Friday, January 2, 2015

Paradoks Fermi, atau The Great Silence, atau Silentium Universi

“Ada banyak tempat di luar Bumi; ada banyak molekul kehidupan di mana-mana di angkasa luar; maksud saya, jumlahnya bermilyar-milyar, dan seterusnya. Adalah sangat mengejutkan bagi saya seandainya tidak ada kehidupan cerdas di angkasa luar. Tetapi tentu saja, hingga saat ini belum ditemukan bukti yang meyakinkan tentang keberadaan mereka. (Carl Sagan)

Anda tahu apa yang dinamakan “Fermi Paradox”? Berikut ini penjelasan apa itu Paradoks Fermi, atau juga dikenal sebagai Pertanyaan Fermi (“Fermi Question”) atau Silentium Universi atau The Great Silence. Penjelasan yang akan saya berikan ini pasti akan membuat anda terus-menerus menahan napas!

Paradoks Fermi adalah paradoks antara keharusan adanya alien-alien cerdas yang berperadaban tinggi dan fakta tidak adanya bukti-bukti apapun tentang mereka hingga saat ini yang diakui dunia sains. Paradoks Fermi diargumentasikan tahun 1950 mula-mula oleh dua fisikawan Enrico Fermi dan Michael H. Hart. Dinamakan hanya sebagai Paradoks Enrico Fermi, atau ditulis pendek saja: Paradoks Fermi./1/

Fisikawan Italia, Enrico Fermi (1901-1954), peraih hadiah Nobel bidang fisika (1938), dikenal juga sebagai salah seorang bapak bom atom

Mengapa dikatakan alien-alien cerdas berperadaban tinggi musti ada? Ada banyak argumen yang sudah dikemukakan untuk membenarkan asumsi ini. Tetapi, pertama-tama, harus dicatat, juga ada sedikit argumen yang telah diajukan untuk menolak adanya alien-alien cerdas yang berperadaban tinggi di planet-planet lain.

Orang yang menolak adanya alien-alien cerdas umumnya datang dari kubu agamawan dan para filsuf, bukan dari kalangan saintis. Para agamawan teistik percaya Allah telah menciptakan hanya manusia sebagai makhluk tertinggi, tercerdas dan termulia, tidak ada yang lain. Untuk menggambarkan kemuliaan tertinggi yang ada pada manusia, kitab-kitab suci, kata mereka, memberi manusia berbagai sebutan dan gelar yang semuanya mulia dan indah, misalnya manusia itu adalah gambar dan rupa Allah, atau wakil-wakil Allah di muka Bumi ini, bahkan sebagai anak-anak Tuhan sendiri, dan sebagainya.

Para agamawan juga menolak kemungkinan ada planet-planet lain dalam jagat raya yang dihuni organisme cerdas. Kata mereka, hanya Bumi yang istimewa. Seorang yang sangat saleh beragama pernah menegaskan kepada saya bahwa takdir manusia adalah tinggal di Bumi ini selamanya hingga dunia mengalami kiamat besar; jadi mereka harus tidak boleh mencari planet-planet lain untuk menjadi rumah kedua, ketiga dan seterusnya bagi umat manusia di masa depan. Menyelidiki planet Mars atau bulan Titan (bulan terbesar dan berkabut tebal planet Saturnus) dalam rangka mempersiapkan planet merah dan bulan ini untuk nanti didiami manusia, kata mereka, adalah usaha-usaha melawan takdir ilahi!

Alasan para agamawan hanya satu dan simpel: Karena dalam kitab-kitab suci tidak ada wahyu tentang alien-alien cerdas, maka mereka pasti tidak ada. Juga kata mereka: Karena dalam kitab-kitab suci tidak ada wahyu tentang planet-planet lain yang dihuni organisme-organisme cerdas, maka planet-panet lain semacam ini juga tidak ada. Jadi, bagi kaum agamawan, dalam jagat raya ini hanya ada satu makhluk termulia dan tercerdas, yakni manusia, dan hanya ada di planet Bumi, tidak ada di planet-planet lain. Bagi mereka, hanya manusia dan hanya Bumi yang istimewa, yang khas dan unik, tidak ada lagi yang lain, dari dulu sampai selamanya.

Posisi kaum agamawan ini tentu saja mengasumsikan bahwa semua hal yang tidak disebut kitab-kitab suci, pasti tidak ada dalam realitas. Argumen para agamawan ini dinamakan “argumentum e silentio” atau “the argument from silence”: jika sesuatu tidak disebut kitab suci, atau jika tentang sesuatu kitab suci diam saja, sesuatu ini tidak ada dalam realitas. Jika para agamawan mengakui ada alien-alien yang jauh lebih cerdas dan lebih agung dibandingkan manusia, mereka bertentangan dengan kitab suci mereka sendiri, setidaknya kitab-kitab suci yang berpangkal pada Tanakh Yahudi (kitab suci Perjanjian Lama gereja). Setahu saya, tidak ada agamawan yang baik yang akan melawan kitab-kitab suci mereka atau akan berpendirian bertentangan dengan teks-teks kitab suci mereka. Ya, betul, agama, dalam hal ini, menjadi sebuah penjara! Pasti tidak enak hidup dalam penjara apapun. 

Menurut saya, jika para agamawan konsisten dalam segala hal berpegang pada argumentum e silentio, mereka pasti tidak akan bisa hidup baik dan sehat dalam dunia modern sekarang ini. Ada mungkin tidak terhitung banyaknya hal yang tidak disebut dalam kitab-kitab suci, tetapi real ada di dalam dunia modern sekarang ini, dan mereka sekarang dengan tenang menerima banyak sekali manfaat dari sangat banyak hal yang ada di dalam dunia modern masa kini yang tidak disebut sama sekali dalam kitab-kitab suci. Sedikit contoh saja: dalam kitab suci apapun tidak ada rujukan ke televisi, Internet, Facebook, Twitter, Instagram, komputer, Smartphones, Iphone, Ipad, Android, MRI, CT Scan, dan seterusnya. Semua benda ini real ada dalam dunia masa kini, dan semua orang beragama memakai dan memanfaatkan semuanya itu. Minta mereka untuk membuang itu semua, dan menganggap semua itu tidak ada. Sanggup dan maukah mereka? Sebaliknya, jika mereka jujur, mereka pasti sependapat dengan saya bahwa ada sangat banyak hal yang ditulis dalam kitab-kitab suci ternyata tidak pernah ada kapanpun juga dalam dunia ini!  

Terserah para agamawan jika mereka ingin tetap selamanya memegang “argumentum e silentio” dan menutup diri dari ilmu pengetahuan yang tidak pernah tiba di titik final. Dengan berpijak pada argumen ini, sejarah sudah berakhir dalam kehidupan mereka. Tidak ada lagi perkembangan di masa depan. Tentu saja ini bukan hanya urusan mereka; tapi urusan kita semua sejauh kita ingin bangsa kita tumbuh menjadi bangsa yang cerdas dan menguasai semua ilmu pengetahuan bahkan mampu mengembangkannya terus-menerus supaya kita bisa membentuk sejarah dan peradaban umat manusia sedunia juga! Jangan jadikan bangsa kita bangsa pengekor. Kita harus jadikan bangsa kita bangsa pemimpin, the leader of the world! Agama apapun tidak boleh menghambat tugas besar kita ini sebagai bangsa Indonesia!

Sekarang, mari kita pikirkan kemungkinan adanya alien-alien cerdas yang berperadaban sangat tinggi, melebihi peradaban manusia. Adakah alasannya?

Menurut kalkulasi mutakhir para saintis dengan berbasis data NASA, terdapat 200 milyar bintang di dalam galaksi Bima Sakti saja. Di antara 200 milyar bintang ini, 50 milyar serupa dengan Matahari kita dan sebanyak 22 persen di antaranya mempunyai planet-planet seperti Bumi. Ini berarti minimal ada 11 milyar planet yang seperti Bumi di galaksi Bima Sakti saja; belum lagi yang di luar Bima Sakti, dalam galaksi-galaksi lain yang dekat maupun yang jauh dari kita.

Dari jumlah 11 milyar planet ini, terdapat 8,8 milyar planet yang seukuran Bumi yang berlokasi di zona temperatur yang dapat dihuni. Seluruh 8,8 milyar planet ini ada di dalam zona yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, tapi berjarak pas dari bintang-bintang masing-masing, sehingga kehidupan dimungkinkan terbentuk. Zona semacam ini yang memungkinkan kehidupan tercipta dinamakan “Goldilocks zone”. Harap diingat, Goldilocks Zone tentu tidak terdapat hanya dalam galaksi Bima Sakti; juga terdapat di galaksi-galaksi lain dalam jagat raya. Alam sangat kaya, sehingga Goldilocks Zone juga ada dalam beranekaragam bentuk, kondisi dan sifat.

Sudah diestimasi, dalam seluruh jagat raya kita yang sangat luas yang hingga saat ini dapat diobservasi, terdapat 70 sekstillion (= 7 x 1022) bintang. Tentu dari 7 x 1022 bintang dalam seluruh jagat raya kita ini, banyak sekali di antaranya yang punya planet-planet yang kondisi-kondisi alamnya memungkinkan ada kehidupan, apapun juga bentuk kehidupan yang dapat tercipta di sana.

Goldilocks Zone tidak hanya terdapat dalam galaksi Bima Sakti yang berdiameter 150.000 tahun cahaya, tetapi juga di sangat banyak tempat lain dalam jagat raya, di galaksi-galaksi lain, misalnya galaksi tetangga kita Andromeda (bergaris tengah 200.000 tahun cahaya), galaksi M106 (atau NGC 425X) yang memiliki diameter 60.000 tahun cahaya (berjarak 23,5 juta tahun cahaya dari Bumi), dan galaksi terbesar dalam jagat raya, yakni galaksi IC 1101 yang berdiameter 6.000.000 tahun cahaya.

Baiklah saya sebut sebuah prinsip yang dinamakan “Anthropic Principle” yang mengacu ke kondisi-kondisi alam yang seperti Bumi yang telah memungkinkan munculnya manusia (Yunani: anthropos). Menurut Prinsip Anthropik, hanya jika di tempat-tempat lain dalam jagat raya terdapat kondisi-kondisi alam seperti di Bumi atau terdapat konstanta-konstanta fisika yang berlaku di tata surya yang telah memunculkan manusia, di sana akan muncul kehidupan seperti manusia. Dalam prinsip ini, manusia menjadi pusat dan patokan bagi seluruh jagat raya. Telah ditulis tadi, 8,8 milyar planet dalam Bima Sakti memenuhi sebagian Prinsip Anthropik, dengan adanya planet-planet ini dalam Goldilocks Zone. Kondisi-kondisi alam dalam 8,8 milyar planet yang berada dalam Goldilocks Zone dalam Bima Sakti ini juga diperkirakan memungkinkan kehidupan tercipta di sana. 

Tapi Prinsip Anthropik terbatas bahkan bisa dinilai naif, sebab menjadikan hanya Bumi dan manusia sebagai patokan untuk seluruh dunia lain dalam jagat raya. Sekali lagi, terbuka kemungkinan luas, Goldilocks Zone itu lebih dari satu jenis, tidak bisa dibatasi dengan memakai Bumi dan manusia dalam tata surya kita sebagai patokan. Sangat mungkin ada kondisi-kondisi alam yang tidak seperti Bumi di bagian-bagian lain jagat raya yang juga dapat dan telah memunculkan anekaragam kehidupan yang serba asing bagi kita yang berdiam di planet Bumi. Bisa ada organisme-organisme yang hidup di dalam bintang-bintang panas, atau di planet-planet lain yang bersuhu sangat tinggi atau sangat dingin, atau bahkan “terapung-apung” dalam samudera jagat raya yang vakum. Dalam hal ini saya mengacu ke pendapat Stephen Hawking sendiri. Hemat saya, tidak harus organisme itu memiliki tubuh fisik; bisa juga ada organisme lain yang bertubuh “nonfisik”, misalnya organisme yang berupa energi yang sadar diri.

Dalam rangka ini ada sebuah prinsip lain yang dinamakan “Mediocrity Principle” yang dapat diterapkan pada kosmologi, astronomi dan astrobiologi. Pada dasarnya prinsip ini menyatakan bahwa “jika sesuatu diambil secara acak dari salah satu himpunan atau kategori, maka lebih mungkin sesuatu ini datang dari himpunan atau kategori yang jumlah anggotanya lebih banyak ketimbang dari himpunan atau kategori yang jumlah anggotanya kurang banyak.”/2/ Prinsip ini jelas sangat logis.

Jika diterapkan pada kosmologi dan astronomi, Prinsip Mediokritas menyatakan bahwa Bumi atau manusia sama sekali tidak unik, tidak spesial, dan bukan satu-satunya patokan untuk seluruh jagat raya untuk berbagai bentuk kehidupan cerdas dihasilkan di dunia-dunia lain. Berkaitan dengan diri anda, prinsip ini menegaskan bahwa anda sama sekali bukan sosok unik dan spesial di dunia ini! Jadi, anda tidak perlu GR! Menurut P. Z. Myers, biolog dari Universitas Minnesota, penolakan terhadap Prinsip Mediokritas adalah salah satu dari bagian-bagian vital agama-agama, kreasionisme, jingoisme (kepercayaan yang ditanamkan kuat-kuat oleh negara bahwa negara anda adalah negara terkuat dan terbaik pilihan Tuhan) dan kebijakan-kebijakan sosial yang gagal./3/

Sudah ditulis tadi, ada 8,8 milyar planet lain yang seukuran Bumi dan berada dalam Goldilocks Zone dalam galaksi Bima Sakti kita yang berdiameter 150.000 tahun cahaya. Tetapi, sekali lagi, sangat mungkin ada berbagai jenis dan sifat Goldilocks Zone yang tidak sama dengan kondisi Bumi pada tempatnya di tata surya kita. Prinsip Mediokritas paralel dengan “Copernican Principle” yang menyatakan bahwa Matahari dan Bumi sama sekali bukan pusat atau patokan bagi seluruh jagat raya. 

Pendek kata, jika luas dan usia jagat raya, usia tata surya, Prinsip Mediokritas dan Prinsip Kopernikus dipertimbangkan matang-matang, maka kita harus menyimpulkan bahwa alien-alien cerdas musti ada dalam jagat raya kita, di sangat banyak dunia lain. Di tahun 1961, astronom dari Universitas Cornell, Frank Drake, menyusun sebuah persamaan (disebut persamaan Drake) untuk menghitung jumlah peradaban cerdas yang mampu berkomunikasi lintasbintang yang mungkin ada dalam galaksi Bima Sakti.
Persamaan Drake tersebut N = R x fp x ne x fl x fi x fc x L. Keterangan: N = jumlah peradaban cerdas dalam galaksi Bima Sakti; R = jumlah bintang yang terbentuk per tahun dalam galaksi Bima Sakti; fp = persentase bintang-bintang yang membentuk planet-planet; ne = jumlah rata-rata planet-planet yang dapat menopang kehidupan bagi setiap bintang; f= persentase dari planet-planet tersebut di mana kehidupan sungguh-sungguh ada; fi = persentase dari planet-planet tersebut di mana kecerdasan muncul dan berkembang; fc = persentase dari spesies-spesies cerdas yang sudah menghasilkan kemampuan untuk berkomunikasi antarbintang; L = usia rata-rata suatu peradaban yang mampu berkomunikasi. /4/ 
Dengan memasukkan estimasi angka-angka yang masuk akal ke dalam persamaan ini, didapati bisa ada antara 100 hingga 10.000 planet dalam galaksi Bima Sakti saja yang dihuni alien-alien cerdas yang sudah mampu membangun peradaban-peradaban yang dapat berkomunikasi antarkartika. Di tahun 1974, Carl Sagan mengestimasi bisa ada sampai satu juta peradaban semacam ini dalam galaksi kita saja.

Ya, alien-alien cerdas yang sudah berhasil membangun peradaban-peradaban sangat tinggi musti ada, but . . . “Where are they?”  Ini pertanyaan Enrico Fermi di tahun 1950, sehingga Paradoks Fermi disebut juga “Fermi Question”./5/ Tentu ada peradaban-peradaban cerdas di luar Bumi yang sudah binasa dan punah karena konflik-konflik internal yang mematikan dan masalah-masalah besar yang mereka masing-masing buat dan timbulkan sendiri, dan juga karena berbagai bencana alam yang datang berkala. Tetapi masuk akal jika saya menyatakan bahwa ada jauh lebih banyak peradaban cerdas yang mampu bertahan dan berkembang hingga kini di dunia-dunia lain di luar Bumi dalam seluruh jagat raya kita.

Tapi, jika alien-alien cerdas musti ada, apakah mereka juga harus punya peradaban tinggi, melebihi peradaban homo sapiens? Baiklah kita cari jawabannya. Tata surya kita, dus juga planet Bumi, baru berusia 4,5 milyar tahun. Bumi yang muda ini sudah memunculkan homo sapiens, organisme cerdas, 300.000 hingga 400.000 tahun lalu di benua Afrika. Manusia yang muncul 400.000 tahun lalu baru punya peradaban modern sejak 300 hingga 400 tahun lalu, dan peradaban kita terus makin maju dari saat ke saat. Tidak ada peradaban yang sudah selesai; semuanya masih berlayar, belum dan tidak akan pernah tiba di pelabuhan terakhir manapun. Peradaban adalah sebuah eksperimen perjalanan menempuh jarak panjang tanpa garis finish! Jelas, peradaban kita masih sangat muda, dan bukan yang tertua dalam jagat raya. Dari mana tahunya? Dari perhitungan sederhana saja.

Jagat raya kita tercipta lewat big bang 13,8 milyar tahun lalu; dus pasti sudah ada banyak peradaban lain yang berusia ribuan, jutaan hingga milyaran tahun. Jika peradaban modern kita yang baru berusia 400 tahun sudah bisa mengirim sejumlah wantariksa tanpa awak ke angkasa luar yang jauh, ke dunia-dunia lain dalam tata surya, bagaimana dengan mereka? Jika kita yang baru punya sains modern selama 400 tahun sudah bisa hasilkan energi nuklir lewat reaksi fusi dan fisi nuklir, bagaimana dengan mereka? Siapa yang dimaksud dengan “mereka”? Ya, alien-alien supercerdas yang sudah punya peradaban berusia ribuan, jutaan hingga milyaran tahun! Jadi, sudah musti ada alien-alien cerdas berperadaban sangat, sangat tinggi di dunia-dunia lain dalam jagat raya kita! Musti ada! Saat sains-tek modern kita dimulai oleh Galileo Galilei di abad 16/17 M, alien-alien cerdas sudah memulainya sangat jauh sebelumnya, ribuan, jutaan hingga milyaran tahun yang lalu, di dunia-dunia lain yang sangat, sangat banyak!

Saat pesawat-pesawat terbang komersial kita hanya mampu terbang dengan ketinggian maksimal 20.000 kaki di tahun 1950-an dan 1960-an, apa yang terjadi dengan pesawat U-2? Apa itu pesawat U-2? U-2 adalah pesawat spionase CIA tahun 50-an dan tahun 60-an yang mampu terbang dengan ketinggian lebih dari 60.000 kaki. Saat itu, U-2 mengejutkan masyarakat di mana-mana dan dianggap masyarakat sebagai UFO! Baru saja di akhir tahun 2014, CIA mengakui bahwa apa yang dianggap masyarakat sebagai UFO di tahun 1950-an dan 1960-an adalah pesawat U-2 CIA yang sedang diujicoba atau yang sedang melakukan misi pengintaian dan mata-mata./6/

Jika itu soalnya dengan pesawat spy U-2, bagaimana halnya dengan kemampuan wantariksa-wantariksa alien-alien cerdas yang sudah mereka produksi dengan sains-tek yang sudah berusia ribuan, jutaan hingga milyaran tahun? Ataukah mereka juga memakai berbagai teknologi lain untuk melanglang jagat raya dan tidak menggunakan wantariksa-wantariksa fisik raksasa yang harus terus-menerus diisi dengan bahan bakar? Sudah pasti! Kata Arthur C. Clarke, semakin tinggi suatu teknologi, semakin teknologi ini tampak sebagai magic!

Jadi, pendek kata, pasti ada alien-alien cerdas berperadaban tinggi di dunia-dunia lain dalam jagat raya kita. Mustinya mereka juga sudah ada di antara kita. Mereka pasti sudah lama bisa mengatasi kendala ruangwaktu, kecepatan dan bahan bakar. Perjalanan angkasa jarak sangat jauh sudah bukan problem mereka tentunya. Mereka memakai banyak jalur untuk berpindah-pindah cepat dari satu lokasi ruangwaktu ke lokasi ruangwaktu lainnya. Perjalanan angkasa lewat worm holes yang lewat lipatan dimensi ruangwaktu menghubungkan dan mempertemukan kawasan-kawasan ruangwaktu yang semula terpisah sangat jauh, yang membuat jarak sangat panjang ditempuh singkat dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya, hanyalah salah satu saja!   

Mereka mungkin sudah pernah mendarat di Bumi dalam zaman-zaman kuno (paleokontak); dan mungkin sekali kini mereka berada di antara kita (neokontak). But.., mengapa hingga saat ini kita tidak pernah bertemu mereka, alien-alien supercerdas itu? Bersama Fermi kita bertanya, “Where Are They?”, “Di manakah Mereka?”

Ada sejumlah orang yang dengan gigih berusaha dengan segala cara untuk menemukan bukti-bukti fisik apapun yang dapat membenarkan hipotesis adanya paleokontak. Tetapi hingga saat ini, tidak ada kesepakatan ilmiah apapun dalam dunia sains bahwa bukti-bukti yang disodorkan itu adalah bukti-bukti paleokontak. Hemat saya, banyak bukti yang telah diajukan terlihat ditafsir dengan sangat dipaksakan, dipelintir di sana-sini, atau dicocok-cocokkan, supaya bisa mendukung apa yang disebut ancient aliens theory. Kalau bukti-bukti yang mereka sodorkan akhirnya ternyata gagal mendukung teori mereka ini (karena secara ilmiah sudah bisa dijelaskan sebagai hal-hal yang lain sama sekali!), mereka akan selalu mengubah tafsiran mereka terhadap bukti-bukti itu. Ini mereka lakukan terus-menerus. Lebih parah lagi, saya melihat di sana-sini pandangan-pandangan ilmu pengetahuan modern dibajak oleh mereka untuk mendukung apa yang mereka yakini sebagai bukti-bukti paleokontak. Berikut ini saya berikan tiga contoh saja yang diklaim sebagai bukti-bukti adanya paleokontak. 


Gambar di atas menampilkan apa yang disebut petroglif dari Val Camonica, Italia. Oleh para penyelidik alien dan para ufologis, gambar ini dipandang serupa dengan astronot-astronot modern ketika mereka sedang melakukan berbagai kegiatan di angkasa luar. Tapi hemat saya, benda yang dipakai mereka bukan helm astronot, tapi pelindung kepala sebagai bagian dari baju zirah perang zaman kuno! Di zaman-zaman kuno, dari satu bangsa ke bangsa lain, pelindung-pelindung kepala yang dipakai dalam peperangan dibuat dalam beranekaragam bentuk. 



Di atas adalah gambar timbul pada dinding muka silinder tanah liat yang dibuat bangsa-bangsa di kawasan Mesopotamia selatan dari kurun 3.500 SM. Oleh para peneliti alien, gambar ini dijadikan bukti bahwa alien-alien cerdas dulu mempengaruhi manusia dalam membangun teknologi-teknologi maju. Masalah dengan tafsiran semacam ini atas gambar di atas adalah fakta bahwa kita tidak punya sedikitpun bukti fisik yang diterima secara universal oleh para saintis bahwa pada zaman dulu berbagai teknologi maju sudah ada! Kalaupun moyang manusia di zaman-zaman kuno terbukti sanggup mendirikan bangunan-bangunan menakjubkan dan membuat benda-benda aneh yang tampak futuristik, fakta ini tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa para alien cerdas telah membantu mereka. Perhatikan apa yang dikatakan Neil deGrasse Tyson, bahwa “Jika hanya karena anda tidak bisa menjelaskan bagaimana peradaban-peradaban kuno mendirikan bangunan-bangunan besar yang menakjubkan, tidaklah berarti bahwa mereka telah mendapat bantuan dari alien-alien cerdas.” Menurut saya, pernyataan Tyson ini benar, sebab dalam setiap zaman, sejak dulu hingga kini dan seterusnya, selalu ada prestasi-prestasi peradaban yang melampaui zaman kontemporer, melejit jauh memasuki zaman-zaman yang akan datang.



Pahatan di atas menampilkan suatu sosok yang ganjil: memiliki sepasang mata bundar besar; dua lengan yang panjang dan berbentuk aneh; tubuh yang panjang dan janggal; sebuah mulut tanpa bibir. Gambar timbul ini berasal dari kurun 4.000 sampai 6.000 SM, dari kawasan Mesopotamia kuno, dan kini disimpan di Museum Nasional di Bagdad. Oleh para penyelidik alien, pahatan ini ditafsir sebagai sosok alien yang datang ke Bumi dari dunia lain pada zaman kuno. Tidak sedikit para peneliti alien, dengan memakai teks-teks kuno yang ditulis pada loh-loh tanah liat yang ditemukan di kawasan Mesopotamia kuno (antara sungai Tigris dan sungai Efrat), meyakini bahwa suku-suku bangsa di kawasan ini, khususnya bangsa Sumeria kurun lebih dari 5.000 tahun lalu, adalah keturunan-keturunan tiga dewa yang membentuk pantheon, yang datang dari Langit ke Bumi untuk menambang emas. Tiga dewa ini adalah Anu, Enlil, dan Enki; dari tiga nama ini lahirlah akronim nama ras asing Annunaki yang dipercaya telah datang dari langit lalu mendarat atau turun ke Bumi, persisnya di Mesopotamia. 

Ini penilaian saya: Kalau gambar-gambar atau pahatan-pahatan atau karya-karya kesenian dan kesusastraan kuno dijadikan bukti-bukti tidak langsung bagi paleokontak, masalahnya adalah gambar-gambar, karya-karya seni lukis, seni pahat dan seni sastra itu bisa ditafsirkan dan dipahami lebih dari satu kemungkinan. Kalangan yang antusias terhadap alien-alien cerdas sangat yakin bahwa, misalnya, Dewa Zeus memiliki senjata sinar yang mematikan, yang, kata mereka, sama dengan senjata modern Death Rays (senjata sinar laser). Betulkah? Hemat saya, tidak betul. Jika kita berpikir sederhana saja, kita akan menyatakan, ya orang-orang zaman dulu yang berkisah tentang senjata sinar Dewa Zeus mengambil inspirasi dari halilintar alamiah. Menurut saya, mereka juga sudah menafsir sangat kejauhan ketika mereka menyatakan bahwa dalam epik India yang diberi nama Mahabharata (bagian tertuanya berasal dari tahun 400 SM), sudah ada rujukan-rujukan ke rudal berhulu ledak, senjata laser, bahkan bom atom, yang sains dan teknologinya berasal dari alien-alien cerdas yang pernah mendarat di planet Bumi. Saya sungguh-sungguh skeptik terhadap semua tafsiran kalangan antusias alien ini! Mengapa kalangan antusias alien itu tidak berpikir sederhana saja bahwa ketika para penulis Mahabharata menyebut senjata dahsyat yang di saat meledak mengeluarkan awan yang berbentuk cendawan raksasa yang bergerak ke angkasa, mereka sebetulnya sedang mengembangkan imajinasi mereka dengan bertolak dari apa yang mereka lihat saat sebuah gunung berapi meletus dahsyat? 

Sudah dua kali saya memakai kata “sederhana” pada alinea persis di atas, dalam menjelaskan hal-hal yang kerap dengan antusias dikaitkan pada alien-alien cerdas atau pada UFO oleh kalangan antusias alien dan ufologis. Memilih penjelasan yang sederhana alih-alih penjelasan yang rumit dan menjelimet atas berbagai fenomena adalah sebuah pilihan filsafat sains yang sangat penting dan mendasar dan diutamakan. Inilah yang dinamakan Occam’s Razor atau Ockham’s Razor (Latin: lex parsimoniae, artinya “kaidah yang paling hemat kata”), diajukan oleh teolog dan filsuf skolastik Inggris William dari Ockham (c. 1287-1347). Kaidah ini mencakup tiga kaidah elementer dalam dunia sains. Pertama, jangan membuat rumit hal-hal yang sebenarnya tidak rumit. Kedua, teori yang paling mungkin benar adalah teori yang paling ringkas dan paling sederhana dari antara teori-teori yang ada yang lebih berbelit dan rumit. Kaidah ketiga: Jika anda mau menjelaskan apapun, mulailah selalu dengan memakai hal-hal yang secara empiris sudah diketahui, jangan membuat lompatan-lompatan iman yang tidak memerlukan bukti-bukti dan teori-teori besar saintifik, tetapi penuh dengan asumsi-asumsi. Makin sedikit asumsi-asumsi dipakai dalam sebuah penjelasan atas suatu fenomena, penjelasan yang hemat dan sederhana ini menjadi sebuah pilihan ilmiah yang didahulukan.   

Juga, jangan kita lupakan bahwa otak manusia itu sanggup memikirkan benda-benda dan figur-figur imajinatif yang ganjil yang tidak ada secara faktual di zaman kontemporer, lalu benda-benda dan figur-figur imajinatif ini dibuat gambarnya atau dibuat pahatannya atau dipuja-puja dalam berbagai puisi dan kisah-kisah. Lihat saja ke dunia modern kita sekarang ini. Imajinasi membuat kita bisa membayangkan, mengisahkan, menggambarkan dan melayarlebarkan sosok-sosok Doraemon, Hulk, Ultron, Gundala, Thor, Batman, Superman, Spiderman, Unicorn, Minion, Casper, Terminator, berbagai sosok alien, Transformer, dan masih banyak lagi. Realistikkah sosok-sosok modern khayalan ini? Ya jelas tidak.   

Kembali ke Fermi Question, Where is everybody? Atas pertanyaan ini, jagat raya diam saja, tidak menjawab. Inilah “Silentium Universi”! Inilah The Great Silence! Jagat raya yang akbar tetap membisu. Wahai jagat raya, sampai kapan dikau tetap membisu? Sampai selamanyakah? Ataukah manusia yang telah gagal menemukan bukti-bukti keberadaan alien-alien cerdas di tengah kita sekarang ini, maupun di zaman-zaman dulu? 

Mungkin kita memang telah gagal sekarang, sampai peradaban kita berusia ribuan, jutaan hingga milyaran tahun, setingkat peradaban mereka! Peradaban apapun dan di manapun dan kapanpun terus bergerak, entah secara evolusioner ataupun secara revolusioner lewat lompatan-lompatan besar. Jika peradaban kita bertumbuh dan berkembang, peradaban-peradaban alien-alien cerdas juga bertumbuh dan berkembang. Alhasil, akan selalu ada kesenjangan peradaban antara kita dan mereka sejauh peradaban kita hanya maju secara evolusioner. Untuk menyamai mereka, kita, tidak ada cara lain, perlu mengembangkan dan memajukan peradaban kita secara revolusioner dan eksponensial, lewat lompatan-lompatan besar sains dan teknologi kita secara multilinier atau bahkan nonlinier


Ataukah, very sadly, alien-alien cerdas itu sendiri yang tidak mau ditemui oleh kita kendatipun mereka diam-diam mencampuri perkembangan peradaban kita sejak dulu? Kalau peradaban mereka sudah sangat tinggi, sangat jauh meninggalkan peradaban kita, dan kalau secara biologis mereka sudah menjadi organisme-organisme yang berada jauh di atas kita sebagai higher intelligent beings karena evolusi mereka sudah berlangsung sangat, sangat panjang dibandingkan evolusi homo sapiens, maka bisa jadi mereka memandang kita seperti kita memandang semut-semut atau seperti kita memandang berbagai jenis kera di hutan-hutan. Karena di mata mereka kita, homo sapiens, adalah organisme inferior, tentu saja mereka tidak mau kita temui dan tidak mau memperkenalkan diri. Coba bayangkan, bagaimana caranya kita, manusia, dapat memperkenalkan diri kepada semut-semut atau kera-kera?

Tetapi, kalau kesulitannya terletak pada bahasa komunikasi, saya sesungguhnya masih juga tidak bisa mengerti mengapa mereka tidak mau memperkenalkan diri misalnya lewat pesan-pesan matematis, pesan-pesan geometris, atau lewat gambar-gambar, musik, dan berbagai pesan lain yang dapat dipahami secara universal, sehingga kita dapat mengerti mereka? Seperti dikatakan Kim Binstead yang kini bekerja di Hawaii Space Exploration Analog and Simulation (HI-SEAS), dalam mengirim pesan-pesan ke dunia-dunia lain, pesan-pesan ini tidak bisa sembarangan dan acak, tapi harus dirancang untuk bisa dipahami oleh organisme cerdas penerima yang mempunyai pengetahuan minimal tentang pihak pengirim pesan-pesan itu./7/ Pendek kata, inisiatif untuk menyatakan diri dalam berbagai cara yang komunikatif berada mutlak di pihak alien-alien cerdas itu, jika kita asumsikan bahwa peradaban-peradaban mereka sudah berada sangat jauh di atas peradaban kita!    

Ataukah sebetulnya bukti-bukti keberadaan mereka sudah ditanam oleh mereka sendiri sebagai pesan-pesan matematis ke dalam diri homo sapiens sendiri, yakni ke dalam DNA kita sendiri, lewat gen hominin-hominin pra-homo sapiens, di era prasejarah, yang setelah itu segera saja memunculkan homo sapiens? Jika ini benar, suatu saat di masa depan pesan-pesan matematis mereka dalam DNA kita akan terkuak dan terbaca juga. 

Ataukah sebetulnya sudah ada beberapa bukti kuat di era modern bahwa alien-alien cerdas dan UFOs sesungguhnya ada, tetapi bukti-bukti ini masih disembunyikan dan dirahasiakan oleh pemerintah-pemerintah negara-negara besar tertentu karena berbagai pertimbangan? Sangat banyak UFO-believers yang percaya inilah keadaannya yang sebenarnya. Tetapi, sebagaimana sudah saya katakan di atas, CIA baru saja menyatakan bahwa berbagai klaim dari masyarakat tentang penampakan UFOs di tahun 1950-an hingga tahun 1960-an sebetulnya berkaitan bukan dengan UFOs, tetapi dengan pesawat mata-mata CIA yang diberi nama pesawat U-2. 

Salah seorang dari para UFO-believers, yakni Richard Dolan, bersama Bryce Zabel, di tahun 2012 telah menulis sebuah buku spekulatif yang mereka beri judul A.D. After Disclosure, yang saya sendiri pandang hanya sebagai sebuah novel. Setelah puluhan tahun lamanya fakta UFO (dianggap) disembunyikan dan ditutup-tutupi oleh pemerintah Amerika Serikat (sejak insiden Roswell 1947), novel ini membayangkan apa yang terjadi pada penduduk dunia setelah (“After”) presiden Amerika Serikat dibayangkan mengungkapkan (“Disclosure”) dengan jelas dan benar bahwa fenomena UFO dan keberadaan alien-alien cerdas dari dunia-dunia lain di luar Bumi adalah fakta. Dalam novel ini dibayangkan seorang presiden Amerika akhirnya mengumumkan sebuah berita yang sangat penting kepada rakyat Amerika dan dunia, demikian: “Setelah berkonsultasi dengan anggota-anggota kunci lembaga-lembaga pertahanan dan intelijen, termasuk juga para pejabat tinggi negara yang sekarang ada bersama saya di sini di sekitar mimbar ini, kini telah jelas bagi saya bahwa terdapat bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan bahwa planet Bumi kita telah dan kini sedang berinteraksi dengan satu atau lebih spesies cerdas nonmanusia....”/8/   

Terhadap alien-alien cerdas yang dibayangkan sudah berada di planet Bumi, Richard Dolan dan Bryce Zabel memberi peringatan dalam novel mereka itu, demikian, “Apapun juga sikap dan kelakuan mereka kepada umat manusia, perkembangan pesat sains-tek modern kita akan segera memungkinkan kita untuk melompat ke dalam dunia mereka. Suatu saat di masa depan, dapat terjadi bahwa mereka akan dipaksa untuk mempertanggungjawabkan kepada kita segala pelanggaran mereka di masa lalu, atau kita mungkin juga akan berterimakasih kepada mereka atas segala kebaikan dan pelayanan yang mereka telah berikan. Apapun juga yang akan terjadi nanti, umat manusia akan siap untuk berkembang lebih maju, masuk ke tahap selanjutnya peradaban mereka.”/9/

Ataukah sebetulnya alien-alien cerdas sedang berada di antara kita sekarang ini, tetapi tidak dalam wujud eksistensi ragawi lagi, melainkan dalam berbagai wujud eksistensi nonragawi, sehingga kita tidak bisa melihat dan mengenali mereka dengan mata biasa? Ya, mungkin sekali mereka sudah berubah wujud, bisa sebagai kesadaran atau pikiran energetik yang melayang bebas, bisa juga sebagai data dan informasi yang sadar-diri dan cerdas, bisa juga sebagai organisme-organisme cahaya, atau dalam berbagai wujud lain yang nonfisik, yang sudah jauh melampaui empat dimensi ruangwaktu yang kini masih memenjara kita. Karena berevolusi sudah sangat panjang, secara alamiah atau secara artifisial lewat teknologi, mereka tentu telah masuk ke dalam, dan menjadi organisme-organisme, dimensi-dimensi kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh, dan seterusnya tanpa batas. Jagat raya mereka tidak lagi satu (universe), tetapi banyak dan berlapis-lapis (multiverse). Saya memilih untuk percaya pada kemungkinan ini. Perhatikan apa yang ditulis oleh Robert Lanza berikut ini:
“Ruang dan waktu bukanlah matriks-matriks fisik, tetapi sesungguhnya alat-alat yang digunakan pikiran kita untuk menyatukan segala sesuatu. Algoritma-algoritma ini adalah kunci bagi kesadaran dan bagi pemahaman mengapa ruang dan waktu terhubung dengan si pengamatnya. Peradaban-peradaban yang sudah sangat maju sudah pasti memahami dengan cukup baik algoritma-algoritma ini untuk menciptakan realitas-realitas yang kita bahkan tidak bisa membayangkannya dan yang telah melampaui sangkar ragawi kita.... Peradaban-peradaban yang telah sangat maju pasti telah mengubah algoritma-algoritma (tentang realitas) sehingga mereka tidak lagi terpenjara dalam dimensi-dimensi linier yang masih memenjara kita, dan kesadaran mereka mampu bergerak melintasi multiverse dan masuk ke kawasan-kawasan yang lebih jauh dan lebih tinggi.”/10/
Ada baiknya kita ketahui juga apa pendapat-pendapat Lord Martin Rees, astronom Kerajaan Inggris, dan presiden Royal Society. Rees berpendapat bahwa mungkin ada sejumlah tantangan ilmiah yang berada di luar kemampuan otak kita sekarang untuk menjawab semuanya. Sama seperti seekor simpanse tidak akan pernah bisa memahami teori quantum, juga ada sejumlah pertanyaan besar yang kemampuan kognitif manusia sekarang ini tidak bisa menjawab semuanya dengan sempurna. Untuk bisa menjawab soal-soal besar ini, kata Rees, kita memerlukan bantuan dan interaksi dengan alien-alien cerdas yang akan menolong kita untuk belajar lebih banyak lagi. Atau kita perlu menunggu tibanya era pasca-insani (post-human era), era di mana karena evolusi homo sapiens mencapai wujud yang “melampaui manusia” (“beyond human”). Era yang dinamakan era transhumanis ini akan ditandai oleh kesatuan atau gabungan antara biologi dan mesin dalam diri homo sapiens. Kita sekarang ini, dengan demikian, bukanlah puncak evolusi yang masih akan terus berlangsung di planet Bumi. Mungkin juga, kata Rees, kita tidak perlu menunggu masa depan yang masih jauh untuk kita bisa bertemu alien-alien cerdas, sebab sangat mungkin mereka sendiri sebetulnya sedang memandang wajah kita dari jarak dekat, tetapi dalam suatu wujud yang sama sekali kita tidak bisa kenali. Rees menduga ada kehidupan-kehidupan cerdas di angkasa luar, “out there”, tetapi dalam wujud-wujud yang sekarang kita tidak dapat bayangkan. Rees berpendapat, masih diperlukan waktu empat puluh tahun lagi untuk instrumen-instrumen teknologis kita dapat menemukan dan memantau organisme-organisme di angkasa luar./11/  

Nah, jika kemungkinan-kemungkinan yang disebut terakhir ini benar, sangatlah mungkin alien-alien cerdas juga bisa masuk ke dalam pikiran-pikiran para ilmuwan jenius dan para tokoh hebat dunia ini baik di masa-masa lalu, maupun di masa kini dan juga di masa depan. Mereka adalah sosok-sosok besar insani yang sudah, sedang dan akan menentukan jalannya sejarah dunia kita dan peradaban modern kita untuk masuk ke masa-masa depan yang akan makin sangat menakjubkan. Seandainya kepercayaan saya ini benar, maka jelaslah bahwa Bumi dan juga homo sapiens tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan jagat raya dan organisme-organisme cerdas lain di dunia-dunia lain di luar Bumi! Kita adalah bagian dari keseluruhan yang kita namakan infinitas! Oh ya, jangan anda cepat-cepat menempatkan infinitas dalam dunia yang para agamawan sebut dunia supernatural. Infinitas juga bagian dari fenomena yang dapat dimasuki sains untuk diselidiki. Baiklah saya ingatkan kembali, pengoperasian matematis sederhana satu dibagi nol (1:0) menghasilkan infinitas. Menurut teori dawai (string theory atau superstring theory) dalam fisika, ada 26 dimensi dalam jagat raya kita saja; dan jagat raya ada tidak hanya satu, tetapi tidak terhingga, sebuah konsep yang dinamakan multiverse.  

Jelas, saya harus mengakui bahwa hal yang baru saya nyatakan di paragraf atas bahwa kecerdasan alien-alien cerdas dapat masuk ke dalam otak para manusia jenius di Bumi ini, adalah murni spekulasi saya. Tetapi itu adalah suatu spekulasi yang berdasar pada pandangan ilmu pengetahuan tentang “meme” atau yang juga dikenal sebagai “virus kognitif” atau “virus kultural”. Apakah anda sudah tahu apa yang dinamakan “meme” (baca: mim)? Mungkin anda pernah membacanya atau mendengarnya, tapi tidak tahu apa maksudnya. Baiklah, saya mau menjelaskan teorinya.  


“Meme” adalah pemendekan kata benda Yunani “mimeme” (atau “mimema”) (artinya “sesuatu yang ditiru”); kata kerjanya “mimeisthai” yang artinya meniru, mengingat, mengikuti, terjangkiti atau tertulari. Dalam bukunya The Selfish Gene, Richard Dawkins adalah orang pertama yang menciptakan dari kata “mimeme” kata tunggal “meme” yang baginya dekat dengan kata “gene”./12/  

Kalau gen/molekul DNA diteruskan manusia ke manusia lain lewat sperma atau telur, meme juga menular lewat cara-cara lain yang nongenetik dari orang ke orang. Meme tidak meneruskan DNA, tapi semua produk kognitif budaya, seperti ide, pengetahuan, gambar, pakaian, kata-kata, cara hidup, cara berbudaya, adat-istiadat, dan juga ide-ide dalam agama-agama, dll.  

Meme menularkan semua produk kognitif budaya ini lewat otak ke otak, lewat proses imitasi dan pembelajaran yang terus-menerus dan real, bukan lewat alam melalui seleksi alamiah. Jika kuliah dosen anda tertangkap oleh otak anda, alhasil anda makin cerdas dan berpengetahuan, meme yang dia sebarkan tertular dengan efektif ke otak anda. Dan meme dari otak anda akan meneruskan meme dosen anda ini ke orang-orang lain lebih banyak lagi.

Sejumlah pakar berpendapat, sebagaimana molekul DNA itu suatu struktur kimiawi yang hidup dan menyebar, begitu juga meme, terstruktur, hidup dan menyebar. Meme dianggap sebagai suatu struktur yang hidup, ada dalam otak, menyebar ke mana-mana dalam unit-unit lewat kegiatan pembelajaran dan penyebaran informasi dalam semua kebudayaan. Richard Dawkins sendiri dalam bukunya The Extended Phenotype: The Long Reach of the Gene (1982, 1999) menyatakan bahwa meme “secara ragawi berdiam dalam otak”. Baiklah saya kutipkan lengkap alinea yang membuat pernyataan Dawkins tentang meme dalam bukunya itu, berikut ini. 
“Suatu meme harus dipandang sebagai sebuah unit informasi yang berdiam dalam otak. Sebuah meme memiliki suatu struktur yang definitif, mengambil bentuk sebagai sebuah medium ragawi apapun yang digunakan otak untuk menyimpan informasi. Jika otak menyimpan informasi sebagai sebuah pola koneksi-koneksi sinaptis, maka sebuah meme haruslah pada prinsipnya terlihat di bawah sebuah mikroskop sebagai sebuah pola struktur sinaptis tertentu yang jelas. Jika otak menyimpan informasi dalam bentuk yang terdistribusi, maka meme tidak dapat dilokalisasi pada sebuah slide mikroskop. Tetapi saya ingin memandang meme itu secara ragawi berdiam dalam otak.”/13/ 
Dengan kemajuan teknologi neurocitra (“neuroimaging technology”) masa kini, studi-studi empiris terhadap keberadaan meme dalam otak kini sudah dapat dilakukan, misalnya oleh Adam McNamara, khususnya untuk menemukan basis-basis neuralnya./14/ 

Karena sifatnya yang menyebar dan menular, meme juga dinamakan “virus kognitif” atau “virus kultural” yang memuat dan menularkan data dan informasi kultural. Sebagaimana data dan info komputasional hidup real dalam dunia virtual, diam atau menyebar, begitu juga meme hidup dalam suatu dunia virtual data dan informasi kultural setelah keluar dari otak. Meme juga berubah menjadi kata-kata dan ide-ide dalam buku-buku atau dalam e-books, atau dalam bentuk data digital di Internet, membentuk apa yang dinamakan meme Internet. Dengan adanya Twitter, misalnya, meme Internet dapat dengan cepat menyebar dan tertular nyaris ke seluruh muka Bumi.  

Begitu juga, saat meme dalam unit-unit menyebar dari otak ke otak, meme selalu berinteraksi dengan bidang-bidang lain kehidupan yang dikaji oleh berbagai disiplin ilmu lainnya, sebab setiap otak manusia tidak berada dalam kevakuman atau kekosongan. Otak kita itu juga bersifat sosial, selalu membutuhkan pergaulan dengan otak-otak lain dalam berbagai konteks sosial dan ekologi. Saat menular dan berinteraksi ini, meme dapat memperbanyak diri, dan juga bermutasi khususnya saat meme menjawab “desakan-desakan selektif” seperti persaingan ide-ide kultural atau dalam suatu perang simbolik kultural. 

Lewat meme yang menyebar lalu masuk ke dalam otak kita, lalu kita membangun budaya, evolusi kebudayaan pun berlangsung, tidak dikendalikan oleh seleksi alamiah. Kalau DNA yang tersebar membuat evolusi biologis berjalan dalam jangka waktu yang panjang, maka meme yang menyebar membuat evolusi kebudayaan berlangsung dalam jangka waktu yang pendek. Kalau DNA yang tersebar membuat evolusi biologis berjalan alamiah, lewat meme yang dinamis dan tersebar evolusi kultural kita bangun dan rancang sendiri, sesuai kemampuan setiap peradaban. 

Jika unit-unit meme disebarkan dari otak manusia ke otak manusia lainnya, tentu adalah mungkin meme juga dapat disebarkan dan ditularkan dari otak spesies alien-alien cerdas dari angkasa luar ke otak banyak homo sapiens di planet Bumi ini, khususnya otak para manusia jenius yang telah dan sedang melahirkan pemikiran-pemikiran besar untuk peradaban manusia, dulu maupun kini. Tentu saja, meme yang ditularkan dari otak organisme-organisme cerdas dari dunia-dunia lain ini ke otak banyak manusia Bumi tidak begitu saja menguasai seluruh pemikiran dalam otak para manusia Bumi penerima meme luar Bumi. Dalam semua kasus interaksi antarmeme, selalu terjadi dialog, keterbukaan, penerimaan, sintesis, mutasi, atau bahkan penolakan penuh terhadap meme yang diterima. Tentu saja, interaksi antara meme alien-alien cerdas dan meme manusia-manusia jenius yang saya pikirkan ini murni spekulasi saya; kalaupun spekulasi ini benar, spekulasi ini sama sekali tidak bisa dibuktikan secara empiris, karena kita tidak akan pernah berhasil mewawancarai alien-alien cerdas itu atau menemukan meme mereka secara empiris.

Selain lewat meme yang terus mereproduksi diri, bermutasi dan menyempurnakan diri dan menyebar, evolusi kultural juga sebetulnya dapat berlangsung lewat DNA yang kita desain ulang untuk mencapai tujuan-tujuan kultural kita. Kita tidak hanya sedang mengalami evolusi alamiah lewat mutasi alamiah DNA yang memerlukan waktu sangat banyak generasi ke depan, tapi juga sedang mengalami “self-designed evolution” (SDE) lewat teknologi rekayasa genetik, terang-terangan ataupun diam-diam, dalam waktu yang sangat singkat.

SDE dan penyebaran virus kognitif meme menghasilkan evolusi homo sapiens dan kebudayaannya secara artifisial. SDE dan penyebaran virus kognitif meme adalah dua faktor utama perkembangan pesat peradaban kita sekarang ini. Evolusi spesies secara alamiah, yang juga berpengaruh pada evolusi kebudayaan, dapat kita kendalikan atau malah kita percepat lewat evolusi biologis dan evolusi kultural yang kita desain sendiri, lewat rekayasa genetik dan lewat penyebaran unit-unit meme yang dipercepat. 

Nah, dengan adanya pengetahuan tentang meme, kita dapat berspekulasi bahwa sebetulnya alien-alien cerdas yang ditanya Fermi di mana mereka berada, sudah memberi tanda-tanda kehadiran mereka dalam otak-otak cerdas sosok-sosok besar insani pembuat sejarah dunia ini dan pembangun peradaban modern kita. Sayangnya, spekulasi ini, sekalipun benar, sama sekali kita tidak dapat verifikasi atau falsifikasi secara saintifik. Dus, pertanyaan Fermi tetap mengiang di telinga kita semua, Where are they? 

Mari kita berpaling ke David H. Bailey dan Jonathan M. Borwein yang telah mendaftarkan sejumlah solusi yang diajukan terhadap Paradoks Fermi, sekaligus memperlihatkan masalah-masalah yang ada di dalam solusi-solusi ini. Berikut ini./15/  
  • Para alien cerdas telah diperintahkan dengan kuat untuk menyembunyikan eksistensi mereka. Tetapi masalah dengan solusi ini adalah adanya fakta yang sangat jelas dan tidak terelakkan bahwa hanya diperlukan satu kelompok kecil saja di dalam satu masyarakat ET untuk membangkang dan memecah kebisuan mereka. Jika kita lihat pengalaman kita sendiri dengan masyarakat manusia, maka sangatlah mustahil untuk berpikir bahwa larangan sejenis ini dapat diberlakukan tanpa suatu pengecualian apapun selama berjuta-juta tahun di dalam suatu peradaban ET yang sangat besar yang tersebar dalam banyak dan beranekaragam bintang-bintang dan planet-planet. 
  • Para alien cerdas itu ada tetapi mereka berada sangat jauh. Masalahnya: Argumen-argumen seperti ini lazimnya mengabaikan potensi-potensi teknologi yang berkembang dengan sangat cepat. Misalnya, ketika sebuah peradaban cukup maju, peradaban ini dapat mengirim “wantariksa-wantariksa Von Neumann” ke bintang-bintang yang jauh, yang dapat mencari dan menemukan planet-planet dan lahan-lahan yang cocok, lalu membangun jiplakan-jiplakan diri mereka sendiri sebagai armada tambahan dengan memakai perangkat lunak yang mutakhir yang diarahkan ke mereka dari planet asal mereka. Simulasi-simulasi dari skema ini menunjukkan bahwa suatu masyarakat individual dapat mengeksplorasi (lewat wahana-wahana antariksa mereka) seluruh galaksi Bima Sakti dalam paling lama hanya beberapa juta tahun saja, kurun yang sangat pendek dibandingkan usia galaksi ini sendiri. Begitu juga, komunikasi dapat difasilitasi dalam jumlah besar oleh sarana dan wahana teknologi maju yang seluruhnya futuristik dan dapat dihasilkan.
  • Para alien cerdas ada, tetapi mereka sudah tidak berminat lagi untuk membuka komunikasi dan/atau untuk mengeksplorasi antarbintang. Masalahnya: Mengingat evolusi Darwinian yang dipercaya luas sebagai mekanisme yang memandu perkembangan biologi di mana-dimana dalam jagat raya, dengan kuat memihak kepada organisme-organisme yang mengeksplorasi dan memperluas wilayah kekuasaan mereka, maka nyaris tidak dapat dipercaya bahwa masing-masing dan setiap individu, di dalam masing-masing dan setiap peradaban yang jauh, akan kehilangan minat mereka selamanya untuk mengeksplorasi ruang angkasa, atau (seperti telah disebut pada butir pertama di atas) bahwa suatu masyarakat galaktik akan sepenuhnya efektif, selama berjuta-juta tahun, dalam memberlakukan suatu larangan terhadap kelompok-kelompok yang ingin berkomunikasi atau mengeskplorasi.
  • Para alien cerdas sedang memanggil kita, tetapi kita tidak berhasil mengenali sinyal-sinyal mereka. Masalahnya: Sementara kebanyakan kita sepakat bahwa proyek SETI (the Search for Extraterrestrial Intelligence) masih memiliki sangat banyak hal untuk diselidiki, penjelasan ini tidak berlaku bagi sinyal-sinyal yang dikirim dengan tujuan yang jelas untuk berkomunikasi dengan suatu masyarakat teknologis yang baru, dalam suatu bentuk yang masyarakat ini dapat dengan mudah mengenalinya. Sesungguhnya, program proyek SETI masa kini mengasumsikan bahwa peradaban yang berada sangat jauh sedang membuat beberapa usaha untuk mengirim sinyal-sinyal keberadaan mereka dengan menggunakan teknologi yang kita dapat deteksi. Dan sebagaimana dengan butir pertama di atas, adalah sulit untuk melihat bagaimana suatu masyarakat galaktik dapat selamanya memberlakukan, tanpa kekecualian apapun, suatu larangan global terhadap komunikasi-komunikasi yang memiliki target-target semacam itu.  
  • Peradaban-peradaban seperti kita tanpa kecuali selalu membinasakan diri sendiri. Masalahnya: Keniscayaan seperti ini sudah diperhitungkan dalam persamaan Drake sebagai faktor L (rata-rata usia sebuah peradaban). Bagaimanapun juga, dilihat dari sudut pengalaman manusia, kita telah berhasil bertahan hidup sedikitnya selama 100 tahun era kedewasaan teknologis kita, dan kita masih belum membinasakan diri kita sendiri di dalam suatu apokalipsis perang persenjataan nuklir atau persenjataan biologis. Pemanasan global merupakan sebuah tantangan besar pada masa kini, dan baru-baru ini telah dengan eksplisit dinyatakan sebagai suatu solusi negatif terhadap Paradoks Fermi. Tetapi kini kita memahami situasi ini dengan lumayan baik dan dengan cepat kita sedang mengembangkan teknologi-teknologi hijau yang ramah lingkungan yang kita dapat dukung dan hasilkan. Kondisi ini membuat beberapa orang, termasuk Al Gore, mengubah pikiran mereka dan bersikap optimistik walau dengan sangat berhati-hati. Selain itu, teknologi-teknologi yang lebih eksotik kini sedang dibangun, dan setidaknya beberapa di antaranya akan dapat memberi hasil. Bagaimanapun juga, dalam satu atau dua dekade peradaban manusia akan menyebar ke Bulan dan ke planet Mars, lalu eksistensinya untuk jangka panjang akan dapat kedap terhadap bencana-bencana yang terjadi di Bumi.
  • Planet Bumi adalah suatu planet yang unik dengan sifat-sifat khasnya yang membantu perkembangan suatu sistem biologis yang berumur panjang, yang bermuara pada terbentuknya kehidupan cerdas. Masalahnya: Kajian-kajian mutakhir, khususnya penemuan-penemuan planet-planet lain di luar tata surya kita, menunjuk ke arah yang berlawanan, maksudnya: lingkungan-lingkungan alam seperti di Bumi tampaknya sangat umum dalam galaksi Bima Sakti dan di dalam jagat raya.  
  • Kita hidup sendirian, setidaknya di dalam galaksi Bima Sakti rumah kita. Masalahnya: Hipotesis ini berbenturan dengan “prinsip mediokritas”, yakni anggapan, yang muncul dominan sejak era Kopernikus, bahwa tidak ada yang khusus menyangkut planet Bumi atau masyarakat manusia. Pendapat ini (bahwa kita hidup sendirian) secara filosofis bisa merupakan sebuah jawaban yang memuaskan bagi beberapa orang, tetapi dilihat dari sudut keilmuan, pendapat ini cukup tidak menyenangkan.

Saya perlu menambahkan lagi satu solusi terhadap Paradoks Fermi. Perhatikan foto di bawah ini. Gulungan-gulungan melingkar warna jingga pada foto ini, yang mengisi lengan-lengan spiral galaksi Andromeda, pada satu segi bisa ditafsirkan sebagai gundukan-gundukan debu antariksa yang menerima panas dari bintang-bintang. Citra gulungan-gulungan ini yang diberi warna jingga dihasilkan oleh teleskop angkasa NASA yang diberi nama WISE dengan menggunakan cahaya mid-infrared. WISE adalah nama yang berasal dari singkatan Wide-field Infrared Survey Explorer. Tetapi, dari segi lain, citra-citra semacam ini juga dapat potensial menyingkapkan limbah energi panas yang terbuang ke angkasa luar dari peradaban-peradaban maju yang mengisi galaksi ini. Saya kemukakan hal ini dalam kaitan dengan 3 tipe peradaban yang ada dalam jagat raya yang pernah dipikirkan Nikolai Kardashev, yang saya akan tinjau di bawah ini.


Perburuan terhadap alien-alien cerdas di angkasa luar yang jauh makin intensif dan ekstensif dilakukan para saintis. Kita semakin maju dalam sains yang dinamakan astrobiologi. Kita, manusia, memang sedang mencari teman-teman dan saudara-saudara yang punya kecerdasan yang mendiami planet-planet dalam galaksi-galaksi yang dekat, termasuk dalam galaksi kita sendiri Bima Sakti, sampai galaksi-galaksi yang lebih jauh, galaksi tetangga kita Andromeda tentu saja termasuk. 

Meskipun sifat agresif masih menguasai banyak manusia, namun sebagai spesies kita pada hakikatnya adalah organisme cerdas pencari sahabat, baik sahabat-sahabat di Bumi maupun sahabat-sahabat di angkasa luar. Kita akan merasa resah dan tidak bahagia jika kita menemukan diri kita berada dalam kesendirian yang panjang, kosong dan senyap. Kita selalu memandang ke langit malam, menerawang, jauh, masuk ke dalam samudera angkasa luar nan tanpa batas. Kita mencari sahabat, saudara, bahkan ayah dan ibu, di atas sana, mungkin karena kita dulu secara intuitif dan kini secara ilmiah telah tahu bahwa asal-usul paling awal kita semua adalah angkasa luar! Dari debu-debu bintang yang meledak unsur-unsur kimiawi yang membentuk tubuh kita berasal.

Sejak astrofisikawan besar kebangsaan Rusia, Nikolai Kardashev, di tahun 1964 mengajukan teorinya tentang tiga tipe peradaban cerdas (dalam Journal Soviet Astronomy), kita umumnya berpikir bahwa alien-alien cerdas telah mencapai peradaban tipe 3 yang memiliki kemampuan teknologis menguasai dan menyerap seluruh energi yang tersedia dalam galaksi-galaksi mereka. Peradaban tipe 3 ini dicirikan keharusan sebuah peradaban bersikap rakus terhadap alam, menguasai dan menundukkan alam, demi ketahanan kehidupan mereka dan peradaban mereka sendiri. Ketika energi dari seluruh planet mereka sudah dimanfaatkan (peradaban tipe 1) lalu habis, mereka selanjutnya menguras seluruh energi dari bintang matahari mereka (peradaban tipe 2). Ketika energi matahari mereka sudah terkuras habis, mereka selanjutnya menjadikan seluruh bintang dalam galaksi mereka sebagai sumber energi, alhasil jadilah mereka suatu peradaban galaktik (peradaban tipe 3). Seluruh energi panas yang peradaban tipe 3 ini gunakan di planet-planet dan galaksi-galaksi mereka akan terpancar sebagai radiasi ke angkasa luar, dan cahaya radiasi ini akan tertangkap oleh berbagai instrumen dari peradaban-peradaban lain yang jauh, yang berada di luar galaksi-galaksi mereka sendiri. Lewat pancaran cahaya yang tertangkap oleh berbagai instrumen ini, peringkat peradaban mereka dapat dihitung.  

Menurut Michio Kaku, secara khusus kita dapat membuat peringkat peradaban-peradaban cerdas berdasarkan tingkat konsumsi energi mereka, dengan menggunakan prinsip-prinsip berikut:/16/
  • Hukum-hukum termodinamika. Bahkan suatu peradaban yang maju terikat pada hukum-hukum termodinamika, khususnya Hukum Kedua, dan karenanya dapat diperingkatkan berdasarkan energi yang ada pada mereka. 
  • Hukum-hukum materi stabil. Materi barionik (misalnya, yang didasarkan pada proton dan neutron) cenderung mengelompok ke dalam tiga pengelompokan besar: planet-planet, bintang-bintang dan galaksi-galaksi. (Hal ini adalah suatu produk yang terdefinisi dengan baik dari evolusi, fusi termonuklir, dll., yang bersifat planetaris dan galaktis.) Dengan demikian, energi mereka akan juga didasarkan pada tiga tipe peradaban individual, dan hal ini menempatkan batas-batas atas peringkat konsumsi energi mereka. 
  • Hukum-hukum evolusi planetari. Peradaban yang sudah maju manapun harus berkembang dalam konsumsi energi, lebih cepat dari frekuensi bencana-bencana yang mengancam kehidupan (misalnya, tumbukan meteor-meteor, zaman-zaman es, supernova, dll.). Jika mereka tumbuh lebih lamban, mereka sudah takdirnya akan lenyap. Ini menempatkan batas-batas bawah matematis pada peringkat pertumbuhan peradaban-peradaban ini.
Jika fisika dan matematika kita sudah bisa menghitung peringkat kemajuan peradaban-peradaban alien cerdas, dan berbagai instrumen kita sudah bisa menangkap energi panas yang terpancar dari tempat-tempat kediaman mereka, mengapa hingga saat ini kita belum juga menemukan keberadaan mereka? Ataukah sebetulnya, kita memang sendirian dalam jagat raya ini? Are we alone in the universe? Absolutely NOT! But, where are they if they exist? Until now, the universe keeps silent! This condition is called Silentium Universi or The Universe Keeps Silent or The Great Silence. 

Tetapi penting untuk dicatat, bahwa kini sejauh sudah dikaji dengan luas, ternyata dari 100.000 galaksi yang dekat, yang dipantau lewat WISE, yang baru saja sudah dikaji kembali dengan mendalam oleh Roger L. Griffith, Jason T. Wright, dkk, tidak satupun menampakkan indikasi-indikasi memuat peradaban alien cerdas apapun. Info sains mutakhir ini saya peroleh dari Lee Billings yang baru saja menulis sebuah telaah yang bagus dan inspiratif tentang ihwal kenapa hingga saat ini kita belum menemukan tanda-tanda keberadaan alien-alien cerdas dan peradaban-peradaban mereka, dan dia mengajak kita untuk berpikir lain sama sekali tentang mereka, dan meninggalkan pikiran kita yang biasa tentang mereka. Artikel Billings berjudul “Alien Supercivilizations Absent from 100,000 Nearby Galaxies”, terbit online di Scientific American edisi 17 April 2015./17/ Artikel Billings ini memanfaatkan suatu kajian ilmiah atas 100.000 galaksi terdekat yang dilakukan oleh Roger L. Griffith, Jason T. Wright , Jessica Maldonado, et al., yang terbit di The Astrophysical Journal Supplement Series, 15 April 2015./18/ 

Tidak adanya indikasi-indikasi tentang keberadaan alien-alien cerdas di dalam 100.000 galaksi terdekat ini harus membuat kita mulai berpikir bahwa, pada satu segi, organisme-organisme dari peradaban-peradaban tinggi mungkin saja dapat menyembunyikan radiasi panas dari seluruh energi yang mereka konsumsi di planet-planet dan galaksi-galaksi mereka sendiri, atau mencegahnya terpancar ke angkasa luar. Dengan cara ini, eksistensi mereka tidak akan tertangkap dari luar galaksi-galaksi mereka; akibatnya, berapa tinggi tingkat peradaban mereka juga tidak akan diketahui pihak-pihak luar manapun, yang sebetulnya dapat dihitung lewat pengukuran intensitas radiasi panas yang terpancar sebagai cahaya dari galaksi-galaksi mereka. Tetapi, pada segi lainnya, mungkin sekali isi pikiran kita tentang alien-alien cerdas dan sifat peradaban mereka selama ini keliru, sehingga kita memang harus berpikir secara baru tentang mereka dan peradaban mereka! 

Ya, Billings mengajak kita berpikir lain, bahwa mungkin sekali alien-alien cerdas yang sudah memiliki peradaban-peradaban maju tidak berpikir dan bertindak dalam bingkai pemikiran Kardashev, melainkan mereka mengembangkan peradaban mereka sebagai peradaban yang menyatu dan harmonis dengan alam, justru demi ketahanan kehidupan mereka sebagai organisme dan sebagai peradaban. Mereka tidak dengan rakus mengeksploitasi sumber-sumber energi yang tersedia, yang akhirnya membawa mereka masuk ke peradaban-peradaban galaktik. Itulah sebabnya hingga kini proyek pencarian alien-alien cerdas yang diberi nama SETI (the Search for Extraterrestrial Intelligence), yang dijalankan dalam bingkai pemikiran Kardashev, belum membuahkan hasil apapun. Jadi, karena alien-alien cerdas itu hidup dan membangun peradaban maju mereka dengan tidak bisa dibedakan dari alam, maka hingga kini kita belum menemukan satupun bukti bahwa mereka ada, berhubung kita berpikir bahwa kita harus menemukan mereka sebagai organisme cerdas yang hidup sudah jauh di atas alam dan sudah menguasai dan mengeksploitasi alam dengan rakus lewat berbagai teknologi mereka. 

Dus, terkait dengan alien-alien cerdas, berlakulah pepatah ini bahwa semakin maju sebuah teknologi, semakin teknologi ini tidak bisa dibedakan dari alam! Sungguh, ini sebuah paradoks! Alien-alien cerdas mungkin sekali sudah lama hidup dalam paradoks ini, sebuah paradoks yang baru mulai kita sadari kearifan dan kebenarannya sekarang ini. Mereka memegang sebuah filosofi bijak bahwa untuk bertahan hidup, setiap organisme harus hidup dan berkarya sejalan dengan alam. Jika kondisi ini benar, maka kita yang kini mendiami Bumi musti melakukan definisi ulang apa itu teknologi, sebelum alam berbalik memusnahkan spesies kita di masa depan! 

Ancaman serius dari perubahan iklim global yang sedang berlangsung sekarang ini di planet kita, yang akan dapat melemahkan homo sapiens dan merongrong peradaban spesies ini, sesungguhnya bukan datang dari alam sendiri pada dirinya sendiri, tetapi dari meningkatnya terutama kandungan CO2 di atmosfir Bumi yang berasal dari berbagai bentuk kegiatan dan benda-benda teknologis spesies ini yang menggunakan bahan bakar fosil (seperti batu bara dan minyak)! Menurut data di tahun 2011-2012, di tingkat global dalam satu detik terbuang gas CO2 ke udara sebanyak 2,4 juta pon (= 1,2 juta kg), bersumber dari bahan bakar fosil dan kegiatan-kegiatan industri; dan penyumbang terburuk terbesar terhadap polusi COdi atmosfir adalah RRC./19/ Gas CO2 yang menumpuk dan tersebar di atmosfir Bumi berubah fungsi menjadi semacam selimut tebal yang menghalangi panas dari Bumi dan dari semua kegiatan manusia yang seharusnya terbuang ke angkasa luar; tapi karena adanya selimut tebal CO2, panas ini berbalik arah, kembali masuk ke planet Bumi dan menimbulkan pemanasan global dan perubahan iklim. Fenomena inilah yang dinamakan Efek Rumah Kaca (Greenhouse Effect). 

Efek gas rumah kaca

Perubahan iklim ini, yang belakangan ini terbukti berlangsung makin cepat, kini umumnya sudah diakui sebagai akibat perbuatan manusia sendiri. Tetapi di dunia Kristen Barat, masih ada sangat banyak orang yang menyangkal bahwa pemanasan global adalah sebuah fakta, atau bahwa pemanasan global terjadi akibat ulah manusia sendiri. Deskripsi dan visualisasi audiovisual tentang kondisi-kondisi buruk dalam dunia masa kini yang terkait dengan perubahan iklim dan persebaran gas rumah kaca telah disajikan dengan padat oleh Jacob Kastrenakes belum lama ini. Kastrenakes menegaskan bahwa tindakan yang segera terhadap perubahan iklim kini telah masuk ke tahap kritis. Selama dua tahun belakangan ini, para ilmuwan PBB telah menerbitkan serangkaian laporan yang sangat mengkhawatirkan, yang pada dasarnya mengatakan bahwa dunia akan berada dalam situasi dan kondisi sangat buruk jika gas rumah kaca tidak segera dikurangi dengan besar-besaran./20/ 

Saya dapat daftarkan sebelas bahaya terbesar yang akan ditimbulkan oleh perubahan iklim global, berikut ini./21/
  • Temperatur udara global meningkat, dengan akibat iklim-iklim di Bumi mengalami perubahan bervariasi; 
  • Kondisi-kondisi ekologis dan pemandangan-pemandangan alam berubah; 
  • Ozon di atmosfir semakin meningkat, yang akan mengakibatkan fungsi paru-paru terganggu; 
  • Hewan-hewan liar berada dalam bahaya. Banyak pepohonan mati. Perubahan iklim yang cepat akan melenyapkan seperempat dari jumlah spesies yang sekarang hidup di planet Bumi. Hewan-hewan berdarah dingin (ektotherm) terancam punah karena mereka memiliki sedikit kemampuan untuk mentolerir panas;
  • Permukaan laut naik, berakibat pada tenggelamnya banyak kawasan di muka Bumi, berdampak pada perpindahan penduduk skala global; 
  • Kekeringan, kebakaran, banjir dan gelombang panas melanda di mana-mana; 
  • Badai-badai menguat, dan meninggalkan kerusakan-kerusakan yang makin parah; 
  • Makin banyak penyakit muncul sebagai akibat suhu udara yang tinggi dan meningkatnya polusi udara. Alergi dan asma menjadi pandemik;
  • Kerugian ekonomi, kehancuran infrastruktur, matarantai kegiatan produksi dan pemasaran di berbagai bidang terganggu, dan politik dunia menjadi tidak stabil; 
  • Energi makin dibutuhkan dan harganya akan meroket di mana-mana; 
  • Kehidupan di kawasan perkotaan akan makin berbahaya dibandingkan kehidupan di kawasan pinggiran dan pedesaan berhubung bencana-bencana alam akan makin banyak terjadi.

Pada 24 Mei 2015, Paus Fransiskus menerbitkan sebuah ensiklik dalam delapan bahasa (Inggris, Italia, Spanyol, Polandia, Portugis, Prancis, Jerman dan Arab) yang diberi nama “Laudato Sii”, artinya “Terpujilah”, yang sudah disampaikannya dari Basilika Santo Petrus, Roma. Ensiklik ini diberi subjudul Kepedulian terhadap Rumah Kita Bersama, On Care for Our Common Home. Karena sangat panjang, beberapa kalangan menyebut ensiklik ini sebagai Summa Ecologica Paus Fransiskus. Ensiklik ini jelas sebuah langkah penting bukan saja bagi 1,2 milyar umat Katolik sedunia, tetapi juga bagi dunia pada umumnya, yang diayunkan Vatikan. Ensiklik ini menyoroti isu pemanasan global atau perubahan iklim, dalam kaitan dengan isu-isu penting global lainnya, antara lain kemiskinan, perekonomian dunia, kerusakan lingkungan hidup, teknologi, teologi, dan etika global. Dengan jelas Paus Fransiskus mengasalkan pemanasan global pada ulah manusia sendiri. Sang Paus berargumentasi bahwa eksploitasi besar-besaran yang dilakukan manusia terhadap sumber-sumber daya alam planet Bumi telah melampaui ambang-ambang batas daya dukung alamiah planet ini sendiri; akibatnya dunia kini sedang terancam hancur menjadi puing-puing jika tidak ada perubahan besar dan radikal dalam pikiran dan hati manusia sedunia. Jelas, ini adalah sebuah pernyataan yang paling radikal yang dibuat Paus Fransiskus yang memang sudah dikenal suka berbicara lantang./22/  

Tetapi, anda sebaiknya juga perlu tahu bahwa bagi kalangan kreasonis (Yahudi dan Kristen, dan lain-lain) yang memandang jagat raya, termasuk Bumi, baru berusia 10.000 tahun, kerusakan hebat planet Bumi tidak akan pernah terjadi sekalipun pemanasan global sedang terjadi dengan intensitas yang terus meningkat. Kenapa tidak akan terjadi? Mereka menjawab sederhana saja, dengan menggunakan beberapa ayat Alkitab (Kejadian 9:12-17) yang memuat sebuah janji besar Allah yang disampaikan kepada Nabi Nuh, bahwa Bumi ini selamanya tidak akan lagi mengalami bencana besar seperti yang sudah terjadi saat Air Bah melanda planet ini. Untuk menandai keabadian janji Allah ini, Allah telah mendatangkan pelangi! Kata kalangan kreasionis itu, pelangi itu tanda jaminan ilahi bahwa Bumi akan selamanya aman! Hemat saya, ini suatu keyakinan yang sangat hebat sekaligus gila!   

Syukurlah, sudah ada langkah-langkah bijak yang kita sedang lakukan untuk mengelakkan ancaman mematikan yang dapat datang dari perubahan iklim, khususnya usaha-usaha untuk menemukan sumber-sumber energi yang tidak berasal dari fosil, atau menemukan sebuah sistem terobosan baru untuk menghasilkan fotosintesis artifisial sebagaimana baru saja sudah berhasil ditemukan (oleh saintis-saintis Peidong Yang, Christopher Chang, Michelle Chang, dan lain-lain) dan masih harus dimatangkan dan dikembangkan. Sistem yang baru ditemukan ini dapat menangkap emisi CO2 sebelum terlepas lalu masuk ke atmosfir, dan mengonversinya menjadi bahan-bahan bakar, plastik, bahan-bahan pengobatan, dan berbagai produk berharga lainnya./23/ Tetapi ini saja tidak cukup. Penanganannya harus holistik dan muldtimensional. Setiap orang dari 7 milyar lebih manusia di dekade kedua abad ke-21 ini perlu berpartisipasi dalam berbagai usaha mengatasi bahaya besar yang akan muncul dari pemanasan global. Anda dapat memulainya di lingkungan terdekat anda sendiri. Pikirkan dan temukan, apa yang anda dan kawan-kawan anda dapat lakukan bersama-sama sekarang dan seterusnya. 

Kembali saya meyakini dengan lebih kuat bahwa semakin tinggi sebuah peradaban, semakin bijak para organisme pembangun peradaban ini dalam berhubungan dengan alam dan semua hukum yang berlaku di dalamnya. Tetapi, saya juga bertanya, bukankah hukum-hukum alam juga kerap menjadi sumber berbagai bencana yang sering menyengsarakan manusia? Jadi, sikap terbaik adalah sikap moderat: selaras dengan alam, sekaligus juga selektif dalam menentukan mana hukum-hukum alam yang perlu dilampaui, bukan ditaklukkan, dan mana yang perlu kita ikuti apa adanya!  

Usaha serius saya di atas dalam menelusuri liku-liku Paradoks Fermi akhirnya bermuara pada sebuah temuan sepotong kearifan universal: Semakin modern kita, semakin maju sains dan teknologi kita, haruslah akhirnya membuat kita semakin mampu hidup harmonis dan menyatu dengan alam, demi ketahanan spesies kita dan peradaban kita di masa depan. Hemat saya, dengan temuan ini, jerih-payah menyusun tulisan saya di atas adalah sesuatu yang layak dan tidak sia-sia. Berbahagialah anda, seperti saya juga berbahagia.   

Dalam seluruh uraian di atas, cukup sering saya mengingatkan bahwa berkaitan dengan kajian-kajian modern atas alien-alien cerdas, ada posisi-posisi yang sifatnya spekulatif. Nah, menutup ulasan-ulasan saya di atas, saya sekarang ingin menegaskan bahwa kendatipun banyak posisi yang masih spekulatif, semuanya sama sekali bukan spekulasi kosong. Teori-teori dan logika ilmiahnya ada, bahkan kuat, tetapi sebagian posisi yang sudah saya bentangkan di atas masih belum bisa diverifikasi atau difalsifikasi, jadi tetap saja saya biarkan terbuka. Wilayah kajian alien bukan wilayah agama atau wahyu ilahi, tetapi pencarian lewat sains. Jadi, kajian-kajian tentang alien tidak bisa diabaikan dalam dunia sains, dan orang kini sudah tidak bisa menepisnya begitu saja dengan naif. Sebaliknya, kajian-kajian tentang alien-alien cerdas juga tidak bisa disikapi dengan fanatik buta, yang membuat akal dan pengetahuan orang tertutup terhadap fakta-fakta objektif. Menjadi para antusias alien hemat saya tidak baik. Memegang Paradoks Fermi adalah suatu sikap yang hemat saya paling ilmiah saat ini. 



Tulisan di atas adalah sekuel dari tulisan ini: 
Adakah alien cerdas di angkasa luar?


Catatan-catatan

/1/ Lihat Charles Krauthammer, “Are we alone in the universe?”, The Washington Post, 29 December 2011, pada http://www.washingtonpost.com/opinions/are-we-alone-in-the-universe/2011/12/29/gIQA2wSOPP_story.html.


/2/  Definisi tentang Mediocrity Principle ini diambil dari André Kulka, Extraterrestrials: A Philosophical Perspective (Lanham, Maryland: Lexington Books, 2010), hlm. 20.

/3/ Lihat P. Z. Myers, “The Mediocrity Principle”, Edge.org. The World Question Center, pada http://edge.org/q2011/q11_12.html#myerspz.

/4/ Tentang persamaan Drake (“Drake Equation”), lihat Lauren Aguirre, “The Drake Equation”, Nova, 1 July 2008, pada http://www.pbs.org/wgbh/nova/space/drake-equation.html. 

/5/ Lihat Seth Shostak, “Our Galaxy Should Be Teeming With Civilizations, But Where Are They?”, Space.com, 25 October 2001, pada http://web.archive.org/web/20060415185347/http://space.com/searchforlife/shostak_paradox_011024.html; lihat juga Erick M. Jones, “‘Where is everybody?’ An account of Fermi’s Question”, Los Alamos National Laboratory (LANL), United States Department of Energy, 1 March 1985, format Pdf, pada http://www.osti.gov/accomplishments/documents/fullText/ACC0055.pdf

/6/ Lihat reportase Lindsay Deutsch, UFO or CIA? Agency takes credit for ’50s and ’60s sightings”, USA Today, 30 December 2014, pada http://www.usatoday.com/story/news/nation-now/2014/12/30/cia-spies-ufo-sightings/21058321/. Lihat juga laporan CIA tahun 1998 yang berjudul The CIA and the U-2 Program, 1954-1974, disusun oleh Gregory W. Pedlow and Donald E. Welzenbach, format Pdf, pada https://www.cia.gov/library/center-for-the-study-of-intelligence/csi-publications/books-and-monographs/the-cia-and-the-u-2-program-1954-1974/u2.pdf.

/7/ Lihat reportase If there are aliens out there, how will we communicate?, Cosmos Magazine, 5 January 2015, pada http://blog.cosmosmagazine.com/blog/2015/1/5/if-there-are-aliens-out-there-how-will-we-communicate?.

/8/ Richard Dolan dan Bryce Zabel, A.D. After Disclosure: When the Government Finally Reveals the Truth About Alien Contact (Pompton Plains, NJ: The Career Press, 2012), hlm. 24. 

/9/ Richard Dolan dan Bryce Zabel, A.D. After Disclosure, hlm. 21. 

/10/ Robert Lanza, “Have Aliens Left the Universe? Theory Predicts We’ll Follow”, Huffington Post. The Blog, 26 May 2010, pada http://www.huffingtonpost.com/robert-lanza/have-aliens-left-the-univ_b_578884.html.

/11/ Lihat reportase Liz Thomas, “Alien life could be found within 40 years, says royal astronomer”, Mail Online, 7 September 2012, pada http://www.dailymail.co.uk/news/article-2199586/Alien-life-40-years-says-royal-astronomer.html.

/12/ Richard Dawkins, The Selfish Gene (edisi paperback; Oxford: Oxford University Press, 1976), hlm. 206.

/13/ Richard Dawkins, The Extended Phenotype: The Lomg Reach of the Gene (with an afterword by Daniel Dennett) (Oxford, N.Y.: Oxford University Press, 1982, 1999), hlm. 109.

/14/ Adam McNamara, “Can we measure memes?”, Frontier in Evolutionary Science 3 (25 May 2011), doi: 10.3389/fnevo.2011.00001, pada http://journal.frontiersin.org/Journal/10.3389/fnevo.2011.00001/full.


/15/ David H. Bailey dan Jonathan M. Borwein, “Where Is ET? Fermi’s Paradox Turns 65”, Huffington Post Science. The Blog, 10 April 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/david-h-bailey/where-is-et-fermis-parado_b_7014044.html. 

/16/ Lihat Michio Kaku, “The Physics of Extraterrestrial Civilizations: How Advanced Could They Possiby Be?”, Official Website of Michio Kaku, pada http://mkaku.org/home/articles/the-physics-of-extraterrestrial-civilizations/. Lihat juga tulisan serupa dalam Michio Kaku, Parallel Worlds: A Journey through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos (New York: Anchor Books, 2005) hlm. 304-342; idem, Physics of the Future: How Science Will Shape Human Destiny and Our Daily Lives by the Year 2100 (New York, etc.: Doubleday, 2011), hlm. 327-352. Tulisan bagus Michio Kaku ini sudah saya terjemahkan, terbit sebagai Lampiran 1 (berjudul Fisika Peradaban Luar Bumi) buku Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), hlm. 427-436.   

/17/ Lee Billings, “Alien Supercivilizations Absent from 100,000 Nearby Galaxies”,Scientific American, 17 April 2015, pada http://www.scientificamerican.com/article/alien-supercivilizations-absent-from-100-000-nearby-galaxies/.

/18/ Roger L. Griffith, Jason T. Wright , Jessica Maldonado, et all., “The Ĝ Infrared Search for Extraterrestrial Civilizations with Large Energy Supplies. III. The Reddest Extended Sources in WISE”, The Astrophysical Journal Supplement Series, 15 April 2015, doi:10.1088/0067-0049/217/2/25, pada http://iopscience.iop.org/0067-0049/217/2/25/article.  

/19/ The Associated Press, “Carbon dioxide emissions rise to 2,4 million pounds per second”, CBS News, 2 December 2012, pada http://www.cbsnews.com/news/carbon-dioxide-emissions-rise-to-24-million-pounds-per-second/. Untuk laporan data 2014 (format Pdf) tentang tren global emisi CO2, lihat Jos G.J. Oliver, Greet Jansens-Maenhout et al., “Trends in Global CO2 Emissions: 2014 Report”, PBL Netherlands Environmental Assessment Agency, The Haque, 2014, pada http://edgar.jrc.ec.europa.eu/news_docs/jrc-2014-trends-in-global-co2-emissions-2014-report-93171.pdf.

/20/ Lihat reportase Jacob Kastrenakes, “US outlines how it will cut 25 percent of greenhouse gas emission by 2025”, The Verge, 31 March 2015, pada http://www.theverge.com/2015/3/31/8322523/us-outlines-cutting-emissions-28-percent-2025.

/21/ Lihat tulisan “Climate Change: Threats and Impacts”, The Nature of Conservancy, pada http://www.nature.org/ourinitiatives/urgentissues/global-warming-climate-change/threats-impacts/; NASA, “The current and future consequences of global change”, NASA. Global Climate Change, pada http://climate.nasa.gov/effects/; Daniel Stone, “6 Ways Climate Change Will Affect You”, National Geographic, 15 January 2013, pada http://news.nationalgeographic.com/news/2013/01/pictures/130115-climate-change-superstorm-atmosphere-science/. Tentang daya tahan hewan-hewan berdarah dingin (termasuk serangga, amfibi, kadal, ikan, hewan-hewan air berkulit keras) terhadap kenaikan suhu global, lihat Sarah Zielinski, Rising temperatures may cause problems for cold-blooded critters, Science News, 20 May 2015, pada https://www.sciencenews.org/blog/wild-things/rising-temperatures-may-cause-problems-cold-blooded-critters.

/22/ Lihat John Vidal, “Explosive intervention by Pope Francis set to transform climate change debate”, Raw Story, 13 June 2015, pada http://www.rawstory.com/2015/06/explosive-intervention-by-pope-francis-set-to-transform-climate-change-debate/.Teks Inggris lengkap ensiklik ini (copyright Liberia Editrice Vaticana) tersedia di http://w2.vatican.va/content/francesco/en/encyclicals/documents/papa-francesco_20150524_enciclica-laudato-si.html.

/23/ Lihat reportase David Freeman, “Artificial Photosynthesis Advance Hailed as Major Breakthrough”, HuffingtonPost Science, 20 April 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/2015/04/20/artificial-photosynthesis-environment-energy_n_7088830.html. Lihat laporan tentang sistem baru ini dalam Chong Liu, Joseph J. Gallagher, Peidong Yang, et al., “Nanowire-Bacteria Hybrids for Unassisted Solar Carbon Dioxide Fixation to Value-Added Chemicals, Nano Letters, 7 April 2015, doi:10.1021/acs.nanolett.5b01254, pada http://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/acs.nanolett.5b01254?journalCode=nalefd&