Sunday, February 14, 2021

APA PESAN KISAH MARKUS tentang "Yesus berubah rupa" (Markus 9:2-13)?



Tadi, mulai pukul 9 pagi, Minggu, 14 Feb 2021, saya mengikuti kebaktian online GKI Kepa Duri lewat tayangan Youtube. Pengkhotbahnya Pdt. Cordelia Gunawan. Saya menikmati seluruh rangkaian ibadah ini, termasuk khotbah di dalamnya.

Sekarang saya ingin mengetengahkan apa sebenarnya maksud dan pesan Markus 9:2-13, yang saya berhasil temukan. Baca kisah paralelnya juga dalam Matius 17:1-13 dan Lukas 9:28-36 yang sudah mengalami penyuntingan oleh penulis masing-masing Injil ini.

Pesan saya kepada Pdt. Cordelia, kalahkanlah kecenderungan yang ada dalam diri para rohaniwan umumnya untuk dengan berapi-api membenturkan akal dan ilmu pengetahuan dengan teks-teks kitab suci yang mengisahkan hal-hal "luar biasa" seperti teks khotbahnya.

Kata "transfigurasi" (dari kata Latin transfiguratio) tidak dipakai dalam teks Markus tersebut dalam terjemahan LAI. Yang dipakai LAI frasa "berubah rupa". Kata Yunaninya metamorfē, artinya: perubahan wujud ("morfē"), melampaui ("meta") sosok ragawi, berubah menjadi sosok cahaya, "the light figure".

Artinya, di suatu momen kehidupan aktif Yesus di masa dewasa, "di atas sebuah gunung yang tinggi", Yesus mengalami pencahayaan ilahi, menampakkan kemuliaan ilahi, mengalami penerangan sorgawi atau "divine enlightenment". Ini menjadi sumber kekuatan spiritual besar bagi Yesus dalam menjalani alur kehidupan-Nya yang akan diwarnai penderitaan, lalu berakhir dalam kematian di kayu salib (Markus 9:9-13).

Pada momen pencerahan itu, "datanglah awan" menaungi mereka. Maksudnya: "awan kemuliaan ilahi", "wujud kehadiran Allah dalam kemuliaan-Nya". Dalam sastra-sastra rabbinik, setelah tahun 70, manifestasi kemahahadiran ilahi yang agung dan mulia ini dinamakan "Shekinah" (Ibrani: Šekīnahשכינה).

Lalu terdengar suara dari awan kemuliaan ilahi itu, suara Allah sang Bapa, "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." 

Penyingkapan status Yesus ini paralel dengan penyingkapan yang telah terjadi sebelumnya, ketika "langit terbuka" sesaat sesudah Yesus dibaptis, yang didengar oleh Yesus saja: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Markus 1:9-11).

Peristiwa metamorfē, saat Yesus mentransendir wujud ragawi, menjadi wujud cahaya---"wajah-Nya berubah, bercahaya seperti Matahari" (Matius 17:2; Lukas 9:29), dengan pakaian-Nya terlihat sangat putih bercahaya-cahaya--- adalah peristiwa yang sangat mendasar bagi Yesus. Ini peristiwa pencerahan budi, yang menjadi sumber inspirasi kata-kata Yesus yang patut manusia "dengarkan" karena Yesus berbicara sebagai sang Anak Allah yang diperkenan Allah, yang menjadi suatu manifestasi Shekinah.

Metamorfē sebagai momen "enlightenment", momen penerangan budi, yang selanjutnya menjadi sumber pengetahuan dan kebijaksanaan dan kekuatan spiritual, lazim dialami para sosok besar yang mulia dan agung, pengubah sejarah dunia, juga para sosok besar religius. Frasa lain yang paralel adalah "fotisme", "pencahayaan dari kawasan lain". Ini adalah suatu fenomena antropologis lintasbudaya. 

Ya, kita tentu teringat juga pada nabi Musa. Dikisahkan, ketika dia telah turun dari Gunung Sinai setelah berjumpa dengan Allah, "kulit wajahnya bercahaya-cahaya oleh karena dia telah berbicara dengan Tuhan" (Keluaran 34:29-35; disinggung juga oleh rasul Paulus pada 2 Korintus 3:7, 13). Cahaya kemuliaan Tuhan menguasai wajah Musa. Sang nabi utama bangsa Yahudi ini mengalami penerangan budi ilahi. Inilah yang memampukan dia, dalam kepercayaan Yahudi, untuk menjadi pemimpin yang tangguh, nabi tersuci, pemberi hukum Allah, dan peletak fondasi legal awal agama Yahudi.

Dalam karya Philo yang berjudul Life of Moses, di saat menceritakan akhir perjalanan kehidupan nabi Musa, Philo pada bagian 2.288 karyanya itu memuat sebuah deskripsi tentang kenaikan Musa ke sorga lalu hidup abadi setelah tubuh dan jiwanya disatukan, berubah menjadi "pikiran" yang "murni seperti cahaya Matahari". Baik, saya kutipkan bagian itu sepenuhnya.

"Setelah itu, tibalah waktunya untuk dia [Musa] harus membuat perjalanan panjang dari Bumi ke sorga, dan untuk melepaskan kehidupan fana di dunia ini demi memperoleh kehidupan abadi. Sang Bapa memanggilnya dari Bumi ini dengan menjadikan satu kesatuan tunggal kodrat rangkap dua tubuh dan jiwanya, lalu mengubah keseluruhan keberadaannya menjadi pikiran, murni seperti cahaya Mentari."

Philo juga bimbang apakah betul Musa raib, diangkat ke sorga, dan tidak mengalami kematian, tetapi berubah menjadi sosok cahaya, menjadi pikiran yang bebas dan abadi. Dalam bagian 2.291 karyanya itu, Philo masih menyebut kematian dan penguburan Musa./*/

Dalam Ulangan 34:5-8, ditulis bahwa Musa mati dan dikuburkan di sebuah lembah di tanah Moab meskipun tidak ada orang yang tahu di mana lokasi kuburan Musa. Ketidaktahuan ini menimbulkan spekulasi bahwa Musa tidak pernah mati, tetapi diangkat langsung ke sorga dengan tubuh yang sudah diubah.

Tapi, oleh injil-injil PB, Yesus digambarkan lebih tinggi dan lebih unggul dari Musa. Yesus telah mengalami penerangan ilahi dua kali, saat Dia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis dan saat Dia mengalami metamorfē di atas sebuah gunung yang dilihat oleh tiga murid terdekat-Nya.

Bagi penulis Injil Markus, pencerahan yang dialami Yesus ini menempatkan Yesus pada posisi sejajar dengan Elia dan Musa. Tapi Yesus juga melampaui dua nabi PL ini. Yesus bukan hanya nabi, tapi juga "Anak yang dikasihi Allah". Bangsa Israel sebagai "anak Allah" (tradisi PL) direpresentasi oleh satu sosok yang tercerahkan dan memancarkan kemilau kehadiran ilahi, Yesus sang Anak Allah yang disenangi sang Bapa, Yesus sang Shekinah.

Teks Markus 9:9 penting diperhatikan. Pada teks ini, diisyaratkan bahwa "metamorfē" Yesus di atas gunung itu akan dapat dipahami umum setelah Yesus ("Anak manusia") "dibangkitkan dari antara orang mati".

Maksudnya, kebangkitan Yesus yang dikerjakan oleh sang Bapa ("dibangkitkan") adalah juga peristiwa "metamorfē" yang ketiga dan definitif, peristiwa Yesus melampaui kefanaan ragawi-Nya, berubah, masuk ke dalam kondisi tidak lagi dikuasai kefanaan, menjadi Tuhan yang hidup, yang hadir melampaui ruang dan waktu, kapan saja dan di mana pun, Yesus dalam "rupa yang lain" (Yunani: hē hetera morfē) seperti ditulis pada Markus 16:12, bagian dari Markus 16:8b-20.

(Markus 16:8b-20 lazim dipandang sebagai pelengkap penutup tambahan setelah teks asli Injil Markus berakhir pada 16:8a. Tambahan pelengkap penutup pendek ada pada Markus 16:8b dan tambahan pelengkap penutup panjang ada pada Markus 16:9-20. Dua tambahan belakangan ini dirasa perlu oleh editor belakangan mengingat Injil Markus ditutup semula pada 16:8a yang bernada negatif pesimistik, "Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut.").

Yesus yang telah dibangkitkan, adalah Yesus yang mengambil rupa yang lain, Yesus yang telah mengalami "metamorfē", bertubuh sorgawi, yang tak tunduk pada batasan ruang dan waktu, menjadi Tuhan yang hidup di segala zaman dan tempat. Perubahan ke wujud yang lain ini, lewat kebangkitan-Nya, telah diantisipasi dalam peristiwa pencerahan ilahi yang dialami Yesus di atas gunung sebelumnya.

Nah, sebagai murid Yesus, kita juga perlu mempunyai pengalaman pencerahan budi, pengalaman diterangi oleh cahaya ilahi, dan wajah kita menjadi "bercahaya kemilau", dipenuhi aura kehadiran Allah dalam kemuliaan-Nya. Memakai kata-kata Paulus, kita perlu "diubah menjadi serupa (Yunani: metamorphousthai) dengan gambar Yesus, dalam kemuliaan yang makin besar." (2 Korintus 3:18).

Metamorfē kita ini akan menjadi sumber hikmat, pengetahuan dan kekuatan spiritual besar bagi kita semua dalam pelayanan dan kehidupan kita yang berliku-liku. Bahkan sumber kekuatan besar untuk kita bangkit kembali dari genangan lumpur penderitaan dan kesukaran berat.

Baiklah. Happy Sunday. Selamat hari Minggu. Selamat beribadah.

Jakarta, 14 Feb 2021
ioanes rakhmat

Catatan

/*/ Lihat H. Chadwick, "St. Paul and Philo of Alexandria", BJRL 48 (1966), 301. Juga LCL, 2.288; juga L. Ginzberg (Legends, 6.152 n. 904) yang berpendapat bahwa ketika T. Moses (1.15) dan Ps.Philo (Bib.Ant, 19-20 d) menekankan bahwa Musa dikuburkan di area pemakaman umum, ini dimaksudkan untuk menggempur pandangan bahwa Musa tidak mati tetapi diangkat ke sorga.

Saturday, February 13, 2021

Perayaan Imlek Di-"Alkitabiah"-kan


Menarik sekali, dalam sekian e-cards ucapan selamat tahun baru Imlek dan video-video pendek tentang Imlek yang saya telah terima dalam beberapa hari terakhir ini, ada selipan ayat-ayat Alkitab.

Antara lain, Yesaya 40:31 tentang kekuatan baru yang diberi Tuhan lewat Imlek. Mazmur 90:17a tentang kemurahan Tuhan sebagai inti makna Imlek. 2 Korintus 8:14 tentang keseimbangan lewat saling memberi yang menjadi jiwa Imlek.



Dan ada lirik-lirik lagu Imlek yang menggemakan tema-tema Alkitab, misalnya tentang kasih Allah yang begitu besar (Yohanes 3:16a), tentang Allah yang menggenapi firman-Nya, dan berisi ucapan Yesus tentang berbahagialah orang yang percaya. 



Gambar persis di atas ini mempesona. Imajinasi yang kreatif membawa kita ke Perjamuan Malam Imlek, dengan Tuhan Yesus bertindak selaku sang Tuan Rumah.

Nah, usaha-usaha sederhana "mengalkitabiahkan" perayaan Imlek itu tentu dimaksudkan untuk menyingkirkan keraguan orang Tionghoa Kristen yang tetap ingin merayakan Imlek sebagai pesta budaya Tionghoa.

Jadi, lewat usaha mengalkitabiahkan perayaan Imlek, orang Tionghoa Kristen hendak diyakinkan bahwa tidak ada benturan atau konflik antara kehidupan sebagai seorang Kristen dan perayaan musim semi Imlek dalam tradisi leluhur orang Tionghoa.

Syukurlah. Memang seharusnya begitu. Tradisi-tradisi besar leluhur apapun perlu diintegrasikan lembut dan gemulai dengan kehidupan sebagai orang Tionghoa Kristen.

Saya ingat, tiga puluh atau empat puluh tahun lalu, terkait Imlek ada ajaran keras dari aliran gereja tertentu yang para pendirinya ironisnya orang Tiongkok asli. Mereka wanti-wanti mengingatkan dengan keras bahwa karena orang Kristen adalah "ciptaan baru", maka tradisi perayaan Imlek dari para leluhur orang Tionghoa HARUS DISINGKIRKAN dari kehidupan orang Tionghoa Kristen.

Mereka yang keras terhadap tradisi Tiongkok itu anehnya gampang saja mengadopsi tradisi Jerman yang menjadi fondasi kekristenan yang mereka anut dan sebarkan. Apakah ada kekristenan murni puritan yang tidak berisi kebudayaan apapun? Ya TIDAK ADA.

Syukurlah, ajaran kekristenan keras itu tidak bisa membuang tradisi perayaan Imlek dari orang Tionghoa Kristen. Ajaran keras itu tidak laku.

Ya, bagaimanapun juga, kebudayaan adalah bagian dari agama, dan agama juga bagian dari kebudayaan. Manusia di muka Bumi hidup tidak bisa lepas dari berbagai macam bentuk dan corak kebudayaan. Kebudayaan lahir dari DAYA AKAL BUDI. Akal budi yang diberdayakan, membuat kehidupan lebih baik dan lebih maju. Akal budi yang ditindas dan dibunuh, melahirkan kebodohan dan keterbelakangan, dan kematian.

Jadi, beragama tanpa menghargai kebudayaan sendiri adalah beragama yang telah kehilangan bagian sangat penting dari dasar kehidupan. Beragama yang kehilangan sesuatu yang berharga yang ada dalam jiwa kita yang dalam.

Lewat perayaan Imlek, ikatan kekeluargaan dibarui dan diperkuat. INI SANGAT BAIK DAN POSITIF. 

Keluarga-keluarga yang kuat membuat kota juga kuat. Kota-kota yang kuat dan terpadu menjadikan negara dan bangsa juga kuat.

Sekali lagi, "happy chinese new year 2021". Semoga semua orang berbahagia dan makmur. GONG XI FA CAI.

12 Feb 2021 (hari dimulainya tahun baru Imlek 2021 yang berzodiak lembu jantan logam, "the year of the metal ox")

ioanes rakhmat

* Editing mutakhir 10 Februari 2024 (saat dimulainya tahun baru lunar Naga)



Monday, February 1, 2021

Bolehkah penderita diabetes memakan buah pisang matang?


Sudah diketahui, bahwa pisang berisi banyak nutrien, mineral, gula alamiah, serat/fiber, dan vitamin. Khasiat pisang lumayan banyak untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan tubuh. Ikuti video di bawah ini yang membeberkan khasiat-khasiat buah pisang. Mungkin anda akan takjub saat mendengarkannya, lalu tahu betapa banyak khasiat pisang.



Pisang yang makin matang akan memunculkan pada kulitnya bercak-bercak coklat. Kulit pisang muda/setengah matang tidak berbercak coklat, tetapi berwarna hijau atau kuning segar. Ada juga jenis pisang yang berkulit hijau dengan berbercak coklat tanda sudah matang. Makin matang sebuah pisang, makin dianjurkan untuk dikonsumsi karena khasiatnya lebih banyak dibandingkan pisang hijau yang belum matang. 

Biasakan diri untuk memakan dua buah pisang setiap hari untuk menjaga kesehatan tubuh. Di Amerika, orang lebih banyak makan pisang dibandingkan makan apel dan jeruk bersamaan.

Karena pisang yang matang terasa makin manis, artinya kandungan fruktosa glukosanya lebih tinggi, para penderita diabetes jadi bertanya-tanya, bolehkah mereka memakan pisang matang. Baiklah, kita cari jawabnya.

Indeks Glikemik (atau GI, "Glycemic Index") menunjukkan efek yang ditimbulkan oleh suatu jenis makanan pada kadar gula darah, apakah membuat indeks ini tinggi atau rendah lewat karbohidrat yang ada dalam makanan tersebut. 

Pisang memiliki GI yang rendah. Menurut database internasional GI, pisang matang memiliki GI 51, sementara makanan yang GI-nya rendah menunjukkan angka 55 atau lebih rendah. Jadi, pisang matang kurang lebih sama indeks GI-nya dengan makanan lain yang memiliki GI rendah.

Dengan demikian, para penderita diabetes dapat dengan aman memakan pisang matang, satu atau dua buah per hari ukuran kecil.

Ditemukan, kadar gula darah puasa turun jika orang teratur memakan pisang. Buah-buahan dengan GI rendah mengurangi risiko timbulnya diabetes.

Orang tentu saja lebih suka memilih pisang hijau (menuju kuning) atau pisang kuning cerah, karena pisang matang menampilkan kulit yang tak enak dipandang. Bertotol-totol coklat jelek. Ok-lah, jika pilihan anda begitu.

Ya, pisang hijau atau pisang yang belum matang mengandung lebih banyak amilum. Apa itu amilum? Baiklah saya jelaskan pendek saja.

Amilum, selain glikogen dan selulosa, adalah karbohidrat polimerik yang terdiri atas unit-unit glukosa yang diikat oleh polimer-polimer. Amilum ada berlimpah, dalam makanan sebagai sumber tenaga, juga tanaman hijau atau buah-buahan hijau sebagai polikarbohidrat atau polisakarid. Lebih lanjut, lihat di bawah.(*) 

Nah, amilum terdapat lebih banyak dalam pisang hijau, tapi sedikit dalam pisang matang, dan memberi efek lebih rendah pada gula darah ketimbang pisang matang. Amilum tidak dapat dipecah dengan mudah oleh tubuh seperti memecah gula yang kurang kompleks (monosakarid); alhasil memudahkan kontrol terhadap gula darah, dan memperlambat peningkatan kadar gula darah. 

Jadi, terkait efeknya pada kadar gula darah, pisang hijau sedikit memberi efek, dibandingkan pisang matang yang kulitnya berbercak coklat dengan kandungan polikarbohidrat amilum yang rendah.

Tetapi, mengingat pisang matang memberi khasiat lebih banyak dibandingkan pisang hijau pada kesehatan tubuh, dan mengingat IG pisang matang berada pada angka yang tergolong rendah (51), para penderita diabetes yang perlu mengontrol asupan karbohidrat mereka (di bawah pengawasan dieticians mereka) dapat dengan aman memakan pisang matang. Dengan catatan, ukuran pisang matang yang mereka makan perlu diperhatikan. 

Sebab ukuran pisang juga menentukan kandungan karbohidratnya. Makin sedikit karbohidratnya, makin dibutuhkan jika terkait dengan efek terhadap gula darah.

Pisang ukuran kecil (panjang 6-7 inch) mengandung karbohidrat lebih sedikit, yakni 23,07 gram sekali makan. Pisang ukuran sedang (7-8 inch) mengandung kurang lebih 26 gram karbohidrat. Pisang ukuran besar (di atas 8 inch) berisi 35 gram karbohidrat.

Jadi, para penderita diabetes dapat dengan santai memakan pisang matang, yang berukuran kecil saja, satu atau dua buah per hari, tetapi dengan khasiat yang lebih banyak ketimbang memakan pisang hijau yang belum matang. 

Sumber:

https://www.medicalnewstoday.com/articles/319992#diet-and-safety-tips 

https://www.ndtv.com/health/banana-a-fruit-loaded-with-carbs-and-sugar-can-diabetics-eat-banana-know-how-it-can-affect-your-bloo-2182564

(*) Polikarbohidrat atau polisakarid adalah karbohidrat polimerik rantai panjang yang terdiri atas unit-unit monosakarid yang diikat oleh pengikat glikosid. Polisakarid tidak terasa manis, tidak mengalami mutarotasi, dan tidak memiliki kelompok aldehid bebas atau kelompok keton bebas (disebut sebagai "non-reducing agent"). Karbohidrat dapat bereaksi dengan air dengan munggunakan enzim amilase sebagai katalisator lalu menghasilkan unsur gula. 

Semoga bermanfaat.

31 Jan 2021

ioanes rakhmat 

Saturday, January 30, 2021

Kini Diperlukan "Vaksin-vaksin Antisipatif" Multilinier Covid-19


MUTAN-MUTAN varian virus corona baru (mutan-mutan Inggris, Afrika Selatan, Brazil, plus Columbus Ohio, dan yang masih akan muncul) yang telah menyebar ke seluruh dunia, kini ditemukan RESISTEN dalam tingkat yang variatif terhadap vaksin-vaksin yang sudah ada.

Ya, terhadap semua vaksin. Termasuk vaksin Pfizer dan vaksin Moderna, menyusul segera vaksin Novavax dan vaksin Johnson & Johnson. Juga, masih ditunggu, vaksin Arcturus dan vaksin Vaxart (tablet dan sirup). Tentu juga vaksin-vaksin Tiongkok dan negeri-negeri lain.

Kini setiap kasus positif memerlukan sekuensing genetik virus! Tidak cukup test PCR dan penelusuran kontak saja! Jadi, problem dunia makin berat dan rumit terkait penanggulangan pandemi Covid-19.

Apakah Indonesia mampu melakukan langkah penanggulangan yang makin berat dan rumit ini? Kita berharap ya.

Terkait vaksin, kini langkah-langkah penting diperlukan:

1. Melakukan "adjustment" atau "penyetelan ulang" vaksin-vaksin yang sudah ada. Setelah itu, perlu uji klinis dan otorisasi penggunaan darurat lagi.

2. "Adjustment" atas vaksin yang sudah ada atau atas vaksin yang sedang dikembangkan harus bisa menghasilkan vaksin-vaksin yang mampu jauh mengantisipasi mutasi-mutasi besar virus corona.

Dus, dibutuhkan vaksin-vaksin yang semua komponen kimiawi dalam vaksin-vaksin ini memiliki kapasitas untuk melampaui banyak mutasi besar genetik yang sedang dan akan terjadi secara multilinier pada strain semula virus corona baru (yaitu strain Wuhan, Desember 2019).

"Vaksin antisipatif" ini mengharuskan usaha keilmuan yang lebih cerdas, yang dijalankan interaktif bersama dunia real yang liar, yang berada di luar dunia uji klinis ilmiah yang terkontrol.

Lewat vaksin antisipatif ini, replikasi diri virus-virus corona baru harus dapat dihentikan jika pandemi ingin dapat ditanggulangi "penuh". Mutasi genetik viral berlangsung saat replikasi diri. Kita butuh vaksin-vaksin unggulan yang mampu sepenuhnya mencegah replikasi diri mutan-mutan virus corona baru. Dus, vaksin-vaksin antisipatif masa depan ini akan menjadi vaksin-vaksin editor DNA/RNA virus yang hidup (virion) yang telah menginfeksi tubuh manusia.

Jadi, tampaknya itu akan menjadi suatu usaha sains-tek vaksinologis yang besar, ruwet, dan membutuhkan waktu sangat panjang dan daya tahan mental dan raga dan ketabahan kita semua sebagai individu dan populasi.

3. Vaksin-vaksin yang sudah ada--- yang tentu tidak akan dibuang ke laut karena "sudah basi", maksudnya: tidak efektif lagi dalam membangun antibodi-antibodi lengkap terhadap mutan-mutan virus--- tetap dapat disuntikkan sebagai dosis pertama untuk menangkal virus corona strain lama.

Sesudah jeda waktu yang variatif antar-vaksin, harus segera disusul dengan suntikan vaksin booster/penguat yang mampu menangkal mutan-mutan virus corona baru.

Dus, penyakit Covid-19 pasti akan menjadi penyakit endemik yang akan terus ada bersama kita, dan harus dilawan dengan vaksinasi vaksin-vaksin booster secara berkala (mungkin 6 bulan sekali atau 12 bulan sekali). Serupa dengan penanganan wabah influenza yang muncul musiman di kawasan-kawasan non-tropis.

Vaksin-vaksin booster ini tentu memerlukan "adjustment" atau penyesuaian ulang terus-menerus sejalan dengan mutasi-mutasi virus corona yang terus berlangsung di saat mereka mereplikasi diri.

Sudah ditulis di atas, sangat diperlukan vaksin-vaksin booster atau vaksin-vaksin baru yang mampu jauh mengantisipasi sangat banyak mutasi genetik besar virus corona baru yang berlangsung dalam trajektori tidak unilinier, tapi multilinier.

Para ilmuwan global perlu bekerjasama dan bergabung dalam meneropong ke depan trajektori mutasi-mutasi genetik viral yang multilinier ini. Perlu ada "fusion of horizons" (terma Gadamer) antar para ilmuwan peneliti dan perusahaan-perusahaan farmasi pengembang vaksin-vaksin yang antisipatif.

Jadi, ya masa pandemi dan masa endemi Covid-19 akan dan sedang menjadi masa kesukaran besar umat manusia. Suatu kesengsaraan global. Suatu azab alamiah, bukan azab buatan manusia, dan juga bukan azab dari Langit.

Pandemi yang lalu berubah menjadi endemi Covid-19 akan berlangsung satu generasi atau lebih manusia. Kecuali untuk negeri-negeri maju kecil seperti Singapura dan New Zealand. Dampak-dampak global akan pasti terjadi pada kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan, daya tahan tubuh, dan gaya kehidupan kita semua, serta hubungan internasional.

Semoga sains-tek maju vaksinologis, dalam interaksi dengan dunia nyata yang berjalan dalam hukum-hukumnya sendiri, akhirnya, dengan perkenan dan bantuan besar Tuhan YMPengasih, dapat menghentikan replikasi diri semua mutan virus corona dalam sel-sel tubuh manusia. Ini suatu target sains-tek yang luar biasa besar yang sangat sulit dicapai, tetapi tidak mustahil dapat diraih.

Temukanlah makna kehidupan anda di masa kesusahan besar pandemi Covid-19 yang sedang dan akan berlangsung jangka sangat panjang. Peran bermakna apa yang dapat anda jalankan, kecil sekalipun?

Kata almarhum psikoterapis beken Viktor E. Frankl asal Austria, kesengsaraan adalah bagian dari kehidupan, sukar sekalipun. Sebagaimana kita ingin kehidupan kita bermakna, maka kita sendirilah yang harus menemukan dan menciptakan makna dalam penderitaan berat sekalipun di era pandemi ini.

Jakarta, 30 Januari 2021
ioanes rakhmat

Sumber rujukan yang diperhatikan

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-01-30/covid-mutations-undercut-optimism-even-as-more-vaccines-get-near

https://ta6b7wzz5qeeqta24rhs3hppna-adwhj77lcyoafdy-www-bbc-com.translate.goog/news/amp/uk-55850352

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-01-29/j-j-single-dose-vaccine-provides-strong-shield-against-covid-19

https://www.channelnewsasia.com/news/singapore/covid19-4-5-years-prolong-pandemic-risks-virus-mutate-14050198

https://www.channelnewsasia.com/news/world/covid19-moderna-vaccine-booster-south-africa-uk-strain-14039612

Friday, January 15, 2021

Puisiku: EL COMPASIVO



EL COMPASIVO

Saat Yesus disalibkan
Paku tak bisa menahan
Bebaslah kedua tangan
Merangkul insan kelaparan

Bebas jugalah kaki
Melangkah mencari
Insan lemah lunglai
Tak mampu tegak berdiri

Dalam empati
Dia sendiri mati
Kawan sejati
Insan duka hati

Tangan-Nya melambai
Aku datangi
Sendiri 
Sunyi

Jakarta, 15 Januari 2021