Saturday, June 2, 2012

"Kiamat" dan Nasib Planet Bumi Di Masa Depan


Tulisan ini mengulas habis topik tentang “kiamat” yang khususnya dipercaya akan terjadi oleh umat-umat tiga agama monoteistik (Yahudi, Kristen, dan Islam). Pandangan agama-agama ini tentang kiamat akan diperhadapkan pada pandangan para saintis mengenai “nasib” planet Bumi di masa depan yang jauh.

Terminologi “kiamat” berasal dari kata Arab “qiamat” atau “qayamat” yang menunjuk pada Hari Penghakiman Akhir yang akan digelar oleh Allah atau Oknum Adikodrati lainnya bersama para malaikat di Akhir Zaman, saat ketika sejarah dunia diakhiri dalam suatu bencana sejagatraya. Kaum Muslim memandang ada dua jenis kiamat, yakni kiamat kecil (sughra) berupa kematian yang pasti akan terjadi pada setiap orang karena berbagai macam sebab, dan kiamat besar (kubra) berupa kehancuran dan kebinasaan total jagat raya dan segenap isinya.

Eskatologi apokaliptik

Dalam kajian teologi, topik tentang kiamat masuk ke dalam bidang kajian khusus yang dinamakan “eskatologi apokaliptik”. Eskatologi (dari dua kata Yunani: eskhatos = “terakhir”, dan logos = “doktrin) adalah doktrin tentang “hal-hal yang akan terjadi pada hari-hari terakhir”; sedangkan kata “apokaliptik” atau “apokalipsis” (Yunani: apokalupsis), yang berarti “wahyu ilahi” atau “penyingkapan ilahi”,/1/ memberi keterangan pada eskatologi, sehingga terminologi “eskatologi apokaliptik” berarti doktrin tentang hal-hal yang akan terjadi pada Akhir Zaman sebagaimana sudah disingkapkan atau diwahyukan oleh Allah dengan perantaraan malaikat-malaikatnya kepada hamba-hambanya yang dipilihnya.

Sebagai sebuah genre (= jenis sastra), sastra eskatologi apokaliptik umumnya disebut singkat saja sebagai genre apokalipsis. Sebuah definisi genre apokalipsis sudah dihasilkan oleh beberapa pakar Amerika di bidang ini yang telah melakukan kajian mendalam bersama-sama dari tahun 1975 sampai tahun 1978. Mereka mendefinisikan “apokalipsis” sebagai “suatu genre sastra yang menjadi media wahyu ilahi yang memakai narasi sebagai bingkainya. Wahyu ilahi ini disampaikan lewat perantaraan suatu sosok oknum adikodrati kepada manusia penerimanya, yang menyingkapkan suatu realitas adikodrati yang bersifat baik temporal sejauh wahyu ini menggambarkan keselamatan yang akan diterima di akhir zaman, maupun spasial sejauh wahyu ini mencakup suatu dunia lain yang adikodrati.”/2/

Kurang lebih serupa dengan definisi ini, Paul D. Hanson, yang melakukan banyak kajian genre apokalipsis Yahudi, memberikan batasan genre apokalipsis sebagai “suatu sastra yang digunakan sebagai wahana penyingkapan kejadian-kejadian di masa depan oleh Allah melalui perantara seorang malaikat kepada seorang manusia yang menjadi hamba Allah ini.”/3/

Di sebuah buku kecil yang ditulisnya, Hanson memberi definisi genre apokalipsis lebih luas, yakni “sekelompok tulisan yang fokus pada pembaruan iman dan penataan kembali kehidupan berdasarkan suatu visi mengenai suatu prototipe tata surgawi yang disingkapkan kepada suatu komunitas keagamaan lewat perantaraan seorang pelihat. Penulisnya cenderung merelativisir signifikansi kenyataan-kenyataan yang ada dengan menggambarkan bagaimana kenyataan-kenyataan ini akan dilampaui dan digantikan oleh pemerintahan universal Allah dalam suatu kejadian di akhir zaman yang tidak dapat dipercepat atau digagalkan oleh usaha-usaha manusia, tetapi akan terwujud sebagai akibat tindakan Allah sendiri berdasarkan suatu rencana yang kekal.”/4/

Dalam semua jenis apokaliptisisme, planet Bumi dan jagat raya yang kini dikenal, sejarah insani yang sedang berjalan, dan kehidupan yang sedang berlangsung, dan semua penderitaan, kelelahan dan pekerjaan berat dalam dunia sehari-hari sekarang ini, dipandang dalam waktu yang tidak lama lagi akan tiba pada titik ujungnya, titik akhirnya, untuk semuanya diganti dengan hal-hal lain yang bersifat adikodrati, suprahistoris dan adi-insani.

Penantian yang tak sabar akan tibanya dengan segera kehidupan lain di dunia yang adikodrati, suprahistoris dan adi-insani ini, yang akan menjadi pengganti semua hal yang kodrati, historis dan insani, adalah ciri pokok pemikiran apokaliptisisme. John J. Collins, misalnya, menyatakan bahwa kehidupan di dunia lain adikodrati ini merupakan ciri paling khas dari semua ciri pemikiran apokaliptik, dan hal yang membedakan sastra-sastra apokaliptik dari kitab-kitab para nabi non-apokaliptik sebelumnya adalah bahwa apokaliptisisme dengan jelas menggambarkan adanya pahala dan ganjaran yang akan diterima di dunia lain adikodrati setelah kematian. Bahkan, tegas Collins, nilai abadi apokaliptisisme tidak terletak pada pseudoinformasi yang diberikannya mengenai kosmologi atau sejarah yang akan datang, melainkan pada suatu dunia adikodrati yang keberadaannya ditegaskan kuat-kuat./5/

Selain orientasi ke dunia adikodrati yang menjadi sebuah ciri pokok, ada sejumlah besar unsur lain yang membangun pemikiran apokaliptik./6/ Ciri-ciri berikut ini umumnya terdapat dalam tulisan-tulisan apokaliptik:

  1. Dunia masa kini dan segala hal yang berlangsung di dalamnya dipandang tidak memihak, tapi melawan, umat-umat keagamaan yang dari dalamnya tulisan-tulisan apokaliptik muncul;
  2. Pesimisme radikal, ketidakpercayaan, penolakan dan perlawanan keras terhadap segala sesuatu yang duniawi (manusia, lembaga-lembaga dan kekuatan-kekuatan lain) yang mengendalikan sejarah dan kehidupan masa kini yang masih berlangsung;
  3. Dunia masa kini dan semua hal yang masih sedang berjalan di dalamnya dipandang tidak lagi sepenuhnya berada langsung dalam kendali Allah yang dipercaya umat-umat keagamaan ini, tapi dipercaya berada dalam kendali kekuatan-kekuatan demonik (Setan atau Iblis dan semua kaki-tangannya) yang memusuhi dan melawan Allah yang dipercaya umat;
  4. Dualisme etis: dalam jagat raya ini dipercaya ada dua kekuatan moral yang hidup, yang sedang bekerja, yang bertentangan satu sama lain dan berada dalam konflik, yakni kekuatan kebaikan (yakni Allah dan semua balatentaranya) dan kekuatan kejahatan (yakni Setan atau Iblis atau nama-nama lainnya, beserta dengan semua bala tentaranya);  
  5. Dualisme kosmologis: dalam kosmos atau jagat raya dipandang ada kawasan-kawasan yang sementara ini dikuasai oleh Allah sepenuhnya dan ada pula kawasan-kawasan lain yang sementara ini dikuasai oleh Setan atau Iblis dan semua pengikutnya;
  6. Pertempuran-pertempuran dahsyat di kawasan adikodrati antara Alah dan Setan atau Iblis, yang melibatkan pasukan-pasukan adikodrati masing-masing, dan berbagai peristiwa besar lain adikodrati, dipandang memiliki manifestasi paralelnya dalam pertempuran-pertempuran yang sedang berlangsung di dunia dan sejarah insani, yang melibatkan dan menyengsarakan umat-umat keagamaan, dan dalam berbagai peristiwa besar lainnya di dunia kodrati;
  7. Penderitaan, penganiayaan, penindasan, kesukaran-kesukaran besar dan berbagai macam persoalan sulit, sedang dengan sangat berat dan sukar dipikul dan dihadapi umat keagamaan, sampai ke titik-titik batas daya tahan mental dan fisikal normal mereka;
  8. Dalam menghadapi semua persoalan berat yang menimbulkan berbagai bentuk penderitaan besar itu, umat keagamaan mencari kekuatan mental-spiritual pada Allah yang dipercaya umat, dan meminta dengan sangat kepada Allah mereka ini supaya penderitaan mereka segera diakhiri dan musuh-musuh dan orang-orang jahat yang menyengsarakan mereka segera dibalas oleh Allah mereka;
  9. Tampil hamba-hamba Allah yang mengklaim menerima wahyu ilahi tentang perjalanan sejarah insani ke depan dan tentang keadaan dunia adikodrati, lewat perantaraan malaikat-malaikat atau makhluk-makhluk adikodrati lain, wahyu ilahi yang ditujukan kepada umat-umat keagamaan yang sedang disengsarakan oleh musuh-musuh mereka, dan sedang mencari kekuatan dan penghiburan dari Allah yang mereka percayai;
  10. Wahyu ini diterima lewat pendiktean langsung secara lisan oleh seorang malaikat umumnya lewat bahasa esoterik simbolik, metaforis atau karikaturis, yang lalu dicatat oleh si penerima wahyu atau oleh asistennya, wahyu yang memberi makna adikodrati dan abadi atas semua kejadian yang sedang berlangsung dalam sejarah dunia, yang melibatkan umat di dalamnya, yang semuanya ditempatkan dalam rancangan dan skenario maksud dan tujuan tindakan-tindakan abadi Allah yang agung, yang sudah digariskan dan ditentukan sebelumnya, demi kebaikan umat yang mengasihi Allah ini;
  11. Atau wahyu ilahi ini diterima dan dijelaskan oleh seorang malaikat sementara si hamba Allah yang menerima wahyu sedang berada dalam suatu “perjalanan mistikal” menembus ruang dan waktu insani, masuk ke dunia adikodrati yang dilihat bertingkat-tingkat, menuju kawasan takhta Allah di surga, untuk di sana dia mendengar dan melihat berbagai hal luar biasa yang tak terkatakan; atau si penerima wahyu ini digambarkan juga melakukan suatu “perjalanan spiritual” memasuki kawasan neraka;
  12. Dalam wahyu itu juga diungkapkan berbagai “tanda dan peristiwa zaman” yang semuanya membentuk suatu jadwal waktu dan kejadian-kejadian yang harus dipenuhi terlebih dulu sebelum titik akhir semua kesengsaraan tiba dan dialami umat;
  13. Konsep tentang Kiamat atau Akhir Zaman dimunculkan sebagai saat berakhirnya sama sekali sejarah dunia dan sejarah insani dalam suatu bencana dahsyat jagat raya yang akan melenyapkan segalanya: planet Bumi dan segenap unsur jagat raya, dan semua kehidupan dan semua kebudayaan dan peradaban insani;
  14. Kiamat dapat dilukiskan sebagai puncak dari berbagai perang dahsyat yang berlangsung di muka Bumi, yang diakhiri oleh bencana kosmik yang Allah sendiri adakan untuk membawa umat yang saleh masuk ke dalam kehidupan di alam adikodrati;  
  15. Diyakini, semakin saleh suatu umat menjalani kehidupan mereka di tengah penindasan yang mereka sedang alami, kiamat dapat semakin lebih dipercepat terjadinya oleh Allah sendiri;
  16. Pengadilan Akhir digelar oleh Allah atau oleh Sosok Adikodrati lainnya yang menjadi Wakil Allah untuk bertindak sebagai Sang Hakim dunia yang akan mengadili dengan seadil-adilnya semua orang, baik orang yang sudah meninggal ketika kiamat terjadi maupun orang yang masih hidup;  
  17. Kebangkitan orang mati dialami oleh orang yang sudah meninggal sebelum kiamat terjadi, dan orang-orang yang masih hidup menerima “tubuh astral”, sehingga baik orang yang sudah mati maupun orang yang masih hidup, keduanya akan diadili dalam Pengadilan Akhir adikodrati ini berdasarkan perbuatan-perbuatan mereka selama kehidupan mereka di dunia kodrati yang telah diakhiri;
  18. Semua perbuatan setiap orang selama kehidupan di muka Bumi dicatat oleh para malaikat petugas dalam sebuah Kitab Kehidupan, dan berdasarkan catatan-catatan dalam buku ini Pengadilan Akhir pamungkas yang seadil-adilnya dilangsungkan atas mereka;
  19. Dalam beberapa kasus pengadilan adikodrati ini, jika diperlukan, saksi-saksi adikodrati dipanggil untuk memberi kesaksian-kesaksian mereka atas manusia-manusia yang sedang diadili dalam Pengadilan Akhir;
  20. Dilakukan suatu tinjauan panoramik menyeluruh atas kehidupan masing-masing orang atau masing-masing bangsa yang sedang diadili di Pengadilan Akhir ini;
  21. Orang-orang jahat yang telah menyengsarakan umat Allah dijatuhi vonis penghukuman abadi di api nereka; sedangkan umat Allah sendiri menerima pahala masuk surga, hidup di kawasan Allah sendiri beserta semua malaikat dan balatentara ilahi selamanya;   
  22. Setan atau Iblis dan semua pasukan dan anteknya, dalam suatu pertempuran kosmik adikodrati pamungkas, dikalahkan oleh Allah atau oleh Wakil Adikodratinya bersama balatentara surgawi, dan selanjutnya Setan dan semua anteknya menjalani penghukuman abadi di tempat yang Allah telah sediakan sebelumnya buat mereka selamanya;
  23. Karena janji-janji tentang kemenangan dan pahala yang sedang menunggu umat yang sedang disengsarakan dan yang tak lama lagi mereka akan alami ketika dunia kodrati berakhir, yang disampaikan oleh hamba-hamba Allah ini lewat wahyu-wahyu yang mereka telah terima, umat yang sedang sengsara dalam kenyataannya mengalami banyak penguatan mental sehingga mereka sanggup bertahan, tidak menyerah kalah terhadap musuh-musuh mereka, bahkan bisa mendapatkan kemenangan besar;   
  24. Jadi, dalam apokaliptisisme, pesimisme terhadap dunia dan sejarah kodrati, pada satu sisi, memang menimbulkan suatu eskapisme “kalangan pecundang”, sikap melarikan diri dari kenyataan keras dunia kodrati lalu masuk ke dunia adikodrati yang dibayang-bayangkan dan diangan-angankan; tetapi pada sisi  lainnya, bersamaan dengan eskapisme ini juga semangat tempur dan semangat juang di dalam dunia ini bisa timbul dan bangkit oleh janji-janji kemenangan dan keberpihakan Allah kepada mereka.

Secara keseluruhan, dua puluh empat ciri di atas membentuk apa yang dinamakan apokaliptisisme. Kalau ciri yang ditulis terakhir di atas diperhatikan, apokaliptisisme sebetulnya pada akhirnya bisa memberi manfaat dan memiliki nilai positif juga untuk membangun semangat kehidupan dan memupuk serta  menumbuhkan daya juang manusia dalam suatu kehidupan yang keras dan sulit.

Seperti ditulis Collins, sekian sastra apokaliptik kanonik maupun ekstra-kanonik dapat bermanfaat positif, misalnya dapat memberikan dukungan mental dan sosial-politis kepada umat Yahudi di abad ke-2 SM yang sedang mengalami penganiayaan dari raja Syria Antiokhus IV Epifanes (Kitab Daniel), memberi kepastian kembali pada komunitas keagamaan ketika mereka sedang menghadapi kejut budaya (Kitab Para Pengawas) atau ketidakberdayaan sosial (Perumpamaan-perumpamaan Henokh), atau ketika sedang melakukan orientasi ulang atas kehidupan mereka setelah  mengalami trauma historis yang tragis (2 Barukh, 3 Barukh), atau memberi mereka penghiburan ketika mereka sedang menghadapi nasib yang suram dan menyedihkan (4 Ezra), atau ketika sedang menghadapi fakta tragis kematian yang niscaya (Wasiat Abraham)./7/

Tapi dalam zaman sekarang ini, ketika kita hidup di abad ke-21, pesimisme (ciri kedua di atas) dan eskapisme (disebut dalam ciri terakhir di atas) dalam apokaliptisisme ternyata lebih kuat berpengaruh pada kehidupan banyak komunitas keagamaan, yang membuat mereka lebih menginginkan dunia yang ada sekarang secepatnya mengalami kiamat, Bumi, peradaban insani dan jagat raya lenyap, dan semua orang saleh dibawa masuk ke dalam dunia adikodrati untuk hidup di surga bersama Allah, dan orang-orang yang dipersepsi mereka sebagai orang-orang jahat dimasukkan ke dalam neraka sebagai bentuk penghukuman dan pembalasan yang setimpal selamanya.

Mentalitas mengejar keselamatan abadi lewat suatu dunia yang kiamat boleh dikata diidap oleh kebanyakan kaum beragama dewasa ini, di dalam suatu dunia yang mereka anggap sudah tak adil dan dikuasai oleh musuh-musuh umat dan musuh-musuh Allah. Dalam suatu bentuk yang ekstrim fundamentalis, mentalitas semacam ini telah melahirkan suatu gerakan Zionis Kristen yang menginginkan dunia segera diseret masuk ke dalam suatu perang nuklir habis-habisan, yang akan berbuntut pada kehancuran planet Bumi dan kedatangan kembali Yesus Kristus dan “pengangkatan ke surga” orang-orang pilihannya./8/ Di antara berbagai tulisan apokaliptik dalam Alkitab, Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama dan Kitab Wahyu Yohanes dalam Perjanjian Baru  banyak disalahtafsirkan dan di-“dehistorisasi” hanya supaya dapat dijadikan landasan-landasan skriptural bagi agenda-agenda religio-politik gerakan ini. Padahal, kalau ditafsir dengan memakai pendekatan sejarah dan pendekatan sosiologis, baik Kitab Daniel dan tulisan-tulisan apokaliptik Yahudi lainnya/9/ maupun Kitab Wahyu Yohanes/10/ sama sekali tidak mendukung agenda-agenda apapun dari gerakan-gerakan ekstrim semacam ini. Gerakan-gerakan ekstrim yang berlandaskan teologi kiamat bukan hanya ditemukan dalam kekristenan, tapi di dalam banyak ragam komunitas keagamaan, seperti telah diperlihatkan Mark Juergensmeyer dalam dua bukunya yang komprehensif./11/


Ancaman-ancaman terhadap Planet Bumi dan Homo Sapiens

Nah, berbeda dari kaum agamawan yang bervisi apokaliptik yang menantikan dunia ini, khususnya planet Bumi ini, berakhir dan lenyap pada hari kiamat, para saintis dalam zaman modern ini malah memikirkan berbagai kemungkinan untuk menyelamatkan planet Bumi dan homo sapiens di masa depan ketika sesuatu akan terjadi dan mengancam eksistensi planet ini dan kehidupan spesies ini. David R. Russell menulis bahwa penulis sastra-sastra apokaliptik dan kaum saintis sama-sama menampakkan kepedulian terhadap orde ciptaan, nasib akhir jagat raya, dan kemungkinan adanya suatu ciptaan baru, meskipun kepedulian ini diungkap dengan cara-cara yang berbeda antara keduanya./12/ Tapi, menurut saya, ada suatu perbedaan mendasar di antara keduanya: para pembela apokaliptisisme mengharapkan suatu ciptaan baru yang immaterial adikodrati, sedangkan kaum saintis berpikir untuk mempertahankan suatu dunia yang material kodrati, yang akan tetap bisa ditinggali homo sapiens selamanya dan di dalamnya mereka dapat membangun peradaban yang juga akan diusahakan bertahan kekal dalam jagat raya.

Pada satu pihak, planet Bumi terancam oleh berbagai tindakan buruk manusia terhadap planet ini sendiri, misalnya dengan meracuninya atau meningkatkan suhu global terus-menerus. Selain itu, suatu perang nuklir habis-habisan di seantero planet biru ini akan bisa juga melenyapkan kehidupan di dalamnya dan menanduskan semua permukaan planet ini selama ratusan hingga ribuan tahun ke depan. Tidaklah keliru jika saya menyatakan bahwa Perang Dunia III dapat terjadi karena dipicu oleh konflik-konflik regional dan global antar-agama-agama, jika pada kesempatan mana kelompok-kelompok keagamaan militan garis keras berhasil menguasai instalasi-instalasi yang menyimpan persenjataan nuklir. Teologi tentang kiamat, the doomsday theology, yang dianut kalangan militan fundamentalis religio-politik dari berbagai agama, seperti Al Qaeda dan figur semacam Osama bin Laden (alm.), dapat menjadi ideologi pendorong dan pembenar PD III. 

Kalau PD III pecah, perang ini tak konvensional lagi, tapi mengambil bentuk perang yang menggunakan senjata pemusnah massal nuklir, biologis dan kimiawi. Akibat mematikan perang itu bukan lagi di kawasan lokal, tapi di seluruh kawasan global, mencakup seluruh penghuni Bumi dan planet Bumi sendiri, dan bertahan langgeng. Ketika bom-bom nuklir meledak di permukaan Bumi dalam suatu perang nuklir sedunia, gelombang ledakan, badai api, sinar-sinar gamma, dan neutron, akan memanggang nyaris setiap penghuni Bumi. Strontium radioaktif, cessium radioaktif dan iodine radioaktif dalam jangka waktu ratusan tahun mengisi seluruh permukaan Bumi dan terus mengancam tubuh manusia dan semua kelenjar di dalamnya, dan akan menimbulkan berbagai jenis kanker. Awan-awan radioaktif yang memenuhi angkasa, akan menutup masuknya cahaya matahari ke Bumi sehingga musim dingin global akan melanda seluruh muka Bumi. Selain itu, ledakan-ledakan bom nuklir akan membakar nitrogen di atmosfir sehingga mengubahnya menjadi nitrogen dioksida yang kemudian akan melenyapkan ozone di bagian atmosfir yang lebih atas. Tanpa lapisan pelindung ozone, radiasi kuat sinar ultraviolet Matahari akan menerjang masuk ke permukaan Bumi, dan akan menimbulkan berbagai jenis kanker pada kulit semua makhluk hidup, melenyapkan hampir semua mikroorganisme, dan merusak ekologi dengan sangat dahsyat./13/ Bumi akan tandus, kering dan gersang serta dipenuhi radiasi nuklir selama ratusan bahkan ribuan tahun ke depan, dan nyaris semua bentuk kehidupan akan lenyap, kecuali bentuk-bentuk kehidupan yang dapat bertahan hidup dalam kondisi-kondisi yang sangat ekstrim. 

Karena PD III bisa terjadi dadakan dan, jika terjadi, akan melenyapkan homo sapiens dan semua makhluk hidup lainnya yang menjadi penghuni planet Bumi, maka tak ada jalan lain, untuk manusia bisa survive dan bertahan abadi bersama peradabannya dalam jagat raya di masa depan, manusia harus membuka koloni-koloni kedua dan ketiga di jagat raya, di planet-planet lain, misalnya planet Mars. Para saintis terus memperingatkan kita bahwa kita sedang berlumba dengan waktu sampai tersedia planet kedua yang siap dihuni manusia di masa depan yang dekat. Menyiapkan sebuah planet kedua untuk menjadi rumah homo sapiens adalah tugas dan pekerjaan mendesak yang perlu segera dilakukan. Sungguh, kita sedang berlumba dengan waktu!

Pada pihak lain, ancaman serius terhadap planet Bumi dan semua penghuninya datang dari luar Bumi, dari angkasa. Yang saya maksudkan bukanlah ancaman penyerbuan pasukan aliens ke planet Bumi untuk mereka duduki (walaupun hal ini mungkin saja bisa terjadi di masa depan!), tapi sesuatu yang lain. Planet Bumi dan semua makhluk hidup di dalamnya secara alamiah akan lenyap pada saatnya karena, menurut kajian astrofisika, sesuatu tengah terjadi pada bintang besar tata surya yang kita namakan Matahari, sang Surya. Matahari, sejak sekarang, secara evolusioner sedang mengalami peningkatan suhu.

Dalam jangka waktu 5 milyar tahun dari sekarang, Matahari akan berevolusi menjadi suatu bola raksasa merah yang membengkak dan menggembung. Lalu, 7 miliar tahun dari sekarang, ketika bola Matahari sampai pada ukuran terbesarnya dan terang cahayanya mencapai puncaknya, kulit gas pada lapisan terluarnya (Korona) akan menelan dan membakar lenyap planet Bumi (lihat ilustrasi di bawah ini).



Tapi, jauh sebelum hal itu terjadi, 1,1 milyar tahun dari sekarang, sang Surya akan 11% bertambah terang dan panas, dan keadaan ini akan meningkatkan temperatur udara di seluruh muka bumi rata-rata menjadi 50 °C (atau 120 °F). Suhu setinggi ini, meskipun belum mencapai titik didih air, akan membuat semua air dan semua lautan yang ada di muka bumi perlahan menguap. Tanaman dan binatang (termasuk manusia di dalamnya) akan menghadapi masa sangat sulit untuk hidup dalam rumah panas ini, dan tentu mereka semua tidak akan bertahan lama, kecuali organisme sel tunggal yang disebut Arkhaea. Tetapi ketahanan hidup semacam ini akan berlangsung sebentar saja. Ketika uap air sampai di atmosfir, cahaya ultraviolet sang Surya akan memecah molekul-molekul air, dan gas hidrogen yang diperlukan untuk membangun sel-sel makhluk hidup perlahan akan bocor dan keluar ke angkasa lalu persediaannya di planet Bumi habis.

Nah, ini poin yang sangat penting: Jika keturunan kita, makhluk cerdas yang dinamakan homo sapiens, atau makhluk cerdas keturunan kita yang sudah berubah fisik dengan struktur DNA yang sudah lain karena diubah oleh kekuatan evolusi alamiah selama milyaran tahun, atau oleh evolusi teknologis artifisial, ingin tetap bertahan hidup, mereka harus pindah ke planet-planet lain di tata surya, misalnya ke sebuah planet merah yang tidak terlalu jauh dari Bumi dan masih dalam kawasan tata surya, yakni planet Mars.

Jika setiap hari kita meluncurkan 1000 wahana antariksa untuk mengungsikan 7 milyar manusia ke suatu atau beberapa planet lain yang aman, dibutuhkan semilyar wahana antariksa dan waktu selama 2700-3000 tahun ke depan untuk seluruh peluncurannya. Selain masalah ini, planet-planet lain yang jadi tujuan pengungsian juga perlu disiapkan secara besar-besaran untuk menghasilkan biosfir dan atmosfir yang cocok untuk kehidupan manusia, biosfir dan atmosfir yang sama dengan yang terdapat di planet Bumi sekarang ini, setidaknya memiliki air dan oksigen untuk kehidupan. Tambahan pula, manusia yang sudah diungsikan itu perlu diberi makan, dirawat secara medis dan psikologis, dan disiapkan di rumah-rumah baru mereka di luar planet Bumi.


Terraforming Planet Mars

Mengubah suatu planet lain koloni menjadi sebuah planet yang sama dengan planet Bumi untuk siap dihuni manusia disebut “terraforming.” Terraforming ini membutuhkan sains dan teknologi yang sangat advanced, dan juga tentunya membutuhkan sumber daya manusia, sumber daya alam dan biaya yang besarnya tidak terbayangkan sekarang ini! Bisa jadi, jika terraforming berhasil dilakukan, yang akan bisa mengungsi ke planet-planet lain, misalnya ke Mars atau ke planet-planet lain yang lebih jauh di luar tata surya, hanyalah segelintir manusia yang unggul secara finansial, atau unggul secara genetis di masa depan yang jauh. 

Sejumlah fisikawan menyatakan bahwa dalam melakukan terraforming terhadap planet Mars, kita perlu mengarahkan banyak asteroid, meteor dan komet, untuk menumbuk permukaan planet ini guna memanaskan planet ini untuk menghasilkan atmosfir yang cocok dengan kehidupan manusia. Tentang terraforming planet Mars dengan cara ini, wawancara pendek dengan Michio Kaku berikut ini menarik untuk diperhatikan./14/
Tanya: Jika anda melakukan terraforming terhadap planet Mars, dan membuatnya menjadi sebuah Taman Eden, bukankah keadaan ini hanya akan berlangsung sementara, sebab planet Mars tidak cukup besar untuk secara permanen memegang suatu atmosfir?

Jawab: Anda benar sekali. Mars adalah sebuah planet kecil, dan karenanya medan gravitasinya tidak cukup kuat untuk secara permanen memegang suatu atmosfir yang tebal dan padat; tetapi cukup untuk memegang suatu atmosfir selama ribuan hingga jutaan tahun, suatu jangka waktu yang cukup untuk kita. Sekali kita berhasil melakukan terraforming terhadap Mars, akan tersedia atmosfir yang cukup bagi kebutuhan banyak generasi di masa depan. Tetapi ini tidak berarti bahwa generasi-generasi di masa depan, ribuan tahun dari sekarang, akan harus mengisi atmosfir sekali lagi. Bagaimanapun juga, untuk tujuan-tujuan kita, atmosfir yang akan terbentuk tidak merupakan suatu masalah.

Tanya: Bukankah menumbukkan komet dan asteroid ke planet Mars akan menimbulkan banyak kerusakan pada permukaannya?

Jawab: Dalam program yang kami telah ajukan, kami menyatakan adalah mungkin untuk memanaskan Mars dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir; tetapi ini akan berlangsung sangat lambat, mahal, dan mungkin suatu rencana yang berbahaya. Suatu rencana yang jauh lebih cepat adalah mengarahkan komet-komet dan meteor-meteor ke Mars. Kami juga menyatakan bahwa, jika anda mengarahkan komet atau meteor dengan berhati-hati, anda dapat mengontrol orbitnya. Ini berarti anda dapat dengan lembut menempatkan komet atau meteor itu dalam orbit Mars. Perlahan-lahan komet atau meteor itu akan turun ke permukaannya ketika orbitnya perlahan-lahan melemah. Ini berarti banyak komet atau meteor akan terbakar di atmosfir lalu melepaskan uap air. Poinnya di sini adalah bahwa kita dapat dengan akurat mengarahkan komet atau meteor sehingga kita dapat meminimalisir kerusakan permukaan planet tetapi memaksimalisir transfer energi, yang kita perlukan untuk memanaskan planet Mars.

Tanya: Adakah tabel waktu untuk terraforming planet Mars?

Jawab: Tidak segera. Tebakan yang bagus adalah bahwa kita akan mengirim astronot ke Mars pada pertengahan abad ini (dikarenakan adanya hambatan-hambatan pada masa kini dalam misi mengirim manusia ke angkasa luar). Jadi koloni-koloni pertama akan dibangun lebih belakangan dalam abad ke-21. Terraforming baru akan dimulai sekian dasawarsa sesudahnya. Kira-kira pada pertengahan abad ke-22 terraforming planet Mars baru dapat dipertimbangkan dengan serius. Tetapi seperti Carl Sagan suka tunjukkan, kita harus menjadi suatu spesies dua planet, sebab betul-betul sangat berbahaya jika kita menempatkan masa depan umat manusia hanya pada satu planet.
Tentang terraforming planet Mars, apa yang dikatakan Stephen Hawking patut juga kita simak. Pada tahun 2007, sebelum masuk ke penerbangan gravitasi-nol, dengan nada sedikit futuristik Stephen Hawking berkata, “Banyak orang telah bertanya kepada saya mengapa saya mengambil penerbangan ini. Saya melakukannya karena banyak alasan. Pertama-tama, saya percaya bahwa kehidupan di muka Bumi sedang berada pada suatu risiko yang makin besar untuk terhapus sama sekali oleh suatu bencana seperti perang nuklir yang terjadi dadakan, suatu virus yang direkayasa secara genetik, atau bahaya-bahaya lain. Saya pikir umat manusia tidak memiliki masa depan jika mereka tidak memasuki angkasa luar. Saya karena itu ingin mendorong minat masyarakat pada angkasa luar.” 

Dalam suatu wawancara dengan The Daily Telegraph (2001), Hawking menyarankan bahwa angkasa luar adalah harapan jangka panjang untuk Planet Bumi. “Koloni-koloni di angkasa luar bisa jadi harapan satu-satunya,” kata Hawking. Sehari sebelum NASA mengonfirmasi keberadaan air di Planet Mars, di hadapan U.S. House Committee on Science and Technology, pada 30 Juli 2008, Hawking membuat sebuah pernyataan, “Menemukan air di Planet Mars dapat berarti bahwa suatu koloni Planet Mars di masa depan dapat menggunakan air ini sebagai suatu sumber oksigen. Ini adalah suatu langkah pertama untuk menyebarluaskan umat manusia masuk ke angkasa luar, yang menurut saya harus merupakan tujuan jangka panjang kita.” Kini, di tahun 2011, sekian situs di planet merah Mars sudah dipastikan berisi air yang melimpah, bahkan disimpulkan bahwa planet Mars memiliki air yang aktif, dulu maupun sekarang./15/

Sejalan dengan pandangan Hawking, Prof. J. Richard Gott, astrofisikawan dari Princeton University, USA, menyatakan, “Kita harus membangun suatu koloni di Mars yang dapat menopang dirinya sendiri. Hal itu akan membuat kita suatu spesies dua planet dan akan membuat lebih baik prospek survival jangka panjang kita dengan memberi kita dua kesempatan ketimbang hanya satu kesempatan.” 


Memindahkan Planet Bumi

Selain terraforming, ada sebuah jalan lain yang tersedia, yang jauh lebih sulit untuk menyelamatkan planet Bumi, yakni memindahkan planet Bumi beserta semua sumber yang tersedia di dalamnya ke suatu lokasi orbit yang lebih jauh dari Matahari. Para ilmuwan sudah menghitung-hitung dan membuat simulasinya dengan menggunakan komputer.

Jika pada 6,3 milyar tahun dari sekarang sang Surya berubah menjadi suatu bola api raksasa merah yang menggelembung dan cahayanya menjadi 2,2 kali lebih terang dari cahayanya sekarang, maka untuk keselamatan penghuni planet Bumi dan planet ini sendiri, planet Bumi harus dipindahkan, “didongkel”, dari orbitnya yang sekarang, menjauh dari Matahari, ke jarak 1,5 kali dari orbitnya yang sekarang pada Matahari. Orbit planet Bumi yang baru ini sama dengan orbit planet Mars sekarang ini. Dengan jarak orbit yang ditambah ini, planet Bumi akan menerima panas dari matahari yang sudah menggelembung dengan intensitas dan volume yang sama dengan intensitas dan volume yang sekarang ini kita semua terima.

Ihwal kapan usaha pemindahan planet Bumi ini sudah harus dijalankan, bergantung pada kapan kita mau mencapai orbit planet Bumi 1,5 kali lebih jauh dari orbitnya yang sekarang, untuk menghindari penguapan semua air di muka bumi dan untuk menjauh dari bola merah raksasa sang Matahari yang menggelembung! Kalau penggeseran orbit bumi mau dilakukan perlahan dan bertahap, usaha ini sudah bisa dimulai sekarang! Masalahnya: kita sekarang ini belum memiliki teknologi yang aman dan applicable untuk memindahkan bumi. Selain itu, kita masih harus tahu, apakah orbit planet Bumi yang diubah akan berpengaruh juga pada orbit benda-benda langit lainnya dalam tata surya, dan apakah hal ini tidak akan menimbulkan kekacauan kosmik juga.

Sepertinya, usaha menyelamatkan dan memindahkan planet Bumi terpikirkan hanya sebagai suatu fiksi ilmiah. Tetapi, pemindahan planet Bumi adalah sebuah tugas masa depan yang sangat serius! 


Penutup

Kelihatannya sekarang ini, “kiamat”, dalam arti: lenyapnya planet Bumi dan matinya semua makhluk hidup di dalamnya, tidak akan bisa dihindari. Tapi katastrofi kosmik ini akan terjadi masih sangat lama jika dihitung dari rata-rata umur manusia sekarang ini (katakanlah rata-rata sampai 80 tahun); kita masih harus menunggu 1,1 milyar sampai 7 milyar tahun dari sekarang. Dan, makhluk yang nanti akan mengalami “kiamat” ini adalah keturunan manusia yang telah mengalami evolusi genetik dan evolusi inteligensi, secara alamiah atau lewat evolusi teknologis artifisial. Bisa jadi, mereka pada zaman mereka nanti akan dapat menemukan suatu solusi tepat, aman dan efisien untuk menghindari lenyapnya air dari planet Bumi dan terpanggangnya planet ini oleh panas cahaya sang Surya yang sudah membengkak menjadi bola api raksasa maut./16/

Saya mau bertanya kepada anda: Manakah yang lebih dekat ke hati Tuhan yang maha pemelihara dan maha pengasih, para saintis (yang umumnya ateis) yang ingin mempertahankan kehidupan spesies homo sapiens dan peradabannya serta planet Bumi, ataukah para agamawan yang dengan teologi kiamat mereka menghendaki planet Bumi ini dan jagat raya serta homo sapiens lenyap dari dunia nyata?/17/

Dan untuk membuat anda tambah gelisah lagi, di alinea terakhir ini saya mau mengemukakan sesuatu. Apakah anda sudah menonton film yang berjudul Knowing? Jika sudah, anda pasti tersadarkan bahwa bintang Matahari kita juga bisa menjadi penyebab kiamat yang terjadi mendadak, pada masa kehidupan anda sendiri, tanpa terprediksi oleh kita di Bumi. Ada yang dinamakan tonggos Matahari (solar prominence), yakni lidah-lidah api dahsyat yang sewaktu-waktu begitu saja menyembur dan menyambar ke angkasa dari permukaan bola bintang Matahari, bisa mencapai jarak yang sangat jauh, bahkan bisa mencapai planet Bumi tempat anda hidup sekarang ini. Jika tonggos Matahari menyembur jauh sampai ke planet Bumi, seperti ditayangkan oleh film itu, itulah the end of the world in the literal sense of the word! Anda jangan hanya jadi gelisah, tapi yakinkanlah semua orang, termasuk diri anda sendiri, bahwa manusia di Bumi harus mempelajari bintang Matahari kita dengan sangat intensif supaya kita di masa depan, lewat teknologi kita yang sudah sangat advanced, bisa mengendalikan bahkan menjinakkan tonggos Matahari, bahkan segala sesuatu di dalam bintang ini yang bisa membahayakan planet Bumi dan seluruh isinya!  

oleh ioanes rakhmat


Catatan-catatan

/1/ Kata Yunani “apokalupsis” muncul dalam kitab terakhir Perjanjian Baru yang diberi nama Kitab Wahyu, yakni pada Wahyu 1:1 dalam frasa “apokalupsis Iēsou Khristou” ( = wahyu Yesus Kristus).

/2/Para pakar yang bekerjasama itu adalah Harold W. Attridge, Francis T. Fallon, Anthony J. Saldarini, Adela Yarbro Collins, dan John J. Collins (chair). Mereka disebut the Apocalypse Group of the Society of Biblical Literature’s Genres Project. Hasil kerjasama mereka dipublikasi dalam Semeia 14 (1979); kutipan dari hlm. 9. Definisi ini diambil-alih oleh David S. Russell, Divine Disclosure: An Introduction to Jewish Apocalyptic (Minneapolis: Fortress Press, 1992) hlm. 12. Lihat juga terjemahan Indonesia buku Russell ini oleh Ioanes Rakhmat, dengan judul Penyingkapan Ilahi: Pengantar ke dalam Apokaliptik Yahudi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).

/3/ Paul D. Hanson, The Dawn of Apocalyptic: The Historical and Sociological Roots of Jewish Apocalyptic Eschatology (Fortress Press; edisi revisi 1979; cetakan ketiga 1989) hlm. 428.

/4/ Paul D. Hanson, Old Testament Apocalyptic (Nashville: Abingdon Press, 1987) hlm. 27-28.

/5/ John J. Collins, The Apocalyptic Imagination: An Introduction to Jewish Apocalyptic Literature (Grand Rapids, Michigan/Cambridge, U.K.: William B. Eerdmans Publishing Co., 1984, 1998), hlm. 6, 281-82. 

/6/ Lihat antara lain John J. Collins, The Apocalyptic Imagination, h. 6; David S. Russell, Divine Disclosure, hlm. 8-13. Ciri-ciri pemikiran apokaliptisisme yang disajikan ini diupayakan lengkap dan menyeluruh; tapi tidak selalu semuanya muncul dalam setiap tulisan apokaliptik Yahudi ataupun tulisan apokaliptik Kristen, yang ada di dalam kitab suci maupun di luarnya.

/7/ John J. Collins, The Apocalyptic Imagination, hlm. 280.

/8/ Lihat http://www.ioanesrakhmat.blogspot.com/2009/03/dispensasionalisme-pra-millennial.html dan juga http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2008/11/fundamentalisme-zionis-yahudi-kristen.html.

/9/ Lihat penanganan yang benar atas sastra-sastra apokaliptik Yahudi oleh Paul D. Hanson dalam bukunya The Dawn of Apocalyptic: The Historical and Sociological Roots of Jewish Apocalyptic Eschatology (Fortress Press; edisi revisi 1979; cetakan ketiga 1989); juga John J. Collins, The Apocalyptic Imagination.

/10/ Kitab Wahyu Yohanes dalam kanon Perjanjian Baru juga bukan sebuah kitab yang “diturunkan” dari surga. Kitab ini ditulis sebagai sebuah respons yang real dalam bentuk sastra apokaliptik terhadap situasi teraniaya dan tertindas secara sosial, politis dan ekonomi,  yang real dialami suatu komunitas Kristen yang juga real di dalam konteks sejarahnya yang khas di Asia Kecil, khususnya pada masa pemerintahan Kaisar Domitianus (memerintah 81-96) yang mengharuskan penyembahan dan pemujaan kepada Kaisar sebagai “Tuhan dan Allah” (dikenal sebagai kultus pemujaan Kaisar) diadakan di semua provinsi kekaisaran. Elisabeth Schüssler Fiorenza, misalnya, telah menelaah Kitab Wahyu ini dari sudut pandang sejarah sosial-politis komunitas yang sedang mengalami penganiayaan. Lihat Elisabeth Schüssler Fiorenza, The Book of Revelation: Justice and Judgment (Minneapolis, MN: Augsburg Fortress, 1998, edisi kedua); idem, “The Followers of the Lamb: Visionary Rhetoric and Social-Political Situation” dalam Semeia 36 (1986) hlm. 123-146; lihat juga Leonard Thompson, “A Sociological Analysis of Tribulation in the Apocalypse of John” dalam Semeia 36 (1986) hlm. 147-174.

/11/ Teologi kiamat juga membuahkan berbagai gerakan militan dan terorisme dalam berbagai komunitas keagamaan yang ada di dunia dewasa ini. Penjabaran yang luas dan analisis yang tajam tentang keadaan ini, lihat Mark Juergensmeyer, Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (updated edition with a new preface) (Berkeley, Los Angeles and London: University of California Press, 2000; first paperback printing 2001); juga idem, Global Rebellion: Religious Challenges to the Secular State, From Christian Militias to Al Qaeda (Berkeley, Los Angeles and London: University of California Press, 2008).

/12/ David S. Russell, Prophecy and the Apocalyptic Dream: Protest and Promise (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1994) hlm. 115.

/13/ Untuk gambaran lebih lengkap tentang akibat-akibat yang akan ditimbulkan oleh suatu perang nuklir sedunia, lihat Carl Sagan, Cosmos (New York: Random House, 1980) bab 13 (hlm. 317 ff.).

/14/ Wawancara pendek dengan Michio Kaku, 13 September 2010, “Should We Use Comets and Asteroids to Terraform Mars?”; tersedia online di http://bigthink.com/ideas/24011.


/16/ Lebih jauh tentang ihwal pemindahan planet Bumi, lihat http://www.newscientist.com/article/dn14983-moving-the-earth-a-planetary-survival-guide.html

/17/ Kalau anda mau tahu ide-ide saintifik tentang bagaimana planet Bumi bisa dilenyapkan, ide-ide ini terpasang online di http://www.livescience.com/17875-destroy-earth-doomsday.html.