Saturday, September 11, 2010

5 Roti dan 2 Ikan, Yang Makan 5000 Orang



Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Tetapi, jika betul, mengapa masih ada kelaparan begitu parah dalam kehidupan dunia di abad ke-21 ini? Ironisnya, yang sekarang terjadi adalah mukjizat 5000 roti dihabiskan tuntas hanya oleh 5 orang lelaki berperut buncit!
― ioanes rakhmat

N.B. editing mutakhir 20 Agustus 2021


Pendahuluan

Kalangan Kristen apologet literalis menerima tuturan injil-injil Perjanjian Baru tentang Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, dengan sisa 12 bakul penuh (Markus 6:30-44 dan par.), sebagai tuturan sejarah faktual apa adanya.

Bagi mereka, dengan memakai iman sebagai senjata pamungkas pertahanan diri, kisah ini adalah kisah sejarah faktual, yang hanya perlu diterima kebenarannya tanpa ragu, dan tak perlu diadakan investigasi saintifik untuk memeriksa faktualitas kisah ini. 

Mereka sama sekali mengenyampingkan berbagai ciri dan sifat hiperbolik serta tujuan kisah-kisah hebat skriptural religius yang ditulis sebagai media propaganda ideologis, devosional, misiologis, dan apologetis.

Iman keagamaan memang kerap memblokir pemikiran kritis dan maju, lalu mematikannya selamanya. 

Tetapi ada jenis iman keagamaan yang mendorong orang untuk selalu mencari tahu hal-hal yang baru, atau memotivasi orang untuk dengan kritis dan berwawasan mengevaluasi hal-hal lama yang sudah dimapankan, untuk menemukan hal-hal yang baru dan mengejutkan, dan lebih maju. 



Kuriositas atau rasa ingin tahu adalah suatu motor kognitif penggerak yang membuat ilmu pengetahuan terus maju dan berkembang. Kuriositas mendorong orang mencari dan mengetuk, untuk menemukan dan gerbang ke pengetahuan dibuka. 


Sabda Yesus, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan...segenap akal budimu"; juga "Carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketuklah, maka pintu akan dibukakan." Akal budi dan rasa ingin tahu atau kuriositas, diberi tempat luas oleh Yesus dalam orang menjadi para pengikut-Nya. Inilah iman yang mencerdaskan dan memperluas cakrawala pengetahuan.

Kuriositas perlu dibudidayakan, dikembangkan, sehingga makin membesar dan meluas, dan jangan anda "pendam dalam tanah". 

Ketika kuriositas makin berlipat ganda, kemampuan anda untuk berpikir kritis evaluatif makin membesar juga. Bahkan anda akan dengan gembira dan sadar penuh memikirkan dengan kritis setiap pemikiran kritis anda sendiri. "Thinking about your own thinking". Jika ini dapat anda lakukan, anda memiliki apa yang dinamakan "metacognitive skill" sebagai salah satu "soft skills" yang kini dipandang lebih berperan besar dibandingkan "hard skills" dalam membuat anda hidup sukses.

Jika begitu, mengapa anda malah memilih iman yang mematikan akal kritis anda?

Di saat pemikiran kritis sudah dibunuh, maka orang pun hanya bisa menyangkal fakta-fakta, hidup "in denial". Tentang sindroma psikologis "in denial", saya sudah tulis panjang lebar. 

Bacalah jika anda mau menjadi orang yang membuka diri terhadap fakta-fakta, dan tidak digigit oleh fakta-fakta, tetapi, sebaliknya, fakta-fakta makin memperdalam pengenalan diri anda dan memperluas horizon pengetahuan dan kearifan kehidupan anda, jauh ke depan. Ini tautannya https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/07/denial-apa-penyebabnya.html?m=0./1/

Ketika sudah terkerangkeng oleh "denialisme", maka orang pun memberi reaksi makin keras dan membuta terhadap fakta-fakta dan kebenaran-kebenaran yang sudah diargumentasikan. Selain itu, mereka makin yakin tanpa dasar bahwa diri merekalah yang tetap benar. Lalu mereka menyerang balik kebenaran-kebenaran dengan caci maki yang sangat keras. 

Alih-alih memakai argumen-argumen cerdas dalam debat terpelajar, mereka malah memakai argumentum ad hominem: hantam kromo menyerang pribadi orang yang berpendirian berbeda, yang mereka tidak kenal, yang mereka sama sekali tidak pernah jumpai. Mereka menusuk dari belakang. Mereka menebar fitnah tanpa bisa ditahan, sementara mulut mereka yang sama memuji-muji Yesus.

Itulah semua yang dinamakan "backfire effect" atau efek bumerang, yang umum terjadi jika kalangan terpelajar sedang berhadapan dengan para apologet pecundang.

Tentu, manusia tidak dapat hidup dengan baik jika tanpa kepercayaan, tanpa iman. Bisa percaya dan beriman adalah salah satu kemampuan yang bersumber dari kapasitas kognitif otak kita. 

Tetapi, sekali lagi, bentuk dan isi iman tidak cuma satu. Ada banyak bentuk dan isi iman keagamaan yang membangun kehidupan, menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuan dan kecerdasan, dan membudidayakan kebajikan dan keagungan. Rangkullah iman yang membangun semacam itu, dan lepaskanlah iman yang akan merusak kehidupan dan kebaikan, yang membunuh akal budi, kecerdasan dan pengetahuan.

Ingatlah, Tuhan itu mahatahu, dus Dialah sumber segala pengetahuan. Jadi, orang yang berjalan mengikuti rasa ingin tahu mereka, untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang makin banyak dan tanpa batas, adalah orang-orang yang sedang berjalan menuju Tuhan, lewat jalan ilmu pengetahuan yang tak memiliki ujung. Niscaya, para ilmuwan yang berintegritas adalah hamba-hamba Tuhan juga, para pencari dan penemu Tuhan tahap demi tahap, kawan-kawan Tuhan.

Well, kontras dengan posisi kalangan literalis skriptural itu, kalangan Kristen kritis non-literalis memahami kisah mukjizat pemberian makan 5000 orang ini sebagai sebuah kisah teologis, sebuah metafora, sebuah perumpamaan, a parable. Tentu, sebuah metafora besar. Di akhir tulisan ini, saya akan menjelaskan metafora itu apa. Sudah pasti, metafora bukan kiasan.

Sebagai sebuah metafora, sebuah kisah teologis besar, kisah ini tidak bermaksud mengisahkan sejarah faktual apa adanya, tetapi mau menyampaikan pesan-pesan teologis dalam rangka pembinaan komunitas dan pembangunan devosi atau dalam rangka propaganda misiologis agama.

Sebuah pesan teologis bukanlah sebuah berita tentang suatu peristiwa sejarah, tetapi sebuah berita yang disampaikan untuk membangkitkan antara lain sebuah penyembahan dan pengagungan, sebuah sikap devosional reverensial, suatu sikap takjub, terhadap figur-figur besar yang dikisahkan di dalam kisah-kisah skriptural. 

Sejarah bersangkutpaut dengan dunia ini, "this world"; sedangkan kisah-kisah teologis atau teologi pada umumnya terfokus pada, dan masuk ke dalam, dunia yang lain, "the otherworld", dunia transenden, dunia nilai-nilai, dunia adinilai, dunia yang ada "di seberang" dunia sehari-hari kita, kawasan yang "melampaui" kawasan rutin sehari-hari kita yang dapat kita persepsi dengan lima indra kita.

Well, mari kita adakan investigasi kritis lebih jauh terhadap kisah ini. Akal yang cermat adalah karunia besar dari Tuhan. Perlu diulang: Kasihi Tuhan dengan segenap akal-budimu. Itu permintaan Yesus. Ucap Yesus juga, "Carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketuklah, maka pintu akan dibukakan." 

Jelas, Yesus mendorong orang untuk mengikuti rasa ingin tahu mereka. Tak pernah Yesus mengajar para pengikut-Nya untuk membenci dan menolak keras akal budi, rasa ingin tahu dan pengetahuan.

Yang kita punya kisah-kisah

Harus diingat betul-betul bahwa yang ditemukan dalam Alkitab bukan mukjizat-mukjizat, tetapi kisah-kisah tentang mukjizat. Pembaca masa kini bukanlah penyaksi mukjizat-mukjizat yang dikisahkan di dalamnya, tetapi hanya sebagai para pembaca kisah-kisah itu. 

Kisah-kisah tentang mukjizat harus diterima apa adanya, yakni sebagai kisah-kisah. Memperlakukan kisah-kisah tentang mukjizat sebagai sama dengan fakta-fakta mukjizat empiris objektif adalah suatu lompatan yang terlampau jauh, melampaui keterbatasan kisah-kisah yang ditulis sebagai karya-karya sastra.

Selain itu, harus senantiasa diingat bahwa kisah-kisah mukjizat dalam kitab suci apapun tak pernah dimaksudkan untuk ditujukan kepada para pembaca modern oleh para penulis kisah-kisah ini dulu.

Kita sebagai pembaca modern atas kisah-kisah dalam kitab suci adalah para penyelundup, yang memaksa masuk ke dalam dunia kisah kuno dan ke dalam dunia kuno para penulis kisah-kisah ini. Selalu ada kesenjangan sejarah (= kesenjangan temporal) dan kesenjangan budaya (= kesenjangan pemikiran) antara kita para pembaca modern dan para penulis kitab-kitab suci kuno.

Lagi pula, dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Selalu akan ada kesenjangan antara apa yang dikisahkan (misalnya oleh penulis Injil Markus di tahun 70) dan apa yang faktual telah terjadi (yang dilakukan Yesus pada awal tahun 30-an ketika Yesus aktif di masa dewasa). 

Kalaupun para penulis kisah-kisah mukjizat memakai tradisi-tradisi lisan yang berawal pada masa kehidupan Yesus, semua tradisi lisan disebarkan tidak apa adanya, melainkan selalu mengalami penyuntingan, editing, sehingga mengalami banyak perluasan, penambahan, pembesar-besaran, dan perubahan, ataupun penyusutan, sehingga kisah-kisah ini makin jauh dari fakta-fakta di masa lampau. Penyuntingan juga terjadi pada tradisi-tradisi lisan yang sudah dibuat tertulis.

Penyuntingan adalah suatu langkah hermeneutik yang serius dan penting, dilakukan untuk berbagai kebutuhan, antara lain untuk merelevansikan atau mengaktualkan cerita dan kisah zaman dulu yang ditulis di zaman lain dan di tempat lain, bagi zaman, lokasi dan persoalan lain yang menjadi konteks kehidupan para penyunting kemudian hari.

Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis secara rasional ilmiah, dengan mengajukan antara lain pertanyaan-pertanyaan berikut:

• dalam konteks sosial-kultural historis dan religius apa kisah-kisah itu ditulis;

• faktor-faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah-kisah itu;

• untuk kisah-kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah-kisah paralel yang dapat ditemukan dalam dunia Greko-Romawi, dan dalam Perjanjian Lama;

• apa tujuan penulisan kisah-kisah tentang mukjizat dalam konteks sejarah dan kebudayaan luas dunia Greko-Romawi, dan dalam konteks dunia sastra kontemporer sekitar;

• ditempatkan dalam konteks zamannya dan dalam konteks temuan-temuan arkeologis mutakhir dan kajian-kajian antropologis lintas-budaya, dan jika ditinjau dari sains modern, apakah ada hal-hal yang dikisahkan yang tidak mungkin terjadi dalam sejarah;

• termasuk ke dalam jenis sastra (literary genre) apakah kisah-kisah tentang mukjizat itu. Kebenaran dan cara penyampaian suatu jenis sastra berbeda dari kebenaran dan cara penyampaian jenis sastra lainnya;

• dalam konteks seluruh dokumen sastra yang memuat kisah-kisah mukjizat itu, apa fungsi sastrawi dari kisah-kisah tentang mukjizat itu;

• dan mengapa kisah-kisah ini muncul dalam suatu konteks sastra tertentu dan bukan dalam suatu konteks sastra lainnya.

Kisah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (laki-laki) dengan lima roti dan dua ekor ikan, pertama-tama adalah kisah, bukan fakta langsung. Di sini kita berhadapan dengan kisah injil tentang mukjizat Yesus, bukan dengan mukjizat Yesus itu sendiri.

Oh ya, warga gereja kebanyakan tidak menyadari bahwa hanya dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan makanan itu kepada lima ribu orang itu (Yohanes 6:11); sedangkan dalam injil-injil lainnya para murid Yesuslah yang membagi-bagikan makanan yang sebelumnya mereka telah terima dari Yesus. 

Perbedaan pengisahan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan sudut pandang tentang siapa Yesus bagi penyusun Injil Yohanes.

Sejalan dengan kristologi "dari atas" ("high Christology") Injil Yohanes secara keseluruhan yang memandang Yesus sebagai sosok ilahi yang "sudah ada pada mulanya", yang turun ke dalam dunia "bawah" dengan "menjadi manusia", Yesus di dalam kisah pemberian makan dalam Injil Yohanes ini ditampilkan sebagai seorang yang serba mandiri dan sanggup sendirian mengatasi segala permasalahan dan tantangan yang mendatangi diri-Nya. 

Kenyataan adanya perbedaan tekstual semacam itu sudah tidak memungkinkan orang untuk memperlakukan semua kisah dalam injil-injil PB sebagai kisah-kisah sejarah murni, "mere/pure history". 

Mana yang benar, Yesus sendiri yang membagi-bagikan, atau murid-muridnya yang mengedarkan makanan itu? Tak mungkin ada dua sejarah yang berlainan, untuk hanya satu kejadian! Salah satunya saja yang benar, atau keduanya salah sekaligus.

Tiga golongan penafsir

Terhimpunnya dalam satu hari orang laki-laki sampai lima ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak, yang datang dari berbagai tempat, bukanlah suatu kejadian mudah. Ini adalah sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan Yesus dengan aman-aman saja, mengingat baik Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea) maupun Roma (penjajah seluruh tanah Palestina zaman Yesus) akan segera bereaksi secara represif militeristik terhadap setiap usaha menghimpun massa dalam jumlah besar.

Represi telah terjadi pada Yohanes Pembaptis yang akhirnya dibunuh Herodes Antipas karena kekhawatirannya atas massa yang berjumlah besar pengikut Yohanes Pembaptis (baca tuturan tentang ini dalam tulisan sejarawan Yahudi Flavius Yosefus, Antiquities 18.116 dyb) dan pada kegiatan-kegiatan sejenis lainnya seperti telah dilaporkan juga oleh sejarawan Yahudi yang sama, Yosefus.

Jadi, dilihat dari konteks sosio-politis zaman Yesus, sangat mustahil kalau Yesus bisa menghimpun lima ribu orang laki-laki dengan diri-Nya tetap aman-aman saja.

Selain itu, harus diingat, pada zaman kuno total penduduk di kawasan-kawasan di sekitar tempat terjadinya pemberian makan lima ribu orang itu (Lukas 9:10 menyebut kota Betsaida sebagai lokasinya) mungkin sekali tidak mencapai angka lima ribu. Jauh lebih realistis jika angka 5000 ini dipandang sebagai sebuah hiperbola numerik.

Tafsiran supernaturalis

Ada tiga golongan penafsir atas kisah tentang mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini. 

Yang pertama adalah penafsir kalangan supernaturalis. Kalangan ini adalah para literalis skriptural yang tidak tahu sama sekali ilmu tafsir teks-teks kitab suci. 

Jika anda ingin tahu betul apa itu ilmu tafsir dan bagaimana menjalankannya, dan metode keilmuan apa saja yang ada dalam ilmu tafsir, bacalah tulisan saya "Langkah-langkah Menafsirkan Sebuah Teks Alkitab"/2/ dan "Metode-metode Ilmiah Tafsir Alkitab"./3/

Nah, kalangan literalis menyatakan bahwa Yesus, dengan kekuatan supernaturalnya, betul-betul faktual pernah melakukan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, dengan sisa dua belas bakul (orang dapat bertanya dari mana bakul-bakul ini berasal). 

Apa maksud dan tujuan kisah teologis ini dulu ditulis, dan apa pesan yang disampaikannya, mereka tidak mau tahu dan tidak tertarik untuk tahu. Bagi mereka, cukup yang sudah tertulis saja di Alkitab, tinggal dibaca dan diterima penuh, tak perlu ditafsir-tafsir. Inilah yang dinamakan literalisme skriptural. 

Para literalis sangat naif, tidak tahu, bahwa untuk menerjemahkan kisah ini dari bahasa Yunani koine (bahasa asli PB) ke bahasa Indonesia (atau bahasa lain), para penerjemah harus menafsirkan teks Yunani kisah ini. Kegiatan menerjemahkan niscaya adalah kegiatan menafsirkan. Tanpa penafsiran, tak akan pernah ada terjemahan teks apapun. 

Nah, jenjang penafsiran menjadi bertambah jika teks Alkitab anda bukan terjemahan langsung dari teks Yunani koine, tetapi dari teks Inggris, misalnya dari The New Revised Standard Version atau NRSV. Di Indonesia, orang yang menguasai bahasa Yunani koine sangat, sangat langka.

Ok-lah, jika mereka merasa puas dan berbahagia sebagai para literalis. Tetapi, apa betul mereka berbahagia? Dalam dunia modern masa kini yang dikendalikan oleh iptek dan wawasan pengetahuan yang jauh ke depan, literalisme skriptural adalah salah satu sumber stres besar jiwa manusia.

Nah, masalah dari tafsiran kalangan supernaturalis ini adalah kesulitan orang entah untuk membayangkan terhimpunnya bergunduk-gunduk roti dan ikan mendadak sehabis makanan-makanan ini (lima ketul roti dan dua ekor ikan) didoakan Yesus, atau pun untuk membayangkan bahwa di tangan para murid yang membagi-bagikan makanan itu akan langsung muncul roti-roti dan ikan-ikan baru tidak habis-habisnya sampai semua orang yang duduk berhimpun berkelompok-kelompok mendapat makanan.

Para mentalist dan illusionist dalam zaman modern yang piawai memakai trik teknologis dan trik mental untuk menyihir masyarakat juga pasti tidak bisa mengadakan kejadian semacam ini: faktual mengadakan gundukan roti secara mendadak bergunung-gunung di sekitar diri mereka, lewat mantra sim salabim albarabarakadabra!





Tafsiran rasionalis/naturalis

Penafsir kedua, golongan rasionalis atau golongan naturalis yang merasionalisasi kisah ini supaya natural, cocok dengan kewajaran, tanpa perlu mukjizat terjadi. Tapi ada biaya yang mereka harus bayar: pesan dan amanat penting kisah ini jadi hilang, lari entah ke mana.

Mereka menyatakan bahwa prakarsa Yesus dan para murid untuk membagi makanan itu kepada beberapa orang yang sedang duduk berkelompok di barisan terdepan telah mendorong orang-orang lain di dalam perhimpunan besar itu untuk juga membagi-bagi makanan yang mereka telah bawa dari rumah masing-masing kepada orang-orang lainnya, sehingga akhirnya semua orang mendapatkan roti dan ikan yang cukup, tanpa perlu mukjizat terjadi. Semua kejadiannya sangat natural, alamiah biasa.

Ok-lah. Tapi kesulitan tafsiran rasionalis ini adalah teks injil-injil jelas-jelas tidak berbicara tentang sharing of bread dan sharing of fish semacam itu. Tidak dikisahkan, ada kegiatan membagi-bagi roti dan ikan antarsemua orang dalam perhimpunan besar itu.

Sebaliknya, dalam injil-injil dikatakan bahwa orang-orang yang berhimpun di situ sama sekali tidak membawa makanan apa pun, kecuali "hanya" lima roti dan dua ekor ikan yang ada pada seorang anak, "tidak lebih" (Matius 14:17; Lukas 9:13; Yohanes 6:9).

Selain itu, angka 5000 orang lelaki yang berhimpun itu tentu saja harus dinyatakan sebagai angka yang sangat dibesar-besarkan, berdasarkan alasan yang sudah ditulis di atas.

Mungkin anda yang naturalis akan berpendapat, berbagi roti dan ikan semacam ini jauh lebih menyentuh perasaan kemanusiaan kita, jauh lebih ajaib dan mempesona, ketimbang Yesus dan murid-muridnya mengadakan gundukan-gundukan roti mendadak lewat mantera sim salabim albarabarakadabra

Tetapi harus diakui bisa saja hal yang dibayangkan kalangan penafsir rasionalis ini secara faktual historis benar. Tetapi, karena kejadian historis yang semacam ini tidak membuat Yesus tampil sakti mandraguna, maka, untuk mempersakti Yesus, sejarah disunting oleh para penulis kitab-kitab injil dalam Perjanjian Baru (mulai dari Markus) sehingga lahirlah kisah-kisah hebat tentang Yesus membuat mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini yang kita dapat baca sekarang dalam injil-injil PB. 

Kalau tafsiran kalangan rasionalis ini benar, tentu kita harus mengubah atau merasionalisasi angka 5000 menjadi mungkin maksimal 50 orang saja. 

Sudah menjadi suatu kecenderungan umum di kalangan orang Kristen perdana dulu untuk semakin lama semakin tinggi mempermuliakan, mempersakti dan mengagungkan Yesus, bahkan akhirnya sampai menempatkan Yesus setara dengan Allah sendiri, sebagai sang Firman yang "pada mulanya" "adalah Allah" dan "ada bersama dengan Allah" (Yohanes 1:1, di tahun 95). 

Kenapa kekristenan awal perlu mengglorifikasi dan mendeifikasi Yesus? 

Ya, pertama, karena berbagai komunitas Kristen awal memang lahir dan tumbuh dalam konteks religiopolitik dunia Laut Tengah kuno yang sudah biasa mempraktekkan deifikasi sosok-sosok insani besar mereka sehingga sosok-sosok besar ini menjadi allah atau “manusia ilahi” atau "manusia dewa" (Latin: semideus; Yunani: hēmitheos atau theios anēr; Inggris: demigod). Tentang hal ini, saya sudah menuliskannya./4/

Kedua, karena umat Kristen perdana dengan tidak mau kalah sedang terlibat dalam suatu persaingan ideologi religiopolitis sengit dengan kalangan-kalangan lain di dunia Yunani-Romawi yang sudah memiliki figur-figur mahaagung mereka sendiri, seperti Kaisar Augustus. Sang kaisar ini dalam kultus pemujaan Kaisar dipandang orang Roma sebagai sang juruselamat dunia yang kelahirannya membawa kabar baik dan keselamatan untuk seluruh kawasan kekaisaran./5/

Tafsiran ketiga yang paling mungkin diterapkan terhadap kisah Yesus memberi makan lima ribu orang adalah tafsiran tipologis yang menghubungkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru dan memandang Perjanjian Baru sebagai penggenap dan penyempurna "tujuan-tujuan rohani" Perjanjian Lama.

Ketahuilah, hermeneutik tipologis umum dipakai para penulis PB jika mereka mengacu dan menggunakan teks-teks PL. Apa itu hermeneutik atau tafsiran tipologis? Ini akan segera diperlihatkan di bawah.

Bagaimana kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ini harus dijelaskan dan ditafsirkan secara tipologis?

Tafsiran tipologis

Tipologi (yang berhubungan dengan kata Yunani tupos, dengan kata Latinnya figura) adalah salah satu metode tafsir yang khas dan umum dijalankan para penulis Perjanjian Baru ketika mereka menggunakan teks-teks Perjanjian Lama dalam rangka menyusun pandangan-pandangan mereka tentang siapa Yesus (kristologi), bagaimana gereja-gereja harus dibangun dan diatur (ekklesiologi) dan bagaimana doktrin-doktrin Kristen harus dirumuskan (dogmatika).

Dalam metode tafsir tipologis, segala sesuatu yang muncul dalam pekerjaan Allah di zaman Perjanjian Lama dipandang para penulis Perjanjian Baru sebagai, seperti ditulis Gerhard von Rad, “pra-gambaran (pra-figurasi) atau tipologi dari berbagai hal yang terjadi pada masa kehidupan Yesus Kristus di masa Perjanjian Baru.”/6/ 

Dalam pandangan Jean Daniélou, “esensi tipologi adalah menunjukkan bagaimana kejadian-kejadian di masa lampau merupakan suatu gambaran, suatu figur atau suatu tupos, dari kejadian-kejadian di masa yang akan datang.”/7/ 

Menurut Walter Eichrodt, “apa yang disebut tupoi [bentuk jamak tupos] … adalah tokoh-tokoh, lembaga-lembaga, dan peristiwa-peristiwa dalam dunia Perjanjian Lama yang dipandang sebagai model-model atau presentasi-presentasi yang dibangun oleh Allah bagi realitas-realitas yang bersesuaian dalam sejarah keselamatan Perjanjian Baru.”/8/

Meskipun ditemukan kesesuaian dalam detail-detail historis, kultural, arkeologis dan biografis antara kejadian-kejadian tertentu di masa Perjanjian Lama dan di masa Perjanjian Baru, dalam penafsiran tipologis detail-detail ini, sebagaimana Von Rad tegaskan, bukanlah hal-hal utama yang menjadi sorotan. 

Sorotan utama tipologi adalah pesan-pesan teologis atau kerugmata (yang terbungkus dalam detail-detail kisah) atau “pesan-pesan rohani”, yang dilihat berhubungan antara yang disampaikan teks-teks Perjanjian Lama dan yang disajikan teks-teks paralel dalam Perjanjian Baru./9/

Tetapi hal paling penting yang mau disampaikan tafsiran tipologis adalah bahwa figur Yesus Kristus sendiri sebagai anti-tupos (atau anti-type) adalah lebih tinggi, lebih agung dan penyempurna yang tiada taranya dari tokoh-tokoh agung Perjanjian Lama sebagai tupoi. 

Begitu juga halnya dengan segala sesuatu yang terjadi pada Yesus Kristus jika dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa paralel yang sudah terjadi dalam masa Perjanjian Lama. Peristiwa Yesus lebih tinggi, mengalahkan dan melampaui atau menyempurnakan peristiwa yang dapat dibaca dalam PL.

Dalam tipologi, kejadian-kejadian yang dialami Yesus Kristus bukan hanya pengulangan kejadian-kejadian dalam Perjanjian Lama atau dibangun berdasarkan model-model kejadian-kejadian dalam masa Perjanjian Lama, tetapi melampaui, menyempurnakan dan merupakan klimaks semua kejadian dalam Perjanjian Lama. Yesus menjadi yang teragung, terbesar, paling sempurna, tiada pesaing. Ya, supersesionisme kristologis mewarnai setiap tafsiran tipologis PB terhadap PL.

Dalam tipologi, tokoh-tokoh agung dalam Perjanjian Lama bukan hanya dijadikan model-model dasar dalam merancangbangun berbagai figur Yesus oleh para penulis Perjanjian Baru, tetapi oleh mereka Yesus Kristus dibuat mengalahkan, melampaui, mentransendir, menyempurnakan dan menjadi puncak dari semua model yang tersedia dalam Perjanjian Lama.

Progres, puncak, kulminasi, kemenangan, penyempurnaan dan pelampauan atas model-model Perjanjian Lama di dalam diri Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru adalah hal-hal terpenting yang mau disampaikan tipologi. Supersesionisme kristosentris adalah sebuah ciri terpenting setiap tafsiran tipologis, dan merupakan kerugma atau pesan terpenting yang mau disampaikannya, yang tak boleh tertutup oleh detail kisah-kisah atau literalisme skriptural./10/

Dengan demikian, sebagaimana akan segera ditunjukkan, dilihat secara tipologis, Yesus yang dipersaksikan dalam kisah-kisah injil tentang pemberian makan lima ribu orang (khususnya dalam Matius 14:13-21) adalah anti-type yang bukan saja sejajar atau semodel dengan, tapi juga menjadi penyempurna dan penakluk, nabi Musa (nabi teragung dalam Yudaisme), nabi Elia (yang dihubungkan dengan Yohanes Pembaptis di era penulisan kitab-kitab injil PB), dan nabi Elisa sebagai tupoi dan model-model rekonstruktif ketika para penulis injil Perjanjian Baru merancangbangun kristologi-kristologi.

Yesus sebagai “Musa yang baru”

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang klop dengan keseluruhan pesan teologis Injil Matius.

Bagi penulis Injil Matius, Yesus adalah “Musa yang baru” pemberi "Taurat yang baru", yakni Khotbah di Bukit dan keseluruhan Injil Matius, bahkan lebih besar dari Musa, yang membawa hukum baru, hukum kasih, dan yang mengulangi kembali bahkan melampaui peristiwa-peristiwa besar yang dikisahkan pernah dialami nabi Musa. Lewat tafsir tipologis, bukan Musa yang menjadi nabi teragung bagi orang Yahudi, tetapi Yesus sebagai "the new Moses".

Ya, harus jangan dilupakan bahwa bagi bangsa Yahudi kapan pun juga, nabi teragung mereka bukanlah Abraham, melainkan Musa yang wajahnya, dikisahkan, pernah diselimuti cahaya sorgawi kehadiran Allah (atau Shekinah, jika memakai kosa kata Yahudi pasca-tahun 70 M).

Jadi, dalam rangka bersaing secara ideologis dengan Yudaisme (dalam era PL dan era PB, tidak dikenal pemisahan ideologi politik dari ideologi agama), dengan jitu penulis Injil Matius menghadirkan satu figur suci Yesus yang bukan saja sejajar dan semodel dengan, tapi juga melampaui dan menaklukkan, Musa./11/

Kalau dulu untuk memelihara umat Israel yang sedang berada dalam perjalanan di padang gurun di bawah pimpinan Musa (dan Harun) Allah telah memberi mereka “daging” dan “roti” (yang disebut manna) untuk dimakan (lihat Keluaran 16), kini, untuk umat Allah yang baru, yaitu Israel baru (= gereja Matius), Yesus sebagai Musa yang baru dan bahkan lebih besar dari Musa juga telah memberi himpunan besar para pengikutnya roti dan daging ikan sampai mereka kenyang, langsung dari tangan-Nya sendiri, sesuatu yang tidak dilakukan oleh nabi Musa dalam zaman Perjanjian Lama.

Jadi, di tangan penulis Injil Matius, Musa adalah tupos sedangkan Yesus adalah anti-tupos-nya. Bagi Matius, Musa adalah nabi besar dunia Perjanjian Lama yang muncul kembali di dalam figur Yesus pada masa kemudian dalam sejarah Israel, yang semodel dengan Musa tapi juga melampaui Musa, yang melakukan perbuatan-perbuatan yang sejajar dengan, tapi juga lebih hebat dari, yang dilakukan Musa.

Yesus sebagai anti-tupos Elia

Atau, dalam pandangan Matius, Yesus adalah “nabi Elia yang baru”, bahkan lebih agung dari nabi Elia, yang sanggup tanpa habis-habis memberi roti kepada bukan hanya satu orang, tetapi kepada banyak orang, kurang lebih serupa dengan, tapi juga jauh melampaui, apa yang konon pernah dilakukan Elia kepada seorang janda di Sarfat dalam konteks peristiwa yang berbeda (lihat 1 Raja-raja 17:7-16).

Bagi orang Yahudi kuno, juga pada abad pertama Masehi, Elia adalah figur nabi agung yang tak pernah mengalami kematian fisik sebab dipercaya dia dulu telah diangkat ke sorga dengan kereta berapi yang ditarik kuda berapi (2 Raja-raja 2:11) dan dia dipercaya akan datang kembali pada “hari Tuhan” (Maleakhi 4:5). Mereka menunggu kedatangannya sebagai salah satu tahap dari tindakan-tindakan besar Allah untuk memulihkan pamor dan kedaulatan bangsa Yahudi, saat di mana “surya kebenaran” terbit, saat di mana “orang-orang fasik diinjak-injak” oleh umat Israel “di bawah telapak kaki” mereka (Maleakhi 4:2-3).

Komunitas Matius percaya, bahwa Yohanes Pembaptis yang menjadi pendahulu Yesus, adalah nabi Elia sendiri yang telah datang kembali (Matius 11:13-14) seperti telah dinubuatkan nabi Maleakhi sebelumnya.

Dengan menggambarkan Yesus sebagai Elia yang baru dan bahkan melampaui Elia, maka bagi Matius, dengan demikian, Yesus sebetulnya juga lebih tinggi dari Yohanes Pembaptis./12/

Yesus sebagai anti-tupos Elisa

Menurut Reginald Fuller, “prototipe” sastra bagi beranekaragam kisah injil tentang Yesus memberi makan banyak orang dari sangat sedikit makanan adalah sebuah kisah dalam Perjanjian Lama tentang nabi Elisa melipatgandakan sedikit ketul roti untuk dimakan oleh banyak orang, yang terdapat dalam 2 Raja-raja 4:42-44, yang merupakan bagian dari “siklus Elisa” dalam 2 Raja-raja 2:1-8:29. Selengkapnya kisahnya demikian.

Datanglah seseorang dari Baal-Salisa dengan membawa bagi abdi Allah roti hulu hasil, yaitu dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong. Lalu berkatalah Elisa: “Berilah itu kepada orang-orang ini, supaya mereka makan.” Tetapi pelayannya itu berkata: “Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?” Jawabnya: “Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman TUHAN: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya.” Lalu dihidangkanlah di depan mereka, maka makanlah mereka dan ada sisanya, sesuai dengan firman TUHAN. (2 Raja-raja 4:42-44)

Fuller mengikhtisarkan pola dasariah dari kisah tentang Elisa melipatgandakan ketul-ketul roti:

• Makanan dibawa ke seorang abdi Allah;
• Jumlah makanan disebutkan dengan angka;
• Ada keberatan yang logis bahwa jumlah makanan tidak cukup untuk dihidangkan kepada sangat banyak orang;
• Si abdi Allah selaku sang master mengabaikan keberatan itu, dan memerintahkan makanan tersebut diedarkan;
• Ternyata orang banyak bukan saja dikenyangkan, tapi makanannya juga bersisa./13/

Tak diragukan bahwa pola dasariah dari kisah Perjanjian Lama tentang Elisa ini memang mendasari keseluruhan kisah injil yang lebih panjang tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima ketul roti dan dua ekor ikan. 

Tetapi kita juga tahu bahwa dalam kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan orang banyak dari sangat sedikit makanan, Yesus ditampilkan jauh lebih agung dan lebih mempesona. Yesus memberi makan bukan seratus orang (seperti dilakukan Elisa), tetapi lima ribu orang laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak); Yesus memberi makan bukan dari dua puluh ketul roti (seperti dilakukan Elisa) tetapi dari makanan yang jauh lebih sedikit: lima ketul roti dan dua ekor ikan.

Jadi harus disimpulkan: dalam pandangan penulis Injil Matius, Yesus adalah anti-tupos nabi Elisa sebagai tupos. Yesus bukan saja sejajar dan semodel dengan nabi Elisa, tetapi juga jauh melampaui dan mengalahkan Elisa, dalam tindakan-Nya memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima ketul roti dan dua ekor ikan, dengan sisa makanan dua belas bakul.

Jadi, pemberian makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan oleh Yesus, hanya ada dalam teks, dalam sastra injil, dalam dunia kisah teologis, dalam dunia ide teologis, bukan dalam sejarah insani faktual.

Kisah injil-injil Perjanjian Baru tentang tindakan hebat Yesus ini disusun dalam bingkai pemahaman dan penafsiran tipologis, bukan dalam bingkai suatu kejadian faktual historis yang melawan nalar dan hukum-hukum alam, kejadian yang disebut mukjizat. 

Dalam sejarah, tak pernah ada tindakan hebat Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Meski begitu, kisah ini sebagai suatu metafora sangat menawan, menggerakkan hati, dan dapat dengan radikal mengubah watak serakah setiap pembaca kisah hebat ini, sekaligus membangkitkan pengharapan terhadap Yesus yang dinanti akan bertindak ketika suatu krisis kehidupan mendatangi.

Dengan mempertimbangkan semua hal di atas, siapapun seharusnya dapat memutuskan untuk memandang kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (lelaki) dengan lima roti dan dua ekor ikan sebagai kisah-kisah tipologis imajinatif yang ditulis dengan memakai kisah-kisah Perjanjian Lama sebagai model untuk mempertahankan sebuah teologi, sebuah kerugma, atau sebuah kisah kreatif imajinatif tentang Yesus. Bahwa Yesus itu lebih besar dari dan mengalahkan Musa. Bahwa Yesus adalah nabi yang sejajar dengan bahkan melampaui nabi agung Elia. Bahwa Yesus adalah nabi akbar yang semodel dengan, tapi juga jauh melampaui nabi Elisa, yang sanggup untuk mengenyangkan semua pengikut-Nya. Alhasil, diharapkan, mereka, sebagai orang Yahudi, perlu berpaling kepada Yesus dan percaya penuh. Ada tujuan misiologis konversionisnya, jelas sekali.

Jadi, kisah-kisah imajinatif ini adalah propaganda religiopolitis misiologis Kristen yang disusun ketika umat Kristen perdana sedang berusaha menjadi besar di tengah tekanan dari berbagai kelompok pesaing, misalnya dari Yudaisme, sekaligus sebagai kisah-kisah devosional yang dapat membangun ikatan batin yang makin kuat dalam diri komunitas para penulis injil-injil terhadap Yesus, sang Tuhan mereka./14/

Tuhan itu bebas dan kreatif

Uraian-uraian di atas telah berhasil memperlihatkan bahwa kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima roti dan dua ekor ikan, bukanlah kisah-kisah tentang sebuah peristiwa sejarah faktual, melainkan kisah-kisah kreatif imajinatif intertekstual (antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) yang disusun untuk berbagai kepentingan: misiologi, devosi, kompetisi religiopolitis. 

Juga telah diperlihatkan ada banyak persoalan dan kesulitan besar timbul jika kisah-kisah tersebut diperlakukan sebagai kisah-kisah sejarah faktual. 

Tuhan Allah berfirman dengan cara yang bebas dan kreatif, dapat memakai fakta-fakta dan dapat juga memanfaatkan kisah-kisah figuratif imajinatif. Jangan batasi kreativitas Yesus dan juga kreativitas Allah, sang Bapa.

Selain itu, jika kisah-kisah ini dipahami dan diterima secara literalistik, maka maksud dan tujuan misiologis sebenarnya penulisan kisah-kisah ini tak berhasil didapatkan, padahal kisah-kisah ini menjadi penting justru karena maksud dan tujuan penulisannya sama sekali bukanlah untuk menceritakan atau melaporkan kejadian-kejadian di masa lampau, melainkan untuk membimbing dan menguatkan serta memperlengkapi dan menggerakkan komunitas-komunitas Kristen yang berdiri empat puluh sampai lima puluh lima tahun setelah Yesus wafat dengan seperangkat ajaran kuat dan ideologi tangguh yang diperlukan.

Kisah-kisah ini menjadi penting khususnya ketika mereka sedang terlibat dalam suatu persaingan ideologis religiopolitis dengan Yudaisme yang memicu mereka untuk menggambarkan Yesus sebagai “Musa yang baru”, yang lebih agung dari Musa yang sebenarnya, atau sebagai nabi besar yang berdiri berdampingan dengan, bahkan melampaui, nabi Elia dan nabi Elisa. 

Jadi, lewat kisah-kisah tentang Yesus yang melebihi nabi Musa, nabi Elia, dan nabi Elisa, para pembaca injil-injil didesak untuk meninggalkan agama Yahudi, atau tidak memilih agama Yahudi, tetapi berpaling dan masuk ke dalam agama Kristen versi masing-masing penulis injil. Kisah-kisah ini niscaya adalah kisah-kisah religiopolitis misiologis.

Dalam usaha memahami kisah-kisah mukjizat Yesus, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperlakukan kisah-kisah tersebut sebagai kisah-kisah, bukan sebagai fakta-fakta.

Tentu ada kisah-kisah faktual, tapi juga ada kisah-kisah fiktif, dan kisah-kisah tentang mukjizat Yesus termasuk dalam kisah-kisah fiktif imajinatif, kisah-kisah teologis. Karena setiap kitab suci pasti bukan buku sejarah, maka di dalamnya ada lebih banyak kisah fiktif teologis ketimbang kisah faktual historis. Sejarah dan kisah imajinatif telah saling merangkul.

Jika orang mencari dan mau mendapatkan firman Allah lewat kisah-kisah skriptural, firman Allah juga bisa dengan jelas dan efektif disampaikan lewat media kisah-kisah imajinatif, tidak selalu harus lewat media kisah-kisah faktual. 

Yesus menyampaikan firman Allah banyak kali lewat kisah-kisah imajinatif yang disusun-Nya sendiri, yakni perumpamaan-perumpamaan-Nya, metafora-metafora-Nya.

Siapa yang bisa memaksa Allah untuk berfirman hanya lewat kisah-kisah sejarah faktual? Dan jika Allah mau berfirman lewat kisah-kisah fiktif, lewat tamsil, lewat pepatah, lewat epik, lewat nyanyian, lewat imajinasi yang kaya dan kreatif, lewat puisi, lewat perumpamaan, maka siapa yang dapat melarang-Nya? 

Sekali lagi, Yesus menyampaikan firman Allah banyak kali lewat kisah-kisah imajinatif yang disusun-Nya sendiri, yakni perumpamaan-perumpamaan-Nya. Siapa yang mau mempersalahkan Yesus?

Roti apapun bisa disediakan dalam jumlah yang terbatas, tetapi firman Tuhan yang disampaikan Yesus lewat berbagai cara dan bentuk bisa tidak terbatas. Karena itulah Yesus, dalam suatu kisah pencobaan diri-Nya, berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4 dan par.). 

Ucapan Yesus itu dikutip dari Ulangan 8:4. Pada teks kitab Ulangan ini si penulisnya menafsirkan "manna" (dalam kisah-kisah keluaran atau exodus dari Mesir) sebagai firman Tuhan. Jika demikian, firman Tuhan yang disampaikan Yesus lewat ajaran dan perumpamaan-Nya, juga lewat tindakan simboliknya, jauh lebih banyak dan lebih tinggi dibandingkan yang disampaikan nabi Musa.

Apa itu metafora?

Mereka yang menolak untuk melihat kisah mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 roti dan 2 ikan sebagai sebuah perumpamaan, sebuah metafora, umumnya tidak suka pada sains modern, apalagi jika sains ini dipakai untuk mengupas teks-teks Alkitab untuk memperlihatkan teks-teks itu sebagai metafora. 

Sains itu berurusan hanya dengan fakta-fakta. Dengan ingin memperlakukan kisah-kisah mukjizat Yesus sebagai kisah-kisah faktual, kisah-kisah tentang fakta-fakta, mereka anehnya ingin memperlakukan teks-teks kitab suci sebagai teks-teks ilmiah, padahal mereka anti-ilmu pengetahuan. 

Jika mereka tetap ingin memperlakukan teks-teks Alkitab sebagai teks-teks ilmiah, paling jauh mereka akan hanya bisa melakukan suatu praktek mencocok-cocokkan dengan naif teks-teks Alkitab dengan pandangan-pandangan ilmu pengetahuan. Praktek kebablasan ini saya namakan cocokologi, yang sama sekali tidak mempunyai nilai kebenaran ilmiah. 

Tentang usaha naif cocokologi yang sia-sia dan melelahkan, sudah saya beberkan dalam tulisan saya Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Agama-agama dalam Era Sains Modern./15/

Nah, sekarang anda tentu perlu bertanya, apa itu metafora. Buang konsep anda yang sempit sebelumnya tentang metafora.

Metafora (dibentuk dari dua kata Yunani "meta" dan "ferein") adalah suatu sarana dan wahana sastrawi artistik imajinatif yang dibangun untuk memindahkan atau "menyeberangkan" (Yunani: "ferein") para pembaca atau pendengar, masuk ke kawasan lain yang lebih tinggi, yang "melampaui", atau "beyond" (Yunani: "meta"), kawasan biasa yang rutin sehari-hari yang sudah tidak direnungkan lagi tetapi diterima begitu saja. Kawasan lain yang lebih tinggi ini disebut kawasan transenden.

Kawasan lain yang lebih tinggi ini adalah kawasan adinilai, kawasan besar, kawasan transenden, yang menakjubkan, kawasan baru yang membuka, memperluas dan mencerahkan sekaligus memukau pikiran, jiwa, perasaan, karya dan kehidupan yang menyeluruh. 

Lewat berbagai metafora agung yang diresapi, manusia tumbuh, bergerak, pindah, memasuki kawasan kehidupan yang lain, yang baru, yang lebih tinggi, yang agung dan penuh dengan wawasan terobosan, etika agung, dan kebajikan. Memasuki kawasan transenden, kawasan yang luarbiasa besar, melampaui batas-batas yang biasa sehari-hari. Untuk ulasan lebih luas dan lebih dalam tentang metafora, bacalah tulisan saya "Teologi Adalah Metafora. Apa Itu Metafora?"/16/

Jadi, bagi saya, kisah metaforis Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan adalah kisah yang sangat memukau, sangat kuat menggerakkan hati saya, mengubah etika saya, membarui pengenalan saya terhadap figur agung Yesus, membarui wawasan dan pemahaman saya tentang kehidupan, pemilikan, belarasa dan empati, dan semuanya ini diangkat ke peringkat yang lebih tinggi dan lebih agung, memasuki kawasan adinilai, kawasan transenden. 

Ya, kisah ini mendorong saya untuk berbagi apa yang saya punyai, kepada makin banyak orang, yakni pikiran, wawasan, kebaikan, waktu, tenaga, umur, dan makanan serta kebutuhan hidup esensial lainnya yang saya punyai sebagai pemberian Tuhan, meskipun saya tidak mempunyai banyak. Kebajikan ini akan berdampak besar dan berarti bagi makin banyak orang jika saya lakukan terus-menerus, makin tinggi lagi, sebagai seorang pengikut Yesus yang agung, yang sangat besar, yang melampaui nabi-nabi besar PL. Itulah kekuatan metafora. The power of a metaphor. Saya menikmati dan mengalaminya.

Penutup

Jika anda punya harta dan kepemilikan, share ke orang lain, bagilah ke orang lain sebisa anda, berhubung sekarang ini (sejak 2015) segelintir orang, yakni orang terkaya dunia yang merupakan 1% penduduk dunia, menguasai kekayaan jauh lebih banyak dibandingkan total kekayaan yang dimiliki 99% penduduk dunia lainnya. Data 2017 menunjukkan bahwa total kekayaan yang dipunyai 8 orang superkaya dunia sama dengan total kekayaan yang dimiliki separuh penduduk termiskin dunia./17/

Metafora Yesus memberi makan 5000 orang dengan sangat sedikit makanan memiliki kekuatan untuk ikut membangun kesadaran manusia untuk mengatasi ketimpangan dan kesenjangan ekonomi yang begitu besar, lebar dan dalam antara orang kaya dan orang miskin sedunia sekarang ini. Jangan biarkan 5000 roti dihabiskan oleh 5 orang saja. 

Terima kasih Yesus. Terima kasih juga kepada para penulis metafora besar Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan dalam PB.

Catatan-catatan

/1/ Ioanes Rakhmat, "Mengapa memilih hidup 'in denial'?", Freidenk Blog, update mutakhir 15 Juni 2019, 
https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/07/denial-apa-penyebabnya.html?m=0.

/2/ Ioanes Rakhmat, "Langkah-langkah Menafsirkan Sebuah Teks Alkitab', Freidenk Blog, 3 November 2010, diperluas 18 Mei 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2010/11/langkah-langkah-menafsirkan-sebuah-teks.html?m=0.

/3/ Ioanes Rakhmat, "Metode-metode Ilmiah Tafsir Kitab Suci", Freidenk Blog, 19 Oktober 2008, diperiksa kembali 02 November 2017, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2008/10/pendekatan-pendekatan-kritis-hermeneutik.html?m=0.

/4/ Ioanes Rakhmat, "Allah-allah dalam Dunia Laut Tengah Kuno", Freidenk Blog, update mutakhir  27 Maret 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2009/01/allah-allah-dalam-dunia-yunani-romawi.html?m=0.

/5/ Ihwal Kaisar Augustus disembah sebagai “sang juruselamat dunia” dan kelahirannya dipandang membawa “kabar baik” dan “keselamatan” bagi seluruh kekaisaran, ditulis dalam sebuah prasasti yang mencantumkan dekrit Majelis Provinsi Asia yang dikeluarkan tahun 9 SM. Lihat teks dekrit ini selengkapnya dalam Richard A. Horsley, The Liberation of Christmas. The Infancy Narratives in Social Context (New York: Crossroad, 1989) hlm. 27.

/6/ Gerhard von Rad dalam Claus Westermann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics (Richmond, Virginia: John Knox Press, 1964) hlm. 36.

/7/ Jean Daniélou, From Shadows to Reality (London: Burns and Oates, 1960) hlm. 12.

/8/ Walter Eichrodt  dalam Westermann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics, hlm. 225.

/9/ Gerhard von Rad dalam Westemann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics, hlm. 36-37; lihat juga S. Lewis Johnson, The Old Testament in the New (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1980) hlm. 55.

/10/ Jean Daniélou, From Shadows to Reality, hlm. 12; Walter Eichrodt dalam Westermann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics, hlm. 235.

/11/ Tema tipologis tentang Yesus sebagai “Musa yang baru” dalam Injil Matius telah dieksplorasi dengan bagus antara lain oleh Dale C. Allison, Jr., The New Moses: A Matthean Typology (Minneapolis: Fortress Press, 1993).

/12/ Kendatipun dalam konteks narasi tentang pembaptisan Yesus di sungai Yordan, Yesus, kita baca, mengungkapkan kesediaan-Nya untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis yang malah sebaliknya sungkan untuk melakukannya (Matius 3:14-15). Bagaimana pun juga, dalam injil-injil PB terlihat ada usaha kuat untuk menaklukkan Yohanes Pembaptis ke kaki Yesus.

/13/ Reginald Fuller, Preaching the New Lectionary (Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1974) hlm. 406.

/14/ Ioanes Rakhmat, "Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Agama-agama di Era Sains Modern?", Freidenk Blog, dimutakhirkan 16 Maret 2020, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2015/02/bagaimana-seharusnya-memperlakukan.html?m=0.

/15/ Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, khususnya yang terdapat dalam Lukas 9:12-17, dapat juga dijelaskan dengan memakai pendekatan tafsir sosial saintifik, dengan memakai model “patron-klien”, sebagaimana sudah dilakukan oleh Ekaterini Tsalampouni, “The Story of Feeding the Multitudes in Luke 9:12-17: A Social-Scientific Approach” (February 2012),
http://www.bibleinterp.com/opeds/tsa368003.shtml.

/16/ Ioanes Rakhmat, "Teologi Adalah Metafora. Apa Itu Metafora?", Freidenk Blog, 11 Agustus 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2021/08/teologi-adalah-metafora-apa-itu-metafora.html?m=0.




Wednesday, September 8, 2010

Pascal’s Wager (Pertaruhan Pascal):
Sebuah Note untuk Para Apologet Agama

Blaise Pascal mengajak kita bertaruh tentang Tuhan...

Dalam abad-abad lampau, sejarah Eropa memang mencatat ada sejumlah saintis Kristen, dan status mereka sebagai para ilmuwan Kristen kerap dipakai para apologet Kristen masa kini untuk menyatakan bahwa kekristenan sejalan dengan sains modern. Pernyataan apologetik ini keliru, sebab status sebagai orang Kristen hanya menyatakan bahwa sang ilmuwan ini atau itu beragama Kristen dan sama sekali bukan sebuah bukti bahwa kepercayaan Kristen selalu sejalan dengan sains modern. Malah dalam banyak segi, invensi-invensi di dunia sains yang dibuat para ilmuwan Kristen Eropa pada masa-masa lampau banyak bertabrakan dengan isi kepercayaan Kristen, misalnya heliosentrisme Kopernikus jelas sangat ditentang Gereja Roma Katolik pada masa itu, dan seorang fisikawan Italia, Galilelo Galilei (1564-1642), tampil sebagai seorang saintis Kristen yang mendukung heliosentrisme, dan akibatnya dia diserahkan ke Inkwisisi Roma dan dikenakan tahanan rumah sampai akhir kehidupannya, setelah sebelumnya diancam akan dijatuhi hukuman. Pada masa kini, bagian terbesar orang Kristen di seluruh dunia, karena skripturalisme dan literalisme yang mereka pegang, memilih mempercayai dogma kreasionisme dan dogma intelligent design (ID) sementara kedua gagasan dogmatik ini bertabrakan dengan sains evolusi kosmologis dan sains evolusi biologis modern.

Mengapa para saintis Eropa itu, pada zaman mereka masing-masing, tetap Kristen, kendatipun pemikiran mereka sudah sedemikian maju? Tak lain karena mereka hidup pada suatu zaman yang tidak memberi pilihan lain selain harus tetap Kristen jika ingin memiliki akses ke fasilitas-fasilitas penyelidikan sains; ateisme pada masa itu belum menjadi suatu pilihan jalan hidup yang diterima masyarakat. Pada abad XXI ini, ada banyak saintis kebangsaan Amerika Serikat memilih menjadi ateis, karena pilihan menjadi ateis sudah terbuka dan diterima semakin banyak orang (ada 850 juta sampai 1,2 milyar orang ateis dewasa ini di level global). Tetapi harus dipahami bahwa ateisme mereka tidak ada hubungannya dengan sains, sebab sains itu bukan ideolog ateisme, dan tentu juga bukan ideologi teisme. Sains tidak berhubungan baik dengan teisme maupun dengan ateisme, sebab sains bukan ideologi apapun. Sebaliknya, pada level rakyat kebanyakan yang bukan ilmuwan, 85 persen orang Amerika pada masa kini sangat saleh beragama sementara USA sendiri adalah suatu negara sekular (yang memisahkan agama dari politik), dan dogma kreasionisme dan ID terus-menerus diperjuangkan kalangan Kristen fundamentalis USA untuk diizinkan oleh negara diajarkan di sekolah-sekolah umum.


BLAISE PASCAL

(Bagian ini diterbitkan di Koran Tempo edisi 10 Oktober 2010, hlm. A21, dengan judul Pertaruhan Pascal; untuk lihat, klik di sini.)

Blaise Pascal (1623-1662) adalah seorang matematikus dan fisikawan Perancis, beragama Katolik. Dia juga seorang penulis dan inventor terpandang pada zamannya. Pada 23 November 1654, Pascal mengklaim mengalami suatu pengalaman “mistikal” yang membuatnya memutuskan diri untuk meninggalkan dunia sains lalu mengabdi pada penyelidikan filosofis dan teologi.


Pascal terkenal dengan apa yang dinamakan “Pertaruhan Pascal” (Pascal’s Wager). Katanya, jika orang percaya pada Tuhan, kepercayaannya ini tidak akan merugikan dirinya jika ternyata nanti Tuhan tidak ada, dan akan sangat menguntungkan dirinya jika ternyata Tuhan ada karena dia akan dihadiahi surga. Sebaliknya, jika orang tidak percaya pada Tuhan, dia memang tak akan rugi juga jika ternyata nanti Tuhan tak ada; tetapi jika Tuhan ada, dia akan mengalami kerugian besar karena dia akan dihukum Tuhan di api neraka yang kekal karena ketidakpercayaannya. Jadi, kata Pascal, percayalah kepada Tuhan.

Pertaruhan Pascal ini sering dipakai kalangan apologet religius masa kini untuk menyerang para saintis yang sudah meninggalkan agama sebagai suatu jalan keselamatan. Karena itu, penting sekali untuk Pertaruhan Pascal ini dikritik.

Nah, jika Pascal bukan beretorika dengan pernyataannya di atas, melainkan serius, maka ada beberapa problem besar dengan pertaruhannya ini yang patut dipikirkan para apologet religius masa kini supaya mereka tidak terus saja memakai Pertaruhan Pascal untuk menyerang tanpa daya kalangan saintis yang sudah meninggalkan kepercayaan kepada suatu agama.

Pertama, beriman seperti dianjurkan Pascal adalah beriman sangat egoistik, yakni hanya sekadar untuk diri sendiri terluput dari ancaman penghukuman oleh Allah di api neraka abadi. Orang yang beriman semacam ini tidak akan menghasilkan prestasi besar apa pun bagi pembangunan kemanusiaan dan peradaban, karena hidup bagi mereka semata-mata tertuju ke akhirat dan di akhirat mereka harus masuk surga. Kepedulian mereka terhadap kehidupan masa kini dalam dunia ini tidak ada, kalau pun ada sangat minim. Mereka hanya menaruh kepedulian terhadap “roh” manusia, tetapi sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap “badan” manusia.

Kedua, beriman semacam yang dianjurkan Pascal dapat membuat orang berpura-pura beriman, menipu Allah yang diimaninya hanya supaya si orang beriman ini luput dari hukuman Tuhan di akhir zaman. Kalaupun seorang saintis tetap beragama, Pertaruhan Pascal ini, jika diterima olehnya, akan membuat si saintis ini memutuskan untuk menjalani kehidupan dalam dua dunia terpisah: dunia sains yang anti-Allah di hari-hari kerja, dan dunia rohani di hari suci agamanya.

Ketiga, Allah yang diimani dengan iman semacam ini tak pelak lagi adalah suatu allah yang boleh dikata dungu, yang tak maha tahu, yang tidak tahu bahwa dirinya hanya menjadi sebuah objek pertaruhan manusia yang introvert dan egoistik. Apa yang dapat diharapkan manusia beragama dari suatu allah yang dungu, selain kedunguan juga? Apa yang diharapkan dari suatu agama yang dungu, selain hanya masyarakat yang diperbodoh?

Keempat, Allah dalam Pertaruhan Pascal ini tampil sebagai suatu Allah yang picik dan tak bijaksana, yang di akhir zaman hanya akan memperhitungkan ada atau tidak adanya kepercayaan personal seseorang kepada diri-Nya dalam menentukan nasib akhir orang ini di kehidupan akhirat. Semua prestasi seseorang dalam banyak aspek kehidupan yang non-agamawi di mata Allah semacam ini sama sekali tidak berharga. Allah semacam ini adalah suatu Allah yang “sola-fideistik”, yang hanya mengutamakan iman keagamaan seseorang, dan akibatnya suatu Allah yang “nihilistik”, yang tidak menghargai sama sekali semua prestasi non-agamawi si orang beragama selama kehidupannya dalam dunia.

Kelima, daripada percaya pada suatu Allah yang tidak pasti ada, yang bisa dipertaruhkan, orang lebih baik memilih tak percaya, lalu menyusun sekian argumentasi tentang ketakberadaaan Allah ini yang nanti, jika Allah ternyata ada, dapat dibeberkan di hadapan-Nya dengan jujur. Bukankah Allah, jika memang Dia adalah Allah yang baik, akan lebih menyayangi orang jujur di akhir zaman ketimbang orang yang menjadikan diri-Nya objek pertaruhan?

Keenam, Allah yang dipikirkan Pascal adalah Allah dalam kepercayaan apokaliptik Yahudi-Kristen (dan, belakangan, Islam) yang akan berperan sebagai sang Hakim di akhir zaman untuk mengadili semua orang berdasarkan ada atau tidaknya kepercayaan dan penyerahan diri total kepada-Nya dan apakah mereka semasa kehidupan di muka Bumi tidak berlaku jahat kepada umat milik Allah ini. Konsep teologis apokaliptik tentang Allah pembalas semacam ini semula diciptakan oleh suatu umat yang sedang mengalami penganiayaan oleh suatu bangsa lain yang tidak mengenal Allah ini. Karena umat yang dianiaya ini lemah posisinya dibandingkan kekuatan pihak penganiaya, umat yang teraniaya ini menunggu suatu pembalasan setimpal yang dipercaya akan Allah lakukan kepada musuh umat ini di akhir zaman. Dengan kata lain, konsep teologis apokaliptik semacam ini lahir dari kebencian mendalam dan kekal suatu umat terhadap umat lainnya, dan Allah diangkat sebagai sang Algojo yang akan membela umat teraniaya ini. Jadi, jika manusia harus berbicara dari kesadaran nuraninya, manusia harus bertanya, apakah Allah yang dikonsep semacam ini harus dipercaya ada atau malah keberadaan-Nya sama sekali harus ditolak.

Ketujuh, karena keberadaan Allah dipertaruhkan, maka, logisnya, belum tentu Allah yang akan menghakimi si orang beragama adalah Allah yang dia percaya yang menjadi isi kepercayaan agamanya selama kehidupan di muka Bumi, melainkan bisa Allah lain yang dia tidak kenal dan dia tidak sembah. Jadi, jika nantinya yang akan menghakimi adalah suatu Allah lain yang tidak dikenal, Allah ini tetap akan menghukum dirinya kendatipun si saleh selama kehidupan di muka Bumi sudah menyembah Allah, karena dia menyembah suatu Allah yang salah atau suatu Allah yang lain. Akan bisa terjadi bahwa nanti di akhir zaman, yang akan mengadili orang Kristen, misalnya, ternyata Dewa Zeus, dan bukan Tuhan Yezus.

Itulah tujuh poin keberatan terhadap Pascal’s Wager. Keberatan-keberatan saya ini dilandaskan pada logika saja, dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk membela ateisme, sebab bagi saya ateisme dan teisme sama-sama bisa buruk, bisa radikal, bisa fundamentalis, dan bisa dungu. Keduanya bisa sama-sama menjadi penjara-penjara kokoh atas pemikiran bebas.


Oleh Ioanes Rakhmat

Friday, August 27, 2010

Stephen Hawking
tentang Alien dan Planet Mars

Stephen William Hawking dilahirkan pada 8 Januari 1942 dari pasangan suami-istri Frank Hawking dan Isobel Hawking. Bidang penelitian utama Hawking adalah kosmologi teoretis dan gravitasi Quantum. Karir ilmiahnya sebagai seorang mahafisikawan dan kosmolog kebangsaan Inggris telah berlangsung lebih dari empat puluh tahun. 

Dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama, Hawking mengambil suatu posisi agnostik. Dia memang berulangkali menggunakan kata “Allah”, tetapi dalam pengertian metaforis, untuk menggambarkan poin-poin dalam buku-buku dan pidato-pidato publiknya. Akan tetapi mantan istrinya, Jane, dalam suatu pengadilan perceraian mereka, menyatakan bahwa Hawking seorang ateis.

Hawking menyatakan bahwa dia “tidaklah religius dalam pengertian yang normal” dan percaya bahwa “jagat raya diatur oleh hukum-hukum sains. Hukum-hukum ini bisa saja didekritkan oleh Allah, tetapi Allah tidak ikut campur untuk melanggar hukum-hukum itu.” Dalam buku terbarunya, yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, yang berjudul The Grand Design (September 2010), Hawking menegaskan posisinya sebagai seorang ateis. Dia menyatakan bahwa “permulaan jagat raya diatur oleh hukum-hukum sains dan tidak perlu digerakkan oleh suatu allah” dan bahwa “jagat raya muncul secara spontan, berawal dengan segala cara yang mungkin”. 

Tulisnya juga dalam buku yang sama bahwa adanya hukum-hukum fisika yang telah “disetel dengan pas” (finely tuned) “tidak memerlukan suatu pencipta yang baik hati yang telah membuat jagat raya untuk kebaikan kita” dan bahwa karena fluktuasi Quantum, “jagat raya dapat muncul dari ketiadaan”. Baginya, “penciptaan spontan adalah alasan mengapa ada sesuatu ketimbang tak ada apa-apa” dan bahwa “sejumlah besar jagat raya diciptakan dari ketiadaan, dan tak memerlukan intervensi suatu makhluk supernatural atau suatu allah”.

Hawking, yang berpegang pada “determinisme saintifik”, jelas menolak mukjizat. Determinisme saintifik menegaskan bahwa segala hal dalam jagat raya memiliki asal-usul pada masa lampau dan akhir pada masa depan yang berlangsung dalam jalur hukum-hukum sains yang tak bisa dilanggar, sehingga awal dan akhir segala sesuatu dapat diprediksi serta ditentukan dengan tepat dan lengkap. Dalam buku The Grand Design, dia menyatakan determinisme saintifik menyingkirkan kemungkinan adanya mukjizat atau suatu peran aktif Allah atau suatu kekecualian terhadap hukum-hukum alam. Dia menyatakan bahwa “Allah tidak dapat mencampuri jalannya jagat raya” dan menegaskan bahwa “suatu hukum saintifik bukanlah suatu hukum saintifik jika hukum ini berlaku hanya apabila suatu makhluk supernatural memutuskan untuk tidak mencampurinya”.

Pada tahun 2010, Hawking membandingkan agama dan sains, katanya: “Ada suatu perbedaan mendasar antara agama, yang didasarkan pada otoritas, dan sains, yang didasarkan pada observasi dan nalar. Sains akan menang sebab sains terbukti bekerja.”


Tentang alien

Dengan menggunakan suatu basis matematika bagi asumsi-asumsinya, Hawking menyatakan bahwa dia hampir dapat memastikan bahwa alien ada di bagian-bagian lain jagat raya. “Menurut otak matematis saya, bilangan-bilangan saja sudah dapat membuat pemikiran tentang alien sebagai suatu pemikiran yang secara rasional sempurna. Tantangan yang real adalah memikirkan para alien itu aktualnya dapat seperti apa.” Hawking percaya alien bukan hanya pasti ada di planet-planet, tetapi mungkin bahkan di tempat-tempat lain, seperti di dalam bintang-bintang atau bahkan mengapung-apung di angkasa luar. Hawking juga memperingatkan bahwa beberapa spesies ini dapat cerdas dan dapat mengancam Planet Bumi. Kontak dengan spesies semacam itu dapat membinasakan umat manusia. “Jika para alien mengunjungi kita, akibatnya akan sama dengan ketika Kolumbus mendarat di Amerika, yang ternyata tidak baik bagi penduduk asli Amerika,” katanya. Dia menasihati, ketimbang berusaha membangun kontak dengan para alien, manusia harus berupaya menghindari kontak dengan bentuk-bentuk kehidupan alien.



alien kecil bertubuh hijau akan menginvasi Bumi? Jangan takut, mereka lemah!

Tetapi NASA tidak mendukung Hawking, malah merencanakan program jangka panjang maupun jangka pendek untuk mencari kehidupan di antariksa, bukan terutama berupa aliens hijau bertubuh besar dan cerdas, tetapi berupa DNA lewat sebuah proyek yang dinamakan The Search for Extra-terrestrial Genomes (SETG) yang sekarang ini difokuskan dulu pada planet Mars.
  
Proyek NASA yang dinamakan SETG ini dikhususkan untuk menguji hipotesis bahwa kehidupan di planet Mars, jika ada, memiliki nenek moyang yang sama dengan kehidupan di planet Bumi. Bukti-bukti makin bertambah yang menunjukkan bahwa mikroba-mikroba yang dapat bertahan hidup, dapat ditransfer di antara dua planet ini, suatu kemungkinan yang sebagian didasarkan pada kalkulasi-kalkulasi lintasan-lintasan meteor dan kajian-kajian magnetisasi yang mendukung hanya pemanasan yang moderat pada inti-inti meteor. Tentang proyek ini, lihat di http://astrobiology.nasa.gov/astid/projects/a-search-for-extra-terrestrial-genomes-setg-an-in-situ-detector-for-life-on-mars-ancestrally-related-to-life-on-earth. Logis, jika kita berharap, proyek ini akan nantinya diperluas oleh NASA ke planet-planet lain manapun yang terjangkau, yang diduga berisi bentuk-bentuk kehidupan jenis apapun, misalnya bulan Europa dari planet Jupiter, yang kawasannya sangat asam.
 

Tentang kolonisasi Planet Mars

Pada tahun 2007, sebelum masuk ke penerbangan gravitasi-nol, dengan nada sedikit futuristik Hawking berkata, “Banyak orang telah bertanya kepada saya mengapa saya mengambil penerbangan ini. Saya melakukannya karena banyak alasan. Pertama-tama, saya percaya bahwa kehidupan di muka Bumi sedang berada pada suatu risiko yang makin besar untuk terhapus sama sekali oleh suatu bencana seperti perang nuklir yang terjadi dadakan, suatu virus yang direkayasa secara genetik, atau bahaya-bahaya lain. Saya pikir umat manusia tidak memiliki masa depan jika mereka tidak memasuki angkasa luar. Saya karena itu ingin mendorong minat masyarakat pada angkasa luar.” 

Terraforming: mempersiapkan planet Mars untuk menjadi rumah kedua homo sapiens di masa depan

Dalam suatu wawancara dengan The Daily Telegraph (2001), Hawking menyarankan bahwa angkasa luar adalah harapan jangka panjang untuk Planet Bumi. “Koloni-koloni di angkasa luar bisa jadi harapan satu-satunya,” kata Hawking. Sehari sebelum NASA mengonfirmasi keberadaan air di Planet Mars, di hadapan U.S. House Committee on Science and Technology, pada 30 Juli 2008, Hawking membuat sebuah pernyataan, “Menemukan air di Planet Mars dapat berarti bahwa suatu koloni Planet Mars di masa depan dapat menggunakan air ini sebagai suatu sumber oksigen. Ini adalah suatu langkah pertama untuk menyebarluaskan umat manusia masuk ke angkasa luar, yang menurut saya harus merupakan tujuan jangka panjang kita.” Kini, di tahun 2011, sekian situs di planet merah Mars sudah dipastikan berisi air yang melimpah, bahkan disimpulkan bahwa planet Mars memiliki air yang aktif, dulu maupun sekarang. Tentang ini, simak di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/air-di-kutub-utara-planet-mars.html.


Planet Mars, bakal menjadi planet kedua
di samping Bumi yang dihuni spesies manusia

Sejalan dengan pandangan Hawking, Prof. J. Richard Gott, astrofisikawan dari Princeton University, USA, menyatakan, “Kita harus membangun suatu koloni di Mars yang dapat menopang dirinya sendiri. Hal itu akan membuat kita suatu spesies dua planet dan akan membuat lebih baik prospek survival jangka panjang kita dengan memberi kita dua kesempatan ketimbang hanya satu kesempatan.” Sebelum Hawking dan Gott, almarhum Carl Sagan, seorang astronom dan fisikawan yang saya kagumi betul, juga sudah menyatakan hal yang sama.

Ya, suatu Taman Eden kedua pada saatnya, mungkin di penghujung abad XXI, akan berdiri di Planet Mars. Hal ini hanya mungkin terjadi jika umat manusia di Planet Bumi berani memetik “buah pohon pengetahuan” dan memakannya, maksudnya: jika umat manusia makin banyak yang berani berpikir ilmiah dan membangun teknologi yang dapat diandalkan untuk survival mereka di masa depan. Eksistensi dan ketahanan umat manusia di masa depan terletak pada tangan mereka sendiri, pada sains serta teknologi yang mereka kembangkan dan terapkan, bukan pada seorang juruselamat ilahi manapun yang hanya tahu kehidupan di zaman kuno yang pra-saintifik dan pra-modern.

(Tulisan ini dalam versi pertama yang jauh lebih pendek, juga terbit di Koran Tempo, edisi Sabtu, 6 November 2010, hlm. A9; bisa juga dibaca pada situs ini).


Sunday, August 8, 2010

How God Changes Your Brain

Andrew Newberg & Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings From A Leading Neuroscientist (New York: Ballantine Books, 2009). 
“Saya memiliki pengharapan dan perasaan bahwa Allah atau suatu realitas dasariah, dalam bentuk apapun yang dapat diambilnya, sebetulnya ada. Saya tidak tahu apakah intuisi saya ini benar, tetapi saya sangat senang dengan ketidakpastian saya ini.” (Andrew Newberg)
“Bagi saya, tidaklah menjadi suatu masalah jika Allah itu sebuah ilusi atau suatu fakta, sebab jika pun Allah itu suatu metafora, Allah merupakan segala sesuatu yang menjadi tujuan kita yang kita mampu capai, suatu ideal yang menawarkan pengharapan kepada jutaan orang di seluruh dunia.” (Andrew Newberg) 

“Secara pribadi, saya dapati sains lebih memuaskan dan lebih misterius ketimbang filsafat dan teologi. Jadi bagi saya, Allah adalah sebuah metafora, bukan sebuah fakta. Namun saya memandang pencarian seseorang akan Allah adalah suatu pencarian yang mulia, dan mempertanyakan keberadaan Allah adalah suatu bagian esensial dari pencarian itu.” (Mark Robert Waldman)
 


Sejak kita dilahirkan, sudah ada suatu “perintah kognitif” yang tertanam secara biologis dalam otak untuk kita berupaya keras belajar sebanyak mungkin tentang dunia ini. Belajar adalah sebuah dorongan dan kesadaran neurologis yang sudah tertanam dalam otak kita. Dalam dunia keagamaan, sejak masa kanak-kanak dini, Allah menjadi ada di dalam otak setiap manusia sebagai suatu kombinasi gagasan-gagasan, gambar-gambar, perasaan-perasaan, sensasi-sensasi, dan hubungan-hubungan, yang ditanamkan ke dalam otak lewat kegiatan pembelajaran yang terbuka atau lewat indoktrinasi satu arah. Sejauh menyangkut fungsi mekanis neuron-neuron (= sel-sel saraf otak; jumlahnya 100 milyar) dalam organ otak kita, tidaklah penting apakah yang mengaktifkan bagian-bagian otak kita adalah Allah sebagai suatu konsep (= teologi/dogma/akidah), ataukah Allah sebagai suatu perasaan dalam mental kita (misalnya bahwa Allah adalah cinta), ataukah Allah sebagai suatu pengalaman rohani (misalnya pengalaman mistikal kaum sufi menyatu dengan Allah, atau pengalaman berbahasa lidah di kalangan Kristen pentakostal). Ketika Allah kita pikirkan, atau kita hayati atau kita alami dengan nyata, maka Allah ini mengaktifkan bagian-bagian tertentu otak kita, dan melalui aktivitas neurologis yang terus berulang kepribadian religius kita terbentuk, entah kepribadian yang keras atau kepribadian yang lembut. 

Berikut ini sketsa struktur-struktur dan sirkuit-sirkuit neurologis penting dalam organ otak manusia yang membentuk persepsi manusia mengenai Allah, dan yang sekaligus membentuk kepribadian kita sebagai manusia. Sebaliknya, doktrin-doktrin tentang Allah (entah Allah sebagai sosok yang kejam, atau Allah sebagai sosok yang penuh cinta) perlahan-lahan juga membentuk otak anda, dan jika pembentukan ini sudah berlangsung lama dan panjang, otak anda, dus pembawaan religius anda, akan sulit sekali untuk berubah lagi, kendatipun neuroplastisitas otak masih memungkinkan perubahan terjadi.


Sirkuit “Allah” dalam Otak Manusia



(1) Sirkuit occipital-parietalis

Sirkuit ini, yang terdapat di bagian belakang otak, mengidentifikasi Allah sebagai suatu objek yang ada di dalam dunia. Sirkuit ini memberikan kemampuan untuk membayangkan Allah secara antropomorfis (= dalam wujud manusia). Anak-anak kecil memandang Allah sebagai sebuah wajah karena otak mereka belum dapat memproses konsep-konsep spiritual yang abstrak. Lobus parietalis —bagian otak yang memproses pertanyaan tentang “apa” dan “di mana”— pada kanak-kanak sangat aktif jika mereka sedang memikirkan kodrat Allah. Dalam masa beberapa tahun permulaan kehidupan, kita umumnya membentuk paham kita sendiri yang serupa mengenai realitas spiritual, misalnya bahwa pada masa kita kanak-kanak, Allah kita bayangkan sebagai seorang tua berjenggot yang berdiam di angkasa, di suatu kawasan yang dapat dilihat.

Sejalan dengan pertambahan usia menuju dewasa dan dengan kebebasan manusia untuk menemukan diri dan spiritualitasnya kembali, otak manusia mengalami evolusi neurologis sehingga gambaran-gambaran simbolik yang makin abstrak dan makin merangsang secara emosional mengenai Allah akhirnya muncul. Menurut James Fowler (dalam bukunya Stages of Faith: The Psychology of Human Development [Harper SanFrancisco, 1981]), jika kita merenungi makna kehidupan dengan mendalam, maka gagasan-gagasan kita tentang Allah berevolusi dari gagasan-gagasan yang kongkret pindah ke kepercayaan-kepercayaan mitologis yang lebih abstrak, dan dari sini ke nilai-nilai tanggungjawab sosial yang lebih universal.

Ide-ide tentang Allah (atau ide-ide tentang hal-hal lain apapun) tidak ada yang menetap permanen dalam otak kita, tetapi sejalan dengan neuroplastisitas neuron-neuron otak kita, kita terus mengubah ide-ide ini, dan kemampuan ini menjadikan kita manusia yang unik. Neuron-neuron otak kita tidak bersifat menetap, selama masih sehat, tetapi tetap berubah sepanjang masa, karena otak kita memiliki suatu helaian DNA yang dapat bermutasi. Di samping itu, perilaku kompetitif, pengaruh lingkungan, pendidikan, atau bahkan sebuah khotbah yang membangkitkan semangat, atau sebuah teks dalam kitab suci yang dibaca, dapat memicu pembentukan kembali dengan cepat tenunan sirkuit-sirkuit neurologis dalam otak kita. Tidak ada dua orang yang mempersepsi dunia atau Allah dengan cara yang sama, sebab tidak ada dua otak manusia yang bermula dengan kode genetik yang sama.

Jika lobus occipitalis dan lobus temporalis (berlokasi di bawah lobus parietalis, di atas telinga) luka, maka orang akan merasakan sedang melihat atau mendengar segala macam fenomena yang ditafsirnya sebagai fenomena religius, mistikal atau demonik. Di bawah lobus parietalis terdapat lobus temporalis yang memungkinkan orang mendengarkan suara-suara Allah.

(2) Sirkuit parietal-frontalis 

Sirkuit ini membangun sebuah hubungan di antara dua objek yang dikenal sebagai “anda” dan “Allah.” Sirkuit ini menempatkan Allah dalam ruang dan memungkinkan anda mengalami kehadiran Allah. Jika anda mengurangi aktivitas di dalam lobus parietalis melalui meditasi atau melalui doa yang khusuk, batas-batas antara anda dan Allah lenyap, dan anda merasakan suatu pengalaman mistikal telah menyatu dengan Allah, memasuki suatu suasana yang tidak dibatasi ruang dan waktu lagi. Anda merasakan suatu kesatuan dengan objek kontemplasi dan dengan kepercayaan-kepercayaan spiritual anda.

Sebaliknya, jika lobus parietalis sangat aktif, orang dimungkinkan untuk membayangkan suatu Allah yang terpisah dari dirinya, yang berada di luar batas-batas keberadaan dirinya pribadi. Ketika, misalnya, seorang Kristen pentakostal karismatik terbenam dalam penyembahan intensif kepada Allah dan mulai berbahasa lidah (= glossolalia), aktivitas di sirkuit parietalis meningkat tajam, dan dia mulai merasakan ada suatu “kehadiran ilahi” (= Roh Kudus) di sampingnya yang sedang berkomunikasi dengan dirinya. Ketika hal ini terjadi, aktivitas di lobus frontalis menurun, tetapi sebaliknya aktivitas di kawasan sistim limbik (tentang ini, lihat di bawah) meningkat sehingga membuatnya makin terbenam ke dalam pengalaman-pengalaman emosional yang memblokir kesadaran kritis rasional.

(3) Lobus Frontalis

Lobus frontalis menjadikan kita manusia yang unik. Di bagian korteks neuron inilah berakar imajinasi, kreativitas, orisinalitas dan kemampuan bernalar dan berkomunikasi dengan orang lain, dan kemampuan untuk menjadi lebih damai, lebih berbelarasa, dan lebih termotivasi. Bagian ini memungkinkan kita untuk membuat sebuah konsep logis mengenai suatu Allah yang rasional, bijaksana dan pengasih. Jika aktivitas lobus frontalis meningkat, sementara aktivitas sistim limbik menurun, maka orang akan merasakan kedamaian dan ketenteraman. Semakin orang giat dalam kegiatan intelektual, semakin kuat lobus frontalis-nya.

Bagian ini menciptakan dan mengintegrasikan semua gagasan anda tentang Allah—gagasan yang positif atau gagasan yang negatif—termasuk logika yang anda gunakan untuk mengevaluasi kepercayaan-kepercayaan spiritual dan keagamaan anda. Bagian ini memprediksi masa depan anda dalam hubungan anda dengan Allah dan berupaya secara intelektual untuk menjawab semua pertanyaan “mengapa, apa, dan di mana” yang muncul di bidang-bidang spiritual. Orang yang memiliki lobus frontalis yang sangat aktif dapat terbenam ke dalam usaha membuktikan keberadaan Allah secara filosofis dan matematis. Berbeda dari sirkuit occipital-parietalis otak kanak-kanak, lobus frontalis orang dewasa yang sudah matang bertanggungjawab menimbulkan imajinasi, kreativitas dan orisinalitas yang digunakan orang dewasa ketika mereka mencoba menggambarkan sifat-sifat abstrak non-bendawi dan misterius Allah.

(4) Thalamus

Thalamus adalah suatu stasiun pemroses besar dalam organ otak manusia: segala pengindraan, suasana atau modus dan isi pikiran melewati organ otak ini ketika informasi diteruskan ke bagian-bagian lain otak. Semakin anda terbenam ke dalam perenungan tentang suatu objek khusus, semakin aktif thalamus anda. Jika thalamus tidak berfungsi lagi, maka orang akan mengalami keadaan koma. Bahkan kerusakan kecil saja pada thalamus, akan menghambat kinerja bagian-bagian lain otak manusia.

Pada bagian inilah otak kita memberi kita kemampuan untuk merasakan sesuatu yang kita sedang pikirkan sebagai sebuah kenyataan, seolah gagasan-gagasan kita adalah suatu objek yang nyata di dalam dunia ini. Semakin anda memikirkan suatu gagasan berulang kali dan dengan sangat serius, maka thalamus memberi respons berupa sebuah impresi dalam diri anda bahwa gagasan ini adalah suatu objek nyata. Di dalam thalamus inilah makna emosional diberikan kepada pikiran-pikiran kita yang muncul di dalam lobus frontalis, sehingga kita tidak ingin dipisahkan dari pikiran-pikiran kita. Sehubungan dengan agama, thalamus memberi suatu makna emosional pada konsep-konsep anda tentang Allah: organ inilah yang membuat anda mencinta Allah anda (atau sebuah gagasan anda tentang Allah) dan tidak ingin dipisahkan darinya. Thalamus memberi anda suatu makna menyeluruh mengenai dunia ini dan tampaknya merupakan suatu organ kunci yang membuat Allah terasa objektif dan nyata.

Jika thalamus terus diaktifkan melalui meditasi (yang di dalamnya kita sungguh-sungguh memikirkan gagasan-gagasan kita sebagai kenyataan real dalam dunia objektif), maka kita akan memandang kenyataan secara berbeda dari pandangan yang normal dan biasa. Jika seorang praktisi meditasi tingkat tinggi sungguh-sungguh memikirkan dan memandang Allah, ketenteraman dan kesatuan dengan segala yang ada dalam jagat raya sebagai kenyataan-kenyataan real dalam kehidupannya, maka (salah satu) organ thalamus-nya terus aktif (sekalipun dia tidak sedang bermeditasi) dan keadaan ini memberi kepadanya suatu kesadaran yang melampaui keadaan sadar yang biasa: pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinannya bukan lagi ada hanya dalam dunia gagasan, tetapi betul-betul dialaminya dengan jelas dalam dunia nyata.

(5) Amygdala

Amygdala adalah bagian otak yang paling tua dalam perjalanan sejarah evolusi biologis otak manusia, terbentuk 450 juta tahun yang lalu. Amygdala menjadi suatu bagian dari sistim limbik organ otak. Jika aktivitas amygdala meningkat, maka gelombang rasa takut dan kecemasan menyerbu anda, karena zat-zat neuro-kimiawi yang destruktif mengalir deras masuk ke dalam otak. Jika orang berpikir negatif terhadap dirinya sendiri, atau memandang kehidupan ini dengan negatif, aktivitas di amygdala makin meningkat. Ketika dirangsang secara berlebihan, amygdala menciptakan suatu impresi emosional tentang suatu allah yang menakutkan, autoritatif, dan menghukum, dan menekan serta mematikan kemampuan lobus frontalis untuk berpikir logis mengenai Allah.

(6) Striatum

Struktur ini menghambat dan menekan aktivitas dalam amygdala sehingga memungkinkan anda merasa aman di dalam kehadiran Allah, atau di dalam kehadiran objek atau konsep apapun yang anda sedang kontemplasikan. Bersama dengan anterior cingulate (tentang ini, lihat di bawah), striatum mengendalikan amarah dan rasa takut. Jika aktivitas di dalam anterior cingulate dan striatum terhambat, maka amygdala mengambil kendali dan keadaan ini membangkitkan respons “tempur atau mundur” (fight or flight response) yang menyebar ke dalam setiap bagian otak anda.

(7) Anterior cingulate

Korteks ini masih berusia sangat muda, berusia 15 juta tahun dalam perjalanan sejarah evolusi biologis otak manusia, yang berlangsung bersamaan dengan evolusi kebudayaan dan pemikiran keagamaan manusia. Korteks anterior cingulate adalah “jantung” (atau “hati”) dan “jiwa” neurologis manusia. Korteks ini memainkan suatu peran yang menentukan di dalam praktek-praktek spiritual, dan terlibat dalam pembelajaran, memori, perhatian yang terfokus, pengaturan emosi, koordinasi motoris, jumlah detak jantung, pendeteksian kesalahan, pengantisipasian ganjaran, pemonitoran konflik, evaluasi moral, perencanaan strategi, empati dan kasih sayang.

Korteks ini menjadi suatu perantara atau sebuah titik tengah jungkat-jungkit antara perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang muncul dalam sistim limbik pada satu pihak dan logika serta nalar yang diproses dalam lobus frontalis pada pihak lainnya. Kesadaran sosial dan intuisi juga dibangun dalam korteks ini. Jika bagian otak ini diaktifkan terus-menerus, maka anda akan menjadi seorang yang toleran dan pluralis, dan dapat berumur panjang. Perempuan memiliki struktur anterior cingulate lebih besar ketimbang pria; karena itulah kaum perempuan umumnya lebih empatis, lebih mudah merasakan keadaan diri orang lain, lebih terampil bersosialisasi, tetapi juga lebih reaktif terhadap rangsangan-rangsangan yang menimbulkan ketakutan.

Struktur ini memungkinkan anda mengalami Allah sebagai Allah yang pengasih, penyayang dan berbela rasa. Struktur ini mengurangi kecemasan, rasa bersalah, ketakutan dan kemarahan religius dengan cara menekan aktivitas di dalam amygdala.

(8) Sistim limbik

Sistim ini terdiri atas amygdala, hippocampus, hypothalamus, dan thalamus, selain bagian-bagian lain yang tidak diperlihatkan dalam gambar. Jika sistim limbik makin aktif, intensitas emosional meningkat. Orang yang memiliki sistim limbik yang sangat aktif dapat terbenam ke dalam perenungan tentang ajaran tentang dosa warisan yang bermula dari suatu Allah pemurka terhadap nenek moyang manusia. Allah yang tercipta dalam sistim limbik adalah Allah yang kejam, keras, agresif, pemarah, pendendam, penghukum dan menakutkan. Selain itu, orang yang memiliki sistim limbik yang sangat aktif mudah terserang penyakit jantung dan penyakit otak; dan karenanya akan berumur pendek (tetapi tentu tidak selalu demikian).

Pengalaman spiritual

Pengalaman spiritual seseorang, entah pengalaman yang nyata atau yang dibayang-bayangkan saja, mengubah neuron-neuron di organ otaknya sehingga orang ini memandang kenyataan dan hubungan dirinya dengan dunia berbeda secara signifikan dari sebelumnya. Dibandingkan kemampuan alam sadar yang memproduksi pandangan tentang kenyataan secara terbatas dan terfragmentasi, proses tak sadar dalam otak manusia melahirkan pandangan yang lebih menyeluruh atas kenyataan.

Pengalaman-pengalaman spiritual mendorong bekerjanya sistem saraf otak yang membangkitkan perasaan seseorang (sistem saraf simpatetis) dan yang menenangkan batinnya (sistem saraf parasimpatetis). Pengalaman spiritual sangat beraneka ragam dan distimulasi oleh (dan menstimulasi) beraneka ragam aktivitas neurologis dalam lebih dari satu bagian organ otak manusia. Dan setiap orang memiliki “sidik jari” neurologis yang unik di dalam otaknya yang menggambarkan Allah yang dipercayanya. Hampir tidak ada seorangpun menggunakan kata-kata, frasa-frasa, atau ungkapan-ungkapan yang sama dengan yang dipakai orang lain dalam mendeskripsikan pengalaman spiritual berjumpa dengan suatu Allah. Setiap pengalaman keagamaan dan pengalaman spiritual adalah unik, karena tidak ada satupun helaian DNA otak manusia yang sama dengan helaian DNA otak manusia lainnya dan juga karena perbedaaan kebudayaan yang membesarkan dan membentuk kesadaran kognitif setiap manusia.

Bisa terjadi bahwa teks-teks suci yang berbeda-beda pada hakikatnya menggambarkan suatu pengalaman rohani universal, tetapi ketika pengalaman ini ditulis, penulisannya menggunakan bahasa yang unik, yang diangkat dari kebudayaan dan denominasi organisasi keagamaan masing-masing penulisnya yang berlain-lainan. William James (dalam bukunya The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature [Longman, 1902]) berpendapat bahwa pengalaman-pengalaman spiritual manusia dalam perjalanan sejarah relatif tetap konsisten. Neurosains juga menemukan bahwa otak manusia selama ribuan tahun telah melahirkan secara spontan pengalaman-pengalaman spiritual dan mistikal. Meskipun ada suatu elemen universal dalam setiap agama, namun manusia tidak memiliki kemampuan linguistik untuk mengekspresikan pengalaman-pengalaman ini dengan tingkat akurasi yang tinggi, sehingga terciptalah keanekaragaman gagasan-gagasan teologis.  

Orang fundamentalis

Jika orang terlibat terus-menerus dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang terfokus pada kemarahan dan rasa takut yang mengaktifkan organ amygdala dalam otak, seperti terjadi pada kalangan beragama fundamentalis, anterior cingulate akan mengalami kerusakan permanen. Jika hal ini terjadi, seorang fundamentalis religius akan kehilangan rasa peduli pada orang lain dan akan menyerang orang lain dengan sangat agresif. Jika anda mengharapkan suatu kejadian negatif di masa depan yang mengancam nyawa banyak orang, maka aktivitas di anterior cingulate akan menurun dan sebaliknya aktivitas di amygdala meningkat. Keadaan neurologis semacam ini menimbulkan kecemasan dan neurotisisme sangat tinggi. Orang yang menderita keadaan mental semacam ini akan tertarik pada agama-agama fundamentalis karena agama-agama sejenis ini menawarkan suatu sistem kepercayaan religius yang sangat terstruktur yang mengurangi perasaan-perasaan serba tidak pasti, dan yang memungkinkannya untuk menyalurkan semua dorongan agresif yang dibangkitkan oleh amygdala.

Sebaliknya, jika anda ingin memiliki anterior cingulate, korteks frontalis dan sistim limbik yang sehat, anda perlu dengan teratur melakukan meditasi atau tekun berdoa, dengan terus-menerus merenungi konsep-konsep yang dapat membawa anda masuk ke dalam cinta kasih, sukacita, toleransi, optimisme dan pengharapan. Dengan bermeditasi secara teratur dan terus-menerus, otak akan semakin sehat, sebab melalui meditasi otak kita melawan kecenderungan biologis manusia untuk bereaksi penuh amarah dan permusuhan terhadap situasi-situasi yang berbahaya dan yang mengancam.

Orang ateis

Jika orang berkontemplasi tentang Allah, Allah dapat dirasakannya tidak bermakna atau tidak bernilai; hal ini disebabkan oleh tidak aktifnya lobus frontalis dan sistim limbik dalam otak. Orang dapat tidak beragama atau menjadi ateis jika lobus frontalis dan sistim limbik tetap dibiarkan tidak aktif ketika kepadanya diajukan soal-soal spiritual. Kalangan ateis mengalami pola aktivitas neuron otak yang berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya ketika mereka memikirkan konsep tentang Allah. Jadi, apa yang dinamakan “God spot” yang terpatri dalam organ otak kita sebetulnya tidak ada.

Kalau pun terdapat neuron-neuron dalam organ otak kita yang sensitif terhadap Allah, sehingga dapat disebut sebagai “God neuron”, neuron-neuron ini tidak dapat dilokalisasi secara statis dan permanen di satu tempat, tetapi terdapat di tempat-tempat yang berbeda dari orang yang satu ke orang lainnya. Bagi orang yang satu, neuron semacam ini dapat berkaitan dengan perasaan senang dan terpesona; tetapi bagi orang lainnya, dengan perasaan kecewa dan dengan rasa sakit. Ihwal siapa dan bagaimana Allah bagi anda, bergantung pada pola neurologis khas yang terbentuk di otak anda, dan pola ini berkorelasi dengan gaya perilaku emosional pribadi anda. Juga bisa ada orang yang tidak memiliki sirkuit neurologis apa pun yang memungkinkannya mengonstruksi suatu citra positif atau suatu citra negatif mengenai Allah. Untuk orang semacam ini yang tidak memiliki “God neuron”, dia harus mencari makna dan tujuan kehidupannya di bidang-bidang lain, misalnya melalui pengabdian diri dalam dunia sains dan melalui pelayanan karitatif advokatif kepada umat manusia dan semua makhluk hidup lainnya.

“Dua binatang” dalam otak manusia

Memakai sebuah metafora, ada dua binatang di dalam otak kita, yakni satu binatang jahat dan satu binatang baik. Bagaimana sifat otak kita, dan dengan demikian juga bagaimana sifat kepribadian dan orientasi religius kita, ditentukan oleh binatang mana yang kita beri makan paling banyak sehingga menjadi jauh lebih besar dari binatang yang satunya lagi. Binatang jahatnya berdiam dalam sistim limbik otak kita; dan binatang baiknya ada dalam struktur lobus frontalis dan anterior cingulate.

Sistim limbik, yang di dalamnya terdapat amygdala, terbentuk sudah sangat lama dalam sejarah evolusi otak manusia, yakni 450 juta tahun yang lalu, dan sudah menguasai kehidupan manusia sejak 150 juta tahun yang lalu. Jika sistim limbik terlalu aktif dan organ amygdala menguasai semua kegiatan neurologis, dan lobus frontalis serta anterior cingulate tidak mengambil alih kendali atas kegiatan neurologis dalam otak, maka Allah yang dimunculkan adalah Allah yang keras, kejam, egoistik, agresif, pendendam, pemarah, penghukum, menakutkan dan mematikan; dan orang yang membesarkan Allah semacam ini di otaknya juga tumbuh menjadi seorang fundamentalis yang agresif sebagaimana juga sifat Allah yang dipujanya.

Sebaliknya, jika lobus frontalis dan anterior cingulate (yang berusia masih muda dalam sejarah evolusi biologis otak manusia) dilatih terus-menerus untuk aktif mengendalikan semua aktivitas neurologis dalam otak kita, dan kita terus-menerus memberinya makanan berupa konsep-konsep, perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman kehidupan yang berisi cinta kasih, empati, kepercayaan, bela rasa, logika rasional, nalar, toleransi, kesadaran dan tanggungjawab sosial, maka Allah dalam neuron-neuron otak kita adalah Allah yang maha pengasih dan penyayang, penuh kemurahan, empatis, penyabar, pelindung, dan terbuka untuk dikaji dan dipikirkan oleh akal dan dibaharui oleh akal. Orang yang memiliki lobus frontalis dan anterior cingulate yang aktif akan menjadi orang beragama yang liberal, kritis, rasionalis, progresif, terbuka, toleran, berbela rasa dan pluralis, dan karenanya akan lebih mungkin berumur panjang (tetapi tentu tidak selalu demikian).

Masa depan Allah

Gagasan tentang Allah terus berevolusi dalam perjalanan sejarah makhluk homo sapiens sapiens: semula moyang makhluk cerdas ini memandang Allah sebagai suatu Allah yang otoritarian dan pemarah serta penghukum, tetapi kemudian gagasan ini lambat laun berevolusi sehingga muncullah konsep tentang Allah yang bijaksana, pengasih dan penyayang. Evolusi kultural pemikiran tentang Allah ini mengikuti evolusi neurologis dalam organ otak manusia. Karena evolusi dalam kebudayaan dan organ otak manusia terus berlangsung, maka gagasan dan pengalaman tentang Allah tidak akan lenyap di masa depan peradaban manusia. 

Tetapi Allah di masa depan tentu tidaklah harus sama dengan Allah yang digambarkan dalam kitab-kitab suci kita sekarang. Allah masa depan adalah Allah yang penuh misteri, yang tidak dapat ditangkap oleh kata-kata manusia, tetapi dialami oleh manusia dalam suatu pengalaman kesatuan mistikal yang tak dapat diekspresikan oleh kata-kata manusia, dan karenanya orang akan berbicara bukan lagi tentang agama-agama lembaga yang terkotak-kotak, tetapi tentang spiritualitas yang sangat kaya dengan makna, nilai, tujuan, dan simbol-simbol yang dihayati melalui jalan-jalan yang majemuk dan tak terhabiskan. Allah masa depan akan memegang banyak peran dan mentransendir banyak tafsiran tradisional atas teks-teks suci keagamaan. Allah masa depan, karenanya, adalah sebuah metafora yang tak pernah habis dimaknai dan diungkap, jika memang dapat dimaknai dan dapat diungkap, dalam usaha manusia mencari kebenaran dan makna yang paling mendasar buat kehidupannya. 


Evaluasi

Sudah menjadi suatu pandangan umum di kalangan orang beragama bahwa sains dan agama tidak bisa dipertemukan, keduanya selalu bertentangan. Sains terfokus pada kajian-kajian terhadap segala sesuatu yang objektif dan empiris; sedangkan agama terfokus pada kepercayaan atau iman tanpa bukti objektif empiris apapun tentang adanya suatu Allah (atau banyak Allah) dan dunia supernatural. Sains berkutat dalam dimensi logismos (= logika), sedangkan agama dalam dimensi pistis (= iman). Pandangan ini sebenarnya sangat keliru, sebab agama dan kepercayaan keagamaan bisa dikaji secara ilmiah. Dewasa ini minimal ada tiga bidang ilmu yang menjadikan agama dan kepercayaan keagamaan sebagai objek-objek kajian ilmiah objektif.

Pertama, adalah kajian di bidang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi agama dan antropologi kultural. Kedua bidang ilmu sosial ini memperlakukan agama dan kepercayaan keagamaan sebagai fenomena sosiologis dan antropologis dan karenanya terbuka untuk dikaji secara ilmiah. Apapun klaim orang beragama tentang agamanya (misalnya bahwa agamanya “diturunkan” dari langit sebagai wahyu ilahi, dan karenanya bukan buatan atau ciptaan manusia), setiap agama, dilihat dari kajian sosial, memiliki unsur-unsur sosiologis antropologis buatan manusia, yang terbuka untuk dikaji secara ilmiah, objektif dan empiris. Secara objektif, setiap agama memiliki lima unsur sosiologis empiris yang membuatnya setara dengan organisasi-organisasi sosial lainnya, yakni 5 unsur K: komunitas sosial, kultus ritual, kanon (= kitab suci), kode etik moral, dan kredo. Kelima unsur ini menjadikan setiap agama terbuka untuk dikaji secara sosial antropologis, yakni mengenai asal-usul sosiologis kulturalnya, sejarahnya, konteks sosio-budayanya, strategi beradaptasinya, strategi pertahanan dirinya, agenda perjuangannya, arah dan tujuannya, ideologi atau pandangan dunia-nya (world view), nilai-nilai sosio-kulturalnya, tantangannya, kepemimpinannya, perilaku sosial anggota-anggotanya, karya-karyanya, kehidupan ekonomi anggota-anggotanya, relasi antara pengalaman kehidupan sosial, ideologi dan kepercayaannya pada hal-hal supernatural, dlsb.

Kedua, adalah psikologi agama, yang secara ilmiah mengkaji setiap fenomena keagamaan sebagai suatu fenomena yang bersumber pada dan berkaitan dengan kondisi-kondisi psikologis umat (individual maupun kolektif) yang menganutnya, yang hidup dalam suatu konteks sosial yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi psikis ini. Psikologi agama memperlakukan semua pengalaman keagamaan sebagai pengalaman psikologis manusia, inheren dalam jiwa manusia, terlepas dari ada atau tidak adanya suatu Allah supernatural yang dipercaya umat beragama.

Ilmu yang ketiga berkait erat dengan psikologi agama, yakni neurosains (atau neurobiologi). Neurosains adalah suatu kajian ilmiah terhadap otak manusia dan sistim saraf rumit yang bekerja di dalamnya. Kalau neurosains diterapkan pada agama dan semua gejala spiritual, ilmu terapannya ini dinamakan neuroteologi. Nah, buku yang isi pokoknya sudah dikemukakan di atas adalah buku tentang neurosains dan neuroteologi, yang ditulis oleh dua orang neurosaintis terpandang, Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman. Kita tentu harus berterima kasih kepada keduanya.

Neurosains dan neuroteologi tidak bisa membuktikan apakah Allah secara objektif ada atau tidak ada sebagai suatu realitas supernatural. Tetapi uraian di atas telah memperlihatkan kepada kita bahwa semua pengalaman keagamaan dan setiap perilaku keagamaan (entah yang bercorak fundamentalis pemberang ataupun yang bercorak liberal pengasih) dapat dicari sumber-sumbernya pada aktivitas neuron-neuron otak manusia dan pada bagian-bagian struktural otak manusia yang sudah terbentuk selama perjalanan panjang evolusi biologis otak manusia. Ada atau tidak adanya Allah secara objektif sebagai suatu realitas adikodrati, otak manusia memampukan manusia untuk membangun sebuah agama dan memikirkan serta memilih sifat-sifat Allah yang diperlukannya, yang dipandangnya dapat membuat dirinya bertahan dalam lingkungan alam dan lingkungan kebudayaannya sendiri.

Karena setiap kehadiran suatu bentuk agama berdampak pada kehidupan masyarakat sepanjang sejarahnya, maka kita yang mencintai kehidupan, bukan kematian dan kehancuran di muka Planet Bumi, tentu perlu mengarahkan kehidupan agama kita ke arah yang benar, yakni agama kita harus menghasilkan ketahanan kehidupan yang baik untuk semua spesies di planet ini. Kita perlu memompa gagasan-gagasan tentang suatu Allah yang maha baik dan maha berbela rasa dan maha bijaksana ke dalam organ otak kita sehingga aktivitas di lobus frontalis dan di anterior cingulate terus meningkat, dan aktivitas neurologis kuat di bagian-bagian organ otak ini pada gilirannya semakin membentuk kepribadian sosio-religius kita yang terbuka pada cinta kasih, tanggungjawab sosial, toleransi, empati, pluralisme, kesatuan umat manusia, kemajemukan religiokultural, kecerdasan religius, dan rasionalitas manusia serta sains.

Jakarta, 09 Agustus 2010
by Ioanes Rakhmat