Monday, March 17, 2014

Sebuah Tafsiran Baru atas Ateisme


“Sia-sialah upaya menjaring Tuhan hanya ke dalam sebuah pengertian saja. Dia lebih besar dari apapun rumusan manusia tentang hakikat-Nya yang Mahasempurna.”
(Abdurrahman Wahid) 

“Pengalaman yang paling indah yang kita dapat miliki adalah pengalaman dengan sang misterius. Sang misterius pada dasarnya kita rasakan berada di palungan seni yang sejati dan sains yang sejati.” (Albert Einstein) 

“Saat aku mengagumi pesona sang Matahari yang sedang terbenam atau keindahan sang Rembulan di malam hari, maka jiwaku melambung menyembah sang Pencipta. (Mahatma Gandhi)


Tulisan penting ini saya awali dengan mengacu ke sebuah acara yang di dalamnya saya terlibat aktif, kira-kira satu setengah tahun lalu. Di pagi hari, pkl 10.30-pk. 12.00, tgl 9 April 2012, saya bersama dua kawan lain tampil rekaman di Tempo TV, Jakarta, berbincang soal ateisme di Indonesia.

Fokus talkshow ini tentu Sdr. Alexander Aan, yang sedang diadili mula-mula karena soal ateisme yang dianutnya. Tapi menurut seorang teman dalam perbincangan itu, fokus kasus Aan sudah bergeser ke soal pelecehan figur besar Nabi junjungan kaum Muslim./1/ Jadi, sangat disayangkan! Mustinya Sdr. Aan tak melakukan tindakan tak terpuji ini. 



Neil deGrasse Tyson: Saat aku memandang 
ke langit malam, aku merasa besar!

Saya paling tak suka jika sosok-sosok agung yang dipandang suci dari zaman-zaman lampau, siapapun mereka, apapun juga kekurangan mereka (jika ada), dihina dan dihujat orang-orang zaman sekarang. Mereka moyang-moyang kita, yang hidup di zaman-zaman dan tempat-tempat lain, yang sudah tidak sama dengan zaman dan tempat kita sendiri sekarang ini sehingga mereka tidak bisa kita nilai paksa dengan memakai ukuran-ukuran moral zaman sekarang di tempat kita. Menjadikan sosok-sosok agung zaman lampau ini objek-objek kajian ilmiah tidak harus berakhir dengan pengkultusan ataupun penghinaan terhadap mereka. Jangan rusak kajian-kajian ilmiah terhadap agama-agama dengan muatan-muatan moral ideologis yang picik. Saya ingin ingatkan, dalam kita beragama, kita mudah sekali memindahkan kekurangan-kekurangan serius dalam agama kita sendiri ke agama-agama orang-orang lain. Semakin sengit dan keras anda suka mencemooh agama-agama orang-orang lain, semakin kelihatan bahwa agama anda sendiri tidak sanggup melahirkan orang-orang yang berpikiran besar. Janganlah lakukan denialisme.

Jika kita menemukan ada kisah-kisah dan ketentuan-ketentuan legal dan moral dalam kitab-kitab suci kita yang menurut kita mengerikan, atau pada zamannya juga sudah dipandang mengerikan, baiklah kisah-kisah dan ketentuan-ketentuan ini kita tempatkan secara kontekstual dalam sejarah perkembangan kesadaran moral manusia, yang dengan bertanggungjawab dapat kita nilai relevansi atau irelevansinya bagi manusia dalam zaman modern. Ketentuan-ketentuan legal dan moral dan kisah-kisah dari zaman dulu yang mengerikan ini tidak perlu membuat kita menjelek-jelekkan agama-agama yang memiliki kitab-kitab suci yang memuatnya. Inilah sikap saintifik yang perlu kita bangun dalam kajian-kajian ilmiah terhadap agama-agama.

Kembali ke fokus kita. Banyak hal muncul dalam talkshow di Tempo TV itu, dan acaranya tambah menarik karena dipandu dengan piawai oleh presenter Poppy Pradana yang manis, anggun dan jelita. Kedua narasumber lainnya berbicara dari sudut yuridis kasus Aan dan legalitas ateisme di Indonesia pada umumnya.

Dalam perbincangan di Tempo TV itu, saya berharap kalau kasus Aan tetap kasus ateisme-nya, hendaknya Aan ini dibimbing untuk berubah menjadi lebih adaptif dengan lingkungannya yang sangat religius tradisionalis, bukan dipenjara. Aan sama sekali bukan seorang kriminal; dia hanya berkeyakinan bahwa Allah itu tidak ada. Keyakinan apapun, yang tidak mendorong seseorang untuk melakukan tindak pidana kekerasan, tidak bisa diadili, apalagi si pemeluknya dijatuhi hukuman. Seorang yang sangat yakin bahwa sebuah pohon besar atau sebuah batu gunung besar adalah titisan suatu dewa, lalu menyembahnya, juga tak bisa diadili apalagi dipenjara, kendatipun bagi banyak orang terdidik keyakinannya ini tak masuk akal sehat. Sebaliknya, orang-orang yang berteriak kuat-kuat sebagai para penyembah Allah yang mahabesar lalu melakukan berbagai tindak kekerasan terhadap orang-orang berkeyakinan lain dan rumah-rumah ibadah mereka, merekalah yang sesungguhnya harus ditangkap, lalu diadili, kemudian dijatuhi hukuman. Jika hal yang disebut terakhir ini yang dilakukan suatu negara, barulah negara itu kita bisa layak nilai sebagai sebuah negara yang benar. 

Ada aliran-aliran agama di Indonesia yang tak memiliki teologi (= doktrin tentang Tuhan), sehingga disebut sebagai agama non-teistik. Zen Buddhisme, misalnya, menawarkan suatu jalan menuju pertumbuhan spiritual bukan lewat dogma/akidah, tapi lewat olah pikiran dalam suatu kegiatan meditatif yang dinamakan zazen./2/ Orang yang brain-nya condong ateistik bisa masuk ke rumah spiritual Zen Buddhisme, sehingga menjadi tetap beragama tapi non-teistik. Ini sebuah alternatif yang perlu dipertimbangkan seseorang yang sedang ragu apakah masih mau beragama atau menjadi ateis terbuka.

Saya juga menyatakan bahwa semakin modern Indonesia ke depannya, akan semakin banyak orang yang menjadi ateis, overt or covert. Kenapa? Karena di dalam suatu negara yang modern, sains meresap ke mana-mana, dan sains pada hakikatnya memang sekuler, ateistik; tetapi sains bukanlah ateisme, dan tidak punya urusan dengan ateisme. Anda harus bisa membedakan ateistik dan ateisme. Sains ya sains, bukan “isme”, jadi tak ada hubungannya baik dengan teisme maupun dengan ateisme. Apapun status anda, entah seorang teis atau seorang ateis, jika anda memakai metode-metode dan penalaran-penalaran saintifik yang sama dalam rangka mengkaji sesuatu, hasilnya akan sama, di manapun dan kapanpun. Agama apapun, yang teistik maupun yang non-teistik, juga ateisme, tak punya hubungan apapun dengan kesimpulan-kesimpulan sains.  

Tentu anda setuju, modern atau tidaknya suatu negara sangat ditentukan oleh apakah negara ini terbuka pada sains seluas-luasnya atau tidak. Di negeri-negeri maju, kaum saintis tulen banyak yang memilih dan mengaku ateis dengan terang-terangan, tetapi ke-ateis-an mereka tak ada hubungannya dengan sains yang mereka geluti dan kembangkan. Pada pihak lain, tentu ada juga banyak orang teis yang bekerja sebagai para saintis yang serius, dengan tentu saja ke-teis-an mereka sama sekali tak berpengaruh pada sains yang menjadi perhatian mereka. Saya percaya, di Indonesia sebetulnya banyak juga orang yang sudah ateis, tapi tidak terang-terangan karena iklim sosial yang tidak kondusif. Karena belum berani terang-terangan mengaku ateis, ada sekian pemikir dan saintis di Indonesia yang mengaku agnostik. Kata mereka yang agnostik ini, ada atau tidak adanya Tuhan tak dapat diketahui, dan karena itu tak dapat diputuskan, oleh akal budi. 

Tetapi belakangan ini saya juga makin sering menemukan, ada cukup banyak orang Indonesia yang lewat berbagai media sosial menyatakan diri sebagai orang-orang ateis dengan terang-terangan dan berintegritas. Ke depannya, negara Indonesia tampaknya akan mengakui hak orang untuk menjadi ateis. Sedikit lebih maju dari sebelumnya, kini UU Administrasi Kependudukan di Indonesia yang baru-baru ini disahkan (26 November 2013) sudah memperbolehkan orang untuk tidak mengisi kolom agama pada e-KTP. Seperti telah diungkap oleh Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama baru-baru ini, sangat diharapkan ke depannya kolom agama ini akan sama sekali dihapuskan dari blanko e-KTP. Basuki, untuk hal ini, mengacu ke negara Malaysia, yang kendatipun berdasar pada syariah, dalam blanko KTP penduduknya kolom agama sama sekali tidak ada, dan juga tidak memiliki instansi kementerian agama. Meskipun demikian, tegas Basuki, Malaysia ternyata lebih maju dalam banyak segi jika dibandingkan Indonesia./3/ Bukan sebuah keajaiban, bukan? Status formal keberagamaan seseorang tidak menjamin dirinya akan menjadi cerdas dan berwawasan; malah lebih mungkin keberagamaan seseorang mencegahnya jadi cerdas dan berwawasan. Kenapa? Karena setiap orang beragama sudah diarahkan sejak kecil untuk hanya beriman, sekuat-kuatnya, tak perlu berilmu. Ini yang dinamakan fideisme, sebagai esensi nyaris semua agama.

Saya sendiri sempat bimbang, apakah mau tetap religius ataukah menjadi ateis, pergumulan yang eksistensial. Tapi kini saya sudah tiba pada sebuah keputusan, saya seterusnya menempuh jalur spiritual, khususnya seperti yang dibentangkan dalam Zen Buddhisme. Seperti diakui Albert Einstein, Buddhisme adalah suatu agama yang paling akomodatif terhadap pendekatan-pendekatan saintifik terhadap segala realitas dalam kosmos kita. Dalam zaman kita, Dalai Lama sendiri menegaskan bahwa jika Buddhisme sekarang tidak cocok lagi dengan sains modern, Buddhisme harus diubah, dikonstruksi lagi secara baru. Dalam Buddhisme orang diberi kebebasan untuk meneliti tanpa perlu dibayang-bayangi apa kata kitab-kitab suci. Kata Dalai Lama, “Ada sebuah tradisi dalam Buddhisme yang menyatakan bahwa jika kami menemukan sesuatu yang berkontradiksi dengan kitab-kitab suci kami, kami memiliki kebebasan untuk menolak kitab-kitab suci. Ini memberi kami semacam kebebasan untuk mengadakan penyelidikan, terlepas dari apa yang dikatakan kitab-kitab suci.”/4/ Jadi, saya happy, karena di dalam spiritualitas Zen, saya bisa terus berpikir saintifik, dan memahami segala realitas lewat analisis-analisis saintifik, sambil memperdalam terus spiritualitas saya, suatu spiritualitas saintifik.

Mengapa saya menempuh jalur spiritual? Karena saya menemukan, ada bagian-bagian dalam otak saya (dan juga otak anda) yang, sebagai hasil evolusi otak yang sudah berlangsung sangat panjang, memerlukan pasokan spiritual dan memproduksi spiritualitas. Saya tetap memerlukan sesuatu yang spiritual, suatu dimensi transenden buat kehidupan saya, dimensi yang melampaui kenyataan kehidupan sehari-hari kita, a dimension beyond daily realities, karena otak saya berisi ruang neural untuk dimensi ini. Dimensi neural dalam brain kita, yang terhubung dengan dunia transenden, yang membuat kita selalu ingin maju dan masuk ke dunia-dunia yang lebih luas dan lebih misterius, tak bisa diremehkan atau dihapuskan, tapi membutuhkan pengisian. Kuriositas atau rasa ingin tahu bukanlah hanya sebuah kapasitas mental kita, tetapi juga menunjukkan bahwa kita, secara neurologis, telah dikonstruksi oleh alam untuk menjadi suatu organisme yang selalu mencari dan ingin mendapatkan dimensi-dimensi transenden. Banyak kajian neurosains mutakhir telah menunjukkan hal ini, sebagaimana saya telah bentangkan dalam bab 5 sebuah buku mutakhir saya, Beragama dalam Era Sains Modern./5/

Apa wujud dimensi transenden ini, berlain-lainan dari satu agama ke agama lain, dari satu pandangan dunia ke pandangan dunia lainnya. Dimensi transenden itu tidak harus Allah yang personal atau surga atau neraka di dunia adikodrati, tapi bisa sesuatu yang lain, yang berada dalam dunia kodrati, dalam kawasan imanen.

Dalam satu agama saja, Allah sebagai Sang Transenden digambarkan dan dipahami berbeda-beda, sehingga selalu mengelak jika mau dikuasai oleh satu aliran pemikiran. Dalam agama-agama sendiri, ada banyak citra tentang Allah, dan tidak sedikit di antaranya bertabrakan satu sama lain. Ada agama yang memandang Allah sepenuhnya berdiam di dunia supernatural, tetapi ada juga yang memandang-Nya berdiam dalam dunia imanen. Untuk agama jenis kedua, beragama tidak terarah ke dunia adikodrati, tapi fokus pada alam dan jagat raya yang imanen.

Sosiolog agama yang kondang, Robert N. Bellah, misalnya, dalam ulasannya mengenai “naturalisme religius” melihat objek-objek devosional agama pada awalnya di era mitologis berada bukan di dunia adikodrati yang terputus dari dunia imanen, melainkan seluruhnya berada dalam dunia imanen. Memakai terminologi Rudolf Otto, sang “mysterium tremendum et fascinans” pada awalnya adalah sang misteri dalam dunia imanen seluruhnya, sang misteri yang menimbulkan kegentaran sekaligus keterpesonaan. Tulis Bellah, “Dalam tahap-tahap awal munculnya agama, tidak terdapat gagasan tentang ‘hakikat-hakikat supernatural’”, dan lagi, “Ada sesuatu yang religius pada alam ini, tetapi yang religius ini tidak melibatkan hal apapun yang berada di luar alam.”/6/ Bellah sungguh-sungguh menekankan bahwa agama-agama pada hakikatnya natural, bukan supernatural; dus menjadikan alam ini sendiri religius.

Fisikawan teoretis kelahiran Jerman Albert Einstein (1879-1955) menolak dengan tegas Allah personal yang dipercaya agama-agama monoteistik Yudaisme, Kristen, dan Islam. Tapi Einstein juga mengakui bahwa dia mengalami ketakjuban luar biasa pada suatu dimensi transenden yang lain. Apa? Dimensi transenden yang mempesona Einstein adalah struktur dan harmoni serta tertib kosmologis yang selalu melampaui kemampuan sains untuk tuntas menggapainya. Keterpesonaan Einstein ini diungkap secara metaforis olehnya ketika dia menyatakan bahwa “Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan kosmos ini.” Dengan jelas Einstein juga menyatakan bahwa “apa yang membentuk gagasanku tentang Allah adalah keyakinan emosional yang dalam mengenai keberadaan suatu daya nalar yang superior yang disingkapkan di dalam jagat raya yang tidak terpahami.” Seperti tercantum pada epigraf di awal tulisan ini, sang misterius atau sang transenden bagi Einstein adalah kawasan pertemuan antara seni sejati dan sains sejati, kawasan yang berada dalam dunia imanen. Kawasan pertemuan ini sangat memukau perasaan Einstein. Sejalan dengan Einstein, pujangga Aldous Leonard Huxley, dalam karyanya Music at Night and Other Essays (terbit 1931), menyatakan, “Setelah sains, yang paling dekat dengannya dalam mengungkapkan hal-hal misterius yang tak terungkapkan adalah musik”. Kalau sang misteri mendorong Einstein untuk mengonstruksi sains, misteri yang sama juga melahirkan agama. Einstein menyatakan bahwa “Pengalaman tentang sang misteri itulah yang melahirkan agama, bahkan jika pengalaman ini bercampur dengan rasa takut.”

Di zaman kita, astronom, kosmolog dan astrofisikawan Amerika Carl Edward Sagan (1934-1996) melihat akar terdalam agama tidak terletak di dunia supernatural, tapi dalam alam ini, dalam dunia natural. Baginya, agama adalah keterpesonaan dan rasa takjub terhadap seluk-beluk yang rumit, kedalaman, dan keindahan yang luar biasa hebat dari jagat raya ini. Naluri keagamaan berpangkal pada jagat raya, karena itu pada dasarnya tunduk pada penyelidikan saintifik. Pada sisi lain, juga ada sesuatu yang religius pada sains, religius dalam pengertian yang luas, karena semua penyelidikan saintifik menarik kita masuk ke dalam alam yang pada dirinya sendiri tampak indah, luar biasa mempesona dan rumit jalin-menjalin. Karena alam atau jagat raya adalah fokus paling hakiki baik dari agama maupun dari sains, maka akan selalu ada yang saintifik dalam dunia agama dan akan selalu ada yang religius atau spiritual dalam dunia sains. Bahkan lebih jauh lagi Sagan berargumentasi: berhubung alam atau jagat raya adalah akar semua pengalaman keagamaan, maka sudah pasti benar jika kita mencari sebab-musabab alamiah untuk segala kejadian yang dipandang “supernatural” atau “religius.”/7/ Dengan demikian, bagi Sagan dunia imanen dan dunia transenden pada dasarnya menyatu, tak terpisah, dan menjadi fokus agama dan fokus sains sekaligus.

Lepas dari berbagai konflik internal dalam komunitas-komunitas mereka, dari sikap intoleran pendirinya, dan dari fitur-fitur takhayul dalam pandangan dunia mereka, aliran Buddhis Jepang yang diberi nama Nichiren Shoshu menemukan dimensi transenden dalam “hukum-hukum agung jagat raya yang misterius” (Myoho). Lewat mantram Nam-Myoho-Renge-Kyo yang dilantunkan berulang-ulang, umat Nichiren Shoshu menyatakan kepercayaan dan tekad mereka (Nam) untuk hidup harmonis dengan hukum-hukum agung jagat raya yang misterius (Myoho), dengan hukum-hukum sebab-akibat (Renge), dan dengan suara dan ritme jagat raya (Kyo) yang mengalir masuk ke dalam kehidupan mereka. Jelas sekali, dalam agama ini transendensi dan imanensi menyatu, tak terpisah. Pandangan dunia dalam Nichiren Shoshu ini sejalan dengan apa yang pernah dinyatakan oleh Baruch de Spinoza (dan juga oleh Albert Einstein) bahwa totalitas hukum-hukum alam itu adalah Allah sendiri. Ketika Spinoza menulis kata-kata Deus sive Natura, dia menolak untuk mendikotomikan Allah dan Alam, yang satu tidak dapat dipilih dengan membuang yang lain. 

Tapi apa yang dimaksudkan dengan dimensi transenden atau transendensi (Latin: transcendentiam)? Dimensi transenden persisnya adalah misteri-misteri yang begitu besar dan tampak abadi, yang berada di luar jangkauan pikiran dan pengalaman kita sehari-hari, yang karena begitu besarnya kita takjub dan terpesona di hadapannya, dan selanjutnya kita membangun sikap-sikap tertentu terhadapnya, entah sikap takjub religius ataupun sikap takjub non-religius. Dimensi transenden semacam ini kita temukan baik di dalam dunia sub-atomik mekanika quantum maupun dalam kosmos mahabesar, dan juga dalam banyak bidang kehidupan kita sehari-hari. Sesungguhnya setiap saintis membuka diri pada dimensi-dimensi transenden semacam ini, yang tak pernah bisa tuntas dimasuki dan tidak pernah selesai dijelajahi, dan karena itu sains terus maju dan berkembang, membawa orang ke relung-relung jagat raya yang makin mempesona dan menyimpan sangat banyak misteri yang belum terkuak hingga kini, dan juga ke relung-relung dunia sub-atomik partikel-partikel yang sama-sama menawan hati dan penuh hal-hal yang misterius, dan ke dalam banyak wonder yang kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari di planet Bumi.

Di kalangan saintis dikenal istilah “historical transcendence”, bukan “suprahistorical transcendence.” “Suprahistorical transcendence” mencari yang adikodrati pada Allah dan kehidupan setelah kematian yang dipercaya ada oleh agama-agama, di luar sejarah. Tetapi “historical transcendence” menawarkan keadikodratian justru di dalam dan lewat yang kodrati, di dalam dan lewat sejarah, di dalam dan lewat imanensi. Istilah “historical transcendence” ini saya pinjam dari Michael Shermer, sang pendiri Skeptics Society, dari bukunya Why People Believe Weird Things. Tulis Shermer, “Sejarah adalah satu bidang pemikiran yang menyoroti tindakan-tindakan manusia di sepanjang waktu dan melampaui kisah personal satu orang individu manapun. Sejarah mentransendir kekinian-dan-kedisinian, melewati masa lampau yang betul-betul panjang sampai mencapai masa depan yang dekat yang tak ada batasnya.”/8/ 

Renungilah pepatah Indian Amerika ini, “Apakah kehidupan itu? Kehidupan adalah bayang-bayang kecil yang dibentuk rerumputan di padang ketika Mentari bersinar, tetapi lenyap sendiri saat Mentari terbenam” (Blackfoot 19260). Usia kita pendek. Tapi kalau anda menulis banyak buku visioner yang berwawasan jauh ke depan puluhan generasi, dalam puluhan generasi mendatang itu anda hidup terus. Walaupun anda hidup hanya sampai usia, katakanlah, 75 tahun, buku-buku yang telah anda tulis itu membuat anda hidup terus, kekal, dalam benak generasi-generasi yang akan datang. Itulah salah satu wujud “historical transcendence”: anda menjadi abadi dalam dunia ini lewat karya-karya besar anda yang mempengaruhi bahkan mengubah jalannya sejarah dunia ini. Sebuah peribahasa kuno orang Indian Amerika berbunyi demikian, “Orang-orang yang sudah mati, tidaklah mati, tetapi hidup terus di dalam hati orang-orang yang mereka telah tinggalkan” (Tuscarora 18997). Pujangga dan matematikus Yahudi-Polandia Jacob Bronowski menyatakan bahwa “Setiap hewan meninggalkan jejak-jejak ragawi dirinya; tetapi hanya manusia yang meninggalkan jejak-jejak dari apa yang dia telah ciptakan.” Pujangga Indonesia yang tersohor Pramoedya Ananta Toer menyatakan bahwa “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Tentu orang yang berhasil mencapai transendensi historis semacam ini tak banyak jumlahnya; tetapi tidak mustahil anda akan bisa menambah jumlahnya, jika anda punya tekad kuat untuk bergerak ke arah itu. 

Putri mendiang Carl Sagan, Sasha Sagan, merasakan “historical transcendence” diri ayahnya dalam semua karya ayahnya, yang akhirnya lewat bantuan seseorang ditempatkan dalam Perpustakaan Kongres supaya terawat selamanya. Sasha Sagan menulis, “Ini adalah suatu penghormatan luar biasa besar yang membuatku merasa bahwa ayahku, di dalam kematiannya, telah mendapatkan sejenis keabadian, meskipun suatu keabadian yang kecil saja, keabadian yang insani, dalam dunia ini. Tapi itulah satu-satunya  jenis keabadian yang orang dapat harapkan untuk memperolehnya.”/9/ 

Tentang sosok-sosok agung yang telah mencapai transendensi historis, penulis buku penting yang berjudul menarik 7 Men Who Rule the World from the Grave Dave Breese menulis, “peringkat pentakziman yang diberikan kepada mereka melebihi peringkat yang patut diberikan kepada orang-orang biasa. Mereka disebut ‘para pengubah dunia’, ‘para pemikir yang berdampak ke depan’, ‘para konseptor mulia’, ‘orang-orang yang dimabuk Allah’, ‘para pencipta’, ‘para penjaga masa depan’, dan sejenisnya. Malah beberapa dari antara mereka telah bergerak maju sangat jauh sehingga meninggalkan setiap pendahulu mereka, dengan melahirkan suatu ‘mazhab baru pemikiran’― ya, bahkan suatu ‘kemanusiaan baru’…. Mereka menjadi ayah dan bunda bagi suatu Zeitgeist baru. Dalam generasi mereka sendiri dan dalam generasi-generasi masa-masa depan, mereka merasuk ke dalam pikiran bahkan imajinasi puluhan lalu jutaan orang yang terus mencari.”/10/ 

Begitu juga, kemahabesaran jagat raya menjadi suatu transcendence sendiri bagi kaum saintis yang perlu mereka sibak lewat karya-karya besar mereka dalam dunia ini sementara mereka hidup. Banyak kosmolog dan fisikawan angkasa merasa masuk ke kawasan transenden jagat raya ketika mereka memasuki jagat raya terdalam lewat berbagai instrumen teknologis dan sains modern. Kedalaman jagat raya yang mempesona mereka membuat mereka merasa begitu kecil di hadapan jagat raya maha besar. Astrofisikawan Stephen Hawking  dengan bagus mengungkapkan keterpesonaannya pada jagat raya, demikian, “Ingatlah untuk menatap ke atas, ke bintang-bintang, dan jangan menatap ke bawah ke kaki anda. Cobalah pahami apa yang anda lihat, dan tetaplah terpesona seperti kanak-kanak saat anda bertanya-tanya apa yang telah membuat jagat raya ini ada.” Seorang ateis yang bernama Stephen Hawking ternyata begitu dekat dengan dunia transenden, dunia yang mahaluas, yang tak terpahami dengan tuntas, jagat raya ini. 

Dari sains, khususnya teori dawai (string theory), kita tahu dalam jagat raya ada 11 dimensi, tetapi kita baru tahu hanya 4 dimensi ruang-waktu dan bisa mengurainya. Dari sains kita juga tahu jagat raya kita yang mahaluas ini, yang terbentuk 13,8 milyar tahun lalu, terdiri atas 4,9 % elemen materi biasa yang kita kenal (yang membentuk bintang-bintang, planet-planet, galaksi-galaksi, dan semua organisme, termasuk diri kita), 26,8 % elemen materi gelap (dark matter) yang tak bisa kita lihat yang bekerja sebagai gaya gravitasi, dan 68,3 % elemen energi gelap (dark energy) yang juga kita tak bisa lihat, yang membuat jagat raya terus bergerak mengembang makin cepat, dus berfungsi sebagai gaya antigravitasi./11/ Jadi, dalam arti harfiah, jagat raya kita ini memang menyimpan banyak misteri yang jauh melampaui kemampuan kita untuk mempersepsi, memahami, melihat dan mencapainya. Mau tak mau, kita harus mengakui jagat raya ini sendiri suatu transendensi. Demikian juga, ketika mereka masuk ke dunia partikel-partikel subatomik yang tidak tampak oleh mata biasa, para saintis menemukan suatu dunia yang weird, yang sukar atau tak terpahami sepenuhnya oleh sains yang ada sekarang, yang akibatnya menimbulkan juga suatu kegairahan dan ketakjuban yang mendorong mereka untuk terus menyelidikinya tanpa lelah. Prinsip ketidakpastian Heisenberg menyadarkan kita bahwa dunia partikel subatomik tidak akan pernah bisa kita kontrol, eksplorasi dan pahami sepenuhnya. Kita, misalnya, tidak akan pernah bisa menentukan dengan sepersis-persisnya posisi sebuah elektron dalam dunia subatomik.   

Tetapi berbeda dari sikap para agamawan teistik, ketika para saintis berhadapan dengan transendensi kosmologis dan transendensi quantum mereka tidak menyembah transendensi ini melainkan menatapnya dengan terpesona lewat berbagai jenis instrumen lalu mengkaji dan menyelidikinya lewat metode-metode saintifik. Aktivitas-aktivitas saintifik mereka membuat mereka menemukan banyak wonder dalam jagat raya dan interkoneksi yang kuat di antara seluruh materi yang membentuk jagat raya. Keterpesonaan dan wonder yang para saintis alami dan temukan dalam kosmos, membawa mereka ke dalam suasana bertemu dengan apa yang biolog terkenal Richard Dawkins namakan “magi puitis” (poetic magic)./12/ Bagi Dawkins yang ateis, dunia ini, kosmos yang mahaluas, dan kehidupan kita sehari-hari dan kehidupan semua organisme, dipenuhi oleh magi, oleh wonder, diresapi oleh dimensi-dimensi transenden yang membuatnya terpesona, masuk ke dunia puitis, dan lewat sains dia berusaha memahami semuanya dengan metode-metode saintifik secara berdisiplin. Setelah saya membaca tuntas buku bagus Dawkins The Magic of Reality yang salah satu bagiannya memuat ulasan menarik tentang poetic magic, saya dapat menyatakan dengan yakin bahwa poetic magic Dawkins adalah transendensi-dalam-imanensi, dan imanensi-dalam-transendensi. Dengan menyatakan bahwa realitas itu “magic, Dawkins bermaksud menegaskan bahwa di dalam segala realitas natural yang menjadi objek kajian sains terdapat dimensi-dimensi transenden, dimensi-dimensi yang magis.

Dalam memoarnya yang berjudul menarik An Appetite for Wonder (terbit di ujung tahun 2013), Richard Dawkins menyatakan bahwa sejak muda dia memang sudah tertarik pada masalah-masalah eksistensial yang agama-agama coba untuk jawab. Tulis Dawkins, “Aku senantiasa tertarik pada pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai kehidupan ini, pertanyaan-pertanyaan yang agama-agama ingin jawab (tetapi gagal). Tapi beruntunglah aku karena aku hidup dalam suatu zaman di mana pertanyaan-pertanyaan semacam itu diberi jawaban-jawaban saintifik ketimbang jawaban-jawaban supernatural.”/13/ Ini sebuah pernyataan yang sangat jelas yang menunjukkan bahwa Dawkins, meskipun ateis, memiliki perhatian sangat kuat pada dimensi-dimensi transenden kehidupan ini, yang menjadi fokus agama-agama, yang disebutnya “pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai kehidupan ini.” Berbeda dari agama, Dawkins memberi jawab atas pertanyaan-pertanyaan ini secara saintifik. Jadi, sekali lagi, bagi Dawkins transendensi itu ada dalam imanensi, dan juga sebaliknya.

Dalam sebuah wawancara dengannya yang dilakukan oleh Laura Sheahen, berkaitan dengan bukunya yang terbit di tahun 1998, Richard Dawkins menyatakan, “Bukuku, Unweaving the Rainbow,/14/ adalah sebuah upaya untuk mengangkat sains ke level puisi dan untuk menunjukkan bagaimana seseorang dapat... membangun suatu sikap spiritual terhadap sains. Bukan dalam arti supernatural, melainkan bahwa ada banyak misteri yang menggairahkan pikiran yang harus disibak. Saat aku merenungi dalam-dalam ukuran dan keluasan jagat raya, kedalaman waktu geologis, dan kompleksitas kehidupan, semua ini, bagiku, memberi banyak inspirasi. Semua ini membuat kehidupanku layak dipakai untuk mengkajinya.”/15/ Kembali kita temukan, bagi Dawkins, dimensi transenden (spiritualitas) memenuhi dimensi imanen (sains), dan juga sebaliknya. Hal ini jugalah yang ditemukan oleh Carl Sagan, sebagaimana sudah dibeberkan di atas. 

Fisikawan Jerman yang pada 1918 memenangkan Hadiah Nobel fisika, Max (Karl Ernst Ludwig) Planck (1858-1947), yang dipandang sebagai salah seorang pendiri teori quantum, pernah di tahun 1944 menyatakan bahwa “segala materi berasal-usul dan ada hanya karena suatu daya.... Kita harus menganggap di belakang daya ini ada Pikiran (Mind) yang sadar dan cerdas. Pikiran adalah matriks segala materi”./16/ Mari sekarang kita fokus pada “Pikiran” yang disebut Planck ini.

Dalam eksperimen-eksperimen di laboratorium yang berkaitan dengan dualitas gelombang/partikel dalam dunia mekanika quantum, para fisikawan telah lama menemukan bahwa partikel-partikel elektron (atau sebuah partikel foton atau sebuah partikel elementer lainnya apapun) dalam dunia subatomik memiliki semacam proto-kesadaran dan kehendak bebas pada dirinya sendiri (sebagai segi gelombang dari sebuah partikel elementer) selain sebagai materi (sebagai segi partikel dari sebuah partikel elementer). Dalam rangka ini, fisikawan teoretis Amerika David J. Bohm (1917-1992) dalam artikelnya “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter” menulis, “Hal-hal mental dan hal-hal material adalah dua sisi dari satu proses yang menyeluruh yang (seperti bentuk dan isi) terpisah hanya di dalam pikiran dan bukan di dalam realitas yang sebenarnya. Sesungguhnya, ada satu energi yang menjadi basis dari semua realitas.... Tak pernah ada pemisahan real apapun antara sisi mental dan sisi material pada tahap apapun dari keseluruhan prosesnya.”/17/

Nah,Mind” yang dimaksud oleh Planck mengacu ke dunia subatomik ini, yang di dalamnya setiap partikel fundamental memiliki serentak segi mental (kesadaran dan kehendak bebas, atau pikiran) dan segi material. Sebelumnya, di tahun 1931, Planck menulis, “Aku memandang kesadaran sebagai sesuatu yang mendasar. Aku memandang materi berasal dari kesadaran. Kita tidak dapat mengetahui apa yang ada di balik kesadaran. Segala sesuatu yang kita bicarakan, segala sesuatu yang kita pandang ada, memerlukan dalil adanya kesadaran.”/18/ Dengan demikian, “Pikiran” dalam pemahaman Planck adalah segi mental atau segi kesadaran dari setiap partikel subatomik, yang tidak dapat dipisahkan dari segi materialnya. Lebih jauh dari itu, para saintis kini bahkan sudah menemukan dan sedang mempelajari fitur-fitur dan struktur-struktur yang “menyerupai kehidupan” dalam debu-debu bintang inorganik di angkasa luar. Dalam reportase tentang temuan ini ditulis bahwa “sebuah tim internasional telah menemukan bahwa di bawah kondisi-kondisi yang pas, partikel-partikel debu inorganik dapat terorganisasi membentuk struktur-struktur heliks. Struktur-struktur ini lalu dapat berinteraksi satu sama lain dengan cara-cara yang biasanya dihubungkan dengan senyawa-senyawa organik dan kehidupan itu sendiri. Struktur-struktur plasma yang kompleks dan terorganisasi sendiri ini memperlihatkan semua properti yang diperlukan sehingga memenuhi syarat untuk struktur-struktur ini menjadi kandidat-kandidat bagi materi inorganik yang hidup. Materi-materi ini otonom, mereproduksi diri sendiri dan berevolusi.”/19/ Jadi, materi dan kesadaran tampak tidak terpisahkan, baik dalam dunia quantum maupun dalam jagat raya, dunia antar-bintang.

Nah, jika Pikiran yang disebut Planck adalah matriks segala materi”, Pikiran ini adalah rahim dan wadah persemaian yang melahirkan, membentuk dan mengembangkan segala materi. Itulah arti frasa matriks segala materi”. Jelas, Pikiran yang semacam ini bukanlah sekadar pikiran-pikiran kecil manusia, tapi Pikiran Besar jagat raya yang tidak terpisah dari keseluruhan materi-energi yang membentuk jagat raya. Jika pikiran itu energi, maka pikiran ini memang ekuivalen dengan materi yang bermassa, seperti dinyatakan dalam persamaan Einstein E = mc2. Jagat raya ini memiliki Pikiran di dalam segala materinya, dan memiliki materi di dalam Pikirannya. Keduanya tidak dapat dipisahkan; keduanya ekuivalen. Harus kita namakan apa lagi jika Pikiran Besar jagat raya ini tidak kita sebut sebagai transendensi? Jika demikian, para saintis (yang teis, maupun yang ateis dan agnostik) sebetulnya ambil bagian di dalam Pikiran Besar ini lewat pemikiran-pemikiran saintifik hebat yang mereka bangun, yang dilahirkan oleh kemampuan rasional otak mereka. Lahirnya sains adalah suatu keharusan, suatu keniscayaan, bukan suatu kebetulan. Sains adalah imanensi dalam transendensi Pikiran Besar jagat raya. Dalam sains, transendensi menyusup masuk ke dalam imanensi.

Tetapi apa yang diasumsikan Planck sebagaiMind” ini tentu bisa juga ditafsirkan sebagai higher intelligence yang mungkin sekali memang menghuni banyak bagian jagat raya yang tanpa batas, dan salah satu di antaranya adalah homo sapiens, organisme cerdas yang kita namakan manusia yang baru muncul di Bumi 400.000 tahun lalu,/20/ yang di belakangnya perjalanan evolusi biologis spesies sudah berlangsung sepanjang 3,5 milyar tahun. Organisme-organisme luar Bumi yang memiliki tingkat kecerdasan jauh di atas manusia mungkin sekali sudah memiliki sains dan teknologi yang sudah luar biasa maju sehingga mereka sanggup menciptakan jagat-jagat raya, dan mungkin sekali juga dulu mereka telah menciptakan moyang homo sapiens sebagai bagian dari eksperimen-eksperimen mereka dalam dunia sains perekayasaan genetik. Sangat mungkin mereka telah meninggalkan pesan-pesan dan tandatangan mereka di dalam kode genetik kita, berupa pesan-pesan matematis dan semantis, yang ditulis sangat jauh di masa lampau dalam galaksi kita, yang menunggu untuk kita urai./21/

Orang ateis yang sangat aktif Richard Dawkins sangat keras menolak kepercayaan kaum Kristen kreasionis terhadap sang perancang cerdas (the intelligent designer) jagat raya yang mereka (dengan diam-diam) namakan Allah. Tetapi Dawkins sendiri bisa menerima suatu kemungkinan saintifik yang kuat bahwa di dalam jagat-jagat raya yang ada bisa terdapat alien-alien supercerdas yang lewat sains dan teknologi mereka yang sudah sangat maju sanggup menciptakan moyang-moyang homo sapiens pada zaman yang sangat purba, seperti baru disinggung di atas. Tentang ini, Dawkins menyatakan: 

“Adalah mungkin pada zaman dulu, di suatu tempat di dalam jagat raya, suatu peradaban berevolusi, mungkin sekali lewat cara-cara evolusioner seperti yang digambarkan Charles Darwin. Mungkin sekali peradaban ini mencapai tingkat kemajuan teknologi yang tak terbayangkan. Lalu peradaban ini mendesain sebentuk kehidupan yang mereka budidayakan mungkin di planet Bumi. Bagaimanapun juga ini adalah sebuah kemungkinan, dan sebuah kemungkinan yang sangat merangsang pikiran. Aku beranggapan adalah mungkin kalau suatu saat nanti anda akan dapat menemukan bukti-bukti tentang ini jika anda melihat ke detail-detail biokimia dan biologi molekuler; di situ anda akan dapat menemukan suatu tandatangan dari sejenis perancang cerdas.”/22/

Jadi, sementara kalangan kreasionis Kristen percaya pada the divine intelligent designer, Dawkins percaya pada super-human (or alien) intelligent designers. Dalam suatu dunia yang makin saintifik dan teknologis, mungkin sukar sekali kita membedakan antara “the divine” dan “the super-human”, ketika sains dan teknologi yang sudah sangat maju tak bisa lagi dibedakan dari magi, seperti dikatakan oleh penulis kreatif fiksi-fiksi sains Arthur C. Clarke. Siapa yang bisa membuktikan salah jika kita berpikir, spekulatif sekalipun, seperti Erich von Däniken, bahwa adalah mungkin “makhluk-makhluk surgawi” yang dulu mendatangi moyang-moyang homo sapiens yang lalu mereka sembah sebagai tuhan-tuhan atau dewa-dewi sebetulnya adalah alien-alien cerdas yang datang dari atas, dari angkasa luar?

Sebetulnya teori tentang “super-human (or alien) intelligent design” sudah diajukan sebelumnya di tahun 1973 oleh Francis Crick (pemenang Hadiah Nobel tahun 1953 bidang genetika lewat penemuan DNA) bersama Leslie Orgel, teori yang mereka namakan teori “panspermia terkendali” (“directed panspermia”): kehidupan di planet Bumi semula dibudidayakan oleh alien cerdas dari angkasa luar lewat molekul DNA yang mereka rancang. Teori ini diusulkan oleh Crick berhubung dia melihat molekul DNA terlalu kompleks untuk bisa dihasilkan oleh evolusi lewat seleksi alamiah sebagaimana digambarkan Charles Darwin, sehingga dia perlu menteorikan adanya suatu perancang cerdas yang telah mendesain molekul ini. Karena menerima banyak kritik, akhirnya Crick menarik kembali teorinya ini, dan kini oleh Dawkins teori ini tampaknya dihidupkan kembali.

Para teis menilai teori ini sebagai sebuah fiksi sains belaka berhubung, kata mereka, hingga kini kita tidak punya bukti apapun bagi keberadaan alien-alien cerdas di angkasa luar. Tetapi, sebaliknya, mereka juga harus diingatkan bahwa memandang sang perancang cerdas ini sebagai Allah juga sebuah fiksi belaka, sebab hingga kini kita juga tak pernah menemukan bukti-bukti empiris apapun bagi keberadaan Allah.

Tetapi, hemat saya, bukankah adanya homo sapiens di planet Bumi juga merupakan sebuah bukti bahwa organisme cerdas memang ada di dalam jagat raya? Jika organisme cerdas ada dalam jagat raya, apakah harus hanya ada di Bumi? Hemat saya, tidak harus. Dalam anjurannya untuk kita tidak membuat kontak dengan alien-alien cerdas karena mereka menurutnya jahat, astrofisikawan Stephen Hawking menyatakan bahwa “Kita hanya perlu memandang ke diri kita sendiri untuk melihat bagaimana kehidupan cerdas dapat berkembang menjadi sesuatu yang kita tidak ingin jumpai.”/23/ Dengan kata lain, bagi Hawking manusia adalah suatu bukti adanya kehidupan cerdas dalam jagat raya ini, dan watak agresif manusia juga akan ditemukan dalam diri alien-alien cerdas.

Selain itu, karena alam itu secara empiris ada dan evolusi lewat seleksi alamiah adalah suatu proses yang memang nyata, maka jauh lebih realistik jika kita menghipotesiskan bahwa alam ini memiliki kemampuan abiogenesis, kemampuan menciptakan DNA yang hidup dari zat-zat kimia yang mati yang disebarkan ke dalam jagat raya lewat supernovae, jika kondisi-kondisi natural di angkasa luar dan di planet Bumi yang diperlukan sudah tersedia. Kapasitas abiogenesis dari alam ini, dalam jagat raya, juga disebut sebagai kapasitas “panspermia”: kapasitas untuk memunculkan benih-benih kehidupan di segala tempat, di mana-mana, di dalam keseluruhan jagat raya. Bukti-bukti telah terkumpul dengan makin banyak bahwa kapasitas panspermia jagat raya adalah suatu kapasitas yang real./24/ Pada sisi lain, sangatlah tidak realistik jika kita melakukan sebuah “lompatan iman”, masuk ke teologi, dengan menyatakan bahwa suatu Oknum Supernatural telah menciptakan manusia langsung jadi dan sempurna tanpa lewat proses evolusi seperti diyakini kaum kreasionis. Jangan juga dilupakan bahwa abiogenesis adalah sesuatu yang sudah dibuktikan dengan sukses oleh sains biologi sintetis sebagaimana dikaji dan dikembangkan oleh J. Craig Venter./25/ Jadi, dalam mencari asal-usul kehidupan jauh lebih dapat diandalkan jika kita berpaling ke biologi, kimia dan fisika, ketimbang ke teologi yang didasarkan pada otoritas wahyu dan iman. Dalam hal ini, fideisme menjadi tidak masuk akal, dan saintisme menjadi sebuah pilihan yang niscaya.

Ada baiknya pada kesempatan ini kita berpaling sejenak ke salah seorang pembela gagasan tentang “intelligent design” (ID), yakni Stephen C. Meyer. Berkaitan dengan informasi genetik yang terdapat di dalam DNA manusia, Meyer menyatakan hal-hal berikut ini:

“Ketika aku belajar lebih jauh mengenai teka-teki DNA, aku mendapatkan serangkaian pengetahuan: mengenai kodrat informasi; mengenai mengapa informasi dalam DNA melampaui fisika dan kimia; mengenai mengapa informasi ini melampaui jangkauan kejadian yang kebetulan belaka; mengenai pesan-pesan yang real yang diberikan beranekaragam eksperimen simulasi; dan mengenai kriteria yang membuat penjelasan-penjelasan historis sebagai penjelasan-penjelasan terbaik. Saat aku menggunakan metode saintifik historis untuk mengevaluasi bukti-bukti dan penjelasan-penjelasan tandingan berdasarkan kriteria ini, akhirnya aku menyadari bahwa hipotesis desain memenuhi masing-masing kriterion ini.”/26/

“Hipotesis desain memberikan penjelasan terbaik dan paling memadai mengenai asal-usul informasi yang diperlukan untuk menghasilkan kehidupan pertama di Bumi.… Informasi selalu datang dari sumber yang cerdas, dari suatu pikiran dan bukan suatu proses yang semata-mata material. Dengan demikian, penemuan informasi digital yang khas dalam molekul DNA memberikan landasan-landasan kuat untuk menyimpulkan bahwa kecerdasan memainkan suatu peran di dalam asal-usul DNA.”/27/

“Pengalaman kita yang seragam menunjukkan bahwa pikiran mempunyai kapasitas untuk menghasilkan informasi yang khas. Sebaliknya, pengalaman telah memperlihatkan bahwa proses-proses material tidak memiliki kapasitas ini. Hal ini menyarankan bahwa pikiran adalah kandidat yang lebih baik sebagai entitas dasariah untuk menjelaskan asal-usul informasi yang khusus ini, sebagai sesuatu yang darinya informasi semacam ini pertama-tama muncul…. Suatu pikiran immaterial yang ada dari dirinya sendiri dapat berfungsi dengan baik sebagai penyebab hakiki adanya informasi biologis…. Desain cerdas―yang didefinisikan sebagai suatu pilihan dari suatu agen rasional untuk mengaktualisasi suatu kemungkinan―sangat mungkin menjadi suatu penyebab fundamental yang tidak memerlukan penyebab sebelumnya bagi keberadaannya sendiri.”/28/ 

Jadi, bagi Meyer yang mempertahankan hipotesis ID, informasi genetik dalam DNA yang memungkinkan kehidupan pertama muncul di planet Bumi berasal-usul dari “sumber yang cerdas”, dari “suatu pikiran yang immaterial”, “suatu agen yang rasional”, “suatu entitas dasariah”, yang ada “dari dirinya sendiri, tanpa penyebab sebelumnya”, yang tidak berwujud material. Sedikit lebih persis, “agen yang rasional” ini adalah “suatu agen yang personal”, “suatu kecerdasan yang dengan sadar mengarah ke suatu tujuan tertentu”, “suatu agen cerdas yang telah ada sebelum kemunculan manusia.”/29/

Meyer mula-mula menyatakan bahwa teori ID “tidak membuat klaim-klaim tentang suatu hakikat ilahi, dan tidak bisa mengajukan klaim-klaim itu. Teori ini membuat sebuah klaim yang lebih moderat yang didasarkan pada pengalaman seragam kita mengenai jenis penyebab―maksudnya, suatu penyebab yang cerdas― yang bertanggungjawab bagi asal-usul bentuk dan informasi biologis.” Tetapi pada akhirnya ketika dia harus menyebut identitas “agen yang rasional dan personal” ini, dia memunculkan kata “Allah” sambil berkeluh-kesah dengan mendalam, demikian: “Aku tahu pada saat aku berkata bahwa aku secara pribadi berpikir bahwa Allah adalah sang perancang cerdas itu”, siapapun “akan menepis kasus ID sebagai ‘agama’” karena mereka “beranggapan bahwa jika suatu ide bersifat religius, maka ide ini tidak memiliki basis fakta atau bukti.”/30/

Apa pendapat saya tentang pandangan-pandangan Meyer ini? Meyer sudah betul ketika dia menyatakan “pikiran yang cerdas” sebagai penyebab adanya informasi genetik dalam DNA kita; pendapatnya ini, dari satu sudut, sejalan dengan apa yang Max Planck sebut sebagai “Pikiran sebagai matriks segala materi”, sebagaimana sudah dikemukakan di atas.

Tetapi Meyer terlalu cepat berkesimpulan lewat lompatan iman saat dia menyatakan “pikiran yang cerdas” ini adalah suatu agen personal yang ada pada dirinya sendiri, yang sudah ada sebelum adanya kehidupan pertama, yang diidentifikasinya sebagai “Allah”. Bukankah “pikiran yang cerdas” ini, ditinjau dari sudut fisika quantum, adalah aspek gelombang dari sebuah partikel, yakni aspek mentalnya, yang tidak dapat dipisahkan dari aspek partikelnya, yakni aspek materialnya. Meyer juga keliru saat dia membuat dikotomi pikiran versus materi. Bukankah dalam dunia partikel, dikotomi ini tidak ada, sebab setiap partikel subatomik memiliki serentak sisi mental (sebagai pikiran) dan sisi material (sebagai partikel). Selain itu, mengapa Meyer tidak berpikir bahwa “pikiran yang cerdas” yang dia hipotesiskan itu dapat mengacu juga ke kecerdasan alien-alien cerdas, seperti sudah disebut di atas. Jadi, ketimbang menjadi sebuah solusi ilmiah, teori ID yang diusulkan Meyer terperosok masuk ke dalam ranah teologi. 

Kembali ke Pikiran yang diasumsikan Planck sebagai “matriks segala materi”. Tanpa perlu merujuk ke sosok yang orang beragama namakan Tuhan, sebetulnya ketika para saintis ateis dan agnostik menyelidiki banyak misteri dan wonder dalam jagat ini, baik jagat cilik dalam dunia mekanika quantum maupun jagat gede dalam kosmos secara keseluruhan, mereka mengarah ke Pikiran Besar yang ada di belakang dan menyelimuti semua materi, lewat pikiran-pikiran kecil mereka. Semua hal yang kita pandang sebagai misteri dan wonder sebetulnya adalah Pikiran Besar yang belum dapat kita masuki dan urai lewat pikiran-pikiran kecil kita sekarang ini. Ketika waktu terus melaju, dan sains-tek kita makin maju, misteri-misteri dan wonder ini akan bertahap dapat kita masuki dan urai satu demi satu. Pada akhirnya, bisa jadi pikiran-pikiran kecil kita akan sepenuhnya menjadi satu dengan Pikiran Besar dalam jagat raya. Saat ini telah dicapai, tak ada lagi transendensi dan imanensi. Kekosongan adalah puncak. Emptiness is fullness.

Tidak pelak lagi, pada masa kini transendensi juga menyelubungi para saintis, transendensi yang melahirkan baik puisi, musik dan agama, maupun matematika, dalam dunia imanen. Yang menciptakan baik piano dan gamelan maupun mesin-mesin MRI, Large Hadron Collider, dan wahana-wahana antariksa. Yang membuat orang menangis haru atau tertawa bahagia atau keduanya sekaligus. Yang membuat para saintis (teis, ateis atau agnostik) mengembangkan sains terus-menerus dan sekaligus mendorong mereka berbuat bajik tak kenal lelah untuk umat manusia dan kosmos secara keseluruhan.  

Jadi, orang teis, orang agnostik dan orang ateis, semuanya sama-sama memerlukan dimensi-dimensi transenden, dimensi-dimensi yang melampaui dunia sehari-hari, yang membuat kehidupan dalam dunia ini terasa menggairahkan, yang menimbulkan dalam diri kita motivasi-motivasi, yang memberi kita perasaan takjub luar biasa, dan yang mendorong kita untuk mengembangkan sains terus-menerus, tanpa henti dan tanpa titik final. Tanpa dimensi-dimensi transenden, manusia mungkin sekali akan kehilangan makna kehidupan ini, tak termotivasi untuk melangkah maju, ke depan, terus-menerus, untuk mencapai transendensi yang terus menjauh dan selalu mengelak ketika mau digenggam mutlak oleh tangan-tangan manusia yang kecil. Dalam bahasa sains, Freeman Dyson dengan bagus dan jernih mengungkapkan dimensi-dimensi transenden ini demikian, “… dunia matematika murni tidak pernah habis dijelajahi; tidak ada seperangkat terbatas aksioma-aksioma dan kaidah-kaidah inferensi yang selalu dapat merangkum keseluruhan matematika…. Aku berharap bahwa suatu situasi yang analog ada di dalam dunia fisika. Jika pandanganku tentang masa depan benar, itu berarti bahwa dunia fisika dan dunia astronomi juga tidak akan pernah habis dieksplorasi; tidak perduli berapa jauh kita telah masuk ke masa depan, akan selalu ada hal-hal baru yang bermunculan, informasi baru terbit, dunia-dunia baru tersedia untuk dijelajahi, suatu kawasan kehidupan, kesadaran, dan memori yang terus-menerus makin meluas dan berkembang.”/31/

Hal yang sama juga diungkap dengan sangat bagus oleh kosmolog dan fisikawan teoretis Michio Kaku. Tulisnya, “Jagat raya saat tercipta bisa jadi tak masuk akal, acak, atau tidak terduga. Namun jagat raya kini tampak bagi kita utuh, koheren, dan indah…. Akan selalu ada hal-hal yang melampaui pemahaman kita, yang mustahil kita eksplorasi. Tetapi hukum-hukum dasariah, aku percaya, dapat diketahui dan terbatas. Kita tidak sedang berada di akhir, melainkan di awal suatu fisika baru. Tetapi apapun yang kita temukan, akan selalu ada horison-horison baru yang senantiasa menunggu kita.”/32/

Pendek kata, tidak ada orang ateis sejati, dalam arti orang yang sama sekali tak memerlukan dimensi-dimensi transenden dalam kehidupannya. Tanpa dimensi-dimensi transenden, kehidupan akan terasa kering dan menjadi sumber besar tekanan kejiwaan. Dan hal yang penting adalah jangan cari transendensi di luar imanensi, sebab transendensi ada dalam imanensi dan imanensi ada dalam transendensi. Jangan cari transendensi di luar jagat raya, sebab transendensi ada dalam jagat raya dan jagat raya ada dalam transendensi. Ini bukan sebuah perspektif klenik atau paranormalis atau mistis atau gaib, tetapi sebuah perspektif saintifik yang membuka diri pada infinitas, ketidakberhinggaan.

Ateisme adalah sebuah posisi kognitif dan sikap afektif terhadap dimensi-dimensi transenden dalam kehidupan ini, yang dipahami berbeda oleh agama-agama. Kaum ateis memahami dimensi-dimensi ini lewat sains, agama-agama lewat mitologi-mitologi. Yang satu memakai pendekatan yang cerdas (lewat sains), dan yang satunya lagi pendekatan yang tidak cerdas (lewat mitologi-mitologi). Mana yang anda mau pilih, saya serahkan kepada anda masing-masing, sebab apa pilihan anda sangat ditentukan oleh tingkat kematangan intelektual dan spiritual anda. 

Meskipun demikian, dalam pandangan saya, hal yang sungguh-sungguh bermanfaat adalah jika anda ikut serta mengembangkan sains terus-menerus, dan menghindar dari keadaan terpaku mati pada mitologi-mitologi. Sekarang ini kita hidup dalam era sains modern, dan peradaban teknologis modern kita baru berusia 300 hingga 400 tahun. Mustahil dalam era modern ini kita kembali memakai mitologi-mitologi dalam menjelaskan semua realitas, lalu menggeser atau malah membuang sains. Pilihan kita hanya satu: kita harus maju ke muka, ke zaman-zaman yang makin saintifik, dan bagi kita sama sekali tak ada titik balik ke masa-masa lampau. Inilah masa depan dunia kita: kemajuan tanpa batas, bukan kemunduran; akhlak yang makin agung, bukan makin bobrok.

Posisi ateistik sudah melampaui dualitas transendensi versus imanensi atau sebaliknya (yang dipertahankan dalam agama-agama teistik), dengan menempatkan keduanya dalam suatu interpenetrasi non-dualistik yang menggairahkan dan subur. Suatu advaita: suatu interpenetrasi, suatu kesatuan, antara Atman sebagai dunia imanen dan Brahman sebagai dunia transenden. Sebagai sebuah posisi intelektual dan sikap afektif terhadap hal-hal transenden dalam hal-hal yang imanen, dan terhadap hal-hal imanen dalam hal-hal yang transenden, ateisme bukanlah agama atau mistisisme dalam bentuk apapun. Itulah temuan saya tentang hakikat ateisme, setelah menggumulinya dengan serius, dan mendasarkannya pada pandangan-pandangan para raksasa di dunia sains.

Pandanglah pikiran saya ini sebagai sebuah interpretasi baru terhadap ateisme, sehingga tidak perlu lagi terjadi serang-menyerang dengan agresif antara kaum agamawan dan kaum ateis. Keduanya sama-sama memerlukan dimensi-dimensi transenden dalam dunia yang imanen. Mudah-mudahan isi pikiran saya ini, entah bagaimana caranya, sampai ke Richard Dawkins, alhasil sang biolog ini akan dapat berubah menjadi seorang ateis yang lebih lembut dan kalem dalam menjalankan misinya untuk mencerahkan dunia lewat sains.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip tiga orang ternama berturut-turut. Pertama, sebuah pernyataan indah almarhum Carl Sagan yang agnostik mengenai hubungan sains dan spiritualitas. Tulisnya, 

“Dalam perjumpaannya dengan Alam, sains selalu menimbulkan rasa takjub, takzim dan tunduk. Saat kita memahaminya lewat sains, di saat itulah kita merayakan kesatuan dan keterleburan kita dengan Jagat Raya yang mempesona, jikapun hanya dalam tingkatan yang sedang-sedang saja. Dan bangunan pengetahuan yang sudah terakumulasi dari seluruh penjuru dunia lambat laun mengubah sains menjadi sesuatu yang sedikit kurang dari suatu meta-pikiran (meta-mind) yang melintasi bangsa-bangsa dan generasi-generasi…. Sains bukan hanya sejalan dengan spiritualitas; sains adalah sebuah sumber besar spiritualitas. Ketika kita mengenali tempat kita di dalam jagat raya yang lebarnya bertahun-tahun cahaya tak terhitung dan di dalam rentang waktu bermilyar-milyar tahun yang sudah berlalu, ketika kita menangkap seluk-beluk yang rumit, jalin-jalinan yang halus dan keindahan kehidupan, maka muncullah dalam diri kita perasaan yang melambung tinggi, perasaan berbahagia yang menyatu dengan perasaan rendah hati. Perasaan-perasaan ini sungguh-sungguh spiritual.”/33/

Kutipan kedua berasal dari astrofisikawan terkenal masa kini Neil deGrasse Tyson. Dia menyatakan, 

“Ketika aku memandang ke atas, menatap langit malam, maka aku tahu, ya, kita semua adalah bagian dari Jagat Raya, kita semua berada di dalam Jagat Raya; tapi mungkin hal yang lebih penting dari semua fakta itu adalah bahwa Jagat Raya berada di dalam kita. Saat aku merenungi fakta itu, aku memandang ke langit―banyak orang merasa kecil, karena mereka kecil sedangkan Jagat Raya ini besar― tapi aku merasa besar, karena atom-atom tubuhku berasal dari bintang-bintang itu. Aku merasakan suatu ikatan, suatu konektivitas pada level tertentu―itulah yang engkau sungguh-sungguh inginkan dalam kehidupan. Engkau ingin merasa terhubung, terkoneksi, engkau ingin merasakan ikatan-ikatan dan jalinan-jalinan. Engkau ingin merasakan bahwa engkau berpartisipasi dalam segala hal yang sedang berlangsung, dalam segala kegiatan dan segala kejadian di sekitarmu. Itulah persisnya apa kita ini, yang kita rasakan hanya lewat kehidupan kita.”/34/

Dan yang terakhir kutipan dari seorang astronom zaman kuno, abad ke-2 M, Ptolemeus, yang tinggal dekat Aleksandria. Tulisnya pada marjin sebuah bukunya, “Aku tahu bahwa aku secara kodrati adalah seorang insan yang fana dan hidup sekilas saja. Tapi saat aku susuri dengan riang liku-liku gerak ke sana dan ke mari benda-benda langit, aku merasa tidak lagi berpijak di muka Bumi. Aku berdiri di hadapan Zeus sendiri dan aku melahap suguhan-suguhan untuk dewa-dewi sekenyang-kenyangnya.”/35/

Jagat raya penuh dengan hal-hal spiritual yang menakjubkan dan menggerakkan hati, dan ilmu pengetahuan adalah sebuah jalan yang sudah banyak teruji untuk kita masuk ke jantung jagat raya yang terus berdetak dengan hangat dan hidup. Teis, ateis dan agnostik sama-sama mengalami kehidupan dan kehangatan Jagat Raya ini. Semuanya sama-sama merasakan sang transendensi yang memenuhi dan malah lebih luas dari jagat raya kita, karena di luar jagat raya kita masih ada jagat-jagat raya lain. Pikiran Besar ada di sana dan di sini, di mana-mana, tak terbendung, meresapi segala materi. Kehidupan kita bersumber dari sana. Kecerdasan kita berpangkal dari situ. Cinta kita mengalir darinya.   

Jika segala hal yang sudah dibentangkan di atas masih juga tidak berhasil meyakinkan anda, kaum ateis, bahwa anda juga memerlukan dimensi-dimensi transenden, seperti yang juga dibutuhkan kaum agamawan, maka supaya anda tidak sesumbar, saya anjurkan anda untuk menjadi ateis saintis. Sebab hanya dengan menjadi ateis saintis, atau saintis ateis, anda baru akan bisa menemukan dan mengagumi alam ini yang ternyata penuh dengan dimensi-dimensi transenden yang mempesona. Mana yang lebih patut didengar, ateis kebanyakan, atau ateis saintis? Silakan anda dengan jujur dan rendah hati menjawabnya.    



Catatan-catatan

/1/ Koran Jakarta Post 31 Januari 2014 memberitakan bahwa Alexander Aan telah dibebaskan dari penjara pada 27 Januari 2014 setelah mendekam dalam penjara 18 bulan dari yang seharusnya 30 bulan. Meskipun sudah dibebaskan, Aan masih diwajibkan untuk secara berkala melaporkan diri ke pihak berwenang. Pada 20 Januari 2012, berdasarkan pasal 28(2) UU Informasi dan Transaksi Elektronik Aan didakwa telah menyebarkan informasi yang bertujuan untuk memancing kemarahan dan kebencian keagamaan; dan berdasarkan pasal-pasal 156a(a) dan 156a(b) UU Pidana dia juga didakwa telah melakukan penodaan agama dan mendorong orang menganut ateisme. Selain itu, Aan juga didakwa telah memberi keterangan palsu sebagai pemeluk agama Islam untuk KTP-nya. Pada 15 Juni 2012, Aan divonis 30 bulan penjara dan denda Rp 100 juta (= 8.190 USD). Lihat berita “Atheist Alexander Aan gets of prison”, Jakarta Post 31 January 2014, pada http://www.thejakartapost.com/news/2014/01/31/atheist-alexander-aan-gets-prison.html. Lihat juga berita “Alexander Aan released from prison”, Center for Inquiry, 31 January 2014, pada http://www.centerforinquiry.net/blogs/entry/alexander_aan_released_ from_prison/.  

/2/ Zazen adalah suatu pelatihan pikiran yang dilangsungkan para murid Zen dalam posisi duduk bersila, posisi teratai/lotus, dengan pikiran dibiarkan bergerak sendiri, dan mereka tinggal hanya mengikuti gerak pikiran ini. Titik awal untuk membuat pikiran selanjutnya bergerak sendiri adalah konsentrasi meditatif terhadap sebuah koan. Dalam Zen, koan adalah sebuah kisah atau sebuah dialog atau sebuah debat yang digunakan sebagai sebuah wahana sastra oleh para guru Zen untuk membimbing murid-murid mereka dalam pelatihan olah pikiran dan olah intuisi untuk tiba pada pencerahan budi. Zazen bisa berlangsung berjam-jam lamanya, bergantung pada banyak koan yang mereka sedang renungi. Zen sendiri adalah sebuah aliran dalam Buddhisme Mahayana, yang fokus ritual terpentingnya adalah olah pikiran dan konsentrasi pikiran dalam suatu zazen, dan bagi Zen Buddhisme pengalaman religius tertinggi adalah olah pikiran. Kata Zen sendiri berarti meditasi (Sanskerta: samādhi, dhyāna). 

/3/ Lihat Kurnia Sari Aziza, “Basuki: Saya Enggak Suka Ada Kolom Agama, 'Bodo' Amat!”, Kompas.com, 13 Desember 2013, pada http://megapolitan.kompas.com/read/2013/ 12/13/1552322/Basuki.Saya.Enggak.Suka.Ada.Kolom.Agama.Bodo.Amat.. Karena diserang oleh FPI atas pernyataannya, Basuki kemudian memperjelas apa yang dimaksudkan olehnya; tentang ini lihat “Ditentang FPI, Basuki luruskan pernyataan soal kolom agama”, Kaskus, pada http://www.kaskus.co.id/thread/52b09f8318cb172d758b4650/terjawab-ditentang-fpi-ahok-luruskan-pernyataan-soal-kolom-agama-di-ktp/. 

/4/ Jon Kabat-Zinn dan Richard J. Davidson, bersama Zara Houshmand, eds., The Mind's Own Physician: A Scientific Dialogue with The Dalai Lama on the Healing Power of Meditation (Oakland, CA: New Harbinger Publications, 2011), hlm. 22. 

/5/ Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 5 (hlm. 149-182). 

/6/ Robert N. Bellah, Religion in Human Evolution: From the Paleolithic to the Axial Age (Cambridge, Massachusetts/London, England: The Belknap Press of Harvard University Press, 2011), hlm. 96 ff.

/7/ Lihat Edward Wakin, “God and Carl Sagan: Is the Cosmos Big Enough for Both of Them?”, U.S. Catholic (5): 19-24, May 1981. 

/8/ Michael Shermer, Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time (edisi revisi diperluas; kata pengantar Stephen Jay Gould) (New York, N.Y.: St. Martin's Griffin, 1997, 2002), hlm. 86.

/9/ Sasha Sagan, “Lessons of Immortality and Mortality From My Father, Carl Sagan”, Nymag.com. The Cut, 15 April 2014, pada http://nymag.com/thecut/2014/04/my-dad-and-the-cosmos.html.  

/10/ Dave Breese, 7 Men Who Rule the World from the Grave (Chicago: Moody Press, 1990), hlm. 12-13.
 
/11/ Lihat Whitney Clavin, “Planck Mission Brings Universe into Sharp Focus”, JPL NASA March 21, 2013, pada http://www.jpl.nasa.gov/news/news.php?release=2013-109; juga Paul Preuss, “Planck mission updates the age of the universe and what it contains”, Berkeley Lab News Center, March 21, 2013, pada http://newscenter.lbl.gov/science-shorts/2013/03/21/planck-results/. Reportase mutakhir tentang “dark matter”, baca Charles Q. Choi, “Elusive Dark Matter May Have Already Been Found”, Space.com, 9 Desember 2013, pada  http://www.space.com/ 23879-dark-matter-detection-discovery.html?utm_source=buffer&utm_campaign= Buffer&utm_content=buffera3831&utm_medium=twitter. 

/12/ Richard Dawkins, The Magic of Reality: How We Know What's Really True (diilustrasikan oleh Dave McKean; New York, etc., N.Y.: Free Press, 2011), hlm. 19 ff. Lihat juga Richard Dawkins, “Appetite for Wonder”, Youtube posted 20 Desember 2013 pada http://www.richarddawkins.net/news_articles/2013/10/16/richard-dawkins-appetite-for-wonder#. 

/13/ Richard Dawkins, An Appetite for Wonder: The Making of A Scientist (New York, N.Y.: HarperCollins Publishers, 2013), hlm. 13. 

/14/ Richard Dawkins, Unweaving the Rainbow: Science, Delusion and The Appetite for Wonder (New York, N.Y.: Houghton Mifflin Company, 1998). 

/15/ Laura Sheahen, “The Problem With God: Interview With Richard Dawkins”, Beliefnet, pada http://www.beliefnet.com/News/Science-Religion/2005/11/The-Problem-With-God-Interview-With-Richard-Dawkins.aspx?p=2.   

/16/ Ini diucapkan Max Planck dalam pidatonya yang disampaikan di Florence, Italia, 1944, yang berjudul Das Wessen der Materie (“Hakikat Materi”). Lihat Archiv zur Geschichte der Max-Planck-Gesselschaft, Abt. Va, Rep. 11 Planck, Nr. 1797

/17/ David Bohm, “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter”, The Journal of the American Society for Psychical Research, Vol. 80, No. 2 (April 1986), hlm. 129 [113-135].   

/18/ Dikutip dalam The Observer, 25 Januari 1931. 

/19/ Tentang ini lihat reportase Institute of Physics, “Physicists Discover Inorganic Dust With Lifelike Qualities”, Science Daily, Aug 15, 2007, pada http://www.sciencedaily.com/releases/2007/08/070814150630.htm.

/20/ Berlandaskan temuan DNA mitokondrial manusia kuno yang diekstrasi dari sebuah fosil tulang paha yang berumur 400.000 tahun yang ditemukan di Spanyol dalam sebuah goa yang dinamakan Sima de los Huesos (dalam bahasa Spanyol, artinya Lubang Tulang-tulang). Lihat laporan temuan ini oleh Matthias Meyer, Qiaomei Fu, et al., “A Mitochondrial genome sequence of hominin from Sima de los Huesos”, Nature (2013) doi:10.1038/nature 12788, diterbitkan online 04 Desember 2013, pada http://www.nature.com/nature/journal/vaop/ncurrent/ full/nature12788.html. Lihat tinjauan hasil kajian ini oleh Carl Zimmer, “Baffling 400.000-Year-Old Clue to Human Origins”, The New York Times Science, December 4, 2013, di http://www.nytimes.com/2013/12/05/science/at-400000-years-oldest-human-dna-yet-found-raises-new-mysteries.html?_r=0.  

/21/ Selain saya, telah banyak orang yang berpikir ke arah ini, antara lain Ray Villard, “Is an alien message embedded in our genetic code?”, News Discovery, 1 April 2013, pada http://news.discovery.com/space/alien-life-exoplanets/could-an-alien-message-be-embedded-in-our-genetic-code-130401.htm#mkcpgn=emnws1.  

/22/ Lihat artikel “Richard Dawkins on Intelligent Alien Design”, May 2008/July 2013, pada http://www.theoligarch.com/richard-dawkins-aliens.htm. 

/23/ Lihat reportase “Stephen Hawking warns over making contact with aliens”, BBC News, 25 April 2010, pada http://news.bbc.co.uk/2/hi/8642558.stm.

/24/ Tentang kapasitas panspermia dalam jagat raya, lihat Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern, hlm. 189-192. Sumber-sumber literatur yang dirujuk di situ perlu diperhatikan. Lihat juga laporan yang berjudul “Physicists Discover Inorganic Dust With Lifelike Qualities”, Science Daily Aug 15, 2007, pada http://www.sciencedaily.com/releases/2007/08/070814150630.htm. Info mutakhir tersedia juga: Johnny Bontemps, “Space Dust Carries Water and Organic Carbon”, Astrobiology Magazine, 4 February 2014, pada http://www.astrobio.net/exclusive/5986/space-dust-carries-water-and-organic-carbon; artikel ilmiahnya tersedia, ditulis oleh John P. Bradley, Hope A. Ishii, et al., “Detection of Solar Wind-produced water in irradiated rims on silicate minerals”, PNAS 23 December 2013, doi:10.1073/pnas.1320115111, pada http://www.pnas.org/content/early/2014/01/16/1320115111.abstract; Alvin Powell, “How Earth was watered: Recent findings have wide implications in study of extrasolar life”, Harvardgazette 27 February 2014 pada news.harvard.edu/gazette/story/2014/02/how-earth-was-watered/; Elizabeth Howell, “Space Dust Is Filled with Building Blocks for Life”, Huffingtonpost Science, 18 February 2014, pada http://www.huffingtonpost.com/2014/02/18/space-dust-building-blocks-life_n_4808118.html?.

/25/ Tentang biologi sintetis yang dikembangkan J. Craig Venter, lihat Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), Lampiran 3 (“DNA Sintetik dan Kehidupan Artifisial”), hlm. 443-446.

/26/Stephen C. Meyer, Signature in the Cell: DNA and the Evidence for Intelligent Design (New York, N.Y.: HarperCollins Publishers, 2009; edisi pertama paperback 2010), hlm. 326.

/27/ Stephen C. Meyer, Signature in the Cell, hlm. 347.

/28/ Stephen C. Meyer, Signature in the Cell, hlm. 394.

/29/ Stephen C. Meyer, Signature in the Cell, hlm. 437.

/30/ Stephen C. Meyer, Signature in the Cell, hlm. 440.

/31/ Freeman Dyson, dikutip dalam Michio Kaku, Physics of the Impossible: A Scientific Exploration into the World of Phasers, Force Fields, Teleportation, and Time Travel (New York, N.Y.: Anchor Books, 2008), hlm. 300.

/32/ Michio Kaku, Physics of the Impossible, hlm. 303.

/33/ Carl Sagan, The Demon-Haunted World: Science as A Candle in the Dark (New York: Ballantine Books, 1996), hlm. 29.

/34/ Lihat Maria Popova, “Neil deGrasse Tyson on Space, Politics, and the Most Important Thing to Know About the Universe”, Brain Pickings, pada http://www.brainpickings.org/index.php/2012/03/06/neil-degrasse-tyson-space-chronicles-universe/.

/35/ Lihat Maria Popova, “From Ptolemy to George Eliot to William Blake: A Private History of Everyday Happiness”, Brain Pickings, pada http://www.brainpickings.org/index.php/2012/10/10/a-private-history-of-happiness/.