Saturday, August 29, 2009

Merehabilitasi Hawa, Sang Perempuan, melalui Hermeneutik Resistensi

Pada gambar di samping kiri ini, terlihat Hawa di Taman Eden membagi buah pohon pengetahuan bukan kepada Adam yang sedang teler, tetapi kepada perempuan-perempuan lain yang mengantri untuk menerimanya. Bukan hanya Hawa yang ada di taman itu, tetapi juga seorang perempuan lain yang juga memetik buah itu dan membaginya kepada perempuan-perempuan, yang berbaris menunggu giliran. Dalam gambar ini, Hawa dan perempuan lain, adalah para pembebas, para pembawa pencerahan ke dalam dunia.

Nah, saya mau merefleksikan tema ini, Hawa sang perempuan pembebas, dalam uraian di bawah ini, demi merehabilitasi diri Hawa yang sudah terlanjur dipandang sebagai sumber dosa asal, pandangan yang celakanya disucikan dan dikekalkan dalam Kitab Suci orang Kristen.

Menurut Rasul Paulus, “Hawa diperdayakan oleh ular dengan kelicikannya” (2 Korintus 11:3); jadi, Hawa, bagi Paulus, adalah makhluk bodoh yang kalah lihai dibandingkan seekor ular. Dalam surat 1 Timotius, kita baca:
“Seharusnya perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah dia berdiam diri. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (2:11-14).
Seorang pemimpin gereja dari abad 2, Tertullianus, dengan memakai Kejadian 3 sebagai titik pijaknya, menegur keras kaum perempuan Kristen zamannya, demikian,
“Kalian adalah pintu gerbang masuknya setan ke dalam dunia... kalian adalah Hawa yang membujuk Adam, yang setan tidak berani serang.... Tahukah kalian bahwa setiap orang dari antara kalian adalah seorang Hawa? Hukuman Allah terhadap gender kalian tetap berlaku dalam zaman ini; begitu juga, kesalahan yang dibuat Hawa bagaimanapun juga tetap ada” (Tertullianus, De Cultu Feminarum I, 12).
Tentu kaum feminis modern, dengan menggunakan “hermeneutik resistensi” (“hermeneutics of resistance”; atau juga disebut “hermeneutics of liberative vision and imagination”), akan satu suara menyatakan bahwa teks-teks yang menyudutkan dan merendahkan kaum perempuan yang dikutip di atas bukan firman Allah, tetapi firman manusia laki-laki dalam suatu masyarakat patriarkal yang merendahkan dan menindas kaum perempuan. Tentu kaum feminis akan langsung menangkap ada misogini sangat kuat dalam teks-teks itu.

Di dalam sebuah dokumen yang dibeli British Museum pada tahun 1785, yang berjudul Pistis Sofia (ditulis tahun 250 M), misogini bahkan dikatakan juga terdapat dalam diri Rasul Petrus, yang menurut Gereja Katolik Roma adalah bapak moyang semua Paus. Teks Pistis Sofia 72 memuat ucapan Maria Magdalena tentang Rasul Petrus kepada Yesus, demikian, “Guruku, aku memahami dalam pikiranku bahwa aku dapat maju ke muka kapan saja untuk menafsirkan apa yang Pistis Sofia telah katakan, tetapi aku takut kepada Petrus, karena dia telah mengancam aku dan membenci gender kami.” Teks Pistis Sofia yang semacam ini tentu dilatarbelakangi suatu persaingan tajam antara rasul-rasul perempuan dan rasul-rasul pria dalam gereja awal dulu.

Untuk membela dan merehabilitasi Hawa serta melawan misogini, banyak pendukung feminisme pada masa kini berpaling ke teks-teks ekstrakanonik yang ditulis kalangan gnostik pada abad 2 dan 3, yang ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, pada tahun 1945. Di antara 52 traktat yang ditemukan di Nag Hammadi ini, dokumen Hipostasis Para Arkhon dan dokumen Guntur: Pikiran Sempurna khususnya patut diperhatikan. Dalam kedua dokumen gnostik ini, Hawa digambarkan bukan sebagai asal-muasal dosa asal (original sin), tetapi sebagai asal-muasal “karunia asal” (original grace). Karena apa? Karena, di dalam dokumen-dokumen gnostik ini, Hawa (atau Kuasa Spiritual Feminin yang ada dalam dirinya) dipandang sebagai hero yang dengan sangat berani telah melakukan langkah yang betul dan signifikan, yakni melawan Allah untuk mendapatkan “pengetahuan” (Yunani: gnōsis) yang begitu penting bagi pencerahan dan pembebasan manusia.

Keberanian Hawa melanggar larangan Allah (lihat Kejadian 2:17), dengan memetik “buah terlarang”, buah “pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat”, lalu memakannya dan memberikannya kepada suaminya, Adam, telah membuat mata keduanya “terbuka.” Dengan tindakan heroik Hawa itu, mereka mendapatkan pencerahan dan pengertian serta pengetahuan. Mereka, seperti dikatakan sang ular, berhasil menjadi “seperti Allah, tahu tentang hal yang baik dan hal yang jahat” (Kejadian 3:5). Bukankah, menurut Kejadian 1, “menjadi seperti Allah” adalah suatu kodrat yang diberikan kepada Adam dan Hawa ketika Allah menciptakan mereka sebagai “gambar dan rupa Allah” (Kejadian 1:26-27)? Jadi, kalau Adam dan Hawa bertindak memakan buah terlarang itu, bukankah tindakan mereka ini sejalan dengan kodrat mereka yang mulia? Kita jadi bertanya, Di mana kesalahan mereka?

Apakah dengan pelanggaran ini, Hawa, dan suaminya, Adam, langsung mati, seperti diancamkan Allah sebelumnya bahwa “pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17; 3:3)? Seperti dikatakan sang ular bahwa “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kejadian 3:4), Adam dan Hawa ternyata memang tidak mati, malah keduanya masih hidup beberapa ratus tahun ke depan (lihat Kejadian 5:5) dan melahirkan keturunan. Ini membuktikan bahwa larangan Allah itu tidak memiliki kekuatan. Bagaimanapun juga, “pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat” sangat penting untuk mengawal perjalanan peradaban manusia. Bukankah sebagai “gambar dan rupa Allah” manusia diperintahkan untuk “menguasai” dan “menaklukkan” seluruh alam (Kejadian 1:26-28)? Bukankah untuk bisa menguasai dan menaklukkan seluruh alam dengan bijaksana diperlukan moralitas, pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat? Dengan demikian, harus ditegaskan, yang “menjalar” dari Adam dan Hawa ke seluruh umat manusia bukanlah dosa asal dan kematian sebagai hukumannya seperti dibayangkan Rasul Paulus (Roma 5:12-17), melainkan karunia asal dan kehidupan seperti dibayangkan kalangan gnostik.

Jelas, perspektif gnostik di atas berhasil merehabilitasi Hawa; dan kalangan pembela feminisme patut bersorak-sorai karenanya. Tetapi si penulis Kejadian 2:4b-3:24, yang mewakili kalangan sastrawan Yahwis “ortodoks” istana dalam zaman pemerintahan Raja Daud/Raja Salomo (abad 10 SM), ternyata tidak memihak kepada Adam dan Hawa yang sudah tercerahkan.

Dalam kesimpulan si penulis Kejadian 3, buah pohon terlarang yang dimakan Hawa dan diberikan kepada suaminya, Adam, membuat “mata mereka terbuka” sehingga mereka bisa melihat “bahwa mereka telanjang” dan untuk menutupi ketelanjangan mereka itu, mereka “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (Kejadian 3:7). Jelas, di sini si penulis ini memaknai kata “telanjang” sebagai sesuatu yang menimbulkan aib, sesuatu yang tidak bermoral, karena itu harus ditutupi. Dengan demikian, baginya, ketika Adam dan Hawa mau “menjadi seperti Allah” dan bertindak ke arah itu dengan melanggar larangan Allah, yang akhirnya mereka dapatkan hanyalah rasa malu, aib, dan keadaan tidak bermoral. Tentu saja, dengan hermeneutik resistensi kita bisa melawan dan menolak kesimpulan si penulis Kejadian 3 ini, dan mempersoalkan posisinya dengan rasional.

Pertama, dalam kisah sebelumnya, si penulis Kejadian 2:4b-3:24 menuturkan bahwa Tuhan “mengambil Adam dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15). Jadi, di Taman Eden Tuhan Allah tidak begitu saja memberikan segala sesuatunya dengan serba lengkap kepada Adam. Sejak awal, Taman Eden bukanlah sesuatu yang sudah jadi, tetapi sesuatu yang belum sempurna dan masih harus diolah. Adam tetap harus berpikir, bekerja keras, berkeringat dalam mengusahakan dan memelihara taman itu. Adam tetap harus melakukan tindakan budaya. Dengan demikian, untuk melaksanakan perintah kultural “mengusahakan dan memelihara” taman, Adam memerlukan bukan naluri, bukan hanya tubuh dan tenaga, tetapi pengetahuan dan teknologi. Bukankah sudah seharusnya Allah, sebagai sang Pencipta Adam dan tempat kehidupannya, memberinya pengetahuan itu? Jadi, kalau di tengah Taman Eden tumbuh “pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat”, biarkanlah Adam memetik buahnya dan memakannya. Bukankah pengetahuan semacam ini memungkinkan Adam memikirkan perihal bagaimana membangun kehidupan yang menghasilkan kebaikan dan mencegah kejahatan? Bukankah pengetahuan tentang moralitas, pengetahuan tentang nilai-nilai, pada saatnya mendorong orang untuk juga menciptakan pengetahuan material? Bukankah pengetahuan tentang moralitas mendorong orang untuk juga menghasilkan dan mengembangkan sains? Moralitas atau etika, sebagai suatu pengetahuan, mendorong penemuan dan pengembangan sains, tidak menghambatnya.

Dengan demikian, kalau dituturkan bahwa Tuhan Allah memberi larangan kepada Adam, si penulis kisah ini membuat Tuhan Allah menjadi suatu figur yang tidak konsisten, yang tidak mengetahui hal-hal yang dibutuhkan Adam. Tuhan Allah yang semacam ini bodoh, tidak maha tahu, penghambat, dan tidak bertanggungjawab. Tentu saja, orang tidak perlu tunduk pada Allah yang semacam ini. Dengan demikian, tindakan Hawa mengikuti pengarahan sang ular adalah suatu tindakan yang benar. Jadi, yang dibuat di Taman Eden bukanlah dosa asal, tetapi suatu tindakan berani Hawa untuk memungkinkan manusia melakukan tindak budaya primordial, yang akan terus dikembangkan manusia keturunan Adam dan Hawa di mana-mana dan di segala zaman. Adam dan Hawa, dengan demikian, bukanlah tipe manusia pembangkang, tetapi tipe manusia yang dengan bertanggungjawab memakai “kehendak bebas” mereka (bdk. Kejadian 2:16; 3:2) untuk membangun suatu bentuk primitif kebudayaan. Allah tidak boleh menghalangi kehendak bebas yang ada pada manusia yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya yang diperlukan untuk mengelola tempat kehidupannya dan dunia luas ciptaan Allah. Dan sampai sekarang, dari sebagai bayi sampai rambut memutih, manusia manapun tidak kehilangan kehendak bebas, dan kenyataan ini menunjukkan dosa asal itu tidak ada.

Kedua, menurut si penulis Kejadian 2:4a-3:24, Adam adalah suami Hawa (Kejadian 3:6), dan Hawa adalah istri Adam (Kejadian 2:24). Sebagai suami dan istri mereka berdua “telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kejadian 2:25). Dengan demikian, sebelum memakan buah terlarang, mereka sudah mengetahui bahwa mereka berdua telanjang, meskipun demikian keduanya tidak merasa malu. Jadi, si penulis bagian kitab Kejadian ini melupakan apa yang dia telah tulis sebelumnya ketika dia menarik kesimpulan yang sudah disebut di atas. Atau, dengan kata lain, kesimpulannya itu adalah kesimpulan yang keliru.

Karena bagi si penulis Kejadian 3, hasil dari memakan buah terlarang sangat buruk dan menimbulkan aib, pantaslah kalau dia selanjutnya menuturkan bahwa Allah, setelah mengetahui pelanggaran Adam dan Hawa, menjatuhkan hukuman berat kepada mereka berdua, kepada sang ular, dan kepada tanah (Kejadian 3:14-19). Nah, harus kita temukan apakah semua keadaan yang ditimbulkan oleh hukuman ini timbul karena dosa asal atau merupakan hal-hal yang memang kodrati dalam diri dan kehidupan manusia.

Perlu ditegaskan dulu bahwa Kejadian 2:4b-3:24 bukanlah sebuah narasi historis tentang Taman Eden dan tiga makhluk hidup penghuninya (Adam, Hawa dan ular) serta apa yang mereka perbuat, tetapi sebuah etiologi mitologis, sebuah kisah asal-usul fiktif, sebuah metafora, yang disusun ketika si penulisnya bertanya dan bergumul mengenai asal-usul dan sebab-musabab hal-hal eksistensial yang dilihat dan dialaminya setiap hari, lalu dia sendiri dengan imajinatif dan spekulatif mengupayakan jawaban atas serangkaian pertanyaannya sendiri. Bahwa kisah alkitabiah ini bukanlah sebuah kisah sejarah, melainkan sebuah mitologi, sebuah dongeng, sebuah metafora, ditunjukkan oleh hal-hal yang dikisahkannya. Hanya dalam dongeng saja ada pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat, yang kalau buahnya dimakan si pemakan akan langsung menjadi cerdas dan berpengetahuan. Hanya dalam kisah fiktif saja ada ular yang bisa berbicara. Hanya dalam mitologi saja, Allah digambarkan bertubuh, berkaki dan bermulut, yang biasa berjalan-jalan di Taman Eden di hari-hari yang sejuk, lalu menyidik Adam dan Hawa ketika keduanya kedapatan bersembunyi dari hadapan-Nya. Hanya dalam dongeng saja ada dua orang manusia yang tidak berpusar, Adam dan Hawa, karena mereka tidak dikandung dalam rahim ibu mereka, tetapi langsung jadi sebagai manusia dewasa. Cuma dalam dongeng saja ada orang (yakni Adam) yang usianya sampai 930 tahun (Kejadian 5:5).

Harus juga ditekankan bahwa si penulis etiologi Kejadian 3, dalam membuat tuturannya, tidak memulainya dari apa yang dulu sekali terjadi di Taman Eden, tetapi dari apa yang dilihat dan dialaminya setiap hari dalam kehidupannya di abad 10 SM di Palestina, lalu mundur ke belakang sangat jauh, sampai ke permulaan kehidupan manusia di muka bumi.

Si penulis Kejadian 3, dari apa yang dilihatnya, bertanya, apa sebabnya ular menjalar dengan perutnya dan tinggal dalam liang dalam tanah dan dimusuhi dan menyerang manusia (kejadian 3:14-15). Tentu saja dia tidak bisa memanfaatkan sains evolusi Darwinian untuk menjawab semua pertanyaannya ini. Jawaban yang diajukannya sederhana: ular menjadi binatang semacam itu karena dulu sekali nenek moyang hewan ini sudah dikutuk Allah.

Jawaban teologisnya ini merugikan ular. Binatang ini umumnya dibenci kebanyakan manusia. Setiap kita bertemu ular tanah, apalagi kalau ular ini masuk ke rumah kita, berbisa ataupun tidak, kita cenderung mau membunuhnya, karena kita jijik pada bentuk tubuh dan lendirnya dan takut pada bisanya yang mematikan, ditambah lagi karena kita, celakanya, menganggap hewan ini sudah dikutuk Allah! Syukurlah, sekarang ini sudah ada banyak gerakan pencinta ular yang mau melindungi hewan ini. Seharusnya demikian, karena ular telah menjadi pandu yang baik bagi Hawa.

Selanjutnya, si penulis Kejadian 3 bertanya, apa sebabnya kaum perempuan mengalami kesusahan waktu mengandung selama 9 bulan, dan apa sebabnya mereka merasa sakit ketika bersalin, dan apa sebabnya perempuan berahi kepada suaminya dan ditaklukkan kaum lelaki (Kejadian 3:16). Jawabannya kembali sederhana: kaum perempuan mengalami semua keburukan ini karena dulu nenek moyang mereka, Hawa, telah melanggar larangan Allah, dan mereka kini harus menanggung akibat dosa warisan ini. Tentu ini adalah jawaban yang buruk dan naif.

Setiap perempuan yang mengandung tentu saja secara alamiah biologis mengalami hal-hal luar biasa. Perubahan hormonal dalam tubuh dapat menyebabkan rasa mual dan menimbulkan bercak-bercak kecil pada tubuh. Ngidam mangga asam, misalnya, bisa timbul karena dia menginginkan lebih banyak perhatian dan pemanjaan dari suami, tetapi bisa juga karena pengaruh hormonal, bukan hanya gejala psikologis. Lagi pula, kebanyakan perempuan merasa berbahagia jika mereka sedang mengandung, pun seandainya dia mengandung bayi yang ihwal siapa ayahnya tidak jelas atau mengandung karena korban pemerkosaan. Kita tahu bahwa seorang ibu yang sedang bersalin menderita rasa sakit bukan karena sedang menanggung hukuman ilahi, melainkan karena saluran leher rahim menuju vagina memang sangat sempit.

Lebih lanjut, bukankah suami maupun istri yang normal memiliki nafsu berahi yang perlu disalurkan entah untuk tujuan prokreasi ataupun untuk tujuan tunggal mencapai kenikmatan? Jadi, keduanya haruslah saling berahi terhadap mitranya jika mereka mau mempunyai anak atau mau mengecap kenikmatan bersenggama. Jika sang istri berahi lebih dulu terhadap suaminya, apa salahnya? Mengapa eros dipandang negatif dalam hubungan suami dan istri, sementara Allah sudah memerintahkan manusia di bumi ini untuk “beranak cucu”? Selain itu, bukankah kaum prialah yang umumnya memiliki libido lebih besar dan lebih agresif ketimbang kaum perempuan?

Masyarakat patriarkal si penulis Kejadian 3 menyebabkan kaum lelaki berkuasa atas kaum wanita; ini adalah fakta sosio-kultural antropologis, bukan fakta teologis yang penyebabnya harus dicari sampai pada pemberontakan pasangan manusia pertama di Taman Eden. Di dunia ini juga ada kebudayaan matriarkal yang menempatkan status sosial kaum perempuan lebih tinggi dibandingkan kaum lelaki. Patriarki dan matriarki ada bukan dikarenakan dosa Adam atau dosa Hawa dulu, tetapi dibentuk dengan sadar oleh masyarakat melalui konsensus sosio-politis dan kultural. Nah, kesalahan si penulis Kejadian 3 adalah dia memberi alasan teologis yang tidak tepat terhadap hal-hal yang sebenarnya hormonal, psikologis, sosiologis dan kultural.

Si penulis Kejadian 3 akhirnya bertanya, apa sebabnya tanah di muka bumi tidak subur, hanya menumbuhkan “semak duri dan rumput duri” , dan padang hanya menumbuhkan ilalang; dan apa sebabnya manusia harus “bersusah-payah” dan “berpeluh” dalam mencari nafkah; lalu mengapa akhirnya, setelah mengalami semua penderitaan ini, manusia harus mati, “kembali lagi menjadi tanah/debu” (Kejadian 3:17-19). Dia memberi jawaban teologis etiologis yang juga bersahaja: karena tanah sudah dikutuk Tuhan Allah; dan akibatnya, tanah tidak lagi subur sehingga manusia harus membanting tulang untuk mengusahakannya sampai manusia mati. Kalau ditanyakan kepadanya, mengapa tanah dikutuk dan manusia harus menderita dalam kehidupannya sampai dia mati, si penulis menjawab: ini semua terjadi karena “Adam telah mendengarkan perkataan istrinya dan memakan buah pohon terlarang” (Kejadian 3:17). Ringkas kata, sumber semua penderitaan manusia dan ketidaksuburan bumi, bagi si penulis Kejadian 3, adalah dosa asal Adam dan Hawa. Betulkah demikian?

Andaikan dosa asal itu ada, yang melakukan dosa asal ini bukanlah tanah, tetapi manusia. Jadi mengapa tanah yang harus menanggung kutuk? Ada orang yang barangkali mau berargumentasi demikian: Ya, jelas, tanah juga harus dikutuk, sebab asal-usul manusia (Ibrani: adam) adalah tanah (Ibrani: adamah), sehingga kesalahan manusia juga harus ditanggung tanah. Tetapi, bukankah ketika manusia sudah menjadi makhluk yang hidup dan memiliki kesadaran nurani dan kehendak bebas, dia sendirilah yang harus menanggung akibat perbuatannya? Jadi, keliru kalau tanah yang harus dikutuk, sementara yang bersalah adalah manusia, dan tanah, sebagai benda mati, tidak bisa diminta pertanggungjawaban moral. Tuhan Allah jelas salah mengalamatkan kutukannya.

Tetapi, karena dosa asal tidak ada, maka kalau tanah tidak subur, ketidaksuburan ini timbul tentu karena penyebab lain: iklim kering yang keras, lokasi geografis dan topografis yang tidak menguntungkan, kesalahan manusia, jenis tanah yang buruk, irigasi yang jelek, ketiadaan teknologi, dan kemiskinan penghuni tanah. Sebab-sebab yang lain ini adalah kenyataan masa kini yang harus diatasi. Mengasalkan ketidaksuburan tanah pada pelanggaran Adam dan Hawa dulu akan membuat penduduk tanah kering menyerah total pada kekerasan alam karena beranggapan tanah mereka sudah dikutuk.

Selanjutnya, apakah salah kalau manusia harus “berpeluh” dan “bersusah payah” dalam pekerjaannya setiap hari? Si penulis Kejadian 3 memandang keringat dan kerja keras sebagai hal-hal yang buruk, sebagai akibat dosa asal, yang hanya menimbulkan penderitaan dalam diri manusia. Benarkah demikian? Bukankah dalam realitas kehidupan sehari-hari, kerja keras dan keringat seringkali membahagiakan banyak orang yang berkarya, karena mereka memandang kerja keras dengan positif sebagai tugas dan panggilan mulia? Bukankah Allah menempatkan Adam di Taman Eden yang masih harus “diusahakan” dan “dipelihara” olehnya? Dengan demikian, bekerja keras dan berkeringat adalah hal-hal yang memang Tuhan Allah kehendaki untuk Adam lakukan. Bekerja dengan wajar dan berpeluh bukanlah hukuman, dan juga bukan penderitaan, tetapi amanat yang Tuhan Allah sudah berikan pada awal kehidupan manusia di muka bumi. Manusia akan mati bukan karena dia memakan buah pohon terlarang yang membuatnya tercerahkan, melainkan kalau dia tidak bekerja!

Tentu kita tidak boleh menutup mata terhadap ketimpangan sosio-ekonomi dalam masyarakat yang menyebabkan ada orang yang harus bekerja sangat keras dalam sehari, melebihi kemampuan dan tenaganya sendiri dengan hasil yang sangat sedikit, sementara ada orang yang bekerja sangat ringan dan hanya sebentar dalam sehari dengan hasil berlimpah ruah, jauh melebihi apa yang dibutuhkannya untuk hidup layak. Ketimpangan semacam ini jelas bukan timbul dari dosa asal Adam dan Hawa, tetapi karena masyarakat masa kini belum dikelola dengan sepenuhnya berlandaskan pada keadilan sosio-ekonomi, hukum dan pendidikan.

Tibalah pertanyaan puncak si penulis Kejadian 3: Mengapa manusia akhirnya harus “kembali lagi menjadi tanah/debu”? Bagi si penulis Kejadian 3, manusia mati sebagai akibat dosa asal. Betulkah demikian?

Kita sudah ketahui bahwa “pelanggaran” Adam dan Hawa tidak langsung membuat mereka mati. Menurut sebuah catatan mitologis dalam Kejadian 5:5, Adam mencapai umur 930 tahun, “lalu ia mati”. Kematian Adam dalam usia sangat tua ini terjadi di luar Taman Eden (lihat Kejadian 3:23-24), jauh sesudah Adam dan Hawa melawan Allah. Jadi, menurut catatan Kitab Suci ini, Adam mati karena penyebab alamiah usianya yang sudah sangat tua, bukan karena pelanggaran yang dia dan Hawa buat di Taman Eden beberapa ratus tahun sebelumnya.

Sudah kita catat, Adam diperintahkan Allah untuk melakukan tindak kultural “mengusahakan dan memelihara” Taman Eden. Begitu juga, hal yang sama harus dia lakukan ketika dia sudah diusir dari taman itu (Kejadian 3:23). Jadi, Adam memang harus terus bekerja, dan bekerja adalah perintah dan kehendak Allah. Tubuh yang terus dipakai untuk bekerja, ketika waktunya tiba, akan melemah sampai akhirnya tidak bisa difungsikan lagi. Ini adalah hukum kodrat yang juga berlaku pada semua benda yang tidak bernyawa, yang secara fisik lebih kuat dari daging, otot dan tulang manusia. Jadi, manusia mati karena sudah kodratnya dia harus demikian. Tetapi kita boleh bertanya: Bisakah manusia, dengan tubuh insaninya yang dia miliki, hidup kekal, tidak mati-mati? Jawabnya: Tidak bisa, dan tidak perlu demikian!

Tidak bisa, karena tubuh alamiah semua manusia akan uzur dan akhirnya tidak bisa difungsikan dengan normal lagi. Degenerasi ini terjadi karena gen manusia sudah mengarahkannya demikian. Gen bukanlah ciptaan setan, juga bukan ciptaan dosa, tetapi ciptaan Allah. Namun, kita bisa berimajinasi bahwa dengan ilmu biologi molekuler yang makin berkembang dan teknologi rekayasa genetika yang makin canggih, bisa saja suatu saat gen manusia “diutak-atik” dan unsur genetik di dalamnya yang menyebabkan manusia menua “diubah” lalu “diganti” dengan unsur genetik anti-penuaan, anti-degenerasi. Kalau rekayasa genetik semacam ini bisa dilakukan, dan etika mendukungnya, maka manusia tidak akan pernah tua, tidak akan pernah mati secara biologis lagi, dan juga tidak perlu menghisap darah manusia seperti dilakukan makhluk Drakula mitologis untuk bisa hidup kekal.

Tetapi, apakah rekayasa genetik semacam ini diperlukan? Hemat saya, tidak diperlukan, sebab, pada satu sisi, hidup tanpa bisa mati adalah suatu penderitaan; dan pada sisi lainnya “kekekalan” manusia juga bisa dicapai dengan mempertahankan spesiesnya di planet Bumi melalui keturunan mereka, dan dengan memberikan anak-cucu mereka pendidikan setinggi-tingginya dan tubuh yang semakin kuat untuk bekal bertahan ketika mereka harus menghadapi berbagai bencana alamiah atau bencana kultural. Orang yang sudah tua harus dengan rela memberi giliran kepada generasi muda yang lebih cerdas dan lebih kuat untuk menjaga dan merawat planet Bumi ini dan semua isinya selama tidak ada bencana kosmik yang bisa melenyapkan planet biru ini dan tata surya. Maka, saya perlu mengatakan kepada Tuhan Allah versi Kejadian 3, bahwa Dia tidak perlu khawatir kalau manusia akan melakukan pemberontakan kedua, dengan “mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan dan memakannya, sehingga dia hidup untuk selama-lamanya” (Kejadian 3:22).

Sebuah pertanyaan masih harus dijawab: Mengapa manusia menderita dalam dunia ini? Tentu penderitaan timbul juga bukan karena dosa asal. Lalu, dari mana datangnya penderitaan? Jawabnya bisa bermacam-macam.

Pada kesempatan ini, saya batasi pada satu jawaban: penderitaan dialami manusia karena watak agresif manusia. Ketika seorang manusia merasa terancam oleh agresivitas seorang manusia lainnya, orang yang terancam ini mendahului berbuat agresif kepada orang yang mengancamnya. Agresivitas manusia inilah yang menimbulkan perang di dunia ini. Perang antar manusia dan antar makhluk, dalam skala kecil dan dalam skala besar, menimbulkan penderitaan. Kita bertanya, dari mana agresivitas ini muncul? Apakah karena manusia memiliki pengetahuan, maka dia menjadi agresif, seperti dengan sinis dan keliru dituturkan si penulis Kejadian 3 bahwa ketika Allah menyidik Adam, dengan agresif Adam menyerang dan menyalahkan Hawa, dan ketika Hawa disidik Tuhan Allah, Hawa dengan agresif menyerang dan menyalahkan si ular (Kejadian 3:9-13)? Jelas bukan, sebab pengetahuan yang diperoleh Adam dan Hawa adalah pengetahuan untuk membedakan mana hal yang jahat dan mana hal yang baik, bukan pengetahuan yang akan membuat mereka saling menyerang.

Jadi darimana persisnya watak agresif manusia itu berasal? Jawaban teologis terhadap pertanyaan ini telah banyak diberikan oleh agama-agama. Pada kesempatan ini baiklah kita berpaling pada sosiobiologi. Menurut sosiobiologi, gen bukan saja menurunkan ciri fisik manusia (individual maupun kelompok), tetapi juga watak dan perilaku manusia, sementara para ilmuwan sosial mempertahankan bahwa watak dan perilaku manusia dibentuk oleh lingkungan kehidupan, pergaulan dan pendidikan manusia. Jadi, para sosiobiolog mempertahankan peran nature (alam) sedangkan para sosiolog mempertahankan peran nurture (pendidikan) dalam pembentukan watak dan perilaku manusia. Tentu lingkungan pergaulan dan kehidupan manusia kerap mendorong manusia bersikap agresif terhadap sesamanya. Tetapi bahwa sifat agresif juga diturunkan dari nenek moyang manusia lewat gen, adalah suatu fakta yang harus kita terima. Nah, kalau nenek moyang paling awal manusia, menurut sains evolusi, berasal dari hewan, dan hewan memang memiliki naluri agresif yang sangat kuat demi survival mereka, maka tidaklah mengejutkan jika homo sapiens sapiens, makhluk cerdas yang kita namakan manusia, juga memiliki watak agresif. Dengan demikian kita dapat katakan bahwa penderitaan manusia, yang ditimbulkan oleh sifat agresif manusia, adalah sesuatu yang memang harus manusia tanggung sebagai akibat kodrati genetiknya, bukan karena dosa asal!

Harapan saya, refleksi hermeneutis yang telah dilakukan di atas bisa merehabilitasi Hawa, sang perempuan, dari label sebagai asal-muasal dosa, menjadi seorang hero bagi pembebasan dan pencerahan kaum perempuan dan semua insan di muka bumi di sepanjang zaman.