Tuesday, October 1, 2013

Benarkah para saintis mempertuhan pikiran mereka?

Para agamawan yang “berkacamata kuda”, dalam semua agama teistik, sering menuduh para saintis mempertuhan pikiran mereka, menggantikan Tuhan Allah yang sebenarnya. Kata mereka, Tuhannya para saintis itu otak mereka. Is that true? 

Ketimbang membangun debat bermartabat dan terbuka, para agamawan itu memang lebih memilih memakai argumentum ad hominem, yakni menyerang diri pribadi para saintis dengan membabi-buta, dan bukan mendiskusikan dengan cermat seluk-beluk dunia sains.

kekuatan pikiran adalah wahana menuju kebenaran, bukan untuk disembah

Berikut ini saya ajukan sejumlah alasan yang memperlihatkan bahwa tuduhan kaum agamawan yang berkacamata kuda itu tidak benar sama sekali. 

Pertama, dalam dunia sains tak ada objek apapun (benda, organisme bernyawa, atau makhluk-makhluk imajiner adikodrati) yang dipertuhan yang tak boleh digugat. Sebaliknya, menggugat sains adalah prasyarat untuk sains terus berkembang. Tentu saja gugatan di sini bukanlah gugatan asal-asalan, melainkan gugatan yang bernalar dan argumentatif. 

Kedua, semua saintis dengan jelas mengakui bahwa kendatipun daya jelajah pikiran itu tak ada batasnya, selalu mampu membuka cakrawala-cakrawala baru, pikiran kita, sehebat dan serapi apapun dibangun, sehebat dan serapi apapun telah mengonstruksi sains, tetap bisa salah, fallible. Karena fallibilisme ini, maka pikiran saintifik kita apapun harus selalu kita kontrol dan uji terus-menerus lewat metode-metode saintifik. Fallibilisme dalam dunia sains ini digarisbawahi mula-mula oleh filsuf pragmatisisme Charles Sanders Peirce (1839-1914)./1/

Ketiga, semua saintis dengan jelas mengakui bahwa pikiran memang mulia, karena mampu mengonstruksi sains dan melahirkan hal-hal besar bagi pembangunan peradaban, tapi pikiran kita bisa juga membuahkan banyak kejahatan yang akan menyengsarakan umat manusia. Dengan lebih kongkret lagi, Jacob Bronowski menegaskan bahwa “Tidak ada sains yang kebal terhadap infeksi politik dan korupsi kekuasaan. Charles Darwin juga menyuarakan pandangan yang sama, bahwa tahap tertinggi yang mungkin dicapai dalam kebudayaan moral adalah ketika kita mengakui bahwa kita harus mengontrol pikiran-pikiran kita. Ya, semua pikiran kita harus terus-menerus kita kontrol lewat nilai-nilai moral yang kita pandang sebagai nilai-nilai yang agung dan lewat kemauan membaja untuk menghasilkan kebajikan buat umat manusia dan dunia ini. Menurut Carl Sagan, semakin tinggi peringkat peradaban suatu spesies cerdas, semakin agung akhlak spesies cerdas ini, bukan sebaliknya. Pernyataan Sagan ini diajukan olehnya dalam suatu konteks diskusi pada masanya tentang apakah berbahaya ataukah tidak berbahaya jika spesies homo sapiens suatu saat nanti bertemu dengan alien-alien cerdas dari angkasa luar yang sudah memiliki peradaban sangat tinggi, jauh di atas peradaban kita sekarang. Sagan ingin menenangkan dan meyakinkan masyarakat pada masanya.

Keempat, meskipun sains dibangun oleh pikiran yang bekerja dengan tertib di jalur metode-metode saintifik, yang menentukan kebenaran sebuah posisi saintifik bukan pikiran itu sendiri, tapi bukti-bukti empiris. Inilah epistemologi evidensialis sebagai epistemologi sains: suatu posisi pengetahuan itu benar dan sahih sejauh ada bukti-bukti empiris (empirical evidence) yang mendukungnya. Seperti sebuah rumah berdiri kokoh di atas fondasi-fondasi beton yang kuat, sains juga berdiri kokoh di atas fondasi bukti-bukti empiris. Jules Henri Poincare menyatakan bahwa sains dibangun di atas fakta-fakta, seperti sebuah wisma dibangun di atas fondasi bebatuan.

Kelima, sebagai fondamen sains, bukti-bukti empiris terdahulu akan dinyatakan kurang memadai, cacat atau tidak valid jika ditemukan bukti-bukti lain yang lebih kuat dan lebih memadai. Kemanapun bukti-bukti membawa, ke sanalah para saintis akan mengarahkan pikiran saintifik mereka. Ini sama halnya dengan para saintis menelusuri tanah planet Mars (lewat sebuah rover yang dikendalikan dari Bumi) untuk menemukan air ketika mereka mencari petunjuk-petunjuk adakah kehidupan di sana. Follow the water to find life! Follow the empirical evidence to find scientific truth!

Keenam, dalam dunia sains teori-teori besar dan model-model standard selalu bersifat tentatif, suatu saat akan diganti dengan teori-teori dan model-model lain yang lebih akurat dan sejalan dengan realitas empiris yang makin luas dikuak lewat penyelidikan-penyelidikan saintifik yang tak pernah berhenti dijalankan. Kesementaraan, bukan kemutlakan, malah membuat kita makin dekat pada kebenaran-kebenaran. Riset-riset ilmiah tidak akan pernah selesai, dan harus didukung untuk berjalan terus. Charles Sanders Peirce menyatakan, “Jangan blokir jalur perjalanan riset!” Jalur-jalur semua riset ilmiah haruslah bebas macet dan bebas hambatan.

Ketujuh, dalam dunia sains tak ada sains final dan absolut, sebab sains memiliki watak terus berubah dan berkembang, impermanen sekaligus progresif, terus berubah dan maju menuju kebenaran-kebenaran yang makin penuh. Sebutan “sains final” atau “sains absolut” adalah sebuah oxymoron, sebuah contradictio in terminis, sebuah istilah yang berkontradiksi pada dirinya sendiri. Dalam dunia sains, oxymoron tidak ada. 

Kedelapan, kalaupun ada yang tetap dan kekal dalam sains, ini adalah kesementaraan dan perubahan. Kesementaraan dan perubahan, atau impermanensi, adalah hukum alam yang abadi. Orang umumnya akan gelisah dan tak tenteram di batin jika mereka menghadapi ketidakpastian-ketidakpastian dalam kehidupan mereka. Tetapi para saintis menikmati dengan asyik kesementaraan dan ketidakpastian di dalam sains, sebab keadaan ini mendorong mereka untuk terus berkarya, mengkaji posisi-posisi saintifik lama untuk tiba pada posisi-posisi saintifik baru. Mereka berkarya ibarat para pelaut yang tertantang memasuki kawasan-kawasan pelayaran yang asing dan tak dikenal. Dalam pelayaran ini, mereka akan menemukan pulau-pulau baru yang sebelumnya tak terdapat dalam peta dunia. Jacob Bronowski menulis, penemuan yang paling menakjubkan yang dibuat para saintis adalah sains itu sendiri.

Kesembilan, sebagaimana ditekankan oleh Charles Sanders Peirce, pada dirinya sendiri sains itu memiliki sifat dan kemampuan mengoreksi dirinya sendiri (self-corrective), tanpa perlu dipaksa oleh siapapun atau oleh lembaga apapun. Dengan demikian, sudah menjadi watak inheren sains itu sendiri untuk mengoreksi diri sendiri dan dengan demikian berkembang terus, menuju kebenaran-kebenaran yang makin lengkap dan sahih. Menurut Peirce, kemampuan self-correction dalam sains ini lebih penting ketimbang mencari kepastian-kepastian dalam sains.

Kesepuluh, dalam dunia sains tak ada otoritas tunggal apapun (lembaga atau manusia) yang diberi hak dan wewenang untuk memapankan atau meruntuhkan sebuah posisi saintifik. Thomas Huxley menyatakan bahwa setiap kemajuan besar dalam pengetahuan natural melibatkan penolakan mutlak atas otoritas. Sains itu berkembang kumulatif dan progresif lewat kerjasama para saintis dari zaman ke zaman, dari satu tempat ke tempat lainnya, dalam berbagai komunitas saintifik sedunia yang selalu aktif untuk mendiskusikan dan memperdebatkan sains dari waktu ke waktu secara interdisipliner. Aktivitas keilmuwan inilah yang dinamakan peer review. Alexander Graham Bell menyatakan bahwa penemuan-penemuan dan kemajuan-kemajuan besar selalu melibatkan kerjasama banyak pikiran.

Kesebelas, sains akan terus berkembang maju dan akan makin memberi banyak manfaat positif buat umat manusia hanya dalam suatu kehidupan masyarakat yang dikelola secara demokratis sekuler, dan akan terpasung dan terberangus di dalam suatu masyarakat atau negara yang dikelola secara teokratis. Di dalam suatu negara teokratis, hukum-hukum Allah (baca: hukum-hukum agama) dipandang superior dari semua hukum lain, termasuk hukum-hukum alam yang abadi dan hukum-hukum sains. Dalam negara yang konsekwen teokratis, sains boleh dikembangkan sejauh memperkokoh hukum-hukum agama, bukan merongrongnya. Hal inilah yang justru tidak bisa dilakukan sains apapun.

Keduabelas, sains tak mengenal dunia supernatural, tapi memandang seluruh kosmos sebagai dunia natural yang berfondasi hukum-hukum sains. Kalaupun bersikap positif, paling jauh sains hanya bisa menghipotesiskan adanya dunia supernatural, sebuah hipotesis yang hingga kini, setelah ribuan tahun sejarah agama-agama,/2/ tak pernah terverifikasi lewat bukti-bukti empiris. 

Ketigabelas, sains tak mengenal wahyu supernatural yang diasumsikan tak bisa salah karena dipandang datang dari Allah yang mahasempuna dan mahatahu, tapi betul-betul konstruksi pikiran manusia yang natural dan bisa salah. Hanya hal-hal yang ditemukan manusia lewat akalnya, yang dapat menuntun manusia dalam memasuki masa depan. Karena sains itu berdasar pada naturalisme, bukan pada supernaturalisme, maka di dalam dunia sains tidak dikenal apa yang para agamawan kerap sebut sebagai lompatan iman”: mempercayai begitu saja, tanpa perlu dibuktikan dan dinalar, adanya dunia supernatural dan hal-hal yang diklaim sebagai paranormalitas.

Frasa “leap of faith” dikaitkan pada Søren Kierkegaard (1813-1855) kendatipun dia tidak menyebutnya demikian, melainkan “leap to faith”, “lompatan ke iman”. Dalam karyanya Concluding Unscientific Postscript, Kierkegaard menyebut lompatan iman sebagai “suatu transisi dari ketidakpercayaan ke kepercayaan”. Tulisnya juga, “Ketika seseorang harus melompat dia tentu saja harus melakukannya sendirian dan juga sendirian saat dia memahami dengan benar bahwa lompatannya ini suatu ketidakmungkinan... Lompatan adalah suatu keputusan... Dan aku mengharuskan si individu yang melakukan lompatan ini untuk tidak berhenti melakukan perenungan tanpa akhir.”/3/ 

Dengan lompatan iman yang dilakukan para agamawan untuk masuk ke ranah supernatural, semua debat ada atau tidak adanya ranah ini ditutup selamanya! Jika situasinya seperti ini, anda nilailah sendiri apakah lompatan iman itu, seberani apapun,  membebaskan manusia, atau malah memenjara manusia dalam kurungan ketidaktahuan dan kemalasan berpikir dan ketidakberanian menghadapi fakta-fakta. Apakah lompatan iman itu bukan suatu pelarian, suatu eskapisme, karena orang mau menghindar dari fakta-fakta yang tidak berani diterima dengan terbuka?



lompatan iman, suatu eskapisme yang terburu-buru

Menyangkut lompatan iman, ada baiknya pada kesempatan ini saya memperkenalkan anda pada tiga kaidah penting yang berlaku dalam dunia sains, yang dinamakan kaidah Occam’s Razor. Pertama, jangan membuat rumit hal-hal yang sebenarnya tidak rumit. Kedua, teori yang paling mungkin benar adalah teori yang paling ringkas dan paling sederhana dari antara teori-teori yang ada yang lebih berbelit. Ketiga, jika anda mau menjelaskan apapun, mulailah selalu dengan memakai hal-hal yang secara empiris sudah diketahui, jangan membuat lompatan iman. Kesederhanaan dalam dunia sains ditekankan oleh Jacob Bronowski ketika dia menulis bahwa Einstein adalah seorang yang dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa sederhana. Dan apa yang diperlihatkan oleh karya-karyanya adalah bahwa ketika jawaban-jawabannya juga sederhana, maka anda dapat mendengar Allah yang sedang berpikir.” 

Dalam ranah filosofis, lompatan iman melahirkan apa yang dinamakan fideisme. Sebagai sebuah mazhab filosofis keagamaan, fideisme menegaskan bahwa iman (Latin: fidem) berdiri independen dari akal, bahkan bermusuhan penuh dengan akal. Bagi para penganut fideisme, nalar tidak diperlukan dan tidak patut dipakai saat seorang yang beragama mengamalkan dan menjustifikasi kepercayaan-kepercayaan keagamaan mereka. Bagi mereka, yurisdiksi iman berbenturan dengan yurisdiksi nalar. Yang diketahui sebagai orang pertama yang memberi landasan fideisme adalah seorang bapak gereja yang bernama Tertullianus (c. 160-230 M). Bapak gereja ini bertanya retoris, Sesungguhnya ada hubungan apa antara Athena [baca: nalar] dan Yerusalem [baca: iman]?” Belakangan, Alvin Plantinga mendefinisikan fideisme sebagai suatu ketergantungan eksklusif dan dasariah pada iman saja, yang disertai oleh suatu peremehan dan cemooh terhadap nalar, dan digunakan khususnya dalam pengejaran kebenaran filosofis dan keagamaan.” Kata Plantinga, seorang fideis adalah seseorang yang mengharuskan orang bergantung hanya pada iman alih-alih pada akal, dalam hal-hal filosofis dan keagamaan dan yang akan terus-menerus meremehkan dan mencemooh dan merendahkan akal.”/4/

Keempatbelas, tujuan sains sangat jelas, bukan untuk menyembah apapun, tapi untuk menjelaskan seluruh realitas kosmik lewat metodologi saintifik, tahap demi tahap, dengan makin luas dan makin inklusif dan integratif dari saat ke saat. Karena realitas kosmik itu sangat luas dan mencakup banyak dimensi, maka dengan sendirinya muncullah beranekaragam sains yang perlu bekerjasama dan saling mendukung dalam rangka memahami dan menjelaskan sebanyak-banyaknya fenomena alam dan fenomena sosial. Semakin dalam anda memasuki dunia berbagai sains, dan memandang realitas sosial dan realitas kosmik dari banyak sudut pandang saintifk, semakin dalam anda akan melihat fakta-fakta bahwa segala sesuatu dalam jagat ini berhubungan satu sama lain, terikat satu sama lain.

Tentu saja saya mengakui bahwa kendatipun sains modern sudah sangat maju, dan lewat kerjasama antar berbagai disiplin sains banyak hal dalam dunia bisa dijelaskan secara natural, tetap saja akan ada hal-hal yang belum bisa dijelaskan seluruhnya atau sebagian darinya oleh sains modern. Tetap saja akan ada wilayah-wilayah yang belum bisa dimasuki dan dijelaskan oleh sains dengan sempurna. 

Kendatipun demikian keadaannya, para saintis tentu saja tidak akan melakukan lompatan iman sebagaimana sudah dikemukakan di atas, dengan menyatakan hal-hal tersebut sebagai mukjizat yang hanya bisa dikerjakan oleh Allah. Jika menghadapi situasi-situasi semacam ini, para saintis memiliki keyakinan bahwa kajian-kajian saintifik lebih jauh nantinya akan bisa menjelaskan hal-hal yang kini masih belum bisa dijelaskan. Kalau para agamawan menyebut hal-hal ini sebagai mukjizat supernatural, para saintis akan menyatakan hal-hal itu sebagai hal-hal natural yang belum bisa dijelaskan sekarang, tapi suatu saat di masa depan sains akan bisa menjelaskannya dengan sempurna. Ada baiknya saya mengutip seorang pakar Perjanjian Baru, Rudolf Bultmann, pada kesempatan ini:
“Adalah mustahil untuk kita memakai cahaya listrik dan alat-alat komunikasi nirkabel, dan menyediakan bagi kita temuan-temuan dalam dunia medis dan ilmu bedah modern, namun pada saat yang sama kita mempercayai dunia roh-roh dan mukjizat-mukjizat seperti yang digambarkan Perjanjian Baru.”/5/
Sejalan dengan Bultmann, teolog yang bernama John Macquarrie dengan bagus menyatakan hal berikut:
“Cara memahami mukjizat sebagai pelanggaran terhadap tatanan alam dan sebagai intervensi dunia supernatural masuk ke dalam pandangan dunia mitologis, dan tidak berlaku lagi di dalam dunia pemikiran pasca-mitologis.... Konsepsi tradisional mengenai mukjizat tidak dapat didamaikan dengan pemahaman modern kita yang datang dari sains dan sejarah. Sains bekerja berdasarkan asumsi bahwa peristiwa-peristiwa apapun yang terjadi di dalam dunia dapat dijelaskan dalam hubungannya dengan peristiwa-peristiwa lain yang juga berlangsung di dalam dunia. Dan jika pada saat-saat tertentu kita tidak dapat menjelaskan dengan lengkap beberapa kejadian... keyakinan saintifik kita adalah bahwa lewat riset-riset yang lebih jauh kita akan, dalam situasi ini, dapat menemukan faktor-faktor yang lebih jauh, faktor-faktor yang akan terbukti sebagai faktor-faktor imanen dan natural, sama seperti faktor-faktor lain yang sudah diketahui.”/6/
Kelimabelas, sejalan dengan agama-agama dan dengan dunia kesenian, sains memiliki nilai-nilai agung yang para saintis mau wujudkan supaya kehidupan manusia menjadi lebih baik. Pemisahan sains dan nilai-nilai sebetulnya adalah sebuah ilusi yang sudah lama dipertahankan, dan sekarang harus dilepaskan sama sekali. Neurosaintis Sam Harris menegaskan bahwa pemisahan antara fakta-fakta dan nilai-nilai, dengan demikian antara sains dan moralitas, sesungguhnya adalah sebuah ilusi./7/ Jikalau estetika yang diberi oleh seni itu sebuah nilai, seni dan sains juga seiring dan sejalan, sebagaimana diungkap oleh Jacob Bronowski, bahwa Manusia itu unik bukan karena dia menemukan sains dan juga bukan karena dia membangun seni, tetapi karena sains dan seni itu sama-sama merupakan ungkapan-ungkapan plastisitas pikirannya yang menakjubkan.” 

Bahwa sains dan nilai-nilai tak terpisahkan, kelihatan jelas misalnya dalam sains evolusi. Lewat sains ini kita menemukan bahwa semua organisme dalam alam ini, yang dimulai dari organisme bersel tunggal prokariota dan eukariota, terhubung satu sama lain oleh mata rantai evolusi biologis. Dari fakta ini, sebuah nilai muncul: semua organisme dalam alam ini tak terpisah satu sama lain, alias semuanya bersaudara. Pesan persaudaraan universal dari sains evolusi ini ironisnya bertolakbelakang dengan praktek-praktek diskriminasi dan permusuhan antar-manusia yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran keagamaan tertentu, seperti kita sedang lihat sekarang ini di mana-mana.

Keenambelas, berbeda dari dunia agama di mana para agamawan dapat kuat terdorong untuk memuliakan dan mengkultuskan diri mereka sendiri setinggi-tingginya, para saintis dengan rendah hati mengabdikan diri hanya pada sains untuk terus mengembangkannya. Hingga saat ini, tidak ada satupun saintis dunia yang disembah atau dikultuskan kendatipun sumbangan-sumbangan keilmuwan mereka sangat esensial bagi peradaban manusia dan bertahan langgeng. Mereka dipandang sebagai para saintis agung, great scientists, tapi tidak ada seorangpun dalam dunia ini yang menyembah mereka. 

Ketujuhbelas, berbeda dari dunia agama yang dapat menjadikan orang fundamentalis, para saintis tak akan pernah menjadi fundamentalis-sains. Sebutan “saintis fundamentalis” juga sebuah oxymoron. Sebutan ini kerap dipakai oleh sejumlah orang, terutama dari kalangan para agamawan, untuk menyerang secara ad hominem saintis-saintis tertentu (misalnya Richard Dawkins) yang cakap memperlihatkan berbagai kelemahan dan kesalahan fatal dalam pandangan-pandangan kaum agamawan mengenai ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan evolusi. 

Kedelapanbelas, sains sama sekali bukan agama, dan agama juga bukan sains, meskipun keduanya bergerak dalam dunia kebenaran-kebenaran dan dunia nilai-nilai. Bedanya, sementara sains terus mencari dan mempertanyakan kebenaran berdasarkan bukti-bukti empiris, agama mengabsolutkan bahkan mendewakan sebuah kebenaran yang diterima begitu saja dengan iman tanpa bukti apapun sebagai wahyu ilahi yang diasumsikan tidak bisa salah, infallible, dan diyakini berlaku mutlak untuk segala zaman dan di segala tempat. Jadi, para agamawanlah, bukan para saintis, yang sebetulnya mempertuhan iman mereka pada sesuatu yang mereka klaim sebagai kebenaran mutlak. 

Lebih jauh, perlu diingatkan terus-menerus bahwa hampir dalam semua agama, bahkan termasuk yang monoteistik yang mempertahankan kuat-kuat doktrin tentang keesaan Allah, para agamawan sebetul-betulnya mempertuhan kitab suci, dogma-dogma dan iman mereka sendiri, karena semuanya ini mereka beri sifat dan aura ilahi: sudah sempurna seperti Allah dan tak bisa salah dalam segala hal dan berlaku abadi di mana pun, dan, karena itu, tidak boleh digugat sama sekali.

Itulah delapanbelas butir alasan mengapa para saintis tak akan pernah mempertuhan pikiran mereka. Tuduhan kaum agamawan itu salah total, tuduhan yang sepatutnya ditujukan kepada diri mereka sendiri.

Selain itu, ada sebuah problem besar dalam dunia agama-agama yang perlu disadari para agamawan: ada sangat banyak definisi tentang siapa atau bagaimana atau apa itu “Allah”, yang berbeda satu sama lain. Jadi, muncullah sebuah pertanyaan: Allah yang manakah yang harus dipandang sebagai Allah yang sebenarnya yang harus disembah? Berebut definisi tentang kebenaran tak akan ditemukan dalam dunia sains, sebab para saintis bekerjasama lintas-zaman dan lintas-tempat untuk mencari kebenaran-kebenaran saintifik yang objektif, berdasarkan analisis-analisis mereka atas bukti-bukti empiris yang tersedia.

Meskipun sains tak pernah mencapai titik final, selalu sementara, dan bisa salah, sains ternyata efektif bekerja dan membuahkan hasil-hasil yang real, yang kita semua bisa lihat dan sedang nikmati. Lihatlah ke dalam kehidupan anda dan ke dunia luas, ternyata sains dan teknologi modern sedang masuk ke dalam segala sesuatu. Meskipun sains bisa salah, faktanya kita (baca: negara-negara Barat yang modern, Russia, dan China) sekarang sudah berhasil mengirim sejumlah wahana antariksa tanpa awak ke planet-planet lain dan bulan-bulan dalam tata surya kita. Kendatipun sains bisa salah, nyatanya ilmu kedokteran dan pengobatan modern kita makin maju, dan lewat kemampuan-kemampuan teknologi pengobatan banyak penyakit dapat disembuhkan. Kendatipun sains bisa salah, kita semua sekarang ini tak bisa lagi melepaskan diri dari Internet yang dihasilkan oleh sains dan teknologi informasi dan komunikasi modern.

Kekuatan terbesar apakah yang sedang menbentuk dunia kita sekarang? Sains-tek modern, bukan agama apapun! Tak ada kekuatan lain selain sains modern, yang kini sedang membentuk kehidupan kita secara mendasar dan menyeluruh. Anda bisa tinggalkan semua agama, dan anda masih bisa hidup dengan baik. Coba tinggalkan sains modern sama sekali, lalu lihat apakah anda masih bisa hidup? 

Tentu anda bisa hidup sekarang ini di goa-goa sama seperti ketika dulu manusia-manusia purba hidup di zaman batu, sama sekali terisolasi dari modernitas. Tetapi siapkah anda dengan kehidupan semacam ini? Dan menurut anda apakah kehidupan semacam ini manusiawi, dan apakah kehidupan semacam ini bisa memberi sumbangan signifikan bagi dunia luas? 

Bayangkanlah suatu masyarakat yang terisolasi, yang mengobati diare dengan jampi-jampi, tanpa antibiotik, tanpa vaksin untuk imunisasi tubuh, dan di sana angka kematian bayi dan ibu yang hamil tinggi, anak-anak tak sekolah untuk belajar ilmu pengetahuan tapi hanya bermain setiap detik, tak ada listrik, tak ada mobil, tak ada mall, tak ada tempat hiburan, tak ada komputer, tak ada Internet, tak ada dokter, tak ada kemajuan dan tak ada perubahan! Jika anda memiliki kesadaran nurani yang matang dan rasa kemanusiaan anda tinggi, dan sudah tahu apa itu modernitas, anda pasti menolak kondisi-kondisi kehidupan semacam itu. Jadi, adalah suatu imperatif etis untuk anda masuk ke sana, bukan hanya untuk membuatkan mereka KTP demi kepentingan pilpres demokratis (2014), tetapi untuk membawa hal-hal yang telah diberikan sains dan teknologi modern yang menjadikan kehidupan manusia lebih baik, lebih sehat, lebih tangguh, lebih berbahagia, lebih manusiawi, lebih toleran, dan lebih maju.

Mungkin sekali anda juga mau menegaskan bahwa hidup kembali sepenuhnya ke alam (back to nature), tanpa memakai sains dan teknologi modern, adalah mungkin dilakukan oleh anda, dan mungkin anda segera juga mengacu ke suku bangsa Badui (juga Kubu dan Semang) yang kata anda hidup hanya bergantung pada dan bersama alam, tanpa bersentuhan dengan modernitas./8/ 
Dalam tradisi filosofis Barat, gerakan back to nature dihubungkan banyak orang ke filsuf Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) yang hidup pada era Pencerahan Eropa, kendatipun Rousseau sendiri sebetulnya tidak menganjurkannya. Tetapi Rousseau memang membangun sebuah pemikiran filosofis tentang kodrat alamiah manusia dalam dua karya perdananya, A Discourse on the Sciences and Arts (1750) dan The Discourse on the Origin of Inequality (1753). Menurut Rousseau, dalam kondisi alamiahnya manusia minimal adalah makhluk yang amoral, artinya tidak baik dan juga tidak jahat, atau maksimal makhluk yang ganas tetapi ksatria. Berbeda dari hewan-hewan lain manusia memiliki kemampuan bernalar yang membuat mereka dapat membangun peradaban dan hidup dalam masyarakat. Kata Rousseau, justru ketika peradaban dan masyarakat dibangun, akhlak manusia menjadi rusak. Ilmu pengetahuan dan kesenian tak sedikit perannya dalam kemerosotan moral manusia. Alih-alih menganjurkan manusia kembali ke alam, back to nature, Rousseau dalam bukunya Social Contract (1762) dengan eksplisit menyatakan bahwa ketika manusia meninggalkan kondisi alamiahnya, mereka dapat membangun kehidupan masyarakat berdasarkan kontrak sosial, yang dengannya kebajikan moral yang lebih tinggi dapat dicapai. 
OK-lah, kalau anda yakin bahwa anda bisa hidup sepenuhnya hanya dengan alam, dan melepaskan sains dan teknologi modern sama sekali, seperti sedang dijalani suku-suku terasing yang anda sebut itu. Tapi, bukankah setiap warga dewasa Badui wajib mempunyai selembar KTP, dan KTP adalah sebuah kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah dalam sistem administrasi kependudukan modern? Lewat kepemilikan sebuah KTP, setiap orang Badui dewasa ikut serta dalam pengelolaan administratif sebuah komunitas secara modern. Jadi, tak tersentuhkah mereka dengan modernitas? Ini hanya sebuah contoh saja.

Juga, tahukah anda, alam juga bisa berubah menjadi sangat tidak bersahabat lagi dengan manusia walaupun anda sangat sayang kepada alam, yakni ketika berbagai bencana alam dahsyat menerjang anda dan masyarakat anda yang hidup menjauh dari modernitas. Dalam kondisi-kondisi terpajan pada bencana-bencana alam yang sangat mematikan, hanya sains dan teknologi modern yang bisa membantu anda mengelakkannya atau mengurangi penderitaan yang ditimbulkan olehnya. Kalau kata anda orang yang menyatu dengan alam akan ikhlas jika diterjang suatu bencana alam sampai seluruh komunitas mereka musnah, hemat saya, ini bukan sebuah keikhlasan, tetapi sebuah tindakan bunuh diri massal lewat pembunuhan menyeluruh akal budi mereka, yang kalau dipakai sebetulnya akan bisa menyelamatkan mereka.

Tentu anda tahu reptil-reptil besar pada 66 juta tahun lalu, yang dinamakan dinosaurus dalam berbagai jenis, semuanya punah karena sebuah meteor besar jatuh menimpa planet Bumi kita lalu merusak seluruh ekosistem yang ada. Di masa depan, kejadian serupa juga akan sewaktu-waktu terulang kembali pada planet Bumi sekalipun anda sangat bersahabat dan ramah pada Bumi. Siapa atau apakah yang dapat menyelamatkan planet Bumi dan semua spesies yang hidup di Bumi jika sebuah meteor raksasa menghantam planet kita lagi di masa depan? Atau jika bintang Matahari kita, karena aktivitas fusi nuklir di dalam intinya, membengkak menjadi sebuah bola api raksasa yang siap menelan dan memanggang planet Bumi dan seluruh penghuninya? Sains dan teknologi modern-lah yang menjadi andalan kita untuk survival kita di masa depan, baik lewat pemantuan benda-benda langit oleh instrumen-instrumen teknologis, maupun lewat pembangunan pemukiman-pemukiman baru homo sapiens di planet-planet lain, misalnya planet Mars, sebelum bintang Matahari mengembung dan siap melahap dan memanggang kita bersama planet kita./9/

Saya tentu saja harus menegaskan bahwa dalam setiap zaman dan di banyak tempat tentu selalu ada orang-orang beragama yang telah memberi sumbangan penting dan mendasar bagi dunia sains. Tetapi mereka menjadi saintis bukan karena agama mereka, tetapi karena metode-metode saintifik universal yang mereka gunakan (eksperimentasi, observasi, instrumentalisme, empirisisme, dan verifikasi) dan langkah-langkah penalaran yang mereka pakai (deduksi, induksi, dan abduksi) dalam penyelidikan-penyelidikan mereka. Jika metode-metode dan penalaran-penalaran saintifik ini dipakai oleh siapapun, yang beragama apapun, di zaman kapanpun, dan di manapun, hasil-hasilnya akan selalu sama. Bukan agamanya, tetapi metode-metode dan penalaran saintifik yang dipakainya, menjadikan seorang yang beragama saintis. Tidak ada sains skriptural, tidak ada sains agama, tidak ada sains Hindu, tidak ada sains Buddhis, tidak ada sains Yahudi, sains Kristen, sains Islam. Semua sains yang janggal ini adalah oxymoron. Yang ada hanya sains, science proper, yang berlaku universal dan tak pernah absolut.

Akhir kata, saya ingin ingatkan sesuatu kepada anda, para agamawan. Karena dalam dunia agama anda perlu dan harus memuja dan menyembah sesuatu, kehidupan keagamaan anda hemat saya perlu diimbangi dan didampingi oleh suatu dunia yang lain, yang di dalamnya orang tidak menyembah sesuatu apapun, tetapi juga terdorong untuk mewujudkan kebahagiaan dan ketahanan kehidupan manusia. Dunia lain ini, yang di dalamnya tidak ada pengkultusan individu dan penyembahan kepada apapun, adalah dunia ilmu pengetahuan. 

Dengan ditemani dan dibantu oleh ilmu pengetahuan, anda akan tertolong untuk bisa mengetahui kapan anda perlu beriman dan kapan anda perlu bernalar, kapan anda perlu mengarahkan wajah anda ke dunia supernatural dan kapan ke dunia natural. Anda tidak perlu lagi memandang iman dan dunia supernatural lebih tinggi peringkatnya dibandingkan nalar dan dunia natural. Anda mulai sekarang perlu menempatkan dua wilayah ini sebagai dua wilayah yang satu sama lain setingkat, dan anda perlu memiliki pengetahuan dan kesadaran yang kuat kapan anda harus masuk ke dunia yang satu, dan kapan ke dunia yang lainnya. 

Jika anda masih saja memandang iman dan dunia supernatural lebih tinggi, maka, sebagai para fideis, bukankah, sejauh anda konsekwen dan konsisten, anda sudah seharusnya hanya perlu beriman dan hanya perlu memandang ke dunia supernatural saja, dan mengabaikan sama sekali nalar dan dunia natural? Bukankah, sejauh anda konsisten dan konsekwen fideis, iman saja sudah cukup bagi semua segi kehidupan anda? 

Tapi saya tahu, anda selamanya tidak akan pernah bisa konsekwen dan konsisten, jika anda memutuskan menjadi seorang fideis. Malah, saya yakin, sekarang ini anda lebih sering hidup dengan dipandu akal dan mementingkan dunia natural, ketimbang dipandu iman dan mementingkan dunia supernatural, kendatipun secara lisan anda menyatakan diri keras-keras sebagai seorang fideis. Fideisme akan selalu membuat batin dan pikiran anda terbelah-belah, lalu anda mengambil sikap tidak jujur baik kepada diri anda sendiri, kepada masyarakat, maupun kepada Tuhan anda. 

Karena itu, demi menjaga muruah anda, lebih baik anda juga merangkul saintisme, karena anda memang pada masa kini sudah tidak bisa hidup lagi tanpa sains dan teknologi modern. Saintisme bukan pemberhalaan sains (karena sains tidak bisa diberhalakan), tapi suatu sikap dan pola pikir yang konsisten saintifik ketika orang menjelaskan dan memahami semua fenomena alam dan fenomena sosial. Menempatkan fideisme dan saintisme dalam posisi yang sederajat, jelas akan jauh lebih baik bagi anda, meskipun untuk bisa menyeimbangkan keduanya anda harus mengeluarkan dan memakai energi mental yang sangat besar. Anda akan lebih lelah, tentu saja, tapi tidak ada jalan lain jika anda ingin cerdas beragama dalam kehidupan anda.    

--------------------

/1/ Charles Sanders Peirce (selain John Dewey dan William James) adalah salah seorang terpenting dalam aliran filsafat empirisisme dan pragmatisisme yang memberi landasan-landasan filosofis bagi sains modern. Fallibilisme Peirce tak dapat dilepaskan dari dua posisi lainnya yang diajukannya: evolusionisme dan indeterminisme. Untuk uraian bagus tentang fallibilisme Peirce, lihat Elizabeth F. Cooke, Peirce’s Pragmatic Theory of Inquiry: Fallibilism and Indeterminacy (London/New York: Continuum, 2007). Fallibilisme diajukan Peirce sebetulnya juga sebagai penolakannya terhadap doktrin infallibilitas Paus yang dipegang Gereja Roma Katolik; Peirce menyebut fallibilisme-nya sebagai “fallibilisme dengan rasa sesal (“contrite fallibilism), bahwa kesalahan-kesalahan adalah suatu bagian yang perlu dan niscaya dari pencarian kebenaran. Peirce maunya masuk ke GRK, tapi dia tidak bisa karena logika sains melarangnya. Lihat biografi Peirce yang ditulis Joseph Brent, Charles Sanders Peirce: A Life. edisi perbaikan yang diperluas (Bloomington dan Indiana Polis: Indiana University Press, 1993, 1998), hlm. 237.   

/2/ Sejauh sudah ditemukan oleh para arkeolog, agama tertua dipraktekkan oleh orang Basarwa di Ngamiland, Botswana, Afrika Selatan, pada 70.000 tahun lalu. Lihat reportase Worlds oldest religion discovered in Botswanapada http://www.afrol.com/articles/23093.

/3/ Lihat Howard V. Hong dan Edna H. Hong, eds., Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments. Søren Kierkegaard. Vol. I. Dengan Introduksi dan Catatan-catatan (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1992), hlm. 11-12, 102, 113.   

/4/ Alvin Plantinga, “Reason and Belief in God,” dalam Alvin Plantinga dan Nicholas Wolterstorff, eds., Faith and Rationality: Reason and Belief in God (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1983), hlm. 87.

/5/ Rudolf Bultmann, New Testament and Mythology and Other Basic Writings. Diseleksi, diedit dan diterjemahkan oleh Schubert Ogden (Philadelphia: Fortress Press, 1984), hlm. 4. 

/6/ John Macquarrie, Principles of Sacred Theology. Edisi kedua. (New York: Charles Scribners Sons, 1977), hlm. 248. 

/7/ Sam Harris, The Moral Landscape: How Science Can Determine Humn Values (New York, N.Y.: Free Press, 2010), hlm. 179. Ulasan panjang lebar tentang hubungan sains dan nilai-nilai telah saya berikan dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), hlm. 219-257.

/8/ Komunitas Amish yang terhubung dengan Gereja Menonit juga menolak banyak kemudahan dan kesenangan yang diberikan oleh teknologi modern. Info tentang komunitas Kristen tradisional ini, lihat Wikipedia: Amish, pada http://en.wikipedia.org/wiki/Amish.

/9/ Isi alinea ini telah dibeberkan dengan luas dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 8 (hlm. 259-298) dan bab 10 (hlm. 325-341).