Thursday, December 17, 2020

Setelah vaksin Covid-19 digratiskan, selanjutnya apa yang menunggu kita?


Presiden Joko Widodo, 16 Desember 2020, telah mengumumkan bahwa vaksin (-vaksin) Covid-19 digratiskan untuk seluruh warga masyarakat Indonesia. Ketika vaksinasi dimulai, beliau yang akan menjadi orang pertama penerima vaksinasi. 

Digratiskan, tentu tanpa batasan golongan umur. Tentu ada kalangan yang akan didahulukan. Bayi, batita, balita dan bocah masih dapat menunggu sampai vaksin oral Covid-19 tersedia (misalnya vaksin oral Covid-19 Vaxart), asalkan orangtua mereka sudah imun lewat vaksinasi gratis.

Lalu, hal penting selanjutnya apa?

Hal yang terpenting bukanlah para pengusaha tamak Indonesia jadi tidak bisa menimbun vaksin-vaksin. Bukan itu. Meski orang boleh berteriak, Rasain loh!

Dengan vaksin-vaksin COVID-19 digratiskan pemerintah RI untuk seluruh warga masyarakat, maka batasan persentase populasi yang perlu divaksinasi (50%?, 70%?) untuk mencapai "herd immunity" atau "kekebalan populasi menyeluruh" tidak ada lagi.

Jika semua warga, 240 juta orang, mau divaksinasi, kurang lebih 100% warga Indonesia akan beroleh kekebalan. Ini lebih bagus.

Sebab meski "herd immunity" dapat tercapai lewat vaksinasi 70% populasi, kita masih bisa terinfeksi. Kok? 

Ya, betul, jika pada suatu saat yang naas, tanpa "pagar pembendung" yang terdiri atas orang yang telah imun (lewat vaksinasi atau lewat kesembuhan), kita (yang masih rentan atau tidak imun) berada di kepungan, katakanlah, 20 orang pembawa virus sebagai OTG yang tidak divaksinasi. Mereka termasuk 30% populasi yang tidak divaksinasi karena berbagai alasan, misalnya karena tak percaya sama sekali pada vaksin apapun. Jika ini kita alami, dengan akibat kita terjangkit Covid-19, ya nasib namanya. Nasib, nasib.

Oh ya, anti-vaxxers selalu ada, meski vaksinasi sudah digratiskan. Mereka terus bergerak membayangi setiap usaha vaksinasi massal. Sambil menyebar teori-teori persekongkolan atau teori-teori konspirasi ngalor-ngidul yang terus diubah dan diganti. Sayang ya, mereka menghabiskan waktu, tenaga dan uang untuk hal-hal yang kosong. Mereka pasti tegang dan stres.

Setelah masyarakat menerima vaksinasi, apakah kehidupan lama yang normal lantas kembali sepenuhnya? Oh tidak serta-merta kembali normal. Ada masa transisi.

Sebab, kita masih harus bersiap dengan fakta bahwa meskipun orang menjadi relatif kebal untuk diri sendiri setelah beberapa waktu divaksinasi dengan dua suntikan dengan jedah waktu, mereka masih potensial terpapar virus (jatuh sakit tapi ringan) dan menyebarkan virus corona baru. Soal ini sedang hangat diperbincangkan. Belum ada kepastian.

Jadi, kita sebaiknya masih mengenakan masker wajah beberapa bulan, misalnya selama tiga hingga enam bulan, setelah masyarakat menerima vaksinasi. Kepastian akan muncul akhirnya, lewat riset dan data, apakah orang yang sudah divaksinasi masih akan menularkan virus yang sudah makin lemah.

Lemah? Ya diperlemah, tapi dapat berubah jadi "garang" jika menginfeksi orang lain yang memiliki sistem imun yang kinerjanya sangat lemah.

Orang yang sudah divaksinasi masih bisa menyebarkan virus, ya karena dibutuhkan waktu sekian minggu setelah vaksinasi untuk antibodi-antibodi lengkap (humoral dan selular) terbentuk dalam titer yang tinggi. Selama menunggu ini, mereka masih potensial terpapar virus (dengan gejala atau tanpa gejala) dan menularkan virus.

Ingat, sekali lagi ingat, bahwa kita sekarang ini berada dalam masa pandemi. Untuk melakukan vaksinasi 240 juta orang yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia, dibutuhkan waktu lama, 6 bulan bahkan bisa sampai 1 tahun, bergantung kecepatan distribusi vaksin-vaksin, infrastruktur, dan kesigapan, perlengkapan penunjang dan jumlah ketersediaan para pekerja kesehatan. Jadi, selama aktivitas vaksinasi nasional yang butuh waktu ini, potensi penularan virus masih tetap tinggi.

Ya jadinya memakai masker masih perlu dilakukan sementara kegiatan vaksinasi sedang berjalan, meski kita sudah divaksinasi. Bahkan sangat baik jika kebiasaan memakai masker di wilayah publik terus dipertahankan ketika kita, misalnya, sedang terkena flu biasa atau terserang batuk.

Meskipun masih mengenakan masker beberapa waktu, setelah divaksinasi, kita akan hidup lebih rileks dan lebih lega. Ekonomi yang sedang mati suri akan segera bangkit dan hidup lagi. Kegiatan kumpul-kumpul bertahap akan jalan lagi. Pertandingan sepak bola akan bisa kita tonton lagi langsung di suatu stadion. Kantor-kantor akan dibuka penuh lagi. Ibadah di rumah-rumah ibadah semarak lagi. Sekolah-sekolah buka lagi. Semua kegiatan interaksi online berganti dengan kegiatan interaksi in-person. Dst. Dst.

Selain itu, meski sudah divaksinasi, tidak berarti kita akan imun selamanya. Masih banyak hal yang belum kita ketahui tentang berapa lama (durabilitas) imunitas yang distimulasi vaksin-vaksin Covid-19 akan bertahan.

Ihwal berapa lama kekebalan lewat vaksinasi akan bertahan, bergantung serokonversi vaksin yang digunakan, yakni kapasitas suatu vaksin untuk, lewat mekanisme kerja sistem imun, membangkitkan antibodi-antibodi yang komplit (humoral dan selular) dan banyak. Makin tinggi serokonversi (di atas 90%), durabilitas imunitas yang distimulasi vaksin akan makin panjang.

Sekalipun durabilitas imunitas lewat vaksinasi ini biasanya akan berkurang sejalan waktu, kita masih punya sel-sel limfosit B dan sel-sel T yang akan dikerahkan sistem imun kita untuk dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak memproduksi sel-sel memori yang membuat sistem imun kita mengenali kembali virus-virus SARS-CoV-2 ketika reinfeksi terjadi kapan pun juga, lalu antibodi memorial diproduksi kilat untuk menyerang virus-virus penyusup ini. Ini sungguh suatu kabar baik.

Meski begitu, adalah lebih baik jika kita divaksinasi ulang setiap 1 tahun sekali sebagai vaksinasi booster dengan vaksin-vaksin Covid-19 generasi-generasi terbaru. Terbaru? Ya karena si gerombolan virus SARS-CoV-2 terus bermutasi, melahirkan jenis-jenis ("strands") baru virus corona.

Hanya alam, lewat banyak cara, yang bisa menghentikan mutasi suatu virus di alam bebas. Vaksin seperti juga antibiotik dapat memaksa dan menekan virus dan bakteri untuk bermutasi, karena mereka juga ingin hidup terus.

Vaksinasi booster per tahun tidak diperlukan sejauh vaksin-vaksin "inactivated" yang sudah lama teruji (juga vaksin-vaksin teknologi baru mRNA yang belum teruji), yang sudah tersedia sekarang untuk Covid-19 (yang perlu disuntikkan 2 dosis per orang dengan jedah waktu), dapat membangkitkan imunitas dengan durabilitas sangat panjang (sampai 10 tahun, misalnya) atau durabilitas selamanya. Kita sama sekali belum bisa tahu tentang hal ini sekarang. Kita baru akan tahu nanti, 6 bulan lagi atau 1 tahun lagi, ketika para ilmuwan memeriksa titer antibodi-antibodi yang dibangkitkan, lewat kerja sistem imun kita, oleh vaksin-vaksin Covid-19 yang sudah tersedia, yang sudah disuntikkan dalam 2 dosis per orang.

Kabar tak enaknya, dugaan banyak ahli, Covid-19 akan menjadi Covid musiman, tak bisa dilenyapkan. Waaah. Dan durabilitas imunitas yang dibangkitkan oleh sistem imun, yang distimulasi oleh vaksin-vaksin Covid-19, juga diduga tidak lama. Waaah. Tenang, tenang, ini semua baru dugaan.

Kenapa dugaan-dugaan, bukan kepastian-kepastian?

Ya, pertama, karena virus SARS-CoV-2 masih misterius. Dr. Anthony Fauci, pakar terdepan penyakit infeksius Amerika, menyatakan bahwa virus corona baru, penyebab penyakit Covid-19, adalah virus yang "protean", mudah berubah bentuk dan sifat. Arah mutasi dan evolusinya tidak terduga, di dalam tubuh inang-inang. "Natural pressure" atau "human-made pressure" memaksa virus-virus bermutasi demi bertahan hidup.

Kedua, karena baru kali ini, di masa pandemi Covid-19, vaksin-vaksin Covid-19 dikembangkan begitu cepat, kurang dari 1 tahun (padahal sebelumnya bisa memakan waktu 10 tahun untuk pengembangan 1 vaksin), baik vaksin-vaksin tradisional yang sudah teruji (dua atau tiga vaksin Tiongkok pilihan Indonesia masuk jenis vaksin ini), maupun vaksin-vaksin teknologi baru mRNA yang belum pernah teruji (vaksin Pfizer dan vaksin Moderna).

Yuup betul, teknologi yang "advanced" memang dapat mempercepat proses pengerjaan dan pencapaian apapun. Jadi, sebetulnya bukan soal waktu 1 tahun yang singkat, melainkan apakah vaksin-vaksin mRNA Covid-19 dalam dunia real (di luar dunia uji klinis) betul-betul akan tetap "safe and effective" dan tidak akan menimbulkan "long term effects" yang berat. Kita belum punya pengalaman sama sekali tentang ini. Jadi kita belum bisa dapat jawaban tentang ini sekarang. Kita masih menunggu. Kita masih bertaruh.

Pertaruhan? Ya, itulah kehidupan kita, kehidupan yang akar terdalamnya dalam pohon evolusi biologis adalah mikroorganisme yang dinamakan virus. Kita, dan semua organisme lain, bermoyang virus. Walaaah lah lah.


ioanes rakhmat
17 Desember 2020

Tuesday, December 15, 2020

Pastikah "herd immunity" akan dicapai jika 50% populasi Indonesia sudah divaksinasi, seperti perkiraan pemerintah?


PEMERINTAH INDONESIA memperkirakan kebutuhan vaksin covid-19 di Indonesia mencapai 246,51 juta dosis [Catatan: 1 orang menerima 2 dosis suntikan dengan jedah waktu; dus yang akan divaksinasi sekitar 123,25 juta orang].

Detailnya, sebanyak 73,96 juta dosis untuk skema program (disubsidi) dan 172 juta dosis untuk skema mandiri (bayar sendiri). Alokasi tersebut sudah sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mari kita pikirkan dengan cermat.

Ditetapkan 123,25 juta orang akan menerima vaksinasi dari sekitar total 240 juta penduduk. Berarti sekitar 50%. Mungkin diandaikan, 50% penduduk yang imun, yang berfungsi sebagai "pagar" atau "bendungan", akan memberi reaksi berantai pemutusan penularan mutlak sehingga akan dihasilkan "herd immunity" (kekebalan populasi) bagi seluruh penduduk Indonesia.

Ya, "herd immunity" akan dicapai tanpa perlu 100% populasi di suatu kawasan divaksinasi; lazimnya cukup 60 hingga 70% saja. Jika dicukupkan minimal 50% (termasuk orang yang dianggap imun setelah sembuh dari Covid-19), ya kita lihat saja nanti hasilnya.

Catat, "herd immunity", dalam hal ini, bukan "natural herd immunity" (NHI) yang dicapai lewat infeksi virus secara natural yang dibiarkan, yang lalu bisa disusul dengan kesembuhan (dengan akibat antibodi IgG terbentuk), atau dengan kematian dalam jumlah luar biasa besar. Tidak ada protokol kesehatan yang harus dijalankan. Tidak ada usaha terencana untuk memitigasi bencana serangan virus. Hukum yang berjalan ya hukum rimba, siapa yang kinerja sistem imunnya kuat, berpeluang besar untuk selamat. Prinsip "survival of the fittest" bekerja. Di era iptek, ya NHI tampak menjadi ide yang primitif.




Selain itu, NHI, meski primitif, juga adalah suatu ide yang rumit, karena banyak faktor yang bermain di dalamnya. Faktor biologis manusia, faktor biologis si virus, faktor gaya hidup individual, komunal dan sosial, faktor demografis, faktor lingkungan alam dan kehidupan, faktor kultural, dan faktor besaran penularan virus. NHI tidak bisa difiksasi dalam hitungan angka-angka. Tidak ada ambang batas yang pasti berapa persen populasi harus sudah imun (25%? 50%?, 60%?, 70%?) untuk menghasilkan NHI di mana "transmission rate" atau "angka penularan" (atau R) harus sudah, atau lebih kecil dari, nol.

Jika strategi NHI dijalankan, ini akan berpeluang besar menjadi bencana nasional atau bencana global. Bermuara pada kejadian katastrofik. Orang bukan berdamai dengan si virus, tapi belum apa-apa sudah dibuat keok oleh si gerombolan virus.

Anyway, dalam usaha mencapai "herd immunity" lewat vaksinasi, harus diingat, kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan mengharuskan setiap pemerintah pulau--- entah pulau besar atau pulau kecil, entah pulau padat penduduk atau pulau tidak padat penduduk--- melakukan vaksinasi 50% penduduknya. Di Pulau Jawa yang paling padat penduduknya, hanya 50% penduduknya yang akan perlu menerima vaksinasi.

Jadi, jika anda berdiam di Pulau Jawa, anda bisa termasuk atau bisa tidak termasuk orang yang akan menerima vaksinasi. Jika tidak termasuk, jangan khawatir, sebab jika sekurang-kurangnya 50% penduduk Pulau Jawa sudah divaksinasi, "herd immunity" akan tercapai, dan anda (juga bayi, batita, balita, bocah, dan orang yang menanggung komorbiditas yang berat) yang tidak divaksinasi mungkin sekali tidak akan tertular Covid-19. Mengapa "mungkin sekali", tidak dijamin pasti? Ya karena mungkin, di suatu saat, anda yang tidak imun dapat berada di kepungan orang-orang yang tidak divaksinasi, yang masih terus membawa virus sebagai OTG. Saat itu tidak ada orang yang imun, yang berfungsi sebagai perisai atau pagar pelindung, yang bersama anda. Yaaah... nasib deh.

Termasuk dalam 50% yang tidak menerima vaksinasi tentu kalangan anti-vaxxers yang terus saja dengan gigih dan tanpa nalar kritis menyebarkan berbagai teori komplotan atau teori konspirasi yang tak berbasis fakta, dan juga kalangan yang selalu bersikap nyinyir dan negatif terhadap pemerintah. Kita wait and see, apakah para penyinyir ini akan konsisten sampai wafat tidak mau divaksinasi, mati dalam kenyinyiran.

Anda tentu harus berupaya serius untuk masuk ke dalam 50% yang menerima vaksinasi, entah karena vaksinasi itu diwajibkan dengan dasar UU atau karena kesadaran dan kecerdasan anda sendiri.

Satu hal penting perlu dicatat. "Herd immunity" atau "kekebalan populasi menyeluruh", bisa dicapai lewat vaksinasi 50% penduduk setiap pulau, hanya jika vaksin-vaksin yang dipilih dan dipakai (vaksin-vaksin Tiongkok produk Sinovac Biotech dengan vaksin "inactivated", CanSino Biologics dengan vaksin "non-replicating adenovirus type 5-vectored" dan BUMN China Sinopharm dengan vaksin "inactivated") memang aman dan efektif (dibuktikan lewat uji klinis besar tahap 3), dan dengan serokonversi yang tinggi (di atas 90%), artinya: vaksin-vaksin tersebut mampu membangkitkan antibodi-antibodi yang banyak dan komplit serta bertahan langgeng atau sangat lama (durabilitas antibodi humoral dan selular tinggi).

Durabilitas antibodi yang panjang, yang dibangkitkan suatu vaksin, sangat krusial sekalipun sistem imun akan mengerahkan sel-sel limfosit B dan sel-sel T yang akan memproduksi sel-sel memori dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat di saat virus yang sama menginfeksi kembali berulang-ulang, berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah imunitas diperoleh pertama kali entah lewat kesembuhan atau lewat stimulasi oleh vaksin.

Bagaimana pun juga, untuk tetap mempertahankan imunitas terhadap serangan kembali virus SARS-CoV-2, vaksinasi (dua suntikan per orang, dengan jedah waktu yang bervariasi antara suntikan pertama dan suntikan kedua) sangat mungkin akan dilakukan kembali setiap 1 tahun sebagai booster. Vaksinasi ulang per tahun ini sangat mungkin akan memakai vaksin-vaksin Covid-19 generasi-generasi terbaru sejalan dengan mutasi-mutasi virus corona baru yang tidak bisa dihentikan oleh manusia--- kecuali alam berkehendak lain yang tak terduga, misalnya, mari kita melamun, virus SARS-CoV-2  tiba-tiba hilang begitu saja, ditelan oleh suatu "black hole". 

Patut diingatkan terus, bahwa vaksin-vaksin, seperti vaksin Pfizer yang dikembangkan dalam tempo cepat kurang dari satu tahun lewat teknologi mRNA (yang sama sekali belum teruji!), yang dalam sekian uji klinis yang terkontrol ditemukan aman (tak timbul efek samping yang serius dan dialami banyak orang) dan efektif (persentase jumlah relawan yang terproteksi oleh suatu vaksin besar, di atas 90%), dalam dunia real yang liar dan tak terkontrol oleh metode keilmuan bisa menunjukkan hal sebaliknya. Yaitu muncul efek-efek samping ("adverse reactions" atau "side effects").

Efek samping ini ada yang ringan atau "tidak serius" (seperti sakit kepala, migrain, sakit otot, rasa lelah yang lama, demam, menggigil--- serupa dengan simtom terkena Covid-19 ringan) dan ada yang serius (seperti Bell's palsy atau wajah tertekuk miring sebelah). Orang yang memiliki riwayat alergi yang serius terhadap vaksin, obat-obatan dan makanan, juga tidak diperbolehkan menerima vaksinasi (larangan yang selama ini dipandang wajar).

Efek-efek samping tersebut ditimbulkan oleh vaksin mRNA Pfizer-BioNTech yang digunakan di Inggris dalam minggu-minggu ini (sejak Selasa, 8 Desember) dengan dasar resmi otorisasi penggunaan darurat saat pandemi.

Banyak pengamat menyatakan pemberian otorisasi penggunaan darurat ini, yang belum/tidak didukung Uni Eropa, adalah "suatu kudeta politik demi [memulihkan pamor] PM Inggris Boris Johnson". Tentu saja, vaksin Pfizer ini dan otoritas pemberi otorisasi penggunaan darurat jadinya dilindungi pemerintah Inggris, diberi kekebalan hukum oleh Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial Inggris dalam bisnis penjualan vaksin dan vaksinasi.

Nah, jika timbul efek-efek samping negatif setelah orang menerima vaksinasi, perusahaan Pfizer-BioNTech tidak bisa dituntut secara legal karena diberi impunitas oleh pemerintah Inggris. Warga Inggris penerima vaksin yang mengalami efek-efek samping berat juga diberi indemnitas (atau ganti rugi) oleh negara, bukan oleh Pfizer-BioNTech. Semua keganjilan ini sebetulnya menunjukkan Pfizer-BioNTech tidak yakin dengan keamanan vaksin mRNA yang mereka telah kembangkan.

Pengacara Gurdal Singh Nijar pada 14 Desember 2020 di The Sun Daily menulis antara lain bahwa "Harus dicatat bahwa Pfizer telah terlibat dalam banyak kasus gugatan baik oleh konsumen maupun oleh Departemen Keadilan dan Hukum Amerika terkait penipuan di bidang perawatan kesehatan, kegagalan untuk memperingatkan risiko-risiko berbahaya obat-obatan dan pemasaran yang ilegal."

Pada pihak lain, otoritas regulator medik Swiss menyatakan belum bisa memberi otorisasi karena laporan data lengkap vaksin-vaksin Pfizer-BioNTech, Oxford-AstraZeneca dan Moderna tentang keamanan, kemanjuran dan kualitas vaksin belum ada, sampai 1 Desember 2020.

Berbeda dari Inggris dan Amerika yang memberi otorisasi penggunaan darurat masa pandemi bagi vaksin Pfizer-BioNTech, European Medicines Agency (EMA, ekuivalen FDA Amerika atau BPOM Indonesia) membutuhkan waktu lebih lama, hingga Natal 2020, untuk mengeluarkan otorisasi pemasaran bersyarat bagi vaksin tersebut. Ya, tekanan-tekanan banyak berdatangan dari berbagai kalangan dalam masyarakat Uni Eropa untuk vaksin Pfizer diberi otorisasi untuk digunakan di UE setelah Inggris memberikan OPD untuk vaksin ini. 

Kita bisa jadi akan mendengar juga efek-efek samping yang serupa yang akan timbul di antara warga Amerika pada ronde pertama vaksinasi dengan vaksin Pfizer yang dimulai Senin, 14 Desember 2020.

Vaksin Pfizer sudah diotorisasi untuk penggunaan darurat di masa pandemi oleh FDA Amerika, Jumat, 11 Des, yang berada di bawah tekanan politik dan ancaman pemecatan oleh Presiden Trump yang masih ambisius dengan Operation Warp Speed. Yuuup, padahal bulan Januari 2021 dia akan resmi digantikan Joe Biden. Dalam rangka OWS itu, tiga juta dosis didistribusikan pada akhir pekan 12-13 Desember ke seluruh negara bagian Amerika.

Sejauh ini, vaksin mRNA Pfizer sudah dipesan oleh Inggris, Bahrain, Kanada, Saudi Arabia, Meksiko, Amerika dan Singapura. Pemesanan hanya diladeni jika uang panjar sudah diberikan.

Nah, efek-efek samping yang disebut di atas sedang terpantau sekarang. Kita masih belum tahu efek-efek samping yang dapat timbul berbulan-bulan ("long-term effects") setelah vaksinasi dosis dua suntikan per orang. Apakah akan terbukti bahwa vaksin mRNA dalam jangka panjang akan mengubah DNA orang seperti sinyalemen miring para teoretikus konspirasi? (Duuh! Syukurnya, sinyalemen ini sudah dibantah!). Jika orang kapok karena efek samping yang dialami setelah vaksinasi dosis pertama, mungkin sekali mereka tidak mau menerima "shot" yang kedua. Artinya, suntikan yang pertama menjadi mubazir karena daya imunogenisitasnya terlalu lemah.

Sejauh ini, belum ada vaksinasi massal penduduk dengan vaksin-vaksin terinaktivasi (bukan vaksin mRNA) buatan Tiongkok, juga di Indonesia, di luar konteks uji klinis besar tahap tiga. Yakni di dunia real yang liar, yang tidak dikontrol dan tidak dipantau oleh para ilmuwan pengembang dan peneliti vaksin-vaksin dan perusahaan-perusahaan farmasi besar dunia. Ingat, dunia real yang liar dan multidimensional berbeda dari dunia uji klinis yang terdesain dan terkontrol.

Semoga pilihan Indonesia terhadap vaksin-vaksin Tiongkok adalah pilihan yang benar. Semoga manfaat protektif dan kapasitas imunogenisitas vaksin-vaksin "inactivated" dan "adenovirus type-5 vectored" yang sudah lama teruji ini jauh lebih besar dan real dibandingkan efek-efek samping vaksin-vaksin ini yang nanti akan muncul ketika vaksinasi sudah resmi diwajibkan dan dijalankan oleh pemerintah ke sangat banyak penduduk Indonesia.

Ya, tak ada obat dan tak ada vaksin yang tidak menimbulkan efek samping. Masalahnya, apakah manfaat penyembuhan dan perlindungan jauh lebih besar dan lebih luas bagi sangat banyak orang dibandingkan "adverse effects" yang dapat terlihat pada sejumlah orang. Jika ya, terkait vaksinasi, pilihannya adalah vaksinasi massal terus dilanjutkan.

Jika efek samping negatif yang serius terlihat dialami sangat banyak orang dan meluas, di saat itulah vaksin-vaksin yang tidak aman ini dilarang, dengan... tentu saja sudah memakan banyak korban. Mungkin bencana medik semacam ini tidak akan terjadi. Hopefully not!

Jadi, tak perlu suatu merk vaksin Covid-19 dan perusahaan pengembangnya sampai diberi kekebalan hukum. Ada sisi bisnis dan profit pada setiap vaksin Covid-19 yang dipasarkan. Perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin Covid-19 tidak ada yang berperan sebagai Robin Hood atau Santo Claus di musim Natal. Mereka bisa menjual relatif murah hanya di masa pandemi, masa darurat. Begitu pandemi berakhir, harga vaksin per dosis akan mereka naikkan tinggi, bertahun-tahun ke depan, di saat Covid-19 menjadi Covid musiman.

Jadi, ganjil jika ada bisnis besar vaksin farmasi swasta yang dilindungi hukum negara dan pemiliknya diberi impunitas, dan jika kerugian yang dialami orang yang menerima vaksinasi ditanggung negara. Apakah ini bukan suatu tindakan penyalahgunaan wewenang, kendati mungkin sekali ada landasan UU-nya? UU yang membuat uang rakyat dikuras untuk kepentingan perusahaan swasta.

Apapun juga masalah-masalah yang muncul dari vaksinasi yang sedang berlangsung di banyak bagian dunia, kita berharap "herd immunity" akan dapat dicapai Indonesia dalam tahun 2021 lewat vaksinasi besar-besaran, dengan memakai vaksin-vaksin yang betul-betul aman dan efektif, yang sudah teruji, yang memperlihatkan serokonversi tinggi yang dapat diukur.

Semua orang tahu, pandemi Covid-19 sangat menyusahkan semua orang. Banyak yang tak tahan lalu memberi berbagai reaksi, misalnya memilih hidup "in denial", menyangkal pandemi ini real dan telah menelan banyak korban di seluruh dunia dari semua golongan umur, atau menganggap virus SARS-CoV-2 itu virus yang lemah dan lumpuh; alhasil, semua protokol kesehatan mereka abaikan, dan negara yang berusaha keras menanggulangi pandemi mereka anggap tak ada. Jangan kita masuk ke dalam golongan orang jenis ini. Mereka itu dilabelkan "covidiots" atau "covanarkis".

☆ ioanes rakhmat
15 Desember 2020

Tautan sumber-sumber rujukan

https://www.cnbcindonesia.com/news/20201211080020-4-208321/fakta-fakta-soal-vaksinasi-covid-19-di-ri/4

https://www.vox.com/platform/amp/21451282/herd-immunity-explained-covid-19-pandemic

https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)31605-6/fulltext

https://www.globaltimes.cn/content/1206031.shtml

https://www.cnbc.com/2020/11/23/covid-vaccine-cdc-should-warn-people-the-side-effects-from-shots-wont-be-walk-in-the-park-.html

https://www.dailymail.co.uk/health/article-9030943/Four-volunteers-got-Pfizers-vaccine-developed-Bells-palsy.html

https://www.cnbc.com/2020/12/09/pfizer-jab-warning-for-people-with-history-of-significant-allergic-reactions.html

https://www.swissinfo.ch/eng/reuters/eu-criticises--hasty--uk-approval-of-covid-19-vaccine/46198320

https://www.independent.co.uk/news/health/coronavirus-pfizer-vaccine-legal-indemnity-safety-ministers-b1765124.html

http://www.thesundaily.my/opinion/whose-liability-for-pfizers-vaccine-HX5617779

https://www.swissinfo.ch/eng/society/incomplete-data-stalls-swiss-authorisation-of-covid-19-vaccines/46196598 

Thursday, December 10, 2020

Bumi Punah

BUMI PUNAH

Yesus, Yesus, datanglah!
Gereja berseru tak lelah
Menanti, terus menanti
Natal tiba silih-berganti

Dulu para murid menengadah
Ke awan-awan di langit tinggi
Kini gereja menanti-nanti
Kapan dunia akan punah

Kiamat, kiamat, datanglah!
Tangis dan teriak umat yang beribadah
Tuk memaksa Yesus turun segera
Tuk mengangkat umat yang percaya
Ke sorga mulia antah-berantah
Bumi dibiarkan punah musnah

Mari, mari kita bertanya
Di manakah kini Yesus ada?
Dia tak ada saat kiamat dunia
Tak ada dalam madah dan isak gereja

Ssssttt..... dengarkanlah keheningan
Keheningan Bumi yang diabaikan
Keheningan orang yang ditelantarkan
Keheningan orang yang kelaparan

Pada mulanya...
Hanya keheningan yang ada
Keheningan telah menjadi manusia
Diam di antara kita tanpa kata
Lihatlah itu manusia duka lara!

Jumpailah Yesus segera
dalam keheningan tiada tara
Saat kata-kata manusia duka lara
Tidak lagi bisa terutara


☆ ioanes rakhmat
10 Desember 2020

Tuesday, December 8, 2020

Antara Kehidupan dan Kematian, Gereja Kristen Pilih Yang Mana?



"Aku menghadapkan kepadamu jalan kehidupan dan jalan kematian." (Yeremia 21:8; Ulangan 30:15)

Hidup itu sungguh berat, bertahun-tahun, sejak dilahirkan, dengan segala suka dan duka, hingga 70 tahun, atau hingga 80, 90, 100 tahun sebagai lansia uzur. Mati itu ringan, berlangsung singkat, cuma beberapa detik atau menit, lalu nyawa pun putus.

Orang yang berani hidup, jadinya, adalah orang yang luar biasa berani, petarung, tak kenal menyerah, berhati baja. Orang yang mencari kematian, jadinya, telah kalah dengan kehidupan, pengecut, pecundang, tak punya nyali.

Anda pilih mana? Ada banyak faktor yang berperan ketika anda mau mengambil pilihan penting apapun, apalagi pilihan antara kehidupan dan kematian. Salah satu faktor yang krusial, di saat orang harus memilih antara kehidupan dan kematian, adalah ideologi, dus juga teologi.

Jika teologi yang dipegang adalah teologi dalam banyak bagian Perjanjian Lama tentang Allah yang berperang, Allah yang membunuh orang asing atau musuh dalam berbagai "perang suci" atau "holy wars", dan meminta umat (lewat mulut manusia) untuk berperang dan mati untuk sang Allah, maka umat juga akan memilih mati bagi Allah.

Allah sebagai panglima perang melahirkan umat yang membenarkan pembunuhan, dipenuhi dorongan berperang, hidup berdarah-darah, dan mau mati bagi Tuhan sebagai pilihan satu-satunya. Tidak ada pilihan lain yang lebih berwawasan jauh ke depan, wawasan kehidupan yang berdayatahan dan bermutu.

Jika teologi yang dianut adalah teologi Allah yang mencintai dan memelihara kehidupan, Allah yang membela kehidupan, maka orang yang mengikut Allah ini akan juga mencintai, memelihara dan membela kehidupan. Mereka menolak pembunuhan. Menolak kematian, kematian diri sendiri dan kematian orang lain.

Bagi mereka yang menghayati teologi Allah pencinta dan pemelihara kehidupan, hidup menjadi mulia dan berharga, betapapun kehidupan ini berat, tidak mudah, sangat menekan, sulit, harus diperjuangkan seumur hidup, kerap tertatih-tatih, jalinan kesakitan dan kelegaan, anyaman suka dan duka, campuran air mata, keringat dan derai tawa ria dan rehat.

Anda memegang teologi yang mana?

Dalam kesaksian bulat kekristenan Perjanjian Baru, ya Yesus mati, terbunuh di kayu salib. Apakah, dengan demikian, Allah dalam teologi Kristen awal adalah Allah pembunuh?

Tentu saja tidak. Yesus terbunuh, bukan membunuh. Yesus mencintai kehidupan. Tidak pernah Yesus menghancurkan dan membinasakan kehidupan. Bagaimana dengan Allah, yang Yesus sapa dengan sangat akrab sebagai Bapa, Abba?



Oleh Yesus, Allah dalam Perjanjian Baru digambarkan sebagai sang Bapa yang mencintai dan memelihara kehidupan. Ya, kehidupan bunga-bunga di padang dan kehidupan burung-burung di udara. Tentu saja, juga kehidupan manusia yang dipelihara sang Allah ini dengan memberi mereka roti yang cukup setiap hari, dan melepaskan mereka dari segala yang jahat. Sebagai sang Bapa bagi manusia, Allah yang diberitakan dan diwujudkan oleh Yesus adalah Allah yang memberi cahaya terang dan enerji panas Matahari baik kepada orang yang baik maupun kepada orang jahat, ya.... supaya mereka semua hidup sehat dan sadar bahwa Allah itu memelihara, bukan membinasakan, kehidupan.

Ketika gereja-gereja Kristen awal menggumuli dengan sangat serius, dengan melibatkan segenap kehidupan mereka, apa makna eksistensial kematian Yesus, mereka tiba pada keyakinan dan pemberitaan kuat tentang dua hal.


Ketika kedamaian datang, pasukan melepaskan dan meninggalkan perlengkapan perang mereka. Pekik perang diganti nyanyian perdamaian. Burung merpati menggantikan burung pemakan bangkai


Pertama, bahwa kematian Yesus tidak boleh menimbulkan kematian lain kapan pun juga, sebab kematian Yesus adalah kematian "satu kali untuk selamanya", kematian yang berdampak pendamaian dan perdamaian universal; dus tak boleh lagi ada kematian-kematian lain kapan pun dan di mana pun juga, atas kepentingan apa pun. Tidak boleh ada korban lain. Cukup satu, satu-satunya, yaitu Yesus sebagai korban. Tidak boleh ada perang. Cukup ada kedamaian dan perdamaian abadi. Sekali pun di antara pengikut-Nya ada yang memiliki satu pedang, Yesus sama sekali bukan panglima petempur di medan perang.

Kedua, kekristenan awal Perjanjian Baru mempercayai bahwa Allah itu pencinta, pemulih dan pemelihara kehidupan. Karena itu, berkumandanglah berita atau kerugma di saat fajar merekah tentang kebangkitan Yesus. Dia yang telah dibunuh di kayu salib, yakni Yesus dari Nazareth, adalah Dia yang juga telah mengalahkan kematian lewat kebangkitan-Nya, atau lewat Allah yang telah membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Tidak boleh kematian menjadi pemenang di dunia ini sekarang di dalam waktu manusia.

Yang nyatanya menang, dalam peristiwa yang dialami Yesus, adalah kehidupan. Kehidupan, lewat Yesus, berada di atas kematian, bahkan mengalahkan kematian. Bukan sebaliknya.

Jadi, setiap orang Kristen yang setia pada berita atau kerugma Perjanjian Baru adalah orang yang mencintai, memilih, memulihkan dan memelihara kehidupan di masa kini dan selamanya. Inilah amanat hidup kekal, dulu, sekarang dan di masa depan selamanya, dalam dunia ini. Amanat tentang zoê aiônia, tentang "eternal life", tentang kehidupan kekal, adalah nafas kehidupan orang Kristen sekarang dalam dunia ini, here and now.

Dengan demikian, kita semua sebagai gereja mencintai dan memelihara kehidupan, kini dan selamanya, dan tidak akan pernah memangkas atau membinasakan kehidupan.

Karena itu, sebagai bukti kita mencintai kehidupan, kita terdorong kuat untuk hidup berharga, agung, mulia, berbahagia dan membahagiakan orang lain, selagi kita masih hidup tentunya, hidup dalam kondisi sehat jasmani dan mental, sekarang ini dan dalam dunia ini.

Tidak heran jika berbagai peradaban Barat yang, sekuat apapun sudah tersekularisasi, sangat kuat dinafasi kekristenan, terus saja bergerak ke depan, makin maju dalam membangun kehidupan, dengan menolak kematian. Mereka berkomitmen memilih kehidupan.

☆ ioanes rakhmat

08 Desember 2020 



Friday, November 27, 2020

My poem: REBORN


REBORN


Remove noise
Embrace silence
thru serene presence
of an absence

The Lord's nowhere
Is the Lord's everywhere
The Lord's existence
Is the Lord's non-existence

When you're alone
and the Lord is nowhere
Feel the Lord's absence
You'll find the presence

Overwhelmed by the absence
You encounter the presence
At that moment of time
You are reborn free


☆ ioanes rakhmat
Nov 27, 2020