Tuesday, July 31, 2012

Denial: Apa Penyebabnya?

Masa bodoh, aku tak mau melihat dunia real, 
aku hanya mau cari ikan-ikan buat perutku sendiri! 

Denial” (kata Inggris; artinya penyangkalan) adalah sebuah istilah psikologi yang dikenakan pada seseorang yang dengan kuat menyangkal dan menolak serta tak mau melihat fakta-fakta yang menyakitkan dirinya atau yang tak sejalan dengan keyakinan-keyakinan dan pandangan-pandangannya. 

Denialisme membuat seseorang hidup dalam dunia ilusifnya sendiri, terpangkas dari realitas kehidupan, dan orang ini nyaris tidak lagi mampu keluar dari cengkeramannya. Inilah hidup in denial of reality! Ketika seseorang hidup dalam denial, backfire effect atau efek bumerang sangat mungkin terjadi pada dirinya: Alih-alih membenahi dan mengoreksi diri, dia berbalik makin ekstrim mempertahankan pandangan dan keyakinannya semula walaupun pandangan dan keyakinannya ini sudah diargumentasikan dan dibuktikan salah!

Saat terbenam dalam denial, orang hidup dalam ilusi dan delusi. Hidup in denial. Orang ini lebih suka memilih mempersalahkan dan menyerang orang lain dengan membabi-buta, alih-alih memeriksa diri sendiri dan kelompoknya. Hidup dalam denial adalah hidup dengan menanggung beban batin dan beban pikiran yang sangat berat. Orang yang hidup dalam denial tentu saja sangat tidak berbahagia. Dirinya sendiri tidak berbahagia, dan juga membuat banyak orang lain tidak berbahagia. 

Selain itu, setiap orang yang makin dalam terserang efek bumerang, makin mustahil baginya untuk menemukan kebenaran dan fakta; hidup mereka makin penuh dengan kebohongan, tipu daya, ilusi, delusi, dan makin banyak gangguan mental menyerangnya. Ingatlah, hidup semacam ini bisa sangat pendek dengan anda mati muda tanpa makna; tetapi anda juga bisa berumur panjang tapi nanti ketika anda wafat, anda wafat tanpa makna. 
 
Menurut model Kübler-Ross, ada empat tahap yang harus dilalui seseorang yang sedang terpenjara denialisme jika ingin akhirnya keluar dari penjara ini.
  • Pertama, tahap ngamuk karena menemukan fakta-fakta tidak sejalan dengan keinginan-keinginan dan keyakinan-keyakinannya. Dalam tahap ini, akal dan kesadarannya atas fakta-fakta tidak bekerja. Dia hidup dalam bahaya dan sekaligus membahayakan orang lain. Tahap ini bisa berlangsung sangat lama. 
  • Kedua, tahap tawar-menawar, dengan keinginan dan harapan semua hal yang didambakannya akan akhirnya diperolehnya hanya dengan sedikit ongkos dan pengorbanan. Tahap ini pun dapat berlangsung lama, diisi dengan pertarungan antara realitas, keinginan diri sendiri, dan kesediaan memberi sedikit untuk meraih kemenangan. 
  • Ketiga, tahap depresi. Setelah tahap tawar-menawar gagal, si individu masuk ke dalam tahap tekanan jiwa yang besar. Tahap ini adalah tahap paling sulit baginya untuk keluar dari penyangkalannya atas fakta-fakta. Depresi yang tak teratasi bisa bermuara pada tindakan bunuh diri atau berbagai tindakan yang merusak lainnya.
  • Tetapi jika tahap ketiga ini dengan susah-payah berhasil dilewati, lalu masuk ke tahap keempat, si individu akhirnya pasrah, menerima kenyataan yang pahit dan berat, kendatipun kenyataan ini tidak sejalan dengan semua keinginan dan harapannya.
Ada banyak faktor yang dapat mendorong seseorang atau sekelompok orang jatuh ke dalam denial, mulai dari persoalan pribadinya sendiri (misalnya dia menemukan dirinya menderita suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan) hingga ke persoalan-persoalan sosial lain yang melibatkan lebih banyak orang lain dan variabel sosial lainnya (misalnya agama, ideologi, kekuasaan, ketamakan, atau persoalan ekonomi, dll).

Denialisme dalam intensitas yang berbeda khususnya sangat kuat menguasai orang beragama dalam zaman modern ini, ketika banyak klaim keagamaan tak sejalan lagi dengan fakta-fakta objektif dalam masyarakat atau fakta-fakta sains, yakni fakta-fakta apapun yang diungkap dan dibeberkan lewat metodologi saintifik.

Ketimbang dengan terbuka menerima fakta-fakta objektif dalam masyarakat dan fakta-fakta sains, dan meninjau kembali keyakinan-keyakinan keagamaan mereka, orang beragama memilih denial.

Pertanyaannya: Mengapa orang beragama memilih denial dengan sadar, ketimbang menerima fakta-fakta dengan terbuka?

Indoktrinasi kuat doktrin-doktrin keagamaan yang sudah dialami sejak kecil adalah salah satu penyebab denial pada orang beragama yang sudah dewasa. Sejak kecil, orang beragama apapun sudah diindoktrinasi dengan kepercayaan-kepercayaan bahwa agama mereka adalah agama yang paling sempurna dan tak bisa salah selamanya.
Agama-agama lain bercacat dan salah semua. Indoktrinasi ini menyebabkan mereka tidak bisa menerima fakta-fakta bahwa setiap agama apapun selalu punya kekurangan dan keterbatasan, bahkan bisa tidak relevan lagi dalam dunia modern.  


Tidak banyak orang beragama yang sudah dewasa yang bisa keluar dari penjara doktrin yang sudah ditanamkan kuat-kuat dalam pikiran mereka sejak kecil. Hanya segelintir! Dari yang segelintir ini, sebagian kecil mungkin pindah agama, dan sebagian terbesar memilih jadi ateis diam-diam yang lembut dan sebagian lagi menjalani kehidupan sebagai para ateis terang-terangan yang kerap vokal dan agresif. 

Ada juga yang tidak mau menjadi ateis, tetapi juga tidak mau diam abadi dalam satu rumah teis, tetapi memilih menjadi sosok-sosok pemikir bebas yang mencari dan menggali nilai-nilai positif yang bisa masih ada dalam agama-agama, dan juga dalam ateisme, lalu mengembangkan nilai-nilai positif ini bagi 4 milyar orang dewasa yang kini masih beragama. Para pemikir bebas ini hanya bebas dalam berpikir dan mencari kebenaran dan fakta, tetapi mereka dengan sadar dan ikhlas mengikatkan diri pada kebajikan-kebajikan universal dan cinta kasih kepada segenap makhluk hidup.

Indoktrinasi yang masif dan intensif, yang dilakukan dengan segala cara yang tidak membuka peluang apapun untuk orang bertanya, meragukan dan menolak, akan mengubah total isi dan cara kerja otak para korban. Inilah yang dinamakan cuci otak atau brainwashing. Para neurosaintis dan psikolog sosial sudah lama mempelajari cuci otak sebagai sebuah kegiatan propaganda yang berbahaya dan keji, yang merampas dan mematikan kebebasan dan hak setiap orang untuk menentukan jalan kehidupan dan isi pikiran mereka sendiri. Mari kita perhatikan hal berikut ini yang ditulis oleh neurosaintis Kathleen Taylor tentang cuci otak (sumber: Kathleen Taylor, Brainwashing: The Science of Thought Control [New York, N.Y.: Oxford University Press, 2004; edisi paperback 2006], hlm. ix-x). 
“Pada intinya cuci otak adalah suatu ide yang sangat jahat, yang didasarkan pada impian untuk sepenuh-penuhnya mengontrol pikiran manusia, yang mempengaruhi kita semua dengan cara-cara tertentu. Cuci otak pada dasarnya adalah penyerbuan terhadap privasi, yang berusaha mengendalikan bukan hanya bagaimana orang bertindak, tetapi juga apa yang mereka pikirkan. Cuci otak menimbulkan ketakutan-ketakutan kita yang terdalam karena mengancam akan menghilangkan kebebasan dan bahkan identitas manusia. Kami menemukan bahwa cuci otak adalah suatu bentuk ekstrim pengaruh sosial yang menggunakan mekanisme-mekanisme yang makin banyak dikaji dan dipahami para psikolog sosial. Pengaruh sosial tersebut dapat sangat bervariasi dalam intensitasnya. Dan kami mengeksplorasi sejumlah situasi yang melibatkan individu-individu, kelompok-kelompok kecil, dan keseluruhan masyarakat-masyarakat. Dalam semua segmen ini, tipe-tipe pengaruh yang kami sebut cuci otak dicirikan oleh penggunaan kekuatan pemaksa atau tipu daya atau keduanya sekaligus.” 
Agama dengan kuat juga membentuk identitas seseorang, khususnya dalam masyarakat tradisional. Keluar dari agama, berarti kehilangan identitas, dan kehilangan identitas sama artinya dengan dicabutnya kemanusiaan seseorang. Agama sebagai identitas yang harus dipertahankan, juga salah satu penyebab denial dalam diri orang beragama. Ada orang yang secara personal cukup mudah mengubah identitas keagamaan mereka; ada juga yang sangat sulit. Tetapi sampai wafat banyak orang kokoh mempertahankan identitas keagamaan mereka apapun juga yang sudah dan sedang terjadi pada agama anutan mereka sejak kecil. Neuroplastisitas otak kalangan yang terakhir ini mengalami kendala untuk berfungsi dengan baik, bisa karena bentuk pendidikan, pembelajaran, pengasuhan, kegiatan bermain, dan pergaulan yang sudah diterima dan dialami mereka sejak kecil memang telah mematikan kelenturan dan kreativitas kerja sel-sel saraf dalam otak mereka. 
 
Jangan ganggu aku dengan kenyataan! Aku sudah senang hidup dalam duniaku sendiri! Sana, sana, pergi, jangan ganggu kenikmatanku! 


Agama bukan saja membentuk identitas pribadi seseorang, tapi juga identitas komunal, yang harus dijaga dan dipertahankan, apapun juga taruhannya, termasuk menindas kelompok-kelompok lain yang tidak sejalan atau yang berbeda keyakinan. Demi tetap setia pada identitas komunal ini, atau demi solidaritas komunal, seorang beragama yang sudah dewasa dapat terpaksa melakukan denial atas fakta-fakta nyata yang sebagian besar orang ketahui dan akui, misalnya fakta bahwa kelompok-kelompok lain yang berbeda adalah juga sesama warganegara dan sesama manusia, yang juga berhak hidup dengan bebas.  

Denial dilakukan bukan saja karena seseorang mau tetap setia pada identitas komunal, tapi juga karena komunitasnya mengontrolnya dengan kuat. Ketimbang menolak dan melawan kontrol kuat komunitasnya atas dirinya, yang akan berakibat fatal bagi kehidupannya, seorang beragama lebih memilih hidup aman dengan melakukan denial. Dalam konteks ini, memilih hidup aman dan melakukan denial, dan takluk total pada komunitas pengontrol, ketimbang membuka diri pada fakta dan berani berbeda dari komunitas, adalah suatu keputusan politis individual seorang beragama, yang dengan sadar diambilnya, meskipun hati nuraninya mungkin menentang keputusannya ini.

Agama adalah politik, karena setiap agama, baik agama kaum minoritas maupun agama kaum mayoritas, adalah sebuah pranata sosial yang ingin mengatur dan mengendalikan masyarakat ke arah tujuan-tujuan yang diatur dalam kitab suci ataupun yang digariskan para pemimpin umat. Orang yang mengklaim bahwa agamanya hanya bergerak di bidang kerohanian saja dan disiarkan untuk membawa orang ke surga after death, sangat tidak jujur, atau mungkin naif, sebab dia tidak menyadari bahwa di ujung setiap kegiatan siar agama yang sukses menunggu persoalan politik yang besar: bagaimana mengatur masyarakat yang telah dikuasai suatu agama, dengan menenggelamkan agama-agama lain yang sudah ada sebelumnya. Nah, telah banyak terjadi, demi mempertahankan dan menggolkan tujuan dan kepentingan politik agama mereka, kaum agamawan lebih memilih melakukan denial, ketimbang menerima fakta-fakta yang tak sejalan dengan kepentingan politik mereka. 

Jangan dilupakan, agama juga adalah bisnis, yang darinya orang menerima manfaat-manfaat dan keuntungan-keuntungan ekonomi, besar atau kecil. Meragukan agama sendiri, apalagi meninggalkannya, akan dapat berdampak fatal pada kehidupan ekonomi seorang beragama.
Dapat terjadi, alih-alih menjadi tuan atas uang, para agamawan lebih cenderung memilih untuk menjadi hamba uang. Demi mendapatkan dan mempertahankan keuntungan-keuntungan ekonomi, apalagi keuntungan ekonomi yang besar yang diberikan agamanya, seorang beragama jelas akan memilih denial ketimbang bersikap kritis pada ketamakan dirinya sendiri, pada agamanya, atau terbuka pada fakta-fakta sosial dalam masyarakatnya. Tidak salah jika banyak orang bijak yang menyatakan bahwa Tuhan sebenarnya bagi manusia pada umumnya adalah ketamakan pribadi. 


Dalam zaman modern ini, orang yang sangat kaya tetapi juga sangat dermawan bagi dunia seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg tentu saja sangat langka. Bagi mereka, yang sekarang ini dijuluki para kapitalis filantropis, orang itu baru betul-betul kaya raya kalau mereka rela menyumbangkan nyaris seluruh kekayaan besar mereka untuk pencerdasan manusia sedunia dan pembangunan peradaban dan kehidupan yang makin baik bagi sebanyak mungkin orang. Orang yang sudah sangat kaya tetapi masih terus tamak mencari dan menghimpun kekayaan buat kepentingan diri mereka sendiri lewat segala cara, adalah orang yang masih sangat kekurangan, masih sangat miskin, tidak pernah sungguh-sungguh kaya raya. 

Mungkin sosok besar ini seekor organisme alien, atau seekor rayap raksasa, pemakan kertas!

Orang kaya yang semacam ini tidak berbeda pada hakikat dasarnya dari orang yang makan sangat banyak tetapi bertubuh tetap kurus karena mengalami gangguan parah pada organ pencernaan dan sistem metabolisme tubuh mereka. Merekalah para kapitalis rakus, serakus-rakusnya; dan mereka memenuhi dunia kita dewasa ini. Mereka menutup mati hati dan mata akal mereka sehingga mereka tidak bisa atau tidak mau melihat dan menerima fakta bahwa kapitalisme rakus sedang memperlebar jurang pendapatan per kepala antara kaum kaya dan kaum miskin. Mereka sungguh-sungguh hidup dalam denial, yang mereka nikmati saja dengan asyik seperti asyiknya orang mengunyah permen karet yang baru dimasukkan ke dalam mulut.

Jangan juga dilupakan, denial dilakukan orang beragama karena si agamawan ini tidak atau kurang memiliki ilmu pengetahuan, sehingga buta pada fakta-fakta. Ketimbang berlelah-lelah mempelajari sains terus-menerus yang membuat orang dapat berpandangan makin jauh dan luas dan mengenal fakta-fakta dengan objektif, seorang agamawan umumnya lebih suka melakukan denial atas semua fakta sains, denial yang dilakukannya dengan berlindung pada teks-teks suci yang olehnya tidak pernah dengan kritis dipertanyakan kebenarannya, relevansinya, manfaatnya buat dunia dan umat manusia, dan nilai-nilai kebajikannya. 


Selain memberi identitas dan manfaat ekonomi, agama juga dalam batas-batas tertentu memberi rasa aman dan rasa tenteram lewat janji-janji tertentu yang diberikannya, misalnya janji hidup akan diberkati dan berkelimpahan dan selalu sukses, atau janji akan masuk surga dan menerima pahala besar setelah kematian. Mereka yakin sekali bahwa “there is a pie in the sky if we die!” Meskipun rasa aman dan tenteram ini seringkali terbukti palsu dan meninabobokan orang, dan hujan duit dari langit tidak kunjung turun, seorang beragama lebih memilih melakukan denial atas fakta-fakta, ketimbang kehilangan rasa aman dan rasa tenteram ini. Setuju atau tidak setuju, benarlah apa yang pernah dikatakan bahwa agama adalah sejenis narkotik yang mampu mencandu dan membius orang.

Fanatisme yang terbangun dalam mental si agamawan lewat indoktrinasi sejak kecil, juga harus ditunjuk sebagai penyebab denial dalam dirinya. Semakin seseorang committed dan fanatic pada agamanya, semakin banyak denial yang dilakukannya, alhasil semakin menjauhkannya dari realitas objektif. Fanatisme terhadap apapun selalu merusak mental seorang manusia; membuatnya tidak bisa belajar kearifan dan pengetahuan dari pihak-pihak lain yang berbeda. Fanatisme apapun membuat seseorang hanya mau memakai sebuah kacamata kuda hitam tebal dalam memandang realitas dunia yang sebetulnya dipenuhi warna-warni bak setengah lingkaran pelangi yang muncul sehabis hujan dan langit cerah.

Sumber utama denialisme adalah fanatisme buta yang dibangun secara bertahap lewat kegiatan cuci otak. Fanatisme buta ini menutup orang dari pengetahuan objektif mengenai berbagai realitas kehidupan, dari hati nurani yang tulus dan cerdas, dan dari martabat diri yang semustinya dijaga setiap orang yang sadar. 

Denialisme karena fanatisme sempit dan picik tumbuh bukan saja dalam dunia agama-agama, tapi juga dalam dunia ideologi-ideologi besar. Seseorang memilih untuk melakukan denialisme bukan hanya karena dia mau membela dengan membuta agamanya sendiri, tetapi juga karena mau membela habis-habisan partai politiknya sendiri, aliran ideologisnya, atau sistem ekonominya sendiri (entah kapitalisme atau sosialisme, dll), atau apapun yang berhubungan dengan ide-ide lain yang diabsolutkannya sehingga menjadi ide-ide yang bantut dan tertutup.

Dalam dunia politik, apalagi jika orang mencari duit di dunia ini, denialisme akan membuat siapapun membutakan diri terhadap fakta-fakta objektif yang dikuak oleh ilmu pengetahuan mengenai banyak hal: rekam jejak sejarah kehidupan sang tokoh pemimpin yang diidolakan, ideologi politis separatis yang dibela, partai-partai dan kelompok-kelompok yang menjadi mitra koalisinya, kampanye-kampanye hitam yang mempermainkan berbagai isu SARA, serangan politik uang, keutuhan negara sendiri, perilaku anti-toleransi, kasus-kasus KKN, dan banyak lagi.


Sekarang ini, misalnya, sangat banyak para ideolog yang menolak fakta real bahwa perubahan iklim sedang terjadi di planet Bumi kita, yang berdampingan dengan pemanasan global, sebagai efek gas rumah kaca. Kondisi buruk ini akan berakibat sangat mengerikan bagi umat manusia dan semua spesies lain dalam beberapa dekade mendatang jika gas CO2 dan gas-gas lain yang masuk ke atmosfir Bumi tidak berhasil dikurangi dalam jumlah yang signifikan. Gas CO2 khususnya yang makin menumpuk dan tersebar di atmosfir Bumi kini sedang membentuk semacam selimut tebal yang menghalangi pembuangan sebagian panas dari muka Bumi (yang berasal dari cahaya Matahari, banyak produk teknologi, atau berbagai kegiatan banyak pabrik, dll) yang seharusnya mengalir keluar, masuk ke angkasa luar. Akibatnya, panas itu memantul balik ke permukaan Bumi; alhasil, menaikkan suhu global yang selanjutnya sedang mencairkan es-es di kutub-kutub Bumi.

Dalam beberapa dekade mendatang, jika pemanasan global yang makin meningkat ini tidak dapat diatasi dengan efektif, banyak bagian benua-benua akan tenggelam. Perpindahan penduduk dunia besar-besaran dan kerusakan berbagai ekosistem akan terjadi dengan akibat-akibat yang sangat mengerikan dalam nyaris semua bidang kehidupan.

Yang sangat memprihatinkan adalah kenyataan bahwa masih ada sangat banyak orang yang menyangkal fakta perubahan iklim dan pemanasan global ini. Mereka yang disebut sebagai climate change deniers sering menggunakan data tidak lengkap atau data yang setengah benar atau dipalsukan dalam banyak perdebatan politik tentang fakta perubahan iklim dunia ini.  

Saya pernah mendengar suatu alasan keagamaan dipakai para penyangkal ini, yakni kepercayaan keagamaan pada janji Allah bahwa air bah tidak akan pernah lagi melanda permukaan Bumi sebagaimana diucapkan Allah sehabis air bah melanda dunia konon pada zaman Nabi Nuh seperti dituturkan dalam kitab Kejadian (9:8-17). Mereka memilih untuk jauh lebih percaya pada janji Allah dalam kitab suci Yahudi ini ketimbang pada para saintis masa kini yang menyimpulkan sesuatu berdasarkan bukti-bukti. Pada 13 November 2014 sekitar 400 pendemo membenamkan kepala mereka masing-masing ke dalam pasir di Pantai Bondi, Sydney, Australia, sebagai aksi protes kepada para penyangkal perubahan iklim, sebelum pertemuan para pemimpin negara-negara G-20 yang tahun itu akan berlangsung di Brisbane. Empat ratus orang ini bersujud hingga kepala terbenam dalam pasir tentu bukan untuk menyembah Nyai Loro Kidul di Pantai Bondi itu!


Apakah ada jalan keluar untuk kita bisa terbebas dari kekuatan denialisme dalam segala bidang kehidupan kita? Menurut saya, ada. 

Hanya orang yang melihat hidup beragama sebagai hidup dalam suatu ziarah yang belum selesai, dan yang terus-menerus membuka diri pada berbagai kemungkinan baru di masa depan, kemungkinan-kemungkinan baru yang juga ditawarkan sains modern, dan menempatkan kejujuran, kebaikan hati dan kemanusiaan jauh di atas agama atau ideologinya, akan bisa luput dari kekuatan denialisme, yang setiap saat bisa mendatangi dan mengancamnya. 

Hanya jika orang sudah bisa berpindah dari kesadaran naif dan picik, masuk ke kesadaran kritis dan membebaskan, dalam hubungan dirinya dengan dunia ide-ide apapun atau dengan kondisi-kondisi apapun, akan dapat lepas dari denialisme lalu akan dapat hidup dengan autentik dan bermarwah. Di tangan orang-orang semacam inilah agama, politik dan ide-ide besar dan kehidupan akan memberi manfaat besar bagi umat manusia.

Poin terakhir berikut ini sangat penting. Supaya dalam segala hal anda tidak terjatuh ke dalam denialisme, ujilah setiap fenomena lewat tiga sarana.  

Pertama, pakailah sarana ilmu pengetahuan saat anda mau mengetahui mana fakta dan mana fiksi, mana sejarah dan mana mitos, dan dengan landasan ilmu pengetahuan ambillah fakta dan buanglah fiksi, raihlah sejarah dan singkirkan mitos.  

Kedua, pakailah sarana hati nurani yang jujur dan cerdas dalam anda menjatuhkan pilihan saat anda berhadapan dengan kebenaran atau kebohongan, kebaikan atau keburukan. Hati nurani dapat diandalkan sejauh menerima masukan tentang berbagai hal dari ilmu pengetahuan. 

Ketiga, jadikanlah martabat diri anda sebagai fondasi moral saat anda harus memilih apapun, alhasil anda tidak akan menjual diri anda berapapun harga yang ditawarkan. Dengan mempertahankan martabat atau marwah diri anda, anda akan selalu bisa menjadi seorang mahatma.   

Mari kita keluar dari denialisme, jangan biarkan diri kita terus dipenjara olehnya, supaya kita bisa menyumbang sesuatu yang bermakna buat dunia ini, buat ilmu pengetahuan, buat agama-agama, buat ide-ide besar, dan buat kemanusiaan global. 

Dan ketahuilah, siapapun yang mati-matian hidup “in denial” dan membela taklid buta ideologi apapun (yang religius dan yang non-religius), pada akhirnya akan menjadi para pecundang, kalah, dan mau tak mau akan berakhir dalam kematian dan kepunahan, secara individual dan secara kolektif.

Adaptasi, fleksibilitas, keterbukaan terus-menerus pada pembaruan, penyesuaian dan perubahan, dan dinamika, akan membuat siapapun dan ideologi apapun bertahan, berkembang dan makin bermanfaat buat pembangunan kemanusiaan dan peradaban. Inilah hukum evolusi yang berlaku di seantero jagat raya. Evolusi alamiah membutuhkan waktu sangat panjang. Kini, dengan bantuan sains-tek modern, kita dapat mempercepat jalannya evolusi dalam bidang apapun, menjadi superevolusi, termasuk mempercepat evolusi fisik dan mental Homo sapiens lewat teknik rekayasa genetik yang dinamakan DNA-editing (CRISPR-Cas9).

Sesuatu yang hidup itu pasti berubah; hanya sesuatu yang sudah mati tidak berubah lagi. Hanya sesuatu yang berubah, akan punya masa depan, karena dimensi ruangwaktu dalam jagat raya ini tidak statis, tetapi dinamis, terus mengembang, tanpa garis akhir.

Jika anda ngotot bertahan terus dalam denial, ini nasihat saya: Jika anda punya mata, janganlah melihat. Jika anda punya telinga, janganlah mendengar. Sebab anda mau lihat dan dengar hanya hal-hal yang anda mau lihat dan dengar saja, padahal realitas yang ada berbeda sama sekali. Hiduplah terus di luar masyarakat umum, di luar realitas objektif, sampai anda wafat tanpa makna sama sekali. Anda pernah hidup tapi seolah anda tak pernah hidup. 

Tetapi jika anda terbuka menerima fakta-fakta, sekalipun fatkta-fakta ini tidak sejalan dengan kemauan dan keyakinan anda semula, dan anda seterusnya hidup realistik, anda adalah seorang besar.


oleh ioanes rakhmat


Salam.