Wednesday, September 16, 2015

Belajar dari seekor burung kutilang

Banyak orang sering berkata, “Saya mau hidup tanpa persoalan apapun!”

Tapi, bisakah itu? Mungkinkah? Mustahilkah? Perlukah? Ataukah tidak perlu?

A problem-free life. Is it possible or impossible? Is it necessary or unnecessary? 

Ya, tidak bisa. Tidak ada seorang pun dalam dunia ini, selagi hidup di muka Bumi, yang dapat terbebas sama sekali dari persoalan. Ini realitas. Harus diterima dan dihadapi dengan berani, cerdas, tenang, tegar, dan tetap bersikap positif.

Bahwa setiap orang akhirnya harus mati, ini sebuah persoalan eksistensial yang dihadapi semua orang, sejak dulu hingga seterusnya, apapun kedudukan dan status sosial mereka dalam masyarakat, sejak bayi hingga tua dan lisut....


Bebas dari segala persoalan, ya juga tidak perlu, bahkan tidak menguntungkan. Kok begitu?

Ya, persoalan-persoalan besar atau kecil, yang mendatangi kita, atau yang kita sendiri datangi, kerap menempa kita menjadi manusia yang lebih tangguh, lebih cerdas, lebih sigap, lebih matang, lebih arif, lebih berwawasan, lebih berpengalaman, lebih taktis, lebih strategis, dan lebih maju.

Hal-hal bagus yang diberikan oleh persoalan-persoalan kita kepada diri kita ini menguntungkan bukan hanya kita sendiri, tetapi juga banyak orang lain.

Ketahuilah, persoalan-persoalan yang dihadapi manusia, dari zaman ke zaman, dari masa ke masa, juga menjadi faktor pendorong kuat bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketika para ilmuwan bertemu dan menghadapi persoalan-persoalan manusia, mereka pun mulai berpikir, mengeksplorasi, menggelar pengkajian-pengkajian, menengok ke teori-teori ilmiah yang ada, mengevaluasi, lalu menyusun hipotesis-hipotesis baru, menguji hipotesis-hipotesis ini lewat berbagai metode ilmiah, mengumpulkan bukti-bukti, melakukan berbagai analisis, lalu menyusun sintesis-sintesis, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan. Dari semua aktivitas keilmuan ini, sains berkembang, sains-sains baru ditemukan, dan teknologi-teknologi baru dihasilkan, untuk digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang sedang dihadapi.

Jadi, jangan takut terhadap semua persoalan! Sebaliknya, jadikan semua persoalan anda sebagai:

  • sang guru kearifan; 
  • sebuah peluang untuk maju lebih jauh; 
  • sebuah ujian untuk hidup lebih tangguh dan lebih sabar; 
  • sebuah kesempatan untuk mengalami empati dan kasih sayang dari orang-orang lain; 
  • sebuah kesempatan untuk menemukan diri anda sangat kuat dan tegar dan tangguh, di luar perkiraan anda sebelumnya; 
  • sebuah peluang untuk melihat kehidupan dari sudut-sudut pandang lain yang baru dan kreatif; 
  • sebuah kesempatan untuk berterima kasih kepada sang pemberi kehidupan.

Suatu ketika, seekor kutilang dari atas melihat ke bawah, ke sebuah desa terpencil. Dilihatnya di bawah, manusia harus berjalan berputar jauh untuk sampai di tempat sebuah mata air besar satu-satunya untuk seluruh penduduk desa. Mereka harus memutari sebuah bukit batu besar yang menjulang dan terbentang lebar dan panjang. Lalu sang kutilang berpikir, “Aku harus memindahkan bukit batu itu supaya semua penduduk desa itu hanya perlu waktu beberapa menit saja tiba di mata air besar itu. Sekarang mereka sengsara, karena harus menempuh perjalanan memutar selama setengah hari bolak-balik!”

Maka mulailah sang kutilang mematuk bagian-bagian puncak bukit batu itu, secuil demi secuil, lalu butiran batu yang sudah ada di ujung paruhnya dibawanya terbang ke suatu lembah luas yang jauh, dan di sana dia menjatuhkannya. Tahun demi tahun berlalu. Windu demi windu lewat. Terus saja sang kutilang dengan tegar, riang gembira, sabar, optimistik, dan sambil terus bersiul, memindahkan bukit batu besar itu dengan paruhnya yang kecil. Dia memerlukan keabadian untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya itu, mengatasi persoalan penduduk desa itu.

Setegar, seriang, sesabar dan seoptimistik sang kutilang kecil itukah anda, ketika anda sedang berada dalam sebuah persoalan berat? Trilililili lili lili trilili....!

Anda jelas lebih besar dari sang kutilang nan baik hati itu.

Jakarta, 16-9-2015
ioanes rakhmat

Wednesday, September 9, 2015

My short letter to the physicist Lawrence M. Krauss (9-9-2015)

     
Dear physicist Lawrence M. Krauss,

Thank you very much for the sharing of your piece titled “All Scientists Should Be Militant Atheists” which appeared online in The New Yorker on 8 September 2015./*/ Interesting enough. Here are my responses to the article.

In my opinion, you are entirely wrong when you say that “science is an atheistic enterprise”. For all the scientists who do not follow militant atheism (currently represented by the New Atheism movement), science is free from any ideologies, including both the ideology of atheism and the ideology of theism. After the next several lines, in the same paragraph, it is extremely weird that you state something which fatally and totally contradicts what you have said previously. You write very clearly that “belief or non-belief in God is irrelevant to our understanding of the workings of nature”. I am not sure about whether you are aware or unaware of this internal contradiction happened in your cognition.

If I am not wrong, it seems that you very weirdly do not understand English, even though it is your mother tongue. You mistakenly equate the act of “ridiculing”, “attacking” and offending with the act of “questioning”. “Ridiculing” is a childish and undignified action intended to insult, mock and underestimate other people who are not in harmony with your points of view. “Attacking” and offendingare done only by your enemies who have no compassion, wisdom and understanding toward yourself. So far as I know, the major characteristic of the New Atheism movement is the barbaric, harsh and uncivilized ridiculing, offending and attacking religious believers and their religions. 

We all agree that one of the most critical functions of scientists all over the world is to question the validity of any established views in the world of science and in any realms of life, including in the world of religions, on the basis of new scientific facts. “Questioning” anything is, therefore, the noble duty of every scientist. But, questioning is fundamentally and practically not the same as ridiculing, offending and attacking. Your obligation as a scientist is, in my opinion, to question, not to ridicule, offend or attack anything. Not only to question, but also to prove whether something is right or wrong. That is your duty, a dignified and great duty.   

Finally, you sadly write that “If that is what causes someone to be called a militant atheist, then no scientist should be ashamed of the label.” This statement, I am totally convinced, will be endorsed happily and victoriously by, for instance, the fundamentalist atheist Prof. Richard Dawkins (I borrow this label for Dawkins from the respected and humble atheist Prof. Peter Higgs whom I love). It looks like that you do not understand what the meaning of the phrase “militant atheist” is. 

For so many people of good conscience in the world, a “militant atheist” is presently the same as a religious radical, though both hold contrasting worldviews. Do you wish yourself to be equated with a religious radical? There is no meeting point at all between a true scientist and a religious radical or a militant atheist. Science and theistic or atheistic fundamentalism cannot meet forever. Both collide. A militant atheist scientist is, unfortunately, an oxymoron. Do you want to live in the world of this oxymoron? I hope you don’t. If you do, you live in the self-contradictory worlds, in a schizophrenic world.

In conclusion: As a true scientist, you cannot ridicule, offend or attack any people and their viewpoints; you can only question them critically and prove them wrong or right scientifically. You can only be a true scientist, and cannot be a militant atheist scientist, for all eternity. Behavioral ethic matters in the world of all scientists.

Jakarta, 9-9-2015

Regards,
ioanes rakhmat 

/*/ Lawrence M. Krauss, “All Scientists Should Be Militant Atheists”, The New Yorker, 8 September 2015, at http://www.newyorker.com/news/news-desk/all-scientists-should-be-militant-atheists.


Thursday, September 3, 2015

Mau menegakkan damai, tapi kok lewat hate speech terhadap Yesus!?


Orang ini menamakan diri dengan gagah The Amazing Atheist. Di akhir videonya (bagi saya, “self-promoting video”), sambil mengacungkan dua jarinya, dia menyatakan bahwa dia “telah datang untuk melenyapkan agama dan menegakkan perdamaian!”

Sejak awal hingga akhir videonya, dia menyampaikan khotbah ateistiknya yang dipenuhi kebencian terhadap Yesus dan aliran Kristen tertentu. Bagaimana dia bisa menegakkan perdamaian dalam dunia ini, jika dalam dirinya kebencian besar pada Yesus dan pada dunia agama-agama sangat besar bernyala dan berkobar? Hate speech yang disampaikannya sudah membuat saya tidak bisa percaya bahwa si Amazing Atheist ini sungguh-sungguh ingin menciptakan perdamaian dalam dunia ini! Dia cuma omong besar dan suka berkoar! 

Bagaimana perdamaian bisa dia tegakkan jika agama-agama, yang juga menjalankan banyak peran positif dalam dunia masa kini (selain peran negatif), mau dia basmi dari dalam dunia ini? Memangnya dunia ini milik nenek moyangnya yang ateis doang? Gegabah sekali dia.

Saya semakin melihat, ateisme itu sebuah ideologi yang penuh kemarahan dan kebencian pada dunia agama. Maka itu, atheism is very stressful! Karena sedang stressed berat, pantaslah kalau para ateis itu umumnya suka marah-marah terus. Bisa jadi, mereka akan banyak terkena serangan jantung dan stroke. Rumah-rumah sakit nantinya akan banyak diisi oleh para ateis.

Pada kolom komentar di bawah video youtube-nya, saya tulis kata-kata saya berikut ini: 
“Hi guy Amazing Atheist, in the end of your preaching you say you love peace. But unfortunately I find out that, from beginning to end of your speech, you extremely hate Jesus and some brands of Christianity. How could I believe that you are disseminating peace around the world, while you in fact are spreading hate speech throughout your self-promoting video? Why are you so stressed? Is atheism stressful? :))”
Tidak bisa paham saya, kenapa Yesus menjadi begitu dibenci si ateis ini. Ya, Yesus memang menuntut kesetiaan total terhadap dirinya. Ini bukan sikap mental otoritarian Yesus, tapi bagian dari strateginya dalam membangun komunitas-komunitas baru di dalam suatu negeri terjajah yang sudah dipecahbelah dengan sistematik oleh penjajah dan kaki tangan Yahudi mereka. 

Si Amazing Atheist ini tidak mengenal Yesus dari Nazareth yang berhasil disingkap oleh kajian-kajian sejarah; tapi dia berbicara terlalu banyak tentang Yesus, dan koar-koarnya ini omong kosong doang jika dievaluasi dari kajian sejarah. Dia membenci Yesus bisa jadi karena dia membenci aliran-aliran Kristen tertentu di Amerika atau mungkin juga karena dia membenci sosok-sosok pemuka gereja-gereja tertentu di Amerika, yang lalu dia proyeksikan ke Yesus yang hidup 2000 tahun lalu di negeri yang jauh dari Amerika. Aneh ya. 

Pasti IQ-nya jeblok! Saya ganti namanya menjadi The Terrorizing Atheist yang bermental tidak berbeda dari para radikalis agama meskipun worldview masing-masing berbeda sangat tajam!

Ikuti videonya di https://youtu.be/yBo7Z_abiLE.

Terima kasih kepada Ritchie Lumban Tobing yang telah meminta saya memberi tanggapan terhadap video si Terrorizing Atheist itu.

Jika anda mau share, silakan, tanpa perlu minta izin lebih dulu.

Jakarta, 3-9-2015

Salam, 
ioanes rakhmat


Tuesday, September 1, 2015

Membuang kueh mangkok ke dalam tong sampah


Membuang kueh mangkok ke dalam tong sampah, lalu memilih dan membeli kueh lapis, itu ibarat menjadi ateis. Sangat gampang!

Tetapi, mengolah kembali kueh mangkok, lalu menjadikannya kueh mangkok versi 2.0, itu sangat sulit. Inilah langkah para agamawan progresif dan liberal dalam dunia agama-agama. Mereka dengan sadar dan cerdas menolak menjadi ateis.

Di dunia Muslim Indonesia, Jaringan Islam Liberal (JIL) melangkah ke situ: mengolah kembali kueh mangkok untuk menjadi kueh mangkok versi 2.0 yang diharapkan lezat dimakan dan menyehatkan. Kalau diperlukan, ya mereka juga membuat kueh-kueh mangkok versi 2.0 yang warna-warni. Ini perlu keberanian, ketekunan, keuletan, komitmen, kecerdasan, ilmu pengetahuan, pengorbanan, dan waktu yang panjang. 

“Cherry-picking”, yakni memilah-milah berbagai unsur, lalu mengambil unsur-unsur yang terbaik dan terbagus untuk digunakan, adalah hal yang lumrah dalam nyaris semua bidang kehidupan ini. Jika anda menolak cherry-picking, pilihannya adalah menjatuhkan sebuah pilihan dengan membuta, dungu, dogol, tidak arif, dan tidak cerdas. Anda bodoh dan dungu jika anda tidak memilah-milah buah cherry, lalu mengambil hanya buah-buah yang bagus dan sehat. Tanpa cherry-picking, anda menjadi tolol, tidak cerdas, tidak arif, dan berkacamata kuda tebal hitam, yang tidak memungkinkan anda memandang dan menemukan banyak warna dan alternatif lain yang diberikan dunia ini kepada anda.

Jika anda mau mendapatkan calon suami/istri yang baik, setia, cerdas dan penuh tanggungjawab, ya anda harus melakukan berulangkali cherry-picking dari antara orang-orang yang menjadi teman-teman terdekat anda. Memilih pekerjaan dan profesi, juga cherry-picking. Dalam dunia sains, kita pun semua memilih-milih, mana teori yang bisa diandalkan, dan mana yang sudah tidak bisa.

Tentu ada hal-hal kodrati yang tidak memungkinkan anda melakukan cherry-picking, misalnya anda tidak bisa memilih-milih apakah anda terlahir sebagai lelaki, perempuan, gay, lesbian atau yang lainnya. Anda juga sebelum lahir tidak bisa cherry-picking siapa yang akan menjadi orangtua anda, kebangsaan anda, negara anda, dan seterusnya.

Nah, orang ateis menuduh: Tuh, lihat, orang beragama! Mereka bisanya cuma cherry-picking! Tidak mau melihat fakta real agama mereka sendiri yang penuh kekerasan! Bisanya cuma cherry-picking teks-teks kitab suci untuk memperlihatkan sisi-sisi baik kitab-kitab suci, sementara teks-teks keras di dalam kitab-kitab suci mereka, mereka tidak mau pilih dan tidak mau perhatikan.

Loh, jika itu yang dilakukan para agamawan yang moderat, progresif dan liberal, itu artinya mereka sedang berusaha beragama dengan cerdas, jeli, relevan, banyak pertimbangan, dan terbuka pada pilihan-pilihan lain dalam beragama. Mereka sudah melepaskan kaca mata kuda hitam tebal mereka.

Nah, orang ateis juga sama: mereka melakukan cherry-picking atas hanya teks-teks kekerasan dalam kitab-kitab suci dan tradisi-tradisi keagamaan lainnya. Lalu teks-teks keras ini mereka serang dengan barbar dan brutal. Karena cherry-picking yang sempit dan picik, orang ateis tidak berhasil melihat ada sangat banyak teks lain dalam setiap kitab suci yang agung, bagus, indah, menyejukkan, mendewasakan, memperdamaikan! Karena cherry-picking, para ateis hanya menonjol-nonjolkan dan menyoroti sosok-sosok agamawan yang memang sosok-sosok radikal, militan, fundamentalis, ekstrimis, teroris.

Kenapa? Ya, karena adanya teks-teks keagamaan yang agung dan indah ini tidak sejalan dengan konsepsi ateistik mereka bahwa semua agama itu kebodohan, ketololan, dan kekerasan! Ya, karena adanya sosok-sosok agamawan besar dan mulia pengubah sejarah dunia dan yang hidup di masa kini tidak sesuai dengan konsepsi ateistik mereka bahwa agama-agama hanya bisa memproduksi para tiran, para bigot, para penyiksa, para pembunuh, para teroris, tanpa mereka mampu melihat juga ada sangat banyak bigot ateis yang radikal, esktrimis, dan militan dewasa ini.

Para ateis yang berkacamata kuda hitam tebal itu, karena cherry-picking, melihat agama-agama hanya dalam sosok-sosok seperti mendiang Osama bin Laden, mendiang Amrozi dkk, tetapi mereka gagal menemukan agama-agama cinta dalam diri sosok-sosok agung seperti mendiang Mahatma Gandhi, mendiang Martin Luther King, Jr., mendiang Abdurrahman Wahid, sosok besar Dalai Lama XIV, dan masih banyak lagi. Kenapa mereka bisa gagal? Ya karena mereka mempraktekkan cherry-picking yang dungu dan tidak cerdas, ditambah karena mereka sedang memakai kaca mata kuda tebal.

Sepakat?

Jakarta, 1 September 2015

Salam,
ioanes rakhmat

Sunday, August 30, 2015

Berkunjung ke panti asuhan Asih Lestari...

Seharian, 25 Agustus 2015, saya berkunjung ke panti asuhan Asih Lestari, yang beralamat di Jalan Gardu No. 1, Kosambi Barat, Tangerang, Indonesia. 

Ada seorang remaja putri di sana (sebut saja namanya Soekarni) yang sedang sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan di Cipondoh, Tangerang, yang dalam bulan April tahun depan, 2016, akan lulus dari sekolahnya itu, Prudent School. Dia ambil jurusan multimedia. 

Karena telah mendengar kesaksian dua orang mahasiswa sebuah sekolah teologi, Soekarni ingin nanti melanjutkan sekolah ke sebuah perguruan tinggi teologi di Indonesia. 



 

Sebagian anak yang diasuh di panti asuhan Asih Lestari, sedang bermain....


Saya dijemput dan diantar ke panti itu untuk berbincang dengan Soekarni di sekitar niatnya untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi teologi lalu akan menjadi seorang pendeta gereja setelah lulus. Sebelumnya, langsung dari rumah saya, dengan mobil jemputan itu, saya menyempatkan diri mengunjungi sekolahnya, Prudent School. Dari sekolah ini, harus menempuh perjalanan dua jam lebih dengan mobil ke lokasi panti.

Dengan ditemani dua ibu yang mengurus panti itu, Soekarni bertatapmuka dengan saya di sebuah ruangan ber-AC di panti itu. Bergantian dengan dua ibu itu, saya dengan santai bercerita saja mulai dari apa itu teologi, sekolah teologi, kehidupan seorang pendeta yang bak seekor ikan mas koki yang di taruh dalam sebuah akuarium bulat yang dilihat banyak orang, sampai keinginan banyak orang untuk hidup sebagai hamba Tuhan, pada satu pihak, dan untuk menjadi kaya raya sebagai para pengusaha sukses, di lain pihak. Dan masih banyak lagi hal lain. 

Ketika saya tanya kepada Soekarni, siapa orang terkaya di dunia sekarang ini, co-founder Microsoft, dengan suara perlahan Soekarni menjawab dengan benar, Bill Gates. Saya katakan kepadanya bahwa Bill Gates itu baru merasa menjadi orang terkaya di dunia kalau dia juga menjadi dermawan besar untuk dunia ini.


Saya beberkan kepada Soekarni, jika dia menjadi seorang pendeta di lingkungan Gereja Kristen Indonesia, nantinya dia tidak akan bisa kaya raya, meskipun juga tidak akan kekurangan karena gerejanya nanti akan memperhatikan semua kebutuhan kehidupannya yang wajar. Juga ada banyak pendeta di gereja-gereja lain yang hidup pas-pasan bahkan miskin, tetapi tidak kuasa untuk mengubah kemiskinan mereka. Tetapi ada juga sejumlah pendeta yang memiliki kekayaan sangat banyak bahkan mempunyai mobil-mobil mewah antipeluru. 

Mungkin sesudah pertemuan dengan saya itu, Soekarni akan memikirkan kembali tekadnya untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi teologi, atau malah akan makin kuat keinginannya untuk menjadi hamba Tuhan walaupun akan hidup miskin dan disorot banyak orang setiap hari bak seekor ikan mas di dalam sebuah akuarium kaca. Whatever will be, will be!  

Nah, jika anda mau ikut mendukung pelayanan kasih sayang kepada anak-anak di panti asuhan Asih Lestari (kini ada lebih dari 30 orang anak yang sedang diasuh), anda dapat menyumbang uang anda, berapapun besarnya. Ini dua nomor rekening bank yang anda dapat gunakan salah satunya:

1. Rekening Yayasan Panti Asuhan Asih Lestari, no. acc. 127 302 9030, bank BCA, capem Kepa Duri, Jakarta; atau

2. Rekening Gereja Kristen Indonesia, no. acc. 127 301 2811, bank BCA, capem Kepaduri, Jakarta.


Panti asuhan Asih Lestari punya akun Facebook Asih Lestari, dan juga website di www.asihlestari-orphanage.org. Saya sudah buka website ini, dan kelihatan banyak datanya yang belum di-update. Web ini juga sudah ketinggalan zaman; dus, perlu diganti.

Mari, kita bantu mereka, dalam bentuk apapun, termasuk doa dan meditasi anda untuk mereka semua yang ada di panti itu. 


Oh ya, ada satu hal penting lain yang mau saya bagi ke anda. Ketika baru tiba di panti itu, yang pertama kali saya kunjungi, saya langsung saja melihat di sudut halaman muka panti, di bagian terdepan sisi samping kiri. Di situ terdapat sebuah bak sampah besar berdinding tembok yang sudah kusam, hitam, dan mengeluarkan bau busuk sampah. 

Kesan saya yang pertama, Wah, bak sampah itu pemandangan yang tidak sedap yang harus dilihat setiap pengunjung panti. 

Lalu saya mendatangi tempat sampah itu, dan meninjau halaman samping kiri panti itu.

Kemudian, saya katakan kepada salah seorang Ibu pengurus panti itu yang telah menjemput saya tadi, Bu, demi kebersihan, keindahan dan kesehatan, tempat sampah itu harus dibongkar, diratakan dengan tanah. Sebagai pengantinya, kita perlu cari dua kontainer sampah besar yang portabel, memiliki roda-roda besar, yang dapat dipindah-pindahkan.” 

Sang Ibu itu semula terdiam, lalu menyatakan setuju.




Nah, pada kesempatan ini, meskipun saya tidak punya ikatan dan kewajiban apapun terhadap panti asuhan Asih Lestari, saya terbeban untuk mengajak anda ikut berpartisipasi untuk menyumbangkan dua kontainer sampah ukuran besar, seperti terlihat pada foto di atas. Bersediakah anda? Saya berharap anda bersedia. (N.B. tak lama sesudah tulisan ini saya pasang di blog ini, ada seorang warga gereja yang telah membeli dua kontainer sampah dan menyumbangkan keduanya ke panti.)

Untuk anak-anak panti dapat hidup sehat, lingkungan panti juga harus sehat. Anak-anak di semua panti adalah anak-anak kita juga. Mereka berhak untuk hidup sehat dan menjadi cerdas demi masa depan bangsa dan negara Indonesia juga.

Jakarta, 25-8-2015
ioanes rakhmat

N.B. diedit 20 Nov 2021.