Sekian teman baru saja kontak saya lewat beberapa media, bertanya, Mengapa saya bertobat (converted) ke Zen Buddhisme. Bukankah anda a freethinker? Berikut ini saya mau klarifikasi.Zen Buddhisme itu, kendatipun di Indonesia digolongkan sebagai agama, sebetulnya bukan agama dalam pengertian konvensional teistik. Dalam bentuk aslinya, Zen Buddhisme adalah filsafat asah otak, lewat meditasi intensif yang dipandu koan (kisah-kisah dialog atau kisah-kisah debat) yang disebut zazen.
Beberapa teman bertanya, bagaimana/apa itu zazen. Nah, untuk tahu, simak saja di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/12/zazen-jalan-menuju-pencerahan-1.html
Dalam Zen, tak ada teologi (doktrin ttg Allah), apalagi teologi yang antropomorfik, yang menggambarkan Allah dalam sifat dan bentuk manusia.Tak ada penyembahan kepada Allah dalam Zen; kalaupun ada sesuatu yang diagungkan, itu adalah the laws of nature, hukum-hukum alam. Kalaupun mau disebut dengan istilah “Allah”, Allah dalam Zen adalah Allah Baruch de Spinoza, yang pernah menyatakan Deus sive Natura. Bagi Spinoza, hukum-hukum alam (natura) adalah Allah (Deus).
Zen Buddhisme dan meditasi zazen adalah “filsafat” dan praktik spiritual yang tua. Nah, jika dibandingkan dengan monoteisme, jelas Zen bukanlah agama dalam pengertian yang sama.
Siapa saja, tanpa perlu meninggalkan agama lamanya, bisa berlatih zazen dalam biara-biara Zen, yang ada di Indonesia. Atau bisa juga berlatih secara otodidak dengan panduan buku-buku standard Zen; seperti anda juga bisa otodidak dalam memahami semua agama lain.
Nah, saya tidak menyatakan converted to Zen Buddhism; sebab di dalam rumah Zen saya bisa berkelana ke mana saja dalam suatu zazen.
Semua agama punya koan, yakni kisah-kisah yang umumnya berbentuk dialog atau debat. Nah, dalam zazen, koan dari agama manapun bisa dipakai untuk mencapai pencerahan budi dan perubahan perilaku.
Ada banyak aliran dalam Buddhisme, dari yang mayoritas sampai varian-varian minornya. Nah, Zen yang saya sekarang tekuni, saya ambil Zen yang tak mengenal figur penyelamat atau penebus dosa.
Saya tak suka dengan doktrin Kristen tentang Yesus Kristus yang sudah mati sebagai sang penyelamat untuk menebus dosa manusia.
Penolakan kuat terhadap doktrin keselamatan (soteriologi) Kristen ini sudah saya tuangkan dalam buku saya. Buku itu berjudul Membedah Soteriologi Salib (cetakan 2, 2010). Sekarang sudah tak ada stok-nya lagi karena laku keras!
Buku MSS itu sudah ditanggapi oleh sebuah buku lain, pesanan sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI), oleh seorang rohaniwan ortodoks Kristen pro-dogma, sementara saya sendiri critical of dogmas. Saya katakan hal ini, karena beberapa orang telah bertanya ihwal buku ini dan tujuan penulisannya.
Saya tak melihat keperluan orang untuk membaca buku tanggapan ini, sebab sama sekali tidak match dengan buku MSS saya itu. Buku Membedah Soteriologi Salib memakai pendekatan sains, analisis sejarah dan analisis teks, sedangkan buku tanggapannya memakai dogma-dogma. Sejarah dan sains masak dilawan dengan dogma tritunggal Kristen. Absurd, ’kan!
Nah, karena bagi saya doktrin penyelamatan lewat figur besar yang mati disiksa adalah doktrin yang absurd dan memakai bahasa kekerasan, saya memilih rumah Zen yang pas.
Zen Buddhisme yang saya sedang tekuni menekankan pelatihan diri sendiri untuk mencapai pencerahan akal lewat zazen. Tak ada figur penyelamat ilahi apapun di dalam Zen.
Untuk tahu zazen, sekali lagi, simak saja di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/12/zazen-jalan-menuju-pencerahan-1.html
Jadi, sejak meninggalkan kekristenan ortodoks, dan sejak tak lagi berkunjung ke gereja, saya tak pindah ke agama konvensional teistik lain manapun. Bagi saya, pindah ke agama lain apapun, apalagi yang monoteistik, hanyalah keluar dari mulut ikan, lalu masuk ke mulut ubur-ubur. Agama adalah my past, not my present nor my future.
Tapi saya memerlukan spiritualitas, bukan religiositas terlembaga.
Kenapa saya memerlukan spiritualitas? Karena saya tahu pasti, ada neuron-neuron dalam otak kita yang memerlukan makanan spiritual. Kebutuhan akan spiritualitas timbul bukan karena Allah ada, tapi karena alam telah membentuk otak homo sapiens yang butuh input dan output spiritual.
Spiritualitas sudah terpatri dan built-in dalam otak kita sekarang ini.
Bahwa otak kita sudah disetel oleh alam untuk butuh input dan output spiritual, sudah saya tulis dengan dahsyat di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html
Saya yakin, otak kita berkondisi seperti itu hanya pada masa kini tahap evolusi organ otak kita; di masa depan, karena evolusi, belum tentu otak kita butuh spiritualitas, ketika sains sudah mampu menjelaskan segalanya dan kebudayaan teknologis yang humanis sudah mengglobal.
Nah, karena saya perlu memberi makanan spiritual ke otak saya, saya memilih aktif dalam rumah Zen, tanpa perlu menganut agama tradisional teistik lain.
Meskipun saya ada dalam rumah Zen, saya tetap seorang bebas, a freethinker.
Zen justru menghendaki orang-orang bebas berkelana dalam pikiran, lewat olah otak yang dinamakan zazen dengan dipandu oleh koan-koan.
Jadi, masuknya saya ke rumah Zen tak lain karena saya ingin hidup utuh dan tetap bebas melakukan ziarah pemikiran. I am a Zenist but at the same time a freethinker.
Alhasil, saya juga mengembara masuk ke dunia sains yang sangat mempesona.
Dalam dua tahun terakhir ini, pengetahuan saya tentang sains semakin luas dan dalam, dan keadaan ini sangat mempesona saya.
Ternyata saya lebih berbakat menjadi seorang pemikir sains, ketimbang menjadi seorang pendeta.
Saya sekarang ini sangat berbahagia dalam dunia sains, jauh lebih berbahagia dibanding ketika bekerja sebagai seorang pendeta. Malah jabatan pendeta dulu kerap menyiksa batin dan akal saya!
Bukan saya dulu telah salah memilih jurusan teologi ketika studi S-1, tapi saya telah salah memilih pekerjaan sebagai seorang pendeta! Berbuat salah satu dua kali adalah hal yang insani.
Saya bersyukur kepada alam atas kesempatan untuk saya boleh mendalami sains sekarang ini dan, hopefully, dua puluh tahun ke depan. Thanks, Mother Nature!
Tak ada rasa sakit hati dalam bentuk apapun dan kepada siapapun dalam diri saya sekarang ini. I am a free gentleman and also a lover of humanity!
Sekian pendeta GKI kini, di hadapan saya pribadi, menyesalkan sikap para petinggi GKI yang dulu tidak merangkul saya, karena kini saya malah semakin “liar” berpikir.
Ketimbang bisa membungkam saya, kini malah saya, kata mereka, makin membuat banyak pendeta kebakaran jenggot karena tulisan-tulisan saya yang semakin meluas ke banyak bidang ilmu.
Kini saya bebas berpikir dan menulis apapun dalam bingkai sains, tanpa kontrol apapun dari gereja manapun.
Ketika saya telah terbitkan buku MSS saya, tanpa didahului dialog dan bedah buku ini dengan saya, mereka menyatakan saya sesat, dan hal ini diumumkan di seluruh gereja GKI di Indonesia!
Karena saya secara sepihak sudah dinyatakan sesat, mereka menyatakan saya berada dalam penggembalaan khusus untuk membuat saya di ujungnya menarik kembali buku MSS itu! Inilah skenario mereka.
Tapi, demi kejujuran ilmiah dan integritas pribadi, saya tak mengambil pusing atas penetapan status saya sebagai seorang sesat oleh GKI! Bagi saya sendiri, pikiran saya lurus dan jujur. Saya pikir, Yesus dari Nazareth pun, kalau dia masih hidup, akan membenarkan saya!
Hampir dua tahun saya tak pernah menggubris panggilan pimpinan sinode GKI sampai empat kali untuk saya digembalakan khusus!
Saya sudah bersikap, Silahkah kalian lepaskan jabatan pendeta saya, karena saya tak akan memusingkannya!
Sesungguhnya, GKI telah memakai pendekatan kekuasaan dalam menghadapi buku MSS saya itu.
Saya tahu, mereka takut kalau mendiskusikan dulu buku MSS itu dengan saya di forum publik tanpa saya dinyatakan sesat lebih dulu!
Sekarang di mana-mana sekian pendeta ketua GKI dengan munafik menyatakan, bahwa penggembalaan khusus atas orang sesat itu adalah kesempatan berdialog dengan pimpinan sinode GKI!
Sungguh sebuah perbuatan yang sangat pengecut dari kaum rohaniwan ortodoks pro-dogma.
Tapi saya maklum, memang sejak awal gereja berdiri, gereja selalu memakai kekuasaan represif, ketimbang membuka dialog bermartabat.
Galileo Galilei sudah mengalaminya. Leonardo Boff sudah juga. Gustavo Gutierrez demikian juga. John Shelby Spong termasuk. Dan banyak lagi.
Saya bangga bisa melawan dogma-dogma kolot gereja yang bagi saya sudah usang dan memperbodoh manusia!
Dalam buku MSS itu, saya bukan hanya mengkritik dogma gereja, tapi juga memberi jalan-jalan alternatif yang liberal.
Saya bangga menjadi seorang liberal.
I am proud of being a liberal!
Guru-guru saya sendiri mendidik saya jadi liberal ketika studi S-1 dulu di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta!
Saya meneruskan dan memperdalam liberalisme pemikiran yang mereka telah wariskan kepada saya.
Dulu saya sangat membanggakan STT Jakarta karena keliberalan pemikiran di dalamnya.
Tapi kini STT Jakarta sudah jauh dari liberalisme pemikiran, karena sudah terperosok ke dalam kubangan konservatisme, dogmatisme dan fideisme.
Sayalah pewaris satu-satunya yang masih hidup dan committed, dari para founding fathers STT Jakarta yang liberal!
Saya bangga dan bahagia dengan kenyataan ini!
Jakarta, 24 Desember 2011
ioanes rakhmat