mulia serta prestasi agung para pengikut-Nya yang setia dan ikhlas. Komunitas-komunitas Kristen awal dulu mengklaim dan memberitakan bahwa kehidupan mereka diubah dengan real oleh Roh Yesus Kristus. Roh yang sama ini jugalah yang membentuk kehidupan orang Kristen di segala zaman dan tempat. 

Lewat deifikasi Yesus inilah, umat-umat Kristen perdana dulu mendapatkan semangat hidup dan kekuatan perjuangan mereka untuk bertahan dan berkembang. Mereka dapat berkembang tentu juga karena manajemen ketahanan dan pertumbuhan diri mereka telah dijalankan dengan bagus.

Catatlah, membawa masuk doktrin syirik yang berasal, katakanlah, dari Jazirah Arabia abad ketujuh ke dunia Greko-Romawi sebagai konteks historis religiopolitik kelahiran kekristenan awal di abad-abad perdana M, lalu memaksakan doktrin tersebut dikenakan pada agama-agama dunia Greko-Romawi, termasuk pada agama Kristen yang mendeifikasi Yesus Kristus, adalah suatu sikap, pendirian dan perlakuan yang anakronistis dan etnosentristis. 

Setiap agama lahir dalam konteks sejarah, konteks sosiobudaya, sosiopolitis dan religiopolitis, dan dalam suatu sistem sosial yang melahirkan bahasa, masing-masing yang khas. Karena itu juga setiap agama harus dipahami dan ditafsir pertama-tama dalam jejaring, tenunan dan ikatan dengan berbagai konteks tersebut. 

Setiap agama memiliki texture (Latin: textura) atau tenunan sendiri-sendiri, yang merupakan rajutan dari berbagai benang konteks sejarah, konteks sistem sosiobudaya, lingkungan alam pemikiran, dan lingkungan dunia sastrawi sekitar.

Jika dicabut dari berbagai konteks kelahiran masing-masing, setiap agama berubah menjadi roh-roh yang tak berpijak di Bumi tetapi bergerak melayang-layang. Wajah si penafsirnya yang hidup di zaman dan tempat yang lain menjadi wajah roh-roh tersebut. Inilah anakronisme alias salah zaman, salah era, dan etnosentrisme alias salah budaya, salah sistem sosial, salah alam pemikiran, dan salah kebangsaan.


Catatan-catatan

/1/ Luther H. Martin, Hellenistic Religions: An Introduction (New York Oxford: Oxford University Press, 1987) 72, 76.

/2/ Hans-Josef Klauck, The Religious Context of Early Christianity: A Guide to Graeco-Roman Religions (Edinburgh: T&T Clark, 2000) 132.

/3/ David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study of the Gospels (Minneapolis: Fortress Press, 1994²) 165-168.

/4/ Helmut Koester, Introduction to the New Testament. Vol. 1: History, Culture and Religion of the Hellenistic Age (New York - Berlin: Walter De Gruyter, 1987 [1982]) 188.

/5/ Klauck, The Religious Context, 139.

/6/ Lebih lanjut, lihat artikel “The Error of the Long-haired Jesus” dalam http://www.askelm.com/secrets/sec103.htm; dan Jefferson Monet, “Feature Story: Serapis (Sarapis), the Composite God” dalam http://www.touregypt.net/featurestories/serapis.htm.

/7/ Koester, Introduction to the New Testament, 1. 372.

/8/ Klauck, The Religious Context, 140.

/9/ Klauck, The Religious Context, 141-142. Bdk. Martin, Hellenistic Religions, 117.

/10/ Koester, Introduction to the New Testament,1.174.

/11/ Klauck, The Religious Context, 156-157, 159.

/12/ David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 124.

/13/ Lebih jauh tentang Apollonius dari Tyana, lihat Klauck, The Religious Context, 168-177; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 203-238.

/14/ Tentang ini, lihat Klauck, The Religious Context, 253-261.

/15/ Klauck, The Religious Context, 261-262.

/16/ Lebih jauh, lihat Klauck, The Religious Context, 266-274; juga Koester, Introduction to the New Testament, 1.6-12; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 131-132.

/17/ John Noble Wilford, "More Clues in the Legend (or Is It Fact?) of Romulus", The New York Times, June 12, 2007, https://www.nytimes.com/2007/06/12/science/12rome.html.

/18/ Andrew Slayman, Marco Merola, Andrea Candarini, and Albert Ammerman, "Origins of Rome", Archaelogy Vol. 60, No. 4, July/August 2007, JSTOR, pp. 22-27, https://www.jstor.org/stable/41780263.

/19/ Lihat H. Chadwick, "St. Paul and Philo of Alexandria", BJRL 48 (1966), 301. Juga LCL, 2.288; juga L. Ginzberg (Legends, 6.152 n. 904) yang berpendapat bahwa ketika T. Moses (1.15) dan Ps.Philo (Bib.Ant, 19-20 d) menekankan bahwa Musa dikuburkan di area pemakaman umum, ini dimaksudkan untuk menggempur pandangan bahwa Musa tidak mati tetapi diangkat ke sorga. 

/20/ Klauck, The Religious Context, 289-294.

/21/ Tentang kaitan prasasti tentang kelahiran Kaisar Augustus ini dengan kisah kelahiran Yesus dalam Injil Lukas, lihat Richard A. Horsley, The Liberation of Christmas: The Infancy Narratives in Social Context (New York: Crossroad, 1989) 27ff.

/22/ Lihat Klauck, The Religious Context, 294-301; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 132-133.

/23/ Klauck, The Religious Context, 302.

/24/ Klauck, The Religious Context, 303-304.

/25/ Bart D. Ehrman, The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings (New York, Oxford: Oxford University Press, 20043) 30.

/26/ Klauck, The Religious Context, 305.

/27/ Wayne A. Meeks, “Breaking Away: Three New Testament Pictures of Christianity’s Separation from the Jewish Communities”, dalam Jacob Neusner and Ernest S. Frerichs, eds., “To See Ourselves As Others See Us”: Christians, Jews, “Others” in Late Antiquity (Chico, California: Scholars Press, 1985) 104; Bart D. Ehrman, The New Testament, 30-33.

/28/ Penganiayaan atas orang-orang Kristen di kota Roma atas perintah Nero (tahun 54-68) terjadi bukan karena mereka beragama Kristen, tetapi karena mereka dijadikan kambing hitam atas peristiwa kebakaran besar selama sembilan hari yang melanda kota Roma pada Juli 64 (Tacitus, Annals 15.44). Lihat: Lester L. Grabbe, Judaism from Cyrus to Hadrian. Vol. 2: The Roman Period (Minneapolis: Fortress Press, 1992) 2.445; Bart D. Ehrman, The New Testament, 430.

Sejauh terdokumentasi, reaksi resmi pertama dari kekaisaran Roma terhadap kekristenan muncul dari Pliny (yang lebih muda), gubernur Roma untuk propinsi Bithynia-Pontus di Asia Kecil, ketika ia pada tahun 111 menulis surat kepada Kaisar Trajanus (98-117), Surat Pliny kepada Trajanus (10.96). 

Di dalam suratnya ini, Pliny meminta pendapat dan petunjuk sang Kaisar perihal bagaimana dia telah dan harus menangani suatu agama baru, kekristenan. Di dalam suratnya ini, dia menceritakan usaha-usaha yang telah dilakukannya untuk menghambat orang-orang Kristen menghayati agama mereka, dan perihal bagaimana dia dapat memaksa mereka berpaling meninggalkan Kristus untuk menyembah dewa-dewa Romawi dan sang Kaisar sendiri, dan perihal bagaimana dia mengeksekusi mereka yang membangkang. 

Dia berprasangka bahwa kekristenan sebagai suatu gerakan keagamaan yang baru adalah suatu “perhimpunan politik” yang dengan cepat dapat menjadi suatu ancaman bagi kekuasaan pemerintahan Romawi yang sah. Tetapi dia tidak dapat membuktikan hal ini; yang dia temukan justru kekristenan, dalam penilaiannya, sebagai suatu bentuk “takhayul yang berlebihan dan bejat.” 

Lihat Luther H. Martin, Hellenistic Religions: An Introduction (New York Oxford: Oxford University Press, 1987) 124-125; Helmut Koester, Introduction to the New Testament. Vol. 1: History, Culture and Religion of the Hellenistic Age (New York - Berlin: Walter De Gruyter, 1987 [1982]) 370-71; Vol. 2: History and Literature of Early Christianity, 334ff.; Ehrman, The New Testament, 430-431.

/29/ Jack T. Sanders, Schismatics, Sectarians, Dissidents, Deviants. The First One Hundred Years of Jewish-Christian Relations (London: SCM Press, 1993) 255.