Monday, March 17, 2014

Sebuah Tafsiran Baru atas Ateisme




Saat aku memandang ke langit malam, aku merasa besar!” (Neil deGrasse Tyson)

N.B. Update mutakhir 24 Maret 2018
Diedit 29 Maret 2024.

Tulisan ini selalu relevan selama ilmu pengetahuan masih terus berkembang dan kita semua masih ingin terus mendapatkan jawaban-jawaban atas "big questions" tentang kehidupan, jagat raya dan keabadian serta ketakterbatasan, infinitum.

Bacalah juga sang brother tulisan ini, yang terkonsentrasi pada usaha akademik saya menjawab para ateis ihwal apakah Tuhan itu ada. Di sini https://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2014/08/apakah-tuhan-itu-ada.html?m=0.

_________________

“Sia-sialah upaya menjaring Tuhan hanya ke dalam sebuah pengertian saja. Dia lebih besar dari apapun rumusan manusia tentang hakikat-Nya yang Mahasempurna.” (Abdurrahman Wahid)

“Pengalaman yang paling indah yang kita dapat miliki adalah pengalaman dengan sang misterius. Sang misterius pada dasarnya kita rasakan berada di palungan seni yang sejati dan sains yang sejati.” (Albert Einstein)

“Saat aku mengagumi pesona sang Matahari yang sedang terbenam atau keindahan sang Rembulan di malam hari, maka jiwaku melambung menyembah sang Pencipta.” (Mahatma Gandhi)


Tulisan penting ini saya awali dengan mengacu ke sebuah acara yang di dalamnya saya terlibat aktif, kira-kira satu setengah tahun lalu. Di pagi hari, pkl 10.30-pk. 12.00, tgl 9 April 2012, saya bersama dua kawan lain tampil rekaman di Tempo TV, Jakarta, berbincang soal ateisme di Indonesia.

Fokus talkshow ini tentu Sdr. Alexander Aan, yang sedang diadili mula-mula karena soal ateisme yang dianutnya. Tapi menurut seorang teman dalam perbincangan itu, fokus kasus Aan sudah bergeser ke soal pelecehan figur besar Nabi junjungan kaum Muslim./1/ Jadi, sangat disayangkan! Mustinya Sdr. Aan tidak melakukan tindakan tidak terpuji ini.

Saya paling tak suka jika sosok-sosok agung yang dipandang suci dari zaman-zaman lampau, siapapun mereka, apapun juga kekurangan mereka (jika ada), dihina dan dihujat orang-orang zaman sekarang. Mereka moyang-moyang kita, yang hidup di zaman-zaman dan tempat-tempat lain, yang sudah tidak sama dengan zaman dan tempat kita sendiri sekarang ini sehingga mereka tidak bisa kita nilai paksa dengan memakai ukuran-ukuran moral zaman sekarang di tempat kita. 

Menjadikan sosok-sosok agung zaman lampau ini objek-objek kajian ilmiah tidak harus berakhir dengan pengkultusan ataupun penghinaan terhadap mereka. Jangan rusak kajian-kajian ilmiah terhadap agama-agama dengan muatan-muatan moral ideologis yang picik. 

Saya ingin ingatkan, dalam kita beragama, kita mudah sekali memindahkan kekurangan-kekurangan serius dalam agama kita sendiri ke agama-agama orang-orang lain. Semakin sengit dan keras anda suka mencemooh agama-agama orang-orang lain, semakin kelihatan bahwa agama anda sendiri tidak sanggup melahirkan orang-orang yang berpikiran besar. Janganlah lakukan denialisme.

Jika kita menemukan ada kisah-kisah dan ketentuan-ketentuan legal dan moral dalam kitab-kitab suci kita yang menurut kita mengerikan, atau pada zamannya juga sudah dipandang mengerikan, baiklah kisah-kisah dan ketentuan-ketentuan ini kita tempatkan secara kontekstual dalam sejarah perkembangan kesadaran moral manusia, yang dengan bertanggungjawab dapat kita nilai relevansi atau irelevansinya bagi manusia dalam zaman modern. 

Ketentuan-ketentuan legal dan moral dan kisah-kisah dari zaman dulu yang mengerikan ini tidak perlu membuat kita menjelek-jelekkan agama-agama yang memiliki kitab-kitab suci yang memuatnya. Inilah sikap saintifik yang perlu kita bangun dalam kajian-kajian ilmiah terhadap agama-agama.

Kembali ke fokus kita. Banyak hal muncul dalam talkshow di Tempo TV itu, dan acaranya tambah menarik karena dipandu dengan piawai oleh presenter Poppy Pradana yang manis, anggun dan jelita. Kedua narasumber lainnya berbicara dari sudut yuridis kasus Aan dan legalitas ateisme di Indonesia pada umumnya.

Dalam perbincangan di Tempo TV itu, saya berharap kalau kasus Aan tetap kasus ateisme-nya, hendaknya Aan ini dibimbing untuk berubah menjadi lebih adaptif dengan lingkungannya yang sangat religius tradisionalis, bukan dipenjara. Aan sama sekali bukan seorang kriminal; dia hanya berkeyakinan bahwa Allah itu tidak ada. Keyakinan apapun, yang tidak mendorong seseorang untuk melakukan tindak pidana kekerasan, tidak bisa diadili, apalagi si pemeluknya dijatuhi hukuman. 

Seorang yang sangat yakin bahwa sebuah pohon besar atau sebuah batu gunung besar adalah titisan suatu dewa, lalu menyembahnya, juga tak bisa diadili apalagi dipenjara, kendatipun bagi banyak orang terdidik keyakinannya ini tak masuk akal sehat. 

Sebaliknya, orang-orang dari agama apapun yang bersuara kuat-kuat sebagai para penyembah Allah yang mahabesar lalu melakukan berbagai tindak kekerasan terhadap orang-orang berkeyakinan lain dan rumah-rumah ibadah mereka, merekalah yang sesungguhnya harus ditangkap, lalu diadili, kemudian dijatuhi hukuman. Jika hal yang disebut terakhir ini yang dilakukan suatu negara, barulah negara itu kita bisa layak nilai sebagai sebuah negara yang benar. 

Ada aliran-aliran agama di Indonesia yang tak memiliki teologi (= doktrin tentang Tuhan), sehingga disebut sebagai agama non-teistik. Zen Buddhisme, misalnya, menawarkan suatu jalan menuju pertumbuhan spiritual bukan lewat dogma/akidah, tapi lewat olah pikiran dalam suatu kegiatan meditatif yang dinamakan zazen./2/ 

Orang yang brain-nya condong ateistik bisa masuk ke rumah spiritual Zen Buddhisme, sehingga menjadi tetap beragama tapi non-teistik. Ini sebuah alternatif yang perlu dipertimbangkan seseorang yang sedang ragu apakah masih mau beragama atau menjadi ateis terbuka.


Akan makin banyak?

Saya juga menyatakan bahwa semakin modern Indonesia ke depannya, akan semakin banyak orang yang menjadi ateis, overt or covert. 

Kenapa? Karena di dalam suatu negara yang modern, sains meresap ke mana-mana, dan sains pada hakikatnya memang sekuler, ateistik; tetapi sains bukanlah ateisme, dan tidak punya urusan dengan ateisme. Anda harus bisa membedakan ateistik dan ateisme. Sains ya sains, bukan “isme”, jadi tak ada hubungannya baik dengan teisme maupun dengan ateisme. 

Apapun status anda, entah seorang teis atau seorang ateis, jika anda memakai metode-metode dan penalaran-penalaran saintifik yang sama dalam rangka mengkaji sesuatu, hasilnya akan sama, di manapun dan kapanpun. Agama apapun, yang teistik maupun yang non-teistik, juga ateisme, tak punya hubungan apapun dengan kesimpulan-kesimpulan sains. Suatu pandangan sains bisa ditandingi atau dilawan dengan bermutu hanya oleh temuan-temuan baru di dunia keilmuan.

Tentu yang saya maksudkan sebagai sains dalam hal ini adalah science proper, sains sejati, bukan berbagai bentuk "akal-akalan dan tipudaya" yang diberi label paksa sebagai sains. "Sains akal-akalan dan tipudaya" ini ada termanya, yakni junk science, bukan sekadar pseudoscience, yang sebetulnya bukan sains. Lantas?

Junk science adalah berbagai kepentingan ideologi, politik, ekonomi, militer, dan delusi kronis, yang dipupuri embel-embel pseudoilmiah, lalu diklaim para penyusunannya sebagai sains. Tapi, itu ya sains gadungan atau sains rongsokan, yang dibangun oleh para "ilmuwan pelacur".

Tentu anda setuju, modern atau tidaknya suatu negara sangat ditentukan oleh apakah negara ini terbuka pada sains seluas-luasnya atau tidak, dan memanfaatkan semua sains untuk pembangunan bangsa dan negara itu.

Di negeri-negeri maju, kaum saintis tulen banyak yang memilih dan mengaku ateis dengan terang-terangan, tetapi ke-ateis-an mereka tak ada hubungannya dengan sains yang mereka geluti dan kembangkan. Pada pihak lain, tentu ada juga banyak orang teis yang bekerja sebagai para saintis yang serius, dengan tentu saja ke-teis-an mereka sama sekali tak berpengaruh pada sains yang menjadi subjek perhatian mereka. 

Saya percaya, di Indonesia sebetulnya banyak juga orang yang sudah ateis, tapi tidak terang-terangan karena iklim sosial yang tidak kondusif. 

Karena belum berani terang-terangan mengaku ateis, ada sekian pemikir dan saintis di Indonesia yang dengan tidak pas mengaku agnostik. Bagi para agnostik ini, ada atau tidak adanya Tuhan tak dapat diketahui, dan karena itu tak dapat diputuskan, oleh akal budi. Jelas, posisi agnostik tidak sama dengan posisi ateis. Posisi agnostik salah diambil jika mau diperlakukan sebagai suatu kedok ateisme. 

Posisi agnostik itu, hemat saya, justru posisi seorang yang rendah hati dan terbuka, yang menunda memberi jawaban final apakah Tuhan itu ada atau tidak ada. Mereka dengan sabar dan telaten menjalankan atau mengikuti kajian-kajian ilmiah yang terkait dengan usaha-usaha menyingkap sangat banyak misteri alam dan jagat raya. Albert Einstein, antara lain, adalah seorang agnostik yang tidak mau disebut sebagai seorang ateis.

Atau, ada juga orang yang melabelkan diri sendiri dengan suatu frasa oxymoronik, "Muslim ateis" atau "Kristen ateis", dll. Frasa ini jelas memperdaya dan mengecoh.

Tetapi belakangan ini saya juga makin sering menemukan, ada cukup banyak orang Indonesia yang lewat berbagai media sosial menyatakan diri sebagai orang-orang ateis dengan terang-terangan dan berintegritas. Ke depannya, negara Indonesia tampaknya akan mengakui hak orang untuk menjadi ateis. 

Sedikit lebih maju dari sebelumnya, kini UU Administrasi Kependudukan di Indonesia yang baru-baru ini disahkan (26 November 2013) sudah memperbolehkan orang untuk tidak mengisi kolom agama pada e-KTP. 

Seperti telah diungkap oleh Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama baru-baru ini, sangat diharapkan ke depannya kolom agama ini akan sama sekali dihapuskan dari blanko e-KTP. Basuki, untuk hal ini, mengacu ke negara Malaysia, yang kendatipun berdasar pada syariah, dalam blanko KTP penduduknya kolom agama sama sekali tidak ada, dan juga tidak memiliki instansi kementerian agama. Meskipun demikian, tegas Basuki, Malaysia ternyata lebih maju dalam banyak segi jika dibandingkan Indonesia./3/ Bukan sebuah keajaiban, bukan? 

Status formal keberagamaan seseorang tidak menjamin dirinya akan menjadi cerdas dan berwawasan; malah lebih mungkin keberagamaan seseorang akan mencegahnya jadi cerdas dan berwawasan. Kenapa? Karena setiap orang beragama umumnya sudah diarahkan sejak kecil untuk hanya beriman, sekuat-kuatnya, tak perlu berilmu. Ini yang dinamakan fideisme, atau fidolatri, pemujaan pada iman, sebagai esensi nyaris semua agama.


Spiritualitas saintifik

Saya sendiri sempat bimbang, apakah mau tetap religius ataukah menjadi ateis, pergumulan yang eksistensial. Tapi kini saya sudah tiba pada sebuah keputusan, saya seterusnya menempuh jalur spiritual, khususnya seperti yang dibentangkan dalam Zen Buddhisme. 

Seperti diakui Albert Einstein, Buddhisme adalah suatu agama yang paling akomodatif terhadap pendekatan-pendekatan saintifik terhadap segala realitas dalam kosmos kita. 

Dalam zaman kita, Dalai Lama XIV sendiri menegaskan bahwa jika Buddhisme sekarang tidak cocok lagi dengan sains modern, Buddhisme harus diubah, dikonstruksi lagi secara baru. Dalam Buddhisme orang diberi kebebasan untuk meneliti tanpa perlu dibayang-bayangi apa kata kitab-kitab suci. 

Kata Dalai Lama, “Ada sebuah tradisi dalam Buddhisme yang menyatakan bahwa jika kami menemukan sesuatu yang berkontradiksi dengan kitab-kitab suci kami, kami memiliki kebebasan untuk menolak kitab-kitab suci. Ini memberi kami semacam kebebasan untuk mengadakan penyelidikan, terlepas dari apa yang dikatakan kitab-kitab suci.”/4/ 

Pastilah tradisi yang dimaksud Dalai Lama adalah suatu ucapan yang diasalkan pada Siddhartha Gautama (Kalama Sutta AN 3.65).

“Jangan percaya hal apapun hanya karena kamu telah mendengarnya. Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu telah dibicarakan dan digunjingkan oleh banyak orang. 

Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu tertulis dalam kitab-kitab keagamaanmu. Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu dikatakan berdasarkan otoritas guru-guru dan sesepuh-sesepuhmu. 

Jangan percaya tradisi apapun hanya karena tradisi itu telah diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Tetapi setelah kamu observasi dan analisis, maka ketika kamu mendapati hal apapun sejalan dengan akal-budimu dan menolongmu untuk mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi satu dan semua orang, maka terimalah itu dan jalankanlah.”

Jadi, saya happy, karena di dalam spiritualitas Zen, saya bisa terus berpikir saintifik, dan memahami segala realitas lewat analisis-analisis saintifik, sambil memperdalam terus spiritualitas saya, suatu spiritualitas saintifik.

Spiritualitas saintifik ini ada juga landasan teologis teisnya, begini: Karena Tuhan itu dipercaya sebagai Tuhan Yang Maha Tahu, maka Tuhan adalah asal atau sumber kemahatahuan, sumber segala pengetahuan. Tentu saja pengetahuan yang paling dapat diandalkan adalah ilmu pengetahuan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan atau sains adalah jalan agung dan besar tanpa ujung yang terus-menerus, tahap demi tahap, membawa orang kepada Tuhan Yang Maha Tahu. 

Jadi, setiap orang yang mengejar dan membangun sains tanpa berhenti, bersama para ilmuwan lain lintaszaman dan lintaslokasi, adalah orang-orang yang sedang berjalan atau berlari menuju Tuhan Yang Maha Tahu. Alhasil, semakin dekat dan dalam cinta anda pada Tuhan Yang Maha Tahu, semakin akrab dan dekat dan dalam cinta anda kepada ilmu pengetahuan. Dus, para ilmuwan sejati, hemat saya, adalah juga hamba-hamba Tuhan. Suatu perspektif yang keren dan menakjubkan, bukan? Ya.

Nah, mengapa saya menempuh jalur spiritual? Karena saya menemukan, ada bagian-bagian dalam otak saya (dan juga otak anda) yang, sebagai hasil evolusi otak yang sudah berlangsung sangat panjang, memerlukan pasokan spiritual dan memproduksi spiritualitas. 


Dimensi transenden

Saya tetap memerlukan sesuatu yang spiritual, suatu dimensi transenden buat kehidupan saya, dimensi yang jauh melampaui kenyataan kehidupan sehari-hari kita, a dimension far beyond daily realities, karena otak saya berisi ruang neural kuriositas untuk dimensi ini. 

Dimensi neural dalam otak kita, yang terhubung dengan dunia transenden, yang membuat kita selalu ingin maju dan masuk ke dunia-dunia yang lebih luas dan lebih misterius, tak bisa diremehkan, dibuang atau dihapuskan, tapi membutuhkan pengisian yang makin mencerdaskan dan mempesona kita.

Kuriositas atau rasa ingin tahu bukanlah hanya sebuah kapasitas mental kita, tetapi juga menunjukkan bahwa kita, secara neurologis, telah dikonstruksi oleh alam untuk menjadi suatu organisme yang selalu mencari dan ingin mendapatkan dimensi-dimensi transenden yang tak pernah habis. Banyak kajian neurosains mutakhir telah menunjukkan hal ini, sebagaimana saya telah bentangkan dalam bab 5 sebuah buku mutakhir saya, Beragama dalam Era Sains Modern./5/

Apa wujud dimensi transenden ini, berlain-lainan dari satu agama ke agama lain, dari satu pandangan dunia ke pandangan dunia lainnya. Dimensi transenden itu tidak harus Allah yang personal atau sorga atau neraka di dunia adikodrati, tapi bisa sesuatu yang lain, yang berada dalam dunia kodrati, dalam kawasan imanen.

Dalam satu agama saja, Allah sebagai Sang Transenden digambarkan dan dipahami berbeda-beda, sehingga selalu mengelak jika mau dikuasai oleh satu aliran pemikiran. Dalam agama-agama sendiri, ada banyak citra tentang Allah, dan tidak sedikit di antaranya bertabrakan satu sama lain. 

Ada agama yang memandang Allah sepenuhnya berdiam di dunia supernatural, tetapi ada juga yang memandang-Nya berdiam dalam dunia imanen. Untuk agama jenis kedua, beragama tidak terarah ke dunia adikodrati, tapi fokus pada alam dan jagat raya yang imanen.


Transenden imanen

Sosiolog agama yang kondang, Robert N. Bellah, misalnya, dalam ulasannya mengenai “naturalisme religius” melihat objek-objek devosional agama pada awalnya di era mitologis berada bukan di dunia adikodrati yang terputus dari dunia imanen, melainkan seluruhnya berada dalam dunia imanen. 




Memakai terminologi Rudolf Otto, sang “mysterium tremendum et fascinans” pada awalnya adalah Sang Misteri dalam dunia imanen seluruhnya, Sang Misteri yang menimbulkan kegentaran sekaligus keterpesonaan. 

Tulis Bellah, “Dalam tahap-tahap awal munculnya agama, tidak terdapat gagasan tentang ‘hakikat-hakikat supernatural’”, dan lagi, “Ada sesuatu yang religius pada alam ini, tetapi yang religius ini tidak melibatkan hal apapun yang berada di luar alam.”/6/ Bellah sungguh-sungguh menekankan bahwa agama-agama pada hakikatnya natural, bukan supernatural; dus menjadikan alam ini sendiri religius.

Fisikawan teoretis kelahiran Jerman Albert Einstein (1879-1955) menolak dengan tegas Allah personal yang dipercaya agama-agama monoteistik Yudaisme, Kristen, dan Islam. Tapi Einstein juga mengakui bahwa dia mengalami ketakjuban luar biasa pada suatu dimensi transenden yang lain. Apa? 

Dimensi transenden yang mempesona Einstein adalah struktur dan harmoni serta tertib kosmologis yang selalu melampaui kemampuan sains untuk tuntas menggapainya

Keterpesonaan Einstein ini diungkap secara metaforis olehnya ketika dia menyatakan bahwa “Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan kosmos ini.” Metafora ini dipakai Einstein karena dia tidak sepakat dengan para fisikawan quantum yang menolak determinisme saintifik ("tertib kosmologis" yang diatur oleh hukum sebab-akibat yang tidak bisa nyelonong atau dibatalkan).

Dengan jelas Einstein juga menyatakan bahwa “apa yang membentuk gagasanku tentang Allah adalah keyakinan emosional yang dalam mengenai keberadaan suatu Daya Nalar yang superior yang disingkapkan di dalam jagat raya yang tidak terpahami.” 

Seperti tercantum pada epigraf di awal tulisan ini, sang misterius atau sang transenden bagi Einstein adalah kawasan pertemuan antara seni sejati dan sains sejati, kawasan yang berada dalam dunia imanen. Kawasan pertemuan ini sangat memukau perasaan Einstein. 

Sejalan dengan Einstein, pujangga Aldous Leonard Huxley, dalam karyanya Music at Night and Other Essays (terbit 1931), menyatakan, “Setelah sains, yang paling dekat dengannya dalam mengungkapkan hal-hal misterius yang tak terungkapkan adalah musik”. 

Kalau sang misteri mendorong Einstein untuk mengonstruksi sains, misteri yang sama juga melahirkan agama. Einstein menyatakan bahwa “Pengalaman tentang sang misteri itulah yang melahirkan agama, bahkan jika pengalaman ini bercampur dengan rasa takut.”


Berakar natural

Di zaman kita, astronom, kosmolog dan astrofisikawan Amerika Carl Edward Sagan (1934-1996), dengan berpijak pada teologi naturalis, melihat akar terdalam agama tidak terletak di dunia supernatural, tapi dalam alam ini, dalam dunia natural. Baginya, agama adalah keterpesonaan dan rasa takjub terhadap seluk-beluk yang rumit, kedalaman, dan keindahan yang luar biasa hebat dari jagat raya ini. Naluri keagamaan berpangkal pada jagat raya, karena itu pada dasarnya tunduk pada penyelidikan saintifik. 

Pada sisi lain, juga ada sesuatu yang religius pada sains, religius dalam pengertian yang luas, karena semua penyelidikan saintifik menarik kita masuk ke dalam alam yang pada dirinya sendiri tampak indah, luar biasa mempesona dan rumit jalin-menjalin. 

Karena alam atau jagat raya adalah fokus paling hakiki baik dari agama maupun dari sains, maka akan selalu ada yang saintifik dalam dunia agama dan akan selalu ada yang religius atau spiritual dalam dunia sains. Pernyataan saya ini harus dipahami dengan sangat hati-hati supaya tidak terjadi salah kaprah praktek cocokologi yang naif.

Bahkan lebih jauh lagi Sagan berargumentasi: berhubung alam atau jagat raya adalah akar semua pengalaman keagamaan, maka sudah pasti benar jika kita mencari sebab-musabab alamiah untuk segala kejadian yang dipandang “supernatural” atau “religius.”/7/ 

Dengan demikian, bagi Sagan dunia imanen dan dunia transenden pada dasarnya menyatu, tak terpisah, dan menjadi fokus agama dan fokus sains sekaligus. 


Nichiren Shoshu

Lepas dari berbagai konflik internal dalam komunitas-komunitas mereka, dari sikap intoleran pendirinya, dan dari fitur-fitur takhayul dalam pandangan dunia mereka, aliran Buddhis Jepang yang diberi nama Nichiren Shoshu menemukan dimensi transenden dalam “hukum-hukum agung jagat raya yang misterius” (Myoho). 

Lewat mantram Nam-Myoho-Renge-Kyo yang dilantunkan berulang-ulang, umat Nichiren Shoshu menyatakan kepercayaan dan tekad mereka (Nam) untuk hidup harmonis dengan hukum-hukum agung jagat raya yang misterius (Myoho), dengan hukum-hukum sebab-akibat (Renge), dan dengan suara dan ritme jagat raya (Kyo) yang mengalir masuk ke dalam kehidupan mereka. Jelas sekali, dalam agama ini transendensi dan imanensi menyatu, tak terpisah. 

Pandangan dunia dalam Nichiren Shoshu ini sejalan dengan apa yang pernah dinyatakan oleh Baruch de Spinoza (dan juga oleh Albert Einstein) bahwa totalitas hukum-hukum alam itu adalah Allah sendiri. Ketika Spinoza menulis kata-kata Deus sive Natura, dia menolak untuk mendikotomikan Allah dan Alam, yang satu tidak dapat dipilih dengan membuang yang lain. 

Tapi apa yang dimaksudkan dengan dimensi transenden atau transendensi (Latin: transcendentiam)? 


Jauh di luar jangkauan

Dimensi transenden persisnya adalah misteri-misteri yang begitu besar, tak terbatas, dan tampak abadi, yang berada jauh di luar jangkauan pikiran dan pengalaman kita sehari-hari, yang karena begitu besarnya kita takjub dan terpesona di hadapannya, dan selanjutnya kita membangun sikap-sikap tertentu terhadap misteri-misteri ini, entah sikap takjub religius ataupun sikap takjub non-religius. 

Dimensi transenden semacam ini kita temukan baik di dalam dunia sub-atomik mekanika quantum maupun dalam kosmos mahabesar, dan juga dalam banyak bidang kehidupan kita sehari-hari. 

Sesungguhnya setiap saintis membuka diri pada dimensi-dimensi transenden semacam ini, yang tak pernah bisa tuntas dimasuki dan tidak pernah selesai dijelajahi. Karena itu sains terus maju dan berkembang. Sains membawa orang ke relung-relung jagat raya yang makin mempesona dan menyimpan sangat banyak misteri yang belum terkuak hingga kini. Dan juga ke relung-relung dunia sub-atomik partikel-partikel yang sama-sama menawan hati dan penuh hal-hal yang misterius, dan ke dalam banyak wonder yang kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari di planet Bumi.


Historical transcendence

Di kalangan saintis dikenal istilah “historical transcendence”, bukan “suprahistorical transcendence.” 

“Suprahistorical transcendence” mencari yang adikodrati pada Allah dan kehidupan setelah kematian yang dipercaya ada oleh agama-agama, di luar sejarah. Tetapi “historical transcendence” menawarkan keadikodratian justru di dalam dan lewat yang kodrati, di dalam dan lewat sejarah, di dalam dan lewat imanensi

Istilah “historical transcendence” ini saya pinjam dari Michael Shermer, sang pendiri Skeptics Society, dari bukunya Why People Believe Weird Things

Tulis Shermer, “Sejarah adalah satu bidang pemikiran yang menyoroti tindakan-tindakan manusia di sepanjang waktu dan melampaui kisah personal satu orang individu manapun. Sejarah mentransendir kekinian-dan-kedisinian, melewati masa lampau yang betul-betul panjang sampai mencapai masa depan yang dekat yang tak ada batasnya.”/8/ 

Renungilah pepatah Indian Amerika ini, “Apakah kehidupan itu? Kehidupan adalah bayang-bayang kecil yang dibentuk rerumputan di padang ketika Mentari bersinar, tetapi lenyap sendiri saat Mentari terbenam” (Blackfoot 19260). 

Ya, usia kita pendek. Tapi kalau anda menulis banyak buku visioner yang berwawasan jauh ke depan puluhan generasi, dalam puluhan generasi mendatang itu anda hidup terus. Walaupun anda hidup hanya sampai usia, katakanlah, 75 tahun, buku-buku yang telah anda tulis itu membuat anda hidup terus, kekal, dalam benak generasi-generasi yang akan datang. 

Itulah salah satu wujud “historical transcendence”: anda menjadi abadi dalam dunia ini lewat karya-karya besar anda yang mempengaruhi bahkan mengubah jalannya sejarah dunia ini. 

Sebuah peribahasa kuno orang Indian Amerika berbunyi demikian, “Orang-orang yang sudah mati, tidaklah mati, tetapi hidup terus di dalam hati orang-orang yang mereka telah tinggalkan” (Tuscarora 18997). 

Pujangga dan matematikus Yahudi-Polandia Jacob Bronowski menyatakan bahwa “Setiap hewan meninggalkan jejak-jejak ragawi dirinya; tetapi hanya manusia yang meninggalkan jejak-jejak dari apa yang dia telah ciptakan.” 

Pujangga Indonesia yang tersohor Pramoedya Ananta Toer menyatakan bahwa “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. 

Tentu orang yang berhasil mencapai transendensi historis semacam ini tak banyak jumlahnya; tetapi tidak mustahil anda akan bisa menambah jumlahnya, jika anda punya tekad kuat untuk bergerak ke arah itu. 

Putri mendiang Carl Sagan, Sasha Sagan, merasakan “historical transcendence” diri ayahnya dalam semua karya ayahnya, yang akhirnya lewat bantuan seseorang ditempatkan dalam Perpustakaan Kongres supaya terawat selamanya. 

Sasha Sagan menulis, “Ini adalah suatu penghormatan luar biasa besar yang membuatku merasa bahwa ayahku, di dalam kematiannya, telah mendapatkan sejenis keabadian, meskipun suatu keabadian yang kecil saja, keabadian yang insani, dalam dunia ini. Tapi itulah satu-satunya jenis keabadian yang orang dapat harapkan untuk memperolehnya.”/9/ 

Tentang sosok-sosok agung yang telah mencapai transendensi historis, Dave Breese, penulis buku penting yang berjudul menarik 7 Men Who Rule the World from the Gravemenyatakan bahwa

“peringkat pentakziman yang diberikan kepada mereka melebihi peringkat yang patut diberikan kepada orang-orang biasa. Mereka disebut ‘para pengubah dunia’, ‘para pemikir yang berdampak ke depan’, ‘para konseptor mulia’, ‘orang-orang yang dimabuk Allah’, ‘para pencipta’, ‘para penjaga masa depan’, dan sejenisnya. 

Malah beberapa dari antara mereka telah bergerak maju sangat jauh sehingga meninggalkan setiap pendahulu mereka, dengan melahirkan suatu ‘mazhab baru pemikiran’― ya, bahkan suatu ‘kemanusiaan baru’…. Mereka menjadi ayah dan bunda bagi suatu Zeitgeist (semangat zaman) yang baru. Dalam generasi mereka sendiri dan dalam generasi-generasi masa-masa depan, mereka merasuk ke dalam pikiran bahkan imajinasi puluhan lalu jutaan orang yang terus mencari.”/10/ 


Jagat raya mahabesar

Begitu juga, kemahabesaran jagat raya menjadi suatu transcendence sendiri bagi kaum saintis yang perlu mereka sibak lewat karya-karya besar mereka dalam dunia ini sementara mereka hidup. 

Banyak kosmolog dan fisikawan angkasa merasa masuk ke kawasan transenden jagat raya ketika mereka memasuki jagat raya terdalam lewat berbagai instrumen teknologis dan sains modern yang terus bertambah dan makin maju. Kedalaman jagat raya yang mempesona mereka membuat mereka merasa begitu kecil sekaligus begitu besar di hadapan jagat raya maha besar.

Astrofisikawan Stephen Hawking  dengan bagus mengungkapkan keterpesonaannya pada jagat raya, demikian,

“Ingatlah untuk menatap ke atas, ke bintang-bintang, dan jangan menatap ke bawah ke kaki anda. Cobalah pahami apa yang anda lihat, dan tetaplah terpesona seperti kanak-kanak saat anda bertanya-tanya apa yang telah membuat jagat raya ini ada.”

Seorang ateis yang bernama Stephen Hawking ternyata begitu dekat dengan dunia transenden, dunia yang mahaluas, yang tak terpahami dengan tuntas, jagat raya ini.

Dari sains, khususnya teori dawai (string theory), kita tahu dalam jagat raya ada 11 dimensi, tetapi kita baru tahu hanya 4 dimensi ruang-waktu (plus cahaya sebagai dimensi kelima) dan bisa mengurainya. Dalam perkembangan teoretisnya, ekstradimensi bahkan diprediksi ada sampai 41.




Dari sains kita juga tahu jagat raya kita yang mahaluas ini, yang terbentuk 13,8 milyar tahun lalu, sebagai ruang-waktu dan massa-energi tersusun atas 4,9% hingga 5% materi biasa atau materi normal yang dinamakan materi baryonik yang terdiri atas proton dan neutron yang membentuk kebanyakan massa materi yang kasat mata (planet, bintang, galaksi, semua organisme, termasuk tubuh kita), 26% hingga 26,8% materi gelap ("dark matter") yang tak kasat mata yang bekerja sebagai forsa gravitasi, dan 68% hingga 69% energi gelap ("dark energy") yang membuat "balon" jagat raya kita terus mengembang makin cepat, dus berfungsi sebagai forsa kosmik antigravitasi./11/ 

Jadi, dalam arti harfiah, jagat raya kita ini memang menyimpan banyak misteri yang jauh melampaui kemampuan kita untuk mempersepsi, memahami, melihat dan mencapainya. Mau tak mau, kita harus mengakui jagat raya ini sendiri suatu transendensi. 

Bahkan menurut suatu teori fisika, ada tak terhingga jagat-jagat raya, the multiverse, berhubung jagat-jagat raya baru senantiasa tercipta sebagai gelembung-gelembung atau balon-balon yang keluar dari "busa" ruangwaktu, seperti normalnya busa sabun menghasilkan gelembung-gelembung atau balon-balon sabun. Lihat ilustrasi di bawah ini (kreasi Lawrence Berkeley National Laboratory). Jika ini kondisinya, siapakah yang sanggup membayangkan batas-batas atau ketidakterbatasan transendensi?




Demikian juga, ketika mereka masuk ke dunia partikel-partikel subatomik yang tidak tampak oleh mata biasa, para saintis menemukan suatu dunia yang weird, yang sukar atau tak terpahami sepenuhnya oleh sains yang ada sekarang, yang akibatnya menimbulkan juga suatu kegairahan dan ketakjuban yang mendorong mereka untuk terus menyelidikinya tanpa lelah.

Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menyadarkan kita bahwa dunia partikel subatomik tidak akan pernah bisa kita kontrol, eksplorasi dan pahami sepenuhnya. Kita, misalnya, tidak akan pernah bisa menentukan dengan sepersis-persisnya posisi sebuah elektron dalam dunia subatomik.

Tetapi berbeda dari sikap para agamawan teistik, ketika para saintis berhadapan dengan transendensi kosmologis dan transendensi quantum mereka tidak menyembah transendensi ini melainkan menatapnya dengan terpesona lewat berbagai jenis wahana dan instrumen lalu mengkaji dan menyelidikinya lewat metode-metode saintifik.

Aktivitas-aktivitas saintifik mereka membuat mereka menemukan banyak wonder dalam jagat raya dan interkoneksi yang kuat di antara seluruh materi yang membentuk jagat raya.


Magi puitis

Keterpesonaan dan wonder yang para saintis alami dan temukan dalam kosmos, membawa mereka ke dalam suasana bertemu dengan apa yang biolog terkenal Richard Dawkins namakan “magi puitis” (poetic magic)./12/

Bagi Dawkins yang ateis, dunia ini, kosmos yang mahaluas, dan kehidupan kita sehari-hari dan kehidupan semua organisme, dipenuhi oleh magi, oleh wonder, diresapi oleh dimensi-dimensi transenden yang membuatnya terpesona, masuk ke dunia puitis, dan lewat sains dia berusaha memahami semuanya dengan metode-metode saintifik secara berdisiplin. Dalam banyak momen kehidupan mereka, para saintis besar kerap menjadi sangat puitis, lembut dan halus. Mustinya Dawkins juga begitu.

Setelah saya membaca tuntas buku bagus Dawkins The Magic of Reality yang salah satu bagiannya memuat ulasan menarik tentang poetic magic, saya dapat menyatakan dengan yakin bahwa poetic magic Dawkins adalah transendensi-dalam-imanensi, dan imanensi-dalam-transendensi.

Dengan menyatakan bahwa realitas itu “magic”, Dawkins bermaksud menegaskan bahwa di dalam segala realitas natural yang menjadi objek kajian sains terdapat dimensi-dimensi transenden, dimensi-dimensi yang magis, yang terus-menerus selalu melahirkan perspektif-perspektif baru yang terus bertambah, berubah dan makin mempesona. Sains itu terus mengalir, berubah, dan tak pernah diam di tempat.

Saya jadi teringat pada sosok filsuf Yunani dari Efesus, Heraklitus (lahir di ujung abad ke-6 SM), yang menyatakan bahwa jagat raya ini, dan segala sesuatu di dalamnya, termasuk manusia, "semuanya mengalir/berubah" (Yunani: panta rhei) dan "tak ada sesuatu pun yang tinggal tetap selamanya" (kai ouden menei), sama seperti tak ada orang yang pernah melangkah dua kali di arus air yang sama dari sebuah sungai.

Dalam memoarnya yang berjudul menarik An Appetite for Wonder (terbit di ujung tahun 2013), Richard Dawkins menyatakan bahwa sejak muda dia memang sudah tertarik pada masalah-masalah eksistensial yang agama-agama coba untuk jawab.

Tulis Dawkins, “Aku senantiasa tertarik pada pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai kehidupan ini, pertanyaan-pertanyaan yang agama-agama ingin jawab (tetapi gagal). Tapi beruntunglah aku karena aku hidup dalam suatu zaman di mana pertanyaan-pertanyaan semacam itu diberi jawaban-jawaban saintifik ketimbang jawaban-jawaban supernatural.”/13/

Itu sebuah pernyataan yang sangat jelas yang menunjukkan bahwa Dawkins, meskipun ateis, memiliki perhatian sangat kuat pada dimensi-dimensi transenden kehidupan ini, yang menjadi fokus agama-agama, yang disebutnya “pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai kehidupan ini” atau saya dapat sebut sebagai big questions.

Berbeda dari agama, Dawkins memberi jawab atas pertanyaan-pertanyaan ini secara saintifik. Jadi, sekali lagi, bagi Dawkins transendensi itu ada dalam imanensi, dan juga sebaliknya.

Dalam sebuah wawancara dengannya yang dilakukan oleh Laura Sheahen, berkaitan dengan bukunya yang terbit di tahun 1998, Richard Dawkins menyatakan,

“Bukuku, Unweaving the Rainbow,/14/ adalah sebuah upaya untuk mengangkat sains ke level puisi dan untuk menunjukkan bagaimana seseorang dapat... membangun suatu sikap spiritual terhadap sains. Bukan dalam arti supernatural, melainkan bahwa ada banyak misteri yang menggairahkan pikiran yang harus disibak. Saat aku merenungi dalam-dalam ukuran dan keluasan jagat raya, kedalaman waktu geologis, dan kompleksitas kehidupan, semua ini, bagiku, memberi banyak inspirasi. Semua ini membuat kehidupanku layak dipakai untuk mengkajinya.”/15/

Kembali kita temukan, bagi Dawkins, dimensi transenden (spiritualitas) memenuhi dimensi imanen (sains), dan juga sebaliknya. Hal ini jugalah yang ditemukan oleh Carl Sagan, sebagaimana sudah dibeberkan di atas.


Pikiran sebagai matriks

Fisikawan Jerman yang pada 1918 memenangkan Hadiah Nobel fisika, Max (Karl Ernst Ludwig) Planck (1858-1947), yang dipandang sebagai salah seorang pendiri teori quantum, pernah di tahun 1944 menyatakan bahwa “segala materi berasal-usul dan ada hanya karena suatu daya.... Kita harus menganggap di belakang daya ini ada Pikiran (Mind) yang sadar dan cerdas. Pikiran adalah matriks segala materi”./16/ Mari sekarang kita fokus pada “Pikiran” yang disebut Planck ini.

Dalam eksperimen-eksperimen di laboratorium yang berkaitan dengan dualitas gelombang/partikel dalam dunia mekanika quantum, para fisikawan telah lama menemukan bahwa partikel-partikel elektron (atau sebuah partikel foton atau sebuah partikel elementer lainnya apapun) dalam dunia subatomik memiliki semacam proto-kesadaran dan kehendak bebas pada dirinya sendiri (sebagai segi gelombang dari sebuah partikel elementer) selain sebagai materi (sebagai segi partikel dari sebuah partikel elementer).

Dalam rangka ini, fisikawan teoretis Amerika David J. Bohm (1917-1992) dalam artikelnya “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter” menulis,

“Hal-hal mental dan hal-hal material adalah dua sisi dari satu proses yang menyeluruh yang (seperti bentuk dan isi) terpisah hanya di dalam pikiran dan bukan di dalam realitas yang sebenarnya. Sesungguhnya, ada satu energi yang menjadi basis dari semua realitas.... Tak pernah ada pemisahan real apapun antara sisi mental dan sisi material pada tahap apapun dari keseluruhan prosesnya.”/17/

Nah, “Mind” yang dimaksud oleh Planck mengacu ke dunia subatomik ini, yang di dalamnya setiap partikel fundamental memiliki serentak segi mental (kesadaran dan kehendak bebas, atau pikiran) dan segi material.

Sebelumnya, di tahun 1931, Planck menulis, “Aku memandang kesadaran sebagai sesuatu yang mendasar. Aku memandang materi berasal dari kesadaran. Kita tidak dapat mengetahui apa yang ada di balik kesadaran. Segala sesuatu yang kita bicarakan, segala sesuatu yang kita pandang ada, memerlukan dalil adanya kesadaran.”/18/

Dengan demikian, “Pikiran” dalam pemahaman Planck adalah segi mental atau segi kesadaran dari setiap partikel subatomik, yang tidak dapat dipisahkan dari segi materialnya.

Lebih jauh dari itu, para saintis kini bahkan sudah menemukan dan sedang mempelajari fitur-fitur dan struktur-struktur yang “menyerupai kehidupan” dalam debu-debu bintang inorganik di angkasa luar. Catat, debu-debu inorganik!

Dalam reportase tentang temuan ini ditulis bahwa

“sebuah tim internasional telah menemukan bahwa di bawah kondisi-kondisi yang pas, partikel-partikel debu inorganik dapat terorganisasi membentuk struktur-struktur heliks. Struktur-struktur ini lalu dapat berinteraksi satu sama lain dengan cara-cara yang biasanya dihubungkan dengan senyawa-senyawa organik dan kehidupan itu sendiri.

Struktur-struktur plasma yang kompleks dan terorganisasi sendiri ini memperlihatkan semua properti yang diperlukan sehingga memenuhi syarat untuk struktur-struktur ini menjadi kandidat-kandidat bagi materi inorganik yang hidup. Materi-materi ini otonom, mereproduksi diri sendiri dan berevolusi.”/19/

Jadi, materi dan kesadaran tampak tidak terpisahkan, baik dalam dunia quantum maupun dalam jagat raya, dunia antar-bintang.

Nah, jika Pikiran yang disebut Planck adalah “matriks segala materi”, Pikiran ini adalah rahim dan wadah persemaian yang melahirkan, membentuk dan mengembangkan segala materi. Itulah arti frasa “matriks segala materi”.

Jelas, Pikiran yang semacam ini bukanlah sekadar pikiran-pikiran kecil manusia, tapi Pikiran Besar jagat raya yang tidak terpisah dari keseluruhan materi-energi yang membentuk jagat raya. Jika pikiran itu energi, maka pikiran ini memang ekuivalen dengan materi yang bermassa, seperti dinyatakan dalam persamaan Einstein yang tersohor E = mc2.

Jagat raya ini memiliki Pikiran di dalam segala materinya, dan memiliki materi di dalam Pikirannya. Keduanya tidak dapat dipisahkan; keduanya ekuivalen. Harus kita namakan apa lagi jika Pikiran Besar jagat raya ini tidak kita sebut sebagai transendensi?

Jika demikian, para saintis (yang teis, maupun yang ateis dan agnostik) sebetulnya ambil bagian di dalam Pikiran Besar ini lewat pemikiran-pemikiran saintifik hebat yang mereka bangun, yang dilahirkan oleh kemampuan rasional otak mereka, dan dibuktikan lewat metode-metode ilmiah.

Lahirnya sains adalah suatu keharusan, suatu keniscayaan, bukan suatu kebetulan. Sains adalah imanensi dalam transendensi Pikiran Besar jagat raya. Dalam sains, transendensi menyusup masuk ke dalam imanensi.


Higher intelligence

Tetapi apa yang diasumsikan Planck sebagai “Mind” ini tentu bisa juga ditafsirkan sebagai higher intelligence yang mungkin sekali memang menghuni banyak bagian jagat raya yang tanpa batas. Salah satu di antaranya adalah Homo sapiens, organisme cerdas yang kita namakan manusia yang moyang pendahulunya yang dinamakan hominin baru muncul di Bumi 400.000 tahun lalu,/20/ yang di belakangnya perjalanan evolusi biologis spesies sudah berlangsung sepanjang 3,5 milyar tahun.

Organisme-organisme luar Bumi yang memiliki tingkat kecerdasan jauh di atas manusia mungkin sekali sudah memiliki sains dan teknologi yang sudah luar biasa maju sehingga mereka sanggup menciptakan jagat-jagat raya, dan mungkin sekali juga dulu mereka telah menciptakan moyang Homo sapiens sebagai bagian dari eksperimen-eksperimen mereka dalam dunia sains perekayasaan genetik.

Sangat mungkin mereka telah meninggalkan pesan-pesan dan tandatangan mereka di dalam kode genetik kita, berupa pesan-pesan matematis dan semantis, yang ditulis sangat jauh di masa lampau dalam galaksi kita, yang menunggu untuk kita urai. Usaha mengurai ini sedang dijalankan./21/

Orang ateis yang sangat aktif Richard Dawkins sangat keras menolak kepercayaan kaum Kristen kreasionis terhadap sang perancang cerdas (the intelligent designer) jagat raya yang mereka (dengan diam-diam) namakan Allah.

Tetapi Dawkins sendiri bisa menerima suatu kemungkinan saintifik yang kuat bahwa di dalam jagat-jagat raya yang ada bisa terdapat alien-alien supercerdas yang lewat sains dan teknologi mereka yang sudah sangat maju sanggup menciptakan moyang-moyang Homo sapiens pada zaman yang sangat purba, seperti baru disinggung di atas. Tentang ini, Dawkins menyatakan:

“Adalah mungkin pada zaman dulu, di suatu tempat di dalam jagat raya, suatu peradaban berevolusi, mungkin sekali lewat cara-cara evolusioner seperti yang digambarkan Charles Darwin. Mungkin sekali peradaban ini mencapai tingkat kemajuan teknologi yang tak terbayangkan.

Lalu peradaban ini mendesain sebentuk kehidupan yang mereka budidayakan mungkin di planet Bumi. Bagaimanapun juga ini adalah sebuah kemungkinan, dan sebuah kemungkinan yang sangat merangsang pikiran.

Aku beranggapan adalah mungkin kalau suatu saat nanti anda akan dapat menemukan bukti-bukti tentang ini jika anda melihat ke detail-detail biokimia dan biologi molekuler; di situ anda akan dapat menemukan suatu tandatangan dari sejenis perancang cerdas.”/22/

Jadi, sementara kalangan kreasionis Kristen percaya pada the divine intelligent designer, Dawkins percaya pada super-human (or alien) intelligent designers.

Dalam suatu dunia yang makin saintifik dan teknologis, mungkin sukar sekali kita membedakan antara “the divine” dan “the super-human”, ketika sains dan teknologi yang sudah sangat maju tak bisa lagi dibedakan dari magi, seperti dikatakan oleh penulis kreatif fiksi-fiksi sains Arthur C. Clarke.

Siapa yang bisa membuktikan salah jika kita berpikir, spekulatif sekalipun, seperti Erich von Däniken, bahwa adalah mungkin “makhluk-makhluk sorgawi” yang dulu mendatangi moyang-moyang Homo sapiens yang lalu mereka sembah sebagai tuhan-tuhan atau dewa-dewi sebetulnya adalah alien-alien cerdas yang datang dari atas, dari angkasa luar? Pendapat ini tak bisa dibuktikan secara ilmiah benar atau tidak, tetapi hanya bisa dipercaya atau tidak.


Panspermia

Sebetulnya teori tentang “super-human (or alien) intelligent design” sudah diajukan sebelumnya di tahun 1973 oleh Francis Crick (pemenang Hadiah Nobel tahun 1953 bidang genetika lewat penemuan DNA) bersama Leslie Orgel, teori yang mereka namakan teori “panspermia terkendali” (“directed panspermia”): kehidupan di planet Bumi semula dibudidayakan oleh alien cerdas dari angkasa luar lewat molekul DNA yang mereka rancang.

Teori ini diusulkan oleh Crick berhubung dia melihat molekul DNA terlalu kompleks untuk bisa dihasilkan oleh evolusi lewat seleksi alamiah sebagaimana digambarkan Charles Darwin, sehingga dia perlu menteorikan adanya suatu perancang cerdas yang telah mendesain molekul ini. Karena menerima banyak kritik, akhirnya Crick menarik kembali teorinya ini, dan kini oleh Dawkins teori ini tampaknya dihidupkan kembali.

Para teis menilai teori ini sebagai sebuah fiksi sains belaka berhubung, kata mereka, hingga kini kita tidak punya bukti apapun bagi keberadaan alien-alien cerdas di angkasa luar. Tetapi, sebaliknya, mereka juga harus diingatkan bahwa memandang sang perancang cerdas ini sebagai Allah juga sebuah fiksi belaka, sebab hingga kini kita juga tak pernah menemukan bukti-bukti empiris apapun bagi keberadaan Allah.

Tetapi, hemat saya, bukankah adanya Homo sapiens di planet Bumi juga merupakan sebuah bukti bahwa organisme cerdas memang ada di dalam jagat raya? Jika organisme cerdas ada dalam jagat raya, apakah harus hanya ada di Bumi? Hemat saya, tidak harus.

Di situ, kita berhadapan dengan persoalan yang terus hingga saat ini belum terpecahkan dengan sangat meyakinkan, yaitu persoalan Paradoks Fermi yang sudah saya ulas panjang lebar di sebuah tulisan lain saya: Setelah banyak variabel diperhitungkan lewat nalar ilmiah, kesimpulannya adalah alien-alien cerdas yang berperadaban tinggi haruslah ada. Tapi paradoksnya, seperti ditanyakan oleh Enrico Fermi, adalah di manakah mereka berada?/23/

Dalam anjurannya untuk kita tidak membuat kontak dengan alien-alien cerdas karena mereka menurutnya jahat, astrofisikawan Stephen Hawking menyatakan bahwa “Kita hanya perlu memandang ke diri kita sendiri untuk melihat bagaimana kehidupan cerdas dapat berkembang menjadi sesuatu yang kita tidak ingin jumpai.”/24/

Dengan kata lain, bagi Hawking manusia adalah suatu bukti adanya kehidupan cerdas dalam jagat raya ini, dan watak agresif manusia juga akan ditemukan dalam diri alien-alien cerdas. Namun bagi Carl Sagan, mustinya semakin tinggi peradaban alien-alien cerdas, semakin tinggi dan agung juga moral mereka.

Selain itu, karena alam itu secara empiris ada dan evolusi lewat seleksi alamiah adalah suatu proses yang memang nyata, maka jauh lebih realistik jika kita menghipotesiskan bahwa alam ini memiliki kemampuan abiogenesis, kemampuan menciptakan DNA yang hidup dari zat-zat kimia yang mati yang disebarkan ke dalam jagat raya lewat supernovae, jika kondisi-kondisi natural di angkasa luar dan di planet Bumi yang diperlukan sudah tersedia.

Kapasitas abiogenesis dari alam ini, dalam jagat raya, juga disebut sebagai kapasitas “panspermia”: kapasitas untuk memunculkan benih-benih kehidupan di segala tempat, di mana-mana, di dalam keseluruhan jagat raya. Bukti-bukti telah terkumpul dengan makin banyak bahwa kapasitas panspermia jagat raya adalah suatu kapasitas yang real./25/

Pada sisi lain, sangatlah tidak realistik jika kita melakukan sebuah “lompatan iman”, masuk ke teologi, dengan menyatakan bahwa suatu Oknum Supernatural telah menciptakan manusia langsung jadi dan sempurna tanpa udel dan tanpa lewat proses evolusi seperti diyakini kaum kreasionis. Jangan juga dilupakan bahwa abiogenesis adalah sesuatu yang sudah dibuktikan dengan sukses oleh sains biologi sintetis sebagaimana dikaji dan dikembangkan oleh J. Craig Venter./26/

Jadi, dalam mencari asal-usul kehidupan jauh lebih dapat diandalkan jika kita berpaling ke biologi, kimia dan fisika, ketimbang ke teologi yang didasarkan pada otoritas wahyu dan iman. Dalam hal ini, fideisme menjadi tidak masuk akal, dan "saintisme" (maksud saya: suatu preferensi atas sains, alih-alih atas iman, dalam usaha-usaha memahami segala fenomena dengan objektif) menjadi sebuah pilihan yang niscaya.


Agama Intelligent Design

Ada baiknya pada kesempatan ini kita berpaling sejenak ke salah seorang pembela gagasan tentang “intelligent design” (ID), yakni Stephen C. Meyer. Berkaitan dengan informasi genetik yang terdapat di dalam DNA manusia, Meyer menyatakan hal-hal berikut ini:

“Ketika aku belajar lebih jauh mengenai teka-teki DNA, aku mendapatkan serangkaian pengetahuan: mengenai kodrat informasi; mengenai mengapa informasi dalam DNA melampaui fisika dan kimia; mengenai mengapa informasi ini melampaui jangkauan kejadian yang kebetulan belaka; mengenai pesan-pesan yang real yang diberikan beranekaragam eksperimen simulasi; dan mengenai kriteria yang membuat penjelasan-penjelasan historis sebagai penjelasan-penjelasan terbaik.

Saat aku menggunakan metode saintifik historis untuk mengevaluasi bukti-bukti dan penjelasan-penjelasan tandingan berdasarkan kriteria ini, akhirnya aku menyadari bahwa hipotesis desain memenuhi masing-masing kriterion ini.”/27/

“Hipotesis desain memberikan penjelasan terbaik dan paling memadai mengenai asal-usul informasi yang diperlukan untuk menghasilkan kehidupan pertama di Bumi.… Informasi selalu datang dari sumber yang cerdas, dari suatu pikiran dan bukan suatu proses yang semata-mata material. Dengan demikian, penemuan informasi digital yang khas dalam molekul DNA memberikan landasan-landasan kuat untuk menyimpulkan bahwa kecerdasan memainkan suatu peran di dalam asal-usul DNA.”/28/

“Pengalaman kita yang seragam menunjukkan bahwa pikiran mempunyai kapasitas untuk menghasilkan informasi yang khas. Sebaliknya, pengalaman telah memperlihatkan bahwa proses-proses material tidak memiliki kapasitas ini.

Hal ini menyarankan bahwa pikiran adalah kandidat yang lebih baik sebagai entitas dasariah untuk menjelaskan asal-usul informasi yang khusus ini, sebagai sesuatu yang darinya informasi semacam ini pertama-tama muncul…. Suatu pikiran immaterial yang ada dari dirinya sendiri dapat berfungsi dengan baik sebagai penyebab hakiki adanya informasi biologis…. Desain cerdas―yang didefinisikan sebagai suatu pilihan dari suatu agen rasional untuk mengaktualisasi suatu kemungkinan―sangat mungkin menjadi suatu penyebab fundamental yang tidak memerlukan penyebab sebelumnya bagi keberadaannya sendiri.”/29/

Jadi, bagi Meyer yang mempertahankan hipotesis ID, informasi genetik dalam DNA yang memungkinkan kehidupan pertama muncul di planet Bumi berasal-usul dari “sumber yang cerdas”, dari “suatu pikiran yang immaterial”, “suatu agen yang rasional”, “suatu entitas dasariah”, yang ada “dari dirinya sendiri, tanpa penyebab sebelumnya”, yang tidak berwujud material. Sedikit lebih persis, “agen yang rasional” ini adalah “suatu agen yang personal”, “suatu kecerdasan yang dengan sadar mengarah ke suatu tujuan tertentu”, “suatu agen cerdas yang telah ada sebelum kemunculan manusia.”/30/

Meyer mula-mula menyatakan bahwa teori ID “tidak membuat klaim-klaim tentang suatu hakikat ilahi, dan tidak bisa mengajukan klaim-klaim itu. Teori ini membuat sebuah klaim yang lebih moderat yang didasarkan pada pengalaman seragam kita mengenai jenis penyebab―maksudnya, suatu penyebab yang cerdas― yang bertanggungjawab bagi asal-usul bentuk dan informasi biologis.”

Tetapi pada akhirnya ketika dia harus menyebut identitas “agen yang rasional dan personal” ini, dia memunculkan kata “Allah” sambil berkeluh-kesah dengan mendalam, demikian: “Aku tahu pada saat aku berkata bahwa aku secara pribadi berpikir bahwa Allah adalah sang perancang cerdas itu”, siapapun “akan menepis kasus ID sebagai ‘agama’” karena mereka “beranggapan bahwa jika suatu ide bersifat religius, maka ide ini tidak memiliki basis fakta atau bukti.”/31/

Apa pendapat saya tentang pandangan-pandangan Meyer ini? Meyer sudah betul ketika dia menyatakan “pikiran yang cerdas” sebagai penyebab adanya informasi genetik dalam DNA kita; pendapatnya ini, dari satu sudut, sejalan dengan apa yang Max Planck sebut sebagai “Pikiran sebagai matriks segala materi”, sebagaimana sudah dikemukakan di atas.

Tetapi Meyer terlalu cepat berkesimpulan lewat lompatan iman saat dia menyatakan “pikiran yang cerdas” ini adalah suatu agen personal yang ada pada dirinya sendiri, yang sudah ada sebelum adanya kehidupan pertama, yang diidentifikasinya sebagai “Allah”.

Bukankah “pikiran yang cerdas” ini, ditinjau dari sudut fisika quantum, adalah aspek gelombang dari sebuah partikel, yakni aspek mentalnya, yang tidak dapat dipisahkan dari aspek partikelnya, yakni aspek materialnya.

Meyer juga keliru saat dia membuat dikotomi pikiran versus materi. Bukankah dalam dunia partikel, dikotomi ini tidak ada, sebab setiap partikel subatomik memiliki serentak sisi mental (sebagai pikiran) dan sisi material (sebagai partikel).


Emptiness is fullness

Selain itu, mengapa Meyer tidak berpikir bahwa “pikiran yang cerdas” yang dia hipotesiskan itu dapat mengacu juga ke kecerdasan alien-alien cerdas, seperti sudah disebut di atas. Jadi, ketimbang menjadi sebuah solusi ilmiah, teori ID yang diusulkan Meyer terperosok masuk ke dalam ranah teologi.

Kembali ke Pikiran yang diasumsikan Planck sebagai “matriks segala materi”. Tanpa perlu merujuk ke sosok yang orang beragama namakan Tuhan, sebetulnya ketika para saintis ateis dan agnostik menyelidiki banyak misteri dan wonder dalam jagat ini, baik jagat cilik dalam dunia mekanika quantum maupun jagat gede dalam kosmos secara keseluruhan, mereka mengarah ke Pikiran Besar yang ada di belakang dan menyelimuti semua materi, lewat pikiran-pikiran kecil mereka.

Semua hal yang kita pandang sebagai misteri dan wonder sebetulnya adalah Pikiran Besar yang belum dapat kita masuki dan urai lewat pikiran-pikiran kecil kita sekarang ini. Ketika waktu terus melaju, dan sains-tek kita makin maju, misteri-misteri dan wonder ini akan bertahap dapat kita masuki dan urai satu demi satu, tanpa pernah habis.

Pada akhirnya, bisa jadi pikiran-pikiran kecil kita akan sepenuhnya menjadi satu dengan Pikiran Besar dalam jagat raya. Saat ini telah dicapai, tak ada lagi transendensi dan imanensi. Kekosongan adalah puncak. Emptiness is fullness. Dari kosong menuju penuh, dibutuhkan keabadian.


Memotivasi hidup

Tidak pelak lagi, pada masa kini transendensi juga menyelubungi para saintis, transendensi yang melahirkan baik puisi, musik dan agama, maupun matematika, dalam dunia imanen. Yang menciptakan baik piano dan gamelan maupun mesin-mesin MRI, Large Hadron Collider, dan wahana-wahana antariksa. Yang membuat orang menangis haru atau tertawa bahagia atau keduanya sekaligus. Yang membuat para saintis (teis, ateis atau agnostik) mengembangkan sains terus-menerus dan sekaligus mendorong mereka berbuat bajik tak kenal lelah untuk umat manusia dan kosmos secara keseluruhan.

Jadi, orang teis, orang agnostik dan orang ateis, semuanya sama-sama memerlukan dimensi-dimensi transenden, dimensi-dimensi yang melampaui dunia sehari-hari, yang membuat kehidupan dalam dunia ini terasa menggairahkan, yang menimbulkan dalam diri kita motivasi-motivasi, yang memberi kita perasaan takjub luar biasa, dan yang mendorong kita untuk mengembangkan sains terus-menerus, tanpa henti dan tanpa titik final.


Selalu mengelak

Tanpa dimensi-dimensi transenden, manusia mungkin sekali akan kehilangan makna kehidupan ini, tak termotivasi untuk melangkah maju, ke depan, terus-menerus, untuk mencapai transendensi yang terus menjauh dan selalu mengelak ketika mau digenggam mutlak oleh tangan-tangan manusia yang kecil. Transendensi itu terlihat hanya bayang-bayangnya, hanya ekornya, hanya terasa sejuknya ketika bertiup semilir, bermain petak umpet terus dengan kita.

Dalam bahasa sains, Freeman John Dyson, seorang matematikus dan fisikawan teoretis Amerika kelahiran Inggris, dengan bagus dan jernih mengungkapkan dimensi-dimensi transenden ini demikian,

“… dunia matematika murni tidak pernah habis dijelajahi; tidak ada seperangkat terbatas aksioma-aksioma dan kaidah-kaidah inferensi yang selalu dapat merangkum keseluruhan matematika…. Aku berharap bahwa suatu situasi yang analog ada di dalam dunia fisika.

Jika pandanganku tentang masa depan benar, itu berarti bahwa dunia fisika dan dunia astronomi juga tidak akan pernah habis dieksplorasi; tidak peduli berapa jauh kita telah masuk ke masa depan, akan selalu ada hal-hal baru yang bermunculan, informasi baru terbit, dunia-dunia baru tersedia untuk dijelajahi, suatu kawasan kehidupan, kesadaran, dan memori yang terus-menerus makin meluas dan berkembang.”/32/

Hal yang sama juga diungkap dengan sangat bagus oleh kosmolog dan fisikawan teoretis Michio Kaku. Tulisnya,

“Jagat raya saat tercipta bisa jadi tak masuk akal, acak, atau tidak terduga. Namun jagat raya kini tampak bagi kita utuh, koheren, dan indah…. Akan selalu ada hal-hal yang melampaui pemahaman kita, yang mustahil kita eksplorasi. Tetapi hukum-hukum dasariah, aku percaya, dapat diketahui dan terbatas. Kita tidak sedang berada di akhir, melainkan di awal suatu fisika baru. Tetapi apapun yang kita temukan, akan selalu ada horison-horison baru yang senantiasa menunggu kita.”/33/

Pendek kata, tidak ada orang ateis murni, dalam arti orang yang sama sekali tak memerlukan dimensi-dimensi transenden dalam kehidupannya. Tanpa dimensi-dimensi transenden, kehidupan akan terasa kering dan menjadi sumber besar tekanan kejiwaan. Dan hal yang penting adalah jangan cari transendensi di luar imanensi, sebab transendensi ada dalam imanensi dan imanensi ada dalam transendensi.

Jangan cari transendensi di luar jagat raya, sebab transendensi ada dalam jagat raya dan jagat raya ada dalam transendensi. Ini bukan sebuah perspektif klenik atau paranormalis atau mistis atau gaib, tetapi sebuah perspektif saintifik yang membuka diri pada infinitas, ketidakberhinggaan.


Melampaui dualitas

Ateisme adalah sebuah posisi kognitif dan sikap afektif terhadap dimensi-dimensi transenden dalam kehidupan ini, yang dipahami berbeda oleh agama-agama.

Kaum ateis memahami dimensi-dimensi ini lewat sains, agama-agama lewat mitologi-mitologi. Yang satu memakai pendekatan yang cerdas (lewat sains), dan yang satunya lagi menggunakan pendekatan yang tidak cerdas, atau fideisme, lewat mitologi-mitologi. Lalu dengan keras mereka, para agamawan masa lampau, mengklaim mitologi-mitologi ini sebagai fakta-fakta as such, padahal sebetulnya metafora-metafora yang menunjuk dan menyeberangkan kita ke realitas lain yang melampaui jauh di atas realitas kita sehari-hari.

Mana yang anda mau pilih, saya serahkan kepada anda masing-masing, sebab apa pilihan anda sangat ditentukan oleh tingkat kematangan intelektual dan spiritual anda, tingkat prestasi pembelajaran anda, tingkat kuriositas anda.

Meskipun demikian, dalam pandangan saya, hal yang sungguh-sungguh bermanfaat adalah jika anda ikut serta mengembangkan sains terus-menerus, dan menghindar dari keadaan terpaku mati pada mitologi-mitologi yang dipahami harfiah.

Tentu di saat kita kanak-kanak, dongeng-dongeng mitologis sangat asyik dan meresap jika kita dulu dengarkan, seperti di usia dewasa kita juga asyik dan tertawan oleh film-film fiksi sains. Hal yang terpenting adalah kita mau dan mampu membedakan dan memisahkan mana fakta sains dan mana dongeng mitologis atau metafora, dan mana metafora yang baik dan mana metafora yang brutal dan durjana.

Sekarang ini kita hidup dalam era sains modern, dan peradaban teknologis modern kita baru berusia 300 hingga 400 tahun. Mustahil dalam era modern ini kita kembali memakai mitologi-mitologi dalam menjelaskan semua realitas, lalu menggeser atau malah membuang sains.

Pilihan kita hanya satu: kita harus maju ke muka, ke zaman-zaman yang makin saintifik, dan bagi kita sama sekali tak ada titik balik ke masa-masa lampau. Inilah masa depan dunia kita: kemajuan tanpa batas, bukan kemunduran; akhlak yang makin agung, bukan makin bobrok.

Jika kita, misalnya karena berbagai alasan keagamaan, memilih sikap dan perilaku antisains, maka sudah pasti kita akan termarjinalkan, terpinggirkan, tersingkir, lalu terkalahkan, menjadi para pecundang yang agresif, frustrasi, berang, dan keras, dan akhirnya akan punah. Ya, hal yang malang nian.

Posisi ateistik sudah melampaui dualitas transendensi versus imanensi, atau sebaliknya (yang dipertahankan dalam agama-agama teistik), dengan menempatkan keduanya dalam suatu interpenetrasi non-dualistik yang menggairahkan dan subur. Suatu advaita: suatu interpenetrasi, suatu kesatuan, antara Atman sebagai dunia imanen dan Brahman sebagai dunia transenden.

Sebagai sebuah posisi intelektual dan sikap afektif terhadap hal-hal transenden dalam hal-hal yang imanen, dan terhadap hal-hal imanen dalam hal-hal yang transenden, ateisme bukanlah agama atau mistisisme dalam bentuk apapun. Hal ini saya harus garisbawahi, sebab banyak sekali orang ateis yang tidak intelektual, tapi picik, fanatik, selalu mau menang sendiri, bicara kasar dan vulgar tentang agama-agama, dan tak punya afeksi terhadap transendensi. Orang ateis jenis ini tidak berbeda dari orang yang beragama yang ekstrim, keras dan militan.

Itulah temuan saya tentang hakikat ateisme, setelah menggumulinya dengan serius, dan mendasarkannya pada pandangan-pandangan para raksasa di dunia sains. Usaha saya ini membutuhkan banyak energi, alhasil tertuang dalam tulisan ini.

Pandanglah pikiran saya ini sebagai sebuah interpretasi baru terhadap ateisme, sehingga tidak perlu lagi terjadi serang-menyerang dengan agresif antara kaum agamawan dan kaum ateis. Keduanya sama-sama memerlukan dimensi-dimensi transenden dalam dunia yang imanen. Keduanya perlu rendah hati dan hidup dalam rasa kagum terhadap transendensi dalam dunia imanen.

Mudah-mudahan isi pikiran saya ini, entah bagaimana caranya, sampai ke Richard Dawkins, alhasil sang biolog ini akan dapat berubah menjadi seorang ateis yang lebih lembut dan kalem dalam menjalankan misinya untuk mencerahkan dunia lewat sains. Saintis ateis militan dan agresif itu juga sebuah oxymoron.


Penutup

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip tiga orang ternama berturut-turut. Pertama, sebuah pernyataan indah almarhum Carl Sagan yang agnostik mengenai hubungan sains dan spiritualitas. Tulisnya,

“Dalam perjumpaannya dengan Alam, sains selalu menimbulkan rasa takjub, takzim dan tunduk. Saat kita memahaminya lewat sains, di saat itulah kita merayakan kesatuan dan keterleburan kita dengan Jagat Raya yang mempesona, jikapun hanya dalam tingkatan yang sedang-sedang saja. Dan bangunan pengetahuan yang sudah terakumulasi dari seluruh penjuru dunia lambat laun mengubah sains menjadi sesuatu yang sedikit kurang dari suatu meta-pikiran (meta-mind) yang melintasi bangsa-bangsa dan generasi-generasi…. Sains bukan hanya sejalan dengan spiritualitas; sains adalah sebuah sumber besar spiritualitas.

Ketika kita mengenali tempat kita di dalam jagat raya yang lebarnya bertahun-tahun cahaya tak terhitung dan di dalam rentang waktu bermilyar-milyar tahun yang sudah berlalu, ketika kita menangkap seluk-beluk yang rumit, jalin-jalinan yang halus dan keindahan kehidupan, maka muncullah dalam diri kita perasaan yang melambung tinggi, perasaan berbahagia yang menyatu dengan perasaan rendah hati. Perasaan-perasaan ini sungguh-sungguh spiritual.”/34/

Kutipan kedua berasal dari astrofisikawan terkenal masa kini Neil deGrasse Tyson. Dia menyatakan,

“Ketika aku memandang ke atas, menatap langit malam, maka aku tahu, ya, kita semua adalah bagian dari Jagat Raya, kita semua berada di dalam Jagat Raya; tapi mungkin hal yang lebih penting dari semua fakta itu adalah bahwa Jagat Raya berada di dalam kita. Saat aku merenungi fakta itu, aku memandang ke langit―banyak orang merasa kecil, karena mereka kecil sedangkan Jagat Raya ini besar― tapi aku merasa besar, karena atom-atom tubuhku berasal dari bintang-bintang itu.

Aku merasakan suatu ikatan, suatu konektivitas pada level tertentu―itulah yang engkau sungguh-sungguh inginkan dalam kehidupan. Engkau ingin merasa terhubung, terkoneksi, engkau ingin merasakan ikatan-ikatan dan jalinan-jalinan. Engkau ingin merasakan bahwa engkau berpartisipasi dalam segala hal yang sedang berlangsung, dalam segala kegiatan dan segala kejadian di sekitarmu. Itulah persisnya apa kita ini, yang kita rasakan hanya lewat kehidupan kita.”/35/

Dan yang terakhir kutipan dari seorang astronom zaman kuno, abad ke-2 M, Ptolemeus, yang tinggal dekat Aleksandria. Tulisnya pada marjin sebuah bukunya,

“Aku tahu bahwa aku secara kodrati adalah seorang insan yang fana dan hidup sekilas saja. Tapi saat aku susuri dengan riang liku-liku gerak ke sana dan ke mari benda-benda langit, aku merasa tidak lagi berpijak di muka Bumi. Aku berdiri di hadapan Zeus sendiri dan aku melahap suguhan-suguhan untuk dewa-dewi sekenyang-kenyangnya.”/36/

Jagat raya penuh dengan hal-hal spiritual yang menakjubkan dan menggerakkan hati, dan ilmu pengetahuan adalah sebuah jalan yang sudah banyak teruji untuk kita masuk ke jantung jagat raya yang terus berdetak dengan hangat dan hidup.

Teis, ateis dan agnostik sama-sama mengalami kehidupan dan kehangatan Jagat Raya ini. Semuanya sama-sama merasakan Sang Transendensi yang memenuhi dan malah lebih luas dari jagat raya kita, karena di luar jagat raya kita masih ada jagat-jagat raya lain. Pikiran Besar ada di sana dan di sini, di mana-mana, tak terbendung, meresapi segala materi. Kehidupan kita bersumber dari sana. Kecerdasan kita berpangkal dari situ. Cinta kita mengalir darinya dan menuju ke dirinya juga. Suatu siklus cinta yang abadi.

Jika segala hal yang sudah dibentangkan di atas masih juga tidak berhasil meyakinkan anda, kaum ateis, bahwa anda juga memerlukan dimensi-dimensi transenden, seperti yang juga dibutuhkan kaum agamawan, maka supaya anda tidak sesumbar, saya anjurkan anda untuk menjadi ateis saintis.

Sebab hanya dengan menjadi ateis saintis, atau saintis ateis, anda baru akan bisa menemukan dan mengagumi alam ini yang ternyata penuh dengan dimensi-dimensi transenden yang mempesona. Mana yang lebih patut didengar, ateis kebanyakan, atau ateis saintis? Silakan anda dengan jujur dan rendah hati menjawabnya.  

Ingatlah, sudah seharusnya orang-orang ateis saintis penuh keterbukaan pada masa depan yang tanpa akhir, tidak menjadi fanatik buta, tidak agresif dan vulgar. Mereka penuh respek pada orang yang beragama, berjuang bersama mereka untuk mewujudkan kehidupan di planet Bumi yang dilakoni dalam kedamaian, persaudaraan, keramahan, kelembutan, kebajikan, kesehatan dan umur panjang.


Catatan-catatan

/1/ Koran Jakarta Post 31 Januari 2014 memberitakan bahwa Alexander Aan telah dibebaskan dari penjara pada 27 Januari 2014 setelah mendekam dalam penjara 18 bulan dari yang seharusnya 30 bulan. Meskipun sudah dibebaskan, Aan masih diwajibkan untuk secara berkala melaporkan diri ke pihak berwenang.

Pada 20 Januari 2012, berdasarkan pasal 28(2) UU Informasi dan Transaksi Elektronik Aan didakwa telah menyebarkan informasi yang bertujuan untuk memancing kemarahan dan kebencian keagamaan; dan berdasarkan pasal-pasal 156a(a) dan 156a(b) UU Pidana dia juga didakwa telah melakukan penodaan agama dan mendorong orang menganut ateisme.

Selain itu, Aan juga didakwa telah memberi keterangan palsu sebagai pemeluk agama Islam untuk KTP-nya. Pada 15 Juni 2012, Aan divonis 30 bulan penjara dan denda Rp 100 juta (= 8.190 USD).

Lihat berita “Atheist Alexander Aan gets of prison”, Jakarta Post, 31 January 2014, http://www.thejakartapost.com/news/2014/01/31/atheist-alexander-aan-gets-prison.html.

Lihat juga berita “Alexander Aan released from prison”, Center for Inquiry, 31 January 2014, http://www.centerforinquiry.net/blogs/entry/alexander_aan_released_from_prison/.

/2/ Zazen adalah suatu pelatihan pikiran yang dilangsungkan para murid Zen dalam posisi duduk bersila, posisi teratai/lotus, dengan pikiran dibiarkan bergerak sendiri, dan mereka tinggal hanya mengikuti gerak pikiran ini. Titik awal untuk membuat pikiran selanjutnya bergerak sendiri adalah konsentrasi meditatif terhadap sebuah koan.

Dalam Zen, koan adalah sebuah kisah atau sebuah dialog atau sebuah debat yang digunakan sebagai sebuah wahana sastra oleh para guru Zen untuk membimbing murid-murid mereka dalam pelatihan olah pikiran dan olah intuisi untuk tiba pada pencerahan budi. Zazen bisa berlangsung berjam-jam lamanya, bergantung pada banyak koan yang mereka sedang renungi.

Zen sendiri adalah sebuah aliran dalam Buddhisme Mahayana, yang fokus ritual terpentingnya adalah olah pikiran dan konsentrasi pikiran dalam suatu zazen, dan bagi Zen Buddhisme pengalaman religius tertinggi adalah olah pikiran. Kata Zen sendiri berarti meditasi (Sanskerta: samādhi, dhyāna).

/3/ Lihat Kurnia Sari Aziza, “Basuki: Saya Enggak Suka Ada Kolom Agama, 'Bodo' Amat!”, Kompas.com, 13 Desember 2013, https://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/13/1552322/Basuki.Saya.Enggak.Suka.Ada.Kolom.Agama.Bodo.Amat.

Karena diserang oleh FPI atas pernyataannya, Basuki kemudian memperjelas apa yang dimaksudkan olehnya; tentang ini lihat “Ditentang FPI, Basuki luruskan pernyataan soal kolom agama”, Kaskus, http://www.kaskus.co.id/thread/52b09f8318cb172d758b4650/terjawab-ditentang-fpi-ahok-luruskan-pernyataan-soal-kolom-agama-di-ktp/.

/4/ Jon Kabat-Zinn dan Richard J. Davidson, bersama Zara Houshmand, eds., The Mind's Own Physician: A Scientific Dialogue with The Dalai Lama on the Healing Power of Meditation (Oakland, CA: New Harbinger Publications, 2011), hlm. 22.

/5/ Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 5 (hlm. 149-182).

/6/ Robert N. Bellah, Religion in Human Evolution: From the Paleolithic to the Axial Age (Cambridge, Massachusetts/London, England: The Belknap Press of Harvard University Press, 2011), hlm. 96 ff.

/7/ Lihat Edward Wakin, “God and Carl Sagan: Is the Cosmos Big Enough for Both of Them?”, U.S. Catholic (5): 19-24, May 1981.

/8/ Michael Shermer, Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time (edisi revisi diperluas; kata pengantar Stephen Jay Gould) (New York, N.Y.: St. Martin's Griffin, 1997, 2002), hlm. 86.

/9/ Sasha Sagan, “Lessons of Immortality and Mortality From My Father, Carl Sagan”, Nymag.com. The Cut, 15 April 2014, http://nymag.com/thecut/2014/04/my-dad-and-the-cosmos.html.

/10/ Dave Breese, 7 Men Who Rule the World from the Grave (Chicago: Moody Press, 1990), hlm. 12-13.

/11/ Lihat Whitney Clavin, “Planck Mission Brings Universe into Sharp Focus”, JPL NASA, March 21, 2013, http://www.jpl.nasa.gov/news/news.php?release=2013-109; juga Paul Preuss, “Planck mission updates the age of the universe and what it contains”, Berkeley Lab News Center, March 21, 2013, http://newscenter.lbl.gov/science-shorts/2013/03/21/planck-results/. Reportase mutakhir tentang “dark matter”, baca Charles Q. Choi, “Elusive Dark Matter May Have Already Been Found”, Space.com, 9 Desember 2013, http://www.space.com/23879-dark-matter-detection-discovery.html.

Gambaran ringkas mutakhir tentang distribusi materi-energi jagat raya, lihat artikel "Chandra: Field Guide to X-Ray Astronomy: Dark Energy", edisi revisi 19 Agustus 2016, Chandra X-Ray Observatory, http://chandra.harvard.edu/xray_astro/dark_energy/index.html.

/12/ Richard Dawkins, The Magic of Reality: How We Know What's Really True (diilustrasikan oleh Dave McKean; New York, etc., N.Y.: Free Press, 2011), hlm. 19 ff. Lihat juga Richard Dawkins, “Appetite for Wonder”, Youtube posted 20 Desember 2013, http://www.richarddawkins.net/news_articles/2013/10/16/richard-dawkins-appetite-for-wonder#.

/13/ Richard Dawkins, An Appetite for Wonder: The Making of A Scientist (New York, N.Y.: HarperCollins Publishers, 2013), hlm. 13.

/14/ Richard Dawkins, Unweaving the Rainbow: Science, Delusion and The Appetite for Wonder (New York, N.Y.: Houghton Mifflin Company, 1998).

/15/ Laura Sheahen, “The Problem With God: Interview With Richard Dawkins”, Beliefnet, http://www.beliefnet.com/News/Science-Religion/2005/11/The-Problem-With-God-Interview-With-Richard-Dawkins.aspx?p=2.

/16/ Ini diucapkan Max Planck dalam pidatonya yang disampaikan di Florence, Italia, 1944, yang berjudul Das Wessen der Materie (“Hakikat Materi”). Lihat Archiv zur Geschichte der Max-Planck-Gesselschaft, Abt. Va, Rep. 11 Planck, Nr. 1797.

/17/ David Bohm, “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter”, The Journal of the American Society for Psychical Research, Vol. 80, No. 2 (April 1986), hlm. 129 [113-135].

/18/ Dikutip dalam The Observer, 25 Januari 1931.

/19/ Tentang ini lihat reportase Institute of Physics, “Physicists Discover Inorganic Dust With Lifelike Qualities”, Science Daily, Aug 15, 2007, http://www.sciencedaily.com/releases/2007/08/070814150630.htm.

/20/ Berlandaskan temuan DNA mitokondrial manusia kuno yang diekstrasi dari sebuah fosil tulang paha yang berumur 400.000 tahun yang ditemukan di Spanyol dalam sebuah goa yang dinamakan Sima de los Huesos (dalam bahasa Spanyol, artinya Lubang Tulang-tulang).

Lihat laporan temuan ini oleh Matthias Meyer, Qiaomei Fu, et al., “A Mitochondrial genome sequence of hominin from Sima de los Huesos”, Nature (2013) doi:10.1038/nature 12788, diterbitkan online 04 Desember 2013, http://www.nature.com/nature/journal/vaop/ncurrent/full/nature12788.html.

Lihat tinjauan hasil kajian ini oleh Carl Zimmer, “Baffling 400.000-Year-Old Clue to Human Origins”, The New York Times Science, December 4, 2013, http://www.nytimes.com/2013/12/05/science/at-400000-years-oldest-human-dna-yet-found-raises-new-mysteries.html?_r=0.

/21/ Selain saya, telah banyak orang yang berpikir ke arah ini, antara lain Ray Villard, “Is an alien message embedded in our genetic code?”, News Discovery, 1 April 2013, http://news.discovery.com/space/alien-life-exoplanets/could-an-alien-message-be-embedded-in-our-genetic-code-130401.htm#mkcpgn=emnws1.

/22/ Lihat artikel “Richard Dawkins on Intelligent Alien Design”, May 2008/July 2013, http://www.theoligarch.com/richard-dawkins-aliens.htm.

/23/ Lihat Ioanes Rakhmat, "Paradoks Fermi, atau The Great Silence, atau Silentium Universi", The Freethinker Blog, 2 Januari 2015, https://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2015/01/paradoks-fermi-atau-great-silence-atau.html?m=0.

/24/ Lihat reportase “Stephen Hawking warns over making contact with aliens”, BBC News, 25 April 2010, pada http://news.bbc.co.uk/2/hi/8642558.stm.

/25/ Tentang kapasitas panspermia dalam jagat raya, lihat Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern, hlm. 189-192. Sumber-sumber literatur yang dirujuk di situ perlu diperhatikan.

Lihat juga laporan yang berjudul “Physicists Discover Inorganic Dust With Lifelike Qualities”, Science Daily, Aug 15, 2007, http://www.sciencedaily.com/releases/2007/08/070814150630.htm.

Info mutakhir tersedia juga: Johnny Bontemps, “Space Dust Carries Water and Organic Carbon”, Astrobiology Magazine, 4 February 2014, http://www.astrobio.net/exclusive/5986/space-dust-carries-water-and-organic-carbon; artikel ilmiahnya tersedia, ditulis oleh John P. Bradley, Hope A. Ishii, et al., “Detection of Solar Wind-produced water in irradiated rims on silicate minerals”, PNAS, 23 December 2013, doi:10.1073/pnas.1320115111, http://www.pnas.org/content/early/2014/01/16/1320115111.abstract; Alvin Powell, “How Earth was watered: Recent findings have wide implications in study of extrasolar life”, Harvardgazette, 27 February 2014, news.harvard.edu/gazette/story/2014/02/how-earth-was-watered/; Elizabeth Howell, “Space Dust Is Filled with Building Blocks for Life”, Huffingtonpost Science, 18 February 2014, http://www.huffingtonpost.com/2014/02/18/space-dust-building-blocks-life_n_4808118.html?.

/26/ Tentang biologi sintetis yang dikembangkan J. Craig Venter, lihat Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), Lampiran 3 (“DNA Sintetik dan Kehidupan Artifisial”), hlm. 443-446.

/27/ Stephen C. Meyer, Signature in the Cell: DNA and the Evidence for Intelligent Design (New York, N.Y.: HarperCollins Publishers, 2009; edisi pertama paperback 2010), hlm. 326.

/28/ Stephen C. Meyer, Signature in the Cell, hlm. 347.

/29/ Stephen C. Meyer, Signature in the Cell, hlm. 394.

/30/ Stephen C. Meyer, Signature in the Cell, hlm. 437.

/31/ Stephen C. Meyer, Signature in the Cell, hlm. 440.

/32/ Freeman Dyson, dikutip dalam Michio Kaku, Physics of the Impossible: A Scientific Exploration into the World of Phasers, Force Fields, Teleportation, and Time Travel (New York, N.Y.: Anchor Books, 2008), hlm. 300.

/33/ Michio Kaku, Physics of the Impossible, hlm. 303.

/34/ Carl Sagan, The Demon-Haunted World: Science as A Candle in the Dark (New York: Ballantine Books, 1996), hlm. 29.

/35/ Lihat Maria Popova, “Neil deGrasse Tyson on Space, Politics, and the Most Important Thing to Know About the Universe”, Brain Pickingshttp://www.brainpickings.org/index.php/2012/03/06/neil-degrasse-tyson-space-chronicles-universe/.

/36/ Lihat Maria Popova, “From Ptolemy to George Eliot to William Blake: A Private History of Everyday Happiness”, Brain Pickingshttp://www.brainpickings.org/index.php/2012/10/10/a-private-history-of-happiness/.



Thursday, March 13, 2014

Film The Last Temptation of Christ dan Konteks Sosial Gerakan Yesus

RESENSI KRITIS
Film The Last Temptation of Christ

☆ Update mutakhir 2 April 2018

Pada hari Jumat, 14 Maret 2014, di Pisa Cafe Mahakam, Jln Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mulai pukul 16.00 sampai pukul 21.00, dilangsungkan pemutaran film panjang produksi tahun 1988 yang berjudul The Last Temptation of Christ




Film yang disutradarai Martin Scorsese ini dibuat berdasarkan novel fiktif dengan judul yang sama yang ditulis novelis Nikos Kazantzakis, dan dilayarlebarkan oleh Paul Schrader. Saya pada acara ini, yang dihadiri 60 orang, tampil sebagai pembahas film ini dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Berikut ini bahan yang sudah saya siapkan.  

Kekaisaran Romawi menjajah Palestina sejak tahun 63 SM, terus sampai ke masa kehidupan Yesus dan masih berlanjut berabad-abad sesudahnya. Pada era SM, tercatat ada beberapa perlawanan kecil terhadap pemerintah Roma, misalnya yang terjadi di tahun 4 SM. 

Pemberontakan besar terjadi tahun 66-70 M, disebut sebagai Perang Yahudi I, yang berakhir dengan pembumihangusan kota Yerusalem dan penghancuran Bait Allah. Sisa-sisa pemberontak Yahudi bertahan di benteng Masada dekat Laut Mati; lalu benteng ini dikepung dan berakhir dengan bunuh diri massal para pemberontak bersama keluarga mereka masing-masing (tahun 74 M). 

Di pertengahan atau menjelang akhir pemberontakan ini golongan Zelotes tampil di garis depan, melawan dengan senjata; sebelumnya mereka memang sudah lama menolak pajak yang dibebankan Roma dan sensus penduduk.

Bangsa Yahudi tidak jera memberontak. Pemberontakan besar terjadi lagi tahun 132-135 M, disebut Perang Yahudi II, dipimpin Simon bar Khokbah. Perang Yahudi II ini diakhiri juga dengan kekalahan telak bangsa Yahudi. Dekrit Kaisar Hadrianus di tahun 135 mengharuskan bangsa Yahudi seluruhnya disingkirkan dari negeri mereka sendiri, diasingkan ke kawasan-kawasan bangsa-bangsa lain di luar Palestina, dan nama kota Yerusalem diganti menjadi Aelia Capitolina. 

Sejak itu, eksistensi bangsa Yahudi sebagai sebuah negara di Tanah Palestina praktis lenyap. Terus selama berabad-abad ke depan, sampai berdiri Negara Israel di zaman modern (14 Mei 1948).

Sebagaimana lazimnya terjadi di mana-mana, bangsa Yahudi memberi berbagai macam reaksi terhadap penjajah Roma. 

Ada kelompok kolaborator, khususnya kalangan bangsawan yang tidak ingin kehilangan kekuasaan; golongan ini disebut golongan Saduki yang menguasai Bait Allah. 

Ada kelompok yang menjadi antek-antek atau kaki tangan Romawi, dikenal sebagai golongan Herodian, yang diberi kedudukan untuk menjadi raja Yahudi di provinsi Galilea yang menghamba pada Roma. 

Ada kelompok pelawan atau pemberontak terbuka (pada masa Perang Yahudi I, golongan Zelotes) atau dalam bentuk gerakan bawah tanah. 

Ada kelompok yang menjauh dari politik lalu menghabiskan waktu hanya untuk studi kitab suci dan agama dan memilih berdiam dalam masyarakat ramai, disebut golongan Farisi. 

Dan ada kelompok yang mengasingkan diri ke tempat-tempat sepi, lalu hidup membiara, tidak mau dinodai penjajah, seperti golongan Esseni yang memilih berdiam di Qumran dekat Laut Mati.

Pada masa-masa itu tentu saja tidak dikenal sekularisasi/sekularisme. Teologi/agama ya politik, dan politik ya teologi/agama. 

Teologi religiopolitik yang muncul kuat adalah teologi messianik Davidik: bangsa Israel menunggu kedatangan sang Messias (artinya: orang yang diurapi atau dilantik Allah dengan roh-Nya untuk menjadi Raja Israel keturunan Raja Daud) yang akan memimpin bangsa Yahudi berperang melawan penjajah, dan menegakkan kembali hukum-hukum Allah dan kedaulatan bangsa dan negara teokratis Israel. 

Murid-murid Yesus semuanya memegang teologi messianik Davidik ini, dan mereka siap mati bersama sang Messias yang mereka tunggu untuk memberi aba-aba untuk masuk ke dalam pemberontakan. Yudas Iskariot khususnya sangat gigih memegang teologi jenis ini. Mungkin sekali dia seorang anggota kelompok-kelompok perlawanan bawah tanah.

Pada abad ke-2 SM, para pemberontak Yahudi (yang melawan penjajahan oleh Raja Syria yang bernama Antiokhus IV Epifanes) menyusun sebuah teologi politik bahwa curahan darah sang Messias atau orang Yahudi yang suci dan benar, yang melawan penjajah, lalu mati syahid, akan menyucikan kembali Tanah Yahudi dan menyelamatkan seluruh bangsa. Mereka melakukan pemberontakan bersenjata dengan sangat keras, dikenal sebagai Pemberontakan Makkabe (karena dipimpin oleh keluarga Makkabeus). 

Teologi kesyahidan ini sangat kuat tertanam dalam pikiran dan keyakinan bangsa Yahudi, bahkan mungkin sekali dihayati juga oleh Yesus. Masalahnya, bukti-bukti sastra bahwa Yesus menganut teologi ini sangat kurang, nyaris tidak ada.

Ada juga teologi politik yang lain, yang disebut sebagai teologi Hamba Tuhan yang menderita, mati dibunuh pihak musuh, sama sekali tidak melawan, dan lewat semua azab dan nestapanya diyakini bahwa sang Hamba Tuhan ini menanggung dosa-dosa umat dan menebus mereka. Teologi ini tidak laku di antara para pejuang Yahudi, dari zaman ke zaman.

Ada sejumlah teks Tanakh (Perjanjian Lama gereja) yang memuat teologi jenis ini, teristimewa Yesaya 53 (khususnya ayat 5, “Dia tertikam karena pemberontakan kita; dia diremukkan karena kejahatan kita; ganjaran yg mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh”). 

Sekarang mari kita masuk ke bagian-bagian terpenting film The Last Temptation of Christ.

Saat sedang tersalib, Yesus melamun... dan lamunannya inilah yang dimaksud sebagai the last temptation.

Kita mulai dari batin Yesus.

Dalam film ini Yesus digambarkan sebagai seorang pencari Allah, dan dia sering mengalami apa yang dalam neurosains disebut Temporal Lobes Epilepsy (TLE), dengan gejala-gejala: terserang rasa sakit pada bagian-bagian tertentu kepala, terjatuh, kejang-kejang, mengalami halusinasi (melihat atau mendengar sesuatu hanya oleh dirinya sendiri), terserang kebutaan sementara, dapat disertai buih-buih yang keluar dari mulut. 

Oh ya, mungkin sekali Rasul Paulus juga terkena TLE ini kalau kita memandang tuturan dalam Kisah Para Rasul (9:1-19a; 22:3-16; 26:9-18) tentang pengalaman perjumpaannya dengan “sosok rohani” Yesus yang muncul dan bersuara dalam lautan cahaya yang gemilang, yang membuat sang rasul terserang kebutaan sementara, sebagai bagian dari biografi historis “sang rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi ini”. Menurut kajian-kajian antropologis, fenomena yang dinamakan fotisme (dari kata “fotos”, artinya cahaya) ini umum diklaim dialami oleh banyak guru spiritual dari berbagai latarbelakang agama dalam masyarakat-masyarakat tradisional.

Ibunya (Bunda Maria) mendesak Yesus untuk menyelidiki sendiri, apakah yang mengganggu mentalnya itu Tuhan atau jangan-jangan setan. Kalau setan, kata ibunya, bisa diusir keluar (lewat ritual eksorsisme). Tapi Yesus berkeras, bahwa itu Tuhan, dus tidak perlu ditengking pergi. 

Lalu atas seizin ibunya, Yesus meninggalkan rumah, untuk mengembara mencari dan menemukan Allah dan mendapat kejelasan apa kehendak Allah ini atas dirinya. Dia masuk ke padang gurun untuk keperluan itu, dan menemukan biara-biara di sana.

Seorang muridnya yang intim, Yudas Iskariot, mencap Yesus sebagai kolaborator Roma lewat pekerjaannya sebagai pengrajin kayu (untuk membuat salib pesanan Roma) dan keterlibatannya dalam setiap penyaliban kriminal Yahudi. 

Yudas sendiri memandang dirinya sebagai ksatria pejuang Yahudi yang melawan Roma lewat kekerasan individual (membunuh dengan senjata badik atas setiap serdadu Romawi atau orang Saduki kalau dia berpapasan dengan mereka). (Nama “iskariot” berasal dari kata “sikari”, artinya badik). 

Yesus memberitahu Yudas kalau dia sering dikuntit Allah dan bayang-bayang dan kerap mendengar suara Allah. Yesus menekankan bahwa dia sedang mencari apa kehendak Allah atas dirinya. Mula-mula dia yakin Allah ingin Yesus mengabarkan cinta kasih Allah untuk seluruh bangsa Yahudi yang sedang dijajah Roma. 

Tak masuk akal Yesus kalau Allah menghendakinya menempuh jalan kekerasan, mengangkat kapak untuk menebang akar-akar azab rakyat Yahudi, yakni penjajahan Romawi. Sebaliknya Yudas menghendaki Yesus mengangkat senjata melawan Roma (sejalan dengan teologi politik messianik Davidik). 

Akhirnya Yesus mendapatkan murid dan pengikut yang makin banyak. 

Galilea adalah pusat kegiatan pergerakan Yesus, persisnya kota kecil Kapernaum; dan dalam sejarah hingga ke zaman Yesus Galilea dikenal sebagai kawasan yang rawan dan laten yang didiami banyak pemberontak Yahudi. 

Atas permintaan Yudas dll, akhirnya Yesus meninggalkan provinsi Galilea, pergi ke padang gurun Yudea untuk menemui Yohanes Pembaptis (YP) yang giat membaptis orang di sungai Yordan. Oleh YP, Yesus didesak untuk mengangkat kapak, menebas akar-akar penderitaan bangsa Yahudi, yakni penjajahan Romawi. 

Tapi Yesus tidak yakin. Atas anjuran YP, akhirnya Yesus masuk kembali ke gurun yang lain, untuk mencari dan mendengar suara Allah dan kehendak Allah. Di suatu padang gurun, Yesus membuat sebuah lingkaran besar di tanah, dan dia duduk di tengahnya puluhan hari (konon sampai 40 hari 40 malam), tidak mau beranjak sebelum dia mendengar suara Allah dan mendapat petunjuk apa yang harus dikerjakannya. 

Di kawasan Timur Tengah kuno dan juga di banyak suku bangsa lain di dunia, gurun memang diyakini sebagai tempat sunyi untuk orang dapat berjumpa dengan Allah, selain dengan sosok-sosok adikodrati lain. Bukan gurunnya sebetulnya yang membantu meditasi yang penuh, tapi kesunyian dan kekosongan. Di kota-kota dan kerumunan yang ramai, petapa yang terlatih dapat menemukan gurun-gurun sunyi, diam dan kosong.

Di padang gurun ini, pencobaan datang tiga kali. Pertama, seekor ular sendok hitam muncul dan berbicara kepadanya dengan suara Maria Magdalena, mengaku sebagai roh/sukma Yesus yang merindukan seorang teman perempuan, sama seperti Adam yang dalam dongeng Taman Eden konon merindukan Hawa. 

Ular ini mendesak Yesus untuk mengambil jalan kehidupan normal sebagai seorang manusia lelaki, menikah dan punya anak. 

Kedua, seekor singa jantan besar muncul, mengaku sebagai hati Yesus, yang berbicara kepadanya dalam suara Yudas Iskariot. Singa ini mengingatkan Yesus bahwa hati Yesus sebetulnya penuh keserakahan dan rasa haus kekuasaan, dan dia sebetulnya ingin bisa berkuasa memerintah suatu bangsa dan negara, Roma misalnya. 

Ketiga, pencobaan datang dari Setan yang mengambil wujud api besar yang berkobar. Setan ini membujuk Yesus sebagai Anak Allah untuk bekerja sama di dunia natural dan di dunia supernatural untuk memerintah dunia kodrati dan dunia adikodrati. Sebelum lenyap, Setan menyatakan Yesus nanti akan bertemu lagi dengannya. 

Semua pencobaan ini tidak menampilkan kehendak Allah. Yesus masih harus mencari. Tak mudah baginya mengetahui persis apa kehendak Allah bagi dirinya. 

Tetapi, YP akhirnya muncul dengan membawa kapaknya dan kembali meyakinkan Yesus, bahwa yang perlu Yesus bawa bukan cinta kasih, tetapi kapak, yang harus dipakainya untuk merobohkan pohon penjajahan Romawi sampai ke akar-akarnya. 

YP jelas menganut teologi religiopolitik messianik Davidik, yang dijalankannya dengan strategis melalui penghimpunan para pengikut yang makin banyak dan mereka dibaptisnya di sungai Yordan, dan diindoktrinasi olehnya lewat khotbah-khotbahnya. Baptisan yang dijalankannya adalah suatu ritual inisiasi untuk memasukkan orang ke dalam komunitasnya dan gerakannya.

Sisi lain kehidupan Yesus adalah hubungannya dengan Maria Magdalena (MM), yang dalam film ini sejak awal digambarkan bekerja sebagai seorang pekerja seks komersial (alias pelacur). 

Tidak terlalu jelas kenapa MM di awalnya membenci Yesus, mungkin karena Yesus yang sudah dikenalnya sejak kecil menolak untuk menjadi kekasihnya lalu kawin dengannya. Atau mungkin karena Yesus memilih lebih mengasihi ibunya (Bunda Maria) ketimbang dirinya. 

Atau mungkin karena MM tidak setuju dengan pekerjaan Yesus sebagai seorang tukang kayu yang menerima pesanan pembuatan kayu salib untuk menyalibkan orang Yahudi sendiri, bahkan membantu Romawi dalam setiap penyaliban para kriminal. 

(Ada sebuah kisah fiktif yang menjelaskan mengapa MM membenci Yesus: saat Yesus menghadiri pesta perkawinan MM dengan Yohanes di Kana, Yohanes ini terpesona pada Yesus, lalu meninggalkan MM yang baru dikawininya untuk menjadi murid Yesus sepenuhnya. MM jadi sakit hati dan menaruh dendam pada Yesus dan pada semua pria, alhasil dia mengubah jalan kehidupannya menjadi seorang pelacur). 

Saat Yesus mencari suara dan kehendak Allah, Yesus sempat mampir ke rumah MM yang dijadikan tempat untuk melayani kaum pria yang mau bermain seks bayaran dengannya. Hari itu ada banyak sekali pria menunggu giliran bersenggama dengan MM, dari pagi hingga senja hari. 

Giliran Yesus tiba di senja hari, tapi MM menampik kehadiran Yesus dan memintanya pergi. Yesus meminta maaf kepada MM. Akhirnya MM lunak, dan mengajak Yesus bermain seks dengannya untuk menunjukkan kejantanannya; tapi Yesus menolak dengan teguh. MM menyatakan Yesus lebih memilih tetap perjaka untuk Allah-nya, alih-alih mau bersenggama dengannya. Kemudian Yesus pergi meninggalkan MM.

Setelah meninggalkan padang gurun tempatnya mengalami tiga kali pencobaan, Yesus menuju kota Betania, dan sampai di rumah Martha dan Maria, yang menyambut dan memulihkan tenaganya kembali. Mereka bertiga menjadi akrab. 

Dari mereka Yesus mendengar berita bahwa YP telah dipancung oleh Raja Herodes Antipas, penguasa Galilea (yang khawatir atas gerakan YP yang berhasil menghimpun banyak sekali pengikut; ini penjelasan historis dari Yosefus, sejarawan Yahudi, yang tidak sama dengan keterangan dalam Injil Markus 6:17-29 dan par.). 

Setelah mendengar berita kematian YP ini, Yesus menjadi yakin bahwa Allah sekarang menghendakinya mengangkat kapak untuk menebas akar-akar pohon Romawi, meneruskan gerakan mentornya ini.

Yesus memutuskan untuk datang ke Yerusalem dan masuk ke dalam Bait Allah bersama banyak pengikutnya pada masa perayaan Paskah tahunan. 

Di Bait Allah ini dia berdemo keras walaupun dalam skala kecil: meja-meja para penukar uang dan dagangan para penjual burung merpati dijungkirbalikkan, sehingga tercipta kekacauan. 

Di bawah ini sebuah ilustrasi Yesus Afrika sedang demo di Bait Allah. Yesus Afrika? Kok? Ya, itu kekuatan kekristenan: memberi tempat luas bagi imajinasi tentang sosok besar Yesus dari Nazareth, sesuai zaman, tempat dan alam pemikiran yang berpindah dan berubah.




Di sana Yesus bersoal jawab dengan para pemuka Bait Allah. Secara metaforis Yesus menyatakan kepada mereka bahwa Bait Allah akan dia robohkan lalu akan dibangunnya kembali dalam tiga hari. Metafora ini sebetulnya mengungkapkan keyakinan Yesus bahwa dirinya akan dibunuh, lalu akan bangkit lagi setelah tiga hari. 

Kemudian Bait Allah ditinggalkannya; tetapi para penguasa Bait Allah mengantisipasi akan membunuh Yesus, dengan mengadukan perkaranya ke penguasa Romawi (dhi gubernur Yudea, Pontius Pilatus, yang biasanya berada di Yerusalem pada musim perayaan Paskah). 

Pada zaman itu, menyerang Bait Allah dipandang sama dengan menyerang pemerintah Romawi, yang punya berbagai kepentingan besar dengan bait yang dianggap suci ini sebagai pusat pemerintahan negeri Yahudi. Yesus, sosok muda dari kota kecil Nazareth di Galilea, terlalu naif dan terlalu sederhana untuk bisa memahami relasi-relasi sistemik yang ada antara Bait Allah, kekuasaan para imam Saduki dan kekuasaan politik dan militer Romawi.

Kemudian Yesus memutuskan untuk kembali masuk kota Yerusalem. Kali ini, dengan tindakan simbolik yang jelas, dia masuk ke kota suci itu sebagai sang Messias, seorang Raja Yahudi. Yakni dengan menunggang seekor keledai dan melewati jalan-jalan yang sudah dihampari dengan kain, dan dedaunan dilambai-lambaikan kepadanya, simbol kebesaran seorang Raja Yahudi, sang Messias. (Dari arah yang berlawanan, konfrontatif, Pontius Pilatus dan pasukannya sebetulnya juga sedang masuk ke kota Yerusalem.) 

Saat memasuki kota Yerusalem inilah dia membuat keriuhan dan kekacauan baru, yang lalu ditanggapi dengan siaga oleh para serdadu Romawi dan para polisi Bait Allah. Bagi para pendukungnya, ini adalah pawai kemenangan dan kebesaran bangsa Yahudi; tapi bagi Roma ini adalah aksi subversif. Tapi tidak terjadi penangkapan di saat itu. Ilustrasi di bawah ini representatif imajinatif.




Yesus yakin inilah saatnya untuk dia mulai menggunakan kapaknya, dan memobilisasi murid-muridnya dan orang banyak untuk melawan Roma. Dia menunggu suara Allah; tetapi Allah diam saja. 

Tapi sebuah petunjuk muncul juga saat itu: pada kedua belah tapak tangannya terbentuk stigmata, yang darinya mengalir darah segar. Yesus tampak menjadi lemah dan kehilangan orientasi dan kepercayaan diri. Haruskah dia mati dibunuh di kayu salib? Akhirnya oleh murid-muridnya, khususnya Yudas Iskariot, Yesus dibawa ke sebuah tempat persembunyian yang aman di dekat kawasan kota Yerusalem.

Akhirnya di sebuah rumah ibadat Yesus menemukan teks Yesaya 53:7 (“Dia dianiaya, tetapi membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, dia tidak membuka mulutnya.”). 

Teks ini membuatnya mulai yakin bahwa sekarang dia harus menganut teologi Hamba Tuhan yang menderita, lewat kematian di kayu salib, untuk menebus bangsanya dari dosa-dosa mereka, untuk menjadi juruselamat dunia. 

Dia mulai memandang dirinya sendiri sebagai seekor domba yang akan disembelih tanpa melawan. Maksud teks ini di hari selanjutnya dibahasnya bersama Yudas Iskariot, tapi muridnya ini menyatakan diri tidak bisa memahami. Bagi Yudas dkk, tak masuk akal dan keyakinan mereka bahwa jika sang Messias datang, sang Messias ini tidak melawan penjajah, tapi pasrah saja saat nyawanya mau dihabisi musuh bangsa Yahudi.

Teologi kesyahidan para pejuang Makkabe mungkin juga mengilhami Yesus. Tapi jalan Yesus untuk menjadi seorang martir bukan dengan perang, tapi lewat suatu cara lain. 

Nah, pada kesempatan itu dicapai kesepakatan dengan Yudas bahwa Yudas akan mengkhianatinya, dengan menyerahkannya ke tangan pasukan Romawi di Taman Gethsemani pada malam hari lewat tanda ciuman untuk menunjukkan sosok yang harus ditangkap. Jalan ini harus ditempuh supaya Yesus mati di kayu salib. 

Di acara perjamuan terakhir yang digelarnya bersama murid-muridnya (lelaki dan perempuan), Yesus memberi makna simbolik roti sebagai tubuhnya, dan anggur sebagai darahnya, yang diserahkan kepada Roma untuk menyelamatkan manusia dari hukuman Allah karena dosa-dosa mereka. Sebelum acara perjamuan selesai, Yudas Iskariot meninggalkan Yesus. 

Lalu bersama murid-muridnya Yesus menuju Taman Gethsemani, dan di sana dia bergumul berat antara membatalkan niatnya untuk mati dan untuk terus maju tanpa takut. 

Tak lama kemudian Yudas muncul bersama pasukan Romawi dan sejumlah polisi Bait Allah. Setelah Yudas menciumnya, Yesus ditangkap dan dibawa pergi oleh pasukan Romawi yang dibantu para polisi Bait Allah.

Akhirnya Yesus diadili oleh Gubernur Romawi Pontius Pilatus, diakhiri dengan vonis hukuman mati di kayu salib. Pilatus mendakwa Yesus sebagai pemberontak yang ingin menggulingkan kekuasaan Romawi atas Tanah Yahudi, lalu menegakkan kerajaan Yahudi menggantikan Kekaisaran Romawi yang sedang menjajah Israel. 

Yesus menjelaskan bahwa dia tidak berjuang dengan jalan kekerasan, tapi dengan cinta kasih, dan kerajaan Yesus bukan berasal dari dunia ini tapi dari surga (artinya: kerajaan rohani, bukan kerajaan politik). 

Pilatus menjawab, entah Yesus berjuang lewat cinta kasih atau lewat angkat senjata, keduanya bagi Kekaisaran Romawi tidak berbeda, sebab tujuannya sama, yakni membawa perubahan bagi negeri Yahudi. Kata Pilatus, perubahan inilah yang Roma tidak kehendaki. Akhirnya Yesus disiksa dan digiring ke Golgotha untuk disalibkan di sana. Di tempat ini, kata Pilatus, sudah disalibkan 3.000 orang.

Saat sudah tersalib inilah Yesus penasaran mengapa Allah Bapanya tidak turun tangan menolongnya. Dia berteriak memanggil Allah, “Allahku, Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku!” Sampai dikayusalibkan pun Yesus tak yakin bahwa kehendak Allah sudah diketahuinya.

Ya, tentu saja, Allah diam saja, meskipun dalam film ini digambarkan seolah alam ikut hadir mengawasi semua prosesnya. 

Beberapa peneliti menyatakan bahwa sebetulnya Yesus meyakini pada saat dia disalibkan, bala tentara langit akan langsung turun tangan, membebaskan Yesus, dan membinasakan Roma. Tapi langit diam saja. Yesus kecewa berat. Berteriak penasaran, kenapa Allah, sang Bapanya, tega menelantarkannya. 

Tak lama kemudian, di tengah kesakitannya, dia melihat di sekitarnya ada Bunda Maria, MM, Martha dan Maria dari Betania. 

Tiba-tiba Yesus melihat ada seorang perempuan muda duduk tidak jauh darinya, yang mengaku sebagai sang malaikat pelindungnya. 

Sang malaikat ini melepaskan Yesus dari kayu salib tanpa disadari oleh orang banyak di sekitar tempat itu. Yesus heran, dan bertanya dia mau dibawa ke mana. Sang malaikat menyatakan Yesus harus melihat ke depan, bukan ke belakang. 

Yesus dibawa ke kawasan yang tampak sangat subur, hijau dan asri. Di kejauhan dia melihat serombongan orang banyak sedang mendekat ke tempat mereka berdiri. Menurut sang malaikat, rombongan itu adalah para perempuan (dan beberapa pria) yang mau menyambutnya untuk kawin dengan MM. Yesus bertemu MM dan MM merangkulnya. 

Di rumah mereka, Yesus bersenggama dengan MM, dan MM sangat senang karena katanya mereka akan punya anak. Saat MM sedang mengandung tua, Allah datang mengangkat MM ke surga. Yesus jadi sangat berduka atas kematian istrinya bersama bayi yang masih belum dilahirkan. 

Sang malaikat pelindungnya menunjukkan ada dua perempuan lain yang siap jadi istrinya, menggantikan MM. Akhirnya Yesus kawin dengan Maria dari Betania, dan beberapa tahun kemudian, setelah punya dua anak, Yesus juga mengawini Martha. Dari mereka dia mendapatkan enam anak. 

Yesus mulai melihat bahwa menjadi manusia normal, kawin dan punya anak, sangat menyenangkan hatinya dan signifikan buat kehidupannya sendiri.

Suatu saat, ketika sedang berjalan-jalan bersama keluarganya, dengan didampingi sang malaikat pelindungnya, di Yerusalem Yesus bertemu dengan Rasul Paulus (menurut tradisi, Paulus mati di kota Roma pada tahun 62 M) yang sedang mengkhotbahkan Yesus Kristus sebagai sang Messias yang telah mati disalibkan, lalu dibangkitkan pada hari ketiga, untuk menebus dosa dunia. 

Yesus marah dan menyatakan Paulus sebagai pendusta, sebab sang Kristus yang diberitakan Paulus adalah dirinya sendiri yang tidak jadi mati dikayusalibkan. Tapi Paulus menjawab, siapapun pria yang menuduhnya pendusta, yang mengaku sebagai Yesus, tidaklah penting; sebab yang sangat penting dan dibutuhkan manusia adalah sang Kristus yang telah mati disalibkan dan dibangkitkan pada hari ketiga, yakni Yesus Kristus versi Paulus sendiri.

Yesus pun akhirnya menjadi tua, berumur 70-an tahun, sementara sang malaikat perempuan muda pelindungnya tidak kunjung tua. Sexy dan singset abadi.

Suatu hari di tahun 70, Yerusalem dibumihanguskan dan Bait Allah dihancurkan, sebagai puncak Perang Yahudi I (tahun 66-70). Panik melanda seluruh kota. Dalam situasi yang kacau inilah Yesus terbaring di dipan dalam usia tua, sedang bersiap mati, di rumahnya di Yerusalem, ditemani istri-istrinya (Martha dan Maria dari Betania). 

Tiba-tiba saja pintu rumahnya terbuka, dan murid-muridnya satu per satu masuk, termasuk Petrus. Akhirnya masuklah Yudas Iskariot yang pada kedua belah tangannya terlihat lumuran darah karena dia ikut dalam pemberontakan. 

Oleh Yudas, Yesus dengan keras dicap sebagai pengkhianat dan manusia pengecut. Yesus menjelaskan bahwa dia bukan pengkhianat, karena Allah mengirim sang malaikat pelindungnya saat dia sedang terpaku di kayu salib untuk melepaskannya dan mengarahkannya untuk hidup wajar sebagai seorang manusia laki-laki: kawin, membangun keluarga dan punya anak-anak. 

Tapi Yudas menegaskan, perempuan muda yang mengaku sebagai sang malaikat pelindungnya itu bukan malaikat dari Allah, tetapi Setan yang pernah mencobainya saat dia berada di suatu padang gurun. Tiba-tiba saja sang malaikat pelindungnya ini berubah wujud menjadi kobaran api besar dan menyalami Yesus kembali. 

Yesus segera tersadarkan dia sudah ditipu sang Setan. Dia dengan sangat bersusahpayah menyeret-nyeret tubuhnya sendiri yang sudah jompo keluar dari rumah, lalu sampai di jalan. Di sana dia meratap dan berdoa, memanggil Allah dan menyatakan diri telah tidak taat kepada Allah. Lalu Yesus menyatakan dirinya ingin sampai mati dikayusalibkan.  

Segera saja adegan film ini beralih kembali ke bukit Golgotha, dan di sana adegan penyaliban Yesus muncul lagi seperti sebelumnya. 

Jelas, pertolongan sang malaikat perempuan muda, dilepaskannya dia dari kayu salib, perkawinannya dengan MM dan Maria dan Martha, dan anak-anaknya, dan rumahtangganya, dan usianya yang sampai 70-an tahun di kota Yerusalem, semuanya adalah lamunan Yesus sendiri yang berlangsung mungkin hanya dalam belasan menit. Lamunan ciptaan imajinatif sang novelis.

Lamunan inilah yang dimaksudkan dengan judul film ini: Pencobaan Terakhir Yesus Kristus. 

Dalam dunia nyata, tidak ada kemungkinan sekecil apapun seorang yang sudah disalib bisa meloloskan dirinya sendiri atau dengan dibantu orang lain, berhubung banyak serdadu dengan ketat menjaga kawasan tempat penyaliban. Dan di malam hari, binatang-binatang buas bebas berkeliaran di sana mencari mangsa.

Kali ini, dalam adegan di Golgotha itu, Yesus, setelah keluar dari lamunannya itu, tidak lagi berkeluh kesah karena menemukan dirinya ditelantarkan Allah, melainkan dengan sangat percaya diri dan dengan gembira dia berkata, “Sudah selesai”, “It is accomplished.” 

Ucapan Yesus yang gagah ini dicomot dari Injil Yohanes, yang menganulir jeritan keterlantaran Yesus yang muncul dalam Injil Markus. Penulis Injil Yohanes bagian kisah azab Yesus tidak sependapat dengan penulis kisah kesengsaraan Yesus dalam Injil Markus.

Begitulah, Yesus mati dengan tenang di kayu salib. Film pun habis. Film yang panjang, dengan total durasi kurang lebih 164 menit.

Berikut ini refleksi kritis saya pribadi. Tentu dengan berpijak pada ilmu sejarah. Bukan lamunan saat saya duduk di sebuah dahan besar pohon mangga harum manis.

Film ini perpaduan kreatif dan imajinatif antara fakta-fakta sejarah dan fiksi; tetapi lebih banyak unsur fiksinya alih-alih unsur fakta. 

Di awal film ini sudah ditegaskan bahwa film ini tidak disusun berdasarkan injil-injil. 

Pada pihak lain, injil-injil Perjanjian Baru sendiri bukan kisah-kisah sejarah juga, tetapi perkawinan ajaran-ajaran agama (baca: teologi) Kristen dengan fakta-fakta tentang Yesus. Kita katakan, injil-injil adalah perpaduan kreatif dan imajinatif antara mitos dan sejarah, dan kini sangat sukar untuk memisahkan keduanya, walaupun masih mungkin dilakukan lewat metode-metode keilmuan.

Usaha untuk menemukan kembali fakta-fakta tentang Yesus, yang bisa dibedakan dari mitos-mitos tentang Yesus, ada bidang kajiannya sendiri, usaha ilmiah, yang dinamakan kajian Yesus sejarah, the historical Jesus research, atau the reconstruction of the historical Jesus. Ini perlu dibeberkan pada kesempatan lain.

Dalam film ini yang sangat jelas fiksi adalah pencobaan terakhir yang dialami Yesus. Entirely fictive! 

Juga penggambaran MM sebagai seorang pelacur adalah fiksi, dimulai dulu di tahun 591 M saat Paus Gregorius Agung memberi stigma negatif kepada MM sebagai seorang pelacur yang bertobat (sebagai tafsirannya atas Lukas 7: 36-50 yang dibentangkannya dalam serangkaian khotbahnya tentang MM di kota Roma, lihat khususnya Homily XXXIII). 

Adegan Maria Magdalena mau dirajam karena kedapatan di hari Sabat tetap bekerja sebagai seorang pelacur dengan melayani orang-orang Romawi, lalu diselamatkan oleh Yesus dengan gagah berani, juga fiktif. 

Kalaupun kejadian ini pernah terjadi dalam sebuah episode kehidupan Yesus (bdk Yohanes 8:1-11), kita tidak akan pernah tahu identitas sang perempuan pelacur ini. Selamanya identitasnya in the dark.

Dalam realitas sejarah, MM sebetulnya adalah rasul terunggul dan tercerdas Yesus, melampaui semua rasul pria Yesus. MM pada masa paling awal kekristenan diakui sebagai “rasul dari segala rasul” (apostolorum apostola). Ada bukti-bukti teks tentang MM dengan status mulia ini, misalnya dokumen Pistis Sofia. Tetapi ini juga perlu dibahas lain kali.

Tentu saja setiap manusia selalu bergumul sepanjang umur kehidupan mereka tentang siapa dan apa jatidiri sejati mereka. 

Setiap insan itu selalu in the process of becoming, sampai saat usia menjadikannya jompo lalu masuk liang kubur atau berubah jadi setumpuk debu tulang lewat kremasi, atau sampai mati mendadak atau mati pelan-pelan di usia muda karena banyak sebab. Jadi, pasti Yesus juga demikian. Kepribadian setiap orang itu suatu bangunan mental yang dinamis, tak pernah statis.

Usaha-usaha menengok ke dalam batin Yesus untuk menemukan pergumulan eksistensialnya selalu subjektif dan bahkan spekulatif, sehingga setiap orang bisa mereka-reka sendiri, termasuk mereka-reka bentuk-bentuk ujian dan cobaan yang dialaminya. 

Yesus tidak pernah menulis apapun tentang dirinya atau tentang pergumulan batinnya atau tentang hal-hal lain; dan mungkin sekali dia buta huruf. 

Sejak awal kehidupan masa dewasanya di Galilea, hingga ke era penulisan dokumen-dokumen Perjanjian Baru dll, dan era-era selanjutnya, orang sudah harus menafsirkan siapa pria dari Nazareth ini dari berbagai sudut pandang. 

Dan akhirnya banyak yang berselisih paham satu sama lain tentang siapa diri sang pemuda baik hati namun kontroversial ini. 

Inilah juga yang dilakukan novelis Nikos Kazantzakis di abad ke-20. Berimajinasi tentang Yesus. Menafsir Yesus. Menulis tentang Yesus yang sedang bertarung dan bergumul tentang jalan kehidupannya di awal usia 30-an tahun. 

Bagi banyak orang, imajinasi Kazantzakis ini mengasyikkan. Bagi sebagian lagi, tak terbayangkan. Namanya juga imajinasi. Jangan sia-siakan imajinasi, sejauh dibangun dengan landasan ilmu pengetahuan, seni budaya dan kebajikan.

Semua pencobaan Yesus yang digambarkan dalam film ini fiktif. Tetapi jelas faktual kalau Yesus juga penuh pergumulan real di sepanjang usianya yang pendek (hanya sampai maksimal 32-34 tahun). 

Dalam film fiktif ini Yesus, dalam pergumulan batinnya, kelihatan sebagai seorang “paranoid” (terobsesi sebagai seorang maha penting di dunia) atau malah “megalomaniak” (terobsesi sebagai seorang besar yang akan melakukan hal-hal besar) atau “delusional” (kekeh memegang kepercayaan yang terbukti keliru). 

Atau mengidap TLE: dia membayang-bayangkan dirinya terus dikuntit Allah yang kerap juga bersuara di kedua telinganya, merasa diri sangat penting bagi Allah, dan percaya kalau dia akan menjadi orang besar sang juruselamat dunia. Semua ini imajinasi si penulis novelnya.

Tapi keadaan yang dialami Yesus ini juga diumpan oleh berbagai ajaran keagamaan yang hidup di kalangan Yahudi pada masanya. 

Yesus memang korban, oleh bayangan-bayangannya sendiri tentang dirinya sendiri, yang dibentuk oleh agama Yahudinya pada masa kehidupannya, dan oleh keprihatinannya yang dalam pada kondisi kehidupan pahit rakyat yang tanpa kemerdekaan.

Tetapi betapapun kreatif dan imajinatif, pesan film Martin Scorsese ini jelas sangat konservatif: Yesus telah mati di kayu salib untuk menebus dosa dunia, dosa semua manusia, sejak Adam dan Hawa sampai nanti saat jagat raya ini lenyap kembali, berubah menjadi satu singularitas “black hole” yang masif dan berenergi sangat besar. 

Yesus sukses menuntaskan misinya untuk menyelamatkan dunia lewat kematiannya di kayu salib, setelah melewati berbagai keraguan dan pergumulan.

Film ini mempertahankan sebuah teologi Kristen ortodoks. Dalam teologi ini, kematian dan kebangkitan Yesus dipandang secara magis akan berefek melepaskan manusia dari berbagai penderitaan, sakit penyakit dan kemurkaan Allah. 

Dalam fakta, efek magis ini tidak ada sama sekali. Orang Kristen pada umumnya tidak berbeda dari orang lain kebanyakan manapun, dalam kehidupan moral dan kesehatan jasmaniah mereka, dan kelakuan mereka juga. Orang non-Kristen mati karena serangan kanker atau AIDS, orang Kristen juga. 

Tidak ada yang sangat istimewa agung pada setiap orang Kristen. Kalau ada orang-orang yang berakhlak cukup atau lumayan atau luar biasa agung dalam kekristenan masa lalu dan masa kini, hal yang sama juga ditemukan di dalam agama-agama lain. Tapi teroris Kristen juga ada; bukan hanya teroris Islam.

Pada sisi lainnya, keyakinan bahwa kematian Yesus mendatangkan efek magis pengampunan dosa bagi orang yang (sebagai syarat!) percaya kepadanya, malah dengan asyik dan gelo dimanfaatkan banyak orang Kristen dengan negatif. Mereka berbuat dosa terus lantaran, mereka percaya, selalu akan datang lagi pengampunan dosa bagi mereka tanpa akhir. 

Kondisi ini terjadi karena apa yang disebut sejumlah orang sebagai "anugerah murah" dalam ajaran jalan keselamatan Kristen. Diajarkan oleh para pengajar agama Kristen bahwa kematian Yesus itu menghapus dan menanggung dosa manusia "satu kali untuk selamanya"; dan sekali seseorang sudah menjadi Kristen, tidak ada lagi peluang untuk dirinya terbuang dari anugerah Allah lantaran Tuhan dengan tak sembarangan sudah memilihnya untuk diselamatkan. 

Balik ke film. Dari tiga pencobaan yang dialami Yesus di padang gurun, yang dikhayalkan novelis Nikos Kazantzakis, pencobaan pertama hemat saya, jika saya mengikuti imajinasi sang novelis, lebih perlu Yesus turuti: hidup mengikuti kemauan sukmanya, untuk tidak hidup sendirian, tapi menikah dan membangun keluarga, punya anak-anak. Hidup normal sebagaimana orang pada umumnya, alih-alih bercita-cita besar mau mengubah dunia dengan cinta kasih, atau dengan kapak, atau lewat kematiannya di kayu salib. 

Pencobaan terakhir yang dialaminya saat sedang tersalib dan melamun sebetulnya sejalan dengan pencobaan yang pertama yang dialaminya di gurun: kawin, bangun keluarga, punya anak-anak, dan memberi kebahagiaan buat mereka. 

Masyarakat menjadi kuat jika setiap keluarga di dalamnya berbahagia. Ini kearifan sosial yang sudah berusia ribuan tahun.

Bedanya, pencobaan pertama datang dari sukma Yesus sendiri (disimbolkan sebagai seekor ular kobra hitam, dengan suara MM), dan pencobaan terakhir dari Setan (disimbolkan kobaran api besar, yang mengambil wujud lain sebagai sang malaikat perempuan muda pelindungnya). 

Dalam bingkai imajinasi Kazantzakis, sang Setan tampaknya menunjukkan jalan yang lebih benar kepada Yesus, ketimbang khayalan Yesus sendiri bahwa dia akan jadi juruselamat dunia lewat mati di kayu salib, sejalan dengan ajaran-ajaran keagamaan yang dikenalnya. Ini sebuah ironi!

Dari mana asal-usul teologi ortodoks Kristen yang menyatakan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus menyelamatkan dan menebus manusia dari murka Allah? 

Secara historis, bukan dari Yesus sendiri, tapi mula-mula disusun oleh Rasul Paulus yang dipenuhi rasa bersalah karena dia pernah menganiaya dan bahkan membunuh para pengikut Yesus (atau disebut sebagai para pengikut Jalan Tuhan). 

Paulus perlu membebaskan dirinya dari tekanan batin yang berat ini, dari dosa-dosanya. Dia perlu diselamatkan dan ditebus. Caranya? 

Ya, dengan memodifikasi doktrin penebusan dosa dari agama Yahudi yang dianutnya sebelum jadi Kristen, Paulus membangun ajaran keselamatan Kristen itu, untuk pertama-tama membebaskan dirinya dari rasa bersalahnya yang berat lewat pengurbanan Yesus di kayu salib. Hewan kurban dalam ritual penebusan dosa agama Yahudi diganti oleh Paulus dengan kurban insani, sang Kristus yang mati disalibkan. Kemudian dia menawarkan teologi ini kepada orang banyak, kepada dunia, lewat khotbah-khotbahnya dan lewat tulisan-tulisan teologinya (berupa surat-surat) yang sekarang termuat dalam Perjanjian Baru. 

Adegan fiktif perjumpaan Yesus dengan Rasul Paulus di Yerusalem dan percakapan keduanya dalam film ini sangat revelatif!

Kalau teologi Paulus ini kita lepaskan dari Yesus, lalu kita memakai ilmu-ilmu sosial (antropologi kultural, dan sosiologi gerakan protes sosial) untuk memahami gerakan yang dimulai Yesus (berawal di Galilea dan mencapai klimaksnya dengan kematiannya di Yudea), kehidupan dan kematian Yesus jadi signifikan dan bernilai dan bermakna lain. 

Lewat kajian-kajian sosial, Yesus akan muncul sebagai seorang nabi sosial yang berusaha keras untuk memberdayakan rakyat Yahudi yang miskin dan menderita banyak azab karena penjajahan Romawi. 

Yesus berusaha membangun sebuah masyarakat alternatif yang di dalamnya semua anggotanya setara dan diperlakukan dengan adil atas nama Allah Yahudi yang rahmani dan rahimi. Acara berkala makan bersama lesehan tanpa meja adalah wujud miniatur masyarakat alternatif yang diidam-idamkan Yesus.

Allah ini sedang mendatangkan kerajaan-Nya, pemerintahan-Nya, di tengah-tengah rakyat jelata, yaitu para pengikut Yesus kalangan rendah yang dari waktu ke waktu makin bertambah banyak. Mereka miskin. Hari ini bisa makan, besok belum tentu. 

Yesus menguatkan mereka dengan menunjuk burung di udara dan bunga di padang dan jangkrik serta semut di padang dan kunang-kunang. Mereka tetap terpelihara meski tak punya apa-apa.

Allah ini lewat gerakan Yesus memperlihatkan diri sebagai Allah yang penuh belarasa, yang tidak melupakan kalangan terendah dalam masyarakat Yesus zamannya yang dikotak-kotak dan diklasifikasi menurut ketentuan-ketentuan hukum-hukum agama (dalam antropologi disebut “sistem puritas”) yang tidak memihak mereka.

Allah ini memberi makan orang yang lapar, menyembuhkan orang yang sakit, dan membangun dan memberdayakan setiap insan yang patah semangat. 

Pesan-pesan Yesus ini sebagai seorang nabi sosial disampaikannya lewat kisah-kisah fiktif, lewat metafora-metafora, perumpamaan-perumpamaannya, dan tindakan-tindakan simboliknya. Di banyak tempat, dia menyatakan kini Raja Yahudi yang sebenarnya sedang hadir dan memerintah, yakni Allah Yahudi yang rahmani dan rahimi, lewat usaha-usaha Yesus sendiri.

Lalu, kenapa akhirnya dia ditangkap lalu disalibkan sampai mati? Ada beberapa sebab historis utama. 

Di mana-mana di Galilea Yesus berkisah dan memberitakan Allah Yahudi adalah Raja bangsa Yahudi yang sebenarnya, bukan Kaisar Romawi. 

Oleh para penguasa Yahudi dan Romawi, berita-beritanya ini dinilai subversif karena akan menggerakkan rakyat untuk akhirnya memberontak terhadap Kaisar Romawi yang kehadirannya di Tanah Yahudi diwakili oleh Gubernur Romawi di provinsi Yudea dan berbagai ketentuan hukum Romawi yang mengatur negeri Yahudi jajahan mereka.

Tetapi yang paling fatal adalah dua aksi Yesus di Yudea di masa perayaan Paskah, yakni demonstrasinya di Bait Allah (ini faktual) dan tindakan simboliknya (ini juga faktual) sebagai Raja Yahudi ketika dia masuk ke kota Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai dan dielu-elukan oleh rakyat sebagai Raja Yahudi yang sedang datang. 

Pada masa Paskah (hari perayaan Yahudi selama 7 hari untuk memperingati kemerdekaan moyang Israel dengan meninggalkan negeri Mesir yang memperbudak mereka, peringatan Eksodus), pasukan Romawi ditambah jumlahnya, dan situasi kamtibmas dijaga betul untuk tetap stabil. 

Pasukan yang mengawasi seluruh kompleks Bait Allah (dari benteng Antonia) mengambil posisi siaga penuh, memantau semua gerak orang di sekitarnya. Setiap huru-hara betapapun kecil pada masa Paskah di dalam dan di sekitar Bait Allah dan kota Yerusalem, akan langsung diberi respons militeristik dan para perusuh akan segera ditangkap dan langsung dieksekusi untuk menggertak dan menteror para pendukung mereka. 

Pasukan-pasukan Romawi pada musim Paskah ini siaga penuh karena dalam musim perayaan Paskah ini di Yerusalem bisa terhimpun sampai 3.000.000 orang pengunjung domestik dan pengunjung dari mancanegara, seperti tercatat dalam karya sejarawan Yahudi yang bernama Flavius Yosefus (Jewish War 6.420-427; 2.280). 

Perayaan ini dan renungan-renungan teks-teks suci yang dilihat dari sudut teologi Eksodus dan ritual-ritual keagamaan yang dijalankan, semuanya potensial sekali membangkitkan nasionalisme dan patriotisme rakyat Yahudi. Sikon mental ini sangat mungkin bermuara pada pemberontakan dan kerusuhan besar di seluruh kota, khususnya di Bait Allah sebagai pusat pemerintahan. 

Kalau angka yang diajukan Yosefus sangat fantastik sehingga sukar dipercaya, tafsiran yang moderat menyebut angka 300.000 sampai 400.000 orang. Jumlah yang tetap sangat besar!

Setelah dua peristiwa ini, salah seorang muridnya melaporkan kepada pihak yang berwenang tentang di mana Yesus akan bisa ditangkap dan kapan dan dengan cara bagaimana. Dalam film ini murid yang melaporkan adalah Yudas Iskariot; tetapi secara faktual tidak harus Yudas Iskariot, bisa murid lain manapun yang melihat gerakan Yesus terlalu radikal dan berbahaya, baik bagi agama Yahudi sendiri maupun bagi keamanan negeri mereka dan kestabilan politik. 

Ada beberapa pakar kajian Yesus yang berpendapat bahwa Yudas Iskariot dipilih para penulis injil PB sebagai murid pengkhianat untuk mendiskreditkan orang Yahudi sehubungan dengan penderitaan dan penghukuman Yesus di kayu salib. Nama “Yudas” itu seakar dengan nama “Yudea” atau “Yahudi”; dus, bangsa Yahudi, yang ditampilkan sebagai Yudas, telah bersalah karena mereka telah berkhianat kepada Yesus (bdk Matius 27:25).

Bagaimanapun juga, Yesus dari Nazareth akan tetap bisa menginspirasi semua aktivis gerakan sosial, apapun agama mereka, dalam kehidupan suatu masyarakat dan negeri yang rakyatnya sedang tertindas, kapan pun dan di manapun. 

Yesus adalah satu sosok agung masa lalu yang menjadi suatu sumber besar inspirasi bagi jalan kehidupan saya. Saya cinta Yesus. 

Studi ilmiah atas figur Yesus adalah salah satu ekspresi cinta saya. Jika anda mencintai seseorang, anda tentu ingin lebih jauh dan lebih dalam mengetahui dan mengenal orang yang anda cintai itu. Tak ada benturan antara cinta dan ilmu pengetahuan. Tuhan itu mahapenyayang sekaligus mahatahu.

Nah, kematian Yesus, jika dilihat sebagai kematian seorang nabi sosial yang dekat ke rakyat jelata, adalah kematian yang agung, berharga dan menjadi sebuah risiko mulia setiap pejuang HAM dan pemberdaya rakyat pada masa kini di manapun. 

Tapi meski Yesus menjadi penginspirasi saya, hemat saya, saya tidak perlu mati muda apalagi mati lewat penyaliban. Umur panjang dan sehat memberi saya peluang berharga untuk menyebarkan makin banyak dan makin luas ilmu pengetahuan, bukan agama. 

Untuk Indonesia, kematian Munir dapat dilihat berada dalam rel yang sama dengan kematian Yesus. Bedanya: tidak ada seorangpun di dunia yang memandang Munir sang juruselamat Indonesia, apalagi sang juruselamat dunia, apalagi mempertuhan dan menyembahnya. Begitu juga halnya dengan kematian Martin Luther King, Jr., dan sosok-sosok besar lain dalam dunia modern, yang telah berjuang untuk menegakkan HAM di mana-mana.

Tentu anda akan bertanya. Kenapa Yesus bisa ditinggikan begitu rupa, sebagai sang juruselamat dunia, Anak Allah, bahkan Allah sendiri, lewat kematiannya, dalam kepercayaan gereja-gereja awal dulu? 

Karena pada masa itu deifikasi (praktek memperilah manusia, dinamakan juga apotheosis) adalah praktek religiopolitik yang umum dan lumrah dijalankan di kawasan Yunani-Romawi. Banyak insan besar, dari berbagai profesi dan jalan hidup dan kebangsaan, di era kekristenan awal di dunia Laut Tengah mengalami deifikasi, bukan hanya Yesus. 

Menerapkan akidah tentang syirik pada doktrin tentang ketuhanan Yesus adalah suatu praktek salah zaman dan salah tempat; dengan kata lain suatu anakronisme. Kita tahu, syirik adalah sesuatu yang paling gigih ditolak agama Islam, kendatipun dalam agama ini Al-Qur’an sendiri juga dipandang begitu mulia dan tinggi bukan sebagai kitab insani!

Dalam film ini, ketika Pontius Pilatus bertanyajawab dengan Yesus, sang Gubernur ini menyatakan selain Yesus melawan Imperium Romawi, dia juga melawan Allah-allah Romawi. Teologi politik Kekaisaran Romawi sangat jelas, teologi deifikasi: Kaisar ya Dewa, dan Dewa ya Kaisar. Tidak ada sekularisme pada zaman kuno ini.

Tetapi seandainya memang Yesus yakin dirinya akan menjadi juruselamat dunia lewat kematiannya di kayu salib, bagaimana? 

Ya, paling jauh ini hanya keyakinan Yesus, belum tentu kemauan Allah. 

Kalau betul Yesus pribadi sangat percaya dan sangat menghayati teologi Hamba Tuhan yang menderita dari teks suci Yesaya 53, atau teologi kesyahidan para pejuang Makkabe, dan kalau betul teologi-teologi ini mujarab secara magis, mustinya setelah Yesus dihukum mati di kayu salib, tanah Yahudi akan langsung disucikan Allah, kekuasaan penjajah Romawi berakhir, rakyat Yahudi diselamatkan dan hidup sejahtera.

Faktanya sama sekali tidak demikian. Perang Yahudi I dan Perang Yahudi II berlangsung sekian dasawarsa setelah Yesus mati; dan kedua pemberontakan ini gagal total, bangsa Israel tetap terjajah. 

Lalu masih sekian abad ke depan bangsa Yahudi terbuang dari negerinya sendiri. Tanah Yahudi tetap ternajiskan karena diduduki bangsa besar lain.

Bayangan-bayangan Yesus bahwa dia akan menjadi juruselamat negerinya sendiri saja gagal terpenuhi, apalagi akan menjadi juruselamat dunia di segala zaman dan di segala tempat. 

Dan penting untuk diingat: bangsa Yahudi di abad-abad pertama M tidak pernah mengakui Yesus sebagai sang Messias, Raja Yahudi. Sebaliknya, Simon bar Khokbah yang memimpin Perang Yahudi II diakui dengan merata oleh bangsa Yahudi sebagai sang Messias mereka, Raja Yahudi, meskipun kehidupannya berakhir dengan kematian di kota Roma setelah dibawa ke sana sebagai tawanan Roma. 

Dalam tradisi religiopolitik Yahudi kuno, salah satu syarat terpenting untuk seorang Yahudi dapat diberi label Messias (Yunani: Khristos) adalah sosok ini harus berani mengobarkan perang militeristik melawan penjajah, lepas dari ihwal apakah dia akan menang atau dia akan mati. Tak ada satu pun bukti sastra kuno yang menggambarkan Yesus dari Nazareth memobilisasi orang Yahudi untuk memerangi penjajah Roma. 

Pada pihak lain, sekali lagi perlu diingatkan, teologi tentang Hamba Tuhan yang menderita tetapi tidak melawan, tidak laku di kalangan para pejuang bangsa Yahudi yang berulangkali jatuh ke tangan bangsa-bangsa besar yang menjajah mereka.

Yesus dari Nazareth diakui sebagai sang Messias hanya oleh komunitas-komunitas Kristen perdana, tidak secara universal, pada awalnya dulu. Ya, sang Messias Kristen, tapi tidak lagi dalam arti politik, tetapi secara rohani. Yesus sang nabi sosial diredusir jadi Yesus sang rohaniwan yang lewat kematiannya membuka jalan untuk orang Kristen masuk sorga rohani.

Namun, hemat saya, keyakinan orang Kristen bahwa mereka (karena percaya Yesus sebagai syaratnya!) akan pasti terima hadiah masuk sorga setelah kematian ini tetap bernilai positif hanya jika keyakinan ini mendorong kuat setiap orang Kristen untuk menjalankan kehidupan yang suci dan benar selama masih hidup di muka Bumi yang real yang memiliki forsa gravitasi. 

Hidup suci dan benar itu menjadi bukti bahwa mereka memang layak dan pasti masuk sorga setelah mereka wafat dan forsa gravitasi Bumi tak berlaku lagi bagi mereka yang sudah pergi ke rumah ketiadaan. 

Hidup suci dan benar itu ya tidak jadi koruptor, predator, penebar teror dan horor.

Tidak jahat dan durjana. Penuh empati dan belarasa kepada sesama manusia yang menderita. 

Tidak memperkaya diri tujuh ribu keturunan dengan jualan agama. 

Tidak menunggangi agama dan Tuhan untuk meraih kepentingan politik dan kekuasaan bagi diri sendiri, keluarga dan kelompok sendiri. 

Tidak pongah dengan mengklaim diri paling benar. Tidak dikendalikan sentimen SARA yang destruktif.

Mencintai, memperdalam, memajukan dan menyebarkan ilmu pengetahuan. 

Hidup dengan cerdas, waras, welas ikhlas, tangkas, berkualitas, tegas, pantas, dan berwawasan luas tanpa batas. 

Menyayangi planet Bumi ini dan negeri sendiri. 

Merawat dan membangun kehidupan yang sehat dan berbahagia bagi keluarga sendiri dan banyak orang lain sebagai sesama insan, dan bagi hewan dan tetumbuhan.

Anda hanya berkoar-koar kosong saja akan masuk sorga setelah wafat dan diam di rumah ketiadaan, selama anda tidak ikut aktif mendirikan sorga di muka Bumi yang real ini saat anda masih hidup bertubuh dan tunduk pada gaya tarik planet Bumi.

Jadi, jika imajinasi sang novelis diikuti, mungkin lebih baik seandainya Yesus hidup normal sebagai seorang insan pria, kawin, bangun keluarga sendiri, punya anak-anak, alih-alih dia terobsesi untuk menjadi sang juruselamat bangsa Israel dan seisi dunia ini yang, ditinjau dari studi sejarah sosial dan sejarah politik, ternyata gagal total. 

Kalaupun Yesus mau lebih dari itu, ya pilihlah jalan kehidupan sebagai seorang ayah yang baik, bukan saja buat anak-anaknya sendiri, tapi juga buat masyarakatnya yang sedang tertindas. Yesus dapat berjuang sebagai seorang aktivis sosial, sebutlah nabi sosial, dalam lingkungan yang terbatas. Alhasil, saya tak perlu khawatir Yesus yang saya kagumi ini berkhayal kejauhan. 

Buat anda yang sedang terdelusi bahwa anda adalah seorang besar yang akan menjadi juru selamat dunia, catatan-catatan saya di atas juga berlaku. Oh ya, berlaku juga buat saya sendiri, seekor semut yang tak pernah bisa menjadi seekor gajah.


Semoga mencerahkan!

** Pengantar diskusi film The Last Temptation of Christ (1988) di Pisa Cafe Mahakam. Jl. Mahakam, Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat, 14 Maret 2014, mulai pukul 16.00. Disiapkan oleh Ioanes Rakhmat. Kontak saya lewat email ioanesrakhmat@gmail.com. Follow saya di Twitter dengan akun @ioanesrakhmat. Kontak HP saya 08998092020. Baca buku mutakhir saya Beragama dalam Era Sains Modern (2013); dan yang akan segera terbit (2014), Cerdas Beragama: Sebuah Antologi Pencerahan.




Sunday, February 16, 2014

Agama Saya

AGAMA SAYA

Agama saya kebaikan hati
Surga saya dunia ini sekarang ini   
 
Kitab suci saya bentangan langit biru nan agung
Syahadat saya bersikap adil kepada semua orang 
 
Rumah ibadah saya tempat kanak-kanak bermain
Pahala saya kebahagiaan sejati dalam batin
 
Ritual saya meneruskan ilmu pengetahuan ke sesama insan
Doa saya pikiran-pikiran besar yang tercurah bak hujan 
 
Kaul saya terus berpikir tanpa batas tanpa akhir

Amal ibadah saya coretan-coretan di atas kertas yang terus mengalir

Orang-orang suci bagi saya begawan ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman
Para malaikat saksi-saksi abadi segala zaman yang memandang dari awan gemawan

Angin yang berhembus sumber inspirasi maha kaya
Tuhan saya cinta kasih semesta nan raya 


Tuesday, January 21, 2014

Landasan-landasan filosofis bagi sains modern

Lompatan iman dalam dunia ilmu pengetahuan akan selalu jatuh lagi karena ditarik oleh forsa gravitasi verifikasionisme.
• Ioanes Rakhmat



Charles Sanders Peirce



Untuk memahami bagaimana sains modern berkeja, anda perlu kenal pikiran-pikiran Charles Sanders Peirce (1839-1914). Dia adalah pemikir yang dengan brilian memberi landasan-landasan filosofis pada sains modern. Darinya kita paham bahwa sains modern juga berpijak pada filsafat. Dia meletakkan landasan filosofis bagi metode saintifik empiris dalam dunia sains modern masa kini.


Peirce menerima ide-ide rasionalisme Cartesian, tapi juga mengintegrasikannya dalam suatu keseluruhan yang melampaui rasionalisme. Menurut Peirce, konsep-konsep rasional dapat bermakna dan bisa mengabstraksi kesimpulan-kesimpulan empiris. Hal ini sudah jelas, sebab sains yang tidak rasional tentu bukanlah sains.

Peirce menyatukan penalaran induktif dan penalaran deduktif sebagai dua jenis reasoning yang saling melengkapi, bukan saling menyingkirkan. Tapi Peirce dengan kreatif menambah satu jenis reasoning lagi yang dinamakannya penalaran abduktif (“abduction reasoning”).

Penalaran abduktif: Jika ada banyak teori tentang suatu pengetahuan, teori yang paling superior adalah teori yang sangat mungkin lebih benar jika dibandingkan teori-teori lainnya yang inferior. Penalaran abduktif dipakai untuk tiba pada teori-teori yang lebih benar dibandingkan teori-teori lainnya. Ini berkaitan dengan kaidah Occam’s Razor yang akan dibeberkan nanti.


Tiga penalaran yang diajukan Peirce (induksi, deduksi, dan abduksi) kini menjadi fondasi konseptual utama dalam metode-metode saintifik modern yang bernalar dan berakal.

Terhadap pertanyaan objek-objek apa saja yang menjadi fokus sains modern, Peirce menjawab demikian: objek-objek sains adalah hal-hal yang REAL, yang propertinya tidak bergantung pada persepsi manusia atas hal-hal ini. Hal-hal real ini ada secara objektif, terlepas dari persepsi si pengamat. 

Kata Peirce, setiap orang yang punya pengalaman yang cukup tentang hal-hal yang real akan sepakat mengenai kebenaran hal-hal yang real itu.

Yang disebut REAL oleh Peirce dalam dunia sains sekarang disebut sebagai hal-hal yang empiris, yakni segala hal yang dapat ditangkap lima indra kita atau dengan bantuan instrumen-instrumen teknologis atau yang disusun dalam model-model keilmuan (model matematis, model statistik, model komputer, dll).

Hal yang sangat penting, kata Peirce, adalah bahwa semua kesimpulan sains selalu tentatif (sementara, tidak final, tidak absolut, dapat berubah sewaktu-waktu). Kata Peirce, rasionalitas metode sains tidak bergantung pada kepastian kesimpulan-kesimpulannya tapi pada wataknya yang selalu “self-corrective”, selalu mampu memperbaiki diri sendiri. 

Kekuatan sains terletak di situ, selalu mampu memperbaiki diri, dus selalu hidup, dan selalu tahu kapan harus memperbaiki diri. Sains itu tahu diri. Kapan dan bagaimana?

Kata Peirce, sains akan memperbaiki diri jika bukti-bukti yang real sudah tak sejalan lagi dengan pandangan-pandangan saintifik sebelumnya.

Menyangkut metode-metode sains, Peirce menegaskan bahwa dengan terus-menerus dipakai, setiap metode saintifik akan membuat sains dapat mendeteksi dan mengoreksi kesalahan-kesalahannya sendiri. Tak usah diperintah siapapun.


Peirce, dengan demikian, menegaskan bahwa semua pandangan saintifik bisa salah, fallible. Inilah yang dikenal sebagai fallibilisme Peirce

Lebih jauh Peirce menyatakan bahwa lewat ujicoba terus-menerus, metode-metode saintifik akhirnya akan bermuara pada kebenaran yang makin integratif dan makin unifying, makin menyatukan segala fenomena alam dalam suatu teori besar yang serba inklusif.

Terkait dengan sifat yang unifying atau menyatukan, ada sifat-sifat lain yang berkaitan, yakni sifat niscaya atau inevitable (yakni lengkap dan memuaskan), dan sifat simetris atau invarian (yakni, hasil eksperimen dan observasi selalu stabil dan sama, terlepas dari waktu dan tempat pengukuran).

Oh ya, jangan anda meremehkan sains karena wataknya yang bisa salah, fallible. Sesuatu yang diterima dapat salah, justru akan mendorong orang untuk selalu menguji ulang dan mengoreksi---alhasil, kemajuan diperoleh. Jika sesuatu itu anda absolutkan tidak bisa salah, maka sesuatu ini pasti bantut dan berubah menjadi fosil.

Jangan lupa, kendatipun semua pandangan sains bisa salah, ternyata sains efektif bekerja: anda setiap hari memakai berbagai teknologi produk sains, dan karena sains yang bisa salah ini kita sekarang sudah bisa menerbangkan wantariksa-wantariksa tanpa awak ke berbagai planet dalam sistem Matahari kita. Sains itu real, dan menghasilkan hal-hal yang objektif.

Kalau anda kekeh menyepelekan sains (mungkin karena kesalehan keagamaan anda), baiklah saya ajak anda untuk tidak munafik: tinggalkanlah semua produk sainstek, jangan memakainya sama sekali, lalu kita lihat apakah anda masih akan bisa hidup lama dalam zaman sekarang ini.

Penangkapan oleh lima indra manusia (atau dibantu berbagai instrumen) atas hal-hal yang real, kata Peirce, berhubungan dengan konsepsi rasional atas hal-hal real itu. Maksudnya: penangkapan realitas oleh lima indra kita yang dibantu oleh berbagai instrumen teknologis akan selalu sejalan dengan penjelasan-penjelasan rasional tentang realitas ini. 

Bahwa berbagai instrumen harus dipakai untuk membantu lima indra juga ditekankan oleh John Dewey (1859-1952), Bapak pragmatisme. Selain itu, kata Dewey, ide-ide baru akan dihasilkan oleh pemakaian instrumen-instrumen, lalu ide-ide baru ini juga akan berfungsi sebagai instrumen bagi eksperimen-eksperimen lain. Gagasan Dewey ini dinamakan instrumentalisme


Hal yang penting adalah bahwa verifikasi, bagi Dewey dan para filsuf pragmatisme, haruslah dilakukan bagi setiap pernyataan saintifik, selogis apapun pernyataan ini, yang belum dibuktikan. Inilah yang dinamakan verifikasionisme.




Verifikasionisme 


Verifikasi adalah pengujian berlapis untuk mengetahui kebenaran atau kesalahan sebuah pengetahuan atau suatu posisi keilmuan atau setiap klaim kebenaran yang dilakukan berdasarkan bukti-bukti (Latin: evidentia, bukti) terbaru, teori-teori besar yang sudah teruji dan koheren, dan penalaran logis.

Dalam empirisisme logis, prinsip verifikasi diberlakukan: setiap proposisi yang sepenuhnya tidak logis, atau yang logis sekalipun tapi tidak dapat diverifikasi, adalah proposisi yang kosong makna. 

Masih dari John Dewey: empirisisme ilmu pengetahuan akan terus berguna tanpa perlu melibatkan hal-hal yang tidak empiris atau yang supernatural. Lagi menurut John Dewey, penjelasan-penjelasan supernatural tidak memberi nilai tambah apapun bagi pemahaman saintifik atas hal-hal yang real. 

Ya, lompatan iman dalam dunia sains selalu akan jatuh lagi karena ditarik forsa gravitasi verifikasionisme.

Nah, sekarang apa itu Occam’s Razor yang sudah dimunculkan di atas?

Occam’s Razor atau Ockham’s Razor (Latin: lex parsimoniae, artinya “kaidah yang paling hemat kata”) adalah sebuah kaidah filosofis saintifik yang diajukan oleh teolog dan filsuf skolastik Inggris William dari Ockham (c. 1287-1347). Kaidah ini mencakup tiga kaidah elementer dalam dunia sains. 

Pertama: Jangan membuat rumit hal-hal yang sebenarnya tidak rumit. 

Kedua: Teori yang paling mungkin benar adalah teori yang paling ringkas dan paling sederhana dari antara teori-teori yang ada yang lebih berbelit dan rumit. Makin simpel bangunan sebuah teori, maka makin superior teori ini.

Ketiga: Jika anda mau menjelaskan apapun, mulailah selalu dengan memakai hal-hal yang secara empiris sudah diketahui, jangan membuat lompatan-lompatan iman yang tidak memerlukan bukti-bukti dan teori-teori besar saintifik, tetapi penuh dengan asumsi-asumsi. 


Makin sedikit asumsi-asumsi dipakai dalam sebuah penjelasan atas suatu fenomena, penjelasan yang hemat dan sederhana ini menjadi sebuah pilihan ilmiah yang didahulukan.

Perdebatan yang rumit dan dibuat menjelimet atau complicated seketika itu juga menjadi sederhana, simpel dan elegan, ketika disodorkan bukti-bukti empiris yang relevan, yang bisa diverifikasi. Bukti menyederhanakan, tetapi iman yang penuh dengan asumsi memperumit.





Patut diingat, sederhana dalam arti "simple", bukan "naïve" atau naif. Orang yang naif bukan orang yang mampu memberi penjelasan yang sederhana, tapi orang yang kurang pengetahuan atau tak memiliki pengetahuan, tak mempunyai hikmat, tak berpengalaman, dan kerap semberono, kehilangan pertimbangan dan tak memiliki kemampuan mengevaluasi dan menilai. 

Jika sebuah teori atau model disebut elegan, itu maksudnya: memberi hasil yang kuat dan kokoh hanya dengan langkah-langkah yang sehemat mungkin dan menghindari kerumitan yang tidak relevan. 

Itulah keseluruhan isi terminologi Occam’s Razor yang melahirkan penalaran abduktif yang diajukan Peirce, seperti sudah disebut di atas.

Jika anda memakai penalaran abduktif, anda akan memilih kesimpulan yang paling sederhana dan paling ekonomis, dan melepaskan kesimpulan yang rumit, penuh asumsi, dan tidak ekonomis.

Kesederhanaan konsep-konsep dalam dunia sains ditekankan oleh Jacob Bronowski ketika dia menulis bahwa “Einstein adalah seorang yang dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa sederhana. Dan apa yang diperlihatkan oleh karya-karyanya adalah bahwa ketika jawaban-jawabannya juga sederhana, maka anda dapat mendengar Allah yang sedang berpikir.” 

Ya, Tuhan itu simpel. Tapi sengaja dibuat rumit oleh para penjual agama, kata teman saya begitu. Apa ya?!

Nah, itulah landasan-landasan filosofis bagi sains yang diajukan Peirce, dan juga oleh John Dewey. 

Tentu saja, tulisan saya ini jauh dari lengkap; saya tulis hanya untuk menyediakan ancang-ancang bagi anda untuk menelusuri sendiri lebih jauh dua tokoh besar ini, selain juga William James (1842-1910).

Anda musti tahu, para filsuf pragmatisme berkonsensus bahwa filsafat apapun harus memperhitungkan metode-metode dan wawasan-wawasan saintifik dalam uraian-uraian filosofis logis. Ya ini harus, jika mereka ingin filsafat mereka mempunyai kewibawaan berbicara tentang kebenaran atau tentang keabsahan sebuah pengetahuan, atau, dengan kata lain, tentang epistemologi dalam dunia ilmu pengetahuan.

Tanpa verifikasionisme terhadap bukti-bukti empiris, semua konstruksi atau rekonstruksi filosofis apapun dan yang selogis apapun atas segala fenomena terperosok ke jalan buntu, already dead.

Kata Stephen Hawking, filsafat sudah mati. Ya, karena semua proposisi logis filosofis tentang jagat raya spekulatif, tanpa bukti, dan tidak memperhitungkan temuan-temuan fisika modern.

Harapan saya, semoga anda ke depannya tidak kacau lagi dengan mencampur aduk sains dan agama. Agama beroperasi di atas landasan-landasan yang sama sekali berbeda. Kita katakan, epistemologi agama (yakni epistemologi lompatan iman atau epistemologi wahyu supernatural) tak sejalan dengan epistemologi ilmu pengetahuan (yakni epistemologi evidensialisme dan verifikasionisme).

Sebuah masyarakat tidak bisa maju dan tak akan berkembang, menjadi modern, ketika masyarakat itu, dan khususnya para pemukanya, mabuk agama. 

Karena mabuk, mereka menyamakan kitab-kitab suci mereka dengan ilmu pengetahuan, tapi tidak mampu melakukan verifikasionisme atas semua klaim yang mereka baca dalam kitab-kitab suci mereka. 

Kalau betul teks-teks kitab suci apapun adalah teks-teks ilmu pengetahuan, maka semua klaim dalam teks-teks ini tunduk pada prinsip verifikasionisme dan prinsip self-correction.

Tanpa prinsip verifikasionisme diterapkan terhadap semua klaim tentang kebenaran, klaim ini patut dicurigai, entah sebagai klenik, atau sebagai delusi.

Patut dicatat, agama adalah kepercayaan pada doktrin-doktrin, berisi banyak asumsi, bukan ilmu pengetahuan yang dibangun di atas fondasi bukti-bukti empiris. 

Nah, jika anda mau beragama, beragamalah dengan fondasi kepercayaan-kepercayaan dan asumsi-asumsi keagamaan yang dapat menjadikan anda orang yang agung, mulia, serba eling, bermartabat, memiliki kebajikan, kehormatan diri, kesadaran diri, pengenalan diri, dan cinta kasih yang ikhlas kepada orang-orang lain yang berbeda dan bentuk-bentuk kehidupan lain.

Baca juga Tuhan Itu Simpel.

Stay blessed.
ioanes rakhmat

N.B. diedit 7 Januari 2022