Sunday, April 15, 2012

Mempertahankan dogma, atau membarui dogma?

Sehabis membaca tuntas buku baru saya, Memandang Wajah Yesus (terbit 2012),/1/ seorang pendeta di Jambi mengirim sebuah SMS kepada saya, tulisnya: “Saya benar-benar puas dengan buku Pak Ioanes ini, sebuah buku tentang Yesus yang sudah lama saya tunggu, yang perlu dibaca semua orang yang berkepentingan dengan Yesus.”

Tapi itu komentar seorang pendeta yang masih mau berkembang, berubah, dinamis, yang gairah intelektualnya masih hidup dan kuat.

Komentar semacam itu hanya bisa ditulis oleh seorang pendeta yang melihat ihwal mencari dan mendapatkan ilmu sebagai sebuah panggilan dan sebuah kebajikan.

Komentar sejenis itu hanya bisa diungkap oleh seorang pendeta yang tak mau tunduk pada rutinitas pekerjaan pendeta sebagai pekerja gereja.

Komentar semacam itu hanya bisa diekspresikan oleh seorang pendeta yang tak tak takut keamanan posisinya dan ketenteraman jiwanya akan terganggu.

Tapi bagi para pendeta yang melihat diri harus mempertahankan, melindungi dan mensakralisasi dogma-dogma kuno yang disusun belasan abad lalu, halnya tak demikian.

Bagi para rohaniwan yang melihat diri sebagai para penjaga dan pelindung akidah-akidah yang sudah jumud, buku MWY saya itu menyesatkan, karena itu harus dijauhi dan dibatasi persebarannya.

Banyak rohaniwan studi lama di luar negeri untuk meraih gelar doktor dengan biaya sangat mahal tapi dengan satu tujuan saja: untuk makin piawai menjaga dogma.

Motif mereka meraih gelar doktor hanya satu: menjadi pakar yang ahli membela dan mempertahankan akidah-akidah gereja yang sudah membatu, yang mereka lihat sedang terancam oleh kritik-kritik para pembaru gereja atau kritik-kritik para ikonoklas. Bagi kalangan mereka, semakin ahli mereka mempertahankan dogma-dogma jumud, semakin besar pahala mereka di sorga, dan semakin hebat nama mereka dalam dunia ini.

Filsafat pendidikan yang mereka anut sangat aneh: semakin terpelajar mereka, semakin pakar mereka, maka semakin tak bisa diubah pikiran mereka, dan semakin tak bisa digoyang posisi mapan mereka.

Padahal filsafat pendidikan yang benar adalah: semakin seseorang banyak belajar, semakin cair dan mengalir dia, semakin berubah dirinya, pandangannya dan sikapnya, dan semakin jauh dia memasuki masa-masa depan yang menantang, menggairahkan, dan penuh kemungkinan-kemungkinan baru yang menakjubkan.

Ketika bertemu dengan orang-orang yang berbeda, mereka bukan berdialog dengan kesediaan berubah dan mengalami pertumbuhan intelektual, malah berapologetik, membela diri dan dogma-dogma jumud mereka dengan segala cara yang dihalalkan.

Bagi kalangan mereka, berubah doktrin, berubah pandangan, adalah tanda kelemahan watak dan iman. Bagi mereka sebutan “konservatif” adalah sebutan yang menimbulkan kebanggaan dan rasa percaya diri. 

Kalau bagi saya dan bagi sangat banyak orang lain sebutan “liberal” adalah sebutan yang agung dan membanggakan, bagi mereka sebutan ini hanya pantas diberikan kepada setan-setan. Kalau bagi saya gereja yang berubah adalah gereja yang hidup, bagi mereka kalau gereja berubah, gereja ini pasti akan sesat, binasa, dan dikhianati.

Batu karang, simbol kekokohan sekaligus kejumudan gereja!

Kalau perubahan menandakan kehidupan dan gerak maju, bagi mereka suatu pengkhianatan dan kontaminasi terhadap kemurnian masa lampau yang tak bisa dimaafkan. Kata “perubahan” adalah kata yang sangat menakutkan mereka, dan harus dijaga tak terjadi pada kaum mereka. Anehnya ada banyak dari antara mereka yang dengan bangga memegang semboyan Gereja Reformasi sebagai cerminan identitas gereja mereka.

Tahukah anda bunyi semboyan Gerakan Reformasi Gereja abad ke-16 yang dimulai di Jerman oleh Martin Luther? Bunyi semboyan itu, “ecclesia reformata semper reformanda”./2/ Dengan bebas semboyan ini dapat diartikan, gereja Protestan adalah gereja yang terus-menerus membarui diri. Walaupun itu bunyi semboyan identitas mereka, ironisnya gereja Protestan masa kini pada umumnya berwatak dogmatis kuat, anti-pembaruan dan konservatif. Kalaupun mereka menyatakan diri melakukan pembaharuan, ini dilakukan supaya kemurnian doktrin dapat kokoh dipertahankan. Memang aneh: membaharui gereja supaya gereja tak berubah, tetap lama, tetap puritan, dus tetap usang.

Maka dapat dimaklumi, ketika ada pendeta-pendeta gereja-gereja Protestan yang mulai melakukan pembaruan internal gereja mereka dalam arti sebenarnya kata “pembaharuan”, mereka akan pasti dihadang oleh pimpinan tertinggi organisasi gereja mereka.

Saya mempunyai seorang teman dekat yang kini bekerja sebagai pendeta di GKJ (Gereja Kristen Jawa) Dagen-Palur, Karanganyar, Jawa Tengah. Teman saya ini, Pdt. Novembri Choeldahono, selama lebih dari sepuluh tahun terakhir ini berusaha keras membarui GKJ-nya dalam banyak segi. Pembaruan yang sedang dijalankan teman saya ini dkk-nya di GKJ-nya mencakup pembaruan akidah, ritual, sumber daya, sumber dana, moral dan keterlibatan sosial. 

Teman saya ini, sejak bersama-sama saya kuliah di tahun 1980-an di sebuah perguruan tinggi teologi di Jakarta, sudah menampakkan diri sebagai seorang yang kreatif. Menurutnya, seorang yang kreatif itu adalah “seorang yang berjiwa petualang, yang tidak suka hidup hanya pada jalur dogmatis yang dirasakannya sebagai belenggu, dan berani untuk bergerak beyond, bergerak melampaui atau melompati, rumusan-rumusan akidah-akidah yang konvensional untuk mencari sesuatu yang baru, berani mengambil risiko dan selalu berperan sebagai pelopor.”/3/ 

Saya ingin memberi beberapa gambaran saja mengenai pembaruan besar yang sedang dia dkk-nya lakukan di gerejanya. Pembaruan yang paling kelihatan secara fisik adalah pembaruan di bidang ritual (liturgi) di GKJ-nya.

Pagelaran wayang dia dkk bawa masuk ke dalam acara-acara ritual gereja. Sebagai contoh, dalam acara penahbisan Pdt. Indri Jatmoko pada 1 Januari 2014 di GKJ Dagen-Palur, para punakawan dalam kisah pewayangan Jawa, yang dikenal dengan nama Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, tampil dalam liturgi sebagai sosok-sosok pemberi wejangan-wejangan./4/ Kita tahu, pada 21 April 2004 di Paris, Prancis, UNESCO lewat Direktur Jendralnya Koichiro Matsuura mengukuhkan wayang Indonesia sebagai sebuah Karya Agung Budaya Dunia (sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)./5/ Menurut Pdt. Jatmoko, wayang sebagai warisan budaya leluhur perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai suatu karya seni adiluhung yang mampu mengembangkan nilai-nilai universal dan pendidikan agama yang humanis dalam rangka mewujudkan kehidupan yang penuh kedamaian./6/

Bukan hanya wayang, tapi juga unsur-unsur ritual dari agama-agama lain, termasuk dari agama-agama suku, dibawa masuk ke dalam gerejanya. Membakar dupa lidi dan kemenyan dalam ibadah (sesuatu yang lumrah di gereja Katolik) menjadi salah satu unsur ritual gereja GKJ-nya. Menabur bunga warna-warni dari baskom berair, dilakukan dalam ritual ibadah di GKJ-nya, sesuatu yang orang bisa hubungkan dengan ritual kultik paranormal.

Ketika ada penahbisan pendeta, para sesepuh dan pemimpin dari agama-agama lain, termasuk agama-agama suku dan aliran-aliran kepercayaan, ikut menumpangkan tangan mereka di atas kepala pelayan yang sedang ditahbis. Mereka semua dipandang sebagai orang-orang yang berhati kudus, yang berkomitmen untuk menegakkan harkat dan martabat manusia. Dalam setiap acara penahbisan pendeta, mereka menaikkan doa-doa dan menyampaikan restu mereka.

Simbol salib yang umum tak bisa disingkirkan dari bangunan gereja manapun, disingkirkannya dengan alasan salib adalah lambang kutuk ilahi. Meskipun demikian, makna-makna positif simbolik lainnya dari salib, misalnya sebagai simbol komitmen perjuangan sampai titik darah terakhir, atau sebagai simbol ketegaran dalam menghadapi kelaliman, tetap dipertahankan.

Sudah saya tulis di atas, teologi, moral, sumber daya, sumber dana, dan keterlibatan sosial juga mengalami pembaruan hampir menyeluruh di GKJ-nya.

Syahadat atau pengakuan iman yang dipegang GKJ Dagen-Palur juga unik, sudah meninggalkan syahadat-syahadat kuno gereja yang disusun belasan abad lampau di Eropa. Dalam syahadat gereja ini, tema-tema modern seperti multikulturalisme, kesetaraan gender, pemeliharaan ekologi, penentangan terhadap kekerasan, dan penegakan HAM, diberi tekanan khusus./7/  

Dari keseluruhan tujuh pendeta yang kini bekerja di GKJ Dagen-Palur, teman saya ini, bersama tiga rekannya di gereja yang sama, tidak menerima gaji dari GKJ-nya, dan sebagai gantinya mereka aktif menjalankan peternakan ayam sendiri atau usaha-usaha kecil lainnya. Selain itu, dia juga menghidupkan beberapa LSM yang ikut menopang pekerjaan-pekerjaan pembaruannya dalam gereja-gereja dan masyarakat Jawa Tengah. Mereka sudah berkomitmen untuk bukan saja membangun kemandirian teologi dan ritual, tetapi juga meraih dan mempertahankan kemandirian dan kebebasan finansial.

Teman-temannya yang juga pendeta, yang juga tak takut melakukan pembaruan, bersama gereja mereka masing-masing bergabung masuk ke GKJ-nya, membentuk korps kependetaan yang makin tangguh dan gereja lokal yang makin besar dan luas. Dari tahun ke tahun, para pendeta GKJ lain yang pindah dan masuk serta bergabung ke GKJ Dagen-Palur bersama gereja mereka masing-masing, makin banyak, bukan makin sedikit. 

Nama GKJ Dagen-Palur makin dikenal sebagai gereja tempat berkumpulnya para pendeta pembaharu, yang tanpa takut terus melangkah maju. Tujuan pembaruan yang mereka sedang jalankan antara lain adalah membuat gereja-gereja berakar pada dan tumbuh dari kebudayaan asli mereka sendiri, kebudayaan Jawa, dan menjadikan gereja-gereja sebagai komunitas-komunitas rekonsiliatif dan liberatif yang terbuka bagi siapapun yang mau masuk ke dalamnya untuk mencari, menemukan dan menyebarkan persaudaraan, perdamaian, pembebasan dan keadilan. Dalam komunitas-komunitas keagamaan semacam ini, penganut agama-agama lain, seperti dikatakan Pdt. Ratna Prajati yang bekerja di GKJ Dagen-Palur, tidak dilihat sebagai musuh, lawan atau saingan. Sebaliknya, mereka dipandang sebagai kawan-kawan sekerja, saudara, sesama, yang memiliki tujuan yang sama, yakni mendatangkan kesejahteraan bagi manusia dan semua makhluk lainnya dalam alam ciptaan Allah./8/ 

Seperti diungkap oleh Pdt. Indrianto Adiatmo Sawaldi yang juga bekerja di GKJ Dagen-Palur, masyarakat Jawa (termasuk di dalamnya wong Ngayogyakarta dan wong Sala) dikenal sebagai masyarakat yang memiliki watak semedulur, yakni watak senang bersaudara dengan semua 0rang, ramah satu sama lain, dan suka menolong berdasarkan prinsip gotong-royong. Di dalam diri mereka terkandung jiwa suka damai dan menjauhi permusuhan. Inilah budaya damai orang Jawa, yang membentuk kapribaden Jawa. Dengan budaya damai dan kepribadian Jawa ini, arus budaya kekerasan yang kini melanda di banyak tempat di Indonesia, juga di Jawa Tengah, dapat bersama-sama dilawan./9/ Tepat sekali jika perjuangan real menegakkan budaya damai oleh gereja-gereja di Indonesia dilihat sebagai bagian dari gerakan global untuk menegakkan budaya damai di planet Bumi, sebagaimana telah dicanangkan oleh lembaga PBB UNESCO dalam Declaration on a Culture of Peace./10/ Menurut Pdt. Jatmoko, pendidikan agama yang humanis, yang sedang dirintisnya, memerlukan antara lain para pendidik yang berjiwa damai yang mampu membangkitkan semangat perdamaian secara luas kepada setiap orang lain./11/ 

Tetapi, para pemimpin tertinggi (disebut pimpinan sinode) GKJ memberi reaksi sangat negatif pada semua usaha pembaruan teman saya ini dkk-nya. Teman saya ini dkk-nya ditetapkan sesat, terkena tindakan pendisiplinan gereja (disebut “siasat”), oleh pemimpin sinodenya, sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi para sesepuh di kantor sinodenya tak bisa berbuat apa-apa terhadap teman saya ini dkk dan terhadap GKJ-nya. 

Meskipun sudah dinyatakan sesat dan terkena “siasat”, teman saya dkk tetap tenang saja dan terus melakukan gerak pembaruannya dengan percaya diri, tanpa takut.

Kok bisa demikian? Ya, karena sistem pengaturan GKJ bersifat presbiterial, artinya: majelis jemaat sebuah gereja setempat memiliki otoritas penuh, lebih tinggi dari otoritas pimpinan sinodenya. Setiap jemaat/gereja lokal GKJ adalah gereja penuh, tak tunduk pada kemauan para birokrat tertinggi sinode GKJ secara keseluruhan.

Selama tak ada persoalan dengan jemaat/gereja lokal, dhi dengan GKJ Dagen-Palur, teman saya dkk dapat terus bekerja di situ dan membarui. Faktanya memang demikian: GKJ Dagen-Palur dengan otoritasnya sendiri mendukung penuh pembaruan mereka, kendatipun mereka sedang terkena “siasat” sinode.

Seorang profesor dari Vrije Universiteit di Belanda baru-baru ini melakukan penelitian panjang di GKJ Dagen-Palur itu. Kata teman saya itu, profesor dari VU ini menyimpulkan bahwa jika dalam sepuluh tahun ke depan GKJ Dagen-Palur bertahan, maka pengaruhnya akan meluas ke seluruh GKJ di seantero Indonesia dan akan menjadi pusat besar reformasi gereja.

Tapi, adakah sistem manajemen gereja yang berbeda? Ada, misalnya sistem manajerial Gereja Kristen Indonesia (GKI), tempat saya dulu bekerja. Kalau teman saya itu pendeta di GKI, dia pasti sudah lama harus menanggalkan kependetaannya! Dalam GKI yang menganut sistem manajerial presbiterial sinodal, otoritas sinode berada di atas otoritas jemaat-jemaat lokalnya. Keputusan-keputusan Majelis Sinode harus ditaati oleh setiap Majelis Jemaat lokal.

Pertanyaannya: Sesatkah teman saya dkk-nya itu?

Kata “sesat” hanya dipakai para birokrat konservatif gereja yang sudah tak mampu belajar dan berkembang lagi, dan dikenakan kepada orang-orang yang berbeda dari mereka, yang mereka lihat sebagai ancaman serius terhadap konservatisme yang mereka bela, agung-agungkan, dan pertahankan mati-matian. Seolah konservatisme itu adalah Allah mereka sendiri.

Tapi bagi sesama peziarah, dan bagi kalangan akademisi, tak ada kata “sesat”; yang ada adalah kata “berbeda”, “teori baru”, “perspektif baru”, “model baru”. Dalam konteks kehidupan masyarakat Jawa Tengah, teman saya itu bersama sahabat-sahabatnya sedang memperkenalkan dan memantapkan sebuah model baru bergereja, model yang membutuhkan partisipasi sebanyak mungkin kebudayaan-kebudayaan asli orang-orang Jawa dalam merayakan kepercayaan Kristen yang dibarui dan makin berakar.

pasar tradisional menginspirasi lahirnya “teologi alun-alun

Dalam setiap perayaan hari Pentakosta, di GKJ Dagen-Palur teman saya itu memperagakan apa yang dinamakannya “teologi alun-alun”: siapapun, tak harus orang Kristen, boleh datang ke acara ini yang dipandang sebagai acara pasar, tempat orang menjual dan membeli. Di pasar teologi ini, orang bebas untuk membentangkan dan menawarkan tafsiran-tafsiran masing-masing tentang kebenaran, yang berbeda dari tafsiran-tafsiran resmi yang diterima di kalangan arus utama atau di kalangan ortodoks. Orang bebas untuk membeli atau tidak mau membeli berbagai tafsiran tentang kebenaran ini. Tidak ada monopoli atas barang yang diperdagangkan, dan tidak ada eksploitasi terhadap para pembeli. Inilah hakikat pasar dalam kebudayaan Jawa asli, dengan karakter yang ramah, manusiawi, kooperatif, bergotong-royong, tidak tamak, yang berkonfrontasi dengan sistem pasar kapitalisme modern. Menurut teman saya itu, kebenaran itu tidak satu, tapi ada banyak, dan masing-masing boleh dihayati dengan bebas, bahkan boleh juga bersaing dengan ramah, terbuka, simpatik, dan sehat, lewat marketing ide-ide di pasar-pasar tradisional yang berpindah-pindah lokasi secara berkala.

Tanpa ada perspektif baru, teori baru, model baru, yang berbeda dari yang lama, gereja manapun akhirnya akan terbenam tanpa daya dalam rutinitas harian yang makin dirasakan tak bermakna lagi. Gereja yang tak bisa memberi makna yang signifikan kepada umatnya, akhirnya akan ditinggalkan. Hanya para pemimpin gereja yang cerdas, visioner dan berani, yang akan dapat membarui gereja. Tanpa para pemimpin keagamaan jenis ini di garis depan, agama-agama apapun akan pada akhirnya tak fungsional dan tak signifikan lagi, baik bagi umat sendiri, maupun, dan apalagi, bagi masyarakat dan dunia yang lebih luas. Tanpa pembaruan yang menyeluruh yang harus selalu dilakukan, gereja-gereja dan juga semua komunitas keagamaan lain hanya akan menjadi museum-museum tempat menaruh benda-benda purbakala, misalnya fosil-fosil. Ada pada kita fosil-fosil beranekaragam dinosaurus, yang tertua adalah fosil dinosaurus yang diberi nama Nyasasaurus parringtoni yang dipastikan hidup 243 juta tahun lalu./12/ Selain itu, ya tentu saja ada pada kita juga fosil-fosil dogma, yang kini dimuseumkan dalam bangunan-bangunan gereja yang tampak aktif. Menurut anda, dilihat dari sudut ilmu pengetahuan, mana yang lebih berharga, fosil-fosil dinosaurus ataukah fosil-fosil dogma? 

Fakta bahwa komunitas-komunitas keagamaan hanya menyimpan dan memelihara fosil-fosil dogma sebetulnya mengungkapkan sebuah masalah besar yang lebih mendasar. Di mana akar-akar masalah besarnya tertanam? Tak lain, akar-akar masalahnya tertanam di lembaga-lembaga pendidikan teologi yang mencetak para sarjana agama. Lembaga-lembaga pendidikan ini memelihara, merawat dan meneruskan hanya fosil-fosil dogma ke dalam komunitas-komunitas itu lewat para sarjana agama yang mereka telah luluskan. Ini adalah sebuah fenomena yang ganjil, sebab bukankah sudah seharusnya semua lembaga pendidikan teologi hanya menghasilkan para sarjana pembaharu yang memiliki kemampuan untuk menjadi agents of social change, agen-agen perubahan sosial. Jika hal yang sangat mendasar ini tidak terjadi, berarti ada problem besar dalam dunia pendidikan teologi di Indonesia. 

Satu masalah besar yang mendasar lainnya adalah banyak sarjana agama, karena pendidikan teologi yang salah yang mereka telah terima, berpikir keliru tentang apa yang dimaksudkan dengan dogma. Dalam pandangan mereka, dogma itu adalah keseluruhan pemahaman manusia tentang Allah yang sudah selesai, sudah tuntas, dan sudah jadi, begitu selesai dirancangbangun pada masa-masa silam di tempat-tempat lain, sehingga tak boleh diubah lagi atau diganti. Bagi mereka, misalnya, dogma Tritunggal Kristen adalah dogma harga mati, dogma yang sudah sempurna, sekali telah dirumuskan dulu di Eropa, belasan abad lalu, berlaku selamanya di segala tempat di muka Bumi. Kekeliruan berpikir semacam ini tentu saja harus diperbaiki. 

Yang bisa tuntas dipahami adalah agama-agama atau teologi agama-agama atau dogma-dogma. Banyak orang sudah tiba di tahap ini. Tetapi tak ada seorangpun yang telah selesai dan tuntas menemukan dan memahami Hakikat Adikodrati yang diberitakan agama-agama, yang diberi banyak nama dan sifat. Kalau akidah-akidah atau dogma-dogma keagamaan ditulis untuk menyingkapkan siapa sang Hakikat Adikodrati ini, banyak orang telah selesai memahami akidah-akidah atau dogma-dogma ini, tapi mereka tidak akan pernah mencapai garis finish dalam mengenal dan memahami sang Hakikat Adikodrati itu sendiri. Teologi atau dogma selalu tak pernah sama dengan ontologi. Doktrin-doktrin tentang Allah apapun, sesuci apapun, setua apapun, tak akan pernah sama dengan diri Allah itu sendiri.

Sang Hakikat Adikodrati sesungguhnya selalu menjauh ketika didekati, dan selalu mengelak, elusif, ketika mau digenggam. Usaha menangkap dan menggenggam sang Hakikat ini bak usaha menjaring angin! Dia mahabesar, tapi agama-agama begitu kecil. Sistem-sistem kepercayaan yang dibangun manusia, kapanpun dan di manapun juga, tak pernah sanggup menyerap tuntas diri sang Hakikat Adikodrati ini. Tak ada satupun agama yang telah mencapai dan meraup kebenaran mutlak dan final. Jika sebuah agama mengklaim telah tuntas mengantongi sang Hakikat Adikodrati atau sang Kebenaran Mutlak ini, maka tamatlah sudah riwayat Dia yang mahabesar ini. Tamatlah teologi. Tamatlah juga agama.

Karena ruang-dan-waktu adalah dimensi-dimensi yang terus berada dalam gerak dan perubahan, selalu impermanen, selalu dinamis, maka pemahaman orang atas realitas ruang-dan-waktu juga terus berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat. Setiap dogma disusun selalu dari sudut-sudut pandang tertentu para penyusunnya dalam mereka memandang realitas yang terus berubah. Dengan demikian, tak ada dogma yang bebas nilai. Dogma-dogma keagamaan yang disusun belasan atau puluhan abad lalu juga secara alamiah akan menjadi usang, atau pada masa kini dipersepsi jauh berbeda dari yang dipersepsi orang-orang zaman kuno di tempat lain yang dulu menyusun dan menguduskannya. Dengan demikian, tak ada dogma yang berlaku abadi. Jika ilmu pengetahuan yang dibangun berdasarkan bukti-bukti tidak pernah berlaku abadi, tidak pernah final, apalagi dogma-dogma yang dibangun hanya berdasarkan iman atau kepercayaan.

Kalau anda mau mengabadikan sebuah dogma, anda melawan hukum alam yang menghendaki segala sesuatu dalam jagat raya ini bergerak dan berubah, lewat evolusi atau lewat revolusi, secara alamiah atau lewat intervensi manusia. Ketahuilah, jagat raya kita yang terbentuk 14 milyar tahun lalu lewat big bang hingga kini dan bermilyar-milyar tahun ke depan terus aktif bergerak mengembang dengan makin cepat, tak pernah statis. Jagat raya kita sedang mengalami evolusi. Evolusi adalah suatu fakta kosmik, yang menyelubungi segala sesuatu. Kalaupun dalam jagat raya ini ada yang tetap dan abadi, yang tetap dan abadi itu adalah perubahan itu sendiri, baik perubahan menuju keusangan dan kematian maupun perubahan menuju pembaruan dan kelahiran kembali.

Dan ketahuilah juga, dogma yang benar dan fungsional adalah dogma yang terus berubah, karena dogma adalah respons kognitif manusia terhadap Allah yang dipercaya bekerja dalam pentas kehidupan insani yang terus berubah. Jadi, sudah kodratnya dogma itu selalu kontekstual, maksudnya: selalu terikat pada ruang dan waktu yang di dalamnya dogma ini disusun, dan karena itu selalu terbatas, dan tak boleh diabadikan. Karena itu juga, setiap dogma haruslah cerdas karena merupakan tanggapan kreatif dan inovatif manusia pada tindakan-tindakan Allah dalam pentas kehidupan manusia, yang berbeda dari satu zaman ke zaman lainnya, dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika zaman berubah dan tempat-tempat berganti, dogma-dogma juga berubah dan berganti. 

Tidak ada dogma apapun yang berlaku di segala zaman dan di segala tempat; tak ada dogma apapun yang berlaku abadi dan universal. Ketika anda mau mengabadikan dan menguniversalkan sebuah dogma, tentu biasanya dengan memakai nama Allah, maka dogma ini menjadi sebuah ideologi penindas kebebasan berpikir dan berpendapat orang-orang lain yang hidup di zaman lain dan di tempat lain, yang tidak sama dengan zaman dan tempat kelahiran dogma itu dulu. Padahal, dogma yang benar seharusnya adalah dogma yang membebaskan, bukan menindas, manusia. Dogma ada untuk melayani manusia, bukan manusia ada untuk melayani dogma. Manusia adalah tuan atas dogma, bukan dogma tuan atas manusia.  

Dengan demikian, tak ada pilihan lain, selain semua orang beragama harus terus-menerus membaharui akidah-akidah dan dogma-dogma keagamaan mereka, atau menyusun akidah-akidah dan dogma-dogma baru jika yang lama ditemukan sudah tak relevan lagi atau malah keliru dan menyesatkan. Tugas membaharui adalah tugas yang abadi. Terus mengalir. Selama sungai-sungai bermuara di samudera, segala sesuatu akan terus mengalami perubahan dan pembaruan. Hanya jika semua samudera di muka Bumi mengalir masuk ke sungai-sungai lalu bermuara di kawah-kawah gunung-gunung, hanya jika jagat raya kita berhenti mengembang lalu menciut lagi karena tarikan kuat gravitasi materi gelap (dark matter) atau tarikan kuat gravitasi sebuah lubang hitam (black hole) supermasif dan bertenaga besar, berakhirlah semua era, semua gerak, semua nafas, semua kehidupan, semua perubahan, dan semua pembaruan.

Jika pembaruan terus dilakukan, hidup beragama menjadi hidup yang menantang, menggairahkan dan mencerahkan, tak lagi rutin dan membosankan. Dan orang-orang yang cerdas pun akan dengan bersemangat mau ambil bagian di dalamnya, tak lagi menjauh dari dunia agama-agama. Suasana dan semangat yang seperti inilah yang kini dapat anda temukan dan rasakan di GKJ Dagen-Palur. Saya sendiri pernah bertandang ke gereja ini, selain untuk berjumpa dengan teman saya itu, juga untuk melakukan pengamatan-pengamatan atas beberapa bagian dari kehidupannya yang dinamis. Mudah-mudahan anda punya waktu untuk meninjau gereja hebat ini supaya bisa menemukan dan merasakan sendiri semangat pembaruan yang sedang dan akan terus berlangsung di sana./13/ 

---------------------

/1/ Ioanes Rakhmat, Memandang Wajah Yesus: Sebuah Eksplorasi Kritis (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2012).

/2/ Frasa “Ecclesia reformata semper reformanda (est) harfiah berarti “gereja haruslah selalu dibaharui”. Ide ini semula datang dari gerakan Nadere Reformatie abad ke-17 di dalam Gereja Reformasi Belanda (Dutch Reformed Church). Istilah ini mula-mula muncul dalam buku Jodocus van Lodenstein, Beschouwinge van Zion (artinya “Perenungan tentang Zion”) (Amsterdam, 1674). Dalam Reformasi Protestan abad ke-16, ide yang terkandung dalam frasa ini menjadi salah satu ide pokok teolog Jerman Martin Luther (1483-1546). Pada masa kini, istilah ini dipakai dengan meluas sebagai semboyan tak resmi Gereja Reformed dan Gereja Presbiterian. Ide mendasar dalam semboyan ini adalah bahwa gereja Prostestan harus terus-menerus memeriksa diri kembali supaya dapat mempertahankan kemurnian doktrin dan praktek bergereja mereka.  

/3/ Novembri Choeldahono, “Menegakkan Keadilan dan Kebenaran: Mendidik Umat sebagai Subjek yang Kreatif dalam Menyelesaikan Permasalahan di Gereja yang Berorientasi pada Nilai Keadilan dan Kebenaran” dalam Buku Pedoman Rapat Jemaat Tahun 2013 GKJ Dagen-Palur, hlm. 5 [1-6]. 

/4/ Lihat buku Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko: Membangun Budaya Damai Melalui Pendidikan Agama yang Humanis, Rabu, 1 Januari 2014, GKJ Dagen-Palur, Karanganyar, hlm. 4-6, 13-25. 

/5/ Tentang ini, lihat http://senawangi.org/index.php?option=com_content&view=article&id=81&Itemid=210&lang=id.

/6/ Lihat Indri Jatmoko, “Khotbah Sulung: Membangun Budaya Damai Melalui Pendidikan Agama yang Humanis”, 1 Januari 2014, GKJ Dagen-Palur, dalam buku Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko, hlm. 39 [26-42].  

/7/ Lihat Liturgi Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko dalam buku Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko, hlm. 23-24.

/8/  Ratna Prajati, “Berbangsa dan Bernegara (Amsal 29:17)” dalam buku Peneguhan Pdt. Indrianto Adiatmo Sawaldi dan Pdt. Ratna Prajati: Membangkitkan Budaya Damai dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Jumat 20 Mei 2011, GKJ Dagen-Palur, Karanganyar, hlm. 22 [20-22].

/9/ Indrianto Adiatmo Sawaldi, “Ikhtiar Membangun Budaya Damai di tengah Arus Budaya Kekerasan”, dalam Buku Pedoman Rapat Jemaat Tahun 2013 GKJ Dagen-Palur, hlm. 14-15.  

/10/ Lihat UNESCO, “A Declaration on a Culture of Peace” pada http://www.unesco.org/cpp/uk/declarations/2000.htm.

/11/ Indri Jatmoko, “Khotbah Sulung: Membangun Budaya Damai Melalui Pendidikan Agama yang Humanis”, hlm. 32.  

/12/ Tentang Nyasasaurus parringtoni, lihat Jeanna Bryner, “Earliest Dinosaur? Nyasasaurus Parringtoni Roamed Pangea 240 Million Years Ago, Fossils Suggest”, Huffington Post Science 05 December 2012, pada http://www.huffingtonpost.com/2012/12/05/earths-earliest-dinosaur-nyasasaurus-parringtoni_n_2243479.html.


/13/Alamat GKJ Dagen-Palur: Jalan Timur Stasiun KA Palur, no. 4, RT 02/RW X1, Dagen, Jaten, Karanganyar 57772, Jawa Tengah, Indonesia.