Thursday, January 19, 2012

Renungan Sains dan Agama (4)

Hipotesis ada baik dalam sains maupun dalam agama.

Dalam sains, hipotesis tidak disusun berdasarkan iman pada wahyu Allah. Dalam sains, hipotesis disusun berdasarkan teori-teori sains yang sudah ada yang ingin dikembangkan lebih lanjut.

Dalam sains, hipotesis disusun berdasarkan bukti-bukti objektif baru, yang akan dipakai untuk mengevaluasi bukti-bukti lama yang sudah ada sebelumnya. Dalam sains, setiap hipotesis haruslah disusun dengan menaati kaidah-kaidah berpikir ilmiah. Dalam sains, hipotesis yang tak pernah teruji dan tak pernah terbukti kebenarannya akan tersingkir dengan sendirinya dari dunia sains.

Tapi tidak demikian halnya dengan hipotesis dalam agama.

Hipotesis terbesar agama-agama teistik adalah bahwa Allah personal itu ada;  dan hingga kini, setelah ribuan tahun, hipotesis ini tak pernah terbukti. Meskipun tak pernah terbukti, hipotesis keagamaan terbesar ini tetap dipertahankan, bukan dengan bertumpu pada kaidah berpikir ilmiah, tapi dengan iman. Hipotesis yang sudah ribuan tahun tak pernah terbukti benar, besar kemungkinannnya adalah hipotesis yang salah.

Di sinilah muncul soal epistemologi, soal keabsahan atau kebenaran sebuah pengetahuan.

Dalam dunia sains, epistemologi yang digunakan adalah epistemologi evidensialis: sesuatu itu benar kalau sejalan dg bukti-bukti (evidence; Latin: evidentia) objektif autentik. Suatu posisi saintifik dibangun dengan berlandaskan bukti-bukti autentik objektif.

Ketika sedang meneliti, seorang saintis bekerja dengan hipotesis-hipotesis saintifik, bukan dengan iman. Ketika sedang meneliti, seorang saintis bekerja dengan epistemologi evidensialis.

Tidak demikian halnya dalam orang beragama.

Dalam agama, epistemologi yang dipakai adalah epistemologi revelatif fideis. Dalam epistemologi revelatif fideis, sesuatu itu benar jika ada dalam wahyu (Latin: revelationem) Allah yang diterima kebenarannya cukup dengan iman (Latin: fidem). Epistemologi revelatif fideis tidak memerlukan bukti-bukti autentik objektif, tapi iman saja atau kepercayaan taklid buta sudah cukup.

Epistemologi evidensialis dalam sains tak akan bisa berdamai dengan epistemologi revelatif fideis dalam agama. Kalau seorang saintis memakai epistemologi revelatif fideis, gugurlah statusnya sebagai seorang saintis, dan berubah menjadi seorang agamawan.

Saintisme yang mengharuskan orang berpikir saintifik jauh lebih absah ketimbang fideisme yang mengharuskan orang hanya beriman.

Fideisme menghambat dan mematikan pendayagunaan kemampuan berpikir kritis yang ada dalam otak manusia. Sebaliknya, saintisme mendorong orang untuk terus mengembangkan daya kritis akal budinya, yang akan berujung pada pencerahan budi dan pembangunan peradaban.

Tetapi tidaklah berarti bahwa beriman pada adanya Allah, sekalipun iman itu selamanya subjektif, tidak memiliki nilai positif bagi psikologi seorang manusia.

Beriman pada adanya Allah, dapat memperteguh mental seseorang ketika dia sedang menghadapi banyak persoalan berat dalam kehidupannya. Tapi beriman terlalu kuat pada Allah juga bisa berbahaya, karena beriman semacam ini dapat memblokir pemikiran kritis dan akal sehat.