Monday, August 17, 2015

Ten meanings of the word “liberal” in theology


once born free, forever free!

In theology, “liberal” means renewal, discarding irrelevant doctrines, and formulating new ones, in the spirit of freedom and openness.

Another meaning of “liberal” in theology is accepting sciences to contribute to constructing new theologies in response to new challenges, new contexts, and new developments.

The third meaning of “liberal” in theology is set free theology from clerical domination, so ordinary people can participate in doing theology, resulting in democratization in religious life.

The fourth meaning of “liberal” in theology is employ sciences in interpreting holy texts resulting in critical approaches named criticism, historical criticism, for instance.

The fifth meaning of “liberal” in theology is using human rationality freely in search of religious truths whatever are the outcomes it generates.

The sixth meaning of “liberal” in theology is let curiosity alive and free in peoples cognition so that they can grow intelligently and freely into infinity and eternity.

The seventh meaning of “liberal” in theology is view religiosity as a dynamic state of mind never reaching its end, becoming an endless pilgrimage.

The eighth meaning of “liberal” in theology is an openness to endless progress of human capacity and human civilization, as ways to finding the elusive God.

The ninth meaning of “liberal” in theology is refuse anything ideological to imprison the human mind, conscience, and responsible freedom.

The tenth meaning of “liberal” in theology is live cheerfully, kindly, compassionately, responsibly, courageously, confidently, determinedly, greatly as human beings born free. This I call theology-in-action carried out by free human beings.

Those are the 10 meanings of the word “liberal” in theology. To conclude, the word “liberal” in theology is very great, precious and noble. It is weird if you don’t like to be liberal in your religious life. 


P.S. Share it as widely as possible. Thank you. 

Jakarta, 17-8-2015
the independence day of Indonesia
ioanes rakhmat


Happy the independence day of Indonesia, a country still sadly subjugated by stupidity, ignorance, corruption, delusion and ideological bigotry. Save our children.





Sunday, August 2, 2015

Bisakah dalam meditasi pikiran kita “blank”?



Saat pikiran kita buntu pun, kita sedang berpikir, mencari-cari alternatif....


Ada orang yang menyatakan bahwa pada puncak tertinggi suatu teknik meditasi, orang akan berada pada keadaan “tanpa kondisi”, yakni saat pikiran sama sekali berhenti, sama sekali “blank”. 

Yang mereka maksudkan bukan hanya terbendungnya persepsi indrawi (yang lazimnya dinamakan “sensory deprivation”), tetapi berhentinya kognisi manusia sepenuhnya. Dalam sains, kognisi (Latin: cognoscere; artinya "belajar" atau "mengetahui") adalah satu grup proses-proses mental yang mencakup penalaran, memori, pembelajaran, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, perhatian, penciptaan dan pemahaman bahasa. 

Mistikus dan guru spiritual asal Bangladesh yang bernama Chinmoy Kumar Ghose (lebih dikenal sebagai Sri Chinmoy) dalam tulisan pendeknya yang berjudul “Emptying the Mind” memahami “pikiran yang kosong” betul-betul dalam arti harfiah. Dia menyatakan hal berikut ini:
“Pikiran tidak diperlukan dalam meditasi, karena pikiran dan meditasi adalah dua hal yang berbeda mutlak. Ketika kita bermeditasi, kita tidak berpikir sama sekali. Tujuan meditasi adalah membebaskan diri kita dari semua pikiran. Pikiran itu seperti sebuah titik pada sebuah papan tulis. Entah titik ini baik atau buruk, titik ini sudah ada di situ. Hanya jika pikiran apapun tidak ada, maka kita dapat bertumbuh dan masuk ke realitas yang tertinggi. Di dalam meditasi yang dalam sekalipun, pikiran-pikiran dapat masuk, tetapi hal ini tidak akan terjadi dalam meditasi terdalam dan tertinggi. Dalam meditasi yang tertinggi, hanya akan ada cahaya. Anda harus tidak berpikir bahwa ketika pikiran anda kosong sepenuhnya, anda akan menjadi seorang yang tolol atau akan bertindak seperti seorang idiot. Itu tidak benar. Pada saat anda tidak mempunyai pikiran apapun dalam benak anda, harap anda jangan merasa telah tersesat sama sekali. Sebaliknya, rasakanlah bahwa sesuatu yang ilahi sedang disiapkan bagi kodrat anda yang murni dan terarah ke masa depan.”/1/
Pertanyaannya adalah: Bisakah pikiran kita kosong sama sekali, blanko sepenuhnya, kognisi berhenti? Pertanyaan pendek ini saya akan jawab dengan cukup panjang di bawah ini. Sebelum ke situ baiklah kita ketahui dulu beberapa pendapat lain tentang “pikiran yang kosong” dari beberapa praktisi meditasi orang Indonesia.

Tentang “mengosongkan pikiran”, Darmayasa yang mengaku guru meditasi menyatakan, lewat metafora, bahwa “hanya ketika anda telah mengosongkan gelas yang diisi penuh oleh air busuk, maka anda akan bisa mengisi gelas itu dengan isi lain, dengan air bersih, dengan susu murni, atau dengan amerta.”/2/ Ada dua hal yang mau saya kemukakan. Pertama, jika “mengosongkan pikiran” dipahami secara neurologis sebagai menghapus semua memori lama yang sudah terekam dalam organ otak, hal ini tidak dimungkinkan. Minimal, bekas-bekas memori dari masa lampau akan selalu dapat ditemukan pada area-area tertentu otak.

Sebuah studi menunjukkan bahwa aktivitas berbahasa pada waktu masih kanak-kanak, baik kanak-kanak monolingual maupun kanak-kanak bilingual, selamanya meninggalkan “jejak-jejak neural” yang terus bertahan hingga usia dewasa, tidak hilang sama sekali, dan mendatangkan dampak tertentu hingga usia tua (antara lain, mencegah kepikunan dini pada orang dewasa bilingual). Susan Perry menyatakan bahwa kemampuan bilingual sejak usia dini mengubah dengan signifikan struktur otak (volume materi abu-abu meningkat pada korteks parietal inferior kiri). Orang dewasa yang sejak kanak-kanak sudah fasih berbicara dalam dua bahasa memiliki kemampuan berkonsentrasi lebih tinggi dibandingkan orang yang monolingual; hal ini menandakan memori aktif mereka berfungsi dengan baik.”/3/ “Tandatangan neural” yang membedakan orang monolingual dan orang bilingual terlihat khususnya pada area yang dinamakan korteks frontalis inferior kiri,/4/ dan juga di area yang dinamakan korteks prefrontalis dorso-lateralis pada bagian otak kanan./5/

Tetapi, jika “mengosongkan pikiran” dipahami sebagai pertumbuhan dan perkembangan kognitif manusia dengan mengubah cara berpikir lama, hal ini dapat dicapai, juga lewat latihan meditasi Vipassana, tetapi itu pun tidak bisa berlangsung dalam sekejap, melainkan membutuhkan waktu yang lama dan proses kognitif yang tidak sederhana. Jelas, ini adalah pemahaman yang tidak harfiah atas frasa “pikiran yang kosong”.

Seorang yang menamakan dirinya Ki Bayu Sejati, dalam blognya, menulis bahwa tingkat lanjut dari meditasi adalah mencapai kondisi di mana si praktisi “sama sekali tidak lagi mempergunakan panca indera, termasuk pikiran dan perasaan” untuk mencapai “kenyataan yang asli”. Katanya lagi, kondisi terberat dalam bermeditasi adalah mencapai kondisi “pikiran tidak ada”, keadaan di mana “anda tidak berpikir lagi.”/6/ Tampaknya dia memahami kondisi “pikiran tidak ada” tidak secara harfiah. Dia menjelaskan bahwa kondisi “pikiran yang kosong” dicapai dengan cara memusatkan pikiran anda pada “suatu cita-cita, umpamanya cita-cita ingin menolong manusia-manusia lain, atau cita-cita ingin manunggal dengan Tuhan”. Cita-cita sejenis inilah yang tampaknya dimaksudkan olehnya sebagai “kenyataan yang asli”, yang juga dapat berupa “cahaya Tuhan yang hadir dalam hati” atau “kebesaran ilahi” atau “kesadaran yang lebih tinggi”. 

Dengan kata lain, pernyataan “anda tidak berpikir lagi” atau “pikiran tidak ada” atau “pikiran kosong” adalah pernyataan yang menyesatkan. Kalau kondisi “pikiran tidak ada” atau kondisi “anda tidak berpikir lagi” atau kondisi “pancaindra dan pikiran dan perasaan tidak digunakan lagi” dimaksudkan olehnya dalam pengertian yang harfiah, saya akan argumentasikan di bawah ini bahwa kondisi ini tidak mungkin bisa dicapai.

Mari kita cari jawabannya, apakah pikiran manusia bisa kosong dalam pengertian harfiah, sama halnya dengan sebuah gelas bisa kosong, dalam arti tidak berisi air atau udara sama sekali. Jika pikiran dapat betul-betul dikosongkan dalam meditasi, maka siapakah atau apakah sosok yang sedang bermeditasi itu? Tubuh duduk yang dinginkah, tanpa kehidupan lagi?

Otak kita tidak pernah berhenti bekerja selama 24 jam, termasuk ketika kita tidur sangat lelap dan tanpa mimpi (dengan gelombang otak delta, 1-3 Hz). Sejak moyang kita di zaman-zaman kuno, ratusan ribu tahun lalu, kondisi otak yang tetap aktif selamanya telah menjadi suatu faktor penting dalam mempertahankan kelangsungan kehidupan spesies kita, homo sapiens. Juga di zaman modern ini, otak kita yang terus aktif membuat kita bisa menavigasi respons-respons proaktif kita terhadap semua persoalan dan tantangan dunia modern, sejak bangun tidur, kerja di kantor, aktif ini dan itu, hingga pulang kembali lalu tidur lagi di malam hari. 

Beruntunglah kita punya pikiran yang terus aktif dan tidak pernah blanko. Tanpa kemampuan pikiran yang terus waspada dan aktif ini, kita sebagai suatu spesies sudah lama punah.  

Guru besar neurologi dan sains kognitif dari Universitas John Hopkins, School of Medicine, Prof. Barry Gordon, menyatakan,
“Otak manusia modern hanya 2% beratnya dari keseluruhan berat tubuh kita, tetapi menggunakan 20% dari seluruh energi yang tersedia dalam tubuh kita. Otak yang ‘lapar energi’ semacam ini, yang terus-menerus mencari petunjuk-petunjuk, hubungan-hubungan dan mekanisme-mekanisme, hanya mungkin bekerja jika metabolisme mamalia dalam tubuh disetel pada peringkat yang konstan tinggi. Kondisi berpikir terus-menerus inilah yang telah membuat kita tidak menjadi makanan kesukaan binatang-binatang buas di savana-savana, dan mencegah kita menjadi suatu spesies yang nyaris punah. Dari situ, kita berkembang menjadi suatu bentuk kehidupan yang paling berprestasi di planet Bumi. Dalam dunia modern pun, pikiran kita selalu mendorong kita dengan kuat untuk menemukan bahaya-bahaya dan peluang-peluang dari lingkungan sekitar kita, agak serupa dengan yang dikerjakan server mesin pencari. Namun, otak kita lebih maju setindak, dengan kemampuannya untuk juga berpikir proaktif, suatu tugas yang memerlukan lebih banyak proses mental…. Peninggalan yang kita terima dari moyang primata kita memberi kita sebuah keuntungan lain, yakni kemampuan untuk menavigasi suatu sistem sosial.”/7/
Sewaktu meditasi paling relaks sekalipun, dengan gelombang otak 1-3 Hz, pikiran kita tetap aktif, tidak pernah berhenti. Jika berhenti, maka tidak ada lagi motor penggerak bagi kehidupan semua organ tubuh kita. Artinya, kita terancam mati, karena organ-organ tubuh tidak diperintah lagi oleh pikiran kita untuk bekerja, sekalipun perintah ini berjalan otomatis, tanpa perlu kita atur dengan sadar. Semua sistem saraf dalam tubuh kita digerakkan oleh proses-proses kognitif dalam arti yang luas. Fungsi-fungsi metabolik dan fisiologis dan organik tubuh lumpuh total, jika pikiran kita seluruhnya tidak bekerja lagi. Graham E. Ewing (dari Montague Healthcare, Inggris) dan S.H. Parvez telah mengargumentasikan bahwa otak berfungsi hierarkis dan sistemik, dan fitur utama fungsi otak adalah mengatur fungsi-fungsi tubuh. Mereka memperlihatkan ada hubungan yang dinamis antara kognisi, sistem-sistem fisiologis, dan sistem saraf otonom, dan juga antara gelombang-gelombang otak dan fungsi tubuh yang berlangsung multilevel./8/ 

Hanya otak yang sudah mati, tidak memproduksi pikiran lagi. Begitu otak mati, si pemilik otak juga mati. Sebaliknya, semua organ tubuh kita, termasuk yang paling vital, pada dirinya sendiri bisa berkurang kemampuan kerjanya, secara bertahap, entah karena terserang berbagai jenis penyakit, kecenderungan-kecenderungan genetik, ataupun karena mengalami degenerasi saat kita perlahan menjadi tua. Penuaan juga, sebetulnya, adalah suatu penyakit, yang kini sedang dicari cara-cara menyembuhkannya. Juga bukan rahasia lagi, bahwa pikiran yang terus-menerus sehat, cerah, tanpa stres, berdampak signifikan pada kesehatan semua organ tubuh kita.     

Telah kita ketahui, otak manusia itu ringan, cuma 1,5 kg beratnya, 2% dari seluruh berat tubuh kita. Tetapi meskipun ringan dan kecil, otak kita setiap hari memerlukan energi yang tersedia dalam tubuh kita sebesar 20 %. Otak kita sangat “energy-consuming”, perlu memakai energi besar. Kenapa? Karena otak kita adalah suatu organ sentral yang membuat kita menjadi suatu organisme hidup yang terus berpikir. Kalau mengambil analogi dari dunia komputer, otak kita adalah CPU-nya. Dan sesungguhnya otak kita memang sebuah komputer organik yang bisa diuraikan mekanisme kerjanya, paralel dengan kerja sebuah komputer. Neuron-neuron dalam otak kita, yang berjumlah 100 milyar sel, bekerja dengan tunduk pada, atau dengan dikondisikan oleh, hukum-hukum fisika dan kimia. Bedanya, sebagai sebuah komputer, mesin organik otak kita tidak bisa di-“switch-off” total.   

Dalam meditasi paling tenang sekalipun, pikiran tetap bekerja, tidak ada kondisi pikiran “blank” dalam meditasi apapun. Uji saja dengan cara sederhana: jika seorang praktisi meditasi yakin dia bisa membuat pikirannya blank 100 %, mintalah dia bermeditasi di sebuah ruang sampai mencapai kondisi yang katanya “tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran berhenti sama sekali, alias blank. Lalu mulailah anda matikan AC di ruang tempat dia bermeditasi, lalu buatlah oksigen di ruang itu hampa. Atau, anda bakar ruang itu dengan cepat. Nah, apakah dia tidak akan memberi reaksi? Jelas, otaknya yang katanya sedang blank akan memberi reaksi, pikirannya langsung memerintahkannya melakukan sesuatu. Tidak mungkin dia bisa memberi reaksi jika pikirannya sedang blank. Pikiran yang blank, jika ada, sangat berbahaya buat kelangsungan kehidupan kita. Lagipula, adalah suatu fakta yang tidak bisa dibantah bahwa si pemeditasi bisa tahu pikirannya sedang blank, ya karena pikirannya masih bekerja, ya karena dia berpikir pikirannya sedang blank. Karena dia berpikir pikirannya sedang blank, maka dia temukan pikirannya seolah sedang betul-betul blank. Dengan kata lain, dia dikondisikan oleh pikirannya sendiri, atau dia ditipu, oleh pikirannya sendiri sehingga dia berpikir bahwa pikirannya sedang kosong total.   

Ya betul, pikiran kita bisa kosong total, tetapi hanya jika kita sudah mati, otak kita sudah membusuk dan tidak bekerja lagi, dan tubuh kita sebagian besar berubah menjadi kimia kembali, kimia carbon yang akan terus terdaur ulang dalam alam di Bumi ini. Saat kita sudah mati, personalitas kita lenyap, semua memori juga sirna, maka kondisi tanpa kondisi terjadi. Selama kita masih hidup dalam dunia, di dalam suatu sistem sosial dan sistem kultural, kita semua terkondisi. Bahkan pada level paling fundamental, level subatomik, sel-sel seluruh tubuh kita juga terkondisi oleh hukum-hukum fisika dan kimia yang berlaku dalam empat dimensi ruangwaktu kita dan di dalam jaga raya kita. Sel-sel tubuh kita, karena terkondisi oleh hukum-hukum itu, mengambil bentuk bulatan-bulatan, atau bahkan dawai-dawai, bukan kubus atau elips. Di luar empat dimensi ini, yakni dalam dimensi ke-5 hingga dimensi ke-26, dan dalam jagat-jagat raya lain, dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang berbeda, struktur dan morfologi sel-sel tubuh organisme akan berbeda. Jadi, dari dunia subatomik sampai dunia mahabesar jagat-jagat raya, tidak ada kondisi tanpa kondisi. Jika anda berpikir bahwa anda bisa masuk ke kondisi “tanpa kondisi”, itu adalah pikiran anda yang dikondisikan oleh komunitas anda. Lewat sesepuh-sesepuh komunitas anda ini, anda diajarkan dan diyakinkan demikian. Saat saya menyatakan hal yang berbeda, saya juga dikondisikan oleh sesuatu yang lain, yakni ilmu pengetahuan modern.  

Jadi, adalah sebuah kesalahan besar jika ada orang yang mengklaim “pikiran bisa dihentikan” dalam sebuah meditasi. Tidak ada landasan ilmiahnya, cuma dipropagandakan saja.


Kata orang beragama, jika pikiran kita blank, si setan akan masuk merebutnya!

Pikiran atau pemikiran, mind and thought, melibatkan proses-proses kognitif, tidak akan bisa dihentikan, hard wired dengan fungsi otak kita Tetapi bisa dipantau, diamati. Lalu akan membuat kita makin kenal diri dan kecenderungan-kecenderungan mental kita. Dari situ, kita makin bertambah kenal dunia real, dan tempat kita di dalamnya; alhasil, kita bisa memperbaiki diri dan menyempurnakan diri terus-menerus. Dan karena kehidupan kita sendiri adalah meditasi aktif yang real, maka sangat penting pikiran kita terus-menerus kita pantau: kita melakukan apa yang dalam psikologi dinamakan “metakognisi”.

Metakognisi ini membuat kita berpikir tentang pikiran kita sendiri, memikirkan isi pemikiran kita sendiri. Pikiran atas pikiran. Alhasil, kita bisa makin bijaksana dan makin cerdas dan makin berwawasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, selama 24 jam, diselingi 8-10 jam tidur malam setiap hari. Inilah yang perlu kita latih, meditasi “keterjagaan” (Vipassana), meditasi memantau dan mengenali isi pikiran kita sendiri sampai detail, bukan menganggap pikiran kita bisa dibuat blank lewat meditasi.

Menjadi insan yang makin baik, makin cerdas, makin visioner, makin bajik, makin bijak, lewat Vipassana dan metakognisi, jauh lebih penting ketimbang mengejar kondisi yang dinamakan “tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran yang diklaim “kosong”, yang dalam kenyataannya tidak ada sama sekali. Tidak ada landasan ilmiahnya. Lagipula, seandainya pikiran bisa kosong sama sekali, kekosongan pikiran ini berguna untuk apa? Daripada sia-sia mengejar kondisi “tanpa kondisi”, yakni kondisi “pikiran blank”, lebih bermanfaat jika kita mengenali dan memantau isi pikiran-pikiran kita, alhasil kita bisa bermawas diri, mewaspadai diri, yang akan membuat kita akhirnya, setelah melewati usaha-usaha keras dan penuh disiplin, menjelma sebagai insan yang agung, insan kamil. Dunia dan peradaban dibangun dan dibentuk oleh otak yang penuh, yang konstan bekerja, bukan oleh otak yang kosong dan berhenti bekerja. 

Intermezo saja menjelang akhir tulisan ini: kondisi yang diklaim sebagai “kondisi tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran blank, kosong penuh, yang diklaim dicapai lewat teknik meditasi tertentu, oleh orang beragama yang pernah berdiskusi dengan saya dianggap sebagai kesempatan masuknya setan ke dalam otak yang tidak terjaga! Nah loh. Tentu saja, orang beragama yang berpendapat demikian juga dikondisikan oleh agama mereka saat mereka menyatakan hal yang mengagetkan itu dalam bahasa mitologis. Nothing in the universe is unconditioned! Tentu saja, di dalam zaman modern ini, kekuatan-kekuatan perusak yang dulu dipersonifikasi dalam sosok setan (dan berbagai nama lain), kini dijelaskan dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Kalau dulu di era mitologis penyakit perut dibayangkan ditimbulkan oleh masuknya setan-setan atau roh-roh jahat ke dalam perut, kini sang setannya atau sang roh jahatnya, lewat sains, sudah ditemukan sebagai virus dan bakteri. Kalau pun seorang yang baru mulai latihan meditasi vipassana tiba-tiba “kerasukan setan”, dia bukan kerasukan setan dalam arti harfiah, tetapi karena penyakit mentalnya yang dinamakan Multiple Personality Disorder atau Dissociative Identity Disorder tiba-tiba kambuh!  

Sekali lagi, saat saya menyatakan demikian, saya juga dikondisikan, ya oleh ilmu pengetahuan. Pandangan-pandangan ilmu pengetahuan tentang segala hal dalam alam ini juga dikondisikan oleh bukti-bukti, metode-metode, teori-teori, model-model atau paradigma-paradigma, dan karena terkondisi, ilmu pengetahuan tidak pernah tiba di ujung terjauh. Tidak pernah final, tidak pernah absolut, tetapi terus berubah dan berkembang, sangat dinamis. Karena terkondisi, maka ilmu pengetahuan pun bisa berfungsi kreatif dan konstruktif bagi peradaban manusia selama dunia masih ada. Karena terkondisi juga, pandangan-pandangan ilmu pengetahuan tentang banyak hal akan suatu saat tidak relevan lagi, terbukti keliru, lalu akan digantikan dengan pandangan-pandangan yang lebih baru. Karena kehidupan setiap orang di planet Bumi ini sekarang ini membutuhkan sains dan teknologi modern jika mereka ingin hidup baik dan sehat, maka kehidupan kita semua niscaya terus terkondisi.

Banyak praktisi meditasi dengan tepat melihat bahwa pikiran sama sekali tidak bisa dikosongkan; kita semua hidup terkondisi oleh banyak hal, termasuk juga ketika kita sedang bermeditasi. Dalam meditasi yang diklaim sebagai meditasi tingkat tertinggi sekalipun, pikiran sama sekali tidak pernah bisa dikosongkan, dan, seandainya bisa, memang tidak perlu dikosongkan. Jika seorang praktisi meditasi mengklaim telah “manunggal dengan Tuhan” di dalam puncak meditasinya, klaim ini juga terkondisi, terkondisi oleh teologi mistik yang dipercayainya dan dipercayai komunitasnya. Tidak ada teologi “in vacuum”, yang murni, tidak terkondisi. Tetapi, kendatipun pikiran diakui tidak bisa dikosongkan, mereka tetap mempertahankan frasa “pikiran yang kosong”, tetapi dengan diberi arti bukan harfiah, melainkan metaforis. 

Seorang guru meditasi Vipassana, dan pendiri Vipassana Support International, yang bernama Shinzen Young, mengawali tulisannya yang berjudul “Meditation and Emptying the Mind” dengan kata-kata ini: “Apakah tujuan meditasi adalah untuk mematikan pikiran dan mendapatkan suatu kesenyapan batin atau suatu keadaan tanpa pikiran? Beberapa guru akan menjawab ya dan beberapa lagi akan menjawab pasti bukan itu! Sangat membingungkan...!” Selanjutnya dia menjelaskan berpanjang lebar apa artinya “emptying the mind”, “mengosongkan pikiran”. Menurutnya, “mengosongkan pikiran” adalah “menghancurkan kecanduan orang untuk berpikir atau untuk terpaksa berpikir”. Sesudah kecanduan ini dilenyapkan, “mengosongkan pikiran” berarti menjalankan “proses berpikir yang tidak lagi diserak-serak oleh kekuatan-kekuatan pembuyar”, melainkan terfokus kuat pada satu titik bak “seberkas sinar laser yang koheren dan menembus”. Di saat konsentrasi ini sudah dicapai, maka “mengosongkan pikiran” berarti “berpikir dengan suatu cara yang baru”, yang “spontan dan intuitif”, dan “menjadi bagian dari arus alam yang lembut dan gemulai”, yang akan bermuara pada “suatu keadaan kalem yang siaga”./9/

Lagi, kita temukan, Shinzen Young juga memahami “pikiran yang kosong” tidak secara harfiah, melainkan sebagai sebuah metafora tentang perombakan isi pikiran dan cara berpikir yang lama, diganti dengan isi pikiran dan cara berpikir yang baru: yang terkonsentrasi, yang dicapai dengan spontan, tanpa dipaksa oleh apapun, yang memuat perspektif-perspektif baru, yang akhirnya menimbulkan dampak ketenangan dan kesiagaan batin.

Hemat saya, lebih baik berpendirian seperti Shinzen Young: mengakui bahwa “pikiran yang kosong” adalah kondisi yang tidak mungkin ada, sebagaimana sudah saya argumentasikan di atas; dan, jika frasa “pikiran yang kosong” masih tetap mau dipertahankan, ya frasa ini diberi arti metaforis, bukan arti harfiah.  
 
Jakarta, 2 Agustus 2015 

ioanes rakhmat


Catatan-catatan 

/1/ Sri Chinmoy, “Emptying the Mind”, pada http://www.srichinmoy.org/spirituality/concentration_meditation_contemplation/meditation/the_silent_mind/emptying_the_mind.  

/2/ Darmayasa, “Mengosongkan Pikiran”, Divine Love Society, pada http://www.divine-love-society.org/mengosongkan-pikiran/.

/3/ Susan Perry, “The Bilingual Brain”, Brain Facts, 15 January 2013, pada http://www.brainfacts.org/sensing-thinking-behaving/language/articles/2008/the-bilingual-brain/. Lihat juga Viorica Marian dan Anthony Shook, “The Cognitive Benefit of Being Bilingual”, Cerebrum, 31 October 2012, pada http://dana.org/Cerebrum/2012/The_Cognitive_Benefits_of_Being_Bilingual/.

/4/ Lihat misalnya Ioulia Kovelman, Stephanie A. Baker, Laura-Ann Pettito, “Bilingual and Monolingual Brains Compared: A Functional Magnetic Resonance Imaging Investigation of Syntactic Processing and a Possible ‘Neural Signature’ of Bilingualism”, Journal of Cognitive Neuroscience, January 2008, Vol. 20, No. 1, hlm. 153-169, pada http://www.mitpressjournals.org/doi/abs/10.1162/jocn.2008.20011?#.Vb7NjmC5I8I.

/5/ Susan Perry, “The Bilingual Brain”, Brain Facts, 15 January 2013, pada http://www.brainfacts.org/sensing-thinking-behaving/language/articles/2008/the-bilingual-brain/.

/6/ Ki Bayu Sejati, “Olah Batin dengan Meditasi”, Blog Ki Bayu Sejati, pada https://kibayu.wordpress.com/olah-batin-dengan-meditasi/.

/7/ Barry Gordon, “Why Is It Impossible to Stop Thinking, to Render the Mind a Complete Blank?”, Scientific American, 18 October 2012, pada http://www.scientificamerican.com/article/ask-the-brains-why-impossible-to-stop-thinking/.

/8/ Graham E. Ewing dan S.H. Parvez, “The Dynamic Relationship between Cognition, the Physiological Systems, and Cellular and Molecular Biochemistry: A Systems-based Perspective on the Process of Pathology", Rediviva, 20 April 2010, pada http://www.rediviva.sav.sk/52i1/31.pdf.

/9/ Shinzen Yang, “Emptying the Mind”, Shinzen.org., Meditation in Action, pada http://www.shinzen.org/Articles/artEmptyMind.htm



Wednesday, July 29, 2015

My Poem: An Endless Voyage



Science is an endless voyage to the unknown
Don’t sit at the coffee shop until dawn
Move, move, move to the open air outside
Go, go, go to the seashore at the high tide

Row, row, row your boat into the dark regions
Unfurl the sails wide to make it move fast forward!
Sail, sail, sail into the ever vague harbor ahead
Fear not the high waves and horrible storms

Watch the clouds sailing by across the sky
Watch the seagulls flying over your head to spy
Watch the shining stars in the night heavens
Watch the compass needle showing you directions

Sing, sing, sing sailor songs loudly and gleefully
Let your vibrant voices reach the sky boundlessly
Beat, beat, beat your drums powerfully
Invite the Sun and the Moon to dance briskly

Transcend the known!
Pursue the unknown!
Unravel the mysteries!
Cross the borders!

Discover the medicines to cure all diseases
Find out the methods to reach immortality
Seek out the ways of all beings living prosperously
Build our other homes on other habitable planets

Teach your sons and daughters to love science
Train them to expand their curiosity forever
Make them know other lives exist in infinite space
Assure them they’re far bigger than space ever

Ask your children to paint their blissful faces
On the limitless paper of the canopy of the sky
To write down their own mathematical equations
On the boundless surface of the glittery night sky

Science is a happy journey that knows no finality
From the known to the ever-expanding unknown
You find you know you don’t know very often
Fear not any undecidedness and uncertainty

Even though science knows nothing absolute
And can as well be wrong and inaccurate
It’s already flown and landed humans on the Moon
Sent spacecraft across the solar system of our own

And what are the things religions so far have done?
A little bit of loving and caring of our neighbors
The most they’ve been doing is violence and wars
Though they’ve existed thousands of years on the globe!

Modern science is still very young indeed
It’s been developing since 400 years in the past
Though still young, it’s very powerful in its deed
Leading us to the civilized deed, mind and heart

Science is the shining candle in any murky rooms
Bringing enlightenment into the human gloomy mind
In the hands of great scientists the world around 
It frees humans from blind faith, arrogance and silliness

Silliness knows no limits in all directions
Arrogance shuts the door of the learning houses tightly
Blind faith brutally kills your capacity to grow intellectually 
Intelligence dances in the silent oceans of limitless progress

Let’s sail from one ocean to another unstoppably
Let’s cleave the huge waves fearlessly 
Let’s conquer the horrific storms daringly 
Let’s penetrate the dark nights valiantly

Row, row, row your science boat more speedily
Break through the unknown determinedly
Don’t take a long rest during the long, long voyage
Until you arrive at the place of nowhere of silence

The science harbor is always elusive and vague
As you come nearer in the sailing voyage
Further and further again endlessly it moves
It’s always greater than any gods and goddesses!

Embrace and hug science
Kiss it! Kiss it! Kiss it!
Try its taste and its grace!
Spread it! Spread it! Spread it!



Jakarta, 29 July 2015
Ioanes Rakhmat




Monday, July 20, 2015

Amr Khaled: Dunia berlari ke depan, Islam tetap di belakang!


Televangelis Muslim, Amr Khaled


Presiden Mesir, Abdel-Fattah el-Sisi, dalam bulan Januari 2015 meminta supaya revolusi dilakukan dalam dunia Islam berhubung penafsiran-penafsiran Islam telah sangat jauh ketinggalan zaman. Keadaan ini, katanya, telah membuat dunia Islam “suatu sumber petaka dan kehancuran.”

Sang Presiden meminta para ulama negara dan Universitas Al-Azhar di Kairo (yang sudah berumur 1000 tahun) untuk segera melakukan perubahan dan pembaruan (“tajdeed”) dalam semua segi di dunia Islam. Seruan ini bersambut. Suara-suara yang menyerukan pembaruan terdengar santer di bulan Ramadan 2015 di seluruh tanah Arab. Baru saja, 14 Juli 2015, Presiden el-Sisi menyatakan bahwa “toleransi telah disingkirkan oleh penafsiran-penafsiran ekstrimis atas teks-teks Islam!”

Dalam bulan Ramadan 2015 ini juga, otoritas Urusan Islam Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menyelenggarakan kuliah-kuliah umum yang berakhir Jumat, 17 Juli 2015, dengan melibatkan 300 sarjana Islam yang kebanyakan berasal dari Universitas Al-Azhar, dan dihadiri banyak profesional muda dari berbagai etnis di UEA. Tema perkuliahan ini tentang kontraterorisme. Seorang pakar Muslim yang datang dari Amerika, Sheikh Hamza Yusuf, pendiri Zaytuna College di Berkeley (universitas Islam pertama yang diakreditasi di Amerika Serikat, didirikan 2008), berbicara pada kesempatan itu. Yusuf mengingatkan semua peserta bahwa “sarjana-sarjana Muslim telah tidak memberi tanggapan-tanggapan yang tepat dan cukup cepat terhadap tantangan-tantangan zaman sekarang.” Dia juga mendesak umat Muslim untuk kembali ke inti ajaran Islam, yakni kerahiman dan kerahmanian Allah.

Ketika diwawancarai The Associated Press, Yusuf, 58, dengan memakai sebuah metafora, menyatakan bahwa Islam masa kini adalah sebuah rumah yang telah lama ditelantarkan sehingga perlu cepat direnovasi. Katanya, Keran-keran air rumah ini sudah tidak bekerja lagi. Pipa-pipa ledengnya rusak dan berkarat. Seluruh isi rumah berantakan. Rumah ini sudah ditelantarkan. Sudah ambruk. Anda tidak menghancurkannya. Juga tidak menyingkirkannya. Anda perlu merenovasinya. Karena sudah sangat genting, sejumlah orang mulai terbangun dari tidur mereka, dan berpikir lebih baik kita melakukan sesuatu.  

Dalam rangkaian semangat pembaruan ini yang sedang menyebar di dunia Arab, televangelis Muslim paling tersohor di dunia Arab, Amr Khaled, dalam suatu siaran dakwahnya lewat TV Show di Ramadan 2015 ini, menyatakan, “Kehidupan terus berlari ke depan, tapi pemahaman kita mengenai Islam sudah ketinggalan zaman.” Lanjutnya lagi, Sebagai sebuah masyarakat, kita, para Muslim, tidak menghasilkan apa-apa. Kita tidak bekerja lagi. Kita tidak akan tahu bagaimana mereformasi Islam, kecuali kita melihat dan memahami di mana kehidupan kini berada. Bagaimana anda bisa bertanya apa yang dapat ditawarkan Islam kepada kehidupan di masa kini, sementara anda tidak tahu di mana kehidupan sekarang berada.” 

Anda perlu tahu, oleh majalah The New York Magazine, edisi 30 April 2006, Khaled dijuluki “televangelis Muslim paling berpengaruh dan tersohor di dunia.”

Tajdeed! Tajdeed! Tajdeed! 

Tanpa pembaruan dan perumusan ulang di zaman dan tempat yang sudah berbeda, semua agama hanya akan menjadi museum-museum penyimpan fosil-fosil doktrin purba. Tidak akan menjawab dan fungsional lagi di dunia modern. Akhirnya pasti punah. Ini hukum alam.
 

Sumber
Aya Batrawi, “Muslim Scholars Use Ramadan to Push for an Islamic Renewal”, Associated Press, 16 July 2015, pada http://www.apnewsarchive.com/2015/During-Ramadan-call-for-Islamic-awakening-resonates-with-Muslim-scholars-pushing-for-reform/id-b222c911cbf64b2da544b521c3879da2.

Friday, July 17, 2015

Apa kata sains mutakhir tentang homoseksualitas?

Mereka dipersatukan oleh cinta sejati, tapi kalangan heteroseksual mau memisahkan mereka!


Di bawah ini saya sajikan apa yang saya telah temukan tentang berapa jauh sains sudah berhasil memahami orientasi seksual (OS) manusia, apakah homoseksual, ataukah heteroseksual, ataukah biseksual, atau yang lainnya. Adakah hubungan biologi (genetik, neural/serebral, fisiologis, hormonal, dll.) dengan OS seseorang?

Neurosaintis Simon LeVay di tahun 1991 menemukan bahwa suatu bagian di dalam hypothalamus otak manusia yang berhubungan dengan seksualitas, yang berupa sekumpulan molekul yang berukuran sebesar sebutir padi, yang dikenal sebagai INAH3, ternyata lebih kecil dalam diri kalangan gay dibandingkan dalam diri kalangan pria heteroseksual. Dalam diri lelaki heteroseksual, INAH3 lebih besar lebih dari dua kali lipat dibandingkan dalam diri gay. Saya kutipkan abstrak dari temuannya yang telah dilaporkan dalam jurnal Science tahun 1991, berikut ini.
“Hypothalamus anterior dalam otak ikut berperan dalam mengatur perilaku seksual yang tipikal lelaki. Isi empat grup dalam area otak ini (dinamakan Interstitial Nuclei of the Anterior Hypothalamus, atau INAH 1,2,3 dan 4) telah diukur dalam jejaring pascakematian dari tiga kelompok subjek: perempuan, lelaki yang diasumsikan heteroseksual, dan homoseksual. Tidak ada perbedaan yang telah ditemukan di antara kelompok dalam volume INAH 1,2, atau 4. Sebagaimana sebelumnya telah dilaporkan [oleh Laura Allen dkk dari UCLA], INAH3 lebih besar lebih dari dua kali lipat dalam diri heteroseksual pria dibandingkan heteroseksual wanita. Namun, INAH3 juga lebih besar dari dua kali lipat dalam diri lelaki heteroseksual dibandingkan lelaki homoseksual. Penemuan ini menunjukkan bahwa INAH3 bersifat dimorfik terhadap orientasi seksual, setidaknya dalam diri lelaki, dan menyarankan bahwa orientasi seksual memiliki suatu substrat biologis.”/1/
Selanjutnya, di tahun 1993, LeVay menerbitkan bukunya yang berisi kajian-kajian terhadap seksualitas manusia, yang diberi judul The Sexual Brain. Ini sebuah buku yang sangat bagus. Dalam web The MIT Press, pada Overview atas buku ini, ditulis hal berikut ini. 
The Sexual Brain mencakup kajian-kajian yang luas, antara lain teori evolusioner, genetika molekuler, endokrinologi, fungsi dan struktur otak, psikologi kognitif, dan perkembangan. Semua disiplin ilmu ini disatukan oleh tesis LeVay bahwa perilaku seksual manusia, dalam semua keanekaragamannya, berakar pada mekanisme-mekanisme biologis yang dapat dieksplorasi oleh sains laboratorium. Buku ini tidak menghindari kompleksitas bidang kajian ini, tetapi dapat langsung dihargai dan dinikmati oleh siapapun yang memiliki minat dan perhatian yang cerdas terhadap seks.”/2/ 
Dalam pendahuluan buku ini, LeVay menyatakan bahwa tujuan penulisannya adalah 
“untuk fokus lebih persis lagi pada mekanisme-mekanisme otak yang bertanggungjawab bagi perilaku dan perasaan-perasaan seksual. Berhubung ada banyak perbedaan individual yang mencolok dalam seksualitas―paling kentara di antara pria dan wanita, tapi juga di antara individu-individu sesama jenis seks―salah satu perhatian besar buku ini adalah mencari basis biologis bagi keanekaragaman ini. …, dan memahami seks dari sudut proses-proses selular yang memunculkannya.”/3/ 
Tesis-tesis yang diajukan LeVay semuanya diuji berdasarkan bukti-bukti empiris yang dapat disediakannya baik dari bidang keahliannya sendiri maupun dari bidang-bidang lain. Karena pendekatannya yang empiris dan klinis ini, patutlah dia mengkritik pendapat-pendapat Sigmund Freud tentang seksualitas manusia. Tulisnya dengan nada yang tajam: 
“Berhubung saya telah terlatih di dalam menggunakan metode-metode sains, saya makin skeptik bahwa ada hal apapun yang saintifik dalam ide-ide Freud tentang seksualitas meskipun dia berulang-ulang menegaskan bahwa semua pendapatnya saintifik. Dan akhirnya, berbagai temuan telah dihasilkan dalam area biologi seksual yang semuanya menunjuk ke segala arah yang baru dan menggairahkan. Freudianisme, pada sisi lain, kelihatan telah menjadi sebuah dogma yang terfosilisasi dan tidak dapat digoyahkan lagi.”/4/
Dalam bukunya ini, kembali dia membeberkan penemuannya di tahun 1991 atas INAH3. Ada dua temuan yang sudah dihasilkannya: 
  • Pertama, INAH3 rata-rata dua sampai tiga kali lipat lebih besar dalam diri lelaki heteroseksual dibandingkan perempuan heteroseksual. Temuan ini mengonfirmasi temuan sebelumnya oleh Laura Allen dkk dari UCLA. 
  • Kedua, dalam diri gay, INAH 3 rata-rata lebih kecil dua sampai tiga kali lipat dibandingkan dalam diri lelaki heteroseksual./5/    
Apakah LeVay menyangkal bahwa faktor genetik ikut membentuk orientasi seksual manusia?
LeVay di halaman 122 bukunya yang terbit 1993 menulis sesuatu yang bagian-bagiannya kerap dikutip orang dengan keluar dari konteks seluruh isi bukunya untuk mendalihkan bahwa sang neurosaintis ini tidak membuktikan bahwa homoseksualitas itu genetik. 

Saya perlu ingatkan bahwa LeVay bekerja sebagai seorang neurosaintis, bukan sebagai seorang genetisis meskipun dia juga memanfaatkan banyak aspek dari genetika dalam bukunya ini. Yang dia telah tunjukkan adalah bagaimana neurosains telah bisa memperlihatkan bahwa homoseksualitas itu sesuatu yang bersifat serebral, terhubung dengan ukuran bagian tertentu struktur hypothalamus dalam otak manusia. Untuk temuannya ini dapat berstatus konklusif, itupun, katanya, harus menunggu dua sampai tiga dasawarsa ke depan (sejak 1993) ketika teknologi pemindaian (scanning technology) terhadap otak manusia yang hidup sudah berkembang dengan canggih. Di bagian-bagian lain dari bukunya ini LeVay sama sekali tidak pernah menolak kemungkinan yang serius bahwa orientasi seksual seseorang juga genetik, sebagaimana segera akan juga saya tunjukkan. Cuma, di awal 1990-an pembuktian klinis tentang aspek genetik orientasi seksual manusia belum dimungkinkan. Pada kesempatan ini, saya merasa terbeban betul untuk menerjemahkan isi halaman 122 bukunya itu selengkapnya. Berikut ini. Bacalah dengan seksama./6/ 
“Bagi banyak orang, menemukan suatu perbedaan dalam struktur otak di antara kalangan gay dan kalangan lesbian sama dengan telah membuktikan bahwa para homoseksual ‘sejak lahir memang telah homoseksual’. Seringkali aku digambarkan sebagai orang yang ‘telah membuktikan bahwa homoseksualitas itu genetik’ atau semacam itulah. Aku belum membuktikan itu. Observasi saya dilakukan hanya pada orang-orang dewasa yang telah aktif secara seksual untuk kurun yang lama. Jika berdasarkan hanya pada observasi saya, maka tidaklah mungkin untuk menyatakan apakah perbedaan-perbedaan struktural otak sudah ada ketika orang dilahirkan, dan kemudian mempengaruhi mereka untuk menjadi gay atau heteroseksual, atau apakah perbedaan-perbedaan itu timbul saat mereka telah dewasa sebagai suatu akibat dari perilaku seksual mereka.
Dalam mempertimbangkan mana dari interpretasi-interpretasi ini yang lebih mungkin, baiklah kita kembali ke riset tentang hewan yang sudah dibicarakan dalam bab-bab sebelumnya. Sebagaimana sudah dibentangkan dalam bab 10, nukleus yang secara seksual dimorfik, yang terdapat di area preoptik medial pada tikus-tikus (yang dapat atau tidak dapat sejalan dengan INAH3 pada manusia), sangatlah rentan untuk mengalami perubahan selama masa kritis yang berlangsung beberapa hari sebelum dan setelah kelahiran seekor anak tikus. Setelah masa ini dilewati, nukleus ini sulit untuk berubah dengan cara apapun. Bahkan mengebiri tikus-tikus dewasa (dengan akibat menghilangkan sumber androgen tikus dan sangat melumpuhkan perilaku seksual si tikus) paling banter hanya menimbulkan sedikit efek pada ukuran nukleus itu. Jika hal yang sama terjadi pada INAH3 dalam diri manusia, maka tampaknya mungkin bahwa perbedaan-perbedaan struktural di antara orang homoseksual dan orang heteroseksual muncul selama periode awal terjadinya diferensiasi seksual pada hypothalamus. Jika kondisinya demikian, maka adalah mungkin perbedaan-perbedaan ini berperan dalam menentukan orientasi seksual seseorang. Namun kita juga tidak dapat menyingkirkan kemungkinan bahwa dalam diri manusia yang memiliki masa kehidupan lebih panjang dan korteks serebral yang telah berkembang lebih baik, perubahan-perubahan yang sangat kentara dalam ukuran INAH3 dapat terjadi sebagai suatu akibat dari perilaku saat sudah dewasa.
Nah, tentu saja eksperimen yang ideal adalah mengukur besarnya INAH3 pada bayi-bayi yang baru dilahirkan dengan menggunakan teknik-teknik pemindaian, lalu menunggu sampai mereka mencapai usia dewasa 20 tahun untuk menyelidiki orientasi seksual mereka. Jika ukuran nukleus tersebut pada waktu kelahiran sedikit banyak memprediksi orientasi seksual dasariah seseorang, maka para ahli dapat berargumentasi dengan lebih kuat bahwa ukuran nukleus dapat berperan sebagai suatu penyebab orientasi seksual seseorang. Eksperimen ini tidak dimungkinkan setidaknya untuk waktu sekarang ini, berhubung teknik-teknik pemindaian yang mampu menghasilkan gambar-gambar INAH3 dalam diri orang yang masih hidup masih belum ada.” 
Itulah ilmu pengetahuan dan cara-cara kerjanya. Bersamaan dengan makin berkembangnya instrumen-instrumen penelitian, temuan-temuan lama pun akan makin teruji, bisa terverifikasi makin kuat, bisa juga terfalsifikasi. Pandangan-pandangan saintifik lama pun akan terus mengalami pengujian kembali, dus akan juga pada saatnya berganti. Sains itu dibangun di atas pundak sangat banyak generasi para saintis, bahu-membahu, yang memungkinkan para saintis makin luas memandang horison-horison masa depan kehidupan. OK, bagaimana, apakah LeVay memandang ada peran faktor genetik dalam penentuan seksualitas manusia? Atau dia sama sekali menafikannya? Apakah gen-gen mempengaruhi pembentukan orientasi seksual seseorang? Dalam pendahuluan bukunya, dia menyatakan bahwa
“Berdasarkan penemuan-penemuan ini dan penemuan-penemuan dari para peneliti lainnya, tampaklah masuk akal untuk bertanya apakah perbedaan-perbedaan bawaan kelahiran di dalam organisasi otak, setidaknya sebagian darinya berada di bawah kendali genetik, tidak dapat menjadi basis keanekaragaman di dalam fungsi-fungsi mental dalam diri manusia, termasuk fungsi-fungsi mental yang terkait dengan seks.”/7/
Dalam bab terpanjang bukunya, bab 12, yang membeberkan panjang lebar analisis-analisisnya terhadap orientasi seksual, LeVay pada bagian kesimpulannya menyatakan bahwa 
“Sebagai rangkuman, aku harus menegaskan, pertama, bahwa faktor-faktor yang menentukan apakah seseorang akan menjadi heteroseksual, biseksual atau homoseksual, masih banyak yang belum diketahui. Namun kita sudah mendapatkan petunjuk-petunjuk bahwa orientasi seksual seseorang dengan sangat kuat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian selama masa-masa perkembangan dini otak ketika otak sedang membuat pembedaan-pembedaan seksualitas yang berlangsung di bawah pengaruh molekul-molekul hormon-hormon seks (gonadal steroids).”/8/ 
Jadi, baginya, orientasi seksual berhubungan dengan pertumbuhan otak manusia dan hormon-hormon seks. Alih-alih menolak adanya faktor genetik yang membentuk orientasi seksual seseorang, LeVay mengambil posisi adanya interaksi antara faktor genetik (nature) dan faktor lingkungan kehidupan dan kebudayaan manusia (nurture) yang membentuk perilaku seksual orang dewasa. Dengan jelas, LeVay menyatakan bahwa keadaan-keadaan pikiran manusia yang ditentukan masyarakat dan yang paling remang-remang sekalipun adalah suatu perkara gen-gen dan kimia otak juga.”/9/ Perhatikan pernyataan-pernyataan lainnya berikut ini.
“Aku tidak tahu―dan juga orang lain manapun―apa yang membuat seseorang itu gay, biseksual atau heteroseksual. Tetapi aku sungguh percaya bahwa jawaban atas pertanyaan ini akan akhirnya ditemukan dengan melakukan riset biologi di laboratorium, dan bukan cuma membicarakan topik ini, yang merupakan cara umum yang kebanyakan orang telah lakukan hingga sekarang ini. … Mempercayai suatu penjelasan biologis terhadap orientasi seksual tidaklah sama dengan menegaskan bahwa bahwa orientasi seksual itu bawaan kelahiran atau ditentukan secara genetik. Seluruh kehidupan mental kita melibatkan proses-proses biologis. …Baik faktor bawaan kelahiran maupun faktor lingkungan kehidupan mempengaruhi kita dengan mempengaruhi struktur anatomis atau kimiawi otak./10/ 
Juga ini, yang ditulisnya pada bagian epilog bukunya itu (yang diberinya judul “Two Artificial Gods”): 
“Sangatlah mungkin bahwa pengalaman kehidupan memainkan peran signifikan dalam membentuk dan menghasilkan detail-detail dorongan seksual seseorang. Namun di sini pun potensi-potensi bagi perbedaan-perbedaan bawaan kelahiran harus tidak diabaikan. Kita tahu, misalnya, bahwa pilihan-pilihan atas makanan kita dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik; jadi, tidak ada alasan mengapa hal yang sama harus tidak terjadi juga pada pilihan-pilihan kehidupan seksual kita. Pastilah masa depan akan membawa kemajuan-kemajuan besar dalam pemahaman kita tentang mekanisme-mekanisme dan perkembangan seksualitas. Bidang yang paling memberi harapan untuk dieksplorasi adalah mengenali dan menemukan gen-gen yang mempengaruhi perilaku seksual dan studi-studi tentang kapan, di mana dan bagaimana gen-gen ini memberi efek-efek.”/11/  
Bahkan LeVay juga berbicara tentang “gen-gen gay” (gay genes) dari sudut pandang evolusioner “survival of the fittest” dan “the struggle for life” dalam konteks reproduksi organisme versus kepunahan suatu populasi. Tulisnya, 
“Kondisi homozygous [yakni kondisi adanya versi-versi seragam dari sebuah gen pada dua anggota dari sepasang kromosom] hanyalah suatu produk sampingan yang tidak diinginkan, yang muncul pada beberapa keturunan pasangan yang kawin di antara individu-individu heterozygous [yakni, yang gen-nya memiliki versi-versi yang berbeda dalam dua anggota dari sepasang kromosom]. Hal yang sama dapat terjadi pada gen gay: Suatu gen gay dapat terpelihara di dalam suatu populasi berhubung individu-individu heterozygous, selain tidak menjadi seorang gay, memiliki suatu keuntungan lain yang menyempurnakan sukses reproduksinya. Suatu kemungkinan lain yang terakhir adalah bahwa gen-gen gay, dilihat dari sukses reproduksi, sebetulnya merupakan gen-gen yang berbahaya, dan karenanya cenderung tereliminasi dari populasi; tetapi untuk beberapa alasan gen-gen varian diciptakan kembali dengan sangat cepat sehingga gen-gen yang tereliminasi digantikan dengan gen-gen yang baru.”/12/ 
Tetapi pada masa kini, kita tidak dapat lagi memandang gen-gen gay sebagai gen-gen yang akan memunahkan kehidupan manusia karena ketidakmampuan para homoseksual untuk menghasilkan keturunan mereka sendiri. Mari kita tengok sebuah temuan lain dalam dunia sains yang sangat mencengangkan. Suatu tim ilmuwan dari Universitas Cambridge, Inggris, dan Weizmann Institute of Science, Israel, belum lama ini telah berhasil menemukan sebuah teknik genetika untuk menghasilkan bayi manusia dari sel-sel kulit orangtua si bayi dengan menggunakan gen yang dinamakan SOX17. Gen SOX17 digunakan untuk memprogram ulang sel-sel kulit manusia untuk menjadi “sel-sel germ primordial” (“Primordial Germ Cells”, atau PGCs, yakni sel-sel pendahulu telur dan sel-sel sperma), yang kemudian akan berkembang menjadi janin-janin manusia. Proses ini dapat dijalankan untuk memberikan bayi-bayi baik bagi pasangan heteroseksual yang mandul maupun, tentu saja, bagi pasangan homoseksual. Selain itu, teknik mutakhir reproduksi ini juga dapat menghilangkan mutasi-mutasi epigenetik yang menyebabkan terjadinya kesalahan-kesalahan pada sel-sel tubuh manusia ketika orang mulai menua, yakni dengan cara menyetel ulang dan meregenerasi sel-sel yang sudah tua./13/ Mungkin LeVay perlu diberitahu tentang teknik genetika mutakhir ini yang dapat digunakan untuk memberi keturunan sendiri kepada para homoseksual. 

Di tahun 2011 LeVay menerbitkan sebuah bukunya lagi, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation. LeVay juga menemukan bahwa otak gay bukan saja tampak berbeda dari otak heteroseksual, tapi juga berfungsi berbeda. LeVay juga menemukan bahwa pembawaan-pembawaan psikologis yang berbeda pada gay biasanya begitu rupa sehingga gay dapat bergeser ke OS lain jika dibandingkan dengan individu-individu heteroseksual dari jenis mereka sendiri. Tulis LeVay, “Sukar untuk menjelaskan pergeseran ini hanya sebagai akibat dari kondisi sebagai gay saja. Sangat mungkin pergerseran OS kalangan gay ini menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan dalam perkembangan seksual dini dalam otak, perbedaan-perbedaan yang berpengaruh pada satu ‘paket’ pembawaan-pembawaan psikologis gender, termasuk OS.”/14/ Dari fakta-fakta neural ini LeVay menyimpulkan bahwa ada proses-proses biologis yang terlibat dalam perkembangan otak yang berpengaruh pada orientasi seksual seseorang. 

Bukankah mereka berdua tampak sangat serasi dan damai?

Setelah LeVay menulis makalah ilmiah perdananya yang terbit di jurnal Science, di tahun berikutnya, 1992, tim peneliti dari UCLA menemukan suatu bagian lain dalam otak yang berhubungan dengan seksualitas (yakni “midsagittal plane of the anterior commissure”), yang ukurannya 18% lebih besar pada diri kalangan gay dibandingkan kalangan perempuan heteroseksual dan 34% lebih besar dibandingkan kalangan pria heteroseksual. Perbedaan-perbedaan anatomis ini, yang berhubungan dengan gender dan OS, sebagian melandasi perbedaan-perbedaan dalam fungsi kognitif dan lateralisasi serebral [pembagian dan ketidakseimbangan fungsi-fungsi bagian otak kanan dan bagian otak kiri] di antara kalangan gay, pria heteroseksual dan perempuan heteroseksual./15/

Di tahun 1993, suatu kajian yang tidak terlalu besar (terdiri atas 38 pasangan gay bersaudara) yang dilakukan Dean Hamer menemukan adanya suatu hubungan OS dengan suatu bagian kromosom X yang dinamakan Xq28, yang dapat membentuk kecondongan OS seseorang ke homoseksualitas. Tetapi sejak itu, pencarian “gen gay” masih terus berlangsung. Suatu kajian yang jauh lebih besar (mencakup 409 pasangan gay bersaudara) yang dilakukan tahun 2004 oleh psikolog J. Michael Bailey dan psikiatris Alan R. Sanders tiba pada kesimpulan yang sama: ada hubungan antara Xq28 dan suatu bagian dari kromosom 8. Di lain pihak, teknik menemukan “hubungan genetik” antara gen dan homoseksualitas kini mulai beralih ke pendekatan yang lebih luas, yang dinamakan “Asosiasi Luas Genom”, atau “Genome-Wide Association” (atau GWA) untuk menemukan “gen spesifik” yang berhubungan dengan homoseksualitas dalam suatu populasi./16/


Kondisi lingkungan dalam rahim juga dipikirkan berperan penting dalam membentuk OS, sebab sebagian faktor yang menentukan perkembangan suatu janin adalah peringkat dan campuran hormon-hormon yang melingkungi setiap janin selama masa kehamilan. Di tahun 2006, psikolog Anthony Bogaert dari Universitas Brock di Kanada menyelidiki fenomena yang tidak pernah dapat dijelaskan, yakni fenomena urutan kelahiran yang kelihatannya ikut membentuk seksualitas: pria gay cenderung memiliki lebih banyak kakak lelaki ketimbang pria heteroseksual. Dengan menggunakan sejumlah 944 pria homoseksual dan heteroseksual sebagai sampel, Bogaert menemukan fakta-fakta ini: seorang anak sulung pria memiliki 3% peluang untuk menjadi gay, dan persentase ini naik 1% untuk setiap anak lelaki berikutnya sampai menjadi dua kali lipat (yakni 6%) pada anak lelaki keempat. 

Mungkin sekali keadaan yang dibentuk oleh urutan kelahiran ini melibatkan juga sistem kekebalan tubuh sang ibu. Setiap bayi, lelaki atau perempuan, mula-mula diperlakukan sebagai sosok penyerbu yang masuk ke dalam tubuh sang ibu. Beranekaragam mekanisme bekerja otomatis untuk mencegah sistem tubuhnya menolak si janin dalam kandungannya. Bayi-bayi lelaki, dengan protein-protein lelaki mereka, dipersepsi sedikit lebih asing ketimbang bayi-bayi perempuan; akibatnya, tubuh sang ibu memproduksi lebih banyak antibodi khusus gender untuk melawan bayi-bayi lelaki itu. Setelah melewati banyak kali kelahiran bayi-bayi lelaki, rahim sang ibu menjadi lebih “terfeminisasi”, dan kondisi ini dapat membentuk seksualitas./17/

Selain itu, panjang jari juga menunjukkan seksualitas manusia dibentuk oleh biologi. Telunjuk para pria heteroseksual kentara lebih pendek dibandingkan jari tengah mereka. Jari telunjuk dan jari tengah perempuan heteroseksual nyaris sama panjang. Jari seorang lesbian seringkali sama panjang dengan jari lelaki heteroseksual. Keadaan-keadaan ini telah lama secara informal diamati, tetapi suatu kajian yang dilakukan tahun 2000 di Universitas of California, Berkeley, tampak membenarkan pengamatan ini.  


Kalangan lesbian juga tampak memiliki perbedaan-perbedaan pada bagian dalam telinga mereka, di tempat-tempat yang sebenarnya tidak dimungkinkan. Dalam diri semua orang, suara bukan hanya masuk tetapi juga meninggalkan telinga dalam bentuk yang dikenal sebagai emisi otoakustik, yakni getaran-getaran yang muncul dari interaksi kokhlea dan tambur telinga, dan getaran-getaran ini dapat dideteksi oleh instrumen-instrumen. Perempuan heteroseksual cenderung memiliki frekuensi emisi otoakustik yang lebih tinggi dibandingkan lelaki heteroseksual, tetapi para lesbian tidak. 

Kajian-kajian lain telah mengeksplorasi adanya suatu hubungan antara homoseksualitas dan kebiasaan bertangan kidal. Pria gay lebih mungkin kidal atau memakai kedua belah tangannya. Diusulkan ada tiga faktor yang mungkin menghubungkan orentasi seksual dengan kidal atau bukan-kidal, yakni: lateralitas serebral dan hormon-hormon seks yang mempengaruhi janin-janin; reaksi-reaksi imunologis sang ibu terhadap janin-janin; ketidakstabilan perkembangan janin-janin. Penelitian kebiasaan bertangan kidal atau tidak, dan hubungan kondisi ini dengan homoseksualitas, telah dilakukan oleh suatu tim yang menggunakan metaanalisis terhadap 20 studi yang membandingkan peringkat kidal pada 6.987 homoseksual (6.182 gay, dan 805 lesbi) dan 16.423 heteroseksual (14.808 pria dan 1.615 wanita)./18/

Tentang kebiasaan kidal pada kalangan homoseksual, LeVay menyatakan bahwa kecenderungan lesbian dan gay untuk kurang konsisten memakai tangan kanan dibandingkan heteroseksual menyarankan bahwa fungsi serebral otak mereka dapat kurang kuat terlaterisasi. Faktanya, ada sejumah bukti langsung untuk mendukung ide bahwa fungsi-fungsi serebral kalangan gay lebih simetrik terdistribusi ke kawasan kanan dan kawasan kiri otak dibandingkan keadaannya pada kalangan heteroseksual. McCormick dkk telah menyarankan bahwa kidal terjadi karena peringkat hormon seks androgen yang luar biasa tinggi dalam janin-janin perempuan, tetapi luar biasa rendah dalam janin-janin lelaki./19/     

Selain itu, ditemukan bahwa rambut pada bagian mahkota kepala pria gay cenderung tumbuh berlawanan arah dengan gerak jarum jam. Tetapi belum ada kesepakatan bulat mengenai hubungan gelungan rambut alamiah pada seksualitas./20/

Jelas, genetika atau biologi adalah faktor kuat dalam memunculkan OS manusia, termasuk manusia homoseksual. Ini fakta yang tidak boleh disangkal atas nama doktrin agama atau ideologi apapun. Jika OS itu genetik atau biologis, itu artinya jika seseorang menjadi homoseksual, kondisi OS-nya ini berada di luar kekuasaannya untuk menolaknya, sama seperti seseorang tidak bisa menolak apakah akan dilahirkan sebagai lelaki ataukah sebagai perempuan. Dalam bahasa keagamaantentunya para agamawan yang kebanyakan membenci LGBT bisa memahamikita katakan bahwa seseorang menjadi homoseksual adalah karena
takdir ilahi, yang dia tidak bisa tolak atau lawan sejak sebagai janin. Jadi, membenci LGBT pasti tidak dikehendaki Tuhan Allah, sang Pencipta mahabesar, al-Rahman dan al-Rahim. Kebencian apapun tidak sejalan dengan kerahiman dan kerahmanian Allah.

Tetapi, tentu saja, genetika atau biologi bukan segala-galanya yang membentuk jatidiri seksual anda. Semua aspek kehidupan kita tidak hanya genetis atau biologis (nature), tetapi juga dibentuk oleh pendidikan dan pengasuhan (nurture), lingkungan sosial kita hidup sehari-hari (social life environment), kebudayaan kita, kondisi ekologis, gaya hidup, dan tentu saja teknologi. Kemauan gen tidak otomatis akan menjadi terwujud. Semua faktor ini berinteraksi, ada yang berpengaruh sangat kuat dan ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang lemah. LeVay sangat kuat menekankan interaksi berbagai faktor ini. Kelly Servick dengan tepat menyatakan bahwa “Setiap kecondongan pembawaan genetik mungkin sekali berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan kehidupan yang mempengaruhi perkembangan suatu orientasi seksual.”/21/ Tidak ada lingkungan kehidupan yang statis, tanpa gerak dan perubahan lagi.

Karena itu, saya memandang, seksualitas manusia juga dinamis, bukan sesuatu yang sudah jadi dan final begitu dilahirkan hingga ajal, sama halnya dengan segi-segi lain dari diri kita, misalnya kecerdasan dan kearifan, kematangan emosional, serta bentuk tubuh dan perawakan. Oleh teknologi, tubuh dan perawakan serta penampilan kita (mau sexy, jantan, atau biasa-biasa saja) dapat dibentuk. Begitu juga gen-gen kita sekarang sudah dapat direkayasa, di-edit, dimodifikasi, lewat teknik mutakhir yang dinamakan “DNA-editing” (CRISPR-Cas9), untuk menghasilkan spesies homo sapiens yang berpenampilan lain, makin cerdas dan makin kuat, bahkan sejak masih sebagai janin-janin. Dalam dunia dan jagat raya ini, segalanya mengalir, impermanen, berubah. Tanpa perubahan, sesuatu akan mati. Definisi-definisi lama kita tentang seksualitas manusia juga berubah. Perubahan dalam zaman modern kini ibarat sebuah kereta listrik magnetik supercepat yang sedang melesat ke depan. Jika anda mau menghambat atau menghentikan perubahan, anda akan digilas habis dan lumat oleh kereta perubahan ini. Menghadapi berbagai perubahan apapun yang ditimbulkan oleh sains modern, anda harus pertama membuka diri, kemudian memahami betul-betul perubahan-perubahan yang sedang terjadi, lalu memberi tanggapan teduh, positif, pro-aktif, cerdas, terpelajar, dan kritis.
 

Saya kutipkan kesimpulan Simon LeVay tentang orientasi seksual. Tulisnya, “Orientasi seksual adalah suatu aspek yang cukup stabil dari kodrat manusia, dan bahwa kalangan heteroseksual, gay dan biseksual telah ada di semua kebudayaan. Hal ini menyarankan bahwa faktor-faktor biologis yang umum terdapat di seluruh umat manusia dapat bertanggungjawab bagi kemunculan individu-individu yang memiliki OS berbeda-beda. Namun kita perlu juga berpikir berbeda tentang OS dalam diri pria dan wanita, dan bahwa faktor-faktor kultural juga berpengaruh besar pada bagaimana homoseksualitas diekspresikan dalam masyarakat-masyarakat yang berlainan dan di sepanjang sejarah manusia. Dengan kata lain, penjelasan-penjelasan berbasis ide-ide biologis tentang OS manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan juga, tidak seperti yang kita harapkan.”/22/

Saya juga mau ingatkan bahwa dalam bab terakhir bukunya, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation, LeVay mengusulkan segi-segi lain dari seksualitas manusia, khususnya OS homoseksual, yang perlu diteliti dalam kajian-kajian mendatang. Ini adalah sebuah sikap ilmiah tulen, sikap yang tidak melihat temuan-temuan ilmiah sendiri apapun sudah final, yang tidak menyisakan segi-segi lain yang harus diteliti lebih lanjut. Tidak ada sains yang sudah final. Sains selalu membutuhkan penyelidikan lebih lanjut, yang bisa menfalsifikasi temuan-temuan sebelumnya atau malah memperkuat. Sejauh ini, LeVay menemukan semua temuan kajian OS homoseksual sebelumnya valid, terverifikasi. Meskipun demikian, sebagai sains, kajian-kajian tentang homoseksualitas tidak akan berhenti, kapanpun juga.
Salah satu bidang yang kini paling menantang dalam kajian terhadap seksualitas manusia adalah menemukan gen-gen homoseksual, seperti yang diharapkan LeVay. Penemuan bagian Xq28 dari kromosom X pasti akan disusul dengan temuan-temuan lain yang lebih revolusioner, antara lain lewat teknik GWA yang sudah disinggung di atas.

Sikap dan posisi para saintis sangat berbeda dari sikap para agamawan dan hakikat agama. Agama dan para agamawan memandang semua pengetahuan kuno manusia di era pra-modern dan pra-ilmiah tentang seksualitas, yang masuk ke dalam kitab-kitab suci zaman dulu, sudah final dan benar mutlak. Ketika mereka diminta untuk memberi bukti-bukti atas klaim mutlak-mutlakan mereka ini, mereka selalu mengelak dengan menjawab, “Wah, itu semua wahyu Allah yang pasti tidak bisa salah.” Betulkah? Ya, betul, sejauh hanya sebagai asumsi-asumsi belaka tanpa pembuktian empiris klinis apapun. Jika sikap yang semacam ini dipertahankan, maka jelaslah mereka tidak akan pernah bisa membicarakan orientasi seksual manusia dalam ranah ilmu pengetahuan, kapan pun juga.


Begitu juga, jika seseorang yang sudah menjalani studi panjang dalam dunia sains, lalu telah lulus menjadi seorang doktor, tetapi, setelah itu, semua pikirannya masih dikendalikan mutlak oleh agamanya, maka dia akhirnya akan berubah juga menjadi seorang pseudo-saintis, alias saintis gadungan. Dan sebagai pseudo-saintis, dia akan mempelintir sains apapun untuk dicocok-cocokkan dengan kemauan agamanya. Untuk orang yang semacam ini, temuan-temuan sains modern tentang homoseksualitas pun akan dengan segala cara berusaha dia telikung di sana-sini, dan akhirnya dia akan abaikan sama sekali, atau dia kabarkan ke mana-mana bahwa pandangan-pandangan saintifik tentang orientasi seksual semuanya salah.
 

Jakarta, 17-7-2015
Update mutakhir 19-7-2015


Salam,

ioanes rakhmat

P.S. Silakan share seluas-luasnya tanpa perlu minta izin lebih dulu. Ilmu pengetahuan itu milik dunia. Jika ada teman-teman yang kebetulan menjumpai kajian-kajian mutakhir lainnya tentang OS, saya meminta link-linknya diberikan ke saya untuk saya tambahkan pada daftar di atas. Thanks.



Rujukan-rujukan

/1/ Simon LeVay, “A Difference in Hypothalamic Structure between Homosexual and Heterosexual Men”, Science, Vol. 253, No. 5023, 30 August 1991, hlm. 1034-1037, pada http://www.sciencemag.org/content/253/5023/1034.abstract.


/2/ Sumber https://mitpress.mit.edu/books/sexual-brain.

/3/ Simon LeVay, The Sexual Brain (Cambridge/London, MA/UK: MIT Press1993,1994), hlm. xi-xii. 

/4/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. xiii-xiv.

/5/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 120-121.

/6/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 122. 

/7/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. xiv.

/8/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm.129.  

/9/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. xiv-xv.

/10/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 108-109. 

/11/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 137.

/12/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 129.

/13/ Untuk makalah ilmiah penemuan ini, lihat M. Azim Surani, Naoko Irie, Leehee Weinberger, et al., “SOX17 Is a Critical Specifier of Human Primordial Germ Cell Fate, Cell, Vol. 160, Issues 1-2, 15 January 2015, hlm. 253-268, pada http://www.cell.com/cell/abstract/S0092-8674%2814%2901583-9; lihat reportase populer BBC Crew, “Two-dad babies could soon be a reality: Scientists have made human egg and sperm cells using skin from adults of the same sex”, Science Alert, 25 February 2015, pada http://www.sciencealert.com/two-dad-babies-could-soon-be-a-reality.

/14/ Simon LeVay, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2011).

/15/ Laura S. Allen dan Roger A. Gorski, “Sexual Orientation and the Size of the Anterior Commissure in the Human Brain”, The Proceedings of the National Academy of Science, USA, Vol. 89, August 1992, hlm. 7199-7202, pada https://timedotcom.files.wordpress.com/2015/03/7199.full.pdf

/16/ Lihat kolom Kelly Servick, “Study of gay brothers may confirm X chromosome link to homosexuality”, Science, 17 November 2014, pada http://news.sciencemag.org/biology/2014/11/study-gay-brothers-may-confirm-x-chromosome-link-homosexuality. Untuk makalah ilmiah kajian ini, lihat J.M. Bailey, Alan R. Sanders, E.R. Martin, et al., “Genome-Wide Scan Demonstrates Significant Linkage for Male Sexual Orientation”, Psychological Medicine, Vol. 45, Issue 07, May 2015, hlm. 1379-1388, pada http://journals.cambridge.org/action/displayAbstract?fromPage=online&aid=9625997&fileId=S0033291714002451

/17/ Lihat bab 10 buku LeVay, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2011).

/18/ Lihat Lalumière ML, Blanchard R, Zucker KJ, “Sexual orientation and handedness in men and women: A meta-analysis”, NCBI. Psychological Bulletin, July 2000, No. 126 (4), hlm. 575-592, pada http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10900997.

/19/
Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 118.

/20/ Lihat Rahman Q, Clarke K, Morera T, “Hair whorl direction and sexual orientation in human males”, NCBI. Behavioral Neuroscience, April 2009, No. 123 (2), hlm. 252-258, pada http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19331448.

/21/  Kelly Servick, “Study of gay brothers may confirm X chromosome link to homosexuality”, Science, 17 November 2014, pada http://news.sciencemag.org/biology/2014/11/study-gay-brothers-may-confirm-x-chromosome-link-homosexuality.


/22/ Simon LeVay, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation, hlm. xii.