Friday, November 7, 2014

Mari kita pikirkan kembali apa penyebab big bang!




Mari kita memikirkan kembali tentang BIG BANG, dentuman besar, yang terjadi 13,8 milyar tahun lalu yang memulai ruang dan waktu dan segala hal lainnya dalam jagat raya kita. Lebih spesifik, mari kita renungi lagi apa penyebab big bang, atau ada apa sebelum big bang. Renungan kita ini tentu saja bukan sebuah renungan rohani, tetapi sebuah renungan yang dibangun berdasarkan pandangan-pandangan ilmu pengetahuan. Berikut ini betul-betul sebuah renungan ilmiah, bukan sebuah khotbah keagamaan. 

Kita dan segala hal lainnya dalam jagat raya kini ada di dalam dimensi ruang-waktu (spacetime dimension). Sebelum big bang, ruang-waktu tidak ada. Begitu juga, sebelum big bang tidak ada materi-energi. Segala sesuatu tidak ada. Dengan demikian, big bang diawali dengan ketiadaan, atau big bang muncul dari ketiadaan. Before the big bang there was nothing in the absolute sense of the word! 

Kalau ruang-waktu belum ada, maka “di luar ruang-waktu” otomatis juga tidak ada, sebab kata “di luar” mengasumsikan ada ruang-waktu juga. Begitu juga, kalau materi-energi tidak ada, maka “di luar materi-energi” juga tidak ada, sebab kata “di luar” mengasumsikan ada materi-energi juga. Jika sebelum big bang ruang-waktu dan materi-energi belum ada, berarti sebelum big bang yang ada adalah ketiadaan segala sesuatu, ketiadaan absolut, nothingness.

Ketiadaan berarti segala hal tidak ada, ruang-waktu tidak ada, materi-energi tidak ada, bahkan ketiadaan itu sendiri tidak ada. Ketiadaan absolut. Dari ketiadaan absolut inilah big bang terjadi, mendentum, tanpa ada penyebab eksternal apapun, sebab di dalam ketiadaan pastilah penyebab apapun tidak ada.

Jika anda bertanya, ada apa di dalam ketiadaan absolut, pertanyaan anda ini tanpa makna, sebab di dalam ketiadaan absolut segala hal memang tidak ada. Yang ada adalah emptiness. Yang ada adalah kekosongan, kehampaan. 

Pertanyaan, ada apa di dalam ketiadaan absolut, ada apa sebelum big bang, serupa dengan bertanya di mana pinggir Bumi terletak. Kita semua tahu, planet Bumi kita berbentuk bola, bulatan. Pada bulatan, tidak ada pinggir apapun. Mencari pinggir Bumi pasti sia-sia.

Tapi kaum agamawan teistik dengan yakin diri menyatakan bahwa sebelum big bang, yang ada hanyalah Tuhan. Tuhan inilah yang menciptakan big bang. Kata mereka juga dengan sangat yakin, meskipun Tuhan adalah sang pencipta big bang, Tuhan ada tanpa penyebab apapun; dia ada dengan sendirinya, tanpa asal-usul. Tentu saja keyakinan atau kepercayaan kaum agamawan teistik itu patut dihormati. Agama memang keyakinan, kepercayaan, yang diterima begitu saja tanpa para pemeluknya mau atau perlu membuktikan secara objektif.

Tetapi, sekarang kita sedang mengulas sains, bukan sedang membahas etika pergaulan sosial. Bagaimana sains menanggapi keyakinan kaum agamawan ini? Karena dalam alam ini bekerja, setelah jagat raya tercipta, hukum-hukum sebab-akibat, causal laws, sah jika orang bertanya, jika Tuhan itu sang pencipta, siapa atau apa yang telah menciptakan Tuhan. Kaum agamawan akan pasti menjawab, Tuhan sebagai sang pencipta big bang tidak punya asal-usul, tidak diciptakan, tidak diperanakkan, tapi ada dengan sendirinya. Memakai terminologi Aristoteles dan Thomas Aquinas, Tuhan itulah prima causa, sang penyebab awal yang tidak disebabkan penyebab sebelumnya, sang Mahatakbersebab, sang Mahapenyebab.

Jika Tuhan tidak punya asal-usul, tidak ada penyebab keberadaan-Nya, ini, dalam sains, sama dengan menyatakan bahwa Tuhan itu ketiadaan, Tuhan itu nothingness. Hanya ketiadaan yang tidak punya asal-usul. Adalah sesuatu yang meaningless, tidak bermakna, jika anda bertanya, dari mana ketiadaan berasal. Jadi, dengan jawaban para agamawan itu, Tuhan yang mereka yakini ada, sebagai being, ternyata adalah non-being.

Jadi, jika dinyatakan big bang berasal dari Tuhan, ini sama dengan menyatakan big bang berasal dari ketiadaan. Dus, kita dibawa kembali ke isu semula! Jadi, mengasalkan big bang dari Tuhan, tidak membuat kita maju dalam mencari jawab ada apa sebelum big bang atau apa penyebab big bang. Kita hanya jalan di tempat, terpatok mati pada soal yang sudah jelas: sebelum big bang, segala sesuatu tidak ada.

Jawaban lain berupa pandangan evolusioner siklikal mengenai asal-usul jagat raya atau asal-usul big bang. Terkait dengan pandangan bahwa jagat raya ini berevolusi siklikal, adalah Hukum Kedua Thermodinamik tentang entropi dalam semua sistem.

Jika dikenakan pada jagat raya, menurut Hukum Kedua Thermodinamik, semakin tua usia jagat raya kita ini, semakin besar entropi-nya sehingga akhirnya jagat raya akan chaotic, masuk ke keadaan kehilangan energi yang mengakibatkannya tidak tertata apik lagi.

Apa itu entropi dalam Hukum Kedua Thermodinamik? Istilah “entropi” diciptakan oleh fisikawan Jerman Rudolph Clausius tahun 1865. Entropi adalah potensi chaotic, potensi disorder, yang lambat laun makin besar dalam semua sistem sampai akhirnya sistem ini berantakan dan berhenti bekerja. 

Semua sistem, juga sistem biologis tubuh kita, juga jagat raya, tunduk pada Hukum Kedua Thermodinamik: potensi entropi makin meningkat seiring dengan perjalanan waktu. Waktu membuat segala sesuatu menjadi tua, lalu berantakan, dan akhirnya binasa, tidak lain karena bekerjanya entropi. Karena itu, entropi juga disebut sebagai the Arrow of Time

Entropi membuat persediaan energi panas (thermodinamik) yang membuat sebuah sistem bekerja lambat laun menyusut sampai akhirnya habis, berubah menjadi sesuatu yang lain. Pada titik entropi mencapai level maksimal, setiap sistem ambruk dan terperosok ke dalam kondisi kacau. Menyangkut diri kita semua, semakin usia kita bertambah, entropi dalam sistem biologis kita meningkat, sampai akhirnya sistem ini tidak jalan lagi lalu kita semua mati. Begitu juga dengan jagat raya. Mengingat kepunahan bintang-bintang, planet-planet dan galaksi-galaksi adalah fakta-fakta kosmik, maka peringkat entropi nol jelas tidak dimungkinkan untuk jagat raya.

Big bang telah melahirkan jagat raya, lalu jagat ini mengembang makin cepat dan entropinya makin meningkat. Salah satu penyebab jagat raya kita mengembang makin cepat adalah bekerjanya energi gelap atau dark energy (ada sebesar 68,3 % dari totalitas isi jagat raya) sebagai forsa antigravitasi. Akhirnya jagat raya kita akan mencapai titik jenuh pengembangannya, dan entropinya juga makin kuat lalu mencapai jumlah maksimum. 

Ketika itu terjadi, jagat raya berhenti mengembang, lalu collapse, tereduksi menjadi suatu kondisi lain, susut atau ciut lagi, masuk ke kondisi chaotic, semua unsurnya saling menabrak dalam suatu peristiwa kosmik mahadahsyat yang akan terjadi milyaran tahun yang akan datang. 

Dengan demikian, Hukum Kedua Thermodinamik mengharuskan energi gelap untuk akhirnya tidak ada lagi, berubah menjadi sesuatu yang lain yang kita kini masih belum dapat mengetahuinya, tapi mungkin sekali berubah menjadi materi (sesuai dengan persamaan Einstein E=mc2, dan hukum kekekalan materi-energi).

Ujung entropi hanya bisa menghasilkan sesuatu yang lain, yang material, hanya jika kita bisa membalikkan panah waktu: waktu bergerak mundur lagi sampai ketitik permulaan waktu. Kebanyakan fisikawan berpendapat, kita tidak bisa membuat waktu bergerak mundur. 

Nah, jagat raya yang berantakan sementara tereduksi dan mengerucut kembali, akhirnya akan bermuara pada suatu singularitas baru. Metaforanya adalah sebuah balon yang sudah mengembang besar ciut atau kempes kembali, sampai akhirnya kembali menjadi segumpal karet kecil saja. 

Jadi, sebetulnya mengembangnya jagat raya hingga saat ini dan akan terus begitu ke depan untuk waktu yang sangat panjang, menjadi suatu bukti bahwa big bang itu sebuah fakta kosmik, yang berawal dari sebuah singularitas. 

Stephen Hawking menyatakan bahwa “jika anda mundur cukup jauh dalam waktu, jagat raya awalnya sangat kecil, sebesar Ukuran Planck, yakni satu per milyar-trilyun-trilyun centimeter, suatu ukuran yang mengharuskan pemakaian teori quantum.”/1/ Tentang ini, fisikawan teoretis kebangsaan Amerika yang memiliki keahlian dalam teori dawai (string theory), Brian Greene, dalam bukunya The Elegant Universe, menyatakan hal berikut ini:
Di dalam inti sebuah lubang hitam, suatu massa yang sangat besar menyusut sampai ke ukuran mikroskopis. Pada saat big bang, keseluruhan jagat raya muncul dari sebuah titik kecil mikroskopis yang ukurannya membuat sebutir pasir kelihatan luar biasa besar. Inilah kawasan-kawasan yang sangat kecil namun bermassa luar biasa besar; dengan demikian, mekanika quantum [termasuk gravitasi quantum] dan relativitas umum sekaligus diperlukan untuk bisa menjelaskannya.”/2/  
Proses tereduksi atau kempes kembalinya jagat raya sampai menjadi sebuah singularitas tentu saja memakan waktu milyaran tahun. Tapi apa itu singularitas? Singularitas adalah suatu titik sangat kecil tanpa batas sekaligus memiliki densitas yang juga tidak terbatas, dan berenergi luar biasa besar dan sangat panas. Singularitas berukuran tidak lebih besar dari sebuah proton, tapi sangat massif dan berenergi sangat besar, berada dalam kawasan mekanika quantum. Singularitas inilah yang menjadi partikel inti dalam dunia subatomik yang akan mendentum kembali sebagai sebuah big bang baru. Tanpa singularitas yang mendentum ini, jagat raya tidak akan ada, kehidupan juga tidak akan tercipta, anda dan saya juga tidak akan pernah ada. Dentuman ini muncul tentu saja lewat reaksi fusi nuklir, yang prosesnya belum kita pahami penuh sekarang ini, tapi pasti melibatkan gabungan relativitas umum, gravitasi quantum dan berbagai properti lain mekanika quantum. 

Saat singularitas yang ukurannya tidak lebih besar dari proton ini mendentum, energi dentumannya luar biasa besar. Mau tahu berapa besar? Besarnya energi big bang biasa disebut sebagai Energi Planck, yakni sebesar 10 pangkat 19 milyar elektron volt (= 1019 milyar e.v.). Michio Kaku menulis, “Energi yang luar biasa besar ini terlepas hanya pada momen penciptaan jagat raya itu sendiri.”/3/ Susah membayangkan besarnya, bukan? 

Baiklah kita berpaling ke Stephen Hawking. Kata Hawking, kekuatan dentuman big bang setara dengan sebuah koin berdiameter 1 cm yang meledak sampai mencapai sepuluh juta kali diameter galaksi Bima Sakti./4/ Dalam hitungan serpihan kecil dari satu per milyar detik (= satu per nano-detik) pertama setelah big bang, dentuman ini meluas sampai mencapai kawasan 10 juta kali diameter Bima Sakti.

Berapa lebar garis tengah Bima Sakti? Lebar banget: 100.000 tahun cahaya. Artinya: jarak yang dicapai cahaya setelah bergerak merambat selama 100.000 tahun. Jadi, dalam serpihan kecil nano-detik pertama, big bang membentuk kawasan seluas 10.000.000 x 100.000 tahun cahaya = 1 trilyun tahun cahaya. Jarak 1 trilyun tahun cahaya = 1 trilyun x 365 x 24 x 3600 x 300 juta meter. Itulah panjang jagat raya dalam serpihan kecil nano-detik pertama setelah big bang. Pada kurun ini, jagat raya masih homogen dan belum terstruktur dan terdiversifikasi.

Saat dentuman big bang melesat dan mencapai kawasan yang sangat luas itu dalam serpihan kecil nano-detik pertama, oleh para fisikawan dinamakan inflasi. Belum lama ini lewat teleskop Background Imaging of Cosmic Extragalactic Polarization (BICEP2) di Kutub Selatan, para astronom menemukan bukti berupa riak gelombang gravitasional yang dipancarkan big bang saat inflasi./5/ 

Sementara menunggu kajian gabungan antara data BICEP2 ini dengan data langit yang diperoleh dari wahana antariksa Planck (yang diluncurkan 14 Mei 2009) untuk mencapai suatu kesimpulan yang kokoh, kita dapat katakan inflasi pada saatnya tidak akan tersangkali sebagai fakta sains! Yang masih kita perlukan adalah sebuah instrumen yang sepenuhnya dapat diandalkan untuk dapat memindai gelombang gravitasional ini. Astrofisikawan dari Universitas Sussex, Inggris, Peter Coles, misalnya, menyatakan bahwa  
“Suatu analisis gabungan antara BICEP2 dan data Planck akan bermanfaat untuk melengkapi penelitian dengan liputan frekuensi yang jauh lebih baik yang ada pada wahana Planck dan dengan kemampuan Planck memetakan seluruh langit versus sensitivitas yang lebih tinggi dari BICEP2. Tapi tetaplah mungkin bahwa sebuah sinyal gelombang gravitasional primordial [dari inflasi setelah big bang] dapat diekstrasi dari data gabungan keduanya. Tentu ini akan sulit. Jika saya boleh tebak, mungkin akhirnya gelombang ini tidak akan terdeteksi. Diperlukan suatu misi satelit yang terfokus hanya pada penyelidikan gelombang gravitasional ini jika kita ingin mendapatkan sensitivitas yang dibutuhkan dalam memindai langit dan kisaran gelombang yang bervariasi.”/6/ 
Tetapi, rupanya dunia sains masih harus menunggu lagi untuk pembuktian ini betul-betul kokoh dan solid. Baru saja, 30 Januari 2015, berdasarkan data baru yang merupakan gabungan data dari wahana Planck dan data BICEP2, diumumkan dengan resmi bahwa sinyal gelombang gravitasional yang terdeteksi ini ternyata bukan berasal dari inflasi pada era jagat raya sangat dini melainkan berasal dari debu-debu galaktik dalam Bima Sakti yang juga memancarkan cahaya yang terpolarisasi. 

Kosmolog dari Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, USA, Marc Kamionkowski, menyatakan, “Ke depan ini, ada jalur yang jelas yang harus diambil. Jika kita melakukan lebih banyak pengukuran dalam beranekaragam frekuensi terhadap sinyal-sinyal yang datang, kita akan dapat memisahkan dengan persis sinyal-sinyal primordial dari sinyal-sinyal yang berasal dari debu-debu galaktik.”/7/

Sudah pasti anda perlu tahu bahwa kalaupun inflasi nanti sudah terkonfirmasi dengan meyakinkan, forsa-forsa apa yang bekerja sehingga inflasi terjadi, masih akan merupakan misteri bagi para saintis.

Setelah inflasi, masih diperlukan waktu cukup panjang (dalam hitungan manusia), yakni 380.000 tahun setelah big bang, untuk jagat raya mulai terdiversifikasi dan terstruktur. Pada kurun inilah radiasi cahaya pertama dipancarkan jagat raya, dan radiasi ini sudah tertangkap dan terkonfirmasi lewat instrumen-instrumen oleh para saintis./8/ Radiasi inilah yang dinamakan Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR) yang juga membuktikan bahwa big bang itu suatu fakta ilmiah. 

Ketika elektron-elektron yang semula bebas sudah cukup dingin, elektron-elektron ini dapat bergabung dengan proton-proton, alhasil jagat raya menjadi transparan terhadap cahaya, dan CMBR pun mulai bercahaya. Stephen Hawking berseloroh cukup lucu, katanya: “Radiasi yang ditinggalkan big bang sama dengan radiasi di dalam oven microwave anda, tapi dengan kekuatan yang jauh lebih lemah. Radiasi ini dapat memanaskan pizza anda hanya sampai minus 271,3 derajat Celcius, tapi tidak terlalu baik untuk melunakkan pizza anda yang membeku, apalagi untuk memasaknya.

Jauh setelah CMBR, 400 juta tahun sesudah big bang, ketika awan-awan gas mulai mendingin lalu menyatu, barulah bintang-bintang pertama terbentuk, selanjutnya galaksi-galaksi pertama dan gugus-gugus galaksi juga tercipta. Seterusnya jagat raya mengembang. Setelah mengembang dengan kekuatan fantastis dalam inflasi yang terjadi dalam serpihan kecil nano-detik pertama big bang, jagat raya kini sudah diketahui terus mengembang dengan makin cepat, tapi dengan kekuatan dan kecepatan pengembangan yang berada jauh di bawah inflasi.

Energi dentuman big bang tentu akan makin melemah, tapi jagat raya kini terus terpantau mengembang makin cepat. Ini fakta. Kenapa? Bukankah karena forsa gravitasi dari semua materi yang telah tercipta sejak big bang, termasuk forsa gravitasi materi gelap atau dark matter (26,8 % dari total isi jagat raya), kecepatan pengembangan jagat raya mustinya akan makin melambat? Sudah ditulis di atas, salah satu penyebab akselerasi pengembangan jagat raya adalah bekerjanya energi gelap.

Nah, karena entropi dan jagat raya yang tereduksi, menciut dan luruh kembali dalam suatu situasi yang chaotic, singularitas baru akan terbentuk, yang kemudian, ketika saatnya tiba, mendentum kembali dengan sangat dahsyat. Kejadian ini akan terus berulang, membentuk evolusi jagat raya secara siklikal, tanpa akhir dan tanpa awal. Dari sebuah singularitas partikel quantum, kembali menjadi sebuah singularitas partikel quantum.



Ouroboros (Yunani: οὐροβόρος ὄφις, “ouroboros ofis”, artinya: ular/naga yang memakan ekornya sendiri) adalah simbol segala sesuatu yang berevolusi siklikal, seperti halnya dengan evolusi siklikal jagat raya. Simbol ini berasal dari Mesir kuno.

Apakah jagat raya yang berevolusi siklikal mengakhiri pertanyaan ada apa sebelum big bang atau apa yang menyebabkan big bang? Tidak juga. 

Pada satu segi, evolusi siklikal jagat raya bisa menjawab pertanyaan apa yang menyebabkan big bang: setiap big bang berasal dari big bang sebelumnya. Saat jagat raya yang terbentuk lewat big bang kembali lagi menjadi singularitas, singularitas ini menyimpan info dari big bang sebelumnya. Evolusi siklikal jagat raya melibatkan destruksi (dus, diskontinuitas) tapi sekaligus juga kontinuitas. Jadi, saat singularitas mendentum sebagai big bang, kemudian memunculkan jagat raya, info dari jagat raya sebelumnya tetap terpelihara. Tanpa kontinuitas, kita tidak menyebutnya jagat raya yang berevolusi siklikal. 


Dalam kontinuitas jagat raya yang berevolusi siklikal, secara teoretis kita harus menyatakan tidak ada sesuatupun yang hilang, semuanya terpelihara dalam apa yang dapat disebut “info quantum”. Hukum kekekalan materi-energi hanya berlaku setelah big bang, dan hanya jika ada kontinuitas dari big bang yang satu ke big bang yang lain. Hukum kekekalan energi sendiri mengharuskan jagat-jagat raya yang berevolusi siklikal, tanpa akhir.

Tapi jagat yang berevolusi siklikal tetap menghadapi sebuah pertanyaan yang harus dijawab: big bang yang pertama dalam siklus itu datangnya dari mana? Apa penyebabnya? Suatu kontinuum linier atau kontinuum siklikal, tetap berhadapan dengan hukum sebab-akibat: Apa yang memulainya? Di mana dimulai? Untuk membuat sebuah garis lurus atau sebuah lingkaran, anda harus mulai dengan sebuah titik awal. Tidak bisa garis lurus atau lingkaran itu ada begitu saja./9/

Jagat raya yang siklikal juga harus dimulai oleh sebuah big bang, meskipun big bang ini nanti akan disusul big bang lain tidak putus-putusnya. Jadi kita balik lagi ke posisi semula: karena ruang-waktu baru ada lewat big bang, maka sebelum big bang tidak ada ruang-waktu. Karena sebelum big bang tidak ada ruang-waktu, maka tidak ada pula “di luar” ruang waktu. Karena sebelum big bang tidak ada materi-energi, maka tidak ada pula “di luar” materi-energi. Karena dunia natural tidak ada, maka “di luar” dunia natural juga tidak ada. Jika ruang-waktu tidak ada, materi-energi tidak ada, dan dunia natural tidak ada, maka yang ada adalah ketiadaan absolut, kekosongan mutlak.

Jika sebelum big bang yang ada adalah kekosongan absolut, ketiadaan mutlak, bagaimana big bang bisa terjadi? Apa yang memulai big bang? Sudah diargumentasikan di atas, teologi tidak membantu menjawab pertanyaan kenapa dari kekosongan atau ketiadaan, big bang bisa terjadi.

Ternyata jawabannya disediakan oleh fisika quantum: mekanika quantum adalah asal-usul big bang. Tentang ini, perhatikan apa yang dinyatakan oleh orang tercerdas (setelah Albert Einstein) dalam zaman kita, Stephen Hawking, berikut ini.  
“Anda memasuki suatu dunia di mana adalah mungkin untuk menjelaskan sesuatu itu bisa ada dari ketiadaan, setidaknya untuk waktu yang pendek, karena mekanika quantum…. Jagat raya semula dulu sangat kecil, kurang dari besarnya sebuah proton. Ini berarti jagat raya dapat begitu saja ada tanpa melanggar hukum-hukum fisika yang sudah diketahui.”/10/ 
Dalam dunia mekanika quantum, dikenal apa yang dinamakan “vacuum state”, atau ditulis pendek saja “vacuum”. Vakum adalah “suatu keadaan di mana semua properti fisikal sebetulnya sama dengan zero.”/11/ Dalam kondisi vakum, energi bisa ada dalam jumlah yang terendah sejauh dimungkinkan (“a zero-point energy”). 

Secara figuratif para fisikawan menyatakan bahwa dalam ruang vakum 1 cm3, masih bisa ada energi dalam jumlah 1 per trilyun erg. Karena energi dalam vakum ini sangat kecil (apalagi dalam kevakuman dalam atom-atom), kita dapat menyatakan energinya nyaris nol. 

Secara keseluruhan, keadaan vakum disebut sebagai “a zero-point quantum field”. Kendatipun demikian, dari medan quantum yang “zero-point” ini terjadi apa yang dinamakan fluktuasi vakum (= “quantum fluctuations”), yakni muncul dan lenyapnya partikel-partikel (dinamakan partikel-partikel virtual) dalam waktu sangat pendek dan secara spontan, tanpa asal-usul, tanpa sebab-musabab sebelumnya, tidak deterministik, tidak terprediksi./12/  

Dalam bab 5 buku mereka The Grand Design, Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow menggambarkan fluktuasi vakum sebagai pasangan-pasangan partikel yang muncul bersamaan pada suatu waktu, bergerak terpisah, lalu menyatu lagi dan saling melenyapkan. Partikel-partikel ini dinamakan partikel-partikel virtual. Tidak seperti partikel nyata, partikel virtual tidak dapat diobservasi langsung dengan sebuah detektor partikel. Namun, efek-efek tidak langsung dari partikel virtual, seperti perubahan kecil di dalam energi orbit elektron, dapat diukur, dan sejalan dengan prediksi-prediksi teoretis dengan tingkat akurasi yang luar biasa. 

Masalahnya adalah bahwa partikel-partikel virtual memiliki energi, dan karena pasangan partikel-partikel virtual ini ada dalam jumlah tidak terbatas, partikel-partikel ini memiliki jumlah energi tanpa batas. Menurut teori relativitas umum, ini berarti partikel-partikel virtual dapat melengkungkan jagat raya sampai ke suatu ukuran kecil tidak terbatas, yang jelas tampak oleh kita hal ini tidak terjadi./13/ 

Jadi, dalam mekanika quantum, ihwal munculnya something from nothing adalah suatu fakta yang dapat diamati sekalipun lewat efek-efeknya yang tidak langsung. Something-from-nothing dalam arti partikel-partikel virtual dalam dunia vakum quantum muncul begitu saja dari ketiadaan, lalu menghilang kembali ke dalam ketiadaan, lalu muncul lagi, tidak terprediksi dan tanpa asal-usul. Tentu saja fakta sains ini weird, mengherankan, tidak masuk akal sehat. 

Ya memang, dalam sains yang sudah sangat maju kita temukan banyak hal yang tidak masuk akal sehat, tetapi tetap konsisten dengan hukum-hukum sains yang sudah diketahui. Dalam dunia sains, bukan akal sehat yang harus diperhatikan, tetapi akal ilmiah.

Jadi, jika anda berbicara tentang kekosongan atau ketiadaan, atau lebih persis dalam konteks fisika quantum: kevakuman, anda sebetulnya masuk ke dunia mekanika quantum. Karena mekanika quantum jadi objek kajian fisika, maka tentu saja dunia quantum ada, real ada, bisa diamati dan dipelajari. Tapi ketika dunia mekanika quantum dipelajari dan diamati, para fisikawan sekaligus menemukan dunia yang tidak ada, kosong, kondisi vakum. 

Kalau ada partikel-partikel virtual yang muncul dari ketiadaan meskipun berada dalam dunia quantum, maka kita dapat menyatakan bahwa dalam dunia quantum ketiadaan itu ada. Jadi, dunia quantum itu ada sekaligus tidak ada. Dunia quantum memang weird, mengherankan dan sukar dipahami: suatu dunia yang ada sekaligus tidak ada. Dalam dunia ini, partikel-partikel virtual ada, tapi datang dari, dan pergi ke, ketiadaan.

Dalam dunia quantum, partikel-partikel menampakkan properti sebagai materi dan sebagai gelombang. Aspek gelombang ini dapat dilihat sebagai aspek non-matter, aspek bukan-materi. Karena ada aspek non-matter ini, gerak-gerik partikel-partikel nyaris tidak terprediksi, khususnya partikel-partikel virtual, sepertinya partikel-partikel ini memiliki “kehendak bebas” dan “(proto-) kesadaran” sendiri sehingga semua perilaku mereka tidak tunduk pada determinisme saintifik yang muncul dari hukum-hukum sebab-akibat. Tentang ini, perhatikan apa yang dikatakan dua orang saintis besar berikut ini. 

Fisikawan Jerman yang memenangkan Hadiah Nobel fisika tahun 1918, Max (Karl Ernst Ludwig) Planck (1858-1947), sebagai salah seorang pendiri teori quantum, di tahun 1944 menyatakan bahwa 
“segala materi berasal-usul dan ada hanya karena suatu daya.... Kita harus menganggap di belakang daya ini ada Pikiran (Mind) yang sadar dan cerdas. Pikiran adalah matriks segala materi”./14/  
Sebelumnya, di tahun 1931, Planck menulis, 
“Aku memandang kesadaran sebagai sesuatu yang mendasar. Aku memandang materi berasal dari kesadaran. Kita tidak dapat mengetahui apa yang ada di balik kesadaran. Segala sesuatu yang kita bicarakan, segala sesuatu yang kita pandang ada, memerlukan dalil adanya kesadaran.”/15/  
Begitu juga, fisikawan teoretis Amerika David J. Bohm (1917-1992) dalam artikelnya “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter” menyatakan bahwa  
“Hal-hal mental dan hal-hal material adalah dua sisi dari satu proses yang menyeluruh yang (seperti bentuk dan isi) terpisah hanya di dalam pikiran dan bukan di dalam realitas yang sebenarnya. Sesungguhnya, ada satu energi yang menjadi basis dari semua realitas.... Tak pernah ada pemisahan real apapun antara sisi mental dan sisi material pada tahap apapun dari keseluruhan prosesnya.”/16/  
Tentu saja Planck dan Bohm tidak berpendapat bahwa daya, pikiran, kesadaran, kecerdasan, sisi mental, yang mereka sebut itu berada dalam suatu dunia supernatural; mereka fisikawan, bukan agamawan. 

Mereka dan banyak lagi jelas adalah para ilmuwan yang mengetahui betul betapa weird-nya dunia quantum; mereka jelas bukan para pegiat keagamaan dalam gerakan New Age masa kini, Deepak Chopra salah satunya. 

Nah, tempat yang tepat untuk hal-hal kognitif atau hal-hal mental yang mereka sebut itu hanyalah dunia subatomik, persisnya aspek gelombang dari partikel-partikel quantum. Perlu bagi anda untuk juga mengetahui apa pendapat seorang saintis besar lainnya, yang pada masanya masih meragukan fisika quantum. 

Albert Einstein yang dengan kokoh memegang determinisme saintifik (bahwa tidak ada kehendak bebas, sebab segala sesuatu sudah diatur menurut hukum sebab-akibat, causal laws), luar biasanya masih menyatakan ada roh yang bebas yang bekerja dalam jaga raya dan menyatakan diri di dalam hukum-hukum alam. 

Bagi Einstein, jika semua agama dan semua bentuk mistisisme dibuang, sains empiris seperti fisika masih akan melahirkan perasaan keagamaan yang lebih tinggi, lebih mempesona, yang more advanced, yang sublimer. Dalam jawabannya (24 Januari 1936) terhadap pertanyaan seorang anak perempuan kelas enam sekolah Minggu Gereja Riverside, Amerika, yang bernama Phyllis, apakah sebagai seorang saintis Einstein berdoa (19 Januari 1936), sang saintis ini menulis demikian:
“Para saintis percaya bahwa setiap peristiwa, termasuk berbagai urusan manusia, terjadi karena hukum-hukum alam. Karena itu, seorang saintis tidak dapat cenderung percaya bahwa jalannya peristiwa-peristiwa dapat dipengaruhi oleh doa, yakni oleh suatu permintaan yang ditujukan ke suatu Oknum Supernatural. Tapi kita harus akui bahwa pengetahuan kita yang sebenarnya mengenai daya-daya kekuatan alam ini tidak sempurna, sehingga pada akhirnya kepercayaan pada keberadaan suatu roh fundamental yang paling menentukan berpijak pada semacam iman. Kepercayaan ini dipegang banyak orang di mana-mana, bahkan ketika ilmu pengetahuan sudah maju seperti sekarang ini. Tetapi juga, setiap orang yang terlibat dengan serius dalam usaha-usaha mencari ilmu pengetahuan menjadi yakin bahwa suatu roh menyatakan diri di dalam hukum-hukum alam semesta. Roh ini jauh lebih tinggi dibandingkan roh manusia. Dengan demikian, pengejaran ilmu pengetahuan juga membawa orang ke suatu perasaan religius yang istimewa, yang tentu saja sangat berbeda dari religiositas seseorang yang tidak berpengetahuan.”/17/
Prinsip Ketidakpastian Heisenberg (the Uncertainty Principle of Heisenberg) perlu juga pada kesempatan ini dirujuk. Prinsip ini menyatakan bahwa karena posisi (= aspek partikel sebuah elektron) dan momentum (= aspek gelombang sebuah elektron) dari sebuah partikel tidak dapat diukur serentak pada waktu yang sama dengan tingkat presisi yang tanpa batas, maka gerak suatu partikel pada dasarnya tidak dapat ditentukan atau diprediksi atau diidentifikasi dengan persis. 

Sementara sedang menyusun fondasi-fondasi matematis bagi mekanika quantum di Niels Bohr Institute di Kopenhagen pada 1927, Werner Heisenberg sendiri menyatakan bahwa semakin persis posisi suatu partikel diukur, semakin kurang persis momentumnya yang dapat kita ketahui, begitu juga sebaliknya.”/18/ 

Menurut Alok Jha, “Prinsip Ketidakpastian adalah salah satu ide dalam fisika yang paling terkenal (dan mungkin yang paling sering disalahpahami). Prinsip ini menyatakan kepada kita bahwa ada suatu kekaburan atau ketidakjelasan di dalam alam, suatu batas fundamental terhadap apa yang dapat kita ketahui mengenai kelakuan partikel-partikel quantum dan, karena itu, mengenai skala-skala terkecil dari alam.”/19/  

Nah, sebelumnya sudah saya katakan, singularitas yang mendentum sebagai big bang tidak lebih besar dari sebuah proton. Singularitas yang mendentum sebagai big bang adalah sebuah peristiwa mekanika quantum, yang terjadi dari ketiadaan, dari kevakuman quantum, tanpa penyebab sebelumnya. Lewat fluktuasi quantum, big bang menciptakan jagat raya dalam serpihan kecil nano-detik pertama setelah big bang, yang selanjutnya memunculkan inflasi. 

Sampai inflasi ini, jagat raya yang terbentuk masih homogen dan tidak berstruktur. Fluktuasi quantum yang terus-menerus terjadi mendahului inflasi memungkinkan jagat raya bayi yang homogen dan belum terstruktur ini terbentuk. Bahkan dimungkinkan juga, fluktuasi quantum primordial tidak melahirkan hanya satu jagat raya (konsep universe), melainkan banyak jagat raya (konsep multiverse), tidak hanya dimensi ruangwaktu yang kita kenal, tetapi juga dimensi-dimensi lain yang keseluruhannya dapat mencapai 26 dimensi sebagaimana diprediksi oleh teori dawai (string theory). 

Para fisikawan menciptakan istilah Dinding Planck” (“Planck Wall”) atau “Waktu Planck” (Planck Time) untuk menunjuk ke kurun 10 pangkat minus 43 (= 10-43) detik setelah big bang. Kurun pembatas yang disebut “Dinding/Waktu Planck” ini menurut mereka sulit ditembus untuk tiba ke kurun T=Zero, yakni kurun persis big bang sendiri. Inflasi yang sudah digambarkan di atas terjadi sebelum kurun “Dinding/Waktu Planck”, yang terjadi dalam serpihan sangat kecil nanodetik pertama setelah T=Zero. Pada saat Waktu Planck ini, temperatur dalam dentuman big bang besarnya 1032 Kelvin, yakni kurang lebih 10 trilyun trilyun kali lebih panas dibandingkan temperatur inti bintang Matahari kita.  

Sudah saya tulis di atas, kendatipun hingga saat ini para fisikawan dan astronom belum  berhasil menemukan riak gelombang gravitasional dari inflasi, penelitian-penelitian yang lebih komprehensif di masa depan akan dapat menemukannya. Jadi sebetulnya Dinding Planck suatu saat akan berhasil ditembus dan kita akan sudah bisa masuk ke kurun inflasi yang lebih awal lagi after the big bang.

Kalau nanti inflasi sudah berhasil dibuktikan ada meskipun forsa-forsa yang menimbulkannya masih misterius bagi kita, saya optimis tak lama lagi di masa depan kita akan juga mendapat tambahan banyak data sains tentang big bang, khususnya tentang kurun T=Zero. Kurun “Dinding/Waktu Planck” yang harus ditembus itu kurun 10 pangkat minus 43 detik, yaitu kurun satu per 10 pangkat 43 detik. Kurun ini ada, walau terlalu singkat. Bagi bayangan kita, kurun ini sangat unimaginable. Tapi, ajaibnya, kurun T=Zero terasa lebih mudah dibayangkan.

Jika inflasi yang terjadi sebelum Dinding Planck sudah bisa dibuktikan ada, tidak lama lagi, semoga, kita akan bisa juga tiba di T=Zero sendiri, waktu persis big bang sendiri. Kita akan bisa memandang big bang sendiri, dan akan terlihat lebih menakjubkan lagi bagaimana mekanika quantum bekerja di awal paling awal dunia.



Apakah bisa Tuhan apapun menyundut sumbu bom big bang?


Yang sudah kita ketahui adalah big bang terjadi dalam ketiadaan ruangwaktu, ketiadaan materi-energi, ketiadaan dunia natural. Dari mekanika quantum, kita tahu big bang terjadi dari kevakuman quantum, yang disusul fluktuasi quantum di mana partikel-partikel virtual terus bermunculan secara spontan dari ketiadaan, tanpa penyebab eksternal adikodrati apapun.

Kata Hawking, jika waktu dan ruang belum ada, maka Tuhan apapun tidak akan menemukan lokasi dan waktu untuk dia memulai penciptaan dunia. Alhasil, kata Hawking, Tuhan tidak merupakan faktor sama sekali dalam terciptanya jagat raya lewat big bang. Tuhan yang tidak punya lokasi dan waktu, kata Hawking, sama dengan Tuhan yang tidak ada. Kreasionisme gagal total.

Saya sudah argumentasikan di atas, memasukkan sosok Tuhan sebagai penyundut sumbu bom big bang tidak menyelesaikan masalah apapun. Tuhan yang tidak punya asal-usul, dalam sains, ya sama dengan ketiadaan, sebab hanya ketiadaan yang tidak punya asal-usul. Tapi Tuhan sebagai ketiadaan pasti tidak akan mau disamakan oleh para agamawan, apalagi oleh para fisikawan dan kosmolog, dengan dunia mekanika quantum. Fisika ya fisika. Agama ya agama. 

Tetapi, bisa jadi bagi Baruch de Spinoza dan Albert Einstein yang memandang Tuhan sebagai hukum-hukum kosmologis yang telah menciptakan jaga raya yang strukturnya sangat mempesona, menyamakan Tuhan dengan mekanika quantum sama sekali bukan persoalan. Tetapi Einstein mungkin juga masih berkeberatan, sebab bagi sang saintis ini determinisme saintifik berlaku mutlak, sementara dalam fisika quantum determinisme ini kelihatan tidak berlaku. 

Kata Einstein, Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan alam ini; maksudnya: segala sesuatu yang terjadi dalam alam ini bersifat deterministik, tidak random, tidak bebas. Tapi menurut Hawking, Einstein salah, sebab sudah terobservasi Tuhan (sebut saja Tuhan Ketiadaan, nothingness God) ternyata sedang bermain dadu di dalam seluruh jagat raya, bahkan kerap kali sang Tuhan malah menyembunyikan dadunya. Dalam hal ini, Hawking mengacu ke fisika quantum. 

Akhir kata, saya bertanya, siapkah anda menerima jika para ilmuwan (bukan para agamawan) menyatakan, dengan keraguan kecil, bahwa jagat raya kita memiliki bukan hanya materi, tapi juga hal non-materi, yakni kesadaran, pikiran, dan kecerdasan, dan karena itu mampu menciptakan kehidupan lewat hukum-hukum fisika, kimia dan biologi? Terserah anda.


Jakarta, 7 November 2014
by Ioanes Rakhmat

○ Dibaca lagi 24 Juni 2023

Catatan-catatan

/1/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010), hlm. 131.  

/2/ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for Ultimate Theory (New York: W.W. Norton and Company, 1999, 2003, edisi pertama), hlm. 4. 

/3/ Michio Kaku, Hyperspace: A Scientific Odyssey Through Parallel Universes, Time Warps, and The Tenth Dimension (New York: Anchor Books, 1994), hlm. 190.

/4/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design, hlm. 129. 

/5/ Lihat reportase Clara Moskowitz, “Gravitational Waves from Big Bang Detected”, Scientific American, 17 March 2014, pada http://www.scientificamerican.com/article/gravity-waves-cmb-b-mode-polarization/. Lihat laporan lengkapnya “Cosmic Inflation and Big Bang Ripples”, Scientific American, 17 March 2014, pada http://www.scientificamerican.com/report/cosmic-inflation-and-big-bang-ripples1/.

/6/ Lihat Tushna Commissariat, “BICEP2 gravitational wave result bites the dust thanks to new Planck data”, Physicsworld.com, 22 September 2014, pada http://physicsworld.com/cws/article/news/2014/sep/22/bicep2-gravitational-wave-result-bites-the-dust-thanks-to-new-planck-data

/7/ Lihat Ron Cowen, “Gravitational waves discovery now officially dead”, Nature News, 30 January 2015, pada http://www.nature.com/news/gravitational-waves-discovery-now-officially-dead-1.16830?WT.mc_id=TWT_NatureNews.  

/8/ Pertama kali CMBR ditemukan secara kebetulan di tahun 1965 oleh dua orang saintis dari Bell Labs. Kemudian, variasi-variasi temperatur CMBR yang sangat kecil itu dapat ditemukan tahun 1992 oleh satelit COBE milik NASA. Selanjutnya pengukuran diadakan lagi oleh satelit pengganti yang dinamakan satelit WMAP yang diluncurkan tahun 2001.

/9/ Teori Dawai (String Theory) memberi penjelasan lain tentang asal-usul jagat raya kita. Menurut teori ini, mungkin dua jagat raya bertabrakan, dan dari tabrakan ini terciptalah jagat raya kita. Atau mungkin jagat raya kita asalnya adalah sebuah tali pusat yang menempel pada sebuah jagat raya lain, yang terpotong lalu potongan tali pusat ini (sebuah worm hole) membentuk jagat raya kita. Tetapi, hemat saya, penjelasan teori dawai ini tetap meninggalkan sebuah pertanyaan yang masih harus dijawab: Dari mana datangnya jagat-jagat raya lain, yang menjadi asal-usul jagat raya kita sendiri? Pertanyaan ini tetap sah sekalipun, misalnya, hukum-hukum fisika yang berlaku di jagat-jagat raya lain itu berbeda dari hukum-hukum fisika yang bekerja dalam jagat raya kita.

/10/ Lihat pemaparan Stephen Hawking dalam video Discovery Channel Curiosity SO1EO1, Did God Create the Universe? Compelling Explanations, tayangan perdana 7 Agustus 2011, pada http://youtu.be/fmYlbqtAYOQ.

/11/ Lihat P. W. Milonni, The Quantum Vacuum: An Introduction to Quantum Electrodynamics (Boston: Academic Press, 1994), hlm. 239.

/12/ Lihat Milton K. Munitz, Cosmic Understanding: Philosophy and Science of the Universe (Princeton: Princeton University Press, 1990), hlm. 132. Lihat juga “Focus: The Force of Empty Space” , Physical Review Focus 2, 28 (1998) DOI: 10.1103/PhysRevFocus.2.28 (3 December 1998), pada http://physics.aps.org/story/v2/st28.  

/13/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design, hlm. 113-114.

/14/ Max Planck menyatakan hal ini dalam pidatonya yang disampaikan di Florence, Italia, 1944, yang berjudul Das Wessen der Materie (“Hakikat Materi”). Lihat Archiv zur Geschichte der Max-Planck-Gesselschaft, Abt. Va, Rep. 11 Planck, Nr. 1797

/15/ Pernyataan Planck ini dikutip dalam The Observer, 25 Januari 1931. 

/16/ David Bohm, “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter”, The Journal of the American Society for Psychical Research, Vol. 80, No. 2 (April 1986), hlm. 129 [113-135].

/17/ Lihat reportase ‘Dear Einstein, Do Scientists Pray?’ Asks Sixth Grader―See His Amazing Response”, HuffingtonPost 30 January 2014, pada http://www.huffingtonpost.com/2014/01/30/einstein-scientists-pray_n_4697814.html. Kata-kata penting saya buat berhuruf miring. Mengenai surat-menyurat antara Einstein dan anak-anak, lihat Alice Calaprice, ed., Dear Professor Einstein: Albert Einstein’s Letters to and from Children. Pengantar oleh Evelyn Einstein (Amherst, N.Y.: Prometheus Books, 2002).

/18/ Werner Heisenberg, Über den anschaulichen Inhalt der quantentheorietischen Kinematik und Mechanik”, Zeitschrift für Physik 43 (3-4) 1927, hlm. 172-178. Terjemahan Inggris artikel ini (“On the Perceptual Content of Quantum Theoretical Kinematics and Mechanics.”) tersedia di John A. Wheeler and Wojciech Zurek, eds. Quantum Theory and Measurement (Princeton: Princeton University Press, 1983), hlm. 62-84.

/19/ Alok Jha, “What is Heisenberg’s Uncertainty Principle?”, The Guardian/The Observer, 10 November 2013, pada http://www.theguardian.com/science/2013/nov/10/what-is-heisenbergs-uncertainty-principle.



Wednesday, October 29, 2014

Paus Francis akui kebenaran teori evolusi dan big bang, tetapi....

Paus Francis dengan pakaian dan simbol kebesarannya. Ya, dia besar, tapi besar sebagai rohaniwan, bukan sebagai saintis!


Baru saja saya baca di koran online The Independent, Rabu, 29 Oktober 2014, berita bahwa Paus Francis menyatakan teori evolusi dan big bang keduanya benar sebagai fakta-fakta sains, dan bahwa Tuhan itu bukan seorang penyihir yang lewat tongkat sihirnya simsalabim menjadikan segala hal dari ketiadaan, sebagai peristiwa-peristiwa gaib dan magis./1/

Posisi Paus Francis ini berbeda dari posisi yang dipertahankan Paus sebelumnya, yakni Benedict XVI. Bagi Paus Benedict XVI, Tuhan menciptakan jagat raya dan Adam serta Hawa tidak lewat hukum-hukum sains, tapi langsung dari kemahakuasaan-Nya untuk menjadikan segala sesuatu ada dari ketiadaan, bak keampuhan seorang tukang sihir yang memiliki sebuah tongkat sihir yang ajaib.

Saturday, October 25, 2014

Kapan dinosaurus lenyap, dan mengapa?


65 juta tahun yang lalu. Sumber gambar Zach Fitzner, Earth.com.



“Bahaya tumbukan asteroid atau komet adalah salah satu alasan terbaik manusia untuk masuk ke angkasa luar.”

― Arthur C. Clarke

by Ioanes Rakhmat

Kalangan literalis kreasionis Kristen dengan enteng menyatakan bahwa karena “segala binatang melata dan segala jenis binatang liar” diciptakan Allah bersamaan dengan penciptaan manusia di hari keenam menurut teks Kejadian 1:24-31, maka dinosaurus, sebagai salah satu spesies binatang melata (reptilia), tentu hidup bersama manusia. 

Selanjutnya, kata mereka, karena Nabi Nuh telah membawa masuk sepasang dinosaurus (dan banyak hewan lain) ke dalam bahtera (yang dibuatnya selama ratusan tahun) ketika air bah melanda dunia sebagai hukuman Allah terhadap umat manusia, maka hewan besar ini luput dari kebinasaan. 

Bahkan mereka berkeyakinan bahwa Yesus juga menunggang seekor dinosaurus ke manapun dia pergi. Keyakinan ini diajarkan mereka bahkan kepada anak-anak sekolah Minggu di gereja-gereja mereka.

Hanya kalangan literalis dalam semua agama yang akan memperlakukan kitab-kitab suci mereka sebagai buku sejarah yang tidak bisa salah. 

Posisi literalis ini jelas salah sama sekali. Kitab suci apapun bukanlah buku sejarah dan juga bukan ensiklopedia ilmu pengetahuan. 

Pendapat-pendapat mereka tentang banyak hal dalam dunia ini mereka bangun berdasarkan teks-teks kitab-kitab suci yang mereka pahami secara literalis (harfiah). 

Jika pendapat-pendapat mereka ini diperhadapkan pada pandangan-pandangan ilmu pengetahuan akan terlihat bahwa pendapat-pendapat mereka salah sama sekali. Begitu juga halnya dengan pendapat mereka bahwa berbagai jenis dinosaurus pernah hidup bersama manusia.


Narasi syahadat Yahudi

Sebelum masuk ke ilmu pengetahuan yang menyatakan bahwa berbagai jenis dinosaurus telah lenyap lebih dari 60 juta tahun yang lampau, baiklah saya perlihatkan lebih dulu bahwa teks Kejadian 1:1-2:4a sama sekali bukanlah teks ilmu pengetahuan atau teks yang sejalan dengan ilmu pengetahuan.

Seluruh Kejadian 1:1-2:4a sama sekali bukan sebuah uraian sejarah kronologis literalis tentang hal apa saja yang Allah telah ciptakan selama enam hari, melainkan, dilihat dari jenis sastranya, sebuah narasi syahadat yang disusun para imam Yahudi ketika bangsa Israel sedang mengalami pembuangan di Babilonia (587-538 SM), suatu negeri yang penduduknya mempercayai astrologi dan menyembah banyak benda langit khususnya Matahari dan Bulan sebagai dewa-dewa mereka.

Untuk bangsa Israel tidak terjatuh ke dalam kepercayaan dan penyembahan berhala semacam ini, para imam itu menyusun syahadat ini dengan memakai sistem kalender Babilonia yang membagi 1 minggu ke dalam 7 hari sebagai bingkai narasi. 

Di dalam syahadat ini diikrarkan dengan sangat kuat bahwa semua hari adalah sama baik (melawan astrologi Babilonia), dengan puncaknya hari ketujuh, hari Sabat, sebagai hari yang dikuduskan Allah, dan bahwa Matahari dan Bulan hanyalah benda-benda langit yang Allah telah ciptakan untuk masing-masing memberi terang pada siang hari dan pada malam hari, bukan dewa-dewa yang harus disembah (melawan agama Babilonia).

Adanya rujukan ke hari Sabat dengan kuat menyatakan bahwa syahadat dalam Kejadian 1:1-2:4a adalah syahadat khas Yahudi, bukan syahadat yang berlaku universal, dan juga sama sekali bukan sebuah laporan sejarah faktual tentang proses terciptanya “langit dan bumi”, melainkan sebuah syahadat yang disusun untuk melawan agama Babilonia.

Dilihat dari sudut astronomi, ya semua hari dalam satu minggu sama alamiahnya, tidak ada satu hari pun yang lebih istimewa dibandingkan hari-hari lainnya, dan hari Sabtu sama saja kedudukannya dengan hari-hari lainnya. Sabat menjadi hari yang istimewa hanya dalam dunia kepercayaan subjektif Yahudi saja. 

Kalau yang dipandang terpenting adalah hari pertama saat peletakan batu pertama oleh Allah, maka hari yang kudus adalah hari pertama, hari Minggu. Kalau yang dinilai terpenting adalah hari Allah menyelesaikan pembangunan langit dan Bumi, yakni di hari ketujuh, maka hari yang kudus adalah hari ketujuh, hari Sabtu (Sabat). Tinggal dirasionalisasi saja dengan sebuah mitos teologis.  


Bentrok dengan ilmu pengetahuan

Bahwa Kejadian 1:1-2:4a sama sekali tidak bisa dipahami secara literal, juga sangat nyata dari pengetahuan kita sekarang bahwa jagat raya (dalam perikop ini disebut sebagai “langit dan bumi”) sama sekali tidak tercipta dalam 6 x 24 jam (atau: 6 x 1000 tahun, jika 1 hari Alkitab dianggap sama dengan 1000 tahun). Sejak saat terbentuknya jagat raya kita 13,8 milyar tahun yang lalu, saat yang disebut sebagai big bang, jagat raya ini sekarang masih terus mengembang dengan makin cepat, dan masih terus mengalami evolusi. Fakta bahwa jagat raya kita terus mengembang adalah fakta objektif, ada bukti-bukti saintifiknya.

Dalam jagat raya kita, banyak bintang lenyap dalam suatu ledakan yang disebut supernova, tapi pada pihak lain banyak bintang baru juga terbentuk. Banyak galaksi lenyap dalam suatu tabrakan dengan galaksi-galaksi lain, yang kemudian membentuk galaksi-galaksi baru. 

Hingga saat ini dan terus ke depan untuk waktu yang sangat panjang, jagat raya kita masih belum selesai terbentuk, masih aktif membentuk dirinya sendiri, masih mengalami evolusi kosmologis, tampaknya tanpa akhir, dan tanpa Allah apapun mengontrolnya, sebab segala hal yang berlangsung dalam evolusi kosmik ini dengan sangat baik dapat dijelaskan oleh sains modern sebagai kejadian-kejadian yang sepenuhnya alamiah, dan sama sekali tidak ilahi, tidak melibatkan makhluk supernatural apapun.

Selain itu, dari sains kosmologi, astronomi dan fisika, kita tahu Matahari dan Bulan menjadi benda-benda penerang hanya dalam konteks sistem Matahari kita (solar system), tidak berlaku bagi seluruh jagat raya. 

Kita juga tahu, ada tak terhitung banyaknya sistem-sistem matahari lain dalam jagat raya kita, dari sistem yang bintang mataharinya cuma satu (seperti sistem Matahari kita) sampai sistem dengan banyak bintang mataharinya, dua atau tiga atau empat dan seterusnya.

Nah, pengetahuan kita yang menakjubkan mengenai jagat raya ini, sama sekali tidak diketahui para imam Yahudi yang menyusun syahadat Yahudi mereka dalam Kejadian 1:1-2:4a. Jadi, sangat salah dan sangat naif, dan sangat tidak relevan, jika kesaksian dalam kitab Kejadian ini diperlakukan sebagai sebuah laporan terbentuknya jagat raya secara faktual. Literalisme sama sekali tidak boleh dipakai dalam menafsirkan teks-teks apapun dalam kitab suci anda.

Di samping itu, karena kalangan literalis kreasionis Kristen tak pernah memikirkan dengan seksama teks apapun dalam kitab suci mereka, mereka tak bisa melihat betapa mustahilnya pohon-pohon bisa bertunas dan berdaun pada hari ketiga (Kejadian 1:11-13), sementara Matahari yang cahayanya dibutuhkan daun-daun untuk fotosintesis baru diciptakan pada hari keempat (Kejadian 1: 14-19). Fotosintesis adalah suatu aktivitas fisika kimiawi untuk menciptakan makanan (glukosa, misalnya) dengan menggunakan hanya energi Matahari untuk mengikat COdan air; dari proses ini oksigen terlepas sebagai limbah dan dengan bertahap memenuhi atmosfir. 

Beranekaragam ganggang atau algae yang hidup di air tawar dan di laut sejak planet Bumi mulai memiliki air yang berlimpah juga menyumbang kandungan oksigen yang sangat besar di atmosfir Bumi, juga lewat fotosintesis.

Tambahan pula, para kreasionis juga tidak bisa melihat betapa mustahilnya menyebut hari-hari sebagai “hari pertama”, “hari kedua” dan “hari ketiga”, sementara sang Matahari yang terbitnya umumnya dipakai untuk menentukan tibanya hari yang baru, baru diciptakan pada hari keempat.

Masih banyak hal yang bisa saya perlihatkan bahwa memahami teks Kejadian 1:1-2:4a secara literalis adalah sebuah kesalahan fatal dalam memahami kesaksian para imam Yahudi dalam bagian teks kitab pertama dalam Alkitab ini. Untuk sementara ini, cukuplah sudah saya memperlihatkan masalah-masalah yang berkaitan dengan penafsiran kalangan kreasionis ini.

Pendek kata, adalah sesuatu yang tidak waras, insane, jika ada orang beranggapan bahwa dinosaurus hidup bersama Nuh di zaman purbakala, atau ditunggangi Yesus dari Nazareth di abad pertama Masehi.

Mengapa tidak waras? Karena dari sains tahulah kita bahwa berbagai jenis dinosaurus sudah hidup ratusan juta tahun lamanya di planet Bumi sebelum akhirnya lenyap dari muka Bumi 65,5 juta tahun yang lalu, ketika planet Bumi kita dihantam sebuah meteor raksasa di suatu kawasan yang sekarang dikenal sebagai Meksiko.

Ada pada kita fosil-fosil beranekaragam dinosaurus, yang tertua adalah fosil dinosaurus yang diberi nama Nyasasaurus parringtoni yang dipastikan hidup 243 juta tahun lalu./1/ Selain itu, kita kini juga sudah mempunyai sel-sel darah merah dan asam amino (unsur esensial protein) yang ditemukan dalam delapan fosil tulang kuku/cakar dinosaurus teropoda yang berasal dari kurun 75 juta tahun lalu, yang berhasil digali di Amerika Utara.

Dua peneliti tulang kuku teropoda ini, Sergio Bertazzo dan Susie Maidment, lebih jauh menegaskan bahwa “adalah mungkin suatu saat di masa depan fragmen-fragmen DNA juga akan ditemukan di dalam sebuah fosil dinosaurus yang terawetkan dengan luar biasa.” 

Maidment juga menyatakan bahwa “Dalam sepuluh hingga lima belas tahun ke depan, kita akan dapat mengetahui lebih banyak tentang dinosaurus ketimbang yang dimungkinkan yang kita pernah pikirkan, yakni informasi tentang fisiologi dan rupa atau wujud mereka, yang kita tidak akan pernah ketahui hanya dari tulang-belulang saja. Penemuan kami ini sesungguhnya menunjukkan potensi-potensi dari apa yang dapat terawetkan jika kita mencarinya di tempat yang benar.”/2/



Fosil tulang kuku teropoda usia 75 juta tahun yang berisi sel-sel darah merah dan protein

Di atas saya sudah menyebut kurun waktu puluhan juta hingga ratusan juta tahun lalu di planet Bumi. Bagaimana dengan teks-teks Alkitab? 

Dari sejumlah teks dalam Alkitab, kita tahu bahwa penulis-penulis Alkitab menganggap usia planet Bumi baru 6.000 hingga 10.000 tahun saja, jika dihitung dari zaman kita di abad ke-21; inilah pandangan yang disebut sebagai pandangan kreasionis Bumi berusia muda. Pandangan ini sudah diajukan berabad-abad lampau. Saya perlu menyinggungnya sepintas.

Menurut seorang literalis Katolik yang hidup di abad ke-17, uskup agung Almargh yang bernama James Usher, setelah dia menghitung-hitung hari-hari, kejadian-kejadian dan silsilah-silsilah yang dikisahkan dalam Alkitab (baginya Alkitab adalah sebuah kitab sejarah yang ajaib dan serba akurat), jagat raya atau “langit dan Bumi” diciptakan Allah persis pada hari Minggu tanggal 23 Oktober 4004 SM. Jadi, sekarang ini di abad ke-21 jagat raya baru berusia 6.000 tahun.

Tetapi menurut sains modern, jagat raya kita yang tercipta lewat big bang sudah berusia 13,8 milyar tahun. Sistem Matahari kita sendiri, dus juga planet Bumi, sudah berumur 4,54 milyar tahun. Selama ini dipandang bahwa kehidupan sangat sederhana pertama kali muncul di Bumi 3,8 milyar tahun lalu, yang selanjutnya berevolusi tahap demi tahap, dari sel tunggal yang sederhana berevolusi menjadi sel majemuk dengan strukur tubuh yang makin kompleks. 

Tetapi, baru-baru ini suatu tim pakar geokimia dari UCLA telah menemukan bukti-bukti bahwa sangat mungkin kehidupan sederhana telah muncul di planet Bumi setidaknya 4,1 milyar tahun lalu. Kehidupan sederhana yang berhasil ditemukan ini terkandung dalam grafit atau carbon murni (yang mencakup carbon-12 hingga carbon-13) yang sudah memiliki kemampuan melakukan fotosintesis. Sudah kita ketahui bahwa carbon adalah unsur esensial kehidupan./3/

Nah, kalau pendapat James Usher diikuti, berarti Homo sapiens baru muncul di Bumi ya juga kurang lebih 6.000 tahun yang lalu. Atau kita bulatkan saja, baru muncul 10.000 tahun lalu. Itu berarti, dalam pandangan kalangan kreasionis, Adam dan Hawa diciptakan pada kurun yang tidak lebih tua dari 10.000 tahun lalu, langsung jadi sebagai dua sosok makhluk dewasa, tanpa melewat kurun sebagai janin-janin, dus mereka pasti tidak memiliki pusar. Rabalah perut anda dan coba rasakan, apakah anda memiliki sebuah pusar atau tidak.

Tetapi dari ilmu pengetahuan, yang memakai bukti paleo-DNA mitokondrial, kita tahu bahwa Homo sapiens muncul 300.000 tahun lalu di Afrika, bukan di Taman Eden di kawasan Mesopotamia 10.000 tahun lalu. Kalau kita telusuri sedikit jauh ke belakang, anekaragam hominid yang menjadi moyang terdekat Homo sapiens muncul 400.000 tahun lalu.

Anda tentu langsung saja bisa melihat, bahwa dalam hal-hal yang sudah diajukan di atas pandangan kalangan kreasionis dan pandangan sains berbenturan tajam. Literalisme telah menjadikan kalangan kreasionis anti-sains, dus membuat mereka bodoh terus-menerus.


Kebodohan yang masih luas!

Jangan anda beranggapan bahwa orang-orang kreasionis yang bodoh itu jumlahnya sedikit. Kebodohan masih menjadi masalah sangat besar di era modern sekarang ini. 

Sebaiknya anda tahu bahwa menurut hasil polling yang dilakukan Gallup di tahun 2014, sebanyak 42 % orang Amerika terus saja mempertahankan kepercayaan kreasionis mereka bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuknya yang sekarang pada 10.000 tahun yang lalu, suatu kepercayaan yang nyaris tidak berubah selama 3 dasawarsa terakhir ini. 

Menurut poll yang sama, separuh orang Amerika percaya bahwa manusia berevolusi, tetapi dari jumlah ini lebih banyak yang percaya bahwa Allah memandu proses evolusi yang sudah dan sedang berlangsung. Tetapi persentase yang menyatakan bahwa Allah tidak terlibat dalam proses evolusi ternyata meningkat./4/

Jajak pendapat paling mutakhir YouGov (diadakan 15-17 Juni 2015) menemukan bahwa 41% orang Amerika berpikir dinosaurus dan manusia sudah pasti (14%) atau sangat mungkin (27%) dulu pernah hidup di planet Bumi pada waktu yang sama. 43% berpikir sudah pasti (25%) atau sangat mungkin (18%) dinosaurus dan manusia dulu tidak pernah hidup bersama. 16% merasa tidak pasti.

Jajak pendapat ini juga menemukan bahwa dari antara orang Amerika yang menyebut diri sebagai “orang-orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali” (born-again Christians, BAC), 56% percaya bahwa manusia dan dinosaurus dulu pernah hidup bersama di planet Bumi. Sedangkan dari antara orang Amerika yang tidak menyebut diri BAC, 51% berpikir bahwa manusia dan dinosaurus tidak pernah hidup bersama di Bumi. Hanya 22% orang Amerika BAC berpikir bahwa manusia dan dinosaurus tidak pernah hidup bersama di planet Bumi.

Jajak pendapat yang sama mendapatkan bahwa 54% orang Amerika berpendapat bahwa pada masa kini tidaklah dimungkinkan untuk menciptakan klon-klon dinosaurus dari DNA yang ditemukan dalam fosil-fosil dinosaurus, sementara 28% percaya hal itu kini dimungkinkan. Selain itu, separuh dari publik juga menyatakan bahwa seandainya Jurrasic Park/World ada betulan sekarang ini, mereka tidak akan mengunjunginya, sementara 40% mengatakan mau mengunjunginya./5/

Berikut ini komentar saya atas hasil survei YouGov itu. Negara Amerika itu jelas negara maju, dan sains-tek di sana terus berkembang dengan sangat cepat dan luas. Boleh dikata, Amerika adalah negara yang sudah melek sains. Penduduknya sudah terbiasa berpikir ilmiah, dan menjalani kehidupan mereka dengan berpedoman pada sains dalam banyak urusan kehidupan mereka. Begitu juga, demokrasi sudah sangat maju dan mapan di sana.

Tetapi data jajak pendapat paling mutakhir yang diajukanYouGov di atas menunjukkan dengan sangat jelas bahwa masih ada sangat banyak orang Amerika (41%) yang mengabaikan hasil-hasil berbagai kajian ilmiah tentang masa kehidupan dinosaurus (ratusan juta tahun lalu) dan kemusnahan mereka (65 juta tahun lalu), alhasil mereka kelihatan bodoh sekali.

Begitu juga, demokrasi di negeri besar ini berjalan dengan sangat bagus, dan keadaan ini menunjukkan bahwa nyaris seluruh rakyat Amerika sudah mampu berdemokrasi dengan dewasa. 

Tapi fakta yang menyedihkan adalah ini: demokrasi di sana dijalankan bahkan oleh 41 % orang yang buta ilmu pengetahuan tentang kapan berbagai dinosaurus hidup dan kapan mereka punah, ketika mereka berpikir bahwa manusia dan dinosaurus pernah hidup bersama di planet Bumi, padahal faktanya adalah Homo sapiens baru muncul di planet Bumi, persisnya di Afrika Selatan, baru 300.000 hingga 400.000 tahun lalu.

Jelas jadinya, ilmu pengetahuanlah, bukan kitab suci apapun, yang berwenang menjawab apakah betul dinosaurus pernah hidup bersama manusia. Tulisan ini selanjutnya  mau membentangkan pandangan ilmu pengetahuan tentang hal ini.


Dinosaurus di zaman modern!

Tapi sebelum kita masuk dengan serius ke dunia ilmu pengetahuan, marilah kita sedikit bersendagurau. Berikut ini adalah tiga gambar dinosaurus berleher panjang yang dinamakan dinosaurus sauropoda. Sejauh ini, telah diidentifikasi, ada tiga jenis dinosaurus yang termasuk keluarga sauropoda, yakni Diplodokus, Apatosaurus, dan Brontosaurus./6/




Bisa jadi kalangan kreasionis benar bahwa dinosaurus sauropoda memang masih hidup bersama manusia, hingga saat ini. Ini ada buktinya. Saya dan tentu anda juga kerap berjumpa dengan dinosaurus sauropoda. Saya sempat mengambil gambar-gambarnya dengan HP saya. 

Di bawah ini dua sauropoda yang hidup di zaman modern, abad ke-21 ini. Kita menamakan dino modern ini Excavator. Kalau dua sauropoda modern ini sedang mengais-ngais mencari makan, jangan sekali-sekali anda mendekati mereka, karena anda berisiko digigit dan ditelan mereka.


Dinosaurus sauropoda Excavator sedang melahap tanah merah


Ini dinosaurus sauropoda Excavator yang berleher cantik

OK, sekarang kita serius masuk ke dunia ilmu pengetahuan, setelah mungkin anda tertawa terbahak-bahak atau malah tersenyum kecut atau malah menjadi stres setelah mengikuti senda-gurau saya di atas.


Temuan-temuan ilmiah

Kemusnahan massal

Melanjutkan kajian yang baru, yang sebelumnya pada 1980 sudah dilaksanakan oleh Luis Alvarez (pemenang Hadiah Nobel dari Universitas California, Berkeley) dan putranya Walter Alvarez, sebuah panel yang terdiri atas 41 orang ilmuwan dari berbagai tempat di muka Bumi (Eropa, Amerika Serikat, Meksiko, Kanada, dan Jepang) pada 4 Maret 2010 melakukan tinjauan ulang menyeluruh atas penelitian yang sudah berlangsung selama 20 tahun untuk mencoba mengonfirmasi apa penyebab “kemusnahan massal Kretaseous-Tertiari (K-T)”./7/

“Kemusnahan massal Kretaseous-Tertiari” (Cretaceous-Tertiary Mass Extinction) adalah sebuah terminologi baku yang menunjuk pada kemusnahan massal spesies-spesies fauna dan flora yang berlangsung dalam suatu kurun geologis yang pendek di muka Bumi pada 65,5 juta tahun yang lalu; terminologi ini juga dikenal sebagai “kemusnahan K-T”. 

Belakangan, kemusnahan K-T disebut juga kemusnahan Kretaseous-Paleogene, atau kemusnahan K-Pg. Istilah “Tapal batas K-T” (K-T boundary) menunjuk pada suatu lapisan tipis sedimentasi geologis yang ditemukan di berbagai tempat di muka Bumi, yang terbentuk selama kurun kemusnahan K-T.

Menurut kesimpulan panel ini, sebuah asteroid atau komet raksasa dari angkasa luar yang lebarnya sampai 15 kilometer (= 9 mil) yang menumbuk muka Bumi di Chicxulub di Semenanjung Yucatan (sekarang dikenal sebagai Meksiko) adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal mengapa terjadi kemusnahan K-T, mengapa dinosaurus lenyap dari muka Bumi.

Kejadian alam maha dahsyat ini menciptakan suatu “lingkungan seperti neraka” sekitar 65,5 juta tahun yang lalu dan melenyapkan lebih dari separuh spesies di muka Planet Bumi, termasuk dinosaurus, pterosaurus yang seperti burung dan reptilia yang hidup di laut. 

Para ilmuwan yang melakukan pengkajian ini menganalisis hasil-hasil penelitian 20 tahun terakhir ini yang telah dilakukan para pakar paleontologi, pakar kimia bumi dan atmosfir, pakar pembuat model iklim, pakar geofisika dan pakar sedimentologi, yang terus masih mengumpulkan bukti-bukti mengenai kemusnahan K-T ini.

Asteroid raksasa ini dipikirkan telah menerjang muka Bumi dengan suatu kekuatan yang besarnya satu milyar kali lebih kuat dari kekuatan bom atom yang pernah dijatuhkan di Hiroshima. Tabrakan yang kekuatannya tak terbayangkan ini menimbulkan api maha besar di mana-mana, gempa bumi di mana-mana yang berkekuatan lebih dari 10 skala Richter, tanah-tanah longsor seluas benua yang menciptakan tsunami dahsyat di mana-mana. 

“Paku terakhir pada peti mati dinosaurus” datang ketika bahan-bahan reruntuhan yang terlempar dari tumbukan mahadahsyat ini terbang ke atas memasuki atmosfir sehingga planet Bumi terbungkus oleh kegelapan yang amat mengerikan, dan kejadian ini menimbulkan suatu musim dingin global yang mematikan, yang membunuh banyak sekali spesies yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan kehidupan yang mendadak berubah drastis ini.

Rekam jejak geologis memperlihatkan bahwa peristiwa dahsyat yang menyebabkan kematian dinosaurus ini dengan cepat menghancurkan ekosistem darat dan ekosistem laut. Rekam jejak fosil menunjukkan telah terjadi kemusnahan massal sekitar 65,5 juta tahun lalu (waktu yang kini dikenal sebagai batas K-Pg). Kurun yang menjadi neraka bagi dinosaurus ini, yang menandakan berakhirnya masa kekuasaan dinosaurus di muka bumi selama ratusan juta tahun,/8/ ternyata menjadi suatu hari akbar bagi organisme mamalia.

Tetapi sudahlah jelas, kemusnahan dinosaurus 65,5 juta tahun lalu tidak dipersiapkan siapa-siapa untuk membuka jalan bagi kedatangan spesies Homo sapiens yang baru muncul di muka Bumi 300.000 hingga 400.000 tahun lalu saja di Afrika, sementara umur Bumi sendiri sudah 4,5 milyar tahun. Musnah dan munculnya makhluk-makhluk hidup sepenuh-penuhnya adalah kejadian-kejadian alamiah biasa, tanpa intervensi makhluk-makhluk adikodrati apapun, yang bisa dijelaskan oleh sains dengan objektif.

Jadi, hemat saya, tidaklah perlu orang beranggapan bahwa kepunahan dinosaurus telah sengaja Allah lakukan untuk memungkinkan, jauh di kemudian hari, munculnya organisme mamalia cerdas yang diberi nama (dalam kata-kata Latin) Homo sapiens. Ide teologis semacam ini menimbulkan sejumlah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah, misalnya: Jika dinosaurus harus dimusnahkan oleh Allah, mengapa sang Allah ini telah menciptakan berbagai jenis reptilia besar ini sebelumnya? Apakah Allah tidak mengasihi hewan-hewan besar ini? Jika ya, kenapa? Apakah Allah berleha-leha saja dalam kurun panjang 65,5 juta tahun minus 300.000 atau 400.000 tahun, sebelum dia memunculkan manusia, konon makhluknya yang termulia, bukan di Taman Eden tetapi di benua Afrika?


Bukti-bukti objektif

Tapi mari kita ajukan sebuah pertanyaan lain yang jauh lebih penting. Apakah ada bukti yang langsung menghubungkan tumbukan asteroid dan kemusnahan K-T? Ya sedikitnya ada dua bukti.

Pertama, berlimpahnya iridium dalam sampel-sampel geologis di seluruh dunia yang berasal dari kurun kemusnahan K-T. Iridium sangat jarang ditemukan pada kerak Bumi, tetapi sangat umum ditemukan pada asteroid. Langsung setelah lapisan geologis yang berisi iridium, jumlah fosil dan spesies yang ditemukan berkurang sangat jauh, dan keadaan ini menunjukkan bahwa kemusnahan K-T terjadi sangat segera setelah tumbukan asteroid ini.

Kedua, berlimpahnya mineral kwarsa (quartz mineral) yang “terkejut” di dalam lapisan-lapisan batu karang di seluruh dunia yang berasal dari kurun kemusnahan K-T. Mineral kwarsa terkejut ketika ditumbuk dengan sangat cepat oleh suatu kekuatan besar, dan mineral kwarsa dalam kondisi “terkejut” ini ditemukan hanya pada situs-situs ledakan nuklir dan situs-situs tumbukan meteor di muka Bumi. Kesimpulannya, suatu tumbukan meteor yang masif terjadi pada saat kemusnahan K-T secara massal.


Tulang paha hadrosaurus

Namun pada awal tahun 2011, tim peneliti dari Universitas Alberta, yang dipimpin oleh Larry Heaman dari Department of Earth and Atmospheric Sciences, berhasil menentukan usia sebongkah fosil tulang paha hadrosaurus yang ditemukan di New Mexico, yakni 64,8 juta tahun, dan ini berarti dinosaurus amfibi pemakan tetumbuhan ini hidup 700.000 tahun setelah kemusnahan K-T. Penentuan usia fosil tulang paha hadrosaurus ini dilakukan dengan memakai sebuah metode baru yang belum dipakai sebelumnya, yakni metode yang dinamakan U-Pb (Uranium-Plumbum, atau Uranium-Timah hitam)./9/

Teknik baru ini bukan saja memungkinkan penentuan usia fosil tulang, tetapi juga potensial dapat membedakan jenis makanan yang dimakan seekor dinosaurus. Tulang makhluk hidup berisi hanya sedikit uranium, tetapi selama proses fosilisasi (umumnya kurang dari 1000 tahun setelah kematian) tulang diperkaya oleh banyak unsur kimiawi, seperti uranium. 

Atom-atom uranium dalam tulang perlahan-lahan berubah menjadi timah hitam, dan ketika proses fosilisasi selesai maka jam uranium-plumbum berdetak. Komposisi isotop timah hitam yang didapat dalam tulang paha hadrosaurus ini dengan demikian menentukan usia mutlak fosil tulang paha ini.

Penemuan yang dibuat Larry Heaman dkk ini menunjukkan bahwa hadrosaurus yang fosil tulang pahanya ditemukan di New Mexico ini berhasil bertahan hidup melewati bencana alam dahsyat yang menyebabkan kemusnahan K-T. Menurutnya, adalah mungkin pada 65,5 juta tahun yang lalu di beberapa kawasan tetumbuhan tidak ikut lenyap dan sejumlah spesies hadrosaurus bertahan hidup. 

Tim ilmuwan ini berpendapat mungkin sekali ada banyak telur dinosaurus yang luput dari kemusnahan K-T, dan karenanya perlu dieksplorasi. 

Larry Heaman dkk percaya, jika teknik U-Pb baru mereka dipakai untuk menentukan usia lebih banyak sampel fosil dinosaurus, maka paradigma kemusnahan K-T dan berakhirnya zaman dinosaurus akan harus direvisi. Sampai sejauh mana keyakinan Heaman dkk benar, masih harus kita lihat.

Kita tunggu para pakar yang mengkaji topik ini meninjau dan mengevaluasi temuan-temuan yang sudah didapat Heaman dkk. 

Tetapi, yang sudah pasti, kalaupun harus ada revisi, revisi ini tidak akan radikal amat. Misalnya, tidak akan ada revisi yang membuat anda harus percaya (dengan tidak waras) bahwa berbagai jenis dinosaurus hidup bersama Homo sapiens yang baru muncul 300.000 hingga 400.000 tahun lalu di Afrika, atau bahwa berbagai macam dinosaurus masih hidup pada zaman kehidupan Yesus dari Nazareth di abad pertama M di tanah Palestina, bahwa sang nabi ini bersama Maria Magdalena, dan juga gubernur Pontius Pilatus, masing-masing mengendarai seekor dinosaurus yang sudah dijinakkan ke mana pun mereka pergi― hal-hal yang tidak waras ini dibayangkan kalangan kreasionis Kristen sebagai fakta-fakta.



Ini lembaran dalam buku mewarnai anak-anak sekolah Minggu. Tertulis di situ kata-kata ini, “Meskipun kita tahu dinosaurus selamat dari air bah (dalam bahtera Nuh), kita tidak tahu apakah Yesus menungganginya. Tapi mungkin sekali Yesus memang menungganginya.”



Gambar ini juga menyampaikan pesan-pesan yang salah total dan memperbodoh!


Aktivitas vulkanik 

Perlu juga dikemukakan pada kesempatan ini sebuah pendapat berbeda tentang apa yang menjadi penyebab kemusnahan K-T, yang sudah cukup lama berusaha menyaingi pendapat yang sudah dikemukakan Luis dan Walter Alvarez. 

Menurut Gerta Keller, seorang geolog dari Universitas Princeton, kemusnahan K-T terjadi bukan karena tumbukan sebuah asteroid raksasa pada planet Bumi, tetapi karena aktivitas vulkanik di kawasan yang sekarang dikenal sebagai India. Dalam kurun kemusnahan K-T, lahar vulkanik mengalir selama puluhan ribu tahun dari suatu kawasan vulkanik dekat Mumbai di negeri India yang sekarang, kawasan yang dikenal sebagai Deccan Traps, Lapisan Bebatuan Dekkan.

Aliran lahar ini, yang mengalir sampai hampir seribu mil (1.603 km), menyebabkan sulfur dan carbon dioksida dalam jumlah yang mematikan masuk ke atmosfir Bumi, yang mengakibatkan pemanasan global dan meningkatnya kadar asam (proses aksidifikasi) di lautan karena curahan hujan asam. Kondisi inilah, menurut Keller, yang menjadi penyebab kemusnahan K-T./10/

Temuan ini dilaporkan pada 5 Desember 2012 dalam pertemuan tahunan The American Geophysical Union. Tetapi beberapa pakar geologi lain menjelaskan bahwa vulkanisme yang diteorikan Keller bisa berperan hanya sebagian saja dalam kemusnahan dinosaurus, ketimbang sebagai satu-satunya penyebabnya. Selain itu, Keller juga mengakui bahwa tumbukan meteor, meskipun bukan sebagai penyebab, dapat memperburuk kemusnahan massal dinosaurus, 65,5 juta tahun lalu.


Tim Prof. Paul R. Renne

Tetapi pendulum kini berayun ke arah semula. Direktur Berkeley Geochronology Center (BGC) dan profesor dari Universitas California, Berkeley, Paul R. Renne bersama timnya baru-baru ini telah memastikan bahwa tumbukan meteor di Chicxulub, Semenanjung Yucatan, dan kemusnahan K-T, terjadi dalam waktu yang bersamaan pada 66.038.000 tahun yang lalu, dengan marjin kesalahan penghitungan kurang lebih 11.000 tahun saja. Laporan kajian tim Prof. Renne dimuat dalam Science Magazine edisi 8 Februari 2013./11/

Dengan memperbaiki dan melakukan penyesuaian-penyesuaian kembali metode pengukuran waktu yang ada, yang dikenal sebagai teknik argon-argon, Prof. Renne bersama timnya mengukur usia debu vulkanik dari kawasan Hell Creek di Montana dan usia serpihan-serpihan kaca meteorit (tektites) dari Haiti. Dengan mengintegrasikan rekam jejak fosil-fosil dan data mengenai perubahan iklim dan perubahan fauna dan flora yang kita lihat sekarang di sekitar kita ke dalam penghitungan, mereka tiba pada kurun tersebut. 

Prof. Renne menyimpulkan bahwa tumbukan meteor jelas memainkan peran utama dalam kemusnahan K-T, meskipun bukan satu-satunya faktor penyebabnya. Perubahan-perubahan iklim yang dramatis selama jutaan tahun sebelumnya, termasuk cuaca dingin yang berlangsung sangat lama di tengah lingkungan alam yang panas selama kurun K-T, mungkin sekali membawa sangat banyak organisme ke situasi rawan untuk musnah.

Perubahan iklim yang luar biasa mungkin sekali disebabkan oleh serangkaian letusan gunung berapi di India yang menghasilkan Deccan Traps yang sangat luas. Prof. Renne berencana untuk mengukur kembali bebatuan vulkanik dari Deccan Traps untuk bisa menentukan lebih persis berapa lama aktivitas vulkanik ini berlangsung dan kapan dimulainya, dalam kaitannya dengan Kemusnahan K-T.


Disk materi gelap

Tetapi kini para saintis memikirkan kemungkinan lain tentang faktor utama penyebab terhantamnya permukaan planet Bumi oleh meteor-meteor atau komet-komet besar. 

Setelah dihitung-hitung, ditemukan bahwa kemusnahan-kemusnahan besar yang pernah melanda Bumi terjadi secara periodik, yakni dalam interval 30 juta tahunan. 

Sampai saat ini, sudah terjadi Lima Kemusnahan Besar karena bencana (dinamakan The Big Five), dan yang terbesar (disebut The Great Dying) terjadi pada 252 juta tahun lalu, suatu bencana yang dinamakan Kemusnahan Massal Permian-Triassik yang melenyapkan 9 dari setiap 10 spesies yang ada di Bumi.

Sekarang ini sejumlah saintis percaya bahwa peristiwa bebatuan besar datang dari angkasa luar lalu dengan sangat dahsyat menumbuk permukaan planet Bumi yang mengakibatkan kemusnahan-kemusnahan massal periodik, terjadi karena gerakan sistem Matahari kita saat sistem ini mengorbit pada inti galaksi Bima Sakti dan melewati sebuah disk materi gelap (dark matter) yang terdapat dalam galaksi ini. Disk materi gelap ini menimbulkan tarikan gravitasional yang dapat mengganggu orbit-orbit komet-komet saat sistem Matahari kita melewatinya, dengan akibat secara berkala planet Bumi dihujani hantaman-hantaman besar komet-komet./12/    


Penutup

Akhirnya, saya ingin ingatkan dengan tegas, adalah suatu kedunguan yang keterlaluan jika anda berpendapat bahwa berbagai jenis dinosaurus pernah hidup bersama manusia atau bahwa manusia pernah bermain-main bersama dinosaurus, seperti dikhayalkan dengan sangat bodoh oleh kalangan literalis kreasionis.

Satu hal musti anda pegang: berpalinglah ke ilmu pengetahuan jika anda ingin mengetahui fakta-fakta, apalagi fakta-fakta di masa lalu. Tentu dalam kitab-kitab suci apapun terdapat fakta-fakta, tetapi kitab-kitab suci apapun bukanlah buku sejarah dan juga bukan ensiklopedia sains. Ada jauh lebih banyak mitos dan metafora di dalam setiap kitab suci dibandingkan fakta-fakta. 

Tetapi tentu saja kitab-kitab suci juga memiliki manfaat besar, tapi hanya sejauh menyangkut berbagai kepentingan agama anda. Jika anda mau tahu kebenaran ilmiah, anda harus datang hanya ke ilmu pengetahuan, tidak bisa ke hal-hal lain.


Catatan-catatan

/1/ Tentang Nyasasaurus parringtoni, lihat Jeanna Bryner, “Earliest Dinosaur? Nyasasaurus Parringtoni Roamed Pangea 240 Million Years Ago, Fossils Suggest”, Huffington Post Science 05 December 2012, pada http://www.huffingtonpost.com/2012/12/05/earths-earliest-dinosaur-nyasasaurus-parringtoni_n_2243479.html.

/2/ Lihat reportase Jon Tennant, “75 Million-Year-Old Blood Cells Discovered in Dinosaur Bones”, Discovery Magazine, 9 June 2015, pada http://blogs.discovermagazine.com/d-brief/2015/06/09/blood-cells-dinosaur-bones/#.VYA0llK5I8L.

/3/ Lihat reportase Stuart Wolpert, “Life on Earth likely started at least 4.1 billion years ago― much earlier than scientists had thought”, UCLA Newsroom, 19 October 2015, pada http://newsroom.ucla.edu/releases/life-on-earth-likely-started-at-least-4-1-billion-years-ago-much-earlier-than-scientists-had-thought. Sumber primer (abstrak) lihat Elizabeth A. Bell, Patrick Boehnke, T. Mark Harrison, Wendy L. Mao, “Potentially biogenic carbon preserved an a 4.1 billion-year-old zircon”, PNAS vol. 112, no. 47, pp. 14518-14521; contributed by T. Mark Harrison, 4 September 2015, pada http://www.pnas.org/content/112/47/14518.abstract. Naskah format Pdf tersedia di http://www.pnas.org/content/112/47/14518.full.pdf.

/4/ Tentang Gallup poll tahun 2014 ini, lihat laporan Frank Newport, “In USA, 42% Believe Creationist View of Human Origins”, tersedia online di http://www.gallup.com/poll/170822/believe-creationist-view-human-origins.aspx.

/5/ Lihat reportase Peter Moore, “Over 40% of Americans believe humans and dinosaurs shared the planet”, YouGov, 18 June 2015, pada https://today.yougov.com/news/2015/06/18/jurassic-world/. Ada lima tema yang telah diteliti YouGov: pertama, Jurrasic Movies; kedua, Likely to See Jurrasic World; ketiga, Clone Dinosaurs; keempat, Visit Theme Park; kelima, Dinosaurs and Humans. Tabulasi lengkap hasil-hasil survei YouGov ini tersedia di  
https://d25d2506sfb94s.cloudfront.net/cumulus_uploads/document/ukwe10eses/tabs_OPI_jurassic_world_20150617.pdf.

/6/ Lihat Charles Choi, “The Brontosaurus Is Back”, Scientific American, 7 April 2015, pada http://www.scientificamerican.com/article/the-brontosaurus-is-back1/.

/7/ Peter Schulte, Laia Alegret, et al., “The Chicxulub Asteroid Impact and Mass Extinction at the Cretaceous-Paleogene Boundary”, Science 327 (5970) (5 March 2010), hlm. 1214-1218, pada http://www.sciencemag.org/content/327/5970/1214. Lihat juga Science Daily staff, “Asteroid Killed Off the Dinosaurs, Says International Scientific Panel”, Science Daily, 4 March 2010, pada http://www.sciencedaily.com/releases/2010/03/100304142242.htm.

/8/ Bahwa berbagai jenis dinosaurus telah berkuasa di muka Bumi selama ratusan juta tahun dalam kurun yang dinamakan kurun Pertengahan Triassik, sebelum musnah pada 65,5 juta tahun lalu, dibuktikan baru-baru ini oleh fosil dinosaurus yang diberi nama Nyasasaurus parringtoni, yang dipastikan hidup 243 juta tahun lalu. Fosil ini ditemukan pertama kali oleh Rex Parrington, seorang geolog Universitas Cambridge, di kawasan yang sekarang bernama Danau Nyasa di Tanzania. Menurut para pakar, secara anatomis Nyasasaurus lebih dekat ke burung alih-alih ke buaya, sementara burung adalah keturunan langsung dinosaurus kecil pemakan daging. Tentang penemuan fosil ini, lihat reportase dan analisis Jennifer Viegas, “Oldest dinosaur found”, Discovery News, 4 Desember 2012, pada http://news.discovery.com/animals/oldest-dinosaur-found-121204.html.

/9/ J. E. Fassett, L. M. Heaman, A. Simonetti, “Direct U-Pb dating of Cretaceous and Paleocene dinosaur bones, San Juan Basin, New Mexico”, Geology 39 (2) 26 January 2011, hlm. 159. Lihat juga Brian Murphy, “Test shows dinosaurs survived mass extinction by 700,000 years”, University of Alberta, 28 January 2011, pada http://www.news.ualberta.ca/newsarticles/2011/01/testshowsdinosaurssurvivedmassextinctionby700000years.

/10/ Lihat laporan Tia Ghose, “Volcanoes, not meteorite, killed dinosaurs, scientist argues”, Live Science, 07 Desember 2012, terpasang online pada http://www.livescience.com/25324-volcanoes-killed-dinosaurs.html.

/11/ Paul R. Renne, Alan L. Deino, et al., “Time Scales of Critical Events Around the Cretaceous-Paleogene Boundary”, Science Magazine, 8 February 2013, pada http://www.sciencemag.org/content/339/6120/684.full. Lihat juga: Heiko Pälike, “Impact and Extinction”, Science Magazine, 8 February 2013, pada http://www.sciencemag.org/content/339/6120/655.full; Charles Choi, “Dinosaur Extinction and Chicxulub Asteroid Impact Most Likely Coincided, Study Says”, Huffington Post Science, 7 February 2013, pada http://www.huffingtonpost.com/2013/02/08/dinosaur-extinction-chixulub-asteroid-impact_n_2639911.html; Ker Than, “What Killed Dinosaurs: New Ideas About the Wipeout”, National Geographic Daily News, 12 February 2013, pada http://news.nationalgeographic.com/news/2013/13/130212--chicxulub-asteroid-dinosaurs-volcano-mass-extinction-environment-science/; Robert Sanders, “New evidence comet or asteroid impact. Was it a comet or asteroid impact? Volcanic eruptions? Climate change?”, UC Berkeley News Center, 7 February 2013, pada http://newscenter.berkeley.edu/2013/02/07/new-evidence-comet-or-asteroid-impact-was-last-straw-for-dinosaurs/.

/12/ Lee Billings, “Fact or Fiction?: Dark Matter Killed the Dinosaurs”, Scientific American, 25 March 2015, pada http://www.scientificamerican.com/article/fact-or-fiction-dark-matter-killed-the-dinosaurs/.