Tuesday, October 1, 2013

Benarkah para saintis mempertuhan pikiran mereka?




Kekuatan akal dan pikiran adalah wahana menuju kebenaran, bukan untuk disembah. 


Sabda Yesus Kristus, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap akal budimu." Ketika akal dan pikiran dikerahkan semaksimal mungkin untuk mengonstruksi ilmu pengetahuan, di saat itulah para ilmuwan juga menjadi kekasih-kekasih Allah YMTahu, sumber segala pengetahuan. Keren banget, bukan? --- ioanes rakhmat


N.B. Diperluas 25 Agustus 2021


Banyak orang yang cuma bisa "melihat ke satu arah", yang biasa dijuluki orang yang “berkacamata kuda”, dalam semua agama teistik, sering menuduh para saintis mempertuhan pikiran mereka, menggantikan Tuhan Allah yang sebenarnya. Kata mereka, Tuhan para saintis itu otak mereka. Is that true? 

Ketimbang membangun debat bermartabat dan terbuka, mereka memang lebih memilih memakai argumentum ad hominem, yakni menyerang diri pribadi para saintis dengan membabi-buta, dan bukan mendiskusikan dengan cermat seluk-beluk dunia sains.

Berikut ini perkenankan saya mengajukan sejumlah alasan yang memperlihatkan bahwa tuduhan mereka yang berkacamata kuda itu tidak benar sama sekali. 

Delapanbelas alasan

Pertama, dalam dunia sains tak ada objek apapun (benda, organisme bernyawa, atau hakikat-hakikat imajiner adikodrati) yang dipertuhan yang tak boleh digugat atau dikritik. 

Sebaliknya, menggugat atau mengkritik sains adalah salah satu prasyarat untuk sains dapat terus berkembang. Tentu saja gugatan atau kritik di sini bukanlah gugatan atau kritik asal-asalan, melainkan gugatan atau kritik yang bernalar, argumentatif dan memakai dasar bukti-bukti. 

Kedua, semua saintis dengan jelas mengakui bahwa kendatipun daya jelajah pikiran itu tak ada batasnya, selalu mampu membuka cakrawala-cakrawala baru, pikiran kita, sehebat dan serapih apapun dibangun, sehebat dan seapik apapun telah mengonstruksi sains, tetap bisa salah, fallible. Karena fallibilisme ini, maka pikiran saintifik kita apapun harus selalu kita kontrol dan uji terus-menerus lewat metode-metode saintifik. 

Fallibilisme dalam dunia sains ini digarisbawahi mula-mula oleh filsuf pragmatisisme Charles Sanders Peirce (1839-1914)./1/

Ketiga, semua saintis dengan jelas mengakui bahwa pikiran memang mulia, karena mampu mengonstruksi sains dan melahirkan hal-hal besar bagi pembangunan peradaban, tapi pikiran kita bisa juga, di bawah kondisi-kondisi tertentu, membuahkan banyak kejahatan yang akan menyengsarakan umat manusia. 

Dengan lebih kongkret lagi, Jacob Bronowski menegaskan bahwa “Tidak ada sains yang kebal terhadap infeksi politik dan korupsi kekuasaan.” 

Charles Darwin juga menyuarakan pandangan yang serupa, bahwa “tahap tertinggi yang mungkin dicapai dalam kebudayaan moral adalah ketika kita mengakui bahwa kita harus mengontrol pikiran-pikiran kita.” 

Dalam terminologi masa kini, apa yang dikatakan Darwin itu adalah bahwa kita harus mempunyai salah satu "soft skill" yang dinamakan "metacognitive skill", yakni kecakapan kita untuk dengan kritis dan sadar sepenuhnya "memikirkan pikiran kita sendiri" atau "thinking about our own thinking"--- inilah yang dimaksud dengan metakognisi (pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Amerika John H. Flavel, 1976). 

Lewat aktivitas metakognitif, kita memantau dan mengevaluasi pikiran kita sendiri, lalu tiba pada pikiran lain yang "melampaui" (Yunani: meta, "beyond") pikiran atau "cognition" (dari kata infinitif Latin cognoscere, "to know" atau "to learn about", "mengetahui", "memahami") kita sebelumnya. 

Setelah proses metakognitif ini berjalan, kita perlu melakukan penyesuaian dan adaptasi pikiran-pikiran kita sebelumnya dengan kreatif ketika konteks luas, persoalan dan tantangan kehidupan kita berubah dengan dinamis./2/

Ketika kecakapan metakognitif terus kita gunakan, fungsikan, berdayakan dan latih, maka "mindset" kita atau "ruang pikiran kita dan perabot-perabot yang ada di dalamnya" akan terus bertambah luas, apik terkoordinasi dan terkonsolidasi, dan bercahaya mengkilat.

Selain itu, semua pikiran kita harus terus-menerus kita kontrol lewat nilai-nilai moral yang kita pandang sebagai nilai-nilai yang agung dan lewat kemauan membaja untuk menghasilkan kebajikan buat umat manusia dan dunia ini. Nilai-nilai moral juga dinamis, tak boleh dibuat statis, dan harus juga kita pikirkan kembali dan pantau dengan tanggap dalam suatu dunia yang terus berubah.

Menurut astronom Amerika yang beken Carl Sagan, semakin tinggi peringkat peradaban suatu spesies cerdas, semakin agung akhlak spesies cerdas ini, bukan sebaliknya. 

Pernyataan Sagan ini diajukan olehnya dalam suatu konteks diskusi pada masanya tentang apakah berbahaya ataukah tidak berbahaya jika spesies Homo sapiens suatu saat nanti bertemu dengan alien-alien cerdas dari angkasa luar yang sudah memiliki peradaban sangat tinggi, jauh di atas peradaban kita sekarang. Sagan ingin menenangkan dan meyakinkan masyarakat pada masanya. Semoga Sagan benar. 

Jika anda skeptik dan bertanya apakah alien-alien cerdas itu sungguh ada, saya sudah menggumuli pertanyaan ini, dan sudah menulis topik ini dengan luas. Sedikitnya ada dua tulisan saya yang perlu anda baca, yang pertama berjudul "Adakah alien cerdas di angkasa luar?",/3/ dan yang kedua "Paradoks Fermi atau Silentium Universi"./4/

Ya, gratefully, saya diperkenan Tuhan untuk menjadi penjelajah luas lintasilmu dan terus-menerus menulis. This is my path.

Keempat, meskipun sains dibangun oleh pikiran yang bekerja dengan tertib di jalur metode-metode saintifik, yang menentukan kebenaran sebuah posisi saintifik bukan pikiran itu sendiri, tapi bukti-bukti empiris. Inilah epistemologi evidensialis (Latin: evidentia, bukti) sebagai epistemologi sains: suatu posisi pengetahuan (Yunani: epistēmē) itu benar dan sahih sejauh ada bukti-bukti empiris (empirical evidence) yang mendukungnya. 

Seperti sebuah rumah berdiri kokoh di atas fondasi-fondasi beton yang kuat, sains juga berdiri kokoh di atas fondasi bukti-bukti empiris. Jules Henri Poincare menyatakan bahwa “sains dibangun di atas fakta-fakta, seperti sebuah wisma dibangun di atas fondasi bebatuan”.

Kelima, sebagai fondamen sains, bukti-bukti empiris terdahulu akan dinyatakan kurang memadai, cacat atau tidak valid jika ditemukan bukti-bukti lain yang lebih kuat dan lebih memadai. Kemanapun bukti-bukti membawa, ke sanalah para saintis akan mengarahkan pikiran saintifik mereka. 

Itu sama halnya dengan para saintis menelusuri tanah planet Mars (lewat sebuah rover yang dikendalikan dari Bumi) untuk menemukan air ketika mereka mencari petunjuk-petunjuk adakah kehidupan di sana. Follow the water to find life! Follow the empirical evidence to find scientific truths!

Keenam, dalam dunia sains teori-teori besar dan model-model standard selalu bersifat tentatif, suatu saat akan diganti dengan teori-teori dan model-model lain yang lebih akurat dan lebih inklusif dan sejalan dengan realitas empiris yang makin luas dikuak lewat penyelidikan-penyelidikan saintifik yang tak pernah berhenti dijalankan. 

Kesementaraan, bukan kemutlakan, malah membuat kita makin dekat pada kebenaran-kebenaran. Riset-riset ilmiah tidak akan pernah selesai, dan harus didukung untuk berjalan terus. Charles Sanders Peirce menyatakan, “Jangan blokir jalur perjalanan riset!” Jalur-jalur semua riset ilmiah haruslah bebas macet dan bebas hambatan. Para ilmuwan berusaha sangat keras ke tujuan ini.

Ketujuh, dalam dunia sains tak ada sains final dan absolut, sebab sains memiliki watak terus berubah dan berkembang, impermanen sekaligus progresif, terus berubah dan maju menuju kebenaran-kebenaran yang makin penuh, lewat dialektika tesis vs. antitesis, yang melahirkan sintesis sebagai sebuah tesis baru. Dialektika ini akan dan selalu terus berjalan. 

Sebutan “sains final” atau “sains absolut” adalah sebuah oxymoron, atau sebuah contradictio in terminis, sebuah istilah yang berkontradiksi pada dirinya sendiri. Contoh lain oxymoron: kekalahan adalah kemenangan yang tertunda; atau lagi: profesor muda cerdas yang linglung. Dalam dunia sains, oxymoron tidak ada; dan hanya ada sebagai retorika politis dan dalam dunia seni. 

Kedelapan, kalaupun ada yang tetap dan kekal dalam sains, ini adalah kesementaraan dan perubahan. Kesementaraan dan perubahan, atau impermanensi, adalah hukum alam yang abadi. Orang umumnya akan gelisah dan tak tenteram di batin jika mereka menghadapi ketidakpastian-ketidakpastian dalam kehidupan mereka. 

Tetapi para saintis menikmati dengan asyik kesementaraan dan ketidakpastian yang berjenjang (sangat pasti, pasti, agak pasti, kurang pasti, sangat kurang pasti, sepenuhnya tidak pasti, dan paling bawah: salah) di dalam sains, sebab keadaan ini mendorong mereka untuk terus berkarya, mengkaji posisi-posisi saintifik lama untuk tiba pada posisi-posisi saintifik baru. Jadi, setiap saintis perlu memiliki keuletan dan semangat penjelajah.

Mereka berkarya ibarat para pelaut yang tertantang menjelajah dan memasuki kawasan-kawasan pelayaran yang asing dan tak dikenalDalam pelayaran ini, mereka akan menemukan pulau-pulau baru yang sebelumnya tak terdapat dalam peta dunia, ada di kawasan terra incognita

Jacob Bronowski menulis, “penemuan yang paling menakjubkan yang dibuat para saintis adalah sains itu sendiri.” 

Ya, sains memang menakjubkan karena sains adalah suatu perjalanan dan pelayaran ke kawasan-kawasan yang belum dikenal, "a voyage to the unknown", yang serba penuh dengan kemungkinan-kemungkinan dan misteri-misteri baru yang mengejutkan dan memukau.

Kesembilan, sebagaimana ditekankan oleh Charles Sanders Peirce, pada dirinya sendiri sains itu memiliki sifat dan kemampuan mengoreksi dirinya sendiri (self-corrective), tanpa perlu dipaksa oleh siapapun atau oleh lembaga apapun. 

Dengan demikian, sudah menjadi watak inheren sains itu sendiri untuk mengoreksi diri sendiri dan dengan demikian berkembang terus, menuju kebenaran-kebenaran yang makin lengkap dan sahih. Menurut Peirce, kemampuan “self-correction” dalam sains ini lebih penting ketimbang mencari kepastian-kepastian dalam sains.

Kesepuluh, dalam dunia sains tak ada otoritas tunggal apapun (lembaga atau manusia) yang diberi hak dan wewenang untuk memapankan atau meruntuhkan sebuah posisi saintifik. Thomas Huxley menyatakan bahwa “setiap kemajuan besar dalam pengetahuan natural melibatkan penolakan mutlak atas otoritas.” 

Sains itu berkembang kumulatif, dialektis dan progresif lewat kerjasama para saintis dari zaman ke zaman, dari satu tempat ke tempat lainnya, dalam berbagai komunitas saintifik sedunia yang selalu aktif untuk mendiskusikan dan memperdebatkan sains dari waktu ke waktu secara interdisipliner dan bernalar. Aktivitas keilmuan inilah yang dinamakan peer review

Alexander Graham Bell menyatakan bahwa “penemuan-penemuan dan kemajuan-kemajuan besar selalu melibatkan kerjasama banyak pikiran.”

Setiap posisi saintifik dihasilkan lewat kerjasama para ilmuwan lintaswaktu dan lintasruang yang membentuk komunitas-komunitas saintifik dunia. 

Sains itu tidak ada yang menjadi milik pribadi, tetapi selalu milik jagat raya. Patent atas suatu temuan iptek baru, dan Nobel Prize yang diberikan, adalah cara-cara sah untuk menghargai dengan patut prestasi-prestasi besar insan-insan cerdas yang bergulat di dunia iptek, bukan untuk memprivatisasi mutlak dan abadi suatu temuan sainstek.

Kesebelas, sains akan terus berkembang maju dan akan makin memberi banyak manfaat positif buat umat manusia hanya dalam suatu kehidupan masyarakat yang dikelola secara demokratis sekular, dan akan terpasung dan terberangus di dalam suatu masyarakat atau negara yang dikelola secara teokratis dan menolak sekularisasi. 

Sekularisasi bukan penolakan absolut pada agama, tetapi menempatkan agama sebagai suatu pranata dalam kawasan privat dan kesalehan individual dan kolektif dalam batas-batas wilayah komunitas-komunitas religius saja, bukan dalam wilayah politik dan iptek modern./5/

Jika pengembangan iptek dicampuri dan digerecoki agama-agama totalitarian yang mau merambah ke semua bidang kehidupan, iptek pun pasti amblas.

Di dalam suatu negara teokratis, hukum-hukum Allah (baca: hukum-hukum agama) dipandang superior dari semua hukum lain, hukum positif, misalnya, termasuk hukum-hukum alam yang abadi dan hukum-hukum sains. 

Dalam negara yang konsekwen teokratis, sains boleh dikembangkan sejauh memperkokoh hukum-hukum agama, bukan merongrongnya. Hal inilah yang justru tidak bisa dilakukan sains apapun. Coba tengok, sejauh mana iptek dapat berkembang tanpa batas di dalam negara-negara teokratis murni apapun.

Oh ya, China kini maju pesat dalam pengembangan iptek dalam banyak bidang meskipun negara berpenduduk besar ini bukan suatu negara demokratis. Ya, karena di China sama sekali tidak dimungkinkan untuk agama-agama apapun menggerecoki pengembangan iptek yang direncanakan dan dijalankan negara bersama mitra-mitra kerja mereka.

Keduabelas, sains tak mengenal dunia supernatural, tapi memandang seluruh kosmos sebagai dunia natural yang berfondasi hukum-hukum sains yang penuh dengan "scientific wonders" atau pesona-pesona keilmuan. Kosmologi dan mekanika quantum, juga evolusi biologis spesies-spesies, misalnya, penuh dengan hal-hal yang mengherankan, mempesona, dan menawan hati.

Richard Dawkins menyebut pesona-pesona itu sebagai "poetic magic", yang berbeda dari "supernatural magic" (magic dalam kisah-kisah dan dongeng-dongeng mitologis) dan "stage magic" (magic yang kita persepsi sedang diperagakan di panggung oleh seorang mentalis atau ilusionis, yang biasanya disebut tukang sulap).

Tulis Dawkins, "Sederhana saja, magic puitis berarti menggerakkan hati dengan mendalam, menawan hati,...membuat kita merasa hidup lebih penuh. Kita terdorong untuk menangis di saat mendengar suatu musik yang indah.... Di saat kita menatap bintang-bintang dalam kegelapan malam tanpa Bulan dan tanpa cahaya penerang kota, maka, dengan menahan nafas dan bersukacita, kita menyatakan pemandangan yang kita sedang lihat itu benar-benar magis."/6/

Kalau pun bersikap positif, paling jauh sains hanya menghipotesiskan adanya dunia supernatural, sebuah hipotesis yang hingga kini, setelah ribuan tahun sejarah agama-agama,/7/ tak pernah terverifikasi lewat bukti-bukti empiris. 

Jika berbagai pengalaman spiritual, yang diklaim telah dialami banyak orang, betul-betul pengalaman masuk ke, atau bersentuhan dengan, dunia supernatural, yang dirasakan dialami orang di dunia real indrawi kita sehari-hari, maka mustinya pengalaman-pengalaman spiritual yang diobservasi dan diverifikasi oleh para ilmuwan akan membawa para ilmuwan ke temuan empiris dunia supernatural. Nyatanya tidak. Mengapa?

Ya mungkin karena kawasan "the otherworld" itu limitless, infinite, sehingga tak terdefinisikan, "undefined". Tapi bukankah "the otherworld" itu dirasakan dialami dalam dunia indrawi kita yang real dan terbatas, finite? Silakan cari jawabannya sendiri.

Para neurosaintis, yang bekerja dengan memakai berbagai instrumen pemindai otak untuk menginvestigasi apa yang berlangsung di dalam otak ketika manusia merasakan sedang "berjumpa" Tuhan atau merasakan suatu "presence" atau suatu "kehadiran yang tak kasat mata", umumnya menyimpulkan bahwa pengalaman-pengalaman spiritual berlangsung di dalam otak, sebagai kejadian-kejadian aksi-reaksi fisika-kimiawi neurologis, tidak mengacu ke "dunia lain" yang non-indrawi. Melalui proses evolusi biologis otak insani, otak kita terkonstruksi untuk dapat membangkitkan pengalaman-pengalaman spiritual./8/

Meski begitu, agama-agama tetap memiliki peran yang dinamis dan proaktif dalam kawasan nilai-nilai moral. Fakta-fakta ilmiah dan nilai-nilai agung (moral, estetik, artistik, spiritual, kognitif, afektif, saintifik, eksistensial sapiensial) sama-sama kita butuhkan. Sains dan nilai-nilai tidak dapat dipisahkan, bahkan sains sendiri memiliki dan melahirkan nilai-nilai. Ini sudah saya eksplorasi dalam tulisan saya "Sciences and Values"./9/

Ketigabelas, sains tak mengenal wahyu supernatural yang diasumsikan tak bisa salah karena dipandang datang dari Allah yang mahasempuna dan mahatahu, tapi betul-betul konstruksi pikiran manusia yang natural. Dengan begitu, sains bisa salah, dan tidak mampu untuk seketika menjelaskan segala sesuatu. Namun, hal-hal yang ditemukan manusia lewat akalnya lebih efektif dan lebih realistik serta lebih prospektif dalam menuntun manusia untuk memasuki masa depan dunia. 

Lompatan iman

Karena sains itu berdasar pada naturalisme, bukan pada supernaturalisme, maka di dalam dunia sains tidak dikenal apa yang dalam agama-agama kerap disebut sebagai “lompatan iman”: mempercayai begitu saja, tanpa perlu dibuktikan dan dinalar, adanya dunia supernatural dan hal-hal yang diklaim sebagai paranormalitas.

Frasa “leap of faith” dikaitkan pada Søren Kierkegaard (1813-1855) kendatipun dia tidak menyebutnya demikian, melainkan “leap to faith”, “lompatan ke iman”. 

Dalam karyanya Concluding Unscientific Postscript, Kierkegaard menyebut lompatan iman sebagai “suatu transisi dari ketidakpercayaan ke kepercayaan”. 

Tulisnya juga, “Ketika seseorang harus melompat dia tentu saja harus melakukannya sendirian dan juga sendirian saat dia memahami dengan benar bahwa lompatannya ini suatu ketidakmungkinan... Lompatan adalah suatu keputusan... Dan aku mengharuskan si individu yang melakukan lompatan ini untuk tidak berhenti melakukan perenungan tanpa akhir.”/10/ 

Frasa "perenungan tanpa akhir" ini sering diabaikan oleh para pelaku "lompatan iman". Kierkegaard tidak pernah memikirkan suatu leap of faith yang naif dan semberono untuk kepentingan ideologis atau doktrinal.

Yang umumnya terjadi, dengan lompatan iman yang dilakukan orang yang beragama untuk masuk ke ranah supernatural, semua debat ada atau tidak adanya ranah ini ditutup selamanya dan tidak boleh dibuka lagi. Iman, dus, menjadi sebuah senjata pamungkas pertahanan diri, bukan untuk pengembangan dan pematangan diri serta perluasan horison kearifan dan pengetahuan. Iman semacam ini tidak membangun. Jika iman dimaksudkan sebagai doktrin, maka ini doktrin yang buruk.

Jika situasinya seperti itu, anda nilailah sendiri apakah lompatan iman itu, seberani apapun, membebaskan manusia, atau malah memenjara manusia dalam kurungan ketidaktahuan dan kemalasan berpikir dan ketidakberanian menghadapi fakta-fakta. "The need of achievement" (NAch) atau "kebutuhan untuk berprestasi", khususnya di bidang iptek, tidak ada dalam iman jenis ini.

Apakah lompatan iman semacam itu bukan suatu pelarian, suatu eskapisme, karena orang mau menghindar dari fakta-fakta yang tidak berani diterima dengan terbuka, dan dari pengetahuan-pengetahuan baru?




Lompatan iman, suatu eskapisme yang terburu-buru


Jangan khawatir, ada iman jenis lain yang membangun, yakni iman yang dijalankankan dengan terus "mencari untuk mendapatkan" dan terus "mengetuk pintu untuk dibukakan", iman yang terekspresi dalam pemakaian "segenap akal budi untuk mengasihi Tuhan". Ini spiritualitas rangkap lima: kasih, iman, rasa ingin tahu atau kuriositas, akal dan nalar, pengetahuan.

Terkait lompatan iman, ada baiknya pada kesempatan ini saya memperkenalkan anda pada tiga kaidah penting yang berlaku dalam dunia sains, yang dinamakan kaidah Occam’s Razor atau Lex parsimoniae (Latin; artinya "kaidah paling hemat kata")./11/

Pertama, jangan membuat rumit hal-hal yang sebenarnya tidak rumit.

Kedua, teori yang paling mungkin benar adalah teori yang paling ringkas dan paling sederhana dari antara teori-teori yang ada yang lebih berbelit. 

Ketiga, jika anda mau menjelaskan apapun, mulailah selalu dengan memakai hal-hal yang secara empiris sudah diketahui, jangan membuat lompatan iman. 

Makin sedikit asumsi atau pengandaian dipakai dalam bangunan suatu posisi keilmuan, semakin kuat bangunan ini. Sebaliknya, semakin banyak asumsi dimasukkan ke dalam sebuah teori keilmuan, semakin lemah teori ini, sebelum akhirnya ambruk. 

Occam's Razor dikenal sebagai penalaran abduktif, di samping dua penalaran yang lainnya: deduktif dan induktif.




Atas: "simple", sederhana, gamblang, hemat kata. Bawah: "complicated", rumit, berbelit, kusut. "The preferential option for the simple" berlaku dalam dunia ilmu pengetahuan. Sumber gambar: VectorStock.com


Kesederhanaan atau kesimpelan dalam dunia sains ditekankan oleh Jacob Bronowski ketika dia menulis bahwa 

“Einstein adalah seorang yang dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa sederhana. Dan apa yang diperlihatkan oleh karya-karyanya adalah bahwa ketika jawaban-jawabannya juga sederhana, maka anda dapat mendengar Allah yang sedang berpikir.” 

Fideisme

Dalam ranah filosofis, lompatan iman melahirkan apa yang dinamakan fideisme. Sebagai sebuah mazhab filosofis keagamaan, fideisme menegaskan bahwa iman (Latin: fides) berdiri independen dari akal, bahkan bermusuhan penuh dengan akal. 

Bagi para penganut fideisme, nalar tidak diperlukan dan tidak patut dipakai di saat seorang yang beragama mengamalkan dan menjustifikasi kepercayaan-kepercayaan keagamaan mereka. Bagi mereka, yurisdiksi iman berbenturan dengan yurisdiksi nalar. 

Yang diketahui sebagai orang pertama yang memberi landasan fideisme adalah seorang Bapak gereja yang bernama Tertullianus (c. 160-230 M). Bapak gereja ini bertanya retoris, “Sesungguhnya ada hubungan apa antara Athena [baca: nalar] dan Yerusalem [baca: iman]?” 

Jauh belakangan, Alvin Plantinga mendefinisikan fideisme sebagai “suatu ketergantungan yang eksklusif dan dasariah pada iman saja, yang disertai oleh suatu peremehan dan cemooh terhadap nalar, dan digunakan khususnya dalam pengejaran kebenaran filosofis dan keagamaan.” 

Kata Plantinga, seorang fideis adalah seseorang yang “mengharuskan orang bergantung hanya pada iman alih-alih pada akal, dalam hal-hal filosofis dan keagamaan” dan yang “akan terus-menerus meremehkan dan mencemooh dan merendahkan akal.”/12/

Karena sains juga dibangun dengan landasan-landasan filosofis keilmuan,/13/ maka tak heran jika para fideis sangat meremehkan dan mencerca sains, bahkan menuduh akal dan pikiran adalah Tuhan para ilmuwan.

Science connects

Keempatbelas, tujuan sains sangat jelas, bukan untuk menyembah apapun, tapi untuk menjelaskan seluruh realitas kosmik dan realitas mikrokosmik lewat metodologi saintifik, tahap demi tahap, dengan makin luas dan makin inklusif dan integratif dari saat ke saat. 

Karena realitas kosmik itu sangat luas dan mencakup banyak dimensi, dan realitas mikrokosmik ("dunia" quantum) berisi hal-hal yang "asing" atau "sukar dipahami" atau "weird", maka dengan sendirinya muncullah beranekaragam sains yang perlu bekerjasama dan saling mendukung dalam rangka memahami dan menjelaskan sebanyak-banyaknya fenomena alam dan fenomena sosial. 

Semakin dalam anda memasuki dunia berbagai sains, dan memandang realitas sosial dan realitas kosmik dan mikrokosmik dari banyak sudut pandang saintifik, semakin dalam anda akan melihat fakta-fakta bahwa segala sesuatu dalam jagat ini berhubungan satu sama lain, terikat satu sama lain. Science connects, does not disconnect!

"The infinite unknown"

Tentu saja saya mengakui bahwa kendatipun sains modern sudah sangat maju, dan lewat kerjasama antar berbagai disiplin sains banyak hal dalam dunia bisa dijelaskan secara natural, tetap saja akan selalu ada hal-hal yang belum bisa dijelaskan seluruhnya atau sebagian darinya oleh sains modern. Tetap saja akan ada wilayah-wilayah yang belum bisa dimasuki dan dijelaskan oleh sains dengan sempurna. Saat sebuah misteri tersingkap, misteri baru muncul tak terhindar. Begitu seterusnya. 

Science is a voyage to the unknown. "The unknown" ini infinite, tak berhingga.

Kendatipun demikian keadaannya, para saintis tentu saja tidak akan melakukan lompatan iman sebagaimana sudah dikemukakan di atas, dengan menyatakan hal-hal yang masih sebagai misteri, yang masih "unknown", sebagai mukjizat atau peristiwa atau fakta atau fenomena yang hanya bisa dikerjakan oleh Allah. 

Jika menghadapi situasi-situasi semacam itu, para saintis memiliki keyakinan bahwa kajian-kajian saintifik lebih jauh nantinya akan bisa menjelaskan hal-hal yang kini masih belum bisa dijelaskan.

Hal-hal yang "masih belum bisa dijelaskan", sebut saja "celah-celah" atau "gaps", tidak akan pernah diisi dengan sosok Allah oleh para saintis. Praktek mengisi "gaps" dengan figur Allah atau "God" lazim cepat-cepat dilakukan orang yang beragama. Inilah praktek yang dinamakan solusi "God of the gaps" yang sudah banyak dilakukan orang yang beragama. Praktek ini selalu berakhir dengan kekecewaan mereka karena lambat-laun para ilmuwan dapat mengisi "gaps" tersebut dengan konten-konten ilmiah.

Kalau para agamawan menyebut hal-hal yang tidak/belum bisa dijelaskan ini sebagai mukjizat atau kejadian supernatural, para saintis akan menyatakan hal-hal itu sebagai hal-hal natural yang belum bisa dijelaskan sekarang, tapi suatu saat di masa depan, tahap demi tahap, sains akan bisa menjelaskannya dengan sempurna. 

Ada baiknya saya mengutip seorang pakar Perjanjian Baru, Rudolf Bultmann, pada kesempatan ini:

“Adalah mustahil untuk kita memakai cahaya listrik dan alat-alat komunikasi nirkabel, dan menyediakan bagi kita temuan-temuan dalam dunia medis dan ilmu bedah modern, namun pada saat yang sama kita mempercayai dunia roh-roh dan mukjizat-mukjizat seperti yang digambarkan Perjanjian Baru.”/14/

Sejalan dengan Bultmann, teolog yang bernama John Macquarrie dengan bagus menyatakan hal berikut ini, terkait dengan hukum sebab-akibat atau "causal laws":

“Cara memahami mukjizat sebagai pelanggaran terhadap tatanan alam dan sebagai intervensi dunia supernatural masuk ke dalam pandangan dunia mitologis, dan tidak berlaku lagi di dalam dunia pemikiran pasca-mitologis.... 

Konsepsi tradisional mengenai mukjizat tidak dapat didamaikan dengan pemahaman modern kita yang datang dari sains dan sejarah. Sains bekerja berdasarkan asumsi bahwa peristiwa-peristiwa apapun yang terjadi di dalam dunia dapat dijelaskan dalam hubungannya dengan peristiwa-peristiwa lain yang juga berlangsung di dalam dunia. 

Dan jika pada saat-saat tertentu kita tidak dapat menjelaskan dengan lengkap beberapa kejadian... keyakinan saintifik kita adalah bahwa lewat riset-riset yang lebih jauh kita akan, dalam situasi ini, dapat menemukan faktor-faktor yang lebih jauh, faktor-faktor yang akan terbukti sebagai faktor-faktor imanen dan natural, sama seperti faktor-faktor lain yang sudah diketahui.”/15/

Kelimabelas, sejalan dengan agama-agama dan dengan dunia kesenian, sains memiliki nilai-nilai agung yang para saintis mau wujudkan supaya kehidupan manusia menjadi lebih baik. 

Pemisahan sains dan nilai-nilai sebetulnya adalah sebuah ilusi yang sudah lama dipertahankan, dan sekarang harus dilepaskan sama sekali. Neurosaintis Sam Harris menegaskan bahwa “pemisahan antara fakta-fakta dan nilai-nilai, dengan demikian antara sains dan moralitas, sesungguhnya adalah sebuah ilusi.”/16/ 

Bahwa sains juga melahirkan nilai-nilai agung, sudah saya uraikan dalam tulisan saya yang berjudul "Sciences and Values" yang sudah saya rujuk di atas.

Nah, jikalau estetika yang diberi oleh seni itu sebuah nilai, seni dan sains juga seiring dan sejalan, sebagaimana diungkap oleh Jacob Bronowski, bahwa 

“Manusia itu unik bukan karena dia menemukan sains dan juga bukan karena dia membangun seni, tetapi karena sains dan seni itu sama-sama merupakan ungkapan-ungkapan plastisitas pikirannya yang menakjubkan.” 

Bahwa sains dan nilai-nilai tak terpisahkan, kelihatan jelas misalnya dalam sains evolusi. Lewat sains ini kita menemukan bahwa semua organisme dalam alam ini, yang dimulai dari organisme bersel tunggal prokariota dan eukariota, terhubung satu sama lain oleh mata rantai evolusi biologis. Dari fakta ini, sebuah nilai muncul: semua organisme dalam alam ini tak terpisah satu sama lain, alias semuanya bersaudara. 

Pesan persaudaraan universal dari sains evolusi ini ironisnya bertolakbelakang dengan praktek-praktek diskriminasi, segregasi dan permusuhan antar-manusia yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran keagamaan dan ideologis tertentu, seperti kita sedang lihat sekarang ini di mana-mana.

Keenambelas, berbeda dari dunia agama di mana para agamawan dari semua agama dapat kuat terdorong untuk memuliakan dan mengkultuskan diri mereka sendiri setinggi-tingginya, para saintis dengan rendah hati mengabdikan diri hanya pada sains untuk terus mengembangkannya. 

Hingga saat ini, tidak ada satupun saintis dunia yang disembah atau dikultuskan kendatipun sumbangan-sumbangan keilmuan mereka sangat esensial bagi peradaban manusia dan bertahan langgeng. Mereka dipandang sebagai para saintis agung, great scientists, atau sebagai "giants in science", tapi tidak ada seorangpun dalam dunia ini yang menyembah mereka. 

Ketujuhbelas, berbeda dari dunia agama yang dapat menjadikan orang fundamentalis, para saintis tak akan pernah menjadi fundamentalis-sains. 

Sebutan “saintis fundamentalis” juga sebuah oxymoron. Sebutan ini kerap dipakai oleh sejumlah orang, terutama dari kalangan para agamawan, untuk menyerang secara ad hominem saintis-saintis tertentu (misalnya Richard Dawkins) yang cakap memperlihatkan berbagai kelemahan dan kesalahan fatal dalam pandangan-pandangan kaum agamawan mengenai ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan evolusi. 

Sayangnya Dawkins kerap tak santun dalam menilai dunia agama-agama. Berat sebelah. Sebab tidak segala sesuatu di dalam setiap bangunan agama itu menumpulkan akal, menimbulkan teror dan anti-modernitas. Ada metafora-metafora dalam agama-agama yang dapat membangun kehidupan. Ini kritik tajam saya ke Dawkins yang mengidap "Dawkins delusion"./17/

Kedelapanbelas, sains sama sekali bukan agama, dan agama juga bukan sains, meskipun keduanya bergerak dalam dunia kebenaran-kebenaran dan dunia nilai-nilai. 

Bedanya, sementara sains terus mencari dan mempertanyakan kebenaran berdasarkan bukti-bukti empiris, agama mengabsolutkan bahkan mendewakan sebuah kebenaran atau sebuah doktrin yang diterima begitu saja dengan iman tanpa bukti apapun sebagai wahyu ilahi yang diasumsikan tidak bisa salah, infallible, dan diyakini berlaku mutlak untuk segala zaman dan di segala tempat. 

Jadi, ya perlu diingatkan bahwa para agamawanlah, bukan para saintis, yang sebetulnya mempertuhan iman mereka pada sesuatu yang mereka klaim sebagai kebenaran mutlak. Mereka beriman kepada iman mereka yang mereka sendiri absolutkan.

Lebih jauh, perlu diingatkan terus-menerus bahwa hampir dalam semua agama, bahkan termasuk yang monoteistik, juga dalam kekristenan yang memiliki doktrin Tritunggal, para agamawan ada yang mempertuhan kitab suci, dogma-dogma dan iman mereka sendiri, karena semuanya ini mereka beri sifat dan aura ilahi: sudah sempurna seperti Allah dan tak bisa salah dalam segala hal dan berlaku abadi di mana pun, dan, karena itu, tidak boleh digugat sama sekali. Dalam suatu aliran Kekristenan, doktrin "inerrancy of the Bible" membuka pintu bagi masuknya pemberhalaan Alkitab atau bibliolatri.

Itulah delapanbelas butir alasan mengapa para saintis tak akan pernah mempertuhan pikiran mereka. Tuduhan kalangan beragama yang cuma bisa melihat ke satu arah itu salah total, tuduhan yang sepatutnya ditujukan kepada diri mereka sendiri.

Tuhan itu "undefined"

Selain itu, ada sebuah problem besar dalam dunia agama-agama yang perlu disadari para agamawan: ada sangat banyak definisi tentang siapa atau bagaimana atau apa itu “Allah”, yang berbeda satu sama lain. 

Sebetulnya, bagi saya, karena Tuhan itu mahatakterbatas, infinite, maka tak ada satu pun definisi teologis yang bisa menangkap dan mengurung Tuhan. The infinite God itu "undefined", tak bisa dibatasi dalam definisi apapun. Let God be God! Heninglah, berdiam dirilah, pejamkan mata, tundukkan kepala. Be silentGod is the holy silent.

Jadi, jika banyak definisi tetap dibangun dan dikompetisikan, muncullah sebuah pertanyaan: Allah yang manakah yang harus dipandang sebagai Allah yang sebenarnya yang harus disembah? 

Nah, berebut definisi tentang kebenaran tak akan ditemukan dalam dunia sains, sebab para saintis bekerjasama lintas-zaman dan lintas-tempat untuk mencari kebenaran-kebenaran saintifik yang objektif, berdasarkan analisis-analisis mereka atas bukti-bukti empiris yang tersedia dan diobservasi.

Prestasi sains itu real

Meskipun sains tak pernah mencapai titik final, selalu sementara, bisa salah, dan tidak mampu menjelaskan segala sesuatu dalam sekejap, namun sains ternyata efektif bekerja dan membuahkan hasil-hasil yang real, yang kita semua bisa lihat dan sedang nikmati. Lihatlah ke dalam kehidupan anda dan ke dunia luas, ternyata sains dan teknologi modern sedang masuk ke dalam segala sesuatu. 

Meskipun sains bisa salah, faktanya kita (baca: negara-negara Barat yang modern, Russia, China, dll) sekarang sudah berhasil mengirim sejumlah wahana antariksa tanpa awak atau dengan berawak ke planet-planet lain dan bulan-bulan lain dalam tata surya kita. 

Kendatipun sains bisa salah, nyatanya ilmu kedokteran dan pengobatan modern kita makin maju, dan lewat kemampuan-kemampuan teknologi pengobatan banyak penyakit dapat disembuhkan. 

Kendatipun sains bisa salah, kita semua sekarang ini tak bisa lagi melepaskan diri dari Internet yang dihasilkan oleh sains dan teknologi informasi dan komunikasi modern, yang membuat seluruh dunia terhubung dan komunikasi nirkabel berjalan sangat cepat dan akan terus makin cepat.

Kekuatan terbesar apakah yang sedang menbentuk dunia kita sekarang? Sains-tek modern, bukan agama apapun! Tak ada kekuatan lain selain sains modern, yang kini sedang membentuk kehidupan kita secara mendasar dan menyeluruh. 

Anda bisa mencoba tinggalkan semua agama, dan anda masih akan bisa hidup dengan baik. Orang ateis melakukan itu. Coba tinggalkan sains-tek modern sama sekali, lalu lihat apakah anda masih bisa hidup dengan sehat, baik, fungsional dan berprestasi maju? 

Tentu anda bisa hidup sekarang ini di goa-goa sama seperti ketika dulu manusia-manusia purba hidup di zaman batu, sama sekali terisolasi dari modernitas. Tetapi siapkah anda dengan kehidupan semacam ini? Dan menurut anda apakah kehidupan semacam ini manusiawi, dan apakah kehidupan semacam ini bisa memberi sumbangan signifikan bagi dunia luas? 

Bayangkanlah suatu masyarakat yang terisolasi, yang mengobati diare dengan jampi-jampi, tanpa antibiotik, tanpa vaksin untuk imunisasi tubuh, dan di sana angka kematian bayi dan ibu yang hamil tinggi, anak-anak tak sekolah untuk belajar ilmu pengetahuan tapi hanya bermain dan kadang berkelahi. Tak ada listrik, tak ada mobil, tak ada mall, tak ada tempat hiburan. Tak ada sekolahan. Tak ada komputer. Tak ada Internet. Tak ada dokter. Tak ada rumah sakit. Tak ada kemajuan dan tak ada perubahan! 

Jika anda memiliki kesadaran nurani yang matang dan rasa kemanusiaan anda tinggi, dan sudah tahu apa itu modernitas, anda pasti menolak kondisi-kondisi kehidupan semacam itu. Kearifan-kearifan lokal baik untuk dirawat, tapi jangan dijadikan "agama" fundamentalis yang anti-modernitas, dus berubah menjadi ketidakarifan.

Jadi, adalah suatu imperatif etis untuk anda datang ke sana untuk membawa hal-hal yang telah diberikan sains dan teknologi modern yang menjadikan kehidupan manusia lebih baik, lebih sehat, lebih tangguh, lebih imun, lebih berbahagia, lebih manusiawi, lebih toleran, dan lebih maju.

"Back to nature"?

Mungkin sekali anda juga mau menegaskan bahwa hidup kembali sepenuhnya ke alam (back to nature), tanpa memakai sains dan teknologi modern, adalah mungkin dilakukan oleh anda, dan mungkin anda segera juga mengacu ke suku bangsa Badui (juga Kubu dan Semang) yang kata anda hidup hanya bergantung pada dan bersama alam, tanpa bersentuhan dengan modernitas./18/ 

Well, dalam tradisi filosofis Barat, gerakan “back to nature” dihubungkan banyak orang ke filsuf Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) yang hidup pada era Pencerahan Eropa, kendatipun Rousseau sendiri sebetulnya tidak menganjurkannya. 

Tetapi Rousseau memang membangun sebuah pemikiran filosofis tentang kodrat alamiah manusia dalam dua karya perdananya, A Discourse on the Sciences and Arts (1750) dan The Discourse on the Origin of Inequality (1753). 

Menurut Rousseau, dalam kondisi alamiahnya manusia minimal adalah makhluk yang amoral, artinya tidak baik dan juga tidak jahat, atau maksimal makhluk yang “ganas tetapi ksatria”. Berbeda dari hewan-hewan lain manusia memiliki kemampuan bernalar yang membuat mereka dapat membangun peradaban dan hidup dalam masyarakat. 

Kata Rousseau, justru ketika peradaban dan masyarakat dibangun, akhlak manusia menjadi rusak. Ilmu pengetahuan dan kesenian tak sedikit perannya dalam kemerosotan moral manusia. 

Alih-alih menganjurkan manusia kembali ke alam, “back to nature”, Rousseau dalam bukunya Social Contract (1762) dengan eksplisit menyatakan bahwa ketika manusia meninggalkan kondisi alamiahnya, mereka dapat membangun kehidupan masyarakat berdasarkan kontrak sosial, yang dengannya kebajikan moral yang lebih tinggi dapat dicapai. 

OK-lah, kalau anda yakin bahwa anda bisa hidup sepenuhnya hanya dengan alam, dan melepaskan sains dan teknologi modern sama sekali, seperti sedang dijalani suku-suku terasing yang anda sebut itu. 

Tapi, bukankah setiap warga dewasa Badui wajib mempunyai selembar e-KTP, dan KTP adalah sebuah kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah dalam sistem administrasi kependudukan modern? Lewat kepemilikan sebuah KTP, setiap orang Badui dewasa ikut serta dalam pengelolaan administratif sebuah komunitas secara modern. Jadi, tak tersentuhkah mereka dengan modernitas? Ini hanya sebuah contoh saja.

Juga, tahukah anda, alam juga bisa dan kerap berubah menjadi sangat tidak bersahabat lagi dengan manusia walaupun anda sangat sayang kepada alam, yakni ketika berbagai bencana alam dahsyat menerjang anda dan masyarakat anda yang hidup menjauh dari modernitas. 

Dalam kondisi-kondisi terpajan pada bencana-bencana alam yang sangat mematikan, hanya sains dan teknologi modern yang bisa membantu anda mengelakkannya atau mengurangi penderitaan yang ditimbulkan olehnya. 

Kalau kata anda orang yang menyatu dengan alam akan ikhlas jika diterjang suatu bencana alam sampai seluruh komunitas mereka musnah, hemat saya, ini bukan sebuah keikhlasan, tetapi sebuah tindakan bunuh diri massal lewat pembunuhan menyeluruh akal budi mereka, yang kalau dipakai sebetulnya akan bisa menyelamatkan mereka.



Ilustrasi penyebab kepunahan dinosaurus 66 juta tahun lalu. Sumber gambar: beloji.com


Tentu anda tahu apa yang terjadi pada reptil-reptil besar 66 juta tahun lalu, yang dinamakan dinosaurus dalam berbagai jenis. Nyaris semuanya (bersama 47% subfamili organisme laut, dan 18% famili organisme vertebrata darat) punah karena sebuah meteor besar jatuh menimpa planet Bumi kita lalu merusak seluruh ekosistem yang ada. Mengapakah mereka punah meski banyak yang bertubuh sangat kuat, tangguh dan besar?/19/

Ya, karena mereka tidak memiliki organ otak yang mempunyai bagian terdepan yang dinamakan neokorteks seperti yang ada pada mamalia Homo sapiens atau manusia cerdas dan berakal. Neokorteks inilah yang memampukan manusia berpikir cerdas, berakal, bernalar, dan membangun iptek, yang ditemani dengan kearifan.

Di masa depan, kejadian serupa juga akan sewaktu-waktu terulang kembali pada planet Bumi sekalipun anda sangat bersahabat dan ramah pada Bumi. Siapa atau apakah yang dapat menyelamatkan planet Bumi dan semua spesies yang hidup di Bumi jika sebuah meteor raksasa menghantam planet kita lagi di masa depan?/20/

Atau jika bintang Matahari kita, karena aktivitas fusi nuklir di dalam intinya, membengkak menjadi sebuah bola api raksasa yang siap menelan dan memanggang planet Bumi dan seluruh penghuninya? 

Sains dan teknologi modern-lah yang menjadi andalan kita untuk survival kita di masa depan. Caranya? 

Ya lewat pemantuan benda-benda langit yang jauh-jauh hari sudah terlihat sedang bergerak menuju Bumi oleh instrumen-instrumen teknologis dan lewat metode-metode penyelamatan yang kini sedang dicari, dibuat simulasinya, dan ada yang sedang diujicoba. 

Ya lewat pembangunan pemukiman-pemukiman baru Homo sapiens di planet-planet lain, misalnya planet Mars, sebelum bintang Matahari mengembung dan siap melahap dan memanggang kita bersama planet kita, atau lewat teknologi maju "pendongkelan" planet Bumi menjauh dari bintang Matahari./21/ 

Masih jauh di masa depan, Homo sapiens yang nanti akan menjadi organisme "transhuman"--- yakni organisme hibrid biologi dan teknologi--- akan tidak lagi menjadi organisme cerdas penghuni Bumi atau sistem Matahari saja, tetapi juga akan menjadi organisme cerdas jagat raya. 

Ilmuwan yang beragama

Saya tentu saja harus menegaskan bahwa dalam setiap zaman dan di banyak tempat tentu selalu ada orang-orang beragama yang telah memberi sumbangan penting dan mendasar bagi dunia sains. Banyak kepercayaan keagamaan yang mampu menjadikan manusia organisme yang mulia, agung, bajik dan haus ilmu pengetahuan. Tapi, ada juga yang sebaliknya. Pilihlah dengan cerdas dan gembira.

Tetapi mereka menjadi saintis bukan karena agama mereka langsung, tetapi karena metode-metode saintifik universal yang mereka gunakan (eksperimentasi, observasi, instrumentalisme, empirisisme, dan verifikasi) dan langkah-langkah penalaran yang mereka pakai (deduksi, induksi, dan abduksi) dalam penyelidikan-penyelidikan mereka. 

Jika metode-metode dan penalaran-penalaran saintifik ini dipakai oleh siapapun, yang beragama apapun, di zaman kapanpun, dan di manapun, hasil-hasilnya atau temuan-temuannya akan selalu sama. Bukan agamanya, tetapi metode-metode dan penalaran saintifik yang dipakainya, yang menjadikan seorang yang beragama saintis. 

Tidak ada sains skriptural, tidak ada sains agama, tidak ada sains Hindu, tidak ada sains Buddhis, tidak ada sains Yahudi, sains Kristen, sains Islam, dst. Tidak ada sains sektarian. Tidak ada sains esoterik. Semua sains yang janggal ini adalah oxymoron. Yang ada hanya sains, science proper, atau bona fide science, yang berlaku universal, tak pernah absolut, dan dimiliki jagat raya.

Penutup

Akhir kata, saya ingin ingatkan sesuatu kepada anda, teman-teman agamawan. 

Karena dalam dunia agama anda perlu dan harus memuja dan menyembah sesuatu, kehidupan keagamaan anda hemat saya perlu diimbangi dan didampingi oleh suatu dunia yang lain, yang di dalamnya orang tidak menyembah sesuatu apapun, tetapi juga terdorong untuk mewujudkan kebahagiaan, kebajikan dan ketahanan kehidupan manusia. 

Dunia lain ini, yang di dalamnya tidak ada pengkultusan individu dan penyembahan kepada apapun, adalah dunia ilmu pengetahuan. 

Karena Tuhan itu mahatahu, maka Dia adalah sumber segala pengetahuan. Dus, Tuhan, YMHadir dan YMBerada, juga ada dan berkarya dalam dunia ilmu pengetahuan. Jadi, setiap ilmuwan adalah kawan sekerja Tuhan, hamba-hamba Tuhan, petarung-petarung rendah hati dalam ladang kemahatahuan Tuhan. Mereka sedang berjalan menuju kemahatahuan Tuhan lewat jalan mulia dan agung ilmu pengetahuan yang tanpa ujung. Inilah yang saya namakan spiritualitas saintifik.

Dengan ditemani dan dibantu oleh ilmu pengetahuan, anda akan tertolong untuk bisa mengetahui kapan anda perlu beriman dan kapan anda perlu bernalar, kapan anda perlu mengarahkan wajah anda ke dunia supernatural dan kapan ke dunia natural. Anda tidak perlu lagi memandang iman dan dunia supernatural lebih tinggi peringkatnya dibandingkan nalar dan dunia natural. 

Anda mulai sekarang perlu menempatkan dua wilayah ini sebagai dua wilayah yang satu sama lain paralel, dan anda perlu memiliki pengetahuan dan kesadaran yang kuat kapan anda harus masuk ke dunia yang satu, "the otherworld", dan kapan ke dunia yang lainnya, "this world"./22/ 

Jika anda masih saja memandang iman dan dunia supernatural lebih tinggi, maka, sebagai para fideis, bukankah, sejauh anda konsekwen dan konsisten, anda sudah seharusnya hanya perlu beriman dan hanya perlu memandang ke dunia supernatural saja, dan mengabaikan sama sekali nalar dan dunia natural? Bukankah, sejauh anda konsisten dan konsekwen fideis, iman saja sudah cukup bagi semua segi kehidupan anda? 

Tapi saya tahu, anda selamanya tidak akan pernah bisa konsekwen dan konsisten, jika anda memutuskan menjadi seorang fideis absolut. 

Malah, saya yakin, sekarang ini anda lebih sering hidup dengan dipandu akal dan mementingkan dunia natural, ketimbang dipandu iman dan mementingkan dunia supernatural, kendatipun secara lisan anda menyatakan diri keras-keras sebagai seorang fideis. 

Fideisme akan selalu membuat batin dan pikiran anda terbelah-belah, lalu anda mengambil sikap tidak jujur baik kepada diri anda sendiri, kepada masyarakat, maupun kepada Tuhan anda. 

Karena itu, demi menjaga integritas anda, lebih baik anda juga merangkul dunia sains, merangkul saintisme (maksudnya: sikap mental yang terbuka penuh pada sains, dan konsisten bersikap ilmiah), karena anda memang pada masa kini sudah tidak bisa hidup lagi tanpa sains dan teknologi modern. 

Saintisme bukan pemberhalaan sains (karena sains tidak bisa diberhalakan), tapi, sekali lagi, suatu sikap dan pola pikir yang konsisten saintifik ketika orang menjelaskan dan memahami semua fenomena alam dan fenomena sosial. 

Menempatkan fideisme dan saintisme dalam posisi yang bersahabat, jelas akan jauh lebih baik bagi anda, meskipun untuk bisa menyeimbangkan keduanya anda harus mengeluarkan dan memakai energi mental yang sangat besar. Anda akan lebih lelah, tentu saja, tapi tidak ada jalan lain jika anda ingin cerdas beragama dalam kehidupan anda.


Catatan-catatan

/1/ Charles Sanders Peirce (selain John Dewey dan William James) adalah salah seorang terpenting dalam aliran filsafat empirisisme dan pragmatisisme yang memberi landasan-landasan filosofis bagi sains modern. Fallibilisme Peirce tak dapat dilepaskan dari dua posisi lainnya yang diajukannya: evolusionisme dan indeterminisme. Untuk uraian bagus tentang fallibilisme Peirce, lihat Elizabeth F. Cooke, Peirce’s Pragmatic Theory of Inquiry: Fallibilism and Indeterminacy (London/New York: Continuum, 2007). 

Fallibilisme diajukan Peirce sebetulnya juga sebagai penolakannya terhadap doktrin infallibilitas Paus yang dipegang Gereja Roma Katolik; Peirce menyebut fallibilisme-nya sebagai “fallibilisme dengan rasa sesal” (“contrite fallibilism”), bahwa kesalahan-kesalahan adalah suatu bagian yang perlu dan niscaya dari pencarian kebenaran. 

Peirce maunya masuk ke GRK, tapi dia tidak bisa karena logika sains melarangnya. Lihat biografi Peirce yang ditulis Joseph Brent, Charles Sanders Peirce: A Life. edisi perbaikan yang diperluas (Bloomington dan Indiana Polis: Indiana University Press, 1993, 1998), hlm. 237.   

/2/ Tentang "metacognitive skill", lihat
Nancy Chick, "Metacognition", Center for Teaching, Vanderbilt, 2013,
https://cft.vanderbilt.edu/guides-sub-pages/metacognition/. Juga John D. Bransford, Ann L. Brown, Rodney R. Cocking, eds, How People Learn: Brain, Mind, Experience, and School (expanded edition, Washington DC, The National Academic Press, 2000), p. 12, https://www.nap.edu/read/9853/chapter/1; dan https://www.nap.edu/catalog/9853/how-people-learn-brain-mind-experience-and-school-expanded-edition.

/3/ Ioanes Rakhmat, "Apakah aliens cerdas ada di angkasa luar?", Freidenk Blog, 9 Juni 2014, dimutakhirkan 17 Februari 2020,
https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/06/apakah-aliens-cerdas-ada-di-angkasa.html?m=0.

/4/ Ioanes Rakhmat, "Paradoks Fermi atau Silentium Universi", Freidenk Blog, 2 Januari 2014, dimutakhirkan 15 Februari 2020, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2015/01/paradoks-fermi-atau-great-silence-atau.html?m=0.

/5/ Untuk uraian panjang lebar, lihat Ioanes Rakhmat, "Sekularisasi dan Desekularisasi", Freidenk Blog, 3 Desember 2010, diperiksa kembali 13 Agustus 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2010/12/sekularisasi-dan-desekularisasi.html?m=0.

/6/ Richard Dawkins, The Magic of Reality: How We Know What's Really True (illustrated by Dave McKean) (New York etc.: Free Press, 2011), hlm. 18 ff.

/7/ Sejauh sudah ditemukan oleh para arkeolog, agama natural tertua dipraktekkan oleh orang Basarwa di Ngamiland, Botswana, Afrika Selatan, 70.000 tahun lalu. Lihat reportase “World’s oldest religion discovered in Botswana” pada http://www.afrol.com/articles/23093.

/8/ Tentang hubungan otak dan pengalaman spiritual, saya sudah beberkan panjang lebar. Lihat Ioanes Rakhmat, "Pengalaman-pengalaman Spiritual Ditinjau dari Neurosains", Freidenk Blog, 8 November 2011, update mutakhir 17 Mei 2019, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html?m=0.

/9/ Lihat Ioanes Rakhmat, "Sciences and Values", Freidenk Blog, 17 November 2014, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/11/sciences-and-values.html?m=0.

/10/ Lihat Howard V. Hong dan Edna H. Hong, eds., Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments. Søren Kierkegaard. Vol. I. Dengan Introduksi dan Catatan-catatan (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1992), hlm. 11-12, 102, 113.

/11/ Lebih lanjut tentang Occam's Razor, lihat Ioanes Rakhmat, "Occam's Razor atau Lex Parsimoniae", Freidenk Blog, 27 Maret 2017, penambahan ilustrasi 27 Agustus 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2017/03/occams-razor-atau-lex-parsimoniae.html?m=0.

/12/ Alvin Plantinga, “Reason and Belief in God,” dalam Alvin Plantinga dan Nicholas Wolterstorff, eds., Faith and Rationality: Reason and Belief in God (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1983), hlm. 87.

/13/ Tentang landasan-landasan filosofis sains modern, lihat Ioanes Rakhmat, "Landasan-landasan Filosofis bagi Sains Modern", Freidenk Blog, 21 Januari 2014, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/01/landasan-landasan-filosofis-bagi-sains.html?m=0.

/14/ Rudolf Bultmann, New Testament and Mythology and Other Basic Writings. Diseleksi, diedit dan diterjemahkan oleh Schubert Ogden (Philadelphia: Fortress Press, 1984), hlm. 4. 

/15/ John Macquarrie, Principles of Sacred Theology. Edisi kedua. (New York: Charles Scribner’s Sons, 1977), hlm. 248. 

/16/ Sam Harris, The Moral Landscape: How Science Can Determine Humn Values (New York, N.Y.: Free Press, 2010), hlm. 179. Ulasan panjang lebar tentang hubungan sains dan nilai-nilai juga telah saya berikan dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), hlm. 219-257.

/17/ Uraian rinci panjang lebar tentang New Atheism dan peran Richard Dawkins dkk di dalamnya, lihat Ioanes Rakhmat, "Apakah Tuhan itu ada? Sebuah jawaban ilmiah kepada para ateis", Freidenk Blog, 12 Agustus 2014, update mutakhir 20 Mei 2018, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/08/apakah-tuhan-itu-ada.html?m=0.

/18/ Komunitas Amish yang terhubung dengan Gereja Menonit juga menolak banyak kemudahan dan kesenangan yang diberikan oleh teknologi modern. Info tentang komunitas Kristen tradisional ini, lihat Wikipedia: “Amish”, pada http://en.wikipedia.org/wiki/Amish.

/19/ Ulasan cermat, lihat Ioanes Rakhmat, "Kapan dinosaurus lenyap dan mengapa?", Freidenk Blog, 25 Oktober 2014, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/10/kapan-dinosaurus-lenyap-dan-mengapa.html?m=0.

/20/ Lebih terinci, lihat Ioanes Rakhmat, "'METEOR DOOMSDAY' atau 'APOKALIPSIS METEOR' suatu saat akan terjadi", Freidenk Blog, 29 Maret 2021, diedit 3 April 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2021/03/meteor-doomsday-atau-apokalipsis-meteor.html?m=0.

/21/ Isi alinea ini telah dibeberkan dengan luas dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 8 (hlm. 259-298) dan bab 10 (hlm. 325-341).

/22/ Uraian luas tentang paralelisme "this world" dan "the otherworld" yang untuk menghubungkan keduanya diperlukan wahana sastra metafora, lihat Ioanes Rakhmat, "Teologi Adalah Metafora. Apa itu METAFORA?", Freidenk Blog, 11 Agustus 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2021/08/teologi-adalah-metafora-apa-itu-metafora.html?m=0.

Baca juga



Thursday, September 19, 2013

Betapa miskinnya ilmu pengetahuan...


Dewi Saraswati dijadikan simbol ilmu pengetahuan oleh orang Hindu: rupanya ilmu pengetahuan dipersepsi mereka sebagai kelembutan, keindahan, bahkan sebagai seni. Luar biasa inspiratif!

Kalau seseorang memiliki banyak materi, orang ini dikatakan kaya raya. Sebaliknya, seorang yang tak punya apa-apa, akan dikatakan miskin. Mana yang lebih kaya, ilmu pengetahuan atau agama? Mari kita bandingkan keduanya, supaya diketahui mana yang kaya dan mana yang miskin.

  • Ilmu pengetahuan tak punya ambisi menjadi nomor satu di dunia, agama punya. 
  • Ilmu  pengetahuan tak punya watak jumawa dan merasa benar sendiri, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya kebenaran final dan absolut apapun, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya monopoli kebenaran, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya klaim serba tahu dan serba benar, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya satu otoritas insani penentu kebenaran, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya klaim tak bisa salah dalam segala hal, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya motif untuk memelintir dan memalsukan kebenaran, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya motif untuk memperbodoh manusia, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya alasan untuk melarang orang berpikir bebas, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya hak menghukum kalangan heterodoks, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya pasukan inkuisisi untuk memberangus orang yang berbeda pandangan, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya metode indoktrinasi untuk mencuci otak manusia, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya pengikut fanatik membuta, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tidak punya kemampuan untuk membuat orang percaya membuta, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya syahadat yang dengan yakin harus diucapkan, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya mantra-mantra dan magi, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya makhluk-makhluk gaib, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya mukjizat gaib, agama punya.
  • Ilmu pengetahuan tak punya objek apapun untuk disembah, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya kitab suci apapun yang dipandang tak bisa salah dalam segala hal, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya kebencian pada akal budi, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya kemauan untuk menyangkal fakta-fakta, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya keberanian mengklaim sesuatu tanpa bukti, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya wahyu yang datang dari surga, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya fiksi-fiksi yang memperbodoh dan mengerdilkan jiwa manusia, agama punya.
  • Ilmu pengetahuan tak punya Taman Eden purbakala, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya dendam sejarah berkepanjangan, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya motif mengobarkan perang dan pertumpahan darah, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya teroris untuk memperjuangkan kepentingannya, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya kekejaman, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya doktrin untuk mengkafirkan dan membunuh orang yang berbeda, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya lex talionis, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya hak memotong tangan orang lain, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya hak untuk mencabut nyawa orang lain, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya hak atas kehidupan dan kematian orang lain, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya ideologi politik, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya mental sektarian, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya kemampuan menjadikan orang hipokrit, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya fungsi sebagai kedok untuk menutupi kebobrokan akhlak para kriminal, agama punya.
  • Ilmu pengetahuan tak punya kemampuan mendiskreditkan dan menfitnah sesama manusia, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya hak dan wewenang untuk menindas dan membasmi kelompok-kelompok minoritas, agama punya.
  • Ilmu pengetahuan tak punya alasan dan motif untuk membenci perempuan, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya alasan dan motif untuk membenci seksualitas manusia, agama punya.
  • Ilmu pengetahuan tak punya tiket masuk ke surga setelah kematian, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya neraka untuk memanggang orang kafir setelah kematian, agama punya. 
  • Ilmu pengetahuan tak punya kata kiamat dan berjuang mengelakkan kiamat, agama punya, bahkan memberitakan dan menunggu kiamat. 

Jadi, dibandingkan agama, ilmu pengetahuan memang begitu miskin karena banyak hal yang dipunyai agama tak dipunyai sains. Pantaslah orang lebih pilih agama dan menendang ilmu pengetahuan, karena orang umumnya ingin hidup kaya. Tetapi berbahagialah orang yang mau hidup miskin dengan mencari ilmu pengetahuan dan menyebarkannya, dan dengan demikian dia memperkaya orang lain dan bukan dirinya sendiri.

Tuesday, September 17, 2013

Menjadi seorang ilmuwan Ph.D.




N.B. Baca juga pasangan tulisan ini Firman Hidup Versus Apologetika.

Saya buka dengan sebuah pertanyaan. Apa syarat untuk seseorang bisa diakui dengan formal sebagai seorang ilmuwan, apalagi ilmuwan terbaik level internasional?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3 (2005), ilmuwan adalah orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu; orang yang berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan. Menurut Merriam Webster's Collegiate Dictionary (edisi 10, 1993), ilmuwan adalah seorang yang terpelajar dalam sains, khususnya sains IPA, seorang peneliti saintifik. Jadi, ilmuwan itu orang yang memiliki banyak pengetahuan dalam suatu bidang ilmu, ahli di bidangnya, bekerja di dunia sains, aktif meneliti.

Pertanyaannya: Dari mana kita tahu seseorang itu ilmuwan atau bukan? Ya dari karya-karya ilmiahnya yang diterbitkan dan bisa diakses umum untuk dibicarakan dan diperdebatkan sebagai wacana publik dengan terbuka.

Tetapi tentu saja tidak semua tulisan dapat disebut tulisan ilmiah, tulisan seorang ilmuwan. Karya-karya ilmiah seorang ilmuwan itu diakui ilmiah jika ditulis dengan memakai metode penulisan karya-karya ilmiah, tidak asal ditulis. 

Sebuah karya ilmiah memiliki banyak ciri, antara lain: 

• dengan jelas memuat hipotesis-hipotesis yang mau diuji kebenaran atau kesalahannya;

• dengan jelas memuat keterangan-keterangan mengapa subjek yang sedang dikaji dipandang penting;

• dengan terang merumuskan kerangka teoretis apa yang digunakan dalam argumen-argumen yang dibangun dan dikembangkan secara koheren dan tak bercacat;

• dengan tajam memuat informasi tentang argumen-argumen pokok yang sedang dibangun, yang didukung oleh argumen-argumen penunjang dan argumen-argumen tambahan lain;

• dengan jelas menyebutkan metode-metode penelitian yang digunakan: apakah penelitian lapangan secara khusus dengan memakai sampel yang sah sebagai target kajian yang kemudian dibandingkan dengan sampel-sampel lain pengontrol, ataukah eksperimen-eksperimen di laboratorium dengan menggunakan metode-metode yang sah, ataukah penelitian kepustakaan secara umum, apakah gabungan ketiganya, dan lain-lain;

• dengan padat memuat keterangan ringkas tentang isi setiap bagian karya yang diajukan;

• dengan jujur menyebutkan sumber-sumber otoritatif dari data dan informasi yang dipakai sebagai rujukan. Jika hal penting ini tidak anda lakukan, anda menjadi seorang plagiat;

• dengan jelas menyebutkan di mana kekuatan dan di mana kelemahan karya yang sedang digarap;

• dengan terang menunjukkan segi-segi apa yang masih harus diteliti lebih lanjut di masa depan. 

Semua unsur dari sebuah karya ilmiah ini dibeberkan dengan sistematis dan koheren sejak awal hingga akhir karya, lalu ditutup dengan sebuah kesimpulan umum untuk keseluruhan karya.

Seseorang bisa produktif menulis ratusan buku, tapi jika penulisannya tak memenuhi standard metode penulisan ilmiah, dia bukan ilmuwan. Seseorang bisa menulis ratusan novel, tapi dia tak akan disebut ilmuwan, melainkan novelis. Seseorang bisa menulis ratusan artikel opini di koran-koran, tapi dia tak disebut ilmuwan, melainkan kolumnis.

Karya ilmiah besar pertama untuk seseorang disebut ilmuwan adalah disertasi doktor yang lulus pengujian dan memberinya hak menyandang gelar doktor (Ph.D., Doctor of Philosophy; atau gelar-gelar lain yang diakui ekuivalen). 

Bahwa seseorang memang pantas bergelar doktor, akan diperlihatkannya terus lewat karya-karya ilmiahnya yang lain selain disertasinya. Tapi ada banyak orang yang bergelar doktor (Ph.D., atau gelar-gelar lain yang ekuivalen) stop menulis karya-karya ilmiah lain setelah dia menyelesaikan disertasi dan mempertahankannya. 

Untuk doktor semacam itu, yang tak pernah menulis lagi setelah menulis sebuah disertasi, kita boleh sebut sebagai ilmuwan yang sudah lelah

Ilmuwan yang sudah lelah tentu saja tak akan pernah berkontes di dunia internasional untuk mendapatkan sebutan ilmuwan terbaik dunia. Mungkin gelar Ph.D. yang disandangnya lebih tepat dibaca Pizza Hut Delivery. Bisa jadi, dia jauh lebih cocok dan lebih kerasaan bekerja sebagai seorang pengantar Pizza pesanan.

Untuk dunia bisa tahu seseorang itu ilmuwan, orang ini harus sudah menghasilkan banyak karya ilmiah yang berbentuk buku atau berbentuk artikel ilmiah yang terbit di jurnal-jurnal internasional. Tapi tidak selalu tulisan seorang doktor itu, sekalipun diterbitkan, adalah tulisan ilmiah yang memenuhi standard akademik internasional.

Ada kalanya seorang ilmuwan yang bergelar Ph.D. menghasilkan karya yang bermutu rendah jika dilihat dari standard akademik internasional. 

Karena itu setiap karya ilmiah yang mau diterbitkan di sebuah jurnal internasional bergengsi, harus lewat pengujian tim penguji jurnal ini dulu (misalnya editorial board sebuah jurnal). 

Setelah itu sebuah karya ilmiah yang telah terbit di sebuah jurnal internasional akan diuji lagi oleh para pakar lain yang minimum selevel dengan si penulisnya. Pengujian oleh para pakar lain yang minimal selevel ini, disebut peer review. Berdasarkan apa pendapat para pakar internasional lain atas sebuah karya ilmiah yang telah terbit, karya ini menempati posisi keilmuan tertentu.

Nah lewat proses pengujian berlapis inilah karya-karya seorang ilmuwan akhirnya mendapatkan reputasi internasional, dipandang otoritatif. Hanya dengan lewat prosedur pengujian berlapis atas karya-karya seorang ilmuwan, si ilmuwan ini akan bisa digolongkan sebagai ilmuwan terbaik. Jadi sangat, sangatlah sulit jalannya untuk seorang ilmuwan dapat menyandang sebutan ilmuwan terbaik dunia. Jadilah dulu ilmuwan terbaik di universitas tempat anda mengajar. 

Jadi sangat mustahil, tak masuk akal, seseorang disebut ilmuwan terbaik dunia jika dia tak pernah menerbitkan banyak karyanya di jurnal-jurnal internasional. Atau jika pola pikir, sikap dan kelakuannya tidak GO-INTERNATIONAL atau GO-GLOBAL, tapi partisan, sektarian, primordialistik, dan cuma bisa menyerang ad hominem orang yang berbeda posisi.

Tapi ingat: ada banyak perguruan tinggi murahan di luar negeri, yang dengan mudah memberi gelar doktor pada orang yang studi hanya 6-9 bulan di luar negeri, atau studi sekian bulan lewat Internet. Orang yang mendapatkan gelar doktor dengan cara-cara semacam ini, dan juga seorang Doktor Kehormatan, bukanlah ilmuwan. Mereka hanya pengejar gelar doktor (non-Ph.D.) untuk mendongkrak reputasinya sendiri di tempat kerjanya di negerinya sendiri. 

Umumnya untuk mendapatkan gelar tertinggi akademik (Ph.D.) dari sebuah universitas ternama di luar negeri, dibutuhkan kerja keras 5 tahun studi, yang di dalamnya biasanya akan ada periode kesepian yang mendalam. Lima tahun studi ini termasuk periode penelitian dan penulisan disertasi untuk dipertahankan.

Salah satu ciri utama seseorang itu mampu berpikir ilmiah adalah orang itu mampu berpikir lintas-ilmu dan lintas-bidang, dan mampu mengkritik subjek yang sedang dikajinya, juga tak segan mengkritik dirinya sendiri, dan telah menulis minimal sebuah disertasi doktor yang telah berhasil dipertahankannya. Seorang yang sedang menulis disertasi untuk meraih gelar Ph.D. dikehendaki dapat membuka pandangan-pandangan baru berkaitan dengan subjek kajiannya, menghasilkan sebuah terobosan, sebuah breakthrough.

Tapi jangan lupa ada banyak universitas di luar negeri yang fakultas teologinya memberi gelar Ph.D. kepada orang yang justru cuma bisa berapologetik. Di sana, semakin piawai seseorang membela bulat-bulat sebuah doktrin agama, semakin pantas orang itu menyandang gelar Ph.D. 

Ph.D. ahli apologetika itu jelas suatu keanehan, sebab seorang Ph.D. mustinya adalah seorang yang mampu membuka pandangan-pandangan baru, bukan mampu berapologetik.

Di lingkungan gereja, ada banyak orang yang bergelar Ph.D., dengan keahlian satu-satunya mempertahankan secara apologetik bahwa, misalnya, Yesus itu Allah, atau Tritunggal itu wahyu ilahi, atau agama Kristen itu agama terunggul dan paling benar satu-satunya di dunia, atau kitab Yunus itu memuat kisah sejarah. Atau John Calvin itu seorang yang demokratis, padahal faktanya (jadi, kita dibohongi) Calvin adalah seorang teokratis yang sangat keras yang atas perintahnya Michael Servetus, pengkritiknya yang paling tajam, dibunuh dengan dibakar (tewas 27 Oktober 1553 di Jenewa, Swiss). Waduuhh.

Jadi, saya anjurkan, jangan mudah terkecoh dengan gelar Ph.D. yang tertulis di belakang nama siapapun. Gelar Ph.D. (dan gelar lain yang ekuivalen) tak selalu menjamin mutu keilmuan si penyandangnya, atau bahwa si penyandangnya berwawasan luas dan dirinya sudah menjadi warga dunia. Kita harus selektif memberi bobot pada gelar doktor yang tertulis di belakang nama siapapun. Pertama-tama, ujilah bagaimana cara berpikir si penyandang gelar doktor itu, dan perhatikanlah apakah dia seorang yang sektarian atau sudah GO-GLOBAL.

Ph.D. di bidang agama sangat mudah mengecoh: kita semula berpikir orangnya berwawasan luas, nyatanya cuma mampu berapologetik sampai mati, wawasannya sangat sempit dan sangat fanatik beragama. Dan kerap juga memperalat dan memain-mainkan agama untuk menggolkan tujuan-tujuan politisnya yang sektarian dan tak bermoral. 

Seorang ilmuwan yang bersikap dan berpandangan politis sektarian dan sedang memperjuangkan berbagai kepentingan politik, ekonomi dan militer dirinya sendiri atau kalangan lain yang menyewa dan membayar mahal kepadanya, tidak lagi dipandang sebagai seorang ilmuwan, scientist proper, atau bona fide scientist, tapi sebagai seorang junk scientist, seorang pelacur di dunia sains. 

Para ilmuwan jenis ini sangat piawai menyusun posisi-posisi ilmiah gadungan (pseudoscientific positions), lalu mengemas posisi-posisi ilmiah gadungan ini sedemikian rupa dengan berbagai pemelintiran dan pemalsuan data dan fakta. Kemudian mereka ngotot mengklaim kemasan posisi-posisi ilmiah gadungan ini sebagai kemasan posisi-posisi ilmiah yang sah. Mereka yang melakukan praktek sangat tercela ini disebut junk scientists. Posisi keilmuan para ilmuwan pelacur ini sangat cepat ketahuan dan dibongkar oleh komunitas para ilmuwan dunia. Dalam era yang diberi nama ganjil post-truth era, para ilmuwan gadungan, pelacur dan pecundang ini banyak jumlahnya.

Harap dicatat, dalam dunia sains, era post-truth tidak dikenal. Sains selamanya hanya berurusan dengan truth, tak menerima post-truth. Sebaliknya, jika sains terlibat, sains membongkar habis post-truth demi mempertahankan truth

Disinformasi yang disebar seorang pendukung post-truth mudah dipatahkan hanya dengan mengkonfrontasikannya dengan kebenaran ilmiah, scientific truth, dan dengan pemikiran kritis. 

Well, dalam ujian disertasi, biasanya promotor anda akan mengawali dengan bertanya: Lewat disertasi ini apa sumbangan orisinal anda bagi dunia sains? Jadi, seorang Ph.D. memang dikehendaki berhasil menyumbang pemikiran dan temuan baru bagi dunia sains, bukan berapologetik.

Terlalu berat jika seorang sarjana S-1 dan sarjana S-2 diharapkan menyumbang sesuatu yang orisinal bagi dunia sains, tapi itu wajib bagi seorang Ph.D.

Jika anda seorang Ph.D, jadilah Ph.D. yang mampu berpikir orisinal dan mampu menyumbang hal baru bagi dunia sains. Negeri anda memerlukan banyak Ph.D. semacam ini. Jika anda Ph.D. bidang kajian agama, pikirkan ulang apakah tugas anda berapologetik atau justru melahirkan terobosan pemikiran-pemikiran baru buat agama anda, pemikiran-pemikiran baru yang jelas, simpel, tidak ruwet dan tidak rumit.  

Ph.D. konservatif apologetik adalah sebuah oxymoron, sebuah contradictio in terminis, istilah yang berkontradiksi pada dirinya sendiri. Di dalam negeri semacam Indonesia yang sedang dijajah budaya agama, orang-orang yang bergelar doktor semacam ini sangat banyak. Padahal sudah mustinya seorang Ph.D. itu seorang yang mampu berpikir bebas dan bertanggungjawab, bukan seorang akademisi yang dikerangkeng seumur hidup oleh agamanya sendiri. 

Seorang Ph.D. tulen seyogianya adalah seorang ilmuwan milik dunia, yang sudah GO-GLOBAL, dan pemikiran-pemikirannya melampaui sekat-sekat agamanya sendiri, dan mampu berpikir dan menganalisis lintas-ilmu dan lintas-bidang. Mereka pantang menjadi politikus bayaran, atau dengan membayar berubah karir menjadi politikus petualang gelandangan yang sudah kehilangan etika kehidupan.

Anda yang kritis, pasti akhirnya bertanya dalam hati, apakah si penulis tulisan ini memang seorang ilmuwan sebagaimana dimaksudkannya dalam rangkaian dan jalinan kata-kata di atas.

Ini jawabku lewat sebuah puisi yang kususun sendiri. 

AKU SUKA MENYAPA SEMUT

Aku ini bukan ilmuwan
Sekolah hanya lima tahunan
Dulu cuma tamat SD swasta
Panjang ilmuku cuma sehasta

Bukuku pun kertas kosong
Seluas langit yang lowong
Kala malam dipenuhi bintang
Bercahaya terang gemilang 

Sahabat pun bukan ilmuwan
Hanya angkasa dan awan
Juga Bumi, bulan dan bintang
Di darat berkawan belalang

Aku suka menyapa semut
Ditemani kura dan siput
Oktopus temanku di laut
Menyepi dalam hutan kabut

Tidur cuma beralas rumput
Sang Malam Kelam sebagai selimut
Putri malu menciumku di mulut
Saat kurangkul dia surut

Piknik cuma ke angkasa sepi
Ongkosnya murah sekali
Cuma imajinasi tak bertepi
Tanpa siapapun menyertai

Aku kesepian sendiri
Sunyi berteman alunan dawai
Yang bergetar riuh ramai
Dalam ruang ekstradimensi

Tak kupunya ilmu tinggi
Kutawarkan cuma teka-teki
Tebaklah dengan piawai
Supaya kau hidup abadi
Bersamaku yang sudah mati

Sebagai pikiran yang lestari
Berkelana lintasdimensi
Dari galaksi ke galaksi
Tanpa bidadari yang seksi

Mati tapi abadi
Abadi tapi mati
Ada tapi tiada
Tiada tapi ada


Salam, 
ioanes rakhmat
Freidenk