Saturday, July 13, 2013

Oh akal, mengapa kau selalu dicurigai?


Umumnya para pemuka keagamaan menegaskan kepada umat mereka agar dalam membangun kesalehan, umat jangan memakai akal, tetapi memakai iman. Mereka diharuskan hanya beriman atau yakin mutlak pada semua yang tertulis dalam kitab suci sebagai kebenaran-kebenaran mutlak yang hanya perlu dipercaya benar dan harus dibela mati-matian, dan tak perlu akal dibawa masuk untuk mencampuri.

Lalu tegas mereka juga, iman mendekatkan umat kepada Allah sedangkan akal menjauhkan mereka dari Allah dan semua kebenaran-Nya yang sudah ditulis dalam kitab suci.

Juga kata mereka, berimanlah dulu sekuat-kuatnya kepada semua hal yang sudah tertulis dalam kitab suci, dan jika iman sudah sangat kuat, tak bisa digoyahkan, barulah umat boleh melakukan penyelidikan kitab suci dengan akal demi dan hanya demi memperkokoh hal-hal yang sudah diterima iman sebagai kebenaran-kebenaran.

Pertanyaan saya: Apakah sikap dan pandangan negatif terhadap akal dari banyak pemuka keagamaan itu memang benar dan membangun kehidupan, ataukah salah dan meruntuhkan kehidupan?

Saya persilakan para pemuka keagamaan menjawab pertanyaan saya di atas, dengan sebelumnya saya mengajak mereka untuk memikirkan dalam-dalam sembilan hal yang saya kemukakan berikut ini.

(1) Adalah suatu fakta sejarah bahwa jauh sebelum agama-agama disusun dan kitab-kitab suci ditulis, manusia sudah punya akal, dan lewat akal ini mereka mempertahankan kehidupan mereka dan membangun masyarakat dan kebudayaan mereka. Tanpa akal, manusia pada zaman yang sangat lampau akan tak bisa bertahan dan tak mungkin berkembang, atau malah akan musnah karena tak bisa menghadapi bencana-bencana alam dahsyat, seperti musnahnya reptil-reptil besar yang dinamakan dinosaurus 66 juta tahun lalu karena sebuah meteor besar menumbuk Bumi yang berakibat rusaknya nyaris seluruh ekosistem di planet ini.

(2) Jika manusia tidak memiliki akal, apakah agama-agama bisa dibangun dan kitab-kitab suci bisa ditulis, dibaca dan dimengerti, dan lembaga-lembaga keagamaan bisa dikelola dan dikembangkan? Kalaupun para agamawan mengklaim bahwa kitab-kitab suci mereka adalah wahyu-wahyu Allah, apakah wahyu-wahyu Allah bisa diterima dan ditulis dan dipahami jika para penerima wahyu itu tidak memiliki akal dan tidak menggunakan akal mereka?

(3) Jika semua kitab suci disingkirkan dari kehidupan manusia, manusia jelas masih akan bisa hidup dengan baik; tetapi jika akal, yang memunculkan ilmu pengetahuan dan teknologi, ditiadakan dari diri manusia, semua manusia jelas tidak akan bisa bertahan hidup lagi, dan peradaban pun akan hancur dan binasa.

(4) Cobalah kita hitung, dalam zaman modern sekarang ini berapa persen dari gerak-gerik kehidupan kita setiap hari ditentukan oleh agama, dan berapa persen oleh sains dan teknologi yang bisa dibangun dan dikembangkan manusia karena manusia memiliki akal. Cobalah bayangkan, apa jadinya dengan kita semua jika kita sama sekali tidak memiliki ilmu dan teknologi kedokteran dan pengobatan, ilmu dan teknologi pertanian, perkebunan, persawahan, perikanan, kelautan, pertambangan, dlsb, ilmu dan teknologi pendidikan, perekonomian, perdagangan, industri, dlsb, ilmu dan teknologi informasi, komunikasi dan cyber. Dan seterusnya. Tanpa akal, bisakah sekarang kita hidup dengan semakin hari semakin sehat dan semakin dipermudah dalam banyak bidang kehidupan? Bisakah anda hidup dengan baik dalam satu hari jika akal anda, dalam satu hari ini, tidak anda pakai sama sekali?

(5) Apakah tanpa organ otak dan sistem-sistem saraf, iman bisa muncul, sementara kita sudah tahu bahwa lewat aktivitas organ lembut putih keabuan dengan berat 1,5 kg dalam tempurung kepala dan sistem-sistem neurologis, kita mampu ber-akal? Dilihat dari sudut neurologis, iman dan akal, atau akal dan iman, keduanya berproses dan aktif dalam satu organ yang sama: otak manusia. Tanpa otak, tak ada akal dan tak ada iman. Jika iman dan akal adalah produk-produk aktivitas otak, mengapa hanya iman yang diutamakan sementara akal ditenggelamkan?

(6) Bukankah dengan meminta umat hanya mengimani isi kitab-kitab suci dan tak boleh memikirkan dengan kritis isi kitab-kitab ini dengan akal, maka banyak pengetahuan sejarah, pengetahuan sosial-politik, pengetahuan bahasa, pengetahuan budaya, pengetahuan umum, pengetahuan ilmiah kontemporer, dlsb, yang melatarbelakangi teks-teks semua kitab suci tidak akan mereka ketahui? Bukankah perintah untuk hanya mengimani isi kitab-kitab suci sesungguhnya membuahkan pembodohan umat, membuat mereka tak bisa memahami dengan akal kitab suci mereka sendiri? Jika hanya iman terhadap huruf-huruf teks-teks kitab suci yang diandalkan, siapa yang bisa menjamin bahwa isi iman ini sudah benar? Bukankah penjaminnya sebetulnya adalah doktrin-doktrin agama tentang kitab suci itu sendiri yang dipertahankan dan diimani umat (bahwa kitab suci mereka wahyu Allah sepenuhnya, jadi tidak mungkin salah dalam segala hal yang sudah tertulis) dan bukan isi kitab sucinya sendiri yang sangat mungkin sebagian besar darinya, jika ditafsirkan dengan benar lewat akal, sebenarnya bertentangan dengan isi iman mereka? Jadi, yang terjadi adalah iman menjamin iman, kepercayaan menjamin kepercayaan. Jika demikian, apakah iman atau kepercayaan yang semacam ini memiliki dasar yang valid?



(7) Bukankah perintah untuk hanya memakai iman, dan menolak akal, dalam pengembangan kesalehan keagamaan hanya akan menimbulkan akibat-akibat lebih luas berupa dihasilkannya masyarakat yang sangat religius tetapi bodoh dan ketinggalan ilmu pengetahuan, dihasilkannya banyak malaikat yang taat kepada Tuhan tetapi dungu dalam dunia ilmu pengetahuan, dihasilkannya orang beragama yang sangat rajin membaca kitab-kitab suci tetapi sangat malas membaca buku-buku sains yang terus berkembang, dihasilkannya masyarakat religius yang berani beriman tetapi takut berpikir dan membenci ilmu pengetahuan? Jika ini yang terjadi, hancur dan lenyaplah sebuah masyarakat, sebuah negara, sebuah peradaban.

(8) Menurut anda, akal itu datangnya dari mana, kalau anda percaya bahwa Tuhan anda adalah sang pencipta jagat raya, sang pencipta manusia? Kalau menurut anda, akal adalah pemberian Tuhan, apakah Tuhan anda ini membenci dan mencurigai akal, menganaktirikannya, dan menganakemaskan iman? Bayangkan, Tuhan macam apakah jika Dia membenci akal manusia yang sudah diciptakan-Nya? Apakah Tuhan anda sangat takut pada akal, sama seperti anda? Atau jangan-jangan, anda melawan Tuhan anda ketika anda memerintahkan umat anda untuk membenci dan mencurigai akal, dus juga membenci dan mencurigai sains yang dihasilkannya? Jadi, jika Tuhan itu sang pemberi akal kepada manusia, adalah logis jika Tuhan juga ingin anda menggunakan akal anda semaksimal mungkin, pun saat akal anda mempertanyakan Tuhan sendiri.


(9) Akhirnya, jika bagi anda Tuhan itu mahatahu, maka sesungguhnya semua pengetahuan yang anda peroleh ketika anda memakai akal anda, adalah pengetahuan yang tidak berada di luar pengetahuan-Nya. Karena Tuhan itu mahatahu, tak ada ilmu pengetahuan yang tak dikehendaki-Nya ada dlm dunia ini. Kemahatahuan Tuhan sudah seharusnya mendorong anda untuk terus mencari ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dan seluas-luasnya tanpa pernah berhenti. Semakin anda yakin bahwa Tuhan itu mahatahu, semakin bebas, ringan dan riang anda dalam mencari dan membangun ilmu pengetahuan lewat akal anda. Semakin anda yakin bahwa Tuhan itu mahatahu, semakin anda cinta pada akal dan pada ilmu pengetahuan yang dihasilkannya.  

Jadi, sudah seharusnya cintailah dan utamakanlah akal anda, wahai para pemuka keagamaan! Ajarkanlah demikian juga kepada umat anda. Jika anda takut akan ditanyai banyak pertanyaan oleh umat anda jika mereka piawai memakai akal mereka, usaha mengatasi rasa takut anda ini bukanlah memperbodoh mereka, melainkan andalah yang harus mengembangkan diri anda sendiri dengan memakai, melatih dan mengasah akal anda sendiri. Jika umat anda berpengetahuan luas karena mereka membaca banyak buku ilmu pengetahuan, maka anda juga perlu membaca buku-buku ilmu pengetahuan jauh lebih banyak lagi. Rajin membaca kitab suci tentu bagus, tetapi tidak cukup. 

Baca juga: 
Aku mencintai Tuhan, karena itu aku berpikir
Benarkah para saintis mempertuhan pikiran mereka?