Saturday, July 21, 2012

Apakah umat Buddhis menyembah patung? Tidak cerdaskah mereka?

lukisan tua Triratna: Buddha (di tengah), Dhamma, Sangha


Ketika mengetahui bahwa saya sedang mulai memasuki kehidupan kaum Buddhis (dengan salah satu tujuannya nanti bisa menulis sebuah buku akademik berjudul Sains dan Buddhisme), seseorang di sebuah komentar terhadap sebuah status saya di Facebook menulis, “Kok orang cerdas mau menyembah patung?” Saya tahu, komentarnya ini ditujukan ke diri saya. Nah, tulisan di bawah ini adalah jawaban saya terhadap komentarnya yang nyinyir itu. 
Maksud anda tentunya kaum Buddhis menyembah patung-patung ya. Sangkaan anda ini salah. Juga pasti anda akan mencibir orang Katolik, karena anda menganggap mereka juga menyembah patung (Bunda Maria, atau patung-patung para santo/santa). Tapi sangkaan anda ini juga salah. Sebelum anda menjatuhkan judgment atas suatu agama lain, masuklah dulu ke dalam worldview dan kehidupan umat beragama lain itu; jika cara ini anda tempuh, maka anda mulai lebih bijak, karena bisa memahami orang lain dengan empatetis. Anda perlu memakai sepatu orang lain, lalu mulai melangkah.

Tak ada orang manapun di zaman modern ini yang berpikir atau berkeyakinan bahwa jika sebuah patung disembah dan dipuja, patung itu akan jadi hidup, lalu melangkah mendatangi si penyembah untuk melindungi dan memberkatinya. Begitu juga kaum Buddhis, pikiran sehat mereka masih berjalan; jadi ketika mereka sungkem dan sujud (Sanskrit: namaskara) di hadapan patung Gautama Buddha (dan/atau bersama dua wujud simbolik lainnya, yang keseluruhannya disebut Triratna, artinya tiga permata), mereka tak berpikiran bahwa patung Gautama Buddha itu akan hidup lalu memberkati dan menolong serta melindungi mereka.

Saya mau pakai analogi dari kekristenan, jika anda Kristen (mungkin ya anda Kristen, dilihat dari cara anda berkomentar). Anda tokh di gereja anda secara berkala merayakan sakramen perjamuan kudus, atau ekaristi (dalam gereja Katolik). Nah, dalam perjamuan kudus, gereja anda memakai potongan roti tawar (atau hosti, dalam gereja Katolik) dan air anggur yang dipandang suci oleh kalian sebagai orang Kristen. Nah, benda-benda yang dimakan dan diminum dalam perjamuan kudus ini bukan sekadar benda-benda duniawi yang mati, tetapi, dalam ritual perjamuan kudus gereja anda, dipandang sebagai benda-benda yang suci, bermakna dan bernilai, karena menunjuk pada tubuh Yesus yang dipaku pada kayu salib dan pada darah Yesus Kristus yang tercurah ketika dia disalibkan, dan gereja anda meyakini kematian Yesus ini menebus dosa-dosa kaum Kristen.

Nah, pada ekaristi itu, anda diminta oleh pendeta anda supaya jangan melekat pada benda-benda roti dan anggur, tapi, lewat tatapan anda ke roti dan anggur, dan lewat sentuhan tangan anda atas dua benda ini dan lewat kunyahan roti di dalam mulut anda dan lewat rasa pada lidah ketika mereguk anggur dalam cawan, anda diminta mengarahkan hati dan pikiran anda kepada diri Yesus Kristus yang dulu hidup, lalu mati disalibkan untuk (dalam kepercayaan gereja) menebus dosa kaum Kristen. Dengan melakukan ritual ini, anda diharapkan semakin real lagi mengalami apa yang dipercaya gereja anda sebagai keselamatan, bahwa dosa anda sudah dihapuskan oleh pengurbanan Yesus di kayu salib, bahwa Yesus Kristus adalah sang Tuhan yang mengasihi anda karena dia telah rela berkurban buat anda demi keselamatan anda. Dalam gereja Katolik, dengan doktrin trans-substansiasi mereka (bahwa dalam ritual ekaristi, hosti dan anggur berubah betulan menjadi daging dan darah Yesus), penghayatan umat Katolik bahwa Yesus Kristus hadir kembali lewat ekaristi, jauh lebih diperkuat dan dikongkretisasi, dibandingkan penghayatan umat Protestan atas ritual perjamuan kudus gereja mereka (yang memegang doktrin kon-substansiasi, bahwa bersama potongan roti dan anggur yang tak berubah, Yesus Kristus hadir juga di tengah umat).

Nah, saya mau bertanya pada anda, Apakah dalam ritual perjamuan kudus anda menyembah potongan roti dan anggur atau anda percaya bahwa roti dan anggur itu punya kekuatan magis pada dirinya sendiri? Tentu saja karena anda punya akal sehat, anda akan menjawab: Tentu saja tidak; roti dan anggur itu media simbolik untuk membuat anda bisa lebih menghayati perjumpaan diri anda (lewat iman) dengan Yesus Kristus, suatu figur yang anda pandang sudah mentransendir zaman kehidupannya sendiri (di abad pertama, di Palestina) sehingga bisa hadir secara spiritual dalam kehidupan anda (pada abad ke-21 di Indonesia)! Apakah memang betulan Yesus hadir lagi secara rohani dalam kehidupan anda sekarang, itu soal yang lain; yang pasti, karena anda dengan kuat mempercayai dia hadir lagi, kepercayaan anda ini berpengaruh pada kehidupan dan gerak langkah anda ke depan! Bisa berpengaruh negatif, atau juga berpengaruh positif, bergantung pada apa yang anda harapkan terjadi dari kehadirannya yang anda percayai betul terjadi. Berpengaruh negatif, ketika kepercayaan anda yang kuat pada kuasa Yesus yang hadir dalam kehidupan anda, membuat anda, misalnya, kehilangan akal sehat dan pasrah total, tak mau berbuat apa-apa, saat sedang menghadapi persoalan-persoalan berat.

Begitulah juga halnya dengan penghayatan umat Buddhis ketika mereka sungkem, bersujud di hadapan patung indah Buddha Gautama atau patung-patung lain. Mereka dengan sadar tidak menyembah patung-patung mati pada dirinya sendiri; tetapi lewat sungkem dan sujud dan lewat tatapan mata ke patung sang Buddha dan lewat ucapan-ucapan dalam batin atau ucapan lisan yang terdengar umat Buddhis sedang menghayati secara intens perjumpaan mereka (lewat kepercayaan dan pikiran) dengan sang Buddha sendiri, figur agung, sang guru suci. Patung Gautama Buddha yang mereka pandang berfungsi secara signifikan sebagai sebuah medium simbolik untuk berjumpa dengan sang guru agung ini. Gautama Buddha kini dipercaya umat Buddhis sudah mentransendir zaman dan tempat kehidupannya sendiri di sub-benua India, tahun 563 SM-483 SM, sehingga bisa hadir (secara spiritual kognitif dalam hati dan pikiran) pada masa kini di abad 21 di Indonesia. Apakah memang betulan Siddhartha Gautama hadir lagi secara rohani dalam kehidupan umat Buddhis sekarang, itu soal yang lain; yang pasti, karena mereka  dengan kuat mempercayai dia hadir lagi, kepercayaan mereka ini berpengaruh pada kehidupan dan gerak langkah mereka  ke depan! Bisa berpengaruh negatif, atau juga berpengaruh positif, bergantung pada apa yang mereka  harapkan terjadi dari kehadirannya yang mereka percayai betul terjadi.

Anda juga jangan lupa, dalam Buddhisme ada satu ide esensial yang dinamakan nekkhamma, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “non-attachment” atau “disengagement” atau “detachment” atau “letting-go”; dalam bahasa Indonesia kata nekkhamma diterjemahkan ketidakmelekatan, kondisi tidak lekat pada hal atau fenomena apapun dalam dunia ini. Ide ini dijadikan salah satu fondasi terpenting dalam seluruh doktrin dalam Buddhisme. Ada juga yang mengusulkan untuk menerjemahkan nekkhamma dengan netralitas”: terhadap segala hal yang ada dalam dunia ini, anda memperlihatkan sikap sebagai seorang penonton yang tidak terlibat, sikap yang merdeka, tidak mendukung dan juga tidak menolak.

Kaum Buddhis menyadari bahwa hidup ini adalah penderitaan, suffering, pain, dukkha. Kesadaran ini sangat kuat muncul dalam diri Siddhartha Gautama dulu. Konon, menurut legenda, kesadaran ini muncul dan mengganggunya karena di luar istana kerajaan ayahnya, dia menemukan dan dibuat kaget oleh kenyataan bahwa orang itu bisa sakit, bisa tua, lalu mati dengan memedihkan hati. Kesadaran dan penemuannya ini telah mendorongnya meninggalkan kehidupan mewah, mudah dan menyenangkan di dalam istana kerajaan, lalu dalam usia sangat muda (29 tahun) memutuskan diri untuk memasuki kehidupan tapa brata penuh untuk mencari jawab dan jalan keluar dari duka yang mengikat semua kehidupan. Akhirnya Gautama mendapatkan pencerahan budi di bawah naungan sebuah pohon boddhi, yang membuatnya menemukan akar-akar penyebab adanya duka lara dan jalan-jalan mengatasi duka. Penemuannya ini, yang dinamakan Jalan Tengah, kemudian disebarkannya bersama sahabat-sahabatnya, lalu dirangkul semakin banyak orang.

Salah satu jalan terpenting untuk keluar dan menang dari duka adalah nekkhamma. Dalam pemahaman kaum Buddhis, penderitaan kita alami dan rasakan karena kita melekat pada sesuatu, mula-mula lewat pikiran kita lalu kita wujudkan lewat tubuh kita. Nah, jika kita, dalam pikiran, tidak melekatkan diri pada hal atau fenomena apapun dalam dunia ini, segala hal yang terkait dengan diri kita tidak akan membuat kita menderita. Ketika anda sangat melekat pada uang anda atau harta anda, maka ketika ekonomi negara ambruk atau bisnis anda gagal total, dan anda karenanya kehilangan uang atau harta anda, ludes semuanya, maka anda akan sangat menderita, sangat berduka, yang bisa mendorong anda putus asa lalu membunuh diri. Ketika anda sangat melekat pada anak-anak anda sebagai biji-biji mata anda, maka ketika anak-anak anda berubah jadi tidak berbakti pada anda, maka anda menjadi sangat stres, marah, kecewa berat, kehilangan gairah kehidupan, lalu masuk rumah sakit, dan anda betul-betul terbenam dalam duka yang sedang menghancurkan kehidupan anda. 

Tapi jika pikiran anda tidak melekat kepada uang atau harta anda atau kepada anak-anak anda, maka jika semua hal yang buruk itu terjadi pada anda, anda tidak akan dikalahkan, anda tidak akan berduka, dan anda akan tetap bisa hidup dengan teguh, dan tetap bisa tersenyum dan tertawa. Untuk mencapai kemenangan ini tentunya anda harus berjuang untuk mengenali bagaimana pikiran anda sendiri berfungsi dan menata serta mengelolanya dari waktu ke waktu, suatu kemampuan yang  oleh psikolog Universitas Stanford John H. Flavell disebut metakognisi: pikiran yang melampaui dan, karena itu, mengontrol pikiran. Dengan ringkas dan padat, Flavell mendefinisikan metakognisi sebagai pengetahuan dan kognisi mengenai kognisi./1/ 


Budai atau Buddha Periang, atau Buddha Gendut. Umat Buddhis percaya jika perut Budai anda sering elus-elus, maka kehidupan anda akan juga ketularan riang. Ya bagaimana bisa tidak riang? Saat perut buncit Budai kita elus-elus, kita melakukannya sudah dengan tertawa-tawa riang. Rasa riang membuat kehidupan beragama jadi menenteramkan.

Nah, ide tentang nekkhamma dalam Buddhisme juga diperkuat oleh ide bahwa segala sesuatu yang ada dalam jagat raya ini, semua fenomena yang muncul dan lenyap dalam dunia ini, adalah ilusi semata-mata, tak real. Banyak orang mengkritik ide Buddhis ini, dan mereka menganggap bahwa ajaran tentang segala sesuatunya adalah ilusi telah menjadi penyebab kaum Buddhis menarik diri dari dunia dan tidak mau peduli pada usaha-usaha memperbaiki dunia ini. Kritik dan tuduhan ini sebetulnya salah sama sekali. Ide Buddhis bahwa segala sesuatunya adalah ilusi tak bisa dilepaskan dari ide tentang nekkhamma (dan ide-ide lain yang tak dibicarakan dalam tulisan ini), yang bertujuan untuk memenangkan orang dari deraan duka. 

Jika anda memandang segalanya adalah ilusi, termasuk diri anda sendiri, termasuk penderitaan anda sendiri, maka problem adanya duka yang sedang menimpa anda, juga lenyap, tak real. Karena duka itu tak real, maka anda tidak usah melekat pada apapun yang menjadi sumber dan penyebab penderitaan anda. Dengan begitu, sebagai individu anda telah memenangkan perang melawan duka yang mendera, dan anda tetap menjadi seorang yang tangguh. Sang Buddha pernah berkata begini: Seorang yang bijaksana, karena mengenali dunia ini hanyalah sebuah ilusi, tidak bertindak seolah dunia ini real; dengan begitu dia luput dari duka (Ajaran-ajaran Sang Buddha, Bukkyo Dendo Kyokai). Ketika secara kognitif, dalam pikiran, anda telah mengalami pembebasan dari duka, maka selanjutnya anda dapat dengan tenang memperbaiki segala sesuatu yang bisa diperbaiki dalam dunia ini, dan, sementara berkarya, anda tetap bisa mempertahankan nekkhamma dalam segala usaha anda. Jadi, menurut filsafat sosial dan psikologi Buddhis, sebelum anda bisa membarui dunia ini, anda harus dan mutlak membarui pikiran anda lebih dulu, karena lewat pikiran anda, anda membangun diri anda dan dunia ini.

Nah, ide tentang nekkhamma tentu saja juga membuat umat Buddhis tidak melekatkan diri kepada diri sang guru agung mereka, Siddhartha Gautama, apalagi kepada patung indah dirinya. Tentu setiap orang yang menganut Buddhisme ingin selalu dekat dengan sang junjungan mereka, Gautama Buddha, tetapi kedekatan tidak sama dengan kemelekatan. Ada sekian ucapan yang diasalkan pada sang Buddha Gautama yang berisi permintaannya sendiri supaya para pengikutnya tidak melekatkan diri mereka kepada dirinya sebagai sang guru dan kepada otoritas dirinya. Yang paling luar biasa adalah ucapannya berikut ini, yang menempatkan otoritas akal budi, kebaikan dan manfaat lebih tinggi dibandingkan otoritas sosok Siddhartha Gautama sendiri sebagai sang guru agung: 
“Jangan percaya hal apapun hanya karena kamu telah mendengarnya. Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu telah dibicarakan dan digunjingkan oleh banyak orang. Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu tertulis dalam kitab-kitab keagamaanmu. Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu dikatakan berdasarkan otoritas guru-guru dan sesepuh-sesepuhmu. Jangan percaya tradisi apapun hanya karena tradisi itu telah diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Tetapi setelah kamu observasi dan analisis, maka ketika kamu mendapati hal apapun sejalan dengan akal budimu dan menolongmu untuk mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi satu dan semua orang, maka terimalah itu dan jalankanlah.” (Kalama Sutta AN 3.65)
Juga ini, 
Tak ada seorangpun yang menyelamatkan kita, kecuali diri kita sendiri. Tak seorangpun dapat, tak seorangpun bisa. Kita sendiri harus menjalani jalannya. Tapi para buddha hanya menunjukkan jalannya dengan jelas. (Dhammapada)
Dan juga ini, 
Engkaulah yang harus berusaha. Para guru hanyalah menunjukkan jalannya. (Dhammapada)
Dan lagi, 
“Kerjakanlah keselamatanmu sendiri. Jangan bergantung pada orang lain.” (Dhammapada)
Umat Buddhis harus menolong diri mereka sendiri untuk mengatasi duka, dengan salah satu caranya adalah hidup ber-nekkhamma dan berlatih meditasi untuk mengenali dan memurnikan pikiran, tak dibuat kotor dan kacau oleh semua fenomena yang hanya ilusi saja. Pendekatan ini sangat berbeda dari pendekatan anda sebagai seorang Kristen ketika anda berusaha menghadapi penderitaan. Ketika menderita, anda sebagai orang Kristen diajarkan untuk melekatkan diri anda sekuat-kuatnya pada kitab suci anda dan pada diri Yesus Kristus yang anda percaya telah menanggung hukuman bagi dosa-dosa anda lewat kematiannya di kayu salib, dan untuk semakin kuat beriman, dan anda sama sekali tak berpaling ke pikiran anda sendiri untuk menatanya kembali padahal bagaimana keadaan diri anda dari saat ke saat dibentuk sangat kuat oleh isi pikiran anda sendiri. Menurut saya, metakognisi perlu anda bawa masuk ke dalam rumah agama anda sebagai sebuah sumbangan sangat penting dari Buddhisme.

Mungkin anda yang beragama Kristen masih akan ngotot menyatakan bahwa betul, umat Buddhis menyembah patung, buktinya mereka sungkem dan bersujud di hadapan patung Gautama! Jika posisi sungkem ini yang anda persoalkan, maka saya juga mau bertanya pada anda: jika roti dan anggur dalam ritual perjamuan kudus gereja anda hanya benda-benda simbolik yang tak punya kekuatan magis apapun, dan sama sekali tak mengenyangkan perut ketika dimakan dan sama sekali tak menghilangkan dahaga ketika diminum, mengapa anda masih mau memakan dan meminumnya? Tentu anda akan menjawab: Ya, saya makan roti perjamuan dan minum anggur perjamuan, hanya sebagai akta-akta simbolik saja yang mau menyatakan bahwa saya ada dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. 

Jika itu jawaban anda, demikian jugalah halnya dengan umat Buddhis: ketika mereka ber-namaskara di depan wujud-wujud simbolik Buddha-Dhamma-Sangha, mereka sedang melakukan suatu akta ritual simbolik, yang berisi pesan bahwa mereka sangat menyanjung dan memuliakan Triratna, yakni Buddha (orang yang mengetahui, yang sudah tercerahkan dengan sempurna, yang arif tak bercela), Dhamma (ajaran-ajaran sang Buddha) dan Sangha (komunitas para biarawan dan biarawati Buddhis, atau keseluruhan umat Buddhis), dan ingin mendengarkan sabda-sabda agung sang Buddha, dan mau menaati semuanya dengan ikhlas dan dengan penuh syukur dan keyakinan. Alih-alih mengharapkan hal-hal gaib dan magis terjadi pada diri mereka lewat akta ritual namaskara, umat Buddhis lewat akta ritual simbolik ini sebetulnya sedang melatih diri mereka untuk menjadi orang yang mau menghormati orang lain, orang yang rendah hati, lemah lembut, bajik, mau menghargai orang lain, mau mendengar orang lain, dan kekuatan egoisme mereka lewat namaskara yang tekun dilakukan dengan demikian akan makin berkurang dari waktu ke waktu. Jadi, namaskara sebetulnya juga suatu bentuk meditasi gerak dan olah mental. 

Terintegrasi dalam ritual simbolik namaskara, umat Buddhis juga biasa dengan khidmat melantunkan berulangkali tiga komitmen (atau boleh juga disebut syahadat) mereka kepada Triratna Buddha, Dhamma dan Sangha, berikut ini (dalam bahasa Pali):
Buddham saranam gacchami (Aku berlindung kepada sang Buddha)
Dhammam saranam gacchami (Aku berlindung kepada Dhamma)
Sangham saranam gacchami (Aku berlindung kepada Sangha) 
Pada kesempatan ini, saya mau mengulas singkat hanya komitmen yang pertama: Aku berlindung kepada sang Buddha. Dalam kepercayaan Buddhis, sang Buddha adalah guru agung yang sudah mencapai penerangan budi yang sempurna, sudah mengalami pencerahan sempurna, guru agung yang memiliki kearifan sempurna. Kalau anda diminta untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan penerangan budi yang sempurna atau pencerahan sempurna atau kearifan sempurna, anda tentu akan menemui kesulitan besar karena ketiga kondisi mental ini sangat abstrak dan luas, sehingga sukar ditangkap atau dibayangkan apalagi dijelaskan dan didefinisikan dengan kata-kata. 

Tetapi sangat lain halnya jika kearifan yang sempurna atau penerangan budi yang sempurna atau pencerahan yang sempurna itu dipersonifikasi dalam diri seorang manusia historis dan jalan-jalan kehidupannya, yakni Gautama Buddha. Apalagi jika sang manusia historis Gautama Buddha dibuat hadir di hadapan anda sekarang lewat visualisasi dan kongkretisasi dirinya dalam bentuk sebuah patung Gautama Buddha sebagai sebuah medium simbolik untuk membantu anda makin dekat dan akhirnya menyatu dengan kearifan sempurna. Jadi, ketika umat Buddhis ber-namaskara di hadapan patung sang Buddha, mereka sebetulnya secara simbolik sedang menyerahkan kehidupan mereka kepada kearifan dan budi yang sempurna, sehingga merekapun dapat hidup arif dan berbudi, dan selalui dijaga dan dilindungi oleh kearifan dalam kehidupan mereka. Apakah ada kebajikan kehidupan lain yang lebih didambakan selain seseorang dapat hidup arif sempurna? Jadi, sama sekali tak ada penyembahan patung dalam ritual namaskara yang dilakukan umat Buddhis. Mereka beribadah dengan cerdas.

Sebaiknya anda tahu lebih jauh bahwa agama apapun yang ada dalam dunia ini, termasuk agama-agama yang sangat keras menolak patung-patung (Yudaisme dan Islam, sebagai contoh), senantiasa memerlukan berbagai simbol fisik yang digunakan untuk meyakinkan para penganutnya bahwa sang Hakikat Adikodrati yang mereka percayai dan sembah selalu ada bersama mereka. Ungkapan dalam bahasa Ibrani Immanuel, yang artinya “Allah bersama kita”, dihayati semua penganut agama, khususnya agama-agama teistik. 

Dalam kepercayaan umat Muslim, Allah yang mahakuasa, yang transenden, selalu menyertai mereka dalam wujud Kalam Allah yang ada bersama mereka, yaitu kitab suci Al-Qur’an. Kaligrafi nama Allah dalam aksara Arab juga menyimbolkan Allah YME yang selalu menyertai setiap Muslim. Jangan lupa, bangunan di Tanah Arab yang dinamakan Kabah juga dipandang sangat suci oleh umat Muslim. Seorang sahabat memberitahu saya, bahkan para Muslim pun mencium-ciumi unsur-unsur tertentu yang menjadi bagian dari bangunan Kabah. Hemat saya, tidak ada yang salah dengan sikap dan perilaku keagamaan mereka ini. Bisa jadi, lewat itu semua, mereka dibantu untuk dapat menghayati lebih dalam kehadiran Sang Suci buat mereka masing-masing.

Dalam kekristenan, yang menjadi Immanuel adalah Yesus Kristus, sang Kalam Allah yang menjadi manusia, yang kematian dan pengurbanannya dirayakan dan dihayati secara berkala (dalam gereja Protestan) atau sangat sering (dalam gereja Katolik) lewat sakramen perjamuan kudus atau sakramen ekaristi. Kalau dalam Islam, Kalam Allah menjadi sebuah buku suci, dalam kekristenan Kalam Allah menjadi seorang manusia suci. Kalau anda Kristen sangat saleh, saya boleh perkirakan pada dinding kamar tidur anda atau kamar belajar anda, anda telah pasang gambar wajah Yesus Kristus, pria Timur Tengah yang diubah menjadi pria Barat dengan rambut pirang dan bermata biru. Tidak ada yang salah jika anda memasang gambar ini. Di gereja Katolik, selain ada patung Yesus yang tersalib, juga ada patung Bunda Maria dan berbagai patung sosok-sosok lain yang disucikan. Tidak ada yang salah dengan patung-patung ini dalam gereja Katolik. Patung Bunda Maria, hemat saya, malah memberi dimensi feminin yang unik dalam penghayatan keagamaan umat Katolik atas tindakan Allah yang dipercaya mereka mendatangkan keselamatan kepada mereka.


Dalam Yudaisme, ada beberapa benda simbolik yang menunjuk pada Tuhan Allah bangsa Israel yang selalu hadir dalam kehidupan umat: Tefillin adalah benda simbolik kehadiran diri Allah dan kuasa-Nya, yang dipasang melingkari lengan, tangan, dan jari-jemari orang Yahudi, atau melingkari kening, pada waktu mereka berdoa (Ulangan 11:18 dipakai sebagai landasannya); Yarmulke atau kopiah putih yang dipakai setiap pria Yahudi juga menyimbolkan kehadiran Allah; kotak kecil yang diberi nama Mezuzah, yang di dalamnya terdapat secarik kertas gulungan yang bertuliskan syahadat Yahudi Shema, juga bermakna simbolik Allah yang selalu hadir, dan dipasang pada kedua tiang pintu setiap rumah orang Yahudi./2/ Bahkan Tanah Israel sendiri dipandang kalangan Yahudi ortodoks sebagai tanah sangat suci dan tidak boleh dinodai oleh siapapun atau oleh apapun, dan dipercaya oleh mereka bahwa tanah mereka adalah pusat alam semesta.   

Saya senang anda telah meragukan kecerdasan saya sebagaimana telah anda ungkap dalam komentar anda yang sudah saya kutip di awal tulisan ini. Orang yang cerdas, ketika kecerdasannya diragukan, justru akan berpikir dan merenung lebih dalam dan lebih luas lagi, sama sekali tak marah. Ini adalah suatu kemampuan kognitif yang dinamakan introspeksi, kemampuan memeriksa diri sendiri sedalam-dalamnya di hadapan penilaian negatif orang lain. Uraian di atas, dari awal hingga akhir, adalah hasil dari introspeksi yang saya telah lakukan. Lewat introspeksi ini, yang saya temukan adalah justru saya jadi semakin cerdas dan semakin empatetis memahami Buddhisme, sebuah agama yang jauh lebih tua dari kekristenan yang anda anut. 

Saya berharap, setelah selesai membaca keseluruhan tulisan saya ini, andapun akan dapat lebih cerdas dan lebih empatetis dalam memahami agama-agama lain yang anda tidak kenal dan tidak pahami. Selain itu, kerendahan hati adalah juga sebuah kebajikan yang musti dinampakkan oleh setiap orang yang beragama, yang tak boleh dipisahkan dari kecerdasan dan empati. 

Jika tiga kebajikan ini (kecerdasan, empati, kerendahan hati) ada dalam diri setiap orang beragama, kehidupan beragama tentunya akan menjadi suatu kehidupan yang patut dijalani setiap manusia. Filsuf Sokrates (469 SM-399 SM) dikenal lewat sebuah pernyataannya, yang bertahan hingga kini lewat muridnya yang paling inspiratif, Plato, bahwa suatu kehidupan yang tidak diselidiki dengan cermat, adalah kehidupan yang tidak layak dijalani oleh seorang manusia.” Jadi, selidikilah juga kehidupan anda sendiri, sebelum anda menilai kehidupan orang lain, supaya kehidupan anda layak dijalani oleh anda sendiri.  

Akhir kata, mulai sekarang ingat dan sadarlah bahwa semua agama, baik yang memakai patung atau yang anti-patung dalam kehidupan beragama mereka, memerlukan berbagai representasi simbolik atas hal-hal yang mereka pandang dan percayai sebagai hal-hal yang agung, suci bahkan ilahi. Representasi-representasi simbolik tidak hanya satu bentuk, patung-patung misalnya, tetapi juga berupa wujud-wujud simbolik lain, misalnya benda-benda yang dipakai pada tubuh dan anggota-anggotanya, makanan-makanan dan minuman-minuman, kitab-kitab, lukisan-lukisan indah, perhiasan-perhiasan, bangunan-bangunan, gedung-gedung, dan berbagai benda lain yang termasuk ke dalam benda-benda suci yang dikeramatkan. Pendek kata, tidak ada agama apapun yang bebas dari berbagai wujud atau representasi simbolik. Lagipula, adalah suatu kebodohan atau suatu kerugian jika kemampuan manusia membentuk representasi-representasi atau wujud-wujud simbolik tidak dipakai dalam kehidupan beragama untuk membuatnya lebih meriah dan perjumpaan dengan Sang Suci dirasakan lebih real. 

Setelah mempertimbangkan semua hal di atas, saya akhirnya ingin memberi tiga nasihat kepada orang-orang beragama yang suka merobohkan patung-patung umat-umat agama-agama lain. Pertama, lihatlah ke dalam agama anda sendiri, dan temukan bahwa dalam agama anda sendiri terdapat berbagai wujud representasi simbolik yang menunjuk ke dunia ilahi atau ke hal-hal yang dipandang suci dan agung. Tidak ada agama yang bebas dari representasi-representasi simbolik. Kedua, jangan lagi merobohkan patung-patung yang sudah dibangun dengan susah-payah oleh umat-umat beragama lain. Hargailah dunia keagamaan mereka sama seperti anda juga ingin dunia keagamaan anda dihargai. Ketiga, amatilah dan temukanlah bahwa sudah dan sedang terjadi kesalahan total dan dosa syirik karena sudah banyak sekali orang beragama yang memperlakukan agama mereka sebagai Tuhan, padahal agama hanyalah representasi simbolik yang dibangun untuk membawa manusia ke Tuhan yang ditunjuk agama. Realitas yang ditunjuk simbol-simbol tidak sama dengan simbol-simbolnya, tidak bisa habis dilahap simbol-simbolnya. Jadi, kapanpun juga, agama tidak pernah menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak pernah habis diserap ke dalam agama apapun. Menurut keyakinan Muslim, Tuhan itu laisa kamislihi syaiun, artinya bukan ini, bukan itu, tidak ada yang menyerupainya.”  


Jakarta, 21 Juli 2012   
ioanes rakhmat


---------------------

/1/ Kognisi sendiri adalah proses perkembangan pengetahuan dan pengertian di dalam pikiran, atau proses dalam pikiran kita yang membuat kita kian mengetahui dan memahami lebih banyak hal. Tentang metakognisi, lihat John H. Flavell, “Monitoring social cognitive enterprises: something else that may develop in the area of social cognition”, dalam John H. Flavell dan Lee Ross, eds., Social Cognitive Development: Frontiers and Possible Future (Cambridge, U.K.: Cambridge University Press,1981), hlm. 272 [272-287]. Lihat juga John H. Flavell, Metacognition” dalam E. Langer (chair), Current Perspectives on Awareness and Cognitive Processes. Symposium presented at the meeting of the American Psychological Association (Toronto, 1978); idem, “Metacognition and cognitive monitoring: A new area of psychological inquiry” dalam American Psychologist, 1979, 34, hlm. 906-911.

/2/ Tentang benda-benda yang disucikan dalam ritual Yudaisme dan kehidupan setiap orang Yahudi,  lihat Judaism symbols and their meanings pada http://www.buzzle.com/articles/judaism-symbols-and-meanings.html.