Saturday, September 20, 2014

Kita semua anak-anak langit!



Pandanglah ke atas, ke langit pagi yang biru menawan. Atau ke langit malam yang hitam, dihiasi bintang-bintang yang terang gemerlap menyapa. Kagumilah. Jangan hanya terpesona, tapi juga pahami pengetahuan yang menakjubkan berikut ini.

Asal-usul kita paling awal adalah langit. Atom-atom tubuh kita berasal dari zat-zat kimia yang disebar bintang-bintang yang meledak (supernovae) ke ruang-ruang hampa di seantero jagat raya tanpa tepi./1/ Unsur-unsur kimia organik pembentuk DNA, atau malah DNA-DNA antariksa sendiri, menyebar di seantero kevakuman jagat raya. Oleh forsa gravitasi planet-planet, kimia organik dan DNA-DNA antariksa lewat bebatuan meteorit menerjang masuk ke planet-planet, salah satunya planet Bumi. Sudah diukur, tubuh kita terdiri atas 53 % air (asal-usul air sendiri adalah angkasa luar) dan 38 % debu-debu bintang (oksigen, carbon, nitrogen, dan calcium). 

Kita adalah putra-putri langit. Hebat, bukan?

Saat kimia organik dari langit mau membentuk DNA, ekologi yang diperlukan pertama-tama adalah laut. Tanpa air tidak akan ada kehidupan, sejauh kita ketahui dari ilmu pengetahuan hingga saat ini. Sangat mungkin, di planet-planet lain di luar tata surya kita dalam berbagai galaksi, syarat-syarat terbentuknya kehidupan tidak sama dengan syarat-syarat yang diperlukan di planet Bumi. Sudah teramati, kimia inorganik (dalam bentuk materi plasma) di angkasa luar mampu membentuk DNA-DNA antariksa./2/

Monday, September 15, 2014

Diam, sunyi dan kosong



"Bunuhlah dirimu, lalu besarkan bayi-bayi, sembuhkan orang sakit, dan hidupkan orang mati."

Ini kata-kata Lao Tzu, yang diterima menjadi ucapan-ucapan Zen: “Semakin anda berdiam diri, semakin anda mampu mendengar”, dan “Kami membentuk sebuah periuk dari tanah liat, tetapi kekosongan yang ada di dalamnya yang memuat apa yang kami inginkan.”

Diam dan kosong, dua hal yang bermakna dan berguna. Mengapa banyak orang tak suka diam dan tak suka kosong, lebih-lebih kalau berkaitan dengan agama? Bukankah Tuhan itu bagian esensial dari hal-hal yang tak terkatakan? Bukankah sorga itu bagian mendasar dari dunia-dunia transenden yang melampaui dunia manapun yang sekarang kita kenal? Mengapa kita terbiasa rewel dan suka sesumbar tentang hal-hal besar ini?

Bukankah kesunyian, kebisuan dan kekosongan mendekatkan kita kepada hal-hal yang tak terkatakan? Bukankah jika kita bertemu dengan hal-hal yang tak terkatakan, kita akan mengambil sikap diam, sunyi dan kosong? Dalam diam, bukankah kita bertemu dengan kata yang tenang? Dalam sunyi, bukankah kita berjumpa keramaian yang teduh? Dalam kosong, bukankah kita bersua dengan isi yang senyap?

Dalam kita diam, sunyi, hening dan kosong, kita menemukan kata-kata, keramaian, dan isi, semuanya dari perspektif yang berbeda, perspektif yang baru, yang lebih menyegarkan, menakjubkan, mengherankan, menggugah, dan yang tidak terduga sebelumnya. Dalam diam, sunyi dan kosong, kita mendengar dan bertemu suara-suara sunyi dan sepi yang menggelegar, membahana, yang riak-riaknya bergelombang sampai ke tepi-tepi alam semesta. Dewa-dewi pun menari gembira. Ruang-ruang kosmik yang kosong pun bergetar, menghasilkan energi dahsyat yang terus menjalar abadi, gelombang demi gelombang, mencari rumah-rumah hati yang mau didiami, yang kosong, senyap, dan hening.

Kata Lao Tzu juga, “Kepada pikiran yang diam dan hening, seluruh jagat raya menundukkan diri.” Sufi yang termasyhur, Jalaluddin Rumi, dengan sangat bagus berkata, “Mengapa anda sangat takut terhadap keheningan? Keheningan adalah akar dari segala sesuatu. Jika anda masuk ke dalam pusaran keheningan, seratus suara akan menggelegarkan pesan-pesan yang sudah lama anda rindukan.”

Mari, mari, mari, kita berlatih diam, sunyi, hening, bisu, dan kosong. Mari, mari, mari, kita terjunkan diri ke dalam pusaran-pusarannya yang dahsyat.

Content needs emptiness
Crowd requires aloneness
Speech needs quietness
Friendship requires loneliness
Movement needs stillness
Voice requires silence
The silence of all silence

Adakah diam dari segala diam? Sunyi dari segala sunyi? Kosong dari segala kosong?


Manusia rata-rata dapat diibaratkan sebagai air terjun yang gemuruh, ruuuuuuuuuuuuhhh, selalu ingin berkata keras sebanyak-banyaknya, menggemuruh, rrrruuuuuhhhhh, memuntahkan jutaan kata setiap hari tanpa bisa direm, jutaan kata yang bisa sembarangan tanpa isi, kosong melompong bak tahu poooooonnnng.

Mengambil sikap diam, sunyi dan kosong sangat sulit. Untuk mencapainya, kita perlu berlatih sangat keras dan tekun, juga dalam kondisi diam, sunyi dan kosong. Kesulitannya jadi berlipatganda. Sekaligus, rasa takjub dan rasa herannya juga meningkat.

Sebaliknya, hanya segelintir manusia yang bisa menjadi gunung tinggi, tiiiiiingggiiiiiiiiiiiii, menjulang mencapai awan-awan tempat para dewa, berdiri tegak, kokoh, kuat, diam, hening, bisu dan sunyi abadi, meskipun magma bergolak dan bermusik rock di dalam perutnya. Penuh misteri, tak terkatakan dan tak terucapkan. Kosong nan agung. Agung yang melambung, dalam kesendirian dan kesunyian. Menggetarkan kalbu dan akal. Menggoncangkan Bumi dan langit. Memanggil halilintar dan menjadikannya diam dan teduh. Kata Lao Tzu, "Keheningan adalah suatu sumber kekuatan besar."

Untuk bisa diam, sunyi dan kosong, pandanglah gunung-gunung tinggi dunia ini. Temani Mahameru. Pergilah ke Nepal. Jelajahi dan tundukan Himalaya. Dekap Mount Everest siang dan malam. Cumbui dia. Daki gunung Mauna Kea di Hawaii. Di Venezuela, gunung Pico Bolivar tengah rindu menunggu anda. Mount Rainier di Seattle lama sudah berahi kepada anda. Mount Savage di perbatasan Pakistan dan China menunggu anda jinakkan lewat ciuman dan pelukan anda. Ras Dashen di Ethiopia sudah lama kepanasan, menunggu anda dalam gelora untuk bercumburayu.

Minta Everest dan Mahameru dan Bolivar mendaki anda. Peluklah mereka semua. Kuat dan erat. Enerjik. Berahi. Lantunkan madah-madah erotik yang hening. Berdansalah bersama mereka. Berpelukkanlah. Bersetubuhlah. Lahirkan anak-anak besar, generasi masa depan, anak-anak gunung akbar, kawasan para dewata.

Masuk ke dalam diam dan sunyi relatif lebih mudah ketimbang masuk ke dalam tahap kosong. Untuk kosong, para dewa dan dewi harus sunyi dan diam lebih dulu. Tanpa sunyi dan diam, kosong tidak ada.

Tahap kosong sangat sulit dicapai, yakni saat kita sudah menemukan diri kita menyatu dengan segala yang ada, tidak ada lagi ego dan individualitas, kita adalah jagat raya sendiri, kita adalah langit, kita adalah dunia, kita adalah orang-orang lain, kita adalah hewan-hewan dan tetumbuhan, kita adalah rerumputan, padi dan gandum, kita adalah belalang, semut, jangkrik, kunang-kunang dan kupu-kupu, kita adalah ruang dan waktu, keberadaan dan ketiadaan, kita adalah sungai dan lelautan, bebatuan dan ikan-ikan, lumba-lumba dan putri duyung, kita adalah masa kini, masa depan dan masa lampau,

Tidak ada lagi aku, Ioanes, Ulil, Selvy, Susy Tam, Gastro Redacid, Cindar, Ginger, Swift Taylor, Rihana, Celine Dion, Saidiman, Sahal, Sarasdewi, Ahok, Vero, Lince, Suzanna, Nathan, Jeanne, Jessy, Elizabeth, Denny, Elza, Dalai Lama, Nelson Mandela, Teresa, Areta, Owena, Munir, Rendra, Gandhi, Chatime, Doraemon, Trump, Donald, Diana, Novri, Minion, Casper, dan alien-alien. Yang ada adalah Entitas Universal. Kita menjadi tidak ada, kosong. Kosong.

Ketika tahap kosong ini dicapai, kita menjadi penuh, kita menjadi isi. Kosong tapi isi, isi tapi kosong. Mencari dan ikhlas menjadi kosong, hasilnya isi. Itulah paradoksnya, dan tentu saja paradoks yang menakjubkan, mengherankan, dan membuat kita terperosok ke dalam sunyi, hening dan diam.

Sayang seribu kali sayang, hanya sedikit orang yang telah mencapai tahap kosong ini. Kebanyakan orang berjuang keras, dengan segala cara, untuk menjadi isi yang penuh sepenuh-penuhnya, menguasai segalanya, tamak habis-habisan, menyimpan deposito USD di seluruh gurun sunyi dan goa hampa di seluruh jagat, padahal, celakanya, mereka kosong sekosong-kosongnya, kere sekere-kerenya, lapar selapar-laparnya, gendut dut dut segendut-gendutnya, didera busung lapar. Mencari dan bernafsu menjadi isi, ujungnya kosong song song.

Ya, mereka isi dan kosong sekaligus, tapi juga isi dan kosong yang bukan isi dan bukan kosong sekaligus. Tak bermakna. Tak eksistensial. Tak autentik. Upps.... kebanyakan kata! Stop!

Saya gembira karena dalam tulisan pendek ini saya berhasil mengungkapkan makna kata “sunyata” dalam Buddhisme dengan gamblang dan menyentuh. “Sunyata” biasanya diterjemahkan sebagai “kosong”, empty. Sunyata sama sekali bukan nihilisme. Hemat saya, kondisi “sunyata” paling jelas diungkap oleh kehidupan kita sendiri: terlepas dari ego individual, lalu menyatu dengan jagat raya, alhasil diri kita lenyap, hilang, empty, kosong.

Tetapi karena ego individual kita lenyap dengan menyatu atau terlebur ke dalam jagat raya, ke dalam langit dan dunia, kekosongan kita sekaligus isi sepenuh-penuhnya diri kita. Dus, kosong tapi isi, isi tapi kosong. Ini paradoks, tetapi memang demikianlah seharusnya kita memahami setiap ide dalam Buddhisme, selalu berada dalam bingkai “non-dualis”, advaita.

Saat kita mencapai kondisi kosong, kita akan menjadi seorang manusia yang penuh kebajikan dan cinta terhadap semua yang ada, organisme dan non-organisme, terhadap Bumi dan dunia yang penuh dipadati bertrilyun-trilyun kunang-kunang, gemerlap.

Saat kita mencapai sunyi, hening dan diam, kita menjadi bagian dari keramaian, hiruk-pikuk dan suara-suara dunia, yang diam-diam berada di antara manusia, meskipun kita datang dari jagat-jagat raya lain, ribuan tahun cahaya jauhnya, dan dari masa-masa yang akan datang, jauh di depan. Kita bak para malaikat, para Boddhisattva, dewa-dewi yang menjadi manusia, diam di antara insan-insan, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Tentu saya mengakui akan bisa ada interpretasi lain dari kata “sunyata” dalam Buddhisme, karena kata ini memang sulit dipahami dan sering salah dipahami. Guru Buddhisme Lewis Richmond telah menjelaskan dengan cukup bagus makna kata “sunyata”, terpasang di http://www.huffingtonpost.com/lewis-richmond/emptiness-most-misunderstood-word-in-buddhism_b_2769189.html.

SELAMAT HARI NYEPI
17 MARET 2018 
Tahun Caka 1940

Salamku,

ioanes rakhmat



Tuesday, September 9, 2014

Sang Musafir



My mystical poem

SANG MUSAFIR

Dalam malam kelam yang terus tenggelam
Dalam kesendirian yang dalam dan kelam
Aku merasa dengan kau aku berdua 
Meskipun aku tetap sendiri jua

Engkau dekat tapi juga jauh
Engkau jauh tapi juga dekat
Rindu dan tak rindu bertarung dalam jiwaku luruh
Kapankah aku betul-betul akan rehat?

Sebetulnya aku sudah tak tahan ingin pergi mendekatimu
Tapi engkau yang dekat selalu menjauh ketika kudatangi
Tak pernah terpuaskan rasa rinduku padamu
Akibatnya kumerasa sunyi sendiri dan rindu sendiri

Aku selalu rindu untuk jumpa engkau dan memeluk engkau
Kapan engkau mau bertandang abadi dalam rumah jiwaku?
Tanpa akhir aku terus menunggumu
Sekalipun sampai berjuta-juta windu berlalu

Engkaulah Sang Musafir
Bertandang pernah engkau ke rumah jiwaku cuma hanya sebentar
Lalu engkau meneruskan ziarahmu yang tak pernah berakhir
Membuat batin dan akalku di belakang jejakmu senyap tersihir 

Aku telah sediakan sebuah kendi tanah liat di depan rumahku
Supaya engkau mereguknya saat kau haus dalam perjalananmu
Seraya kuberharap kau mau lagi mampir
Lalu kau memberkatiku supaya aku serba mahir menyihir

Tapi kau hanya menatap tajam sepasang mataku dalam-dalam
Kutangkap pesan-pesanmu yang abadi bagi jiwaku
Sungguh kuingin mendekap engkau
Tapi kau mengelak lalu melangkah terus dengan diam

Aku sungguh tak tahan
Lalu aku mengikutimu dari belakang dengan diam-diam
Sekali-kali kau menoleh ke belakang ke arahku perlahan tertahan
Tapi kau berjalan terus sampai tiba kelam temaram

Saat malam gelap tiba bagi jiwaku
Aku lelah dan mengambil rehat
Tapi engkau yang abadi teguh meneruskan ziarahmu 
Membuat jiwaku sungguh merana, haus dan penat

Kau Sang Musafir abadi sejati
Aku hanyalah kekasihmu yang mengabdi sejati hati
Tak dapat aku menggenggammu sampai aku mati
Bagiku kau serba teka-teki abadi

Dalam kesendirian di malam yang kelam
Aku menatap sunyi menembus dinding
Tapi aku tahu aku berdua denganmu bermalam-malam
Bayang-bayangmu yang hitam terang menutup diriku berkeliling

Aku rindu terhadap rindu
Sampai kapankah aku terpuaskan?
Tidak pernah! Itu abadi! Itu takdirku! 
Kuterima dengan ikhlas dan rela nian!

Sang Malam sunyi sendirian 
Kelam tak berteman
Walau bintang-bintang terang bertaburan
Memantik Nur dalam kalbu tak tertahan

Kau Sang Musafir 
Aku hanya sang penanya yang tak mahir 

by ioanes rakhmat

Jakarta, 9 September 2014

Friday, September 5, 2014

Dinosaurus raksasa Dreadnoughtus Schrani. Kali pertama ditemukan, sejauh ini.





Foto rekonstruksi Dinosaurus Dreadnoughtus Schrani, bertubuh lebih berat dari jet Boeing 737-900!


Dalam Journal of Scientific Reports 4, no. artikel 6196 doi:10.1038/srep06196, hlm. 1-9, terbit 4 September 2014, dilaporkan telah ditemukan di Argentina fosil dua pertiga bagian tubuh dinosaurus raksasa yang termasuk keluarga Titanosaurus, yang diberi nama Dreadnoughtus Schrani. Nama ini diambil dari nama kapal-kapal perang baja yang sangat besar dan memukau yang dibuat awal abad keduapuluh sebagai bagian dari armada tempur laut Amerika Serikat. Kata ini sendiri berarti “tidak ada yang ditakuti” (dread nought).

Panjang dari ujung kepala sampai ke ujung ekor Dreadnoughtus 26 meter, dengan berat tubuh 60 ton, dan ketinggiannya mencapai ketinggian rumah tiga tingkat. Setelah dianalisis, ukuran panjang dan tinggi dan berat tubuh yang luar biasa ini dipastikan belum mencapai batas maksimal pertumbuhannya ketika dino raksasa ini mati pada usia masih muda. Bebatuan Patagonian yang menyimpan fosil dino ini menunjukkan bahwa dino ini mati karena bencana banjir yang besar. Postur gigantis dino ini tentu saja menakutkan sekaligus menakjubkan ─ karena itulah nama Dreadnoughtus dipilih untuknya oleh Kenneth Lacovara (dari Universitas Drexel, Philadelphia, AS) yang memimpin tim yang mengkaji fosil dino ini yang sudah terkubur selama 77 juta tahun.



Dino pemakan tetumbuhan yang gigantis dan berleher panjang ini adalah binatang pertama terbesar yang berhasil ditemukan dari dalam bebatuan di permukaan Bumi. Meskipun tengkorak dino ini tidak berhasil ditemukan, gabungan seluruh fosil yang berhasil digali nyaris membentuk kerangka lengkap tubuh dino superbesar ini.

Temuan dino baru Dreadnoughtus yang menakjubkan ini yang belum pernah terjadi sebelumnya membuka sebuah jendela baru untuk para ilmuwan merekonstruksi anatomi, biomekanika dan evolusi keluarga Titanosaurus, sekaligus juga akan memunculkan debat panjang mengenai dino mana yang merupakan dino terbesar yang sejauh ini telah berhasil direkonstruksi.

Selain itu, para ilmuwan juga akan mengajukan teori-teori apakah ukuran tubuh yang besar menunjukkan spesies dino yang berbeda dibandingkan spesies-spesies dino yang lainnya; atau sebetulnya menunjukkan usia yang jauh lebih tua dibandingkan usia dino-dino lainnya yang berukuran lebih kecil. Mungkin sekali, yang ditemukan hanyalah perbedaan-perbedaan seri pertumbuhan tubuh, dan bukan perbedaan-perbedaan spesies atau taksonomi. Dilihat dari fisiologi, mungkin sekali ukuran tubuh dino-dino dalam keluarga Titanosaurus, khususnya dino Dreadnoughtus, sudah mendekati ambang batasnya, meskipun kita tidak pernah bisa tahu di mana letak ambang batas ini.

Temuan dino Dreadnoughtus juga memungkinkan para pakar mengkaji bagaimana dino-dino keluarga Titanosaurus muncul dan bagaimana struktur tubuhnya terbangun, dan di mana batas-batas kekuatan tulang untuk bisa menyangga berat tubuh yang luar biasa besar ini. Ke depan, para ilmuwan yang mengkaji fosil-fosil Dreadnoughtus akan membangun model-model sistem pernafasan, tekanan darah, dan jumlah makanan yang diperlukan mereka untuk bisa hidup dengan baik. Jika keseluruhan proporsi dan bentuk binatang-binatang ini telah diketahui dengan lebih banyak, para ilmuwan akan dapat menyingkap rahasia-rahasia biologi Titanosaurus.  
Ini catatan-catatan saya: Betapa mengherankan, dari makromolekul yang dinamakan DNA bisa muncul dan tumbuh binatang sebesar Dreadnoughtus. 

Juga mengherankan, hanya dengan memakan tetumbuhan, dino raksasa ini bisa tumbuh begitu dahsyat dari sebutir telur yang menetas sampai menjadi seekor binatang yang sangat menyeramkan besarnya. 

Juga mengherankan, betapa kuat tentunya tulang-tulang keempat kaki dino ini sehingga bisa menopang tubuh seberat 60 ton total. Yang juga sangat kuat tentu tulang-tulang yang bersambungan beruas-ruas di sepanjang lehernya sehingga sang dino ini bisa mengangkat kepalanya dengan gagah saat mencari dan memakan dedaunan muda di puncak-puncak pepohonan. Kalau tidak kuat, gaya gravitasi Bumi pasti akan mematahkan tulang-tulang dan persendian di seluruh leher sang dino. Jadi, saya betul-betul tidak habis pikir kalau hewan sangat besar ini bisa hidup di muka Bumi! Itulah keajaiban alam. 


Monday, August 18, 2014

Menjawab para ateis, Apakah sosok Unicorn sama dengan sosok Tuhan?



Unicorn, Tuhan?

Teman-teman ateis kerap memakai metafora-metafora Spiderman, Batman, Sinterklas, Doraemon, dan khususnya Unicorn, untuk memperolok kepercayaan kalangan teis kepada sosok yang dinamakan Tuhan, yang kata mereka tidak ada bedanya dengan sosok Unicorn dan Batman. 

Kata mereka dengan sangat yakin, percaya kepada Tuhan supernatural sama saja dengan percaya pada Unicorn dan Doraemon. Jadi, kata mereka, kalau orang ateis diminta untuk membuktikan ketidakberadaan Tuhan, itu sama dengan meminta mereka untuk membuktikan ketidakberadaan Unicorn atau Doraemon atau Spiderman. 

Uraian di bawah ini menunjukkan, cara berpikir para ateis ini salah dan menyesatkan, menunjukkan kedangkalan mereka berpikir.

Kita mulai dengan sebuah pertanyaan, Apa itu metafora? Sebagaimana sudah sering saya jelaskan dalam berbagai kesempatan, metafora adalah suatu medium linguistik dan nonlinguistik yang manusia bangun untuk mengungkapkan dalam bahasa insani sehari-hari hal-hal yang tidak dapat diekspresikan (inexpressible) atau hal-hal yang tidak dapat dipahami (inexplicable) supaya orang kebanyakan dapat memahaminya dengan gamblang dan menjalaninya dengan kreatif. 

Dalam dunia agama, dengan wahana metafora, nilai-nilai ilahi yang lebih tinggi dan tidak biasa, yang sukar diungkap dan ditangkap lewat bahasa sehari-hari, jadi dapat ditangkap, dimengerti, dibayangkan dan bermakna dan kena. Sebagai bentukan dari dua kata Yunani meta (artinya; melintasi, melampaui; Inggris: beyond) dan ferein (artinya: pindah atau menyeberang), metafora menjadi wahana yang memindahkan atau menyeberangkan kita, masuk ke kawasan nilai-nilai yang lebih tinggi, lebih agung, meninggalkan kawasan nilai-nilai kodrati keseharian yang sudah biasa.

Karena agama-agama mengklaim mengungkapkan hal-hal yang tak dapat diungkap atau yang tak dapat dipahami dalam bahasa kodrati keseharian, yang berada di kawasan adinilai atau kawasan adikodrati, maka agama-agama memakai banyak metafora untuk menyampaikan pesan-pesan dari “dunia atas” (ini sebuah metafora) kepada manusia yang hidup di “dunia bawah” (ini juga sebuah metafora). 

Pesan-pesan keagamaan berada dalam wilayah nilai-nilai (values), mencakup nilai-nilai moral, eksistensial, kognitif, afektif, estetis dan artistik, bukan berada dalam wilayah fakta-fakta atau teori-teori ilmiah. 

Karena terobsesi pada bukti, evidence, untuk segala hal, maka hanya orang ateis yang berpikiran kacau akan meminta metafora-metafora keagamaan yang menyampaikan nilai-nilai dibuktikan ada secara empiris, dengan misalnya memakai teleskop atau mikroskop atau kamera atau lewat perhitungan matematis. Sebagai media yang menyampaikan nilai-nilai, setiap metafora teologis hanya bisa dinikmati, dirasakan, dihayati; tidak perlu diperdebatkan, tidak bisa dibuktikan ada secara empiris, ya karena berada dalam kawasan nilai-nilai yang diterima dan dipercaya saja.


Pandanglah gambar kristologis di atas. Yesus Lakshmi bertangan empat, berhati suci dan bermahkota duri, dan lingkaran halo tanda kesucian melingkari kepalanya. Ini adalah sebuah metafora kristologis yang hebat, kreatif dan menakjubkan, menggabung sudut pandang Kristen dan sudut pandang Hindu. 

Hanya orang ateis yang meminta metafora kristologis ini dibuktikan secara empiris ada dalam dunia real. Saya tidak bisa, tetapi saya bisa menikmati metafora ini. 

Jika anda bukan ateis, sikap dan pandangan anda akan lain. Mari kita nikmati dan rasakan metafora ini. Yesus selalu mampu mengulurkan tangannya untuk menolong. Anda yang percaya kepada Yesus, haruslah selalu bisa tabah dan tenang saat anda sedang mengalami banyak persoalan berat. 

Ada metafora yang bisa dipahami dan diterima secara literalistik (harfiah), ada juga yang tidak bisa. Kebanyakan metafora tidak bisa dipahami dengan harfiah, tapi harus dipahami secara figuratif. Maksudnya: dipahami sebagai ekspresi yang dapat ditangkap dan dibayangkan dalam dunia kodrati dari hal-hal yang pada hakikatnya tak dapat ditangkap dan dibayangkan, yang berada dalam dunia adinilai.

Ada metafora yang bagus dan bermanfaat untuk kehidupan dan peradaban; ada juga metafora yang tidak bagus dan tidak bermanfaat untuk kehidupan dan peradaban. Ada metafora yang berdampak positif pada pikiran, batin dan kelakuan manusia; ada yang berdampak negatif pada pikiran, batin dan kelakuan manusia. Jadi, tidak semua metafora harus kita terima. Kita harus pandai-pandai menyeleksi metafora. 

Karena kanak-kanak dari semua bangsa di dunia umumnya suka dengan berbagai metafora, dan hidup dalam dunia metafora, mereka harus dengan arif didampingi dan dibimbing supaya mereka juga bisa menyeleksi metafora dan mengambil hanya nilai-nilai metaforis yang bermanfaat buat kehidupan mereka kini dan di masa depan. 

Konon ada seorang anak yang karena yakin bisa menjadi Superman betulan, dengan memakai kostum sosok khayalan ini, dia terjun dari lantai dua belas sebuah apartemen untuk terbang sampai ke bawah. 

Ya, itu kisah konyol yang jika terjadi, semua orang akan menyesalkan baik kejadiannya maupun orangtua si anak. 

Tetapi, parahnya, kalangan ateis ini dengan enak saja menyatakan bahwa kepercayaan pada Tuhan supernatural juga membuat orang kehilangan akal sehat seperti si anak tersebut. Betulkah agama-agama begitu merusak akal sehat manusia, atau malah ateisme yang demikian? Mari kita lanjut.

Tapi ada sebuah kisah nyata lainnya. Belum lama ini, lewat penelitian, ditemukan bahwa anak-anak yang dikenakan kostum Batman sewaktu sedang mengerjakan tugas-tugas yang relatif sulit dan membutuhkan konsentrasi, ternyata jauh lebih mampu berkonsentrasi dan lebih cepat dan cerdas dalam mengerjakan semua tugas yang diberikan. Tak demikian halnya dengan anak-anak sebaya yang memakai pakaian biasa. 

Mengenakan kostum sosok fiktif Batman atau Superman dll ternyata berhasil membangun semangat juang anak-anak. Katakankah, kostum-kostum ini menimbulkan kepercayaan diri yang besar dan semacam perasaan heroik.

Kembali ke metafora. Ada metafora yang dengan pasti kita ketahui sebagai fiksi, dan ada yang faktual, dan ada yang merupakan percampuran fiksi dan fakta, gabungan mitos dan sejarah. 

Metafora Unicorn atau metafora Sinterklas atau metafora Spiderman atau metafora Doraemon, misalnya, sudah pasti fiksi semuanya. Kepastian ini sama sekali tidak perlu diperdebatkan. Kita umumnya tahu siapa pencipta sosok-sosok fiktif ini, bagaimana bentuk tubuh dan rupa wajah masing-masing dalam gambar, siapa yang menggambar pertama kali sosok-sosok khayalan ini, kapan dan di mana sosok-sosok ini pertama kali diciptakan manusia, sudah berapa banyak sosok-sosok ini diangkat ke layar lebar. 

Dengan pasti kita juga ketahui bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang menyembah sosok-sosok fiktif ini sebagai Tuhan Allah, bahwa tidak ada seorang pun dalam dunia ini yang mempercayai Unicorn atau Doraemon ada betulan sebagai makhluk-makhluk hidup. 

Hanya orang yang sudah tidak punya akal sehat atau yang kemampuannya memilah mana fakta dan mana fiksi sudah tidak ada lagi, akan selalu memperdebatkan keberadaan atau ketidakberadaan sosok-sosok khayalan ini. 

Hanya orang yang sudah tidak waras, akan meminta anda memberi bukti empiris bahwa Sinterklas atau Unicorn atau Spiderman atau Doraemon tidak ada dalam dunia real. Lebih rusak lagi, kalau mereka menyatakan bahwa memperdebatkan apakah Unicorn atau Sinterklas atau Spiderman atau Doraemon itu fiksi atau fakta, adalah kegiatan ilmiah.




Kata kawan ateis, ini Tuhan Doraemon lengkap dengan baling-baling bambunya


Tetapi metafora teologis Allah, atau metafora teologis tentang dunia supernatural, tidak bisa kita yakini dengan mutlak sebagai fiksi. Apa alasan saya menyatakan demikian? Alasannya adalah sains hingga kini belum dapat prove atau disprove keberadaan Allah atau keberadaan dunia supernatural. 

Dalam hal ini, posisi agnostik adalah posisi yang paling mungkin, sementara ini. Perkembangan-perkembangan belakangan dalam fisika Quantum memperlihatkan (lewat studi Max Planck dan David Bohm, misalnya) bahwa dalam dunia mekanika Quantum partikel-partikel subatomik memiliki baik materi (aspek materi partikel) maupun semacam “proto-kesadaran” atau “free will” (aspek gelombang dari partikel). 

Dalam dunia subatomik ini, materi dan non-materi muncul serentak, seperti halnya organ fisik otak dan pikiran nonmateri yang dihasilkan otak.

Dengan begitu, terbuka sebuah kemungkinan di masa depan bahwa sains akan menemukan bukti-bukti lebih banyak yang menunjukkan bahwa dimensi materi dan dimensi non-materi dari realitas, atau dunia imanen dan dunia transenden, bertumpang tindih atau berpotongan. Wilayah interseksi materi dan non-materi ini bisa jadi adalah wilayah yang hingga saat ini menjadi wilayah agama-agama./1/

Jadi, posisi teis atau posisi ateis sama sekali tidak bisa dimutlakkan sebagai posisi yang paling benar. Keduanya bergerak masih dalam wilayah kepercayaan, wilayah agama. Yang satu kepercayaan/agama yang percaya pada Tuhan yang supernatural (kepercayaan teisme); dan yang satu lagi kepercayaan/agama yang tidak percaya pada Tuhan yang supernatural (kepercayaan ateisme). 

Keduanya hingga saat ini masih belum dapat di-prove atau di-disprove. Alhasil, agnostisisme niscaya adalah pilihan yang paling cerdas: hingga saat ini kita tidak bisa mengetahui dengan mutlak apakah Allah atau dunia supernatural itu ada atau tidak ada. 

Agnostisisme tidak mengagung-agungkan baik teisme maupun ateisme, salah satunya bisa benar tapi juga bisa salah. Yang mana yang benar dan yang mana yang salah, hingga kini kita belum tahu dengan sepenuhnya. Kita semua masih dalam perjalanan yang belum atau tak akan pernah selesai. Nikmati perjalanan wisata ini. Jangan tertidur. Juga jangan berkelahi selama perjalanan. Agnostisisme menanti masa depan yang akan dikuak oleh sains yang sudah sangat advanced, sangat maju. 

Posisi agnostik adalah posisi yang dilandaskan pada sains, bukan pada kepercayaan. Agnostisisme bisa berlangsung hanya sepuluh tahun ke muka, tapi bisa juga sepuluh abad atau malah sepuluh milyar tahun ke muka. 

Jangan khawatir. Jagat raya dan kehidupan masih akan ada bermilyar-milyar tahun dari sekarang. Generasi-generasi para ilmuwan yang tidak terhitung banyaknya di depan suatu saat akan bisa membuka gerbang-gerbang sorga untuk melongok ke dalamnya dan menemukan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang baru. Be patient. Be open. Don’t be dogmatic. 

Problem besarnya adalah sementara teisme dengan jujur mengakui diri sebagai agama; ateisme diklaim para penganutnya sebagai posisi ilmiah. 

Kalau anda masih memiliki kejujuran dan kerendahan hati, anda yang ateis mustinya celik sehingga bisa melihat bahwa ateisme juga masuk ke wilayah kepercayaan atau wilayah agama tanpa Tuhan supernatural. Mereka, kaum ateis, hanya percaya, tapi tidak bisa membuktikan, bahwa Tuhan itu tidak ada. 

Teisme dan ateisme, keduanya, sama-sama kepercayaan. Yang satu mati-matian membela kepercayaan Tuhan itu ada; yang satunya lagu mati-matian mempertahankan kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak ada. Keduanya mati-matian. Kenapa tak berjuang hidup-hidupan?

Kalau Tuhan dalam teisme dipandang sebagai nilai tertinggi (the highest value), maka mustinya dalam ateisme ada pengganti nilai tertinggi ini. Para ateis sendiri yang harus menjawab, apa nilai tertinggi dalam kepercayaan ateisme mereka. 

Saya duga, nilai tertinggi dalam ateisme ya ideologi ateisme sendiri. Orang ateis, dus, percaya pada kepercayaan ateisme mereka. They believe in their belief system named atheism. Posisi ini tentu saja narsis. 

Kaum teis, dalam hal itu, hemat saya lebih maju dan tidak narsis: orang teis percaya pada Tuhan supernatural, bukan pada belief system mereka sendiri. Tuhan supernatural ini melampaui teisme sendiri; teisme adalah wahana metaforis yang menunjuk ke entitas yang lebih tinggi, yakni Tuhan supernatural. Sayang sejuta kali sayang, di tangan kalangan konservatif teis, teisme disamakan dan disetarakan dengan Tuhan adikodrati sendiri. Telunjuk yang menunjuk ke sang rembulan purnama indah benderang, dipandang dan dilihat dan diyakini sebagai sang rembulan itu sendiri. 




Kata teman ateis, ini Tuhan Spiderman! 


Nah, selanjutnya, silakan teman-teman ateis menjawab beberapa pertanyaan saya ini. 

Karena anda menyetarakan metafora-metafora Unicorn, Doraemon, Spiderman, Superman, Batman, Sinterklas, dan sejenisnya, dengan metafora Tuhan, apakah bagi anda metafora Tuhan sama fiktifnya dengan metafora-metafora yang sudah jelas fiktif itu? Silakan jawab dengan memakai bukti-bukti. 

Hanya orang ateis yang melihat Doraemon atau Batman atau Unicorn sama dengan Tuhan; jika demikian, kewajiban mereka sangat jelas, yakni mereka harus membuktikan secara empiris bahwa Tuhan itu sama dengan Doraemon atau dengan Unicorn, Hulk, Tom dan Jerry, Spiderman, atau dengan Horus, Ahura Mazda, atau Zeus; dan bahwa Doraemon atau Unicorn, Hulk, Tom dan Jerry, Superman, Zeus, Ahura Mazda, atau Horus, sama dengan Tuhan. Silakan buktikan. Saya tunggu. 

Jika mereka sudah bisa membuktikan ini lebih dulu, barulah mereka dapat bertanya kepada saya, apakah meminta orang ateis untuk membuktikan ketidakberadaan Tuhan sama dengan meminta mereka untuk membuktikan ketidakberadaan Doraemon atau Hulk atau Zeus atau Horus atau Unicorn atau Batman atau Sinterklas.  

Mari kita bangun tiga silogisme. 

Yang pertama ini:
Premis 1: Tuhan sama dengan Unicorn
Premis 2: Unicorn tidak ada
Kesimpulan: Tuhan juga tidak ada

Premis 1 belum dibuktikan secara empiris faktual/benar; dus tidak valid. Premis 2 tidak diragukan lagi benar (karena kita tahu segala seluk-beluk tentang asal-usul gambar Unicorn dan mitos-mitos tentangnya; semuanya historis). Karena premis 1 tidak valid, kesimpulan dus juga tidak valid. 


Silogisme yang kedua:
Premis 1: Unicorn tidak ada
Premis 2: Tuhan sama dengan Unicorn
Kesimpulan: Membuktikan Tuhan tidak ada sama dengan membuktikan Unicorn tidak ada.
 

Premis 1 jelas faktual (kita tahu siapa pembuat gambar Unicorn dan segala seluk-beluk historis mitos-mitosnya), jadi valid. Premis 2 tidak valid, sebab masih harus dibuktikan secara empiris bahwa Tuhan sama dengan Unicorn. Alhasil, kesimpulannya juga tidak valid; dan hanya valid jika premis 2 sudah dibuktikan benar secara empiris. 

Silogisme yang ketiga:
Premis 1: Unicorn tidak ada
Premis 2: Tuhan tidak ada
Kesimpulan: Tuhan sama dengan Unicorn.

Premis 1, tidak perlu diulang lagi, sudah jelas valid, karena Unicorn memang tidak ada secara empiris. Premis 2 tidak valid, sebab masih harus dibuktikan bahwa Tuhan tidak ada secara empiris, tidak bisa hanya dipercayai tidak ada (secara empiris atau secara adikodrati). Alhasil, kesimpulan juga tidak valid. Begitu juga, seandainya kedua premis itu benar (Unicorn dan Tuhan tidak ada), maka tidak otomatis dua hal yang tidak ada ini sama. Kita sama sekali tidak bisa tahu, dua entitas yang tidak ada ini sama. Dus, kembali, kesimpulan yang ditarik salah.


Mari kita lanjutkan. Jika bagi anda metafora Tuhan, sama seperti semua metafora lain itu, fiktif, maka jelas sekali jawaban anda ini dogmatik, tidak ilmiah, tidak terbuka pada kemungkinan bahwa metafora Tuhan dapat menunjuk ke dunia transenden yang hingga sekarang belum bisa di-prove atau di-disprove oleh sains. Tuhan hanya sebuah nama untuk merepresentasikan dunia transenden ini; anda bisa memakai nama-nama lain pilihan anda.

Karena anda, dengan nada mengolok-olok, menyamakan metafora Tuhan dengan metafora-metafora yang sudah jelas fiktif itu, maka bagi anda tentunya Unicorn, Doraemon, Spiderman, Superman, Batman, Sinterklas, adalah tuhan-tuhan juga.

Jika demikian, kenapa anda tidak sekalian saja membangun agama Unicornisme, Doraemonisme, Spidermanisme, Batmanisme, Supermanisme, dan Sinterklasisme? Bukankah lebih bagus “isme-isme” ini ketimbang ateisme, karena ada gambar-gambarnya yang sangat bagus dan menyenangkan mata?


Notes

/1/ Lebih jauh tentang posisi agnostik, lihat tulisan saya Apakah Tuhan itu ada? Sebuah jawaban ilmiah kepada para ateis, The Freethinker Blog, 12 Agustus 2014, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/08/apakah-tuhan-itu-ada.html.