Monday, January 12, 2015

The Deity That Weeps


Look! Our Great Mother is weeping now!
Let us console the heart of our Great Mother!
Let us together wipe Her tears now!
Let us make Her cry no longer!
 


Know that She cannot be angry!
She cannot be rude!
She cannot be impure!
She cannot be nasty!


She cannot hate!
She cannot intimidate!
She cannot terrorize!
She cannot annihilate!


She cannot wage war!
She cannot slaughter!
She cannot shoot!
She cannot loot!


She cannot draw a sword!
She cannot make anybody scared!
She cannot seize anybody’s land!
She cannot make anybody enslaved! 


She cannot send anybody to hell!
She cannot be cruel!
She cannot be brutal!
She cannot kill!


She can only weep!
Weep, weep, weep!
Deep, deep, deep within!
For Her beloved children!


She is gracious, merciful and kind
She can only cry for the world
The cry that heals the wound
The cry that saves the world


The Great Mother let Her be!
Of the Earth, the sky and all the stars
Of all humans, plants and animals
Of the past, the present and the future


Look! Our Great Mother is weeping now!
Let us console the heart of our Great Mother!
Let us together wipe Her tears now!
Let us make Her cry no longer!



Jakarta, 12 January 2015
by ioanes Rakhmat


N.B.: This poem is sincerely dedicated to all victims of terror attacks in our broken world today. What I had in mind when I composed this poem is not Mary the mother of Jesus. I gave the name The Great Mother for the deity because I wanted to express a woman god, not a man god, hoping that a woman god could express the meekness side of a god. A woman god who is meek is, i feel it, more heart-touching than a man god in the reality of violence in our world today. Good and touching metaphors can heal the world.  



Saturday, January 10, 2015

Serangan teroris terhadap majalah satiris Charlie Hebdo, Paris

 Make peace. Do not make war!

Dunia kembali digemparkan oleh serangan teroris (Rabu, 7 Januari 2015) terhadap majalah satiris Charlie Hebdo, Paris, Prancis, yang telah menewaskan 12 orang jurnalis/editornya. 

Satir-satir karikaturis yang dipublikasi majalah Charlie Hebdo untuk menyerang agama-agama (bukan hanya agama Islam) ditempatkan oleh Prof. Caroline Weber dalam sejarah panjang gerakan antiklerikalisme radikal Prancis. Gerakan ini, dalam pandangan para editor majalah ini, bertujuan untuk mem-banalisasi (to banalize) agama-agama apapun, termasuk Gereja Roma Katolik Prancis, sehingga agama-agama tidak lagi ditabukan untuk dibicarakan dan dikritik. Ada beberapa karikatur satiris majalah ini yang menyerang GRK dengan keras, antara lain karikatur-karikatur mesum yang dikenakan pada Paus. Itu juga tujuan para editor majalah ini dengan karikatur-karikatur satiris yang menyerang agama Islam, yakni untuk membanalisasi agama ini. Kalau GRK sudah terbanalisasi, tampaknya dunia Muslim belum; entah sampai kapan. Tulisan bagus Prof. Weber ini wajib anda baca, terpasang di http://www.wsj.com/articles/charlie-hebdo-is-heir-to-the-french-tradition-of-religious-mockery-1420842456?.

Mark Juergensmeyer terkenal sebagai analis bagus atas kasus-kasus terorisme atas nama agama-agama dalam dunia kita belakangan ini. Dua bukunya dibaca sangat banyak orang, Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (edisi ke-3, 2003); dan Global Rebellion: Religious Challenges to the Secular State, From Christian Militia to Al Qaeda (2008).

Selain dia, Robert A. Pape juga dikenal dengan analisis-analisisnya yang kuat terhadap kekerasan-kekerasan yang dilakukan orang beragama untuk mencapai status martir. Bukunya yang mengulas suicide bombers juga banyak dibaca orang, berjudul Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism (2005).

Mengenai serangan teroris di Paris yang telah menewaskan 12 jurnalis majalah satiris Charlie Hebdo, yang sedang banyak disorot dan dibicarakan orang di hari-hari belakangan ini, Mark Juergensmeyer baru saja menulis sebuah analisis yang dipasang online pada blognya, dengan judul
Religion Was Not the Reason for the Paris Attack. Ini link ke tulisannya itu http://juergensmeyer.org/religion-was-not-the-reason-for-the-paris-attack/#comment-1593.

Dua paragraf terakhir dalam tulisannya itu berbunyi demikian:
 

It is not right, of course, to blame Christianity for the acts of angry young men who are Christian, even when they claim to be defending the Christian community. Similarly, Islam is not responsible for angry Muslims. Sadly, by evoking faith as an element of their bloody rage, however, they compound their crimes. They cause religion to be one more injured victim of their awful actions.
 
Saya terjemahkan:
 

Tentu saja tidak betul jika kekristenan dipersalahkan atas aksi-aksi kemarahan orang-orang muda yang sedang marah yang beragama Kristen, sekalipun mereka mengklaim bahwa mereka sedang membela komunitas Kristen. Begitu juga, Islam tidak bertanggungjawab bagi Muslim-muslim yang sedang marah. Namun susahnya, dengan mengacu ke kepercayaan keagamaan sebagai sebuah unsur dari kemarahan mereka yang menimbulkan pertumpahan darah, mereka melipatgandakan dan memperburuk kejahatan-kejahatan mereka. Mereka membuat agama menjadi salah satu korban lagi dari aksi-aksi mereka yang brutal.
 
Saya telah memberi sebuah komentar dan pertanyaan kepada Mark Juergensmeyer pada blognya itu. Demikian: 


You wrote, “Religion doesn’t cause the violence, it is the excuse for it.” That means, the religion they adhere to, legitimizes their violent actions. There is always an interaction between religious doctrines and human actions. Is this what you really mean?

Saya terjemahkan:
 

“Anda menulis, 'Agama tidak menimbulkan kekerasan; agama hanya menjadi dalih pembenaran atas kekerasan.' Itu berarti, agama yang mereka anut melegitimasi aksi-aksi kekerasan mereka. Selalu ada interaksi antara doktrin-doktrin keagamaan dan tindakan-tindakan manusia. Apakah ini yang sebetulnya anda maksudkan?”

Saya sedang menunggu tanggapan Mark Juergensmeyer. Bagaimana tanggapan anda?


Saya sendiri berpendapat, mendewasakan agama-agama lewat karikatur-karikatur keras bukanlah sebuah pendekatan yang arif, meskipun sudah ada hasilnya dalam sejarah antiklerikalisme Prancis dengan terbanalisasinya GRK sekarang ini. Tetapi yang jadi soal serius, hemat saya, adalah apakah nilai karikatur-karikatur yang keras sama dengan nilai 12 nyawa manusia lebih yang telah direnggut oleh tembakan roket-roket dan peluru-peluru tajam? Saya tidak berhasil memahami logika yang ada di dalam aksi teror ini. Bisa jadi, dalam semua aksi teror, logika yang dipakai adalah logika yang menempatkan nyawa semua manusia di tempat yang sangat rendah bahkan tanpa nilai, di hadapan hal-hal lain yang dipercaya para teroris sebagai hal-hal yang agung tiada taranya, yang untuk membela hal-hal ini mereka sanggup tidak menyayangkan nyawa mereka sendiri dan, celakanya, juga nyawa orang-orang lain.


 
ioanes rakhmat
Jakarta, 10 Januari 2015



Tuesday, January 6, 2015

“Meme”, Apakah itu?

Virus kultural menyebar, bukan saja antarmanusia, tapi juga antarbenua!

Apakah anda sudah tahu apa yang dinamakan “meme” (baca: mim)? Mungkin anda pernah membacanya atau mendengarnya, tapi tidak tahu apa maksudnya. Baiklah, saya mau menjelaskan teorinya.

“Meme” adalah pemendekan kata benda Yunani “mimeme” (atau “mimema”) (artinya “sesuatu yang ditiru”); kata kerjanya mimeisthai yang artinya meniru, mengingat, mengikuti, terjangkiti atau tertulari. Dalam bukunya The Selfish Gene, Richard Dawkins adalah orang pertama yang menciptakan dari kata “mimeme” kata tunggal “meme” yang baginya dekat dengan kata “gene”./1/

Kalau gen/molekul DNA diteruskan manusia ke manusia lain lewat sperma atau telur, meme juga menular lewat cara-cara lain yang nongenetik dari orang ke orang. Meme tidak meneruskan DNA, tapi semua produk kognitif budaya, seperti ide, pengetahuan, gambar, pakaian, kata-kata, cara hidup, cara berbudaya, adat-istiadat, dan juga ide-ide dalam agama-agama, dll.

Meme menularkan semua produk kognitif budaya ini lewat otak ke otak, lewat proses imitasi dan pembelajaran yang terus-menerus dan real, bukan lewat alam melalui seleksi alamiah. Jika kuliah dosen anda tertangkap oleh otak anda, alhasil anda makin cerdas dan berpengetahuan, meme yang dia sebarkan tertular dengan efektif ke otak anda. Dan meme dari otak anda akan meneruskan meme dosen anda ini ke orang-orang lain lebih banyak lagi.

Sejumlah pakar berpendapat, sebagaimana molekul DNA itu suatu struktur kimiawi yang hidup dan menyebar, begitu juga meme, terstruktur, hidup dan menyebar. Meme dianggap sebagai suatu struktur yang hidup, ada dalam otak, menyebar ke mana-mana dalam unit-unit lewat kegiatan pembelajaran dan penyebaran informasi dalam semua kebudayaan. Richard Dawkins sendiri dalam bukunya The Extended Phenotype (1982) menyatakan bahwa meme secara ragawi berdiam dalam otak./2/ Dengan kemajuan teknologi neurocitra (neuroimaging technology) masa kini, studi-studi empiris terhadap keberadaan meme dalam otak kini sudah dapat dilakukan, misalnya oleh Adam McNamara, khususnya untuk menemukan basis-basis neuralnya./3/

Karena sifatnya yang menyebar dan menular, meme juga dinamakan “virus kognitif” atau “virus kultural” yang memuat dan menularkan data dan informasi kultural. Sebagaimana data dan info komputasional hidup real dalam dunia virtual, diam atau menyebar, begitu juga meme hidup dalam suatu dunia virtual data dan informasi kultural setelah keluar dari otak. Meme juga berubah menjadi kata-kata dan ide-ide dalam buku-buku atau dalam e-books, atau dalam bentuk data digital di Internet, membentuk apa yang dinamakan meme Internet. Dengan adanya Twitter, misalnya, meme Internet dapat dengan cepat menyebar dan tertular nyaris ke seluruh muka Bumi.

Begitu juga, saat meme dalam unit-unit menyebar dari otak ke otak, meme selalu berinteraksi dengan bidang-bidang lain kehidupan yang dikaji oleh berbagai disiplin ilmu lainnya, sebab setiap otak manusia tidak berada dalam kevakuman atau kekosongan. Otak kita itu juga bersifat sosial, selalu membutuhkan pergaulan dengan otak-otak lain dalam berbagai konteks sosial dan ekologi. Saat menular dan berinteraksi ini, meme dapat memperbanyak diri, dan juga bermutasi khususnya saat meme menjawab desakan-desakan selektif seperti persaingan ide-ide kultural atau dalam suatu perang kultural.

Lewat meme yang menyebar lalu masuk ke dalam otak kita, lalu kita membangun budaya, evolusi kebudayaan pun berlangsung, tidak dikendalikan oleh seleksi alamiah. Kalau DNA yang tersebar membuat evolusi biologis berjalan dalam jangka waktu yang panjang, maka meme yang menyebar membuat evolusi kebudayaan berlangsung dalam jangka waktu yang pendek. Kalau DNA yang tersebar membuat evolusi biologis berjalan alamiah, lewat meme yang dinamis dan tersebar evolusi kultural kita bangun dan rancang sendiri, sesuai kemampuan setiap peradaban.

Jika unit-unit meme disebarkan dari otak manusia ke otak manusia lainnya, tentu adalah mungkin meme juga dapat disebarkan dan ditularkan dari otak spesies alien-alien cerdas dari angkasa luar ke otak banyak homo sapiens di planet Bumi ini, khususnya otak para manusia jenius yang telah dan sedang melahirkan pemikiran-pemikiran besar untuk peradaban manusia, dulu maupun kini. Tentu saja, meme yang ditularkan dari otak organisme-organisme cerdas dari dunia-dunia lain ini ke otak banyak manusia Bumi tidak begitu saja menguasai seluruh pemikiran dalam otak para manusia Bumi penerima meme luar Bumi. Dalam semua kasus interaksi antarmeme, selalu terjadi dialog, keterbukaan, penerimaan, sintesis, mutasi, atau bahkan penolakan penuh terhadap meme yang diterima. Tentu saja, interaksi antara meme alien-alien cerdas dan meme manusia-manusia jenius yang saya pikirkan ini murni spekulasi saya; kalaupun spekulasi ini benar, spekulasi ini sama sekali tidak bisa dibuktikan secara empiris, karena kita tidak akan pernah berhasil mewawancarai alien-alien cerdas itu atau menemukan meme mereka secara empiris.        

Selain lewat meme yang terus mereproduksi diri, bermutasi dan menyempurnakan diri dan menyebar, evolusi kultural juga sebetulnya dapat berlangsung lewat DNA yang kita desain ulang untuk mencapai tujuan-tujuan kultural kita. Kita tidak hanya sedang mengalami evolusi alamiah lewat mutasi alamiah DNA yang memerlukan waktu sangat banyak generasi ke depan, tapi juga sedang mengalami “self-designed evolution” (SDE) lewat teknologi rekayasa genetik, terang-terangan ataupun diam-diam, dalam waktu yang sangat singkat.

SDE dan penyebaran virus kognitif meme menghasilkan evolusi homo sapiens dan kebudayaannya secara artifisial. SDE dan penyebaran virus kognitif meme adalah dua faktor utama perkembangan pesat peradaban kita sekarang ini. Evolusi spesies secara alamiah, yang juga berpengaruh pada evolusi kebudayaan, dapat kita kendalikan atau malah kita percepat lewat evolusi biologis dan evolusi kultural yang kita desain sendiri, lewat rekayasa genetik dan lewat penyebaran unit-unit meme yang dipercepat.

Jakarta, 6 Januari 2015
by ioanes rakhmat


Catatan-catatan

/1/ Richard Dawkins, The Selfish Gene (edisi paperback; Oxford: Oxford University Press, 1976), hlm. 206.

/2/ Richard Dawkins, The Extended Phenotype (Oxford: Oxford University Press, 1982), hlm. 109.

/3/ Adam McNamara, “Can we measure memes?”, Frontier in Evolutionary Science 3 (25 May 2011), doi: 10.3389/fnevo.2011.00001, pada http://journal.frontiersin.org/Journal/10.3389/fnevo.2011.00001/full.  

Puisiku: Inilah Agamaku!


Agamaku sungguh sangat sederhana
Tidak rumit, tidak ribet, namun sakti
Namanya pun sangat melapangkan dada:
Agama Kebaikan Hati

Tanpa doktrin, akidah atau dogma
Tidak ada hierarki dari kepala hingga kaki
Hati nurani jadi pemandu utama
Ilmu pengetahuan menerangi setiap hati
  
Rumah ibadahku dunia luas terbentang  
Tanpa atap, dinding dan tiang-tiang
Ke dalamnya siapapun boleh bertandang
Bahkan boleh tinggal sampai ajal datang

Kitab suciku langit malam luas terbentang
Penuh bintang bercahaya gilang-gemilang
Dikagumi dan dibaca semua insan rupawan 
Penuh misteri yang membuat hati tertawan

Ritualku membaca dan menulis buku-buku
Untuk mencerahkan dunia dengan ilmu pengetahuan
Manusia menjadi cerdas dan tinggi berilmu
Serangga, rumput dan burung pun ikut tercerahkan

Syahadatku, Aku cinta umat manusia dan kehidupan. 
Sederhana, pendek, tidak ribet dan tidak rumit
Namun sangatlah sulit kalau mau dilaksanakan
Tak cukup diikrarkan lewat mulut komat-kamit

Tuhanku sang Cinta Kasih Tanpa Batas
Bukan sebuah nama yang indah-indah dirancang
Atau yang diperebutkan insan-insan terbatas
Tapi sebuah kata kerja yang memacu kerja cemerlang

Nabiku diriku sendiri untuk diriku sendiri
Berdiam tenang dan agung dalam sanubari
Dia perintahkanku, “Kenalilah dirimu sendiri!”
Mengenal diri tanda keagungan diri sendiri

Doaku seluruh gerak kehidupanku hingga mati
Tidak diucapkan keras-keras ke angkasa raya
Tapi dilakoni diam-diam setiap hari dalam sunyi
Menghidupkan diriku sendiri dan seluruh semesta

Nyanyian rohaniku “Imagine” karya John Lennon
Tidak dilantunkan riuh dengan musik bergempita
Tapi ampuh menggerakkan hadirin dan penonton
Untuk menjadikan kedamaian isi jagat semesta

Komunitas keimananku umat manusia sejagat
Tanpa segregasi, alienasi, separasi dan diskriminasi
Hidup bersaudara dan saling mengasihi kuat-kuat
Tidak ada ideologi yang memecah dan menguasai

Ikrarku: mengabdi demi kebaikan dan kasih sayang
Demi kemanusiaan dan persaudaraan
Demi kesehatan dan umur panjang  
Demi kecerdasan dan ilmu pengetahuan

Tulis di kolom agama KTP-mu
Agama: Kebaikan Hati
Tak ada yang bisa menolak kebaikan hatimu
Penjahat pun tunduk pada kebaikan hati

Marilah bersamaku bersatu ramai-ramai  
Mengubah diri sendiri dan dunia luas tanpa tepi
Lewat agamaku yang sederhana namun membuai:
Agama Kebaikan Hati


Jakarta, 6 Januari 2015
by ioanes rakhmat



Sunday, January 4, 2015

AGAMA SAYA UNTUK TAHUN 2015



Agama saya sederhana, tidak rumit, yakni agama kebaikan hati.

Tidak ada dogma dan tidak ada hierarki. 
Rumah ibadah saya ya dunia luas ini, tanpa dinding dan atap.
Kitab suci saya ya bentangan langit malam penuh bintang yang bercahaya, dikagumi dan dibaca semua orang, penuh misteri yang menawan hati.
Ritual saya ya baca buku-buku dan menulis, untuk mencerahkan dunia.
Syahadat saya, ya
Aku cinta umat manusia dan kehidupan. 
Tuhan saya ya sang Cinta Kasih Tanpa Batas.
Nabi saya ya diri saya sendiri untuk diri saya sendiri.
Doa saya ya seluruh gerak kehidupan saya.
Nyanyian rohani saya ya
“Imagine” karya John Lennon.
Komunitas keimanan saya ya umat manusia sejagat.
Ikrar saya ya mengabdi demi kebajikan, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan.

Begitu ya. Jika mau ikut beragama seperti ini, silakan saja, gratis.


Dalam bentuk puisi, sudah saya ungkap, kalau kebaikan hati itu agama saya.Di sini http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2015/01/puisiku-inilah-agamaku.html.

Jakarta, 4 Januari 2015
ioanes rakhmat