Tuesday, August 12, 2014

Apakah Tuhan itu ada?
Sebuah jawaban ilmiah kepada para ateis

by Ioanes Rakhmat  
Update mutakhir 5 Maret 2016



“Fanatisme orang yang tidak beragama bagiku nyaris sama menjijikkan dengan fanatisme orang yang beragama.” (Albert Einstein)

“Bagimu, aku seorang ateis. Bagi Allah, aku adalah lawannya yang paling setia.” (Woody Allen)

“Aku seorang ateis. Aku seorang ateis yang sedang marah. Aku bangga menjadi seorang ateis yang sedang marah.” (Greta Christina)




Wajah Allah menurut pelukis Michelangelo Buonarroti (1475-1564), dilukis pada langit-langit Kapel Sistine, Kota Vatikan (“Penciptaan sang Mentari dan sang Rembulan”), 1508-1512. Tentu saja, wajah Allah yang antropomorfis personal patriarkis ini hanya ada dalam khayalan Michelangelo. 

Orang yang mengaku ateis dengan sangat yakin meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada. Ateisme berarti ideologi atau paham yang menyatakan Allah itu tidak ada: “A-Theos” (Yunani), artinya “tidak ada Allah”. A-theos plus “isme” menjadi ateisme, yang dalam bahasa Yunani menjadi “atheismos”. Jika teisme adalah sebuah kepercayaan ideologis bahwa Allah itu ada, maka ateisme, sebagai lawannya, adalah sebuah kepercayaan ideologis bahwa Allah itu tidak ada. Inilah definisi paling mendasar dari paham ateisme. Tidak usah dibuat rumit dan menjelimet. Tidak usah juga disangkal.

Ya, saya tahu orang ateis tidak ingin ateisme mereka disebut sebagai ideologi. Mereka tampaknya tidak tahu bahwa dilihat dari perspektif studi-studi sosial, setiap gagasan atau ide besar digolongkan sebagai ideologi (harfiah berarti “pengetahuan atau logika tentang ide-ide”), termasuk ide-ide keagamaan, dan juga ide-ide nonkeagamaan (ateisme atau sekularisme misalnya). Dalam Oxford Concise Dictionary of Politics, edisi ketiga 2009, ideologi dijelaskan sebagai
“sejumlah ide yang komprehensif dan konsisten satu sama lain, yang dengannya suatu kelompok sosial memaknai dunia ini. Suatu ideologi perlu memberikan penjelasan-penjelasan tentang bagaimana segala sesuatu ada sebagaimana adanya, petunjuk-petunjuk ke arah mana kelompok sosial ini sedang bergerak (untuk menjadi suatu panduan bertindak), kriteria untuk membedakan kebenaran dari kesalahan, argumen-argumen yang valid dari argumen-argumen yang tidak valid, dan kepercayaan-kepercayaan utama dan terpenting entah terhadap Allah, Hidayah, atau terhadap Sejarah, yang dapat dijadikan rujukan terakhir oleh para penganutnya jika mereka ditantang.”/1/
Teman-teman yang ateis saya persilakan untuk memeriksa sendiri, apakah definisi tentang ideologi yang saya telah kutip ini berlaku atau tidak berlaku pada ateisme. Kalau anda cerdas dan tidak melarikan diri dari kenyataan, dan tidak hidup “in denial”, anda pasti akan sepakat sekarang bahwa ateisme juga sebuah ideologi.

Pada sisi lain, jika ateisme itu bukan sebuah ideologi seperti anda dengan keras kepala selalu pertahankan, ya alternatifnya adalah ateisme itu sebuah iman, faith, sebuah kepercayaan, belief. Ini sama persis dengan, misalnya, kekristenan. Orang Kristen tidak ingin teisme mereka dipandang sebagai sebuah ideologi; mereka ingin teisme mereka dipandang sebagai sebuah iman, sebuah kepercayaan, yang kata mereka jauh melampaui ideologi insani apapun, karena berasal dari wahyu Allah di sorga yang hanya bisa diterima dan diaminkan oleh iman atau oleh kepercayaan.

Dus, apakah ateisme juga sebuah wahyu ilahi? Ini sebuah pertanyaan yang abnormal, bukan? Tetapi, bisa jadi benar bahwa ateisme juga sebuah wahyu dari sorga. Celakanya, ide semacam ini tentang ateisme juga sebuah ideologi. Atau, bisa jadi, dengan makin tidak bernalar, para ateis ingin ateisme mereka dipandang sebagai sebuah sains! Is atheism a science? If so, what kind of science is atheism? An absurdity! A crazy mind! 

Mereka, teman-teman ateis saya, belakangan ini suka bertanya kepada saya, apakah Allah itu ada. Mereka berharap saya berada di kubu mereka sebagai kaum ateis. Tapi sayangnya, saya menemukan diri saya (pikiran dan batin saya) tidak bisa ateis. Saya tidak ingin memenjarakan diri saya ke dalam satu ideologi atau paham keyakinan keagamaan atau non-keagamaan apapun. Saya ingin tetap menjadi seekor burung merpati putih yang terbang bebas di angkasa, tanpa kurungan. Once a freethinker, forever a freethinker./2/ Telah saya lihat dan alami di banyak kesempatan dan tempat, ateisme kini, sebaliknya, sedang menjadi sebuah penjara baru, yang di dalamnya kemarahan dan kebencian pada agama-agama diumbar mati-matian tanpa kontrol.



Wahai kau burung di luar sangkar....!

Saya sungguh senang karena tidak menjadi seekor burung yang terkurung dalam sangkar sempit, sebagaimana kondisinya digambarkan dengan sangat pedih dalam madah “Burung dalam Sangkar”, ciptaan May Sumarna yang dilantunkan oleh Emilia Contessa yang dijuluki sebagai “sang Singa Panggung Asia” oleh majalah Asia Week (1975)./3/ Siapapun yang dimaksudkan dengan “burung dalam sangkar” dalam lagu ini, lirik lengkap lagu dukkha ini sangat memedihkan jiwa dan mengusik akal, berikut ini. 

Wahai kau burung dalam sangkar
sungguh nasibmu malang benar
tak seorangpun ambil tahu
duka dan lara dihatimu   

Reff:  
Wahai kau burung dalam sangkar
dapatkah kau menahan siksa
dari kekejaman dunia
yang tak tahu menimbang rasa  

Batinmu nangis hati patah
riwayat tertulis penuh dengan
tetesan air mata  

Sungguh ini satu ujian
tetapi hendaklah kau bersabar
jujurlah kepada Tuhan 

Meskipun saya memilih untuk tetap menjadi seorang bebas, saya tetap membutuhkan spiritualitas, karena sampai saat ini sistem-sistem neurologis dalam otak kita masih memerlukan input spiritual dan mengeluarkan output spiritual./4/ Kebutuhan spiritual ini menjadi bagian dari evolusi biologis otak kita. Bisa saja, sekian ribu tahun yang akan datang, evolusi alamiah akan membuang sama sekali spiritualitas dari sistem-sistem neural otak manusia.

Atau, dengan kecanggihan teknik rekayasa genetik kita nanti, kita bisa mendesain sendiri ke mana evolusi kita akan berjalan (“self-designed evolution”), dengan mengubah atau menyempurnakan DNA kita sendiri lewat teknik “DNA-editing”. Bisa juga, lewat teknologi bedah saraf yang canggih sistem neurologis dalam otak kita yang bertanggungjawab bagi spiritualitas akan suatu saat dapat dibuang sama sekali tanpa efek samping apapun, alhasil kita jadi tidak membutuhkan spiritualitas sama sekali. Atau, sebagaimana sudah dihipotesiskan oleh sejumlah saintis, dan sudah diujicoba di lab dengan tikus-tikus, memori-memori bisa dihapus (teknik “memory erasure”), tentu termasuk memori-memori keagamaan, hanya dengan meminum sebuah pil yang berisi enzym tertentu setelah sebelumnya memori-memori yang mau dihapus diingat kuat-kuat atau diucapkan keras-keras berulangkali./5/ Jika era ini tiba, ateisme akan jadi ideologi terbesar dunia, mungkin saja. Tapi sekarang dalam abad ke-21 ini kebutuhan spiritualitas masih menjadi bagian dari sistem-sistem neural otak kita.

Saya tetap ingin punya spiritualitas dan memberi spiritualitas. Ini yang alamiah. Apa yang dikatakan oleh Rinzai Gigen ini membuat saya bersukacita, “Ketika lapar, aku menyantap makananku. Ketika ngantuk, kupejamkan mataku. Orang dungu menertawakanku. Orang bijak memahamiku.” Tetapi sebagaimana kehendak pikiran, atau kehendak otak, atau berbagai kehendak perasaan kita, bisa kita lawan, begitu juga kebutuhan spiritual yang diminta otak kita untuk kita penuhi dapat dengan sadar kita lawan atau kita tidak penuhi, lalu kita mencari sesuatu yang lain untuk menjadi penggantinya. Seseorang dapat tidak beragama atau menjadi ateis jika struktur anterior cingulate dan lobus frontalis (keduanya pusat agama ramah) dan sistim limbik (pusat agama amarah) dalam otaknya tetap dibiarkan tidak aktif ketika kepadanya diajukan soal-soal spiritual.

Kalau ditanyakan ke saya, apakah Tuhan itu ada, does god exist, berikut ini jawaban saya. Oleh agama-agama teistik, Tuhan itu dipercaya ada dalam dunia supernatural, atau dunia transenden, dunia yang melampaui dunia kita, bukan dalam dunia empiris natural. Kepercayaan ini, atau sebut saja ide ini, dikenal sebagai teisme atau supernaturalisme. Ada banyak ide besar dalam dunia ini, misalnya kapitalisme, komunisme, Marxisme, liberalisme, eksistensialisme, naturalisme, sekularisme, rasionalisme, empirisisme, evidensialisme, pragmatisme, modernisme, dan tentu saja dinamisme, animisme, teisme, panteisme, non-teisme, ateisme, agnostisisme, dan lain-lain.

Mari sekarang kita fokus pada teisme atau supernaturalisme, berhadap-hadapan dengan ateisme atau naturalisme. Kita bertanya, apakah supernaturalisme itu benar, dalam arti apakah dunia supernatural itu ada, dus Allah sebagai bagian dari dunia supernatural juga ada? Karena melawan teisme, maka ateisme juga harus memberi bukti bahwa perlawanannya benar, tidak bisa main ajukan klaim tandingan saja tanpa dasar. Jadi, pertanyaan yang sama juga kita harus ajukan ke ateisme sebagai lawan teisme: Apakah ateisme itu benar, dalam arti apakah tidak ada Allah dalam dunia supernatural? Jika ateisme mempertahankan bahwa Allah itu tidak ada, apakah dengan begitu dunia supernatural juga tidak ada?  


“The burden of proof” 

Nah, kalau kita mau memastikan dengan kuat apakah sesuatu itu fakta atau bukan fakta, apakah sesuatu itu ada atau tidak ada, sains adalah metode yang paling tepat untuk mengujinya. Jika kita mau berargumen secara saintifik dan memang seharusnya demikian, maka bukan hanya teisme (sebagai tesis), tapi juga ateisme (sebagai anti-tesis), harus membuktikan keyakinan masing-masing. The burden of proof atau beban pembuktian dipikul baik oleh teisme maupun oleh ateisme yang menolak teisme. Jika teisme tidak bisa memberi bukti empiris keberadaan Tuhan, maka teisme menjadi sebuah kepercayaan, sebuah agama. Begitu juga halnya dengan ateisme: jika ateisme tidak bisa memberi bukti empiris ketidakberadaan Tuhan, bukti untuk menolak teisme, maka ateisme juga sebuah kepercayaan, sebuah agama, persisnya sebuah agama yang menolak Tuhan transenden, agama tanpa Tuhan.

Meminta baik kalangan teis maupun kalangan ateis untuk memberi bukti-bukti bagi semua klaim mereka, adalah suatu prosedur normal yang wajib dijalankan dalam dunia ilmu pengetahuan, apalagi selama ini orang ateis sangat ingin dihargai sebagai orang yang berpikir ilmiah. Kedua pihak harus membuktikan klaim masing-masing tidak cukup hanya lewat pernyataan-pernyataan filosofis atau lewat pernyataan-pernyataan logis, tetapi juga harus secara saintifik, yakni dengan mengajukan bukti-bukti empiris. Kita tahu, orang ateis selalu mengulang-ulang mantra mereka bahwa beban pembuktian dipikul hanya oleh orang beragama, sedangkan orang ateis tidak memiliki tanggungjawab untuk membuktikan keyakinan mereka bahwa Tuhan itu tidak ada. Ya, ini hanyalah sebuah mantra ateistik, bukan sebuah pernyataan ilmiah.

Di saat inilah relevan jika saya sebut apa yang dinamakan “the argument from ignorance” (Latin: argumentum ad ignorantiam). Ini sebuah “fallacy”, sebuah argumen yang salah, cacat atau tidak valid. Intinya, argumen ini menyatakan bahwa selama sesuatu itu belum dibuktikan salah, maka sesuatu itu benar. Juga kebalikannya: selama sesuatu itu belum dibuktikan benar, maka sesuatu itu salah. Lebih mudah ditangkap, jika fallacy ini diungkap demikian: selama A belum terbukti benar, maka non-A itu benar. Kebalikannya: selama Non-A belum terbukti benar, maka A itu benar. Nah, jika diterapkan pada Allah, argumen yang salah ini jadi berbunyi demikian: Jika Allah belum terbukti ada, maka Allah tidak ada. Kebalikannya: Jika tidak-ada-Allah belum terbukti benar, maka Allah ada. Dua proposisi ini salah. Inilah yang dinamakan “Argumentum ad ignorantiam”.

Nah, baik ateis maupun teis sama-sama memakai argumen yang salah ini. Kalangan ateis menyatakan bahwa selama eksistensi Allah belum terbukti, maka Allah tidak ada. Kalangan teis, sebaliknya, juga dalam argumen yang sama yang salah, menegaskan bahwa selama non-eksistensi Allah belum terbukti, maka Allah ada. Jelas, baik ateis maupun teis keduanya sama-sama salah dalam mengajukan klaim-klaim masing-masing yang bertolakbelakang. Keduanya memakai “the argument from ignorance” untuk dua klaim yang bertentangan, yang false, yang salah. Jelas, ini adalah dua buah klaim, yang salah, yang satu sama lain bertolakbelakang. Ateis mengklaim Allah tidak ada, karena keberadaan Allah tidak terbukti. Teis mengklaim, Allah ada karena ketidakberadaan Allah belum dibuktikan oleh para ateis. Keduanya klaim tentang keyakinan masing-masing, keyakinan yang salah, tidak valid. Salah, atau tidak valid, karena kedua klaim ini belum terbukti benar lewat pembuktian empiris.

Supaya klaim-klaim ateistik dan teistik itu tidak salah, jalan satu-satunya adalah memakai pendekatan keilmuwan yang dinamakan epistemologi evidensialis: setiap klaim apapun, hanya valid sebagai pengetahuan yang benar, kalau didukung bukti-bukti empiris. Jadi, adalah kewajiban keilmuwan para ateis untuk memberi bukti-bukti bagi ketidakberadaan Allah. Juga, adalah kewajiban keilmuwan para teis untuk memberi bukti-bukti bagi keberadaan Allah. Selama kedua pihak yang bertentangan ini belum memberikan bukti-bukti empiris bagi klaim masing-masing, maka posisi masing-masing bukan posisi ilmiah, tetapi baru sebatas klaim-klaim kepercayaan saja. Baru berada di tahap “belief”, belum masuk ke tahap saintifik.

Istilah lainnya yang lebih keren, keduanya baru mengajukan hipotesis saja, bukan hipotesis yang sudah terbukti (entah terfalsifikasi, atau terverifikasi): God hypothesis melawan No-God hypothesis. Kata Yunani “theismos” (Indonesia: theisme) memiliki lawannya dalam kata Yunani “atheismos” (Indonesia: atheisme). Keduanya adalah “isme”, ideologi. Beban pembuktian (“the burden of proof”), perlu ditekankan sekali lagi, dipikul kedua belah pihak sama berat. Orang ateis suka sekali mengulang-ulang mantra sihir mereka bahwa beban pembuktian hanya dipikul para teis. Ya, begitulah, itu cuma sebuah mantra sihir, bukan sebuah pernyataan ilmiah―jadi, ya singkirkan saja. Buat apa main ilmu sihir di era sains modern. 


Dimensi-dimensi transenden 

Kita tahu, sains hanya bisa menganalisis dan menjelaskan fenomena yang ada dalam dunia empiris natural. Sains tidak bisa masuk ke dalam dunia supernatural. Jika dunia supernatural ada, sains tidak bisa masuk ke dalam dunia ini untuk memastikan apakah Allah ada atau apakah Allah tidak ada. Berkaitan dengan keyakinan dalam ateisme bahwa Allah, dus dunia supernatural, tidak ada, sains juga tidak bisa memastikan apakah dunia supernatural tidak ada.  

Kita semua juga tahu bahwa pikiran kita kadangkala gagal mengenali suatu realitas karena persepsi kita yang salah dan terbatas, atau karena kita kurang memiliki pengetahuan. Maka bisa terjadi bahwa kita dengan keliru mempersepsi sesuatu yang sebetulnya ada sebagai sesuatu yang tidak ada, dan sebaliknya. Ini berarti bahwa dunia supernatural yang secara empiris kita persepsi sebagai sesuatu yang tidak ada mungkin dapat ada dan kita akan dapat mengonfirmasi keberadaannya jika pikiran kita memiliki jauh lebih banyak kekuatan dan kapasitas untuk mempersepsi apapun dengan lebih luas dan lebih dalam dan berbagai sains kita telah berkembang dan mencapai kemajuan jauh melampaui keadaannya sekarang.  

Perkembangan dan kemajuan belakangan ini dalam fisika quantum membawa kita ke pengetahuan ilmiah yang sebelumnya kita tidak punya. Berkat sumbangan, antara lain, Max Planck, David Bohm, Niels Bohr, Erwin Schroedinger, Werner Heisenberg, dll, kini kita tahu bahwa partikel-partikel dalam dunia quantum memiliki baik “proto-kesadaran” atau “kehendak bebas” (sebagai aspek gelombang dari partikel) maupun materi (sebagai aspek materi dari partikel). Aspek gelombang dari partikel-partikel ini meluas sampai mencakup semua bentuk kehidupan. Memakai kata-kata Albert Einstein, “Schroedinger telah menemukan formula matematis untuk fakta bahwa semua kehidupan bergerak dalam gelombang-gelombang.”/6/ Fakta-fakta sains ini haruslah membuat kita makin menyadari bahwa, sebagaimana benda material otak (“body”) dan benda nonmaterial pikiran (“mind”) tidak terpisah, maka materi dan nonmateri bercampur dalam dunia subatomik, dan meluas ke dunia tanpa batas. Jadi, ada dimensi nonmateri dalam semua bentuk kehidupan, dimulai dari partikel-partikel subatomik, yang tidak perlu diasalkan pada dunia supernatural atau dunia gaib sebagaimana dipandang agama-agama selama ini. Ini pandangan lama; tidak baru sama sekali.

Setelah sekian waktu merenungi pengetahuan ini, saya akhirnya melihat ada kemungkinan suatu saat di masa depan sains akan juga menemukan bahwa apa yang selama ini dipandang sebagai dunia supernatural atau dunia transenden sebetulnya adalah dimensi nonmateri yang sangat luas dalam jagat raya sendiri.

Selanjutnya, saya dengan penuh pertimbangan tidak memakai frasa “dunia supernatural” lagi, tetapi menggantinya dengan dimensi-dimensi transenden. Kata “dimensi” adalah kata dalam dunia sains, bukan kata dalam dunia agama. Dalam kamus Inggris yang ada di rak buku saya, Oxford Advanced Learner’s Dictionary, edisi keenam, tahun 2000, sesuatu yang “transcendent” dijelaskan sebagai sesuatu yang “going beyond the usual limits; extremely great”, yakni sesuatu “yang melampaui batas-batas yang biasa”; sesuatu yang “luar biasa besar”.

Jagat raya kita akan masih ada milyaran tahun dari sekarang. Sains kita akan terus maju tanpa batas. Generasi-generasi para saintis yang tidak terhitung banyaknya mungkin sekali di masa depan akan dapat membuka “gerbang-gerbang dunia-dunia transenden” yang sekarang ini tampak masih tertutup, lalu melongok ke dalamnya dan menemukan pengetahuan-pengetahuan ilmiah baru yang sangat menakjubkan. Jangan anda terpaku mati pada ide bahwa jagat raya ini hanya terdiri atas empat dimensi, yakni tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu; atau ditulis ringkas: dimensi ruangwaktu (spacetime dimension).

Menurut teori dawai (string theory atau superstring theory), dalam jagat raya ini ada sepuluh atau sebelas atau bahkan dua puluh enam dimensi, atau bahkan empatpuluh satu dimensi, suatu kawasan multidimensonal yang disebut sebagai hyperspace. Kawasan hyperspace ini berada dalam jagat raya kita sendiri; dan juga mengisi ruang-ruang kevakuman kosmik yang terdapat di antara jagat-jagat raya paralel, yang sebetulnya tidak sungguh-sungguh paralel sebab ada interpenetrasi antara jagat raya yang satu dan jagat raya yang lain, yang bukti-buktinya sudah ditemukan beberapa waktu lalu./7/ Menurut teori dawai juga, jagat raya ada bukan hanya satu (jagat raya kita), tetapi mencapai jumlah fantastis 10 pangkat 500 (= 10500 ) jagat raya. Ketimbang bingung dengan bilangan yang besarnya fantastis ini, lebih simpel jika anda memandang jagat-jagat raya lain ada dalam jumlah tanpa batas, infinite. Konsep universe sudah ketinggalan; kini diganti dengan konsep multiverse.



Sebuah ilustrasi imajinatif yang mau menggambarkan gelembung-gelembung jagat raya yang terus bermunculan, hingga mencapai jumlah tanpa batas, infinite. Di dalam masing-masing jagat raya ini, hukum-hukum fisika dan konstanta-konstanta fisika yang berlaku tidak sama....


Infinitas atau “the undefined” 

Dalam aritmetika atau dalam matematika, kita memperhitungkan “ketidakterbatasan” atau “infinitas” sebagai sebuah variabel. Saya meminta anda, para ateis, untuk menyebutkan sebuah bilangan terbesar terakhir dalam jagat raya. Bisakah anda? Tentu saja anda tidak akan bisa. Kita juga sudah tahu, satu dibagi nol menghasilkan infinitas atau ketidakberhinggaan. Anda juga boleh menyatakan bahwa satu dibagi nol hasilnya adalah “the undefined”, sesuatu yang tidak terdefinisikan, tidak bisa diberi batas-batas, tidak bisa dikurung dalam kategori apapun, atau, dengan kata lain: tidak terbatas. Beberapa agama Timur bahkan juga menggambarkan Realitas Paling Asasi, yang juga disebut Tuhan, sebagai “the undefined”, sebagai suatu hakikat yang “bukan ini dan juga bukan itu”, tidak terdefinisikan. Permintaan saya cuma satu: tunjukkan lewat operasi matematis bahwa satu dibagi nol hasilnya “the undefined”.

Jelas, saya masih perlu mendemonstrasikan secara aritmetis ke anda, para ateis, bahwa satu dibagi nol menghasilkan infinitas. Saya tahu, anda sebagai ateis sangat mustahil menerima adanya infinitas, ketidakberhinggaan, meskipun saya sudah beberkan bahwa infinitas itu ada, bahkan menjadi sebuah faktor dalam aritmetika. Sekali lagi, saya minta anda menyebutkan sebuah angka terbesar dalam jagat raya. Bisakah anda? Nah, sekarang saya perlihatkan kepada anda aritmetika bahwa satu dibagi nol menghasilkan infinitas. Perlu otak matematis untuk memahaminya.

1:0,1 = 10
1:0,001 = 1000
1:0,0001 = 10000
1:0,0000001 = 10000000

Maka, jawablah saya:
1:0,000000000000000000000001 =?

1:0,000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001 =?

1:0,00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001 =?

1:0,0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000......... ad infinitum ......1 =? Hasilnya adalah infinitas. Tidak ada keraguan tentang ini.

Karena 0 jauh lebih kecil dari 0,00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000.... ad infinitum....1, maka 1:0 = infinitas mutlak.

Ada banyak orang yang memberi respons begini: Ah, itu hanya matematika, hitung-hitungan doang! Lalu mereka kekeh berpendapat bahwa infinitas itu tidak ada. Nah, pada kesempatan ini saya perlu dengan ringkas saja menjelaskan apa itu matematika. Pada hakikatnya matematika adalah suatu studi atas pola-pola (patterns), hubungan-hubungan (relationships) dan abstraksi-abstraksi (abstractions) yang ditarik dari berbagai fenomena objektif dalam jagat raya. Cara terbaik mempraktekkan matematika adalah dengan mengobservasi dunia ini untuk menemukan pola-pola yang muncul dalam segala keadaan yang beranekaragam, melihat hubungan-hubungan yang ada, lalu menyusun abstraksi-abstraksinya. Pola-pola yang sudah ditemukan digunakan untuk menemukan pola-pola yang baru yang terlalu rumit untuk ditemukan secara langsung. Sebagaimana dikatakan seorang matematikawan, “Pada dasarnya, matematika bukanlah untuk membuat hal-hal yang sederhana menjadi rumit, tapi sebaliknya untuk membuat hal-hal yang rumit menjadi sederhana.” (S. Gudder)

Kembali ke infinitas. Pakar matematika dari Universitas Warwick, Inggris, Prof. Ian Stewart, menyatakan bahwa “ketika sesuatu itu tidak berhingga, maka akan selalu ada ruang lebih di sekitarnya untuk menaruh barang-barang di dalamnya.” Dalam matematika, karena infinitas itu ada, maka setiap anda menghitung, hitungan anda ini tidak akan pernah berakhir. Saat anda menyebut sebuah bilangan, misalnya, 501, maka ada bilangan selanjutnya, yakni 502, dan seterusnya tanpa batas. Saat anda menyebut satu trilyun, maka muncul bilangan selanjutnya yang lebih besar, satu trilyun satu, dan seterusnya tak berhingga. Jika anda dengan aneh menyatakan bilangan terbesar dan terakhir dalam jagat raya adalah X, maka akan selalu ada bilangan yang lebih besar dan lebih besar terus, yakni X+1+2+3+4.... ad infinitum....! Jadi, tidak ada bilangan yang terbesar dan final dalam jagat raya ini./8/ Mungkin anda para ateis akan masih ngotot dan keras kepala mengatakan bahwa di ujung terjauh deretan angka, ada angka terbesar yang tidak bisa ditambah lagi dengan angka lain! Oh ya? Ok, jika ada, maka bilangan terbesar anda ini akan saya tambah lagi dengan bilangan terkecil sebelum nol, yaitu 0,000000......... ad infinitum.....1!  

Pikirkanlah seimajinatif mungkin, apakah dalam gerak pengembangannya yang makin cepat (karena bekerjanya forsa anti-gravitasi dari apa yang dinamakan energi gelap, yang memenuhi seluruh kevakuman kosmik), jagat raya kita, yang dibayangkan secara metaforis sebagai sebuah balon raksasa yang terus mengembung, akan akhirnya tiba di titik terjenuh atau titik terjauh dari pengembangannya? Jika dihipotesiskan ya betul bahwa jagat raya kita akan akhirnya berhenti pada titik jenuh atau titik terjauh pengembangannya, bisakah anda membayangkan di mana lokasi titik jenuh atau titik terjauh itu, atau di mana letak tepi-tepi balon jagat raya kita yang sekarang masih terus mengembang? Saya tidak bisa membayangkannya.

Seandainya pun saya bisa, saya masih terheran-heran lagi dan akhirnya terdiam bisu berhubung saya masih harus membayangkan lagi ada ruang-ruang apa lagi di luar tepi-tepi jagat raya kita. Kita akhirnya sesungguhnya berhadapan juga dengan infinitas, ketidakberhinggaan. Ketidakberhinggaan ini menyelubungi kehidupan kita setiap detik. Ketahuilah bahwa dalam kosmologi modern, skenario jagat raya yang “flat” mengharuskan jagat raya terus mengembang tanpa akhir; karena itu, ruang dan waktu, dalam skenario ini, tidak berhingga, infinite. Data satelit WMAP menunjukkan bahwa jika parameter Omega (parameter densitas rata-rata materi dalam jagat raya) ditambah parameter Lambda (parameter energi yang terkait dengan ruang vakum jagat raya atau dengan energi gelap), hasilnya angka 1; ini berarti jagat raya “flat”. Fakta ini juga konsisten dengan teori inflasionari jagat raya.

Poin pentingnya ini: Apakah kita dapat yakin mutlak bahwa dari dua puluh enam dimensi itu atau dari empatpuluhan lebih dimensi yang membentuk hyperspace atau dari antara jagat-jagat raya lain yang jumlahnya tidak terbatas itu, tidak ada yang kena-mengena dengan dunia-dunia transenden dalam cara-cara tertentu yang kini belum sanggup kita pahami? Apa hakikat dari dimensi keempatpuluhsatu itu? Sains masa kini sama sekali tidak bisa menjawabnya. Selain itu, kita juga sekarang ini belum sanggup memahami secara saintifik apa artinya infinitas atau ketidakberhinggaan! Atau, anda yang ateis sudah paham apa arti infinitas? Walaupun kita belum paham apa hakikat infinitas, setidaknya infinitas membuat kita dengan rendah hati mengakui bahwa pandangan-pandangan saintifik kita tentang realitas sekarang ini masih jauh dari memadai, atau bahkan tidak akan pernah memadai.

Tentang infinitas, dengan bagus diungkap oleh Albert Einstein dengan memakai metafora seekor singa dan ekornya, demikian: “Alam menunjukkan hanya ekor sang singa. Aku tidak ragu sedikitpun dalam pikiranku bahwa sang singa ada bersama ekornya ini kendatipun sang singa ini tidak dapat menyatakan dirinya sendiri serentak kepada semua mata karena dimensinya yang terlalu besar.”/9/ Jadi, dari keseluruhan infinitas sang singa, kita, manusia, baru melihat dan tahu hanya ekornya! Kita sama sekali tidak atau belum dapat melihat kepala sang singa dan otak yang ada di dalamnya dan apa saja isi kognitif otaknya ini! Berhadapan dengan pandangan-pandangan dan fakta-fakta sains ini dan kemungkinan-kemungkinan yang tersedia, pikiran yang terbuka adalah satu-satunya respons yang benar terhadap masa depan yang menggairahkan dan menakjubkan.

Memang bukti-bukti empiris objektif yang substansial tentang keberadaan dunia-dunia transenden belum kita punya hingga saat ini. Begitu juga, pengalaman-pengalaman spiritual yang dialami sangat banyak orang sejak dulu hingga kini dalam berbagai bentuk dan isi, tidak bisa kita pandang sebagai bukti-bukti empiris objektif keberadaan dunia transenden dan Tuhan, sebab semua pengalaman ini juga bisa dilihat sebagai kejadian-kejadian neurologis belaka yang berlangsung hanya dalam otak./10/ Tetapi, apa yang sudah saya kemukakan dalam banyak alinea di atas, haruslah membuat kita tidak boleh gegabah dan mutlak-mutlakan menyatakan bahwa dunia transenden sama sekali tidak ada. Indikasi-indikasi bahwa dunia transenden ada, jelas tersedia, walaupun masih sangat samar. Kita masih harus menunggu temuan-temuan sains lebih jauh di masa depan.

Bagaimana pun juga, ketika saya berhadapan dengan apa yang dinamakan infinitas, yang menyelubungi kehidupan kita semua dan jagat-jagat raya, saya mengalami suatu perasaan bahwa saya sedang berhadapan dengan misteri-misteri besar yang melampaui semua imajinasi paling liar sekalipun yang bisa kita bayangkan. Memakai ungkapan Rudolf Otto dalam bukunya The Idea of the Holy, saya mengalami suatu perjumpaan intens dengan sang “mysterium tremendum et fascinans”, sang “misteri yang dahsyat, menakutkan, sekaligus menimbulkan rasa takjub dan terpesona” luar biasa./11/ 


“Sang Sunyi” 

Sang misteri ini tidak bisa saya kenakan pada satu sosok personal yang orang beragama namakan Tuhan (atau sejumlah nama lain). Sang misteri ini sangat terlalu besar untuk dapat ditangkap oleh manusia, oleh ilmu pengetahuan, dan juga oleh agama apapun. Sang misteri ini adalah infinitas itu sendiri. Saya mencoba memakai ungkapan puitis Sang Sunyi atau The Quiet atau The Silent untuk misteri mahabesar infinitas. Misteri infinitas ini membuat kita hanya bisa terdiam, tidak bisa bicara, bisu, sunyi, di hadapannya. Sang Sunyi Mahasunyi! Keadaan kognitif di saat berhadapan dengan infinitas yang tak terpahami ini saya namakan spiritualitas saintifik. Saya merayakan spiritualitas ini dengan happy, bergairah, gentar, takjub, dan dengan terus-menerus mempertahankan posisi yang selalu membuka diri terhadap berbagai kemungkinan baru di masa depan, everlastingly open-minded. 

Sejumlah teman bertanya kepada saya, apakah yang saya maksudkan dengan Sang Sunyi. Mereka meminta uraian lebih detail. OK. Berikut ini sebuah puisi sebagai jawaban saya. Ya, bisa dijawab hanya lewat sebuah puisi. 

Sang Sunyi
Melampaui bahasa insani
Tak dapat diungkap itu ini
Cuma bisa dimasuki
Diselami direnangi

Bak seekor ikan kecil lari-lari
Kiri kanan, kanan kiri 
Belok sana belok sini  
Laju ke depan berlari
Tak bisa sang ikan ini memahami
Tak pernah juga dia habis menyelami
Samudera luas tanpa tepi
Yang menyelubungi
Tanpa sisi tanpa pantai
Di dalamnya dia berenang kian kemari

Kedalamannya tanpa dasar
Luasnya tanpa pinggir
Geraknya abadi berpusar berputar
Keras kuat menggelegar
Lalu makin samar
Gaungnya terhantar
Abadi terlontar

Menutupi muka planet Bumi
Lautan besar tak terperi 
Bergelombang jauh lari
jauh jauh jauh lestari
Meninggalkan semua bahari
Masuk ke samudera abadi
Maha dalam maha misteri

Bergelombang menjauh meluas
Memenuhi kevakuman jagat raya
Lelautan jagat raya tanpa batas
Jauh jauh bergerak tak terkira
Memenuhi jagat-jagat raya maha luas

Tak terbatas tak terkata
Tak tertulis oleh tinta
Tak terjangkau semua indra
Ilmu pengetahuan tak setara
Agama hanya sehasta
Di hadapan jagat-jagat semesta
Mahabesar tak terkira
Namanya tak tertera

Sang Sunyi ya sunyi saja
Misteri baka
Tanpa nama
Tanpa suara 
Tanpa kata
Tanpa bahasa
Senyap saja
Diam saja
Hening saja
Bisu saja

Tapi ramai tak terkira
Bersama trilyunan kartika
Tak terbilang oleh angka
Semua bermandi cahaya
Cahaya megabuana raya
Energi yang tak pernah sirna

Dalam selubungnya
Mulut tak bisa dibuka
Terkatup baka!
Sunyi tak terkata!
Senyap tak terutara!
Kosong tanpa udara!
Hanya ada:
AAA….!

Alpha Alpha Alpha
Tanpa omega
Tak terhingga 
Alpha Alpha Alpha




Sunyi, hening, sepi dan kosong... AAA dia datang!

Ok, kita semua tahu, bahwa sains itu bisa terus maju karena sifatnya yang kumulatif. Hasil-hasil kajian saintifik para saintis sebelumnya menjadi landasan berpikir, berteori, berhipotesis dan bereksperimen baru, untuk menghasilkan pandangan-pandangan baru tentang realitas oleh saintis-saintis lain yang sezaman atau di zaman-zaman dan di tempat-tempat yang lain. Dalam dunia sains, dialektika tesis-antitesis-sintesis akan terus berlangsung, tak akan pernah berhenti, yang di dalamnya sangat banyak saintis dari segala zaman dan segala tempat ambil bagian dengan aktif, kreatif dan agung. Proses kumulatif progresif sains ini membuat sains tidak pernah berhenti untuk berkembang dan berubah, dan, pada sisi lain, akan makin integratif. Alhasil, kita dapat menyatakan bahwa kemampuan berpikir ilmiah manusia tidak memiliki batas, kemampuan yang infinite. Dalam dunia sains, sudah saya ingatkan, infinitas juga diperhitungkan sebagai sebuah faktor, sebuah realitas.

Tetapi, kita juga tahu sebagai insan individual, kita semua fana, terbatas, finite, baik dalam wujud jasmaniah kita (hingga ke partikel-partikel yang menyusun jasad kita) maupun dalam mental kita (yang dihasilkan dari aktivitas fisika dan kimiawi dalam organ otak kita).

Berapapun panjang usia manusia yang nanti bisa dipertahankan sains dan teknologi modern, yang akan menggabung biologi dengan mesin-mesin, dan berapa kuatpun kebugaran tubuh yang dapat sains dan teknologi hasilkan, tetap saja pada akhirnya, karena entropi (atau “the arrow of time”) dalam Hukum Kedua Thermodinamika bekerja dalam semua sistem, insan-insan individual, bahkan yang sudah menjadi insan bionik, akan suatu saat lenyap, dan data neural digital atau data neural quantum otak kita semua akhirnya juga usang, dan menjadi tua, masuk ke kondisi chaotic lalu collapse.

Karena kita semua ini finite, fana, terbatas, maka terbuka sebuah pertanyaan, Akan mampukah kita memahami sepenuhnya apa itu infinitas dan bisakah kita berada selamanya dalam infinitas sementara sekarang ini kita berada dalam finitas, keterbatasan? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, setidaknya sekarang ini. Kondisi ini membuat saya hanya bisa bersikap rendah hati di hadapan infinitas itu sendiri.

Tetapi, demi konsistensi bernalar, saya juga harus menyatakan bahwa karena kefanaan atau finitas atau impermanensi itu ada dalam jagat raya ini, maka atas nama kefanaan, kefanaan juga harus dapat diubah menjadi ketidakfanaan, infinitas, keabadian, permanensi. Matematika dan sains, sebagaimana sudah dibentangkan di atas, menerima adanya infinitas. Terkait dengan diri kita yang kini kita temukan fana, finite, saya mau memprediksi bahwa nanti di masa depan pikiran (mind) dan kesadaran (consciousness) kita juga akan dapat dibuat menjadi abadi, infinite, kendatipun tubuh biologis protoplasmik kita sudah punah (dan yang akan tertinggal untuk terus mengalami daur ulang adalah unsur Carbon raga kita). Kalau sekarang sains-tek modern baru punya teori-teori dan konsep-konsep yang masih embrionik tentang menjadikan Homo sapiens organisme yang abadi dalam jagat raya lewat teknologi, nanti di masa depan semua teori dan konsep ini akan dapat diwujudkan dengan real. Jadi, dimensi-dimensi transenden yang abadi, yang infinite, mustinya memang ada.     


Hitchens’ Razor 

Dengan memperhitungkan semua hal yang baru saja saya kemukakan, maka, hemat saya, pernyataan Christopher Hitchens (dikenal sebagai Hitchens’ Razor) bahwa “apa yang dapat dinyatakan benar dengan tanpa bukti, juga dapat diabaikan begitu saja tanpa bukti” (“what can be asserted without evidence can also be dismissed without evidence”),/12/ tidaklah benar. Kalau pernyataan ini dikenakan pada keberadaan dunia transenden, maka harus ditegaskan, sekali lagi, bahwa bukti-bukti empirisnya memang belum objektif tersedia, tetapi indikasi-indikasinya yang datang dari dunia ilmu pengetahuan sendiri sudah tersedia. Jadi, keyakinan orang teis bahwa dunia transenden, ada, tidak bisa begitu saja diabaikan dengan tanpa bukti. Orang ateis, dus, masih harus membuktikan keyakinan mereka bahwa dunia transenden tidak ada.

Dalam banyak hal lain, prinsip epistemologis Hitchens ini kelihatan juga keliru. Ada banyak hal dalam dunia ini dengan serius diterima benar kendatipun tanpa bukti, khususnya hal-hal yang menyangkut nilai-nilai dan moralitas.

Kita semua, siapapun kita, umumnya menerima begitu saja sebagai benar keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sederajat. Umumnya semua suami/istri percaya begitu saja, dan menerima sebagai fakta, bahwa pasangan mereka setia, sehingga mereka tidak perlu menyewa seorang detektif untuk mengikuti dan memantau semua kegiatan pasangan mereka 24 jam sehari selamanya.

Dalam berbagai kegiatan bisnis, kepercayaan-kepercayaan tanpa bukti kepada mitra-mitra bisnis juga kerap diperlukan jika kita mau bisnis kita dapat berjalan dengan lancar dan berkembang dan jaringan bisnis kita makin meluas ke mana-mana.

Begitu juga, telpon-telpon gelap tanpa bukti tentang adanya bom di suatu tempat akan ditanggapi dengan serius oleh para penjaga keamanan, yang dengan sigap langsung memeriksa dengan teliti setiap jengkal dan setiap sudut semua ruangan dalam bangunan.

Meskipun tanpa ada bukti sebelumnya di hari ini, kita semua percaya begitu saja bahwa besok pagi sang Mentari masih akan terbit dan masih akan terbenam pada senja hari.

Begitu juga, karena anda percaya tulus begitu saja kepada sang istri cantik anda, atau kepada sang istri muda anda yang bahenol, maka anda tidak menyewa seorang detektif untuk mengikutinya pergi ke manapun, atau tidak memaksanya untuk memakai sehelai celana dalam besi baja yang anda gembok.

Demikian juga, jika anda tidak percaya begitu saja bahwa anda akan masih hidup di sepanjang tahun 2016, anda sekarang tidak akan membuat janji-janji apapun untuk bertemu dengan orang-orang tertentu di waktu-waktu tertentu dalam tahun 2016.

Sebagai suami dan ayah, kita semua percaya begitu saja hingga kita wafat bahwa semua putra dan putri yang sudah dilahirkan istri kita, yang kini sudah besar-besar, adalah betul-betul keturunan murni kita sendiri, betul-betul darah-daging kita sendiri, tanpa perlu kita buktikan lewat tes DNA.

Jadi, Hitchens’ Razor itu kelihatan tidak realistik! Ternyata, supaya kehidupan kita berjalan dengan baik dan normal, kita tidak hanya memerlukan bukti-bukti, tetapi juga seringkali kita hanya perlu percaya saja. Hemat saya, tanpa kepercayaan dan iman sama sekali, kehidupan kita tidak akan berjalan dengan sehat, lancar dan membahagiakan. Dunia kita ini sangat luas; di dalamnya bukan hanya berdiri laboratorium-laboratorium sains, tetapi juga Dunia Fantasi, Disneyland, Six Flags, juga Rumah Hantu.

Tentu saja, sejauh menyangkut posisi-posisi saintifik dalam dunia sains, prinsip Hitchens ini berlaku. Dalam dunia sains empiris, klaim-klaim yang dibangun tanpa bukti-bukti, dapat diabaikan begitu saja juga dengan tanpa bukti. Sudah jelas, kehidupan kita ini kompleks dan multidimensional, bukan hanya perkara ilmu pengetahuan. Saya percaya, dalam rak-rak buku mereka, para saintis sejati juga menaruh buku-buku dan novel-novel fiksi yang sudah dan sedang mereka baca dengan bergairah dan membahagiakan, bahkan juga kitab-kitab suci. Kita juga hidup dari fiksi-fiksi, dari metafora-metafora, dari mitos-mitos, kuno maupun modern, bukan hanya dari bukti-bukti empiris.

Untuk berkembang, otak kita, sejak kita kanak-kanak, juga membutuhkan fiksi-fiksi sebagai bagian dari produk dunia senibudaya. Tentu saja, ada fiksi yang membangun kecerdasan dan peradaban, dan ada juga fiksi yang merusak dan menghancurkan kecerdasan dan peradaban. Pilih-pilihlah dengan bijaksana dan dengan wawasan yang luas. 


Epistemologi Carl Sagan 

Marcello Truzzi (1935-2003) dikenal lewat sebuah prinsip epistemologis yang diajukannya, yang menyatakan bahwa “suatu klaim yang luar biasa memerlukan bukti yang luar biasa.”/13/ Prinsip ini dipopulerkan oleh Carl Sagan (1934-1996), ketika sang kosmolog dan astronom Amerika ini menyatakan bahwa “klaim-klaim yang luar biasa memerlukan bukti yang luar biasa” (“extraordinary claims require extraordinary evidence”) dalam episode 12 film dokumenter Cosmos./14/

Prinsip epistemologis Carl Sagan ini sangat kuat kebenarannya dan validitas logisnya, jauh melampaui Hitchens’ Razor. Pada satu sisi, keyakinan adanya dunia transenden sekarang ini masih tergolong klaim yang luar biasa berhubung belum ada bukti-bukti empiris yang solid, yang mendasari keyakinan ini; jadi para agamawan atau semua orang yang percaya dunia transenden itu ada berkewajiban untuk mengumpulkan bukti-bukti kuat untuk mendukung kepercayaan mereka ini. Saya percaya, sejalan dengan perkembangan sains di depan ini, bukti-bukti saintifik yang dibutuhkan akan makin bertambah.

Tetapi pada sisi lain, prinsip epistemologis Carl Sagan ini juga mengharuskan para ateis memberi bukti-bukti kuat bagi klaim mereka bahwa dunia transenden, tidak ada, berhubung dari dunia sains sendiri sudah muncul indikasi-indikasi yang masih samar bahwa dunia transenden ini bisa ada. Selain itu, orang ateis harus membuktikan bahwa realitas itu hanya terdiri atas empat dimensi saja (dimensi ruangwaktu) dan bahwa jagat raya itu ada hanya satu, yakni jagat raya kita sendiri, jika mereka menolak pandangan-pandangan saintifik tentang hyperspace, multiverse dan adanya ketidakberhinggaan atau infinitas, yang mengindikasikan dengan samar bahwa dunia transenden, apapun juga ini, dapat ada. Orang ateis sesungguhnya mengambil sebuah posisi yang luar biasa jika mereka mengklaim bahwa pandangan-pandangan saintifik tersebut salah; dus, mereka juga harus mengajukan bukti-bukti yang luar biasa bagi klaim mereka ini.

Kembali ke soal keberadaan Allah. Sudahlah jelas bahwa untuk bisa melakukan verifikasi atau falsifikasi keberadaan Allah dalam dunia transenden, sains pertama-tama harus bisa masuk ke dalam dunia ini untuk memeriksa, sesuatu yang justru sains tidak bisa lakukan, hingga saat ini. Argumen ilmiahnya ada: hingga saat ini sains belum bisa masuk ke hyperspace, suatu kawasan yang terstruktur oleh dimensi-dimensi kelima hingga keduapuluhenam bahkan lebih dari itu; juga belum bisa masuk ke jagat-jagat raya lain yang paralel yang jumlahnya tidak terbatas dengan hyperspace menjadi ruang-ruang vakum di antara jagat-jagat raya paralel ini, dan juga ke kawasan-kawasan yang dinamakan infinitas. Teori dawai dalam fisika bukan sekumpulan doktrin agama, begitu juga halnya dengan matematika atau aritmetika.

Jadi, kalau sains diminta untuk memastikan apakah Tuhan itu ada atau tidak ada, sains pada masa kini sama sekali tidak bisa menjawab, tidak bisa memastikan. Kesimpulannya: science cannot prove or disprove the existence of god. 


Posisi agnostik 

Dengan demikian, posisi yang paling kuat sehubungan dengan keberadaan Tuhan, adalah jika kita menyatakan bahwa kita sama sekali, sekarang ini, tidak bisa tahu apakah Tuhan itu ada ataukah tidak ada. Inilah posisi yang dikenal sebagai posisi agnostik. Kosmolog dan astronom yang terkenal, almarhum Carl Sagan, menolak ateisme dan juga teisme, dan memilih menjadi agnostik. Dengan jelas Sagan mengungkapkan alasannya mengapa dia mengambil posisi agnostik. Dalam bukunya Broca’s Brain, dia menulis demikian: 
“Seorang ateis adalah seorang yang yakin bahwa Allah tidak ada, seorang yang (mengklaim) memiliki bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan bahwa Allah tidak ada. Tapi saya sesungguhnya tidak menemukan bukti yang kuat dan meyakinkan semacam ini. Karena Allah bisa dipindahkan ke zaman-zaman dan tempat-tempat yang jauh dan ke sebab-musabab yang paling mendasar, maka dapat dibayangkan bahwa kita harus tahu jauh lebih banyak hal mengenai jagat raya ketimbang yang kita ketahui sekarang untuk bisa yakin bahwa Allah yang semacam ini tidak ada. Merasa pasti mengenai keberadaan Allah dan merasa pasti mengenai ketidakberadaan Allah tampak bagiku adalah pilihan-pilihan keyakinan yang ekstrim tentang suatu subjek yang dipenuhi dengan keraguan dan ketidakpastian, yang sesungguhnya hanya bisa menimbulkan sedikit keyakinan saja. Yang dimungkinkan adalah beranekaragam posisi tengah. Mengingat subjek ini telah menghabiskan sangat besar energi emosional, maka sarana yang esensial untuk mempersempit berbagai pilihan yang tersedia dari ketidaktahuan kolektif kita mengenai subjek keberadaan Allah, tampaknya adalah keberanian untuk terus bertanya, meragukan, dan berpikiran terbuka.”/15/
Banyak orang ateis beranggapan bahwa Albert Einstein adalah ateis, alhasil sang saintis ini sering mereka kutip untuk mendukung ateisme. Begitu juga, banyak agamawan suka mengacu ke sang saintis ini juga dengan tujuan untuk membenarkan posisi keagamaan mereka. Sayangnya, Einstein itu bukan ateis dan juga tidak menganut monoteisme meskipun dia seorang Yahudi. Albert Einstein sesungguhnya seorang agnostik. Sebagai respons atas pertanyaan apakah Einstein percaya atau tidak percaya pada Allah, dalam sebuah wawancara yang diterbitkan 1930 dalam buku G. S. Viereck yang berjudul Glimpses of the Great, Einstein menyatakan hal berikut ini:
“Pertanyaan anda [tentang Allah] adalah pertanyaan yang paling sulit dalam dunia ini. Ini bukanlah sebuah pertanyaan yang saya dapat jawab dengan ya atau tidak. Saya bukan seorang ateis. Saya juga tidak tahu apakah saya dapat mendefinisikan diri saya sebagai seorang panteis. Masalah yang terkandung dalam pertanyaan ini terlalu luas untuk pikiran-pikiran kita yang terbatas. Bolehkah saya menjawabnya dengan sebuah perumpamaan? Pikiran manusia itu, betapapun tingginya telah dilatih, tidak dapat memahami jagat raya. Kita berada dalam posisi sebagai seorang anak kecil yang memasuki sebuah perpustakaan besar yang dinding-dindingnya tertutup sampai ke langit-langit oleh buku-buku yang ditulis dalam banyak bahasa yang berbeda. Sang anak ini tahu bahwa seseorang pastilah telah menulis semua buku itu. Tetapi dia tidak tahu siapa para penulis semua buku itu dan bagaimana cara menulis isi buku-buku itu. Si anak tidak memahami bahasa-bahasa yang dipakai dalam buku-buku itu. Tetapi si anak menemukan buku-buku itu disusun lewat sebuah perencanaan tertentu, ditata dengan cara yang misterius, yang tidak dapat dipahaminya, tetapi hanya dapat diduga-duganya dengan samar-samar. Itulah, menurut saya, suatu sikap pikiran manusia, bahkan pikiran manusia yang terbesar dan paling beradab, terhadap Allah. Kita melihat suatu jagat raya yang tersusun dengan menakjubkan, yang patuh pada hukum-hukum tertentu, tapi kita memahami hukum-hukum itu hanya samar-samar. Pikiran kita yang terbatas tidak dapat memahami forsa misterius yang menggerakkan rasi-rasi bintang-bintang. Saya terpesona pada panteisme Spinoza. Saya bahkan lebih kagum lagi pada sumbangan-sumbangannya bagi pemikiran modern. Spinoza adalah filsuf modern terbesar, sebab dialah filsuf pertama yang memikirkan tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan, bukan sebagai dua hal yang terpisah.”/16/ 
Jika setidaknya ada dua ilmuwan besar (Carl Sagan dan Albert Einstein) yang mengambil posisi agnostik sehubungan dengan ihwal ada atau tidak adanya Allah, maka posisi agnostik tentu saja punya basis kuat penalaran logis. Posisi agnostik menunda menjawab dengan positif atau dengan negatif atas pertanyaan apakah Allah ada. Orang agnostik menunggu temuan sains; posisi mereka science-based, berdasarkan ilmu pengetahuan, bukan berdasarkan iman atau kepercayaan keagamaan.  

Posisi agnostik inilah satu-satunya posisi yang dapat membuat seseorang terus-menerus tidak akan terpenjara dalam sebuah ideologi apapun, tetap sebagai a freethinker, sebab sains itu dinamis, tidak pernah berubah menjadi ideologi, selalu cair, tidak pernah selesai, dan terus berubah dan berkembang, makin maju dan makin banyak menguak misteri-misteri alam.

Jika posisi anda science-based, dibangun berlandaskan pandangan-pandangan ilmu pengetahuan, anda tidak akan pernah menjadi seorang ateis fundamentalis atau seorang teis fundamentalis. Jika anda menyebut seorang saintis atau seorang yang berpikir saintifik sebagai seorang “fundamentalis sains”, anda terjatuh ke dalam sebuah lubang oxymoron! Segitiga lingkaran, itu sebuah oxymoron. Duka-yang-membahagiakan, juga sebuah oxymoron. Sains dan fundamentalisme tidak bisa duduk sepelaminan, tidak bisa direndeng, karena keduanya bertentangan satu sama lain.

Tentu, dalam dunia sains, para saintis juga memiliki sejumlah kepercayaan, misalnya kepercayaan bahwa segala hal yang dipikirkan dengan rasional saintifik dalam otak ada korelasinya dengan dunia real, atau kepercayaan bahwa sains secara bertahap dan kumulatif akan mampu menyingkap makin banyak misteri alam dan misteri kehidupan, atau kepercayaan bahwa sains adalah metode paling tepat dalam orang mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran, dan seterusnya. Tapi segera anda harus catat, sains sama sekali tidak berurusan dengan syahadat-syahadat keagamaan apapun dan semua hal lainnya yang terkait yang harus diterima dan dipercaya orang beragama, misalnya kitab suci, doktrin, akidah, hukum agama, ritual, sistem puritas, para nabi, santo atau santa, dan seterusnya.   

Sebuah pertanyaan penting muncul: Apa akibat praktis dari posisi agnostik? Posisi ini membuat kita tidak bisa mencemooh dan mencaci agama-agama atau menganggap bodoh orang beragama kalau mereka percaya pada Tuhan, sekaligus juga membuat kita tidak bisa fanatik-fanatikan beragama. Teisme bisa relatif benar, tapi bisa juga relatif salah; begitu juga ateisme. Pada sisi lain, orang ateis yang pongah, harus kita katakan, tidak berbeda dari orang teis yang fanatik. Jika orang beragama yang fanatik membela mati-matian agama dan Tuhan, maka orang ateis yang takabur membela mati-matian ketidakpercayaan mereka pada agama dan Tuhan. Keduanya mati-matian. Selain itu, masing-masing pihak yang berseteru tidak bisa lagi sama-sama ngotot meyakini berada di atas, dan mengungguli, lawannya.

Tetapi, supaya suasananya tidak suram, baiklah saya katakan bahwa teisme, ateisme dan agnostisisme, semuanya selalu sementara. Masih belum final. Tentu saja setiap orang pada akhirnya akan mati. Usia kita pendek. Tetapi ingatlah, dunia dan kehidupan masih akan terus berlangsung ribuan, jutaan hingga milyaran tahun lagi ke depan, tanpa kita. Ideologi-ideologi baru akan terus bermunculan. Dan sains masih akan terus maju, berkembang dan berubah. Semuanya mengalir. Semuanya berubah. Nothing is permanent! 

Apa yang sekarang orang beragama yakini dan pandang sebagai “Tuhan”, bisa jadi lewat sains kita nanti akan menemukannya sebagai “sesuatu yang sama sekali lain”, yang melampaui semua kategori pemikiran dan pengalaman kita sekarang, melampaui baik teisme maupun ateisme, mentransendir baik “personal God”, “impersonal God” maupun “anthropomorphic God” atau “amorphic God”. “The God of tomorrow” itu pastilah akan mengejutkan! Suatu Allah yang mengejutkan sungguh-sungguh suatu Allah yang merangsang pikiran dan ilmu pengetahuan. Allah hari esok ini akan juga melampaui Allah yang dipikirkan Baruch Spinoza dan Albert Einstein sebagai totalitas hukum-hukum alam yang kini dikenal, yang di atasnya dan oleh karenanya jagat raya kita terbentuk dan bekerja.

Yang perlu sekarang kita lakukan adalah ikuti dengan cermat apa yang dikatakan dan ditemukan sains. Ikuti sains, sama seperti anda mengikuti air ketika anda sedang mencari bentuk-bentuk kehidupan di planet-planet lain yang kosong. Follow what science says and discovers the way you follow the water to find life forms in other empty planets! Dengan demikian, hanya para agamawan yang progresif dan scientific-minded, dan hanya para ateis yang open-minded, yang akan menjadi orang-orang masa depan yang akan menemukan “the tomorrow’s God”!    

Saya jamin, teman-teman ateis akan langsung memprotes. Dapat dibayangkan mereka akan berkata ketus, “Kami kapan pun juga tidak memerlukan Tuhan Allah, baik Tuhan Allah hari ini maupun Tuhan Allah hari esok! Kami selamanya anti-Tuhan! Kami menolak Tuhan apapun. Kami melawan Tuhan apapun dan juga kisah-kisah apapun tentang Tuhan!” Ooh, betulkah?  


Sebuah ideologi kemarahan 

Pada satu sisi, sikap keras orang ateis ini membingungkan. Mereka percaya dan yakin sekali Tuhan apapun tidak ada, tetapi Tuhan yang tidak ada ini anehnya diserang, dibenci, dilawan dan dicaci terus-menerus oleh mereka. Dibandingkan orang teis yang percaya Tuhan, orang ateis malah adalah orang yang paling banyak berbicara dan mempersoalkan Tuhan, padahal, kata mereka,Tuhan itu tidak ada. Mendiang Christopher Hitchens, misalnya, sampai akhir kehidupannya terus saja tanpa berhenti menyerang Tuhan dan agama-agama, padahal dia sama sekali tidak percaya bahwa Tuhan itu ada.

Dilihat dari sudut pandang mereka sendiri, tidak berlebihan jika orang ateis itu diibaratkan sebagai para petinju yang sedang kalap meninju angin terus-menerus dan membabi-buta, ke sana dan ke sini, ke segala arah, sampai akhirnya kelelahan sendiri. Benarlah apa yang dikatakan aktor, musikus dan dramawan gaek Amerika, Woody Allen, “Bagimu, aku seorang ateis. Bagi Allah, aku adalah lawannya yang paling setia.” Mereka membuat suara ribut di banyak tempat, dengan menyerang tanpa henti orang beragama. Keadaan ini diakui sendiri oleh neurosaintis yang ateis Sam Harris ketika dia menyatakan, “Ateisme itu tidak lain hanyalah suara bising yang dibuat orang-orang berakal saat mereka berhadapan dengan kepercayaan-kepercayaan keagamaan yang tidak pada tempatnya.”/17/ 




Greta Christina: Aku seorang ateis yang sedang marah....! Gedubrak!

Orang-orang ateis bukan saja sedang bersuara riuh, dan kalap meninju angin ke segala arah, tetapi juga sedang marah kepada banyak hal dan banyak pihak. Ateis galak yang bernama Greta Christina dalam bukunya yang berjudul Why Are You Atheists So Angry?, di bagian pembuka bab 1 menulis demikian, “Aku seorang ateis. Aku seorang ateis yang sedang marah. Aku bangga menjadi seorang ateis yang sedang marah. Menurutku, adalah benar orang-orang ateis yang sedang marah, harus marah. Kami marah karena memang ada hal-hal yang sudah sepatutnya membuat kami marah.”/18/

Kemarahan Christina ditumpahkannya habis-habisan dalam bukunya ini, yang disebutnya sebagai sebuah litani kemarahan. Sebagaimana semua litani itu membosankan, buku Christina ini, walaupun isinya jelas dan terang, juga membosankan. Capek membacanya. Gelombang amarah yang terpancar dari kata-katanya dalam bukunya itu menerjang para pembacanya; alhasil, para pembacanya, saya misalnya, terserang hawa negatif, dengan akibat para pembacanya, saya salah seorang, kehilangan banyak energi. Tentu saja kalau anda ateis, buku Christina ini akan anda sambut dengan sorak-sorai kegirangan dan akan anda baca dengan sangat bersemangat, bahkan sangat mungkin anda akan menambah berjuta-juta poin kemarahan dan kegeraman orang ateis lainnya yang belum disebut Christina.    

Dalam salah satu bagian introduksi bukunya, Christina menulis, “Kemarahan orang ateis tidak membuktikan kami tamak atau murung atau berduka. Kemarahan kami menunjukkan bahwa kami punya belarasa dan adilrasa. Kami marah karena kami melihat bahaya yang mengerikan di sekeliling kami, dan kami termotivasi kuat untuk menghentikan bahaya ini.” Bukan hanya Christina yang menyatakan diri sebagai ateis yang sedang marah; masih ada sangat banyak lagi. Christina mewakili mereka dalam mengungkapkan dengan terang dan jelas kemarahan orang ateis. Saya baca dalam bukunya itu, ada sangat banyak hal yang membuatnya marah. Tidak salah jika saya menyatakan bahwa ateisme sebenarnya “an ideology of anger”, sebuah ideologi kemarahan.

Tentu saja, setiap orang boleh marah, dan berhak juga mengungkapkan kemarahan mereka. Ada banyak hal yang memang bisa membuat kita marah. Tetapi kemarahan yang tidak terkendali dan tidak diekspresikan dengan cerdas dan pas, kemarahan yang membabibuta, hanya akan merugikan si individu yang sedang marah yang kehilangan kemampuannya untuk melihat segala sesuatu dengan objektif, bahkan juga merugikan masyarakat yang lebih luas. Kemarahan yang tak terkendali terhadap teisme tidak akan mendatangkan kebaikan kepada si ateis yang sedang marah, kepada ateisme sendiri, kepada teisme, dan juga kepada masyarakat.

Saat Christina menyatakan bahwa para ateis “termotivasi kuat untuk menghentikan bahaya yang mengerikan yang ada di sekeliling” mereka, dia sebetulnya tidak berbeda dari para agamawan fundamentalis radikal yang juga terdorong kuat untuk menjadi para juruselamat dunia, yang sedang berjihad untuk melepaskan dunia dari hal-hal yang mereka nilai berbahaya karena hal-hal ini tidak sejalan dengan ide-ide keagamaan fundamentalis radikal mereka sendiri. Sebetulnya, semua penganut fanatik agama apapun memandang diri mereka sebagai para juruselamat dunia.

Para ateis yang sejenis Christina sebetulnya tidak berbeda dari, misalnya, para teis Kristen, yang juga melihat diri mereka sebagai para juruselamat dunia, yang yakin bahwa dunia akan dapat diselamatkan dan dilepaskan dari segala bahaya yang sedang mengancam hanya jika dunia mau berpaling ke Yesus Kristus yang diklaim mereka sebagai sang juruselamat satu-satunya untuk dunia ini. Yesus Kristus akan terbukti sebagai sang juruselamat dunia satu-satunya jika semua orang Kristen berhasil menyelamatkan dunia ini dan meluputkannya dari semua bahaya yang mereka lihat sedang mengancam dunia. Jika Yesus juruselamat dunia, maka wakil-wakil Yesus di dunia ini, yakni gereja, ya juga juruselamat dunia, bahkan juruselamat dunia satu-satunya.

Marilah kita bertanya: Apakah bisa dunia yang dewasa ini sedang dibelit sangat banyak persoalan yang multidimensional akan dapat diselamatkan hanya oleh satu orang atau hanya oleh satu agama atau hanya oleh satu ideologi? Ya jelas tidak bisa. Tentu saja anda boleh yakin, bahwa itu bisa. Tetapi keyakinan semacam itu, hemat saya, hanya pantas digolongkan sebagai mitos. Mitos juruselamat dunia inilah yang membuat komunitas-komunitas ideologis sekarang ini saling bersaing keras dan sengit, dengan akibat dunia makin terpecah belah dan hubungan-hubungan antarmanusia dirusak.

Hemat saya, jika dunia memang harus diselamatkan, ya marilah kita yang berbeda-beda berjuang bersama-sama, bahu-membahu, ke arah itu, bukan bertindak dan menyeruduk eksklusif sendiri-sendiri. Sangat sulit untuk saya membayangkan orang ateis akan mau bekerja sama dengan orang teis sekarang ini. Masih dibutuhkan beberapa dasawarsa lagi barangkali untuk terbangun rekonsiliasi antara orang ateis dan orang teis. Kapan persisnya? Ya kalau ateisme sudah menjadi sebuah ideologi yang mapan, yang ditopang oleh infrastruktur dan struktur sosial yang sudah solid dan mengglobal.

Sejauh sudah saya amati, para ateis, khususnya yang bernaung di dalam ideologi New Atheism, kini memandang diri mereka sebagai orang-orang yang sedang dianiaya, “the persecuted”, yang harus terus-menerus berjihad untuk membela ideologi mereka dan mempertahankan eksistensi mereka di dalam suatu dunia yang, kata mereka, sedang dijajah agama-agama kebodohan.

Semakin dalam sekelompok orang mempersepsi diri sedang dianiaya, semakin agresif dan habis-habisan mereka menyerang ke hal-hal apapun yang dipandang sebagai para penganiaya. Mentalitas atau sindrom sebagai para teraniaya inilah yang menjadi salah satu sumber mengapa ateisme kini, khususnya New Atheism, sedang tampil sebagai sebuah ideologi kemarahan, dan sebuah ideologi pemberontakan, “an ideology of revolt”! Mentalitas semacam ini jugalah yang ada di dalam diri semua radikalis keagamaan, di seluruh dunia dan kapan pun juga.

Orang pada foto di bawah ini menamakan dirinya dengan gagah The Amazing Atheist. Di akhir videonya (sebetulnya, “self-promoting video”), sambil mengacungkan dua jarinya, dia menyatakan bahwa dia “telah datang untuk melenyapkan agama dan menegakkan perdamaian!” Judul khotbah si ateis ini seram, “I Hate Religion, and Jesus Too!”



Aku datang untuk menegakkan perdamaian!

Sejak awal hingga akhir videonya, dia menyampaikan khotbah ateistiknya yang dipenuhi kebencian terhadap Yesus dan aliran-aliran Kristen tertentu. Bagaimana dia bisa menegakkan perdamaian dalam dunia ini, jika dalam dirinya kebencian besar pada Yesus dan pada dunia agama-agama sangat besar bernyala dan berkobar. Hate speech yang disampaikannya sudah membuat saya tidak bisa percaya bahwa si Amazing Atheist ini sungguh-sungguh ingin menciptakan perdamaian dalam dunia ini! Dia cuma omong besar dan suka berkoar!  

Bagaimana perdamaian bisa dia tegakkan jika agama-agama, yang juga menjalankan banyak peran positif dalam dunia masa kini (selain, tentu saja, peran negatif), mau dia basmi dari dalam dunia ini? Memangnya dunia ini milik nenek moyangnya yang ateis doang? Gegabah sekali dia. Jika dia sungguh-sungguh mau membasmi agama-agama, ya itu artinya dia harus membasmi 4 milyar orang dewasa yang memeluk agama-agama di abad XXI ini!

Saya semakin melihat, ateisme itu sebuah ideologi yang penuh kemarahan dan kebencian pada dunia agama. Semakin banyak anda membenci dan murka, semakin stres kehidupan anda. Maka itu, atheism is very stressful! Karena sedang stres berat, pantaslah kalau para ateis itu umumnya marah-marah terus. Bisa jadi, mereka akan banyak terkena serangan jantung dan stroke. Mungkin sekali, rumah-rumah sakit makin banyak didatangi para ateis.

Pada kolom komentar di bawah video youtube-nya, saya tulis kata-kata saya berikut ini:  

“Hi guy Amazing Atheist, in the end of your preaching you say you love peace. But unfortunately I find out that, from beginning to end of your speech, you extremely hate Jesus and some brands of Christianity. How could I believe that you are disseminating peace around the world, while you in fact are spreading hate speech throughout your self-promoting video? Why are you so stressed? Is atheism stressful?” 

Tidak bisa paham saya, kenapa Yesus menjadi begitu dibenci si ateis ini. Ya, Yesus memang menuntut kesetiaan total terhadap dirinya. Ini bukan sikap mental otoritarian Yesus, tapi bagian dari strateginya dalam membangun komunitas-komunitas baru di dalam suatu negeri terjajah yang sudah dipecahbelah dengan sistematik oleh penjajah dan kaki tangan Yahudi mereka.  

Si Amazing Atheist ini tidak mengenal Yesus dari Nazareth yang berhasil disingkap oleh kajian-kajian sejarah; tapi dia berbicara terlalu banyak tentang Yesus, dan koar-koarnya ini omong kosong doang jika dievaluasi dari kajian sejarah. Dia membenci Yesus bisa jadi karena dia membenci aliran-aliran Kristen tertentu di Amerika atau mungkin juga karena dia membenci sosok-sosok pemuka gereja-gereja tertentu di Amerika, yang lalu dia proyeksikan ke Yesus yang hidup 2000 tahun lalu di negeri yang jauh dari Amerika. Aneh ya.

Dia terdelusi bahwa Yesus masih ada di sekitarnya sehingga Yesus perlu dia serang terus dan mempertontonkan serangannya ini kepada dunia modern lewat Internet. Sama seperti banyak orang ateis lain yang dengan vulgar kerap mencaci dan menyerang Muhammad yang menjadi sang Nabi kaum Muslim, seolah sang nabi ini masih ada sekitar mereka. Kasihan para ateis itu.

Pasti IQ si Amazing Atheist itu jeblok! Saya ganti namanya menjadi The Terrorizing Atheist yang bermental tidak berbeda dari para radikalis agama meskipun worldview masing-masing berbeda sangat tajam!/19/

Kita sudah tahu bahwa pada 10 Februari 2015, sosok ateis keras Craig Stephen Hicks (46 tahun) menembak mati tiga Muslim yang tidak bersalah, suatu kejadian yang sangat mengerikan, di Chapel Hill, North Carolina, Amerika Serikat. Menurut Jonathan M. Katz dalam reportasenya yang mutakhir tentang kasus Hicks yang diterbitkan di The New York Times, 3 Maret 2015, pembunuhan yang dilakukan Hicks didorong bukan sekadar cekcok tempat parkir. Katz menulis, “Tidak ada keraguan bahwa Hicks mempunyai suatu masalah dengan agama. Pada Facebook-nya terdapat banyak kutipan dan meme yang merendahkan dan mencemarkan kekristenan. Pada 27 Januari, dia meneruskan ke orang-orang lain lewat FB-nya pernyataan yang dapat mengacu ke Islam: “Orang mengatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat mengatasi masalah Timur Tengah…. Aku berkata masih ada sesuatu. Ateisme.’”/20/

Menurut berita yang dipasang pada website Crimesider, 6 April 2015, terkait dengan kasus Hicks, “FBI sedang menjalankan apa yang dinamakan suatu ‘penyelidikan pendahuluan yang sejajar’ dengan investigasi atas pembunuhan untuk menentukan apakah ada hukum-hukum federal apapun yang sudah dilanggar, termasuk UU tentang kejahatan yang dimotivasi kebencian.”/21/

Anda bisa menambah panjang lagi daftar orang-orang ateis yang sedang marah, yang keras, yang menimbulkan perasaan diri kita sedang terteror, dan yang juga menjadi pembunuh. Oh ya, hanya dalam tempo empat minggu setelah pembunuhan yang dilakukan Hicks di Amerika, seorang ateis di Prancis dijatuhi vonis hukuman penjara selama tiga tahun karena dia telah menyerang sebuah masjid dengan granat-granat dan senjata laras panjang di Prancis.

CJ Werleman yang baru menerbitkan bukunya yang berjudul sangat menarik The New Atheist Threat: The Dangerous Rise of Secular Extremists (2015), di salah satu bagian Prolog bukunya ini menulis begini: “Aku berharap kasus Hicks yang mengalihkan kebenciannya terhadap agama ke suatu tindak kekerasan yang biadab tidak akan terulang lagi. Tetapi hanya ada sedikit alasan yang dapat membuat kita optimistik. Bersama banyak orang lain, aku sesungguhnya sangat prihatin karena sebetulnya ada sangat banyak orang Ateis Baru, seperti Hicks, yang sudah siap untuk menjalankan apa yang mereka persepsi sebagai suatu ‘perang salib yang agung’. Dalam pikiran mereka, dan di dalam kamar-kamar mereka yang berakustik (para Ateis Baru membaca buku-buku yang sama; mendengarkan podcast yang sama; mengunjungi pertemuan-pertemuan yang sama), agama itu jahat; karena itu, perbuatan-perbuatan jahat didorong oleh agama-agama.”/22/  


“No True Scotsman Fallacy” 

Tetapi, sejauh sudah saya temukan, para ateis dalam gerakan New Atheism, juga Sam Harris secara resmi,/23/ menepis begitu saja para ateis jahat itu, dengan dalih bahwa mereka bukan para ateis dari ideologi New Atheism. Mereka orang luar; bahkan mereka sama sekali bukan ateis.  

Saya jadinya pada kesempatan ini harus membahas sedikit apa yang dinamakan “No True Scotsman Fallacy” yang selalu dipakai para ateis untuk membela diri jika terbukti ada kebobrokan moral di dalamnya. Supaya mudah dipahami, argumen yang salah ini saya ungkap begini: “Yang buruk-buruk itu pasti bukan kami”; dan sebaliknya juga, “Yang bagus-bagus itu pasti bukan kalian.” Bagi mereka, ateisme itu tidak mungkin melahirkan manusia bobrok moral, sebab ateisme itu sejatinya hanya akan menjadikan manusia, lewat cara yang magical, tercerahkan, agung dan berakhlak tinggi. Itu ideal mereka yang letaknya setinggi langit, dan bersifat magis, sehingga membuat mereka tidak menginjak Bumi lagi.

Jadi, Mr. Hicks itu, juga The Amazing Atheist, dan lain-lain ateis jahat, ya bagi para pembela ateisme bukan orang ateis sejati, atau sama sekali bukan ateis. Jadi, adanya orang ateis jahat ditepis begitu saja untuk membuat ateisme kebal kritik (moral). Ini sama seluruhnya dengan argumen kalangan agamawan apapun dalam semua agama.

Orang Kristen evangelikal (injili), misalnya, ketika ada di antara mereka orang-orang yang bejat, selalu menyatakan begini: “Wah, mereka yang bejat itu bukan orang Kristen injili, tetapi hanya mengaku-ngaku saja injili, padahal bukan sama sekali!” Jika Dawkins itu ateis sejati, maka ateis sejati adalah sosok saintis yang suka nge-“bully” agama-agama, “and offend, attack, and ridicule” umat beragama dan agama-agama dengan keras. Ini, bukan biologi, kepiawaian Dawkins yang paling menonjol. Jika fallacy di atas dipakai lagi, maka orang ateis akan bilang, Wah Dawkins cs itu bukan ateis sejati, tetapi ateis-ateis bejat, atau sama sekali bukan orang ateis. Eeeh, Dawkins juga memakai fallacy ini ketika dia menegaskan bahwa “Muslim-muslim progresif dan liberal yang toleran itu tidak mewakili Islam; Islam sejati itu ya para radikalis dan esktrimis itu!”

Capek deh jadinya kalau menghadapi sebuah ideologi yang sudah diidolakan sebagai God sendiri: serba sempurna dan magis. Ya itu, ateisme. The circle is now completed: atheists started with kicking out Gods of religions; and they finally end up incorporating God again into their ideological system. 


Salahkah Einstein? 

Kembali ke Albert Einstein. Lepas dari apakah anda yang ateis setuju atau tidak setuju dengan Einstein, perhatikan kata-katanya yang keras tentang orang ateis, demikian:
“Orang-orang ateis yang fanatik itu... bak budak-budak yang masih merasa beratnya rantai-rantai yang pernah membelenggu mereka, yang sebetulnya mereka telah lepaskan dan buang setelah berjuang sangat keras. Dalam sakit hati mereka terhadap ‘candu masyarakat’, mereka adalah makhluk-makhluk yang tidak dapat tahan mendengar berbagai musik yang disenandungkan dunia-dunia.”/24/
Dengan tepat Einstein melihat ateisme pada zamannya sebagai sebuah ideologi orang yang sedang sakit hati, sebuah ideologi kemarahan. Perhatikan juga sebuah ucapannya yang lain, ini:
“Berulangkali aku telah katakan bahwa dalam pendapatku ide tentang suatu Allah personal adalah ide yang kekanak-kanakan. Anda dapat menyebut saya agnostik, tapi saya tidak ikut menghayati semangat tempur dan fanatisme dari orang-orang yang mengaku ateis. Semangat dan fanatisme mereka itu timbul dari keinginan membara dan kepedihan hati untuk melepaskan diri dari belenggu-belenggu indoktrinasi keagamaan yang mereka telah terima sewaktu masih remaja. Saya memilih untuk bersikap rendah hati sejalan dengan kelemahan pemahaman intelektual kita terhadap alam dan hakikat kehidupan kita sendiri.”/25/
Tetapi Einstein juga marah. Tetapi alih-alih membangun sebuah gerakan kemarahan, Einstein membangun dan mengembangkan sains fisika. Salah satu alasan mengapa Einstein mengambil sikap keras terhadap orang ateis, diungkapnya demikian:
“Meskipun terdapat harmoni dalam jagat raya, yang dengan pikiran insaniku yang terbatas dapat kupahami, masih saja ada orang yang berkata bahwa Allah itu tidak ada. Tapi hal yang sungguh-sungguh membuatku marah adalah bahwa mereka mengutip aku untuk menunjang pandangan-pandangan mereka yang seperti itu.”/26/   
Buktikanlah Einstein salah, kalau memang dia salah. Dalam pengalaman saya sendiri, tentu saja ada sangat banyak orang ateis yang fanatik buta dan agresif, bahkan vulgar, selalu menyerang keras agama-agama dan selalu merasa diri paling benar, khususnya orang-orang ateis dari gerakan New Atheism. Mereka sudah terbiasa memakai gaya bahasa preman kalau sedang menyerang orang yang tidak mendukung ideologi ateisme mereka. Tentu ada juga, tetapi tidak banyak, orang ateis yang cerdas, rendah hati dan santun kalau berbicara, dan mampu menyatakan diri bahwa mereka juga bisa salah dan keliru. Kalau ada orang ateis yang mengklaim diri dengan takabur bahwa mereka tidak bisa salah, maka, mungkin tanpa disadari mereka, mereka telah menjadikan diri mereka sendiri Allah setelah mereka membuang dan menendang Allah agama-agama.

Tahukah anda bahwa sangkar besi terkuat yang kerap mengurung seseorang adalah pikirannya sendiri yang dianggapnya sudah final? Banyak orang pintar menjadi sangat bodoh saat mereka menganggap pikiran mereka sendiri sudah final, tidak bisa salah, dus tidak bisa diubah lagi. 


Cuci otak atau “brainwashing” 

Anda yang ateis boleh tidak setuju terhadap dua orang neurosaintis Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman yang menegaskan bahwa “dalam kenyataannya, kebanyakan riset yang dilakukan dalam psikologi dan ilmu-ilmu sosial menemukan agama itu netral atau bermanfaat berkaitan dengan kesehatan mental dan kesehatan tubuh. Yang menjadi musuh bukanlah agama; musuh kita adalah kemarahan, permusuhan, intoleransi, separatisme, idealisme ekstrim, dan ketakutan yang timbul dari prasangka-prasangka, baik yang sifatnya sekular, religius, maupun politis.”/27/

Tentu harus kita akui bahwa agama juga bisa menjadi sumber dari semua hal buruk yang disebut Newberg dan Waldman; tetapi tidak selalu demikian. Banyak hal yang baik juga bisa muncul dari dunia agama-agama sejauh fundamentalisme, radikalisme, irasionalisme dan terorisme tidak muncul, tumbuh dan berkuasa di situ. Perilaku orang-orang fundamentalis radikal dalam semua agama dewasa ini tampak sebagai perilaku orang-orang yang kalap, histeris dan sedang berada dalam tekanan jiwa yang sangat berat, sehingga seringkali akal sehat dan rasionalitas mereka sudah tidak bekerja lagi. Apa yang dikatakan Friedrich Nietzsche berikut ini tentu saja sangat keras, dan tentu kebanyakan kita juga tidak sepakat dengannya, tetapi juga, sedihnya, bisa benar. Katanya, “Agama adalah urusan orang-orang pinggiran. Aku selalu harus mencuci tanganku setelah bersentuhan dengan seorang yang beragama.”/28/

Neurosaintis Kathleen Taylor dari Departemen Fisiologi, Anatomi dan Genetika Universitas Oxford, dalam sebuah kuliahnya yang disampaikan pada acara Hay Literary Festival di Wales, Inggris, Mei 2013, menyatakan bahwa “seseorang yang telah, misalnya, menjadi penganut radikal suatu ideologi kultis, harus tidak lagi kita pandang sebagai seseorang yang dengan kehendak bebasnya yang personal dan murni telah memilih ideologi itu, melainkan sebagai seseorang yang sedang terkena gangguan mental tertentu. Dalam banyak hal, memperlakukan orang-orang jenis tersebut sebagai orang-orang yang punya penyakit mental akan dapat sangat positif berhubung tidak ada keraguan lagi bahwa kepercayaan-kepercayaan keagamaan tertentu dalam masyarakat kita sungguh-sungguh telah menimbulkan sangat banyak kerusakan dan kehancuran.” Pernyataan Taylor ini tidak hanya berlaku bagi “kandidat-kandidat yang sudah jelas, yakni para Muslim radikal”, tetapi juga bagi orang beragama apapun yang percaya bahwa menyakiti dan menyiksa anak-anak adalah hal yang dapat diterima./29/

Jika anda ingin tahu lebih jauh pandangan-pandangan Taylor tentang bagaimana dalam komunitas-komunitas keagamaan radikal metode cuci otak dipakai untuk mengontrol pikiran umat dan khususnya anak-anak muda, bacalah bukunya Brainwashing: The Science of Thought Control (terbit 2004). Dalam mengkaji mekanisme cuci otak, Taylor mengeksplorasi sejumlah bidang, yakni agama, politik, iklan, media, pendidikan, kesehatan mental, militer, sistem pengadilan kriminal, KDRT, dan penyiksaan. Tentang cuci otak, dia menyatakan bahwa
“Pada intinya cuci otak adalah suatu ide yang sangat jahat, yang didasarkan pada impian untuk sepenuh-penuhnya mengontrol pikiran manusia, yang mempengaruhi kita semua dengan cara-cara tertentu. Cuci otak pada dasarnya adalah penyerbuan terhadap privasi, yang berusaha mengendalikan bukan hanya bagaimana orang bertindak, tetapi juga apa yang mereka pikirkan. Cuci otak menimbulkan ketakutan-ketakutan kita yang terdalam karena mengancam akan menghilangkan kebebasan dan bahkan identitas manusia. Kami menemukan bahwa cuci otak adalah suatu bentuk ekstrim pengaruh sosial yang menggunakan mekanisme-mekanisme yang makin banyak dikaji dan dipahami para psikolog sosial. Pengaruh sosial tersebut dapat sangat bervariasi dalam intensitasnya. Dan kami mengeksplorasi sejumlah situasi yang melibatkan individu-individu, kelompok-kelompok kecil, dan keseluruhan masyarakat-masyarakat. Dalam semua segmen ini, tipe-tipe pengaruh yang kami sebut cuci otak dicirikan oleh penggunaan kekuatan pemaksa atau tipu daya atau keduanya sekaligus.”/30/
Sudah pasti, cuci otak juga terjadi pada komunitas-komunitas ateis militan fundamentalis, selain pada komunitas-komunitas keagamaan, entah dengan cara-cara sedikit halus atau dengan cara-cara yang sangat keras. Militansi dan fundamentalisme ideologis apapun bisa dibangun dan digairahkan hanya lewat cuci otak.   


Nilai tertinggi 

Dengan mengatakan bahwa ateisme itu sebuah ideologi kemarahan, sama sekali bukan maksud saya untuk menyatakan bahwa teisme, sebaliknya, tidak boleh dikritik. Bukan itu! Segala hal dalam dunia ini, termasuk teisme dan juga ateisme, perlu dikritik terus-menerus supaya mengalami perbaikan, pembaruan, perubahan, peningkatan, kemajuan dan penyempurnaan.

Tetapi kritik yang diperlukan bukanlah kritik yang hantam-kromo, asal-asalan dan keluar dari kebencian dan kemarahan, tetapi kritik yang muncul dari pengenalan yang memadai dan objektif atas objek-objek yang dikritik, alhasil kritik-kritik yang disampaikan akan pas, fair, membangun dan berguna, bukan serampangan, merusak dan mudarat. Kata “kritik” berasal dari kata kerja Yunani “krinein”, yang artinya “menilai sesuatu dengan cermat dan bertanggungjawab” dengan berbasis fakta-fakta ilmiah. Kritik sama sekali bukan penghinaan atau penistaan. Harap hal ini dipahami. Bukan hanya kalangan radikal teis yang suka marah dan kalap terhadap dunia yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan mereka, para ateis militan pun sama dengan para radikalis religius ini, sama-sama orang yang sedang marah dan kalap. Tidak ada keunggulan ateisme dalam hal ini.    

Pada sisi lainnya, orang ateis tampaknya lupa bahwa dalam setiap ideologi selalu ada sesuatu yang dipandang sebagai nilai tertinggi (the highest value) yang menjadi acuan semua keyakinan dan tindakan serta tujuan kehidupan para penganutnya. Dalam ideologi kapitalisme, uang atau kapital (dalam bentuk apapun) adalah nilai tertinggi. Dalam ideologi demokrasi, suara rakyat (vox populi) adalah nilai tertinggi, yang kerap dengan keliru disamakan dengan suara Allah (vox Dei) sehingga demokrasi, tanpa disadari, diubah menjadi teokrasi.

Anda yang ateis selalu sekuat tenaga dan mati hidup mempertahankan bahwa Tuhan itu tidak ada, walaupun sang Tuhan yang tidak ada ini anda serang terus. Ok-lah kalau bagi anda sang Tuhan sebagai entitas empiris tidak/belum terbukti ada; tetapi, pada sisi lainnya, anda tentu setuju dengan saya kalau saya menyatakan bahwa walaupun sang Tuhan empiris tidak/belum terbukti ada, sang Tuhan ini adalah suatu nilai, value, yang sangat real dan fungsional dalam kehidupan para teis. Sepakat ya dengan saya bahwa sang Tuhan adalah sebuah nilai utama bagi para teis. Nilai adalah sesuatu yang kepadanya anda arahkan seluruh kehidupan anda, sesuatu yang mendasari seluruh isi pemikiran dan gerak-gerik kehidupan anda. Dus, nilai itu berada dalam dunia ide, sebagai ide terbesar dan utama.

Kalau dalam teisme Tuhan dipandang sebagai nilai tertinggi, maka mustinya dalam ateisme ada pengganti nilai tertinggi ini. Para ateis perlu menjawab, apa nilai tertinggi dalam kepercayaan ateisme mereka, apa yang berfungsi dengan real dan kuat sebagai Tuhan mereka. Sudah pasti, nilai tertinggi atau Tuhan dalam ateisme ya ideologi ateisme sendiri, bukan sains sebab sains tidak bisa diubah jadi ideologi apapun. Orang ateis, dus, percaya sangat tinggi pada kepercayaan ateisme mereka. Jangan anda sangka bahwa ateisme tidak punya Tuhan. They believe in their belief system named atheism. Posisi ini tentu saja narsis.  

Hemat saya, kaum teis lebih maju dan tidak narsis: orang teis percaya pada Tuhan transenden, bukan pada belief system mereka sendiri. Tuhan transenden ini melampaui teisme sendiri; teisme adalah suatu wahana metaforis yang menunjuk ke entitas yang lebih tinggi, yakni Tuhan transenden. Teisme adalah sebuah jembatan menuju Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Ada jembatan yang kokoh, dan ada jembatan yang rapuh. Jika karena agama anda, anda menjadi fanatik buta, agama anda itu adalah sebuah jembatan yang rapuh total.

Memakai sebuah metafora lain: teisme itu ibarat sebuah jari telunjuk yang sedang menunjuk ke Bulan. Bulan adalah sang Tuhan dalam teisme, dan telunjuk adalah doktrin-doktrin dalam sistem ideologis keagamaan teisme. Jari telunjuk tidak akan pernah menjadi sang Bulan, begitu juga sebaliknya. Tetapi, sayangnya, para penganut teisme umumnya suka sekali mengubah telunjuk mereka menjadi sang Bulan, dan sang Bulan diperlakukan sebagai jari telunjuk. Saat ini terjadi, prahara pun muncul di mana-mana!  


Para dewa yang dipercaya Richard Dawkins 

Tetapi itu belum semuanya; masih ada hal-hal lain yang akan sangat mengagetkan dan membuat kecut hati para ateis dalam gerakan New Atheism. Berikut ini sebuah selingan saja. Ketika Richard Dawkins dalam suatu acara talkshow di Radio 4 di bulan Desember 2012 ditantang oleh seorang pastur Katolik untuk menyebut lengkap 21 kata yang menjadi judul buku On The Origin of Species karya Charles Darwin yang sangat diherokan oleh Dawkins, sang biolog ateis keras ini meyakinkan para pendengar bahwa dia tentu hafal; tetapi akhirnya ternyata dia gagal. Dengan terbata-bata dan kerap bergumam eeehhhhm, eeehhhmmm, uuummmm, akhirnya Dawkins gagal. Yang menarik adalah bahwa di tengah usaha kerasnya untuk menyebut judul lengkap buku Darwin tersebut, dan di saat dia merasa tidak berdaya, Dawkins otomatis memanggil nama Tuhan, “Oh God!”/31/

Rupanya sang ateis militan ini masih punya Tuhan dan masih suka berdoa. “Neuron-neuron Allah” (“God neurons”) masih bercokol kuat di dalam organ otak Prof. Dawkins. Susah payah dia menjadi seorang saintis ateis yang sedang marah, tetapi usahanya ini kandas total ketika dia menemukan dirinya tidak berdaya lalu memanggil Allah.

Saya ajak teman-teman ateis Indonesia untuk membayangkan bahwa anda sedang berada di dalam suatu pesawat terbang di angkasa, yang tiba-tiba saja dilanda badai dahsyat, lalu terguncang keras, kemudian tidak bisa dikendalikan lagi, terus meluncur dan menukik cepat ke permukaan Bumi. Nah, saya mau tanya anda: Apakah yang kira-kira akan menjadi sikap anda di saat-saat kejadian yang menimbulkan kepanikan massal itu? Apakah anda akan bisa membuktikan diri tetap ateis kuat di saat-saat genting itu dengan hanya tertawa-tawa senang sementara anda duduk di bangku pesawat yang sedang terguncang hebat?

Ataukah, tidak berbeda dari para penumpang lain yang beragama, anda juga tiba-tiba saja, tanpa tertahan, memanggil-manggil dan berdoa keras-keras kepada Tuhan anda, yang telah cukup lama anda pendam, kubur, tekan dan gencet dalam alam bawah sadar anda? Mungkin sekali, anda adalah para super-ateis, yang jauh lebih tangguh dan lebih konsisten dibandingkan sang master anda, Richard Dawkins. Semoga.

Kita umumnya akan mengakui bahwa kita, sekuat apapun, adalah insan-insan yang memang kerap memerlukan uluran tangan dari pihak-pihak yang kita pandang jauh lebih kuat, jauh lebih tangguh, dan jauh lebih berkuasa, dibandingkan diri kita sendiri, di saat-saat kita sedang berada dalam berbagai kondisi tidak berdaya. Kebutuhan ini saya sebut sebagai kebutuhan terhadap pertolongan dari dunia transenden, apapun juga wujud dunia transenden ini dalam bayangan kita. Di saat dalam kandungan, kita butuh rahim ibu kita dan nutrisi dari makanan yang dia makan. Saat kanak-kanak hingga remaja, kita butuh suatu superpower yang kita panggil papa atau mama. Ketika kita mulai diperkenalkan dengan Tuhan dalam agama orangtua kita, ayah dan ibu kita diganti oleh Tuhan kita ini. Terus sampai kita wafat, kita kerap merasa dan membutuhkan suatu superpower yang mampu melindungi dan menolong kita, apapun wujud superpower ini. Kalau seorang ateis menegaskan bahwa dia tidak perlu “suatu hal lain di atas dirinya” (apapun ini!), ya tanpa sadar dia sudah mempertuhan dirinya sendiri; sekaligus dia juga berdusta. Begitu loh.       

Tetapi poin terpentingnya adalah ini: Richard Dawkins percaya pada adanya entitas-entitas superhuman super cerdas yang ada di angkasa luar, yang lewat teknik rekayasa genetik yang sudah sangat maju dipercaya telah menciptakan manusia di Bumi dulu sekali. Alien-alien adiinsani yang memiliki kecerdasan sangat tinggi inilah para dewa yang dipercaya Dawkins sebagai seorang ateis keras, ketika dia sudah menendang jauh-jauh Allah-allah agama-agama. Kepercayaannya terhadap dewa-dewa dari angkasa luar sebagai para pencipta manusia telah diungkapnya dengan jelas kepada dunia lewat video ini https://youtu.be/BoncJBrrdQ8. Pernyataan Dawkins yang paling krusial adalah ini:
“Mungkin sekali terjadi bahwa dulu di zaman lampau, di suatu tempat dalam jagat raya, sebuah peradaban berevolusi, mungkin sekali lewat beberapa sarana evolusi yang diajukan Darwin. Mungkin sekali peradaban ini telah menghasilkan berbagai teknologi yang sudah luar biasa maju. Lalu mereka merancang suatu bentuk kehidupan yang mereka benihkan dan kembangkan mungkin di planet Bumi. Ya, uuumm, ini adalah sebuah kemungkinan, sebuah kemungkinan yang sangat menarik. Dan saya beranggapan adalah mungkin anda dapat menemukan bukti tentang hal ini jika anda melihat ke detail-detail biokimia, biologi molekuler. Di situ anda dapat menemukan suatu tandatangan dari suatu jenis perancang.”
Saya berharap anda para ateis langsung tertegun lalu mulai gelisah dan meragukan keperkasaan New Atheism, sebab ternyata dalam sistem ateisme Dawkins juga ada para dewa pencipta manusia. Allah agama-agama ditendang Dawkins dan para muridnya, tetapi hanya untuk mengimani kembali dewa-dewa pengganti, para alien cerdas di angkasa luar yang diyakini telah menciptakan manusia di zaman yang sangat silam! Ini kepercayaan religius sang ateis Dawkins.

Ya, statusnya baru kepercayaan, belief, sebab sampai detik ini belum ditemukan bukti-bukti ilmiah apapun bahwa dalam DNA homo sapiens terdapat tanda tangan alien-alien cerdas lewat teknik rekayasa genetik mereka. Begitu juga, teori panspermia belum didukung bukti-bukti substansial yang “beyond reasonable doubt”. Terkait dengan alien-alien cerdas dari galaksi-galaksi lain, atau dari galaksi Bima Sakti, posisi paling ilmiah sekarang ini adalah Paradoks Fermi: alien-alien cerdas pasti ada, tetapi hingga saat ini bukti-bukti empiris yang substansial tentang keberadaan mereka belum dimiliki dunia sains. Dengan kata lain, Paradoks Fermi lebih dekat ke agama ketimbang ke sains. Itulah faktanya.

Para pembela gerakan New Atheism juga merayakan ritual kultis mereka, bahkan setiap hari. Mungkin anda tidak percaya. Salah satu fungsi ritual keagamaan adalah menyalurkan tekanan dan beban berat psikologis keluar dari hati dan pikiran. Satu contoh saja: ketika seorang Kristen, bersama banyak orang Kristen lainnya, dengan khusuk berdoa sambil memandang patung Yesus yang sedang tersalib dalam suatu ibadah, ini adalah sebuah ritual. Dalam ritual ini mereka menumpahkan semua unek-unek mereka, melakukan katarsis, dan mengaku semua dosa mereka yang selama ini menekan hati dan pikiran mereka. Semua katarsis dan doa pengakuan dosa mereka ini diarahkan dan ditimpahkan pada tubuh Yesus yang sedang tersalib. Dengan sangat intens, mereka melakukan ritual ini; hasilnya adalah mereka mendapatkan kelegaan kembali. Stres dan depresi mereka reda, karena, dalam keyakinan mereka, sudah ditanggung oleh Yesus yang tersalib menggantikan mereka.

Sudah diketahui bahwa ritual-ritual religius memicu mekanisme-mekanisme neurologis yang memungkinkan terbentuknya hormon-hormon yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan katarsis yang menimbulkan rasa tenang, bebas stres dan yang sejenisnya. J. Anderson Thomson, Jr., dan Clare Aukofer dalam buku mereka, Why We Believe in God(s), menyatakan bahwa
“Seperti semua ide dan kepercayaan keagamaan, ritual-ritual keagamaan adalah produk-produk sampingan dari mekanisme-mekanisme mental yang semula dirancang untuk tujuan-tujuan lain. Ritual-ritual keagamaan mempertahankan, meneruskan, dan menyebarkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan melintasi ruang dan waktu. … Pikiran setiap orang sangat mudah untuk menghasilkan, menerima dan mempercayai ide-ide keagamaan. Jika prosesnya berhenti di situ saja, kepercayaan keagamaan dapat dengan longgar dipegang. Tetapi, dengan memobilisasi kimia otak yang kuat, yang menimbulkan pengalaman-pengalaman emosional yang intens dan memunculkan berbagai perasaan seperti kebanggaan diri, kesenangan, rasa takut, motivasi, bebas dari rasa sakit, dan keterikatan, ritual-ritual menciptakan suatu kesatuan yang menyeluruh, yang jauh lebih kuat jika dibandingkan gabungan semua bagiannya. Sifatnya sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh, membuat ritual-ritual sanggup menguasai pikiran-pikiran masing-masing orang yang memang sudah siap untuk percaya, lalu membuat pikiran-pikiran itu saling mengisi, memperkaya dan memperkuat terus-menerus. Dari situ, terciptalah suatu gabungan kekuatan-kekuatan sadar dan kekuatan-kekuatan tidak sadar yang terus-menerus mudah berubah. … Meskipun para moyang kita tidak memiliki pengetahuan tentang kimia neural dalam otak kita, mereka secara kebetulan menggabung berbagai aktivitas yang dapat merangsang dan meningkatkan serotonin, dopamin, epinefrin, norepinefrin, oxytocin, dan endorfin, alhasil terciptalah aktivitas otak yang khas yang muncul dari penggabungan itu. Itulah kunci untuk memahami tempat yang abadi bagi ritual-ritual di dalam semua kebudayaan berhubung, secara harfiah, tidak ada hal lain apapun yang menyamai ritual-ritual. … Ritual-ritual keagamaan yang diinvensi oleh para moyang kita mengendalikan kimia kita dengan satu cara insani yang unik, yang mengikat orang-orang jadi satu dan membantu terbentuknya ikatan-ikatan sosial.”/32/
Dus, ketika para ateis dalam gerakan New Atheism setiap hari menyerang agama-agama dan orang beragama dengan keras, agresif dan barbar, dengan kalap dan penuh kemarahan, ini adalah sebuah tindakan ritual mereka. Lewat serangan keras terhadap dunia agama-agama, para ateis sesungguhnya sedang melakukan ritual katarsis psikologis yang membuat mereka mengalami kelegaan besar sementara mereka terus-menerus diperhadapkan pada fakta kuatnya agama-agama mempengaruhi alam pemikiran dan alam batiniah manusia di zaman modern. Fakta inilah juga yang menjadi salah satu sumber New Atheism menjadi sebuah ideologi kemarahan dan pemberontakan.

Dengan buku The God Delusion karya Dawkins yang berfungsi sebagai sebuah kitab suci, dan dengan buku Letter to A Christian Nation yang ditulis Sam Harris yang berfungsi sebagai sebuah surat edaran suci pertama, maka makin lengkaplah unsur-unsur keagamaan yang ada di dalam ideologi New Atheism. Bagi saya, New Atheism juga punya nabi-nabi perdana, yakni Sam Harris, Richard Dawkins, mendiang Christopher Hitchens, dan Daniel Dennett; dan kini juga harus ditambah dengan Prof. Lawrence M. Krauss, dan Bill Maher yang menyatakan bahwa “agama adalah suatu penyakit yang merusak sel-sel saraf otak” (“religion is a neurological disorder”).

Anda tentu bisa menemukan sejumlah unsur keagamaan lain dalam New Atheism, yang akan membuat anda tidak ragu lagi untuk menyatakan bahwa New Atheism sesungguhnya juga sebuah agama. Temukanlah, tanpa perlu bantuan saya. Tetapi jika anda tidak mau berlelah-lelah mendekonstruksi New Atheism sebagai sebuah agama, tidak masalah. Dalam sebuah tulisan saya yang lain, saya sudah ajukan sebuah analisis sosiologis ringkas yang memperlihatkan bahwa New Atheism adalah sebuah agama juga. Bacalah./33/

Terperangahkah anda? Tapi itu belum semua kisahnya. Masih ada sebuah cerita lain yang harus kita dengarkan dengan baik, karena kisah lanjutan ini mendebarkan hati. 


Metafora-metafora keagamaan 

Kita tahu dengan sangat pasti bahwa agama-agama memakai banyak metafora untuk menggambarkan berbagai hal untuk disampaikan kepada umat. Metafora adalah suatu medium linguistik kultural yang dipakai manusia untuk mengekspresikan dalam bahasa insani sehari-hari hal-hal yang tidak dapat diekspresikan (inexpressible) atau tidak dapat dipahami (inexplicable) supaya kebanyakan orang dapat menangkap dan memahami hal-hal ini. Metafora berasal dari dua kata Yunani “meta” yang berarti melintasi batas, pergi atau bergerak dari satu kawasan ke kawasan lain, dan “ferein” yang berarti pindah atau membawa.

Dengan demikian, metafora membawa kita dari satu kawasan ke kawasan lain, dan memungkinkan kita menyeberangi atau melintasi batas-batas, sehingga kawasan-kawasan lain itu terbuka, tidak tertutup, untuk kita. Tanpa metafora, kawasan-kawasan lain itu, sebaliknya, akan tertutup bagi kita./34/ Yesus dari Nazareth, juga Gautama Buddha, para guru Zen, dan banyak lagi sosok agung zaman lampau, memakai banyak metafora dalam menyampaikan keyakinan-keyakinan mereka mengenai kehidupan dan hal-hal lain yang melampaui dunia sehari-hari, dunia transenden.

Para saintis, dalam dunia sains, kerap juga menemukan hal-hal yang belum mereka pahami benar atau yang belum dapat diungkap dengan gamblang dan jelas lewat metode sains. Dalam situasi ini, para saintis memakai metafora, misalnya metafora “energi gelap” (dark energy) atau metafora “materi gelap” (dark matter). Begitu juga, “the big bang”, dentuman besar, adalah sebuah metafora dalam kosmologi modern yang menggambarkan secara metaforis bagaimana jagat raya ini pada awalnya tercipta.

Untuk menggambarkan bagaimana dunia atau jagat raya ini bekerja, Descartes pernah memakai metafora “mesin”. Kata Descartes, “Saya menggambarkan Bumi ini beserta seluruh alam semesta yang kelihatan seolah-olah ini adalah sebuah mesin.” Metafora mesin ini juga dipakai dalam fisika klasik untuk tujuan yang sama.

Begitu juga, metafora “balon” yang permukaannya terus mengembang saat ditiup dipakai sebagai metafora untuk menjelaskan jagat raya yang sudah diketahui terus mengembang dengan makin cepat.

Dalam teori relativitas umum, Albert Einstein secara metaforis menggambarkan dimensi ruangwaktu (spacetime) membentuk “baskom” atau “cerukan” atau “lengkungan” (warpage) karena pengaruh kuat benda-benda massif, sebuah planet misalnya. Baskom atau cerukan atau lengkungan ini otomatis menarik benda-benda lain yang ada di sekitarnya ke dalamnya, bak aliran banjir mengalir deras ke sebuah danau yang dalam dan luas―tarikan inilah forsa gravitasi.

Dalam teori dawai (string theory), atom-atom tidak dipandang berbentuk poin-poin atau butir-butir, melainkan digambarkan secara metaforis sebagai “dawai-dawai yang bergetar”.

Ateis militan yang dikenal sebagai biolog evolusioner, Richard Dawkins, juga memakai metafora “selfish gene” atau “gen yang serakah” saat menjelaskan relasi “survival of the fittest” dengan gen manusia.

Nah, ditinjau dari sudut jenis sastra (literary genre) metafora juga dipakai saat para penulis kitab-kitab suci mau menggambarkan sosok diri Allah. Jadi, Allah adalah juga sebuah metafora yang dapat dengan kaya raya dan kreatif menggambarkan dunia transenden yang inexpressible atau inexplicable. Penulis, dosen dan pakar mitologi kebangsaan Amerika, Joseph Campbell (1904-1987), menulis, “Allah adalah sebuah metafora untuk suatu misteri yang sepenuhnya mentransendir semua kategori pemikiran manusia, bahkan kategori ada dan non-ada. Sesimpel itu saja.”/35/

Tahukah anda bahwa apa yang dinyatakan Campbell ini herannya bisa juga diterapkan pada “dunia” mekanika quantum, khususnya pada apa yang dinamakan “partikel-partikel virtual” yang eksistensinya ada di antara ada dan non-ada; dan juga pada sesuatu yang mengawali asal-usul jagat raya dalam pemahaman kosmologi modern, bahwa jagat raya tercipta lewat kondisi awal “vacuum state”, keadaan vakum, yang segera disusul dengan “fluktuasi quantum” di momen-momen terawal big bang. Di saat-saat terawal kosmik itu, realitas itu harus dikatakan ada di antara “ada dan non-ada”.

Tentu saja saya harus mengingatkan anda dengan wanti-wanti untuk tidak mengubah teologi menjadi fisika, atau sebaliknya. Saya hanya melihat metafora-metafora juga diperlukan saat kita sedang memikirkan mekanika quantum dan asal-usul jagat raya. Itu saja. Puisi, misalnya, adalah sebuah metafora. Ketahuilah, fsikawan Denmark penerima Nobel fisika di tahun 1922, Niels Bohr, mengatakan, “Harus jelas buat kita bahwa saat mendatangi atom-atom, bahasa dapat digunakan hanya seperti dalam puisi. Sang penyair tidak peduli dalam menggambarkan fakta-fakta, melainkan hanya mau menciptakan gambar-gambar dan membangun koneksi-koneksi mental.”/36/

Ada sangat banyak metafora tentang sosok Allah dalam berbagai kitab suci kuno. Ada metafora yang baik, dan ada juga yang tidak baik, saat mereka menggambarkan sosok Allah secara metaforis. Orang yang cerdas dan bijaksana tentu akan mengambil hanya metafora yang baik, dan melepaskan metafora yang tidak baik.

Nah, kalau Allah adalah sebuah metafora yang kreatif, apakah anda bisa membuktikan atau tidak membuktikan sebuah metafora? Jika anda bisa, beritahu saya metodenya. If god is a metaphor, can you prove or disprove a metaphor? If you can, show me the method. 

Metafora juga menjelma dalam banyak wujud karya kesenian dan kebudayaan: lukisan, puisi, pantun, sanjak, tarian, novel, mitos, seni pahat, madah, musik, film, folklore, kisah-kisah fiktif, dan seterusnya. Nah, jika sebuah puisi itu sebuah metafora, bagaimana membuktikan atau tidak membuktikan sebuah puisi? Bisakah anda? Juga, bisakah anda membuktikan keindahan sebuah lukisan? Can you prove or disprove the beauty of a painting, a piece of music, a poem, a dance? Jika anda bisa, beri saya metodenya.

Nah, jika Allah juga sebuah metafora, bagaimana melakukan verifikasi atau falsifikasi Allah sebagai sebuah metafora? Bisakah anda? Jika bisa, saya ingin tahu metodenya.
  
Metafora itu hanya bisa dinikmati, keindahannya, kedalamannya, impresinya, imajinasinya, daya gugahnya, daya tariknya, dampak moralnya, dampak emosionalnya, pada pikiran dan batin manusia, dan dampak sosial-politiknya dalam masyarakat, tetapi sama sekali tidak bisa di-prove atau di-disprove lewat teleskop atau mikroskop atau lewat perhitungan matematis atau lewat uji coba di Large Hadron Collider.

Dalam dunia agama-agama, metafora itu berada dalam dunia nilai-nilai (moral, kognitif, afektif, estetik, artistik), tidak bisa di-prove atau di-disprove secara empiris, melainkan hanya bisa dihayati dalam berbagai cita rasa kognitif, psiko-motorik dan afektif yang berbeda dari orang yang satu ke orang yang lain. Kita, berdasarkan pertimbangan tertentu, hanya bisa menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap, atau terkesan atau malah dibuat bosan oleh, nilai-nilai yang disampaikan oleh berbagai metafora keagamaan.    

Jadi, pesan saya, daripada kaum ateis terus-menerus terjebak dalam debat ontologis tentang apakah Allah ada atau tidak ada, lebih baik mereka ikut merasa bahagia jika seorang beragama menjadi berbahagia, gembira, riang, baik hati, tegar, kuat, optimistik, murah hati, bersahabat, karena metafora Allah yang dipegangnya. Kenapa harus menyerang si saleh yang semacam ini? Kenapa dia harus dimusuhi, bukan disayangi?

Paling bagus jika orang ateis terlibat dalam usaha-usaha ikut mencerdaskan orang beragama daripada mencerca mereka terus-menerus. Didik dan cerdaskanlah mereka dengan lemah-lembut untuk akhirnya bisa memahami, misalnya, bahwa kitab-kitab suci mereka memuat banyak sekali metafora teologis. Tajamkanlah pandangan mereka sehingga mereka bisa melihat bahwa ada metafora teologis yang baik yang perlu dihayati dan ada juga metafora teologis yang buruk yang harus dijauhi. Semakin banyak orang beragama yang cerdas dan arif, akan semakin baik dunia ini. Ingatlah, ada 4 milyar orang dewasa beragama sekarang ini. Jika kaum ateis mau mengubah dunia, tapi mengabaikan 4 milyar anak manusia ini, mereka jelas tidak bijaksana dan tidak strategis, dan bermata rabun.

Selanjutnya, ini anjuran saya. Jika anda menemukan ada banyak kekerasan yang dilakukan orang beragama, kupaslah dengan bermartabat, santun dan cerdas metafora-metafora Allah yang bagaimanakah yang telah mendorong mereka untuk melakukan kekerasan. Perlihatkan kepada mereka ada metafora-metafora teologis alternatif, yang akan mendorong mereka melakukan banyak kebajikan ketimbang kekerasan. Fokuslah pada fungsi-fungsi sosial agama, dan tinggalkan debat ontologis yang tidak pernah berakhir mengenai ada atau tidak adanya Allah, debat yang juga tidak ada manfaatnya, selain menimbulkan perkelahian wacana dan kebencian.

Perlu anda ketahui, sebagus apapun proposisi-proposisi logis filosofis yang anda kembangkan dalam ontologi anda, jika proposisi-proposisi ini tidak didukung fakta-fakta empiris, tidak science-based, proposisi-proposisi ini tetap tidak valid.

Saya doakan kalangan ateis teman-teman saya tidak terkerangkeng dalam penjara ideologi mereka sendiri. Bentuk doa saya adalah membangun dalam pikiran saya rasa cinta terus-menerus terhadap gagasan-gagasan yang bagus untuk umat manusia, misalnya gagasan tentang persaudaraan dan perdamaian sejagat, gagasan tentang harmoni manusia dengan sesamanya dan dengan alam dan dengan semua organisme.

Lepas dari Allah ada atau tidak ada, setiap doa punya dampak pada diri si pendoa dan pada diri orang yang didoakan. Saat anda sedang bermasalah, lalu anda berdoa, doa anda bisa membuat anda tabah. Saat seseorang mendengarkan sebuah doa yang diucapkan untuk dirinya, orang yang didoakan ini bisa terhibur dan dikuatkan karena ada orang lain yang peduli kepadanya dan mencintainya, meskipun penyakitnya tidak disembuhkan. Kata Lao Tzu, “Anda menjadi kuat saat anda tahu ada orang yang sangat mencintai anda; dan saat anda mencintai orang lain sepenuh hati, anda mendapatkan keberanian”.

Doa dan juga meditasi adalah media untuk meneruskan hawa positif ke dalam masyarakat, hawa cinta dan kepedulian. Saya melakukan keduanya dengan happy. Tidak usahlah orang yang berdoa dan bermeditasi dikecam juga. Gantilah kecaman dengan berkat.



Sebuah metafora Hindu yang akbar....

Ada baiknya saya ajak anda untuk memandang gambar di atas dengan lembut. Ini gambar seorang dewa kanak-kanak akbar dalam Hinduisme. Ini sebuah metafora teologis yang agung dan memukau. Cari tahu, siapa nama sang dewa kanak-kanak ini, yang sedang mengapung pada sehelai daun banyan sambil menghisap jempol kaki kanannya di permukaan air pralaya yang sedang bergolak. Kisah tentang sang dewa kanak-kanak ini sudah saya baca dengan tekun dan dengan bergairah. Kisahnya menggerakkan hati. Can you prove or disprove empirically this impressive metaphor? Or should you? 

Saya menikmati metafora ini, dan merasa makin damai dalam batin saat memandangnya lama-lama. Itulah ajaibnya dunia metafora, tidak diperdebatkan, tapi dinikmati, dihayati dan dirasakan. Ya, sudah pasti, orang ateis tidak akan mengalami apa yang sedang saya alami ini, karena hidup mereka, patut disayangkan, telah begitu kering, sampai-sampai metafora teologis yang bagus pun mereka buang, tendang, hadang, benci dan caci.

Tentu saja anda tidak perlu menjadi seorang Hindu untuk dapat menimba kekuatan metafora akbar ini; anda cukup menjadi seorang pecinta dan penafsir lukisan yang cerdas, berwawasan, kreatif dan lembut hati saja. Tidaklah normal jika orang ateis berpikir bahwa metafora indah sang dewa kanak-kanak ini akan menjadikan orang kejam dan suka kekerasan. 



Sebuah metafora Kristen-Hindu yang luar biasa....

Sekarang metafora yang kedua. Pandanglah gambar kristologis di atas. Yesus Lakshmi bertangan empat, berhati suci dan bermahkota duri, dan lingkaran halo tanda kesucian melingkari kepalanya. Ini adalah sebuah metafora kristologis yang hebat, kreatif dan menakjubkan, menggabung sudut pandang Kristen dan sudut pandang Hindu. Hanya orang ateis yang meminta metafora kristologis ini dibuktikan secara empiris ada dalam dunia real. Saya tidak bisa dan tidak perlu membuktikannya, tetapi saya bisa menikmati metafora ini dalam-dalam. Jika anda bukan ateis, sikap dan pandangan anda akan lain.

Mari kita nikmati dan rasakan metafora ini. Yesus selalu mampu mengulurkan tangannya untuk menolong. Tangannya tidak pernah habis terpakai. Anda yang percaya kepada Yesus, haruslah selalu bisa tabah dan tenang saat anda sedang mengalami banyak persoalan berat.

Begitu juga, anda tidak perlu menjadi teis (Kristen atau Hindu) untuk dapat menarik kekuatan metafora hebat ini; cukup anda menjadi seorang pecinta dan penafsir lukisan yang kreatif, cerdas, berwawasan dan lembut hati saja. Juga adalah abnormal jika orang ateis menyatakan bahwa metafora kristologis yang mengherankan ini akan mendorong orang Kristen (dan umat Hindu) untuk melakukan tindak kekerasan.   


Mentalitas Religiofobik 

Dengan menggunakan pisau bedah kritik ideologis, seorang mahasiswa yang berbasis di Kanada menyimpulkan bahwa para penggerak “the New Atheism” (antara lain Sam Harris, Christopher Hitchens, Richard Dawkins) sama sekali bukan para intelektual yang bebas, tetapi sedang terpenjara sangat kuat dalam penjara Islamofobia atau secara umum dalam penjara religiofobia, dan mereka adalah budak-budak kapitalisme global dan kepentingan-kepentingan militerisme dan politik luar negeri Amerika dan sekutunya./37/ Tentu saja ini adalah suatu serangan keras terhadap mereka; tapi hemat saya, serangan ini sama sekali tidak mengejutkan, sebab setiap gerakan keagamaan apapun (entah fundamentalis atau liberal sekalipun) atau setiap gerakan anti-keagamaan (seperti “the New Atheism”) memang selalu membutuhkan “sesuatu” untuk tempat mereka mencantolkan diri demi mendapatkan sumber-sumber dana dan pengaruh politik global. Gerakan keagamaan atau gerakan antikeagamaan apapun tidak pernah mengapung di udara kosong!

Para ateis yang religiofobik itu selalu berusaha menemukan kaitan apapun antara berbagai bentuk kejahatan dan kekerasan dalam dunia ini dengan agama-agama; dus, bagi mereka, agama-agama adalah sumber satu-satunya bagi segala hal yang jahat, keras, brutal, dan merusak dalam dunia ini. Pendapat para ateis yang religiofobik ini dengan bagus diperlihatkan keliru oleh William T. Cavanaugh dalam bukunya The Myth of Religious Violence (terbit 2009).

Menurut Cavanaugh, menuduh agama-agama sebagai satu-satunya sumber atau penyebab bagi kekerasan dan tindakan-tindakan teror adalah sebuah mitos berbahaya yang dibangun oleh masyarakat-masyarakat liberal dan negara-negara sekular. Baginya, negara-negara sekular yang liberal, yang didukung dan ditiru oleh rakyat negara-negara itu, juga melakukan kekerasan dan teror dalam nama nilai-nilai liberal yang anti-keagamaan atau nilai-nilai sekular. Cavanaugh menunjang pendapatnya ini dengan kajian-kajian sejarah yang luas dan menyeluruh./38/ Jadi, ateisme yang sekular, bagaimanapun juga, dapat dan harus dilihat sebagai sebuah sumber kekerasan dan aksi-aksi teror.

Kita semua tentu mengenal pakar linguistik, filsuf, dan aktivis politis yang sangat ditakuti oleh pemerintah Amerika Serikat, yang dilahirkan 7 Desember 1928 di Philadelphia, Amerika Serikat, Noam Chomsky. Meskipun sudah gaek, Chomsky masih terus bersuara tajam menentang banyak kebijakan politis dan militer pemerintahnya sendiri.

Baru-baru ini, dalam suatu wawancara yang diadakan oleh Isabelle Kumar, yang diterbitkan online 17 April 2015 dalam Euronews, Chomsky menyatakan bahwa Amerika Serikat, lewat kampanye drone, adalah teroris terbesar dunia. Seutuhnya pernyataannya ini saya kutipkan, “Ingatlah bahwa kampanye teroris terburuk di dalam dunia masa kini niscaya adalah kampanye yang diorganisir di Washington. Itu adalah kampanye pembunuhan global [lewat kampanye drone]. Sebelumnya, tidak pernah ada suatu kampanye teroris yang berskala luas seperti itu.”/39/ Pada 30 April 2015, bersama istri, saya menonton film yang berjudul Good Kill di sebuah bioskop di Mall of Indonesia, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Indonesia. Film ini (yang diklaim sebagai “true story”) menggambarkan dengan sangat real apa yang Chomsky sebut kampanye drone sebagai sebuah metode pembunuhan berskala global yang dijalankan Amerika Serikat.

Sebaliknya, Jason Torpy menyatakan bahwa “melaksanakan sebuah misi militer yang dipandang ‘adil dan benar’ (‘just’) dengan menggunakan sebuah drone jauh lebih efisien.... Dalam suatu perang yang adil dan benar, kita dapat secara moral diwajibkan untuk menggunakan drone sebagai sebuah pilihan pertama dan yang paling umum, alih-alih memakai pilot-pilot sebagaimana biasanya atau menurunkan pasukan darat.”/40/ Persoalannya adalah siapa yang harus mendefinisikan atau menentukan kriteria “perang yang adil dan benar”!  

Tetapi adalah juga benar bahwa penggunaan teknologi drone dan GPS dan rudal dalam memerangi para pelaku teror di manapun “jauh lebih efisien” sebab tidak menimbulkan korban yang tidak perlu dari penduduk sipil, dari para pilot pesawat tempur dan dari pasukan darat sejauh operasi drone ini dilaksanakan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, dan para pelaku teror (individual atau negara) tidak memakai kanak-kanak dan kaum perempuan sebagai tameng tubuh mereka kemanapun mereka pergi atau di manapun mereka berada. Jadi, jika teknologi drone ini ditolak dan dikecam Chomsky, seyogianya sang filsuf gaek ini mampu memberi alternatif yang sama efisiennya jika dia sepakat bahwa terorisme adalah suatu kejahatan yang harus diperangi. Nyatanya, Chomsky tidak kelihatan telah menemukan alternatif ini.    

Saya masih harus menyatakan sesuatu yang pasti akan membuat anda tercengang. Bagi saya, ada religifobia yang agung, a noble religiophobia, yakni perlawanan, penentangan dan ketidaksukaan bahkan kemarahan kita terhadap agama-agama yang dipraktekkan oleh para radikal religius semacam ISIS dan yang sejenis. Ini adalah Islamofobia yang luhur. Juga ada religiofilia yang buruk dan jahat, yakni cinta, dukungan dan keberpihakan orang pada para radikalis religius yang untuk mencapai tujuan-tujuan politik mereka, mereka melakukan aksi-aksi teror. Terkait dengan para Muslim ekstrimis religius, ini adalah Islamofilia yang buruk, jahat dan tidak waras.

Sebaliknya, cinta, dukungan dan keberpihakan pada agama Islam seperti yang diperjuangkan Gus Dur dkk dan juga oleh Presiden Joko Widodo, yakni Islam ramah, Islam kasih sayang, Islam Nusantara yang toleran, inklusif, gembira, dan terbuka pada kemajuan dan pembaruan, adalah Islamofilia yang luhur dan akbar. 


“The Dawkins Delusion” 

Kebencian terhadap agama, atau religiofobia, sangat kentara menjajah dan mengendalikan pikiran dan hati semua ateis dalam gerakan New Atheism. Saya melihat akar-akar keadaan mental yang patologis neurotis ini dapat ditemukan mula-mula dalam pendapat pakar biologi evolusioner ateis keras kebangsaan Inggris Prof. Richard Dawkins bahwa agama-agama adalah suatu penyakit yang timbul karena “virus-virus mental” telah menyerang pikiran manusia.  

Virus ini hanya perlu menyebar, menjadi epidemi, dan memperbodoh orang karena membuat mereka tidak memerlukan bukti apapun bagi semua kepercayaan keagamaan mereka. Pendapat Dawkins ini (yang mengambil analogi dari virus-virus komputer di era akhir 1980-an dan di awal 1990-an) yang tidak ditopang oleh kajian ilmiah apapun yang dapat menemukan “virus-virus agama” dalam otak manusia, dituangkan Dawkins dalam artikelnya yang berjudul “Viruses of the Mind”, yang ditulisnya tahun 1991. Katanya, anda sudah tertular virus pikiran ini sejak anda dilahirkan. Tulisnya,
“Jika anda memiliki suatu iman/kepercayaan, secara statistikal sangatlah mungkin bahwa iman anda ini adalah juga iman orangtua anda atau iman kakek dan nenek anda. Tentu katedral-katedral yang menjulang tinggi, musik-musik gereja yang menggugah perasaan, kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan yang menggerakkan hati, sedikit membantu. Tetapi jelaslah bahwa variabel terpenting yang menentukan agama anda adalah peristiwa kelahiran anda. Keyakinan-keyakinan yang dengan bergelora anda percayai akan berbeda dan bertentangan sama sekali seandainya anda dilahirkan di suatu tempat yang berbeda. Jadi, yang ada adalah epidemiologi, bukan bukti-bukti.”/41/
Christopher Hitchens melanjutkan “meme” yang sudah disebar Dawkins, yaitu idenya bahwa agama adalah suatu virus pikiran yang menimbulkan penyakit mental pada manusia. Bagi Hitchens, agama bukan hanya suatu virus, tetapi juga racun. Dalam tayangan pendek di liveleak.com, Hitchens menegaskan bahwa “agama meracuni segala sesuatu” dan “menginfeksi kita sampai ke integritas kita yang paling dasar.” “Bagiku, agama itu jahat” dan “aku bertempur melawan kedunguan yang paling buruk ini!”/42/

Dalam bukunya yang berjudul mengerikan God Is Not Great: How Religion Poisons Everything (terbit 2007), Hitchens dengan gaya jurnalistik yang serba semberono berusaha menunjukkan bahwa semua kebiadaban manusia punya hanya satu sumber, yakni agama. Baginya, agama sedang meracuni segala sesuatu dalam dunia ini. Dalam bab dua bukunya ini yang diberi judul “Religion Kills” (hlm. 15-36), ketika membeberkan sejumlah peristiwa biadab di sejumlah tempat, kota dan negara, dia menyatakan bahwa semua “kebiadaban itu diinspirasi oleh agama.” Lalu katanya dengan yakin bahwa “agama meracuni segala sesuatu. Dan sebagai suatu bahaya juga, agama telah menjadi sebuah ancaman bagi ketahanan kehidupan manusia.”/43/

Dalam seluruh buku God Is Not Great, jelas sekali Hitchens mengumbar habis ketidaksenangan dan kebenciannya terhadap agama. Dia sama sekali tidak bisa toleran terhadap orang-orang beragama. Dia banyak menggambarkan dan menilai agama-agama sesuai dengan ketidaksenangan dan permusuhannya itu. Dia sebetulnya hanya membangun dan mempertahankan Straw Man Fallacy: berperang dengan ide-idenya sendiri yang dibangunnya sendiri tentang agama-agama. Satu contoh saja. Dia menilai kepercayaan keagamaan terhadap sang Pencipta yang telah menciptakan manusia lalu memelihara dan mempedulikan mereka, serta memberi mereka petunjuk-petunjuk tentang bagaimana hidup dengan benar, adalah suatu kepercayaan yang “tidak membuat para penganutnya berbahagia” (hlm. 15-16).  

Dari mana Hitchens tahu hal itu? Tidak ada sebuah survei global tentang ini yang sudah dilakukannya. Sebaliknya, saya puluhan tahun telah melihat dengan mata sendiri bahwa sangat banyak orang yang berbahagia karena beragama, dan menjadi stres ketika menjauh dari agama. Di lain pihak, para neurosaintis sudah menemukan sekaligus fungsi positif dan fungsi negatif agama-agama bagi kehidupan mental manusia. Lobus frontalis dan anterior cingulate dalam organ otak kita memproduksi agama ramah dan cerdas; sebaliknya, amygdala dalam sistim limbik otak kita menciptakan agama amarah dan bodoh!

Tentang etika, Hitchens membuat sebuah pernyataan yang, pada satu sisi, kelihatan hebat, tetapi, pada sisi lainnya, sangat kerdil. Tulisnya,
“Kami [para ateis] percaya dengan pasti bahwa suatu kehidupan yang etis dapat dijalani tanpa agama…. Hal yang lebih penting dari semua hal lainnya, mungkin, adalah bahwa kami para kafir tidak memerlukan mekanisme hadiah atau ganjaran apapun…. Kami para ateis tidak memerlukan para imam, atau hierarki apapun di atas mereka, untuk menjadi para polisi yang akan mengawasi doktrin-doktrin kami. Kami jijik terhadap kurban-kurban dan upacara-upacara keagamaan, begitu juga terhadap relik-relik dan penyembahan terhadap gambar-gambar atau objek-objek apapun (bahkan termasuk … kitab-kitab yang dijilid). Bagi kami tidak ada tempat di muka Bumi yang lebih, atau dapat lebih, ‘suci’ dibandingkan tempat-tempat lainnya.” (hlm. 6)
Ya, semua orang tahu, etika atau akhlak atau moralitas bersumber tidak hanya pada kitab-kitab suci atau hanya pada ajaran-ajaran agama. Banyak hal dalam alam ini yang bisa memberi manusia petunjuk-petunjuk tentang kearifan moral. Dari kawanan semut cilik kita, manusia, dapat belajar bagaimana membangun pergaulan sosial dan mempersiapkan masa depan. Dari kawanan lebah yang sedang menerjang, manusia zaman kuno belajar tentang teknik menyerang musuh. Tentu saja, ilmu pengetahuan, seperti sudah saya beberkan dalam sebuah tulisan saya yang lain,/44/ memberi kita banyak nilai kehidupan yang agung.

Tetapi yang saya lihat sebagai suatu persoalan besar pada “etika sekular” yang dianut Hitchens adalah etikanya ini tidak menjadikannya seorang manusia ateis yang toleran. Etika sosial sekular Hitchens sangat anti-toleransi, sama sepenuhnya dengan tuduhannya yang jauh dari kenyataan yang lebih umum bahwa agama-agama tidak akan mungkin membangun “koeksistensi di antara kepercayaan-kepercayaan yang berbeda.” (hlm. 17)

Bukunya God Is Not Great dengan jelas juga memperlihatkan bahwa religiofobia yang menjajah dan mengendalikan Hitchens bisa ditemukan akar-akarnya dalam kehidupannya di saat dia remaja, berumur sembilan tahun, ketika sedang bersekolah di Dartmoor, Inggris. Dia waktu itu mempunyai seorang guru perempuan setengah baya, yang mengajar ilmu alam dan juga kitab suci Kristen. Nama sang guru Jean Watts. Tentang Nyonya Watts, meskipun Hitchens mengakuinya penyabar, dengan sangat keras Hichens, pada sisi lain, menulis begini:
“Jika Setan telah memilihnya untuk mencobai aku supaya aku berbuat salah, dia jauh lebih cerdik dibandingkan sang ular yang berakal licik di Taman Eden. Dia tidak pernah membentak keras atau mengancam dengan kekerasan…. Namun, sejujurnya aku merasa jijik dengan apa yang dia telah ajarkan. Sendal kecilku yang bertali, yang mengikat pergelangan kakiku, menjadi tertekuk saat aku dibuat jengkel olehnya.” (hlm.2)
Itukah etika sekular seorang ateis Hitchens, yang sama sekali tidak bisa berterimakasih kepada gurunya yang mendidiknya semasa remaja? Remaja Hitchens melihat dirinya korban indoktrinasi sang guru. Tidak ada hal yang baik apapun pada sang guru, yang olehnya dengan sangat kejam dipandangnya sebagai kaki tangan Setan. Mentalitas sebagai korban inilah yang membuat Hitchens terus membenci dan menyerang agama-agama hingga dia dewasa bahkan hingga dia wafat (15 Desember 2011; lahir 13 April 1949). Buku God Is Not Great sesungguhnya adalah sebuah litani panjang kemarahannya terhadap segala hal yang berkaitan dengan agama-agama. Hitchens memang patut dikasihani, bukan dikagumi. Perkenankan saya, tanpa seizin Hitchens dari makamnya, mengganti judul bukunya menjadi Hitchens Is Not Great.     

Ross Douthat telah menulis sebuah resensi yang bagus atas buku Hitchens ini./45/ Douthat menyatakan bahwa “mungkin orang harus bersyukur ketika Hitchens mengutip pakar-pakar yang otoritatif, berhubung prosanya yang licik terus-menerus terburu-buru bermuara pada ejekan dan menghindari argumen-argumen, dan kadangkala fakta-fakta juga dilewati begitu saja.” Douthat dengan jeli melihat bahwa Hitchens sangat tidak seimbang dalam menafsirkan fakta-fakta. Oleh Hitchens, semua kebiadaban manusia dipandang bersumber hanya pada agama. Douthat menulis, 
“Setiap buku memiliki kesalahan-kesalahan, tentu saja, tetapi sedikit buku sangat tendensius dalam penafsiran atas fakta-fakta yang seyogianya disajikan dengan benar oleh para penulisnya. Seperti seorang Kristen yang sangat fanatik yang mencari hal apapun dalam teks-teks pagan yang dapat ditafsirkan sebagai pertanda kedatangan sang Kristus, Hitchens menjelajahi catatan-catatan tentang tindakan-tindakan biadab manusia hanya untuk menemukan petunjuk apapun bahwa tindakan-tindakan ini telah dimotivasi oleh kesalehan, ramalan kenabian, atau dogma. Jika ada korban-korban, dan jika ada tirani yang mapan, maka semua ini―jika anda percaya pada sejarah kekerasan yang berpusat pada Allah, yang diyakini Hitchens―bagaimanapun juga, menurutnya, berakar pada agama. Jelas, pendapat Hitchens ini sulit diterima, berhubung jika kita membaca sejarah sepintas saja, kita akan menemukan bahwa kesetiaan kepada kaum kerabat seseorang, suku bangsa seseorang, dan negara seseorang―belum lagi kalau berbagai ideologi politis disebut―telah setidaknya menyulut sangat banyak kekerasan, sama banyak dengan yang ditimbulkan oleh perdebatan teologis apapun.”
Pendapat-pendapat Dawkins dan Hitchens (dan juga Daniel Dennett) diambilalih dan dijabarkan dengan lebih terperinci dan programatis oleh Darrel W. Ray, yang telah menulis buku yang berjudul The God Virus: How Religion Infects Our Lives and Culture./46/ Buku ini memperlihatkan bagaimana berbagai jenis agama, sebagai “virus-virus Allah” (“the God viruses”), dengan pas menempati dunia alamiah; bagaimana agama-agama berfungsi di dalam pikiran-pikiran dan kebudayaan-kebudayaan kita; dan betapa serupanya agama-agama dengan kuman-kuman, parasit-parasit, dan virus-virus yang mendiami tubuh manusia (hlm. 13).

Kata Ray, agama-agama sebagai virus-virus Allah, telah “menginfeksi otak manusia dan mengubah kemampuan berpikir kritis. Virus ini masih memberi kemungkinan untuk orang bersikap kritis terhadap agama-agama orang lain, tetapi pemikiran kritis menjadi lumpuh ketika berhadapan dengan agama sendiri.” (hlm. 19). Agama-agama sebagai virus-virus Allah tidak hanya masuk ke dalam kebudayaan-kebudayaan, tetapi juga ke dalam ekonomi dan politik. Ray menyatakan bahwa
“Virus Allah menginfeksi suatu kebudayaan sama seperti virus ini menginfeksi individu-individu. Sementara bukan suatu entitas ekonomi atau suatu entitas politis, virus Allah akan dan dapat menggunakan jalur-jalur ekonomi dan politik untuk menyebar ke mana-mana…. Politik dan ekonomi hanyalah sarana-sarana untuk virus ini menyebar.” (hlm. 82)
Uuups, jika demikian halnya, maka, hemat saya, bukan hanya para agamawan yang harus dibebaskan dari virus Allah, tetapi semua pelaku kebudayaan, para pegiat ekonomi dan juga para politikus. Para aktivis sekular, dengan demikian, sama sekali tidak berbeda dari para aktivis keagamaan: dalam otak mereka sudah bercokol virus-virus Allah. Di atas telah saya ungkapkan bahwa dalam otak Dawkins dan dalam alam bawah sadarnya (yang tentu saja tersimpan dalam otak juga) virus Allah masih berdiam dengan anteng.

Untuk bisa bertahan dan terus tersebar, virus-virus Allah terus bermutasi dan membangun strategi-strategi. Ray menulis,
“Virus Allah membangun strategi-strategi untuk bisa bertahan hidup dan tersebar. Virus-virus yang lebih berkembang memiliki benteng-benteng pertahanan diri yang lebih efektif dibandingkan virus-virus lainnya. Alhasil, virus-virus yang lebih berkembang ini akhirnya menguasai virus-virus lain yang kurang berkembang. Virus-virus Allah selalu bermutasi, dan virus-virus jenis baru keluar, meninggalkan bak penampungan, setiap saat.” (hlm. 56).
Karena semua jenis kuman, parasit, bakteri dan virus umumnya menimbulkan penyakit, begitu juga halnya dengan agama-agama sebagai virus-virus Allah. Untuk hidup sehat, manusia harus hidup bebas dari virus. Virus-virus harus tidak dibiarkan menyerang manusia. Manusia harus hidup terbebas dari virus-virus. Kepada para ateis atau non-teis, Ray menyatakan bahwa “bisnis kita bukanlah mengonversi orang ke dalam suatu agama, tetapi kita sungguh-sungguh ingin hidup bebas dari virus” (hlm. 173). Alias, menjadikan dunia tanpa agama apapun, kecuali agama ateisme.

Oleh Ray, virus-virus Allah juga digambarkan sebagai rantai-rantai yang membelenggu manusia. Tulisnya, “Buku saya ini membahas langkah-langkah yang perlu diambil untuk menghancurkan rantai-rantai itu, lewat penemuan bagaimana agama-agama dengan licik bekerja di dalam kebudayaan-kebudayaan dan pikiran-pikiran kita dan dengan mempelajari cara-cara untuk hidup tanpa rantai-rantai itu.” (hlm. 15).

Sementara para ateis dapat hidup bebas dari virus-virus Allah dan mematahkan belenggu-belenggu virus-virus ini, orang yang beragama, para teis, kata Ray, sama sekali tidak dapat. Tulisnya,
“Orang-orang yang memeluk agama-agama tidak dapat membayangkan hidup bebas dari virus. Teror yang mereka rasakan, telah melumpuhkan mereka sehingga mereka tidak dapat mempertimbangkan  cara-cara lain untuk hidup dan menyatakan keberadaan mereka…. Dunia mereka adalah suatu dunia yang nenakutkan dan berbahaya, yang dihuni setan-setan, roh-roh jahat, dewa-dewi, iblis, Yehova atau Allah yang sedang murka yang menuntut pembalasan, dan yang mengancamkan penghukuman abadi bagi setiap orang yang tidak mengikuti virus yang benar.” (hlm. 206)
Dalam bab sepuluh yang diberi judul “The Journey: Living A Virus-Free Life” (hlm. 197 ff), Ray membeberkan langkah-langkah yang harus dijalankan dalam membebaskan dunia dari virus-virus Allah, dari agama-agama, dari Allah, para dewa dan setan-setan. Etika atau moralitas yang disodorkannya juga moralitas yang bebas virus Allah. Setelah segala bidang kehidupan dapat dibebaskan dari virus-virus agama, dan usaha ini kini masih belum tiba di tujuannya, akhirnya “masa depan manusia adalah masa depan yang tidak subur bagi virus-virus Allah.” (hlm. 222).

Kesimpulannya sudah jelas: karena bagi para pendiri gerakan New Atheism agama-agama adalah virus-virus Allah yang mematikan pikiran manusia, dan terus sedang meracuni dan menginfeksi segala sesuatu dalam kehidupan manusia dan dunia ini, maka, tidak ada pilihan lain, selain agama-agama harus dibenci habis-habisan, dan, jika bisa, perlu dibasmi untuk menghentikan epideminya. Pola pikir kalangan New Atheists ini saya namakan The Dawkins Delusion. Religiofobia lahir dari Delusi Dawkins ini. 



Judul buku ini menginspirasi saya untuk menciptakan frasa “Delusi Dawkins”!

Dengan demikian, religiofobia memang harus menjadi kodrat mental para New Atheists. Mengerikan! Ya, mengerikan, karena virus-virus Dawkins dkk dalam gerakan New Atheism juga sedang menginfeksi dan meracuni banyak orang muda dan segala sesuatu dalam dunia ini.  

Karena sudah dikondisikan secara kognitif untuk menjadi religiofobik, para Ateis Baru yang sedang mengidap Delusi Dawkins tidak akan bisa lagi melihat agama-agama dari sudut pandang yang lain, bahwa masih ada banyak kebaikan, kesembuhan, dan pembebasan, yang telah, sedang dan akan terus diwujudkan oleh para agamawan besar dari berbagai agama yang sudah mengalami pencerahan akal, kearifan dan budi pekerti. Agama itu tidak statis, tetapi dinamis, tidak hanya mendiami museum-museum fosil, tetapi juga sedang aktif di dalam banyak laboratorium dalam dunia ini.  

Memang harus diakui, para agamawan yang memilih masuk ke laboratorium agama jauh lebih sedikit ketimbang para agamawan yang betah berdiam dalam museum fosil agama. Kalangan agamawan yang kedua inilah yang sesungguhnya membuat sebagian dunia terpecah-belah dan dipaksa masuk kembali ke era prailmiah dan pramodern, ke zaman kebodohan dan kegelapan, zaman jahiliah.  

Karena terkena Delusi Dawkins ini, para ateis dalam New Atheism hanya bisa mengenakan sebuah kacamata kuda tebal hitam dalam memandang realitas kehidupan keagamaan dalam dunia ini. Mereka hanya bisa melihat lurus ke satu arah, hanya ke warna hitam dunia agama-agama, padahal dalam realitas yang sebenarnya dunia keagamaan itu kaya dengan warna-warni yang sangat mengesankan, seperti halnya pelangi yang muncul di angkasa sehabis hujan.

Jika para agamawan membawa agama-agama mereka ke laboratorium, di sana mereka akan melakukan berbagai usaha keilmuwan untuk membuat agama mereka masing-masing tetap fungsional dalam dunia modern, dengan mengonstruksi versi 2.0 atau versi lebih tinggi agama mereka. 


Mentalitas fidofobik 

Salah seorang rasul dari nabi ateis militan Prof. Richard Dawkins membuat sebuah pernyataan di Facebook, begini: “Jika anda memilih untuk mengabaikan bukti-bukti, maka akhirnya anda akan mempercayai jawaban yang salah apapun yang hanya untuk sementara saja memenuhi keinginan anda untuk mengetahui hal yang tidak diketahui.”

Apakah benar ajaran dari para ateis bahwa kehidupan ini baru patut dijalani kalau segala hal ada buktinya lebih dulu? Apakah percaya atau beriman itu hanya akan menimbulkan kesalahan? Apakah kehidupan yang normal dan lancar itu harus tanpa kepercayaan? Mari kita lihat.

Nyaris kita semua percaya saja bahwa kita masih akan hidup sepanjang 2016 sehingga kita membuat banyak janji ketemu orang di tempat-tempat dan waktu-waktu tertentu dalam kurun 2016. Tidak perlu ada buktinya sekarang tuh. I simply believe that I will be still alive in 2016 so that...!   

Kita percaya saja pesawat terbang yang karcisnya sudah kita beli, nanti, seminggu lagi, akan aman menerbangkan kita ke tempat tujuan dengan selamat. Kita tidak menuntut buktinya sekarang tuh. Jika kita menuntut buktinya detik ini juga, kita akan dibilang gila oleh petugas Garuda. I simply believe that the plane will safely fly us to our destination...! 

Kita sering terima dan percaya saja pembayaran dengan giro jangka tiga bulan dalam transaksi bisnis. Tak perlu ada buktinya sekarang tuh. Malah kalau tidak ada unsur kepercayaan, bisnis kita mungkin sekali sulit maju dan tidak akan berkembang. I simply believe that this cheque is not a blank cheque...! 

Kita percaya begitu saja bahwa Matahari besok pagi akan terbit lagi dan sorenya akan terbenam lagi. Tanpa perlu buktinya detik ini juga tuh. Jika anda tidak percaya, ya minta saja NASA menerbangkan anda dengan kecepatan cahaya menuju Matahari, lalu sesampainya di sana sang Surya anda pegang kuat-kuat lalu menggiringnya untuk terbit lagi besok pagi. I simply believe that tomorrow morning the Sun will rise again...! 

Bahwa kemarin-kemarin sang Matahari telah terbit, dus berarti besok dan seterusnya juga pasti akan terbit seperti biasanya, bukanlah sebuah bukti, melainkan hanya kepercayaan anda saja bahwa masa lalu akan mengulang dirinya di masa depan dengan cara yang sama, karena hukum-hukum fisika yang bekerja masih sama. Ini yang dinamakan determinisme saintifik.

Tetapi oleh mekanika quantum determinisme saintifik kini dibuat tidak mutlak lagi. Di tahun 1927 Werner Heisenberg mengajukan apa yang dinamakan Prinsip Ketidakpastian Heisenberg, yang menyatakan bahwa perilaku partikel-pertikel subatomik dapat diprediksi hanya berdasarkan peringkat probabilitas, tidak bisa dalam peringkat kepastian-kepastian mutlak. Dalam mekanika quantum, pada saat seorang melakukan pengamatan, tindakan mengamati ini sendiri mengubah objek-objek partikel yang sedang diamati ketika Konstanta Planck (“h”) kecil. Jadi, akan selalu ada relasi saling pengaruh antara objek-objek fisika yang diamati, sang fisikawan yang sedang mengamati, dan bagian-bagian lain jagat raya.

Selain itu, mungkin saja terjadi, satu atau dua jam di depan ini sang Matahari kita tiba-tiba saja dilenyapkan oleh sejumlah besar pasukan alien-alien supercerdas dengan teknologi perang mereka yang kedahsyatannya tidak bisa kita bayangkan. Jadi, bahwa sang Matahari akan terbit lagi besok pagi, betul-betul hanya kepercayaan kita, kepercayaan yang berpeluang besar untuk terpenuhi.

Sebagai suami kita percaya begitu saja pada istri kita untuk pergi ke mana mereka suka tanpa memaksa mereka memakai sehelai celana dalam besi yang digembok. Jika anda memaksa istri anda memakai sehelai celana dalam besi yang anda gembok, semua orang akan menyimpulkan bahwa anda punya masalah mental yang berat. I simply believe that my wife/husband is forever faithful to me so that it is unnecessary for me to...!

Sebagai istri kita percaya saja pada suami kita untuk mereka pergi ke manapun mereka suka tanpa memaksa mereka memakai sehelai celana dalam besi yang digembok. Jika anda menggembok alat vital suami anda, pasti anda sedang sakit mental berat.

Kita yang sudah berumahtangga lama, tahu bahwa syarat utama sebuah hubungan asmara bisa langgeng antara pria dan wanita yang sedang berpacaran bukanlah bukti cinta mitra sekarang juga (misalnya, sedia bersetubuh), tetapi kewajiban kedua pihak untuk membangun kepercayaan dan kesetiaan timbal balik. Mutual trust/faithfulness between a man and a woman falling in love one another is the “sine qua non” for ...! 

Kita percaya saja berita telpon gelap bahwa ada sebuah bom yang siap meledak di dalam gedung, lalu kita memerintahkan para petugas satpam untuk menyisir setiap jengkal jalan-jalan dan sudut-sudut dalam semua ruangan. The manager simply believes that the bomb threat delivered by the unknown phone call is very serious that he.... 

Kanak-kanak juga percaya begitu saja bahwa sebotol susu yang diberi ke mereka oleh ibu mereka tidak berisi racun. Mereka langsung sedot tuh susu dalam botol, tanpa ragu. Children simply believe that their mothers always give them milk, not poison, in the bottles to suck.... 

Nyaris semua suami percaya begitu saja bahwa bayi yang baru dilahirkan istri mereka adalah anak mereka sendiri, bukan anak pria tetangga. Tidak ada tuh dalam kondisi normal suami meminta DNA bayi yang baru dilahirkan istrinya dites. All good husbands simply believe that the babies just born by their wives are their genuine babies so that.... 

Anda dapat mendaftarkan masih banyak lagi contoh yang menunjukkan bahwa dalam kehidupan normal, kita juga kerap percaya saja, tanpa minta bukti. Kepercayaan adalah bagian normal dari kehidupan normal kita sehari-hari. Hidup anda menjadi abnormal, susah dan tak akan jalan kalau untuk segala hal anda menuntut pembuktian langsung saat ini dan di tempat ini juga. Kemampuan to believe and to trust sudah ada dalam otak kita sendiri. Jadi, kenapa harus dibuang atas perintah ateisme bodoh?

Orang ateis memang tak normal, dan hidup mereka tak akan jalan, kalau untuk segala hal mereka menuntut pembuktian empiris dulu, baru setelah itu mereka bergerak. Saya membayangkan, jika para ateis mencoba hidup dengan menolak semua bentuk kepercayaan yang sudah saya berikan contoh-contohnya dalam tulisan ini, jujur saja, mereka tidak akan bisa hidup dalam dunia ini. Mereka harus tinggal di sebuah planet lain yang masih kosong sama sekali, mungkin planet Mars cocok. Mereka menderita bukan hanya penyakit mental kebencian mendidih terhadap agama-agama (yang dinamakan religiofobia), tetapi juga menderita kebencian mendidih terhadap semua bentuk kepercayaan (Latin: fidem), yang saya namakan fidofobia. Oh ya, sejauh orang ateis keras sudah tidak bisa percaya pada apapun di luar diri mereka (dan mungkin juga pada diri mereka sendiri), mereka terkena sebuah patologi mental lain yang sudah kita kenal, yakni paranoia.     

Selain itu, para ateis sok bermental ilmiah, padahal para ilmuwan sendiri hidup normal juga dengan acap kali hanya percaya saja dalam kehidupan sehari-hari mereka di luar laboratorium. Pada rak-rak buku-buku mereka, banyak tuh berjejer novel-novel dan fiksi-fiksi, bahkan juga kitab-kitab suci.

Kita umumnya hidup lebih banyak di dunia sehari-hari yang real yang mengharuskan kita kerap memakai kepercayaan saja sehingga kehidupan kita berjalan dengan baik, normal, lancar, gembira dan relaks.

Bukti-bukti itu bukan hal sepele, tetapi penting dan mendasar, khususnya kalau kita masuk ke dunia sains, juga ke dunia hukum. Tetapi kehidupan normal sehari-hari juga membutuhkan banyak kepercayaan. Kepercayaan itu penting, bahkan mendasar, dan bukan hal yang sepele. Dalam banyak situasi, kita kerap melangkah hanya dengan kepercayaan.

Saya ulangi. Saya, dan tentu anda juga, hingga wafat nanti, hanya percaya saja bahwa putra dan putri saya yang sekarang sudah besar adalah darah daging saya sendiri, bukan darah daging seorang pria lain, tanpa perlu saya buktikan lewat tes DNA. Ini normal, bukan?

Mungkin anda yang ateis, setelah membaca paragraf di atas, langsung berpikir untuk segera menguji DNA anak-anak anda untuk mendapatkan bukti-bukti apakah mereka betul-betul keturunan murni anda sendiri. Ok, itu bagus. Buktikan saja, dan kita akan bisa melihat bersama fakta ini: rumah tangga anda akan pada waktunya hancur berantakan. Tak percaya? Ya, buktikan saja. Bukankah anda memang sudah terobsesi pada bukti?

Saya ulangi: Kita hidup normal tidak hanya berdasar bukti, tapi juga banyak kali hanya dengan berdasar kepercayaan saja. Kepercayaan itu penting. Kepercayaan itu agung. Orang yang bisa percaya, itu tanda orang itu punya kepercayaan diri yang besar. Orang itu PD!

Jadi, salah jika para ateis mengharuskan anda hidup dengan mengutamakan bukti empiris sejalan dengan metode sains. Tak seluruh dunia ini laboratorium. Kalau dunia ini seluruhnya laboratorium sains, di mana Dunia Fantasi harus dibangun? Di mana Disneyland harus didirikan? Di mana Six Flags harus dikonstruksi? Di mana Rumah Hantu Jepang harus dibuat?

Dengan demikian, tidak ada yang salah jika anda percaya pada Tuhan, normal saja, sebab kepercayaan adalah bagian dari kehidupan normal kita. Tanpa kepercayaan, hidup anda mungkin sekali akan sarat dengan stres dan depresi.



Hidup hanya berdasar bukti-bukti! Oooh,... malangnya!

Orang ateis itu ibarat orang yang sepanjang hari membawa sebuah kaca pembesar untuk menemukan bukti-bukti, sekecil apapun, di jalan-jalan yang dilewati. Kening mereka terus berkernyit. Jantung terus berdebar kencang. Tekanan darah mereka tinggi. Mata mereka kerap berkunang-kunang. Padahal orang lain di sekitar, terus melangkah dengan riang gembira, lompat-lompatan, bercanda, bermain, tertawa, mulut mengunyah permen karet, sambil saling mendongeng. Sebagian mereka terus berjalan, dengan tertawa senang, menuju sebuah gedung bioskop, membeli karcis, lalu masuk ke ruang pertunjukan, menonton kisah sosok fiktif Doraemon atau Kungfu Panda selama dua jam. Hati gembira, pikiran segar, ketika mereka ramai-ramai keluar, meninggalkan gedung bioskop. Dunia pun ikut tertawa, bahagia. Jangkrik di rerumputan pun ikut bersenandung riang. Semut-semut kecil pun menari lincah kian kemari. Kura-kura pun ikut meramaikan kehidupan dengan mereka mengadakan perlombaan lari cepat!

Jika karena anda percaya dengan tulus kepada Tuhan anda, lalu anda dengan positif berdoa kepadanya, doa anda ini akan berpengaruh positif pada hati dan pikiran anda, lepas dari soal apakah doa ini akan terkabul atau tidak. Doa itu adalah percakapan akrab antara anda dan Tuhan anda sebagai sang orangtua anda yang mencintai anda dan anda cintai. Yang menarik dari setiap percakapan adalah prosesnya.

Tentu ada kepercayaan keagamaan yang bisa tak baik atau bisa salah, sama seperti ada teori sains dan teknologi yang bisa tidak baik atau bisa salah ketika diaplikasikan. Teknik meng-edit DNA (yang dinamakan teknik CRISPR-Cas9) semasa suatu organisme masih sebagai janin, misalnya, yang bisa diarahkan untuk menghasilkan ras manusia eugenik, jika betul-betul dijalankan dengan meluas, akan menimbulkan masalah etis dan politis yang sangat berat dan rumit. Kepercayaan kepada Tuhan yang menimbulkan fanatisme dan radikalisme, jelas kepercayaan yang buruk. Ada teologi yang bagus, dan ada juga teologi yang buruk. Ada teologi yang membangun dunia dan peradaban, ada juga teologi yang merusak dan memunahkan dunia, kehidupan dan peradaban. Ada teologi yang baik, tapi ada juga teologi yang jahat, keji dan brutal.

Jadi, harapan saya, kalau anda mau percaya atau beriman pada Allah yang anda percayai, ya berimanlah dengan agung, yang menghasilkan adikarya dan kebajikan besar. Tunjukkan kepada para ateis, hidup beriman keagamaan anda ceria, membahagiakan, relaks, menenteramkan, membawa kedamaian, menyehatkan dan menghasilkan karya dan kebajikan besar.

Richard Dawkins dkk dalam gerakan New Atheism memandang agama itu virus yang menyerang dan merusak pikiran dan segala sesuatu dalam dunia ini. “The Dawkins Delusion”, itulah sebutan yang saya berikan ke kepercayaan dan pola pikir para New Atheists itu. Tunjukkan bahwa mereka salah besar dan memalukan, lewat iman anda yang akbar kepada Tuhan anda.

Tunjukkan kepada para Ateis Baru yang sedang mengidap Delusi Dawkins bahwa agama anda juga punya power untuk merawat, menguatkan, menyembuhkan dan menyehatkan dunia ini, dan sama sekali bukan virus-virus yang harus dibasmi Dawkins dkk. 


“Cherry-picking” 

Membuang kueh mangkok ke dalam tong sampah, lalu memilih dan membeli kueh lapis, itu ibarat menjadi ateis. Sangat gampang! Tetapi, mengolah kembali kueh mangkok, lalu menjadikannya kueh mangkok versi 2.0, itu sangat sulit. Inilah langkah para agamawan progresif dan liberal dalam dunia agama-agama. Mereka dengan sadar dan cerdas menolak menjadi ateis.



Kueh mangkok aneka warna

Di dunia Muslim Indonesia, Jaringan Islam Liberal (JIL) melangkah ke situ: mengolah kembali kueh mangkok mereka untuk menjadi kueh mangkok versi 2.0 yang diharapkan lezat dimakan dan menyehatkan. Kalau diperlukan, ya mereka juga membuat kueh-kueh mangkok versi 2.0 yang warna-warni. Ini perlu keberanian, ketekunan, keuletan, komitmen, kecerdasan, ilmu pengetahuan, perubahan perspektif, pengorbanan, dan waktu yang panjang.  

“Cherry-picking”, yakni memilah-milah berbagai unsur, lalu mengambil unsur-unsur yang terbaik dan terbagus untuk digunakan, adalah hal yang lumrah dalam nyaris semua bidang kehidupan ini. Jika anda menolak cherry-picking, pilihannya adalah menjatuhkan sebuah pilihan dengan membuta, dungu, dogol, tidak arif, dan tidak cerdas. Anda bodoh, semberono dan dungu jika anda tidak memilah-milah buah cherry, lalu mengambil hanya buah-buah yang bagus dan sehat. Tanpa cherry-picking, anda menjadi tolol, tidak cerdas, gegabah, tidak arif, dan berkacamata kuda tebal hitam, yang tidak memungkinkan anda memandang dan menemukan banyak warna dan alternatif lain yang diberikan dunia ini kepada anda.

Jika anda mau mendapatkan calon suami/istri yang baik, setia, cerdas dan penuh tanggungjawab, ya anda harus melakukan berulangkali cherry-picking dari antara orang-orang yang menjadi teman-teman terdekat anda. Memilih pekerjaan dan profesi, juga cherry-picking. Dalam dunia sains, kita pun semua memilih-milih, mana teori yang bisa diandalkan, dan mana yang sudah tidak bisa.

Tentu ada hal-hal kodrati yang tidak memungkinkan anda melakukan cherry-picking, misalnya anda tidak bisa memilih-milih apakah anda terlahir sebagai lelaki, perempuan, gay, lesbian atau yang lainnya. Anda juga sebelum lahir tidak bisa cherry-picking siapa yang akan menjadi orangtua anda, kebangsaan anda, negara anda, dan seterusnya.

Nah, orang ateis biasa menuduh: Tuh, lihat, orang beragama! Mereka bisanya cuma cherry-picking! Tidak mau melihat fakta real agama mereka sendiri yang penuh kekerasan! Bisanya cuma cherry-picking teks-teks kitab suci untuk memperlihatkan sisi-sisi baik kitab-kitab suci, sementara teks-teks keras di dalam kitab-kitab suci mereka, mereka tidak mau pilih dan tidak mau perhatikan.

Loh, jika itu yang dilakukan para agamawan yang moderat, progresif dan liberal, itu artinya mereka sedang berusaha beragama dengan cerdas, jeli, relevan, banyak pertimbangan, dan terbuka pada pilihan-pilihan lain dalam beragama. Mereka sudah melepaskan kaca mata kuda hitam tebal mereka.

Nah, orang ateis juga sama: mereka melakukan cherry-picking atas hanya teks-teks kekerasan dalam kitab-kitab suci dan tradisi-tradisi keagamaan lainnya. Lalu teks-teks keras ini mereka serang dengan barbar dan brutal. Karena cherry-picking yang sempit dan picik, orang ateis tidak berhasil melihat ada sangat banyak teks lain dalam setiap kitab suci yang agung, bagus, indah, menyejukkan, mendewasakan, memperdamaikan! Karena cherry-picking, para ateis hanya menonjol-nonjolkan dan menyoroti sosok-sosok agamawan yang memang sosok-sosok radikal, militan, fundamentalis, ekstrimis, teroris.

Kenapa? Ya, karena adanya teks-teks keagamaan yang agung dan indah ini tidak sejalan dengan konsepsi ateistik mereka bahwa semua agama itu kebodohan, ketololan, dan kekerasan! Virus yang menginfeksi segala sesuatu! Ya, karena adanya sosok-sosok agamawan besar dan mulia pengubah sejarah dunia dan yang hidup di masa kini tidak sesuai dengan konsepsi ateistik mereka bahwa agama-agama hanya bisa memproduksi para tiran, para bigot, para penyiksa, para pembunuh, para teroris. Pada pihak lain, mereka juga tidak mampu melihat bahwa ada sangat banyak bigot ateis yang radikal, esktrimis, dan militan dewasa ini.

Para ateis yang berkacamata kuda hitam tebal itu, karena cherry-picking, melihat agama-agama hanya dalam sosok-sosok seperti mendiang Osama bin Laden, mendiang Amrozi dkk, tetapi mereka gagal menemukan agama-agama cinta dalam diri sosok-sosok agung seperti mendiang Mahatma Gandhi, mendiang Martin Luther King, Jr., mendiang Abdurrahman Wahid, sosok besar Dalai Lama XIV, dan masih banyak lagi. Kenapa mereka bisa gagal? Ya karena mereka mempraktekkan cherry-picking yang dungu dan tidak cerdas, ditambah karena mereka sedang memakai kaca mata kuda tebal. 


“Backfire effect” 

Tetapi siapapun anda, entah teis atau ateis atau agnostik, yang dibutuhkan dunia bukanlah ideologi-ideologi tetapi cinta kasih. Lewat banyak perbuatan cinta kasih, berbagai penderitaan dunia akan dapat kita atasi, bersama-sama, bahu-membahu. Cinta kasih yang dinafasi kecerdasan akan mempersatukan umat manusia; tetapi ideologi-ideologi dunia sebagai sistem-sistem pemikiran (khususnya yang diabsolutkan dan ditunggalkan) telah terbukti memecah belah umat manusia, sebagaimana telah dikatakan filsuf dan guru spiritual dari India, Jiddu Krishnamurti (1895-1986), demikian:
“Semua ideologi itu idiot, entah ideologi keagamaan atau ideologi politis, berhubung setiap ideologi itu adalah sebuah pemikiran konseptual, kata-kata konseptual, yang, sangat patut disesalkan, telah memecah-belah umat manusia.”/47/
Jika anda dengan jujur menemukan diri anda sedang terkurung dalam sangkar ideologi ateisme yang religiofobik dan fidofobik, saya dorong anda untuk segera membebaskan diri anda. Membebaskan diri dari sangkar ideologi ateisme yang mengurung anda dengan sangat kuat, ingatlah, adalah juga membebaskan diri anda dari sangkar psikologi anda, sebab psikologi anda adalah juga sumber ateologi anda, sama halnya dengan psikologi seorang teis adalah juga sumber teologinya.  



Remukkan sangkarmu!

Saya yakin, setelah selesai membaca tulisan saya ini, yang membongkar nyaris habis New Atheism, para ateis yang mendewakan Dawkins akan mengalami apa yang dinamakan “backfire effect”, atau efek bumerang: ketimbang merenungi kembali dalam-dalam semua kelemahan, kesalahan dan kegagalan New Atheism dan fanatisme ateistik mereka, para ateis dalam kemah New Atheism malah akan makin kuat dan main fanatik meyakini bahwa New Atheism dan diri mereka seluruhnya benar, sempurna dan tidak bisa salah dalam hal apapun!

Dus, karena terserang efek bumerang, mereka akan berjihad kembali dengan makin garang. Efek bumerang ini juga terjadi pada semua radikalis keagamaan apapun. Dus, dalam hal ini, para ateis tidak berbeda dari para radikalis religius. Sama-sama “bigoted believers”! Baik fanatisme buta teis maupun fanatisme buta ateis, sama sekali bukan bagian dari solusi atas banyak problem dunia modern, tetapi, malangnya, menjadi bagian dari problem-problem besar dunia sekarang ini.

Jika para ateis kebangsaan Indonesia, yang sudah puluhan tahun hidup di tanah Indonesia, begitu saja tunduk pada efek bumerang, hemat saya mereka adalah para ateis yang berpikiran dangkal. Mereka telah dikibuli dengan mudah oleh Richard Dawkins dkk yang hidup bebas sebebas-bebasnya di negara-negara besar Barat, Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan sebagainya. Cobalah, suruh Dawkins dkk pindah, berdiam selamanya di negeri-negeri teokratis Islami kuat. Lalu kita bersama pantau dan lihat, apakah Dawkins masih akan berani menyerang agama-agama, khususnya Islam, dengan agresif, vulgar dan barbar seperti yang sekarang ini dia dkk lakukan tak henti-hentinya.

OK-lah, adalah hak anda untuk tunduk terhadap kekuatan efek bumerang. Tetapi, saya mau ingatkan satu hal: anda punya kewajiban sosial sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk secara religius untuk hidup toleran dan menghargai umat-umat beragama lain dalam masyarakat anda. Anda juga punya kewajiban patriotis untuk membebaskan diri anda dari imperialisme budaya Amerika atas diri anda lewat hegemoni New Atheism atas diri anda. Nasihat saya: ambil dari Amerika, atau negeri Barat lainnya manapun, hal-hal yang berguna bagi anda dan masyarakat anda; tetapi lepaskan semua hal yang berbau Amerika yang tidak berguna buat anda dan masyarakat anda. Kita menolak bukan saja kolonialisme Arab, tetapi juga kolonialisme Amerika, atas corak keberagamaan kita sebagai bangsa Indonesia.

OK, saya ulangi, kalau anda mau tetap menjadi ateis, pilihan anda ini tentu saja saya hargai. Saran saya kepada anda adalah janganlah jadi ateis-ateis yang sedang terpenjara, yang sedang mengidap sindrom orang yang sedang teraniaya. Jadilah ateis yang bebas, yang menjadi sosok-sosok agung dunia, seagung, misalnya, Dalai Lama XIV, yang diterima oleh umumnya semua kalangan dalam dunia ini dan dihormati sebagai tokoh besar perdamaian.

Bandingkanlah Dalai Lama XIV dengan Richard Dawkins. Biolog evolusioner yang ateis keras ini hanya populer dan disanjung dalam gerakan New Atheism, oleh para pengikutnya yang suka memakai kaca mata kuda; tetapi Dawkins, kita semua tahu, dibenci di mana-mana oleh kalangan yang beragama bahkan oleh kalangan ateis yang lembut hati dan tidak agresif. 


Ateis lembut Prof. Peter Higgs 

Oleh fisikawan gaek yang juga ateis lemah-lembut, Peter Higgs, penemu Higgs boson/48/ dan penerima Nobel Sains belum lama ini (2013), Dawkins dikategorikan sebagai seorang ateis fundamentalis. Selain menyatakan Dawkins itu seorang ateis fundamentalis, Prof. Peter Higgs selanjutnya, dalam suatu wawancara dengan koran Spanyol El Mundo, menyatakan hal berikut ini.
“Apa yang sangat sering dilakukan Dawkins adalah dia mengonsentrasikan serangannya kepada orang fundamentalis. Tetapi faktanya, ada banyak orang beragama yang tidak fundamentalis. Perkembangan pemahaman kita atas dunia ini lewat ilmu pengetahuan memang memperlemah motivasi yang membuat orang menganut agama-agama. Tetapi hal itu tidak sama dengan mengatakan bahwa agama-agama dan sains tidak sejalan. Masalahnya sebetulnya, menurutku, adalah bahwa beberapa dari alasan-alasan tradisional untuk memeluk agama, yang sudah berusia ribuan tahun, kini sedang dirongrong. Tetapi keadaan ini tidak mengakhiri segalanya. Siapapun yang menjadi seorang penganut agama yang yakin tetapi tidak dogmatis dapat tetap terus memegang kepercayaannya. Ini berarti, pikirku, anda harus lebih hati-hati dalam menyikapi seluruh debat sains dan agama ketimbang yang menjadi sikap orang di masa lalu. Faktanya, ada banyak saintis yang juga para penganut agama. Aku tidak termasuk salah satu dari antara mereka, ini lebih karena latarbelakang keluargaku, bukan karena aku menemukan ada kesulitan mendasar dalam memperdamaikan sains dan agama.”/49/
Saya melihat, sikap dan pendirian Prof. Higgs inilah seharusnya sikap dan pendirian seorang saintis sejati: toleran, terbuka, dan tidak menghina atau menyerang agama-agama dan orang-orang beragama, sekalipun, saya masih melihat, ada kesulitan besar dalam mempertemukan sains dan agama-agama teistik tradisional. Mengkaji agama-agama secara ilmiah tidak sama dengan menghina dan mencemooh agama-agama dan orang-orang beragama. Ini sangat berbeda dari sikap dan pendirian Richard Dawkins.

Meskipun Dawkins itu seorang pakar biologi evolusioner, statusnya sebagai saintis (tersohor sekalipun) dirusak sendiri olehnya dengan sikap dan posisinya sebagai seorang ateis fundamentalis, yang sangat agresif dan abrasif terhadap dunia agama-agama. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya mungkin harus ditemukan dalam psikologi Richard Dawkins sendiri: dia mungkin memiliki kepribadian yang sudah terpecah.

Sangat sukar, atau bahkan mustahil, bagi saya untuk bisa mendamaikan posisi sebagai seorang saintis dan posisi sebagai seorang ateis fundamentalis dalam diri satu sosok manusia. Dua posisi ini berbenturan keras satu sama lain. Jika seorang saintis itu harus mempertahankan objektivitas, selama ini faktanya adalah sang ateis fundamentalis Richard Dawkins sangat jauh dari objektif dalam memandang dan menilai dunia agama-agama. Dawkins selama ini memandang dunia agama-agama dengan memakai sebuah kaca mata kuda tebal hitam, sehingga dia tidak berhasil melihat ada kawasan-kawasan lain dalam dunia agama-agama yang sama sekali berbeda dari yang dia bayangkan dan lihat selama ini.     


Penutup 

Selanjutnya, saya jadi bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang ateis fundamentalis Dawkins mau mengubah dunia ini yang kini dihuni 7 milyar orang lebih dengan di antaranya 4 milyar orang dewasa yang beragama? Bagaimana bisa Dawkins membawa perdamaian bagi dunia sementara dia dibenci di mana-mana di luar kemahnya sendiri? Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Dawkins adalah salah seorang yang paling dibenci dalam dunia sekarang ini di luar kemah New Atheism. Saya membayangkan, seandainya Dawkins memiliki kualitas personal seperti yang ada pada, misalnya, Dalai Lama XIV, sangat mungkin sang ateis ini akan jauh lebih berhasil dalam mencerahkan dunia ketimbang kondisinya sekarang yang disebabkan oleh posisinya sebagai seorang ateis fundamentalis berkacamata kuda.

Akhirnya, saya ajak anda untuk meresapi dan merenungi dalam-dalam puisi saya berikut ini, yang saya beri judul “Remukkan Sangkarmu!” Timbalah kekuatan dan energi dari puisi saya ini, yang akan memberi anda tenaga untuk meremukkan sangkar apapun yang kini sedang mengurung anda. 

Burung-burung ingin terbang bebas dan liar
Tapi manusia jahat menangkapi mereka
Lalu mengurung mereka dalam sangkar
Akhirnya matilah mereka karena tekanan jiwa

Angkasa luas membuat jiwa lapang
Sangkar-sangkar sempit menekan sukma
Mereka ingin keluar dari sangkar pengekang
Tapi mereka tak punya daya dan tenaga

Makanan dan air disediakan si empunya
Tapi kebebasan mereka telah direnggut
Selera makan mereka tak punya
Selera minum pun telah dibawa air hanyut

Jiwa dan tubuh makin lemah tersayat
Mata terus terkatup makin sipit dan rapat
Berdiri dan berjalan pun tak lagi kuat
Akhirnya mati teronggok sebagai mayat

Tak ada madah perkabungan dilantunkan
Si empunya mengambil bangkai si burung malang
Dibuang begitu saja ke tong sampah di halaman
Hanya siul indah si burung masih mengiang

Oh, oh nasibmu sang burung yang malang!
Pedih, perih, memilukan hati dan sanubari
Dari zaman ke zaman terus berulang
Kapankah engkau jadi raja buat dirimu sendiri?

Wahai burung-burung, hiburlah dirimu sendiri!
Banyak manusia malang juga sedang terkurung
Oleh sangkar-sangkar yang mereka buat sendiri
Sampai ajal mereka terus terkurung

Uang mengikat kuat tubuh selamanya
Kekuasaan mengurung pikiran dan jiwa
Ketamakan memborgol pikiran bulat-bulat
Keakuan membui kuat dan rapat

Tapi kawan, dengarlah ucapanku ini!
Sangkar terkuat adalah pikiranmu sendiri
Saat engkau menganggap pikiranmu sudah final
Tidak bisa lagi selamanya diubah dan disoal

Kau yang cerdas menjadi pandir dan dungu
Saat engkau gigih dan ngotot mempercayai
Pikiranmu tak bisa salah dan tak bisa keliru
Seolah engkau adalah sang Tuhan sendiri

Padahal Tuhan itu sendiri sebuah teka-teki besar
Mengundang orang bersoal dan menduga-duga
Untuk memecahkan teka-teki itu tanpa gentar
Tawa, canda dan guyon meramaikan suasana

Temukan di mana dirimu tersangkar
Hancurkan, remukkan sangkar itu sekuat tenaga
Keluarlah dan terbanglah bebas ke angkasa luar
Sekarang! Karena hidupmu sebentar saja! 


by Ioanes Rakhmat
Jakarta, 12 Agustus 2014 


Catatan-catatan 

/1/ Iain McLean dan Alistair McMillan, Oxford Concise Dictionary of Politics (Oxford: Oxford University Press, edisi ketiga 2009), hlm. 255.  

/2/ Ihwal bagaimana saya mempertahankan posisi saya sebagai seorang yang berpikir bebas, lihat Ioanes Rakhmat, “Ioanes Rakhmat’s Honest Testimony”, The Freethinker Blog, 24 Desember 2011, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/12/ioanes-rakhmats-honest-testimony.html.

/3/ Madah ini dilantunkan Emilia Contessa dengan sangat masygul dan menggugah; dengarkanlah di http://youtu.be/P9CRbvJNDSk.

/4/ Tentang hubungan otak manusia dan spiritualitas (catat: bukan spiritualisme!), telah saya eksplorasi panjang lebar dalam buku saya, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 5 (hlm. 149-182). Tersedia online pada blog saya, The Freethinker Blog, http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html.

/5/ Selanjutnya, lihat Jonah Lehrer, “The Forgetting Pill Erases Painful Memories Forever”, WIRED, 17 February 2012, pada http://www.wired.com/2012/02/ff_forgettingpill/.

/6/ Lihat wawancara dengan Albert Einstein, “What Life Means to Einstein: An Interview by George Sylvester Viereck”, The Saturday Evening Post (26 October 1929), hlm. 113. Naskah Pdf wawancara ini tersedia online pada http://www.saturdayeveningpost.com/wp-content/uploads/satevepost/what_life_means_to_einstein.pdf.

/7/ Tentang interpenetrasi jagat raya yang satu ke dalam jagat raya yang lain, lihat Rose Taylor, “Is our universe merely one of billions? Evidence of the existence of ‘multiverse’ revealed for the first time by cosmic map”, MailOnline, 19 May 2013, pada http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2326869/Is-universe-merely-billions-Evidence-existence-multiverse-revealed-time-cosmic-map.html. Lihat juga Jonathan Leake, “Cosmic cold spots hint at other universes”, The Australian News, 19 May 2013, pada http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2326869/Is-universe-merely-billions-Evidence-existence-multiverse-revealed-time-cosmic-map.html.

/8/ Lihat Richard Webb, “How to think about... infinity”, NewScientist, 13 December 2014, pada http://www.newscientist.com/article/mg22429990.800?.

/9/ Metafora tentang singa dan ekornya ini disampaikan Albert Einstein kepada sahabatnya yang bernama Heinrich Zangger lewat sebuah surat (10 Maret 1914); dikutip oleh Jean Eisenstaedt dalam bukunya, The Curious History of Relativity: How Einstein’s Theory of Gravity Was Lost and Found Again (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 2006; Terjemahan Inggris copyright 2006), hlm. 126. Lihat juga Abraham Pais, Subtle Is the Lord:The Science and the Life of Albert Einstein (Oxford: Oxford University Press, 1982; pengantar baru oleh Sir Roger Penrose, 2005), hlm. 235.

/10/ Lihat Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern, hlm. 149-182.

/11/ Lihat Rudolf Otto, The Idea of the Holy: An Inquiry into the Non-rational Factor in the Idea of the Divine and Its Relation to the Rational (terjemahan Inggris oleh John W. Harvey) (London: Oxford University Press, 1923, 1950; New York, N.Y.: Oxford University Press, 1958, 1959).

/12/ Christopher Hitchens, Go Is Not Great: How Religion Poisons Everything (New York, N.Y.: Twelve, 2007), hlm. 178 (edisi 2009, hlm. 150). Idem, “Mommie Dearest―The Pope beatifies Mother Teressa, a fanatic, a fundamentalist, and a fraud”, Slate.com, 20 October 2003, pada http://www.slate.com/articles/news_and_politics/fighting_words/2003/10/mommie_dearest.html. Prinsip epistemologis Hitchens ini sebetulnya terjemahan dari sebuah pepatah dalam bahasa Latin yang sudah dikenal luas sejak awal abad ke-19, bunyinya “Quod gratis asseritur, gratis negatur.”

/13/ Marcello Truzzi, “On the Extraordinary: An Attempt at Clarification”, Zetetic Scholar, vol. 1, no. 1 (1978), hlm. 11.

/14/ Carl Sagan, Cosmos. Encyclopaedia Galactica. 14 December 1980. Episode 12. Lihat penggalan Cosmos pada http://youtu.be/mRaXvPQ-ayk (“Carl Sagan: extraordinary claims require extraordinary evidence”) yang diunggah 6 September 2010.

/15/ Carl Sagan, Broca’s Brain: Reflection of the Romance of Science (New York: Random House, 1974, 1979), hlm. 365.

/16/ George Sylvester Viereck, Glimpses of the Great (Duckworth, 1930), hlm. 372-373.

/17/ Sam Harris, Letter to A Christian Nation (New York: Alfred A. Knopf, 2007), hlm. 51.

/18/ Greta Christina, Why Are You Atheists So Angry?: 99 Things That Piss Off the Godless (Pitchstone Publishing, 2012).

/19/ Ikuti videonya di https://youtu.be/yBo7Z_abiLE.

/20/ Jonathan M. Katz, “Chapel Hill Killer’s Rage Went Beyond Parking Dispute”, The New York Times, March 3, 2015, on http://www.nytimes.com/2015/03/04/us/chapel-hill-muslim-student-shootings-north-carolina.html?.

/21/ Crimesider’s staff, “Man charged with killing 3 Muslims can face death penalty”, Crimesider, April 6, 2015, at http://www.cbsnews.com/news/man-charged-with-killing-3-muslims-can-face-death-penalty/.

/22/ CJ Werleman,The New Atheist Threat: The Dangerous Rise of Secular Extremists (U.K., Dangerous Little Books, 2015).

/23/ Saya sudah menulis sebuah surat terbuka kepada Sam Harris terkait kasus Craig Stephen Hicks. Lihat Ioanes Rakhmat, “A Short Letter to Sam Harris”, The Freethinker Blog, 20 February 2015, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2015/02/a-short-letter-to-sam-harris.html.

/24/ Max Jammer, Einstein and Religion: Physics and Theology (Princeton: Princeton University Press, 2002), hlm. 97. Lihat juga Walter Isaacson, “Einstein and Faith”, Time 169: 47, 5 April 2007.

/25/ Walter Isaacson, Einstein: His Life and Universe (New York: Simon and Schuster, 2008), hlm. 390.

/26/ Prinz Hubertus zu Löwenstein, Towards the Further Shore (London: Victor Gollancz, 1968), hlm. 156. Lihat juga Walter Isaacson, Einstein: His Life and Universe, hlm. 389. Ronald W. Clark, Einstein: The Life and Times (New York: World Publishing Company, 1971), hlm. 425. Max Jammer, Einstein and Religion: Physics and Theology (Princeton: Princeton University Press, 2002), hlm. 97.

/27/ Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain (New York: Ballantine Books, 2009), hlm. 13.

/28/ Friedrich Nietzsche, Ecce Homo (terjemahan R. J. Hollingdale. London, dsb.: Penguin Group, 1979; introduksi baru oleh Michael Tanner, 1992), hlm. 96 (“Why I AM a Destiny”).

/29/ Lihat reportase Meredith Bennett-Smith, “Kathleen Taylor, Neuroscientist, Says Religious Fundamentalism Could Be Treated as a Mental Illness”, HuffingtonPost Religion, 31 May 2013 (updated 6 June 2013), pada http://www.huffingtonpost.com/2013/05/31/kathleen-taylor-religious-fundamentalism-mental-illness_n_3365896.html.

/30/ Kathleen Taylor, Brainwashing: The Science of Thought Control (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2004; edisi paperback 2006), hlm. ix-x.

/31/ Lihat reportase Steve Doughty, “Battle of the professors: Richard Dawkins branded a fundamentalist by expert behind the ‘God particle’”, MainOnline, 27 December 2012, pada http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2253640/Battle-professors-Richard-Dawkins-branded-fundamentalist-expert-God-particle.html.

/32/ J. Anderson Thomson, Jr., and Clare Aukofer, Why We Believe in God(s): A Concise Guide to the Science of Faith (Foreword by Richard Dawkins) (Charlottesville, Virginia: Pitchstone Publishing, 2011), hlm. 37, 39.

/33/ Bahwa New Atheism itu sebuah agama, lihat kajian sosiologis pendek Ioanes Rakhmat, “Religion of New Atheism”, The Freethinker Blog, 20 Agustus 2015, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2015/08/religion-of-new-atheism.html.

/34/ Joseph Campbell, Thou Art That: Transforming Religious Metaphor (Navato, California: New World Library, 2001), hlm. xvi.  

/35/ Phil Cousineau, ed., The Hero’s Journey: Joseph Campbell on His Life and Work (Novato, California: New World Library, 1990, 2003), hlm. 161. Lihat juga film dokumenter Joseph Campbell: A Hero’s Journey (2000).

/36/ Ucapan Niels Bohr ini dikutip oleh Werner Heisenberg, Physics and Beyond: Encounters and Conversations. Terjemahan Inggris oleh Arnold J. Pomerans (New York, N.Y.: Harper and Row, 1971), hlm. 41.

/37/ Luke Savage, “New Atheism, Old Empire”, Jacobin, 2 December 2014, pada https://www.jacobinmag.com/2014/12/new-atheism-old-empire/.

/38/ William T. Cavanaugh, The Myth of Religious Violence: Secular Ideology and the Roots of Modern Conflict (Oxford, N.Y.: Oxford University Press, 2009).

/39/ Wawancara oleh Isabelle Kumar, “Chomsky says US is world’s biggest terrorist”, Euronews. The Global Conversation, April 17, 2015, pada http://www.euronews.com/2015/04/17/chomsky-says-us-is-world-s-biggest-terrorist/.

/40/ Jason Torpy, “To Drone or Not to Drone”, The Humanist.com, 24 September 2015, pada http://thehumanist.com/commentary/to-drone-or-not-to-drone.

/41/ Richard Dawkins, “Viruses of the Mind”, 1991, file pdf, tersedia di http://www.inf.fu-berlin.de/lehre/pmo/eng/Dawkins-MindViruses.pdf.

/42/ Lihat http://www.liveleak.com/view?i=232_1264478334.    

/43/ Christopher Hitchens, God Is Not Great: How Religion Poisons Everything (New York, Boston: Twelve, Hachette Book Group, 2009; terbit pertama kali 2007), hlm. 18, 25.

/44/ Tentang sumber-sumber nilai-nilai moral, lihat Ioanes Rakhmat, “Sciences and Values”, The Freethinker Blog, 17 November 2014, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2014/11/sciences-and-values.html.

/45/ Ross Douthat, “Lord Have Mercy: A Review of God Is Not Great: How Religion Poisons Everything”, Claremont Review of Books (Summer, 2007), pada http://www.catholiceducation.org/en/controversy/persecution/lord-have-mercy-a-review-of-god-is-not-great-how-religion-poisons-everything.html.

/46/ Darrel W. Ray, The God Virus: How Religion Infects Our Lives and Culture (Bonner Spring, Kansas: IPC Press, 2009).

/47/ Lihat kuliah Jiddu Krishnamurti yang diberi judul “You Are the World”, disampaikan di Universitas Brandeis, 18 Oktober 1968, bab 1. Teks dapat diperoleh di http://www.jkrishnamurti.org/krishnamurti-teachings/print.php?tid=19&chid=68560.

/48/ Tentang Higgs boson, dan hal-hal selanjutnya setelah partikel ini ditemukan, lihat Ioanes Rakhmat, “Sesudah partikel Higgs boson ditemukan, apa lagi?”, The Freethinker Blog, 21 Februari 2013, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2013/02/sesudah-partikel-higgs-boson-ditemukan.html.

/49/ Steve Doughty, “Battle of the professors: Richard Dawkins branded a fundamentalist by expert behind the ‘God particle’”, MainOnline, 27 December 2012, pada http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2253640/Battle-professors-Richard-Dawkins-branded-fundamentalist-expert-God-particle.html.