Saturday, December 24, 2011

Ioanes Rakhmat's Honest Testimony

Sekian teman baru saja kontak saya lewat beberapa media, bertanya, Mengapa saya bertobat (converted) ke Zen Buddhisme. Bukankah anda a freethinker? Berikut ini saya mau klarifikasi.

Zen Buddhisme itu, kendatipun di Indonesia digolongkan sebagai agama, sebetulnya bukan agama dalam pengertian konvensional teistik. Dalam bentuk aslinya, Zen Buddhisme adalah filsafat asah otak, lewat meditasi intensif yang dipandu koan (kisah-kisah dialog atau kisah-kisah debat). Cara meditatif seperti ini dinamakan zazen. Beberapa teman bertanya, bagaimana/apa itu zazen. Nah, untuk tahu, simak saja di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/12/zazen-jalan-menuju-pencerahan-1.html

Dalam Zen, tak ada teologi (doktrin ttg Allah), apalagi teologi yang antropomorfik, yang menggambarkan Allah dalam sifat dan bentuk manusia.Tak ada penyembahan kepada Allah dalam Zen; kalaupun ada sesuatu yang diagungkan, itu adalah the laws of nature, hukum-hukum alam. Kalaupun mau disebut sebagai “Allah”, Allah dalam Zen adalah Allah Baruch de Spinoza, yang pernah menyatakan Deus sive Natura. Bagi Spinoza, hukum-hukum alam (natura) dan Allah (Deus) tidak bisa dipertentangkan, dengan menerima yang satu dan membuang yang lainnya.

Aku ingin berhati putih seperti domba ini, tetapi cerdas sehingga tidak bisa diguntingi bulunya tanpa daya, dan tidak diam saja ketika mau dibantai...


Zen Buddhisme dan meditasi zazen adalah “filsafat” dan praktik spiritual yang tua. Nah, jika dibandingkan dengan monoteisme, jelas Zen bukanlah agama dalam pengertian yang sama.

Siapa saja, tanpa perlu meninggalkan agama lamanya, bisa berlatih zazen dalam biara-biara Zen, yang ada di Indonesia. Atau bisa juga berlatih secara otodidak dengan panduan buku-buku standard Zen; seperti anda juga bisa otodidak dalam memahami semua agama lain.

Nah, saya tidak menyatakan converted to Zen Buddhism; sebab di dalam rumah Zen saya bisa berkelana ke mana saja dalam suatu zazen.

Semua agama punya koan, yakni kisah-kisah yang umumnya berbentuk dialog atau debat. Nah, dalam zazen, koan dari agama manapun bisa dipakai untuk mencapai pencerahan budi dan perubahan perilaku.

Ada banyak aliran dalam Buddhisme, dari yang mayoritas sampai varian-varian minornya. Nah, Zen yang saya sekarang tekuni, saya ambil Zen yang tidak mengenal figur penyelamat atau penebus dosa.

Saya tak suka dengan doktrin Kristen tentang Yesus Kristus yang sudah mati sebagai sang penyelamat untuk menebus dosa manusia. Bagaimana mungkin, diimani dengan sekuat-kuatnya sekalipun, bahwa kematian Yesus dari Nazareth di kayu salib di abad pertama bisa menyelamatkan tujuh milyar lebih manusia di abad ke-21 ini? 

Diselamatkan dalam arti apa? Apakah dalam arti dimasukkan ke dalam sorga setelah kematian karena percaya pada Yesus Kristus? Jika ini yang dimaksudkan, bagi saya keyakinan ini sama sekali tidak signifikan, sebab tidak ada sesuatu apapun yang bisa kita perbuat setelah kematian, yang punya makna untuk dunia dan kehidupan kita sekarang ini. Boleh saja anda seribu kali masuk sorga setelah kematian; tapi jika selama kehidupan anda dalam dunia sekarang ini anda tidak berguna sama sekali untuk umat manusia dan dunia, anda tetaplah seorang yang telah sia-sia ada dalam dunia. Sorga tanpa dunia, kosong makna! Dunia tanpa sorga, kesempatan berkarya cerdas dan welas!  

Apa gunanya hukuman bengis di neraka abadi, dan apa gunanya kenikmatan kekal di sorga, jika para penghuni keduanya sudah tidak bisa lagi memberi sumbangan-sumbangan penting untuk kehidupan di permukaan Bumi: untuk masa depan anak-anak dan cucu-cucu manusia, untuk membangun peradaban dunia, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk berkarya besar dalam masyarakat dan dunia, untuk menolong orang-orang sakit, bodoh dan miskin, untuk menjadi manusia yang manusiawi? 

Saya sudah menulis cukup panjang tentang doktrin sorga dan neraka, lalu saya menyimpulkan bahwa doktrin ini tidak signifikan sama sekali bahkan bisa menjadi sumber ideologis berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan atas nama suatu agama, juga oleh orang Kristen. Bacalah di sini http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/04/betulkah-doktrin-tentang-surga-dan.html.

Yang sangat dalam menimbulkan penderitaan dan azab, hemat saya, adalah neraka-neraka sungguhan yang ada di muka Bumi ini: perang, konflik-konflik keagamaan, kemiskinan, kelaparan, kebodohan, penindasan, sakit-penyakit, berbagai bentuk diskriminasi, dan masih banyak lagi! Yang dapat membahagiakan dengan real adalah ketika anda ikut terlibat membangun kehidupan sorga di muka Bumi dengan real, dengan melenyapkan kemiskinan, azab dan kebodohan, memperjuangkan dan menegakkan perdamaian dan persaudaraan antar-manusia di dunia ini, mengembangkan sains dan teknologi yang membuat kehidupan menjadi lebih baik dan lebih sehat dan lebih bertahan, dengan menjaga alam dan lingkungan kehidupan untuk tetap bersahabat dengan semua bentuk kehidupan!  

Atau, apakah diselamatkan dalam arti mengubah watak dan kelakuan manusia, dari jahat menjadi baik, secara magis? Faktanya, kematian Yesus di kayu salib tidak punya kekuatan magis apapun untuk mengubah karakter manusia, tidak mujarab, sejauh si manusianya tidak punya komitmen pribadi untuk mengubah watak dan kepribadiannya sendiri. Faktanya, kapan pun dan di manapun juga selalu ada sangat banyak orang Kristen yang tetap saja berwatak buruk, jahat dan keji. Ketahuilah, para kapitalis Kristen, yang bekerja sebagai para pengusaha atau sebagai para rohaniwan, sangat banyak dalam dunia kita masa kini, dan Tuhan mereka yang sebenarnya adalah uang atau kapital. Ketamakan adalah watak mereka yang asli.  

Dan ingatlah, sangatlah logis (kendatipun egoistik dan hedonistik) jika banyak orang Kristen berpikir bahwa berbuat dosa sebanyak-banyaknya setiap hari tidak masalah, sebab setiap kali habis berbuat dosa, cukup datang dan berdoa kepada Yesus untuk mohon pengampunan, dan pasti akan diampuni oleh Yesus sebab dia mahapemurah dan sudah menanggung dosa mereka sekali untuk selamanya di kayu salib. Bahkan banyak juga yang berpendapat, meminta pengampunan dosa cukup saat mau meninggal saja, dan pasti akan diampuni Yesus kendatipun seluruh kehidupan sebelumnya berlumuran dosa dan kekejian. Kepercayaan terhadap anugerah murah ini jelas dipegang dengan senang oleh banyak orang Kristen.

Penolakan kuat saya terhadap doktrin keselamatan (soteriologi) Kristen ini sudah saya tuangkan dalam buku saya. Buku itu berjudul Membedah Soteriologi Salib (cetakan 2, 2010). Sekarang sudah tak ada stok-nya lagi karena laku keras! Dalam buku ini, alasan saya lainnya yang kuat saya ungkapkan untuk menolak soteriologi salib adalah bahwa soteriologi ini berdasar pada kekerasan dan kekejian yang dialami Yesus dengan real, yang diubah begitu saja oleh para penulis Perjanjian Baru sebagai jalan keselamatan lewat anugerah Allah. Bagi saya, kekerasan ya harus dilihat sebagai kekerasan, dan harus dihindari oleh semua orang yang punya kebaikan hati dan sifat-sifat kemanusiaan. Bukan dirasionalisasi untuk membangun sebuah agama baru, yang lepas dari Yudaisme.  

Selain itu, semakin seseorang itu matang dan tangguh jiwa dan mentalnya lewat berbagai gemblengan, maka, sebagai seorang mahatma, semakin dia ingin bertanggungjawab sendiri atas semua jalan kehidupannya, entah benar atau salah, entah baik atau buruk. Dia tak membutuhkan satu ekor kambing hitam apapun yang akan dijadikan sasaran tumpahan semua kelemahan dan kesalahannya. Dogma penebusan lewat kematian Yesus sangat membuka peluang besar untuk berubah jadi dogma tentang anugerah murah, yang melahirkan mentalitas pecundang, bukan pejuang, dalam diri para pemeluk dogma ini. 

Buku MSS itu sudah ditanggapi oleh sebuah buku lain, pesanan sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI), oleh seorang rohaniwan ortodoks Kristen pro-dogma, sementara saya sendiri critical of dogmas. Saya katakan hal ini, karena beberapa orang telah bertanya ihwal buku ini dan tujuan penulisannya.

Saya tak melihat keperluan orang untuk membaca buku tanggapan ini, sebab sama sekali tidak match dengan buku MSS saya itu. Buku Membedah Soteriologi Salib memakai pendekatan sains, analisis sejarah dan analisis teks, sedangkan buku tanggapannya memakai dogma-dogma. Sejarah dan sains masak dilawan dengan dogma tritunggal Kristen. Absurd, bukan?

Nah, karena bagi saya doktrin penyelamatan lewat figur besar yang mati disiksa adalah doktrin yang absurd dan memakai bahasa kekerasan, saya memilih rumah Zen yang pas. Zen Buddhisme yang saya sedang tekuni menekankan pelatihan diri sendiri untuk mencapai pencerahan akal lewat zazen. Tak ada figur penyelamat ilahi apapun di dalam Zen. Untuk tahu zazen, sekali lagi, simak saja di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/12/zazen-jalan-menuju-pencerahan-1.html

Jadi, sejak meninggalkan kekristenan ortodoks, dan sejak tak lagi berkunjung ke gereja, saya tak pindah ke agama konvensional teistik lain manapun. Bagi saya, pindah ke agama lain apapun, apalagi yang monoteistik, hanyalah keluar dari mulut ikan, lalu masuk ke mulut ubur-ubur. Agama adalah my past, neither my present nor my future.  

Tetapi saya tetap berkomitmen penuh untuk terus-menerus mendalami dan makin mengenal Yesus dari Nazareth yang telah mendapat sebuah ruang khusus dalam batin dan pikiran saya. Untuk keperluan mengenal lebih objektif sosok agung ini, saya harus habiskan waktu bertahun-tahun mencari-carinya di perpustakaan-perpustakaan besar di sejumlah universitas di negeri Belanda. Disertasi doktor yang telah saya tulis dan telah diterbitkan dengan judul The Trial of Jesus in John Dominic Crossan's Theory: A Critical and Comprehensive Evaluation (2005) adalah sebuah karya yang menunjukkan cinta saya pada Yesus. 

Karena saya mencintai Yesus, dia bagi saya ada bukan hanya untuk diimani dengan membuta, tetapi juga untuk dikaji secara ilmiah. Cinta dan kajian ilmiah tidak terpisah. Cinta mengikat saya dengan Yesus dalam keabadian, kajian-kajian ilmiah terhadap sosok besar ini memperluas pengenalan saya kepadanya terus-menerus, tanpa akhir. Karena saya mencintai Yesus, saya menyelidikinya secara ilmiah terus-menerus; dan karena saya mengkajinya tanpa akhir, saya makin mencintainya. Karena saya mencintai Yesus, segala hal yang baik yang diajarkan dan diperagakan Yesus, saya berusaha sungguh-sungguh aktualisasikan lewat kehidupan saya sekarang. Karena Yesus sungguh mencintai orang-orang yang berkesusahan, saya juga berusaha untuk menyayangi, dan menolong, setiap orang yang hidup dalam azab dan penderitaan, yang saya jumpai.   

Selain itu, saya juga akan terus melanjutkan kajian-kajian kritis saya terhadap dunia agama-agama hanya dengan satu tujuan: memberi berbagai sumbangan pemikiran untuk umat beragama apapun menjadi cerdas dalam beragama. Begitu juga, kemampuan akademik saya dalam bidang kajian Yesus sejarah, akan terus saya kembangkan supaya bisa bermanfaat buat gereja-gereja di Indonesia. Harapan saya adalah gereja-gereja tidak hanya mampu mengindoktrinasi umat mereka dengan dogma-dogma tentang Yesus, tetapi juga mampu memberikan kepada umat mereka hasil-hasil kajian ilmiah tentang siapa sebenarnya Yesus dari Nazareth sebagai sosok yang real hidup di negeri Palestina pada abad pertama Masehi. 

Tentu saja banyak pekerja gereja-gereja, khususnya para pendeta, yang terus-menerus menegaskan bahwa jika kajian-kajian ilmiah terhadap sosok Yesus disampaikan ke warga gereja umumnya, maka yang akan terjadi adalah: iman dan kepercayaan mereka terhadap Yesus menjadi goyah, alhasil kajian-kajian ilmiah ini merusak, bukan membangun iman dan kepercayaan Kristen. Saya biasanya menanggapi keberatan mereka ini dengan menyatakan bahwa beriman tanpa disertai keraguan dan pertanyaan, bukan lagi iman dan kepercayaan yang hidup dan terus tumbuh lewat perubahan-perubahan, melainkan delusi. Iman itu, kalau hidup, akan terus berubah, bertumbuh, dinamis. Jika iman itu mati, bukan lagi iman namanya, tetapi delusi. Jika delusi semakin akut, delusi ini menjadi patologis, dan delusi yang patologis sangat merusak agama-agama apapun. Anda seyogianya tahu, delusi kini telah membuat gaya hidup dan sepak terjang banyak orang beragama tidak lagi membangun dunia dan perdamaian, tetapi merusak kehidupan dan melenyapkan perdamaian.

Di samping kajian-kajian ilmiah dalam kehidupan keagamaan saya perlukan, saya juga tetap butuh spiritualitas, bukan religiositas terlembaga. Kenapa saya memerlukan spiritualitas? Karena saya tahu pasti, ada neuron-neuron dalam otak kita yang memerlukan makanan spiritual. Ada atau tidak ada Tuhan, alam telah membentuk otak homo sapiens yang butuh input dan output spiritual. Spiritualitas sudah terpatri dan built-in dalam otak kita sekarang ini; sudah hard-wired, artinya: menjadi bagian fungsi neural otak manusia. Bahwa otak kita sudah disetel oleh alam untuk butuh input dan output spiritual, sudah saya tulis dengan dahsyat di sini http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html

Saya yakin, otak kita berkondisi seperti itu hanya pada masa kini tahap evolusi organ otak kita; di masa depan, karena evolusi (alamiah dan artifisial/buatan), belum tentu otak kita butuh spiritualitas, ketika sains mampu menjelaskan nyaris segalanya dan kebudayaan teknologis yang humanis sudah mengglobal. Nah, karena saya perlu memberi makanan spiritual ke otak saya, saya memilih aktif dalam rumah Zen, tanpa perlu menganut agama tradisional teistik lain. 

Dengan demikian, ideologi ateisme juga sama sekali bukan pilihan saya. Saya telah menemukan, akal dan batin saya tidak bisa ateis, meskipun saya tetap menghormati kawan-kawan yang memilih jadi ateis. Saya sudah menjadi seorang bebas, a freethinker, jadi mustahil saya mau memenjarakan diri saya lagi dalam ideologi ateisme. Sejauh yang saya sudah ketahui, ada sedikit ide dalam ateisme yang bagus; tetapi kebanyakan, hemat saya, tidak bagus, buruk, dan tidak menarik. Ini terbukti dengan makin banyaknya orang ateis radikal, militan dan fundamentalis belakangan ini. Hal bagaimana saya sudah mendekonstruksi ateisme, dapat dibaca di sini http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2014/08/apakah-tuhan-itu-ada.html.   

Meskipun saya ada dalam rumah Zen, ingin saya tegaskan sekuatnya, saya tetap seorang bebas, a freethinker. Zen justru menghendaki orang-orang bebas berkelana dalam pikiran, lewat olah otak yang dinamakan zazen dengan dipandu oleh koan-koan. Beragama, dalam Zen Buddhisme, bukanlah menyembah suatu Allah, melainkan mengontrol dan mendewasakan pikiran, dan lewat pikiran yang benar dan berani, orang disanggupkan melakukan kebajikan. Jadi, masuknya saya ke rumah Zen tak lain karena saya ingin hidup utuh dan tetap bebas melakukan ziarah pemikiran. I am a Zenist but at the same time a freethinker. Sebuah pepatah Zen berbunyi demikian, Seluruh jagat raya tunduk pada suatu pikiran yang tenang. 

Saya bisa berada dalam ketenangan pikiran selama satu hingga dua jam, bahkan kadangkala lebih, dalam meditasi rutin saya setiap hari. Tetapi, saya mau ingatkan bahwa meditasi yang real itu adalah kehidupan kita sehari-hari, yang kita jalani dengan tenang, berkonsentrasi, berpikir dengan serius tetapi juga dinamis dan dalam banyak perspektif, dan juga disertai dengan sikap yang relaks, riang, happy, dan hati dipenuhi kebaikan. Menyadari hal ini, I am really, really happy. Kata Dalai Lama XIV, meditasi terbaik adalah tidur nyenyak setiap malam!

Alhasil, dengan pikiran yang tenang dan segar, saya juga mengembara masuk ke dalam dunia sains yang sangat mempesona. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir ini, pengetahuan saya tentang sains semakin luas dan dalam, dan keadaan ini sangat mempesona saya. Ternyata saya lebih berbakat menjadi seorang pemikir sains, ketimbang menjadi seorang pendeta.

Saya sekarang ini sangat berbahagia dalam dunia sains, jauh lebih berbahagia dibanding ketika bekerja sebagai seorang pendeta. Malah jabatan pendeta dulu kerap menyiksa batin dan akal saya!

Bisa jadi saya dulu telah salah memilih jurusan teologi ketika studi S-1, dan sudah pasti saya telah salah memilih pekerjaan sebagai seorang pendeta! Berbuat salah satu dua kali adalah hal yang insani. Kata Albert Einstein, Siapapun yang tak pernah membuat kesalahan, tak pernah mencoba sesuatu yang baru.

Sewaktu belajar di SMP lalu di SMA dulu, minat terbesar saya adalah fisika, matematika dan kimia. Tapi, saat mau melanjutkan studi ke perguruan tinggi, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil bidang ilmu arsitektur. Tapi pilihan ini akhirnya saya batalkan karena saya waktu itu berhasil diyakinkan sejumlah orang di gereja bahwa jauh lebih baik memilih ilmu teologi. Kata mereka, bersama dengan filsafat, teologi atau ilmu tentang ketuhanan adalah ibu dari semua cabang ilmu pengetahuan. Waktu itu saya berpikir, hebat juga jika saya bisa menguasai ilmu segala ilmu atau ibu semua ilmu, yakni teologi. Akhirnya saya sekolah di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta selama lima tahun penuh dan lulus dari sekolah ini dengan yudisium cum laude, dengan pujian

Oleh sekolah ini, saya ditempa menjadi seorang pemikir teologi yang liberal. Tapi pada sisi lain, ada tekanan kuat dari gereja-gereja pengelola STT Jakarta untuk hanya mencetak para sarjana teologi yang setia dan taat pada dogma-dogma gereja. Dualisme ini sangat tidak menenteramkan saya.

Lama kelamaan saya makin menyadari dan menemukan fakta-fakta bahwa teologi itu bukan ilmu dari segala ilmu atau ibu dari semua ilmu pengetahuan. Saya waktu itu, karena berpikir liberal, akhirnya menemukan, nyaris semua klaim dalam ilmu teologi tidak dilandaskan pada bukti-bukti yang real, melainkan dibangun hanya dengan landasan otoritas ilahi kitab suci yang tidak boleh diragukan, kepercayaan tanpa bukti, segudang asumsi, angan-angan, cita-cita, harapan-harapan, keinginan-keinginan, impian-impian, yang semuanya kini tampak oleh saya hanya sebagai isapan jempol belaka. Tentu ada klaim-klaim dalam teologi yang dilandaskan pada fakta-fakta, tapi jumlahnya sangat sedikit. Kondisi ini membuat saya tidak tenteram. Saya waktu itu, akhirnya, terdorong kuat untuk kembali mendalami ilmu-ilmu empiris, seperti yang pernah saya lakukan saat di SMP dan SMA.   

Sekarang ini, saya bersyukur kepada alam atas kesempatan untuk saya boleh mendalami berbagai cabang sains; dan, hopefully, dalam dua puluh tahun ke depan pengetahuan saya mengenai sains-sains empiris akan makin meningkat. Thanks, Mother Nature! Tak ada rasa sakit hati dalam bentuk apapun dan kepada siapapun dalam diri saya sekarang ini. I am a free gentleman and also a lover of humanity!

Sekian pendeta GKI kini, di hadapan saya pribadi, menyesalkan sikap para petinggi GKI yang dulu tidak merangkul saya, karena kini saya malah semakin “liar” berpikir. Ketimbang bisa membungkam saya, kini malah saya, kata mereka, makin membuat banyak pendeta kebakaran jenggot karena tulisan-tulisan saya yang semakin meluas ke banyak bidang ilmu. Kini saya bebas berpikir dan menulis apapun dalam bingkai sains, tanpa kontrol apapun dari gereja manapun. 

Sungguh saya tidak bisa mengerti jika dalam zaman modern ini ada orang, beragama ataupun tidak, sampai bisa membenci dan menolak keras sains modern. Kini tanpa sains dan teknologi modern tidak seorang pun akan dapat hidup dengan baik dan sehat! Tanpa kitab-kitab suci agama-agama, anda tentu saja masih bisa hidup dengan sangat baik. Tetapi anda akan sangat menderita bahkan akan mati jika anda menolak semua sains modern dan semua teknologi yang dihasilkannya. Kalau anda tidak percaya, anda cobalah sendiri.

Ketika saya telah terbitkan buku MSS saya, tanpa didahului dialog dan bedah buku ini dengan saya, mereka, para pemuka GKI itu, menyatakan saya sesat, dan hal ini diumumkan di seluruh gereja GKI di Indonesia!

Karena saya secara sepihak sudah dinyatakan sesat, mereka menyatakan saya berada dalam penggembalaan khusus untuk membuat saya di ujungnya menarik kembali buku MSS itu! Inilah skenario mereka.

Tapi, demi kejujuran ilmiah dan integritas pribadi, saya tak mengambil pusing atas penetapan status saya sebagai seorang sesat oleh GKI!  Bagi saya sendiri, pikiran saya lurus dan jujur. Saya pikir, Yesus dari Nazareth pun, kalau dia masih hidup, akan membenarkan saya!

Hampir dua tahun saya tak pernah menggubris panggilan pimpinan sinode GKI sampai empat kali untuk saya digembalakan khusus! Saya sudah bersikap, Silakan kalian lepaskan jabatan pendeta saya, karena saya tidak akan pernah memusingkannya!

Sesungguhnya, GKI telah memakai pendekatan kekuasaan dalam menghadapi buku MSS saya itu. Saya tahu, mereka takut kalau mendiskusikan dulu buku MSS itu dengan saya di forum publik tanpa saya dinyatakan sesat lebih dulu!

Sekarang di mana-mana sekian pendeta ketua GKI dengan munafik menyatakan, bahwa penggembalaan khusus atas orang sesat itu adalah kesempatan berdialog dengan pimpinan sinode GKI! Sungguh sebuah perbuatan yang sangat pengecut dari kaum rohaniwan ortodoks pro-dogma.

Tapi saya maklum, memang sejak awal gereja berdiri, gereja selalu memakai kekuasaan represif, ketimbang membuka dialog bermartabat. Filsuf perempuan pemberani Hypatia telah mengalaminya di Aleksandria, Mesir. Juga Arius di tempat lain. Galileo Galilei sama juga. Michael Servetus dibakar hidup-hidup atas perintah Yohannes Kalvin lantaran si korban ini mengkritik habis buku Kalvin, Institutio. Di zaman kita, Leonardo Boff juga dipaksa bungkam. Gustavo Gutierrez demikian pula. John Shelby Spong termasuk bahkan diancam. Dan masih banyak lagi.

Saya bangga bisa melawan dogma-dogma kolot gereja yang bagi saya sudah usang dan memperbodoh manusia! Tanpa pembaruan, ya semua teologi kolot itu berubah dengan sendirinya menjadi fosil-fosil teologi. Dalam buku MSS itu, saya bukan hanya mengkritik dogma gereja, tapi juga memberi jalan-jalan alternatif yang liberal.

Saya bangga menjadi seorang liberal.
I am proud of being a liberal!

Guru-guru saya sendiri mendidik saya jadi liberal ketika studi S-1 dulu di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta! Saya meneruskan dan memperdalam pemikiran liberal yang mereka telah wariskan kepada saya.

Dulu saya sangat membanggakan STT Jakarta karena keliberalan pemikiran di dalamnya. Tapi kini STT Jakarta sudah jauh dari pemikiran liberal, karena sudah terperosok ke dalam kubangan gelap konservatisme, dogmatisme dan fideisme.

Sayalah pewaris satu-satunya yang masih hidup dan committed, dari para founding fathers STT Jakarta yang liberal! Saya bangga dan bahagia dengan kenyataan ini! 

Pelabuhan yang selalu samar-samar....

Tetapi saya sudah bisa melihat, ke depannya, saya tidak mau lagi digolongkan ke dalam kubu liberal dalam pemikiran teologi. Watak mental saya adalah watak seorang musafir, seorang peziarah, yang terus berjalan ke depan, tidak pernah berdiam panjang dan lama di suatu stasiun. Tujuan akhir perjalanan saya terletak di tempat yang sangat jauh, suatu pelabuhan yang selalu samar-samar kelihatan, tetapi tidak pernah saya bisa singgahi. Saya adalah seorang peziarah dan penjelajah dalam lelautan jagat raya yang luas, tanpa batas dan tanpa tepi. Terus saja saya berlayar, berenang, menjelajah

Planet demi planet, sistem matahari demi sistem matahari, galaksi demi galaksi, jagat raya demi jagat raya, saya lewati terus. Terus, terus dan terus. Ke masa depan yang juga tanpa batas. Menembus worm holes, berpindah dari satu ruangwaktu ke ruangwaktu lainnya, masuk ke dunia-dunia dan dimensi-dimensi lain, tanpa habis. Mungkin saya akan bisa melompat jauh ke masa depan, dan mungkin juga bisa kembali jauh ke masa lampau. Silih berganti akan saya lakukan. Menguak banyak misteri, hanya untuk menemukan misteri-misteri baru lagi. 

Faktanya adalah saya akan selanjutnya memilih untuk menjadi seorang yang berpikir ilmiah, a scientific-minded man! Artinya, semua pandangan, pendapat dan sikap saya tentang banyak hal dalam dunia ini akan saya selalu usahakan punya landasan-landasan ilmiah. Liberalisme pun kini tidak luput dari berbagai kritik saya, tentu dari sudut pandang ilmiah.

Ilmu pengetahuan itu, walaupun terbatas, selalu maju ke depan, tanpa berhenti, tanpa ada batasnya. Ilmu pengetahuan itu adalah perziarahan, dus semua ilmuwan dan semua orang yang memilih berpikir ilmiah selalu berada dalam perjalanan dan ziarah yang tidak pernah berakhir. 

Sebaliknya, agama itu, walaupun diklaim tanpa batas, sebetulnya sangat terbatas, sebab semua klaim keagamaan hanya didasarkan pada segudang asumsi dan kepercayaan, tanpa pernah bisa dibuktikan kebenarannya. Sejak ribuan tahun lalu, dan terus ke depan, tentang asal-usul dunia, manusia, dan kehidupan yang rumit dan terus berkembang dan berubah, agama hanya memegang satu penjelasan saja, sangat terbatas, yang mereka klaim datang dari sorga. Padahal, berbagai ilmu pengetahuan modern telah berhasil memberi kita banyak pengetahuan baru yang menakjubkan tentang asal-usul jagat raya, manusia, kehidupan dan sangat banyak hal lain yang sama sekali tidak pernah disebutkan satu kalipun dalam semua kitab suci dari dunia kuno.  

Iman keagamaan, dengan demikian, bukan membebaskan manusia, tetapi memenjara, sejauh agama apapun menjadi sebuah museum fosil-fosil kepercayaan purba. Sang sufi dari Persia yang beken, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengajukan sebuah pertanyaan yang selalu saya ingat, “Mengapa anda terus berdiam dalam penjara sementara pintu-pintunya terbuka lebar?” Rumi juga memerintahkan, “Jadilah langit! Ambil sebuah kapak lalu runtuhkan dinding penjara itu! Lepaskan dirimu!”  

Saya sudah runtuhkan dinding-dinding penjara itu, Rumi! Saya sudah bebas, dan kini terus terbang, dan terus berenang. Saya mau menjadi langit! Juga menjadi lelautan luas! Juga menjadi seekor lumba-lumba! Saya senang bisa berenang-renang terus sepanjang umur saya di lelautan ilmu pengetahuan. 


Saya bertekad, meskipun tidak lagi mengikatkan diri pada satu agama terlembaga apapun, even though I am walking alone, saya tidak akan meninggalkan dunia agama-agama, tetapi berperan lebih luas dan lebih dalam dari sudut-sudut lain. Untuk mengubah dunia dalam skala kecil, tetapi dengan mengabaikan kurang lebih 4 milyar orang dewasa yang beragama dalam dunia di abad ke-21 ini, hemat saya adalah suatu langkah yang tidak strategis. Orang ateis tidak melihat hal strategis ini. Saya melihatnya. 

Semoga juga, dengan bekal ilmu pengetahuan yang makin dalam dan luas, saya bisa membantu banyak orang beragama untuk menjadi cerdas beragama, tidak lagi bodoh. Beragama dengan cerdas itu beragama bukan dalam sebuah museum fosil, tetapi dalam sebuah laboratorium. 

Maaf, kini waktu saya mau masuk ke saat teduh, untuk berada berdua saja dengan Sang Sunyi. Dalam kesunyian berdua, kami menjadi ramai, tetapi sunyi. Sunyi yang mahasunyi. Sunyi nan sendiri. Sunyi nan ramai. 


Jakarta, 24 Desember 2011
ioanes rakhmat