Monday, April 16, 2012

Betulkah Doktrin tentang Surga dan Neraka Perlu Supaya Dunia Aman?

Surga ke atas dan sejuk, neraka ke bawah dan sangat panas? A meaningless doctrine for the modern men!


Yang saya takutkan bukanlah neraka setelah kematian, sebab neraka semacam ini tak akan menyakitkan dan menyengsarakan siapapun. Yang saya takutkan adalah kalau dunia di muka Bumi kita berubah menjadi neraka penderitaan bagi anak-anak manusia, karena kejahatan yang dibuat anak-anak manusia lain terhadap sesamanya. Saya sudah memutuskan, seperti Rabiah al-Adawiyyah, untuk memadamkan semua api neraka! Menyiramnya dengan seember air hingga padam tanpa bekas. ioanes rakhmat

Don’t talk too much about hell as the place designed by your avenging God in which sinners will suffer eternally as your God's punishment upon them after they die. If your religion currently makes you replete with anger, hatred and animosity toward those of other religious persuasions or toward infidels, you live already in hell here in this world. If you still have healthy ears, listen! ioanes rakhmat

Konsep tentang sorga dan neraka dalam tradisi keagamaan Yahudi-Kristen muncul dengan lengkap pertama kali dalam Kitab Daniel (dalam Perjanjian Lama) yang ditulis pada abad kedua SM, ketika bangsa Yahudi sedang mengangkat senjata melawan pemerintahan lalim raja Syria Antiokhus IV Epifanes yang sedang melancarkan politik hellenisasi besar-besaran atas negeri Israel. Hellenisasi adalah usaha-usaha politik dan militerisme untuk menjadikan kebudayaan dan agama-agama Yunani yang disebut hellenisme sebagai kebudayaan dan agama-agama bangsa-bangsa jajahan Aleksander Agung dan para penerusnya. Dalam sejarah Yahudi, perang ini dikenal sebagai Perang (Pemberontakan) Makkabe.

Konsep sorga dan neraka diciptakan pada awalnya oleh suatu komunitas keagamaan atau suatu bangsa beragama (dalam hal ini, bangsa Yahudi kuno) yang sedang ditindas suatu bangsa asing adidaya, dan mereka tidak memiliki kekuatan militer yang unggul. Akibatnya mereka mengalami banyak kekalahan, dan tidak sedikit dari antara mereka mati dalam banyak perlawanan yang tampak sia-sia, juga tak sedikit yang tidak tahan ditindas lalu menyeberang ke pihak musuh. Nah, dalam kondisi perang semacam ini, para tokoh keagamaan mereka, yang juga bertanggungjawab dalam kehidupan politik dan militer, menyusun konsep tentang sorga dan neraka, baik berupa doktrin maupun berupa kisah-kisah kejuangan para martir.


Dua tujuan 

Ada dua tujuan dalam mereka menyusun doktrin tentang sorga dan neraka. Pertama, untuk membangun suatu semangat tempur sampai titik darah penghabisan dalam diri para pejuang. Kepada para pejuang ini, lewat doktrin sorga dan neraka dan kisah-kisah heroik para syuhadah, dijanjikan bahwa kendatipun mereka akan mati dalam perang, mereka harus jangan menyerah, sebab sekalipun mereka mati mereka akan diberi pahala masuk sorga sesudah mati syahid. Janji pahala sorga ini, dalam suatu perang, sangat efektif untuk membangun suatu semangat tempur sampai titik darah penghabisan, tentu kalau perangnya dilangsungkan karena alasan keagamaan.

Pada zaman kuno ketika belum dikenal pemisahan antara agama dan politik, perang dilakukan karena alasan agama dan politik sekaligus, yang satu tidak dipisahkan dari yang lain. Pemisahan agama dari politik, dan politik dari agama, yang dikenal sebagai sekularisasi, sama sekali belum dikenal saat semua agama besar lahir dalam dunia-dunia kuno. Sekularisme adalah sebuah gagasan modern. Bahkan hingga abad ke-21 ini ada agama yang masih tidak membuka diri pada sekularisasi umumnya, yakni agama Islam. Menyebut Islam sebagai sebuah agama apolitis adalah suatu oxymoron, khususnya kalau kita mengacu ke era Islam klasik.   

Bangsa beragama di zaman kuno, yang terancam kalah, dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar: Mengapa Allah mereka diam saja, dan tampak kalah juga ketika berhadapan dengan musuh mereka? Ketahuilah, bagi bangsa beragama di zaman dulu, kalau bangsa ini kalah perang, berarti Allah mereka juga kalah. 

Nah, sebagai tujuan kedua, pertanyaan besar ini dijawab dengan doktrin tentang neraka: Jangan takut dan jangan kehilangan kepercayaan, sebab akan tiba saatnya, ketika zaman dan sejarah dunia berakhir tak lama lagi, semua musuh mereka akan dengan adil dibalas oleh Allah dengan membuang mereka semua ke dalam api neraka, yang akan memanggang mereka selamanya. Doktrin tentang hukuman di neraka, dengan demikian, adalah sebuah doktrin tentang kebencian dan dendam membara yang tidak bisa hilang, tetapi dipelihara sampai ke alam baka. Tidak ada cinta di dalam doktrin ini.

Juga tidak ada keadilan di dalamnya. Bayangkan, usia seorang manusia di Bumi paling lama katakanlah 100 tahun, tetapi jika si manusia ini dihukum di api neraka, hukumannya berlangsung abadi, bermilyar-milyar-milyar tahun, tanpa ada suatu akibat positif apapun bagi si manusianya yang terus-menerus di panggang dalam api bak setusuk sate yang tak kunjung matang dipanggang di atas bara merah api; dan juga, kita patut bertanya, Apa manfaat hukuman ini buat Tuhan? Saya jujur saja tak sanggup berpikir bahwa karena sadisme, Tuhan sambil menari-nari suka melihat orang terpanggang abadi dalam api neraka berkobar yang dibuatnya.

Karena ada janji sorga dan ancaman neraka, doktrin tentang sorga dan neraka umumnya dilengkapi beberapa doktrin lain: doktrin-doktrin tentang kiamat (berakhirnya sejarah dunia), tentang bencana sejagat, tentang kebangkitan orang mati, tentang pengangkatan orang yang masih hidup ke angkasa, tentang pengadilan di akhir zaman, tentang merajalelanya aktivitas makhluk-makhluk demonik (setan atau iblis atau “anti-Kristus”), tentang figur sang hakim jagat raya yang akan turun dari kawasan adikodrati pada akhir zaman, dan tentang kitab kehidupan yang di dalamnya tercatat biografi orang per orangan selama mereka hidup di Bumi, yang akan dijadikan landasan pengadilan di akhir zaman.

Belakangan, doktrin tentang sorga dan neraka mengalami pergeseran fungsi, khususnya ketika doktrin ini tetap dipercaya dan dipegang meskipun umat tidak sedang perang. Doktrin ini berubah fungsi menjadi sebuah doktrin yang digunakan para rohaniwan untuk mengontrol perilaku umat orang per orangan. Seperangkat aturan moral (moral code) disusun, seperangkat doktrin dibangun, dan seperangkat ritual ditetapkan, untuk diikuti dan dijalankan umat tanpa hak dan kewajiban bertanya. Para rohaniwan mengingatkan mereka dengan keras: Jika moral code dan seperangkat doktrin dan ritual ini tidak diikuti dan dijalankan sepersisnya, orang yang melawan ini akan masuk neraka abadi. Sebaliknya, anggota umat yang menaati semuanya akan menerima pahala sorga.

Jelas, dengan bisa mengontrol perilaku dan keyakinan umat, para rohaniwan ini tetap memegang kendali atas seluruh komunitas, dan mereka tetap bisa menjadi leader dengan kedudukan politik yang kuat, yang dapat memberi mereka banyak keuntungan lain (ekonomi, hak istimewa, hak menetapkan doktrin, hak menentukan kebenaran atau kesalahan, hak menghakimi, hak atas kehidupan dan kematian orang lain, dan hak-hak lainnya).


Limbo dan purgatori

Dalam kehidupan Gereja Roma Katolik (GRK) sekarang ini, doktrin tentang penghukuman di api neraka diperluas dengan dua doktrin lain tentang bagian-bagian kehidupan di akhirat yang mengawali atau menggantikan kehidupan sengsara di api neraka, yakni doktrin tentang limbo dan purgatori.


Limbo adalah kehidupan di akhirat yang diberikan kepada orang-orang pagan yang tak jahat tetapi penuh kebaikan dan kebajikan, noble pagans, sehingga mereka tak pantas dimasukkan ke dalam neraka, dan juga kepada bayi-bayi yang meninggal ketika belum menerima baptisan Kristen untuk keselamatan mereka. Limbo dibayangkan sebagai suatu tempat yang di dalamnya tak ada siksaan berat dan kekal seperti di neraka, tetapi juga tidak ditemukan kesukaan dan kebahagiaan seperti hidup dalam sorga. Limbo adalah situasi tengah-tengah antara neraka dan sorga.

Doktrin tentang limbo ini dirancangbangun tidak lain untuk mengurangi rasa bersalah para rohaniwan GRK yang semula mengancamkan neraka kepada semua kaum kafir yang berakhlak luhur dan orang-orang yang baik tetapi tidak termasuk ke dalam komunitas GRK, dan tentu juga untuk memperkuat doktrin tentang neraka sebagai suatu tempat yang disediakan untuk orang-orang yang memang sangat patut dan sah dimasukkan ke dalamnya. Debat di dalam GRK tentang apakah doktrin limbo masih harus dipertahankan makin menguat sekarang ini ketika kasus-kasus janin yang diaborsi semakin menggunung, sementara GRK sangat menentang aborsi yang dilakukan dengan alasan apapun.

Purgatori, yang dikenal juga sebagai “api penyucian”, menyediakan suatu tempat dan kurun di mana seseorang dimungkinkan untuk terhindar dari hukuman abadi dalam api neraka, dengan menjalani suatu penghukuman sementara, yang sebenarnya lebih tepat disebut “penyucian” atau “pemurnian” dalam jangka waktu tertentu sebelum akhirnya terbebaskan sama sekali dari siksa di neraka abadi. Menurut doktrin ini, ketika periode siksaan atau pemurnian terbatas ini selesai dijalani, orang yang menjalaninya dikeluarkan dari purgatori lalu diterima masuk ke dalam sorga abadi, berdasarkan kalkulasi bahwa kejahatannya selama hidup di muka Bumi sudah lunas dibayar olehnya selama berada dalam purgatori. Orang semacam ini dikalkulasi tidak terlalu jahat tetapi juga tidak terlalu baik.

Kita tahu, reformator Gereja Protestan pada abad ke-16, Martin Luther, dibuat sangat murka ketika GRK pada zamannya memanfaatkan doktrin tentang purgatori ini untuk menggalang dana besar bagi pembangunan Gereja Santo Petrus di Vatikan, melalui penjualan surat penghapusan dosa. Pada masa itu, GRK mengajarkan, jika seorang Katolik yang berdosa telah dengan cukup memberi sumbangan uang ke kas gereja untuk membangun gereja besar ini, dengan membeli surat penghapusan dosa, orang ini akan terhindar dari purgatori ketika dia wafat nanti dan arwahnya akan langsung masuk sorga, atau, kalau orang ini memberi sumbangan uang demi seorang anggota keluarganya yang sudah meninggal, maka, begitu mata uang berdenting di kas gereja, arwah orang yang sudah meninggal ini dijamin gereja akan langsung dikeluarkan dari purgatori lalu dimasukkan ke dalam sorga abadi. Tentu saja doktrin ini penuh takhayul. 

Jadi, doktrin tentang sorga dan neraka adalah sebuah doktrin politis religius, yang semula disusun untuk kepentingan perang, dan kemudian untuk mengendalikan perilaku dan kehidupan umat oleh para rohaniwan ketika doktrin ini tetap dipegang dalam konteks bukan perang dan ditambahi dengan doktrin tentang limbo dan purgatori.

Kalau ditanya, apakah sorga dan neraka betulan akan ada dan dialami sesudah kematian, jawabnya adalah: seandainya manusia hidup terus dalam rupa roh sesudah kematian fisik di muka Bumi, maka roh yang tidak memiliki tubuh, indra dan otak sama sekali tak akan bisa merasakan entah nikmat surga atau pun siksa neraka. Ketika otak lenyap, maka pikiran dan perasaan pun lenyap. Tanpa perangkat lunak otak yang menyimpan data neural seluruh kehidupan anda, semua indra, identitas, memori, dan kesadaran diri anda lenyap sama sekali. Sorga dan neraka sesudah kematian hanya ada dalam doktrin, dalam kisah, dalam mitologi, dan tidak ada dalam realitas faktual apapun.

Imajinasi siksa di neraka. Kekejaman di Bumi yang diproyeksikan ke alam baka! Kekejaman tanpa akhir. Justru ini yang dipertahankan agama yang seharusnya menebar kasih sayang!


Menjadikan orang lebih baik?

Banyak orang tentu tak setuju pada pernyataan yang saya baru tulis di alinea di atas, bahwa sorga dan neraka tidak ada dalam realitas apapun di akhirat. Mereka akan berkeras beranggapan, bahwa kalau doktrin tentang sorga dan neraka sesudah kematian tak diajarkan, tak diindoktrinasikan, kejahatan di muka Bumi akan semakin meningkat. Selain itu, jika hukuman neraka tidak ada, maka, kata mereka dengan marah, orang jahat akan keenakan sesudah kematian, karena tidak ada pembalasan atas kejahatan mereka selama hidup di Bumi. Anggapan ini salah total, karena beberapa alasan.

Pertama, kekuasaan untuk mengadili dan menjatuhkan hukuman di muka Bumi ada pada pemerintah suatu negara. Jadi, untuk mengurangi atau menekan angka prevalensi kejahatan di muka Bumi, hukum positif dalam suatu negara harus dibangun, ditegakkan dan diberlakukan dengan konsekwen dan konsisten pada semua orang tanpa pilih bulu.

Kalau ada orang bisa lolos dari jerat hukum, misalnya karena pemerintahan di dalam suatu negara lemah, buruk dan korup, jalan keluarnya bukanlah menakut-nakuti rakyat dengan doktrin tentang neraka yang panas dan berlangsung abadi, melainkan membereskan hukum dalam negara itu dengan sungguh-sungguh.

Kini, dalam era globalisasi, yang mengikat manusia di suatu negara bukan hanya hukum positif nasional, tetapi juga hukum internasional; dan yang ada bukan hanya lembaga pengadilan dalam negeri, tetapi juga lembaga pengadilan internasional. Sudah banyak terjadi, seorang yang lolos dari jerat hukum di negerinya sendiri akhirnya diadili dan dijatuhi hukuman di luar negeri.

Kedua, perlu kita ketahui bahwa dalam zaman modern ini jumlah orang yang tak lagi bisa menerima doktrin tentang sorga dan neraka sangat banyak, di antara mereka termasuk orang-orang yang potensial melakukan kejahatan. Kalau orang zaman modern ditakuti-takuti hanya dengan sebuah doktrin keagamaan tentang hukuman di neraka, dan hukum positif dalam suatu negara tak ada atau dihapuskan, jelas kejahatan di dunia akan semakin meningkat.

Ketiga, ketaatan yang ditimbulkan oleh doktrin tentang api neraka adalah ketaatan yang tak dewasa, immature, tak keluar dari kesadaran nurani sendiri, tetapi muncul karena rasa takut yang besar. Doktrin tentang hukuman di neraka melahirkan bukan conscience, nurani, melainkan fear, ketakutan. 

Untuk membangun suatu masyarakat yang warganya taat hukum dan tak melakukan kejahatan, yang dibutuhkan adalah pembinaan moralitas bertahap dan terus-menerus untuk menghasilkan nurani yang fungsional, matang, bertanggungjawab, mature and accountable. Dalam rangka membangun suatu moralitas individual dan sosial semacam ini pendekatan “reward and punishment” sekuler dipakai. Ganjaran kebaikan diberikan kepada warga yang baik; dan penghukuman kepada warga yang jahat. Doktrin tentang ancaman api neraka tak akan menghasilkan conscience atau nurani yang fungsional, accountable dan mature dalam diri warga masyarakat, melainkan akan menghasilkan suatu masyarakat yang penuh ketakutan yang tak membangun, a society of fear, masyarakat yang ketakutan pada hal-hal yang tak real.

Keempat, kalau orang baru mau hidup beragama dan bermoral dengan baik hanya jika mereka diiming-imingi hadiah sorga, dan ditakut-takuti ancaman hukuman di api neraka, kehidupan bermoral dan beragama semacam ini berada baru pada tahap kanak-kanak, bukan tahap dewasa. 

Kita tahu umumnya kanak-kanak akan baru mau belajar dengan baik jika kepadanya diiming-imingi hadiah permen atau sebuah boneka, atau bahkan kalau kepadanya diperlihatkan sebilah rotan yang siap dipukulkan ke pantatnya. Orang yang beragama baru pada tahap kanak-kanak ini, yakni beragama secara egoistik dan dipenuhi ketakutan, akan memakai agamanya sebagai alat untuk mencapai kepuasan pribadinya saja, dan untuk mendatangkan kesusahan pada orang lain. Seorang anak sangat senang jika boneka milik kakaknya atau boneka milik temannya direbut untuk diberikan kepadanya, dan dia tak akan peduli kalau kakaknya atau temannya itu jadi menangis sedih. 

Sufi agung perempuan pertama Rabiah al-Adawiyyah (717-801 M), yang kerap berlari-lari di pasar-pasar kota Basrah sambil menenteng seember air dan juga sebuah obor terang bernyala, ketika ditanya orang apa maksud tindakannya itu, sang sufi yang hebat ini menjawab: Akan kubakar sorga dengan api obor ini; dan akan kusiram neraka dengan seember air ini hingga padam, supaya orang menyembah Tuhan Sang Kekasih bukan karena ketakutan api neraka dan juga bukan karena iming-iming hadiah sorga, tetapi hanya karena cinta. Ya, cinta kasih sebagai agama, itu sudah cukup.

Kelima, doktrin tentang hadiah sorga dan hukuman di neraka sesudah kematian menghasilkan orang beragama yang melihat kehidupan yang bermakna hanya ada di alam baka setelah kematian. Bagi mereka, kehidupan di Bumi sekarang ini hanya sementara, hanya untuk dilintasi, tak bermakna penuh, bahkan maya atau semu atau palsu saja. Orang beragama yang berpandangan semacam ini bisa tak akan peduli pada banyak persoalan dan penyakit sosial di dunia masa kini, dan tak menyumbang apapun dalam usaha global memerangi banyak kejahatan, sakit-penyakit, berbagai bentuk kemiskinan, penindasan dan azab. 

Kalangan yang seperti ini memandang kehidupan di muka Bumi itu seperti sebuah jembatan saja untuk dilintasi, supaya masuk ke kawasan lain, di seberang jembatan itu. Begitu juga, tubuh mereka, dipandang oleh mereka sebagai sebuah penjara saja, yang dari jerat dan belenggu dan kurungannya, orang harus dibebaskan.

Menurut saya, ibarat-ibarat itu salah. Kehidupan ini bukan sebuah jembatan, tetapi sebuah perjalanan panjang yang menggairahkan, dengan segala pemandangan alam yang bisa dinikmati, dengan anekaragam kondisi yang bisa menyehatkan tubuh dan pikiran, tetapi juga bisa melelahkan. Anda berada dalam sorga jika kehidupan anda, anda jalani dengan riang, happy, dan terus bergairah, bersama banyak orang lain, entah dengan mengendarai sebuah mobil atau dengan sebuah bus umum, atau dengan menggoes sebuah sepeda, atau dengan sebuah perahu atau kapal laut yang besar, entah dengan lewat jalan tol atau dengan lewat jalan-jalan kecil berkelok-kelok, entah di lelautan yang tenang atau di lelautan yang berombak besar.  

For me, life is a journey, a wonderful voyage, worth carrying out, to the unknown future of enlightenment! Life is beautiful even though you will not be always happy in your life.

Begitu juga, tubuh ini bukan sebuah penjara bagi jiwa, sebab jiwa dan tubuh kita tidak bisa dipisahkan, kapanpun juga, keduanya membentuk satu kesatuan, sebagai satu unit psikosoma. Tubuh dan jiwa itu seperti relasi sebuah sepeda dan si pengayuhnya. Sepeda baru akan jalan ke depan kalau si pengendaranya terus mengayuh sepedanya. Harus terjadi kerjasama antara keduanya dengan berimbang. Itulah hubungan tubuh dan jiwa. Saling memerlukan. Tidak terpisah. Saling mengimbangi. Saling menggenggam. Apa yang terjadi pada tubuh berpengaruh pada jiwa, begitu juga sebaliknya. Tanpa tubuh, jiwa juga tidak ada, tidak pergi ke mana-mana. Saat anda telah menjadi mayat, tubuh anda pun bertahap terurai, lalu lenyap, dan sebagian berubah kembali menjadi kimia carbon yang abadi di muka Bumi. 

Jiwa dan tubuh itu juga bak sebuah gunting yang memiliki dua bilah mata yang tidak bisa dicopot satu sama lain jika gunting ini mau berfungsi baik. Jika kedua bilah mata gunting bekerjasama, yang satu bergerak ke atas dan yang satunya lagi bergerak ke bawah dengan berimbang dan harmonis, barulah gunting ini bisa memotong sehelai kain atau sehelai kertas atau seutas tali. Jiwa dan tubuh tidak bisa dipisah, sama seperti organ biologis otak tidak bisa dipisah dari pikiran yang nonmaterial. Otak dan pikiran adalah satu kesatuan. Karena organ otak ada, pikiran muncul. Karena kita bisa berpikir, maka otak ada. Tidak ada pikiran yang bisa lepas dari otak, kecuali sebagian isi pikiran ini telah dituangkan ke dalam sebuah buku atau ditransfer ke sebuah perangkat keras nonbiologis, misalnya sebuah superchip komputer jika teknologi untuk ini sudah ada. 


Malah jadi bertambah jahat!

Kepercayaan pada adanya sorga, malah bisa menghasilkan kejahatan besar. Anda tidak percaya? Ada banyak contohnya. Para pejihad Muslim yang sangat percaya pada keberadaan sorga dan neraka, sangat ingin segera masuk sorga dan di sana menerima banyak hadiah istimewa dari Alloh SWT, dengan melakukan terorisme atas nama Alloh ini untuk membunuh kaum kafir, infidel, sebanyak-banyaknya! Saya sungguh mengalami kesukaran untuk bisa membayangkan bagaimana para pejihad itu di alam baka bisa menikmati 72 bidadari sementara para pejihad itu sudah tidak memiliki baik organ seksual lagi maupun jejaring neural seks dalam organ otak. Bagaimanapun juga, doktrin tentang sorga dan neraka yang mendorong orang melakukan terorisme demi menerima yang satu dan terhindar dari yang lainnya, sama sekali bukan doktrin yang memberi rasa aman pada bagian terbesar penduduk dunia. Syukurlah, kaum Muslim yang sudah mature beragama menolak terorisme sebagai suatu jalan masuk ke sorga!

Kepercayaan Kristen untuk orang Kristen segera masuk sorga, yang akan dihadiahi Yesus saat dia telah datang untuk kedua kalinya, juga telah dan terus-menerus melahirkan banyak gerakan Kristen yang bercorak apokaliptik. Dalam gerakan-gerakan Kristen semacam ini, para penganut fanatik kepercayaan ini yakin bahwa Yesus akan pasti datang kedua kalinya kalau dunia dapat mereka segera bawa ke dalam banyak perang nuklir sejagat, yang akan memaksa Yesus turun ke dunia lagi untuk menyelamatkan orang-orang yang sangat setia kepadanya, yang sedang berada dalam kondisi-kondisi genting. 

Mereka umumnya mengarahkan perhatian mereka ke segala konflik di Timur Tengah yang melibatkan negara Israel. Mereka percaya, konflik-konflik regional di Timur Tengah akan akhirnya menyeret banyak negara kuat dan sekutu-sekutu mereka ke dalam perang nuklir sejagat yang mereka sedang tunggu-tunggu sebagai bagian pendahuluan jadwal waktu kedatangan Yesus kembali. Alih-alih memperjuangkan perdamaian dunia dan kelanggengan planet Bumi, mereka malah ingin Bumi segera lenyap, dan sorga dari atas turun untuk menyambut mereka. Mereka, celakanya, malah ingin dengan segala cara mempercepat waktu bagi keinginan atau khayalan mereka ini terwujud sepenuhnya.

Selain itu, kita semua tahu, para penganut agama apapun sejak dulu berlomba-lomba dan bersaing satu sama lain untuk membawa orang lain sebanyak-banyaknya masuk ke dalam agama mereka supaya para mualaf ini menerima pahala sorga yang ditawarkan agama mereka, sambil mengancamkan neraka jahanam kepada para calon mualaf yang menolak pindah ke agama mereka. Ini kiat dagang yang tidak cerdas, tidak simpatik dan menimbulkan rasa mual di perut. Sorga jenis A dipertandingkan dengan sorga jenis B; neraka jenis X dibuat lebih seram dari neraka jenis Y. Adu indah, sekaligus adu seram!

Faktanya sangat jelas, ketimbang mendatangkan keamanan dan kedamaian dalam dunia, doktrin tentang sorga dan neraka sangat besar andilnya dalam memunculkan ketidakpedulian orang beragama pada kehidupan masa kini dan planet Bumi. Selain itu, doktrin yang sama juga telah menjadi suatu sumber besar ideologis utama bagi keresahan dan pertikaian antar umat beragama, lewat segala aktivitas dakwah dan siar agama, yang kerap bermuara pada perang agama, dalam skala kecil maupun dalam skala besar! Saling mengancamkan neraka, dan saling menawarkan dan menjual sorga masing-masing. Religiopreneurs di segala tempat di muka Bumi sangat sibuk dengan kegiatan-kegiatan ini, sejak dulu hingga kini.


Berakar dalam pikiran

Tetapi, saya mengakui sorga dan neraka juga sebuah fakta, maksud saya bukan saja berupa kebahagiaan besar dalam dunia ini dan kesengsaraan mengerikan di muka Bumi, tetapi juga sebagai fakta-fakta dalam pikiran kita berupa dua ekor binatang yang berdiam di dalamnya, yang terus-menerus berkelahi dan bertarung satu sama lain. Ikuti kisah metaforis berikut ini.



Seorang sesepuh Indian Cherokee sedang mengajarkan cucunya tentang kearifan dalam kehidupan.

“Dalam diriku berlangsung suatu pertarungan”, katanya kepada sang bocah.

“Sungguh-sungguh suatu pertarungan dahsyat antara dua ekor serigala.”

“Serigala yang satu jahat. Serigala ini adalah kemarahan, iri hati, duka lara, rasa sesal, ketamakan, kesombongan, rasa kasihan pada diri sendiri, dendam, rasa rendah diri, tipu daya, kebanggaan diri yang palsu, rasa paling unggul, keraguan pada diri sendiri, dan ego.”

“Serigala yang satu lagi baik. Serigala ini adalah sukacita, kedamaian, cinta, pengharapan, ketenangan, kerendahan hati, kemurahan, kebajikan, empati, kedermawanan, kebenaran, belarasa, dan kepercayaan.”

“Pertarungan yang sama juga berlangsung dalam dirimu, dan di dalam diri setiap orang lain juga.”

Sang cucu memikirkan sejenak kata-kata sang opa, lalu dia bertanya, “Opa, serigala manakah yang akan menang?”

Sesepuh itu menjawab pendek saja, “Serigala yang engkau beri makan!”

Dalam ajaran kebajikan kehidupan Yahudi juga dikenal ada dua kecenderungan dalam diri setiap manusia: kecenderungan jahat, dan kecenderungan baik. Masing-masing kecenderungan ini dapat juga diungkap sebagai roh yang jahat dan roh yang baik. Kedua roh ini bertempur satu sama lain terus-menerus. Bergolak dalam diri setiap orang. Roh mana yang akan menang, bergantung kepada roh yang mana setiap individu memihak dan mendukung dan memberi makan.

Dalam Al-Qur’an tentu saja ada teks-teks yang menggambarkan dalam jiwa manusia ada dua kecenderungan itu, atau dua sifat binatang itu, yang juga bertempur satu sama lain, berebut pengaruh pada diri manusia. Teks surah 91, As Syam ayat 8-10, misalnya, menyatakan: “Tuhan mengilhamkan kepada jiwa manusia (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Maka sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” Jelas, kefasikan dan ketakwaan adalah dua ekor serigala yang saling bertempur dalam jiwa manusia.

Serigala yang jahat adalah kefasikan, dan serigala yang baik adalah ketakwaan. Manusia harus memilih membesarkan serigala yang baik, yakni ketakwaan, dan tidak memberi makan serigala yang jahat, yakni kefasikan. Ketakwaan membuahkan hanya kebaikan, kedamaian dan kebahagiaan semua ciptaan. Kefasikan membuahkan hanya keburukan, perang, dan penderitaan semua makhluk. Memilih serigala yang baik berarti hidup suci. Memilih serigala yang jahat berarti hidup kotor. Kesucian dan kekotoran adalah dua kekuatan yang saling bertempur dalam jiwa manusia. Menangkanlah kesucian. Hilangkanlah kekotoran.

Dua pakar neurosains Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman menerapkan ajaran Indian ini pada otak manusia. Sistem limbik dalam otak adalah serigala yang jahat. Neokorteks, khususnya anterior cingulate, yang bekerja sama dengan lobus frontalis, adalah serigala yang baik. Mana yang akan memenangkan pertarungan, bergantung pada serigala mana yang anda beri makan paling banyak dengan teratur setiap hari. Sistim limbik itu pusat neural fanatisme, fundamentalisme dan radikalisme; dengan kata lain, pusat agama amarah. Anterior cingulate dan lobus frontalis itu pusat toleransi, keterbukaan, wawasan universal, nurani, dan cinta; dengan kata lain, pusat agama ramah. Perspektif yang menarik, bukan?

Hati-hati, andalah yang memiliki kemampuan apakah mau menghadirkan sorga dalam dunia ini, atau malah neraka, lewat pikiran anda, yang kemudian anda aktualisasikan dalam realitas. Karena itu, berhati-hatilah dalam berpikir. Kata Siddhartha Gautama, apa yang kita pikirkan, itulah diri kita yang sebenarnya. Katanya juga, lewat pikiran anda, anda membentuk dunia ini. Sebuah ucapan Zen menyatakan, terhadap pikiran yang teduh dan tenang, seluruh alam menundukkan diri. 


Penutup

Mengelola pikiran adalah jalan mewujudkan sorga dalam dunia ini. Pertaruhannya bukan sesudah mati, tetapi sekarang, ketika anda masih hidup, mungkin hingga usia 70 tahun atau 100 tahun.

Kalau bagian terbesar dari 70 tahun atau 100 tahun usia anda, anda isi dengan pikiran yang agung dan perbuatan yang akbar, maka ketika mati, anda mati sebagai seorang manusia yang memiliki nilai, makna dan martabat yang agung. Inilah hadiah sorga terbesar buat anda. Anda menjadi sosok agung insani segala zaman. 

Tetapi, jika anda mengisinya dengan pikiran yang jahat, licik dan kotor, dan tindakan yang kejam, brutal dan keji, maka ketika anda mati, anda mati sebagai insan tanpa nilai, tanpa makna dan tanpa martabat. 

Anda yang termasuk manusia jenis ini, selama anda hidup, anda hanyalah segumpal daging tanpa akal, tanpa nurani dan tanpa kebajikan. Setelah mati, anda diingat hanya sebentar sebagai seorang penjahat, lalu selamanya dilupakan orang atau dihina tanpa akhir sebagai seekor kutu busuk atau seekor belatung saja.  

Tidak ada penghukuman dan kemalangan yang lebih besar pada diri setiap insan, selain mati tanpa nilai, tanpa makna dan tanpa martabat. Seratus tahun hidup, hanya membuang waktu. Kesia-siaan sempurna! Kondisi ini lebih mengerikan dan lebih panas dari api neraka apapun yang manusia dapat bayangkan seliar-liarnya.


Jakarta, 16 April 2012
oleh Ioanes Rakhmat