Monday, October 20, 2014

Teori “Multiple Intelligences” Howard Gardner

“Aku tidak menggunakan hanya seluruh otak yang aku punya, tapi juga semua otak lain yang aku dapat pinjam.” ― Woodrow Wilson

Kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah dalam bidang apapun. Roman Yampolskiy

Setiap orang itu jenius. Tapi jika anda menilai seekor ikan berdasarkan kemampuannya memanjat sebatang pohon, ikan ini akan menjalani seluruh kehidupannya dengan percaya bahwa dirinya dungu. ― Albert Einstein 


Kecerdasan itu majemuk, multiple. Tidak hanya satu. Anda bisa cerdas di bidang A, tetapi belum tentu di bidang B. Ada orang yang memiliki banyak kecerdasan, dan bisa menggunakannya bersamaan pada waktu yang sama. Tetapi ada juga orang yang hanya cerdas di satu bidang, sementara di bidang-bidang lainnya mereka bodoh.

Kita perlu mengenali di bidang apa kecerdasan kita paling menonjol, lalu memanfaatkannya semaksimal mungkin, sementara juga berusaha keras belajar untuk cerdas di bidang-bidang lain.

Begitu juga kita perlu memperhatikan di bidang-bidang apa saja anak-anak kita cerdas; dan kita perlu memberi perhatian lebih pada bidang-bidang kecerdasan paling menonjol pada mereka, dan membantu mereka berkembang penuh di bidang-bidang ini.


Pendidikan yang baik terpusat pada keunikan setiap peserta didik, pada kecerdasan khas yang menonjol pada diri mereka. Inilah pendidikan yang berbasis pada pengetahuan tentang teori kecerdasan majemuk atau multiple intelligences.

Pada awal 1980-an, psikolog Howard Gardner memperkenalkan suatu teori kognitif baru yang dinamakannya teori multiple intelligences (teori MI), sebagai sebuah alternatif terhadap pendekatan lama yang menekankan hanya kecerdasan logis matematis. 

Teori MI mempertahankan suatu pandangan yang pluralistik mengenai pikiran, mengakui banyak aspek kognisi yang berlain-lainan yang memiliki kekhasan masing-masing, dan memandang setiap individu memiliki kekuatan-kekuatan kognitif yang berbeda-beda dan gaya-gaya kognitif yang tidak sama./1/ Model MI dilandaskan terutama pada temuan-temuan mutakhir sains kognitif (yang mempelajari pikiran) dan neurosains (yang mempelajari otak).

Anda cerdas di bidang apa? 

Dalam pandangan Gardner, menetapkan peringkat kecerdasan seseorang hanya berdasarkan tes IQ (yakni tes atas kemampuan nalar logis matematis, bersama dengan kemampuan linguistik), berarti mengabaikan kemampuan-kemampuan kognitif lain yang ada dalam diri setiap manusia, yang tidak kalah signifikansinya jika dibandingkan dengan kecerdasan logis matematis. Sementara tetap menghargai instrumen psikometrik tes IQ, dia menyatakan dengan tegas bahwa instrumen ini “sama sekali tidak adil”./2/ 

Sebaliknya, dengan memakai model MI semua kegiatan pendidikan dan pengajaran terpusat pada kemampuan kognitif apapun yang ada dalam diri setiap individu, tidak harus pada kemampuan logis matematisnya. Meskipun untuk nilai mata pelajaran matematika siswi A mendapat nilai jeblok, dia juga harus diapresiasi sangat tinggi atas kecerdasan musiknya yang membuatnya mampu mendapatkan nilai 8,5 untuk mata pelajaran seni suara. Pengembangan kognitifnya oleh sekolahnya harus berpusat pada kecerdasan musiknya, sehingga dia sebagai individu mendapat kesempatan yang luas untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan jenis kecerdasannya. 

Yang dimaksudkan Gardner dengan kecerdasan (intelligence) adalah seperangkat kapasitas, bakat-bakat, atau kecakapan-kecakapan mental. Kapasitas di sini khususnya adalah suatu kapasitas komputasional, yakni kapasitas untuk memproses suatu jenis tertentu informasi. Kapasitas ini berbasis pada neurobiologi insani dan psikologi insani. Sebagai suatu kapasitas mental, kecerdasan muncul dan berkembang tidak dalam suatu kevakuman, tetapi terkait erat dengan latar sosiobudaya dan dengan pendidikan dan pengasuhan./3/ Dengan kecerdasan yang kita miliki, kita “mampu memecahkan masalah-masalah, atau untuk menciptakan produk-produk yang dihargai tinggi di dalam satu atau lebih latar kultural.”/4/

Kecuali di kalangan individu yang tidak normal, berbagai jenis kecerdasan yang ada pada seseorang dapat bekerja bersamaan dan terfokus pada satu tujuan. Dalam diri seorang dewasa yang memiliki kekuatan kognitif luar biasa, beberapa kapasitas mentalnya malah lebur menjadi satu./5/  

Menurut teori MI, kecerdasan manusia itu majemuk, multiple, dan setiap individu dapat memiliki lebih dari satu kecerdasan, dari antaranya ada yang sangat menonjol, dan setiap kecerdasannya ini dapat bekerja bersama-sama pada satu momen, tapi dapat juga bekerja sendiri-sendiri dengan otonom. Tulis Gardner dalam bukunya Frames of Mind, “Semua kecerdasan yang kita miliki menjadikan kita organisme manusia, jika ditinjau dari sudut kognitif./6/ Dalam bukunya Intelligence Reframed, dia menyatakan hal yang serupa bahwa “Pada dasarnya suatu kecerdasan itu menunjuk pada suatu potensi biopsikologis spesies kita [Homo sapiens] untuk memproses suatu jenis informasi tertentu dalam cara-cara tertentu.”/7/

Dalam model kecerdasan majemuk yang diajukan Gardner, tidak dikenal “kecerdasan umum” (general intelligence, atau biasa disebut the “g” intelligence) yang sudah lama dipandang mendasari semua jenis kecerdasan manusia, yang “tidak berubah banyak meskipun orang bertambah usia, menjalani banyak latihan atau pengalaman, tetapi ada sebagai suatu kapasitas atau kelengkapan kognitif pada diri setiap orang sejak dilahirkan.”/8/ Sebaliknya, menurut teori MI, manusia memiliki banyak kecerdasan, sebagai berikut:

  • kecerdasan logis matematis, yakni kemampuan untuk berpikir saintifik, deduktif logis, kalkulasi numerik, memecahkan masalah dalam waktu sangat singkat dalam benak sebelum dituangkan ke dalam tulisan;
  • kecerdasan linguistik, yakni penguasaan atas bahasa, segala segi ketatabahasaan, dunia semantik dan fonologi, dan kepiawaian untuk menggunakan berbagai bentuk ungkapan linguistik yang ekspresif seperti metafora, sajak dan puisi, dan berbagai macam bunyi bahasa, dalam komunikasi verbal, literal/tekstual, visual atapun lewat tanda-tanda dan simbol-simbol;
  • kecerdasan musikal, yakni kemampuan kognitif untuk menciptakan berbagai jenis komposisi musik, atau memainkannya, atau memberi tafsiran yang pas atas suatu komposisi musik, atau mendengarkan sebuah komposisi musik lalu menangkapnya dengan pas dan bisa memainkan sendiri tanpa atau dengan disertai improvisasi yang kaya dan kreatif;
  • kecerdasan spasial, yakni kemampuan mental untuk dengan baik mengenali ruang dan tempat-tempat di dalamnya, dalam rangka mengarahkan gerak dan arah sesuatu dalam suatu navigasi, atau dalam rangka pekerjaan-pekerjaan lain yang berhubungan dengan ruang;
  • kecerdasan interpersonal, yakni kepiawaian untuk mengenali individu-individu di luar diri sendiri dan mendeteksi berbagai suasana mental mereka masing-masing, dan untuk membaca alam pikiran dan berbagai maksud dan keinginan individu-individu lain itu, lalu berdasarkan pengetahuan ini bertindak sedemikian rupa untuk memandu dan mengarahkan mereka ke tujuan-tujuan yang sudah digariskan;  
  • kecerdasan intrapersonal, yakni kemampuan mental untuk mengenali aspek-aspek internal diri sendiri, misalnya kognisi, perasaan, emosi, kebutuhan, keinginan, kemauan, harapan, kerinduan, dan untuk membeda-bedakan aspek-aspek ini, yang diperlukan untuk memahami dan memandu perilaku dan tindakan sendiri;
  • kecerdasan kinestetik-ragawi (atau kecerdasan ragawi), yakni kemampuan untuk menggunakan dan mengontrol tubuh sendiri dan semua anggotanya dengan sangat piawai dan dalam cara yang sangat beranekaragam, dan untuk menggunakan berbagai objek dan benda dengan mahir dan memikat, bagi keperluan pementasan dan pagelaran atau tujuan-tujuan lain./9/

Diperlukan kecerdasan kinestetik-ragawi untuk anda bisa melakukan ini!

Suatu aspek kognitif dapat disebut kecerdasan jika, dalam pandangan Gardner, memenuhi delapan kriteria berikut:/10/
  • Pengetahuan mengenai perkembangan normal dan perkembangan dalam diri individu-individu yang berbakat; 
  • Informasi tentang gangguan atau kerusakan kecakapan-kecakapan kognitif ketika terjadi kerusakan otak; 
  • Kajian-kajian atas populasi-populasi yang luar biasa, yang mencakup orang-orang yang luar biasa cerdas, kalangan terpelajar, dan anak-anak autistik; 
  • Data tentang evolusi kognitif dalam beberapa milenium terakhir; 
  • Data dan informasi tentang kognisi lintasbudaya; 
  • Kajian-kajian psikometrik, termasuk penelitian terhadap korelasi-korelasi yang ada di antara tes-tes kognitif; 
  • Kajian-kajian tentang pelatihan-pelatihan psikologis, khususnya unit-unit yang digunakan dalam transfer dan generalisasi dalam setiap tugas yang diberikan; 
  • Setiap kecerdasan harus memiliki operasi inti atau seperangkat operasi yang dapat diidentifikasi.
Ada kemampuan-kemampuan mental lain yang menurut Gardner dapat disebut sebagai kecerdasan karena memenuhi delapan kriteria tersebut di atas, yakni kecerdasan naturalis dan kecerdasan eksistensial.

Seperti dimiliki antara lain oleh Charles Darwin, kecerdasan naturalis menjadikan seseorang sangat cakap membedakan satu spesies organisme dari satu spesies organisme lain, lalu merangkainya dalam suatu pohon evolusi biologis yang tumbuh dan berkembang multilinier.

Kecerdasan eksistensial adalah suatu kemampuan kognitif untuk merenungi dalam-dalam pertanyaan-pertanyaan besar paling mendasar mengenai kehidupan, “the Big Questions”. Kecerdasan seperti ini dijumpai dalam diri para filsuf, para pemuka keagamaan, para negarawan besar, para seniman, dan para guru agung umat manusia. Mereka kerap bertanya: Siapa kita? Dari mana asal kita? Mengapa kita hidup? Mengapa kita mati? Ke mana kita akan pergi setelah kita mati? Mengapa kita mencintai? Mengapa kita membenci? Mengapa kita berperang? Mengapa kita membangun masyarakat? Mengapa kita membangun peradaban? Mengapa jagat raya ada? Apa fungsi dan tempat kita dalam alam semesta? Dan apa fungsi dan kepentingan jagat raya mahabesar bagi kita yang secara fisik sangat kecil?/11/

Gardner juga menunjuk beberapa kecerdasan lain yang telah diajukan beberapa pakar lain, yakni kecerdasan pedagogis (yakni kecerdasan yang memungkinkan seseorang dapat dengan baik memainkan fungsi sebagai guru atau pendidik), kecerdasan emosional, kecerdasan seksual, dan kecerdasan digital./12/

Dalam buku Intelligence Reframed (terbit 1999), Gardner juga mengulas beberapa kecerdasan tambahan yang sudah disebut, yang diusulkan para pakar lain, dan secara khusus dia juga memberi tanggapannya terhadap “kecerdasan moral”./13/

Berkaitan dengan kecerdasan-kecerdasan lain yang diusulkan, pernyataan Gardner berikut ini patut diingat: “Teori MI adalah teori tentang intelek, tentang pikiran manusia dalam aspek kognitifnya…. Perhatikanlah bahwa teori MI sama sekali tidak mengklaim menangani isu-isu lain di luar intelek. Teori ini bukan tentang personalitas, watak, kehendak, moralitas, atensi, motivasi, atau konstruk-konstruk psikologis apapun; juga tidak terkait dengan seperangkat moral atau nilai-nilai apapun”/14/

Meskipun demikian, hemat saya, tidaklah berarti bahwa kecerdasan-kecerdasan lain yang ditolak Gardner tidak ada yang memiliki basis intelek. Jika intelek itu suatu aktivitas kognitif neural dalam otak, sebetulnya tidak ada sesuatupun yang menyangkut semua aspek mental manusia yang bisa dilepaskan dari aktivitas neurologis. Jika tubuh manusia seutuhnya dilihat sebagai sebuah mesin biologis yang cerdas, maka otak (yang terbentuk lebih dari 100 milyar neuron) adalah CPU mesin ini.  

Kecerdasan emosional, misalnya, oleh tiga peneliti dari Yale Center for Emotional Intelligence, yakni Marc Brackett, Diana Divecha dan Robin Stern, didefinisikan sebagai kapasitas untuk bernalar tentang emosi-emosi dan bernalar dengan emosi-emosi. Kini kapasitas intelektual emosional ini dapat dipahami sebagai Pembelajaran Sosial dan Emosional (Social and Emotional Learning, atau SEL). Kini telah ditemukan kasus-kasus nyata yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berkorelasi dengan capaian-capaian positif dalam diri anak-anak pada usia dini kehidupan prasekolah mereka, dan juga dalam diri orang dewasa, termasuk manajer-manajer dan pemimpin-pemimpin perusahaan. Selain itu, SEL pada anak-anak terbukti telah menghasilkan anak-anak yang memiliki kemampuan efektif untuk memimpin, membangun ikatan persahabatan yang kuat dan hubungan yang juga kuat dengan guru-guru mereka. Terlihat bahwa mereka berkembang lebih baik dalam mengelola konflik-konflik, dan lebih mampu meraih prestasi yang lebih baik dan lebih cepat di sekolah./15/ 

Kecerdasan spasial memampukan orang menjadi para pembalap yang hebat

Selain itu, Gardner ternyata juga dengan tegas menolak jika kemampuan orang untuk beragama atau untuk membangun kehidupan spiritual disebut sebagai kecerdasan. Baginya “kecerdasan spiritual” itu tidak ada, karena dua alasan berikut.

Pertama, semua pengalaman spiritual adalah pengalaman fenomenologis yang sangat individualis, yang isi dan bentuknya bergantung pada latarbelakang ideologis religiokultural si individu. Kalau kemampuan beriman kepada Tuhan yang tidak empiris (atau kepada wujud-wujud lain yang dipercaya berada dalam alam gaib) digolongkan sebagai suatu kecerdasan, mustinya para saintis yang ateis, atas nama sains, juga memiliki dan mengakui kecerdasan spiritual ini, tapi kita tahu kenyataaannya tidak demikian. Pengalaman merasa dihadiri oleh suatu entitas yang transenden ternyata juga dapat dialami oleh seorang yang memiliki kecerdasan logis matematis yang tinggi ketika orang ini terbenam dalam aktivitas-aktivitas saintifiknya, yang membuatnya “Hanyut” (mengalami “Flow”) dalam arus motivasi-motivasinya yang kuat, yang memacunya bekerja begitu tekun dan terfokus, dan waktu dirasakan begitu cepat mengalir lalu bermuara pada prestasinya yang cemerlang.

Pengalaman masuk ke dalam “Flow” ini sekular, kodrati, sama sekali bukan pengalaman religius spiritual atau adikodrati. Semua orang bisa mengalaminya sejauh mereka bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaan mereka masing-masing. Dalam arti inilah bekerja tekun itu juga sebuah pengalaman transenden. Oleh Mihalyi Czikszentmihalyi, “Flow” (“Hanyut”) dilihat sebagai suatu keadaan mental (“state of mind”) khusus yang menjadi sumber kinerja optimal seseorang ketika sedang mengerjakan tugas-tugas dan juga sumber rasa bahagia yang dialaminya. 

“Flow” didefinisikan oleh Czikszentmihalyi sebagai “keadaan tersedot sepenuhnya ke dalam proses suatu aktivitas, alih-alih ke tujuan akhir aktivitas ini.” Ciri-ciri paling umum “Flow” adalah: perhatian kita seluruhnya tersedot ke dalam aktivitas yang sedang kita kerjakan dengan tekun; aktivitas yang sedang asyik kita kerjakan harus dipersepsi sebagai aktivitas yang punya arah dan tujuan yang penting; kita harus terbuka menerima umpan balik yang langsung dan jelas atas apa yang sedang kita kerjakan; kita merasakan dengan real bahwa kita memegang kendali sementara kita berada dalam kondisi mental ini; kita kehilangan kesadaran-diri (atau kita tidak lagi mengalami diri kita terpisah dari apa yang sedang kita kerjakan, yang berinteraksi dengan diri kita); kita tak lagi merasakan jalannya waktu (entah cepat atau lambat)./16/ 

Kedua, spiritualitas itu terhubung erat dengan, tidak dapat dipisahkan dari, suatu kepercayaan pada suatu agama atau suatu Allah pada umumnya, atau dari fanatisme seseorang pada suatu kepercayaan atau suatu sekte tertentu. Seorang yang militan dan radikal dalam beragama mengklaim posisinya yang semacam itu lahir dari hubungannya yang sangat mendalam dengan Allah. Namun, bagi orang yang membela toleransi dan HAM dalam beragama, pengalaman keagamaan kalangan militan radikal yang semacam itu, yang hanya membuahkan kekerasan atas nama agama bahkan atas nama Allah, sama sekali bukan suatu pengalaman spiritual bersatu dengan Allah. Jadi, tulis Gardner, tidak ada spiritualitas yang universal, yang mempunyai basis empiris neurobiologis dalam otak manusia./17/  

Tapi, berbeda dari yang dikatakan Gardner, para neurosaintis sebetulnya sudah menunjukkan adanya basis-basis neurobiologis dan neuropsikologis bagi berbagai pengalaman keagamaan, meskipun mereka tidak menamakan berbagai pengalaman ini “kecerdasan spiritual”./18/ Tetapi mereka juga sudah menemukan bahwa pengalaman-pengalaman keagamaan tertentu bisa merusak struktur-struktur neurologis dalam otak yang mengakibatkan kemunduran-kemunduran mental./19/ Jadi, tampaknya betul bahwa sangatlah problematis untuk menyatakan adanya “kecerdasan spiritual”.

Namun, menurut Gardner, ada satu segi dari spiritualitas yang masih bisa disebut sebagai “kecerdasan spiritual”, yakni kecerdasan eksistensial yang sudah disebut di atas. Tapi Gardner sangat hati-hati untuk menyebutnya kecerdasan yang penuh, dan hanya bisa mengategorikannya “setengah kecerdasan” berhubung basis neurobiologis kecerdasan eksistensial juga sangat kurang, mungkin hanya ada di bagian-bagian tertentu dari lobus inferotemporalis dalam otak. Peran lobus ini krusial khususnya dalam memunculkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang sering kita gumuli. Tapi Gardner juga menduga, kecerdasan eksistensial sebetulnya merupakan bagian dari pikiran-pikiran filosofis kita yang lebih luas, atau malah sebetulnya bagian dari pertanyaan-pertanyaan umum yang rutin kita ajukan namun dengan muatan emosi lebih besar./20/

Ketika Gardner ditanya apakah ada “kecerdasan artistik”, dia menjawab berikut ini. Dalam arti setepat-tepatnya, tidak ada kecerdasan artistik. Tetapi berbagai jenis kecerdasan dapat berfungsi secara artistik (atau secara tidak artistik) sejauh kecerdasan-kecerdasan ini memanfaatkan sifat-sifat tertentu yang terdapat dalam suatu sistem simbol yang relevan. 

Pada waktu seseorang menggunakan bahasa dalam cara yang biasa untuk menjelaskan sesuatu, orang ini tidak sedang memakai kecerdasan linguistiknya secara artistik. Tetapi jika bahasa digunakan secara metaforis untuk mengekspresikan sesuatu dengan cara yang mengesankan atau untuk menimbulkan daya tarik pada bentuk-bentuk formal dan suara-suara yang terdengar, maka bahasa olehnya sedang dipakai secara artistik.

Begitu juga, kecerdasan spasial dapat dimanfaatkan secara estetis oleh seorang pemahat atau seorang pelukis atau seorang desainer ruang, tetapi hanya secara rutin dan tidak artistik sama sekali oleh seorang ahli ilmu ukur atau oleh seorang ahli bedah.

Bahkan kecerdasan musikal dapat berfungsi tidak estetis sama sekali, seperti ketika sebuah terompet besar dibunyikan untuk memanggil para prajurit di barak-barak untuk makan siang, atau ketika sedang dilangsungkan upacara penaikan atau penurunan bendera.

Sebaliknya, pola-pola dan bentuk-bentuk yang dirancang oleh para matematikus untuk tujuan-tujuan matematis bisa akhirnya dipajang di galeri-galeri kesenian untuk berbagai keindahan estetisnya dinikmati khalayak ramai.

Tetapi tidak ada persoalan jika kita menyebut “kecerdasan artistik”, khususnya sebagai sebuah sebutan pendek untuk kecerdasan-kecerdasan yang sering dimobilisasi untuk tujuan-tujuan artistik./21/

Ingatlah bahwa otak anda yang aktif bukanlah sebuah bejana kosong yang orang lain harus isi sampai penuh. Pandanglah bahwa otak anda adalah suatu unit sentral besar yang di dalamnya berbagai pikiran cerdas sedang bernyala, menanti untuk berkobar makin besar dan makin besar lagi. Temukan sendiri, dan kalau perlu dengan bantuan para pakar sains kognisi, mana nyala api kecerdasan terbesar dalam kognisi anda, lalu perbesarlah nyalanya lewat banyak kegiatan pembelajaran dan pelatihan yang terfokus dan karya nyata. Seorang sejarawan Yunani mazhab Platonis Tengah, Plutarch (45 M-120M), menyatakan bahwa “Pikiran bukanlah sebuah bejana yang harus diisi, tapi sebuah nyala api yang harus dikobarkan!”

Pikiran adalah energi yang mampu mengerakkan dunia ini di berbagai bidang! Ambillah satu bidang, minimal, dan gerakkan bidang ini lewat energi kecerdasan khas anda! Tanpa pikiran sebagai energi besar, peradaban cerdas apapun tidak akan berdiri dan bernyala dan berkobar, dengan panas dan cahayanya memberi kehidupan dan keabadian


by Ioanes Rakhmat
Jakarta, 21 Oktober 2014


Catatan-catatan  

/1/Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons (edisi mutakhir yang direvisi seluruhnya) (New York: Basic Books, cetakan 1: 1993; 2006), hlm. 5.

/2/ Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 5.

/3/ Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 6-7.

/4/ Howard Gardner, Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (New York: Basic Books, 1983, 2004, 2011), hlm. xxviii.

/5/ Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 8.

/6/ Howard Gardner, Frames of Mind, hlm. xii.

/7/ Howard Gadner, Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century (New York: Basic Books, 1999), hlm. 94.

/8/ Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 6.

/9/ Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 8-21. Mengenai basis-basis saintifik dari teori MI, lihat hlm. 29-31. Lihat juga Gardner, Frames of Mind, hlm. 77-250; idem, Intelligence Reframed, bab 3, hlm. 27-46.

/10/ Tentang kriteria kecerdasan yang dibangun Gardner ini, lihat bukunya, Frames of Mind, bab 4 (hlm. 63-76); juga Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 7.  

/11/ Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 18-21; idem, Frames of Mind, hlm. xiv.

/12/ Howard Gardner,  Frames of Mind, hlm. xx-xxi.

/13/ Intelligence Reframed, bab 4 dan bab 5 (hlm. 48-78).

/14/ Howard Gardner, Intelligence Reframed, hlm. 89. 

/15/ Marc Brackett, Diana Devicha dan Robin Stern, Teaching Teenagers to Develop Their Emotional Intelligence, Harvard Business Review, 19 May 2015, pada https://hbr.org/2015/05/teaching-teenagers-to-develop-their-emotional-intelligence.

/16/ Lihat Mihalyi Czikszentmihalyi, Flow: The Psychology of Optimal Experience (New York: HarperCollins, 1991). 

/17/ Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 20.

/18/ Lihat misalnya Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings from A Leading Neuroscientist (New York: Ballantine Books, 2009); juga Michael Persinger, Neuropsychological Bases of God Beliefs (New York: Praeger, 1987).

/19/ Lihat paparannya dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), hlm. 161-164.

/20/ Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 20-21.

/21/ Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons, hlm. 79; idem, Frames of Mind, hlm. xii.